PENDEKAR MATA KERANJANG : JILID-75


Para penonton juga memandang kagum dan beberapa kali mereka mengeluarkan seruan kagum karena pertandingan itu memang menarik sekali. Dari gerakan-gerakan Han Lojin, mereka yang berilmu tinggi dan hadir di situ seperti Lam-hai Giam-lo, Ki Liong dan para tokoh lain, dapat mengenal bahwa orang ini menguasai berbagai macam ilmu silat. Ada gaya silat Siauw-lim-pai di dalam gerakannya, ada pula gaya silat Kun-lun-pai dan partai persilatan lain. Pendeknya, setiap gerakan Han Lojin penuh dengan gaya berbagai aliran dari utara sampai selatan. Hal ini menunjukkan bahwa dia telah mempunyai pengalaman yang luas sekali, mempelajari banyak macam ilmu silat yang membuatnya amat lihai.

Melihat kelihaian Han Lojin, diam-diam semua orang merasa kagum dan Lam-hai Giam-lo girang sekali karena dia telah membayangkan mendapat dua orang pembantu yang hebat di samping Ki Liong, yaitu Hay Hay dan Han Lojin. Dengan adanya tiga orang pembantu yang tingkat kepandaiannya sudah hampir menyamainya itu, maka dia merasa kuat, apa lagi masih ada Kulana di sana.

Jangankan mereka yang nonton, bahkan mereka yang sedang bertanding itu pun merasa terkejut dan kagum sekali. Han Lojin berkali-kali mengeluarkan seruan kagum dan memuji sebab serangan apa pun yang dia keluarkan, dari pilihan jurus-jurus paling ampuh, semua mampu dihindarkan oleh pemuda itu, baik melalui tangkisan mau pun elakan. Dan dalam adu tenaga harus diakuinya bahwa tenaga sinkang pemuda itu kuat bukan main, mungkin lebih kuat dari pada tenaganya sendiri!

Di lain pihak Hay Hay juga tertegun saat melihat kelihaian lawan. Ilmu-ilmu silatnya yang paling hebat telah dikeluarkan, namun sulit baginya untuk merobohkan atau mengalahkan lawan. Apa lagi mengalahkan tanpa merobohkan!

Lawannya ini sungguh hebat dan seimbang dengan tingkatnya. Dalam hal tenaga sinkang mungkin dia masih menang sedikit, akan tetapi dia tidak tega untuk mengerahkan seluruh tenaganya, khawatir kalau sampai melukai atau membunuh orang itu.

Setelah melihat kelihaian ilmunya, timbul pula rasa sayang di dalam hati Hay Hay. Orang ini belum dikenalnya bagaimana keadaannya, entah dari golongan sesat atau dia seorang pendekar aneh.

Memang di dunia ini terdapat banyak pendekar-pendekar atau orang-orang sakti yang aneh. Di antaranya guru-gurunya, seperti Pek Mau Sanjin dan Song Lojin, juga termasuk orang-orang aneh. Bahkan dua orang gurunya terdaulu, See-thian Lama dan Ciu-sian Sin-kai, juga merupakan orang-orang aneh sehingga kalau dibuat perbandingan, lawannya yang mengaku bernama Han Lojin ini belum berapa hebat keanehannya. Dia tidak berniat untuk mencelakakan lawan ini.

Di dalam hati kedua orang ini timbul suatu pertanyaan. Dalam uji ilmu silat mereka sudah merasa sukar untuk mendapatkan kemenangan, ada pun pertarungan berjalan seimbang dan seru sekali. Lalu andai kata mereka itu benar-benar berkelahi, betapa akan seru dan mati-matian!

"Heiiiittt...!" Tiba-tiba Hay Hay sudah menerjang lagi, kali ini dengan cengkeraman tangan ke arah ubun-ubun kepala lawan dan tonjokan susulan dengan tangan kiri ke arah dada!

"Ihhhh...!" Han Lojin mengeluarkan seruan keras, menarik tubuh atas ke belakang sambil miringkan tubuh hingga cengkeraman ke arah ubun-ubunnya itu luput, sedangkan tangan kanannya diputar dari samping untuk menangkis tonjokan ke arah dadanya, dan disusul tangan kirinya membalas dengan menggunakan telunjuk dan jari tengah untuk menusuk ke arah mata lawan!

Hay Hay kagum bukan main. Sungguh indah dan berbahaya gerakan lawan yang dengan kontan membalas serangannya. Maka dia pun menangkis dengan putaran lengannya.

"Dukkk! Desss…!" Dua kali empat tangan itu bertemu kemudian keduanya terdorong ke belakang.

"Hyaaaattt...!" Tubuh Han Lojin sudah melayang ke atas dengan tendangan kaki terbang! Hay Hay juga menyambut dengan gerakan yang sama, yaitu meloncat ke atas kemudian menyambut serangan lawan dengan kedua kakinya pula.

"Desss...!" Bentrok hebat terjadi di udara tanpa dapat dicegah lagi, lantas tubuh keduanya terpelanting. Jika Hay Hay tidak cepat-cepat berjungkir balik mematahkan luncuran, maka badannya akan terbanting.

Kini keduanya telah saling pandang lagi, berhadapan dalam jarak empat meter. Keduanya telah mengeluarkan keringat, akan tetapi tampak bahwa Hay Hay masih segar sedangkan lawannya sudah mulai terengah-engah!

"Hebat... engkau sungguh hebat, sangat pantas menjadi Ang-hong-cu...," kata Han Lojin sambil memandang dengan mulut menyeringai.

"Aku bukan Ang-hong-cu, setan!" Hay Hay berseru marah dan dia sudah siap menyerang lagi.

Saat itu digunakan oleh Ki Liong untuk melompat ke depan, di antara mereka dan melerai. "Sudahlah, Saudara Tang Hay! Han Lojin! Ji-wi (Kalian Berdua) sudah memperlihatkan kepandaian dan kiranya sudah cukup, bukankah begitu, Bengcu?"

Lam-hai Giam-lo mengangguk-angguk. Saking tertariknya dia tadi sampai lupa. Jika tidak Ki Liong yang cepat maju melerai, lantas pertandingan itu dilanjutkan sampai seorang di antara kedua jagoan itu terluka atau tewas, sungguh amat sayang sekali dan berarti suatu kerugian besar baginya. Maka dia pun bangkit dan mengangkat kedua tangannya.

"Sudah cukup, sudah lebih dari cukup. Ji-wi sudah memperlihatkan kepandaian dan kami kagum sekali. Mulai saat ini juga Ji-wi menjadi pembantu-pembantuku yang dapat kami andalkan. Nah, marilah duduk, akan kami perkenalkan kepada rekan-rekan lain." Dengan gembira Lam-hai Giam-lo kemudian memerintahkan orang-orangnya supaya menyiapkan hidangan besar dengan cepat untuk menghormati kedua orang pembantu baru itu.

Terjadi keanehan di dalam perkenalan itu. Kalau Han Lojin benar-benar merupakan wajah baru, dan hanya Ki Liong seorang yang pernah bertemu dengannya ketika dia menyamar sebagai seorang penggembala kambing suku Hui, sebaliknya ketika Hay Hay dikenalkan, banyak wajah yang sudah dikenalnya berada di situ.

Tentu saja dia telah mengenal Ji Sun Bi, wanita pertama yang menanamkan gairah birahi dalam dirinya, juga Min-san Mo-ko bukan orang asing baginya karena telah beberapa kali dia bertanding dengan Min-san Mo-ko dan Ji Sun Bi.

Ketika mereka semua tengah berpesta, muncullah dua pasang suami isteri, yaitu Lam-hai Siang-mo beserta suami isteri Goa Iblis Pantai Selatan. Mereka masuk ke dalam ruangan makan, disambut gembira oleh Lam-hai Giam-lo.

"Aihh, kebetulan kalian berempat datang. Mari, mari sekalian ikut berpesta dengan kami, menyambut pembantu-pembantu baru yang luar biasa ini!" Dia menunjuk kepada Hay Hay dan Han Lojin yang duduk di kanan kirinya. Melihat Hay Hay, dua pasang suami isteri itu memandang dengan sepasang mata bersinar-sinar, penuh amarah dan juga kegentaran.

"Wah, agaknya kalian berempat sudah mengenal pemuda ini pula! Saudara muda Tang, ternyata di sini sudah banyak orang yang mengenalmu dengan baik, ha-ha-ha!" Demikian Han Lojin berseru sambil tertawa.

Lam-hai Giam-lo memandang tajam pada pemuda itu. "Saudara Tang, benarkah engkau sudah mengenal kepada mereka berempat?" tanyanya heran.

Hay Hay mengangguk sambil tersenyum. "Tentu saja, bahkan Lam-hai Siang-mo pernah menjadi ayah dan ibuku, maksudku dulu mereka telah mengambilku sebagai anak pungut semenjak aku masih bayi sampai berusia tujuh tahun. Dan mereka suami isteri Goa Iblis Pantai Selatan ini juga sudah kukenal baik sekali karena mereka pernah mencoba untuk merampasku dari tangan Lam-hai Siang-mo. Aku diperebutkan oleh kedua suami isteri ini karena aku dianggap Sin-tong!" Hay Hay tertawa.

"Sin-tong...? Bukankah Sin-tong itu kakak kandungmu, Eng Eng?" tanya Lam-hai Giam-lo kepada Eng Eng.

Eng Eng tersenyum pula. Tidak perlu dirahasiakan tentang itu karena memang dia pernah bercerita kepada bengcu itu tentang kakak kandungnya. "Benar, Bengcu. Semenjak kecil kakak kandungku Pek Han Siong dianggap sebagai Sin-tong dan dijadikan perebutan, lalu oleh keluarga kami kakakku itu disembunyikan dan diganti dengan seorang bayi lain, yaitu Hay-ko ini. Kemudian Hay-ko lenyap dicuri orang, ditukar dengan bayi mati, kiranya yang menukar itu adalah Lam-hai Siang-mo."

Lam-hai Giam-lo juga tertawa, lalu memberi isyarat dengan tangannya kepada dua pasang suami isteri itu. "Ehh, kenapa kalian berempat menjadi bengong setelah melihat Saudara Tang Hay? Mari duduklah dan jangan khawatir, sekarang dia ini adalah rekan kita sendiri. Lupakanlah semua hal yang terjadi pada masa lampau, karena mulai sekarang kita harus mencurahkan perhatian untuk perjuangan kita. Berita apa yang kalian bawa dari Saudara Kulana?"

"Kami sudah menghadap Saudara Kulana dan telah menjelaskan bahwa kini kita sudah siap dan sudah mengumpulkan banyak tenaga yang jumlahnya tidak kurang dari seribu orang. Dia menyatakan kegirangan hatinya dan dia mengirimkan bantuan emas kepada Bengcu disertai suratnya." Siangkoan Leng yang menjadi juru bicara mereka berempat lalu menyerahkan sebuah bungkusan yang kelihatan berat berikut segulung surat kepada Lam-hai Giam-lo.

Bengcu ini menerima buntalan itu lalu meletakkan di atas meja. Meja berderak menahan berat buntalan itu dan begitu buntalan dibuka, semua orang langsung terbelalak melihat bongkahan-bongkahan emas murni yang berkilauan. Mereka menaksir bahwa emas murni itu beratnya tentu tidak kurang dari lima ratus tai!

Lam-hai Giam-lo membuka surat itu dan membaca. Wajahnya berubah girang dan setelah menyimpan surat itu ke dalam saku bajunya, dia pun memandang semua pembantunya yang kini lengkap hadir di situ.


"Cu-wi (Saudara sekalian), ada kabar yang sangat baik. Selain Kulana telah mengirimkan bukti bantuannya berupa emas murni untuk membiayai pasukan yang kita himpun, juga menurut siasat yang telah diaturnya, gerakan dapat dilakukan pada akhir bulan ini, kurang lebih dua minggu lagi. Dia telah menentukan ke arah mana pasukan akan bergerak, dibagi menjadi berapa kelompok, dan kota mana yang akan diduduki sebagai landasan pertama untuk dijadikan benteng bagi gerakan selanjutnya. Maka sekarang juga kita harus mulai mempersiapkan pasukan kita dan menarik mereka semua ke sini, melatih mereka sambil menunggu siasat yang akan disampaikan sendiri oleh Saudara Kulana pada malam bulan purnama dua minggu lagi."

Semua orang menyambut kabar ini dengan gembira, sementara itu secara diam-diam Hay Hay mencatat semua yang didengarnya dan dilihatnya. Mereka melanjutkan pesta malam itu dan kemudian terjadi kesibukan.

Tentu saja yang bertugas mengumpulkan pasukan para pemberontak adalah pembantu-pembantu yang telah memperoleh kepercayaan dari Lam-hai Giam-lo. Hay Hay dan Han Lojin yang merupakan orang baru, belum menerima tugas melainkan disuruh memperkuat penjagaan di sarang mereka. Juga Ki Liong tidak bertugas keluar. Pemuda ini merupakan orang kepercayaan dan juga tangan kanan Lam-hai Giam-lo yang diam-diam menyuruh Ki Liong untuk memasang mata mengamati kedua orang pembantu baru itu…..

********************

Malam itu sangat dingin dan sunyi. Pek Eng sudah berada di dalam kamarnya, rebah di atas pembaringannya. Dia gelisah. Pertemuannya dengan Hay Hay masih mendatangkan ketegangan di dalam hatinya, apa lagi mengingat betapa tadi siang Hay Hay telah dituduh sebagai Ang-hong-cu. Dia dapat merasakan betapa sakit rasa hati pemuda itu sehingga dia merasa kasihan.

Ingin dia bertemu untuk bercakap-cakap dengan pemuda itu, namun hatinya merasa tidak enak apa bila dia harus mencari kamar pemuda itu. Bagaimana pun juga dia tahu bahwa orang-orang seperti Ki Liong dan Ji Sun Bi tampaknya belum percaya penuh kepadanya, walau pun tidak berani secara berterang menentangnya karena Lam-hai Giam-lo sangat menyayanginya sebagai murid dan bahkan anak angkat!

Akan tetapi dia ingin sekali bertemu dengan Hay Hay, berbicara dengan dia dan bertanya akan maksud kunjungan pemuda itu ke tempat ini. Dia tak percaya bahwa Hay Hay ingin membantu Lam-hai Glam-lo karena menginginkan imbalan jasa! Dia merasa yakin bahwa Hay Hay bukanlah seorang pemuda seperti itu.

Karena gelisah, Pek Eng lalu keluar dari dalam kamarnya dan memasuki taman yang luas itu. Semenjak dia berada di situ, taman ini telah menjadi semakin terawat karena dia suka akan bunga-bunga. Bahkan Lam-hai Giam-lo menuruti permintaannya untuk membangun sebuah pondok kecil yang dicat indah di dalam taman itu untuk tempat beristirahat di kala hawa sedang panasnya, di dekat kolam ikan emas.

Hati Pek Eng yang gelisah menjadi sedikit lega sesudah dia keluar dari kamar dan hawa malam meniup wajahnya, bermain-main dengan rambutnya. Ketika dia berjalan menuju ke sebuah bangku, dia terkejut dan jantungnya berdebar lebih kencang saat melihat sesosok tubuh seorang lelaki duduk di atas bangku itu, wajahnya tidak jelas karena lampu taman berada di belakangnya, tergantung pada batang pohon. Tentu Hay Hay, pikirnya dengan girang dan dia pun lalu menghampiri.

"Aihhh, malam-malam begini melamun seorang diri..." Pek Eng menghentikan tegurannya karena setelah pemuda itu menoleh, ternyata bukan Hay Hay yang ditemukan melainkan Ki Liong. Dia merasa kecelik dan malu, maka cepat disambungnya, "Liong-ko, mengapa melamun seorang diri di sini?" Gadis yang cerdik ini menyambung tegurannya sehingga tidak kentara bahwa tadi dia mengira bahwa pemuda itu adalah Hay Hay.

Sim Ki Liong segera bangkit sambil tersenyum manis. "Tidak tahukah engkau, Eng-moi, bahwa sudah lama sekali setiap malam aku duduk seorang diri di sini sambil melamun dan merindukan seseorang?"

Pek Eng tersenyum, kemudian tanpa malu-malu dia pun duduk di sudut bangku itu sambil menatap wajah Ki Liong yang sekarang tertimpa sinar lampu gantung yang tergantung di batang pohon dekat bangku.

"Aihh, agaknya engkau telah mempunyai seorang kekasih yang kau rindukan, Liong-ko?" Pek Eng menggoda. Gadis ini memang berwatak lincah jenaka dan dia sudah agak akrab dengan Ki Liong yang memang pandai mengambil hati dan membawa diri.

"Sudah lama, Eng-moi, akan tetapi gadis pujaan hatiku itu hanya kusimpan saja di dalam hati, dan setiap malam kurindukan di bangku ini."

"Siapakah gadis itu, Liong-ko? Boeh aku mengenalnya?"

"Engkau sudah mengenalnya dengan baik, Eng-moi. Gadis itu kini berada di sini."

"Di taman ini? Ahh, di mana? Siapa?'"

"Tidak jauh, di hadapanku, di sudut bangku ini. Engkaulah orangnya, Eng-moi, engkaulah gadis yang kucinta, yang selalu kurindukan dan membuat aku tergila-gila. Tidak tahukah engkau?"

Seketika wajah Pek Eng berubah merah sekali. Dia merasa malu, kaget, dan juga marah. Sungguh tak disangkanya sama sekali bahwa pemuda ini akan membuat pengakuan cinta kepadanya!

"Ahh... Liong-ko...!" Dia bangkit berdiri.

Dengan cepat Ki Liong melangkah maju dan dengan lembut dia sudah memegang tangan Pek Eng sambil menjatuhkan diri berlutut di hadapan gadis itu. "Eng-moi, kasihanilah aku yang akan hidup merana tanpa engkau di sisiku! Eng-moi, aku cinta padamu, Eng-moi...!" Dan dia dia menciumi tangan gadis itu.

Pek Eng berdiri dengan mata terbelalak dan muka pucat, tubuhnya menggigil karena dia bingung sekali. Dia merasa kaget, juga terharu bercampur marah sehingga dia tidak tahu apa yang harus dilakukannya dalam menghadapi pemuda yang mengaku cinta itu. Kedua kakinya gemetar.

Pada saat itu tiba-tiba terdengar suara orang, "Wah, indah sekali bunga-bunga di taman ini! Aih, di mana adanya Sim-kongcu? Katanya berada di taman ini..." Dan muncullah Han Lojin, sementara itu Ki Liong sudah cepat-cepat bangkit berdiri dan melepaskan tangan Pek Eng.

"Ahhh, ternyata betul engkau berada di sini, Sim-kongcu!" kata Han Lojin dengan wajah berseri gembira, "Ha, kiranya Nona Pek Eng yang cantik jelita itu berada di sini juga?"

"Han Lojin, ada urusan apakah engkau mencari aku?" Ki Liong bertanya, alisnya berkerut dan suaranya kaku, hatinya tak senang karena dia merasa terganggu sekali. Padahal tadi Pek Eng tidak menunjukkan perlawanan dan agaknya dia sudah hampir berhasil sebelum orang celaka ini muncul dan membikin kacau!

"Maaf, sebelum kita bicara sebaiknya kalau Nona Pek ini kembali ke kamarnya lebih dulu. Nona, malam sudah begini larut, kalau Nona masih berada di taman tentu akan membuat hati Bengcu merasa tidak tenteram. Sebaiknya kalau Nona kembali ke kamarmu agar aku dapat bercakap-cakap dengan Sim-kongcu."

Pek Eng baru sadar akan apa yang sudah terjadi, maka diam-diam dia merasa bersyukur dengan kemunculan orang itu. Tadi dia merasa seperti kehilangan semangat, dan kini dia melihat dengan perasaan ngeri betapa hampir saja dia terjerumus ke dalam jurang yang amat berbahaya. Ia mengangguk dan melangkah pergi dari situ tanpa banyak cakap lagi.

Tentu saja hati Ki Liong menjadi semakin kecewa dan marah terhadap orang tua ini. Akan tetapi tentu saja dia tak berani menyatakan ketidak senangannya, bukan karena dia takut terhadap Han Lojin, melainkan dia khawatir kalau sampai Lam-hai Giam-lo tahu akan apa yang hendak dilakukannya terhadap Pek Eng tadi. Kalau Bengcu tidak setuju dan marah kepadanya, tentu dia akan menghadapi kesulitan besar.

Sesudah Pek Eng keluar dari taman itu, Ki Liong memandang tajam kepada Han Lojin, berusaha menelan kemarahannya dan hanya nampak kemarahan itu pada suaranya yang ketus dan kaku, tidak seperti biasanya di mana dia selalu lembut dan ramah.

"Nah, sekarang keluarkan isi hatimu, Han Lojin. Apakah urusan itu yang membuat engkau malam-malam begini mencari aku?"

Han Lojin bersikap tenang saja menghadapi kekakuan Ki Liong ini. "Aku tadi sudah minta penjelasan kepada Bengcu tentang keadaan kita, karena aku ingin mengetahui lebih jelas bagaimana kedudukan kita, bagaimana kekuatan kita dan apa pula rencana kita. Sebagai orang baru, aku tidak tahu apa-apa, sedangkan sebagai pembantu, tentu saja aku harus mengetahui semua itu. Akan tetapi Bengcu tadi menyuruh aku mencari dan menemuimu, Sim-kongcu, dan katanya engkau dapat menjelaskan semua itu kepadaku."

"Hemm, kiranya urusan begitu saja..." Ki Liong menoleh ke arah lenyapnya Pek Eng dan merasa menyesal bukan main. Untuk urusan begitu saja dia terpaksa melepaskan calon korban yang sudah berada di depan mulut tadi, tinggal tubruk saja! "Malam ini aku sedang malas, biarlah besok pagi saja aku memberi penjelasan itu kepadamu, Han Lojjn."

Han Lojin tersenyum lalu mengangguk. "Begitu juga baik, Sim-kongcu. Selamat malam!" Dia melangkah pergi, akan tetapi baru beberapa langkah saja, dia berhenti dan menoleh. "Ada satu hal lagi, Kongcu. Sebetulnya engkau harus berterima kasih kepadaku sehingga tidak terjadi sesuatu antara engkau dan Nona Pek Eng, karena kalau Bengcu mengetahui, tentu akan terjadi mala petaka atas dirimu." Setelah berkata demikian Han Lojin berjalan keluar taman dan menghilang di dalam kegelapan malam.

Ki Liong tertegun, berdiri mematung dan mengepal kedua tinjunya. Kemudian pemuda ini mendengus. "Bedebah!"

Dia pun pergi meninggalkan taman, kembali ke dalam kamarnya. Tentu saja dia menjadi berhati-hati dan tak berani mencoba lagi untuk mengganggu dan merayu Pek Eng setelah Han Lojin mengetahuinya. Siapa tahu orang baru itu melaporkan hal ini kepada bengcu untuk mengambil hati! Dia harus berhati-hati sekali…..

********************

Sementara itu Hay Hay sedang duduk di dalam kamarnya. Dia sudah cukup mendengar dan melihat banyak untuk bahan laporan kepada pemerintah. Dia harus bertindak cepat, pikirnya. Tidak ada waktu lagi untuk melapor ke kota raja, kepada Menteri Yang Ting Hoo. Dia akan melapor kepada benteng pasukan pemerintah yang terdekat mengenai rencana pemberontakan yang akan dimulai ketika terang bulan dua minggu mendatang. Rencana pemberontakan itu harus dihancurkan! Dia perlu menghubungi para pendekar, akan tetapi dia tidak tahu mereka berada di mana.

Teringatlah dia kepada Han Lojin! Orang itu mencurigakan sekali. Dia tidak yakin bahwa orang itu termasuk tokoh sesat yang hendak mencari keuntungan dengan membantu para pemberontak. Siapa tahu dia adalah seorang tokoh pendekar pula yang menyamar!

Sebelum pasukan pemerintah menghancurkan pasukan pemberontak, lebih dahulu para tokoh sesat harus dibinasakan. Akan tetapi pasukan pemerintah baru bisa bergerak kalau pasukan pemberontak yang jumlahnya kurang lebih seribu orang itu sudah berkumpul di dataran Yunan.

"Tok-tok-tok!" daun pintu kamarnya diketuk orang dari luar, perlahan saja.

Dia terkejut bukan oleh ketukan itu, akan tetapi karena sama sekali dia tidak mendengar langkah orang di luar pintu. Jika langkah orang biasa sudah pasti akan didengarnya. Jelas bahwa yang datang mengetuk daun pintu itu tentu orang yang berkepandaian tinggi.

"Siapa di luar?" tanyanya tanpa bangkit dari tempat duduk.

"Aku, saudara muda Tang Hay, bukalah pintu, aku Han Lojin ingin bicara denganmu!" kata suara itu dari luar pintu.

Berdebar rasa jantung dalam dada Hay Hay. Baru saja dia memikirkan tentang orang ini! Benarkah dia seorang pendekar yang bertugas sama dengan dia? Kalau memang benar, betapa beraninya mendatangi kamarnya begitu saja, tentu akan menimbulkan kecurigaan.

Hay Hay tahu bahwa diam-diam Lam-hai Giam-lo belum percaya kepada mereka berdua dan tentu selalu memasang mata-mata untuk mengamati mereka. Mungkin Sim Ki Liong mata-mata itu, atau para anggota Kui-kok-pang atau Pek-lian-kauw. Dan teringat dia akan kelihaian orang ini.

Tidak mudah baginya untuk mengalahkannya. Bagaimana kalau dengan ilmu sihir? Belum dicobanya. Kekuatan sihirnya tidak selalu dapat diandalkan. Apa bila bertemu lawan yang tangguh dan memiliki daya tahan terhadap sihir, seperti mendiang Kiu-bwe Tok-li nenek buruk itu, maka kekuatan sihirnya tidak akan ada artinya. Akan tetapi boleh dia coba, pikirnya sambil bangkit dari kursinya dan membuka daun pintu.

Dia telah mempersiapkan diri, mengerahkan kekuatan sihirnya pada saat membuka pintu. Begitu daun pintu terbuka dan Hay Hay berhadapan dengan Han Lojin, dia menatap tajam di antara kedua alis orang itu dan berkata dengan suara yang menggetar penuh wibawa, "Aku bukan Hay Hay aku Sim Ki Liong!"

Jelas kelihatan betapa wajah Han Lojin tertegun kaget, matanya terbelalak dan mulutnya tergagap, "Sim... Sim... Kongcu..., ahhh!" Dia menggunakan tiga jari tangan kirinya untuk menekan dahi di antara kedua alisnya, lalu memandang lagi dan kini wajahnya tersenyum lebar.

"Wah, Saudara Tang, jangan main-main! Hampir saja kukira benar, akan tetapi baru saja aku bertemu Sim-kongcu di taman. Agaknya engkau memang suka bermain sulap, ya?"

Dan tahulah Hay Hay bahwa orang ini memang tangguh. Begitu terpengaruh sihirnya, Han Lojin tadi sudah berhasil memunahkan kekuatan sihirnya dengan menekan antara kedua alis matanya dengan tiga jari tangan kiri. Dia melihat betapa orang itu membawa sebuah guci arak, maka semakin heranlah dia untuk apa orang ini datang kepadanya membawa guci arak.

"Han Lojin, ada keperluan apakah maka malam-malam begini engkau datang berkunjung kepadaku?" Diam-diam dia merasa heran. Orang ini bersama dia baru saja diterima di situ sebagai sekutu, dan malam pertama ini Han Lojin sudah berkeliaran di tempat orang!

"Ha-ha-ha, karena aku suka padamu, karena aku kagum padamu. Engkau masih begini muda, akan tetapi sudah amat lihai. Aku berkunjung untuk bicara dan untuk menyatakan rasa kagumku, mengajakmu minum-minum untuk mempererat perkenalan antara kita."

"Hemm, di dalam lian-bu-thia tadi engkau sama sekali tidak menghargaiku, malah secara seenaknya telah menuduh aku Ang-hong-cu!" kata Hay Hay mendongkol.

"Heh-heh, karena engkau memang pantas menjadi Ang-hong-cu yang tersohor itu..."

"Tidak sudi! Tersohor jahat, apa gunanya?"

"Ha-ha-ha, Saudaraku yang baik. Bukankah di sini sedang berkumpul banyak orang yang bergelimang kejahatan? Ataukah engkau adalah seorang yang menentang kejahatan, dan kalau benar demikian, mengapa berada di sini?" Berkata demikian, Han Lojin melangkah masuk. "Bolehkah aku masuk ke dalam? Aku hanya ingin menyuguhkan arak istimewa ini untuk memberi selamat dan menyatakan rasa kagumku."

Ucapan Han Lojin tadi mengejutkan hati Hay Hay. Orang ini sungguh berbahaya, agaknya dia menaruh curiga kepadaku dan mengira bahwa aku adalah seorang dari golongan lain yang menentang para tokoh sesat, pikir Hay Hay. Kalau benar demikian, celakalah, akan tetapi dia akan berpura-pura tidak mengerti dan ingin melihat perkembangannya.

"Masuk dan duduklah, Han Lojin," katanya mempersilakan. Keduanya duduk dipisahkan meja kecil, di atas dua buah kursi yang berada di kamar itu. "Nah, katakan, Han Lojin, apa keperluanmu?"

"Heh-heh, telah kukatakan tadi, aku ingin mempererat perkenalan dan ingin menyuguhkan arak ini. Ketahuilah, kawan. Arak ini adalah arak simpanan, sudah berumur ratusan tahun, keras dan harum bukan main. Nah, aku ingin supaya engkau menemaniku menghabiskan arak yang hanya tinggal beberapa cawan ini. Apakah di sini ada cawan?"

Kebetulan di setiap kamar tamu memang disediakan poci teh dan beberapa buah cawan. Hay Hay mengambil dua buah cawan lantas dia bersikap waspada. Akan tetapi Han Lojin menuangkan arak dari dalam guci ke dalam dua buah cawan kecil itu. Arak itu berwarna kekuningan seperti emas, dan mengeluarkan aroma yang sangat harum semerbak seperti bunga.

"Saudara Tang Hay, mari kita minum sebagai tanda kagumku kepadamu," kata Han Lojin sambil mengangkat cawan araknya.

Hay Hay mengikutinya dan melihat betapa Han Lojin minum araknya, dia pun tidak curiga lagi sehingga dia pun minum arak itu. Manis dan enak rasanya, tidak begitu keras, namun hangat memasuki perutnya.

Dua cawan lagi mereka minum sehingga guci itu menjadi kosong dan Han Lojin kelihatan gembira bukan main. "Bagus, engkau memang seorang pemuda yang sangat hebat, Hay Hay! Aku suka sekali padamu. Sekarang aku pamit, aku ingin tidur di kamarku." Orang itu bangkit dan agak terhuyung.

Hay Hay ingin mentertawakan karena baru minum tiga cawan saja orang ini sudah terlihat mabuk. Akan tetapi ketika bangkit berdiri dia pun terkejut karena kepalanya terasa agak berat, akan tetapi begitu nyaman rasanya! Apakah dia pun mabuk hanya karena minum tiga cawan saja? Kalau begitu, arak itu bekerja secara halus namun keras bukan main.

"Tapi, urusan apakah yang sebetulnya hendak kau bicarakan, Han Lojin?"

"Aku? Heh-heh-heh, tidak ada apa-apa. Aku melihat Sim-kongcu di taman, heh-heh-heh, dia sedang merayu Nona Pek Eng. Hampir saja Nona Pek Eng jatuh ke dalam rayuannya, akan tetapi... heh-heh, aku muncul menggagalkannya. Orang muda, engkau kakak angkat Nona Pek Eng, bukan? Sebaiknya sekarang juga engkau memperingatkan dia sebelum terlambat..." Setelah berkata demikian, Han Lojin meloncat keluar dan menghilang dalam kegelapan malam.

Hay Hay merasa terkejut sekali, juga marah. Jahanam Ki Liong itu! Dia menduga keras bahwa Ki Liong adalah Ciang Ki Liong, murid Pulau Teratai Merah seperti yang diceritakan Kui Hong kepadanya itu. Dia harus memperingatkan Pek Eng, benar juga anjuran Han Lojin itu.

Hay Hay lalu keluar dari kamarnya, menutupkan daun pintu dan merasa betapa tubuhnya ringan dan perasaannya nyaman sekali. Arak itu sungguh ampuh, pikirnya, kagum. Arak yang sudah tua sekali dan memang sangat hebat!

Dia tahu di mana kamar Pek Eng. Hal ini sudah diperhatikannya tadi karena memang dia ingin mempelajari semua letak kamar para penghuni sarang pemberontak itu. Dia harus memperingatkan Pek Eng, akan tetapi juga tidak boleh dilihat orang lain. Tidak baik kalau dia memasuki kamar seorang gadis, sungguh pun tidak ada maksud buruk. Sebaiknya dia memanggil Pek Eng keluar.

"Eng-moi...!" Bisiknya dari luar jendela kamar gadis itu. Dilihatnya lampu masih bernyala dalam kamar itu, tanda bahwa Pek Eng belum tidur. "Ini aku, Hay Hay...!"

"Hay-ko...!" terdengar suara gadis itu.

"Ssstttt..., keluarlah, kutunggu di dalam taman, aku mau membicarakan hal penting," kata pula Hay Hay.

"Baik, Hay-ko..."

Mereka bertemu di dekat pondok, tempat yang cukup sunyi dan juga gelap karena sinar lampu di depan pondok itu terhalang oleh pohon.

"Ada apakah, Hay-ko?" tanya Pek Eng sambil menghampiri pemuda itu, lalu berdiri dekat sekali dengan Hay Hay karena Pek Eng masih merasa ngeri bila mana teringat mengenai pengalamannya dengan Ki Liong tadi.

"Eng-moi..." Hay Hay tergagap dan sejenak pemuda ini memejamkan matanya. Ia merasa aneh sekali, jantungnya berdebar kencang, hidungnya menangkap keharuman yang keluar dari rambut dan pakaian Pek Eng. "Engkau... engkau harus berhati-hati terhadap rayuan Ki Liong..."

"Hay-ko...! Kau... kau sudah tahu? Tidak, aku tidak akan jatuh oleh rayuannya, aku tidak cinta kepadanya, Hay-ko..." Dan gadis itu makin mendekat karena heran melihat betapa tubuh Hay Hay agak gemetar seperti kedinginan.

"Hay-ko, engkau kenapakah...?" tanya Pek Eng sambil memegang lengan Hay Hay.

Akan tetapi sentuhan ini membuat Hay Hay tiba-tiba seperti menjadi gila. Dan merangkul, mendekap dan menciumi pipi dan bibir Pek Eng! Tentu saja Pek Eng terkejut bukan main, sampai dia menjadi gelagapan.

"Hay-ko... Hay-ko... Hay..." Gadis itu tidak dapat melanjutkan lagi karena Hay Hay sudah memondong tubuhnya, terus menciuminya.

Karena semenjak pertemuan pertama dahulu di sudut hati gadis ini memang sudah jatuh cinta kepada Hay Hay, maka akhirnya runtuhlah pertahanan batin Pek Eng dan dia pun bukan hanya mandah saja, bahkan balas merangkulkan lengannya pada leher Hay Hay.

"Hay-kooo..." keluhnya dan dia memejamkan mata ketika dipondong dan dibawa oleh Hay Hay memasuki pondok itu.

Dengan kakinya Hay Hay mendorong pintu pondok hingga terbuka, lalu masuk ke dalam pondok yang gelap akibat lampunya memang tidak dinyalakan itu, dan menghampiri dipan kayu yang terdapat di dalam pondok.

"Eng-moi..."

"Hay-ko... "

Akan tetapi, ketika mereka sudah rebah di atas dipan sambil berpelukan dan berciuman, ketika Pek Eng sudah terengah-engah dan pasrah bagaikan mabuk, tiba-tiba kesadaran Hay Hay menembus kabut yang tadi menyelimuti batinnya. Keadaan mabuk yang sangat aneh dan mendatangkan rangsangan birahi yang amat hebat itu kini dapat nampak oleh kesadarannya, Maka dia pun mengeluh, tiba-tiba melepaskan rangkulannya dan meloncat turun dari pembaringan.

"Hay-ko...!"

"Eng-moi, apa yang kita lakukan ini? Ahh..." Dan Hay Hay teringat semuanya, lalu dengan geram tertahan dia pun melompat keluar dari pondok itu. Pek Eng masih berada di atas dipan dan gadis ini terisak.

Baru saja bayangan Hay Hay berkelebat keluar dan lenyap di dalam kegelapan, nampak pula bayangan sesosok tubuh manusia memasuki pintu pondok dan dia menutupkan pintu dari dalam.

"Hay-koooo...!" Pek Eng mengeluh dan merintih panjang.

Selanjutnya pondok itu sunyi senyap. Kesunyian yang menghanyutkan, kesenyapan yang penuh dengan pengaruh setan dan iblis, yang membuat manusia lupa tentang segalanya, lupa akan kesadarannya, dan lupa untuk membayangkan akibat-akibat dari perbuatannya di malam yang menghanyutkan itu.

Dalam kegelapan malam itu, remang-remang terlihat sesosok bayangan keluar dari dalam pondok kemudian meloncat ke balik batang pohon, lenyap seperti setan. Tak berapa lama kemudian nampak bayangan lain keluar dari dalam pondok, menahan isak dan bayangan yang kedua ini adalah Pek Eng yang terhuyung-huyung meninggalkan taman, kembali ke kamarnya sambil menangis lirih…..

********************


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner