SI KUMBANG MERAH : JILID-17


"Siok Bi, engkau memang pantas mendapatkan kebahagiaan. Nah, semoga engkau hidup berbahagia bersama suamimu dan ini, aku tidak dapat memberi apa-apa kecuali bekal ini, agar engkau dan suamimu dapat memulai hidup baru dan memiliki modal."

Hay Hay mengambil sebuah guci arak, menaruhnya di atas meja di depan Coa Wan-gwe dekat buntalan emas, lalu dia meraih buntalan emas lima puluh tail itu dan menyerahkan emas itu kepada Siok Bi.

Gadis itu terbelalak. "Tapi... tapi...”

Dia memandang ke arah Hartawan Coa yang agaknya sudah berubah menjadi arca atau tidak melihat atau tak peduli bahwa buntalan emas itu diambil oleh Hay Hay dan sebagai gantinya, di depannya kini berdiri sebuah guci arak itu, yang telah kosong pula.

"Bawalah, Siok Bi, disertai doaku. Ini milikmu! Ingat, bukankah engkau yang telah berhasil menyelidiki tentang Ang-hong-cu itu? Nah, bawalah dan cepat kau pergi dari sini!"

Gadis itu menahan isak, lalu merangkul Hay Hay dan tanpa mempedulikan Coa Wan-gwe yang berada di sana dan duduk seperti patung, Siok Bi mencium bibir pemuda itu dengan sepenuh perasaan hatinya, penuh kemesraan, kehangatan, keharuan, disertai rasa syukur yang tidak terukur dalamnya. Kemudian, sambil menahan isak dia pun menerima buntalan emas itu dari tangan Hay Hay dan berbisik, "Selamat tinggal, sampai jumpa pula, taihiap." Dia lalu keluar dari kamar dengan langkah yang cepat.

"Selamat jalan, sampai jumpa kembali, Siok Bi," Hay Hay berkata lirih sambil tersenyum. Masih terasa kehangatan dan kelembutan bibir gadis itu akan tetapi dia segera mengusir lenyap kenangan indah itu.

"Coa Wan-gwe, lebih baik kita bungkus dulu emas ini dan suruh orangmu menyimpannya, baru kita bicara," katanya kepada hartawan yang tadi duduk seperti patung itu. Sekarang dia seperti baru sadar dari tidur.

"Ahh, engkau benar sekali, sebaiknya kusuruh simpan dulu," katanya, sementara itu Hay Hay mengambil kain tilam meja yang lebar dan membungkus guci itu.

Coa Wan-gwe bertepuk tangan dan muncullah dua orang gadis pelayan yang cantik genit. Tepukan tangan tadi adalah tepukan khas untuk memanggil dua orang selir terkasih ini.

"Simpan dahulu buntalan emas ini di dalam almari dan jangan bilang kepada siapa pun bahwa di situ disimpan emas lima puluh tail," katanya.

Dua orang gadis itu lalu mengambil buntalan guci dari atas meja, membawanya ke almari di sudut dan menyimpannya. Mereka lalu meninggalkan kamar lagi saat mendapat isyarat dari majikan mereka. Walau pun mereka adalah selir, akan tetapi kedudukan mereka tidak lebih sebagai pelayan yang melayani majikan mereka, bukan sebagai isteri.

"Nah, sekarang kita berada berdua saja di dalam kamar ini, Coa Wan-gwe. Terus terang saja, bila aku menjadi pembantumu maka dalam waktu beberapa bulan saja tentu engkau akan jatuh bangkrut dan seluruh harta bendamu akan habis!"

"Mengapa begitu?" tanya hartawan itu terkejut.

"Pertama, karena aku tidak suka melihat orang menjadi korban perjudian. Ke dua, karena aku selalu menentang perbuatan jahat dan kejam yang dilakukan oleh anak buahmu atas perintahmu. Ke tiga, karena aku tidak suka melihat orang bersikap sewenang-wenang dan memaksa wanita muda untuk menjadi miliknya. Dan ke empat, aku tak dapat tinggal diam saja melihat orang-orang hidup melarat dan tidak dapat makan, dan hartamu tentu akan kubagi-bagikan kepada mereka!"

Sepasang mata hartawan itu terbelalak. "Wah, wah, kalau begitu, tidak jadi saja! Aku tak mau mempunyai pembantu seperti itu!" Hartawan Coa menjadi marah, lalu bangkit berdiri. "Orang muda, segera kau pergi tinggalkan rumahku ini dan jangan lagi menggangguku!"

"Kalau aku tetap mengganggumu, kau mau apa?"

Hartawan itu masih belum mau menyerah dan tiba-tiba dia menyambar sebuah tali yang tersembunyi di antara kain-kain sutera yang menghias kamar itu. Segera terdengar suara kelenengan di luar, lantas daun pintu kamar itu terbuka.

Muncullah tiga orang gadis pelayan cantik yang bertubuh kuat, bersama tiga orang jagoan yang tadi sudah dirobohkannya! Tiga orang jagoan itu nampak gentar sekali sungguh pun mereka cepat-cepat datang ketika mendengar kelenengan yang berarti tanda bahaya bagi majikan mereka itu. Di luar pintu masih berdiri puluhan orang pengawal yang siap dengan senjata di tangan.

"Nah, engkau masih berani menggangguku?" bentak hartawan itu.

Hay Hay tersenyum lebar. Hartawan Coa ini harus diberi hajaran yang cukup keras untuk melunakkan hatinya yang keras.

"Hemmm, kau mengandalkan para pengawalmu? Engkau tidak tahu bahwa setiap waktu para tukang pukul dan pengawalmu itu bisa saja berbalik memusuhimu, bahkan mungkin pula engkau akan dibunuh oleh mereka."

"Tidak mungkin! Mereka adalah para pembantuku yang setia!"

"Setia? Karena terpaksa dan karena uang, seperti halnya nona Siok Bi tadi. Heiiii, kau....!” Hay Hay menggapai salah seorang di antara ketiga gadis itu. "Kau ke sinilah dan beri satu kali tamparan pada pipi Hartawan Coa!"

Semua orang terkejut, juga Hartawan Coa. Akan tetapi sungguh aneh. Gadis yang tadinya terbelalak kaget mendengar perintah itu, sekarang melangkah maju mendekati Hartawan Coa.

"Plakkk!"

Tangannya menampar dan pipi hartawan itu sudah ditamparnya! Tidak begitu nyeri, akan tetapi Hartawan Coa menjadi terkejut dan marah bukan main. Wajahnya sebentar pucat dan sebentar merah.

"Tangkap perempuan kurang ajar ini!"

Hay Hay melangkah maju. "Siapa yang berani menangkapnya?! Kalau aku tidak memberi perintah, maka tak seorang pun boleh mengganggu dia!" Dan aneh, mendengar teriakan Hay Hay ini, tak seorang pun berani maju, walau pun Hartawan Coa berkali-kali memberi perintah.

"Kau! Majulah dan tampar pipi hartawan ini supaya dia tidak berteriak-teriak lagi!" kata Hay Hay pada gadis ke dua. Gadis itu pun tadinya terbelalak, akan tetapi dia melangkah maju dan tangannya menampar. Hartawan itu hendak menangkis, namun kalah cepat.

"Plakkk!" Dan untuk kedua kalinya pipinya kena ditampar oleh gadis kesayangannya yang biasanya amat patuh kepadanya.

"Tiat-ci Thio Kang, jarimu sudah patah, karena itu pergunakan kakimu menendang pantat Hartawan Coa! Hayo cepat, jangan keras-keras, biar dia tahu rasa saja!"

Mendengar ucapan ini, tentu saja Tiat-ci Thio Kang mempertahankan diri sekuatnya untuk menentang perintah yang berlawanan dengan kemauan hatinya itu. Akan tetapi, entah apa yang mendorongnya untuk melangkah maju dan kakinya lantas terayun.

"Bukkk!”

Hartawan Coa jatuh tersungkur, lalu bangkit sambil meringis dan menggosok pinggulnya yang ditendang. Sekarang mukanya pucat dan matanya terbelalak ketakutan memandang kepada Hay Hay.

"Bagaimana? Haruskah aku lanjutkan? Bila aku memerintahkan mereka menyembelihmu, maka sekarang juga akan mereka laksanakan, Wan-gwe!"

"Tidak.... Tidak...! Hentikan permainan setan ini !" katanya meratap ketakutan.

“Kalau begitu, perintahkan mereka itu mundur."

"Mundur! Kalian semua mundur, terkutuk kalian!" Hartawan Coa membentak dan mereka semua segera keluar dari dalam kamar, menutupkan daun pintu kamar dengan khawatir ketika melihat betapa majikan mereka marah-marah.

"Nah, Wan-gwe. Begjtulah kalau engkau memelihara harimau-harimau liar. Sekali waktu mereka akan membalik dan mencelakai dirimu sendiri. Sekarang aku minta agar engkau tak lagi mempergunakan kekayaan dan kekuasaanmu untuk berbuat sewenang-wenang. Apa bila aku mendengar engkau masih melanjutkan perbuatanmu yang jahat, maka aku akan segera kembali ke kota ini lantas akan kuperintahkan anak buahmu membunuhmu, atau mungkin juga keluargamu sendiri akan kuperintahkan membunuh dan menyiksamu lebih dulu!"

"Aku... aku tidak berani lagi...”

"Engkau juga tidak akan mengganggu lagi Gui Lok dan puterinya, Gui Ai Ling yang kau inginkan itu?"

"Tidak, tidak... tidak lagi."

"Dan engkau tidak akan menyuruh orang-orangmu mencari Siok Bi untuk kau ganggu?"

"Tidak, aku tidak berani."

"Bagus, akan tetapi jangan mencoba-coba untuk membohongi dan menipuku. Bila perlu, aku dapat menyuruh siapa saja atau apa saja untuk menghukum dan membunuhmu. Kau lihat tombak dan pedang di sudut kamar itu? Aku dapat memerintahkan mereka itu untuk membunuhmu!"

Sekali ini, di dalam pandang mata hartawan yang tadinya ketakutan itu, kini berkilat sinar tidak percaya, walau pun mulutnya tidak berani mengatakan hal itu.

"Engkau tidak percaya, Coa Wan-gwe? Nah, lihat baik-baik! Pedang dan tombak milikmu sendiri itu akan menyerangmu!"

Tiba-tiba mata hartawan itu terbelalak, lantas mukanya yang hitam itu menjadi berkurang hitamnya karena pucat sekali. Dia melihat betapa pedang yang berada dalam sarungnya dan tergantung di tembok, sekarang meninggalkan sarung lalu melayang-layang bersama dengan tombak yang juga meninggalkan rak senjata. Kedua senjata itu melayang-layang ke atas lalu keduanya meluncur ke arah dirinya!

Dia terkejut, ketakutan dan melompat menjauhi, akan tetapi ke mana pun dia mundur, dua batang senjata itu terus mengejar. Tombak itu bagaikan hendak menusuk-nusuk perutnya dan pedang yang tajam itu mengancam untuk membacok lehernya! Tentu saja dia mandi keringat dingin.

"Tidak...! Tidak...! Jangan... ahh, ampunkan aku... ampunkan...” dia jatuh berlutut dan tak berani mengangkat lagi mukanya, tidak berani melihat dua senjata yang seperti hidup dan mengancamnya itu.

"Mereka sudah kuperintahkan kembali ke tempat masing-masing, Wan-gwe."

Hartawan Coa mengangkat mukanya dan benar saja. Dua buah senjata itu sudah berada pada tempatnya masing-masing, tidak bergerak dan mati seperti biasanya. Dia mengeluh dan menghapus keringat dengan ujung lengan bajunya.

"Nah, kau lihat sendiri, Wan-gwe. Sedangkan benda mati saja dapat berkhianat padamu, apa lagi manusia hidup. Sekali waktu, mungkin saja pelayanmu sendiri meracunimu atau membunuhmu selagi engkau tidur. Sebab itu bertobatlah dan tinggalkan semua perbuatan jahat, baru Tuhan akan mengampunimu."

Hartawan itu masih berlutut dan dia mengangguk-angguk. "Baik, baik... aku minta ampun, aku bertobat... tidak berani lagi...”

Ketika dia mengangkat muka, ternyata pemuda itu telah lenyap dari situ! Pada saat para pelayan dan pengawal memasuki kamar, mereka menemukan hartawan itu masih berlutut dalam keadaan seperti tidak bersemangat lagi!

Hay Hay sama sekali tidak tahu bahwa sepeninggalnya, dia tak hanya membuat hartawan itu menjadi bertobat, bahkan lebih dari itu dan amat menyedihkan. Hartawan Coa menjadi seperti orang gila yang selalu ketakutan, takut terhadap isterinya, anak-anaknya, pelayan, bahkan takut kepada benda-benda di dalam kamarnya. Dia selalu berteriak-teriak bahwa mereka semua hendak membunuhnya.

Akhirnya, karena dia selalu marah-marah dan minta agar semua benda disingkirkan dari kamarnya, maka kamar itu menjadi gundul dan kosong. Bahkan dia tidur begitu saja di atas lantai karena takut kalau segala macam ranjang, kelambu, meja kursi, bantal guling, akan membunuhnya di tengah malam!

Hartawan Coa menjadi seperti orang gila. Akan tetapi kota itu menjadi tenang dan para penduduknya bernapas lega karena setidaknya, seorang yang tadinya amat ditakuti dan mengganggu ketenangan hidup mereka kini telah mati kutu…..

********************

Malam yang gelap karena malam itu gelap bulan. Langit hanya dihiasi laksaan bintang, atau jutaan atau bahkan lebih. Tak terhitung! Biar pun tidak ada bulan, namun sinar lemah dari bintang-bintang itu bergabung dan mampu pula mengurangi kepekatan malam, bukan menjadi gelap gulita lagi melainkan remang-remang.

Akan tetapi, kompleks bangunan dalam lingkungan istana sama sekali tidak pernah gelap! Banyak sekali lampu-lampu gantung besar kecil, beraneka warna dan bentuk, menerangi bagian dalam dan luar istana. Bahkan di taman-taman bunga yang teratur indah terdapat lampu penerangan.

Malam itu sunyi sekali karena hawa malam itu amat dingin. Musim semi telah mulai, akan tetapi sisa musim salju masih meninggalkan hawa dingin yang menyengat tulang. Karena dinginnya, maka malam itu amat sunyi meski di lingkungan istana sendiri. Para penghuni istana, yaitu kaisar serta semua keluarganya, juga para dayang, para selir, para pelayan dan bahkan para pengawal, lebih suka berada di dalam bangunan dari pada di luar!

Di udara terbuka hawa dingin sungguh tak tertahankan. Para pengawal luar yang sedang melakukan penjagaan di luar kompleks bangunan lebih suka berkelompok di dalam gardu-gardu penjagaan di mana mereka dapat menghangatkan tubuh di dekat arang membara, atau perapian yang sengaja dibuat untuk sekedar menghangatkan badan melawan hawa dingin. Para penjaga menjadi malas untuk meronda sebab meronda berarti meninggalkan gardu dan memasuki tempat terbuka di mana mereka akan disambut oleh dekapan hawa yang amat dingin.

Lagi pula, siapakah yang akan berani mengganggu ketentraman istana? Berarti mencari mati konyol! Maling? Sebelum memperoleh sesuatu dia sudah akan mati kedinginan lebih dulu! Malam itu, malam yang dingin sunyi sehingga para penjaga menjadi lengah.

Akan tetapi, bagi seseorang yang sedang dimabok cinta dan dendam birahi, yang sedang menderita rindu, berkencan dengan kekasih yang dirindukan merupakan kewajiban yang harus dilakukan dengan sepenuh hati, dengan nekat dan kalau perlu mengorbankan diri! Jangankan hanya hawa dingin di malam sunyi itu, biar harus menghadapi rintangan yang lebih berat sekali pun, seorang yang sedang merindukan pertemuan dengan kekasihnya tidak akan mundur selangkahpun!

Demikian pula bagi pria yang kini sedang menunggu di dalam taman bunga sebelah barat istana itu. Dia bersembunyi di balik rumpun-rumpun bunga yang tumbuh lebat di sebelah kiri depan pondok indah itu. Pondok yang bercat merah dan diberi nama ‘Sarang Madu’ di depannya, nama itu tertulis indah di papan yang tergantung di depan pondok.

Nama ini diberikan kaisar karena dia merasa seolah-olah berada di sarang madu ketika sedang bersenang-senang dengan para selir dan dayang yang muda-muda dan cantik jelita di pondok merah itu. Nama Sarang Madu itu ada riwayatnya.

Ketika itu, pondok merah ini baru saja selesai dibangun dan belum ada namanya. Ketika kaisar bersama para selir tercinta tengah bersenang-senang di situ, kaisar melihat sebuah sarang lebah tergantung pada dahan pohon dekat pondok. Sarang lebah itu sudah penuh madu, nampak ada madu menetes-netes turun. Kaisar segera menyuruh pengawal untuk mengusir lebah-lebahnya dan menurunkan sarang lebah itu. Ternyata sarang itu memang penuh dengan madu! Tentu saja kaisar menjadi girang sekali, lalu bersama para selir dan dayang minum madu yang manis.

Karena peristiwa itulah maka pondok ini diberi nama Sarang Madu. Bukan hanya karena madu itu memang manis. Akan tetapi berpesta pora dengan para dayang dan selir yang cantik-cantik itu memang amatlah manisnya!

Dan bagi pria yang kini bersembunyi di dekat pohon Sarang Madu itu, memang pondok itu merupakan sarang madu yang sangat manis baginya. Semua kenangan manis, indah dan menggembirakan berada di dalam pondok itu sejak dia bertemu dan berhubungan dengan Hwee Lan!

Sekarang laki-laki itu menyelinap dekat tembok pondok yang lebih melindungi dirinya dari hembusan angin lembut sehingga sinar lampu gantung yang halus dapat menyentuhnya. Dia seorang laki-laki muda berusia kurang lebih dua puluh lima tahun, berpakaian sebagai seorang perwira dan dia nampak gagah sekali dalam pakaian yang cemerlang ini.

Sebuah pedang tergantung pada pinggangnya, dan topi bulunya nampak bersih. Bulu itu kelihatan putih sekali di atas rambutnya yang hitam panjang. Wajahnya tampan menarik dan jantan. Wajah yang disuka oleh kaum wanita. Tubuhnya jangkung dengan pinggang ramping, tubuh yang juga menjadi idaman wanita. Pendeknya, pemuda berusia dua puluh lima tahun ini amat menarik bagi wanita.

Seorang yang tampan, gagah dan memiliki kedudukan baik. Seorang perwira pengawal! Dari pangkatnya ini saja, yakni perwira pengawal dalam istana, mudah diduga bahwa dia bukanlah seorang pemuda lemah, melainkan seorang pemuda gemblengan yang memiliki kegagahan dan ilmu silat tinggi.

Perwira muda ini bernama Tang Gun. Baru dua tahun dia menjadi perwira di dalam istana dan dipilih oleh kaisar sendiri karena dia telah berjasa saat membantu pasukan pengawal membasmi perampok yang berani memberontak dan mengusik ketenangan kaisar ketika kaisar berburu binatang di hutan. Pemuda yang gagah perkasa dan yang pekerjaannya sebagai seorang pemburu itu lalu membantu para pengawal, bahkan dialah yang berhasil membunuh kepala perampok.

Mendengar tentang kegagahan pemuda ini, kaisar memanggilnya dan karena gembiranya kaisar lantas menganugerahkan pangkat perwira pengawal kepadanya. Bukan pengawal luar, akan tetapi pengawal dalam istana, sebuah pangkat yang hanya diberikan kepada orang-orang yang benar-benar dipercaya oleh kaisar!

Tadinya Tang Gun hidup berdua saja dengan ibunya yang telah berusia empat puluh tiga tahun. Mereka hidup berdua dalam keadaan miskin karena ibunya adalah seorang janda dan kehidupan mereka hanya mengandalkan hasil buruannya. Bila dia berhasil membunuh seekor dua ekor kijang atau beberapa ekor kelinci, dagingnya lantas dibuat daging kering oleh ibunya, kemudian kulit dan daging kering itu dijual dan di tukar dengan beras, terigu dan bumbu-bumbu masak, juga untuk membeli pakaian. Mereka hidup di tempat terpencil, di dekat hutan.

Sejak kecil Tang Gun memang suka mempelajari ilmu silat. Dari kawan-kawannya, para pemburu, dia belajar silat dan mencari guru-guru silat yang pandai. Karena tekunnya dan tidak mengenal lelah, juga rajin mencari guru yang pandai, akhirnya dia menjadi seorang pemuda gemblengan yang pandai silat dan menjadi jago di antara para pemburu.

Ibunya selalu mengatakan bahwa ayah kandungnya telah meninggalkan mereka sejak dia masih kecil sekali. Menurut ibunya, ayah kandungnya adalah seorang pria she Tang dan ibunya menyerahkan sebuah benda berbentuk ukiran seekor kumbang yang terbuat dari emas dan batu permata. Si Kumbang Merah atau Ang-hong-cu, demikianlah julukan ayah kandungnya. Demikian menurut ibunya.

Dia tidak pernah mengenal ayahnya, hanya tahu bahwa ayahnya she Tang dan berjuluk Ang-hong-cu. Menurut ibunya, ayahnya adalah seorang yang sangat sakti dan kalau dia kelak melihat seorang pria yang mempunyai tanda mainan seperti yang dimilikinya, maka itulah ayahnya!

Tang Gun telah mencari keterangan di dunia kang-ouw tentang Ang-hong-cu. Akan tetapi, dengan kecewa dia mendengar bahwa sudah bertahun-tahun dunia kang-ouw tidak lagi mendengar nama Ang-hong-cu. Si Kumbang Merah itu seakan telah lenyap atau mungkin juga sudah mati! Maka Tang Gun menjadi putus asa dan tidak mencari lagi.

Pada saat dia masih menjadi seorang pemburu biasa, kenyataan bahwa dia tidak berayah lagi, bahkan dia tidak tahu di mana ayahnya, sudah mati atau belum, tidak merupakan hal yang perlu dirisaukannya benar. Dia hanyalah seorang pemburu miskin. Siapa yang akan memperhatikan dirinya dan siapa yang ingin mengetahui siapa ayahnya?

Akan tetapi, setelah dia menjadi seorang perwira pengawal di istana, hal itu menjadi amat penting! Ia kini seorang yang berkedudukan, dihormati dan disegani, bahkan cukup dekat dengan keluarga kaisar! Untuk mengangkat harga dirinya, terutama di kalangan pasukan dan juga di dunia persilatan, maka mulailah dia mengaku bahwa dia adalah putera Ang-hong-cu yang dikabarkan memiliki kesaktian hebat itu! Berita yang dibangga-banggakan inilah yang akhirnya sampai ke telinga Hay Hay lewat Siok Bi.

Karena dia memiliki wajah tampan menarik, tubuh yang kokoh kuat sehingga dia nampak gagah dan jantan, sejak remaja Tang Gun disukai oleh banyak wanita. Dan dia pun sadar akan ketampanannya, sadar bahwa banyak wanita menyukainya. Oleh karena itu, walau pun ibunya yang menjanda itu sering mendesaknya supaya segera menikah, Tang Gun selalu menolak. Dia merasa rugi kalau harus menikah.

Pertama, untuk menikah dia harus memiliki uang namun dia seorang yang miskin. Setelah menikah, berarti tanggungannya bertambah, tadinya hanya dua orang menjadi tiga orang, belum lagi kalau isterinya melahirkan anak. Ke dua, sesudah dia beristeri tentu rasa suka para wanita terhadap dirinya akan berkurang. Jauh lebih senang kalau dia masih bebas, dia dapat berpacaran dengan wanita mana pun yang suka kepadanya dan disukainya.

Maka mulailah Tang Gun dikenal sebagai seorang pemuda yang mata keranjang, selalu diburu wanita dan selalu berganti-ganti pacar! Betapa pun juga dia tak pernah melakukan pelanggaran. Tidak pernah dia memperkosa wanita, tak pernah pula dia mempermainkan isteri orang. Dia hanya menyambut uluran cinta seorang gadis atau seorang janda muda.

Sesudah dia berusia dua puluh tiga tahun dan diangkat menjadi perwira pengawal dalam istana, nafsu birahi yang selama ini memperhamba batin dan tubuhnya menjadi terkekang dan tak mudah dapat disalurkan. Dia kini telah menjadi seorang perwira pengawal dalam istana. Tentu saja dia tidak boleh sembarangan mengumbar nafsu seperti ketika dia masih tinggal di dusun. Dia harus menjaga namanya dan kini dia tinggal di kompleks perumahan para perwira yang berada di lingkungan istana, meski pun di bagian luar akan tetapi masih berada di belakang tembok yang mengelilingi istana.

Dia tinggal bersama ibunya di dalam sebuah rumah yang cukup indah walau pun sedang saja. Ada pula dua orang lainnya, lelaki dan wanita, yang menjadi pelayan rumah mereka. Dia hanya bisa mencari hiburan dan bersenang-senang apa bila dia sedang memperoleh giliran cuti. Dia sering pergi ke rumah pelesir yang jauh berada di sudut kota, menyamar sebagai seorang pemuda biasa.

Akan tetapi dia tidak dapat berkutik apa bila dia sedang bertugas atau berada di rumah,. Sebagai seorang perwira pengawal, apa lagi pengawal di dalam istana, dia harus selalu sopan dan menjaga kesusilaan. Sebagian besar para perwira pengawal, juga para prajurit pengawal yang mengawal bagian dalam istana, apa lagi yang mengawal bagian keluarga puteri kaisar, adalah para thai-kam (laki-laki kebiri). Dia sendiri tidak diharuskan menjadi thai-kam karena kaisar percaya kepadanya.

Karena tugasnya sebagai komandan pengawal dalam istana, maka sering kali Tang Gun memimpin rombongan pengawal melakukan perondaan di waktu malam. Bahkan sering pula dia mendapat giliran berjaga di dalam taman yang berhubungan dengan tempat para puteri. Karena itu sering pula dia melihat kaisar kalau Sribaginda ini sedang berjalan-jalan di dalam taman atau sedang bersenang-senang dengan para selir dan dayang di pondok-pondok indah. Tentu saja dia selalu bersikap hormat, berlutut sambil menundukkan muka, tidak berani mengangkat muka memandang Sribaginda dan para wanita cantik itu.

Biar pun matanya tidak dapat melihat, namun hidungnya masih bisa mencium keharuman yang keluar dari pakaian para wanita, juga telinganya bisa menangkap suara tawa merdu sekali, sepatah dua patah kata yang keluar dengan halus lembut seperti nyanyian merdu. Karena dia berwatak mata keranjang, maka jantungnya langsung terguncang hebat.

Lambat laun, setelah hampir dua tahun dia terbiasa dengan kesempatan seperti itu, maka mulailah dia berani bermain mata. Biar pun kepalanya ditundukkan, akan tetapi matanya mengerling ke atas. Makin kagumlah dia ketika melihat wanita-wanita cantik jelita dalam pakaian yang serba indah itu.

Tadinya dia hanya mampu melihat bagian bawah tubuh saja, dari kaki-kaki mungil sampai lutut yang tertutup sutera beraneka warna. Tapi kini dia dapat melihat wajah para pemilik kaki mungil itu. Ternyata dia tidak menemukan wanita yang angkuh dan tinggi hati seperti di dalam dongeng tentang puteri-puteri dan keluarga kaisar, melainkan wajah-wajah cantik jelita dan manis yang memandang kepadanya dengan penuh gairah! Mata yang jeli itu, mulut yang segar kemerahan itu, dengan jelas sekali menunjukkan betapa mereka sangat kehausan!

Tang Gun yang telah banyak bergaul dengan para wanita dapat melihat tanda-tanda yang menunjukkan bahwa kebanyakan dari para wanita muda itu, para selir serta dayang dari Kaisar, memandang kepadanya dengan penuh birahi!

Memang demikianlah keadaan para wanita muda dan cantik itu. Mereka melihat seorang perwira pengawal yang muda, tampan, ganteng, gagah dan jantan. Apa lagi mereka juga mendengar dari para thai-kam yang selalu bermuka-muka terhadap mereka bahwa Tang-ciangkun (Perwira Tang) ini, yang pernah menyelamatkan kaisar, adalah seorang perwira yang benar-benar jantan dan laki-laki tulen, bukan thai-kam! Tentu saja hal ini membuat mereka tertarik dan mereka selalu timbul birahi dan gairah setiap kali melihat perwira itu.

Memang seperti itulah keadaan para wanita muda yang menjadi penghuni istana raja di mana pun juga. Seorang kaisar sudah lajim mempunyai banyak sekali selir dan dayang, bisa sampai puluhan orang banyaknya. Hal ini tentu saja merupakan keadaan yang tidak seimbang.

Puluhan orang selir dan dayang itu adalah wanita-wanita yang masih muda, bagai bunga-bunga di taman yang sedang segar-segarnya, sedang mekar indah dan membutuhkan banyak sekali siraman dan curahan kasih sayang dan kemanjaan pria. Sebaliknya, kaisar yang sudah setengah tua itu tentu saja tidak mungkin dapat memenuhi kebutuhan badan dan batin mereka. Kaisar hanya mampu memberikan kedudukan dan kemewahan saja.

Para wanita itu mendambakan perhatian, pencurahan kasih sayang yang lebih sering dan lebih banyak. Mereka rata-rata merasa kesepian, seperti burung-burung dalam kurungan. Maka tidaklah mengherankan dan bukan semata karena watak mereka yang genit kalau mereka itu segera tertarik kepada Tang Gun yang muda, tampan, gagah dan mempunyai kerling mata tajam serta senyuman menggairahkan hati mereka itu. Akan tetapi bagi Tang Gun, yang paling membuat dirinya tergila-gila adalah seorang selir kaisar yang bernama Hwee Lan.

Mula-mula pertemuannya dengan Hwee Lan merupakan hal yang kebetulan saja dan tidak disengaja. Pada suatu malam, beberapa bulan yang lalu, malam terang bulan yang amat indah. Tang Gun yang kebetulan dinas jaga, memimpin para pengawal dalam istana dan membagi-bagi tugas jaga, merasa iseng sehingga dia pun memasuki taman istana bagian barat yang indah. Sambil meronda dia pun sekalian menikmati malam yang sangat indah itu. Malam yang hawanya tidak begitu dingin, terang bulan pula dan karena pada saat itu bunga-bunga di taman sedang mekar, maka keadaan taman itu benar-benar amat indah, romantis dan penuh dengan keharuman bunga.

Tiba-tiba dia dikejutkan oleh gerakan dan suara orang di belakang pondok Sarang Madu yang merah itu. Menduga terjadi sesuatu yang mencurigakan, ia pun cepat menyelinap di antara semak-semak dalam taman dan mengintai dari balik batang pohon. Kiranya yang berada di antara bunga mawar yang ditanam di bagian belakang pondok itu adalah salah seorang di antara para selir yang paling jellta!

Selir itu memang sangat menarik dan mempesona hati Tang Gun setiap kali melihatnya, dengan kulit muka yang bukan hanya putih mulus seperti para selir lain, melainkan putih bercampur warna merah segar, seperti kulit bayi yang montok. Selir yang usianya paling banyak delapan belas tahun itu ditemani oleh seorang dayang pelayan yang juga usianya masih muda, paling banyak dua puluh satu tahun dan cantik pula. Namun, dibandingkan dengan selir itu, kecantikan dayang ini tidak ada artinya lagi.

“A Sui, malam begini indah, taman penuh bunga, udara demikian sejuk dan harum. Aihh, alangkah indahnya malam ini..." Tang Gun yang mengintai, merasa jantungnya berdebar penuh kagum. Suara itu demikian merdu, dan kata-kata itu demikian halus dan indah.

Dayang itu tersenyum. "Aduh, kata-kata nona Hwee Lan selalu indah sekali, mirip seperti nyanyian, seperti sajak...,” dayang itu memuji.

"Memang aku suka bersajak, A Sui, apa lagi di dalam suasana yang begini indah...” Selir cantik itu mengangkat muka memandang ke arah bulan purnama.

Wajah itu sepenuhnya tertimpa cahaya bulan, nampak putih kemerahan laksana disepuh emas sehingga Tang Gun yang sedang mengintai menjadi terpesona. Selama hidupnya belum pernah dia melihat wanita secantik selir itu. Dan namanya Hwee Lan!

Dayang itu bertepuk tangan memuji. "Kalau begitu, mengapa Nona tidak membuat sajak tentang malam yang indah ini? Saya akan berbahagia sekali mendengarkannya, Nona."

Sikap dayang itu amat bersahabat, karena biar pun kedudukannya hanya sebagai dayang yang melayani selir itu, sebagai pelayan pribadi, namun dayang ini pun termasuk seorang di antara para dayang cantik yang menerima ‘kehormatan’ dari kaisar, yaitu pernah dan sewaktu-waktu menemani dan melayani kaisar di kamar tidurnya. Oleh karena itu, walau pun kedudukan mereka berbeda tapi keduanya merasa senasib dan seperti madu saja.

Hwee Lan kembali merenung memandang bulan, lalu beberapa kali dia menghela napas panjang. "A Sui, pada malam terang bulan seperti ini selalu mengingatkan aku akan masa remaja ketika aku belum dibawa ke dalam istana, bergembira ria bersama teman-teman di kampung. Dan malam sepertl ini selalu mengingatkan aku akan keadaanku sekarang. Aku akan mencoba bersajak, akan tetapi hanya untuk telinga kita berdua saja, A Sui."

Suasana menjadi hening. A Sui dan Tang Gun yang bersembunyi, menanti dengan penuh pesona. Bahkan kembang-kembang di taman itu seperti sedang menanti pula, dan semilir angin lembut tiba-tiba saja berhenti berhembus, seperti memberi kesempatan kepada si jelita untuk mengalunkan suaranya yang merdu.

Hwee Lan masih berdiri, demikian lembut gemulai seperti sebatang pohon yang-liu muda. Dia memandang bulan, kemudian terdengarlah suaranya lirih dan lembut seperti desahan bayu di antara daun pohon cemara.

"Malam syahdu penuh pesona
Mencipta sajak memuja asmara
Bulan gemilang bayu berdendang
Taman mengharum mengapa hati
bimbang?
Mawar merah cantik jelita,
Tiada belaian, sepi menderita
Siapa peduli mawar sengsara
Apa guna segala ratap hampa
Mawar indah menangis sendiri
Akhirnya layu... kering... mati...!
"

Sajak itu diakhiri dengan isak tangis tertahan. A Sui segera bangkit berdiri, lalu merangkul Hwee Lan dan ikut pula menangis, akan tetapi disertai kata-kata menghibur.

"Sudahlah, nona, Tidak perlu membiarkan duka berlarut-larut menggerogoti hati. Memang beginilah nasib wanita-wanita seperti kita...”

"Wahai mawar merah nan suci
ada taman sepotong hati
dengan pupuk kesetiaan sejati
dan siraman air cinta murni
bersedia menampung jika sudi!
"

Dua orang wanita itu terkejut dan menengok ke arah pohon besar di belakang pondok. Pada waktu melihat munculnya Tang Gun, Hwee Lan tidak menjadi ketakutan. Wajahnya berubah kemerahan dan kedua kakinya gemetar ketika perwira yang tampan itu berjalan menghampiri.....


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner