PENDEKAR MATA KERANJANG : JILID-81


Pada pagi hari itu mereka melihat penyerbuan pasukan pemerintah, kemudian dari tempat pengintaian itu mereka melihat pula betapa Kulana segera melakukan sambutan dengan ilmu hitam yang sangat dahsyat, yang membuat Bi Lian merasa terkejut dan juga ngeri. Melihat hal ini Han Siong lalu berkata,

"Orang yang bernama Kulana itu memang hebat. Yang dia lakukan itu bukan sekedar ilmu sihir saja, melainkan ilmu hitam yang menggunakan tenaga gaib dan kotor yang berasal dari iblis dan setan. Untung bahwa di sana agaknya ada orang yang dapat memunahkan kekuatan ilmu hitamnya, kalau tidak, tentu pasukan pemerintah akan celaka."

"Akan tetapi engkau sendiri bukankah seorang yang mengerti akan ilmu sihir, Suheng?"

"Benar, aku pernah mempelajari ilmu sihir. Akan tetapi ilmu sihir hanya dapat digunakan untuk mempengaruhi pikiran dan panca indera seorang atau beberapa orang lawan saja. Sebaliknya, ilmu hitam dapat mengeluarkan jadi-jadian yang datangnya dari alam rendah sehingga dapat mempengaruhi ribuan orang pasukan musuh. Sungguh berbahaya sekali orang itu."

"Lihat, Suheng, pertempuran menjadi semakin hebat dan tampaknya pasukan pemerintah yang berada di tengah-tengah itu kini terdesak karena digencet dari depan dan belakang. Mereka terjebak ke dalam jalan terusan yang terapit dinding bukit itu! Mari, Suheng, mari kita bantu pasukan pemerintah! Aku akan turun dan menyerang Kulana si jahanam itu!"

"Hati-hatilah, Sumoi. Biar aku menghadapi dia," pesan Han Siong yang merasa khawatir karena Kulana sungguh terlalu berbahaya bagi Bi Lian.

Mereka lantas meninggalkan batang pohon itu dan merayap turun melalui tebing lain yang tidak begitu terjal seperti kedua tebing bukit pada kanan kiri jalan terusan itu. Berkat ilmu kepandaian mereka yang tinggi, dengan cepat mereka bisa turun ke tempat pertempuran.

Akan tetapi ketika mereka terjun ke dalam gelanggang pertempuran, mereka tidak melihat lagi Kulana yang tadi mereka lihat dari atas batu besar. Karena itu kedua orang muda ini lalu terjun dan segera mengamuk di antara para anggota gerombolan pemberontak yang menjadi kocar-kacir karena tidak ada yang mampu menahan kedua orang muda perkasa ini.

Akan tetapi, dari pihak pemberontak segera bermunculan orang-orang lihai sekali. Suami isteri Lam-hai Siang-mo, yaitu Siangkoan Leng dan Ma Kim Li sudah cepat melihat sepak terjang yang hebat dari pemuda dan gadis yang baru muncul itu dan bersama sepasang suami isteri Goa Iblis Pantai Selatan, yaitu Kwee Siong dan Tong Ci Ki, mereka segera menerjang ke dalam pertempuran.

Lam-hai Siang-mo segera mengeroyok Han Siong, ada pun Si Tangan Maut dan isterinya, Si Jarum Sakti, atau sepasang suami isteri Goa Iblis Pantai Selatan itu lalu mengeroyok Bi Lian yang mereka kenal sebagai murid mendiang Pak-kwi-ong dan Tung-hek-kwi yang amat lihai. Terjadilah perkelahian yang amat seru dan mati-matian di antara mereka.

Menteri Cang yang melihat betapa pasukan pemberontak sudah dikerahkan lalu memberi isyarat dan terdengarlah suara sorak-sorai disertai suara terompet dan tambur, dan enam kelompok pasukan yang tadinya mengepung sarang kini bermunculan dari enam jurusan, semua menuju ke jalan terusan dan dengan demikian maka kini berbalik pihak pasukan pemberontak yang terkepung dari dalam dan luar!

Sekarang keadaan menjadi kacau balau dan pertempuran berlangsung semakin seru dan mati-matian. Kini para pendekar juga sudah bertemu langsung dengan para tokoh sesat sehingga mereka merupakan kelompok tersendiri yang saling gempur menggunakan ilmu silat tinggi, dan terjadilah pertempuran yang amat hebat di luar dan di dalam jalan terusan.

Bagaimana Can Sun Hok dan Cia Ling dapat muncul di dalam pertempuran itu, padahal mereka bertugas bersama Cia Kui Hong untuk mencegah peledakan dinding tebing bukit sebelah kiri? Mari kita tengok apa yang terjadi di kedua puncak tebing itu.

Dengan diikuti belasan orang anak buah pasukan, Cia Kui Hong, Can Sun Hok serta Cia Ling mendaki bukit sebelah kiri jalan terusan. Memang tepat seperti yang diperhitungkan oleh Mulana, mereka melihat gerombolan berjumlah dua belas orang dikepalai seorang kakek cebol gendut dengan kepala kecil, berkulit hitam, duduk bergerombol mengelilingi sebuah batu besar.

Melihat ini, Cia Kui Hong menyuruh teman-temannya supaya bersembunyi dan dia sendiri mempergunakan kepandaiannya untuk menyelinap di antara batu-batu dan pohon-pohon, mendekati untuk melakukan pemeriksaan. Untung baginya bahwa matahari sudah mulai memancarkan sinarnya sehingga dia bisa meneliti dari jarak agak jauh dan melihat bahwa yang berada di atas batu besar itu adalah benda seperti tali putih yang dipasang dari atas batu itu terus menuruni tebing.

Tidak salah lagi, pikirnya, tentu itulah sumbu bahan peledak, siap untuk dinyalakan oleh gerombolan orang itu setelah terdapat isyarat dari Kulana! Ia dan kawan-kawannya harus bisa menguasai sumbu itu, jika tidak, pasukan pemerintah di bawah tentu akan terancam bahaya maut!

Ia segera menyelinap lagi dan kembali ke tempat teman-temannya bersembunyi. Setelah merundingkannya dengan Sun Hok dan Ling Ling, mereka bertiga mengambil keputusan untuk melakukan penyergapan secara tiba-tiba.

"Kalian menyergap Si Cebol yang agaknya lihai itu, sedangkan pasukan menyerbu dan menyerang anak buahnya. Aku sendiri akan menguasai sumbu itu dan menjaganya agar pihak lawan tidak ada yang dapat mendekat!" bisik Kui Hong. Sesudah mengatur siasat, mereka lalu berindap-indap menghampiri batu yang dikurung oleh tiga belas orang itu.

Penyergapan itu dilakukan serentak sehingga Si Cebol yang bukan lain adalah Hek-hiat Mo-ko dan anak buahnya menjadi terkejut sekali. Apa lagi ketika Hek-hiat Mo-ko melihat betapa dirinya diserang secara dahsyat oleh seorang pemuda dan seorang pemudi. Dia mengeluarkan suara mencicit seperti tikus, tubuhnya yang cebol itu melompat dan terus bergulingan membebaskan diri dari serangan kedua orang muda yang lihai itu.

Sedangkan belasan orang anak buahnya juga telah sibuk menghadapi serangan belasan orang anak buah pasukan pemerintah. Kui Hong sendiri merobohkan dua orang dengan tamparannya lalu dia pun meloncat ke atas batu besar itu. Dengan gagahnya dia menjaga sumbu di atas batu, dan untuk penjagaan, dia mengeluarkan sepasang pedangnya.

Ketika dia memandang, dengan lega dia mendapat kenyataan betapa Can Sun Hok dan Ling Ling sudah dapat mendesak kakek cebol itu, bahkan anak buah yang belasan orang banyaknya itu pun telah menyerbu dan mendesak anak buah gerombolan pemberontak.

Hek-hiat Mo-ko adalah keturunan Hek-hiat Lo-mo dan Hek-hiat Lo-bo dan dia juga sudah mewarisi ilmu sesat yang hebat dari neneknya, yaitu Hek-hiat Mo-li. Demikian mendalam dia menguasai ilmu Hek-hiat (Darah Hitam) itu sehingga darah di tubuhnya benar-benar agak kehitaman!

Dan tentu saja kedua tangannya sudah dialiri hawa beracun yang menjadi pukulan maut. Dia lihai dan kejam bukan main, disamping wataknya yang cabul dan jahat. Entah berapa puluh atau bahkan berapa ratus orang wanita yang sudah menjadi korban kebiadabannya selama puluhan tahun ini.

Betapa hebatnya ilmu kepandaian Hek-hiat Mo-ko, namun menghadapi Can Sun Hok dan Cia Ling, dia seperti mati kutu. Apa lagi harus dikeroyok dua. Baru menghadapi seorang di antara mereka saja dia belum tentu akan mampu menang, biar pun bagi Sun Hok atau Ling Ling juga tidak akan demikian mudahnya menundukkan Si Cebol ini kalau saja harus turun tangan sendiri tanpa bantuan.

Akan tetapi kini mereka maju bersama. Perkelahian ini bukan urusan pribadi, melainkan urusan perang, maka dua orang muda perkasa ini pun tidak merasa sungkan untuk maju bersama mengeroyok Hek-hiat Mo-ko.

Biar pun Hek-hiat Mo-ko telah mengerahkan seluruh tenaga racunnya dan mengeluarkan semua ilmu silatnya, namun tetap saja dia terdesak hebat dan akhirnya tidak mampu lagi membalas, melainkan hanya mengelak dan menangkis saja. Akhirnya sebuah tamparan dari tangan kiri Ling Ling menyerempet pelipisnya.

Dia terjungkir namun cepat melompat bangun lagi, akan tetapi langsung disambut totokan suling di tangan Sun Hok yang tepat mengenai dada kirinya. Dari mulutnya keluar suara mencicit nyaring, disusul keluarnya darah hitam dan tubuh Hek-hiat Mo-ko kini tersungkur.

Akan tetapi orang ini memang memiliki kekuatan yang luar biasa. Meski pun totokan tadi telah mengenai jalan darah yang membawa maut, tetap saja dia masih dapat bergulingan, hanya arahnya ngawur sehingga dia bergulingan ke tepi tebing dan tak dapat dihindarkan lagi, tubuhnya tergelincir dan meluncur turun ke bawah tebing yang amat curam itu dalam keadaan sudah hampir mati!.

Kedua belas orang anak buah Hek-hiat Mo-ko juga telah roboh semua oleh Sun Hok dan Ling Ling. Setelah tidak nampak seorang pun lagi musuh di puncak tebing itu, mereka lalu memandang ke bawah dan melihat pertempuran masih berlangsung.

Melihat betapa pasukan pemerintah dihimpit dari depan dan belakang, Sun Hok kemudian berkata, "Ah, di bawah sana telah terjadi pertempuran. Untuk apa kita menganggur saja di sini? Lebih baik membantu di bawah."

"Akan tetapi tempat ini harus terus kita jaga agar jangan sampai ada musuh yang dapat meledakkan tebing," bantah Ling Ling.

"Kalian berdua turunlah dan bantulah menggempur gerombolan pemberontak. Biarlah aku dan pasukan ini yang berjaga di sini!" kata Kui Hong yang juga melihat betapa tidak ada gunanya mereka bertiga menganggur di tempat itu.

Demikianlah, mendengar kesanggupan Kui Hong untuk menjaga sumbu bahan peledak di situ, Ling Ling dan Sun Hok cepat menuruni tebing kemudian mereka ikut pula bertempur membantu pasukan pemerintah, menerjang Kui-kok-pangcu Kim San dan anak buahnya.

Keadaan pada puncak tebing sebelah kanan juga tidak banyak bedanya dengan apa yang terjadi di puncak tebing sebelah kiri. Pasukan belasan orang yang mendaki puncak tebing sebelah kanan dipimpin oleh suami isteri Ciang Su Kiat dan Kok Hui Lian, yaitu pasangan suami isteri yang memiliki ilmu kepandaian yang amat tinggi itu.

Ada pun tokoh sesat yang diberi tugas untuk memimpin belasan orang meledakkan tebing kanan ini apa bila ada isyarat dari Kulana bukan lain adalah Min-san Mo-ko, bekas tokoh Pek-lian-kauw yang lihai ilmu pedang dan ilmu sihirnya itu. Karena usianya sudah enam puluh lebih, Min-san Mo-ko tidak begitu bernafsu untuk ikut bertempur dalam peperangan, maka dia memilih untuk menjaga sumbu bahan peledak yang dipasang di puncak tebing sebelah kanan. Dia sudah siap untuk meledakkannya, dengan menyulut sumbunya begitu menerima isyarat dari Kulana.

Diam-diam dia merasa gembira sekali karena dia akan dapat menonton kalau nanti tebing itu runtuh menimpa pasukan pemerintah sehingga akan terkubur hidup-hidup! Akan tetapi dia harus menanti isyarat dari Kulana lebih dulu. Karena kalau tidak, mungkin yang akan terkubur hidup-hidup oleh ledakan tebing itu justru pasukan kawan sendiri.

Tiba-tiba saja muncul belasan orang prajurit pemerintah yang mendaki puncak tebing itu. Melihat belasan orang prajurit musuh ini, Min-san Mo-ko langsung tertawa dan suaranya melengking tinggi ketika dia berkata, "Ha-ha-ha-ha, hayo bunuh bebeberapa ekor cacing busuk itu!"

Dia terlalu memandang rendah kepada belasan orang prajurit musuh yang disangkanya secara kebetulan saja naik ke puncak ini. Akan tetapi pada saat itu muncullah Kok Hui Lian yang bergerak cepat, dengan gerakan indah sekali telah menampar roboh dua orang prajurit pemberontak.

Melihat munculnya seorang wanita muda yang demikian cantiknya, juga gerakannya amat cepat sehingga dengan mudahnya dapat merobohkan dua orang anak buahnya, Min-san Mo-ko amat terkejut akan tetapi juga gembira sekali. Wanita itu cantik menarik.

"Ha-ha-ha, kebetulan sekali. Aku sedang kesepian dan kini engkau datang menemaniku, manis!" kata Min-san Mo-ko yang biar pun sudah berusia enam puluh tahun lebih namun masih amat mata keranjang itu.

Dia memandang ringan wanita cantik itu, maka sekali meloncat dia sudah meninggalkan benda yang dijaganya sejak tadi, yaitu ujung sumbu bahan peledak yang menghubungkan sumbu dengan bahan peledak yang ditanam di bawah puncak tebing. Ujung sumbu itu ditindih beberapa buah batu dan nampak mencuat putih. Dengan kedua tangannya yang panjang dan kurus Min-san Mo-ko menubruk dari belakang untuk menangkap Hui Lian.

Namun sekali ini orang yang kurus pucat tetapi lihai ini kecelik bukan main. Tubuh wanita cantik yang ditubruknya dari belakang itu mendadak berputar di atas tumit kiri, kemudian kaki kanannya telah mengirim tendangan yang sangat cepatnya, demikian cepat sehingga orang selihai Min-san Mo-ko sampai tidak sempat mengelak atau menangkis lagi. Tentu saja hal ini dapat terjadi terutama sekali karena Min-san Mo-ko memandang lawan terlalu ringan.

"Dukkk...!"

"Ihhhhhh...!" Min-san Mo-ko mengeluarkan suara melengking nyaring, kemudian tubuhnya terhuyung ke belakang, matanya terbelalak dan dia mulai marah sekali. Tak disangkanya bahwa dia akan terkena tendangan pada dadanya, dan tendangan itu membuat dadanya terasa agak nyeri.

"Perempuan setan, kiranya engkau mempunyai kepandaian juga? Kalau begitu bersiaplah untuk mampus!" Min-san Mo-ko mencabut pedangnya, dengan sekali melompat dia sudah berada di depan Hui Lian dan tiba-tiba dia menudingkan pedangnya pada wajah Hui Lian sambil mengeluarkan suara lengking panjang disusul kata-kata yang nyaring melengking dan berpengaruh.

"Perempuan muda, berlutut dan menyerahlah engkau!" Dia mengerahkan sihirnya sambil menggerak-gerakkan pedangnya, kedua matanya mencorong aneh dan menyeramkan.

Hui Lian tidak menyangka bahwa dia akan diserang dengan ilmu sihir, maka tiba-tiba saja dia menekuk lututnya. Hal ini terjadi di luar kehendaknya, maka dia pun kaget sekali dan sambil meloncat ke atas dia mengeluarkan bentakan nyaring sambil mengerahkan tenaga saktinya dan seketika buyarlah kekuatan sihir yang tadi hampir mempengaruhi. Hui Lian menjadi marah sekali dan sepasang matanya berkilat ketika memandang wajah Min-san Mo-ko.

"Iblis busuk, ilmu iblismu itu tidak ada artinya bagiku!" dan kini wanita perkasa ini sudah memegang sebatang pedang yang berkilauan. Entah kapan dia mengeluarkan pedang itu, tahu-tahu sudah berada di tangannya. Itulah pedang Kiok-hwa-kiam peninggalan orang sakti yang dia temukan di dalam goa di tebing curam.

Min-san Mo-ko tidak berani main-main lagi, sama sekali tidak berani memandang rendah. Bahkan dia terkejut bukan main melihat betapa wanita cantik itu mampu membuyarkan kekuatan sihirnya. Tahulah dia bahwa dia berhadapan dengan lawan yang tangguh, maka melihat lawan memegang pedang, tanpa banyak cakap lagi dia pun mencabut pedangnya dan mendahului lawan menyerang dengan pedangnya. Gerakannya cepat dan kuat sekali.

Min-san Mo-ko memang terkenal sebagai seorang ahli pedang yang mempunyai banyak macam ilmu pedang yang bermutu tinggi. Sekarang begitu dia memutar pedang, senjata itu segera lenyap bentuknya dan berubah menjadi gulungan sinar putih yang panjang dan menyambar-nyambar.

Melihat ini, Hui Lian pun tahu bahwa lawannya adalah seorang ahli pedang yang sangat lihai, maka dia pun memutar Kiok-hwa-kiam (Pedang Bunga Seruni) dan segera mainkan Ilmu Pedang In-liong Kiam-sut (Ilmu Pedang Naga Awan), yaitu satu di antara ilmu yang dipelajarinya bersama suaminya di dalam goa tebing. Ilmu pedang ini adalah peninggalan mendiang In Liong Nio-nio, seorang di antara tokoh sakti Delapan Dewa.

Begitu dia memutar pedang, terdengar suara mengaung panjang dan terkejutlah Min-san Mo-ko karena gulungan sinar pedangnya segera tertekan dan terdesak oleh ilmu pedang yang aneh dan belum pernah dilihatnya itu. Dia mengerahkan seluruh tenaga dan semua kepandaiannya untuk mengimbangi permainan pedang lawan, tetapi percuma saja karena gulungan sinar pedang di tangan wanita sakti itu ternyata jauh lebih kuat. Dia terdesak hebat sehingga harus mundur terus.

Sementara itu belasan orang anggota pasukan yang dikepalai Min-san Mo-ko tentu saja bukan lawan Ciang Su Kiat, sebab itu sebentar saja pendekar lengan buntung ini dengan mudah merobohkan mereka semua, menendangi mereka hingga tubuh mereka terlempar ke bawah tebing. Setelah membasmi belasan orang itu, Su Kiat menoleh ke arah isterinya dan dia tidak merasa khawatir karena isterinya kelihatan mendesak Min-san Mo-ko.

Akan tetapi pada saat itu pula, entah dari mana datangnya, tiba-tiba saja muncul seorang lelaki yang berusia empat puluh lebih bertubuh sedang dengan wajah anggun berwibawa, mengenakan jubah seperti pendeta, dengan rambut riap-riapan dan sebatang pedang di tangan, telah berdiri dekat sumbu yang tadi dijaga oleh Min-san Mo-ko dan anak buahnya.

Ciang Su Kiat memandang kaget, bahkan lebih terkejut lagi sesudah melihat laki-laki itu mengeluarkan sebuah benda dari saku jubahnya dan tiba-tiba benda itu bernyala lalu dia membuat gerakan untuk membakar sumbu bahan peledak itu!

"Tahan...!" Su Kiat membentak dan dengan ringan sekali, seperti seekor burung rajawali terbang menyambar, tubuhnya sudah meluncur ke arah orang itu lantas lengan kanannya yang utuh sudah menusuk dengan jari tangan terbuka ke arah dada.

Serangannya ini cepat bukan main, juga mengandung hawa pukulan yang mengeluarkan suara mencicit sehingga pria itu terkejut sekali. Dia cepat-cepat menyimpan kembali alat pembakar yang sudah padam lagi itu, dan sambil meloncat ke samping untuk mengelak, pedangnya cepat menyambar untuk membacok leher lawan yang menyerangnya sambil meluncur seperti terbang.

"Wuuuuuttt...! Takkk...!"

Kulana, laki-laki itu, terkejut bukan main karena lawannya yang hanya berlengan sebelah itu sudah mampu menangkis pedangnya dengan ujung baju lengan kirinya yang buntung. Begitu bertemu pedang, ujung lengan baju itu menjadi keras bagaikan tongkat baja! Hal ini menunjukkan bahwa lawannya memiliki tenaga sinkang yang amat hebat!

Benar-benar seorang lawan yang tangguh, pikirnya, apa lagi ketika tadi dia melihat betapa Min-san Mo-ko juga terdesak hebat oleh seorang wanita cantik. Akan tetapi, Kulana yang naik ke situ untuk meledakkan tebing tanpa mempedulikan bahwa pasukan pemberontak masih berada di atas jalan terusan dan akan menjadi korban pula kalau tebing runtuh, kini tidak merasa gentar dan masih mengandalkan ilmu hitamnya.

Ciang Su Kiat yang maklum betapa berbahayanya apa bila sumbu itu sempat dinyalakan, sudah cepat-cepat meloncat ke dekat sumbu dan melindunginya, kedua matanya dengan tajam menatap ke arah laki-laki berambut riap-riapan yang berpakaian jubah pendeta itu, menduga-duga siapa adanya orang aneh itu. Dia sama sekali tak menduga bahwa orang ini adalah Kulana, pemimpin yang sesungguhnya dari pemberontakani.

Kulana maklum bahwa Si Lengan Buntung itu lihai sekali, maka cepat dia mengelebatkan pedangnya lantas berkemak-kemik membaca mantera dan berkata dengan suara lantang yang berlogat asing. "Hemmm, orang berlengan satu, betapa pun lihainya engkau, mana mungkin dapat melawan aku? Lihat, engkau hanya seorang diri, sedangkan aku berlima!"

Su Kiat membelalakkan kedua matanya ketika melihat bahwa kini orang itu benar-benar telah berubah menjadi lima orang! Lima orang kembar yang menyeringai dan memandang kepadanya dengan mata mencorong beringas. Dia menganggap hal ini mustahil dan tahu bahwa ini tentulah permainan sihir, maka dia pun mengerahkan sinkang-nya kemudian membentak nyaring untuk membuyarkan kekuatan sihir lawan.

Namun kekuatan sihir yang dipergunakan Kulana jauh berbeda dibandingkan dengan ilmu sihir yang dikuasai Min-san Mo-ko. Dengan pengerahan tenaga batin maka kekuatan sihir Min-san Mo-ko dapat dibuyarkan oleh Hui Lian, akan tetapi sihir dari Kulana adalah ilmu hitam yang jahat dan mengandung kekuatan roh jahat atau setan yang menyeramkan.

Sedangkan Ciang Su Kiat, betapa pun lihai ilmu silatnya, tidak pernah mempelajari ilmu sihir, maka pengerahan tenaga sinkang-nya tidak mampu membuyarkan ilmu sihir Kulana dan matanya masih tetap melihat betapa kelima orang lawan yang kembar itu kini mulai mengepungnya!

"Iblis busuk, aku tak akan gentar menghadapimu meski engkau menjadi seratus!" Su Kiat membentak dan laki-laki tinggi besar ini berdiri dengan gagahnya di atas tempat di mana terdapat sumbu yang dijaganya itu. Bagaimana pun juga dia akan melindungi sumbu itu agar jangan sampai dibakar musuh.

Ketika melihat lima orang kembar itu mulai menggerakkan pedang menyerangnya dengan kepungan, dia pun memutar lengan kirinya yang buntung sehingga ujung lengan baju itu membentuk gulungan sinar yang melindungi tubuhnya! Tangan kanannya juga melakukan tamparan dan pukulan ke kanan kiri, dibantu oleh kedua kakinya.

Bagaimana pun juga, tentu saja dia menjadi repot dikeroyok lima orang kembar itu, yang semuanya amat lihai. Setelah mempertahankan diri selama dua puluh jurus lebih, tiba-tiba ujung lengan baju kirinya itu terbabat pedang sehingga putus! Hal ini dapat terjadi karena pada detik itu, untuk menghimpun hawa segar, dia melepaskan pengerahan sinkang-nya. Hanya sedetik dua detik saja, akan tetapi sudah cukup bagi Kulana yang pandai untuk mempergunakan kesempatan itu membabat putus ujung lengan baju yang ampuh itu.

Setelah ujung lengan baju yang dipergunakan sebagai senjata dan perisai itu putus, tentu saja Su Kiat menjadi makin repot. Lawannya amat lihai, dengan ilmu pedang yang aneh, dengan tenaga sakti yang amat kuat, ditambah lawannya berubah menjadi lima orang. Tentu saja Su Kiat terdesak hebat dan dengan mati-matian dia bertahan untuk menjaga agar sumbu itu tidak sampai dinyalakan lawan.

Pada saat itu nampak sebatang pedang yang merah karena berlepotan darah, meluncur dan menangkis pedang di tangan Kulana.

"Tringgg...!"

Bunga api berpijar dan mata Su Kiat terbelalak. Yang muncul adalah orang yang serupa benar dengan penyerangnya. Dan aneh sekali, lawan yang tadinya berubah menjadi lima orang itu kini telah kembali menjadi seorang saja. Dan sekarang dua orang itu telah saling berhadapan, dua orang yang serupa benar baik wajah mau pun bentuk badannya, yang berbeda hanya warna jubah mereka.

Orang pertama berjubah putih, sedangkan orang ke dua berjubah kuning. Orang pertama memegang pedang putih, sedangkan orang ke dua memegang pedang yang berlepotan darah merah!

Orang ke dua itu bukan lain adalah Mulana! Karena pedangnya berlepotan darah anjing, ditambah lagi dengan ilmunya memunahkan sihir, maka kekuatan sihir Kulana tadi sudah buyar dan dia pun nampak hanya satu orang saja, bukan lima seperti tadi. Dan marahlah Kulana ketika dia melihat saudara kembarnya.

"Ahh, bangsat keparat! Kiranya engkau Mulana? Engkau berani mengkhianati saudaramu sendiri dan membantu musuh?"

"Kulana, justru engkaulah yang telah menyeleweng! Engkau menganggap aku musuh dan engkau hendak menimbulkan pemberontakan, malah kini hendak meledakkan tebing, tak peduli siapa yang berada di bawah sana. Engkau jahat, Kulana, aihhh, engkau jahat dan terpaksa aku harus menantangmu!"

"Huh, pantas! Pantas saja tadi semua ilmu sihirku buyar, dan di kedua puncak tebing ini datang musuh menyerang. Tentu karena ulahmu, Mulana!"

"Memang benar, Kulana. Kini lebih baik engkau segera mengakhiri petualanganmu yang jahat ini dan marilah kita berdua pergi, kembali ke selatan. Marilah, Kulana, aku saudara kembarmu, aku mengingatkanmu sebelum semuanya terlambat..."

"Engkaulah yang terlambat, Mulana, sebab sekarang sudah pasti aku akan membunuhmu dengan pedangku ini!" Setelah berkata demikian, Kulana menerjang dengan pedangnya, menusuk dengan gerakan kilat yang amat kuat dan cepat. Mulana melompat ke samping sambil menangkis dengan pedangnya yang berlepotan darah anjing.

"Tringgg...! Tranggg…! Cringgg...!" Kembali nampak bunga api berpijar-pijar menyilaukan mata dan kedua orang ini sudah saling terjang dengan hebatnya.

Melihat ini Ciang Su Kiat tertegun. Munculnya Mulana tadi membuat dia bingung. Dia tak mengenal kedua orang itu akan tetapi dari percakapan mereka, biar pun dilakukan dalam bahasa Birma yang hanya dimengerti sedikit, dia dapat menduga bahwa mereka adalah dua orang saudara kembar yang kini saling bermusuhan.

Melihat betapa orang pertama yang kini diketahuinya bernama Kulana itu membantu para pemberontak, maka tentulah orang kedua yang bernama Mulana itu membantu pasukan pemerintah. Akan tetapi dia masih merasa ragu untuk turun tangan membantu. Apa lagi melihat betapa mereka adalah dua orang saudara kembar yang demikian mirip sehingga sukar membedakan antara mereka kecuali warna jubah mereka, Su Kiat pun merasa tidak enak dan tidak tega untuk mencampuri urusan mereka. Maka dia pun hanya mendekati sumbu dan menjaga agar benda itu tidak diganggu orang.

Sementara itu perkelahian antara Hui Lian dan Min-san Mo-ko sudah mendekati akhirnya. Min-san Mo-ko mempertahankan diri mati-matian, akan tetapi semakin lama dia semakin terdesak oleh wanita sakti itu sehingga dia hanya mampu menangkis dan mengelak saja, tanpa mampu membalas serangan Hui Lian yang semakin mendesak keras.

"Haiiii! Rebah kamuuu...!" tiba-tiba Min-san Mo-ko berteriak lantang dan mengisi suara itu dengan seluruh kekuatan sihirnya. Hal ini merupakan serangan yang mendadak bagi Hui Lian.

Dia terkejut dan tergetar, kedua kakinya lemas dan hampir dia terpelanting. Kesempatan ini segera dipergunakan oleh Min-san Mo-ko untuk menerjang dengan pedangnya. Dalam keadaan terhuyung itu Hui Lian menangkis, namun hal ini bahkan membuat dia terguling jatuh. Dengan girang Min-san Mo-ko langsung menubruk, akan tetapi pada saat itu pula sebuah batu sebesar telur ayam meluncur dan mengenai hidungnya.

"Tukkk!”

“Aduuhhhh...!" Min-san Mo-ko memegangi hidungnya dengan tangan kiri dan tangan itu berlepotan darah. Hidungnya pecah dan darah bercucuran deras.

Saat itu Hui Lian yang tadinya terjatuh sudah meloncat dengan meminjam tanah sebagai penahan loncatan kaki, dan sebelum Min-san Mo-ko sempat mengelak atau menangkis karena dia masih sibuk memeriksa hidungnya, pedang Kiok-hwa-kiam telah menghilang ke dalam dadanya, dari bawah menembus jantung! Dia terbelalak heran, seolah-olah tak percaya bahwa dia telah menjadi korban penusukan itu.

Hui Lian menarik kembali pedangnya sambil menendang supaya pakaiannya tidak sampai terkena percikan darah. Tubuh Min-san Mo-ko yang sudah tak berdaya itu terlempar dan kebetulan jatuh terguling ke bagian yang menurun sehingga tubuh itu terus menggelinding turun dan terjatuh dari tepi tebing yang curam!

Hui Lian cepat meloncat ke dekat suaminya, menyentuh lengan suaminya sambil berkata, "Terima kasih..." bisiknya.

Dia tahu bahwa tadi, dalam keadaan terdesak karena lawan menggunakan sihir, biar pun belum tentu dia akan celaka, suaminya sudah membantunya dengan lontaran batu yang membikin remuk hidung Min-san Mo-ko.

"Sshhh..." Su Kiat berbisik dan menunjuk ke depan.

Hui Lian memandang dan dia pun terheran-heran melihat kedua orang kembar itu saling serang dengan hebatnya. Dia segera tahu bahwa kedua orang yang sedang bertempur itu memiliki ilmu pedang aneh dan kepandaian yang tinggi.

"Siapa... siapa mereka...?" bisiknya sambil memegang tangan suaminya.

"Mereka saudara kembar, yang jubah putih membantu pemberontak, yang jubah kuning membantu pemerintah." kata Su Kiat.

Tiba-tiba saja terdengar suara melengking tinggi dan benturan pedang yang hebat sekali, membuat Kulana dan Mulana masing-masing terdorong mundur. Kulana lalu mengangkat pedangnya, berkemak-kemik dan kembali memekik. Terlihat asap hitam bergulung-gulung di atas tebing itu. Segera segala sesuatu menjadi gelap. Suami isteri pendekar itu terkejut sekali. Mereka cepat mengerahkan sinkang, namun tetap saja tempat itu menjadi gelap.

"Kita jaga sumbu ini, kau di kanan aku di kiri...," bisik Su Kiat. "Siapkan pedangmu dan setiap kali mendengar gerakan mendekatimu, serang!" Suami isteri itu lalu berdiri dengan sikap waspada di kanan kiri sumbu yang harus mereka jaga.

"Heii, kedua orang gagah di sana...!" tiba-tiba terdengar suara Mulana dari asap hitam, "Hati-hati berjaga di situ, jangan perkenankan iblis itu mendekati sumbu itu. Aku... aku... tak berdaya, darah di pedangku telah bersih..."

Kiranya dalam perkelahian tadi pedang di tangan Mulana berkali-kali telah beradu dengan pedang Kulana sehingga darah anjing yang berlepotan di situ sudah memercik lepas dan kini pedang itu telah bersih. Tanpa adanya darah anjing, kini Mulana tidak berdaya untuk menolak dan membuyarkan pengaruh ilmu hitam yang dipergunakan Kulana.

Menyusul suara Mulana ini, terdengarlah suara ketawa yang menyeramkan, suara ketawa Kulana dan suara itu menunjukkan bahwa orang yang tertawa mempunyai gejala kelainan jiwa alias gila!

Tiba-tiba terdengar gerakan pedang dan Hui Lian cepat menangkis dengan pedangnya ke arah suara itu.

"Cringgg...!"

Bunga api berpijar ketika pedangnya berhasil menangkis pedang yang tadi dipergunakan Kulana untuk menyerangnya dalam kegelapan yang tidak wajar itu. Beberapa kali Kulana mencoba untuk menyerang lagi, namun selalu dapat ditangkis oleh Hui Lian, bahkan ada sambaran tangan yang amat ampuh dari Su Kiat menyerangnya. Biar pun suami isteri itu tidak dapat melihat lawan di dalam kegelapan itu, namun pendengaran mereka amat peka sehingga suami isteri yang mempunyai ilmu kepandaian yang sudah tinggi tingkatnya itu seolah-olah dapat melihatnya.

Kulana menjadi amat sibuk dan tak berdaya menghadapi suami isteri yang kini bergabung menjaga sumbu itu. Dia tahu bahwa meski pun dalam kegelapan, sukar untuk menghalau suami isteri itu meninggalkan sumbu bahan peledak, apa lagi mengalahkan mereka! Dia menjadi marah dan penasaran sekali.

"Jahanam Mulana, pengkhianat saudara sendiri! Engkau biang keladinya hingga usahaku gagal!" bentaknya yang disambut oleh Mulana dengan suara ketawa cerah.

"Ha-ha-ha, Kulana! Ingatlah bahwa semua usaha jahat selalu akan menimpa diri sendiri, seperti mengalirnya air ke tempat rendah."

"Jahanam, mampuslah kau lebih dulu sebelum aku meledakkan tebing ini!" Kulana sudah menyerang dengan gemas sekali.

"Trang-trang-trang...!"

Sampai tiga kali Mulana berhasil menangkis serangan pedang saudara kembarnya yang bersembunyi di dalam kegelapan itu. Mulana juga memiliki ilmu kepandaian tinggi, maka seperti kedua orang suami isteri itu, dia pun memiliki panca indera yang amat peka. Biar pun dia tak dapat melihat dengan jelas gerakan Kulana yang masih bersembunyi di dalam kegelapan asap hitam, tetapi Mulana dapat menangkis serangan bertubi yang dilancarkan oleh saudara kandungnya.

Betapa pun juga, karena kekuatan sihir yang dipergunakan Kulana semakin kuat, maka pengaruhnya bukan hanya menimbulkan kegelapan namun juga mendatangkan perasaan ngeri dan seram, apa lagi ketika terdengar suara yang aneh-aneh, bukan suara manusia melainkan suara yang lebih mirip suara setan dan iblis dari neraka.....


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner