PENDEKAR MATA KERANJANG : JILID-72


Kui-kok-pang didirikan oleh sepasang suami isteri yang memiliki kepandaian tinggi sekali. Si Suami berjuluk Kui-kok Lo-mo dan isterinya Kui-kok Lo-bo, yaitu kakek dan nenek dari Lembah Kui-kok. Mereka selalu berpakaian putih dan muka kedua orang suami isteri ini pun putih seperti muka mayat, dengan mata mencorong. Ilmu kepandaian suami isteri ini hebat bukan main sehingga nama Kui-kok-pang, perkumpulan yang mereka dirikan, amat terkenal di dunia persilatan.

Akan tetapi, di dalam kebesarannya suami isteri ini bernasib sial karena bentrok dengan Raja dan Ratu Iblis, dua orang tokoh yang menjadi datuk terbesar di dunia hitam sehingga Kui-kok Lo-mo dan Kui-kok Lo-bo tewas di tangan Ratu Iblis yang sakti. Kini yang menjadi Ketua Kui-kok-pang adalah Kim San, seorang murid suami isteri itu yang paling banyak mewarisi ilmu kepandaian mereka. Kui-kok-pang lalu bangkit kembali dan kini menyusun kekuatan dengan bekerja sama di bawah pimpinan Lam-hai Giam-lo.

Seperti para pembantu lain yang bersekutu di dalam gerombolan yang dipimpin Lam-hai Giam-lo, para tokoh Kui-kok-pang tak ketinggalan ikut bekerja keras untuk menggembleng anak buah mereka, dan seperti para pembantu lain, juga berkeliaran mencari teman baru untuk ditarik menjadi anggota kelompok mereka untuk memperkuat pasukan yang sedang mereka susun.

Si Gendut Pendek bersama beberapa orang anak buahnya juga sedang bertugas mencari teman. Pada saat mereka berkeliaran sampai ke daerah Telaga Cao, dua orang di antara mereka, yang bertubuh tinggi besar, bertemu dengan Ling Ling di tengah jalan yang sepi.

Melihat ada seorang dara muda yang cantik melakukan perjalanan seorang diri, tentu saja membangkitkan nafsu kedua orang anggota Kui-kok-pang yang sudah biasa melakukan segala jenis kejahatan itu. Mereka bermaksud menggoda, akan tetapi mereka kecelik dan akibat dari godaan itu, mereka berdua dihajar oleh Ling Ling sehingga mereka terpaksa melarikan diri dalam keadaan babak-belur.

Mereka kemudian mengadu kepada pimpinan mereka, yaitu Si Pendek Gendut. Orang ini adalah seorang laki-laki yang lemah terhadap wanita cantik. Mendengar bahwa dua orang anak buahnya baru saja dihajar oleh seorang gadis cantik, hatinya merasa penasaran dan bersama kedua orang anak buahnya itu, dia pun segera mencari gadis itu dan akhirnya dapat menemukan Ling Ling yang sedang bercengkerama dengan Hay Hay.

Demikianlah sedikit mengenai Kui-kok-pang. Tidak mengherankan jika Si Pendek Gendut itu mampu membebaskan pengaruh totokan It-sin-ci dari Ling Ling karena kebetulan dia sudah mewarisi satu di antara ilmu-ilmu yang aneh, yang ditinggalkan Kui-kok Lo-mo dan Kui-kok Lo-bo, yaitu Ilmu Kekebalan Trenggiling Besi.

Sekarang Si Gendut sudah meloncat bangun dan menyerang lagi, diikuti oleh dua orang pembantunya yang menjadi besar hati ketika melihat betapa suheng mereka tadi biar pun sempat roboh tapi dapat bangkit kembali dengan cepat, dan agaknya hal ini mengejutkan gadis itu yang memandang dengan mata terbelalak.

Memang kebangkitan Si Gendut yang tidak tersangka-sangka itu sudah mengejutkan hati Ling Ling, akan tetapi tidak membuatnya menjadi gugup. Begitu melihat ketiga orang itu telah maju menerjangnya lagi, dia cepat menyelinap di antara bayangan tiga buah senjata tajam itu dengan menggunakan langkah-langkah ajaibnya. Setelah membiarkan tiga orang lawannya menyerang sampai empat lima jurus dan melihat kesempatan terbuka, tiba-tiba saja sambil membuat gerakan memutar dalam langkah-langkahnya dia menyerang secara bertubi-tubi ke arah tiga orang lawan itu dengan jurus-jurus cepat dari Ilmu Silat San-in Kun-hoat (Ilmu Silat Awan Gunung), salah satu di antara ilmu silat Cin-ling-pai yang halus dan hebat.

Terdengar suara teriakan-teriakan ketika tubuh tiga orang itu berturut-turut roboh dan dua batang golok terlepas dari pegangan pemiliknya. Tubuh Si Pendek Gendut itu roboh untuk kedua kalinya. Kembali dia mempergunakan ilmunya Trenggiling Besi, bergulingan lantas melompat bangun.

Akan tetapi melihat betapa dua orang pembantunya begitu dapat bangun terus melarikan diri dengan terpincang-pincang, Si Gendut itu pun agaknya sudah kehabisan nyali dan dia pun tanpa banyak cakap lagi langsung memutar tubuh lantas melarikan diri menyusul dua orang anak buahnya!

Hay Hay tertawa sambil bertepuk tangan memuji. Dia merasa kagum sekali, bukan hanya karena kelihaian Ling Ling, akan tetapi terutama sekali dia merasa gembira dan kagum karena jelas nampak olehnya betapa di dalam perkelahian tadi Ling Ling sudah mengalah dan sama sekali tidak pernah menggunakan tangan besi.

Kalau saja gadis itu menghendaki, dengan mudah dia akan mampu merobohkan mereka bertiga sehingga tidak dapat bangun kembali, tewas atau setidaknya terluka parah. Akan tetapi tidak, gadis itu jelas hanya ingin menundukkan mereka tanpa ingin melukai. Ini saja telah membuktikan bahwa Ling Ling adalah seorang gadis yang mempunyai watak halus, penyabar dan sama sekali tidak kejam. Berbeda dengan banyak pendekar wanita yang ringan tangan dan kadang-kadang terlampau ganas terhadap penjahat. Gadis ini seorang pemaaf besar!

"Hebat sekali, Ling-moi! Engkau membuat aku kagum!" kata Hay Hay memuji.

Ling Ling tersenyum. "Apanya sih yang patut dipuji? Meski pun aku belum pernah melihat kepandaianmu, tetapi aku berani memastikan bahwa engkau jauh lebih pandai dari pada aku, Hay-ko."

"Hemm, dari mana engkau dapat memastikan seperti itu, Adikku yang manis?"

"Dari sikapmu, Hay-ko, juga ketika engkau menangkap ikan dengan alat pancingmu tadi. Engkau bersikap sederhana hanya untuk menutupi kelihaianmu, Hay-ko."

Hay Hay memandang kagum. "Ling-moi, engkau memang seorang gadis yang luar biasa sekali. Aku masih terheran-heran, dari mana engkau mahir memainkan ilmu langkah ajaib Jiauw-pouw-poan-soan itu...?"

Kini Ling Ling memandang penuh selidik. "Nah, tak keliru dugaanku. Baru melihat engkau sudah dapat mengenal gerakanku. Betapa tajamnya pandang matamu, Hay-ko. Menurut ayahku, karena ilmu itu merupakan ilmu simpanan maka jarang atau mungkin tidak ada orang yang mengenalnya, namun begitu melihat gerakanku engkau segera mengenalnya. Aku mempelajarinya dari ayahku, Hay-ko. Dan bagaimana engkau dapat mengenal ilmu kami itu?"

Akan tetapi Hay Hay tidak menjawab, melainkan memandang dengan mata terbelalak, lalu bertanya lagi, "Apakah nama keluargamu Cia?"

Ling Ling mengangguk dengan rasa heran. Bagaimana pula pemuda ini tahu atau dapat menduga tentang nama keluarganya?

"Dan ayahmu bernama Cia Sun?"

Dara itu bengong, lalu tersenyum. "Wah, ini namanya sudah keterlaluan, Hay-ko. Engkau membuat aku semakin bingung, heran dan penasaran sekali. Engkau dapat mengetahui segalanya mengenai diriku. Apakah engkau menguasai ilmu meramal? Jangan membikin aku bingung keheranan, Hay-ko. Bagaimana engkau dapat menduga demikian tepat?"

"Karena ilmu langkah tadilah, Ling-moi. Ketahuilah bahwa ayahmu yang bernama Cia Sun itu adalah suheng-ku."

"Ahhh...? Bagaimana mungkin? Ayah tidak pernah bercerita bahwa dia memiliki seorang sute seperti engkau!"

"Memang, dia sendiri pun tidak tahu bahwa aku adalah sute-nya."

"Tapi... tapi, guru ayahku ada dua. Yang seorang adalah kakekku sendiri..."

"Aku tahu, tentu kakekmu, pendekar sakti yang tinggal di Lembah Naga itu, bukan? Akan tetapi yang kumaksudkan tadi adalah gurunya yang berjuluk See-thian Lama atau Go-bi San-jin..."

"Jadi…, kalau begitu engkau adalah murid dari Locianpwe itu? Dari Sukong (kakek Guru) Go-bi San-jin?"

"Benar, Ling-moi. Karena itu aku segera mengenal ilmu langkahmu tadi. Ayahmu adalah murid Suhu Go-bi San-jin juga, oleh karena itu dia adalah suheng-ku."

"Dan engkau adalah paman guruku! Ahh, Susiok (Paman Guru) harap maafkan aku yang tadi bersikap kurang hormat karena belum mengenal Susiok," kata Ling Ling sambil cepat menjura dengan hormat kepada pemuda itu.

"Eiiittt, jangan begitu, Ling-moi!" kata Hay Hay. Hay Hay cepat membalas penghormatan gadis itu. "Aku lebih senang jika menjadi kakak dan adik denganmu, seperti sekarang ini. Sebut saja aku Hay-ko seperti tadi, Ling-moi."

"Aku tidak berani, Susiok," kata Ling Ling, sikapnya hormat.

"Aihh, aku mendadak merasa menjadi tua sekali kalau engkau menyebutku paman guru, Ling-moi. Padahal, usiaku baru dua puluh satu tahun lebih!"

Gadis itu menatap wajahnya kemudian berkata, sikapnya sungguh-sungguh namun tetap ramah dan halus. "Susiok, satu di antara pelajaran yang kuterima dari ayahku adalah agar aku menghormati orang tua, dan agar aku selalu mengingat akan tata susila dan sopan santun. Biar pun engkau masih muda dan pantas menjadi kakakku, tetapi kenyataannya engkau adalah adik seperguruan dari ayah. Oleh karena itu maka sudah semestinya dan sepatutnya kalau aku menyebut Susiok kepadamu. Dan harap Susiok jangan menyebut adik kepadaku, karena hal itu tentu akan menjadi bahan tertawaan orang lain."

Hay Hay mengerutkan alis. "Aihhh, masa bodoh dengan pandangan dan pendapat orang lain. Ling-moi, engkau terlalu teguh memegang peraturan!"

Gadis itu tersenyum, sikapnya tenang dan halus, sedangkan pandangan matanya seperti menggurui. "Susiok, apa akan jadinya dengan manusia kalau tidak memegang peraturan? Hidup tak mungkin dapat bebas dari peraturan, Susiok. Tanpa peraturan, kehidupan akan menjadi bebas dan liar, tanpa batas-batas lagi sehingga tidak akan ada bedanya dengan kehidupan binatang. Maaf, Susiok, sejak kecil ayah mengajarkan kepadaku agar mentaati peraturan, karena itulah aku tidak berani melanggar."

Wajah Hay Hay berubah agak merah dan mendadak dia pun tertawa. "Baiklah, Ling Ling. Biarlah aku menyebut namamu begitu saja kalau engkau bertekad menyebut aku Susiok. Memang pendapatmu tadi ada benarnya. Tanpa peraturan maka hidup akan menjadi liar dan kacau. Akan tetapi hidup pun akan menjadi kaku kalau terlalu memegang peraturan. Di dalam segala hal memang dibutuhkan kebijaksanaan, karena hanya kebijaksanaanlah yang akan bisa membuat kita mempertimbangkan mana yang benar, mana yang baik dan mana yang buruk. Baiklah keponakanku yang manis, sekarang ceritakan kepada Paman Gurumu ini, bagaimana engkau, seorang dara remaja, dapat tiba di tempat ini melakukan perjalanan seorang diri. Dan ceritakan pula keadaan Suheng Cia Sun sekeluarganya yang belum pernah kutemui itu."

Dengan singkat Ling Ling menceritakan keadaan orang tuanya, betapa ayah dan ibunya tinggal di dusun Ciang-si-bun di sebelah selatan kota raja, hidup sederhana dan bertani.

"Aku meninggalkan rumah dengan perkenan ayah dan ibu, Susiok. Aku ingin meluaskan pengalaman dan juga ingin berkunjung ke Cin-ling-pai, karena ibuku adalah murid ketua yang lama dari Cin-ling-pai, ada pun ayahku juga masih keluarga dekat dengan keluarga Cin-ling-pai."

Karena urusan di Cin-ling-pai merupakan urusan keluarga, maka Ling Ling tidak bercerita tentang keributan di Cin-ling-pai karena kemunculan Kui Hong, kemudian Hui Lian. Kalau dia menyebut nama kedua orang gadis ini tentu Hay Hay akan terkejut dan girang karena dia sudah mengenal baik kedua orang gadis itu.

"Sesudah bertemu keluarga Cin-ling-pai, aku lalu melanjutkan perjalananku dan di tengah perjalanan inilah aku mendengar tentang gerakan persekutuan para tokoh kang-ouw yang dipimpin oleh datuk-datuk sesat dan kabarnya yang telah diangkat menjadi bengcu adalah seorang datuk sesat berjuluk Lam-hai Giam-lo. Kabarnya, persekutuan golongan hitam ini bermaksud hendak mengadakan pemberontakan. Mendengar berita ini, aku merasa yakin bahwa para pendekar tentu akan menentangnya, Susiok. Karena itulah aku bermaksud hendak melakukan penyelidikan di sarang mereka, yaitu di Pegunungan Yunan."

Hay Hay mengangguk-angguk gembira. "Wah, sungguh kebetulan sekali. Aku pun sedang menuju ke sana, Ling Ling. Aku pun mendengar akan gerakan itu, bahkan aku mendengar sendiri langsung dari Menteri Yang Ting Hoo."

Gadis itu terbelalak. "Kau maksudkan Yang Taijin yang terkenal sebagai seorang menteri yang tiong-sin (setia) itu? Aku pernah mendengar dari ayah bahwa di kota raja terdapat dua orang menteri setia yang bijaksana, yaitu Menteri Yang Ting Hoo dan Menteri Cang Ku Cing. Jadi Susiok ini... utusan pribadi Menteri Yang Ting Hoo? Ah, betapa bangga aku mendengarnya!"

Gadis itu memandang dengan wajah berseri, bangga bahwa utusan pribadi seorang yang demikian terkenal bijaksana seperti Menteri Yang ternyata adalah susiok-nya sendiri!

Hay Hay tersenyum dan menggelengkan kepalanya, "Memang aku telah bertemu dengan Yang Mulia Menteri Yang Ting Hoo, dan beliau menceritakan semuanya tentang gerakan yang dipimpin Lam-hai Giam-lo itu, juga beliau minta bantuanku agar aku suka melakukan penyelidikan ke Pegunungan Yunan. Akan tetapi hal itu bukan berarti bahwa aku menjadi utusan pribadi beliau, Ling Ling. Aku bukan seorang pejabat pemerintah."

"Ah, Susiok terlalu merendahkan diri. Bagaimana pun juga Susiok pernah bercakap-cakap dengan Yang Mulia Menteri Yang Ting Hoo, bahkan telah dimintai tolong untuk membantu pemerintah menentang gerakan itu. Hal ini saja sudah luar biasa sekali sehingga aku ikut merasa gembira. Susiok, kebetulan sekali kita saling berjumpa di sini dan kita memiliki tujuan yang sama. Oleh karena itu dengan gembira aku akan membantu penyelidikanmu, Susiok. Tadinya aku memang meragu dan bingung, apa yang akan kulakukan. Aku belum mengenal tokoh-tokoh pendekar yang mungkin banyak terdapat di daerah Yunan, dan aku tidak tahu apa yang harus kulakukan."

"Bagus, kita akan bekerja sama, Ling Ling. Kulihat kepandaianmu telah cukup untuk bisa kau pergunakan membela diri, akan tetapi hendaknya engkau berhati-hati sebab menurut keterangan yang sudah kuperoleh, persekutuan itu mempunyai banyak sekali tokoh sesat yang amat lihai sebagai anggota, maka dapat dipastikan bahwa kita akan bertemu dengan lawan-lawan tangguh."

"Aku tidak takut, apa lagi ada Susiok di sampingku!" kata gadis itu gembira.

Hay Hay tersenyum. Baru sekali ini dia bertemu seorang gadis yang begitu bertemu telah merasa yakin dengan kepandaiannya sehingga sukarlah baginya untuk berpura-pura lagi. Gadis ini memiliki watak yang amat lembut, sabar pemaaf dan sama sekali tidak tinggi hati.

"Ling Ling, bagaimana engkau dapat begitu yakin akan kemampuanku?"

"Mudah saja, Susiok. Dari caramu menangkap ikan, sikapmu yang ramah serta terbuka. Kemudian, pada saat aku bertanding melawan tiga orang Kui-kok-pang, Susiok diam saja tidak membantu, berarti Susiok sudah tahu bahwa aku akan keluar sebagai pemenang. Semua itu masih diperkuat lagi dengan kenyataan bahwa Susiok adalah sute dari ayah. Bagaimana aku tidak akan merasa yakin bahwa Susiok mempunyai ilmu kepandaian yang tinggi sekali?"

Hay Hay tertawa. "Ha-ha-ha, sungguh aku beruntung sekali. Tanpa bermimpi lebih dulu, tahu-tahu aku menemukan seorang keponakan yang sudah demikian besar, merupakan seorang gadis yang cantik manis, lembut dan lihai ilmu silatnya, di samping cerdik bukan main."

"Wah, Susiok memang amat pandai memuji orang," kata Ling Ling dan mukanya berubah kemerahan, akan tetapi mulutnya tersenyum. Jelas bahwa dia merasa senang sekali dan tanpa disadarinya, semenjak pertemuan pertama tadi gadis ini memang telah tertarik dan jatuh.

"Aku memang suka memuji kepada apa yang memang patut dipuji, Ling Ling. Marlah kita melanjutkan perjalanan. Mudah-mudahan saja orang-orang Kui-kok-pang tadi sudah jera dan tidak akan datang mengganggumu lagi. Sebaiknya kita masuk ke kota Wei-ning lebih dulu, untuk makan siang dan membeli makanan kering untuk bekal di perjalanan."

Ling Ling setuju dan mereka pun meninggalkan tepi telaga itu, memasuki kota Wei-ning. Sama sekali Hay Hay tidak menyangka bahwa yang mengintai dan mengancam mereka bukanlah orang-orang Kui-kok-pang saja, namun segerombolan orang yang bahkan lebih lihai lagi. Mereka adalah para anak buah Lam-hai Giam-lo yang sudah bergabung dengan orang-orang Kui-kok-pang yang juga merupakan rekan mereka, dan di antara mereka itu terdapat orang-orang Pek-lian-kauw, juga Min-san Mo-ko, Ji Sun Bi, dan Sim Ki Liong!

Min-san Mo-ko dan Ji Sun Bi merasa jeri sesudah mereka melihat bahwa pemuda yang mengalahkan orang-orang Pek-lian-kauw itu ternyata adalah Hay Hay yang mereka tahu sangat lihai itu. Maka mereka cepat mengundang Sim Ki Liong untuk membantu mereka. Dan kini, pemuda murid Pendekar Sadis itu sudah muncul dan bersama teman-temannya sudah melakukan pengintaian ketika Hay Hay berjalan memasuki kota Wei-ning bersama seorang gadis yang telah menghajar para anggota Kui-kok-pang itu.

Sim Ki Liong adalah seorang pemuda yang cerdik bukan kepalang. Dari hasil penyelidikan mata-mata yang disebar oleh Lam-hai Giam-lo, dia tahu bahwa kini di daerah Wei-ning telah banyak berdatangan orang-orang gagah, pendekar-pendekar yang sikapnya sangat mencurigakan. Dia sudah menduga bahwa tentang kemunculan para pendekar ini sedikit banyak ada hubungannya dengan gerakan yang dipimpin Lam-hai Giam-lo, sungguh pun belum ada pendekar yag secara berterang memusuhi mereka.

Terutama sekali di kota Wei-ning, dia melihat banyak sekali berkeliaran orang-orang yang dari sikap serta pakaian mereka yang aneh-aneh mudah diduga bahwa mereka bukanlah orang-orang sembarangan. Karena itu dia tidak setuju ketika teman-temannya bermaksud menyerbu pemuda yang oleh Min-san Mo-ko dikatakan bernama Hay Hay dan kabarnya amat lihai itu. Apa lagi sesudah melihat betapa pemuda itu kini bergabung dengan gadis yang menurut laporan para anggota Kui-kok-pang juga amat lihai.

"Kita tidak boleh turun tangan secara gegabah," katanya kepada Ji Sun Bi dan Min-san Mo-ko. "Bukan aku takut menghadapi mereka berdua. Dengan kekuatan kita sekarang, kiranya kita akan mampu mengalahkan mereka. Akan tetapi harus diingat bahwa di kota Wei-ning kini terdapat banyak orang aneh yang mungkin saja tidak akan membiarkan kita bergerak. Jangan sampai kita membangunkan macan-macan tidur hanya karena urusan kedua bocah itu. Dan bukankah bengcu kita sudah berpesan bahwa sebaiknya membujuk orang-orang pandai untuk bergabung lebih dulu sebelum turun tangan?"

"Lalu apa yang akan kita lakukan sekarang, Sim-kongcu?"

Sim Ki Liong memang disebut kongcu (tuan muda) atau juga taihiap (pendekar besar) oleh para pembantu Lam-hai Giam-lo karena pembawaannya yang halus dan berpakaian rapi laksana seorang pelajar, juga karena semua orang tahu betapa pemuda ini memiliki ilmu kepandaian yang amat tinggi.

"Harap kalian bersembunyi saja sambil bersiap menanti tanda dariku. Aku akan mencoba untuk menghubungi mereka secara baik-baik. Siapa tahu aku akan berhasil membujuk mereka, atau setidaknya memancing mereka agar keluar kota. Kalau sudah berada di luar kota, di tempat sepi, barulah kita boleh turun tangan terhadap mereka, kalau mereka tidak mau kubujuk untuk bekerja sama."

"Akan tetapi hati-hatilah, Kongcu. Pemuda yang bernama Hay Hay itu memiliki ilmu silat yang amat lihai," Ji Sun Bi memesan.

"Juga hati-hati terhadap ilmu sihirnya. Selain ilmu silat yang lihai, juga kekuatan sihirnya berbahaya sekali," sambung Min-san Mo-ko dan para pendeta Pek-lian-kauw yang sudah merasakan kekuatan sihir pemuda itu, mengangguk membenarkan.

"Jangan khawatir, aku dapat menjaga diri," kata Ki Liong dengan bangga terhadap dirinya sendiri.

Mereka lalu berpencar dan Ki Liong memasuki kota Wei-ning seorang diri, dengan gaya seorang pelajar tinggi yang sedang melancong. Memang, kalau dilihat dari pakaian, wajah dan sikapnya, maka takkan ada seorang pun yang menyangka bahwa pemuda ini adalah tangan kanan dari pimpinan persekutuan kaum sesat. Dia lebih pantas menjadi seorang tuan muda bangsawan kaya raya dan terpelajar, atau seorang pendekar muda yang halus dan sopan gerak-geriknya.

Namun di balik kehalusan ini, dari sepasang matanya berkilat sinar yang membayangkan kecerdikannya ketika Ki Liong dari jarak yang cukup aman dan jauh membayangi pemuda dan gadis yang berjalan seenaknya memasuki kota Wei-ning itu.

Hay Hay dan Ling Ling sama sekali tidak mengira bahwa mereka sedang dibayangi orang dari jauh, malah dari jarak yang lebih jauh lagi, lebih banyak lagi orang yang membayangi mereka dalam keadaan berpencaran, yaitu Min-san Mo-ko Ji Sun Bi, dan masih banyak lagi orang-orang lihai yang menjadi kaki tangan persekutuan di Pegunungan Yunan itu.

Hay Hay mengajak Ling Ling memasuki rumah makan merangkap penginapan Ban Lok di mana dia pernah makan dan masakan di restoran itu sangat lezat. Mereka masuk dan ternyata rumah makan itu penuh sekali. Untung masih ada sebuah meja kosong di sudut belakang. Pelayan lalu mempersilakan mereka duduk menghadapi meja kosong itu dan Hay Hay memesan beberapa macam masakan dan nasi putih, juga anggur dan air teh.

Ki Liong yang cerdik melihat kesempatan baik sekali. Sekelebatan saja dia sudah melihat bahwa restoran itu penuh. Memang ada beberapa buah meja di mana hanya duduk dua atau tiga orang, akan tetapi dengan sengaja, walau pun nampaknya tidak, dia berjalan di antara meja-meja itu sambil matanya mencari-cari tempat kosong.

Seorang pelayan menyambutnya dan dengan sikap menyesal pelayan itu berkata, "Maaf, Kongcu. Tempatnya penuh, kalau Kongcu suka menanti sebentar di depan..."

Pada saat itu Ki Liong sudah berdiri di dekat meja Hay Hay yang tentu saja melihat dan mendengar ucapan pelayan itu. Seperti tak disengaja, Ki Liong menoleh dan memandang ke arah meja Hay Hay. Di situ masih terdapat dua buah bangku kosong, karena meja kecil itu biasanya diperuntukkan empat orang, berbeda dengan meja besar yang biasa dipakai delapan sampai sepuluh orang.

"Ahhh, perutku sudah lapar sekali. Sejak kemarin siang aku belum makan, dan sekarang tempat sudah penuh!" Dia lalu memandang kepada Hay Hay dan Ling Ling, dengan sikap sopan sekali dia lalu melangkah maju dan bersoja sambil membungkuk kepada Hay Hay dan Ling Ling.

"Harap Ji-wi (Kalian) sudi memaafkan jika saya mengganggu. Kalau sekiranya Ji-wi tidak keberatan, bolehkah saya menumpang di meja ini untuk makan? Kalau Ji-wi keberatan, tidak mengapalah..."

Melihat pemuda tampan berpakaian rapi yang bersikap demikian ramah dan sopan, tentu saja Hay Hay dan Ling Ling merasa suka sehingga mereka pun cepat bangkit membalas penghormatan pemuda itu. Ling Ling lantas memandang kepada Hay Hay seolah hendak menyerahkan keputusannya kepada susiok-nya itu. Hay Hay tersenyum ramah.

"Ahh, kita sama-sama merupakan tamu di restoran ini. Kalau Saudara suka, tentu saja boleh duduk bersama kami di meja ini. Silakan!"

"Terima kasih, terima kasih... ahh, Ji-wi sungguh baik sekali, tepat seperti apa yang saya duga. Ehh, Bung, tolong hidangkan semangkok nasi putih dan buatkan dua tiga macam masakan sayuran. Ingat, tidak memakai daging, ya? Saya sedang Ciak-jai (makan sayur, pantang daging). Dan air teh saja untuk minumku," sambungnya kepada pelayan itu yang segera mengangguk dan meninggalkan meja mereka. Mendengar pemuda yang tampan itu tidak makan daging, Hay Hay dan Ling Ling memandang heran.

Mereka saling pandang sambil tersenyum. Begitu pandang mata Ki Liong bertemu dengan Ling Ling, gadis ini segera menundukkan mukanya dan sepasang pipinya menjadi agak kemerahan. Dia menemukan sesuatu pada pandang mata itu, sesuatu yang membuatnya merasa sungkan dan malu. Dia melihat betapa pandang mata pemuda itu dengan lembut menuju ke arah dadanya, dan ada sesuatu pada pandang mata pemuda itu seolah-olah meraba-raba tubuhnya!

"Ah, agaknya Saudara tidak suka makan barang berjiwa?" Hay Hay bertanya, iseng saja karena tidak tahu apa yang harus dikatakan terhadap orang yang menumpang di mejanya itu.

Ki Liong tersenyum. "Tidak demikian, Saudara yang baik. Biasanya saya makan apa saja, juga daging, akan tetapi hari ini tidak karena hari ini merupakan hari dan tanggal kematian ayahku, sembilan belas tahun yang lalu."

"Ahhh..." diam-diam Hay Hay merasa kagum sekali.

Ayah orang ini sudah sembilan belas tahun meninggal dunia, akan tetapi agaknya setiap tahun masih selalu diperingati oleh pemuda ini sebagai hari berkabung sehingga dia tidak makan barang berjiwa untuk mengenang dan berkabung atas kematian ayahnya. Sungguh seorang pemuda yang berbakti! Dan memang kesan inilah yang dikehendaki oleh Ki Liong ketika dia berbohong dan berpura-pura ciak-jai untuk mengenang kematian ayahnya.

"Maaf, bukan maksudku untuk mengetahui keadaan hidupmu, Saudara. Akan tetapi hatiku tertarik sekali. Kalau begitu, agaknya engkau masih kecil sekali ketika ayahmu meninggal dunia," kata Hay Hay.

Ki Liong mengangguk sambil tersenyum. "Tidak apa-apa, Saudara. Keramahan Ji-wi yang sudah menerimaku duduk di sini membuktikan bahwa Ji-wi berhati baik dan berarti bahwa kita sudah saling bersahabat, bukan? Memang saya masih kecil sekali ketika ayah saya meninggal, saya baru berusia satu tahun. Maaf, setelah Ji-wi begitu baik menerima saya di meja ini, maukah Ji-wi menerima saya sebagai kenalan? Saya bernama Sim Ki Liong, dan bolehkah saya mengenal nama Ji-wi yang terhormat?"

Inilah kesalahan Ki Liong. Dia memperkenalkan namanya tanpa ragu karena dia merasa yakin bahwa kedua orang muda di depannya itu belum pernah mendengar namanya dan tidak mengenalnya. Ki Liong sama sekali tidak pernah bermimpi bahwa Hay Hay pernah mendengar nama ini dari Kui Hong!

Mendengar nama ‘Ki Liong’, diam-diam Hay Hay merasa terkejut walau pun kemudian dia meragu karena dahulu Kui Hong memberi tahu kepadanya bahwa murid Pendekar Sadis dan isterinya mempunyai nama keturunan Ciang, bukan Sim! Apakah kebetulan namanya saja sama, pikirnya.

"Ahh, engkau sungguh baik sekali, Saudara Sim. Ketahuilah bahwa saya Hay Hay dan dia ini bernama Ling Ling," Hay Hay memperkenalkan diri dan gadis itu.

Dengan sikap sopan Ki Liong tersenyum sambil memandang kepada mereka bergantian. "Maaf, walau pun nama Ji-wi itu indah sekali, tetapi agaknya Saudara lupa menyebutkan nama keluarga Ji-wi yang mulia."

Karena tadi pemuda itu juga sudah menyebutkan nama keluarganya, nama keluarga yang membuat dirinya menduga-duga apakah pemuda ini adalah murid Pendekar Sadis seperti yang dimaksudkan Kui Hong atau bukan, terpaksa Hay Hay memperkenalkan pula nama keluarganya.

"Nama keluarga saya adalah Tang, dan dia ini... ehh, Ling Ling, aku lupa lagi, siapa nama keluargamu?" Hay Hay berpura-pura, bermaksud hendak menyerahkan kepada Ling Ling sendiri apakah mau mengakui nama keluarganya atau tidak karena bagaimana pun juga, nama keluarga Cia sudah terkenal di kalangan kang-ouw dan dapat segera menimbulkan dugaan orang bahwa ada hubungan antara gadis ini dengan keluarga Cia di Cin-ling-pai.

Ling Ling adalah seorang gadis yang lembut dan jujur, tanpa prasangka, maka meski pun sinar mata pemuda yang baru dikenalnya itu tak menyamankan hatinya, dia memandang Hay Hay dengan heran ketika mendengar pertanyaan pemuda ini.

“Susiok, sungguh heran sekali. Apakah Susiok sudah lupa lagi dengan nama keluargaku? Aku she (bernama keluarga) Cia!"

"Aihh, ternyata Ji-wi adalah seorang susiok dan murid keponakannya? Kalau begitu, Ji-wi adalah dua orang pendekar!" Ki Liong berseru.

Hay Hay tersenyum. "Kami hanyalah orang-orang biasa, dan maaf, saya tadi lupa nama keluarganya karena meski pun kami masih paman dan keponakan, namun baru pagi tadi kami saling berjumpa." Kini Hay Hay tertawa, tidak khawatir lagi karena Ling Ling sudah berterus terang. "Akan tetapi jangan menyangka bahwa kami adalah pendekar!" Kemudian disambungnya, seperti sambil lalu saja, "Saudara Sim menyangka kami adalah pendekar, apakah Saudara sendiri juga seorang ahli silat yang lihai?"

Ki Liong tertawa dan nampak wajahnya semakin tampan menarik ketika dia tertawa, dan sepasang matanya yang jernih dan tajam itu menyambar ke arah Ling Ling. Kembali gadis ini merasa betapa sinar mata itu memandang kepadanya tidak sewajarnya, maka dia pun cepat menundukkan pandang matanya.

"Ha-ha-ha, saya ingin berterus terang saja. Memang saya pernah mempelajari ilmu silat, akan tetapi hanya iseng-iseng saja dan sama sekali tidak dapat dikata bahwa saya lihai."

Pada saat itu pula dua orang pelayan datang membawa pesanan makanan dan minuman mereka. Agaknya karena ketiga orang itu duduk semeja, maka pesanan Hay Hay dan Ki Liong dikeluarkan berbareng. Ki Liong menghadapi nasi dan tiga mangkok masakan sayur tanpa daging, sedangkan Hay Hay dan Ling Ling menghadapi nasi dengan lima macam masakan. Hay Hay menawarkan anggurnya, akan tetapi Ki Liong menolak dengan halus.

"Hari ini hanya sayuran dan air teh saja untuk saya," katanya, kemudian dia melanjutkan, "Sebelum kita mulai makan, saya ingin menghaturkan rasa terima kasih dan hormat saya kepada Ji-wi dengan air teh di poci saya. Harap Ji-wi suka menerimanya!" Tanpa memberi kesempatan kepada dua orang itu untuk menjawab, Ki Liong sudah mengambil cawan di depan Hay Hay kemudian menuangkan poci di tangan kanannya ke dalam cawan yang dipegang di tangan kirinya.

Sambil tersenyum Hay Hay memandang, akan tetapi senyumnya segera lenyap sesudah dia melihat betapa cawannya yang dipegang oleh tangan kiri Ki Liong sudah penuh akan tetapi teh dari poci itu masih di tuang terus! Kini cawan itu terlalu penuh, akan tetapi air teh itu tak sampai meluber, seolah-olah tertahan oleh sesuatu dan air teh itu berada lebih tinggi dari pada bibir cawan, membulat seperti telur yang bergoyang-goyang!

"Silakan, Saudara Tang!" kata Ki Liong sambil menyodorkan cawan itu kepada Hay Hay.

Hay Hay tersenyum lagi dan sekarang makin keras dugaannya bahwa pemuda inilah yang dimaksudkan Kui Hong, yaitu murid dari Pendekar Sadis. Pemuda ini telah menunjukkan kepandaiannya, mempergunakan sinkang-nya (hawa sakti) untuk menahan air teh di atas cawan itu sehingga tidak sampai meluber dan tumpah. Kalau penerimanya tidak memiliki tenaga sinkang yang cukup kuat, ketika menerima cawan itu tentu air tehnya yang terlalu penuh melebihi ukuran itu akan tumpah.

"Saudara Sim, engkau sungguh terlalu sungkan!" katanya sambil menerima cawan yang penuh air teh itu sambil mengerahkan tenaga sinkang-nya. "Aihh, air tehmu masih panas!" katanya tersenyum.

Saat Ki Liong memandang, dia merasa kagum sekali. Bukan saja air teh itu tidak meluber dan tumpah, bahkan kini air teh itu mengepulkan uap karena panas! Padahal, biar pun air teh itu masih hangat, namun ketika dia menuangkan ke dalam cawan tidak mengeluarkan uap panas.....!


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner