PENDEKAR MATA KERANJANG : JILID-73


Maka tahulah dia bahwa benar seperti laporan Ji Sun Bi dan Min-san Mo-ko, pemuda ini benar-benar lihai sekali, dan dia harus berhati-hati menghadapinya. Dia tersenyum kagum melihat Hay Hay minum air teh dalam cawan itu sampai habis.

"Sekarang harap Nona sudi menerima penghormatan saya dengan secawan air teh," kata Ki Liong sambil menuangkan poci air teh itu ke dalam cawan yang diambilnya dari depan gadis itu. Seperti tadi, sekali ini dia juga menyodorkan cawan yang terlalu penuh terisi air teh.

"Terima kasih!" kata Ling Ling dan dengan sikap tenang,

Ia pun menerima cawan itu sambil mengerahkan tenaganya. Dan ternyata air teh itu sama sekali tidak meluber atau tumpah, bahkan pada saat gadis itu mengangkat cawannya dan menuangkan isinya ke mulut, air teh itu tidak dapat turun atau tumpah, tetap melekat pada cawan seolah-olah sudah berubah membeku dan melekat pada cawannya!"

"Aih, air tehmu membeku dan biarlah dikembalikan ke poci agar mencair lebih dulu!" kata Ling Ling dan dengan tenang dia membuka tutup poci air teh Ki Liong lalu menuangkan isi cawannya ke dalam poci. Demikianlah, sambil mendemonstrasikan kepandaiannya, gadis itu secara halus menolak pemberian air teh oleh pemuda itu!

Melihat ini Ki Liong yang cerdik segera bangkit berdiri dan bersoja dengan hormat. "Aihh, sungguh saya bermata akan tetapi seperti buta, tidak melihat bahwa saya berhadapan dengan dua orang yang memiliki kesaktian!"

"Saudara Sim, kiranya ini bukan tempat yang tepat bagi kita untuk bersungkan-sungkan!" kata Hay Hay. Pemuda ini berbicara dengan lirih sehingga tidak terdengar oleh para tamu lainnya.

Ki Liong mengangguk. "Saudara Tang benar, sekarang mari kita makan hidangan kita dan nanti saja kita bicara di tempat yang lebih layak."

Mereka bertiga lalu mulai makan minum dan tidak banyak cakap lagi. Diam-diam Hay Hay merasa hampir yakin bahwa tentu pemuda ini adalah murid Pendekar Sadis itu dan dia menduga-duga apa hubunganya pemuda ini dengan gerakan para tokoh sesat. Dan apa pula maksud pemuda ini menghubungi dia dan Ling Ling, karena dia tidak percaya bahwa pertemuan ini hanya suatu kebetulan saja. Lebih tepat kalau semua ini telah direncanakan orang! Akan tetapi apa maksudnya?

Bagaimana pun juga dia harus bersikap hati-hati karena maklum bahwa pemuda ini bukan orang sembarangan. Bukan hanya ilmu silatnya yang tinggi, namun mungkin sekali juga amat cerdik dan sikapnya ini merupakan satu di antara siasat yang cerdik. Dia tidak perlu mengisyaratkan Ling Ling untuk berhati-hati, karena penolakan suguhan air teh tadi saja sudah menunjukkan bahwa Ling Ling telah bersikap hati-hati sekali dan tidak mau minum air teh yang disuguhkan berarti bahwa gadis itu tidak begitu percaya kepada pemuda itu.

Tiga orang muda itu sama sekali tidak tahu bahwa ada sepasang mata secara diam-diam mengamati mereka dari sudut lain ruangan rumah makan itu. Sepasang mata ini adalah milik seorang laki-laki yang usianya kurang lebih lima puluh tahun, seorang laki-laki yang gagah perkasa, dengan tubuh yang sedang namun padat dan tegak, nampak kuat.

Pakaiannya sederhana namun rapi dan wajahnya mengandung wibawa. Wajah itu tampak gagah, dengan kumis dan jenggot yang terpelihara secara baik. Wajahnya berkulit segar kemerahan, sepasang matanya bersinar tajam dan lincah membayangkan kecerdikan dan keberanian. Hidungnya mancung dan mulutnya selalu tersenyum penuh kejantanan dan daya pikat. Dagunya yang persegi menambah kegagahannya.

Sejak tadi secara diam-diam pria ini mengamati tiga orang muda itu dan ketika Ki Liong menawarkan minuman dari poci, matanya yang tajam itu mengeluarkan sinar dan bibirnya yang dibayangi senyum itu bergerak memperlebar senyumnya, bahkan dia mengangguk-angguk seorang diri sambil minum araknya.

Sekarang Hay Hay, Ling Ling, dan Ki Liong sudah selesai makan.

"Saya mempunyai urusan penting untuk dibicarakan dengan Ji-wi, akan tetapi tentu saja tidak di tempat ini. Maukah Ji-wi menemui saya di luar pintu gerbang kota sebelah barat? Atau sekarang juga ikut dengan saya ke sana agar kita lebih leluasa bicara?" Sim Ki Liong menjadi pembicara pertama setelah mereka selesai makan.

"Kalau memang ada keperluan penting, baiklah Saudara Sim, kami akan menemuimu di sana. Berangkatlah dulu, kami masih ada urusan lain dan sebentar lagi kami menyusul," kata Hay Hay sebelum Ling Ling yang sudah mengerutkan alisnya itu sempat menolak.

"Terima kasih, Saudara Tang dan Nona Cia," kata Ki Liong, lantas pemuda ini cepat-cepat pergi meninggalkan mereka, agaknya merasa khawatir kalau-kalau Hay Hay akan menarik kembali kesanggupannya.

Setelah Ki Liong pergi, Ling Ling yang berjalan keluar setelah Hay Hay membayar harga makanan mereka, segera menegur Hay Hay. "Susiok, kenapa kita harus melayani orang itu? Kita baru saja berkenalan dengan dia, kita tidak tahu dia itu orang macam apa. Terus terang saja, ada sesuatu pada pandang matanya yang membuat aku merasa curiga dan tidak suka."

"Justru itulah, Ling Ling. Aku pun curiga melihat bahwa dia seorang yang berilmu tinggi. Tapi kalau dugaanku benar, kalau dia itu merupakan seorang di antara tokoh sesat yang mengadakan gerakan, justru kebetulan sekali! Ketika makan tadi aku telah mendapatkan sebuah siasat yang baik sekali."

Mendengar ucapan ini, hilanglah rasa penasaran yang tadi membayang pada wajah gadis itu. "Bagaimana siasat itu, Susiok?"

"Agaknya dia ingin menghubungi kita dan kalau benar dia tokoh pergerakan, agaknya dia hendak membujuk kita untuk bersekutu. Nah, kesempatan ini akan kugunakan sebaiknya. Aku akan pura-pura setuju sehingga dengan demikian aku akan dapat memasuki sarang mereka dengan mudah. Jika aku diterima sebagai kawan, tentu dengan mudah aku akan dapat menyelidiki keadaan mereka dari dalam."

Gadis itu membelalakkan matanya, memandang penuh khawatir. Melihat sepasang mata itu terbelalak indah bagaikan bintang kembar bercahaya, Hay Hay menjadi kagum. "Ahh, matamu indah sekali, Ling Ling!" katanya.

Ling Ling mengerutkan sepasang alisnya dan kedua pipinya berubah merah, akan tetapi dia tidak marah, bahkan tersenyum malu. "Ihh, Susiok. Orang bicara dengan serius malah ditanggapi dengan senda-gurau!"

"Aku tidak bergurau, Ling Ling. Memang matamu tadi nampak indah bukan main. Jangan engkau khawatir, jika aku dapat melakukan penyelidikan dari dalam berarti tugasku akan lebih berhasil."

"Tapi... tapi... masuk ke dalam sarang mereka? Sungguh berbahaya sekali, Susiok!"

"Aku dapat membela diri, Ling Ling. Akan tetapi engkau tidak perlu ikut masuk ke sarang mereka. Engkau menyelidiki dari luar saja. Coba engkau mengadakan hubungan dengan para pendekar yang aku yakin banyak terdapat di sekitar daerah ini."

"Tapi... tapi, bagaimana nanti kita akan dapat saling bertemu lagi, Susiok? Kalau engkau hendak masuk ke sarang mereka, biar aku ikut. Aku pun tidak takut!"

"Ah, jangan, Ling Ling. Biar aku saja. Begini sajalah, dalam waktu tiga hari, aku pasti akan mencarimu di tepi telaga itu. Tempat itu menjadi tempat pertemuan kita... ssttt," Hay Hay memberi isyarat dan cepat menghentikan kata-katanya ketika seorang laki-laki lewat di dekat mereka. Lelaki setengah tua yang ganteng dan gagah, yang tadi memperhatikan mereka di dalam rumah makan.

Akan tetapi orang itu lewat begitu saja, sambil menunduk dan sama sekali tidak melirik ke arah mereka sehingga baik Hay Hay mau pun Ling Ling sama sekali tidak menaruh curiga karena di depan restoran itu memang merupakan jalan raya di mana terdapat lalu lintas yang cukup ramai.

"Nah, kiranya cukup pesanku, Ling Ling. Lagi pula semua itu hanya kalau dugaanku benar bahwa dia mempunyai hubungan dengan persekutuan itu. Jika tidak, tentu saja akan lain lagi jadinya. Kita lihat saja nanti. Hayo, kita menuju ke pintu gerbang sebelah barat."

Kemudian dua orang muda itu berangkat, tidak tahu betapa sepasang mata yang tajam mengikuti mereka. Laki-laki setengah tua tadi tersenyum sambil mengelus jenggotnya, lalu dia membayangi dari jauh, menuju ke pintu gerbang sebelah barat.

Hay Hay dan Ling Ling melangkah dengan seenaknya menuju ke pintu gerbang sebelah barat. Tiba-tiba Hay Hay menyentuh tangan Ling Ling dan berbisik sampai menoleh, "Ling Ling, engkau jangan menengok dan tetap berjalan biasa saja. Di belakang kita terdapat tujuh orang yang mencurigakan, agaknya mereka membayangi kita."

Ling Ling mengangguk dan jantungnya berdebar. Sebagai seorang gadis yang baru saja meninggalkan tempat tinggal orang tuanya untuk merantau, memang sudah beberapa kali dia menghadapi gangguan dan selalu dapat mengatasinya. Akan tetapi baru sekarang dia menyadari bahwa dia berada di daerah yang berbahaya, di mana terdapat banyak orang pandai yang belum dikenalnya dan tidak diketahuinya apakah mereka itu kawan ataukah lawan.

Keadaan pemuda bernama Sim Ki Liong itu saja sudah menimbulkan banyak kecurigaan dan rahasia, dan sekarang sebelum rahasia itu terpecahkan telah muncul lagi tujuh orang membayangi mereka! Dia ingin sekali melihat siapakah mereka, orang-orang macam apa, akan tetapi dia tidak boleh menengok ke belakang.

Mendadak sapu tangan yang tadi dipegang oleh tangan kiri gadis itu terlepas, lalu dengan gerakan seperti tanpa disengaja dia pun membungkuk dan berjongkok mengambil sapu tangannya. Kesempatan ini dipergunakannya untuk melirik ke belakang dan sekejap saja cukuplah baginya. Nampak enam orang yang berpakaian ringkas dipimpin oleh seorang yang berpakaian tosu (Pendeta To!)

Hay Hay tersenyum geli. Tentu saja dia maklum kenapa sapu tangan Ling Ling terjatuh. Cerdik juga gadis ini, pikirnya. Memang sangat tidak enak kalau mengerti bahwa dirinya dibayangi orang akan tetapi tidak boleh melihat siapa orang itu. Tadi pun dia tidak sengaja menoleh dan melihat mereka.

Ketika mereka keluar dari pintu gerbang, dari tempat itu sudah kelihatan seorang pemuda berdiri di tempat agak jauh, tempat yang sunyi karena keluar dari pintu gerbang barat itu yang nampak hanya hutan-hutan pegunungan. Hanya sedikit orang yang lewat, dan kalau pun ada, mereka itu adalah orang-orang suku bangsa Hui dan Miao.

Dua suku bangsa ini mudah saja dikenalnya dari pakaian mereka. Orang suku bangsa Hui selalu memakai sorban dari kain putih yang dibelit-belitkan di kepalanya, pikirnya. Mereka adalah orang-orang beragama Islam. Orang-orang suku bangsa Hui ini terkenal sebagai peternak-peternak, terutama kambing, penjagal dan juga pandai masak sehingga banyak di antara mereka membuka rumah makan di kota-kota.

Sebenarnya orang-orang Hui merupakan orang-orang Han juga. Perbedaannya di antara mereka adalah bahwa orang Hui beragama Islam sedangkan orang Han memiliki banyak macam agama, terutama sekali mereka menjadi penganut Agama Buddha, Khong-hucu, dan Tao, biar pun ada pula sejumlah kecil orang Han yang menjadi pengikut Agama Islam atau Kristen.

Sedangkan suku bangsa Miao mudah dikenal dari pakaian mereka yang serba hitam dan orang-orangnya yang pendiam dan kasar. Kaum wanitanya memakai anting-anting yang khas, berbentuk gelang yang besar sehingga daun telinga mereka tertarik ke bawah dan memanjang. Suku bangsa Miao yang terdesak oleh orang-orang Han itu kini banyak hidup di daerah pegunungan bagian selatan, bercocok tanam dan juga berternak, dan mereka pun terkenal sebagai pemburu yang pandai.

Dengan langkah seenaknya tanpa tergesa-gesa, Hay Hay dan Ling Ling terus melangkah keluar dari pintu gerbang menuju ke arah pemuda yang telah berdiri menanti mereka itu. Diam-diam Hay Hay mengerling ke arah belakang sambil menengok ke kiri seakan-akan bicara dengan Ling Ling dan dia melihat betapa tujuh orang itu telah tiba di pintu gerbang pula, kemudian mereka menyelinap ke kiri dan lenyap di dalam hutan kecil.

Ki Liong segera menyambut mereka dengan senyum ramah. "Terima kasih, ternyata Ji-wi memenuhi janji dengan cepatnya. Marilah, Ji-wi, kita memasuki hutan ini agar percakapan kita tidak terganggu, karena di jalan ini ada saja orang yang lewat."

Tanpa menanti jawaban, Ki Liong melangkah memasuki hutan, diikuti oleh Hay Hay dan Ling Ling yang masih mengerutkan alisnya karena bagaimana pun juga gadis ini sama sekali tidak percaya akan itikad baik pemuda kenalan baru itu. Akhirnya Ki Liong berhenti di bawah sebatang pohon besar.

Memang tempat itu tampak enak untuk bercakap-cakap. Tempatnya teduh, terlindung dari terik matahari siang, dan di atas tanah terhampar permadani hijau dari rumput tebal yang segar. Akar pohon yang menonjol keluar dari permukaan tanah menjadi bangku-bangku yang enak diduduki. Mereka bertiga duduk di atas akar pohon, saling berhadapan.

"Maafkan kalau saya bersikap seperti ini, karena Ji-wi jluga maklum bahwa untuk dapat membicarakan urusan penting, kita harus mencari tempat yang sunyi agar tidak terdengar orang lain."

"Saudara Sim, kini kami telah datang memenuhi undanganmu. Nah, katakanlah apa yang ingin kau bicarakan dengan kami?" kata Hay Hay sambil memandang tajam penuh selidik ke arah wajah yang tampan dan penuh senyum manis dan kelembutan itu.

Sim Ki Liong memandang Hay Hay dan Ling Ling. Dia kelihatan agak gelisah, tampaknya sukar baginya untuk menyatakan kehendak hatinya. Kemudian dia baru berkata dengan suara yang lembut,

"Begitu bertemu dengan Ji-wi, hati saya sudah amat tertarik. Apa lagi setelah mendapat keyakinan bahwa Ji-wi memiliki ilmu kepandaian tinggi, saya merasa kagum bukan main. Sebab itu timbullah rasa sayang dan alangkah penasaran rasa hati ini melihat Ji-wi tetap menjadi orang biasa saja, padahal orang-orang yang mempunyai ilmu kepandaian seperti Ji-wi ini sepatutnya menduduki pangkat yang tinggi dan kemuliaan."

"Kami tidak mengerti apa maksudmu, Saudara Sim," kata Hay Hay, berpura-pura karena hatinya berdebar tegang melihat betapa tepatnya apa yang diduganya semula.

"Maksudku, Ji-wi pantas sekali untuk menjabat pangkat tinggi di kerajaan, sesuai dengan kepandaian Ji-wi."

Hay Hay dan Ling Ling bertukar pandang, kemudian Hay Hay tertawa. "Ha-ha-ha, harap engkau tidak main-main, Saudara Sim! Mana mungkin orang seperti kami dapat menjabat pangkat tinggi?"

"Kenapa tidak mungkin? Memang, pemerintah sekarang hanya memilih orang-orang yang menjadi antek mereka! Kedudukan tinggi diberikan kepada orang-orang yang tidak becus dan jahat! Karena itu saya mengajak Ji-wi untuk bekerja sama dengan kami yang sedang mempersiapkan perjuangan." Tiba-tiba Sim Ki Liong berhenti bicara dan menoleh ke kiri. Hay Hay dan Ling Ling juga sudah mendengar suara jejak kaki dari arah kiri.

Tiba-tiba saja, dengan berloncatan muncullah tujuh orang laki-laki setengah tua, dipimpin oleh seorang di antara mereka, yaitu seorang tosu yang berjubah kuning dan memegang sebatang tongkat yang setinggi tubuhnya. Tosu ini berusia lima puluh tahunan, wajahnya angker dan berwibawa, sedangkan enam orang lainnya adalah orang-orang berusia antara empat puluh tahun dan di punggung mereka terdapat sebatang pedang bersarung. Sikap mereka juga kereng dan berwibawa.

Tiba-tiba tosu itu menudingkan tongkat panjangnya ke arah Hay Hay sambil membentak. "Ang-hong-cu! Menyerahlah engkau sebelum pinto terpaksa menggunakan kekerasan!"

Hay Hay sangat terkejut mendengar seruan itu. Juga Sim Ki Liong memandang dengan heran dan jelas terlihat betapa dia terkejut dan kini memandang kepada Hay Hay dengan mata penuh selidik. Tak diduganya bahwa pemuda lihai ini ternyata adalah Ang-hong-cu! Tentu saja Ki Liong sudah mendengar nama Ang-hong-cu ini, nama seorang jai-hwa-cat (penjahat pemetik bunga, pemerkosa wanita) yang amat tersohor akan tetapi yang belum pernah diketahui bagaimana wajahnya itu!

Gerak-gerik jai-hwa-cat itu penuh rahasia sehingga kabarnya selama ini banyak pendekar yang gagal pada saat berusaha menangkapnya. Kabarnya lihai seperti setan dan kiranya pemuda ini orangnya!

Juga Ling Ling memandang kepada Hay Hay dengan alis berkerut. Susiok-nya ini adalah Ang-hong-cu? Dia pun sudah mendengar berita tentang penjahat pemerkosa wanita yang amat keji itu, akan tetapi sungguh sukar dapat dipercaya bahwa susiok-nya ini orangnya! Hay Hay sendiri bersikap tenang.

"Totiang, harap totiang jangan sembarangan saja menuduh orang. Siapakah Totiang dan apa sebabnya Totiang begitu datang lalu menyebut aku Ang-hong-cu dan minta agar aku menyerah? Apa artinya semua ini?"

"Hemm, engkau masih mencoba untuk berpura-pura alim? Ang-hong-cu, ketahuilah bahwa pinto adalah Tiong Gi Cinjin, wakil Ketua Bu-tong-pai sedangkan mereka adalah Bu-tong Liok-eng, murid-murid keponakan pinto. Nah, setelah kami memperkenalkan diri, tidakkah sepatutnya kalau engkau segera berlutut menyerahkan diri, Ang-hong-cu?" Tosu itu lantas berkata lagi, agaknya ingin menyelesaikan urusan itu dengan jalan damai, "Kami hendak menghadapkan engkau kepada ketua kami agar beliau sendiri bisa mengambil keputusan mengenai hukuman atas dosamu terhadap Bu-tong-pai."

Hay Hay lantas teringat akan pengalamannya kurang lebih satu tahun yang lampau. Dulu pernah dia diserang oleh tiga orang pendekar Bu-tong-pai. Mereka menuduhnya sebagai Ang-hong-cu dan tanpa memberi kesempatan kepadanya untuk membantahnya, mereka langsung menyerangnya kalang kabut sehingga terpaksa dia menggunakan ilmu sihirnya untuk menghilang dari penglihatan mereka.

Maka tahulah dia sekarang bahwa wakil ketua Bu-tong-pai ini sudah keluar sendiri untuk menangkap dirinya. Wah, kalau begitu keadaannya sangat gawat. Akan tetapi karena dia masih tetap penasaran, dia pun segera bertanya.

"Maaf, Totiang. Sesungguhnya aku merasa tidak pernah melakukan kesalahan terhadap Bu-tong-pai. Kenapa sekarang Totiang, sebagai wakil ketua, dan enam orang saudara ini ingin menangkapku? Jelaskan dulu apa kesalahanku!"

Sepasang mata pendeta itu mencorong penuh kemarahan. Sikap yang tidak bertanggung jawab dianggapnya sebagai sikap seorang pengecut sehingga membuat dia marah sekali. "Ang-hong-cu, apakah engkau sudah lupa akan peristiwa kurang lebih setahun yang lalu ketika engkau diserang oleh tiga orang murid pinto?"

Menjemukan sekali, pikir Hay Hay. Dia bukan Ang-hong-cu (Si Tawon Merah) dan julukan Ang-hong-cu ini selalu membuat dadanya panas dan kepalanya merasa pening karena itu adalah julukan dari seorang jai-hwa-cat, seorang penjahat besar yang bukan lain adalah... ayah kandungnya! Dia sudah dapat menduga apa yang sudah terjadi antara penjahat itu dengan Bu-tong-pai, akan tetapi dia ingin jelas dan yakin.

"Aku belum lupa, Totiang, akan tetapi sampai sekarang pun aku masih bingung dan tidak mengerti mengapa tiga orang murid Bu-tong-pai itu menyerangku mati-matian."

Tiong Gi Cinjin menoleh pada enam orang tokoh Bu-tong-pai yang sejak tadi memandang dan mendengarkan saja. Dia lantas menyuruh seorang di antara mereka untuk memberi penjelasan. Seorang di antara mereka yang bertubuh tinggi kurus dan berkumis tipis lalu melangkah maju menghadapi Hay Hay.

"Orang muda, kami bukanlah orang-orang yang suka menuduh membabi-buta saja tanpa bukti. Sepak terjang Ang-hong-cu sudah lama kami kenal, dan pada suatu hari, seorang sumoi kami menjadi korban! Sebelum tewas sumoi sempat mengaku bahwa dia menjadi korban Ang-hong-cu. Tentu saja hal ini merupakan penghinaan bagi kami sehingga kami segera menyebar murid-murid untuk mencari sampai dapat penjahat yang telah merusak nama dan kehormatan kami. Kurang lebih setahun yang lalu, tiga orang sute kami telah berhasil menemukanmu dan menyerangmu. Engkaulah jai-hwa-cat Ang-hong-cu jahanam itu!"

"Hemm, apa buktinya?" Hay Hay membantah.

"Buktinya? Saat itu tiga orang sute kami melihat betapa engkau memegang sebuah tanda perhiasan berbentuk tawon merah, sangat persis dengan benda yang diterima oleh sumoi kami! Engkaulah Ang-hong-cu, maka harap engkau cukup jantan untuk mempertanggung jawabkan perbuatanmu!"

"Tapi... tapi... aku bukan Ang-hong-cu..." bantah Hay Hay.

"Dan perhiasan tawon merah yang ada padamu itu?" bentak Tiong Gi Cinjin penasaran.

"Aku... aku hanya kebetulan menemukan barang itu," kata Hay Hay agak gagap karena tentu saja dia tidak mau mengaku dari mana dia memperoleh perhiasan itu dan mengaku bahwa Ang-hong-cu adalah ayah kandungnya!

"Susiok, benarkah engkau bukan Ang-hong-cu?" Ling Ling yang sejak tadi memandang sambil mendengarkan dengan alis berkerut dan wajah agak pucat, kini tiba-tiba bertanya. Mendengar ini, Hay Hay memandang gadis itu dan menggelengkan kepalanya.

"Bukan, Ling Ling, percayalah!"

Kini Ling Ling menghadapi Tiong Gi Cinjin dan berkata. "Totiang, rasanya ada kekeliruan dalam hal ini. Kalau tidak salah, nama Ang-hong-cu sudah tersohor sejak belasan tahun silam! Bagaimana mungkin Susiok-ku ini yang menjadi Ang-hong-cu, padahal usia Susiok ini baru dua puluh lebih?"

Tujuh orang Bu-tong-pai ini saling pandang, akan tetapi Tiong Gi Cinjin segera berkata, "Kalau dia ini bukan Ang-hong-cu, tentulah keturunannya atau muridnya! Ang-hong-cu tak pernah memperlihatkan dirinya, hanya selalu meninggalkan perhiasan tawon merah. Akan tetapi pemuda ini memiliki perhiasan itu, dan sikapnya jelas menunjukkan bahwa dialah Ang-hong-cu. Gerak-geriknya sudah lama dibayangi oleh para murid Bu-tong-pai dan dia seorang pemuda mata keranjang yang suka menggoda wanita!"

"Ahhhh...!" Ling Ling melangkah mundur dan memandang kepada Hay Hay dengan sinar mata penuh keraguan.

"Ling Ling! Engkau... tidak percaya padaku?"

"Aku.. aku tidak tahu..." gadis itu menjawab sambil melangkah mundur lagi sampai lima langkah.

"Sudahlah, orang muda. Menyerahlah saja dan nanti di depan ketua kami, boleh engkau membela diri sesukamu!" kata Tiong Gi Cinjin sambil melangkah maju.

"Tidak, Totiang, aku tidak mau menyerah karena aku tak merasa bersalah terhadap pihak Bu-tong-pai!" kata Hay Hay yang menjadi tidak sabar lagi, terutama sekali melihat betapa Ling Ling agaknya juga mulai bercuriga kepadanya, telah mengira bahwa dia benar-benar Ang-hong-cu!

"Kalau begitu terpaksa pinto mempergunakan kekerasan!" kata tosu itu dan enam orang murid keponakannya juga sudah mencabut pedang dari punggung masing-masing. Cara mereka mencabut pedang saja sudah menunjukkan bahwa mereka telah menguasai Ilmu Pedang Bu-tong Kiam-sut yang terkenal indah dan ampuh.

Tiba-tiba Sim Ki Liong tertawa kemudian dia pun melangkah maju. "Nanti dulu, Totiang. Saudara ini adalah tamuku, dan akulah yang mengajak mereka berdua datang ke tempat ini. Oleh karena itu, jika Totiang dan para murid Bu-tong-pai hendak menyerang Saudara Tang ini, berarti menyerang tamuku. Sebagai seorang tuan rumah, tentu saja saya tidak dapat membiarkan tamu saya diganggu!"

Tiong Gi Cinjin memandang wajah Ki Liong dengan alis berkerut. Dia bertindak atas nama Bu-tong-pai dan dia tidak mau kalau sampai perkumpulannya terlibat dalam permusuhan dengan golongan lain. "Orang muda, siapakah engkau? Di antara kita tidak ada persoalan sesuatu, karena itu harap engkau orang muda jangan mencampuri urusan kami dengan Ang-hong-cu."

"Namaku Sim Ki Liong, Totiang. Memang benar bahwa di antara kita tidak pernah terjadi bentrokan atau ada persoalan, tetapi kalau hari ini pihak Bu-tong-pai hendak mengganggu tamu-tamuku dan tidak dapat kuminta supaya tidak melanjutkan kehendaknya itu, berarti bahwa Bu-tong-pai sengaja hendak mencari gara-gara dan urusan dengan aku," jawaban ini tenang akan tetapi juga mengandung peringatan dan ancaman.

"Orang she Sim!" bentak seorang di antara Bu-tong Liok-eng (Enam Pendekar Bu-tong) yang kurus tadi. "Ini adalah hutan raya, sebuah tempat umum. Bagaimana engkau dapat mengatakan bahwa Ang-hong-cu ini adalah tamumu? Jika engkau hendak melindunginya berarti bahwa engkau pun bukan manusia baik-baik! Yang melindungi penjahat, berarti dia penjahat pula! Harap Susiok jangan melayani bocah ini dan biarlah kami yang akan menghabisinya!" Berkata demikian Si Kurus ini lantas memberi isyarat kepada lima orang temannya dan mereka berenam langsung mengepung Ki Liong dengan pedang di tangan! Akan tetapi Ki Liong hanya tersenyum dan berdiri tenang.

"Sudah kukatakan bahwa aku tak ingin bermusuhan, akan tetapi kalau kalian orang-orang Bu-tong-pai mengganggu tamuku dan aku, apa boleh buat, jangan dikira kalau aku takut terhadap kalian!" Tangan kanannya bergerak dan nampak sinar berkelebat. Tahu-tahu di tangan kanannya sudah terdapat sebatang pedang putih karena pedang itu terbuat dari perak!

Melihat ini jantung Hay Hay berdebar tegang. Kini dia sudah yakin benar. Sim Ki Liong ini adalah sama dengan Ciang Ki Liong yang pernah didengarnya dari Kui Hong, yaitu murid Pendekar Sadis dari Pulau Teratai Merah, murid murtad yang pergi meninggalkan pulau itu tanpa pamit dengan membawa pusaka-pusaka pulau itu, termasuk sebatang pedang yang dia masih ingat saat Kui Hong bercerita, yaitu pedang yang namanya Gin-hwa-kiam (Pedang Bunga Perak).

Melihat pemuda itu mengeluarkan sebatang pedang, enam orang pengepungnya segera menerjang dari berbagai penjuru. Tampak sinar perak yang menyilaukan mata lalu disusul suara nyaring berdencingan ketika Ki Liong memutar pedangnya menangkis.

Enam orang itu berloncatan ke belakang dengan hati kaget. Pertemuan antara pedang itu telah membuat mereka terkejut karena tangan mereka tergetar hebat, tanda bahwa orang muda itu sungguh lihai! Mereka kembali mengepung dengan hati-hati dan maklum bahwa mereka tidak boleh mengadu senjata secara langsung dengan lawan itu.

Sementara itu Tiong Gi Cinjin telah melintangkan tongkatnya dan membentak kepada Hay Hay, "Orang muda, engkau tidak mau menyerah dan memaksakan perkelahian. Baiklah, keluarkan senjatamu dan lawanlah tongkat pinto!"

Hay Hay yang memperhatikan gerakan pedang perak di tangan Ki Liong, kini tersenyum sambil menggelengkan kepala kepada tosu itu. "Totiang, aku tak pernah mempersiapkan senjata untuk berkelahi. Apa bila Totiang masih penasaran dan hendak memaksaku untuk menyerah, atau hendak menyerang dengan tongkat itu, silakan!"

Ucapan dan sikap tenang Hay Hay itu dianggap suatu tantangan oleh Tiong Gi Cinjin dan mukanya menjadi merah. Dia seorang wakil Ketua Bu-tong-pai, kini menghadapi seorang pemuda dengan tongkatnya yang terkenal di tangan, dan pemuda itu sama sekali tak mau melawannya dengan senjata, melainkan dengan tangan kosong saja! Maka dia pun cepat menancapkan tongkatnya ke atas tanah sambil mengerahkan tenaganya.

"Cappp!" Tongkat panjang itu masuk ke dalam tanah sampai sepertiganya, dan dia pun menghadapi Hay Hay dengan tangan kosong!

"Ang-hong-cu, selain jahat engkau juga sombong bukan main! Nah, pinto juga bertangan kosong. Bersiaplah untuk menerima serangan. Haiiiitttt…!" Tosu itu langsung menerjang setelah mengeluarkan teriakan itu.

Hay Hay cepat mengelak dari sambaran tangan kakek itu. Dia merasa betapa ada angin pukulan yang amat kuat dan diam-diam dia pun maklum bahwa sekali ini dia menghadapi seorang lawan yang amat tangguh. Dia tidak mau mempergunakan ilmu sihir. Tentu para murid Bu-tong-pai yang pernah dipermainkannya dengan ilmu sihir itu telah melapor, dan kalau kakek ini berani datang melawannya tentulah kakek ini sudah yakin bahwa dia akan mampu menghadapi kekuatan sihir, kalau pemuda lawannya itu mempergunakannya.

Betapa pun juga Hay Hay maklum bahwa para tokoh Bu-tong-pai ini hanya salah sangka. Mereka datang untuk membalas dendam karena kematian murid wanita Bu-tong-pai yang menjadi korban Ang-hong-cu, dan karena mereka menyangka bahwa dialah Ang-hong-cu, dengan bukti perhiasan tawon merah yang dimilikinya, maka sekarang mereka berusaha mati-matian menangkapnya. Jadi dalam hal ini orang-orang Bu-tong-pai tidak melakukan kejahatan terhadap dirinya dan jika dipikir secara mendalam, maka yang bersalah adalah Ang-hong-cu, sedangkan dia adalah putera kandung Ang-hong-cu!

Karena ini maka dia pun selalu mengalah dan biar pun tosu itu menyerang secara bertubi, dengan dahsyat sekali, tapi Hay Hay hanya selalu mengelak dan menangkis tanpa pernah membalas. Ia hanya mengandalkan kelincahan gerakannya untuk menghindarkan diri dari terjangan tosu yang lihai itu. Akan tetapi, karena tosu yang menjadi wakil perkumpulan Bu-tong-pai itu memang memiliki tingkat kepandaian yang sudah tinggi, Hay Hay nampak sibuk sekali dan terdesak.

Keadaan Sim Ki Liong masih lebih baik dari pada Hay Hay yang terdesak terus. Pemuda yang memegang Gin-hwa-kiam itu mengerahkan ilmu kepandaiannya dan tidak mengalah seperti yang dilakukan Hay Hay. Pedangnya membentuk gulungan sinar putih yang amat dahsyat dan menyilaukan sehingga enam orang pengeroyoknya bahkan kewalahan untuk menjaga diri dari sinar pedang yang menyambar-nyambar itu.

Kalau mereka itu bukan murid-murid utama dari Bu-tong-pai, tentu semenjak tadi mereka telah roboh terluka. Bu-tong-pai memang terkenal dengan ilmu pedangnya sehingga enam orang itu dapat memainkan pedang mereka dengan gaya yang amat indah dan meski pun mereka kalah tingkat dalam menghadapi Ki Liong, tapi permainan pedang mereka dapat dipusatkan untuk pertahanan yang amat ketat.

Selagi ramai-ramainya kedua pihak itu berkelahi di tempat sunyi itu, tiba-tiba saja muncul seorang laki-laki setegah tua yang menggiring puluhan ekor kambing. Dia seorang suku bangsa Hui, mengenakan sorban putih di kepalanya, dan tangannya memegang sebatang tongkat penggembala.

Entah bagaimana, agaknya kambing-kambing yang jumlahnya mendekati seratus ekor itu berlari-lari kacau menuju ke tempat perkelahian. Penggembala setengah tua itu mengejar di belakang mereka sambil memaki-maki dalam bahasa Hui, mengayun-ayun tongkatnya sehingga kambing-kambing itu menjadi makin ketakutan. Karena berada dalam keadaan panik, gerombolan binatang itu lari kacau-balau menyerbu tempat perkelahian sehingga mereka yang berkelahi menjadi kacau pula.

Melihat ada segerombolan kambing menyerbu, orang-orang Bu-tong-pai menjadi marah sehingga para pengeroyok Ki Liong mempergunakan kaki mereka menendangi beberapa ekor kambing yang segera terlempar dan terbanting. Makin riuh suara kambing-kambing itu mengembik dan suasana menjadi semakin kacau.

Penggembala itu menjadi marah. Dengan mata melotot dia lalu menghampiri orang-orang Bu-tong-pai itu dan memaki-maki. "Kalian orang-orang kurang ajar, kenapa menendangi kambing-kambingku?" Sambil terus memaki-maki dalam bahasa Hui, penggembala itu kini mengobat-abitkan tongkat gembalanya, mengamuk dan menyerang kalang-kabut kepada enam orang Bu-tong-pai itu!

Orang-orang Bu-tong-pai itu bukanlah orang-orang kejam. Tentu saja mereka tidak ingin memusuhi seorang penggembala bangsa Hui, maka melihat kemarahan penggembala itu yang menyerang mereka dengan tongkat panjang, mereka itu hanya menangkis dengan pedang mereka.

Terdengar bunyi nyaring enam kali dan enam orang Bu-tong-pai itu terkejut bukan main. Tongkat Si Penggembala itu bergerak cepat dan walau pun sudah ditangkis, tetapi secara bertubi-tubi dapat menyambar ke arah mereka. Dan bukan itu saja, juga mereka berenam merasa betapa tangan mereka tergetar hebat, tanda bahwa tongkat itu digerakkan oleh tenaga yang dahsyat!

Kakek penggembala berusia sekitar lima puluh tahun itu masih terus menyerang kalang-kabut, nampaknya dengan gerakan kacau, namun ternyata ujung tongkatnya menyambar-nyambar dengan tepat ke arah enam orang Bu-tong-pai. Melihat serangan ini, enam tosu itu segera berloncatan mundur.

Kakek bangsa Hui itu kini memutar tongkatnya dan menyerang dengan hantaman ke arah kepala Tiong Gi Cinjin yang masih bertanding dengan seru, atau lebih tepat, mendesak hebat kepada Hay Hay! Dan wakil Ketua Bu-tong-pai ini pun amat terkejut karena tongkat itu menyambar dengan amat kuatnya, didahului oleh angin pukulan yang ganas! Tiong Gi Cinjin cepat mengelak. lantas menggerakkan lengannya menangkis sambil mengerahkan tenaga, dengan maksud mematahkan tongkat penggembala itu.

"Dukkk!"

Tongkat itu ternyata tidak patah, bahkan melalui tangannya yang tergetar Tiong Gi Cinjin dapat merasakan betapa kuatnya tenaga yang terkandung dalam tongkat itu! Maklumlah dia bahwa penggembala Hui ini pun seorang yang memiliki kepandaian tinggi.....!


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner