SI KUMBANG MERAH : JILID-33


Setelah melewati bagian jalan yang sulit dan sekarang mereka berjalan naik melalui jalan berbatu, keduanya masih saja saling bergandeng tangan! Cuaca telah mulai terang ketika mereka tiba di tempat datar di puncak, karena pagi sudah menjelang tiba. Agaknya ketika itu barulah Mayang teringat bahwa mereka masih saling bergandeng tangan. Dia seperti terkejut dan cepat-cepat melepaskan pegangan tangannya.

"Ihhh! Mengapa engkau masih terus menggandeng tanganku?" tanyanya bingung karena baru menyadari bahwa sejak melewati jalan yang berbahaya itu, dia sendiri tidak pernah ingat untuk melepaskan pegangan tangan pemuda itu!

"Tanganmu... begitu halus dan hangatnya...,” Hay Hay berkata.

Gadis itu tiba-tiba membalik, menghadapinya dengan sinar mata mencorong marah. Akan tetapi sesudah dia melihat wajah pemuda itu yang memandang kepadanya dengan polos dan jujur, teringat dia bahwa yang dihadapinya adalah seorang pemuda yang terbuka dan bicara apa adanya, bukan bermaksud lain, maka dia pun tidak jadi menggerakkan tangan untuk menampar.

"Kau... kau dengan mulutmu... kau tahanlah sedikit kata-katamu yang penuh rayuan itu atau aku dapat lupa diri, menganggap engkau kurang ajar dan menamparmu!" bentaknya, akan tetapi suaranya lirih dan lebih tepat bila dikatakan setengah berbisik atau mengomel. Agaknya gadis itu menahan suaranya agar jangan sampai terdengar oleh subo-nya yang amat lihai.

"Maafkan aku, Mayang. Apa kau ingin kalau aku mengatakan bahwa tanganmu itu kasar dan dingin? Berarti aku berbohong..."

"Sudahlah! Jangan katakan apa-apa lagi!" kata Mayang kewalahan.

Diam-diam jari-jari tangannya yang tadi bergandengan dengan Hay Hay mengelus telapak tangannya sendiri untuk merasakan apakah benar telapak tangannya itu halus dan hangat seperti yang dikatakan Hay Hay! Dan diam-diam timbul perasaan senang dan bangga di dalam hatinya.

Bagaimana pun Mayang hanya seorang wanita, dan mana ada wanita yang tidak merasa senang kalau dipuji, apa lagi kalau yang memujinya itu seorang pemuda tampan dan yang dia tahu bukan sekedar merayu akan tetapi mengatakan keadaan yang sesungguhnya? Baginya pemuda ini seperti seorang juri atau penilai yang jujur dan adil, yang penilaiannya dapat dipercaya! Dan kalau dinilai bagus, alangkah puas dan senangnya hati…..!

********************

Siapakah yang tinggal di puncak yang disebut Puncak Awan Kelabu itu? Biar pun belum lengkap, namun keterangan yang diberikan Mayang kepada Hay Hay memang benar dan gadis itu tidak berbohong.

Delapan belas tahun yang lalu, ketika Mayang baru berusia beberapa bulan saja, ibunya rnembawanya berkeliaran ke Pegunungan Ning-jing-san. Ibunya menggendong Mayang yang masih berusia tiga bulan itu sambil menangis, tertawa dan mencari-cari seseorang. Mencari ayah Mayang!

Ibu muda itu ternyata sudah menjadi seperti orang gila. Dia ditinggal pergi oleh pria yang menjadi ayah Mayang, ditinggal begitu saja ketika kandungannya telah tua tanpa memberi tahu dan dia tidak tahu ke mana perginya pria itu! Ayah ibunya menjadi marah, kemudian mengusirnya karena dia mengandung tanpa suami! Pria itu selalu mengunjungi kamarnya pada waktu malam dan tak ada seorang pun yang mengetahui hubungannya dengan pria itu. Setelah dia mengandung tua, pria itu pergi begitu saja.

Dalam keadaan seperti gila ini, ibu Mayang, puteri seorang kepala suku bangsa Tibet, lalu mendaki puncak itu, dan di sana dia bertemu dengan seorang pertapa wanita. Pertapa itu berjuluk Kim Mo Siankouw (Dewi Berambut Emas).

Pertapa itu merasa kasihan terhadap Mayang dan ibunya. Dia lalu mengobati ibu muda itu sampai sembuh dan semenjak saat itu, Mayang dan ibunya tinggal bersama pertapa itu di puncak. Dan semenjak ibu dan anak itu berada di situ, kehidupan Kim Mo Siankouw juga berubah.

Dahulunya dia hanya bertapa di dalam sebuah gubuk tua tanpa mempedulikan keadaan dirinya. Akan tetapi setelah dia harus memelihara ibu beserta anak itu, Kim Mo Siankouw lalu berusaha di bidang peternakan, dibantu oleh ibu Mayang. Beberapa tahun kemudian peternakan itu menjadi besar dan keadaan mereka menjadi makmur. Kim Mo Siankouw lantas menyuruh orang-orang di dusun pegunungan itu untuk membangun sebuah rumah yang besar, dan dia bahkan mengambil beberapa orang wanita pembantu untuk mengatur rumah tangganya.

Sejak kecil Mayang tinggal di sana dan ternyata bahwa Kim Mo Siankouw bukan sekedar seorang wanita yang sedang mengasingkan diri bertapa di situ, melainkan seorang wanita sakti yang mempunyai banyak ilmu! Dengan sendirinya, Mayang menjadi anak yang amat disayang oleh Kim Mo Siankouw, bahkan semenjak kecil Mayang sudah digembleng oleh pertapa wanita itu, diberi makanan yang mengandung ramuan sehingga Mayang tumbuh menjadi seorang gadis yang memiliki tubuh yang amat kuat.

Semenjak berusia tujuh tahun Mayang telah diajari ilmu membaca tulis dan juga terutama sekali ilmu silat oleh Kim Mo Siankouw. Akan tetapi dengan keras pertapa itu melarang Mayang untuk memamerkan kepandaiannya kepada orang lain sehingga tidak ada yang tahu bahwa gadis itu amat lihai.

Orang-orang hanya tahu bahwa Mayang adalah seorang gadis penggembala ternak yang cetakan dan pandai sekali, ahli menggiring ratusan ternak dari satu tempat ke tempat lain yang jauh tanpa ada seekor pun yang tercecer, bahkan mampu melindungi semua ternak dari gangguan binatang buas! Kalau mereka melihat gadis itu meledak-ledakkan pecutnya sambil menggiring ratusan ekor ternak, tidak ada seorang pun yang tahu bahwa cambuk pada tangannya itu mampu merobohkan pengeroyokan banyak orang jahat yang berani mengganggunya!

Bukan hanya Mayang yang diberi pelajaran ilmu silat oleh Kim Mo Siankouw, bahkan juga ibu Mayang dilatih ilmu silat agar tubuhnya menjadi kuat. Memang ibu Mayang membantu peternakan milik Kim Mo Siankouw, karena itu tubuhnya harus kuat dan selalu sehat.

Akan tetapi ibu dan anak ini tidak pernah mendengar tentang riwayat pertapa itu, seorang wanita yang usianya kurang lebih enam puluh tahun akan tetapi masih kelihatan anggun bahkan cantik, dengan wajah yang berkulit halus tanpa keriput, bentuk muka yang agung seperti seorang puteri, dengan sepasang mata yang masih jeli dan mencorong, dan mulut yang selalu tersenyum penuh kelembutan, akan tetapi sinar matanya yang mencorong itu kadang kala dapat bersinar keras. Ibu dan anak itu mengenalnya sebagai seorang wanita yang lembut hati, ramah dan budiman, akan tetapi juga sebagai seorang wanita yang bila sudah marah, dengan mudah saja membunuh orang yang dianggap jahat!

Pada saat Mayang baru berusia sepuluh tahun, ketika dia menggembala ternak di padang rumput dan ternaknya diganggu oleh sekawanan perampok yang terdiri dari empat belas orang, Kim Mo Siankouw muncul dan dengan lembut dia menegur empat belas orang itu dan mengusir mereka. Akan tetapi empat belas orang itu memandang rendah kepadanya dan bahkan mengeluarkan kata-kata yang kasar dan cabul.

Dan terjadilah hal yang sangat mengerikan itu! Kim Mo Siankouw menghajar mereka dan ketika mereka melawan dengan menggunakan golok, dia merampas sebatang golok lalu membunuh empat belas orang itu dengan golok. Dalam waktu sebentar saja empat belas orang gerombolan penjahat itu roboh malang melintang dengan kepala terpisah dari tubuh! Dengan sikap amat tenang Kim Mo Siankouw menyuruh para pelayannya untuk menggali lubang besar dan menguburkan jenazah mereka itu.

Peristiwa ini membuat daerah itu menjadi aman. Tidak ada seorang pun penjahat berani melakukan kejahatan sehingga para penduduk dusun di daerah itu amat berterima kasih kepada Kim Mo Siankouw. Apa lagi karena pertapa itu sangat dermawan, siap menolong siapa pun yang membutuhkan bantuan, baik bantuan itu berupa uang, ternak, pengobatan mau pun hanya nasehat.

"Sekali lagi, hati-hatilah engkau, Hay Hay. Kalau berhadapan dengan subo, jangan sekali-kali engkau pecengisan, juga jangan main-main dan jangan merayu. Kalau sampai engkau membuat subo marah kemudian dia turun tangan membunuhmu, jangan katakan bahwa aku belum memberi peringatan kepadamu," bisik gadis itu.

Diam-diam Hay Hay tahu bahwa gadis ini memang bersikap serius dan tidak main-main. Baru sikapnya saja sudah begitu jeri, bicara pun tak berani keras-keras, tentu takut kalau sampai terdengar oleh subo-nya. Dan ketakutan seperti ini pun telah menunjukkan bahwa tentu guru gadis ini memiliki kesaktian yang amat hebat sehingga mampu mendengarkan percakapan dari tempat jauh. Dia pun lalu mengangguk karena tidak tega untuk membuat Mayang menjadi semakin ketakutan.

Setelah sampai di puncak, Hay Hay melihat bahwa puncak itu ternyata datar, merupakan dataran yang cukup luas dan di tengah-tengah puncak itu tampak sebuah bangunan yang besar, dengan tembok warna putih dan genteng berwarna merah coklat. Daun pintu dan jendela dicat kuning dan di sekeliling rumah itu dihias pepohonan sehingga nampak teduh dan nyaman. Pada sebelah kiri dan belakang rumah terdapat taman bunga yang dipagari kuat, tentu untuk mencegah masuknya hewan ternak yang banyak terdapat di situ.

Sebagian besar puncak itu terdiri dari padang rumput yang luas dan subur, dan Hay Hay dapat melihat hewan ternak seperti kambing dan lembu, juga kuda bahkan nampak ayam berkeliaran di puncak. Hewan ternak itu gemuk-gemuk, dan jauh di ujung puncak terdapat bangunan-bangunan dari bambu sederhana yang merupakan kandang ternak.

Beberapa orang gadis sibuk bekerja, ada yang menggembala ternak, ada yang memikul air, ada yang membelah kayu. Mereka semua langsung berhenti bekerja dan mengangkat muka memandang, lantas alis mereka berkerut ketika mereka melihat munculnya Mayang bersama seorang pemuda tampan. Agaknya tamu pria jarang sekali muncul di puncak ini, kecuali mereka yang mempunyai urusan pekerjaan dengan keluarga Siankouw, yaitu jual beli ternak, mengirim bahan makanan atau kayu, dan lain-lain. Akan tetapi pemuda yang datang bersama Mayang ini tidak membawa apa-apa dan datangnya bersama gadis itu, tentu dia adalah seorang tamu. Namun mereka membalas salam Mayang dengan sopan dan sikap hormat.

"Mari kita terus saja ke rumah," kata Mayang dan mereka menghampiri rumah besar itu. Sesudah tiba di ruangan depan, Mayang berkata lirih. "Engkau duduklah dulu menanti di ruangan tamu ini, aku akan memberi tahu kepada subo. Sekali lagi, bersikaplah sopan." Gadis itu lalu memasuki pintu tembusan ke dalam.

Hay Hay duduk melamun, lalu memutar tubuh memandang keluar. Pekarangan itu sangat luas dan bersih, tidak berdebu karena ditaburi semacam pasir lembut yang berwarna agak gelap sehingga tidak menyilaukan mata kalau matahari bersinar, dan hangat kalau udara dingin. Tempat ini memang indah dan nyaman, pikirnya. Dan penghuninya tentulah orang-orang yang suka akan kebersihan dan keindahan.

Guru Mayang itu tentu lihai sekali ilmu silatnya, dan lebih lihai lagi ilmu sihirnya. Sungguh merupakan pribadi yang sangat menarik. Kalau wanita sakti itu mau membantunya, tentu dia akan dapat membebaskan Han Siong dan berhasil menyelidiki keadaan para pendeta Lama itu, juga dapat membuka rahasia mereka mengapa mereka itu menculik Han Siong! Tiga orang pendeta Lama yang lihai itu mengaku sebagai utusan Dalai Lama, akan tetapi dia mendengar dari Mayang bahwa mereka itu adalah pemimpin para pendeta Lama yang pernah dibasmi sebagai pemberontak oleh Dalai Lama!

Pada saat dia mulai merasa betapa lamanya Mayang meninggalkannya di situ, terdengar langkah-langkah kaki yang ringan di belakangnya Dia sudah mulai khawatir bahwa gadis itu mendapat kesukaran, bahwa subo gadis itu tidak mau menemuinya bahkan memarahi Mayang. Sebab itu, ketika mendengar langkah kaki yang ringan lembut, dia cepat bangkit berdiri dan membalik.

Dia melihat Mayang, akan tetapi gadis itu sekarang telah mengenakan pakaian bersih dan nampak segar. Agaknya Mayang sudah mandi dulu sebelum keluar lagi. Pantas demikian lamanya, akan tetapi harus diakui bahwa kemunculan gadis ini mendatangkan kesegaran baginya.

Mayang tetap sederhana, bahkan rambutnya tidak disisir rapi, agak awut-awutan namun bahkan menjadi semakin manis! Kemanisan yang wajar seorang gadis, bukan kecantikan karena riasan. Di samping gadis itu terdapat seorang wanita lain yang pantasnya menjadi kakak Mayang karena ada banyak persamaan di wajah mereka. Kalau Mayang bagaikan kuncup mulai mekar, wanita itu adalah bunga yang sudah mekar sepenuhnya. Keduanya sama menariknya!

Hay Hay memandang mereka, dari yang satu kepada yang lain. Inikah subo dari Mayang? Inikah wanita pertapa yang berjuluk Kim Mo Siankouw itu? Memang seorang wanita yang cantik dan anggun, akan tetapi dia tidak melihat alasan mengapa wanita berjuluk Kim Mo Siankouw (Dewi Berambut Emas). Rambutnya hitam seperti rambut Mayang, tapi tersisir rapi dan tidak awut-awutan seperti rambut gadis itu.

"Locianpwe yang mulia, saya Tang Hay datang menghaturkan hormat, mohon Siankouw sudi memaafkan kelancangan saya...” kata Hay Hay dengan penuh hormat.

Hay Hay menghaturkan penghormatan seperti yang diberikan kepada seorang permaisuri atau raja. Namun dia terbelalak dan bengong memandang kepada Mayang karena gadis itu tiba-tiba tertawa terkekeh-kekeh, tangan kiri menutup mulut dan tangan kanan meraba perut karena merasa geli.

"Ehhh, Mayang, ada apakah? Apakah... apakah aku kurang sopan dan kurang hormat?” tanya Hay Hay, benar-benar tidak mengerti kenapa gadis itu tertawa-tawa geli seperti itu.

Gadis yang tadi tertawa sambil membungkuk itu mengangkat mukanya memandang. Saat melihat pemuda itu bengong dan mendengar pertanyaan tadi, tawanya kembali meledak, sampai terkekeh-kekeh dan ada air mata keluar dari kedua matanya yang bersinar-sinar. Akhirnya ketawanya mereda setelah wanita di sampingnya menegur halus.

"Mayang, tidak sepantasnya engkau tertawa seperti itu."

Mayang memandang Hay Hay, wajahnya masih penuh tawa. "Hay Hay, ini bukan subo, ini adalah ibuku, hi-hi-hik!” Gadis itu menahan ketawanya.

Kini wajah Hay Hay seketika menjadi merah. Dia pun mengangkat muka dan memandang lagi kepada wanita itu, mengamati dengan penuh perhatian. Kemudian, sesudah menarik napas panjang dia pun berkata. "Ahhh, pantas... sungguh pantas, akan tetapi juga tidak patut sekali...”

Mendengar kata-kata yang tidak karuan maknanya ini, Mayang berbalik menjadi bengong. "Apa maksudmu, Hay Hay? Ucapanmu tidak karuan. Kau bilang pantas akan tetapi juga tidak patut! Bagaimana pula itu?"

"Memang pantas sekali menjadi ibumu karena mirip denganmu, Mayang, dan pantas pula engkau demikian cantik manis karena ibumu juga begini cantik jelita. Namun tidak patut menjadi ibumu karena dia masih terlalu muda, patutnya menjadi kakakmu!"

Mayang tidak merasa heran mendengar pemuda mata keranjang ini memuji kecantikan ibunya, akan tetapi wanita itu terbelalak, mukanya berubah merah sekali.

"Mayang! Siapakah dia ini? Orang macam apa yang kau bawa berkunjung ini? Apakah dia waras, tidak gila?"

Mendengar pertanyaan ibunya, gadis itu kembali tertawa geli sambil menatap wajah Hay Hay. "Hati-hati, ibu, jangan-jangan engkau akan jatuh ke dalam rayuan mautnya. Memang Hay Hay ini seorang perayu maut yang amat berbahaya bagi setiap orang wanita."

Hay Hay segera teringat akan keadaan dirinya yang kini sedang berada di tempat orang, tempat berbahaya pula karena penghuninya adalah seorang pertapa wanita sakti. Cepat dia memberi hormat kepada ibu Mayang dengan sikap sopan, lantas berkata, "Harap Bibi sudi memaafkan saya yang selalu suka terus terang sehingga mungkin terdengar kurang ajar. Bukan maksud saya untuk merayu, melainkan untuk berterus terang. Maafkan, saya Tang Hay dan...”

"She Tang...?” Tiba-tiba wanita itu membelalakkan matanya dan menatap wajah Hay Hay, lalu dia mengeluarkan jerit kecil tertahan, “Kau... kau... matamu dan hidungmu itu... ihhh, dan engkau she Tang pula... Orang muda, cepat katakan, siapakah ayahmu?"

Hay Hay terkejut. Dia mengambil keputusan untuk tidak memperkenalkan siapa ayahnya bila tidak amat perlu, maka dia pun menarik napas panjang. "Saya tidak tahu siapa ayah saya, Bibi, karena ayah telah pergi sejak saya berada dalam kandungan dan mungkin dia sudah mati."

"Ibu, mengapa Ibu terkejut mendengar she dari Hay Hay? Dan Ibu menyinggung mata dan hidungnya! Ada apakah, ibu...?" Mayang kini juga bersikap sungguh-sungguh karena dia pun terkejut dan heran melihat sikap ibunya.

Wanita itu telah dapat menguasai dirinya. "Ahh, tidak apa-apa. Aku hanya merasa seperti pernah melihat pemuda ini. Akan tetapi, Mayang, bagaimana engkau dapat berkenalan dengan pemuda yang... eh, mata keranjang ini? Mau apa kau bawa dia ke sini? Siankouw bisa marah kalau...”

“Orang muda kurang ajar ini harus pergi sekarang juga!" Mendadak terdengar bentakan halus dari sebelah dalam.

Mendengar suara ini ibu Mayang cepat membungkuk, lantas merangkap kedua tangannya memberi hormat. Juga Mayang segera menjatuhkan diri berlutut di dekat ibunya, sikapnya amat hormat.

Hay Hay mengangkat muka memandang. Yang rnuncul di ambang pintu memang sangat menakjubkan, seperti bukan manusia ketika mendadak muncul di situ, dengan sikap yang lembut dan anggun sekali. Sukar dapat dipercaya bahwa seorang wanita berusia enam puluh tahun masih seperti itu!

Rambutnya yang bercampur uban itu berwarna keemasan! Kulit mukanya nampak lembut tanpa keriput, matanya mencorong dan bibirnya masih kemerahan namun terhias senyum aneh. Tubuh, wajah dan sikap wanita ini pantasnya terdapat pada sebuah patung, seperti arca Kwan Im Pouwsat saja!

Tanpa dibuat-buat, di dalam hati Hay Hay timbul perasaan hormat terhadap wanita ini, maka dia pun cepat memberi hormat dengan merangkap kedua tangan di depan dada, kemudian berkata dengan suara lantang.

"Mohon maaf sebesarnya dari Siankouw akan kelancangan saya yang telah berani datang dan menghadap Siankouw tanpa diundang. Saya memberanikan diri datang menghadap Siankouw untuk memohon pertolongan, karena saya mendengar bahwa Siankouw adalah seorang manusia berbudi luhur, seorang pertapa yang mencari penerangan dan tentu akan selalu menjulurkan tangan untuk menolong yang membutuhkan bantuan. Atas pertolongan Siankouw yang sakti dan suci, sebelumnya saya Tang Hay menghaturkan banyak terima kasih dan akan selalu berdoa semoga semua budi kebaikan Siankouw akan tercatat oleh para Malaikat dan Thian yang akan berkenan membalas semua amal perbuatan Siankouw yang berbudi sehingga kalau dalam kehidupan yang sekarang saya tidak dapat membalas segala kebaikan Siankouw yang mulia, semoga dalam kehidupan mendatang saya akan dapat menebusnya dan...”

“Sudah, cukup... cukup...!” Kim Mo Siankouw berkata sambil menahan ketawanya ketika mendengar kata-kata yang berderet-deret tanpa ada putusnya itu. "Engkau lelaki perayu, dengan kata-katamu yang indah, suaramu yang merdu, ucapanmu yang manis, sungguh engkau seorang yang palsu dan berbahaya sekali bagi kaum wanita. Engkau harus pergi dari sini!" Sambil berkata demikian, seperti orang yang merasa jengkel, wanita itu lantas menggerakkan tangannya ke arah kepala Hay Hay.

Pemuda ini mendengar angin berdesir dan dia terkejut bukan main. Biar pun nampaknya hanya mengebutkan tangan, akan tetapi sesungguhnya gerakan itu merupakan serangan yang sangat dahsyat dan berbahaya bukan main! Maka, agar jangan kentara bahwa dia mengelak, pada saat itu dia segera menjatuhkan diri berlutut menghadap ke arah wanita berambut keemasan itu sambil mengangguk-angguk memberi hormat.

“Siankouw yang sakti, Siankouw yang budiman, Siankouw yang agung, tolonglah saya, tolonglah sahabat saya...”

Kim Mo Siankouw agak terbelalak dan dia menoleh kepada Mayang. “Mayang, dari mana engkau memperoleh pemuda perayu ini dan apa kehendakmu membawa orang semacam ini kepadaku? Hayo jawab yang sejujurnya!" Ucapannya halus akan tetapi mengandung teguran dan perintah.

Sambil berlutut Mayang lalu menjawab, "Harap Subo sudi memaafkan teecu (murid). Subo (ibu guru) tentu maklum bahwa teecu tidak akan berani berlancang hati untuk membawa seorang tamu pria datang menghadap subo. Akan tetapi telah terjadi peristiwa yang cukup hebat, yang teecu anggap cukup penting bagi Subo untuk mengetahuinya. Pertama-tama, agar Subo ketahui bahwa tadi teecu sudah bentrok dengan tiga orang pendeta Lama yang memimpin para pendeta Lama di puncak Bukit Bangau."

Kim Mo Siankouw terkejut walau pun hal ini hanya nampak pada pandang matanya dan kerutan alisnya. "Hemmm, sudah kukatakan bahwa engkau tidak boleh berurusan dengan mereka. Urusan pemberontakan terhadap Dalai Lama bukanlah urusan kita dan kita tidak perlu mencampuri."

"Maaf, Subo. Bukan maksud teecu untuk mencampuri, tetapi secara kebetulan saja teecu bertemu dengan mereka bertiga itu di kedai makan di dusun Wang-kan dalam perjalanan teecu pulang mengantar ternak ke kota Cauw-ti. Mereka makan di sana bersama seorang pemuda. Ketika mereka melihat teecu, seorang di antara mereka menghampiri teecu dan pura-pura minta derma, akan tetapi teecu merasakan betapa dia menggunakan kekuatan sihir untuk menguasai pikiran teecu. Tadi malam teecu datang ke gubuk di luar dusun di mana mereka menanti dan dengan sihir pendeta Lama itu menarik teecu datang. Karena teecu menganggap mereka itu jahat sekali, sebagai pendeta Lama tidak patut melakukan kekejian seperti itu terhadap teecu, maka teecu datang dan ingin menghajar mereka!"

“Aih, engkau lancang, Mayang. Mereka itu adalah tiga orang pendeta Lama yang memiliki ilmu kepandaian tinggi. Yang mana di antara mereka itu yang menyihirmu?"

"Ketika teecu berada di dalam rumah makan, yang menyihir teecu adalah pendeta yang mukanya kekanak-kanakan, tubuhnya tinggi bongkok...”

“Hemm, siapa lagi jika bukan Pat Hoa Lama si pendeta cabul? Huh, berani dia menghina muridku! Lalu bagaimana? Agaknya tidak mungkin engkau dapat lolos dari tangan mereka bertiga!" Setelah berkata demikian, Kim Mo Siankouw mengerling kepada Hay Hay yang masih menunggu dengan hati tegang. Dia merasa betapa wanita itu memang hebat, dan agaknya sudah mengenal dan mengetahui keadaan para pendeta Lama yang menculik Han Siong.

"Mereka bertiga lantas menghadapi teecu dan mencoba untuk menguasai teecu dengan sihir. Akan tetapi... hemmm, mereka tidak tahu bahwa teecu adalah murid Subo. Segala permainan kanak-kanak itu...”

"Jangan tergesa-gesa menyombongkan diri!" Kim Mo Siankouw memotong dengan suara tegas sehingga mengejutkan Mayang sendiri karena tidak biasanya gurunya menghardik dirinya. Sementara itu, diam-diam Hay Hay tersenyum melihat sikap Mayang.

"Sesudah sihir mereka itu gagal, seorang di antara mereka yang memegang tongkat lalu menyerang teecu. Teecu melawan dengan cambuk. Kami berdua saling serang dan teecu sudah mengambil keputusan untuk menghajar mereka bertiga. Akan tetapi tiba-tiba teecu dikejutkan oleh terbakarnya gubuk itu dan teecu lalu pergi meninggalkan mereka. Teecu bertemu dengan Hay Hay ini, lantas dia menceritakan bahwa pemuda yang bersama tiga orang pendeta Lama itu adalah seorang sahabatnya yang diculik mereka untuk dijadikan pelayan. Karena teecu menduga bahwa kawannya itu dilarikan ke Bukit Bangau, maka Hay Hay minta kepada teecu untuk menghadap Subo dan mohon pertolongan Subo untuk dapat menolong dan membebaskan sahabatnya itu."

Kim Mo Siankouw menahan senyum, memandang kepada muridnya itu dan menggeleng kepalanya. "Mayang, kau kira aku tidak tahu siapa ketiga orang pendeta Lama itu? Yang menyihirmu adalah Pat Hoa Lama, ada pun orang yang menyerangmu dengan tongkat itu bukankah bertubuh tinggi besar, dan tongkatnya itu memakai kelenengan? Lalu orang ke tiga itu tinggi kurus, matanya seperti selalu terpejam?"

“Benar sekali, Subo."

"Mereka itu adalah tokoh-tokoh di Tibet. Yang menyerangmu bernama Gunga Lama dan yang matanya terpejam itu Janghau Lama. Mereka bertiga adalah orang-orang sakti dan menghadapi Gunga Lama seorang saja belum tentu engkau dapat menang. Kalau tidak ada orang yang membakar gubuk itu, kiranya belum tentu engkau akan dapat meloloskan diri dari tangan mereka. Siapa yang membakar gubuk itu?"

Hay Hay cepat mengacungkan telunjuk kanannya ke atas, "Saya, Siankouw! Untung ada saya...”

Pada saat itu pula terdengar suara ribut di luar. Mereka segera memandang keluar dan nampaklah lima orang Lama sedang ribut mulut dengan para pelayan wanita yang bekerja di pekarangan depan. Agaknya para pelayan itu bersikeras melarang mereka memasuki pekarangan, tapi lima orang pendeta Lama itu berkeras pula akan memasuki pekarangan sehingga terjadi ketegangan.

Melihat hal ini, Mayang melompat bangun, juga ibunya sudah melangkah keluar bersama puterinya. Kim Mo Siankouw sendiri dengan sikap tenang bangkit berdiri akan tetapi dia pun melangkah keluar. Hay Hay yang ditinggal seorang diri dalam keadaan masih berlutut itu pun segera bangkit dan keluar.

"Heiii, apa yang telah terjadi di sini!” bentak Mayang yang bersama ibunya telah berada di pintu pagar di mana lima orang pendeta Lama itu bersitegang dengan para pelayan yang melarang mereka memasuki pekarangan.

Lima orang pendeta Lama itu berusia kurang lebih antara empat puluh tahun. Mendengar bentakan ini, mereka mengangkat muka memandang dan ketika melihat Mayang, mereka memandang dengan wajah berseri. Salah seorang di antara mereka yang mulutnya lebar segera melangkah maju.

"Apakah engkau yang bernama nona Mayang?”

"Kalau benar aku, mengapa?" tantang Mayang yang sudah marah melihat mereka karena dia menduga bahwa tentu mereka ini anak buah tiga orang pendeta Lama yang mereka bicarakan tadi.

Lima orang pendeta itu saling pandang dan mereka pun menyeringai kurang ajar. Si mulut besar tertawa. "Ha-ha-ha, pantas saja suhu berpesan agar kita membawanya hidup-hidup dan jangan melukainya. Kiranya memang manis sekali dan sayang kalau sampai terluka," katanya kepada kawan-kawannya, lalu dia menghadapi Mayang kembali. "Nona Mayang, kami diutus oleh para guru kami untuk mengundang Nona ke tempat kami, menghadap tiga orang suhu kami karena ada urusan penting yang hendak dibicarakan denganmu."

"Aku tidak sudi!” Mayang membentak.

"Nona Mayang, kami datang dengan niat baik dan tidak ingin menggunakan kekerasan, akan tetapi kami pun tidak berani pulang kalau tidak bersamamu. Maka marilah engkau ikut dengan kami agar tidak perlu kami menggunakan kekerasan untuk memaksamu."

Mayang melompat lantas membanting kakinya dengan marah. “Kalian ini lima ekor anjing gundul berani mengancam aku? Majulah dan aku akan membikin remuk gundul-gundulmu itu!”

"Mayang, mundur kau!" Mendadak terdengar Kim Mo Siankouw berkata lembut. Mayang terkejut dan dia pun tidak berani membantah, walau pun dia masih ragu-ragu.

"Mayang, lekas taati Siankouw!" kata pula ibunya yang lebih mengerti mengapa Kim Mo Siankouw menyuruh Mayang mundur. Dia bisa menduga bahwa kalau tiga orang pendeta Lama itu mengirim utusan lima orang ini, tentu mereka sudah memperhitungkan bahwa lima orang pendeta utusan ini akan mampu menandingi bahkan mengalahkan Mayang.

Kini Kim Mo Siankouw memandang kepada Hay Hay sambil tersenyum, senyum dingin mengejek. "Orang muda, pin-ni (aku) akan mempertimbangkan permintaanmu tadi kalau engkau dapat mewakili kami menghadapi lima orang pendeta Lama ini."

"Subo, apakah Subo hendak mencelakakan Hay Hay? Dia tidak bisa apa-apa, seorang pemuda yang lemah, bagaimana harus...”

"Mayang, jangan membantah kehendak Siankouw!" kembali ibu gadis itu menegur.

Mayang tidak melanjutkan kata-katanya, hanya memandang terbelalak kepada Hay Hay, merasa kasihan karena bagaimana pemuda lemah itu akan dapat menandingi lima orang pendeta Lama itu? Melawan seorang dari mereka pun tidak akan mampu. Tentu dia akan tewas!

Tiba-tiba dia merasa khawatir dan gelisah sekali. Tidak, pikirnya, pemuda itu tidak boleh mati. konyol. Dia tidak berani lagi membantah subo-nya, akan tetapi secara diam-diam dia akan berjaga-jaga dan akan melindungi Hay Hay!

Sementara itu, diam-diam Hay Hay kagum bukan main kepada guru Mayang. Wanita tua yang masih cantik dan lembut itu sungguh memiliki penglihatan yang sangat tajam. Tentu dia telah tahu bahwa dia mempunyai kepandaian, kalau tidak demikian, tidak mungkin dia menyuruh dia melawan lima orang pendeta Lama ini! Maka dia pun tersenyum, walau pun masih berpura-pura tolol karena melihat sikap Mayang.

"Aihhh, syaratnya berat amat! Akan tetapi, baiklah, Siankouw. Demi menolong sahabatku, saya akan berusaha sekuat tenaga untuk melawan lima ekor anjing gundul ini.

Melihat sikap Hay Hay, Mayang merasa girang dan bangga. Biar pun jelas bahwa pemuda itu bukan lawan lima orang pendeta Lama yang dia duga tentu lihai, akan tetapi pemuda itu sudah memperlihatkan sikap yang gagah! Berani memaki mereka sebagai lima ekor anjing gundul, meniru makiannya tadi.

"Benar, Hay Hay. Hantam kepala lima ekor anjing gundul itu. Jangan takut, kalau mereka hendak menggigitmu, akan kuketok kepala mereka yang gundul itu!" Dia berteriak penuh semangat. Gurunya dan ibunya hanya melirik saja sambil tersenyum karena sungguh pun berteriak tetapi gadis itu tidak turun tangan, mentaati perintah subo-nya tadi.

Hay Hay melirik kepada Mayang dan masih tersenyum, kemudian dengan langkah gontai seperti orang yang tidak bertenaga dia maju menghampiri lima orang pendeta Lama itu.

Lima orang pendeta Lama itu adalah tokoh-tokoh di Tibet, dan merupakan tangan kanan dari tiga pendeta Lama yang bersarang di Bukit Bangau. Mereka sudah marah ketika tadi mendengar penghinaan Mayang, gadis manis yang berani memaki mereka sebagai lima ekor anjing gundul. Kini kembali mereka dimaki, dan yang memaki adalah pemuda yang terlihat lemah ini, bahkan tadi gadis itu telah mencegah pemuda ini maju karena dikatakan bahwa pemuda ini lemah.

Dalam kemarahan itu, lima orang pendeta Lama bermaksud untuk mempermainkan dan menghina Hay Hay. Salah seorang di antara mereka yang tubuhnya kurus kering berkata dengan suaranya yang parau besar, tidak sesuai dengan tubuhnya.

"Saudara-saudara sekalian, monyet cilik ini hendak melawan kita? Ha-ha-ha-ha, mari kita buat dia menari-nari!" Ucapan ini merupakan isyarat kepada teman-temannya agar mereka mempergunakan kekuatan sihir saja untuk mempermainkan dan menghina Hay Hay, yaitu menyihirnya agar dia bersikap seperti seekor monyet!

Mereka berlima kemudian mengerahkan kekuatan sihir mereka, menatap wajah Hay Hay dengan tajam, lalu si kurus tadi membentak lagi, kini kekuatan sihirnya disatukan dengan kekuatan empat orang kawannya.

"Orang muda, engkau adalah seekor monyet yang baru keluar dari dalam hutan! Ingatlah baik-baik, engkau adalah seekor monyet! Monyet! Monyet! Monyet! Hayo monyet, engkau menari-narilah!"

Mayang merasa benar akan gelombang kekuatan sihir itu. Bagi dirinya sendiri yang sudah kebal, gelombang kekuatan itu hanya lewat saja tanpa membekas, akan tetapi ia khawatir sekali melihat Hay Hay karena bagaimana mungkin pemuda yang tidak mengenal sihir itu akan mampu bertahan menghadapi serangan ilmu sihir sekuat itu? Dia melihat Hay Hay tersenyum lebar, lalu memandang seperti orang bingung dan heran.

"Monyet? Aku disuruh menjadi monyet? Ha-ha, baiklah, aku akan menari seperti monyet. Akan tetapi pertunjukan monyet harus dilengkapi dengan segerombolan anjing! Dan kalian yang menjadi lima ekor anjingnya! Anjing gundul, ha-ha! Kalian lima ekor anjing gundul, hayo kalian menggonggong, biar aku jadi monyet menari-nari!”

Kini Mayang terbelalak. Apa yang telah dilihatnya? Lima orang pendeta Lama itu tiba-tiba saja merangkak-rangkak dan menggonggong mirip anjing, menyalak-nyalak dan meringis-ringis!

Tadinya dia mengira bahwa mungkin subo-nya yang telah membantu Hay Hay sehingga dia merasa gembira sekali. Akan tetapi, ketika dia menoleh kepada subo-nya, dia melihat betapa subo-nya juga terbelalak dan terheran-heran, maka dia cepat memandang lagi ke arah Hay Hay dan lima orang pendeta Lama itu.

Lima orang pendeta itu masih merangkak-rangkak, kadang kala berloncatan ke sana-sini sambil menyalak-nyalak, dan Hay Hay meloncat ke atas punggung pendeta kurus kering. Sambil menari dan menggaruk-garuk tubuh seperti seekor monyet, Hay Hay berloncatan dari satu punggung ke lain punggung, persis seekor monyet yang sedang bermain-main dengan lima ekor anjing. Riuh rendah suara lima orang pendeta itu menggonggong dan menyalak-nyalak dengan galak.....


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner