SI KUMBANG MERAH : JILID-26


Melihat betapa mata pemuda itu terus memandang kepadanya dengan kagum, Ci Goat mengerutkan alisnya. Akan tetapi dia lalu teringat akan ucapan Han Siong yang menjuluki pemuda ini dengan julukan aneh, yaitu Pendekar Mata Keranjang! Jika melihat pandang mata itu, tidak aneh kalau dia dijuluki mata keranjang!

Dia tidak berani marah, mengingat bahwa pemuda ini juga seorang penolong besar yang membuat dia dan ayahnya berhasil membalas dendam dan menghancurkan perkumpulan Kim-lian-pang bersama antek-anteknya. Maka dia hanya menundukkan kembali mukanya dengan cepat dan muka yang putih itu berubah kemerahan.

“Heiii, nona Ouw, mengapa bermuram durja? Alangkah sayangnya kalau bulan purnama tertutup awan dan matahari terhalang mendung, dunia akan menjadi gelap dan kehilangan serinya! Nona, kenapa berduka pada hal pagi seindah dan secerah ini?"

Sepasang pipi yang putih halus itu menjadi semakin merah. Dia diumpamakan bulan dan matahari! Sungguh kata-kata rayuan maut yang akan dapat membuat wanita tergetar dan berlonjak kegirangan penuh bangga. Akan tetapi Ouw Ci Goat tersipu malu dan melirik ke arah Han Siong yang berdiri dekat mereka yang sedang melakukan pemakaman. Hatinya khawatir sekali.

Dia telah jatuh cinta kepada Han Siong dan kini Pendekar Mata Keranjang mengeluarkan kata-kata yang merayunya. Andai kata bukan pendekar ini yang mengeluarkan kata-kata rayuan itu, tentu akan dijauhinya, tidak dipedulikannya.

Akan tetapi Hay Hay adalah seorang pendekar yang juga berjasa seperti Han Siong, dan harus diakuinya bahwa mendengar kata-kata manis laksana madu dari seorang pemuda yang demikian gagah perkasa dan gantengnya, sungguh merupakan belaian lembut pada hatinya. Untuk mencegah pemuda itu melanjutkan rayuannya, dia pun menjawab dengan sikap, pandang mata, dan nada suara yang serius, bahkan hatinya yang sedang diliputi kedukaan itu membuat kedua matanya basah air mata.

"Taihiap, bagaimana mungkin aku tidak berduka? Aku sudah kehilangan seluruh saudara anggota Pek-tiauw-pang yang juga menjadi murid-murid ayah, menjadi saudara-saudara seperguruanku. Mereka semua tewas, bahkan hari ini tiga orang yang terakhir pun tewas. Mala petaka besar telah menimpa keluarga kami. Tentu saja aku berduka sekali, Taihiap."

Hay Hay tersenyum, "Aihh, nona Ouw, sungguh sayang kalau menghamburkan air mata dan meremas hati sendiri. Berduka akan membuat wajahmu yang seperti bulan purnama itu menjadi kerut merut, juga dapat membuat engkau yang muda belia ini menjadi cepat tua. Nona yang baik, aku ingin bertanya, siapa yang kau tangisi, siapa yang kau sedihkan itu?"

Gadis itu memandang heran. Matanya yang agak kemerahan karena tangis itu sekarang agak terbelalak sehingga Hay Hay rnemandang kagum. Indahnya mata itu!

"Taihiap, aneh sekali pertanyaanmu itu. Tentu saja aku menangisi tiga orang suheng yang tewas itu, semua saudara seperguruanku yang telah tewas oleh para penjahat Kim-lian-pang!"

"Mengapa engkau menangisi mereka yang sudah mati? Apakah kalau ditangisi mereka akan merasa senang di sana, ataukah mereka akan hidup kembali kalau disedihkan?"

Gadis itu makin terkejut dan heran. "Tentu saja tidak! Pertanyaanmu sungguh aneh sekali, taihiap. Orang di seluruh dunia ini tentu akan bersedih dan menangis bila mana kematian orang-orang yang dekat dengan mereka!"

"Ahh, jadi kalau begitu engkau bersedih dan menangis karena umum melakukannya? Jadi tangismu itu hanya ikut-ikutan saja? Mari kita bicara tentang kesedihanmu, perasaanmu sendiri, bukan kesedihan orang-orang lain, Nona yang baik. Nah, mari mulai kita selidiki. Apakah engkau bersedih untuk mereka? Rasanya tidak mungkin. Mereka sudah mati dan engkau tidak tahu keadaan mereka. Yang jelas mereka tidak menderita lagi, jadi tidak ada alasan untuk mengasihani mereka. Bahkan mereka itu mati sebagai orang-orang gagah, sebagai pendekar yang menentang kejahatan, maka sepantasnya engkau malah bangga dengan kematian mereka, bukan berduka. Tidakkah benar demikian, Nona?"

"Aku... aku tidak tahu... aku menjadi bingung. Kurasa... pendapatmu itu benar juga, akan tetapi tak mungkin aku berbangga dan tidak berduka. Orang-orang akan menganggap aku tidak wajar...”

"Justru sebaliknya! Apa bila tangismu ini kau katakan untuk menangisi mereka yang mati, maka tangismu itu sama sekali tidak wajar bahkan berpura-pura! Mari kita membuka mata melihat kenyataan, Nona. Coba jenguk perasaan hatimu sendiri. Lihat baik-baik apa yang kau rasakan. Benarkah engkau menangis dan bersedih karena kasihan kepada mereka yang mati? Ataukah engkau bersedih dan menangis untuk dirimu sendiri, karena engkau merasa kehilangan dan merasa kasihan kepada dirimu sendiri? Beranikanlah hatimu dan amatilah baik-baik!"

Gadis itu tertegun. Selama hidupnya baru sekali ini dia mendengar pendapat yang seperti itu. Bukan, bukan pendapat, melainkan pembukaan kenyataan yang tak dapat dia bantah lagi. Memang benar, dia menangis dan berduka karena merasa kasihan terhadap dirinya sendiri, kepada nasib dirinya, sama sekali bukan menangisi mereka yang mati. Ia berduka karena dia kehilangan saudara dan sahabat baik, karena dia merasa ditinggalkan. Hal ini nampak jelas sekarang.

"Aku... aku menjadi bingung... kata-katamu memang benar, Taihiap. Akan tetapi, apakah aku tidak boleh menangis dan harus bergembira menghadapi kematian para suheng-ku?"

Hay Hay tersenyum. "Tidak ada orang yang menyuruhmu menangis atau tertawa, Nona, juga tidak ada yang melarangmu untuk menangis atau tertawa. Tangis dan tawa adalah pencurahan dari keadaan hati dan tidak ada orang lain yang mampu mengatur keadaan hatimu. Yang penting, engkau harus yakin benar apa yang kau tangiskan atau tawakan, agar tangis dan tawamu tidak menjadi palsu."

Dara itu termenung, wajahnya kosong dan polos. Tiba-tiba saja Hay Hay tertawa bergelak sehingga gadis itu menjadi semakin heran dan menatap wajah yang tampan itu.

"Ha-ha-ha, coba rasakan baik-baik, Nona. Semenjak kita bercakap-cakap, engkau sama sekali tidak berduka lagi, tidak menangis lagi! Ini menjadi bukti jelas bahwa duka hanyalah permainan pikiran sendiri belaka! Pikiran mengenang hal-hal yang tidak menguntungkan diri sendiri. Tadi pikiranmu mengenang tentang kehilangan saudara-saudaramu sehingga timbul iba diri dan pikiranmu seperti meremas-remas hatimu sendiri, maka timbullah duka. Begitu pikiranmu terisi perhatian untuk percakapan kita tadi, kenangan itu pun lenyap dan duka pun hilang tanpa bekas! Biang keladi susah senang hanyalah kenangan pikiran yang didasari rugi untung bagi diri pribadi, keduanya saling berlomba menguasai diri kita. Akan tetapi, kalau harus memilih, mengapa tidak memilih tersenyum dari pada menangis. Kalau engkau menangis, wajahmu yang cantik itu penuh kerut merut, matamu kemerahan, juga hidungmu merah dan engkau akan menyeret orang lain untuk menangis pula. Sebaliknya, kalau engkau tersenyum... hemm, cobalah tersenyum, Nona, dunia akan turut tersenyum bersamamu. Dan wajahmu yang cantik itu akan menjadi semakin manis apa bila engkau tersenyum!"

Ci Goat tidak dapat menahan dirinya lagi untuk tidak tersenyum, dan Hay Hay terpesona. Alangkah manisnya gadis itu kalau tersenyum! Akan tetapi senyum itu segera lenyap dan Ci Goat berkata lirih, agak cemberut.

"Taihiap, harap jangan mempermainkan aku. Kalau ayahku melihat betapa aku senyum-senyum pada saat mereka menguburkan jenazah tiga orang suheng-ku, tentu ayah akan marah karena menganggap aku tidak sopan, tidak mengenal aturan, tidak sayang kepada suheng-suheng-ku, malah mungkin juga aku akan dianggap gila! Apa yang harus kujawab kalau ayah atau orang lain bertanya kenapa aku justru tersenyum-senyum dalam keadaan berkabung seperti ini?"

"Katakan saja bahwa engkau gembira bahwa tiga orang suheng-mu tewas sebagai orang-orang gagah yang menentang kejahatan. Katakan bahwa engkau sangat gembira karena sudah menemukan dirimu sendiri seperti apa adanya, tidak berpura-pura, berani melihat kenyataan hidup!" Hay Hay tersenyum dan kini Ci Goat juga tersenyum. Gadis ini merasa betapa dadanya lapang dan lega, tidak lagi tertindih duka yang ternyata hanya dibuat oleh angan-angan pikirannya sendiri! Dia merasa bebas lepas dan nyaman!

Pada saat itu Han Siong mendekati mereka. "Wah, ada apa ini kalian amat gembira dan senyum-senyum. Goat-moi, hati-hati jangan sampai terbuai oleh rayuan maut Si Pendekar Mata Keranjang!"

"Ha-ha-ha. Sin-tong! Mana mungkin dia bisa terbuai rayuan? Hatinya sudah melekat pada seseorang, cintanya hanya ditujukan kepada seseorang!"

Tentu saja Ci Goat tersipu malu. Ia ingin membantah, akan tetapi karena di situ hadir Han Siong, dia pun tidak dapat mengeluarkan kata-kata selain, "Ihh, Taihiap…”

"Hay Hay, siapakah seseorang yang kau maksudkan itu?" tanyanya ingin tahu karena dia menduga bahwa tentu Hay Hay ngawur saja, hanya untuk mengoda Ci Goat.

"Hemmm, jangan engkau pura-pura tidak tahu! Siapa lagi kalau bukan Sin-tong Pek Han Siong?"

Han Siong terbelalak, terkejut dan heran. Juga Ci Goat terkejut, akan tetapi dengan muka berubah merah sekali dia lalu lari dari situ menuju ke tempat di mana ayahnya dan orang-orang lain sedang menimbuni tiga makam dengan tanah.

"Hay Hay, bagaimana engkau bisa tahu? Ataukah engkau ngawur saja?” tanya Han Siong sambil mendekati Hay Hay, matanya memandang penuh selidik.

"Tahu apa?" Hay Hay pura-pura tidak tahu untuk mengoda.

"Tahu bahwa dia mencintaku!"

"Ha-ha, yang matanya tidak buta tentu tahu! Cara dia memandang kepadamu saja sudah jelas, belum lagi jika dia berbicara kepadamu, tentu lebih jelas lagi. Rahasia hati seorang wanita yang tengah jatuh cinta amat mudah diketahui dari pandang matanya. Ada kalanya matanya bersinar penuh kagum, penuh harap, penuh penantian. Ada kalanya pula sinar matanya itu redup seperti orang mengantuk, penuh tantangan, penuh penyerahan, tampak malu-malu, mengandung kegenitan... ahh, pendeknya jelas sekali. Kalau berbicara, tentu suaranya akan menggetarkan lagu cinta, disertai senyum dikulum penuh arti, dan andai kata dia hendak menyembunyikan perasaan cintanya pun pasti akan nampak jelas pada pandang matanya dan pada suaranya. Ah, dia jatuh cinta tidak ketulungan lagi kepadamu Sin-tong, maka seharusnya engkau bahagia sekali. Dia seorang gadis yang cantik manis, gagah perkasa, mudah menerima kebijaksanaan dan hemm… wanita semacam itu tentu penuh gairah dan panas!"

Hay Hay tertawa, ada pun Han Siong mengerutkan alisnya dan wajahnya menjadi muram. Akan tetapi diam-diam dia heran mendengar ucapan Hay Hay itu yang jelas membuktikan bahwa Hay Hay memang seorang ahli wanita! Untuk menutupi kemuramannya, dia lantas tersenyum.

"Hay Hay, engkau betul-betul seorang mata keranjang yang ahli wanita. Bagaimana pula engkau bisa tahu tentang penuh gairah dan panas itu?"

Hay Hay tertawa. "Itu mudah saja, sudah ada tanda-tandanya. Lihat saja sinar matanya, seperti ada apinya. Lihat juga tarikan mulutnya. Bibir itu penuh gairah dan menantang. Dan bentuk tubuhnya! Hemm, dia seorang wanita pilihan, Han Siong. Sebaiknya engkau cepat memetik bunga yang sedang mekar cerah dan harum semerbak itu!"

Han Siong menghela napas panjang. "Engkau benar, Hay Hay. Memang dia jatuh cinta kepadaku, dan inilah yang membuat aku pusing. Aku tidak ingin menyakiti hatinya, akan tetapi aku... aku tidak mungkin dapat membalas cintanya!"

Kini Hay Hay tertegun, akan tetapi dia segera tersenyum. "Wahai sobat, agaknya engkau sudah jatuh cinta kepada wanita lain?"

Kembali Han Siong terkejut dan mengamati wajah Hay Hay dengan tajam, seolah hendak menjenguk isi hatinya. Kenapa pemuda ini tahu segala?

“Hemm, bagaimana lagi engkau bisa tahu akan hal itu?"

"Ha-ha-ha-ha, engkau memang masih hijau dalam soal asmara, sobat! Kalau ada seorang pemuda menolak cinta seorang gadis sehebat nona Ouw Ci Goat, tentu pemuda itu tidak waras atau miring otaknya! Karena kulihat engkau ini bukan pemuda yang kurang waras atau miring otaknya, maka satu-satunya sebab penolakanmu sudah pasti bahwa engkau telah jatuh cinta kepada wanita lain!"

Han Siong memandang kagum. Anak ini benar-benar hebat, pikirnya. Otaknya demikian cerdas dan walau pun sikapnya ugal-ugalan dan ceriwis, namun harus diakui bahwa apa yang diucapkannya memang benar. Dia menarik napas panjang dan kembali dia teringat kepada Bi Lian, gadis yang dicintanya.

"Engkau memang benar, Hay Hay. Sesudah secara hebat dan tepat engkau mengetahui keadaan hati kami, kini aku ingin minta pertolonganmu. Kau ceritakanlah kepada Ci Goat bahwa aku tidak mungkin dapat menerima cintanya karena aku sudah mempunyai pilihan hati gadis lain."

Hay Hay tersenyum. "Wah, tugas berat itu! Kenapa engkau tidak mau berterus terang saja kepadanya?”

"Ihh, engkau ini bagaimana? Dia belum pernah mengaku cinta, lalu bagaimana aku akan menceritakan bahwa aku tidak dapat menerima cintanya? Pula, aku tidak ingin menyakiti hatinya, sementara engkau yang ahli asmara ini tentu akan dapat mencari akal agar dia bisa menerima kenyataan ini dengan tabah dan dapat mengerti penolakanku."

Hay Hay menepuk mulut sendiri. "Dasar mulut usil! Sekarang tertimpa tugas yang berat."

"Hemm, katakan saja bahwa engkau tidak mampu melakukan itu, tidak perlu sungkan dan mencari-cari alasan!" kata Han Siong cemberut.

"He-he-he, siapa bilang tidak mampu? Pekerjaan begitu saja, menghadapi wanita, uhhh, sepele bagiku!"

“Nah, jadi engkau mau, bukan?" kata Han Siong sambil tersenyum.

Hay Hay terbelalak. "Setan! Engkau memancing kesanggupanku dengan mengatakan aku tidak mampu, ya? Engkau penuh akal bulus dan tipu muslihat, Han Siong!" kata Hay Hay tertawa.

"Aku hanya mencontoh engkau!"

"Baiklah, aku menyerah. Aku yang akan menyampaikan kepadanya biar pun hatiku akan hancur lebur jadi debu melihat seorang gadis menangis karena patah hati. Akan tetapi, untuk itu engkau harus bersabar dan selama beberapa hari kita tinggal di rumah keluarga Ouw. Berilah waktu sepekan untukku.”

"Sepekan? Biar sebulan pun boleh. Engkau tinggal di rumah mereka dan aku melanjutkan perjalananku."

"Enaknya! Kalau begitu, aku pun tidak akan sudi! Engkau harus menemani aku di rumah itu sampai aku selesai dengan tugasku. Bagaimana?"

Han Siong kembali menghela napas panjang. “Baiklah, mari kita ke sana. Penguburan itu agaknya telah selesai dan sekarang tinggal sembahyang sebagai penghormatan terakhir." Mereka lalu bergandeng tangan sebagai dua orang sahabat yang akrab sekali menuju ke makam baru yang rupanya sudah selesai ditimbuni tanah itu.

Memang Hay Hay dan Han Siong saling merasa suka dan akrab, merasa seolah-olah ada pertalian hubungan di antara mereka. Betapa tidak? Sejak terlahir di dunia ini, keduanya memang mempunyai hubungan yang dekat sekali, jalan hidup mereka saling kait mengait secara aneh. Memang bukan sanak bukan kadang, akan tetapi sejak lahir sampai menjadi besar, Hay Hay menempati hidup Han Siong sehingga seolah-olah dia menjadi Han Siong ke dua!

Sejak bayi dia dipakai menjadi pengganti Han Siong yang disembunyikan orang tuanya, lalu dia mengalami banyak sekali hal hebat karena dia disangka Han Siong. Dan sesudah dewasa, mereka berdua sama lihainya, mempunyai tingkat kepandaian yang berimbang, bahkan keduanya menjadi murid orang-orang sakti dan selain menerima gemblengan ilmu silat, juga keduanya mahir ilmu sihir!

Ketika semua orang baru selesai bersembahyang untuk memberi penghormatan terakhir di depan tiga buah makam itu, mendadak terdengar suara kelenengan kecil yang nyaring. Semua orang segera menengok ke arah suara itu dan melihat tiga orang pendeta Lama yang berjubah merah dengan langkah lebar menuju ke tempat itu.

Melihat mereka itu, Han Siong dan Hay Hay saling pandang, lantas Hay Hay tersenyum. Keduanya sudah mengenal baik para pendeta Lama yang sejak mereka masih kecil terus berusaha untuk menemukan dan menculik Sin-tong, yaitu Pek Han Siong. Tak salah lagi, pikir mereka, kemunculan ketiga orang pendeta Lama itu tentu ada hubungannya dengan urusan lama itu, maka keduanya siap siaga dan waspada. Mereka segera memperhatikan tiga orang pendeta Lama itu.

Seperti pada umumnya, tiga orang pendeta Lama itu pun bertubuh jangkung. Orang yang pertama tinggi besar bagaikan raksasa, dengan kaki tangan yang kokoh kuat. Sepasang matanya bundar dan amat tajam, mukanya membayangkan kekuatan dan keberingasan.

Orang ini memikul sebatang tongkat panjang yang dipasangi kelenengan perak kecil yang mengeluarkan bunyi nyaring bila dia bergerak, dan di ujung lain dari tongkatnya tergantung sebuah buntalan yang cukup besar. Raksasa berkulit hitam ini agaknya menjadi pimpinan walau pun usianya sebaya dengan dua orang temannya, yaitu kurang lebih enam puluh tahun.

Pendeta Lama yang ke dua berkulit putih dan tubuhnya tinggi kurus. Sepasang matanya nampak seperti selalu terpejam saking sipitnya. Dia tidak kelihatan membawa senjata apa pun, akan tetapi kalau orang melihat ke arah pinggangnya, maka orang itu akan merasa ngeri melihat betapa sabuk di pinggang orang tinggi kurus ini adalah seekor ular hidup!

Ada pun pendeta yang ke tiga juga bertubuh jangkung, tetapi agak bongkok sehingga dia seperti seekor onta. Kulitnya kuning dan wajahnya kekanak-kanakan, kecil mengkerut. Di punggungnya tergantung sepasang cakar harimau yang sudah diberi gagang, sepanjang pedang.

Ouw Pangcu atau sekarang lebih tepat disebut namanya saja, yaitu Ouw Lok Khi karena dia tidak menjadi ketua lagi mengingat betapa semua anak buahnya sudah tewas, tinggal dia dan puterinya seorang, segera maju menyambut ketiga orang pendeta itu. Dia sendiri merasa amat heran ketika melihat munculnya tiga orang pendeta, namun karena dia yang menyelenggarakan pemakaman untuk ketiga orang muridnya, maka dia merasa sebagai tuan rumah dan menyambut tiga orang hwesio itu dengan sikap ramah ramah dan sopan.

“Selamat datang, sam-wi lo-suhu (tiga bapak guru)! Kami sedang melakukan pemakaman dan sembahyangan bagi tiga orang murid kami yang tewas dibunuh gerombolan penjahat. Tidak tahu apakah keperluan sam-wi (kalian bertiga) datang berkunjung ke tempat ini?"

"Omitohud..., semoga yang benar selalu mendapatkan perlindungan dan berkah! Pinceng (saya) bertiga sengaja datang untuk memberi hadiah penghibur bagi kalian yang berduka, juga untuk menyembahyangkan supaya arwah ketiga orang ini mendapatkan tempat yang damai abadi. Nah, sekarang terimalah hadiah penghibur yang kami bawa ini!"

Berbarengan dengan habisnya ucapan itu, pendeta Lama yang bertubuh raksasa bermata lebar itu segera menggerakkan tongkatnya dan buntalan itu pun melayang turun ke depan kaki Ouw Lok Khi. Begitu jatuh ke tanah buntalan itu lalu terlepas dan terbuka, dan semua orang memandang ngeri melihat bahwa isi buntalan adalah tiga buah kepala orang yang masih segar, leher yang buntung itu masih berdarah, agaknya baru saja tiga buah kepala itu dipenggal dari tubuhnya!

"Ohhh...!" Ouw Lok Khi terhuyung mundur dengan mata terbelalak dan muka pucat. Hay Hay dan Han Siong yang sudah siap siaga telah berloncatan ke depan. Sekali lihat saja mereka berdua mengenali tiga buah kepala itu.

"Ini adalah kepala para tosu Pek-lian-kauw ahli sihir itu!" seru Hay Hay.

Pendeta Lama yang tinggi besar itu tertawa, ada pun dua orang temannya berdiri seperti patung dan hanya menonton. "Ha-ha-ha, benar sekali, orang muda. Bukankah mereka ini yang menyusahkan kalian? Ehhh, orang muda yang baik, apakah engkau yang bernama Pek Han Siong?"

Sebelum Hay Hay menjawab, Han Siong yang sudah mempunyai dugaan buruk terhadap semua pendeta Lama, segera menjawab, "Akulah yang bernama Pek Han Siong! Tidak tahu sam-wi lo-suhu mempunyai keperluan apakah dengan aku?"

Tiga orang pendeta Lama itu menatap kepada Han Siong dengan pandang mata penuh selidik. Kemudian, melihat sinar mata mencorong pemuda itu yang agaknya seperti penuh tantangan, pendeta Lama yang tinggi besar itu lalu berkata ramah. "Bagus, setelah sekian lamanya kami mencari, kebetulan bertemu di sini. Saudara sekalian, dan juga engkau Pek Han Siong, ketahuilah bahwa kedatangan kami ini mempunyai iktikad baik. Buktinya, kami sudah membunuh tiga orang tosu yang telah mengacau di sini dan menimbulkan banyak korban. Terus terang saja, kami senang bertemu dengan Pek Han Siong dan kami ingin membicarakan suatu hal yang sangat penting. Akan tetapi sebelum itu, biarlah kami akan membuat sembahyangan dulu agar roh ketiga orang yang mati ini akan mendapat tempat yang tenang abadi."

Sesudah berkata demikian, pendeta Lama yang agak bongkok kemudian mengeluarkan alat sembahyang dari saku jubahnya yang lebar, yakni dupa, tempat dupa gantung dan sebagainya. Lalu, disaksikan oleh semua orang, tiga orang pendeta Lama itu melakukan sembahyang dengan upacara yang aneh bagi mereka yang menyaksikan.

Upacara sembahyang untuk kematian yang dilakukan oleh para pendeta Lama ini sangat berbeda dengan apa yang biasa dilakukan oleh para hwesio. Mereka berjalan mengelilingi tiga buah makam itu, mengucapkan doa dan mantera dengan nada dan lagu yang asing. Namun bagaimana pun juga Ouw Lok Khi merasa bersyukur dan berterima kasih kepada tiga orang pendeta itu.

Setelah tiga orang pendeta Lama itu menyelesaikan upacara sembahyang, mereka lantas menghampiri Pek Han Siong dan Hay Hay yang sejak tadi menonton upacara itu dengan penuh perhatian.

"Hati-hatilah, Han Siong. Aku merasa curiga pada mereka. Kurasa mereka datang karena engkau dan ada hubungannya dengan dirimu sebagai Sin-tong," Hay Hay berbisik kepada Han Siong.

Han Siong setuju dengan pendapat Hay Hay itu dan sejak tadi dia memang sudah merasa curiga dan bersiap siaga. Kini pendeta yang bertubuh raksasa itu berkata sambil memberi hormat kepadanya.

"Saudara muda Pek Han Siong, kami bertiga mohon supaya engkau suka menerima kami yang ingin bicara dengan engkau tanpa kehadiran orang lain, untuk urusan yang teramat penting.

Hay Hay dan Han Siong saling pandang, kemudian Han Siong menjawab, "Sama sekali aku tidak keberatan untuk bicara dengan sam-wi lo-suhu, akan tetapi lebih dulu aku ingin tahu siapa sesungguhnya sam-wi ini."

Han Siong yang cerdik agaknya cukup berhati-hati sehingga dia ingin agar Hay Hay lebih dulu juga mendengar siapa adanya tiga orang pendeta Lama itu sebelum dia mengadakan pembicaraan sendirian saja bersama mereka.

Mendengar ini, tiga orang pendeta itu juga saling pandang, kemudian orang pertama yang bertubuh tinggi besar menjawab, "Ketahuilah, saudara muda Pek, kami adalah tiga orang pendeta dari Tibet. Nama pinceng (aku) adalah Gunga Lama."

“Pinceng bernama Janghau Lama," kata pendeta tinggi kurus yang matanya sangat sipit dan bersabuk ular hidup.

"Dan pinceng bernama Pat Hoa Lama," kata pendeta bongkok yang pada punggungnya terdapat senjata sepasang cakar harimau. Dari nama mereka saja dapat diketahui bahwa yang dua orang pertama adalah orang-orang Tibet asli, sedangkan orang ke tiga adalah peranakan Tibet dan Han.

Ouw Lok Khi yang merupakan seorang berpengalaman, dengan diam-diam juga merasa curiga melihat tiga orang pendeta Tibet begitu datang lantas ingin berbicara dengan Pek Han Siong. Maka dia pun mendahului mereka, sesudah mereka memperkenalkan diri, dia segera maju dan memberi hormat.

"Sam-wi lo-suhu, kami sangat berterima kasih kepada sam-wi dan untuk memperlihatkan rasa terima kasih kami, maka kami mengundang sam-wi untuk menjadi tamu kami dan di sanalah sam-wi dapat berbicara dengan Pek-taihiap secara leluasa tanpa terganggu. Mari, silakan, sam-wi lo-suhu, Pek-taihiap dan Tang-taihiap."

Diam-diam dua orang pendekar muda itu bersyukur akan sikap hati-hati dari bekas ketua Pek-tiauw-pang itu. Tiga orang pendeta itu tertegun, akan tetapi sesudah saling pandang, mereka mengangguk dan tanpa banyak cakap mereka semua lalu bubaran meninggalkan kuburan. Para pelayat lain kembali ke rumah masing-masing, ada pun tiga orang pendeta itu turut bersama Ouw Lok Khi dan Ouw Ci Goat. Han Siong dan Hay Hay juga berjalan mengikuti mereka, dan mereka berdua berjalan paling belakang.

"Hay Hay, kurasa mereka tidak berniat buruk walau pun aku tetap akan berhati-hati sekali dalam menghadapi mereka. Engkau jangan lupa tugasmu!"

"Tugasku...? Ahh, nona Ouw maksudmu? Jangan khawatir. Kita membagi tugas, engkau bicara dengan tiga orang pendeta Lama itu dan aku bicara dengan Ouw Ci Goat. He-he, tugasku lebih menyenangkan, dapat berdekatan dan bercakap-cakap dengan gadis cantik manis, sedangkan engkau... heh-heh!"

"Dasar mata keranjang kau!" Han Siong mengomel.

Akan tetapi Hay Hay hanya tertawa saja, walau pun di dalam hatinya dia harus mengakui bahwa tugasnya jauh lebih berat. Dia harus menyampaikan kenyataan yang sangat tidak menyenangkan bagi Ci Goat, dan dia harus mencari akal yang jitu supaya gadis itu dapat menerima berita yang disampaikannya dengan tabah…..

********************

"Ci Goat, aku ingin bicara denganmu, bolehkah?"

Gadis itu terkejut. Dia sedang termenung seorang diri di kebun belakang rumah barunya, rumah yang merupakan peninggalan dari suheng-nya, yaitu mendiang Thio Ki. Dia sedang termenung dan terkenang akan percakapannya dengan Hay Hay yang pandai merayu, kemudian terkenang akan ucapan pemuda itu yang di depan Han Siong yang secara terus terang mengatakan keyakinannya bahwa dia mencinta Han Siong!

Betapa malu rasa hatinya ketika itu, akan tetapi diam-diam dia pun bersyukur bahwa Hay Hay sudah mengetahui akan isi hatinya dan mewakilinya menyampaikan hal itu kepada Han Siong! Kini dia tinggal menanti bagaimana reaksi dari Han Siong setelah mendengar bahwa dia mencintanya. Diam-diam dia merasa sangat berterima kasih kepada Hay Hay yang perayu akan tetapi tidak kurang ajar itu.

Ketika ada suara memanggilnya, dia tersentak kaget dan menoleh. Kiranya Hay Hay yang memanggilnya. Kedua pipinya menjadi kemerahan, apa lagi mendengar betapa pemuda ini menyebut namanya begitu saja, padahal biasanya menyebutnya nona!

“Ahhh, ternyata Tang-taihiap...” katanya sambil bangkit berdiri dari atas bangku yang tadi didudukinya.

Hay Hay tersenyum dan agaknya dia pandai membaca hati orang dengan hanya melihat sikapnya. "Jangan kaget kalau aku menyebut namamu begitu saja, Ci Goat. Sesudah kita menjadi kenalan dan sahabat baik, rasanya janggal kalau aku harus menyebutmu nona, apa lagi engkau menyebut taihiap kepadaku, sebut saja toako (kakak), bukankah engkau juga menyebut begitu kepada Han Siong?"

Kedua pipi itu semakin merah sehingga nampak amat menggairahkan seperti buah tomat! Manisnya melebihi madu!

"Baiklah... Toako. Ehh, tentu saja boleh bicara dengan aku. Silakan duduk...”

Bangku itu terlalu pendek. Kalau dia harus duduk di sana bersama Ci Goat, tentu mereka harus duduk berdempetan. Tentu akan senang sekali duduk begitu dekat, akan tetapi Hay Hay maklum bahwa tentu gadis itu yang akan merasa risih dan rikuh. Maka dia pun duduk saja di atas batu depan bangku itu, dalam jarak dua tiga meter.

"Engkau duduklah, Ci Goat. Aku ingin mengobrol denganmu karena sahabatku Han Siong lebih senang mengobrol dengan tiga orang pendeta Lama itu dari pada dengan aku atau engkau!"

Ci Goat mengerutkan alisnya dan memandang kepada Hay Hay dengan sinar mata jelas membayangkan kekhawatiran. "Tang-taihiap... eh, Toako, sebetulnya siapakah tiga orang pendeta itu dan apakah maksud mereka hendak menemui dan bicara dengan Pek-toako? Kemunculan mereka yang tiba-tiba sungguh mencurigakan!"

Sikap gadis ini yang mengkhawatirkan keadaan Han Siong menambah jelas bagi Hay Hay bahwa gadis ini memang sudah jatuh cinta kepada Anak Ajaib itu. Dia tidak pernah dapat melupakan bahwa Pek Han Siong adalah Sin-tong (Anak ajaib) yang menurut pendapat para pendeta Lama di Tibet, Anak Ajaib adalah seorang anak yang sudah ditakdirkan dan dipilih menjadi seorang Dalai Lama!

"Jangan khawatir, Ci Goat. Apa pun yang menjadi maksud mereka, ketiga orang pendeta Lama itu tak akan mampu mencelakai Han Siong. Di samping dia sendiri mempunyai ilmu kepandaian yang amat tinggi, masih ada aku di sini yang selalu siap untuk membantunya andai kata dia terancam bahaya."

Jelas nampak betapa wajah yang tadinya diliputi kekhawatiran itu sekarang berseri tanda bahwa hatinya lega. "Ohh, terima kasih, Taihiap... ehh Toako…"

"Sudahlah, Ci Goat, jangan kita membicarakan orang lain. Aku hendak mengajak engkau mengobrol tentang diri kita sendiri, tidak membicarakan orang lain."

Kini Ci Goat dapat tersenyum. Dia sudah mulai mengenal watak pendekar yang ganteng ini. Watak yang perayu, mata keranjang akan tetapi tetap sopan dan tidak kurang ajar biar pun agak ‘berani’! Pemuda semacam ini tidak cocok bila ditanggapi dengan serius, maka sebaiknya dia bersikap ramah dan main-main pula.

"Tang-toako, engkau ingin bicara tentang apakah?”

"Tentang cinta!"

Sepasang mata jeli itu terbelalak dan Hay Hay pun terpesona. Gadis ini memang sudah cantik, dengan wajahnya yang putih mulus dan berbentuk bulat bagaikan bulan purnama, juga senyumnya yang memikat. Akan tetapi begitu sepasang mata itu terbelalak, muncul sepasang bintang yang amat indahnya!

"Apa... apa maksudmu... ?” Gadis itu bertanya dengan suara lirih dan seketika mukanya berubah merah.

Hay Hay tertawa. "He-he-he, adik Ci Goat yang manis, kenapa engkau begitu tersipu dan terkejut mendengar kata cinta? Apa sih salahnya orang muda berbicara mengenai cinta? Engkau sudah cukup dewasa, dan aku pun bukan kanak-kanak. Tidak ada salahnya kalau orang-orang muda seperti kita bicara tentang cinta."
“Tapi... tapi, apa maksudmu?”

Senyum Hay Hay semakin melebar. Dia tahu kenapa gadis itu tersipu. Tentu disangkanya bahwa dia akan menyatakan cinta kepada gadis itu! Ah, betapa mudahnya mengaku cinta kepada gadis-gadis muda cantik, apa lagi yang seperti Ci Goat ini. Akan tetapi pengakuan cintanya akan merupakan kebohongan besar kalau hal itu dia lakukan.

Tidak, dia belum pernah jatuh cinta walau pun entah sudah berapa puluh kali dia tertarik dan suka sekali kepada gadis cantik jelita. Bahkan setiap gadis selalu menarik hatinya, menimbulkan rasa suka. Akan tetapi jatuh cinta? Rasanya belum pernah.....!


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner