SI KUMBANG MERAH : JILID-03


Melihat ini, tujuh orang tukang pukul itu menjadi marah. Salah seorang di antaranya telah menubruk dari belakang dengan kedua lengan terpentang dan kedua tangan terbuka, siap untuk mencengkeram dan mencekik leher pengemis muda itu.

Bun An membiarkan saja tangan itu mencengkeram lehernya dan si pencengkeram amat terkejut ketika merasakan betapa leher yang dicekiknya itu keras seperti besi! Pada saat itu Bun An sedikit miringkan tubuhnya dan siku kanannya menghantam ke belakang.

“Dukkk!”

“Aughhhh...!” Orang yang kena disiku dadanya itu terpental dan terbanting jatuh, seketika muntah darah karena dadanya seperti dihantam oleh toya besi saja!

Kini para tukang pukul itu baru sadar bahwa pengemis muda ini sama sekali tidak boleh dibuat main-main. Mereka segera mencabut senjata lalu menyerang Bun An dari berbagai jurusan.

Melihat gerakan mereka, maka tahulah Bun An bahwa mereka itu tidak boleh disamakan dengan para jagoan di rumah pelacuran. Karena itu dia pun segera mendahului mereka, tubuhnya bergerak cepat sekali sehingga bagi para pengepungnya tubuh itu bagai lenyap berubah menjadi bayangan yang terbang menyambar-nyambar, lantas tujuh orang jagoan itu roboh malang melintang di pekarangan itu!

Dengan tenang Bun An melangkah memasuki ambang pintu, mendorong pintu ke dua lalu masuk ke ruangan perjudian yang amat luas itu. Ada belasan meja judi dikelilingi banyak orang. Suasana di sana sangat pengap bagi dia yang baru masuk dari tempat terbuka. Ruangan itu penuh asap berbau tembakau, bercampur bau minyak wangi dari pakaian para pelacur yang menghibur para penjudi, dan bau keringat semua orang!

Dua orang jagoan yang berjaga di sebelah dalam sudah tahu akan peristiwa yang terjadi di luar. Mereka ini memiliki tingkat yang lebih tinggi dari pada mereka yang berada di luar tadi. Maka, begitu melihat Bun An melangkah masuk, dengan cepat dua orang ini sudah menyambutnya dengan serangan pedang dari kanan kiri. Pedang kiri menusuk ke arah lambung, pedang kanan membacok kepala dari atas.

Menghadapi kedua serangan pedang yang dilakukan serentak dan mendadak ini, Bun An yang semenjak tadi tak pernah kehilangan kewaspadaan sedetik pun, mengangkat kedua tangan menyambut. Tangan kanan bergerak ke samping dan tangan kiri bergerak ke atas.

Dua orang penyerang itu terbelalak ketika merasa betapa pedang mereka tiba-tiba saja berhenti meluncur, dan ternyata mereka melihat betapa pedang mereka terjepit di antara jari-jari tangan pemuda jembel itu. Mereka segera mengerahkan tenaga membetot untuk melepaskan pedang dari jepitan jari tangan, akan tetapi sia-sia karena pedang itu seperti terjepit oleh jepitan baja saja.

Sebelum mereka sempat mengetahui apa yang akan terjadi, kedua kaki Bun An dengan bergantian tetapi cepat sekali seolah-olah kedua kaki itu bergerak berbarengan saja, telah menendang sehingga kedua orang itu terpelanting roboh dan tak mampu bangkit kembali karena sambungan lutut kaki mereka terlepas! Pedang mereka telah berpindah ke kedua tangan Bun An.

Lima orang jagoan lain cepat maju mengepung dan langsung mengeroyok, menggerakkan senjata mereka, akan tetapi nampak sinar bergulung-gulung dari dua batang pedang yang berada di tangan Bun An. Terdengar teriakan-teriakan yang disusul robohnya lima orang itu karena lengan mereka telah terluka dan mengucurkan darah!

Kini semua orang merasa gentar, bahkan jagoan-jagoan lain mengundurkan diri menjauh. Karena tidak ada yang berani menyerangnya, Bun An melempar kedua pedang ke atas lantai, kemudian melangkah perlahan-lahan ke tengah ruangan. Semua mata memandang kepadanya, mata yang terbelalak dan muka yang pucat karena ketakutan.

Bun An memandang ke sana sini, mencari-cari sampai akhirnya dia melihat orang yang dicarinya. Tentu saja dia masih mengenal Ma Cun, orang yang sangat dibencinya itu. Bekas pengawal itu kini sudah berusia empat puluh tahun lebih, rambut kepalanya sudah bercampur uban, namun wajahnya yang gagah tidak berubah. Hanya perutnya yang kini menggendut, namun tubuhnya masih nampak kokoh kuat. Melihat orang yang dicarinya ini, Bun An menghampiri dan kini dia berdiri di depan Ma Cun dalam jarak lima meter.

“Ma Cun, tinggalkan mejamu dan majulah ke sini!” kata Bun An, suaranya halus namun mengandung getaran dendam kebencian.

Ma Cun mengerutkan alisnya. Dia sendiri adalah seorang jagoan yang memiliki ilmu silat yang cukup tinggi, maka tentu saja dia tidak gentar melihat pengemis muda yang tadi mengamuk. Akan tetapi, ketika pengemis muda itu memanggilnya, dia merasa penasaran dan juga marah.

“Bocah pengemis! Aku Ma Cun tidak punya urusan dengan engkau. Pergilah dan jangan menggangguku!” Dia membesarkan suaranya agar lebih berwibawa karena pada saat itu semua orang memandang kepadanya dan kepada pengemis muda yang tidak dikenalnya itu.

“Ma Cun, buka matamu lebar-lebar dan lihat siapa aku!” Bun An berkata lagi, suaranya tetap halus, namun mengandung sesuatu yang membuat semua orang bergidik.

Ma Cun memandang dengan penuh selidik, lantas mengerutkan alisnya lebih dalam dan menghardik, “Jembel busuk! Aku tidak mengenal orang macam engkau, pergilah sebelum hilang kesabaranku!” Ma Cun yang percaya akan kemampuannya sendiri itu menggertak, ada pun tangannya telah meraba gagang pedangnya yang selalu berada di dekatnya dan pada saat itu pedangnya berikut sarung pedang terletak di atas meja judi.

Bun An tersenyum mengejek, sepasang matanya menyorotkan sinar dingin yang mau tak mau terasa juga oleh Ma Cun sehingga membuat tengkuknya terasa agak dingin.

“Ma Cun, namaku Tang Bun An!”

Ma Cun terbelalak. “Ha-ha-ha, engkau setan cilik ternyata kini sudah menjadi orang yang tidak berharga!” katanya sambil meninggalkan meja menghampiri Bun An. Setelah kini dia mengenal Bun An, seketika lenyaplah rasa jeri yang tadi sedikit banyak ada padanya dan terganti dengan pandangan rendah dan menghina.

Sejak melihat Ma Cun tadi, Bun An sudah merasa seolah-olah ada api bernyala panas di dalam dadanya. Mendengar penghinaan itu kemarahannya langsung meluap-luap dan dia pun melangkah maju sehingga kini mereka berhadapan dalam jarak dua meter saja, saling pandang dengan sinar mata penuh kebencian.

“Bun An jembel busuk, apakah engkau datang untuk mengemis padaku? Nih, uang kecil untukmu!” Sambil berkata demikian, dengan sikap dan pandang mata menghina sekali Ma Cun mengambil tiga keping uang kecil dari sakunya dan dilemparkan ke depan.

Tiga keping uang itu mengenai tubuh Bun An, lantas jatuh ke bawah mengeluarkan suara berkeritikan. Tidak terlalu nyaring, akan tetapi karena semua orang diam menahan napas dengan hati tegang, jatuhnya tiga buah mata uang itu menimbulkan suara yang nyaring.

“Ma Cun, dengarlah, buka telingamu lebar-lebar. Aku datang bukan untuk meminta uang, melainkan untuk mengambil nyawamu!”

Suasana menjadi semakin tegang setelah kata-kata ini keluar dari mulut pengemis muda itu. Tidak lantang, namun karena suasana amat sepi dan hening seolah-olah di situ tidak ada manusia lain, maka terdengar jelas dan menimbulkan ketegangan mendalam. Wajah Ma Cun berubah merah sekali saking marahnya.

“Singgg…!” Pedang itu telah dicabutnya.

Dengan tangan kiri memegang pedang Ma Cun sudah menubruk maju ke depan, segera menyerang Bun An dengan sabetan pedangnya, tidak malu-malu lagi menyerang seorang pemuda yang tidak memegang senjata apa pun. Namun Bun An menghadapi serangan pedang itu dengan tenang saja. Tingkat kepandaiannya sudah jauh lebih tinggi dari pada Ma Cun, maka ketika pedang berkelebat menyambar ke arahnya, dia segera menangkis dari samping dengan menampar ke arah pedang itu.

“Plakkk!” Pedang itu dapat ditangkapnya!

Semua mata terbelalak memandang, hampir tidak percaya. Bagaimana mungkin pemuda jembel itu berani menangkap pedang yang amat tajam dan digerakkan oleh seorang yang bertenaga besar seperti Ma Cun? Akan tetapi kenyataannya pedang itu dapat ditangkap dan kini nampak Ma Cun bersitegang hendak menarik pedangnya agar tangan pemuda itu terbabat buntung. Akan tetapi sama sekali tidak berhasil.

Sekali lagi dia membetot akan tetapi tiba-tiba Bun An melepaskan pegangannya sehingga tubuh Ma Cun segera terjengkang! Sambil tersenyum mengejek Bun An memberi isyarat kepadanya agar bangkit kembali.

“Berdirilah dan keluarkan semua kepandaianmu sebelum kau kubunuh!”

Wajah Ma Cun menjadi pucat sekali dan mulailah dia meragukan kemampuannya sendiri, hal yang belum pernah dia lakukan. Apa yang dialaminya tadi terlalu hebat dan nyalinya sudah menciut, bahkan kedua kakinya mulai gemetar.

“Kawan-kawan, bantulah aku!” teriaknya tiba-tiba, lantas dia pun mendahului menyerang dengan membabi buta.

Kini semua jagoan yang berada di sana seperti baru sadar bahwa ada seorang pemuda berpakaian seperti pengemis yang lihai sekali sedang mengacau di rumah judi itu, bahkan mengancam nyawa seorang kawan mereka. Belasan orang jagoan, baik yang bertugas sebagai penjaga keamanan di situ mau pun yang datang sebagai tamu dan penjudi, cepat mencabut senjata masing-masing dan menyerbu ke arah Bun An!

Pemuda itu sudah marah sekali. Serangan Ma Cun yang membabi buta itu disambutnya dengan tamparan keras ke arah lengan Ma Cun. Ma Cun berteriak kesakitan, kemudian pedangnya terlepas dari pegangan karena lengan kanannya terasa nyeri bukan kepalang seperti dipukul dengan toya baja. Pada saat itu teman-temannya sudah menyerbu, maka dengan cerdik Ma Cun menyelinap di antara orang banyak lalu melarikan diri ke loteng.

Bun An mengamuk hebat. Tubuhnya lantas berkelebatan di antara para pengepung dan pengeroyoknya, akan tetapi matanya tidak melepaskan pintu keluar, takut kalau-kalau Ma Cun lolos keluar. Dia marah karena kehilangan Ma Cun yang menyelinap di antara orang banyak.

Bun An menggerakkan kaki dan tangannya, maka mulailah pengeroyok berpelantingan ke kanan kiri. Bukan hanya tubuh para pengeroyok, akan tetapi juga meja judi dan bangku-bangku beterbangan karena ditendangi oleh Bun An yang mengamuk sambil mencari-cari Ma Cun. Dalam waktu beberapa menit saja belasan orang jagoan sudah roboh malang melintang tidak sanggup bangun lagi dan hanya dapat merintih kesakitan. Para tamu yang tidak ikut mengeroyok sudah merapatkan diri di dinding dengan wajah pucat.

Sesudah tidak ada lagi yang menyerangnya, Bun An mulai mencari-cari dengan matanya. Dia melihat seorang laki-laki gendut yang tadi bersikap angkuh dan sekelebatan dilihatnya sebagai majikan tempat itu. Sekarang orang itu sedang bersembunyi di balik meja yang roboh, tubuhnya yang gendut itu menggigil seperti diserang demam.

Dengan sekali loncatan saja Bun An sudah tiba di belakang orang itu, lalu dengan sekali cengkeraman pada pundak si gendut itu, dia menariknya berdiri dan si gendut menahan jerit seperti seekor tikus terjepit.

“Hayo katakan, di mana adanya Ma Cun?” Bun An merasa yakin sekali bahwa orang yang dicarinya tentu masih berada di situ karena sejak tadi dia memperhatikan pintu keluar dan tidak melihat Ma Cun keluar dalam keributan tadi.

“Ti… tidak... tahu....” Si gendut menggeleng kepalanya.

“Hemm, apa kau minta mati?” Bun An menekan pundak si gendut itu yang tiba-tiba saja merasa betapa tubuhnya bagaikan ditusuk-tusuk seribu jarum. Dia kini tidak lagi menahan jeritnya, melainkan menguik-nguik seperti seekor babi dimasukkan keranjang, “Kau masih tidak mau mengatakan di mana dia?”

“Di... di loteng...,” kata si gendut yang tiba-tiba saja terkencing-kencing di celana.

Bun An mendorongnya sehingga dia roboh terguling-guling dan cepat lari menaiki tangga menuju ke loteng. Semua orang yang berada di ruangan bawah itu kini memandang ke atas.

Di loteng itu ada ruangan besar berikut beberapa buah kamar di mana para pemenang permainan judi boleh menghamburkan uangnya kepada para pelacur yang siap melayani mereka. Bun An segera memeriksa setiap kamar dan pada kamar ke tiga, tiba-tiba saja dia diserang orang dari dalam kamar dengan sebatang pedang. Penyerang itu bukan lain adalah Ma Cun yang sudah memperoleh sebatang pedang lagi.

Akan tetapi Bun An sudah waspada. Begitu pedang meluncur dia segera mengelak, lalu tangannya menangkap pedang sambil kakinya menendang lengan kanan lawan. Terpaksa Ma Cun melepaskan pedangnya dan dia hendak lari turun. Akan tetapi tangan kiri Bun An segera menampar dan mengenai tengkuknya sehingga dia pun terjungkal roboh. Semua orang melihat peristiwa di loteng itu dengan mata terbelalak. Dilihat dari bawah, apa yang terjadi di atas itu seperti permainan wayang saja!

Karena melihat sudah tidak ada jalan keluar lagi maka timbullah rasa takut di hati Ma Cun. Tanpa malu-malu lagi dia lalu berlutut dan meyembah-nyembah kepada Bun An.

“Bun An, ampunkanlah aku... ahhh, ingatlah bahwa aku adalah ayah tirimu... dahulu aku pernah menyayangimu... ingatkah engkau ketika dahulu aku memberi hadiah kepadamu? Ampunkan aku, Bun An!”

Kemarahan Bun An semakin menjadi ketika diingatkan akan peristiwa yang lalu. Memang dulu, pada waktu masih menjadi kekasih ibunya di rumah keluarga Tang, orang ini sering mengambil hatinya dengan memberi barang-barang mainan, juga mengancamnya karena dialah yang menjadi jembatan antara ibunya dengan orang ini!

“Keparat jahanam! Masih ada muka engkau untuk minta ampun dan mengaku ayah tiriku? Apakah engkau juga masih ingat saat memukuli dan menyiksaku, bahkan menendangku? Sudah lupakah engkau dengan apa yang kau lakukan terhadap ibuku? Engkau hamburkan semua harta benda ibuku dan setelah habis, engkau sia-siakan ibuku, engkau siksa dia, kau pukul dan tendang, dan akhirnya kau jual!”

“Ampun... ampun....” Ma Cun menyembah-nyembah ketakutan, keringat dingin sebesar kedelai keluar dari tubuhnya.

“Dan ingatkah engkau betapa engkau sudah merencanakan pembunuhan terhadap ayah kandungku? Kau racuni dia sampai mati!”

“Bukan aku... ampun, tapi ibumu... ampunkan aku...”

“Pengecut hina! Biar pun kau tebus dengan kedua tanganmu, engkau masih belum dapat membayar hutangmu kepadaku. Kini berikan kedua tanganmu!” Sambil berkata demikian nampaklah sinar pedang berkelebat, yaitu pedang yang tadi dirampas Bun An dari tangan Ma Cun.

Ma Cun menjerit dan kedua tangannya sebatas bawah siku terbabat buntung! Demikian cepatnya pedang itu berkelebat sehingga kedua lengan itu buntung tanpa dirasakan Ma Cun yang baru menjerit setelah melihat betapa kedua lengannya tak bertangan lagi!

Dengan kakinya Bun An menendang kedua potongan lengan itu ke bawah loteng! Semua orang memandang terbelalak, muka mereka pucat karena ngeri melihat dua buah tangan itu melayang jatuh di atas meja judi!

Ma Cun langsung menjerit-jerit ketika Bun An menghardik, “Dan serahkan kedua kakimu untuk membayar hutangmu kepada ibuku!”

Kembali pedang berkelebat dan Ma Cun mengeluarkan jeritan yang lebih mengerikan lagi ketika tiba-tiba saja kedua kakinya sebatas lutut terbabat buntung oleh pedang. Tubuhnya terpelanting, berkelojotan sambil mulutnya masih merintih-rintih, Bun An juga menendang kedua potongan kaki itu ke bawah loteng. Kini semua orang menggigil.

“Sekarang berikan kepalamu untuk membayar hutangmu kepada ayah!”

Pedang berkelebat dan tubuh Ma Cun tidak bergerak lagi, tidak menjerit lagi, melainkan terlihat darah muncrat-muncrat ketika lehernya terbabat buntung oleh pedang. Kepalanya ditendang dan menggelinding ke bawah loteng!

Bun An melemparkan pedangnya dan sekali lompat, dia sudah melayang turun ke bawah loteng. Melihat tumpukan uang di atas meja-meja, juga berserakan di bawah, dia teringat akan kebutuhan ibunya. Dia lalu mengambil semua uang itu, dimasukkan ke dalam taplak meja, dibungkusnya lantas dipanggulnya. Sebelum pergi dia memandang kepada semua orang dan berkata lantang,

“Aku mengambil uang ini bukan merampok, melainkan mengambil kembali sebagian dari harta ibuku yang dihamburkannya di tempat ini. Kalau ada yang penasaran, carilah aku, Siauw-kai!” Lalu dia keluar dari tempat judi itu dengan tenang. Tak ada seorang pun yang berani bergerak melarangnya, bahkan tidak ada yang berani bergerak sebelum Bun An pergi jauh dari tempat itu.

Dengan uang yang diambilnya dari tempat judi, Bun An mengajak ibunya untuk pulang ke dusun tempat asal ibunya. Di dusun ini Bun An membeli rumah sederhana dan sebidang tanah. Atas desakan ibunya dia membuang pakaian jembelnya dan mengenakan pakaian biasa. Kini jadilah dia seorang pemuda yang tampan.

Karena uang yang diambilnya dari rumah judi itu tidak terlalu banyak, hanya cukup untuk membeli sebidang tanah, pakaian untuk dia dan ibunya, juga perabot rumah sederhana, maka uang itu pun lantas habis sehingga Bun An bersama ibunya harus bekerja di ladang untuk keperluan sehari-hari.

Beberapa bulan kemudian, sesudah ibu dan anak itu hidup tenang di dusun itu, Kui Hui mulai membujuk puteranya untuk menikah. “Usiamu sudah cukup, anakku, dan aku pun sudah ingin sekali menggendong cucu. Gadis keluarga Lui di dusun sebelah amat cantik, menjadi kembang dusun-dusun di daerah ini. Aku ingin melamarnya untukmu, anakku.”

Bun An tersenyum. Memang usianya kini sudah dua puluh tahun lebih, dan dia pun sudah pernah melihat gadis yang dimaksudkan oleh ibunya. Gadis keluarga Lui itu bernama Kim Bwe, berusia delapan belas tahun dan memang cantik sekali bagaikan setangkai bunga Bwe! Maka dia pun mengangguk dengan senang, menyatakan setuju.

Pinangan segera diajukan dan diterima dengan senang oleh keluarga Lui, apa lagi karena keluarga itu melihat Bun An adalah seorang pemuda yang amat tampan, juga rajin bekerja dan masih berdarah bangsawan, karena kepada perantara Kui Hui membisikkan bahwa puteranya adalah keturunan keluarga Tang di kota raja yang pernah menjabat kedudukan tinggi.

Pernikahan dilangsungkan dengan sederhana namun cukup meriah bagi penghuni dusun, lantas Bun An memboyong isterinya ke rumahnya. Karena isterinya memang cantik manis dan lembut, maka mudah saja bagi Bun An untuk jatuh cinta kepada Lui Kim Bwe. Sejak pernikahan mereka, selama berbulan-bulan berikutnya kedua orang suami isteri muda ini hidup berenang di dalam lautan kemesraan dan nampaknya saling mencinta.

Namun diam-diam wanita muda yang pernah menjadi kembang dusun itu kadang-kadang merasa menyesal dan kecewa bukan main. Sesudah gairah api birahi mulai mengecil dan tidak sepanas pada masa pengantin baru, isteri yang masih muda belia ini mulai melihat kenyataan betapa dia masuk ke dalam kehidupan keluarga yang sangat sederhana, kalau tidak dapat dinamakan miskin.

Suaminya memang tampan, akan tetapi apa artinya ketampanan kalau kehidupan mereka demikian sederhana, bahkan sama sekali tidak mewah? Memang harus diakuinya bahwa sebagai isteri petani muda, dia tak kekurangan makan. Akan tetapi makanan sederhana, dengan sayur-sayur dan jarang bertemu daging. Dan pakaiannya! Sudah hampir setahun dia menikah tapi belum satu juga pakaiannya bertambah dan dia harus memakai pakaian-pakaian yang dibawanya dari rumah, walau pun memang pakaian itu belum rusak.

Sejak masih muda sekali Kim Bwe menjadi kembang di dusunnya, bahkan kecantikannya terkenal hingga ke dusun-dusun tetangga dan banyak sudah pemuda-pemuda anak orang kaya, bahkan orang-orang yang mempunyai kedudukan seperti kepala dusun dan lain-lain yang tergila-gila kepadanya. Namun orang tuanya malah memilih dan menerima pinangan Tang Bun An!

Tadinya dia menyangka bahwa selain seorang pemuda tampan, tentu Tang Bun An juga anak seorang kaya raya karena bukankah dikabarkan bahwa Tang Bun An adalah putera bangsawan tinggi di kota raja yang telah meninggal? Sebagai putera seorang bangsawan tentu dia sudah menerima banyak warisan! Akan tetapi setelah menjadi isteri Bun An, dia melihat kenyataan bahwa pemuda itu sama sekali tidak memiliki apa pun kecuali sawah ladangnya yang tidak berapa luas, dan rumah yang sangat sederhana pula!

Setelah pernikahan itu berjalan setahun lamanya, barulah wanita muda bernama Lui Kim Bwe itu melihat kenyataan bahwa ketampanan wajah suaminya saja tidak dapat membuat dia merasa bahagia. Selama beberapa bulan wajah tampan itu memang mengasyikkan, tetapi kemudian dia menjadi bosan, apa lagi jika dia melihat wanita-wanita lain yang kaya di dusun itu atau pendatang dari kota, yang mengenakan perhiasan gemerlapan, pakaian sutera halus indah yang mahal, sepatu yang indah pula, naik kereta yang mewah!

Mulailah nyonya muda ini bersikap tidak manis kepada suaminya, bahkan dia mulai suka berkunjung ke rumah tetangganya, seorang janda setengah tua yang disebut Bibi Ciok dan di sini dia melampiaskan kekecewaan dan penyesalan hatinya kepada tetangga ini. Ia sama sekali tidak pernah mau membantu suaminya yang sibuk di sawah ladang, bahkan tidak mau membantu ibu mertuanya yang sibuk di dapur dan di rumah.

Bibi Ciok adalah seorang wanita yang dulu menjadi pelacur di kota, yang setelah tua dan berhasil mengumpulkan banyak uang lalu pulang ke dusun ini dan hidup sebagai seorang janda yang tidak akan kekurangan makan karena memiliki sawah yang cukup. Mendengar keluhan serta celaan Kim Bwe ini, dia tidak tinggal diam melainkan menanggapi, bahkan menyatakan turut menyesal mengapa Kim Bwe yang pernah menjadi kembang beberapa buah dusun di sekitar situ, yang diperebutkan oleh banyak orang kaya, sekarang menjadi seorang isteri seorang pria yang miskin!

“Kasihan sekali engkau ini, Kim Bwe,” demikian antara lain Bi Ciok berkata dan karena dia sudah akrab sekali dengan nyonya muda ini maka dia memanggil namanya begitu saja. “Seorang wanita muda yang cantik jelita dan manis seperti engkau ini, kalau di kota raja pasti sudah menjadi isteri seorang pemuda kaya raya, bahkan tidak aneh kalau engkau menjadi isteri bangsawan! Sedikitnya isteri muda yang hidup berenang dalam kemuliaan dan kekayaan. Namun di sini engkau hanya menjadi isteri seorang petani. Memang Tang Bun An itu seorang putera bangsawan, akan tetapi bangsawan itu telah meninggal dunia dan kau tahu? Ibunya diusir dari sana karena disangsikan bahwa Tang Bun An itu putera bangsawan Tang, mungkin anak dari hasil hubungan gelapnya dengan perwira pengawal! Dan setelah keluar dari keluarga Tang, ibu Bun An itu menjadi seorang pelacur!”

“Ahhh...!” Kim Bwe terbelalak dan mukanya berubah merah.

“Aku berani bersumpah, Kim Bwe! Aku melihat dengan kedua mataku sendiri!” kata Bibi Ciok dan hal ini memang bukan bohong. Karena dia sendiri pernah menjadi pelacur maka pernah pula melihat ibu Bun An yang sangat terkenal ketika mula-mula jadi pelacur.

Demikianlah, Kim Bwe mulai keracunan hatinya dan dia merasa lebih dekat dengan Bibi Ciok dari pada dengan ibu mertuanya. Dan kesempatan ini tak disia-siakan oleh Bibi Ciok yang bermata tajam! Seorang wanita muda seperti Kim Bwe ini, yang sedang mengalami kekecewaan dan penyesalan terhadap suaminya, yang haus akan kemuliaan, kekayaan dan kemewahan, merupakan seekor domba yang jinak dan daging yang lunak bagi para serigala dan buaya. Dia pun melihat kesempatan terbuka lebar baginya untuk mengeduk keuntungan sebanyaknya.

Demikianlah, sebagai seorang wanita yang berpengalaman Bibi Ciok dapat menghubungi Lai-jung-cu (Lurah Lai), yaitu lurah dari dusun tempat Kim Bwe yang pernah tergila-gila kepada Kim Bwe. Lurah ini kaya raya dan terkenal mata keranjang, dan pernah Bibi Ciok mencarikan seorang gadis dusun untuk menjadi mangsa lurah yang haus perempuan ini. Oleh karena itu maka dia berani menghubungi Lai-jung-cu dan menceritakan bahwa dia mampu membantu lurah itu kalau masih ada gairah besar terhadap Lui Kim Bwe yang kini telah menjadi nyonya Tang Bun An.

Mendengar ini tentu saja sang lurah yang mata keranjang menjadi girang sekali. Bibi Ciok menceritakan pula betapa setelah menikah, Kim Bwe kini bagaikan setangkai bunga yang menjadi mekar semerbak harum dan sangat menggairahkan. Tentu saja mula-mula sang lurah merasa khawatir dan tidak percaya, namun Bibi Ciok menenangkan hatinya.

“Kalau memang Jung-cu berhasrat, jangan khawatir. Saya akan mengaturnya dan takkan ada seorang pun yang mengetahuinya. Setiap hari suaminya sibuk di sawah, ada pun ibu mertuanya sibuk di dapur. Hampir setiap hari si denok cantik itu bermain-main ke rumah saya dan dia seperti anak saya sendiri!”

Lalu keduanya mengatur siasat. Sang lurah akan berkunjung ke rumah janda tua ini, dan sang janda yang akan mengatur agar kedua orang itu akan dapat bertemu di rumahnya!

Bibi Ciok juga mulai mengatur siasat di rumahnya, bagai seekor laba-laba yang membuat jaring halus untuk membuat perangkap dan menangkap lalat yang bukan lain adalah Kim Bwe! Seperti sambil lalu mulailah dia bercerita kepada Kim Bwe ketika nyonya itu datang berkunjung, betapa dia baru saja pulang dari dusun tempat asal Kim Bwe. Wanita muda itu tentu saja segera tertarik dan mendengarkan dengan penuh perhatian.

“Kebetulan sekali aku bertemu dengan Lai-jung-cu. Engkau tahu lurah dari dusunmu itu, yang masih gagah dan ramah sekali? Juga dia terkenal kaya dan dermawan.”

Kim Bwe mengangguk. Tentu saja dia mengenal lurah itu, bahkan sudah dikenalnya sejak dia masih kecil.

“Kau tahu, Kim Bwe, Lai-jung-cu itu masih terhitung saudara misanku. Ketika kuceritakan bahwa engkau kini tinggal bertetangga dengan aku dan sering kali datang berkunjung, dia kegirangan bukan main dan bertanya banyak sekali tentang dirimu. Nampaknya dia rindu sekali kepadamu, Kim Bwe.”

Kim Bwe mengerutkan alisnya dan mukanya berubah merah. “Ahh, kenapa begitu? Dia tidak mempunyai hubungan dengan aku.”

“Aihhh! Benarkah engkau tidak tahu, Kim Bwe? Semenjak dahulu lurahmu itu tergila-gila kepadamu dan dia sangat mencintaimu, Kim Bwe. Mencintai setengah mati dan dia mau mengorbankan apa pun asal dapat bertemu denganmu!”

“Ah, Bibi Ciok...!” Kim Bwe menjerit kecil dan pura-pura marah. “Aku tak mau mendengar orbrolanmu ini dan biarlah aku pulang saja!” Dia memperlihatkan sikap marah dan bilang hendak pulang, akan tetapi tidak beranjak dari kursinya!

Bibi Ciok yang berpengalaman itu lalu menubruk dan merangkulnya. “Maafkan aku, anak baik. Bukan maksudku untuk membikin kau kikuk dan tidak enak hati. Aku hanya berkata yang sesungguhnya saja. Dan dia, lurah itu, juga tidak bermaksud menghinamu. Dia amat menghormatimu dan menghargaimu seperti seorang bidadari dari langit!”

Demikianlah, sedikit demi sedikit sang laba-laba mulai memancing dan memasang umpan pada perangkapnya untuk menjebak lalat itu! Dengan rayuan mautnya, Bibi Ciok akhirnya berhasil membujuk Kim Bwe untuk berwajah cerah lagi, bahkan mendengarkan wanita tua itu mengobrol dan memuji-muji lurah Lai itu.

Dia mengatakan bahwa lurah itu belum begitu tua dan masih amat kuat, bahkan sangat terkenal di kalangan para wanita sebagai seorang pencinta dan perayu besar yang pandai menyenangkan hati wanita. Selain itu dia royal pula dengan hadiahnya sehingga banyak wanita-wanita muda, baik masih perawan, janda mau pun yang masih bersuami, bermimpi untuk dapat dipilih lurah itu menjadi kekasihnya!

Malam itu Kim Bwe tidak dapat tidur setelah dijejali banyak pujian-pujian atas diri lurah itu. Dia membayangkan wajah Lurah Lai yang selamanya belum pernah diingatnya!

Sesuai dengan siasat yang telah diatur oleh Bibi Ciok, beberapa hari kemudian muncullah Lurah Lai selagi Kim Bwe pagi-pagi sudah datang berkunjung! Dari luar lurah itu sudah berteriak-teriak memanggil Bibi Ciok yang berpura-pura kaget.

Tentu saja muka Kim Bwe seketika menjadi merah dan dia pun bangkit hendak pergi dari situ. Akan tetapi Bibi Ciok cepat mencegahnya.

”Aihh, Kim Bwe, ini terjadi hanya secara kebetulan saja. Engkau tamuku, dan dia datang bertamu, apa salahnya? Kalau engkau pergi berarti menghinanya dan juga membuat aku merasa tidak enak sekali. Duduklah dan tinggallah sebentar saja!” Kim Bwe pun terpaksa duduk kembali.

Muncullah lurah itu dengan pakaian mewah dan rambutnya yang tersisir rapi! Dan kedua tangannya membawa beberapa gulung kain sutera beraneka warna, indah sekali.

“Bibi Ciok, aku datang membawa hadiah untukmu!” katanya pura-pura tidak melihat Kim Bwe yang duduk di sudut.

Bibi Ciok menyambut dengan girang bukan main. Ia menerima gulungan-gulungan sutera itu dan memuji-mujinya. Pada saat itu agaknya barulah lurah itu melihat Kim Bwe dan dia pun berseru kaget.

“Aih, Bibi Ciok...! Siapa... siapa... ah, apakah ada seorang dewi dari langit yang turun...?”

Bibi Ciok tertawa genit. “Ihh, masa Jung-cu lupa? Dia adalah Kim Bwe!”

“Ya Tuhan...!” Lurah itu berseru dan matanya terbelalak, memandang kagum sekali. “Dia tiada ubahnya seorang bidadari... ahhh, maaf, sungguh aku tidak mengenalmu lagi nona Kim Bwe... ehh, sekarang nyonya ya, maafkan aku.”

Semenjak tadi Kim Bwe menundukkan mukanya yang menjadi merah sekali bagai udang direbus, akan tetapi membuat mukanya menjadi semakin cantik, mulutnya menyungging senyum dan matanya melirik dari bawah. “Ahh, Jung-cu terlalu memuji... Bibi, aku pamit pulang saja...”

“Nanti dulu... engkau duduklah sebentar...!” kata Bibi Ciok yang segera pergi ke belakang pura-pura hendak mengambil minuman.

“Benar, nyonya, bukankah sejak dahulu kita telah saling mengenal. Ahh, kebetulan sekali hari ini hari baik, aku menerima banyak keuntungan dari kota raja, dari penjualan rempah-rempah dan aku sedang suka sekali memberi hadiah. Bibi Ciok kuhadiahi kain-kain sutera dan aku pun ingin memberikan hadiah kepadamu. Wah, tapi apa ya? Tak ada yang cukup berharga untukmu. Biar kuambilkan dari rumah, kupilih yang paling berharga. Akan tetapi, sementara ini terimalah sedikit barang ini...” Dia lantas mengeluarkan sebuah kotak kecil dari saku bajunya, membuka kotak kecil itu dan menyerahkannya kepada Kim Bwe.

Dari sudut matanya Kim Bwe melihat kotak kecil terbuka itu dan mukanya berubah pucat kemudian merah kembali. Kotak itu berisi perhiasan dari emas permata yang membuat jantungnya berdebar tidak karuan! Belum pernah dia melihat perhiasan seindah itu, apa lagi memakainya! Dia tidak berani menerima dan hanya menundukkan mukanya.

Pada saat itu pula Bibi Ciok keluar membawa seguci arak. Melihat lurah itu meletakkan sebuah kotak terbuka berisi perhiasan di atas meja di depan Kim Bwe, dia mengeluarkan seruan kagum.

“Aihhh...! Perhiasan yang begini indah! Kim Bwe, engkau boleh menerima pemberian itu. Ahh, cobalah betapa pantasnya engkau memakai perhiasan ini!”

Setengah memaksa nenek itu segera mengenakan gelang dan cincin di tangan Kim Bwe yang membiarkannya saja sambil menundukkan mukanya. Pada waktu Bibi Ciok hendak memasangkan hiasan rambut dan kalung, lurah itu menghampiri dan berkata,

“Biarlah aku yang membantu memakaikannya!”

Antara lurah itu dengan Bibi Ciok lalu terjadi permainan mata. Dan seperti sudah mereka rencanakan, setelah melihat betapa Kim Bwe mandah saja, hal itu berarti bahwa umpan serta pancingan mereka mengena. Bibi Ciok tersenyum, mengangguk dan dia pun keluar dari rumahnya sendiri untuk berjaga di luar!

Lurah Lai lalu mengambil hiasan rambut dan mengenakan hiasan itu di rambut kepala Kim Bwe. Wanita ini menggerakkan kepala seperti hendak mencegah dan dia kelihatan gugup melihat betapa pintu depan ditutup dari luar oleh Bibi Ciok. Akan tetapi Lurah Lai berseru,

“Aihh, alangkah indahnya rambutmu! Betapa hitam, halus, panjang, dan harum pula. Dan cocok sekali memakai hiasan rambut. Dan ini kalungnya, biarlah kupakaikan juga...”

Dan dia pun mengenakan kalung itu di leher Kim Bwe, menyetuh kulit leher, membelainya dan di lain saat, lurah itu telah merangkul leher Kim Bwe, menciumi leher itu, lalu ke muka dan akhirnya memondong Kim Bwe memasuki kamar Bibi Ciok!

Kim Bwe hampir pingsan karena malu dan jantungnya berdebar tegang, namun dia tidak berani berteriak karena malu, dan juga pemberian itu telah melunakkan hatinya maka dia pun mandah saja ketika Lurah Lai menyatakan cinta dan kagum dengan perbuatan.

Demikianlah, betapa berbahayanya menjadi seorang wanita apa bila menghadapi rayuan pria. Pria yang sudah tergila-gila kepada seorang wanita akan menggunakan segala daya upaya untuk menjatuhkannya! Dia tahu saja apa yang menjadi kelemahan hati seorang wanita! Dan kelemahan itu yang disinggungnya sehingga si wanita akan jatuh dan takluk!

Ketika perbuatan hina itu dilakukan oleh kedua orang dalam kamarnya, Bibi Ciok duduk di luar, tersenyum-senyum sambil menghitung-hitung keuntungan yang akan didapatnya dari perjinahan antara dua orang yang sudah lupa diri itu.....


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner