SI KUMBANG MERAH : JILID-23


Melihat tamu itu menjadi bingung, sekarang Ki Liong yang melanjutkan keterangan Sun Bi. "Ketahuilah, Tang-toako, aku adalah murid Pendekar Sadis Ceng Thian Sin di Pulau Teratai Merah!"

"Ahhh...!” Sungguh hal ini sama sekali tidak pernah disangka oleh Cun Sek.

Tentu saja dia tahu siapa itu Pendekar Sadis! Dan dia pun mengerti sekarang. Memang Kui Hong adalah cucu Pendekar Sadis, cucu luar, maka kalau pemuda ini murid Pendekar Sadis, otomatis Kui Hong dapat dianggap sebagai murid keponakannya.

“Akan tetapi..., kalau begitu... bagaimana pula Pangcu menganggap Kui Hong sebagai musuh?"

"Dialah yang menjadi gara-gara sehingga aku terpaksa pergi meninggalkan Pulau Teratai Merah untuk selamanya, tetapi tidak perlu kujelaskan persoalannya," kata ketua itu yang tentu saja merasa tidak enak mengingat akan pengalamannya di Pulau Teratai Merah itu.

Pada waktu Kui Hong berkunjung ke Pulau Teratai Merah, tempat tinggal kakek luarnya, seketika Ki Liong jatuh jatuh cinta dan tergila-gila kepada gadis itu. Dia berusaha merayu, namun bukan saja ditolak oleh Kui Hong, bahkan gadis itu marah-marah dan menyerang dirinya.

Peristiwa itu diketahui oleh suhu dan subo-nya sehingga dia merasa malu dan malam itu juga dia melarikan diri meninggalkan Pulau Teratai Merah sambil membawa benda-benda berharga, bahkan dia juga membawa lari pedang pusaka Gin-hwa-kiam! Dia berniat untuk mencari musuh besar pembunuh ayahnya, yaitu Siangkoan Ci Kang, akan tetapi sampai sekarang usahanya itu belum juga berhasil.

"Dan bagaimana dengan engkau, Tok-sim Mo-li? Bagaimana engkau juga mengenal Cia Kui Hong dan memusuhinya?" tanya Tang Cun Sek.

Dia merasa girang setelah mendengar keterangan ketua itu yang ternyata murid Pendekar Sadis sehingga dia tidak merasa heran kalau ketua itu mempunyai ilmu kepandaian yang demikian hebat. Ketua itu dan dia memiliki dasar ilmu silat yang sama, yaitu dari Cin-ling-pai walau pun mereka berdua masing-masing memiliki pula ilmu-ilmu lain.

Ji Sun Bi menghela napas panjang dan Ki Liong yang menjawab, "Dia pernah bertanding dan dikalahkan oleh Cia Kui Hong, bahkan hampir saja dia tewas ketika terjatuh ke dalam jurang tebing yang curam."

Ji Sun Bi cemberut dan mukanya berubah merah, sepasang matanya berkilat.

"Lain kali akan kubunuh gadis setan itu!"

Pertemuan lalu dilanjutkan dengan pesta makan minum untuk menghormati persekutuan baru itu. Cun Sek diterima dengan tangan terbuka oleh Ki Liong dan mulai saat itu pula Cun Sek merupakan pembantu utama dari pasangan Ki Liong dan Sun Bi, bahkan dia pun mulai hari itu menjadi seorang kekasih baru dari Ji Sun Bi yang tak pernah merasa puas dengan laki-laki itu.

Tentu saja Kim-lian Pangcu bisa memaklumi hal ini sebab dia memang tak pernah merasa cemburu, bahkan memberi kebebasan sepenuhnya kepada Ji Sun Bi untuk mengadakan hubungan dengan pria mana pun juga, seperti juga Ji Sun Bi tidak peduli dengan wanita mana ketua itu berhubungan!

Maka terdapatlah hubungan segi tiga yang amat akrab dan aneh antara Ji Sun Bi, Sim Ki Liong, dan Tang Cun Sek. Namun tiga sekawan ini merupakan kesatuan yang berbahaya sekali karena ketiganya mempunyai ilmu kepandaian tinggi! Apa lagi setelah kini Hek-tok-pang menjadi sekutu mereka pula.

Perkumpulan Teratai Emas itu menjadi semakin kuat dan semakin terkenal. Mereka terus melebarkan sayap kekuasaannya ke kota-kota lain, tetapi mereka tidak bergerak sebagai pemberontak, malah sebaliknya mereka menyusup ke dalam gedung-gedung para pejabat dan mendekati para pejabat dengan sogokan-sogokan.

Kemudian mereka menaklukkan tokoh-tokoh dunia persilatan dengan mengalahkan para pemimpinnya, namun tidak menanam permusuhan dan kebencian karena setelah berhasil mengalahkan, mereka lalu mendekati dan menarik bekas lawan itu untuk menjadi sekutu mereka. Maka makin kuatlah Kim lian-pang di bawah pimpinan Sim Ki Liong yang dibantu dengan setia oleh Ji Sun Bi dan Tang Cun Sek itu.

Mulailah mereka menyebar anak buah Kim-lian-pang yang jumlahnya semakin banyak itu, selain untuk melebarkan pengaruh juga untuk mulai melakukan penyelidikan tentang dua orang tokoh persilatan, yaitu Siangkoan Ci Kang dan Si Kumbang Merah Ang-hong-cu. Yang pertama untuk sang ketua, dan yang ke dua untuk Tang Cun Sek…..

********************

Pek Han Siong melangkah lesu. Sebenarnya pemandangan alam di sekitar pegunungan itu amat indahnya pada pagi hari yang cerah itu, namun tiada keindahan di luar diri bagi seseorang yang menanggung derita di dalam dirinya. Keindahan bukan terletak di luar, melainkan di dalam diri. Kalau batin sedang terlanda duka, apa pun yang dilihat oleh mata akan nampak tidak indah lagi. Dan pada saat itu, Pek Han Siong sedang dilanda duka.

Cintanya terhadap Siangkoan Bi Lian ditolak! Gadis itu telah menolak cintanya. Dia dapat menghargai kejujuran dan keterus terangan Bi Lian, tapi kenyataan itu sungguh membuat hatinya bagaikan ditusuk. Pedih perih karena kecewa. Apa lagi penolakan cinta gadis itu dinyatakan di depan suhu dan subo-nya.

Dia tahu betapa mereka amat menyayangnya, maka dia pun ditarik sebagai calon mantu. Akan tetapi apa hendak dikata, Bi Lian yang terlibat langsung di dalam urusan perjodohan itu menolak! Dia pun tidak dapat menyalahkan Bi Lian. Bagaimana dia bisa menyalahkan seorang gadis karena tidak mencintanya?

Han Siong menjatuhkan diri duduk di atas akar pohon. Tubuhnya terasa penat. Semalam suntuk dia tak pernah berhenti, terus saja berjalan meski pun lambat, tak tentu arah tujuan sampai pada pagi hari itu dia tiba di pegunungan itu yang tidak dia ketahuinya namanya. Tubuhnya lemas karena sudah dua hari dia tidak makan, hanya minum air, itu pun kalau kebetulan dia melewati sebuah sumber air bersih.

Membiarkan tubuhnya duduk mengaso tetap saja tidak mampu menghilangkan perasaan dukanya, malah kini pikirannya melayang-layang, mengenang keadaan dirinya dan semua peristiwa yang terjadi. Dan hatinya terasa semakin tertekan. Sejak kecil dia tidak pernah merasakan kebahagiaan, kecuali mungkin saat dia tinggal di kuil Siauw-lim-si dan menjadi murid suami isteri sakti yang menjadi guru-gurunya, yaitu Siangkoan Ci Kang dan Toan Hui Cu.

Duka timbul dari pikiran yang penuh dengan perasaan iba diri. Pikiran mengenang masa lalu yang penuh dengan kegagalan, atau membayangkan masa depan yang penuh dengan kesuraman, maka pikiran atau si aku merasa iba terhadap diri sendiri, merasa nelangsa dan sengsara. Maka datanglah rasa duka.

Duka menghilangkan kewaspadaan, melenyapkan makna hidup. Hidup bukanlah sekedar membiarkan diri diseret ke dalam lamunan, membiarkan diri dipermainkan pikiran! Hidup adalah kenyataan, apa yang ada, tidak peduli apakah kenyataan itu menyenangkan atau menyusahkan.

Yang senang atau yang susah adalah pikiran, si-aku yang selalu menghendaki keenakan dan menghindarkan ketidak enakan. Namun kenyataan hidup adalah seperti apa adanya, dan menerima kenyataan apa adanya inilah seni paling indah, paling agung dan paling murni dari kehidupan. Menerima kenyataan seperti apa adanya, tanpa menilai dan tanpa mengeluh melainkan menyerahkan kepada Tuhan! Tuhan Maha Kuasa, Maha Bijaksana, Maha Kasih! Hanya Tuhan yang akan mampu membimbing kita, lahir mau pun batin.

Kewajiban kita dalam hidup hanyalah untuk menggunakan segala alat yang ada di tubuh ini sebagaimana mestinya. Panca indera adalah alat-alat untuk bekerja seperti yang telah ditentukan dalam tugas masing-masing, termasuk pikiran yang sesungguhnya merupakan alat untuk berpikir, untuk bekerja, untuk dapat melakukan sesuatu yang bermanfaat, baik bagi diri sendiri mau pun bagi orang lain.

Pikiran bukanlah alat untuk menyeret kita ke dalam lamunan kosong tentang suka atau duka. Tak mungkin kita bisa membersihkan pikiran yang bergelimang dengan daya-daya rendah, pikiran yang penuh nafsu, pikiran yang penuh dengan keinginan untuk mengejar enak sendiri. Tidak mungkin karena ‘kita’ yang ingin membersihkan ini adalah pikiran itu sendiri!

Keinginan pikiran selalu hanya bersumber pada satu pamrih, yakni mengejar keenakan untuk diri sendiri. Bisa saja pikiran menciptakan bermacam-macam akal seperti sebutan muluk-muluk, bertapa, mengasingkan diri, mengheningkan cipta dan segala macam cara lagi untuk membersihkan batin. Namun semua itu adalah pekerjaan pikiran, pekerjaan si-aku, usaha dari nafsu pula sebab pikiran itu sendiri bergelimang nafsu, dikemudikan oleh nafsu. Di balik semua usaha itu terdapat satu pamrih, yaitu sifat dari nafsu, ialah untuk mengejar keenakan bagi diri sendiri! Karena itu tak mungkin kita membersihkan pikiran, tidak mungkin nafsu mampu mengendalikan atau mengalahkan nafsu. Semua ini hanya akal-akalan saja, akalnya si akal-pikir!

Satu-satunya kenyataan adalah bahwa yang mampu merubah segalanya itu, yang dapat membersihkan jiwa dari cengkeraman nafsu, yang bisa menempatkan semua alat tubuh luar dalam kepada kedudukan dan tugas mereka masing-masing secara utuh dan benar, hanyalah KEKUASAAN TUHAN! Dan kekuasaan Tuhan akan bekerja kalau si-aku, yaitu hati dan akal pikiran kita tidak bekerja! Dan kekuasaan Tuhan akan bekerja apa bila kita menyerah kepadaNya, menyerah dengan penuh ketawakalan, kepasrahan dan keiklasan, menyerah dengan kesabaran. Kehendak Tuhan pun terjadilah! Dan inilah satu-satunya kenyataan yang mutlak.

Di dalam kepasrahan lahir batin ini kita akan menerima semua kenyataan hidup sebagai kehendak Tuhan, dan karenanya kita akan menghadapinya tanpa keluhan, tanpa celaan. Bukan berarti kita lalu acuh dan mandeg. Sama sekali tidak! Kita pergunakan semua alat tubuh luar dalam untuk berusaha! Tuhan yang akan memberi bimbingan dan tuntunan.

Kalau sudah begini, apa pun yang terjadi takkan menimbulkan penasaran atau keluhan, apa lagi duka, selain ingat dan waspada. Ingat kepada Tuhan serta kekuasaanNya yang mutlak, menyerah, waspada terhadap setiap gerak langkah kita di dalam hidup, waspada terhadap pikiran kita, ucapan kita, perbuatan kita, seperti kewaspadaan seseorang yang memegang kemudi kendaraan. Dan Tuhan Maha Kasih!


"Muridku, Han Siong. Engkau akan terjun ke dunia ramai dan akan menghadapi segala macam pengalaman hidup. Ingatlah bahwa hidup tidak selalu seperti yang kita kehendaki. Hidup adalah hidup, merupakan kesatuan dari segala macam peristiwa. Jika hidup ini kita umpamakan sebagai rasa, maka hidup itu terdiri dari semua rasa, manis, pedas, masam, gurih, asin, pahit dan sebagainya lagi. Jangan engkau menghendaki agar hidup ini selalu manis. Bagaimana mungkin engkau dapat menikmati rasa manis kalau belum merasakan pahit, getir, asin, pedas dan lain-lainnya itu? Karena itu bersiaplah engkau, jangan terkulai hanya oleh suatu peristiwa atau keadaan saja, karena apa pun yang terjadi, itu hanyalah sebagian kecil saja dari hidupmu! Bangkitlah dan senyumlah, terimalah segala peristiwa dengan tabah, lalu jadikanlah segala pengalaman sebagai guru. Tuhan selalu besertamu bila mana engkau tabah dan selalu pasrah kepada kekuasaanNya!"

Entah kenapa, ketika dia sedang merasa tertekan itu, merasa betapa dirinya seolah-olah semakin tenggelam ke dalam lautan duka, tiba-tiba saja bayangan gurunya yang terakhir, yaitu Ban Hok Lojin, kakek yang bertelanjang dada itu, amat gendut seperti arca Jilaihud, dengan wajah yang selalu terseyum lebar, salah seorang di antara Delapan Dewa, seperti tampak di depannya dan ucapan gurunya itu bergema di telinganya.

Seketika bangkitlah semangat dan batin Han Siong. Dia merasa seperti disiram air dingin. Betapa bodohnya membiarkan diri tenggelam ke dalam kedukaan yang hanya dibikinnya sendiri. Tadi pikirannya sudah berubah menjadi tangan kejam yang meremas-remas dan mencengkeram hati dan perasaannya sendiri.

Dia segera bangkit. Wajahnya tersenyum, matanya yang tadinya sayu itu kini berkilat dan mencorong, dan pada saat itu pula dia mendengar betapa perutnya berkeruyuk dengan nyaring!

"Ha-ha-ha!" Dia tertawa, tertawa bebas lepas seperti orang gila. "Ha-ha-ha, engkau tolol! Ha-ha, engkau tolol! Terima kasih, Suhu, terima kasih!" Dia lalu menepuk-nepuk perutnya yang kempis. "Maafkan aku, perut. Aku sampai lupa kepadamu. Baiklah, sekarang mari kita mencari makanan untukmu!"

Han Siong melompat dan menuruni bukit itu. Akan tetapi tiba-tiba saja dia harus berhenti karena di depannya mendadak muncul lima orang dengan senjata pedang di tangan dan sikap mereka mengancam!

"Keparat, bersiaplah untuk menerima pembalasan kami!" bentak salah seorang di antara mereka.

Tentu saja Han Siong menjadi terbelalak kaget dan merasa heran. Dia memandang penuh perhatian kepada mereka. Yang tadi berbicara adalah seorang pria setengah tua, berusia kurang lebih lima puluh tahun, bertubuh tinggi tegap dan gagah. Di wajahnya terbayang kegagahan namun diliputi duka dan kemarahan. Pakaiannya sederhana, akan tetapi serba putih, demikian pula pakaian empat orang lainnya, pakaian berkabung!

Orang kedua amat menarik perhatian. Ia adalah seorang gadis yang usianya kurang lebih delapan belas tahun, wajahnya yang putih halus itu berbentuk bundar, cantik dan bersih, matanya jeli dan bibirnya tipis, rambutnya panjang dibiarkan berjuntai ke belakang dalam bentuk dua buah kuncir hitam yang tebal dan panjang sampai ke pinggul Gadis ini juga memegang sebatang pedang.

Tiga orang lainnya adalah pria berusia kurang lebih tiga puluh tahun, ketiganya bersikap garang dan gagah. Seperti orang pertama dan gadis itu, mereka juga berpakaian serba putih dan wajah mereka diliputi kedukaan dan kemarahan.

"Heii, nanti dulu!" teriaknya ketika mereka itu secara serentak sudah menyerangnya tanpa peringatan lebih dahulu. Hal ini hanya menunjukkan bahwa mereka itu benar-benar sudah marah sekali kepadanya dan amat membencinya.

Gerakan pedang mereka ganas dan cepat, juga mengandung tenaga yang cukup kuat. Ilmu pedang yang sumbernya dari selatan, dikombinasikan dengan tendangan-tendangan yang menyusul tusukan atau sabetan pedang.

Teriakannya tidak memperoleh tanggapan dari mereka, bahkan lima orang itu menyerang dengan hebatnya. Terpaksa Han Siong menggerakkan tubuhnya, berloncatan ke sana sini dan melihat mereka terus mendesak, dia segera memainkan Kwan Im Sin-kun (Silat Sakti Kwan Im) yang lemah lembut namun tubuhnya bagaikan sehelai kapas saja yang sukar untuk dibabat pedang sehingga babatan atau tusukan itu selalu luput. Tubuhnya menjadi demikian ringan, akan tetapi juga sangat cepat sehingga sampai belasan jurus, serangan lima orang itu tak pernah mengenai sasaran.

"Heii, nanti dulu! Mari kita bicara dulu!" teriak Han Siong penasaran.

Karena dia tidak mengenal mereka, tentu saja dia tak mau membalas, khawatir kalau dia akan melukai mereka dan hal ini tentu akan menambah kebencian mereka yang belum diketahui sebabnya. Dia ingin menggunakan ilmu sihir untuk menundukkan mereka, akan tetapi dia pun khawatir kalau-kalau mereka akan merasa terhina dan tersinggung sehingga kembali hal itu akan menambah kebencian mereka kepadanya.

Dia akan menggunakan usaha lain, yaitu memperkenalkan diri karena dia menduga bahwa tentu mereka itu keliru mengenal orang. Mereka bukan perampok dan sama sekali tidak nampak seperti orang-orang jahat.

Begitu mendapat kesempatan, tubuhnya tiba-tiba melayang naik ke atas pohon sehingga mengejutkan lima orang pengeroyok itu yang tiba-tiba saja kehilangan lawan dan mereka semua kini memandang ke atas, ke arah pemuda itu yang sudah berdiri di atas cabang pohon. Pandang mata mereka kagum akan tetapi juga penuh kebencian.

"Heiii, apakah ngo-wi (kalian berlima) terlalu banyak minum arak hingga mabok? Aku Pek Han Siong selama hidupku baru sekali ini melihat ngo-wi, apa lagi bermusuhan. Mengapa tiada hujan tiada angin ngo-wi menyerang aku demikian ganas dan kejam?"

Mendengar ini, lima orang itu saling pandang, dan pria setengah tua tadi berseru lantang, "Sobat, coba sekali lagi katakan. Siapa namamu?"

Han Siong tersenyum. Tahulah dia kini bahwa memang mereka sudah keliru menyangka orang, atau keliru mengenal orang. "Namaku Pek Han Siong, dan selama hidupku belum pernah aku bertemu dengan ngo-wi."

"Engkau… bukankah engkau Kim-lian Pangcu? Wajah dan bentuk tubuhmu mirip sekali!" kata orang tua itu lagi.

"Ayah, kita baru melihatnya satu kali, itu pun tidak terlalu jelas. Agaknya kita sudah salah mengenal orang!” kata gadis itu.

Sekarang Han Siong tertawa. "Ha-ha-ha, Paman yang baik. Orang macam aku ini mana bisa menjadi pangcu (ketua)? Apa lagi ketua perkumpulan Teratai Emas, bahkan Teratai Tembaga pun tidak! Aku seorang perantau, tidak memiliki kedudukan apa pun."

"Wahh... kalau begitu maafkan kami, orang muda. Ihh, kalian berempat ini mengapa tidak memberi tahu? Aku sudah tua, mungkin mataku mulai kurang awas, akan tetapi kalian....” omelnya kepada puterinya dan tiga orang itu.

Han Siong sudah melompat turun dan gayanya melompat membuat lima orang itu berseru kagum. Mereka seperti melihat seekor naga atau seekor garuda melayang turun dari atas pohon itu dan ketika kedua kakinya tiba di atas tanah, sama sekali tidak terdengar suara!

Diawali oleh laki-laki setengah tua, kini lima orang itu menyambut Han Siong dengan dua tangan diangkat di depan dada sebagai tanda penghormatan. Han Siong cepat membalas penghormatan mereka. Karena mereka kini tidak lagi memusuhinya, dia pun tidak berani bicara main-main.

"Paman, seperti kukatakan tadi, aku Pek Han Siong tidak pernah bertemu dengan ngo-wi sebelumnya. Apa sebabnya ngo-wi medadak menyerangku? Mohon penjelasan, paman, agar hatiku tidak tegang dan penasaran lagi."

Pria itu menengok ke kanan kiri, lalu berkata, "Di sini masih daerah kekuasaan musuh, taihiap. Terlalu lama di sini kita bisa dikepung musuh. Marilah ikut dengan kami ke tempat tinggal kami, taihiap, dan di sana kami akan menceritakan semuanya dengan jelas."

Walau pun dia tersenyum dan merasa tidak enak disebut taihiap (pendekar besar), akan tetapi Han Siong yang merasa penasaran dan ingin tahu itu mengangguk dan mengikuti mereka menyusup ke dalam hutan. Dia tertarik melihat ada tanda gambar seekor burung rajawali putih pada baju mereka berlima, yaitu di dada kiri. Tentu mereka ini dari sebuah perkumpulan, pikirnya.

Akan tetapi dia kecelik kalau tadinya dia menyangka akan diajak pergi ke sebuah rumah perkumpulan besar di salah satu kota terdekat. Dia bukan di ajak ke kota, melainkan ke sebuah bukit, kemudian mereka mengajaknya masuk ke dalam sebuah goa besar yang tersembunyi!

Biar pun demi kesopanan dia diam saja, akan tetapi di dalam hatinya timbul pertanyaan. Siapakah mereka ini dan perkumpulan apa yang bersarang di sebuah goa tersembunyi? Mereka ini seperti orang-orang buruan saja, seperti pelarian!

Ternyata di dalam goa itu terdapat tikar bersih yang terhampar di atas lantai goa. Goa itu pun cukup besar, cukup untuk menampung puluhan orang! Akan tetapi di situ sunyi saja, tidak ada orang lain kecuali mereka berenam.

"Silakan duduk, taihiap. Maafkan, di sini tidak ada bangku atau kursi, terpaksa duduk di atas lantai."

"Tidak mengapa, Paman...,” kata Han Siong dengan tenang, walau pun hatinya semakin tertarik karena keadaan mereka itu jelas tidak sewajarnya.

Sesudah mereka duduk bersila di atas tikar, mulailah pria setengah tua itu bercerita. Dia bernama Ouw Lok Khi, ketua dari perkumpulan Pek-tiauw-pang (Perkumpulan Rajawali Putih). Dia telah menduda dan mempunyai seorang anak perempuan, yaitu Ouw Ci Goat, gadis berusia delapan belas tahun yang wajahnya bulat putih dan manis itu.

Perkumpulan Rajawali Putih mempunyal anak buah yang cukup banyak, ada empat puluh orang lebih dan selain mempelajari ilmu silat, perkumpulan ini juga membuka usaha jasa pengawalan. Nama mereka sudah cukup dikenal sebagai orang-orang yang menentang kejahatan dan mencari nafkah secara halal.

Namun pada suatu hari Ouw Lok Khi didatangi oleh seorang utusan dari Kim-lian-pang yang menuntut supaya perkumpulan Pek-tiauw-pang mau mengakui kekuasaan Kim-lian-pang dan suka bekerja sama, membagi ‘rejeki’, yaitu membagi sebagian dari hasil usaha perkumpulan itu kepada Kim-lian-pang sebagai upeti atau pengakuan kekuasaan.

Tentu saja Pek-tiauw Pangcu Ouw Lok Khi segera menolak dan menganggap permintaan itu keterlaluan. Perkumpulannya sudah berdiri selama belasan tahun, bagaimana mungkin sekarang harus mengakui kekuasaan sebuah perkumpulan yang baru saja muncul dan didirikan di Bukit Kim-lian-san yang agak jauh dari kotanya, yaitu di Hok-lam?

Akibat penolakan itu, lalu muncullah seorang pemuda yang mewakili ketua Kim-lian-pang menantang untuk mengadu kepandaian. Karena marah, Ouw Ci Goat melayani tantangan pemuda dari Kim-lian-pang itu. Akan tetapi Ci Goat kalah jauh, bahkan ketika Ouw Lok Khi sendiri maju, dia pun hanya mampu bertahan belasan jurus saja lalu roboh dan kalah.

Setelah mengalahkan mereka ayah dan anak, utusan Kim-lian-pang ini kembali membujuk agar Ouw Pangcu suka takluk dan menyerah. Namun ketua Pek-tiauw-pang ini tidak sudi menyerah. Juga puterinya dan semua anak buah Pek-tiauw-pang tak sudi menyerah dan tidak sudi membagikan hasil kerja mereka kepada perkumpulan itu.

“Karena kami tetap saja menolak, beberapa kali Kim-lian-pang mengirimkan jago-jagonya untuk menyerang kami. Dan memang mereka mempunyai banyak orang pandai, terutama sekali kedua orang pembantu ketua, pemuda dan wanita iblis itu! Kami tetap melakukan perlawanan dan kami tidak mau menyerah biar pun mereka mengancam akan membunuh kami semua. Akhirnya, tujuh hari yang lalu, benar saja serombongan orang dari Hek-tok-pang, yaitu perkumpulan jahat yang sudah menjadi anak buah mereka, menyerbu asrama kami di tepi kota Hok-lam. Kami mengadakan perlawanan secara mati-matian, akan tetapi mereka mempergunakan racun dan habis binasalah anak buah Pek-tiauw-pang! Tinggal kami berlima ini yang hidup...” Ketua Pek-tiauw-pang itu tidak menangis, akan tetapi jelas nampak betapa wajahnya penuh kedukaan dan penasaran. Juga Ci Goat tidak menangis, akan tetapi dia mengepal tinju.

"Kami akan melawan terus sampai mati!" kata gadis itu penuh semangat.

"Akan tetapi, mengapa tadi paman sekalian mengeroyok aku?" Han Siong bertanya.

"Ketika orang-orang Hek-tok-pang itu menyerbu, kami sempat melihat tiga orang pimpinan Kim-lian-pang. Mereka tidak ikut turun tangan, akan tetapi sempat ketuanya menawarkan perdamaian dengan kami. Akan tetapi untuk terakhir kalinya kami tetap menolak dan dia pun lalu mengerahkan orang-orang Hek-tok-pang itu. Ketuanya itulah yang mirip dengan Taihiap. Kami memang sedang mengintai dan menanti saat yang baik. Kalau pemimpin mereka keluar, maka kami akan menyergap dan membunuhnya. Ketika Taihiap muncul, kami mengira Taihiap adalah ketua Kim-lian-pang yang bernama Sim Ki Liong itu."

“Siapa...?!” Han Siong bertanya, kaget mendengar nama itu.

"Namanya Sim Ki Liong!"

"Orangnya masih muda, sekitar dua puluh dua tahun?"

"Betul sekali, apakah... Taihiap sahabatnya...?" tanya Ci Goat dengan suara mengandung kekhawatiran. Han Siong menoleh sehingga dua pasang mata bertemu, bertaut dan gadis itu menundukkan mukanya. Jelas nampak kedua pipi yang putih halus itu kemerahan.

"Sama sekali tidak bersahabat, Nona, justru pernah kami saling bermusuhan! Dia pernah membantu pemberontakan seorang datuk sesat terhadap pemerintah. Dia memang lihai sekali dan sayang bahwa ketika gerombolan itu diserbu, dia sempat melarikan diri. Dan siapakah dua orang pembantunya yang lihai itu?"

"Seorang pemuda yang amat lihai pula bernama Tang Cun Sek," kata Pek-tiauw Pangcu Ouw Lok Khi. Han Siong mengerutkan alis dan menggeleng kepala, tidak mengenal nama itu.

"Dan seorang wanita iblis, yaitu Tok-sim Mo-li Ji Sun Bi...,” kata Ci Goat.

"Aihh, kiranya siluman betina itu?" kembali Han Siong terkejut. "Dia dulu juga membantu gerombolan pemberontak, kiranya berhasil menyelamatkan diri. Ahhh, kalau mereka yang memimpin, tentu Kim-lian-pang merupakan perkumpulan yang kuat dan juga jahat!"

Mendengar bahwa pemuda perkasa ini pernah bermusuhan melawan dua orang di antara para pimpinan Kim-lian-pang, hati kelima orang sisa anggota Pek-tiauw-pang yang sudah terbasmi hampir habis itu menjadi girang dan timbul kembali harapan mereka untuk dapat membalas dendam. Ouw Lok Khi cepat-cepat berlutut dan menghadap pemuda itu sambil berkata,

"Pek Taihiap, mohon Taihiap sudi menolong kami...”

Terkejut juga Han Siong ketika melihat orang tua itu berlutut. Cepat dia memegang kedua pundaknya dan mengangkatnya duduk kembali. “Pangcu, harap jangan begitu. Tanpa kau minta sekali pun, kalau aku melihat dua orang jahat itu merajalela, sudah pasti aku akan menentang mereka."

"Aih, kalau taihiap sudi turun tangan, sudah pasti mereka akan dapat kita hancurkan. Mari kita menyerbu sarang mereka di puncak Kim-lian-san, Pek Taihiap!" kata pula ketua Pek-tiauw-pang itu penuh semangat, sedangkan puterinya serta tiga orang pembantunya juga mengangguk dan penuh semangat. Mereka berlima sudah siap untuk membalas dendam dengan taruhan nyawa mereka. Akan tetapi Han Siong tetap tenang dan menggerakkan tangan menyatakan tidak setuju.

“Pangcu, sungguh tidak bijaksana bila kita menuruti hati yang mendendam saja. Dendam dan kebencian akan menghilangkan kewaspadaan, dan akhirnya bahkan menyeret kita ke dalam kehancuran. Seperti yang kau ceritakan tadi, Kim-lian-pang kuat sekali, di samping dipimpin oleh tiga orang yang lihai, juga dibantu Hek-tok-pang dan memiliki banyak anak buah. Kita yang hanya enam orang ini mana mungkin mampu menandingi begitu banyak lawan? Belum lagi jika diingat bahwa sarang perkumpulan sejahat itu tentu penuh dengan jebakan dan perangkap rahasia."

"Aku tidak takut!" tiba-tiba Ci Goat berseru sambil mengepal tinju.

Han Siong tersenyum dan memandang kagum kepada gadis itu. "Kegagahanmu sangat mengagumkan dan kuhargai, Nona. Akan tetapi, dalam menghadapi lawan yang kuat dan jumlahnya besar, tidak mungkin kita hanya mengandalkan keberanian. Keberanian karena dendam akan membuat kita nekat dan tanpa perhitungan, dan aku tak ingin membiarkan kita semua mati konyol."

Ouw Lok Khi mengangguk-angguk kemudian menarik napas panjang. “Sekarang baru aku melihat kebenaran ucapanmu, Taihiap. Memang kami sudah menjadi gila akibat dendam sehingga kami tidak memperhitungkan bahaya dan kemungkinan kalah. Karena engkau berada di pihak kami, maka kami menyerahkan kepadamu semua cara untuk menghadapi musuh."

Han Siong mengangguk dan menerima penyerahan pimpinan ini tanpa sungkan-sungkan lagi karena dia tahu bahwa orang-orang yang sedang diamuk dendam kebencian bukan merupakan pimpinan yang baik.

"Bila kita hendak menentang gerombolan jahat yang lihai itu, maka setidaknya kita harus mempunyai pembantu yang cukup berani dan gagah, yang jumlahnya seimbang dengan jumlah mereka."

“Hal itu amat mudah, Taihiap. Banyak perkumpulan yang merasa sakit hati terhadap Kim-lian-pang, namun mereka itu tidak berani bergerak karena merasa tidak kuat menghadapi kekuatan Kim-lian-pang. Aku akan menghubungi mereka, sebab di antara mereka banyak terdapat sahabat baikku, dan akan kubujuk mereka supaya suka bekerja sama. Beberapa perkumpulan persilatan tentu bersedia membantu. Menurut perkiraanku, jumlah anak buah Kim-lian-pang tidak melebihi seratus lima puluh orang dan kita akan dapat mengumpulkan lebih banyak lagi.”

Han Siong mengerutkan alisnya. Banyak juga anak buah yang sudah dikumpulkan Sim Ki Liong, pikirnya. "Apakah tidak mungkin kalau kita minta bantuan dari pasukan keamanan pemerintah?"

"Ahhh, itu sama saja dengan bunuh diri!" kata Ouw Lok Khi dengan muka muram. "Kalau kita melapor, kita malah akan ditangkap lebih dulu! Ketahuilah, Taihiap, gerombolan Kim-lian-pang itu cerdik dan licik bukan main. Mereka mendekati para pimpinan pemerintahan daerah dengan jalan menyuap dan menyogok, mengambil hati mereka, bahkan Kim-lian-pang menunjukkan jasa dengan membasmi gerombolan penjahat. Kim-lian-pang sendiri tidak pernah melakukan kejahatan. Mereka hanya menundukkan semua perkumpulan dan memaksa para pimpinan perkumpulan itu untuk takluk dan membagi hasil rejeki. Mereka memungut pajak dari mana pun yang menghasilkan banyak uang, dengan dalih menjaga keamanan mereka. Toko besar, perusahaan dan bahkan rumah-rumah penginapan. Tidak, kita tidak mungkin dapat mengharapkan bantuan dari pasukan keamanan yang tentu akan berpihak kepada mereka."

Han Siong mengerutkan alisnya. Kiranya Sim Ki Liong cerdik sekali, tak mau mengulang kesalahan mendiang Lam-hai Giam-lo yang memberontak terhadap pemerintah. Kini dia bahkan mendekati pemerintah atau mendekati pejabat korup yang suka disogoknya agar mereka berpihak kepadanya! Memang satu-satunya jalan untuk mengumpulkan pasukan adalah seperti yang diusulkan Ouw Pangcu tadi, yaitu mengumpulkan orang-orang yang mendendam kepada Kim-lian-pang.

"Baiklah, Ouw Pangcu. Engkau kumpulkan orang-orang yang mau diajak menyerbu Kim-lian-pang. Sesudah mereka siap, kita kepung puncak itu kemudian kau ajukan tantangan kepada Sim Ki Liong untuk mengadu kepandaian di lereng. Aku akan menghadapinya dan ketika aku sedang bertanding dengan para pimpinan itu, maka kau kerahkan pasukan kita untuk menyerbu ke atas. Akan tetapi harus berhati-hati terhadap jebakan dan perangkap."

"Sebaiknya kita pergunakan api untuk memaksa mereka semua keluar sehingga kita tak perlu harus menerjang jebakan dan perangkap berbahaya," kata Ouw Lok Khi yang kini telah tenang, tak lagi didesak dendam yang membuatnya nekat. Han Siong mengangguk girang.

"Siasatmu itu tepat sekali, Pangcu. Marilah kita mulai bekerja. Aku akan mempersiapkan diri dan karena engkau membutuhkan waktu untuk mengumpulkan tenaga bantuan, maka sebaiknya kalau aku menanti pada rumah penginapan di kota terdekat," Han Siong lantas bangkit berdiri.

Ketua Pek-tiauw-pang itu pun cepat-cepat bangkit. "Taihiap, sebaiknya jika Taihiap tinggal bersama kami. Walau pun asrama kami di Hok-lam telah dihancurkan oleh Kim-lian-pang, akan tetapi kami dapat tinggal di rumah seorang murid kami ini." Dia menunjuk kepada seorang di antara tiga orang anggota Pek-tiauw-pang itu. "Dia memiliki rumah besar dan kita semua dapat tinggal untuk sementara di sana."

"Benar sekali, Pek Taihiap," kata pria berusia tiga puluh tahun itu. "Rumah kami cukup besar dan kami dapat menyediakan sebuah kamar untuk Taihiap," orang itu bernama Thio Ki dan sikapnya ramah.

Karena merasa bahwa memang lebih baik jika dia tidak berpisah dari lima orang itu, Han Siong lalu menyetujui dan berangkatlah mereka meninggalkan goa dalam hutan itu, pergi ke kota Hok-lam. Akan tetapi mereka bersepakat bahwa goa yang tersembunyi itu akan dijadikan markas baru untuk kegiatan mereka saat melakukan penyerbuan terhadap Kim-lian-pang karena tempat itu baik sekali, merupakan goa dalam hutan di bukit yang tidak berjauhan dari Kim-lian-san…..

********************


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner