SI KUMBANG MERAH : JILID-08


Di lubuk hatinya yang paling dalam, kakek Cia Kong Liang sendiri harus mengakui bahwa permainan silat Gouw Kian Sun itu memang sudah mendekati kesempurnaan, gerakan-gerakannya mantap dan matang. Dan dia pun bukan tidak tahu bahwa gerakan silat Cun Sek tadi berbau percampuran gerakan silat asing. Akan tetapi karena dia sudah condong untuk memilih Cun Sek yang dipercayanya akan mampu memimpin Cin-ling-pai dengan baik dan bisa memajukan perkumpulan itu, maka dia pun memberi nilai yang lebih tinggi kepada pemuda itu.

Berbeda dengan Tang Cun Sek yang tadi menutup permainan silatnya dengan jurus Ilmu Pedang Siang-bhok Kiam-sut (Ilmu Pedang Kayu Harum), kini Gouw Kian Sun menutup ujiannya dengan permainan tongkat berpasangan yang disebut Siang-liong-pang (Tongkat Sepasang Naga). Dalam ilmu mempergunakan senjata ini pun gerakan Kian Sun sangat mantap dan jelas dia merupakan seorang lawan yang amat tangguh. Cia Hui Song sendiri diam-diam memuji kemajuan sutenya ini.

Ketika pria berumur empat puluh tahun itu berhenti bersilat, para pendukungnya bertepuk tangan memuji, termasuk Kui Hong yang bertepuk tangan paling keras dan panjang! Dara ini secara terang-terangan mendukung susiok-nya itu.

Namun pada saat itu pula suara kongkong-nya sudah menyebut namanya sebagai tanda bahwa tiba saatnya dia diharuskan menunjukkan kemampuannya bersilat sebagai salah seorang di antara tiga orang calon ketua yang dipilih oleh para anggota Cin-ling-pai.

"Kongkong, haruskah aku turut maju pula? Bukankah sudah jelas bahwa ilmu silat susiok tadi jauh lebih baik dan asli? Susiok Gouw Kian Sun adalah orang yang paling cocok dan tepat untuk menjadi ketua Cin-ling-pai yang baru menggantikan ayah kalau ayah memang mengundurkan diri!" Suaranya lantang didengar semua orang dan kakeknya mengerutkan kening.

"Cia Kui Hong," kakeknya berkata dengan suara yang lantang pula. "Menurut peraturan pemilihan ketua, setiap calon harus maju dan memperlihatkan kemampuannya. Sesudah itu baru diadakan pertandingan untuk menentukan siapa di antara para calon yang paling pandai sehingga tepat untuk menjadi ketua Cin-ling-pai yang baru. Nah, kini perlihatkanlah kemampuanmu!"

Kui Hong menghela napas panjang. Dia telah mengenal watak kakeknya yang keras hati. Kakeknya ini sudah menganggap bahwa Tang Cun Sek yang paling tepat untuk menjadi ketua karena memang dianggapnya paling baik. Dan agaknya kakeknya sudah demikian yakin akan kemenangan Tang Cun Sek!

Tidak, dia yang akan menentangnya, bukan menentang kehendak kakeknya, akan tetapi menggagalkan pemuda itu menjadi ketua Cin-ling-pai! Kalau perlu dia sendiri akan turun tangan dan menjadi pengganti ayahnya! Tentu saja dia harus mampu mengalahkan Tang Cun Sek dan dia harus mengerahkan seluruh kepandaiannya karena dia maklum betapa lihainya pemuda pilihan kakeknya itu.

Kalau pemuda itu berhasil memenangkan pemilihan ketua dan menjadi ketua baru, tentu kakeknya akan melanjutkan niatnya menjodohkan pemuda itu dengannya. Memang harus dia akui bahwa Cun Sek seorang pemuda yang tampan, gagah dan pandai ilmu silatnya, baik pula sikapnya. Akan tetapi entah mengapa, ada sesuatu pada diri pemuda itu yang tidak disukainya. Dia sendiri tidak mengerti mengapa dan apakah gerangan sesuatu itu.

Ketika Kui Hong bangkit dan berjalan ke tengah panggung, para pendukungnya segera menyambutnya dengan tepuk tangan yang meriah. Juga para tamu banyak yang bertepuk tangan, terutama sekali para undangan.

Memang Kui Hong nampak cantik bukan kepalang. Dia mengenakan celana biru dan baju merah muda, dengan sabuk berwarna kuning keemasan. Rambutnya digelung ke atas dan dihias tusuk sanggul dari emas yang berbentuk burung Hong dengan mata intan. Bibirnya tersenyum manis sekali, matanya tajam bersinar. Gadis berusia sembilan belas tahun ini bagai kembang yang sedang mekar semerbak mengharum. Bukan hanya nampak cantik jelita, akan tetapi juga gagah sekali.

Pada saat dia memberi hormat kepada para tamu, semua orang tersenyum dan yang tua mengangguk-angguk sedangkan yang muda ramai bertepuk tangan. Sepasang mata Cun Sek juga menyinarkan api penuh kagum, dan diam-diam dia membayangkan betapa akan senangnya jika dia dapat menjadi ketua Cin-ling-pai dengan dara jelita itu duduk di sisinya sebagai isterinya!

Sambil mengamati dara yang semenjak kepulangannya ke Cin-ling-pai telah membuatnya tergila-gila itu, Tang Cun Sek mengenang keadaan dirinya dan riwayatnya sendiri. Dia tak pernah mengenal ayah kandungnya sendiri. Pada saat dia sudah mulai dapat berpikir, dia mengajukan pertanyaan kepada ibunya kenapa dia memiliki she (nama keturunan) Tang, pada hal ‘ayahnya’ seorang hartawan she Thio.

Ibunya dengan terus terang menceritakan bahwa ketika ibunya menikah dengan hartawan Thio, dia sudah menjadi seorang janda yang masih sangat muda, baru berusia dua puluh tahun, ada pun Cun Sek berusia tiga tahun. Ibunya melahirkan ketika berusia tujuh belas tahun, masih muda sekali. Mengenai ayah kandungnya, dengan sepasang alis berkerut ibunya bercerita begini:

"Ayah kandungmu adalah seorang she Tang. Aku sendiri tidak tahu namanya karena dia tak pernah mengaku, akan tetapi dia adalah seorang yang sakti dan dia memperkenalkan julukannya sebagai Ang-hong-cu (Si Kumbang Merah). Dan aku pun bukan isterinya, dia... dia memaksaku dengan ancaman mati sehingga aku terpaksa melayaninya. Selama tiga bulan dia sering datang ke kamarku di malam hari dan setelah aku mengandung, dia pun meninggalkan aku dan hanya meninggalkan benda ini agar kelak engkau mengenalnya. Inilah benda itu," demikian cerita ibunya sambil menyerahkan sebuah benda kecil yang selalu disimpan olehnya secara rahasia dan tak pernah terpisah dari tubuhnya. Benda itu sebuah mainan berbentuk seekor kumbang merah terbuat dari emas dan permata. Hanya itulah yang diketahuinya tentang ayah kandungnya.

"Orangnya tampan sekali dan pandai merayu, tubuhnya sedang, akan tetapi dia seperti iblis, datang dan pergi seperti pandai menghilang saja," demikian kata ibu kandungnya.

Sejak berusia tiga tahun dia hidup di rumah gedung Thio Wan-gwe (Hartawan Thio) yang dipanggilnya ayah karena memang merupakan ayah tirinya. Agaknya ayah tirinya tak mau mengakuinya sebagai anak sendiri sehingga ibunya terpaksa memberinya she Tang, yaitu nama keturunan jai-hwa-cat (penjahat pemerkosa wanita) yang juga she Tang.

Sebagai putera keluarga kaya raya, walau pun hanya anak angkat saja, dia hidup serba kecukupan, mewah dan dimanja, tetapi semenjak kecil Cun Sek memiliki kecerdikan yang lebih dari anak-anak biasa. Pada mulanya dia mempelajari kesusasteraan dengan sangat tekun, akan tetapi setelah berusia sepuluh tahun, dia mempergunakan banyak uang yang diperoleh dari ibunya untuk belajar ilmu silat!

Diam-diam dia menanam bibit dendam kebencian kepada orang yang oleh ibunya disebut Ang-hong-cu, ayah kandungnya sendiri karena orang itu setelah memperkosa ibunya dan ibunya mengandung dia kemudian meninggalkan ibunya begitu saja! Karena ibunya selalu menuruti permintaannya dan Cun Sek menghamburkan banyak sekali uang, dia pun bisa mempelajari banyak macam ilmu silat. Karena dia memang berbakat sekali, maka dia pun dapat menguasai bermacam-macam ilmu silat.

Akan tetapi ada satu kelemahan dalam diri pemuda yang cerdik dan berbakat, juga penuh semangat ini. Semenjak berusia enam belas tahun dia telah mulai memperhatikan wanita. Bukan sekedar memperhatikan, bahkan dia mulai terangsang bila bertemu wanita cantik.

Ayah tirinya mempunyai lima orang selir dan di antara mereka, ada dua orang selir yang masih sangat muda, berusia delapan belas tahun. Dua orang selir ini mulai bermain mata dengan Cun Sek yang berusia enam belas tahun. Hal yang sukar untuk dihindarkan pun terjadilah!

Cun Sek mulai bermain cinta dengan dua orang selir muda itu. Kedua orang selir itu yang menjadi ‘guru’ Cun Sek dan membuat dia seakan-akan seekor kuda yang terlepas dari kendali, menjadi liar dan menjadi seorang pengumbar nafsu yang tidak ketulungan lagi!

Akhirnya persaingan dan kebencian di antara para selir membuat hubungan itu diketahui oleh Thio Wan-gwe yang mendapat bisikan dari selir yang lain. Dan Cun Sek tertangkap basah! Ayah tirinya marah sekali kemudian Cun Sek diusirnya!

Pemuda ini juga memiliki harga diri yang tinggi. Merasa bahwa dia memang bukan anak kandung hartawan itu, maka dia pun pergi sambil membawa banyak sekali emas permata yang didapat dari ibunya yang amat memanjakannya. Mulailah Tang Cun Sek bertualang, bebas seperti seekor burung di udara!

Dengan hartanya yang sangat banyak, dia mencari guru demi guru silat yang pandai dan mempelajari pelbagai llmu silat, baik dari golongan putih mau pun dari gerombolan hitam. Selain itu dia pun sering mengumbar nafsunya, berkecimpung dalam dunia kesenangan bersama wanita-wanita pelacur. Dan dia pun menjadi seorang kongcu hidung belang yang kaya raya dan yang menghambur-hamburkan uang untuk dilayani para wanita cantik dan menerima pelajaran silat dari guru-guru yang pandai.

Akhirnya Cun Sek pun mulai bosan dengan pergaulannya dalam dunia pelacuran itu dan melanjutkan kehausannya akan ilmu silat sampai dia pergi mengunjungi guru-guru yang pandai di puncak-puncak gunung, mengangkat guru kepada siapa saja yang dia anggap mempunyai kepandaian tinggi.

Berkat pengetahuannya yang cukup luas melalui bacaan, disertai sikap pandai membawa diri, maka banyak sudah orang-orang pandai di dunia persilatan menganggap dia sebagai seorang calon pendekar budiman sehingga mereka pun tidak segan untuk mengajarkan ilmu silat mereka kepada pemuda ini. Bahkan, pada saat mendengar tentang Cin-ling-pai, Tang Cun Sek dalam usia dua puluh enam tahun kemudian datang menghadap pimpinan Cin-ling-pai untuk menjadi murid perkumpulan silat yang besar dan terkenal itu.

Demikianlah riwayat yang dikenang kembali oleh Tang Cun Sek pada saat dia mengamati gadis cantik di panggung itu. Tentu saja dia menyimpan rapat-rapat riwayatnya ini sebagai rahasia pribadinya. Dia memperkenalkan dirinya sebagai Tang Cun Sek seorang pemuda yatim piatu yang suka mempelajari ilmu silat tinggi, dan karena sikapnya memang sangat baik, sopan dan halus, pandai membawa diri dan pandai menyenangkan hati orang lain melalui sikap dan tutur sapanya, dia pun diterima menjadi anggota Cin-ling-pai dan dapat mempelajari ilmu-ilmu silat milik Cin-ling-pai. Demikian pandainya dia menyenangkan hati orang sehingga kakek Cia Kong Liang sendiri sampai terpikat dan berkenan mengajarkan ilmu-ilmu simpanan Cin-ling-pai kepada pemuda ini.

Kini Kui Hong sudah mulai bersilat. Seperti dua orang calon sebelumnya, Kui Hong juga memainkan ilmu-ilmu silat Cin-ling-pai. Dia langsung mengerahkan seluruh tenaga berikut kepandaiannya karena dia ingin melebihi Cun Sek dalam segala-galanya!

Sebagai keturunan ketua Cin-ling-pai, dalam hal ilmu silat Cin-ling-pai tentu saja dia telah menguasai semua ilmu dengan baik. Akan tetapi kalau dibandingkan dengan Gouw Kian Sun, tentu saja dia masih kalah matang karena susiok-nya itu sudah menguasai ilmu-ilmu ini selama puluhan tahun, dan terutama sekali karena setiap hari Gouw Kian Sun selalu mempraktekkannya untuk melatih para murid Cin-ling-pai.

Akan tetapi, karena gadis ini baru saja langsung digembleng oleh kakek dan neneknya di Pulau Teratai Merah, maka dia telah memperoleh kemajuan hebat dalam hal sinkang dan ginkang sehingga ketika bergerak tubuhnya bagai kilat menyambar-nyambar. Kecepatan gerakannya melebihi kecepatan Cun Sek dan hal ini memang disengaja oleh Kui Hong untuk mengurangi kesan baik yang diperoleh Cun Sek dalam pameran silatnya tadi.

Kini tubuh gadis ini sukar diikuti pandangan mata. Tubuhnya berkelebat-kelebat menjadi bayangan warna-warni, merah biru dan kuning, sementara angin menyambar-nyambar ke semua penjuru karena dorongan tangan serta tendangan kakinya. Para penonton sampai terpesona karena apa yang diperlihatkan Kui Hong itu memang sangat indah dan amat hebat pula. Cun Sek sendiri terpesona dan dia semakin tergila-gila kepada gadis itu.

Sesudah memainkan beberapa macam ilmu silat Cin-ling-pai, Kui Hong lantas mencabut sepasang pedang pemberian dari neneknya, yaitu Hok-mo Siang-kiam (Sepasang Pedang Penakluk Iblis) yang berwarna hitam sehingga nampak dua gulung sinar hitam. Dan gadis ini segera memainkan kedua pedangnya itu dengan ilmu pedang Hok-mo Siang-kiam-sut yang dipelajarinya dari neneknya!

Bukan main hebatnya ilmu pedang ini. Terdengar suara mengaung-ngaung tinggi rendah yang diselingi suara berdesing-desing, dan yang nampak hanyalah dua gulungan cahaya hitam yang menyeramkan dan dahsyat sekali. Tidak aneh karena ilmu pedang ini adalah ilmu dari nenek gadis itu yang bernama Toan Kim Hong. Pada waktu mudanya, Toan Kim Hong ini sudah terkenal dengan menyamar sebagai seorang nenek berjuluk Lam Sin dan termasuk seorang di antara tokoh-tokoh dan para datuk aneh di empat penjuru dunia!

Seluruh murid Cin-ling-pai memandang bingung. Permainan sepasang pedang itu tidak mereka kenal sama sekali! Biar pun amat hebat, namun jelas bukan ilmu silat Cin-ling-pai, maka mereka saling pandang dengan heran walau pun hati mereka merasa kagum sekali. Baru dimainkan sendirian saja sudah dapat terlihat jelas betapa ampuh dan kuatnya ilmu sepasang pedang itu, membuat orang merasa jeri.

Setelah selesai bersilat pedang pasangan dan memberi hormat kepada penonton, semua tamu bertepuk tangan memuji. Banyak di antara tamu yang tidak hafal akan ilmu-ilmu Cin-ling-pai dan mengira bahwa ilmu bermain sepasang pedang itu pun merupakan ilmu dari Cin-ling-pai. Melihat sambutan meriah yang diberikan para tamu kepada cucunya, Cia Kong Liang menggapai dan memanggil cucunya itu. Setelah Kui Hong duduk di dekatnya, dia menegur.

"Kui Hong, kalau tidak salah, engkau tadi memainkan ilmu pedang dari nenekmu di Pulau Teratai Merah! Itu bukan ilmu dari Cin-ling-pai!" Teguran itu mengandung nada yang tidak senang. Memang sejak dahulu tokoh Cin-ling-pai ini tidak begitu suka terhadap Pendekar Sadis dan isterinya, terutama isteri Pendekar Sadis yang tadinya seorang datuk sesat!

Akan tetapi Kui Hong adalah seorang gadis yang keras hati pula, dan dia tidak akan sudi mengalah terhadap siapa pun juga apa bila merasa bahwa dia benar. Mendengar teguran kongkong-nya itu, dia pun berkata, walau pun suaranya lirih namun terdengar tegas.

"Kongkong, siapa pun tahu bahwa permainan Tang Cun Sek tadi tidak asli sebab berbau ilmu silat dari luar, akan tetapi kongkong tidak menegur atau mencelanya. Aku sengaja memperlihatkan Hok-mo Siang-kiam agar dia tahu bahwa aku pun mempunyai ilmu lain di luar ilmu-ilmu Cin-ling-pai asli."

Kakek itu mengenal watak cucunya ini, maka dia menghela napas panjang lantas berkata lantang, "Ketiga orang calon ketua telah memperlihatkan kepandaiannya masing-masing! Ternyata ketiganya memiliki tingkat yang sudah tinggi dan juga matang dalam ilmu-ilmu silat Cin-ling-pai. Oleh karena itu, untuk menentukan siapa yang paling pandai di antara mereka, akan diadakan pertandingan antara mereka. Pertama kali akan berhadapan calon pertama dan ke dua, yaitu Tang Cun Sek dan Gouw Kian Sun!"

Dua orang itu memberi hormat lalu menuju ke tengah panggung. Sebelum pemilihan itu dimulai, mereka sudah menerima petunjuk dari ketua Cin-ling-pai bahwa pertandingan itu diadakan menurut pilihan kedua calon yang berhadapan, dengan tangan kosong ataukah dengan senjata. Dan mengingat bahwa semua calon adalah anggota keluarga perguruan sendiri, maka tentu saja mereka harus dapat menjaga agar jangan sampai melukai lawan dengan parah, apa lagi sampai membunuhnya. Pertandingan semacam ini membutuhkan keahlian dan kemampuan yang mendalam, yaitu mengenai sasaran tanpa mendatangkan luka parah.

Dengan sikapnya yang memang selalu menyenangkan, Tang Cun Sek memberi hormat kepada lawannya yang masih terhitung susiok-nya sendiri, bahkan susiok ini pulalah yang lebih banyak membimbingnya dalam latihan ilmu-ilmu silat Cin-ling-pai, kemudian berkata,

"Susiok, maafkan bila hari ini teecu memberanikan diri menjadi calon lawan susiok karena terpaksa dipilih sebagai calon. Teecu menyerahkan kepada susiok cara apa yang susiok pilih."

Ucapan ini memang halus dan sopan, namun tidak urung mengandung nada menantang dan bahkan memandang rendah kepada sang paman guru sehingga pemuda itu bersikap mengalah dan mempersilakan susiok-nya itu memilih cara pertandingan. Dia seolah-olah hendak melayani saja.

Gouw Kian Sun memandang tajam, lalu menarik napas. Dia pun bukan seorang bodoh. Dia tahu bahwa suhu-nya, ketua lama, condong berpihak dan memilih pemuda ini, dan dia pun tahu bahwa sebelum menjadi murid Cin-ling-pai, pemuda ini sudah memiliki ilmu silat yang tinggi. Meski pada mulanya dia menaruh curiga dan tidak mengerti kenapa pemuda yang sudah pandai ini mau menjadi murid Cin-ling-pai, akan tetapi melihat betapa suhu-nya amat menyayang pemuda ini, maka dia pun menghilangkan kecurigaannya.

"Cun Sek, kita adalah orang sendiri, tak perlu mempergunakan senjata. Engkau atau pun aku yang menjadi ketua, apa bedanya? Mari kita mulai, dengan tangan kosong saja."

"Tahan dulu!" Tiba-tiba Cia Kong Liang berseru keras lantas dia menyuruh seorang murid Cin-ling-pai supaya mengambil dua batang mouw-pit (pena bulu) dan tinta bak. Kemudian dia pun berkata kepada dua orang calon ketua itu. "Agar lebih mudah menentukan siapa pemenangnya, kalian gunakanlah mouw-pit yang sudah dicelup tinta untuk saling serang. Pada akhir pertandingan, siapa yang ternyata lebih banyak terkena goresan atau totokan hitam pada pakaiannya, dialah yang kalah."

Baik Cun Sek mau pun Gouw Kian Sun menerima baik perintah ini, apa lagi memang tak akan terasa enak dalam hati kalau sampai mereka saling melukai. Betapa pun pandainya mereka, jika sampai terjadi sebuah pertandingan yang seimbang baik kekuatan mau pun kemahiran ilmunya, bukan tidak mungkin mereka takkan mampu mengendalikan diri dan kesalahan tangan melukai lawan. Dengan mouw-pit mereka dapat menotok atau mencoret pada bagian tubuh yang tertutup pakaian, biar pun tidak perlu menotok keras, cukup kalau sudah menodai bagian pakaian itu sebagai bukti bahwa mereka berhasil saling melukai.

Pertandingan itu pun dimulai. Karena mouw-pit itu panjangnya hanya sejengkal dan dijepit di antara jari tangan yang terkepal, maka pertandingan itu lebih menyerupai pertandingan tangan kosong. Mereka berdua kini berhadapan, kedua tangan terkepal sambil menjepit mouw-pit di tangan masing-masing, memasang kuda-kuda yang sama, yaitu kuda-kuda dari ilmu silat Thian-te Sin-ciang.

"Silakan, susiok!" kata Cun Sek.

Ucapan ini juga nampaknya saja dia menghormati susiok-nya agar menyerang lebih dulu, padahal mereka berdua sama tahu bahwa dalam hal pertandingan semacam ini, seperti halnya latihan saja karena masing-masing mempergunakan ilmu silat yang sama, siapa menyerang lebih dahulu maka memiliki titik kelemahan.

Gouw Kian Sun mengeluarkan seruan keras sebagai isyarat serangannya dan Cun Sek mengelak sambil membalas, dan mulailah keduanya serang menyerang mempergunakan ilmu silat Thian-te Sin-ciang. Mereka bertanding dengan pengerahan tenaga dan seluruh kepandaian sehingga nampak seru sekali. Mereka saling serang dan mengganti ilmu-ilmu silat mereka.

Bagi para ahti silat Cin-ling-pai, nampak betapa setiap kali lawannya mendesak dan dia berada dalam ancaman pukulan atau lebih tepat colekan mouw-pit, Cun Sek tidak segan-segan untuk mempergunakan suatu gerakan yang menyimpang atau bukan gerakan ilmu silat Cin-ling-pai. Suatu gerakan reflek untuk menghindarkan diri dari serangan dan dalam gerakan ini secara otomatis akan keluar ilmu yang bukan merupakan ilmu-ilmu dari Cin-ling-pai yang dikuasainya!

Akan tetapi gerakan kedua orang jagoan ini demikian cepat sehingga kalau bukan ahli silat Cin-ling-pai, hal ini tidak akan nampak. Bahkan para murid Cin-ling-pai yang belum mencapai tingkat tertinggi juga tidak dapat membedakannya. Hanya Cia Kong Liang, Cia Hui Song, Ceng Sui Cin, Cia Kui Hong, dan beberapa orang murid kepala saja yang dapat mengetahuinya.

Seperti sudah ditentukan dalam peraturan adu kepandaian itu, setelah sebatang hio (dupa biting) yang di awal pertandingan tadi dinyalakan kini habis terbakar, maka pertandingan langsung dihentikan dan para wasit menghitung jumlah noda yang terdapat pada pakaian masing-masing. Tentu saja dengan mudah dapat dilihat bahwa pada pakaian Gouw Kian Sun lebih banyak terdapat noda dan coretan. Hal ini berarti bahwa dia telah kalah.

Dengan diam-diam Gouw Kian Sun mengerutkan alisnya. Mulailah dia merasa tidak suka terhadap Cun Sek, bukan karena iri, bukan karena dia dinyatakan kalah, melainkan dia melihat betapa murid keponakan itu ternyata seorang yang amat curang dan licik. Dia tadi melihat Cun Sek banyak menggunakan jurus ilmu silat lain yang dibaurkan dengan jurus ilmu silat Cin-ling-pai.

Bukan itu saja kelicikan pemuda itu. Juga dia tadi melihat betapa setiap menyerangnya, pemuda itu menggerak-gerakkan kedua mouw-pitnya sedemikian rupa sehingga tinta bak dari ujung bulu pena itu memercik hingga menodai pakaiannya! Percikan yang membuat noda pada pakaiannya itu bukan seluruhnya disebabkan tepatnya serangan kedua mouw-pit di tangan Cun Sek, melainkan sebagian besar karena percikan itulah. Dari hal ini saja dapat diketahui alangkah curangnya pemuda itu. Dalam pengumpulan noda pada pakaian lawan, tentu saja Cun Sek memperoleh kemenangan yang banyak.

Dengan sikap gembira kakek Cia Kong Liang lalu mengumumkan bahwa pemenangnya adalah Tang Cun Sek, calon ketua nomor satu dan sekarang akan diadakan pertandingan antara calon nomor satu dengan calon nomor tiga. Untuk itu Cun Sek diharuskan berganti pakaian yang bersih lebih dahulu karena pakaiannya sudah berlepotan noda hitam.

Sementara menanti calon lawannya berganti pakaian, kesempatan itu dipergunakan oleh Kui Hong untuk mendekati kongkong-nya. Dia tahu bahwa kalau Tang Cun Sek sampai bisa menjadi calon ketua yang memperoleh banyak pendukung, bahkan sekarang mampu mengalahkan Gouw Kian Sun, hal itu adalah karena dukungan kakeknya ini.

"Kongkong," bisiknya dan hanya kakeknya seorang yang dapat mendengarnya. "Kenapa kongkong membolehkan Cun Sek itu melakukan kecurangan? Dia menggunakan banyak jurus di luar ilmu silat Cin-ling-pai ketika melawan susiok Gouw Kian Sun, bahkan dia juga menodai pakaian Gouw-susiok dengan percikan-percikan dari mouw-pitnya."

Kakeknya memandang kepadanya dan menjawab dalam bisikan pula. "Kui Hong, hal itu menunjukkan kecerdikannya. Dialah yang paling tepat untuk memimpin perkumpulan kita, dapat menambah ragamnya ilmu silat kita. Kiranya engkau tidak perlu maju lagi, cucuku. Untuk apa seorang wanita menjadi ketua? Kalau engkau menjadi isterinya, itu baru tepat."

Kui Hong tidak menjawab, melainkan pergi menjauhkan diri dari kakeknya dengan muka cemberut. Sialan, pikirnya. Kakeknya sudah benar-benar dipengaruhi oleh Tang Cun Sek sehingga sudah bertekad bulat untuk mendukung pemuda itu menjadi ketua Cin-ling-pai. Bukan itu saja, malah agaknya bertekad untuk menjodohkan pemuda itu dengannya.

Kui Hong lantas melakukan persiapan untuk bertanding melawan pemuda yang cerdik itu. Kecerdikan harus dihadapi dengan kecerdikan, kelicikan harus dilawan dengan kelicikan pula, pikir gadis yang cerdik ini.

Tidak lama kemudian kedua orang muda itu sudah berada di tengah panggung dan saling berhadapan. Apa bila Tang Cun Sek berdiri dengan gagahnya, dengan pakaian baru yang bersih, berwarna serba hijau yang menjadi warna kesukaan pemuda ini, dengan kedua tangan memegang sebatang mouw-pit yang bulu-bulunya telah dibasahi dengan tinta bak, Kui Hong berdiri tegak dengan senyum mengejek dan hanya tangan kanannya saja yang memegang sebatang mouw-pit, sedangkan tangan kirinya kosong tidak memegang apa pun, bahkan bertolak pinggang.

Para tamu serta para anggota Cin-ling-pai menyambut mereka dengan tepuk tangan dan dengan hati berdebar tegang. Tentu saja keinginan kakek Cia Kong Liang yang hendak menjodohkan Cun Sek dengan Kui Hong sudah bocor hingga diketahui kebanyakan murid Cin-ling-pai, maka kini mereka semua memandang penuh perhatian.

Harus mereka akui bahwa kedua orang yang kini saling berhadapan sebagai calon lawan itu, keduanya calon ketua Cin-ling-pai yang kuat, memang serasi sekali. Dalam pakaian barunya, Cun Sek nampak ganteng dan gagah perkasa, wajahnya yang berkulit putih itu tampan sekali. Sebaliknya, Kui Hong juga nampak cantik jelita dan gagah perkasa, apa lagi dia tersenyum-senyum manis.

Melihat betapa Kui Hong hanya membawa sebuah mouw-pit saja pada tangan kanannya, terdengar Ceng Sui Cin, ibunya, berseru, "Kui Hong, engkau juga harus memegang dua buah mouw-pit seperti Cun Sek!"

Akan tetapi Kui Hong menengok ke arah ibunya dan berkata lantang sehingga terdengar oleh semua orang, "Tidak perlu, Ibu. Sebuah mouw-pit saja sudah cukup!"

Melihat dan mendengar ini, Cun Sek merasa tidak enak sekali, merasa dipandang rendah oleh gadis itu. Dia pun cukup maklum bahwa gadis ini sama sekali tidak boleh dipandang ringan, tidak boleh disamakan dengan Gouw Kian Sun tadi. Dia telah melihat ketika gadis itu berlatih silat dikeroyok oleh lima orang suheng-nya, tetapi gadis itu masih tetap unggul. Karena itu, biar dia merasa dipandang rendah, dia tidak berani mengurangi mouw-pitnya.

Dia harus dapat menundukkan gadis ini, harus mampu mengalahkannya, karena dengan demikian, bukan saja dia akan dapat menjadi ketua Cin-ling-pai di mana dia memperoleh kekuasaan dan nama besar, namun juga besar harapannya untuk dapat mempersunting gadis yang diidamkannya itu. Akan tetapi, untuk menutupi perasaan tak enak itu, dia pun berkata dengan sikap sopan.

"Suci, harap Suci suka mempergunakan dua buah mouw-pit sungguh pun dengan sebuah mouw-pit saja, tentu saya tidak akan mampu mengalahkan Suci (kakak seperguruan),"

Kui Hong tersenyum. Memang pemuda ini pandai membawa diri. Meski pun pemuda ini jauh lebih tua darinya, akan tetapi menyebutnya ‘suci’ sebagai tanda bahwa pemuda itu mengakuinya sebagai kakak seperguruan karena memang tentu saja Kui Hong lebih dulu menjadi murid Cin-ling-pai. Hal ini saja sudah menunjukkan kerendahan hati.

Akan tetapi Kui Hong tidak hanya mendengarkan ucapan yang sopan itu, melainkan lebih memperhatikan sinar mata pemuda itu. Sinar mata itu mencorong dan sama sekali tidak menunjukkan kerendahan hati, melainkan mengandung penuh kecerdikan dan kelicikan. Dia hanya berpura-pura, pikirnya, hanya beraksi seperti pemain sandiwara yang ulung. Ia berhadapan dengan seorang yang lihai dan berbahaya sekali, maka dia haruslah berhati-hati, pikir Kui Hong.

"Sudahlah, saudara Tang Cun Sek, tidak perlu bersungkan-sungkan. Aku lebih senang mempergunakan sebatang mouw-pit saja, engkau boleh menggunakan dua batang atau lebih kalau kau kehendaki!"

Wajah Cun Sek menjadi merah. Bagaimana pun juga gadis ini terlampau sombong dan memandang rendah kepadanya. Untuk memenangkan hati gadis seperti ini, lebih dahulu harus menundukkan kesombongannya dengan cara mengalahkannya, barulah akan ada harapan untuk menundukkan hatinya, pikir pemuda yang sudah banyak pengalamannya dalam mengenal watak wanita ini.

"Baiklah, Suci, jika engkau memang menghendaki demikian. Marilah, silakan Suci mulai, saya sudah siap melayanimu, Suci!"

Kui Hong tersenyum lagi. Tentu saja dia maklum akan akal ini yang mempersilakan agar dia menyerang lebih dulu dan hal ini berarti bahwa kedudukannya akan lebih lemah.

"Lihat seranganku!" bentaknya, kemudian dia pun segera menyerang dengan kecepatan kilat, tangan kirinya yang tidak bersenjata itu menampar ke arah kepala pemuda itu dari samping, disusul tangan kanannya yang menotokkan mouw-pitnya ke arah dada.

Meski pun serangan dengan sebuah jurus Thai-kek Sin-kun yang sudah amat dikenal oleh Cun Sek, akan tetapi karena serangan itu dilakukan dengan kecepatan luar biasa serta mengandung tenaga sinkang yang amat kuat, Cun Sek cepat mengelak sambil meloncat ke belakang, lalu kembali maju dari samping untuk membalas serangan gadis itu dengan totokan dua mouw-pitnya dari kanan kiri. Kui Hong harus mengakui kelincahan lawannya yang dapat demikian cepatnya melakukan serangan balasan. Namun dia pun mengelak dan menyerang lagi.

Terjadilah serang menyerang yang amat seru, lebih seru dari pada pertandingan pertama tadi karena sekarang keduanya mengerahkan seluruh kecepatan gerakan mereka hingga tubuh mereka lenyap bentuknya berubah menjadi bayangan hijau dan bayangan merah dan biru dari pakaian Kui Hong. Mereka berdua saling desak, kadang-kadang mengubah ilmu silat mereka yang segera dikembari oleh lawan.

Mau tak mau Tang Cun Sek harus mengakui dalam hatinya bahwa gadis ini benar-benar amat berbahaya. Meski pun mouw-pitnya hanya sebuah saja, tapi tangan kanan gadis itu menyambar-nyambar mengancam seluruh tubuhnya dengan totokan-totokan yang dapat membuatnya lumpuh!

Dia harus mengakui bahwa dia masih kalah oleh Kui Hong di dalam hal kecepatan, juga dalam ilmu silat kalah matang karena tentu saja gadis itu lebih mahir memainkan ilmu silat nenek moyangnya. Hanya dalam hal tenaga sinkang saja dia masih mampu mengimbangi kekuatan Kui Hong.

Karena memang kalah cepat, maka walau pun dia memegang dua batang mouw-pit dan gadis itu hanya memegang sebatang, dalam waktu singkat saja sudah ada lima goresan hitam pada bajunya, sedangkan dia hanya baru dapat menggores sebanyak dua kali, itu pun di ujung baju Kui Hong. Kalau diteruskan seperti ini, tentu dia akan kalah! Padahal dia harus dapat mengalahkan gadis ini. Harus! Kalau dia tidak dapat mengalahkannya, berarti akan sia-sia belaka usahanya selama empat tahun ini.

Mulailah Cun Sek mempergunakan akalnya yang tadi telah membuat dia berhasil menang dengan mudah dari Gouw Kian Sun, yaitu dengan jalan menggetarkan dua ujung mouw-pitnya sehingga tinta dari bulu-bulu mouw-pit di kedua tangannya memercik dan mengenai pakaian Kui Hong! Dalam satu kali serangan saja dengan kedua batang mouw-pit, walau pun kedua mouw-pit itu tidak dapat menyentuh baju Kui Hong, namun dari percikan tinta itu baju Kui Hong ternoda lebih dari lima tempat!

Memang inilah saat yang dinanti-nanti oleh Kui Hong. Dia sama sekali tak menjadi marah ketika melihat pemuda itu sudah mulai menjalankan siasatnya yang licik. Dia pun segera menggerakkan tangan kirinya ke dalam saku bajunya dan mengeluarkan sebotol tinta bak! Dan sekarang dia pun menggetar-getarkan ujung mouw-pitnya yang hanya sebatang itu, setelah mencelupnya ke dalam botol tinta bak yang sudah dia buka tutupnya.

Tentu saja bulu mouw-pit yang basah itu lebih mudah memercik, bahkan bisa sampai jauh sehingga tanpa dapat dihindarkan lagi, kini banyak sekali noda-noda hitam menghias baju Cun Sek! Pemuda ini terkejut sekali. Tak disangkanya bahwa gadis itu menyembunyikan sebotol tinta bak di saku bajunya. Kiranya gadis itu memang telah siap siaga dan pantas saja hanya menggunakan sebatang mouw-pit, kiranya tangan kiri memang dipersiapkan untuk memegangi botol penuh tinta itu!

Dia berusaha untuk menggetarkan kedua mouw-pitnya agar lebih banyak lagi pakaian Kui Hong terkena percikan tinta. Akan tetapi betapa pun juga perang percikan tinta ini tentu saja dimenangkan oleh Kui Hong yang mouw-pitnya selalu basah, sedangkan sepasang mouw-pit di tangan Cun Sek mulai kering!

Pakaian Cun Sek sudah penuh noda hitam, dua atau tiga kali lipat lebih banyak dari pada noda pada pakaian Kui Hong. Pemuda itu menjadi gugup dan mendongkol bukan main.....


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner