PENDEKAR MATA KERANJANG : JILID-70


Tak lama kemudian perahu yang ditumpangi Hay Hay telah menyelinap di antara ratusan buah perahu yang lain. Dia menyewa sebuah perahu kecil yang dicat merah, membawa bekal makanan dan minuman yang telah dibelinya di pantai tempat menyewa perahu, lalu mendayung perahu itu meluncur ke tengah telaga dan bercampur dengan ratusan buah perahu lain.

Hay Hay mulai merasa lapar, maka dia memilih tempat yang agak sunyi, jauh di tengah, lalu membuka bungkusan daging ayam panggang saus tomat, semacam sayur hijau yang menjadi masakan, beberapa butir buah pir dan apel, juga seguci kecil arak serta seguci kecil air teh. Mulailah dia makan minum seorang diri dengan hati lapang. Sungguh nikmat makan di atas perahu, di tengah telaga dengan hawa yang sejuk nyaman dan bersih.

Ahh, kalau saja ada Kui Hong di dalam perahunya, pikirnya dan ingin Hay Hay menampar kepalanya sendiri. Kenapa mendadak saja dia merasa kesepian dan teringat kepada Kui Hong? Gadis itu tentu akan marah-marah dan mungkin akan langsung menyerangnya di atas perahu! Mengingat akan hal ini, Hay Hay tersenyum lucu. Tentu mereka keduanya akan tercebur ke dalam air telaga lantas akan mengalami hal-hal aneh dan berbahaya lagi bersama-sama! Tidak, tak boleh dia mengharapkan kehadiran Kui Hong.

Bagaimana kalau Bi Lian? Setelah pikirannya menolak kehadiran Kui Hong, Hay Hay lalu teringat pada Bi Lian. Cu Bi Lian yang berjuluk Tiat-sim Sian-li itu. Murid dari dua di antara Empat Setan, yaitu Pak-kwi-ong dan Tung-hek-kwi. Bukan main gadis itu! Tak kalah oleh Kui Hong dalam segala hal. Cantiknya, lincahnya, galaknya! Bahkan lebih galak dibanding Kui Hong, walau pun belum tentu menang lihai. Akan tetapi Bi Lian juga lihai bukan main, dengan ilmu yang aneh-aneh. Tahi lalat di dagunya itu, bukan main manisnya!

Akan tetapi, kemunculan Bi Lian tentu juga hanya akan mendatangkan keributan, karena bukankah gadis itu pernah mengancamnya bahwa apa bila mereka bertemu lagi, gadis itu tentu akan menyerangnya dan tak akan memberi ampun? Dia tersenyum gembira teringat kepada Bi Lian. Seorang gadis yang hebat dan dia kagum dan suka sekali kepada gadis itu. Akan tetapi tidak, terlampau berbahaya kalau di tempat ini berjumpa dengan Bi Lian. Kalau sampai Bi Lian menggulingkan perahu!

Memang benar, selama tinggal bersama suhu-nya yang ke dua, yaitu Ciu Sian Lokai yang menjadi majikan di Pulau Hiu, dia sering kali mandi di laut sehingga sudah pandai dan menguasai ilmu renang, akan tetapi ilmunya ini tidak cukup tinggi untuk dapat melindungi diri di dalam air kalau sampai dia diserang musuh. Tidak, lebih baik jauh dari Bi Lian kalau dia ingin bersantai di telaga itu.

Begitu dia mengusir bayangan wajah Bi Lian dengan tahi lalat di dagunya yang manis itu, tiba-tiba saja muncul bayangan Pek Eng! Hay Hay mengeluh. Ada apakah dengan dirinya hari ini? Mengapa perempuan melulu yang memenuhi benaknya? Bayangan gadis-gadis cantik saja yang teringat olehnya?

Biar pun dia mencela diri sendiri namun tetap saja kini nampak wajah Pek Eng yang lucu dan manis menarik itu. Hitam manis, mata sipit yang indah, hidung yang ujungnya agak menjungkat naik, bibir yang selalu merah membasah, dan lesung pipit di pipi kiri itu. Aihh, sungguh gadis remaja yang segar, dengan tubuh tinggi semampai yang menggairahkan. Lincah jenaka dan manja!

Hay Hay tersenyum ketika teringat betapa Pek Eng pernah mencium pipinya, menyangka bahwa dia adalah kakaknya yang bernama Pek Han Siong! Gadis yang menyenangkan sekali, kalau saja berada di dalam perahunya, tentu akan diajaknya bersendau-gurau!

Dan Pek Eng tidak akan membahayakan dirinya. Pek Eng sudah memaafkannya karena kesalah pahaman itu, ketika gadis itu marah-marah karena menciumnya, mencium orang yang salah. Kembali Hay Hay tersenyum dan tanpa disadarinya, tangan kirinya mengusap pipi kiri yang pernah disentuh hidung dan bibir lembut Pek Eng.

Tetapi aku tidak mencinta Pek Eng, juga tidak mencinta Bi Lian atau Kui Hong walau pun terhadap mereka ada rasa suka yang mendalam pada lubuk hatinya. Dia tidak mencinta mereka, maka sebaiknya kalau dia tidak dekat dengan mereka. Selalu timbul keributan kalau dia dekat dengan seorang gadis.

Bagaimana jika Hui Lian? Jantungnya berdebar kencang karena dia membayangkan apa yang pernah terjadi di antara dia dengan Hui Lian, janda muda itu. Aroma tubuhnya yang harum! Bagaimana dia bisa melupakan wanita itu? Selamanya dia takkan pernah mampu melupakan Hui Lian!

Dengan Hui Lian hampir saja dia tidak mampu menguasai dirinya lagi, hampir saja terjadi pelanggaran antara mereka. Dan dia tidak pernah menyalahkan dirinya. Pria mana yang akan sanngup bertahan kalau sudah bergaul demikian dekatnya dengan seorang wanita seperti Hui Lian? Baru keharuman tubuhnya saja sudah membuat pria menjadi mabok.

Ahhh, kalau ada Hui Lian di sana, di dalam perahu bersamanya, tentu dia akan merasa semakin gembira. Tidak akan ada bahaya diserang Hui Lian, yang ada hanyalah diserang gairah nafsunya sendiri. Dan ini bahkan jauh lebih berbahaya dari pada kalau dia diserang orang!

Bagaimana dengan keadaan Hui Lian sekarang? Di mana dia berada dan apa saja yang dilakukannya? Tiba-tiba dia merasa rindu sekali kepada Hui Lian, apa lagi karena dia pun yakin bahwa Hui Lian cinta kepadanya. Dia tahu bahwa andai kata dia menanggapi cinta itu, sudah pasti mereka berdua tak akan pernah saling berpisah lagi.

Ahhh, betapa akan senangnya kalau kini mereka berdua berperahu di telaga itu, makan bersama sambil bersenda gurau bersama. Dia tidak membayangkan hal-hal yang mesra, hanya ingin dekat dan bercakap-cakap dengan wanita yang luar biasa itu!

"Hay Hay...!"

Hay Hay terlonjak kaget. Suara Hui Lian! Gila benar! Apakah lamunannya tentang wanita itu tadi membuat dia menjadi gila sehingga dia mendengar suaranya? Meski pun dia tidak percaya bahwa itu adalah suara Hui Lian yang sesungguhnya, namun dia menengok juga ke kanan dan... tak salah lagi! Yang memanggilnya tadi bukan lain adalah Kok Hui Lian!

Wanita itu nampak semakin cantik, wajahnya segar berseri tidak seperti dulu yang agak diliputi mendung kedukaan. Wanita itu duduk di dalam sebuah perahu berukuran sedang dan sekarang nampak melambai kepadanya.

Bisa dibayangkan betapa girangnya rasa hati Hay Hay. Baru saja dirindukan, dilamunkan dan kini wanita itu benar-benar berada di situ, di atas perahu yang jaraknya hanya sekitar lima meter dari perahunya, Hui Lian yang cantik jelita, Hui Lian yang manis, Hui Lian yang harum!

Saking gembiranya Hay Hay langsung bangkit berdiri, lantas sekali loncat tubuhya sudah melayang ke arah perahu Hui Lian. Untunglah bahwa mereka berada di bagian yang sepi sehingga perbuatan Hay Hay itu tidak kelihatan orang lain yang tentu akan menimbulkan kekaguman dan perhatian.

"Enci Hui Lian...!" teriaknya. "Ahh, Enci Hui Lian, betapa rindu aku padamu...!"

"Hay Hay, tidak kusangka akan berjumpa denganmu di sini!" kata Hui Lian, juga dengan suara yang gembira sekali.

Begitu kedua kakinya hinggap di atas perahu Hui Lian, Hay Hay segera menghampiri dan memegang kedua tangan wanita itu sambil mengamati Hui Lian dari ujung rambut kepala sampai ke kaki.

"Aihh, engkau nampak segar dan semakin cantik saja, Enci Hui Lian!"

"Hushhhh...! Engkau masih belum berubah juga, pemuda mata keranjang!" kata Hui Lian sambil tertawa geli, akan tetapi kedua tangannya juga membalas remasan tangan Hay Hay, tanda bahwa dia girang dan gembira sekali bertemu dengan pemuda itu.

Pada saat itu terdengar suara batuk-batuk lantas seorang laki-laki muncul dari dalam bilik perahu itu. Hay Hay merasa terkejut dan heran, akan tetapi Hui Lian bersikap tenang dan biasa saja, bahkan dia belum melepaskan kedua tangan pemuda itu dari genggamannya, hanya menoleh dan memandang kepada laki-laki yang baru muncul itu sambil tersenyum girang.

"Suheng, inilah pemuda luar biasa yang pernah kuceritakan kepadamu itu, yang bernama Hay Hay!" katanya gembira.

Hay Hay memandang pada pria yang disebut suheng (kakak seperguruan) oleh Hui Lian dan diam-diam dia pun kagum. Seorang pria yang usianya tentu sudah lima puluh tahun lebih, lengan kirinya buntung sebatas siku, memiliki tubuh tinggi besar dan pada wajahnya terbayang kejujuran, keterbukaan serta wibawa yang besar sehingga dia kelihatan gagah perkasa meski pun lengan kirinya buntung. Mengingat akan kehebatan dan tingginya ilmu kepandaian Hui Lian, dapat dia bayangkan bahwa tingkat suheng wanita itu sudah tentu lebih hebat lagi.

"Hay Hay, perkenalkanlah. Dia itu adalah Suheng Ciang Su Kiat. Dia adalah suheng-ku, juga guruku, juga suamiku."

"Ahhh...!" Begitu mendengar kata ‘suamiku’ itu, cepat-cepat Hay Hay melepaskan kedua tangannya yang semenjak tadi saling berpegangan dengan kedua tangan Hui Lian, dan mukanya berubah kemerahan, sikapnya menjadi kikuk sekali.

Ciang Su Kiat memandang dengan sikap kereng, sepasang alisnya yang tebal berkerut dan matanya mengamati wajah Hay Hay dengan tajam. "Hemmm, kiranya inikah pemuda itu? Pantas! Dia tampan menarik dan pandai merayu, seorang pemuda lihai yang mata keranjang. Sumoi, kau menyebut dia pendekar mata keranjang? Hai, orang muda, kenapa engkau segera melepaskan kedua tanganmu setelah mengetahui bahwa Hui Lian adalah isteriku? Itu adalah suatu sikap pengecut yang sama sekali tak dapat kuhargai. Bukankah katamu tadi dia nampak segar dan makin cantik? Ataukah itu pun hanya sekedar rayuan belaka?"

"Suheng...!" Hui Lian terbelalak memandang suaminya, terkejut karena suaminya belum pernah memperlihatkan sikap kurang senang seperti itu dan tahulah dia bahwa suaminya secara tiba-tiba dilanda cemburu!

"Sumoi, aku meragukan ceritamu bahwa pemuda ini mempunyai ilmu kepandaian tinggi. Sikapnya menunjukkan bahwa dia hanyalah seorang perayu yang mata keranjang dan tak mampu menguasai perasaan hatinya sendiri. Orang muda, mari kita bicara di pantai agar tidak nampak orang lain."

"Tapi... baiklah!" kata Hay Hay yang tadinya meragu akan tetapi ketika melihat sinar mata yang demikian jujur dan gagah dari Si Lengan Buntung, juga melihat sikap Hui Lian yang meragu dan agaknya gelisah, dia lalu mengambil keputusan untuk menghadapi persoalan ini sampai tuntas. Dia harus berani bertanggung jawab, untuk membela diri yang memang tidak memiliki niat buruk, juga sekalian untuk mencuci nama baik Hui Lian dari kecurigaan suaminya. Apa pun yang akan terjadi, akan dihadapinya secara jantan!

Maka sekali melompat dia pun sudah melayang ke atas perahunya sendiri. Dia menunggu sambil memegang dayung, dan untuk sesaat lamanya dua orang pria itu saling pandang dari atas perahu masing-masing. Hay Hay mengangguk kepada Su Kiat, memberi tanda bahwa dia akan mengikutinya dan Su Kiat lantas mendayung perahunya menuju ke pantai yang sepi.

Hay Hay cepat mengikutinya dari belakang, diam-diam mengagumi suami isteri itu karena selama mendayung perahu ke tepi, keduanya diam saja dan sama sekali tidak kelihatan mereka bertengkar. Sungguh sikap dua orang yang sudah matang sehingga tidak hanya menurutkan perasaan hati saja.

Biar pun hatinya merasa tegang, namun diam-diam Hui Lian ingin sekali melihat apa yang akan terjadi antara suaminya dan Hay Hay. Secara diam-diam dia pun mendongkol sekali terhadap suaminya. Tidak tahukah suaminya bahwa cintanya hanya untuk suaminya, ada pun terhadap Hay Hay dia hanya merasa suka dan kagum, seperti seorang enci terhadap adiknya saja?

Memang tidak disangkal bahwa dia pernah tergila-gila kepada pemuda ini, terdorong oleh gairah nafsu birahinya, akan tetapi itu terjadi dulu sebelum dia menjadi isteri suheng-nya. Kini tentu saja tidak ada lagi gairah nafsu terhadap pria lain karena dia telah mendapatkan segala-galanya dari suammya yang amat dicintanya.

Biarlah dia cemburu dan hendak kulihat apa yang akan dilakukannya terhadap Hay Hay, pikirnya. Dia tidak merasa khawatir karena dia mengenal benar Hay Hay yang sudah pasti tidak akan mencelakakan suaminya, dan dia pun tahu bahwa suaminya tidak akan dapat mencelakakan Hay Hay yang mempunyai ilmu kepandaian tinggi itu. Lagi pula suaminya adalah seorang pendekar perkasa, tidak mungkin mau berbuat jahat terhadap orang lain hanya karena cemburu buta yang tidak beralasan sama sekali!

Ketika suami isteri itu meloncat ke darat, Hay Hay juga sudah tiba di darat dan dia pun meloncat dengan sigapnya, menghadapi mereka dengan sikap tenang sekali.

"Toako, aku masih belum tahu apa maksudmu mengundangku ke tepi. Apa bila engkau menganggap aku bersalah karena kegembiraanku berjumpa dengan Enci Hui Lian yang tadinya belum kuketahui bahwa dia sekarang telah menjadi isterimu, maka harap engkau suka memaafkan aku. Sungguh aku tidak mempunyai maksud buruk, aku hanya demikian gembira dan hanya luapan kegembiraan inilah yang membuat aku tadi memegang kedua tangan isterimu."

"Hemmm, orang muda. Aku sudah mendengar tentang dirimu dari isteriku dan aku dapat menghargai kejujuranmu. Melihat kemunculanmu dan engkau berpegang tangan dengan Sumoi Hui Lian, aku tidak apa-apa karena aku maklum bahwa tentu engkau bergembira berjumpa dengannya, seperti juga isteriku bergembira bertemu denganmu. Tetapi engkau segera melepaskan pegangan tanganmu begitu mendengar bahwa aku suaminya. Hal ini kuanggap bahwa engkau tidak jujur, bahwa engkau tak lain hanyalah seorang lelaki mata keranjang yang pandai merayu wanita. Kini timbul dugaanku bahwa kalau dahulu engkau tidak sampai melanjutkan pelanggaran susila terhadap Sumoi hanya karena engkau tidak berani menghadapi kelihaian Sumoi. Jika sekarang engkau dapat memperlihatkan bahwa tingkat ilmu yang kau miliki memang lebih tinggi dari tingkat Sumoi atau tingkatku, baru aku percaya bahwa engkau memang tidak mau melakukan pelanggaran susila, dan baru akuakan percaya kejujuranmu. Nah, orang muda, bersiaplah untuk menandingiku dan jika engkau tidak mampu mengalahkan aku, maka aku akan menghajarmu karena engkau tak lain hanyalah seorang laki-laki mata keranjang perayu wanita yang hina!"

"Suheng…!" Hui Lian berseru. "Jangan menuduh sedemikian keji terhadap Hay Hay! Dia bukanlah orang yang seperti kau duga itu, dan engkau tidak akan menang melawan dia, Suheng! Engkau dibikin buta oleh cemburu!"

Ciang Su Kiat mengangguk-angguk akan tetapi tersenyum kepada isterinya, sama sekali dia tak memperlihatkan sikap marah kepada isterinya yang amat dicintanya itu. "Memang benar aku merasa cemburu, Sumoi. Belum pernah aku merasa cemburu seperti sekarang ini! Tapi alasanku untuk merasa cemburu kuat sekali, bukan cemburu karena menyangka engkau tak setia padaku. Sama sekali bukan. Dijauhkan Tuhan aku dari perasaan seperti itu kepadamu, Sumoi. Akan tetapi aku merasa cemburu oleh sikap pemuda ini. Karena itu, sebelum dia bisa menunjukkan bahwa persangkaanku terhadap dirinya tidak benar, yaitu dengan mengalahkan aku, maka hatiku akan selalu digoda cemburu dan prasangka buruk terhadap dirinya."

"Tapi telah kuceritakan kepadamu betapa dia seorang yang kuat lahir batin. Memang dulu aku pernah tergila-gila kepadanya dan andai kata bukan dia yang kuat batinnya sehingga mengingatkan aku, tentu saat itu akan terjadi pelanggaran susila. Dialah yang mencegah terjadinya pelanggaran itu, Suheng. Semua itu telah kuceritakan kepadamu."

"Aku percaya padamu, Sumoi. Akan tetapi aku tidak percaya padanya. Dia bukan dewa, dan tidak mungkin dia kuat menolak dirimu! Kalau dia melakukan hal itu, tentu karena dia takut akan akibatnya, takut akan kelihaianmu dan takut menghadapi kemarahanmu pada kemudian hari. Nah, orang muda, majulah dan kita akan melihat bukti kejujuranmu."

"Suheng, engkau tak akan menang," kata pula Hui Lian.

"Kalau begitu barulah puas hatiku dan aku akan minta maaf kepadanya, juga kepadamu, Sumoi. Marilah, orang muda."

"Hay Hay, layani dia. Si Keras Hati ini memang harus diperlihatkan buktinya, kalau tidak, dia akan gelisah terus, tak enak makan tak enak tidur!" akhirnya Hui Lian berkata.

Hay Hay menghela napas panjang, lantas melangkah maju menghadapi Su Kiat sambil berkata, "Ciang-toako, aku tidak menyangkal bahwa aku suka akan keindahan, suka akan kecantikan wanita seperti aku suka akan tamasya alam indah, akan bunga-bunga. Aku suka dengan keindahan dan kecantikan wanita merupakan suatu keindahan yang sangat mengagumkan. Enci Hui Lian adalah seorang wanita yang cantik jelita luar biasa. Harus kuakui bahwa aku pernah tergila-gila kepadanya, namun bukan berarti aku mencintanya. Demikian pula Enci Hui Lian, dia tidak cinta kepadaku. Kami saling tertarik karena saling mengagumi, karena dorongan gairah birahi yang wajar. Katakanlah aku mata keranjang, akan tetapi jangan mengira bahwa nafsu birahi akan mudah begitu saja mengalahkan aku sehingga aku menjadi mata gelap lantas melakukan pelanggaran susila. Aku sama sekali bukan takut menghadapi ilmu kepandaian Enci Hui Lian, melainkan takut kalau sampai aku menodainya lalu membuat hidupnya sengsara karena merasa kehormatannya sudah ternoda. Sekarang engkau tak percaya kepadaku dan hendak mengujiku. Silakan, Ciang-toako!"

Ciang Su Kiat mengangguk-angguk. "Bagus, nah, kau terimalah seranganku ini!"

Dan begitu orang yang buntung lengan kirinya ini menyerang, Hay Hay merasa terkejut dan kagum. Dia sudah menyangka bahwa Si Lengan Kiri Buntung ini tentulah ahli ginkang yang hebat, mengingat betapa Hui Lian juga hebat bukan main dalam hal ginkang. Dan dugaannya memang tepat. Meski pun tadinya Ciang Su Kiat tidak memasang kuda-kuda, hanya berdiri biasa saja, akan tetapi begitu kata-katanya habis, tubuhnya telah menerjang dengan kecepatan yang akan mengaburkan pandang mata lawan saking cepatnya.

Lengan kanannya bergerak menyambar dengan sebuah pukulan ke arah dada Hay Hay, nampaknya perlahan saja, akan tetapi datangnya cepat sekali dan dari telapak tangannya menyambar hawa pukulan yang dahsyat. Pukulan ini menjadi semakin berbahaya karena dibayangi sambaran ujung lengan baju kosong yang menotok ke arah pelipis kanan Hay Hay!

Memang, Su Kiat yang ingin menguji kepandaian pemuda itu tak mau membuang banyak waktu dan begitu bergerak dia telah mainkan Ilmu Silat Sian-eng Sin-kun, ilmu silat sakti peninggalan kitab dari Sian-eng-cu The Kok, seorang di antara Delapan Dewa. Tentu saja serangannya itu hebat bukan main.

Akan tetapi yang diserangnya adalah seorang pemuda yang juga menjadi murid dua orang di antara Delapan Dewa, bahkan pemuda ini digembleng oleh dua orang sakti itu sendiri, tidak seperti Ciang Su Kiat yang hanya mempelajari dari peninggalan kitab. Oleh karena itu, kalau dibuat perbandingan, tentu saja dalam hal ilmu silat Su Kiat masih kalah jauh bila dibandingkan dengan Hay Hay.

Akan tetapi, untuk mengurangi jarak kekalahannya dalam pendidikan ilmu silat, si lengan kiri buntung ini telah memiliki tenaga yang luar biasa berkat makan jamur selama sepuluh tahun, jamur aneh yang hanya terdapat di dalam sebuah goa di tebing yang terjal, maka kekalahannya itu bisa ditebus dengan kekuatan mukjijat itu. Makan jamur selama sepuluh tahun ini membuat Su Kiat dan Hui Lian mempunyai tenaga sinkang dan ginkang yang istimewa, dan pada Hui Lian bahkan akibatnya membuat wanita ini memiliki keringat yang harum baunya!

Melihat datangnya serangan, Hay Hay cepat melangkah ke belakang sambil mengibaskan kedua tangannya menangkis. Akan tetapi dengan kecepatan yang luar biasa Su Kiat telah menarik lengan kanannya, kemudian segera melangkah maju mendesak dan menyerang lagi dengan lebih ganas.

Kini ujung lengan baju kiri itu tiba-tiba menegang dan menusuk seperti sebatang pedang ke arah muka Hay Hay, tepat di antara kedua matanya, sedangkan tangan kanan sudah melakukan cengkeraman ke arah perut. Dua serangan ini datang secara bertubi dan yang berbahaya adalah karena kecepatannya. Ujung lengan baju tangan kiri itu juga tidak boleh dipandang ringan karena sesudah dialiri tenaga sinkang, menjadi kaku seperti sebatang pedang dan kalau mengenai sasaran antara kedua mata Hay Hay, tentu amat berbahaya.

Akan tetapi dengan tenang dan mudah saja Hay Hay kembali mampu menghindarkan diri, dengan memutar tubuh sambil mengibaskan kedua tangan menangkis. Dia masih belum mau membalas karena belum merasa perlu dan belum terdesak. Melihat betapa pemuda itu dengan mudahnya dapat menghindarkan diri, Ciang Su Kiat tak mau memberi hati dan kini dia menyusulkan serangan bertubi-tubi, dengan ujung lengan baju kiri, dengan tangan kanan, bahkan dengan kedua kakinya yang dapat mengirim tendangan istimewa.

Kini Hay Hay didesak terus dengan serangan yang datang laksana gelombang samudera, susul-menyusul dan tiada hentinya. Dibandingkan dengan Kok Hui Lian, tentu saja tingkat Ciang Su Kiat lebih tinggi, karena sebelum keduanya menemukan kitab-kitab peninggalan dua orang di antara Delapan Dewa, yaitu mendiang Sian-eng-cu The Kok dan mendiang In Liong Nio-nio, Su Kiat sudah memiliki ilmu silat yang cukup kuat sebagai murid pilihan Cin-ling-pai sedangkan Hui Lian masih merupakan seorang gadis cilik yang belum pernah belajar ilmu silat.

Kini Hay Hay terkejut dan dia harus mengakui bahwa lawannya amat tangguh, dan kalau dia hanya main elak dan tangkis saja, maka akhirnya dia akan terancam bahaya besar. Karena itu, sesudah membiarkan lawannya mendesaknya sampai belasan jurus, barulah Hay Hay mulai membalas dan karena dia maklum bahwa dia tidak boleh main-main dalam menghadapi seorang lawan tangguh seperti itu, begitu membalas dia telah mengeluarkan ilmu simpanan Ciu-sian Cap-pek-ciang!

Ilmu ini adalah ciptaan Ciu-sian Lo-kai, sudah sangat hebat walau pun hanya terdiri dari delapan belas jurus. Akan tetapi setelah Hay Hay digembleng oleh kakek aneh setengah gila Song Lo-jin, semua ilmunya, termasuk Ciu-sian Cap-pek-ciang, menjadi hebat bukan main!

Begitu Hay Hay mengelak dan menangkis lalu membalas dengan jurus ke tiga belas yang disertai pengerahan sinkang, Ciang Su Kiat yang mencoba untuk menangkis langsung merasa seperti dilanda badai dan betapa pun dia bertahan, tetap saja tubuhnya terlempar ke belakang seperti daun kering tertiup angin. Dia terhuyung sehingga akhirnya terpaksa merobohkan dirinya dan bergulingan agar jangan sampai terbanting.

Melihat betapa suaminya terlempar dan terhuyung kemudian bergulingan, Hui Lian cepat meloncat ke depan dan menyerang Hay Hay dengan tamparannya.

"Engkau melukai suamiku...!" bentaknya marah.

Hay Hay terkejut sekali, akan tetapi dia tak mengelak dan menerima tamparan itu dengan pundaknya.

"Plakkk!" Dan tubuh Hay Hay terpelanting!

"Sumoi, jangan...!" Ciang Su Kiat membentak.

"Aihh, Suheng, engkau tidak apa-apa?" Hui Lian membalik dan girang melihat suaminya sudah berada di belakangnya dan tidak kelihatan terluka parah.

"Aku tidak apa-apa. Kenapa engkau menyerang dia, Sumoi?"

"Kukira... kukira dia telah melukaimu, Suheng...," kata Hui Lian menyesal.

Su Kiat menghampiri Hay Hay yang sudah bangkit berdiri. Ada sedikit darah di ujung bibir Hay Hay. Tamparan tadi memang hebat, akan tetapi dia sengaja menerimanya. Dia tidak terluka, namun guncangan karena tamparan itu membuat dia muntahkan sedikit darah.

"Saudara Hay Hay, engkau tidak apa-apa?" tanya Su Kiat, suaranya ramah dan pandang matanya penuh kagum. "Maafkan isteriku..."

Hay Hay tersenyum. "Tidak mengapa, Toako. Aku tahu bahwa Enci Hui Lian memang galak dan tamparannya hebat sekali. Akan tetapi kini bertambah pengetahuanku bahwa ia amat mencintamu, Toako, dan tadi ia seperti seekor singa betina marah melihat jantannya diganggu!"

"Ah, Hay Hay, kau maafkan aku!" kata Hui Lian yang menghampiri dan dengan menyesal dia lalu meletakkan tangannya di atas pundak Hay Hay, untuk memeriksa pundak yang ditamparnya tadi.

Su Kiat tersenyum melihat isterinya merangkul pundak pemuda itu, kemudian dia pun ikut merangkul Hay Hay. "Engkau seorang pemuda yang betul-betul hebat, Hay Hay! Engkau memang pantas mendapatkan perhatian serta kasih sayang setiap orang wanita. Engkau demikian lihai, akan tetapi tidak mau mempergunakan ketampanan dan kelihaianmu untuk menghina wanita, bahkan engkau mengalah terhadap aku yang mencurigaimu. Maafkan aku."

Hay Hay tertawa gembira kemudian dia pun merangkul kedua orang itu seperti dua orang sahabat baiknya. Dia menoleh ke kiri, ke arah Hui Lian. "Enci, pilihanmu yang terakhir ini sungguh tepat sekali. Engkau telah memperoleh seorang suami yang hebat, mempunyai kepandaian tinggi, berwatak jujur dan terbuka, gagah perkasa. Sungguh, dan engkau juga, Ciang-toako, engkau telah memperoleh seorang isteri yang tiada duanya di dunia ini. Aku harus mengucapkan kionghi (selamat) kepada kalian!" Dia pun melepaskan rangkulannya dan memberi hormat kepada mereka yang dibalas oleh suami isteri itu yang tersipu-sipu, akan tetapi juga gembira sekali.

"Nah, Hay Hay, sekarang mari kita lanjutkan percakapan kita dalam pertemuan yang tadi terganggu," kata Hui Lian sambil melirik ke arah suaminya yang juga tersenyum. "Engkau datang dari mana dan hendak ke mana?"

Hay Hay mengangkat tangan lantas mengamangkan telunjuknya kepada Hui Lian seperti orang menegur. "Ihhh, Enci Hui Lian, sudahlah jangan menyindir suamimu sendiri. Aku dalam perjalanan menuju ke Pegunungan Yunan..."

"Ahh...! Apa sekiranya ada hubungannya dengan persekutuan orang-orang dunia hitam?" Hui Lian memotong.

"Benarkah engkau hendak menyelidiki persekutuan yang kabarnya dipimpin oleh Lam-hai Giam-lo itu?" Ciang Su Kiat juga bertanya.

Kini Hay Hay memandang mereka dengan mata terbelalak. "Wah, kalian ini bukan saja suami isteri yang lihai ilmu silatnya, akan tetapi agaknya juga pandai sekali meramal dan membaca isi hati orang. Bagaimana kalian bisa menduga bahwa aku hendak menyelidiki persekutuan itu dan kalian tahu pula bahwa persekutuan itu dipimpin Lam-hai Giam-lo?"

"Tentu saja kami dapat menduga karena kami sendiri pun sedang menuju ke sana. Kami sudah mendengar mengenai persekutuan itu, akan tetapi kami tidak ada urusan dengan itu, yang penting aku harus mencari Lam-hai Giam-lo, musuh besar kami!" kata Ciang Su Kiat.

"Musuh besar kalian?"

"Dialah yang dulu membuat kami berdua terjatuh ke dalam jurang sehingga kami berdua terpaksa hidup selama sepuluh tahun di dalam jurang itu sebelum kami berhasil naik ke dunia ramai. Sudah lama kami mencarinya dan beberapa kali kami hampir saja berhasil membunuhnya, akan tetapi dia selalu mampu menghindarkan diri hingga akhirnya selama bertahun-tahun ini kami kehilangan jejak. Entah di mana dia bersembunyi," kata Hui Lian.

"Baru beberapa bulan yang lalu kami mendengar bahwa dia sekarang memimpin sebuah persekutuan antara tokoh-tokoh sesat yang hendak menyusun kekuatan di pegunungan atau dataran tinggi Yunan, kabarnya mereka hendak mengadakan pemberontakan. Kami tidak peduli akan hal itu, tetapi yang penting kami harus mencari Lam-hai Giam-lo untuk membalas kejahatannya yang dilakukan kepada kami belasan tahun yang lalu," sambung Su Kiat.

"Dan engkau sendiri, apakah yang mendorongmu untuk melakukan penyelidikan tentang persekutuan tokoh-tokoh sesat itu, Hay Hay?" tanya Hui Lian.

Hay Hay kemudian menceritakan tentang pertemuannya dengan Menteri Yang Ting Hoo di rumah Jaksa Kwan. "Enci Hui Lian, engkau tentu masih ingat mengenai mustika batu kemala milik Jaksa Kwan? Nah, aku pergi ke rumah Jaksa Kwan untuk mengembalikan batu mustika itu, akan tetapi Jaksa Kwan memberikan batu itu kepadaku dan di sana aku bertemu dengan Menteri Yang Ting Hoo. Mereka berdua menceritakan tentang Lam-hai Giam-lo yang memimpin persekutuan para tokoh sesat yang lihai, dan di antara mereka terdapat banyak tokoh sesat yang berilmu tinggi seperti Lam-hai Siang-mo, suami isteri Goa Iblis Pantai Selatan Min-san Mo-ko, Tok-sim Mo-li Ji Sun Bi, bahkan para pendeta Pek-lian-kauw juga telah bergabung dengan mereka. Menteri Yang minta bantuanku agar membantu para pendekar untuk menghadapi para tokoh sesat, sedangkan pasukan kaum pemberontak akan dihancurkan oleh pasukan pemerintah kalau saatnya tiba. Aku pun lalu berangkat dan sampai di sini, tertarik oleh keindahan telaga ini, aku lalu berhenti dengan maksud hendak menikmati keindahan telaga selama beberapa hari sebelum melanjutkan perjalanan."

"Hemm, kalau begitu, kami pun akan membantu para pendekar untuk menentang gerakan persekutuan itu!" kata Su Kiat penuh semangat.

"Kebetulan sekali engkau tertarik oleh telaga ini. Begitu pula dengan kami, Hay Hay. Kami melihat telaga ini dari atas saat akan memasuki kota Wei-ning dan kami juga tertarik lalu singgah di sini. Sungguh kebetulan sekali sehingga kita dapat saling jumpa. Kalau begitu, sebaiknya kalau kita pergi bersama ke dataran tinggi Yunan, bersama-sama melakukan penyelidikan terhadap persekutuan itu!" kata Hui Lian gembira.

Akan tetapi Hay Hay menggeleng kepalanya dan tersenyum. Dia maklum bahwa biar pun Su Kiat kelihatan tersenyum dan sinar matanya tidak lagi membayangkan keraguan dan kemarahan, namun pendekar itu tetap saja merupakan seorang laki-laki biasa dan tentu akan timbul kembali cemburunya apa bila dia melakukan perjalanan bersama mereka dan kemudian nampak hubungan yang amat akrab antara dia dan Hui Lian. Tidak, dia takkan mengganggu ketenteraman dan kedamaian hubungan suami isteri yang saling mencinta itu.

"Kurasa sebaiknya kalau kita melakukan tugas kita secara terpisah. Bukankah akan lebih mudah melakukan penyelidikan bila kita berpencar? Kita tentu akan saling jumpa di sana dan dapat saling membantu," katanya.

Su Kiat mengangguk-angguk. "Apa yang dikatakan Hay Hay itu memang benar. Lam-hai Giam-lo sudah lihai, kalau dia dibantu oleh banyak tokoh sesat yang lihai, maka keadaan di tempat itu tentu sangat berbahaya. Kita harus berhati-hati dan melakukan penyelidikan beramai-ramai tentu akan lebih mudah diketahui pihak musuh."

Hui Lian kelihatan kecewa, akan tetapi dia tidak mendesak karena naluri kewanitaannya yang halus juga memperingatkannya bahwa kebersamaannya dengan Hay Hay memang cukup berbahaya dan dapat menimbulkan salah sangka dan cemburu di pihak suaminya.

"Sudah tiga hari ini kami berada di sini, hari ini kami harus melanjutkan perjalanan. Kami akan berangkat lebih dahulu," kata pula Su Kiat. Mereka lalu berpamit dari Hay Hay yang masih ingin pesiar di telaga itu.

Hay Hay cepat-cepat menghapus ingatannya dari suami isteri itu dan kembali mendayung perahunya setelah suami isteri itu mengembalikan perahu yang mereka sewa. Akan tetapi sungguh mengherankan hati Hay Hay. Walau pun dia sudah berhasil mengusir bayangan suami isteri itu, terutama sekali bayangan Hui Lian, tetapi tetap saja dia sudah kehilangan kegembiraan dan kehilangan gairah. Dia merasa seolah-olah kesepian.

Akhirnya dia pun mendayung perahunya ke tepi dan mengembalikan perahu sewaan itu, lantas menggendong buntalan pakaiannya dan berjalan-jalan di tepi telaga. Matahari telah naik tinggi dan sinarnya menyengat kulit. Hay Hay menjauhkan diri dari tempat ramai dan berjalan-jalan di bagian tepi telaga yang penuh dengan pohon-pohon rindang. Di situ amat sunyi dan dia terlindung dari sinar matahari yang terik.

Tidak ada seorang pun di situ, juga perahu-perahu itu berada jauh dari bagian itu, hanya merupakan perahu-perahu yang terlihat kecil dan memenuhi permukaan telaga di sebelah sana dan di tengah telaga. Akan tetapi tidak sebanyak pagi tadi.

Perahu-perahu yang tidak mempunyai bilik, yaitu perahu-perahu kecil yang terbuka, mulai berkurang. Tentu mereka yang menggunakan perahu-perahu terbuka itu telah kepanasan sehingga mulai meninggalkan telaga. Hanya perahu-perahu yang ada biliknya saja yang masih berseliweran, agaknya para penumpangnya merasa asyik sendiri terutama mereka yang membawa gadis-gadis penghibur.

Hay Hay sama sekali tidak tahu bahwa semenjak pertemuannya dengan pendeta-pendeta Pek-lian-kauw di malam itu, para pendeta itu tak pernah melepaskannya dari pengamatan dan pengintaian. Bahkan banyak mata menonton dari jarak aman ketika dia bertanding melawan Ciang Su Kiat.

Semakin teganglah hati para pendeta Pek-lian-kauw melihat betapa pemuda yang mereka takuti itu masih dapat menang menghadapi lawan Si Lengan Buntung yang demikian lihai pun! Sebagian dari mereka telah lama memberi laporan kepada Lam-hai Giam-lo tentang munculnya pemuda lihai itu.

Lam-hai Giam-lo tentu saja menjadi curiga dan penasaran, lalu dia mengutus dua orang pembantunya yang paling dipercaya, yaitu Min-san Mo-ko dan Tok-sim Mo-li Ji Sun Bi, untuk menyelidiki siapa pemuda itu dan kalau perlu membantu lima tokoh Pek-lian-kauw untuk menundukkan pemuda itu.

"Kalau benar dia selihai seperti yang dilaporkan, kalau mungkin bujuklah supaya dia dapat bekerja sama dengan kita, membantu gerakan kita," pesan Lam-hai Giam-lo kepada dua orang pembantunya itu, "Kukira Tok-sim Mo-li cukup tahu bagaimana untuk menundukkan hati seorang pemuda. Tapi kalau kiranya tidak mungkin, bunuh saja dia dari pada menjadi ancaman bagi kita."

Dengan penuh semangat, guru dan murid yang menjadi kekasih itu berangkat bersama pendeta Pek-lian-kauw yang melapor itu. Akan tetapi, ketika Min-san Mo-ko dan Ji Sun Bi melihat siapa adanya pemuda itu, tentu saja mereka terkejut bukan main.

"Hay Hay...!" desis Ji Sun Bi dari tempat dia mengintai.

"Pemuda setan itu!" kata pula Min-san Mo-ko dengan hati gentar.

Mereka sudah pernah merasakan kelihaian pemuda itu, bukan hanya lihai ilmu silatnya, akan tetapi bahkan mempunyai ilmu sihir yang pernah membuat guru dan murid ini tidak berdaya dan dipermainkan. Pantas saja lima orang pendeta Pek-lian-kauw yang ahli sihir itu tidak mampu menandinginya!

Sekarang guru dan murid itu sendiri bahkan saling pandang dengan sikap ragu-ragu dan was-was karena mereka sangsi apakah dengan bantuan mereka yang bergabung dengan lima orang pendeta Pek-lian-kauw itu mereka akan mampu mengalahkan Hay Hay.

"Kita harus minta bala bantuan," kata Min-san Mo-ko kepada muridnya, tanpa malu-malu lagi.

Ji Sun Bi mengangguk. "Benar, kurasa hanya ada dua orang saja di dalam perserikatan kita yang akan mampu menandinginya. Pertama tentu saja Lam-hai Giam-lo sendiri, akan tetapi Bengcu kita itu tak mungkin turun tangan sendiri. Dan yang ke dua adalah Ki Liong. Baiknya aku segera mengundangnya ke sini untuk memperkuat kita."

Min-san Mo-ko yang maklum akan kelihaian Ki Liong yang sekarang dikenal sebagai Sim Ki Liong, pembantu utama dari Lam-hai Giam-lo, mengangguk menyetujui. Berangkatlah Ji Sun Bi secepatnya, kembali ke dataran tinggi Yunan yang tak berapa jauh lagi dari situ, sedangkan Min-san Mo-ko dan lima orang pendeta Pek-lian-kauw itu hanya membayangi Hay Hay dari kejauhan, tidak berani turun tangan. Karena Hay Hay mengambil keputusan hendak tinggal selama tiga hari di kota Wei-ning sambil berpesiar di Telaga Cao, maka Ki Liong dapat tiba di situ bersama Ji Sun Bi sebelum Hay Hay meninggalkan tempat itu.

Pada hari terakhir itu pagi-pagi sekali Hay Hay sudah duduk di tepi telaga, di tempat yang paling sepi, sambil memegang setangkai pancing. Kemarin ketika berperahu dia melihat bahwa di bagian ini justru banyak sekali ikannya. Dia ingin sekali mengail ikan di situ dan apa bila mendapatkan ikan akan dipanggangnya di situ pula. Untuk keperluan ini dia telah membawa bumbu dan garam dari rumah penginapan.

Akan tetapi sial baginya. Sudah satu jam lebih dia duduk di situ tetapi tak seekor pun ikan mencium umpannya! Dia menganggap dirinya sial, padahal hari masih terlalu pagi maka agaknya ikan-ikan masih belum waktunya keluar dari sarang mencari makanan.

"Huh, apakah kalian masih tidur semuanya? Ataukah belum waktunya sarapan pagi? Atau pergi melancong sekeluarga kalian?" Hay Hay mengomel panjang pendek akan tetapi dia lalu tertawa geli, mentertawakan diri sendiri. Mana mungkin ada ikan tidur?

Dan dia termenung. Bagaimana kalau ikan beristirahat dan tidur? Apakah juga ada waktu makan seperti manusia, makan pagi, siang dan malam sebanyak tiga kali? Ataukah asal lapar lalu makan tanpa kenal waktu? Dan pernahkan keluarga ikan itu bersenang-senang, pelesir bersama anak isterinya? Gambaran ini demikian menggelitik hatinya sehingga dia pun tertawa dengan bebas karena di tempat itu tidak terdapat orang lain.

"Ha-ha-ha-ha, engkau pasti sudah gila, Hay Hay!" demikian dia berkata, lalu mengangkat pancingnya, mengganti dengan umpan yang baru dan mulai memancing lagi.

Memancing adalah sebuah pekerjaan yang mengasyikkan. Apa bila dia tidak membiarkan pikirannya melamun, mengingat-ingat hal yang lalu atau membayangkan hal mendatang, maka pikiran menjadi tenang dan hening, dan jika semua perhatiannya ditujukan kepada tali pancing di permukaan air telaga, maka keadaannya hampir sama dengan kalau dia bersemedhi.

Tenang dan damai, demikianlah keadaan seorang yang sedang mengail kalau pikirannya tidak melayang-layang, melainkan tenggelam dalam keheningan. Dia menjadi lupa waktu, lupa keadaan, tidak menyadari bahwa satu jam telah berlalu pula dan kini sinar matahari pagi mulai menciptakan sinar keemasan pada permukaan air telaga. Dan agaknya sinar matahari pagi itu yang menggugah ikan-ikan karena mulailah dia merasa betapa ujung tali pancingnya bergerak-gerak, tanda bahwa umpannya mulai ada yang menciumnya!

Tentu saja seluruh perhatian Hay Hay dicurahkan ke ujung pancingnya sehingga dia tidak tahu akan datangnya sebuah perahu kecil yang di dayung oleh seorang gadis menuju ke tempat dia mengail. Hay Hay baru sadar ketika ikan-ikan yang mulai mencium umpannya itu tiba-tiba saja melepaskan umpan dan permukaan air berombak, lalu terdengar suara dayung memukul air.....


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner