SI KUMBANG MERAH : JILID-19


“Cepat laksanakan penangkapan itu kalau benar engkau mampu melakukannya! Selama ini, seluruh pasukan pengawal tidak mampu menangkap dua orang perempuan itu. Sebab itu Tang Bun An, jika engkau melanggar janji kesanggupanmu dan mengecewakan kami, jika engkau gagal melakukan penangkapan, maka kami akan memberikan hukuman berat! Sebaliknya, kalau engkau berhasil memenuhi janji, yaitu dalam waktu sehari akan mampu menghadapkan dua orang wanita itu dan biang keladinya yang membuat mereka minggat dari istana, maka kami akan mengangkatmu menjadi kepala seluruh pasukan pengawal, baik yang di dalam mau pun yang di luar istana!" Demikianlah kata kaisar ketika Tang Bun An diperkenankan menghadapnya.

Tang Bun An menyatakan kesanggupannya untuk menangkap serta menyeret dua orang wanita, yaitu selir Hwee Lan dan dayang A Sui, kembali ke istana dalam waktu satu hari saja. Bahkan juga dia bersedia menangkap orang yang telah melarikan dua orang wanita itu dari dalam istana.

Mendengar ini, tentu saja semua pengawal menjadi terkejut dan heran sekali. Bagaimana mungkin orang setengah tua ini akan mampu menangkap buronan itu dalam waktu sehari saja, pada hal para pengawal yang pandai telah gagal sama sekali?

Tentu saja hal itu tidaklah terlalu mengherankan kalau saja mereka ketahui bahwa ketika Tang Bun An menghadap kaisar, tiga orang itu sudah menjadi tawanannya dan sekarang dia sembunyikan dalam sebuah kuil tua di dalam hutan sebelah utara kota raja!

Dengan sikap hormat dan gagah Tang Bun An segera menolak ketika kaisar menawarkan bantuan pasukan pengawal. Dia pun berangkat dan tepat pada keesokan harinya, pagi-pagi dia sudah kembali ke istana membawa tiga orang tawanan itu yang telah dibelenggu kedua tangan mereka dan dirantai kaki mereka.

Semua orang tentu saja menjadi bengong dan terkejut sekali melihat bahwa komandan pengawal muda itu menjadi tawanan, apa lagi pada saat mereka mendengar bahwa yang melarikan Hwee Lan dan A Sui adalah Tang Gun, perwira pengawal yang amat dipercaya oleh kaisar. Gegerlah seluruh penghuni istana mendengar bahwa Tang Gun tidak hanya melarikan selir dan dayangnya itu, akan tetapi juga dia yang telah membunuh A Cui yang disangka mati membunuh diri di Pondok Sarang Madu.

Kaisar sendiri tentu saja menjadi marah bukan kepalang. Dengan muka merah dan mata melotot dia mendengarkan pengakuan ketiga orang tawanan itu, kemudian dengan suara lantang kaisar menjatuhkan hukumannya. Hwee Lan dan A Sui dijatuhi hukuman menjadi nikouw (pendeta wanita), harus mencukur gundul rambut mereka dan selanjutnya mereka diharuskan menjadi nikouw, hidup di kuil untuk menebus dosa selama hidup mereka. Ada pun Tang Gun, karena mengingat akan jasa-jasanya yang pernah dilakukannya terhadap kaisar, perwira pengawal ini dihukum buang sesudah menerima cambukan sebanyak lima puluh kali!

Tentu saja Tang Bun An menerima hadiah seperti yang dijanjikan kaisar. Dia kemudian diangkat menjadi komandan seluruh pasukan pengawal! Suatu kedudukan yang tinggi!

Akan tetapi tentu saja kedudukan itu tidak diterimanya dengan begitu mulus dan mudah. Seorang di antara para menteri, yaitu menteri bagian keamanan, segera memperingatkan kaisar bahwa semestinya dalam menerima seseorang untuk menjadi komandan pasukan pengawal istana tidak dilakukan semudah itu,

"Ampun, Sribaginda, memang sudah ada bukti akan kesetiaan dan jasa dari Tang Bun An sehingga sudah sepantasnya bila dia menerima anugerah dari paduka. Akan tetapi, akan lebih bijaksana kiranya kalau dia diuji lebih dulu. Bagaimana pun juga, tingkat kepandaian seorang komandan seharusnya lebih tinggi dari pada tingkat semua perwira pasukan itu sehingga takkan menimbulkan perasaan iri di antara para prajurit mau pun perwira! Juga hal ini akan mempertebal ketaatan seluruh anak buah terhadap komandannya," demikian antara lain menteri itu mengemukakan pendapatnya.

Kaisar dapat menerima pendapat ini dan demikianlah, sebelum menerima pengangkatan dirinya sebagai seorang panglima, kepala seluruh pasukan pengawal istana, Tang Bun An diharuskan melewati ujian. Pengujinya adalah seseorang yang sangat disegani di seluruh pasukan pengawal, yaitu Coa-ciangkun (Panglima Coa) yang tadinya menjabat sebagai kepala pasukan pengawal tetapi kini harus menjadi orang ke dua setelah Tang Bun An!

Coa Ciangkun ini terkenal memiliki tenaga gajah dan juga ilmu silatnya tinggi, maka boleh dibilang dia adalah jagoan istana nomor satu yang selama ini sukar dicari tandingannya! Dia baru berusia empat puluh tahun dan tubuhnya tinggi besar menyeramkan.

Kaisar sendiri langsung tertarik ketika melihat sikap Tang Bun An yang sedikit pun tidak menyatakan ketakutan ketika dikabarkan bahwa dia akan diuji oleh Coa Ciangkun yang terkenal itu. Oleh karena itu kaisar berkenan hendak menyaksikan sendiri ujian atau adu kepandaian itu.

Mendengar bahwa kaisar sendiri hendak menyaksikan, legalah hati Tang Bun An. Kalau junjungan itu menyaksikan sendiri, sudah pasti perwira Coa itu tak akan berani melakukan kecurangan dan tentu adu kepandaian itu akan berlangsung dengan jujur dan adil. Hal ini melegakan hatinya yang tadinya merasa ragu-ragu dan khawatir kalau-kalau nantinya dia akan dicurangi oleh para pembesar istana yang tentu merasa iri hati kepadanya. Dan dia pun maklum betapa lihainya para jago istana sehingga kalau sampai dia dikeroyok, hal itu akan berbahaya juga baginya.

Pada hari dan waktu yang sudah ditentukan, sebuah lian-bu-thia (ruang berlatih silat) telah dipersiapkan dan kaisar sudah hadir bersama beberapa orang selir dan dayang yang suka akan ilmu silat. Juga para pembesar militer hadir untuk menilai hasil ujian itu.

Sesudah memberi hormat dengan berlutut di hadapan kaisar, Tang Bun An dan lawannya menuju ke tengah ruangan. Tang Bun An kemudian memandang kepada calon lawan itu dengan penuh perhatian.

Seorang raksasa berusia empat puluh tahun yang biar pun tubuhnya tinggi besar, namun gerak-geriknya keihatan gesit. Seorang lawan yang tangguh, pikirnya, akan tetapi sedikit pun dia tidak merasa gentar. Dia percaya kepada kemampuan dirinya.

Sekelebatan saja dia tahu bahwa dalam menghadapi lawan seperti itu, amat bodoh kalau dia harus mengadu tenaga. Jelas bahwa orang itu memiliki tenaga yang sangat kuat, baik tenaga otot mau pun tenaga dalam. Karena itu, satu-satunya cara untuk menghadapinya hanyalah mengandalkan kecepatan dan dia merasa yakin akan bisa mengatasi lawannya dalam hal kecepatan. Memang dia terkenal sebagai seorang ahli ginkang yang hebat, dan karena mengandalkan ginkang-nya inilah maka selama puluhan tahun ini tidak ada yang mampu menangkap Ang-hong-cu!

Pertandingan ujian itu akan segera dimulai. Untuk mentaati perintah kaisar yang khawatir kalau dua orang yang sangat berguna baginya itu mengalami cidera, maka pertandingan dilakukan dengan tangan kosong.

Begitu mereka bergebrak dan saling serang, tahulah Si Kumbang Merah bahwa lawannya memang amat tangguh dan mempunyai ilmu silat yang pada dasarnya adalah aliran silat Siauw-lim-pai namun gerakannya telah bercampur dengan silat dari utara dan barat. Akan tetapi, yang amat merepotkannya adalah kekuatan yang dahsyat dari lawan itu.

Meski pun dia sendiri memiliki sinkang yang kuat, namun setelah beberapa kali mencoba tenaga lawan dan mengadu tenaga, lengannya terasa agak nyeri karena dia kalah muda sehingga tulang-nya juga kalah kuat! Sebab itu mulailah Si Kumbang Merah Tang Bun An mempergunakan kecerdikannya.

Tubuhnya berkelebatan amat cepatnya dan benar seperti dugaannya. Biar pun si raksasa itu juga memiliki gerakan yang cepat, tetapi masih jauh kalah cepat jika dibandingkan dia. Coa Ciangkun mulai merasa pening karena lawannya lenyap, berubah menjadi bayangan yang terus berkelebatan di sekeliling dirinya! Lawannya itu seperti seekor kumbang yang beterbangan mengitarinya, membuat Coa Ciangkun kini terdesak dan repot sekali.

Setelah lewat lima puluh jurus dan membuat lawan benar-benar pening, dengan kecepatan kilat ketika tubuhnya berkelebat di belakang lawan, Tang Bun An mempergunakan ujung kakinya menendang cepat mengarah tekukan lutut kedua kaki Coa-ciangkun. Tidak keras tendangan itu, akan tetapi karena yang ditendang adalah bagian yang lemah, maka tanpa dapat dipertahankan lagi, kedua kaki perwira raksasa itu pun tertekuk dan dia berlutut!

Tang Bun An yang cerdik tidak ingin menambah musuh, maka cepat dia menjura kepada perwira itu sambil berkata, "Ciangkun, engkau sungguh hebat, maafkan aku."

Perwira Coa bangkit berdiri lantas balas menjura. Hatinya kagum sekali. Orang ini sangat lihai, pikirnya, akan tetapi pandai pula merendahkan diri. Meski pun dia tadi kalah, namun lawannya sengaja tidak membikin malu padanya. Dia tahu bahwa kalau lawan yang amat lihai itu menghendaki, dia dapat dikalahkan dalam cara yang lebih keras lagi.

Kaisar merasa puas dan para pembesar militer juga menyatakan kekaguman mereka. Semua orang tahu belaka bahwa pria setengah tua yang masih ganteng dan simpatik itu memang memiliki ilmu kepandaian yang tinggi dan boleh diharapkan menjadi komandan pengawal yang dapat dipercaya.

Mulai hari ini resmilah Tang Bun An menjadi Tang-ciangkun, dan kedudukannya bahkan jauh lebih tinggi dari pada Tang Gun. Lalu bagaimana dengan nasib Tang Gun? Bagi dua orang kekasihnya sudah jelas. Hari itu juga mereka digunduli dan diserahkan kepada para nikouw pengurus kuil, dan dua orang wanita muda itu dipaksa menjadi nikouw, setiap hari kerjanya hanya berdoa dan mempelajari kitab-kitab agama untuk menebus dosa mereka!

Ada pun Tang Gun sendiri, dengan punggung yang masih penuh babak belur serta terasa perih, lehernya dikalungi papan berlubang dan dikawal oleh dua orang petugas penjara, dibawa keluar dari kota raja dalam perjalanannya ke tempat pembuangan, jauh ke utara di mana terdapat tempat pembuangan dan di sana para terhukum itu dijadikan pekerja rodi, memperbaiki dinding dari Tembok Besar yang rusak, melayani pasukan penjaga dan lain-lain pekerjaan kasar, sampai mereka itu mati atau habis masa hukumannya.

Sesudah Tang Gun dikawal dua orang petugas penjara keluar dari kota raja, pada malam harinya Tang Bun An merasa gelisah di dalam kamarnya. Ia terkenang kepada Tang Gun, teringat akan percakapan antara Tang Gun dan Hwee Lan di dalam kuil sebelum mereka dia serahkan kepada kaisar. Dua orang itu bertangisan dan dalam keluh kesahnya itulah dia mendengar Tang Gun berkata dengan suara penuh duka.

"Aih, aku telah melupakan pesan ibuku, dan seperti juga ibuku, aku menjadi korban nafsu. Ibuku pernah bercerita bahwa karena terbuai oleh nafsu, dahulu ibuku telah menyerahkan diri kepada seorang pria. Ibuku mengandung dan pria itu pergi begitu saja. Ibu melahirkan aku lantas hidup merana dan itu semua adalah korban nafsu yang hanya beberapa waktu saja! Aku lupa akan pengalaman ibu, dan aku pun sudah tergoda oleh nafsu sehingga kita melakukan hubungan dan sekarang akibatnya sungguh pahit, sama sekali tidak sepadan dengan kesenangan sejenak yang kita nikmati...”

“Akan tetapi, koko. Kita saling mencinta... ," bantah Hwee Lan.

"Hemm, benarkah hal itu? Apa bila kita saling mencinta, tentu kita tidak akan melakukan hubungan yang akibatnya hanyalah mencelakakan kita sendiri. Kita saling mencelakakan. Yang mendorong hubungan kita bukanlah cinta, tapi nafsu birahi! Peringatan ibu sungguh tepat. Kita harus senantiasa waspada terhadap nafsu kita sendiri karena nafsu kita yang akan menyeret kita ke lembah kesengsaraan. Apa bila kita lengah, nafsu akan menerkam kita. Untuk kenikmatan yang hanya beberapa saat kita rasakan, mungkin akan menyeret kita ke lembah kesengsaraan selama hidup!"

Pemuda itu menangis dan merintih-rintih memanggil ibunya! Itulah yang selalu mengiang di dalam telinga Si Kumbang Merah pada malam hari itu. Dia sendiri tidak tahu siapa ibu pemuda itu, namun dia percaya bahwa Tang Gun adalah puteranya. Sudah terlalu banyak wanita dia permainkan sehingga dia tidak ingat lagi, wanita yang mana yang menjadi ibu pemuda itu! Dan dia pun tidak mempunyai hasrat untuk mengetahuinya.

Namun betapa pun juga Tang Gun adalah anak kandungnya! Dia tidak memiliki rasa cinta terhadap pemuda itu, akan tetapi, mengingat bahwa Tang Gun tidak bersalah kepadanya, dan juga tidak mengecewakan menjadi puteranya, pandai menjatuhkan hati wanita, maka hatinya merasa tidak tega.

Demikianlah, pada keesokan harinya ketika Tang Gun dan dua orang pengawalnya tiba di jalan sunyi di lereng sebuah bukit, tiba-tiba muncul seorang yang berpakaian serba hitam dan memakai kedok hitam pula. Tanpa banyak cakap, si kedok hitam ini menyerang dua orang pengawal itu.

Mereka mencabut golok lalu melakukan perlawanan. Namun percuma saja, hanya dalam beberapa jurus keduanya sudah terjungkal tewas dan si kedok hitam lantas menendangi mayat mereka sampai terlempar ke dalam jurang yang sangat dalam. Sesudah itu, masih tanpa bicara, si kedok hitam membikin pecah ‘kang’ (alat papan berlubang mengalungi leher), mematahkan semua rantai, kemudian menyerahkan sebuah buntalan kain kuning kepada Tang Gun. Buntalan kain itu ternyata berisi uang emas!

Tang Gun terheran-heran namun si kedok hitam meloncat pergi. Pemuda itu hanya dapat berteriak, "Kedok hitam, aku Tang Gun tidak akan melupakan pertolonganmu ini selama hidupku!"

Si Kedok Hitam itu tentu saja bukan lain adalah Si Kumbang Merah Tang Bun An. Setelah menolong dan membebaskan putera kandungnya serta memberi emas yang cukup untuk bekal hidup pemuda itu, dia lalu kembali ke kota raja dan hatinya merasa lega dan puas.

Tang Gun adalah anak keturunannya yang patut dibanggakan! Hanya sayang ilmu silatnya tak begitu tinggi, tidak seperti Hay Hay atau Tang Hay itu. Begitu teringat akan Tang Hay, diam-diam Si Kumbang Merah bergidik.

Anak itu sungguh luar biasa. Amat lihai dan memiliki ilmu sihir yang mengerikan pula. Dan timbul kekhawatiran di dalam hatinya bahwa anak kandungnya yang satu itu sekali waktu akan dapat menemukannya! Apakah dia akan sanggup menandingi anaknya itu? Apakah dia akan mampu menyelamatkan dirinya?

"Aku tidak perlu takut!" Akhirnya dia mengeluh.

Bukankah tidak seorang pun di antara mereka, termasuk Tang Hay sendiri, mengetahui bahwa dia kini sudah menjadi seorang panglima di istana? Panglima, komandan seluruh pasukan pengawal yang amat kuat! Maka, apa artinya musuh-musuh dari golongan para pendekar itu? Dalam kedudukannya sekarang, mereka takkan mampu berbuat sesuatu!

Sejak itu mulailah Si Kumbang Merah Tang Bun An menikmati kehidupannya yang baru. Seorang panglima yang ditakuti dan disegani, yang memiliki kekuasaan di istana, luar dan dalam. Dialah yang mengatur semua penjagaan, dia pula yang bertanggung jawab akan keamanan dan keselamatan istana, akan keamanan dan keselamatan kaisar sekeluarga!

Dia berkedudukan tinggi serta terhormat, juga hidup dalam kemewahan. Sebentar saja di dalam gedungnya yang megah telah dimeriahkan dengan adanya belasan orang pelayan wanita yang muda-muda dan cantik-cantik. Bahkan karena pengalamannya dalam urusan wanita, Si Kumbang Merah memilih gadis-gadis yang cantik dengan segala macam sifat dan pembawaan, ada sesuatu yang khas dan menjadi daya tarik bagi setiap para pelayan itu. Dia memilih dengan amat teliti sehingga sebentar saja para pejabat tinggi di kota raja mendengar atau melihat sendiri bahwa panglima baru ini mempunyai gadis-gadis pelayan yang hebat, yang tidak kalah dibandingkan dengan para dayang di istana kaisar…..!

********************

Apakah Si Kumbang Merah Tang Bun An sudah merasakan bahagia di dalam hidupnya? Apakah dia sekarang sudah merasa puas dengan keadaan hidupnya yang baru, di mana dia bergelimang dengan kehormatan, kekayaan dan kemuliaan?

Orang-orang menghormatinya, rumahnya besar dan dilayani pelayan-pelayan wanita yang muda-muda lagi cantik, dijaga pasukan pengawal dan hidup sebagai seorang pembesar yang otomatis menjadi bangsawan yang kaya raya. Apakah hidupnya bahagia? Memang senang, namun kesenangan bukanlah kebahagiaan.

Kesenangan hanyalah merupakan keadaan sepintas saja, selewat saja, bahkan ada pula kesenangan yang umurnya amat pendek. Setelah saat senang itu lewat, maka muncullah kebosanan dan kekecewaan. Kesenangan hanya sekedar pemuasan nafsu keinginan dan sesudah tercapai, maka kepuasan itu pun ternyata hanya sekelumit saja dan baru terasa bahwa apa yang dicapainya itu, kesenangan yang diidamkan itu, tidaklah sebesar ketika dikejarnya.

Kesenangan adalah muka yang lain dari kesusahan, ada suka tentu ada duka, ada puas tentu ada kecewa. Kesenangan hanyalah merupakan permainan perasaan yang dikuasai oleh nafsu. Sedangkan kebahagiaan bukanlah keadaan badan, melainkan keadaan jiwa! Keadaan jiwa yang bebas dari pada cengkraman nafsu. Jiwa yang tidak lagi terbungkus dan tertutup nafsu, jiwa yang sudah terbuka, sudah bersatu dengan Tuhan!

Hanya kekuasaan Tuhan sajalah yang akan mampu membersihkan jiwa dari kurungan nafsu! lkhtiar manusia melalui pikiran dan akal budi tidak mungkin menundukkan nafsu, karena pikiran dan akal budi pun sudah bergelimang nafsu. Tidak mungkin nafsu dapat menundukkan nafsu. Hanya kekuasaan Tuhan yang akan bisa membersihkan jiwa yang bergelimang nafsu, atau jiwa yang tertutup oleh kekuasaan gelap, kekuasaan nafsu yang memikat manusia dengan segala macam bentuk kesenangan badani atau kesenangan pikiran dan hati.

Panca indera, pikiran, hati dan akal budi hanyalah alat pelengkap hidupnya jiwa dalam badan. Namun sungguh sayang, karena badan diperalat nafsu dan daya rendah, maka jiwa bagaikan tertutup dan terbungkus. Bagaimana mungkin kita membersihkan jiwa kita, betapa mungkin kita menundukkan nafsu kalau ‘kita’ sudah bergelimang dengan nafsu?

Hanya kekuasaan Tuhan yang akan mampu membersihkan jiwa kita, dan satu-satunya ikhtiar yang dapat kita lakukan hanyalah menyerah kepada Tuhan Yang Maha Pengasih! Penyerahan yang berarti keimanan yang mutlak, penyerahan total, dengan penuh ikhlas, kesabaran, dan ketawakalan.


Orang seperti Si Kumbang Merah Tang Bun An adalah manusia yang tak mau mengenal Tuhan, tak mau mengakui bahwa ada Yang Maha Kuasa di alam semesta ini. Dia mengira bahwa dirinya adalah sang penentu bagi dirinya sendiri, baik atau buruk berada di telapak tangannya.

Orang seperti inilah yang akhirnya akan terpeleset, tersesat ke dalam lembah kejahatan, tanpa merasa bahwa dia tersesat. Kalau sudah tertimpa mala petaka sebagai akibat dari perbuatannya sendiri, orang seperti ini baru mengeluh, lantas mencari-cari sasaran untuk dijadikan biang keladi mala petaka itu, dijadikan sebagai kambing hitam untuk melempar kesalahannya.

Orang yang tak mau mengakui kekuasaan Tuhan selalu menyombongkan diri sendiri bila berhasil, dan melemparkan kesalahan kepada pihak lain kalau gagal. Sebaliknya, orang yang percaya kepada kekuasaan Tuhan, dalam keadaan berhasil dengan rendah hati dia berterima kasih atas berkah Tuhan, dalam keadaan gagal dia mohon pengampunan atas segala kesalahannya kepada Tuhan.


Si Kumbang Merah Tang Bun An lantas merayakan kemenangan serta keberhasilannya, seakan-akan mabok dalam keberhasilannya. Namun segala kesenangan yang diraihnya melalui nafsu yang dilampiaskan tanpa batas lagi ini, hanya sebentar saja terasa nikmat olehnya. Dalam waktu beberapa bulan saja dia sudah mulai merasa bosan!

Belasan orang pembantu wanita, gadis-gadis cantik jelita dan manis itu sudah kehilangan daya tarik baginya, seperti sekumpulan bunga yang sudah tidak menarik lagi bagi seekor kumbang yang telah menghisap madu bunga-bunga itu sampai sepuasnya. Dan mulailah matanya menjadi jalang mencari-cari bunga lain!

Si kumbang Merah yang tadinya merasa bosan dengan cara hidupnya yang liar, lantas merindukan kekuasaan dan kedudukan yang dianggapnya akan mendatangkan kemuliaan dan kemewahan, kini sesudah memperoleh semua itu, bahkan rindu akan cara hidupnya yang lalu! Dan sekali ini, dia tidak perlu lagi mencari-cari ke kota-kota atau dusun-dusun seperti dahulu lagi. Kini wanita-wanita cantik seolah-olah berserakan di depan hidungnya!

Bagaimana tidak? Dia adalah panglima yang mengepalai pasukan pengawal istana, baik di dalam mau pun di luar istana. Karena itu, para thai-kam pengawal yang selalu berjaga di sebelah dalam istana, di bagian para puteri, juga menjadi anak buahnya. Dan di dalam istana bagian para puteri itu terdapat banyak wanita pilihan, wanita-wanita tercantik dari seluruh negeri! Maka mulailah si kumbang merah beraksi.

Biar pun usianya sudah lima puluh lima tahun, namun Tang Bun An menjadi seperti muda kembali, menjadi seekor kumbang merah yang beterbangan di antara bunga-bunga yang sedang mekar dengan indahnya di taman istana, hinggap dari satu ke lain kembang untuk menghisap madu manis sepuas hatinya!

Dengan ilmu kepandaiannya yang tinggi, tentu saja dengan mudah Si Kumbang Merah dapat menyelinap ke dalam kamar seorang selir atau dayang tanpa di ketahui orang lain. Baginya, tidak peduli wanita itu selir kaisar, atau bahkan puteri kaisar, atau dayang, asal muda dan cantik, tentu akan dirayunya.

Dia memang pandai merayu wanita, dengan rayuan maut yang membuat setiap wanita menjadi lemas dan bertekuk lutut, menyerahkan diri tanpa melawan lagi, bahkan dengan suka rela, dengan kehausan seorang wanita yang menjadi isteri atau selir kaisar dengan puluhan orang saingan! Maka dalam waktu beberapa bulan saja hampir seluruh selir dan dayang telah membiarkan diri dihisap oleh Si kumbang Merah. Bahkan banyak pula gadis puteri kaisar yang menyerah!

Namun Si Kumbang Merah Tang Bun An adalah seorang pria yang berpengalaman dan cerdik sekali. Dia tidak lagi berani melakukan paksaan atau pemerkosaan terhadap wanita di dalam istana seperti yang dahulu sering kali dia lakukan ketika dia masih liar sebagai Ang-hong-cu yang ditakuti orang. Tidak, dia tidak ingin mengorbankan kedudukannya.

Dia berlaku hati-hati dan hanya merangkul wanita yang menanggapi rayuannya sehingga selalu terjadi hubungan yang suka sama suka. Dia kini dapat menjaga pula agar jangan sampai ada puteri kaisar yang masih gadis menjadi hamil akibat perjinahan mereka. Dan dia pun tidak mau jatuh cinta seperti Tang Gun yang dianggapnya bodoh. Hubungannya dengan para wanita itu hanyalah hubungan nafsu semata, saling meminta dan memberi, setelah itu habis sudah, tidak ada ikatan dalam hati.

Tidak lama kemudian, semua selir dan dayang yang menjadi kekasihnya sudah rnenjadi sekutunya. Mereka itu beramai-ramai selalu melindungi dan menyembunyikan rahasia Si Kumbang Merah. Bagi mereka, Tang-ciangkun yang satu ini sungguh merupakan seorang pria yang amat menyenangkan!

Dan mereka semua tahu bahwa sekali rahasia itu terbuka, bukan hanya panglima jantan itu yang akan celaka, akan tetapi mereka semua pun akan menjadi korban. Mereka masih teringat akan nasib selir Hwee Lan dan dayang A Sui, dan mereka tidak ingin menjadi nikouw!

Karena hampir semua selir dan dayang terlibat, maka Si Kumbang Merah merasa aman. Bunga-bunga harum itu bukan hanya suka menyerahkan madu manis kepadanya, bahkan melindunginya pula.

Betapa pun juga, masih ada juga satu hal yang kadang-kadang mengkhawatirkan hati Si Kumbang Merah, yaitu permaisuri! Wanita berusia empat puluh tahun lebih yang masih tampak cantik dan amat berwibawa ini merupakan ganjalan dan juga merupakan ancaman bahaya bagi dia dan semua kekasihnya di dalam harem kaisar itu.

Permaisuri ini amat anggun dan juga angkuh. Sebagai seorang pria yang berpengalaman dia maklum bahwa tidak mungkin merayu dan menundukkan hati seorang wanita seperti permaisuri itu. Kalau saja tarikan mulutnya tidak sekeras itu, atau pandang matanya tidak setajam dan sedingin itu, mau rasanya dia mencoba merayu sang permaisuri. Walau pun usianya sudah empat puluh tahun lebih, namun dia juga merupakan seorang wanita yang amat menarik, setangkai bunga yang sama sekali belum layu.

Namun Ang-hong-cu Tang Bun An tidak berani mencoba hal ini karena sekali gagal, dia akan celaka. Walau pun dia mampu melarikan diri andai kata terjadi sesuatu, yang jelas dia akan kehilangan kedudukannya dan akan menjadi seorang buruan pemerintah. Berat!

Kekhawatiran Ang-hong-cu ini memang tidak meleset. Diam-diam, permaisuri yang juga memiliki kecerdikan itu sudah bisa ‘mencium’ bau rahasia ketidak beresan yang terjadi di dalam istana bagian puteri itu. Walau pun para selir dan dayang, juga para thai-kam (pria kebiri) pengawal yang bertugas di sana semua membantu Ang-hong-cu, akan tetapi ada beberapa orang thai-kam yang menjadi orang-orang kepercayaan sang permaisuri! Mereka inilah yang membocorkan rahasia itu kepada permaisuri!

Pada saat permaisuri mendengar bahwa banyak selir dan dayang yang telah ‘mengotori’ istana dengan perbuatan jinah mereka besama Panglima Tang, maka secara diam-diam permaisuri marah bukan main.

"Hemm, pelacur-pelacur itu...!” dia mengepal tangannya. "Awas, akan kubongkar semua ini!"

Tanpa adanya bukti yang nyata, sang permaisuri tidak berani melapor begitu saja kepada suaminya, yaitu kaisar. Kaisar harus dapat menangkap basah mereka itu, dan tentu saja hal itu dapat diatur dengan bantuan para thai-kam pengawal yang menjadi pembantunya yang setia!

Demikianlah, diam-diam permaisuri yang cerdik ini sudah mengatur siasat bersama para pembantunya yang setia. Dan laksana seekor laba-laba betina, dia telah menenun sarang yang penuh jebakan dan perangkap. Hal ini dilakukan dengan penuh rahasia sehingga sama sekali tak mencurigakan Si Kumbang Merah dan para wanita yang menjadi kekasih Ang-hong-cu itu.

Pada suatu malam, seperti biasa Si Kumbang Merah berada di kamar salah seorang selir kaisar. Selir itu masih muda, usianya tak lebih dari tiga puluh tahun, cantik jelita dan amat menarik, juga merupakan seorang di antara para selir yang tersayang oleh kaisar. Seperti biasa pula, dayang selir itu yang juga telah menjadi kekasih Si Kumbang Merah, melayani mereka berdua yang berpesta pora di dalam kamar.

Ang-hong-cu Tang Bun An demikian mabok kesenangan sehingga sesudah lewat tengah malam, dia pun sudah tertidur nyenyak dalam kamar itu, dalam pelukan dua kekasihnya. Sama sekali dia tidak tahu bahwa sejak memasuki bagian puteri itu gerak-geriknya sudah diamati oleh para thai-kam pengawal yang menjadi mata-mata permaisuri.

Untunglah bahwa selama ini Ang-hong-cu selalu bersikap baik dan royal sekali terhadap para pengawal. Para thai-kam pengawal yang tidak menjadi mata-mata permaisuri, masih setia kepada Ang-hong-cu. Panglima Tang ini adalah seorang atasan yang royal dengan hadiah, bahkan sering pula mengajarkan satu dua jurus ilmu silat tinggi kepada mereka. Maka, sebelum jerat yang dipasang sang permaisuri mengena, pintu kamar selir itu telah digedor dari luar oleh beberapa orang pengawal yang setia kepada Ang-hong-cu.

"Ciangkun..., Ciangkun... cepat buka pintu !" kata mereka.

Tentu saja Si Kumbang Merah terkejut sekali, apa lagi sesudah dia membuka pintu dan mendengar laporan seorang anak buahnya yang setia. "Ciangkun, sungguh celaka sekali. Entah apa yang terjadi, tahu-tahu Sribaginda datang berkunjung dan anehnya, kini semua jalan keluar telah dijaga oleh pengawal-pengawal kepercayaan Sang Permaisuri! Agaknya rahasia ciangkun sudah ada yang membocorkan. Cepat, mereka akan menuju ke sini!"

Setetah berkata demikian, para pengawal itu cepat mengundurkan diri karena tentu saja mereka tidak ingin terlibat. Mendengar laporan itu, selir dan dayangnya sudah menangis dengan wajah pucat dan tubuh gemetar ketakutan. Akan tetapi Si Kumbang Merah tenang saja. Dia menutupkan pintu kamar itu, lalu merangkul selir itu sambil berbisik,

"Kau pura-pura sakit, lekas berselimut!” Dan kepada dayang itu, dia pun berkata, "Engkau rawat majikanmu, memijat-mijat kakinya dan laporkan bahwa sejak sore tadi majikanmu merasa pening dan badannya lesu. Kalian berdua bersikap tenang saja, dan pura-pura kaget kalau ada yang menggedor pintu. Mengerti?"

Setelah berkata demikian, Si Kumbang Merah mengeluarkan sebuah bungkusan kecil dari saku bajunya kemudian mulailah dia berhias muka. Sebentar saja mukanya telah berubah menjadi wajah seorang wanita setengah tua! Dayang itu membantunya dengan pakaian yang lusuh dan tua sehingga kini dia pun telah menjadi seorang wanita tua yang berwajah lembut! Dan sekali berkelebat, dia sudah keluar dari jendela kamar itu. Daun jendela lalu ditutup kembali oleh sang dayang.

Dan benar saja, tak lama kemudian pintu kamar itu digedor dari luar, keras sekali. "Cepat buka pintu! Perintah Sribaginda!" terdengar teriakan itu.

Karena perasaan takut, selir itu menggigil ketakutan, mukanya pucat dan keringat dingin membasahi tubuhnya. la bersembunyi ke dalam selimut dan dayangnya segera membuka daun pintu itu, dengan perasaan takut yang ditahan-tahan pula. Setelah daun pintu dibuka dan melihat Sribaginda Kaisar di ambang pintu, dayang itu lalu menjatuhkan diri berlutut.

Kaisar tidak memperhatikan dayang itu, melainkan memandang ke seluruh kamar dengan sinar mata penuh selidik, lalu bertanya, "Apa yang dilakukan majikanmu?"

"Ampun..., Paduka. Nyonya... nyonya sedang sakit, sejak sore tadi terus tiduran..., hamba merawatnya...”

Mendengar ini, kaisar segera melangkah mendekati pembaringan, kemudian menyingkap kelambu. Kaisar melihat selir terkasih itu rebah terlentang, wajahnya pucat dan tubuhnya menggigil.

"Engkau sakit... ?" Kaisar meraba dahi serta lehernya dan memperoleh kenyataan betapa tubuh itu panas dingin dan basah oleh keringat. "Ah, engkau benar sedang sakit. Tidurlah, besok biar diberi obat oleh tabib istana."

Kaisar menutup kembali kelambu, lantas keluar dari kamar itu dengan wajah bersungut-sungut. Tadi permaisuri menyindir bahwa mungkin peristiwa Hwee Lan sekarang terulang kembali, dan kaisar dipersilakan untuk berkunjung ke kamar selir itu lewat tengah malam.

"Kalau tidak ada pria di sana, tentu pria itu sudah melarikan diri dan harus dicari sampai dapat, Jangan sampai nama baik paduka menjadi ternoda aib akibat peristiwa tidak tahu malu seperti itu." Demikian sang permaisuri berkata.

Lewat tengah malam, kaisar lalu melakukan pemeriksaan dengan hati dipenuhi perasaan cemburu, membawa pasukan pengawal yang dipilih oleh permaisuri. Akan tetapi ternyata kamar itu kosong, malah selir terkasih yang dituduh menyimpan kekasih itu sedang rebah dalam keadaan sakit!

"Geledah seluruh kamar di sini, cari dan tangkap apa bila sampai terdapat seorang asing!" Demikian perintah kaisar yang merasa penasaran, lalu melangkah pergi dari tempat itu.

Dia sendiri hendak mencari permaisuri di dalam kamarnya, untuk menegur permaisurinya itu kalau memang ternyata tidak ditemukan sesuatu. Untuk ini dia telah membuang waktu dan tidak tidur, namun semua untuk percuma saja.....!


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner