SI KUMBANG MERAH : JILID-21


Dia adalah seorang wanita yang usianya sekitar tiga puluh tahun. Pakaiannya serba indah dan mewah sehingga nampak ganjil sekali seorang wanita berpakaian seindah itu berada di dalam hutan! Dan cantiknya! Bentuk tubuhnya! Seorang wanita yang telah matang dan penuh daya tarik, menggairahkan! Kalau saja tidak nampak gagang sepasang pedang di balik pundaknya, tentu tidak ada seorang pun yang dapat menduga bahwa wanita cantik yang lemah-gemulai ini adalah seorang ahli silat yang amat pandai!

Wajah itu bulat dan kulitnya putih kemerahan, dan kecantikan itu masih ditambah dengan bedak serta pemerah pipi dan bibir. Pandang matanya amat tajam, dan kerlingnya begitu memikat sehingga akan sukar ditemukan pria yang mampu bertahan bila disambar kerling mata seperti itu.

Begitu melihat wanita itu, seketika timbul rasa sayang dan suka di dalam hati Cun Sek, maka tanpa ditanya lagi otomatis hatinya sepenuhnya berpihak kepadanya! Oleh karena itu, ketika melihat wanita itu agaknya ragu-ragu dan hendak menyeberang melewati jalan setapak yang mengandung ancaman maut itu, tanpa disadarinya sendiri dia lalu berseru,

"Hati-hati, nona! Jangan lewat jalan itu, tanah dan semak-semaknya sudah ditaburi racun jahat!"

Tiba-tiba saja wanita itu meloncat ke samping, tinggi sekali dan bagaikan seekor burung terbang, tubuhnya sudah melayang lantas hinggap di atas cabang pohon, terus diayunnya tubuhnya itu hingga melayang ke atas lagi, lalu hinggap lagi di cabang lain dan demikian seterusnya sehingga dalam waktu beberapa detik saja dia sudah hinggap di atas cabang pohon di depan Cun Sek!

Cun Sek memandang terbelalak kagum bukan main. Kiranya wanita itu bukan saja cantik manis, akan tetapi juga memiliki ginkang yang demikian hebatnya hingga nampak bagai seekor burung yang sangat indah, yang kini berdiri di atas cabang sambil memandang kepadanya dengan sinar matanya yang jeli indah dan mulutnya yang tersenyum manis.

"Siapakah engkau dan mengapa engkau memperingatkan aku tentang bahaya racun itu?" Wah, bukan hanya wajahnya cantik tubuhnya menggairahkan, sinar mata dan senyumnya memikat, juga suaranya amat merdu.

Tanpa menyembunyikan kekaguman pada pandang matanya, Cun Sek menjawab sambil tersenyum. "Tadinya aku memang hanya menjadi penonton, tak ingin mencampuri urusan orang lain yang tidak ada sangkut pautnya dengan aku. Akan tetapi, melihat engkau yang begini cantik jelita terancam bahaya maut yang demikian mengerikan, aku merasa tidak tega sehingga tanpa kusadari aku sudah berteriak memberi peringatan."

Di dalam hatinya dia masih merasa heran mengapa yang muncul seorang wanita yang demikian cantiknya. Bukankah yang dinanti oleh orang-orang di bawah itu adalah seorang iblis betina?

Kini dua puluh delapan orang itu sudah bermunculan dari tempat persembunyian mereka dan mereka telah siap dengan senjata di tangan. Terdengar raksasa brewok tadi berteriak sambil mengacungkan golok besarnya ke arah pohon.

"Iblis betina, turunlah! Mari kita membuat perhitungan!"

"Tok-sim Mo-li (Iblis Betina Berhati Racun), bersiaplah engkau untuk menebus nyawa sute Yauw Kwan!" orang pertama dari Kwi-san Su-kiam-mo juga berteriak sambil menudingkan pedangnya ke arah wanita yang masih di atas cabang pohon itu.

Kini Cun Sek semakin kaget. Kiranya benar wanita ini yang disebut Iblis Betina. Wah, bagi dia, wanita ini lebih pantas disebut bidadari kahyangan!

Semua penilaian melahirkan pendapat yang palsu, karena penilaian selalu didasari pada perhitungan untung rugi si penilai. Bila mana yang dinilai itu menguntungkan, dan berarti menyenangkan, tentu dinilainya baik, sebaliknya jika merugikan atau tak menyenangkan, maka akan dinilainya buruk.

Para anggota Hek-tok-pang telah dirugikan oleh Tok-sim Mo-li, banyak anggotanya yang tewas di tangan wanita itu, maka tentu saja menganggap wanita itu jahat sekali, bahkan kecantikan wanita itu tidak lagi menarik karena telah timbul kebencian dan dendam dalam hati mereka. Seperti itu pulalah perasaan tiga orang di antara Kwi-san Su-kiam-mo yang menaruh dendam karena sute mereka tewas di tangan wanita itu.

Akan tetapi sebaliknya, Cun Sek sama sekali tidak pernah merasa dirugikan oleh wanita itu, dan ketika melihat kecantikan wanita itu, dia menilainya sebagai seorang wanita yang menarik dan patut dibela! Orang seperti Cun Sek ini tentu saja hanya menilai seseorang hanya dari kulitnya. Dia lupa bahwa kecantikan hanya setipis kulitnya, hanya merupakan pembungkus belaka, pembungkus tengkorak dan rangka yang sama pada setiap orang manusia.

Memang sungguh sayang sekali. Pada umumnya kita lebih senang memperhatikan dan memperindah badan dari pada batin kita. Kita mencuci badan kita setiap hari, dua tiga kali, akan tetapi ingatkah kita untuk mencuci batin kita? Mencuci batin berarti ingat pada Tuhan dan menyerah dengan seluruh pemasrahan, karena hanya kekuasaan Tuhan saja yang akan mampu membersihkan batin kita yang dipenuhi kekotoran.

Tentu saja Cun Sek tidak tahu siapa sebenarnya wanita cantik itu. Kalau dia sudah benar-benar mengenalnya, maka dia akan semakin terkejut. Wanita ini bernama Ji Sun Bi, yang di dunia kang-ouw terkenal dengan julukan Tok-sim Mo-li. Dari julukan ini saja sudah bisa diketahui bahwa dia adalah seorang wanita yang hatinya beracun, berarti memiliki watak yang amat jahat.

Dia pernah menjadi murid juga kekasih dari mendiang Min-sa Mo-ko, seorang datuk sesat yang pernah menjadi tokoh Pek-lian-kauw. Tok-sim Mo-li Ji Sun Bi ini mewarisi ilmu-ilmu yang dahsyat dari gurunya, dan selain lihai dan cantik manis, juga dia mempunyai suatu penyakit, yaitu gila laki-laki!

Dia seorang penjahat cabul yang selalu timbul birahinya ketika melihat seorang pria muda yang tampan dan ganteng. Oleh karena itu, begitu melihat Cun Sek yang tinggi tegap dan tampan, tentu saja seketika hatinya tertarik sekali. Apa lagi begitu berjumpa pemuda itu sudah berpihak kepadanya dan berusaha menyelamatkannya dari ancaman bahaya!

Kurang lebih satu tahun yang lalu, Ji Sun Bi bersama mendiang gurunya, Min-san Mo-ko, membantu gerakan pemberontakan yang dipimpin oleh mendiang Lam hai Giam-lo serta seorang bangsawan Birma yang bernama Kulana. Akan tetapi pemberontakan itu berhasil dihancurkan oleh pasukan Menteri Cang Ku Ceng yang dibantu oleh para pendekar gagah perkasa. Hampir semua tokoh pemberontak tewas. Hanya ada beberapa orang saja yang berhasil menyelamatkan diri, di antaranya termasuk Tok-sim Mo-li li Sun Bi.

Ketika terjadi pertempuran, Ji Sun Bi bertanding melawan Cia Kui Hong, puteri ketua Cin-ling-pai yang sudah digembleng oleh Pendekar Sadis dan isterinya, yaitu kakek neneknya sendiri. Ji Sun Bi terdesak hebat dan pada saat terakhir dia dapat membuang dirinya ke bawah tebing.

Kui Hong mengira bahwa Ji Sun Bi yang jahat tentu tewas karena tebing itu amat curam. Akan tetapi ternyata tidak! Ji Sun Bi sudah memperhitungkan ketika dia melempar diri ke bawah tebing itu. Dia maklum benar bahwa di bawah tebing, tepat di bawah dia melempar tubuh, terdapat sebuah danau kecil yang dalam. Karena itu, ketika dia sampai di bawah, bukan batu atau tanah yang menerima tubuhnya, melainkan air! Biar pun dia hampir saja pingsan ketika terbanting ke air danau, namun dia dapat menyelamatkan dirinya dan tidak tewas!

Tok-sim Mo-li Ji Sun Bi kemudian melarikan diri dan bersembunyi sampai berbulan-bulan, takut kalau-kalau ada pengejaran dari para pendekar. Dan di dalam perantauannya sambil sembunyi-sembunyi ini Ji Sun Bi bertemu dengan seorang pria muda yang membuatnya girang bukan main. Siapakah pria muda itu? Dia bukan lain adalah Sim Ki Liong, seorang di antara para pembantu utama dalam pemberontakan yang dipimpin Lam-hai Giam-lo itu!

Pemuda itu adalah salah seorang di antara mereka yang berhasil menyelamatkan diri dan pemuda itu amat lihainya, bahkan tingkat kepandaiannya lebih lihai dari Ji Sun Bi sendiri. Dan yang lebih dari segalanya, pemuda itu adalah bekas kekasih atau seorang di antara para kekasih wanita cabul itu!

Ketika dua orang bekas rekan dan kekasih itu saling berjumpa, tentu saja mereka merasa gembira bukan main. Bukan saja gembira dalam melepas kerinduan masing-masing, akan tetapi terutama sekali gembira karena mereka kini merasa lebih kuat. Dengan kerja sama di antara mereka tentu saja mereka merasa kuat dan mampu melakukan hal-hal besar!

Sim Ki Liong adalah seorang pemuda berusia dua puluh dua tahun yang berwajah tampan dan sikapnya halus lagi sopan. Dia sesungguhnya putera dari mendiang Sim Thian Bu, seorang seorang tokoh sesat yang tewas di tangan suheng-nya sendiri, yaitu Siangkoan Ci Kang.

Sim Ki Liong yang cerdik ini kemudian berhasil menyusup ke Pulau Teratai Merah. Karena dia memang pandai mengambil sikap, dia pun berhasil menarik perhatian Pendekar Sadis dan isterinya yang berkenan mengambil dia sebagai murid! Sebagai murid terkasih dari Pendekar Sadis dan isterinya, tentu saja Sim Ki Liong menjadi lihai bukan main!

Akan tetapi, pada saat Cia Kui Hong berkunjung ke rumah kakek dan neneknya di Pulau Teratai Merah, Sim Ki Liong yang tergila-gila kepada Kui Hong itu seperti membuka kedok sendiri. Maka dia pun kemudian melarikan diri, minggat dari Pulau Teratai Merah sambil membawa pedang pusaka pulau itu, yaitu pedang pusaka Gin-hwa-kiam!

Sim Ki Liong kemudian ikut bergabung dengan gerakan pemberontakan Lam-hai Giam-lo, menjadi salah seorang di antara para pembantu yang dipercaya selain Ji Sun Bi. Pada waktu gerombolan pemberontak itu diserbu oleh para pendekar dan pasukan pemerintah, seperti juga Ji Sun Bi, Sim Ki Liong yang ternyata sangat cerdik itu dapat menyelamatkan diri juga.

Demikianlah, setelah Ji Sun Bi berjumpa dengan Sim Ki Liong, tentu saja kedua orang ini merasa girang bukan main. Keduanya lalu memilih Kim-lian-san (Bukit Terati Emas) itu sebagai tempat tinggal dan dengan kerja sama mereka sebentar saja mereka berdua telah mampu membangun tempat itu sebagai sarang dari perkumpulan yang mereka dirikan bersama, yang mereka beri nama Kim-lian-pai (Perkumpulan Teratai Emas)! Tentu saja ketuanya adalah Sim Ki Liong dan Ji Sun Bi menjadi wakil ketua.

Mereka berdua lalu menundukkan tokoh-tokoh sesat di sekitar daerah itu dan memaksa mereka untuk mengakui kekuasaan Kim-Iian-pai. Kalau ada tokoh atau golongan yang tak mau mengakui, maka Ji Sun Bi lalu turun tangan mengalahkan tokoh itu atau mengobrak-abrik gerombolan yang melawan. Dalam waktu beberapa bulan saja hampir seluruh tokoh kang-ouw dan gerombolan penjahat sudah dapat ditundukkan!

Mereka berdua lalu memilih pemuda-pemuda atau para pria yang memiliki kepandaian, juga wanita-wanita tangkas untuk menjadi anggota Kim-Iian-pai. Keduanya lantas melatih mereka sehingga tak lama kemudian Kim-lian-pai telah menjadi suatu perkumpulan yang anggotanya berjumlah lebih dari seratus orang dan rata-rata mereka memiliki kepandaian silat yang cukup tangguh.

Nama besar Kim-Iian-pai mulai dikenal dunia kang-ouw. Kelompok-kelompok yang sudah mengakui kekuasaan Kim-lian-pai tentu saja mulai menyumbangkan hasil kekayaan atau kejahatan mereka kepada perkumpulan baru itu.

Baik Sim Ki Liong mau pun Ji Suri Bi tidak mempunyai niat untuk mengulangi apa yang dilakukan oleh gerombolan yang dipimpin Lam-hai Giam-lo. Tidak, mereka sudah cukup berpengalaman dan cerdik. Melawan pemerintah adalah perbuatan yang tolol. Kekuatan pemerintah tidak mungkin dapat dilawan.

Mereka hanya ingin mendirikan perkumpulan yang kuat dan berkuasa karena dari dunia kang-ouw mereka dapat mengharapkan sumbangan yang akan membuat perkumpulan mereka cukup kuat untuk hidup mewah. Selain itu, kalau mereka kuat, para pendekar juga tidak akan berani mengganggu mereka.

Di samping itu semua, Sim Ki Liong yang menjadi ketua Kim-lian-pai juga memiliki suatu cita-cita, yaitu membalaskan dendam sakit hatinya kepada pendekar Siangkoan Ci Kang yang telah membunuh ayahnya. Dengan adanya perkumpulan kuat yang dipimpinnya ini, tentu tidak akan sukar baginya untuk mencari di mana adanya musuh besar itu.

Di samping memupuk kekuatan untuk perkumpulannya, Sim Ki Liong dan Ji Sun Bi tidak menghentikan kesenangan mereka. Dua orang ini memang cocok sekali. Mereka memiliki kesukaan yang sama, yaitu bila Sim Ki Liong tiada bosannya mencari gadis-gadis cantik untuk menemaninya, juga Ji Sun Bi tidak pernah merasa puas dengan pria-pria tampan yang hampir setiap hari berganti-ganti melayaninya!

Hampir semua anggota Kim-lian-pai yang bertubuh kekar dan berwajah tampan pernah dikeram di dalam kamar wakil ketua yang cantik itu. Akan tetapi watak Ji Sun Bi memang pembosan. Biar di puncak itu sudah ada Sim Ki Liong dan banyak anggota perkumpulan yang pria, tapi dia masih suka berkeliaran turun dari bukit untuk melampiaskan nafsunya dengan pria-pria baru!

Demikianlah, perbuatannya itulah yang mendatangkan keributan pada hari itu. Ia bertemu dengan Yauw Kwan, pemuda berusia dua puluh lima tahun yang menjadi anggota termuda dari Kwi-san Su-kiam-mo, empat orang tokoh kang-ouw yang kenamaan.

Bertemu dengan pemuda yang gagah dan tampan ini, Ji Sun Bi segera merayunya. Yauw Kwan dengan mudahnya jatuh ke dalam pelukan wanita cabul itu. Akan tetapi celakanya, Yauw Kwan yang belum banyak pengalaman itu benar-benar jatuh cinta kepada Ji Sun Bi dan tidak ingin berpisah lagi. Bahkan dia membujuk Ji Sun Bi agar suka menjadi isterinya.

Seperti biasa, setelah bermesraan dengan Yauw Kwan selama beberapa hari lamanya, Ji Sun Bi mulai bosan dan sikap Yauw Kwan yang rewel, yang hendak memaksanya supaya suka menjadi isteri pemuda itu, telah membuat Ji Sun Bi menjadi marah. Dia menganggap pemuda itu terlalu banyak rewel sehingga akan merepotkan saja, maka dia memaki-maki dan mengusir Yauw Kwan.

Pemuda itu terkejut, marah dan tahu bahwa wanita itu hanya mempermainkannya. Lalu terjadilah perkelahian dan Yauw Kwan melarikan diri membawa luka parah. Akhirnya dia tewas dalam rangkulan ketiga orang suheng-nya sesudah menceritakan tentang Tok-sim Mo-li Ji Sun Bi yang menjadi wakil ketua Kim-lian-pai di puncak Kim-lian-san.

Bukan hanya dengan Kwi-san Su-kiam-mo saja Ji Sun Bi menanam permusuhan. Juga dengan Hek-tok-pang. Perkumpulan Hek-tok-pang ini adalah perkumpulan para nelayan. Mereka merupakan ahli-ahli racun dan dengan kepandaian itu mereka menangkap ikan, menggunakan bubuk racun yang tidak begitu keras.

Akan tetapi, selain mencari ikan mereka dikenal pula sebagai penguasa pada sepanjang sungai Huang-ho dan dengan kekerasan sering menuntut sumbangan dari para saudagar yang perahunya lewat di tempat itu. Juga bajak-bajak sungai tunduk kepada mereka dan suka memberi bagian hasil kejahatan mereka.

Mendengar tentang perkumpulan ini, Ji Sun Bi mewakili Kim-lian-pai untuk menundukkan perkumpulan itu. Namun ketuanya, Hek-tok Pangcu Cui Bhok, tidak sudi tunduk kepada seorang wanita yang mewakili sebuah perkumpulan baru. Dia membuat perlawanan dan mengerahkan anak buahnya.

Dihadapi puluhan orang anggota Hek-tok-pang, tentu saja Ji Sun Bi menjadi kewalahan, akan tetapi ketika terjadi perkelahian, dia sempat menyebar maut di antara para anggota Hek-tok-pang. Tidak kurang dari tujuh orang tewas dan banyak yang terluka. Inilah yang membuat Hek-tok Pangcu Cui Bhok merasa sakit hati. Karena itu, dengan dibantu oleh dua puluh empat anggotanya yang pilihan, dia bergabung dengan tiga orang dari Kwi-san Su-kiam-mo dan pada hari itu melakukan penyerbuan ke Kim-lian-san.

Ketika dua puluh delapan orang itu mengepung pohon besar di mana Sun Bi dan Cun Sek berada, wanita ini tersenyum sambil matanya mengerling ke arah pemuda gagah perkasa yang kini juga telah berdiri di atas cabang pohon itu. Diam-diam dia pun mengagumi tubuh yang kokoh kekar itu dan Ji Sun Bi lalu menelan ludah seperti seekor harimau kelaparan melihat segumpal daging yang segar.

"Sobat yang gagah perkasa, siapakah namamu?" tanya Ji Sun Bi dengan suara merdu.

Cun Sek semakin kagum. Wanita ini memang hebat. Di bawah itu ada dua puluh delapan orang lihai yang menunggu dan menantangnya, akan tetapi dia masih bersikap demikian tenang dan enak-enakan saja seakan-akan tidak ada ancaman apa pun. Dia pun segera mengimbangi dan bersikap santai dan tenang. Sambil mengamati wajah cantik manis itu, dia pun menjawab sambil tersenyum ramah.

"Namaku Tang Cun Sek, dan siapakah engkau, Nona? Mengapa pula mereka semuanya memusuhimu?"

"Namaku Ji Sun Bi," jawab wanita itu sambil memperlebar senyumnya sehingga sekarang nampak deretan giginya yang putih bersih. "Mereka di bawah itu adalah orang-orang tolol. Aku menjadi wakil ketua Kim-lian-pai yang ada di puncak Kim-lian-san ini, dan kami ingin agar mereka itu tunduk dan membantu kami. Ehh…, mereka malah melawanku! Saudara Tang Cun Sek, kalau menurut pendapatmu, bagaimana? Apakah aku harus membunuh mereka semua?"

Cun Sek menjadi semakin kagum. Wanita ini bukan khawatir bahkan mengatakan dapat membunuh mereka semua, seakan-akan dua puluh delapan orang di bawah itu tidak ada artinya baginya. Akan tetapi dia memikirkan pertanyaan itu dengan serius.

"Kalau engkau ingin menundukkan mereka, apa gunanya kalau mereka dibunuh semua? Kalahkan saja pemimpin mereka, maka yang lain-lain akan menakluk dengan sendirinya." Dia mengerutkan alis kemudian memandang ke bawah. "Alangkah baiknya kalau engkau mampu menarik mereka menjadi pembantu. Mereka itu amat pandai menggunakan racun. Lihat, sepuluh orang yang menjadi korban itu, sungguh mengerikan. Siapakah mereka?"

"Mereka adalah para anggota perkumpulan kami."

"Wah, kalau begitu maka lebih penting lagi untuk menundukkan mereka agar mereka mau membantumu sehingga kerugianmu kehilangan sepuluh orang anggota itu dapat ditebus."

Ji Sun Bi mengangguk-angguk. Memang pendapat pemuda ini sangat tepat. Kim-lian-pai adalah sebuah perkumpulan baru yang sedang menyusun kekuatan. Kalau Hek-tok-pang dapat ditundukkan dan membantu, berarti Kim-lian-pai akan menjadi semakin kuat. Kalau mereka semua dibunuh, tidak ada untungnya bagi Kim-lian-pai.

"Saudara Tang Cun Sek, tadi engkau sudah menolongku, memperingatkan aku mengenai racun. Dan sekarang maukah engkau membantuku menghadapi mereka? Atau kelirukah penilaianku bahwa engkau seorang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi?"

Cun Sek tersenyum. "Terus terang saja aku pernah mempelajari ilmu silat, akan tetapi jika dibandingkan denganmu tentu saja aku masih kalah jauh!"

"Hik-hik, aku tahu bahwa orang yang merendahkan diri itu justru merupakan lawan yang berbahaya. Tong kosong nyaring bunyinya sebaliknya tong yang penuh tidak berbunyi!"

"Aihh, jadi engkau hanya menganggap aku ini sebagai sebuah tong saja?"

"Apa salahnya menjadi tong?"

"Kalau tong beras atau tong anggur memang cukup berguna, akan tetapi tong sampah?" kelakar Cun Sek yang timbul kegembiraannya melihat sikap wanita yang lincah jenaka dan genit ini.

"Tong sampah juga berguna sekali. Akan tetapi siapa menyamakan engkau dengan tong? Engkau seorang pemuda yang begini gagah perkasa dan ganteng. Hanya saja aku ingin melihat apakah engkau mampu menghadapi seorang di antara mereka."

Cun Sek merasa kejantanannya ditantang. Kalau tadi dia bersikap tak peduli dan tak ingin mencampuri urusan orang lain yang tidak ada sangkut pautnya dengan dirinya, dengan mudah saja kini dia berpihak. Tentu saja dia memilih pihak wanita yang cantik menarik ini!

"Iblis betina! Apa bila engkau tidak mau turun, terpaksa kami memaksamu turun bersama antekmu itu!" terdengar lagi suara dari bawah.

Dan tiba-tiba dari bawah tampak sinar berkelebat ketika dua batang hui-to (pisau terbang) meluncur ke arah Cun Sek dan Ji Sun Bi. Pisau-pisau terbang itu dilempar oleh Thio Su It, orang ke tiga dari Kwi-san Su-kiam-mo yang mempunyai keahlian menggunakan pisau ini sebagai senjata rahasia.

Sebelum Ji Sun Bi menggerakkan tubuhnya, Cun Sek lebih dahulu menggerakkan kedua lengannya. Kedua tangannya menyambar ke bawah dan ternyata dia sudah menyambut dua batang pisau itu! Kalau saja yang melemparkan pisau itu adalah orang Hek-tok-pang, tentu saja dia tak akan berani menyambut dengan tangan begitu saja karena ada bahaya keracunan. Akan tetapi yang menyambitkan pisau adalah salah satu di antara tiga orang yang dibayangi dari kota tadi, maka dia berani menyambutnya.

Tanpa berkata apa pun, Cuk Sek memandang ke bawah dan melihat salah satu anggota Hek-tok-pang mengacung-acungkan goloknya, diikuti oleh seorang anggota lain dan kini mereka berdua mendekati batang pohon di mana dia dan Ji Sun Bi berada. Dia lantas melemparkan dua batang pisau terbang tadi ke bawah, namun membidik ke arah pundak kedua orang itu.

Dua sinar menyambar turun, dibarengi suara mencuit nyaring dan dua orang anggota Hek-tok-pang itu lantas roboh sambil berteriak kesakitan. Pundak mereka sudah tertusuk pisau terbang tanpa mereka dapat mengelak saking cepatnya dua pisau itu menyambar. Melihat hal ini, Ji Sun Bi merasa girang bukan main. Dengan mesra dan lembut dia memegang tangan Cun Sek dan berbisik dengan suara merdu,

"Bagus sekali! Ternyata engkau adalah seorang yang sangat lihai. Saudara Tan Cun Sek yang gagah, mari kau bantu aku menundukkan mereka dan selanjutnya aku akan menjadi sahabatmu yang amat manis. Engkau akan kuhadapkan kepada pangcu kami dan engkau akan bisa menjadi pembantu kami yang utama. Coba kau perlihatkan kepandaianmu dan kau kalahkan ketua Hek-tok-pang itu!"

Cun Sek tersenyum. Memang lebih enak jika memihak wanita cantik ini dari pada mereka yang berada di bawah. Lagi pula dia sendiri perlu mendapat kedudukan yang kuat untuk memulai hidup baru. Bila dia bersekutu dengan wanita yang lihai ini, agaknya bukan saja kedudukannya kuat, akan tetapi dia juga memperoleh kehangatan dan kemesraan yang tentu akan amat menyenangkan.

Dia memandang ke bawah. Ketua Hek-tok-pang itu memang terlihat amat menyeramkan. Seorang raksasa brewok yang kasar dan dia tahu juga amat lihai, apa lagi dengan racun-racun berbahaya. Namun tentu saja dia tidak merasa takut, maka dia pun mengangguk.

"Baiklah, aku memang ingin sekali mencobanya. Mari kita turun dan kita hadapi mereka!" Berkata demikian, Cun Sek lalu melayang turun dari atas pohon itu seperti seekor burung garuda besar menyambar.

Dengan senyum girang Ji Sun Bi memandang dan dari cara pemuda itu melayang turun saja dengan mudah dia dapat menduga bahwa memang pemuda itu bukan orang biasa, melainkan memiliki ilmu kepandaian tinggi. Tidak disangkanya bahwa dalam menghadapi musuh yang telah menewaskan sepuluh orang anak buahnya ini dia akan bertemu dengan seorang pemuda yang tampan, gagah perkasa dan suka membantunya! Dia pun segera melayang turun untuk mendampingi pemuda itu menghadapi musuh-musuhnya.

Tiga orang dari Kwi-san Su-kiam-mo dan Hek-tok Pangcu juga terkejut melihat cara kedua orang itu melayang turun. Mereka tidak tahu kalau Cun Sek adalah orang luar yang hanya kebetulan saja bertemu dengan iblis betina itu tetapi mengira bahwa Cun Sek tentu rekan dari Tok-sim Mo-li yang pandai.

Sebelum mereka mengerahkan anak buah untuk mengeroyok, lebih dahulu Tok-sim Mo-Ji Ji Sun Bi berkata dengan nada suara mengejek. Tentu saja dia tahu kenapa orang-orang itu datang menyerbu Kim-lian-san, namun dia sengaja ingin agar Cun Sek mendengarkan percakapan mereka supaya pemuda itu tahu mengenai duduknya perkara dan bagaimana selanjutnya sikap Cun Sek, apakah tetap ingin membantu padanya atau tidak, ingin sekali dia mengetahuinya.

"Haiiii! Kalian ini apakah orang-orang gila yang tiada hujan tiada angin berani menyerbu Kim-lian-san dan telah membunuh sepuluh orang anggota Kim-lian-pai kami?"

Mendengar pertanyaan itu gerombolan orang yang tadinya sudah siap mengeroyok cepat menunda gerakan mereka. Hek-tok Pangcu Cui Bhok yang kasar itu menggereng seperti seekor singa terluka, matanya melotot merah dan dia lalu berteriak lantang.

"Tok-sim Mo-li, tak perlu engkau berpura-pura dan bertanya lagi. Engkau telah menyerbu tempat tinggal kami di lembah Huang-ho dan menewaskan banyak anak buah kami, tetapi sekarang engkau masih bertanya lagi mengapa kami datang menyerbu. Tentu saja untuk membalas dendam dan membunuhmu!"

Sun Bi tersenyum lebar, manis sekali. "Hek-tok Pangcu, aku datang ke tempatmu untuk memperkenalkan Kim-lian-pai kami dan minta kepadamu agar mengakui kekuasaan kami, akan tetapi engkau malah mengerahkan orang-orangmu sehingga aku pun terpaksa turun tangan memberi hajaran. Jika aku menghendaki, pada saat itu juga aku dapat membunuh kalian semua. Akan tetapi kami dari Kim-lian-pai tak bermaksud memusuhi golongan lain, melainkan hendak mengajak kerja sama. Engkau dan orang-orangmu secara curang telah membunuh sepuluh orang anggota kami, biarlah hal itu sebagai imbangan kematian anak buahmu di tanganku tempo hari. Dan sekarang tentu engkau suka menyerah dan mau membantu kami"

"Tidak sudi! Aku tidak akan menyerah sebelum orang mengalahkan aku!" bentak ketua Hek-tok-pang itu.

"Baiklah. Ada sahabatku ini, Tang Cun Sek yang akan mengalahkanmu. Dan kalian ini, bukankah tiga orang dari Kwi-san Su-kiam-mo? Ada apakah kalian juga ikut-ikutan datang menyerbu ke tempat tinggal kami?"

Giam Sun, orang tertua dari mereka cepat melangkah maju, mukanya merah padam dan matanya melotot. "Iblis betina, kami datang untuk minta tebusan nyawa sute kami, Yauw Kwan! Masihkah engkau pura-pura bertanya lagi?"

"Aihh, Yauw Kwan? Pemuda bodoh yang tidak tahu diuntung itu? Dia hendak memaksaku untuk menikah! Tentu saja aku tidak mau terikat dengan pernikahan tolol itu. Maka kami bertengkar, lalu berkelahi. Di dalam perkelahian itu dia kalah dan roboh tewas. Apa pula yang harus diributkan? Dia tewas dalam perkelahian yang adil dan tidak penasaran. Dan sekarang kalian bertjga datang hendak mengeroyokku? Lebih baik kalian cepat insyaf dan menyadari kesalahan sute kalian, lalu bekerja sama dengan kami dari Kim-lian-pai...”

“Tak perlu banyak cakap lagi! Engkau atau kami yang harus mampus!" bentak Giam Sun marah.

"Aha, begitukah ? Kalian hendak main keroyok? Ataukah sebaliknya kalau kita bertanding seperti orang-orang gagah? Kalau begitu biar sahabatku Tang Cun Sek ini yang lebih dulu menghadapi ketua Hek-tok-pang."

Hek-tok Pangcu Cui Bhok memang sudah tidak sabar mendengar percakapan antara Ji Sun Bi dan Giam Sun tadi. Semenjak tadi dia telah memandang kepada Cun Sek dengan sepasang mata merah. Pemuda itu memang bertubuh tinggi tegap, akan tetapi selebihnya tidak mendatangkan kesan apa-apa maka dia pun memandang rendah.

Biar pun calon lawan itu tinggi tegap, namun nampak kecil ringkih dibandingkan tubuhnya yang tinggi besar seperti raksasa. Agaknya, dengan sekali tangkap saja dia akan mampu mematahkan tulang punggung pemuda itu. Kini, mendengar ucapan si iblis betina, tanpa banyak cakap lagi dia pun segera menerjang dan menyerang Cun Sek dengan goloknya yang lebar dan panjang!

“Singgg...!” Golok itu menyambar lewat dekat kepala Cun Sek saat pemuda ini mengelak dengan lincah sekali.

Gerakan ketua Hek-tok-pang itu memang cepat bukan main dan hal ini saja membuktikan alangkah besar tenaganya sehingga dia mampu memainkan golok yang sangat berat itu bagaikan sebatang senjata yang sangat ringan saja.

Namun bagi Cun Sek kecepatan itu masih nampak terlalu lambat. Pemuda yang pernah mempelajari banyak macam ilmu silat, bahkan secara beruntung sudah dapat menguasai pula ilmu-ilmu dari Cin-ling-pai ini memiliki tingkat yang jauh lebih tinggi dari tingkat lawan. Oleh karena itu bacokan golok yang pertama tadi bisa dielakkannya dengan amat mudah. Bahkan pada waktu mengelak ke samping dia masih sempat mengirim pukulan ke arah lambung lawan.

"Wuutttttt…!"

Ketua Hek-tok-pang terkejut bukan main. Dia yang menyerang dengan goloknya, namun kini malah dia yang terancam bahaya. Pukulan itu mendatangkan angin yang sangat kuat sehingga terpaksa dia melempar tubuh ke belakang, lalu berjungkir balik dan hampir saja terpelanting jatuh!

Terdengar orang bertepuk tangan. Kiranya Ji Sun Bi yang bertepuk tangan memuji.

"Hebat, engkau hebat, saudara Tang Cun Sek!" Wanita itu memuji dengan kagum dan juga girang bukan main. Tak disangkanya bahwa pemuda itu mempunyai ilmu kepandaian sehebat itu sehingga dalam segebrakan saja hampir dapat membuat ketua Hek-tok-pang itu roboh!

Akan tetapi hal itu terjadi karena Hek-tok Pangcu memandang rendah lawannya sehingga dia sama sekali tidak memperhatikan pertahanan diri. Kini dia marah bukan main. Akan tetapi, di samping marah dia juga penasaran dan lebih waspada karena dia mulai dapat menduga bahwa lawannya ini ternyata jauh lebih lihai dari pada nampaknya.

Tiba-tiba Hek-tok Pangcu Cui Bhok mengeluarkan gerengan yang sangat dahsyat. Itulah ilmu khikang yang disalurkan melalui suara sehingga lawan yang tidak mempunyai tenaga sakti yang kuat akan dapat dilumpuhkan oleh serangan suara ini yang disebut Sai-cu Ho-kang (Auman Singa), seperti yang suka dilakukan binatang buas seperti beruang, singa, harimau dan lain-lain.

Seekor singa bisa melumpuhkan calon korban hanya dengan auman yang menggetarkan jantung calon korbannya atau lawannya, malah sudah banyak pula manusia yang menjadi korban binatang buas, belum apa-apa sudah merasa lumpuh dan tidak mampu melarikan diri begitu mendengar auman binatang buas itu.

Kini Hek-tok Pangcu itu agaknya juga menggunakan ilmu semacam itu. Suara aumannya menggetarkan jantung. Akan tetapi yang sekarang dihadapinya adalah seorang pemuda gemblengan yang memiliki ilmu kepandaian tinggi.

Cun Sek juga merasa betapa auman itu sudah menggetarkan jantungnya, namun dengan pengerahan sinkang-nya dia bisa menolak pengaruh itu dan hanya tersenyum mengejek. Keika auman berhenti, golok besar itu sudah menyambar-nyambar dan berubah menjadi gulungan sinar yang menyilaukan mata. Agaknya raksasa brewok itu telah menggunakan seluruh tenaga dan kepandaiannya untuk melakukan serangan. Tiba-tiba, tangan kirinya bergerak dan nampak uap hitam menyambar ke arah Cun Sek.....!


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner