PENDEKAR MATA KERANJANG : JILID-74


Padahal tadi pun dia sudah merasa bingung saat melihat kenyataan betapa pemuda yang disangkanya Ang-hong-cu itu sama sekali tak pemah membalas serangannya dan hanya mempertahankan diri, tetapi sebegitu jauh dia belum juga dapat merobohkannya! Bahkan satu kali pun belum ada serangannya yang berhasil mengenai sasaran! Juga dia melihat betapa enam orang anak buahnya sama sekali tak dapat menandingi kehebatan pemuda yang menggunakan sebatang pedang yang sinarnya seperti perak itu.

"Hayo, siapa pun yang berani mengganggu kambingku akan kupukul dengan tongkat ini!" Penggembala Hui itu berteriak-teriak sambil mengobat-abitkan tongkatnya yang panjang.

Sambil mencabut tongkatnya Tiong Gi Cinjin segera berkata, suaranya terdengar lembut, "Sobat, tidak ada yang mengganggu kambingmu. Karena kambing-kambingmu memasuki tempat perkelahian ini, maka ada yang kena tendangan. Hitung saja berapa yang tewas dan kami akan menggantinya."

Penggembala itu menghitung kambingnya, akan tetapi tidak ada yang tewas karena tadi para murid Bu-tong-pai memang menendang kambing hanya untuk mengusir mereka saja tanpa niat membunuh. Sesudah melihat betapa kambingnya masih utuh, penggembala itu lalu bersungut-sungut dan meneriaki kambing-kambing yang agak menjauh, tanpa peduli lagi dengan mereka yang kini menghentikan perkelahian.

"Ang-hong-cu, biarlah sekali ini pinto melepaskanmu, tapi lain kali pinto akan mencarimu dengan kekuatan yang lebih besar. Bagaimana pun juga engkau harus mempertanggung jawabkan perbuatanmu terhadap murid wanita kami!" Setelah berkata demikian, Tiong Gi Cinjin memberi isyarat kepada anak buahnya untuk pergi dari tempat itu.

Dengan sikap acuh penggembala itu juga menggiring pergi semua kambingnya, teriakan-teriakannya terdengar sampai jauh, bahkan teriakannya masih terus terdengar ketika dia dan kambing-kambingnya sudah tidak kelihatan lagi.

Diam-diam Hay Hay merasa heran. Dia tahu bahwa penggembala kambing bangsa Hui itu bukan orang sembarangan sehingga tosu Bu-tong-pai dan anak buahnya segera mundur begitu penggembala itu datang mengacau dengan kambing-kambingnya.

Sim Ki Liong juga merasa heran dan kagum. Timbullah suatu niat di dalam hatinya untuk membujuk orang Hui itu agar suka bekerja sama dengan persekutuan di mana dia menjadi pembantu pimpinan.

"Saudara Tang Hay, nanti dulu, aku ingin mengejar dan bicara dengan penggembala Hui itu!" Sesudah berkata demikian, Ki Liong segera meloncat dan berlari cepat mengejar ke arah menghilahgnya Si Penggembala bersama kambing-kambingnya.

Kini Hay Hay berdiri memandang kepada Ling Ling yang semenjak tadi berdiri mematung. Dara ini terlampau bingung untuk mencampuri perkelahian tadi. Hatinya menjadi bimbang sekali sesudah mendengar tuduhan tosu Bu-tong-pai dan para muridnya tadi bahwa Hay Hay adalah Ang-hong-cu.

Dia merasa tertarik kepada Hay Hay yang dianggap susiok-nya itu, bahkan gadis ini mulai merasa yakin bahwa hatinya bukan hanya sekedar tertarik, melainkan ada perasaan cinta terhadap pemuda itu. Akan tetapi wakil Ketua Bu-tong-pai menuduh pemuda itu sebagai Ang-hong-cu, penjahat pemerkosa wanita yang terkenal kejam dan sangat jahat! Dan dia merasa ragu-ragu.

Hay Hay adalah seorang pemuda yang sangat pandai merayu wanita, suka memuji-muji dan mudah menundukkan hati wanita, jadi tuduhan itu bukan tidak masuk akal. Apa lagi para tokoh Bu-tong-pai terkenal sebagai perdekar-pendekar gagah, pasti tidak menuduh sembarangan saja, dan bukankah ada buktinya, yaitu Hay Hay mempunyai sebuah benda perhiasan tawon merah yang menjadi tanda khas dari penjahat Ang-hong-cu?

"Ling Ling, jangan engkau memandangku seperti itu!" Hay Hay berkata. "Percayalah, aku bukanlah Ang-hong-cu penjahat itu!"

Ling Ling menggelengkan kepala, matanya masih terbelalak dan mukanya agak pucat. "Aku... tidak tahu... aku tidak... tahu...," katanya ragu-ragu dan bingung, kemudian dia membalikkan tubuhnya. "Lebih baik aku pergi saja..."

"Ling Ling, ingat akan pesanku. Tiga hari kemudian aku akan mencarimu di tepi telaga...!" Hay Hay mengingatkan gadis itu.

Dia telah mengambil keputusan akan melakukan siasat mendekati Ki Liong dan pura-pura mau bekerja sama supaya dia dapat langsung masuk ke dalam sarang persekutuan itu. Dengan demikian akan mudah baginya untuk melakukan penyelidikan, mengetahui siapa saja anggota pimpinan persekutuan itu. Tidak perlu terlalu lama, tiga hari pun cukuplah.

Kemudian dia akan melarikan diri keluar untuk menemui Ling Ling. Dia harus meyakinkan hati gadis itu bahwa dia bukan Ang-hong-cu, sungguh pun dia belum tahu bagaimana dia akan dapat meyakinkannya tanpa membuka rahasianya bahwa Ang-hong-cu adalah ayah kandungnya.

Ling Ling tidak menjawab, melainkan berlari cepat meninggalkan tempat itu. Tempat yang tadinya menjadi medan perkelahian itu kini menjadi sunyi. Hay Hay lalu duduk, menunggu kembalinya Ki Liong. Tidak lama kemudian pemuda itu pun datang dengan berlari cepat, dan begitu tiba di situ Ki Liong memandang ke kanan kiri, mencari-cari dengan pandang matanya karena dia tidak melihat Ling Ling di situ.

"Ehh, di mana Nona Cia...?" tanyanya.

Hay Hay menghela napas panjang. Dia tidak perlu berpura-pura, karena itu dia tidak perlu berbohong pula. "Dia telah pergi, marah karena mengira bahwa aku adalah Ang-hong-cu, tentu dia merasa malu mempunyai seorang susiok yang menjadi jai-hwa-cat tersohor itu."

Ki Liong tersenyum. "Saudara Tang, benarkah engkau bukan Ang-hong-cu? Tokoh-tokoh Bu-tong-pai itu kelihatan begitu yakin... "

"Hemmm, Saudara Sim Ki Liong, seperti yang dikatakan oleh Ling Ling tadi, Ang-hong-cu terkenal sebagai seorang jai-hwa-cat sejak puluhan tahun yang lalu. Bagaimana mungkin aku yang baru berusia dua puluh satu tahun tahu-tahu dituduh sebagai Ang-hong-cu yang usianya tentu sudah jauh lebih tua?" Lalu, dengan muka memperlihatkan penasaran dan kemarahan, Hay Hay bertanya. "Saudara Sim, apakah engkau juga ikut-ikut menuduh aku Ang-hog-cu?"

Sim Ki Liong tertawa. "Sama sekali tidak, Saudara Tang. Dan andai kata betul sekali pun, aku tidak akan mencampuri urusan pribadimu. Memang para pendekar itu kadang-kadang terlalu memandang rendah orang lain seakan-akan diri mereka saja yang baik, bersih dan gagah. Engkau pun telah mereka musuhi dan mereka tuduh semena-mena. Nah, mereka sama sekali tidak menghargaimu. Tetapi aku, maksudku kami, akan dapat menghargaimu yang mempunyai ilmu kepandaian tinggi dan kalau engkau suka bergabung dengan kami, membantu perjuangan kami sehingga berhasil, kelak engkau pun akan menjadi seorang berpangkat tinggi dan manusia-manusia macam mereka itu tak akan berani memandang rendah dan meremehkanmu lagi, apa lagi menghina seperti yang mereka lakukan tadi."

"Hemm, tadi engkau bicara tentang perjuangan. Apa yang sebenarnya kau maksudkan?" Hay Hay memancing.

"Kami sedang menghimpun kekuatan dalam sebuah persekutuan, memperjuangkan nasib kita dari tekanan pemerintah yang lalim. Kaisar beserta para menteri sekarang ini kurang bijaksana, banyak pembesar melakukan korup, banyak terjadi kelaliman, oleh karena itu kami berusaha untuk melakukan suatu perjuangan."

"Maksudmu pemberontakan terhadap pemerintah?"

"Ki Liong tersenyum. "Bagi kami bukan pemberontakan, melainkan perjuangan, Saudara Tang! Memberontak terhadap kelaliman adalah suatu perjuangan yang mulia. Karena itu marilah engkau bergabung dengan kami agar kepandaianmu tidak akan sia-sia."

Hay Hay pura-pura mengerutkan alisnya dan berpikir. "Akan tetapi aku belum tahu siapa pemimpin kalian dan orang macam apa dia, dan siapa pula yang menjadi anggotanya."

"Jangan khawatir, Saudara Tang, pemimpin kami adalah seorang yang memiliki ilmu tinggi sekali. Bengcu kami adalah orang yang bijaksana dan aku sendiri telah diangkat menjadi pembantu utamanya. Banyak orang-orang kang-ouw yang telah menggabungkan diri dan jangan engkau heran apa bila di antara mereka terdapat tokoh-tokoh dari golongan hitam. Dalam suatu perjuangan urusan pribadi harus ditinggalkan, dan kami menghimpun tenaga dari mana pun juga asal dapat membantu gerakan kami. Marilah engkau kuperkenalkan dengan Bengcu dan para anggota pimpinan."

"Di mana pusat persekutuan kalian itu?

"Di Pegunungan Yunan. Marilah engkau ikut bersamaku, Saudara Tang. Sungguh sayang sekali bahwa Nona Cia tidak dapat ikut ke sana."

"Dia sedang marah, jadi tidak perlu dihubungi lagi, dan baiklah, aku akan ikut denganmu, Saudara Sim. Akan tetapi, bagaimana dengan penggembala Hui tadi? Siapakah dia dan sudahkah engkau tadi bertemu dengan dia, Saudara Sim?"

"Wah, orang itu memang aneh dan mencurigakan, juga agaknya dia lihai sekali. Melihat kelihaiannya tadi aku ingin menghubunginya, maka aku cepat melakukan pengejaran. Tapi ketika aku tiba di luar hutan ini, yang kutemukan hanyalah segerombolan kambing yang digembala oleh seorang anak kecil suku bangsa Hui. Kutanyakan dia mengenai laki-laki setengah tua tadi, tapi dia hanya bilang bahwa lelaki itu meminjam kambing-kambingnya itu dan baru saja dikembalikan. Anak itu telah diberi beberapa potong uang perak, namun dia tak mengenal siapa adanya laki-laki itu yang langsung pergi dengan cepatnya setelah mengembalikan kambing-kambingnya dan memberinya beberapa potong uang perak."

"Aneh sekali...," kata Hay Hay heran.

"Memang aneh. Jelas bahwa laki-laki itu sengaja menyamar sebagai penggembala untuk membubarkan perkelahian, atau jika tak keliru dugaanku, dia sengaja hendak membantu kami dalam menghadapi orang-orang Bu-tong-pai. Akan tetapi sudahlah, dia sudah pergi. Mari engkau ikut bersamaku menemui Bengcu kami, Saudara Tang."

Hay Hay mengangguk-angguk, lantas mengikuti pemuda tampan itu meninggalkan tempat itu menuju ke barat. Diam-diam dia masih membayangkan keanehan lelaki penggembala bangsa Hui itu.

Siapakah dia dan apa pula maksudnya dengan berpura-pura menggembala kambing dan menyerbu ke tempat perkelahian? Melihat betapa penggembala palsu itu dapat membuat gentar orang-orang Bu-tong-pai, telah membuktikan bahwa orang itu memang lihai sekali, padahal baru melakukan penyerangan beberapa kali saja dengan tongkat gembalanya!

Akan tetapi karena dia pun bisa menduga bahwa di tempat itu banyak berkeliaran orang pandai, Hay Hay menduga bahwa laki-laki setengah tua tadi tentu seorang di antara para pendekar yang menurut Menteri Yang Ting Hoo, banyak berdatangan ke tempat itu untuk melakukan penyelidikan terhadap persekutuan orang sesat yang dipimpin oleh Lam-hai Giam-lo itu. Dan kini dia dibawa oleh Ki Liong menghadap Lam-hai Giam-lo…!

********************

"Hay-ko...! Engkaukah ini...?" Pek Eng berseru dengan girang sekali ketika dia mengenal Hay Hay.

Pemuda itu masuk bersama Kim Liong untuk menghadap Lam-hai Giam-lo, dan karena para pengawal mengatakan bahwa bengcu sedang berlatih silat dengan murid atau puteri angkatnya di lian-bu-thia (ruangan berlatih silat), maka Ki Liong yang memiliki kebebasan di tempat itu sebagai pembantu utama dan terpercaya dari bengcu, segera saja mengajak Hay Hay untuk memasuki ruangan itu.

Begitu mereka masuk Hay Hay segera melihat dan mengenal seorang gadis yang sedang berlatih silat dan jantungnya berdebar penuh ketegangan. Gadis itu bukan lain adalah Pek Eng! Keraguannya lenyap seketika setelah gadis itu menoleh dan matanya terbelalak, lalu memanggilnya dengan gembira.

"Adik Eng...! Benar engkaukah ini? Bagaimana bisa di sini ?" Dia pun bertanya terheran-heran. Apakah keluarga Pek, pimpinan Pek-sim-pang yang termasuk aliran putih itu juga sudah bersekutu dengan gerombolan pemberontak yang dipimpin oleh Lam-hai Giam-lo? Rasanya tidak mungkin begitu.

"Ahh, kalian sudah saling mengenal? Bagus!" kata Ki Liong.

Tentu saja dia hanya berpura-pura, sebab ketika Pek Eng baru tiba di tempat itu, gadis ini telah bercerita bahwa dia mencari dua orang, yaitu kakak kandungnya yang bernama Pek Han Siong, dan orang ke dua adalah Hay Hay. Dia sendiri sempat mendengar ketika Pek Eng menceritakan hal itu kepada Bi Lian, murid dari mendiang Pak Kwi Ong dan Tung Hek Kwi itu.

Sementara itu Lam-hai Giam-lo telah mendengar beritanya lebih dahulu tentang pemuda bernama Hay Hay itu, yang kabarnya amat lihai, sedemikian lihainya sehingga dua orang di antara para pembantunya yang dipercaya, yaitu Min-san Mo-ko beserta Ji Sun Bi, juga merasa jeri dan harus mengundang Ki Liong untuk membantu mereka. Sekarang Ki Liong telah kembali bersama pemuda itu dan agaknya berhasil membujuknya, maka diam-diam hati Lam-hai Giam-lo menjadi gembira sekali. Makin banyak orang pandai membantunya maka akan semakin baik pula.

Pek Eng dan Hay Hay saling pandang dan tiba-tiba saja sepasang pipi gadis itu berubah merah karena dia teringat betapa dia pernah mencium dan dicium pipinya oleh pemuda ini yang tadinya dia sangka kakak kandungnya! Seorang pernuda yang pandai merayu, akan tetapi... menyenangkan sekali dan kelihaiannya membuat dia kagum bukan main. Setelah dia teringat tentang peristiwa penciuman itu, tiba-tiba saja Pek Eng menjadi pemalu dan tidak mampu mengeluarkan kata-kata.

Sementara itu Lam-hai Giam-lo juga merasa girang sekali melihat betapa muridnya, juga anak angkatnya yang amat disayangnya itu sudah saling mengenal dengan pemuda yang baru datang ini. Kalau Eng Eng telah mengenalnya maka akan mudah mengetahui siapa sebenarnya pemuda itu, dan tentu lebih dapat dipercaya.

"Saudara Tang Hay, inilah Bengcu yang memimpin gerakan perjuangan kami. Bengcu, dia adalah Saudara Tang Hay, seorang pemuda petualang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi sekali. Dia sudah mendengar dariku mengenai semua cita-cita perjuangan kita dan menyatakan setuju untuk membantu agar kelak dia bisa memperoleh bagian jabatan yang tinggi," kata Sim Ki Liong.

Lam-hai Giam-lo mengangguk-angguk.

"Mari, silakan ikut dengan kami ke ruangan duduk, orang muda, supaya kita dapat bicara dengan lebih leluasa."

Mereka kemudian memasuki ruangan duduk, dan diam-diam Hay Hay mengagumi semua perabot rumah yang serba mewah itu. Juga ruangan duduknya sangat luas dan nyaman, dihias oleh lukisan-lukisan dan tulisan-tulisan indah. Mereka berempat lalu duduk di dalam ruangan itu. Dua orang pelayan wanita muda yang cantik-cantik segera keluar membawa arak dan air teh harum, lalu pergi lagi dengan langkah kaki yang genit

"Eng Eng, engkau sudah kenal dengan pemuda ini? Di mana engkau mengenalnya dan siapakah dia ini sebenarnya?" Lam-hai Giam-lo bertanya kepada Pek Eng dengan suara menyayang.

Hay Hay melihat sikap ini dan dia merasa semakin heran. Agaknya kakek bemuka kuda yang julukannya Lam-hai Giam-lo ini, pemimpin dari gerombolan orang sesat yang hendak memberontak terhadap pemerintah, amat akrab dengan Pek Eng. Tadi dia sudah melihat betapa Pek Eng berlatih silat di bawah bimbingan kakek ini!

Suara kakek ini pun luar biasa sekali, parau pecah seperti ringkik kuda. Keadaan wajah dan tubuhnya juga aneh. Mukanya mirip kuda, dengan mulut atas menjorok keluar, dua matanya sipit dan sepasang telinganya lebar. Tubuhnya yang tinggi kurus itu mempunyai sepasang kaki yang panjang. Seorang kakek yang sangat aneh dan usianya belum begitu tua, sekitar lima puluh tahun lebih.

"Bengcu, aku mengenalnya sebagai Hay Hay, ketika masih bayi dia pernah menjadi anak angkat dari orang tuaku."

"Ho-ho-ha-ha...!" Lam-hai Giam-lo tertawa hingga suaranya bergema di ruangan itu, "kalau begitu dia ini masih kakak angkatmu sendiri?"

Pek Eng adalah seorang gadis yang sangat cerdik dan tangkas. Dia sudah merasa kaget dan heran bukan main ketika Hay Hay muncul tadi, dan sungguh pun dia tidak tahu apa maksud kedatangan Hay Hay di tempat itu, namun dia tahu bahwa kalau kedatangan Hay Hay ini hendak menentang persekutuan yang dipimpin oleh Lam-hai Giam-lo, maka akan terancamlah keselamatan Hay Hay. Agaknya pemuda itu belum tahu bahwa di tempat ini berkumpul banyak sekali orang yang sangat lihai. Maka dia pun cepat-cepat mengangguk membenarkan ketika mendengar ucapan Lam-hai Giam-lo.

"Begitulah, Bengcu. Boleh dibilang dia adalah kakakku sendiri, kakak angkat karena dia pernah diangkat anak oleh ayah bundaku"

Hay Hay mengangguk-angguk pula, menahan hatinya yang penuh diliputi perasaan heran dan penasaran bagaimana Pek Eng dapat berada di tempat itu dan nampaknya hubungan dara ini begitu dekat dengan Lam-hai Giam-lo, pemimpin kaum pemberontak itu! Padahal setahunya keluarga Pek merupakan keluarga pendekar yang tentu saja sama sekali tidak akan sudi berhubungan dengan para pemberontak, apa lagi kalau pemberontak itu terdiri dari orang-orang golongan hitam. Akan tetapi dengan cerdik dia pun menahan dirinya. Dia akan bertanya mengenai keanehan itu dari Pek Eng sendiri, kalau mereka sempat bicara empat mata saja.

"Sobat Tang Hay, kalau engkau pernah diangkat anak oleh orang tua Eng Eng, mengapa engkau tidak memakai nama keluarga Pek akan tetapi sekarang memakai nama keluarga Tang?"

Pertanyaan yang tiba-tiba dari Lam-hai Giam-lo ini sebetulnya mengejutkan hati Hay Hay, tetapi sama sekali tidak terlihat pada wajahnya yang tetap tenang. Dia bahkan tersenyum lalu memberi hormat kepada pemimpin itu.

"Maaf, Bengcu. Sebelum kita berbicara tentang diriku, lebih dahulu aku ingin sekali tahu, apakah Bengcu dapat menerima aku untuk membantu gerakan perjuangan yang Bengcu pimpin? Tentu saja dengan janji bahwa kalau kelak gerakan berhasil, aku akan mendapat bagian, yaitu sebuah kedudukan yang tinggi dan terhormat sesuai dengan jasa-jasaku?"

Wajah Lam-hai Giam-lo berseri-seri. Kalau ada orang membantunya dengan pamrih agar kelak bisa memperoleh jabatan, maka orang itu dapat dipercaya! Dia tertawa lalu berkata, "Tentu saja, orang muda yang gagah. Dan karena yang mengajak engkau datang adalah Sim-kongcu yang sudah kupercaya sepenuhnya, maka kami pun percaya kepadamu. Kita lihat saja nanti bagaimana kesetiaanmu terhadap gerakan kita dan apa saja jasa-jasamu selama dalam perjuangan. Nah, sekarang jawablah pertanyaanku tadi."

Hay Hay merasa kagum sekali. Kakek bermuka kuda ini sungguh kuat ingatannya, masih ingat dengan pertanyaannya yang belum terjawab tadi. Dengan sewajarnya dia menjawab, "Meski pun aku pernah diangkat anak oleh keluarga Pek, akan tetapi hanya sebentar, jadi aku merasa tidak berhak menggunakan nama keluarga Pek yang terhormat. Karena itulah maka aku memakai nama keluarga ayah kandungku sendiri yang sudah tiada. Bukankah begitu, Eng-moi?"

Ditanya demikian, Pek Eng hanya mengangguk. Tentu saja gadis ini tidak mau membuka rahasia pemuda yang dikaguminya itu bahwa pemuda itu adalah putera dari jai-hwa-cat Ang-hong-cu yang tersohor itu.

Sebelum Lam-hai Giam-lo sempat berbicara lebih lanjut, terdengar suara ribut-rlbut di luar lian-bu-thia (ruangan latihan silat) itu. Terdengar suara orang yang lantang dan nadanya mengejek. "Eh-ehh, kalian mau apa? Sudah kukatakan bahwa aku datang untuk mencari Lam-hai Giam-lo. Bukankah kabarnya dia menampung orang-orang gagah untuk bekerja sama? Sekarang aku sudah datang, tapi kenapa disambut seperti musuh saja? Beginikah yang dinamakan menghargai orang gagah?"

"Orang asing! Engkau datang tanpa mau menyebutkan nama serta apa kepentinganmu hendak bertemu dengan Bengcu. Sikapmu mencurigakan, tentu saja kami menghadapimu sebagai musuh. Tak seorang pun boleh nyelonong begitu saja memasuki tempat kami ini, apa lagi hendak bertemu langsung dengan Bengcu," terdengar salah seorang anak buah Kui-kok-pang membantah.

"Habis kalau aku terus masuk dan terus mencari Bengcu kalian, lalu kalian mau apa? Mau menghalangiku? Ha-ha-ha, boleh kalau kalian mampu!" terdengar pula suara lantang itu.

Mendengar percakapan ini disusul suara ribut-ribut orang berkelahi, dengan alis berkerut Lam-hai Giam-lo melangkah keluar, diikuti oleh Pek Eng, Ki Liong dan Hay Hay. Sesudah mereka tiba di luar, mereka melihat seorang lelaki gagah berusia lima puluh tahun sedang dikeroyok oleh belasan orang anak buah Kui-kok-pang!

Melihat wajah pria setengah tua yang tampan dengan kumis dan jenggot yang teratur rapi bahkan rompinya terbuat dari sutera halus, Ki Liong dan Hay Hay langsung terkejut ketika mengenal orang itu yang bukan lain adalah penggembala kambing suku bangsa Hui yang pernah mengacau perkelahian mereka dengan orang-orang Bu-tong-pai. Ki Liong segera mendekati Lam-hai Giam-lo dan berbisik kepada Bengcu ini, menuturkan dengan singkat mengenai pengalamannya dengan orang setengah tua itu,

"Dia lihai sekali dan mencurigakan, Bengcu, tetapi akan dapat menjadi seorang pembantu yang amat baik." Ki Liong mengakhiri bisikannya.

Lam-hai Giam-lo memang sudah melihat kelihaian orang setengah tua itu. Belasan orang anak buahnya laksana sekumpulan semut yang mengeroyok seekor jangkerik saja. Siapa mendekat tentu langsung terpental oleh tamparan atau tendangan orang setengah tua itu, padahal di antara anak buahnya ada yang mempergunakan senjata sedangkan orang itu hanya bertangan kosong saja.

"Tahan...!" teriak Lam-hai Giam-lo dengan suaranya yang seperti bunyi ringkik kuda.

Mendengar ini, semua anak buah Kui-kok-pang berloncatan ke belakang. Orang setengah tua itu pun menghentikan gerakannya, lantas sambil tersenyum simpul dia memutar tubuh menghadapi Lam-hai Giam-lo, dan kedua matanya terbelalak, senyumnya melebar ketika dia melihat Hay Hay dan Ki Liong.

"Ahhh, senang sekali dapat bertemu dengan kalian dua orang pemuda yang tampan dan gagah!" Dan dia lalu memandang kepada Lam-hai Giam-lo dan Pek Eng, lalu menjura dan berkata. "Jika aku tidak salah duga, agaknya saudara yang gagah tentulah yang berjuluk Lam-hai Giam-lo, Bengcu dan pemimpin para pejuang. Dan Nona ini benar-benar gagah perkasa dan cantik jelita!"

Pujiannya itu tidak mengandung sikap kurang ajar dan melihat betapa Pek Eng tersipu malu, diam-diam Hay Hay tersenyum dalam hatinya. Pria setengah tua ini agaknya juga seorang yang pandai mengagumi keindahan dan kecantikan wanita!

Lam-hai Giam-lo menatap tajam dengan sepasang matanya yang sipit. "Sobat, tak keliru dugaanmu bahwa kami adalah Bengcu yang berjuluk Lam-hai Giam-lo. Tetapi siapakah engkau dan apa maksudmu membikin ribut di tempat kami?"

Laki-laki setengah tua itu tertawa dan nampak giginya yang masih berderet rapi dan putih, wajahnya nampak jauh lebih muda ketika dia tertawa. "Bengcu, maafkan kalau aku sudah membikin ribut. Memang aku sengaja datang ke sini untuk menghadap Bengcu sebab aku mendengar bahwa Bengcu mengumpulkan orang-orang gagah untuk diajak bekerja sama. Nah, kalau memang kerja sama itu dapat menguntungkan aku, tentu saja aku bersedia pula membantu Bengcu."

"Nanti dulu," kata Lam-hai Giam-lo sambil memandang tajam penuh selidik. Dia seorang tokoh sesat yang mengenal banyak orang berilmu tinggi di dunia persilatan, akan tetapi dia merasa belum pernah bertemu dengan orang ini, tidak tahu siapa namanya, dan dari golongan mana pula datangnya. "Sebelumnya kami ingin mengetahui siapa sebenarnya engkau ini, Sobat."

Kembali lelaki itu tertawa, "Ha-ha-ha, aku sendiri sudah lupa dan tidak ingat akan namaku sendiri, juga aku pun tidak peduli. Bengcu, biasanya aku hanya menggunakan nama Han Lojin, tempat tinggalku tidak menentu, di mana saja asal menyenangkan hatiku, di situlah tempat tinggalku."

"Hemm, terus terang saja, telah banyak aku mengenal tokoh dunia kang-ouw, akan tetapi belum pernah aku mendengar nama Han Lojin, juga belum pernah bertemu denganmu."

"Tentu saja, Bengcu. Selama ini aku memang selalu bersembunyi saja di tempat sunyi, menjauhkan diri dari segala urusan dunia ramai. Namun akhirnya aku merasa bosan dan begitu turun gunung, aku mendengar akan kesempatan yang diberikan oleh Bengcu untuk bekerja sama dengan orang-orang gagah. Aku siap membantu asal saja ada imbalannya yang cukup memuaskan," sambil berkata demikian ia memandang dan tersenyum kepada Pek Eng. Gadis itu mengerutkan alisnya dan segera membuang muka. Pria itu sungguh genit, pikirnya.

Lam-hai Giam-lo mengangguk-angguk lalu tersenyum. Memang dia ingin mengumpulkan sebanyak mungkin orang-orang yang mempunyai ilmu kepandaian tinggi agar gerakannya akan menjadi kuat.

"Hemm, Han Lojin, ilmu silat baru dapat dilihat bila mana sudah diuji. Tadi engkau sudah menunjukkan kepandaian ketika menghadapi pengeroyokan anak buah kami. Akan tetapi karena tingkat kepandaian mereka masih amat rendah, maka hal itu belum bisa dijadikan ukuran. Saudara Tang Hay, engkau wakililah aku untuk menguji sampai di mana tingkat kepandaian Han Lojin itu. Nah, marilah kita masuk ke lian-bu-thia."

Han Lojin tersenyum, lantas dengan langkah gagah dia pun ikut bersama mereka semua memasuki ruangan berlatih silat itu. Hay Hay mengerutkan alisnya, akan tetapi segera dia tersenyum.

Dia harus memperoleh kepercayaan mereka agar dapat menyelidiki keadaan persekutuan itu, dan dia pun tahu bahwa sekali ini yang diuji bukan hanya kepandaian lelaki bernama Han Lojin (Kakek Han) itu saja, akan tetapi juga ujian untuk kesetiaan dan kesungguhan hatinya untuk bekerja sama dengan persekutuannya.

Maka, sesudah tiba di dalam ruangan belajar silat itu dia langsung menghadapi Han Lojin, ada pun Lam-hai Giam-lo, Pek Eng dan Ki Liong sudah mengambil tempat duduk masing-masing untuk menonton pertandingan silat.

Kini kedua orang itu sudah berdiri saling berhadapan, seperti dua ekor jago yang hendak bertarung, lebih dahulu mengamati lawan dengan sinar mata tajam penuh penilaian. Hay Hay melihat betapa Han Lojin seperti menahan senyum dan sikapnya amat memandang rendah, akan tetapi anehnya wajah itu berseri seolah-olah hati orang itu merasa gembira! Timbullah rasa suka di dalam hatinya.

Orang ini berwatak periang, dan dia pun merasa kasihan. Akan dijaganya agar dia tidak sampai melukai atau merobohkan orang ini dengan mudah, agar martabat orang ini dapat terangkat di dalam pandangan mata Lam-hai Giam-lo.

Pada saat itu bermunculanlah tokoh-tokoh yang menjadi sekutu Lam-hai Giam-lo. Mereka itu adalah Ji Sun Bi, Min-san Mo-ko, Kim San Ketua Kui-kok-pang, Hek-hiat Mo-ko, serta beberapa orang pendeta perkumpulan Pek-lian-kauw.

Mereka mendengar bahwa Ki Liong telah berhasil membujuk pemuda yang namanya Hay Hay dan terkenal sangat lihai itu untuk menghadap Lam-hai Giam-lo dan menjadi sekutu, juga mendengar bahwa pemuda itu kini disuruh oleh Bengcu untuk menguji kepandaian seorang tamu yang menyatakan diri hendak bergabung. Mereka tertarik dan berbondong-bondong memasuki lian-bu-thia.

Karena mereka bukan anggota biasa, namun serombongan orang yang dianggap sebagai sekutu dan rekan, maka mereka pun diperbolehkan lewat dan masuk oleh para anggota Kui-kok-pang yang tengah berjaga. Lam-hai Giam-lo juga diam saja dan hanya membalas penghormatan mereka dengan anggukan kepala ketika melihat mereka masuk kemudian mengambil tempat duduk di pinggir dekat dinding. Hay Hay juga melihat ketika mereka itu memasuki lian-bu-thia, dan merasa heran mengapa dia belum melihat dua pasang suami isteri yang pernah memperebutkannya pada waktu dia kecil.

"Han Lojin, silakan mulai membuka serangan!" tantangnya.

Dia ingin segera menyelesaikan tugas yang tidak enak ini. Dia harus menguji kepandaian orang yang mendatangkan rasa suka di dalam hatinya. Namun tanpa disangkanya Han Lojin malah tertawa.

"Ha-ha-ha-ha, baru sekarang ini aku memperoleh kesempatan untuk bertanding melawan Ang-hong-cu yang tersohor itu, ha-ha-ha!"

Semua orang terkejut, kecuali Ki Liong yang sudah tahu tentang hal itu. Hay Hay bahkan lebih terkejut dari pada orang lain.

"Han Lojin, apa maksudmu...?!" Dia berseru penasaran. "Aku bukan Ang-hong-cu!"

Han Lojin masih tertawa, lantas menudingkan telunjuknya ke arah muka Hay Hay sambil berkata. "Orang muda, masih perlukah menyangkal lagi? Jika engkau bukan Ang-hong-cu, kenapa para tosu dan murid Bu-tong-pai itu menyerangmu mati-matian? Sudahlah, orang muda, namamu Tang Hay? Bagus, akui saja karena dari golongan mana pun juga, semua yang berada di sini adalah rekan sendiri, bukan? Jadi, tidak perlu malu-malu."

"Dia bukan Ang-hong-cu...!" Tiba-tiba terdengar suara Pek Eng lantang. Gadis ini sudah bangkit berdiri dan matanya memandang marah. Ia tentu saja tahu bahwa Hay Hay bukan Ang-hong-cu, melainkan putera kandung dari penjahat pemetik bunga yang tersohor itu.

Hay Hay terkejut sekali, cepat-cepat membalikkan tubuhnya menghadapi Pek Eng lantas mengerahkan kekuatan sihirnya.

"Eng-moi, jangan ikut mencampuri dan duduklah saja, biar kuhadapi sendiri tuduhan ini!"

Kekuatan sihir itu menguasai Pek Eng yang tiba-tiba duduk kembali dengan muka agak berubah pucat. Ki Liong dan Lam-hai Giam-lo tak merasa heran dengan seruan Pek Eng tadi. Bukankah Pek Eng sudah mengenal Hay Hay? Tentu gadis itu membelanya karena mungkin dia tidak tahu bahwa pemuda kenalannya itu adalah Ang-hong-cu. Akan tetapi Ki Liong juga meragukan kebenaran tuduhan itu.

"Han Lojin, Saudara Tang Hay terlampau muda untuk menjadi Ang-hong-cu, harap jangan bicarakan urusan itu. Hadapi saja dia dengan ilmu silatmu agar bisa membuktikan kepada Bengcu bahwa engkau cukup berharga untuk menjadi rekan kami," kata Ki Liong dengan suara lantang.

Han Lojin tersenyum lebar. "Baiklah, orang muda she Tang. Engkaulah yang harus mulai menyerang lebih dulu karena engkau adalah pengujiku, bukan? Heh-heh-heh!"

Kini berkuranglah rasa suka di dalam hati Hay Hay terhadap orang itu. Bagaimana pun juga, di hadapan orang banyak orang ini telah menuduhnya sebagai Ang-hong-cu dan ini berbahaya sekali karena memang dia adalah putera jai-hwa-cat itu. Bagaimana pun juga kenyataan ini sudah menghancurkan hatinya dan dia tidak mau kenyataan yang pahit itu diketahui orang lain.

Pek Eng mengetahuinya, akan tetapi dia berhasil membungkam mulut gadis itu dengan kekuatan sihirnya. Ada pun Han Lojin tampaknya demikian memandang rendah padanya. Hemm, dia akan tunjukkan kepada orang tua ini bahwa dia tidak boleh dibuat permainan!

"Baik, aku akan menyerang. Sambutlah!" bentak Hay Hay.

Dia pun sudah menerjang dengan memainkan Ilmu Silat Ciu-sian Cap-pek-ciang (Delapan Belas Jurus Dewa Arak). Dengan mempergunakan jurus Dewa Pemabok Menepuk Lalat, tangannya menyambar ke arah pundak lawan, kelihatannya hanya perlahan saja namun di dalam tamparan itu terkandung tenaga dahsyat.

"Hehhh!" Han Lojin agaknya kaget juga ketika merasakan sambaran angin pukulan yang amat kuat. Dia maklum bahwa pemuda ini lihai, hal itu dapat dilihatnya ketika pemuda itu menghadapi tosu Bu-tong-pai yang lihai. Akan tetapi tak disangkanya bahwa pemuda itu menggunakan tamparan yang demikian dahsyatnya. Dia pun cepat mengelak, akan tetapi tangan pemuda itu seperti meluncur terus, tamparan ke arah pundaknya itu kini bahkan meluncur ke arah lehernya, lebih berbahaya dari pada sebelum dielakkannya tadi.

Tiba-tiba saja kaki Han Lojin mencuat dan mengirim tendangan ke arah pusar Hay Hay. Serangan balasan ini juga merupakan pembelaan diri karena kakinya lebih panjang dari pada lengan Hay Hay. Terpaksa pemuda ini menarik kembali tamparannya karena kaki lawan sudah menyambar cepat.

Dia pun cepat mengerahkan tenaga pada tangan kirinya, lantas membacokkan tangan kiri itu seperti sebatang golok ke arah kaki yang menendangnya! Kembali Han Lojin mampu menyelamatkan kakinya dengan memutar kaki itu hingga tubuhnya ikut terputar dan luput dari ‘bacokan’ tangan Hay Hay.

Han Lojin mengerluarkan seruan nyaring, kemudian tiba-tiba saja tubuhnya berkelebatan dengan sangat cepatnya sehingga sukar dlikuti oleh pandangan mata biasa. Dan dengan gerakan secepat itu, dia segera menghujankan serangan berupa totokan bertubi-tubi ke arah tubuh Hay Hay!

Pemuda ini kembali terkejut dan dia pun cepat menggunakan ginkang (ilmu meringankan tubuh) Yan-cu Coan-in (Walet Menembus Awan) yang membuat tubuhnya berkelebatan seperti seekor burung walet terbang saja. Sekarang giliran Han Lojin yang mengeluarkan seruan kagum. Wuiiihhhh.....!


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner