PENDEKAR MATA KERANJANG : JILID-67


Kui Hong yang mendengarkan umpatan nenek di punggungnya itu melihat betapa sedetik pun nenek itu tak pernah melepaskan ancamannya pada tengkuknya sehingga tidak ada kemungkinan baginya untuk membebaskan diri. Akan tetapi dia amat terkejut mendengar bahwa kakek di depannya itu adalah murid Hek-hiat Lo-mo dan Hek-hiat Lo-bo. Ia pernah mendengar cerita dari ibunya tentang suami isteri Iblis Berdarah Hitam itu.

Menurut cerita ibunya, suami isteri iblis itu menaruh dendam terhadap keluarga Lembah Naga karena Pendekar Lembah Naga Cia Sin Liong inilah yang dulu membunuh Hek-hiat Mo-li, sedangkan Hek-hiat Mo-li ini yang menurunkan mereka. Suami isteri itu menyerbu ke Lembah Naga dan berhasil membunuh banyak murid Pek-liong-pai, perkumpulan yang didirikan di Lembah Naga dan diketuai oleh Cia Han Tiong, ayah kandung Cia Sun. Bukan hanya para murid yang menjadi korban, bahkan ibu kandung Cia Sun juga terbunuh oleh mereka! Dan kakek di depannya ini adalah murid suami isteri itu!

Agaknya nenek itu merasa betapa gadis yang menggendongnya terkejut, maka dia lantas membentak, "Ada apa kau?! Kenapa terkejut?" Dan cengkeramannya pada tengkuk gadis itu makin kuat.

Kui Hong terkejut dan dia tidak berbohong ketika berkata, "Aku terkejut mendengar nama suami isteri Hek-hiat Lo-mo dan Hek-hiat Lo-bo. Bukankah mereka itu yang dulu pernah menyerbu Lembah Naga dan membunuh banyak orang Pek-liong-pai, bahkan membunuh pula ibu dari Cia Sun?"

Nenek itu terkekeh. "Heh-heh-heh, aku lupa! Sebagai puteri Ketua Cin-ling-pai tentu saja engkau tahu akan hal itu, heh-heh-heh!"

"Ya Tuhan...!" Kakek itu berseru kaget. "Nona ini adalah puteri Ketua Cin-ling-pai? Kim Siu, apakah engkau sudah menjadi gila? Cepat bebaskan Nona itu!"

"Huh, sebelum pemuda itu membunuhmu, aku takkan membebaskannya. Hay Hay, hayo cepat serang dia!"

Akan tetapi Hay Hay berkata kepada Hek-hiat-kwi Lauw Kin, "Locianpwe, harap lanjutkan keteranganmu tadi. Aku harus tahu sebab-sebabnya hingga Locianpwe bisa bermusuhan dengan Kiu-bwe Tok-li."

Kakek itu nampak bingung dan khawatir memandang Kui Hong, kemudian menarik napas panjang. "Baiklah, akan aku ceritakan semuanya. Justru peristiwa yang terjadi di Lembah Naga itulah yang akhirnya membuat aku mengambil keputusan untuk meninggalkan jalan sesat. Pada saat itu kedua orang guruku menyerang keluarga Lembah Naga dan berhasil menewaskan banyak murid, juga menewaskan isteri ketua Pek-liong-pang. Akan tetapi mereka berdua dikalahkan oleh Ketua Pek-liong-pang, pendekar Cia Han Tiong. Mereka berdua sudah tak berdaya dan pendekar itu hanya tinggal mengangkat tangan saja untuk membunuh mereka. Akan tetapi pendekar itu tidak melakukannya! Tidak membunuh Suhu dan Subo bahkan mengampuni dan menasehati mereka tentang buruknya dendam! Ahh, sambil menangis Suhu dan Subo menceritakan hal itu kepadaku hingga aku pun merasa terharu sekali dan seketika itu pula terbuka kesadaranku betapa selama itu kami semua hidup bergelimang kejahatan. Betapa mulianya pendekar Cia dari Lembah Naga itu. Nah, karena Suhu dan Subo juga merasa menyesal dan bertobat, lalu kembali ke Sailan untuk menjadi hwesio dan nikouw, maka aku pun lantas mengajak isteriku untuk menebus dosa dan bertapa di tempat ini."

"Huh, menjemukan! Bilang saja nyali kalian guru dan murid menjadi sempit karena takut menghadapi pendekar Cia dari Lembah Naga itu!" teriak Si Nenek penasaran.

"Keputusanku itu agaknya telah membuat isteriku merasa kesal sehingga mulailah terjadi kerenggangan di antara kami. Isteriku bersikap dingin, selalu marah-marah dan sering kali meninggalkan aku seorang diri."

"Siapa sudi membusuk di dalam goa kotor itu?" nenek yang dahulu menjadi isterinya yang cantik dan tercinta itu mencela.

"Pada suatu hari dia datang bersama seorang laki-laki," kakek itu terus melanjutkan tanpa mempedulikan celaan isterinya.

"Isteriku dan pria tampan itu terang-terangan menyatakan kepadaku bahwa mereka saling mencinta. Aku mencinta isteriku dengan hati yang tulus dan setelah aku menjadi pertapa dan banyak merenungkan kehidupan, aku pun mengenal arti cinta yang sebenarnya. Oleh karena itu aku merelakan isteriku kalau memang dia hendak meninggalkan aku dan hidup bersama laki-laki itu. Akan tetapi mereka berdua tidak mau pergi begitu saja dan berkeras hendak membunuhku terlebih dahulu karena tidak percaya bahwa aku merelakan isteriku. Mereka takut jika kelak aku akan mengejar dan menyusahkan mereka. Mereka kemudian menyerangku dan berusaha membunuhku."

"Ihhh...!" Kui Hong berseru dan menurutkan kata hatinya yang menjadi marah sekali, ingin ia melemparkan tubuh nenek itu dari atas punggungnya. Akan tetapi cengkeraman nenek itu kuat sekali dan begitu dia bergerak, tengkuknya terasa nyeri sekali sehingga terpaksa dia menghentikan penyaluran tenaganya.

"Heh-heh, dia tolol sekali, bukan? Dan engkau pun akan mati konyol kalau engkau berani melakukan kebodohan!" Kiu-bwe Tok-li berkata di dekat telinga Kui Hong.

"Locianpwe, apa yang Locianpwe lakukan itu benar-benar membutuhkan kesabaran dan kebesaran hati yang luar biasa," kata pula Hay Hay dengan kagum.

"Aihh, orang muda. Aku hanya belajar dari pendekar Cia di Lembah Naga itu, mencontoh perbuatannya terhadap kedua orang guruku. Dibandingkan dengan dia, sikapku ini bukan apa-apa. Aku dikeroyok oleh mereka, maka terpaksa aku membela diri. Akhirnya, karena aku terancam maut oleh pukulan berbahaya dari laki-laki itu yang amat lihai, terpaksa aku pun mengeluarkan jurus simpanan untuk menandinginya. Pada saat adu tenaga itulah dia kalah dan terluka parah. Akan tetapi aku tidak mau melukai isteriku sehingga aku terkena beberapa pukulannya yang beracun. Setelah melihat kekasihnya pingsan dan terluka, dia lalu memondongnya pergi dengan cepat. Aku mengobati luka-lukaku dan setelah sembuh, aku mengkhawatirkan keadaan isteriku. Kucari ke mana-mana tanpa hasil, maka akhirnya aku kembali bertapa dengan tekun di sini. Dan hari ini dia muncul dalam keadaan lumpuh dan penuh dendam hendak membunuhku."

Mendengar cerita itu, Hay Hay lalu mengerutkan alisnya dan menghadapi Kiu-bwe Tok-li. "Tok-li, benarkah apa yang diceritakan suamimu tadi?"

"Benar atau tidak benar, engkau harus menyerangnya. Engkau sudah berjanji dan kalau engkau melanggar janji, gadis ini tentu akan kubunuh lebih dahulu!"

"Akan tetapi, jika yang dlceritakannya itu benar, bagaimana engkau kini menjadi lumpuh? Padahal di dalam perkelahian itu engkau sama sekali tidak terluka oleh suamimu!" kata Hay Hay. "Kiu-bwe Tok-li, sebelum aku dapat memenuhi permintaanmu, ceritakan dahulu bagaimana engkau menjadi lumpuh kemudian tinggal di dalam goa itu puluhan tahun, dan di mana pula adanya laki-laki kekasihmu itu?"

"Pertanyaan itu sangat tepat, Kim Siu, apakah yang sudah terjadi? Engkau tahu benar bahwa bukan aku yang membuat engkau menjadi lumpuh begini..."

"Sama saja! Engkaulah penyebabnya!" nenek itu membentak. "Engkau sudah melukainya secara hebat. Aku membawanya pergi dan dia mengenal tempat rahasia itu, sumur yang mempunyai lorong dan tembus sampai ke dalam goa di tengah tebing itu. Dia menyuruh aku membawanya ke sana. Setelah tiba di dalam goa itu, aku berusaha merawat lukanya. Akan tetapi lukanya terlampau parah. Dia tahu bahwa dia tidak akan dapat sembuh. Dia tidak ingin aku meninggalkannya lagi, ingin agar aku selamanya menemaninya di dalam goa itu, maka tiba-tiba saja dia lalu menyerangku dengan pukulan dahsyat yang membuat sepasang kakiku lumpuh sehingga aku tidak akan dapat keluar dari dalam goa itu tanpa bantuan orang lain."

"Ihhh, betapa kejamnya orang itu!" Kui Hong berseru jijik.

"Bocah tolol! Dia melakukan hal itu karena cintanya kepadaku! Dia mengerahkan tenaga terakhir untuk membuat aku lumpuh supaya aku tidak meninggalkannya lagi. Dia sengaja melumpuhkan kedua kakiku karena terlalu cinta padaku." Nenek itu lantas menangis! Hay Hay, Kui Hong dan Lauw Kin suami nenek itu tertegun dan tenggelam dalam perasaan masing-masing.

"Lalu, di mana dia? Ketika kami memasuki goa, kami tidak melihatnya," kata Hay Hay.

"Pengerahan tenaga dahsyat yang dia gunakan untuk melumpuhkan sepasang kakiku itu membuat lukanya makin parah. Dalam waktu beberapa bulan saja akhirnya dia meninggal dunia dalam pelukanku, lalu aku hidup sendirian di sana, penuh dendam kepada keparat ini. Aku menghabiskan waktu puluhan tahun untuk memperdalam ilmuku, dalam keadaan lumpuh tak mampu keluar, dan dendamku kepada keparat ini semakin berkobar."

"Semoga Tuhan mengampuni dosa kita semua..." Kakek itu mengeluh, "Sudahlah, Kim Siu, turunlah engkau dari punggung Nona itu. Bagaimana pun juga engkau adalah isteriku dan aku tetap cinta kepadamu. Turunlah dan mari aku usahakan untuk mengobati kakimu sampai sembuh..."

Kui Hong dan Hay Hay saling pandang dan mereka semakin kagum terhadap kakek itu. Tak dapat disangsikan lagi, cinta kasih kakek itu benar-benar murni! Akan tetapi Kiu-bwe Tok-li Ma Kim Siu membentak,

"Tidak! Engkau harus mampus di tanganku, karena engkaulah yang telah menyebabkan aku kehilangan dia dan menyebabkan aku menderita sengsara selama puluhan tahun ini! Hay Hay, cepat maju dan serang dia, tidak perlu banyak cakap lagi. Kalau engkau berani membantah, maka gadis ini akan mampus!" Dan tangannya yang mencengkeram tengkuk Kui Hong diperkuat, membuat gadis itu menyeringai karena nyeri.

Hay Hay tidak melihat jalan lain. "Baiklah! Locianpwe, terpaksa aku akan menyerangmu!"

Hay Hay lalu maju dan menyerang kakek itu yang segera mengelak ketika melihat betapa cepat dan kuatnya gerakan pemuda yang menyerangnya. Tahulah dia bahwa pemuda ini bukan orang sembarangan, sekaligus dia pun maklum bahwa pemuda ini terpaksa harus mentaati perintah Ma Kim Siu karena gadis puteri Ketua Cin-ling-pai itu telah ditawan dan dijadikan sandera.

Perih rasa hatinya! Dia maklum karena dapat menduga bahwa tentu pemuda serta gadis itu telah menolong Ma Kim Siu keluar dari dalam goa, akan tetapi sebagai balas jasanya nenek itu malah menyandera dan memaksa mereka membantunya.

Bagaimana pun juga puteri dari Ketua Cin-ling-pai itu harus diselamatkan, demikian pikir Hek-hiat-kwi Lauw Kin. Inilah kesempatan baginya untuk menebus dosa yang dulu dibuat oleh suhu dan subo-nya terhadap keluarga Cia!

Suhu dan subo-nya sudah membunuh isteri Cia Han Tiong, sehingga kalau sekarang dia mengorbankan nyawanya untuk menyelamatkan seorang gadis keturunan keluarga Cia, maka meski pun sedikit berarti dia telah mengurangi dosa suhu dan subo-nya. Dia harus berkorban, itulah satu-satunya jalan. Kalau dia kalah dan roboh terbunuh oleh pemuda ini, tentu gadis puteri Ketua Cin-ling-pai itu akan dibebaskan.

Akan tetapi dia pun tahu akan kecerdikan isterinya. Kalau isterinya mengetahui bahwa dia mengalah dan berkorban, belum tentu gadis itu dibebaskan. Untung baginya, pemuda itu lihai sekali, melihat dari gerakannya serta tenaganya tadi, sehingga tak akan terlalu sukar baginya untuk berpura-pura kalah dengan cara menerima pukulan maut yang akan dapat menewaskannya tanpa menimbulkan kecurigaan.

Maka dia pun cepat menangkis dan membalas serangan sehingga seolah-olah kini terjadi perkelahian sungguh-sungguh dan mati-matian antara Hek-hiat-kwi Lauw Kin dengan Hay Hay! Bagaimana pun juga Hek-hiat-kwi adalah orang yang sejak mudanya berkecimpung di dalam dunia persilatan, sebab itu seperti para tokoh persilatan pada umumnya, dia pun memiliki satu kelemahan, yaitu ingin sekali melihat atau menguji ilmu silat ketika bertemu dengan lawan yang pandai!

Kini, berhadapan dengan Hay Hay dan melihat gerakan yang amat hebat dari pemuda ini, maka timbullah kegembiraan dalam hatinya dan biar pun dia sudah mengambil keputusan untuk mengorbankan diri dan menyerahkan nyawanya demi keselamatan puteri dari ketua Cin-ling-pai, dia akan memuaskan hatinya lebih dulu dengan menguji kepandaian pemuda ini!

Sebaliknya, penyakit yang serupa juga melanda watak Hay Hay. Pada waktu pemuda ini melihat gerakan kakek itu dan merasakan kekuatan yang terkandung di dalam sepasang lengannya, dia pun merasa gembira dan ingin menguji sampai di mana kelihaian kakek itu.

Inilah sebabnya maka dua orang ini mengeluarkan kepandaian dan mengerahkan tenaga secara sungguh-sungguh dan nampak keduanya seperti terlibat dalam perkelahian yang mati-matian! Begitu hebat gerakan kedua orang ini sehingga Kui Hong sendiri, juga nenek iblis itu, dapat dikelabui!

Setelah cukup lama bertanding dan melihat betapa pemuda itu benar-benar hebat dan dia tahu bahwa tingkat kepandaian pemuda itu tidak kalah olehnya, Hek-hiat-kwi baru merasa puas, maka kini dia pun ingin mengakhiri perkelahian dengan mengorbankan nyawanya.

Pada waktu itu Hay Hay sedang melancarkan serangan dahsyat. Dengan jari-jari terbuka tangan kirinya mencengkeram lambung dan tangan kanan menampar ke arah ubun-ubun kepala. Serangan ini dahsyat sekali, angin pukulannya menyambar ganas.

Melihat serangan dahsyat itu, Hek-hiat-kwi sengaja memperlambat gerakannya mengelak dan menangkis. Ia merasa yakin sekali bahwa serangan itu tentu akan mengenai dirinya, terutama bagian ubun-ubunnya supaya dia dapat tewas dengan cepat.

Akan tetapi dapat dibayangkan alangkah heran rasa hatinya ketika pada saat yang tepat dan sama sekali tidak kentara, pemuda itu menyelewengkan serangannya hingga meleset dan tidak mengenai sasaran, seakan-akan terelak atau tertangkis! Kemudian, pada waktu dia membalas dengan tendangan yang ringan saja, tendangannya itu mengenai pangkal paha pemuda itu yang membuat Hay Hay terhuyung ke belakang!

Hampir saja Hek-hiat-kwi berseru heran. Ini sungguh tidak mungkin, pikirnya! Tadi ketika dia mengeluarkan ilmu tendangan simpanannya yang amat dahsyat, semua tendangan itu dapat dihindarkan oleh pemuda itu. Mana mungkin tendangan ringan saja bisa mengenai paha sehingga membuat pemuda itu terhuyung? Dan serangan pemuda tadi pun sengaja diselewengkan! Ini hanya berarti bahwa pemuda itu sengaja mengalah! Akan tetapi apa maksudnya?

Ketika dia mengangkat muka memandang dengan tajam, dia melihat betapa pemuda itu berkedip kepadanya. Kiu-bwe Tok-li tidak melihat kedipan ini karena dia masih berada di punggung nona yang berdiri di belakang pemuda itu. Dan dia pun bukan orang bodoh.

Pemuda ini sengaja mengalah tentu mempunyai maksud dan merupakan sebuah siasat! Maka, biar pun dia belum dapat menduga dengan tepat apa maksudnya, dia mengambil keputusan untuk ikut bersandiwara!

"Engkau masih belum menyerah kalah?!" bentaknya ketika melihat pemuda itu maju lagi menyerang. Kini dia bahkan mengeluarkan lagi ilmu-ilmunya yang paling dahsyat.

Tadi semua ilmu simpanannya berhasil digagalkan oleh pemuda itu, akan tetapi sekarang, begitu dia membalas dan mendesak, pemuda itu langsung kelihatan terdesak sekali dan beberapa kali terhuyung. Kini Hay Hay lebih sering main mundur saja sehingga kakek itu semakin yakin bahwa lawannya benar-benar bersandiwara, memainkan suatu siasat.

Melihat betapa Hay Hay terdesak hebat, Kui Hong berseru. "Nek, lihat! Hay Hay terdesak terus. Turunlah, biar aku yang membantunya menghadapi kakek itu!"

Sesudah mendengar teriakan gadis itu, mengertilah Hek-hiat-kwi apa maksud permainan sandiwara lawannya. Tentu untuk mengelabui Kiu-bwe Tok-li supaya mau membebaskan gadis itu agar dapat membantu mengeroyoknya! Maka dia pun segera mendesak semakin hebat dan sebuah tamparan tangan kirinya diterima dengan sengaja namun tidak kentara oleh Hay Hay, membuat tubuh Hay Hay terpelanting, akan tetapi pemuda itu tidak sampai roboh. Dia menyusulkan tendangannya yang dapat dielakkan oleh Hay Hay.

"Tok-li, lihat, dia semakin payah!" kata Kui Hong yang benar-benar merasa khawatir.

"Hemmm, jangan ribut dan jangan bergerak! Dia belum kalah!" kata nenek itu, sepasang matanya dengan tajam dan cerdik mengamati gerakan kedua orang itu.

"Tetapi, Nek. Kalau sampai dia benar-benar kalah dan tewas, tentu engkau dan aku akan tewas pula di tangan kakek itu!" Kui Hong membantah.

"Dessss...!"

Pada saat itu pula Hay Hay terkena pukulan pada pundaknya. Kali ini tubuhnya terguling-guling dan terbanting keras sampai debu mengepul dan pemuda itu memuntahkan darah segar!

Semenjak tadi Hay Hay selalu menaruh perhatian pada percakapan antara Kui Hong dan nenek itu. Melihat betapa nenek itu masih juga belum terpancing, dia sengaja menerima hantaman tadi dengan pundaknya dan dengan tingkat kepandaiannya yang sangat tinggi, dia mampu berlagak seolah-olah dia terluka parah dan muntahkan darah segar.

Sekali ini Kiu-bwe Tok-li terjebak. Melihat keadaan pemuda itu memang sudah parah, dia lalu berkata, "Kui Hong, majulah akan tetapi biar aku yang membantu Hay Hay!"

Dengan girang Kui Hong meloncat ke depan dan melihat gerakan yang sangat ringan dari gadis itu, diam-diam Hek-hiat-kwi terkejut sekali. Ternyata puteri Ketua Cin-ling-pai itu pun mempunyai ginkang (ilmu meringankan tubuh) yang hebat bukan main! Ia merasa kagum, akan tetapi karena gadis itu sudah berada di depannya dan isterinya telah menyerangnya dengan cambuk ekor sembilan yang amat berbahaya, dia pun meloncat ke belakang.

Hay Hay segera bangkit sambil mengerling ke arah nenek itu. Ternyata nenek itu hanya menggunakan tangan kanan untuk memainkan cambuknya, ada pun tangan kirinya masih tetap mencengkeram tengkuk Kui Hong! Maka dia pun maju lagi dan membantu nenek itu mengeroyok Hek-hiat-kwi.

Hek-hiat-kwi segera terdesak hebat. Dengan perasaan kagum dia melihat betapa isterinya telah memperoleh kemajuan pesat dengan gerakan cambuknya walau pun kedua kakinya lumpuh, dan juga tenaga sinkang yang terkandung dalam gerakan cambuk itu kuat bukan main.

Meski pun kedua kakinya lumpuh, karena digendong oleh seorang gadis yang mempunyai ginkang sedemikian hebat, gerakannya tentu saja menjadi makin lincah. Cambuk itu lalu meledak-ledak dari sembilan penjuru sebab cambuk berekor sembilan itu bergerak secara aneh, masing-masing ekor seperti hidup tersendiri. Ada yang menotok, ada yang melecut, ada pula yang membabat, dan setiap ekor cambuk menyambar pada bagian tubuh yang berbahaya!

Hay Hay yang beraksi seolah telah menderita luka itu membantu dengan kacau sehingga sering kali dia malah menghalangi sambaran cambuk! Terdengar beberapa kali nenek itu memaki dan membentaknya agar minggir.

Sekarang Hek-hiat-kwi melihat kesempatan bagaimana caranya untuk menolong nona itu tanpa perlu mengorbankan nyawanya, walau pun bukan tidak berbahaya. Dia harus dapat membuat nenek itu melepaskan cengkeramannya di tengkuk gadis itu, dan satu-satunya jalan adalah membuat cambuk itu tidak berdaya supaya nenek itu terpaksa menggunakan tangan kirinya.

"Tar-tarrr-tarrrrr...!" Kembali cambuk sembilan ekor itu meledak-ledak dan menari-nari.

Hek-hiat-kwi sudah mengenal ilmu cambuk isterinya ini, maka begitu ujung-ujung cambuk menyambar, dia tidak mengelak bahkan cepat menerjang ke depan. Hay Hay menyerang dari samping dengan kedua tangannya yang memukul gencar, namun pukulan-pukulan ini tidak mengenai tubuh lawan malah hawa pukulannya menangkis sedikitnya enam batang ujung cambuk yang seperti ditiup ke samping! Dan Hek-hiat-kwi sudah dapat menangkap tiga ujung yang lainnya, kemudian dengan sebelah tangan lain berhasil pula menangkap enam ujung yang menyeleweng oleh hawa pukulan Hay Hay tadi.

Nenek itu terkejut. Tidak disangkanya bahwa bekas suaminya ini kini sedemikian lihainya sehingga cambuknya yang berekor sembilan itu telah dapat ditangkap oleh kedua tangan bekas suaminya sehingga cambuk itu tidak berdaya lagi. Dia melihat betapa kepala bekas suaminya itu demikian dekat, sama sekali tidak terlindung karena kedua tangan suaminya mencengkeram sembilan ujung cambuk.

Melihat ini, untuk sejenak dia lupa diri, lupa bahwa dia harus selalu mengancam Kui Hong dengan cengkeraman tangan kiri pada tengkuk. Tangan kirinya melepaskan tengkuk Kui Hong dan menyambar ke arah kepala bekas suaminya!

Semenjak tengkuknya dicengkeram nenek itu, Kui Hong tidak pernah lengah sedetik pun. Dia selalu menanti datangnya kesempatan untuk membebaskan dirinya. Oleh karena itu, begitu merasa bahwa cengkeraman tangan nenek itu meninggalkan tengkuknya, dia lalu mengeluarkan lengkingan panjang dan sambil mengerahkan tenaganya dia mengguncang tubuhnya kemudian dia pun meloncat ke samping. Tentu saja tubuh nenek yang hanya nongkrong di atas punggungnya tanpa daya, tanpa ada kekuatan untuk melekat, dengan mudah terlepas.

Pada saat yang sama Hay Hay telah membuat gerakan membalik dan melihat tangan kiri nenek itu menghantam ke arah kepala Hek-hiat-kwi, dia pun cepat menangkis dan tangan yang lain menotok. Maka robohlah tubuh nenek itu dengan mengeluarkan jeritan marah. Tubuh itu kini terpelanting dan tidak mampu bergerak lagi di atas tanah. Hanya sepasang matanya yang tajam itu saja yang masih melotot dengan penuh kebencian.

"Hay Hay, mari kita hajar suaminya yang tadi hampir mencelakaimu!" kata Kui Hong siap untuk menyerang Hek-hiat-kwi Lauw Kin.

"Tahan dulu, Kui Hong!" kata Hay Hay. "Dia tidak pernah mau mencelakaiku. Tadi kami hanya bermain sandiwara untuk mengelabui nenek ini. Aku tadi pura-pura terdesak agar Kiu-bwe Tok-li ikut maju, dan ternyata siasat kami berhasil baik."

"Ohhhh...?" Kui Hong terkejut dan merasa malu sendiri. "Kalau begitu, biar kubunuh saja nenek iblis ini!"

"Nona... jangan...!" Hek-hiat-kwi Lauw Kin berseru sambil meloncat ke depan, melindungi tubuh isterinya. "Apa bila dia sudah melakukan kesalahan terhadap Nona, biarlah sebagai suaminya aku yang mintakan ampun," berkata demikian, kakek itu tanpa segan-segan lalu menjura berkali-kali kepada Kui Hong sebagai penghormatan sehingga gadis itu menjadi kikuk dan cepat menyingkir.

"Kui Hong tidak sepatutnya kita membunuhnya. Biar pun dia telah berbuat jahat terhadap kita, menyanderamu dan memaksa kita membantunya, akan tetapi bagaimana pun juga dia telah menyelamatkan kita dari pohon itu."

Hay Hay lalu menceritakan apa yang mereka alami sampai dapat bertemu dengan nenek Kiu-bwe Tok-li di goa tebing yang amat curam itu. Mendengar kisah yang diceritakan Hay Hay, kakek itu merasa kagum bukan main.

"Ji-wi (kalian berdua) masih muda, akan tetapi sudah mempunyai kepandaian yang tinggi sekali. Ingin aku bicara lebih banyak mengenai riwayat Ji-wi dan tentang para pendekar, akan tetapi lebih dahulu aku harus mencoba untuk mengobati kedua kaki isteriku ini dan juga berusaha mengobati batinnya yang sudah rusak oleh dendam dan derita. Akan tetapi sedikitnya aku ingin mengetahui siapa guru Ji-wi. Nona ini adalah puteri ketua Cin-ling-pai, kiranya mudah diduga bahwa ilmu silatnya tentulah dari Cin-ling-pai yang sudah terkenal. Akan tetapi jika boleh aku bertanya, siapakah guru Taihiap (Pendekar Besar) yang gagah perkasa ini?"

Sebenarnya jarang sekali Hay Hay menyebutkan nama guru-gurunya, maka dia menjadi ragu-ragu menghadapi pertanyaan ini. Melihat keraguan pemuda itu, Hek-hiat-kwi cepat berkata, "Biarlah kelak saja kita berbicara, akan tetapi aku mohon sukalah Ji-wi menjadi tamuku dan makan bersamaku, supaya aku mendapat kesempatan mengenal Ji-wi lebih baik dan untuk menunjukkan hormat serta terima kasihku."

"Terima kasih? Untuk apa Locianpwe harus berterima kasih terhadap kami?" tanya Kui Hong yang telah memperoleh kembali kelincahannya. Semenjak dia dan Hay Hay terjatuh ke dalam jurang, gadis ini mengalami peristiwa yang menegangkan, selalu terancam maut dan baru sekarang dia merasa mendapatkan kernbali kebebasannya.

"Benar, Locianpwe tidak berhutang budi apa pun kepada kami, sebaliknya Lociapwe telah membantu sehingga Kui Hong dapat terlepas dari cengkeraman Kiu-bwe Tok-li. Kamilah yang sepatutnya berterima kasih," sambung Hay Hay.

Akan tetapi kakek itu menggeleng kepala dengan pasti. "Kalian orang-orang muda yang gagah perkasa telah menolong isteriku keluar dari tempat terasing, dan juga telah berhasil mempertemukan kami suami isteri. Tanpa bantuan Ji-wi kiranya tidak mudah bagiku untuk menundukkannya. Mari, sobat-sobat muda yang baik, silakan masuk ke dalam goa, aku mempunyai semua bahan masakan untuk dapat kita masak dan makan bersama."

Kakek itu lalu memondong tubuh isterinya yang masih lemas akibat totokan Hay Hay dan sesudah saling bertukar pandang, dua orang muda itu lantas mengikutinya dari belakang. Tanpa mengeluarkan kata, di dalam batin Hay Hay dan Kui Hong terdapat keinginan yang sama, tertarik oleh penawaran kakek itu, yaitu ingin mengisi perut mereka yang kini terasa lapar bukan main!

Goa itu lebar dan dalam, juga bersih. Seperti ruangan dalam rumah saja, ada kamarnya. "Sobat-sobat muda, di sudut sana ada sayur-sayuran, daging kering, beras, buah-buahan yang boleh kalian pilih untuk dimasak. Aku harus lebih dulu memberi pengobatan pertama kepada isteriku. Nah, silakan dan harap jangan sungkan. Nanti, sesudah aku mengobati isteriku, kita bisa makan bersama sambil bicara dengan leluasa." Hek-hiat-kwi membawa isterinya ke dalam kamarnya, yaitu di bagian paling dalam dari goa itu.

Setelah kakek itu membawa isterinya ke dalam kamar goa, Kui Hong dan Hay Hay saling pandang. Hay Hay tersenyum nakal sambil menuding ke salah satu sudut dan menepuk perutnya. Melihat sikap ini Kui Hong menjadi geli dan tersenyum pula, bahkan menutupi mulutnya agar suara tawanya jangan sampai terlepas.

Keduanya lalu berindap ke sudut tadi dan dapat dibayangkan betapa girang hati mereka menemukan barang-barang yang amat mereka butuhkan saat itu. Daging dendeng kering asin dan manis, terbuat dari daging yang segar. Sayur-sayuran yang juga masih nampak segar, bermacam-macam, ada pula lobak dan sawi kegemaran Kui Hong, juga terdapat buah-buahan yang manis segar. Di situ terdapat pula gandum, beras dan bumbu-bumbu masak yang serba lengkap!

"Heh-heh-heh, sekali ini kita makan besar!" Hay Hay berbisik.

"Kita masak di luar goa saja. Kita harus masak yang cukup banyak untuk kakek itu dan isterinya," bisik pula Kui Hong.

Hay Hay merasa setuju dan mereka lalu mengangkut bahan-bahan masakan ke luar goa di mana terdapat batu-batu yang telah disusun sedemikian rupa sebagai tempat perapian. Agaknya kadang-kadang Hek-hiat-kwi juga masak di luar goa. Hay Hay lalu mencari kayu bakar, Kui Hong memotong daging dan sayur, menanak nasi dan mulutnya tiada hentinya mengunyah buah segar. Banyak buah apel di situ, juga jeruk yang manis.

Tidak lama kemudian, sesudah kedua orang muda itu sibuk memasak beberapa macam masakan dan siap untuk mempersilakan tuan dan nyonya rumah untuk makan, mendadak mereka mendengar jerit melengking dari dalam goa. Dua orang muda itu terkejut bukan main dan bagaikan terbang saja keduanya lari ke dalam goa dan langsung menghampiri kamar goa yang daun pintunya tertutup. Tanpa ragu lagi Hay Hay mendorong daun pintu itu sehingga terbuka dan penglihatan di dalam kamar membuat mereka berdua terbelalak.

Kakek Hek-hiat-kwi duduk bersila, seperti tidak percaya menunduk dan memandang ke arah dadanya yang terluka parah. Bajunya robek dan darah merah membasahi seluruh dada, bahkan bercucuran keluar. Ada pun nenek itu, dalam keadaan telanjang bulat dan rebah miring, mukanya menyeringai seperti iblis dan kini nenek itu tertawa, seperti suara tawa yang muncul dari balik kubur.

"Hi-hi-hi-heh-heh! Jahanam Lauw Kin, kini mampuslah engkau, mampuslah di tanganku... ha-ha-ha, kita berjumpa lagi dengan dia di neraka... aughhhhhh...!" Dan tubuh itu terkulai tewas!

"Kim Siu...!" Kakek itu mengeluh, seperti orang meratap.

"Locianpwe, apa yang telah terjadi?" Hay Hay berseru dan menghampiri, diikuti Kui Hong. Mereka bersiap siaga.

"Kim Siu... ahhh, tidak kusangka... ketika aku sedang mengobatinya dengan pengerahan sinkang, mencoba mengusir hawa dari pukulan beracun yang melumpuhkan kakinya, dia siuman lantas tiba-tiba saja menyerangku dengan pukulan tangannya. Tangannya seperti sebatang golok menusuk dadaku... akan tetapi... tanpa terkendali lagi sinkang dari kedua tanganku juga menyusup secara liar ke tubuhnya dan dia... dia terluka parah… kemudian tewas dan... dan..."

"Tenanglah, Locianpwe, biar kuperiksa lukamu," kata Hay Hay yang segera menghampiri kakek itu lantas merobek bajunya. Kui Hong memandang ngeri. Dada itu seperti dibacok golok, robek dan parah sekali.

"Lihat..." kakek itu terengah, "Lihat, darahku merah! Tidak hitam lagi... tanda bahwa aku... aku telah bersih..." kakek itu tertawa bergelak, kemudian terkulai.

Ketika Hay Hay memeriksanya, dia pun sudah tewas seperti isterinya! Hay Hay menarik napas panjang. Memang luka di dada oleh pukulan Kiu-bwe Tok-li itu hebat sekali, lebih parah dari pada kalau nenek itu mempergunakan sebatang golok besar.

"Gila... sungguh gila..."

Hay Hay memandang gadis itu, akan tetapi dia diam saja sungguh pun dia merasa heran mengapa Kui Hong berkata demikian. "Mari kita keluar dari sini," ajaknya.

Kui Hong dan Hay Hay keluar dari dalam kamar maut itu, dan Hay Hay mengangkat daun pintu yang tadi roboh akibat dorongannya, kemudian memasangnya kembali.

"Aku akan mengganjalnya dengah batu besar agar tidak mudah dibuka orang."

"Hemm, mengapa kau lakukan itu?" tanya Kui Hong.

"Kita biarkan saja mereka di dalam kamar goa ini, karena tempat itu merupakan kuburan yang cukup baik. Mereka tak akan diganggu binatang buas."

Kui Hong membantu Hay Hay mendorong sebuah batu besar masuk ke goa itu dan batu itu mereka dorong sampai menutupi pintu kamar dengan rapat. Tak seekor pun binatang buas akan dapat memasuki kamar itu dan mengganggu kedua sosok mayat di dalamnya. Kemudian mereka keluar.

"Mari kita makan dulu sebelum pergi," kata pula Hay Hay.

Peristiwa yang terjadi dalam kamar goa itu amat mengerikan dan mengesankan sehingga dua orang muda yang biasanya berwatak gembira itu kini seperti kehilangan kegembiraan mereka. Bahkan Kui Hong kehilangan nafsu makannya. Tadinya dia tak mau makan sama sekali karena biar pun perutnya sangat lapar namun nafsu makannya sudah lenyap, akan tetapi Hay Hay membujuknya dan akhirnya dara itu mau juga makan sedikit nasi dengan sayur. Dia lebih banyak makan buah untuk mengisi perutnya yang kosong.

Sesudah makan Hay Hay dan Kui Hong mengembalikan semua alat-alat masak ke dalam goa dan membersihkan tempat itu, kemudian sebelum pergi, Hay Hay mengajak gadis itu berdiri di depan pintu kamar goa yang sudah tertutup batu besar.

"Locianpwe Lauw Kin, kami berterima kasih atas semua kebaikanmu. Kami hendak pergi dari sini dan semoga Locianpwe mendapat kedamaian dan ketenteraman bersama isteri Locianpwe."

Kui Hong diam saja, hanya mendengarkan ucapan Hay Hay yang seperti sedang berdoa itu. Mereka lalu keluar dari dalam goa dan menuruni bukit itu tanpa banyak bicara, namun kelegaan terasa menyusup di dalam hati setelah mereka meninggalkan tempat yang amat mengerikan itu…..

********************


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner