SI KUMBANG MERAH : JILID-02


Namun anak itu sendiri berdiri bengong saking herannya karena dia sendiri tidak mengerti mengapa perampok yang memukul dan menendangnya itu mengurungkan niatnya bahkan jatuh sendiri!

“Bocah siluman! Berani engkau melawan kami?” bentak mereka dan kini ketujuh orang itu serentak maju mengepung Bun An yang sudah melangkah maju untuk melihat lebih jelas apa yang sebenarnya terjadi. Kini tujuh orang itu sudah mengepungnya dan sikap mereka buas, tangan mereka sudah siap untuk mengeroyok dan menghajar Bun An.

Pada saat itu pula terdengar suara halus. “Anjing-anjing srigala pengecut tidak tahu malu, mengeroyok satu domba kecil! Kalian ini hanya namanya saja Tujuh Harimau, akan tetapi bernyali srigala yang pengecut!”

Tujuh orang itu amat terkejut dan cepat memandang orang yang mengeluarkan kata-kata itu. Kiranya hanya seorang kakek tua renta yang melihat pakaiannya tentu hanya seorang pengemis jembel. Kakek itu usianya tentu telah tua sekali, pakaiannya compang-camping dan di sana-sini penuh dengan tambalan. Seperti jenggot dan kumisnya, rambutnya juga telah putih semua dan awut-awutan tidak terpelihara. Sepasang matanya terpejam seperti orang buta, sementara tangan kanannya memegang sebatang tongkat butut!

Tentu saja tujuh orang jagoan itu amat terkejut dan sekarang mereka pun mengerti bahwa agaknya jembel tua inilah yang tadi sudah membantu si jembel cilik. Karena merasa malu telah mengepung dan hendak mengeroyok seorang anak kecil yang baru berusia sepuluh tahun, maka mereka segera membalik dan kini bergerak mengepung pengemis tua itu.

“Jembel tua, berani engkau mengatakan kami srigala pengecut?!”

“Tua bangka ini harus dibunuh, mulutnya terlalu lancang!”

“Hai, pengemis tua, siapakah namamu?”

Menghadapi pertanyaan terakhir ini, jembel tua itu tersenyum memperlihatkan mulutnya yang ompong tanpa gigi lagi, akan tetapi matanya tetap terpejam.

“Namaku ya yang seperti kau katakan tadi, ialah Lo-kai (Pengemis Tua)!”

Orang yang bertanya merasa dipermainkan, “Aku tahu engkau pengemis tua yang busuk, akan tetapi siapa namamu?”

“Namaku tidak ada, orang menyebut aku Lo-kai (Pengemis Tua).”

“Aliok, untuk apa ribut-ribut dengan pengemis tua tanpa nama ini? Orang macam dia ini ada nama pun percuma. Bereskan saja!” kata pimpinan Yang-ce Jit-houw yang berkepala besar.

Temannya yang bermuka hitam itu lalu maju menghantam ke arah dada kakek yang minta disebut Lo-kai saja itu. Pukulan yang kerasnya bukan main. Si muka hitam agaknya telah menduga bahwa kakek ini tentu mempunyai kepandaian, maka dia pun menonjok dengan pengerahan tenaga pada kepalan tangan kirinya, sekuatnya diarahkan ke ulu hati Lo-kai.

Anehnya, kakek tua renta yang selalu memejamkan mata itu agaknya tidak tahu bahwa dia dipukul orang. Dia diam saja! Agaknya karena memejamkan mata, dia tidak melihat serangan itu, ataukah memang dia buta?

Tetapi si muka hitam adalah jagoan tukang pukul yang sudah biasa melakukan kejahatan dan tindakan sewenang-wenang. Memukuli orang lemah yang tidak bisa melawan adalah hal yang biasa baginya. Maka kini, melihat betapa Lo-kai tidak mengelak atau menangkis, dia tak mengendurkan tenaga pukulannya apa lagi menghentikannya. Pukulan yang keras itu dengan tepatnya menghantam ulu hati kakek tua renta.

“Krekkk...!”

Pukulan keras itu menghasilkan suara tulang patah, akan tetapi agaknya bukan tulang iga kakek itu yang patah karena dia sama sekali tidak terguncang, masih tetap berdiri tegak. Sebaliknya pemukulnya, si muka hitam itu mengaduh-aduh sambil melompat ke belakang lalu memegang-megang tangan kirinya dengan tangan kanan. Kiranya bunyi tulang patah tadi berasal dari tulang tangan kiri si muka hitam.

Muka hitam itu dari kesakitan kini menjadi marah sekali. Tanpa mempedulikan lagi tangan kirinya yang nyeri, tangan kanannya mencabut golok. Enam orang kawannya juga sudah mencabut golok semua dan sekarang mereka serentak menerjang maju menyerang kakek jembel itu dengan golok mereka, seolah-olah tujuh orang itu hendak berlomba siapa yang lebih dulu merobohkan kakek jembel itu!

Bun An terbelalak menonton. Jantungnya hampir berhenti berdetak ketika ia melihat tujuh batang golok berkelebatan mengeluarkan cahaya yang mengerikan, menyambar ke arah tubuh kakek yang agaknya buta itu karena sejak tadi tidak membuka matanya.

Akan tetapi, dalam pandangan Bun An tiba-tiba saja kakek itu lenyap dan yang nampak hanyalah sesosok bayangan berkelebatan, lantas disusul robohnya tujuh orang perampok itu seorang demi seorang. Golok mereka terlepas dan jatuh berkerontangan di atas lantai dan tubuh mereka kini terkulai lemas tak mampu bergerak lagi! Ternyata kakek jembel itu tadi mempergunakan tongkat bututnya dengan kecepatan luar biasa, menotok tujuh orang penyerangnya dan merobohkan mereka dengan hanya satu kali totokan saja!

Melihat ini, tanpa disadarinya Bun An bertepuk tangan memuji, “Bagus! Bagus! Kalau saja aku mampu, aku pun akan menghajar mereka yang jahat ini!”

Kakek jembel itu tersenyum, lalu menggunakan tongkatnya mencongkel tubuh tujuh orang itu, satu demi satu dicongkel untuk dilontarkan keluar kuil dengan mempergunakan ujung tongkat bututnya, seperti mencongkel dan membuang tujuh ekor cacing saja!

Sambil melontarkan, kakek itu pun membebaskan totokan sehingga pada saat tubuh tujuh orang itu satu demi satu terlempar kemudian terbanting jatuh berdebuk di luar kuil, segera mereka mengaduh-aduh dan tanpa menoleh lagi mereka langsung lari tunggang langgang meninggalkan kuil!

“Lo-kai, engkau hebat sekali!” Bun An memuji sambil menghampiri kakek jembel itu dan memegang tangan kirinya.

“Siauw-kai (jembel kecil), engkau pun berani sekali!” Kakek itu tertawa dan menggunakan tangan kirinya untuk mengusap kepala Bun An.

Bun An menyangka kakek itu buta, maka dia pun menuntun kakek itu menghampiri api unggun. “Kita duduk di sini, Lo-kai, dekat api unggun. Biar kutambah lagi kayunya.”

Kakek itu menghela napas panjang, lega dan nyaman rasanya sesudah dia duduk di atas lantai dekat api unggun. Bun An cepat menambahkan kayu pada api unggun itu sehingga ruangan itu menjadi lebih hangat dan terang. Ketika Bun An menengok, kakek itu ternyata masih saja memejamkan kedua matanya.

Melihat di sana masih terdapat banyak roti dan daging sisa makanan perampok tadi, Bun An berkata, “Lo-kai..., apakah engkau lapar?”

“Hemm...?” kakek itu menengok ke kanan, ke arah anak itu duduk, akan tetapi sepasang matanya tetap terpejam. “Kalau aku lapar, lalu mengapa?”

Bun An memandang ke arah roti dan daging, masih amat banyak, cukup untuk dimakan empat lima orang dan mulutnya menjadi basah. Dia menelan ludah sebelum menjawab, “Kalau kau lapar, di sini ada roti dan daging, boleh kau makan, Lo-kai.”

Pada saat itu perut Bun An berkeruyuk. Sejak kemarin malam dia belum makan apa-apa. Seharian tadi pun sama sekali perutnya tidak diisi apa-apa kecuali air jernih. Dia cepat menengok pada kakek itu, merasa malu kalau-kalau kakek itu mendengar bunyi perutnya. Selama dua tahun lebih dalam perantauannya ini sudah terlampau sering dia menderita kelaparan. Dia sampai hafal bagaimana rasanya kelaparan itu.

Saat mulai lapar, mula-mula perut berkeruyuk dan melilit-lilit, seolah di dalam lambungnya ada jari-jari tangan yang bergerak-gerak, menggapai-gapai dan mencakar-cakar. Air bisa mengurangi rasa melilit-lilit ini. Semakin lama tubuh terasa lemas dan ringan, kepala mulai agak pening dan mata terasa mengantuk. Kemudian terasa kembali perut yang melilit-lilit, sebentar saja, lalu kembali lemas dan ringan.

Kini perutnya mulai melilit-lilit dan berkeruyuk. Maka dengan cepat dia menelan ludahnya untuk menghentikan suara berkeruyuk itu. Biasanya tindakan ini bisa menghilangkan atau sedikitnya mengurangi kebisingan perutnya yang menuntut isi.

“Siauw-kai, apakah engkau juga lapar?”

Bun An mengangguk karena merasa agak malu untuk menjawab, akan tetapi dia teringat akan kebutaan kakek jembel itu, maka dia pun menjawab lirih. “Ya, sejak kemarin malam memang aku tidak makan apa-apa, akibat ulah tujuh orang perampok itu yang mengacau kota sehingga rumah-rumah makan tutup semua, tak seorang pun mau memberi sedekah makanan kepadaku.”

“Kalau begitu, mari kita makan,” kata Lo-kai dengan wajah gembira.

Bun An mengambilkan roti dan daging yang terbaik untuk kakek itu dan mereka pun mulai makan dengan hati lega. Bun An sudah berpengalaman. Pernah dia hampir mati karena ketika amat kelaparan dan kemudian memperoleh makanan, dia langsung makan dengan lahap. Perut yang tadinya kosong itu secara tiba-tiba diisi dengan dijejal, dan hampir saja dia mati karena ini. Dia jatuh sakit sampai beberapa hari lamanya.

Setelah peristiwa itu dia sangat berhati-hati dan kini, biar pun menurut nafsunya dia ingin melahap roti dan daging itu, namun pengertiannya membuat dia makan dengan hati-hati. Dia makan sedikit demi sedikit dan itu pun dikunyah hingga lembut benar baru ditelannya. Dia melihat bahwa kakek itu pun makan dengan perlahan-lahan dan hati-hati. Akan tetapi ternyata kakek yang sudah tak bergigi lagi itu dapat mengunyah daging yang agak keras.

Setelah selesai makan dan sisa makanan dibungkus kembali oleh Bun An, kakek itu lalu minum arak. Bun An juga minum sedikit arak. Dia lebih suka minum teh atau air jernih.

“Siauw-kai, di manakah rumahmu?” Tiba-tiba kakek itu bertanya.

Bun An menundukkan mukanya, teringat akan ibunya yang kini menikah dengan Ma Cun yang menjadi ayah tirinya itu. Lalu dia menggeleng kepala. “Aku tidak mempunyai rumah, Lo-kai.”

“Yatim piatu?”

Bun An ingin mengiyakan, akan tetapi tidak tega membohongi kakek tua renta yang buta ini, apa lagi kakek ini tadi sudah menyelamatkannya dari tangan para perampok. “Ayahku telah meninggal, lalu ibuku menikah lagi tapi ayah tiriku terlalu galak kepadaku, maka dua tahun lebih yang lalu aku minggat dari rumah.”

Kakek itu terdiam, merenung lama.

“Dan kau sendiri, Lo-kai? Di mana rumahmu?”

Kakek itu tersadar dari lamunannya. “Aku tidak punya rumah, akan tetapi aku mempunyai tempat tinggal di dalam goa, di Pegunungan Himalaya sana. Sudah lima tahun aku pergi meninggalkan tempat tinggal itu dan sekarang aku sudah bosan merantau, ingin tinggal di sana karena aku rindu akan keheningan. Kau mau ikut?”

“Ikut padamu, Lo-kai?” Lalu dia teringat akan peristiwa aneh tadi. “Lo-kai, kalau aku ikut, apakah kau mau mengajarkan aku cara mengalahkan para perampok seperti tadi?”

Kakek itu mengangguk. “Tentu saja, kau kira untuk apa aku mengajakmu ikut aku? Tentu saja untuk menjadi muridku. Dan kalau engkau telah tamat belajar, jangankan tujuh orang itu, biar ada seratus orang seperti mereka, engkau takkan dapat terganggu oleh mereka!”

Bun An adalah seorang anak yang cerdik. Biar pun baru sepuluh tahun namun kepahitan hidup membuat dia matang. Sudah banyak dia mendengar cerita dari para jembel lainnya tentang adanya orang-orang sakti dan para pendekar yang gagah perkasa. Dia pun dapat menduga bahwa kakek ini tentulah seorang di antara para tokoh sakti itu, maka dia pun cepat menjatuhkan diri berlutut di depan kakek itu.

“Suhu, teecu (murid) suka sekali ikut denganmu dan menjadi muridmu!”

Kakek itu tertawa. Suara tawanya demikian nyaring sehingga membuat Bun An terheran dan dia pun mengangkat muka. Ketika itulah dia melihat kakek itu sedang memandang kepadanya dengan sepasang mata terbuka dan mata itu mencorong laksana mata naga di dalam dongeng! Kakek itu sama sekali tidak buta!

“Suhu...!” katanya terkejut dan agak ngeri ketakutan.

Kakek itu menyentuh kepalanya. “Siauw-kai, tidak perlu engkau merubah sebutanku. Aku tetaplah Lo-kai, baik bagimu atau bagi siapa pun, karena hanya kebetulan saja kita saling bertemu. Aku tidak pernah mencampuri urusan dunia, karena itu tidak ada yang mengenal namaku di dunia persilatan. Dan aku tidak mau engkau kelak memperkenalkan namaku. Maka bagiku engkau tetap Siauw-kai dan bagimu aku adalah Lo-kai! Mengerti?”

“Baik, su... ehh, Lo-kai!”

Demikianlah, pada keesokan harinya Lo-kai mengajak Bun An meninggalkan kuil.

“Akan tetapi di sini banyak sekali barang berharga, hasil rampokan Tujuh Harimau malam tadi, Lo-kai, lihat, ada satu buntalan besar berisi perhiasan, emas dan perak!”

“Hemm, untuk apa?”

“Lo-kai, sering kali kita mengemis demi sepiring makanan, dan sekarang di sini ada harta yang akan dapat kita pergunakan untuk membeli laksaan piring makanan, cukup untuk kita makan selama hidup puluhan tahun!”

“Huh, aku tidak butuh semua itu! Di tempat tinggalku sana, emas tidak laku, dan kita tidak bisa makan emas.”

“Tetapi kalau barang ini ditinggalkan di sini tentu para perampok itu akan kembali datang mengambilnya!”

“Kalau begitu bawalah, kita akan bagikan kepada mereka yang membutuhkan di dalam perjalanan nanti.”

Biar pun masih merasa penasaran dan heran, Bun An tidak membantah lagi dan mereka pun berangkat menuju ke barat. Lebih besar lagi rasa heran di dalam hati Bun An ketika melihat betapa kakek itu benar-benar membagikan barang rampokan itu kepada rakyat di dusun yang miskin. Tentu saja dalam waktu sebentar saja barang itu habis dan mereka berdua tidak punya apa-apa lagi. Untuk mengisi perut, di sepanjang perjalanan guru dan murid itu kembali harus mengemis!

Lo-kai mengajak Bun An ke Pegunungan Himalaya. Ternyata benar saja, kakek itu tinggal di sebuah goa yang terpencil, di puncak sebuah bukit. Hawa di sana dingin bukan main, juga sangat sunyi. Namun Bun An sudah mengambil keputusan bulat untuk mempelajari ilmu dari kakek itu, dan biar pun mereka hidup menghadapi keadaan yang serba kurang dan hawa udara yang kadang-kadang demikian dinginnya hampir tak tertahankan, namun anak itu mempunyai kenekatan luar biasa dan dia dapat mengatasi semua kesulitan hidup di tempat terasing ini.

Dan meski pun sama sekali tidak terkenal di dunia ramai, ternyata kakek itu memiliki ilmu kepandaian yang hebat! Banyak tokoh-tokoh sakti seperti kakek ini yang tak pernah mau memperkenalkan diri dan lebih suka bersembunyi di tempat-tempat terasing, seakan-akan hendak membawa kepandaian dan kesaktian mereka mati bersama mereka! Dari Lo-kai, Bun An mempelajari banyak macam ilmu. Bukan hanya ilmu-ilmu silat tinggi, akan tetapi juga ilmu lain seperti menyamar dan merobah wajah, ilmu pengobatan dan lain-lain.

Tidak kurang dari sepuluh tahun lamanya Bun An menerima gemblengan dari kakek sakti yang hanya dikenalnya sebagai Lo-kai dan dia sendiri disebut Siauw-kai oleh kakek sakti itu. Dengan amat tekun Bun An mempelajari ilmu-ilmu dari kakek itu, akan tetapi akhirnya, betapa pun saktinya, Lo-kai tidak dapat melawan usia tua.

Kalau ditanya oleh Bun An, Lo-kai sendiri tidak tahu berapa usianya, mungkin sudah ada seratus tahun! Dan pada suatu pagi, ketika Bun An baru terjaga dari tidurnya dan melihat gurunya, ternyata kakek itu sudah tidak bernapas lagi dalam keadaan duduk bersila!

Bun An tidak menangis, malah berduka pun tidak. Kakek itu sering kali mengingatkan dia bahwa di antara mereka tidak ada ikatan apa pun! Karena hal ini selalu disinggung dan karena dia sendiri tak pernah memperlihatkan keakraban dan menunjukkan kasih sayang, maka meski pun Bun An berterima kasih sekali kepada kakek yang menjadi gurunya itu, namun di dalam perasaannya tidak ada ikatan apa pun terhadap Lo-kai.

Sesudah membakar jenazah gurunya, Bun An segera meninggalkan goa itu. Pakaiannya tambal-tambalan seperti seorang pengemis muda, tetapi kini Bun An merupakan seorang pemuda yang tampan sekali, penuh semangat dan gairah hidup karena dia percaya penuh kepada diri sendiri yang sudah diisi ilmu-ilmu oleh gurunya, yang membuatnya menjadi seorang pemuda yang amat lihai!

Tentu saja Bun An meninggalkan Himalaya, langsung menuju ke kota raja untuk mencari ibunya. Dia tidak takut lagi kepada Ma Cun, bahkan diam-diam dia mengambil keputusan untuk menghajar ayah tirinya itu kalau berani menghinanya lagi!

Akan tetapi, sesudah sampai di kota raja dia mendapatkan kenyataan yang sama sekali berubah! Ibu dan ayah tirinya sudah tidak berada di rumah lama itu, dan menurut para tetangga, ayah dan ibunya sudah bercerai! Dia lalu melakukan penyelidikan dan akhirnya dia memperoleh keterangan yang menyayat perasaan hatinya.

Menurut keterangan itu, harta benda yang dibawa oleh ibunya dihambur-hamburkan dan dihabiskan oleh Ma Cun, kemudian terjadi percekcokan setiap hari dan akhirnya ibunya disia-siakan oleh Ma Cun! Dalam keadaan yang sangat terjepit itu ibunya dijual ke sarang pelacuran dan kini menjadi seorang pelacur!

Pukulan batin ini sangat hebat bagi Bun An. Dia ingin mendengar lebih jelas, maka dia cepat pergi ke rumah pelacuran untuk mencari ibunya. Para penjaga rumah pelacuran itu, yang juga bertindak sebagai tukang pukul dan pelindung mucikari dan para pelacur, tentu saja menerima kedatangannya dengan marah.

Seorang pemuda, meski pun wajahnya tampan tetapi kalau berpakaian seperti pengemis, mau apa datang ke rumah pelacuran? Yang datang ke situ hanyalah pria-pria tua muda yang berpakaian mewah, yang sakunya padat uang, bukan segala macam kaum jembel!

“Heiii! Mau apa kau datang ke sini?!” bentak seorang tukang pukul yang bertubuh kurus kering karena suka menghisap madat.

“Kalau engkau mau mengemis jangan di tempat ini! Pergi ke pasar sana!” bentak orang kedua yang perutnya gendut seperti perut babi dan mukanya yang bulat membayangkan ketinggian hati. Tentu saja sikap kedua orang ini memanaskan hati Bun An, akan tetapi dia masih dapat menahan diri dan masih dapat tersenyum.

“Aku datang bukan untuk mengemis, tapi untuk mengambil seorang wanita yang bernama Kui Hui. Suruh dia keluar menemuiku, ada urusan penting yang akan kubicarakan dengan dia.”

Mendengar disebutnya nama ini, dua orang tukang pukul itu saling pandang lalu tertawa. Yang kurus terkekeh menghina dan berkata. “Kui Hui? Ha-ha-ha! Memang dia paling tua di sini, akan tetapi bukan yang paling murah. Di sini dikenal istilah tua-tua keladi, makin tua semakin jadi! Apakah engkau memiliki uang maka berani hendak memesan Kui Hui?”

“Keluarkan dulu uangmu, perlihatkan kepada kami!” kata si gendut.

Bun An mengerutkan alis. Memang dia sudah marah sekali karena mendapat kenyataan bahwa sekarang ibunya menjadi pelacur. Hal ini saja sudah mendatangkan kemarahan dan kebencian terhadap wanita yang menjadi ibunya. Maka dia tidak dapat menahan lagi kesabarannya.

“Mulut kalian sungguh busuk dan pantas dihajar!” Secepat kilat tangannya bergerak ke depan.

“Plakk! Plakkk!”

Dua orang itu terpelanting, tubuh mereka terbanting keras dan mereka memegangi pipi yang ditampar sambil mengaduh-aduh. Sedikitnya ada tiga buah gigi yang copot sehingga darah mengalir keluar dari ujung bibir mereka yang menjadi bengkak sampai ke telinga.

Akan tetapi kini mereka menjadi marah sekali. Dengan suara tidak jelas karena mulutnya bengkak sebelah, keduanya memaki-maki dan sudah mencabut golok, lantas menyerang kalang kabut.

Akan tetapi tentu saja tidak ada artinya bagi Bun An dalam menghadapi dua orang tukang pukul penjaga rumah pelacuran ini. Kembali tangannya bergerak, lantas dua batang golok terlempar dan lengan yang memegang golok menjadi lumpuh akibat tulang lengan itu telah patah ditekuk tangan Bun An. Kini kedua orang itu mengaduh-aduh dan berteriak minta tolong.

Muncul empat orang kawan mereka, jagoan-jagoan yang menjadi tukang pukul di tempat pelesir itu. Melihat betapa dua orang teman mereka mengaduh-aduh dan agaknya sudah dihajar oleh seorang pemuda berpakaian jembel, keempat orang itu langsung menyerang dengan golok mereka.

Kembali tubuh Bun An berkelebatan dan empat batang golok kembali beterbangan, diikuti robohnya empat orang itu yang merintih kesakitan, tangan kiri memegangi lengan kanan yang patah tulangnya! Melihat kenyataan ini, betapa enam orang tukang pukul itu dalam segebrakan saja roboh dengan tulang lengan patah, barulah mereka sadar bahwa mereka tengah berhadapan dengan seorang pemuda yang memiliki ilmu kepandaian tinggi sekali. Mereka menjadi ketakutan ketika Bun An melangkah maju.

“Kalian masih belum mau memanggil keluar Kui Hui? Ataukah batang leher kalian harus kupatahkan dulu?” kata pemuda itu.

Si tinggi kurus cepat-cepat memberi hormat dengan gerakan kaku karena lengannya tak bisa digerakkan. “Harap ampunkan kami, taihiap (pendekar besar), saya akan memanggil keluar wanita itu...!” Lalu dengan terpincang-pincang si kurus itu berlari masuk.

Tidak lama kemudian keluarlah dia bersama seorang wanita cantik. Usia wanita itu sudah mendekati empat puluh tahun namun masih nampak cantik, apa lagi karena pakaiannya indah dan mukanya dirias dengan bedak tebal dan gincu, juga penghitam alis.

Bun An segera mengenal ibunya dan dia merasa muak. Ibu kandungnya seorang pelacur! Hampir saja dia meloncat pergi lagi, akan tetapi segera terbayang olehnya betapa ketika dia masih kecil, ibunya ini amat sayang kepadanya.

Wanita itu memang Kui Hui, ibu Bun An. Tadi oleh si kurus yang ketakutan dia diberi tahu bahwa ada seorang tamu, yaitu seorang pemuda berpakaian jembel akan tetapi memiliki kepandaian tinggi, yang minta agar dia keluar. Kini Kui Hui menjadi heran melihat seorang pemuda berpakaian tambal-tambalan tapi berwajah tampan berdiri di situ sedangkan para tukang pukul masih mengaduh-aduh.

Wajah pemuda tampan yang tidak asing baginya, akan tetapi dia lupa lagi di mana pernah bertemu dengan pemuda itu. Meski pun dia merasa ragu-ragu untuk menerima tamu yang berpakaian tambal-tambalan, akan tetapi karena takut, dia pun segera tersenyum manis dan melangkah maju lalu memberi hormat.

“Selamat datang, tuan muda. Siapakah tuan muda dan ada keperluan...”

“Aku Tang Bun An!” Bun An memotong dengan suara lirih, akan tetapi pandang matanya mencorong penuh kemarahan.

Kui Hui menahan jeritnya, menutupi mulut dengan punggung tangan, matanya terbelalak dan wajahnya pucat sekali ketika dia memandang kepada wajah pemuda itu. Kini dia pun teringat puteranya! Tanpa dapat dicegah lagi kedua mata yang terbelalak itu dipenuhi air mata dan berderailah air matanya berjatuhan di atas kedua pipinya.

“Bun An... Bun An..., kau...”

Bun An tidak ingin ibunya bicara di tempat itu, didengarkan oleh banyak orang, maka dia lalu memegang tangan ibunya. “Sudahlah, mari kita pergi dan bicara di tempat lain!” Dia menarik tangan ibunya.

Wanita itu menahan karena bagaimana mungkin dia pergi begitu saja tanpa pamit? Dan pakaiannya, barang-barangnya masih berada di dalam kamarnya.

“Nanti dulu…, aku... aku pamit dan mengambil barang-barangku dulu...”

“Tidak usah. Mari kita pergi!” Bun An menarik tangan ibunya.

Wanita itu merasa betapa kuatnya tarikan tangan puteranya. Dia sama sekali tak mampu menahan sehingga tubuhnya ikut tertarik. Melihat sikap puteranya yang begitu marah dan tidak sabar, dia pun tidak membantah lagi dan keduanya lalu melangkah untuk keluar dari pekarangan rumah pelacuran itu.

Dari dalam rumah pelesir tiba-tiba keluar seorang wanita tua, usianya kurang lebih enam puluh tahun dan tubuhnya gendut sekali. “Heiiii! Mau kemana kau, Kui Hui? Engkau tidak boleh pergi begitu saja! Engkau harus membayar dulu hutang-hutangmu!”

Kui Hui tidak berani menjawab, hanya dapat memandang dengan gelisah. Bun An segera membalikkan tubuh dan menghadapi nyonya gendut itu.

“Aku hendak mengajaknya pergi dari tempat terkutuk ini, engkau mau apa?”

Nyonya itu pun tadi telah mendengar betapa pemuda ini sudah merobohkan enam orang tukang pukulnya, maka dia tidak berani bersikap galak. “Orang muda, kalau kau hendak membawa dia pergi harus ada tebusannya, harus ada uang penggantinya!”

“Babi betina, kuganti dia dengan nyawamu!” kata Bun An dan sekali menendang, tubuh nyonya itu langsung terjengkang.

Wanita itu menguik-nguik seperti babi disembelih, namun Bun An tidak mempedulikannya lagi. Dia menarik tangan ibunya kemudian dengan cepat meninggalkan tempat itu. Dalam waktu sebentar saja mereka sampai di sebuah tempat sunyi di luar pintu gerbang kota. Di tempat sunyi ini Bun An menyuruh ibunya bercerita tentang keadaan sebenarnya.

Sambil menangis Kui Hui menuturkan bahwa memang benar Ma Cun telah berubah sejak Bun An minggat. Orang itu menghambur-hamburkan harta yang dibawanya dari keluarga Tang, selalu berfoya-foya, main perempuan, berjudi dan akhirnya, setelah harta itu ludes, Ma Cun memaksa dia untuk mencari uang dengan menjual diri! Kalau dia menolak maka Ma Cun memukuli dan menyiksanya!

Keadaan seperti itu tidak dapat dipertahankan lagi dan mereka lalu bercerai. Akan tetapi Ma Cun masih menyeret Kui Hui ke rumah pelacuran itu dan menjual isterinya kepada mucikari. Demikianlah, Kui Hui lalu menjadi anak buah mucikari itu dan dia harus bekerja siang malam melayani tamu untuk mencari uang karena dia dianggap mempunyai hutang yang makin lama makin besar sesuai dengan perhitungan bunganya yang amat berat!

“Itulah nasib buruk ibumu, anakku...,” kata Kui Hui yang menceritakan semua itu sambil menangis. “Aku... aku menjadi pelacur... aku.... aku menderita sakit, kadang kala batuk darah... tapi sekarang engkau mengajak aku pergi sedangkan semua pakaianku berada di sana, juga sedikit tabunganku, padahal engkau... ahh, engkau sendiri berpakaian tambal-tambalan seperti seorang pengemis...! Bagaimana kita akan hidup selanjutnya, Bun An?”

Bun An mengerutkan alisnya. Ibunya sudah terperosok sedemikian dalam sehingga yang dipikirkan hanyalah harta benda dan uang saja, pikirnya!

“Jika harta yang ibu inginkan, nanti malam aku akan mencarikannya untuk ibu. Sekarang ibu ikut saja dengan aku!” Bun An lalu mengajak ibunya ke sebuah kuil tua kosong yang berada di dalam hutan kecil di atas bukit di luar kota. Di kuil inilah dia menginap selama beberapa malam ini.

Tentu saja Kui Hui hanya bisa menangis karena dia tidak biasa hidup seperti itu. Di dalam hatinya sekarang merasa menyesal sekali mengapa puteranya muncul dan memaksanya keluar dari rumah pelacuran itu. Di sana dia sudah mulai dapat menyesuaikan diri, dapat bersenang-senang dengan para pria yang membelinya, makan dan pakaian tidak pernah kurang, juga kamarnya indah. Tapi sekarang, tanpa bekal sepotong pun pakaian sebagai pengganti, dia harus rebah di atas lantai kotor sebuah kuil yang amat menyeramkan, yang pantasnya hanya menjadi tempat tinggal iblis dan siluman!

Malam itu Bun An meninggalkan ibunya. Pemuda ini tidak banyak bicara, bahkan ketika ibunya bertanya mengenai pengalamannya, dia hanya menjawab singkat bahwa sepuluh tahun lebih ini dia hidup sebagai pengemis dan mempelajari ilmu silat.

“Ibu tunggu saja di sini, aku akan mencarikan harta benda yang ibu inginkan itu. Jangan ibu pergi dari sini kalau ibu ingin selamat, karena di luar tentu banyak bahaya mengintai!”

Setelah berkata demikian, sekali berkelebat Bun An lenyap dari depan ibunya. Wanita itu terbelalak, lantas menangis di atas lantai kuil itu, ketakutan dan mengira bahwa puteranya itu agaknya telah menjadi iblis yang pandai menghilang!

Bun An mengintai dari luar kuil dan membiarkan ibunya menangis. Sedikit pun dia tidak merasa kasihan, bahkan dia merasa betapa hatinya membenci wanita ini. Ibunya sudah membunuh ayahnya. Hal ini dia ketahui benar.

Dia masih teringat akan semua percakapan antara ibunya dengan kekasihnya, Ma Cun. Dialah yang menerima bungkusan racun itu dari Ma Cun untuk diserahkan kepada ibunya. Sesudah mencuri banyak barang perhiasan keluarga Tang, ibunya yang berjinah dengan Ma Cun kemudian menjadi isteri Ma Cun. Lebih menggemaskan lagi, kini ibunya menjadi seorang pelacur!

Akan tetapi, bagaimana pun juga dia adalah putera kandung ibunya, karena itu dia harus memelihara ibunya. Dan yang lebih dari itu, dia harus membuat perhitungan dengan Ma Cun!

Siang tadi dia sudah menyelidiki di mana adanya orang itu. Tidak sukar untuk mencari Ma Cun yang biasa berjudi di Hok Pokoan (Rumah Judi Mujur). Tempat judi besar di kota raja ini menjadi pusat perjudian dan di sana terdapat banyak orang dari golongan sesat yang mengadu nasib dengan berjudi. Sebuah tempat berbahaya dan tidak ada orang baik-baik berani mengunjungi tempat ini. Orang yang bukan penjudi ulung, yang baru saja datang dan berani mencoba-coba untuk berjudi, tentu akan habis di curangi oleh ular-ular judi.

Segala macam maling, perampok dan penjahat lain mempergunakan Hok Pokoan sebagai tempat pelesir dan di sana banyak terdapat pelacur-pelacur yang digunakan oleh bandar judi untuk memikat para langganan. Ramailah keadaan di rumah perjudian itu. Dari sore sampai pagi meriah penuh gelak tawa.

Seperti tadi ketika dia datang berkunjung ke rumah pelacuran, kini Bun An juga disambut dengan alis berkerut oleh para penjaga keamanan, tukang-tukang pukul rumah perjudian itu. Tukang-tukang pukul di tempat itu tidak boleh disamakan dengan tukang-tukang pukul di rumah pelacuran. Di sini merupakan tempat para penjahat berkumpul, di mana terdapat banyak uang di perjudikan, maka penjagaannya amat ketat. Bandar judi sudah membayar tinggi jagoan-jagoan pilihan untuk menjaga tempat itu.

“Heuii, kau jembel gila! Mau apa kau ke sini?” bentak seorang jagoan pada saat melihat Bun An memasuki pintu pekarangan.

“A-boan, lemparkan saja sekeping uang kecil padanya agar tidak membikin kotor tempat ini!” kata orang kedua.

Bun An merasa betapa perutnya panas mendengar ucapan yang nadanya menghina itu, akan tetapi dia berusaha menahan sabar, “Aku datang bukan untuk mengemis, melainkan untuk mencari seorang bernama Ma Cun. Harap kalian suka memanggil dia keluar.”

Ma Cun sudah sangat terkenal di rumah perjudian itu. Selain merupakan langganan lama, juga Ma Cun terkenal sebagai seorang jagoan pula, bekas perwira pengawal pembesar yang mempunyai ilmu silat tinggi. Mendengar betapa pengemis muda ini menyebut nama jagoan dan penjudi itu begitu saja dan minta dipanggilkan, maka beberapa orang penjaga itu menjadi marah.

“Cuhh!” orang pertama meludah. “Jembel macam kau berani menyuruh kami memanggil orang?”

“Tidak seorang pun langganan kami boleh diganggu, apa lagi di ganggu jembel...”

“Kalau kalian tidak mau memanggilnya, biarlah aku mencarinya sendiri ke dalam!” Bun An segera memotong karena dia mulai kehilangan kesabarannya, lantas dia pun melangkah hendak masuk ke dalam ruangan depan rumah judi itu.

“Heii! Berhenti!” bentak seorang tukang pukul.

Ia pun memegang lengan kiri Bun An kemudian menariknya dengan pengerahan tenaga, dengan maksud agar pemuda jembel itu tertarik dan terpelanting. Namun tubuh pemuda jembel itu sama sekali tidak bergeming, bahkan si tukang pukul merasa seolah-olah yang dipegangnya itu bukan lengan tangan, melainkan sepotong besi yang keras!

Beberapa kali dia mengerahkan tenaga untuk membetot, akan tetapi percuma saja. Hal ini membuat dia merasa amat penasaran kemudian marah, dan langsung saja dia memukul dengan tinjunya ke arah muka Bun An.

“Wuutttt…!”

Dengan miringkan mukanya, pukulan itu meluncur dekat pipi Bun An. Pemuda ini menjadi marah dan sekali dia mengangkat lutut, maka lututnya telah masuk ke dalam perut orang itu.

“Ngokkk…!”

Orang itu menekuk perutnya dan memegangi perut yang terasa nyeri bukan main. Bun An menendang tubuh orang itu yang langsung terlempar lalu terbanting jatuh.....


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner