SI KUMBANG MERAH : JILID-36


Namun tidak mungkin subo-nya mendiamkannya saja. Subo-nya pasti akan mencarinya. Juga Hay Hay! Tidak mungkin Hay Hay diam saja. Dia harus pandai mengulur waktu dan karena dia tidak mampu bergerak, satu-satunya cara hanya melalui percakapan.

"Losuhu, engkau adalah seorang pendeta Lama yang hidup suci dan bersih. Tapi kenapa engkau menawanku dan apa yang akan kau lakukan kepada seorang gadis seperti aku?"

Pendeta itu menyeringai. Nampaklah giginya yang tinggal empat buah, besar-besar dan menghitam. "He-he-he, nona manis! Engkau masih bertanya lagi mengapa kau kutawan? Pertama, karena engkau seorang gadis yang amat manis dan aku tergila-gila kepadamu. Ke dua, engkau adalah muridnya Kim Mo Siankouw dan bersama gurumu engkau sudah membikin gagal rencana kami. Apa yang akan kulakukan kepadamu? He-he-heh, sedang kupikirkan. Aku harus membalas dendam. Engkau bersama gurumu telah membasmi dan menghancurkan semua rencana kami. Kini kawan-kawanku sudah tewas. Hemm, dosamu besar sekali!"

"Akan tetapi, kulihat tadi yang membasmi gerombolanmu adalah pendeta-pendeta Lama juga! Apa bila tidak ada mereka yang datang, subo dan kami semua agaknya akan kalah," bantah Mayang untuk membela diri dan mengulur waktu.

"Hemmm…, yang menjadi biang keladi adalah engkau! Engkau harus dihukum berat. Ya, engkau harus menebus semua dosamu, mernbayar semua kerugianku."

Diam-diam Mayang menggigil. Kenapa subo-nya atau Hay Hay belum juga datang?

"Losuhu, kalau engkau menggangguku, menyakiti atau sampai membunuhku, tentu sekali waktu subo akan dapat menemukanmu dan dia tentu akan menyiksamu untuk membalas kematianku! Dan engkau tahu betapa lihainya subo!" Dia menggertak.

"Heh-heh-heh! Kalau dia tahu! Tetapi dia tidak akan tahu. Dia tidak akan berhasil mencari kita. Tempat ini adalah tempat rahasia yang hanya diketahui oleh kami bertiga. Sekarang hanya aku seorang yang tahu. Kita akan berdiam di sini sampai mereka pergi. Di sini ada makanan, ada air, dan aku memiliki teman yang manis! Heh-heh-heh!"

Pat Hoa Lama tertawa dan jari-jari tangan kanannya mengelus dagu Mayang, membuat seluruh bulu di tubuh gadis itu meremang. Wajahnya menjadi pucat sekali dan perasaan takut membuat jantungnya seperti hendak pecah.

"Losuhu, ingatlah bahwa engkau seorang pendeta yang seharusnya melakukan perbuatan baik. Kau ampunilah aku, Losuhu, dan kalau engkau suka membebaskan aku, maka aku berjanji akan membujuk subo agar dia tidak mengganggumu lagi dan suka melepaskan engkau."

"Apa?! Membebaskanmu? Huh, aku belum gila! Engkau berdosa besar! Dengar apa yang akan kulakukan kepadamu! Membunuhmu begitu saja akan terlalu enak bagimu. Aku akan mempermainkan engkau, menjadikan engkau budakku yang menuruti segala perintahku. Sesudah aku bosan maka engkau akan kuberikan kepada gerombolan biadab yang hidup di hutan-hutan Pegunungan Himalaya sebelah utara. Kau tahu apa yang akan dilakukan manusia-manusia setengah binatang itu kepada seorang wanita? Ha-ha-ha, engkau akan dikeroyok oleh banyak laki-laki seperti binatang itu sampai engkau mati! Akan tetapi tidak usah khawatir, hal itu baru akan terjadi setelah aku bosan denganmu, ha-ha-ha!"

Dapatlah dibayangkan betapa takut dan ngeri rasa hati gadis itu. Tanpa terasa lagi kedua matanya basah air mata. "Losuhu... aku mohon kepadamu... kau... kau bunuhlah saja aku sekarang juga! Aku lebih suka mati...!"

"Ha-ha-ha-ha!" Pendeta yang sudah kerasukan setan itu tertawa bergelak, gembira sekali mendengar rintihan korbannya. "Sekarang saja engkau sudah minta mati, apa lagi kalau kelak engkau sudah kuserahkan kepada gerombolan orang biadab itu, ha-ha-ha! Engkau akan memilih seribu kali mati dari pada terjatuh ke tangan mereka. Akan tetapi sebelum itu engkau akan menjadi budakku lebih dahulu, menuruti segala kemauanku dan engkau akan hidup senang, heh-heh-heh!"

Mayang menyadari sepenuhnya bahwa meratap dan memohon tidak akan ada gunanya terhadap manusia berhati binatang itu, maka timbul kembali kekerasan hatinya. Teringat dia akan nasehat gurunya bahwa lebih baik mati sambil mengaum seperti seekor harimau dari pada hidup merengek-rengek dan menjerit-jerit seperti seekor babi.

"Pendeta palsu berhati iblis! Kau sangka aku sudi mentaatimu? Huhh, engkau dapat saja menyiksaku, dapat membunuhku, juga dapat memaksa tubuhku, tetapi hatiku akan selalu membencimu. Dan ingat, aku akan selalu mencari kesempatan untuk membunuhmu atau membunuh diri!"

"He-heh-heh ! Kau kira engkau bisa melakukan itu? Ha-ha-ha, sebentar lagi engkau akan berlutut dan merengek-rengek kepadaku, minta kucinta dan kusayang. Aku tahu, engkau kebal terhadap sihir, akan tetapi aku memiliki bubuk racun ini yang akan membuat dirimu kehilangan ingatan, kehilangan segalanya dan menjadi hamba nafsu. Ha-ha, pasti engkau akan menyenangkan sekali, manis."

"Tidak! Lebih baik aku mati!" Mayang lalu menggerakkan mulut untuk menggigit lidahnya sendiri.

Akan tetapi agaknya Pat Hoa Lama telah menduga mengenai hal ini. Cepat sekali tangan pendeta itu bergerak menotok lehernya dan leher itu pun langsung terkulai, Mayang tidak mampu lagi menggerakkan mulutnya. Kini hanya matanya saja yang menitikkan air mata, menyesal sekali mengapa dalam kemarahannya tadi dia mengatakan keinginannya untuk membunuh diri. Kalau tidak, tentu lidahnya sudah tergigit putus dan dia akan tewas atau menjadi cacat.

"Ha-ha-ha, engkau takkan dapat membunuh diri, manis. Engkau bahkan akan ingin hidup terus, haus akan cintaku, haus akan belaianku. Ha-ha-ha!"

Tangan pendeta itu bergerak dan terdengar kain robek-robek ketika dia merenggut robek dan lepas semua pakaian yang menutupi tubuh Mayang. Gadis itu tidak mampu bergerak, tidak mampu bersuara, hanya air matanya saja yang bergerak turun di atas kedua pipinya yang pucat.

Sesudah mencabik-cabik seluruh pakaian gadis itu, Pat Hoa Lama terkekeh-kekeh sambil memandang tubuh korbannya dengan mata yang liar dan lapar, muka kanak-kanak yang makin mengerikan lagi, tubuhnya yang tinggi bongkok itu nampak semakin bongkok ketika dia mengeluarkan sebuah bungkusan. Jari-jari tangannya lalu membuka bungkusan yang terisi bubuk hitam itu, sedangkan matanya tak pernah melepaskan tubuh Mayang.

Pat Hoa Lama menuangkan bubuk hitam itu ke dalam sebuah mangkok, kemudian sambil tertawa-tawa dia menuangkan arak seperempat mangkok dan mengaduk bubuk obat itu dengan arak.

"Nah, manis. Kau minumlah ini, enak rasanya, rasa arak biasa. Engkau akan mabok dan pulas, setelah terbangun, ha-ha-ha-ha, engkau akan menjadi liar dan binal, sebinal seekor kuda betina, ha-ha-ha!” Dia pun menghampiri pembaringan.

Mayang tidak mampu bergerak mau pun mengeluarkan suara, hanya sepasang matanya saja yang terbelalak ketakutan. Pat Hoa Lama duduk di tepi pembaringan, tangan kirinya memegang dagu Mayang, jemari tangannya memaksa mulut gadis itu terbuka dan tangan kanan yang memegang mangkok sudah siap untuk menuangkan isi mangkok itu ke dalam mulut yang sudah terbuka lebar ini.

"Brakkkkk...!"

Dinding batu itu ambrol ke dalam. Pat Hoa Lama terkejut bukan main sampai mangkok itu terlepas dari tangannya, jatuh ke atas lantai dan pecah sehingga isinya mengalir hitam di atas lantai batu. Sesosok bayangan berkelebat dan Hay Hay sudah berdiri di hadapan Pat Hoa Lama! Begitu melihat Hay Hay, gadis itu menangis tanpa suara, hanya air matanya saja yang membanjir keluar dan tubuhnya terguncang-guncang!

Sekali lirik tahulah Hay Hay akan keadaan Mayang dan dia menjadi marah bukan main. Tadi dia mengalami kesulitan ketika melakukan pengejaran karena yang dikejar lenyap di lereng berbatu-batu itu. Dengan hati-hati dan teliti sekali dia terus mengikuti jejak, melihat batu-batu yang berserakan, hingga akhirnya dia mendengar jerit melengking dari Mayang ketika gadis itu minta tolong dan sebelum dia ditotok gagu.

Dengan penuh ketelitian dia dapat menemukan goa itu dan dia pun merasa curiga melihat bentuk dinding yang rata itu. Akhirnya, dengan mempergunakan sebongkah batu sebesar perut kerbau, dia mengerahkan seluruh tenaganya dan menghantamkan batu besar itu ke dinding sebelah dalam goa itu. Dinding itu pun jebol dan ternyata dia menemukan Pat Hoa Lama di sebelah dalam, sudah siap untuk meminumkan sesuatu kepada Mayang, gadis yang sudah tidak mampu bergerak dan dalam keadaan telanjang bulat itu.

"Keparat jahanam!" Dengan kemarahan meluap yang membuatnya seperti gila, Hay Hay mencabut Hong-cu-kiam dan menyerang pendeta yang masih terkejut dan bingung itu.

Dalam kegugupannya, tanpa sadar pendeta itu menangkis sinar emas pedang pusaka itu dengan lengan kirinya. Segera dia menjerit karena lengan itu langsung terbabat putus, dan sebelum dia sempat menghindarkan diri, pedang itu sudah menembus lehernya. Pat Hoa Lama terjengkang, roboh dan tewas seketika!

Hay Hay cepat-cepat merenggut jubah pendeta itu sebelum tergenang darah, kemudian dia menyelimuti tubuh Mayang dengan jubah yang lebar itu, dan dibebaskannya gadis itu dari totokan gagu dan totokan yang membuat kaki tangannya lumpuh.

"Hay Hay... ahh, Hay Hay... hu-hu-hu-huuuhh !" Mayang bangkit merangkul dan menangis di pundak Hay Hay.

"Tenanglah, Mayang. Bersyukurlah kepada Tuhan bahwa kedatanganku belum terlambat," kata Hay Hay, diam-diam merasa bersyukur sekali, karena dia dapat menduga bahwa jika satu menit saja dia terlambat dan gadis itu sudah minum cairan hitam itu, entah apa yang akan terjadi dengan gadis manis itu.

Mayang menangis mengguguk sampai Hay Hay merasa betapa air mata itu menembus bajunya sehingga membasahi pundak dan dadanya, "Hay Hay..., hu-hu-huuuu...dia... mau meracuni aku... membikin aku kehilangan ingatan… kemudian katanya… kalau dia sudah merasa bosan... dia akan memberikan aku kepada gerombolan manusia biadab setengah binatang... hu-hu-huuuu...!”

Hay Hay mengepal tinju. Jahanam betul pendeta itu, pikirnya. Dia menepuk-nepuk pundak yang kini terselimuti jubah itu dan mengelus rambut yang halus itu. “Sudahlah, Mayang. Engkau sudah selamat, dan dia sudah mati. Jangan menangis lagi, Mayang. Kalau terlalu banyak menangis, nanti matamu membengkak, kemerahan dan mukamu menjadi jelek!"

Mendengar kata-kata ini, dengan agak tergesa-gesa Mayang mengangkat wajahnya dari pundak pemuda itu, menyusut air matanya lalu memandang kepada Hay Hay, di bibirnya sudah membayangkan senyum!

"Bagaimana, Hay Hay, apakah aku menjadi jelek sekali?”

Hay Hay hampir bersorak. Gadis ini luar biasa. Baru saja terbebas dari bahaya maut, tapi sekarang sudah dapat tersenyum bahkan sudah memperhatikan kecantikan wajahnya!

"Wah, sekarang engkau bertambah manis, Mayang. Kedua pipimu menjadi begini merah, seperti buah apel masak "

Sepasang mata yang agak membengkak itu menatap sayu. "Hay Hay, aku... aku sangat berterima kasih kepadamu. Aku... aku hutang budi, hutang kehormatan, bahkan hutang nyawa kepadamu... selama hidupku tak akan kulupakan..."

"Hushhh! Memangnya aku ini tukang kredit, memberi hutang begitu banyak macamnya? Mana kau bisa bayar? Sudahlah, kita bikin lunas saja, engkau tidak hutang apa-apa, aku tidak menghutangkan sesuatu. Bisa enak tidur, bukan?”

“Aku berterima kasih! Aku... aku…”

Tiba-tiba Mayang merangkul leher Hay Hay dan mencium pipi pemuda itu dengan kuat, satu kali di kanan satu kali di kiri, kemudian tubuhnya menjadi lunglai dan menangis lagi, kini mukanya disembunyikan pada dada Hay Hay.

Hay Hay menjadi bengong dan kalau saat itu ada orang lain melihatnya, kedua matanya nampak juling saking kaget dan herannya. Kedua pipinya masih terasa senut-senut bekas ditimpa hidung dan bibir Mayang. Lalu dia tersenyum dan memeluk kepala itu penuh rasa sayang.

"Engkau anak nakal, bikin aku kaget setengah mati," akan tetapi dia membiarkan Mayang menangis lirih di dadanya.

Tiba-tiba nampak bayangan berkelebat dan di sana sudah berdiri Kim Mo Siankouw dan Han Siong! Melihat adegan mesra itu, Hay Hay memeluk seorang gadis bugil yang hanya berselimut jubah pendeta dan yang menangis di dadanya, Han Siong segera berdehem.

Dasar mata keranjang, pikirnya. Kalau sudah menolong gadis itu, kenapa pakai dirangkul-rangkul dan bermesraan? Tidak cepat-cepat membawanya keluar dari goa itu? Tentu saja pertanyaan ini hanya diteriakkan oleh hati Han Siong, sedangkan mulutnya tinggal diam.

Kim Mo Siankouw memandang ke arah mereka, lalu ke arah mayat Pat Hoa Lama yang menggeletak tanpa nyawa dan tanpa jubah, juga ke arah tumpukan robekan dari pakaian muridnya. Tentu saja dia merasa khawatir bukan kepalang, namun juga bersyukur bahwa agaknya pemuda lihai itu telah berhasil menyelamatkan muridnya.

“Mayang…" Dia memanggil muridnya.

Mayang cepat mengangkat mukanya. Melihat subo-nya telah datang, dia lalu melepaskan diri dari Hay Hay dan menjatuhkan diri berlutut di hadapan wanita itu sambil menangis, “Subo...!”

Kim Mo Siankouw merasa heran. Biasanya Mayang adalah seorang gadis yang sangat tabah dan dia belum pernah melihat gadis itu menangis. Akan tetapi sekarang demikian mudahnya gadis itu menangis. Baginya hal ini merupakan suatu tanda bahwa muridnya itu sedang dilanda cinta.

"Sudahlah, Mayang, hentikan tangismu. Bagaimana pun juga engkau sudah terhindar dari mala petaka, bukan?"

Mayang mengangguk cepat. "Teecu selamat berkat pertolongan Hay Hay, Subo."

Kim Mo Siankouw memandang pemuda itu yang sedang berbisik-bisik dengan Han Siong.

“Hay Hay, kurang ajar sekali engkau! Engkau terlambat sehingga aku hampir saja celaka. Dan sekarang kembali engkau mempergunakan kesempatan dalam kesempitan terhadap nona itu," bisik Han Siong yang menegurnya.

Hay Hay tersenyum. "Tenanglah, Sin-tong (Anak Ajaib). Seorang pendeta dilarang keras untuk merasa iri dan mendongkol."

Han Siong terbelalak. "Pendeta...? Apa maksudmu?"

"Lihat jubahmu. Engkau seorang pendeta berkedudukan tinggi, bukan?"

Han Siong baru teringat bahwa dia masih mengenakan jubah seorang pendeta Lama! Dia cemberut oleh godaan itu, akan tetapi segera tersenyum, karena bagaimana pun juga dia berterima kasih atas semua bantuan Hay Hay. Kini semua rahasia sudah terungkap dan dia tidak akan dikejar-kejar lagi oleh para pendeta Lama! Ketika itulah Kim Mo Siankouw menghampiri Hay Hay.

"Orang muda, engkau telah menyelamatkan Mayang, namun sekaligus membuat muridku itu selamanya akan bergantung kepadamu. Pin-ni (aku) harap engkau tidak akan kepalang menolongnya dan tidak akan mengecewakan harapan kami." Sesudah berkata demikian, Kim Mo Siankouw mengajak muridnya keluar dari dalam goa.

Hay Hay memandang kepada Han Siong dan berbisik, "Apakah gerangan yang tadi dia maksudkan?"

Han Siong tersenyum gembira. Kini dia mendapatkan giliran untuk menggoda sahabatnya yang mata keranjang itu. "Hemm, apakah engkau masih belum tahu atau pura-pura tidak tahu? Engkau telah menyelamatkan gadis manis itu dari mala petaka, dan melihat kalian tadi bermesraan seperti itu, hemmm...ke mana lagi larinya urusan ini kalau tidak berakhir dengan pernikahan?"

Hay Hay menganggap ucapan itu hanya kelakar, maka dia pun tertawa saja. Akan tetapi dia lalu teringat akan sikap dan kata-kata Mayang tadi. Mayang mengatakan bahwa dia berhutang budi, kehormatan dan nyawa, dan bahwa gadis itu selama hidupnya tidak akan melupakannya, kemudian gadis itu telah menciumi kedua pipinya! Sekarang guru gadis itu berkata demikian, dan mengharapkan agar dia tidak mengecewakan mereka.

"Wah,wah, wah...!” tiba-tiba wajahnya berubah merah sekali karena dia teringat pula akan keadaan tubuh gadis itu yang bugil pada waktu dia menolongnya. Jantungnya berdebar kencang ketika pemandangan itu terbayang kembali. "Wah... pernikahan... ya ampun...!”

Dia memegangi kedua pipinya, matanya nanar menatap wajah Han Siong yang sedang mentertawakannya…..

********************

Dengan dikawal oleh tujuh pendeta Lama, wakil Dalai Lama menerima undangan Kim Mo Siankouw dan datang berkunjung ke rumah wanita sakti itu di puncak Awan Kelabu. Juga Hay Hay dan Han Siong terpaksa tidak dapat menolak undangan Kim Mo Siankouw, apa lagi karena mereka pun ingin bicara dengan wakil Dalai Lama.

Mereka dijamu dengan masakan-masakan yang tidak mengandung daging binatang, dan dalam kesempatan ini Han Siong menceritakan penderitaannya sejak terlahir sehubungan dengan pengejaran para pendeta Lama terhadap dirinya.

"Jangan khawatir, Pek-taihiap," kata wakil Dalai Lama. "Mulai saat ini juga tidak akan ada pengejaran lagi. Sesungguhnya, sudah sejak lama kami tidak mencarimu, semenjak kami yakin bahwa Taihiap tidak suka menjadi seorang pendeta. Sungguh kami tak menyangka bahwa Taihiap hendak dimanfaatkan oleh para pemberontak. Mereka ingin mengangkat Taihiap untuk menjadi Dalai Lama tandingan, lantas mempengaruhi para pendeta di Tibet untuk mengakui Taihiap sebagai Dalai Lama sejati yang baru. Hal itu amat berbahaya dan mungkin saja usaha mereka itu akan berhasil karena Taihiap memang mempunyai ciri-ciri untuk menjadi Dalai Lama. Akan tetapi sekarang, calon Dalai Lama yang baru sudah ada dan kami sudah membebaskan Taihiap."

Tentu saja Han Siong merasa girang sekali. Seperti diangkat sebongkah batu besar yang selama ini menekan perasaannya dan yang membuatnya selalu merasa tidak aman.

Karena hari telah menjelang senja dan perjalanan ke Lasha masih jauh dan tidak mungkin dilakukan pada waktu gelap, maka wakil Dalai Lama menerima dengan senang hati ketika Kim Mo Siankouw mengundangnya untuk melewatkan malam di rumahnya yang besar itu. Juga dua orang pemuda yang sudah diterima sebagai tamu terhormat bahkan sahabat itu mendapatkan dua buah kamar.

Malam itu pintu kamar Han Siong diketuk orang. Dia membuka daun pintu dan seorang pelayan wanita nampak berdiri sambil memberi hormat. "Maaf kalau saya mengganggu, Pek-taihiap. Saya diutus oleh Siankouw untuk mengundang Taihiap ke ruangan belakang karena Siankouw ingin membicarakan hal yang penting dengan Taihiap."

Tentu saja Han Siong merasa heran. Akan tetapi dia tidak membantah, segera mengikuti pelayan itu menuju ke ruangan belakang. Di ruangan itu telah menanti Kim Mo Siankouw dan seorang wanita setengah tua yang dikenalnya sebagai ibu Mayang.

"Duduklah, Pek-taihiap dan terima kasih bahwa Taihiap suka memenuhi permintaan kami untuk datang ke sini," kata Kim Mo Siankouw.

"Terima kasih," kata Han Siong sesudah memberi hormat, kemudian duduk di atas kursi berhadapan dengan dua orang wanita itu. "Ada keperluan apakah yang hendak Siankouw bicarakan dengan saya?”

Kim Mo Siankouw tersenyum dan Han Siong merasa kagum. Wanita yang usianya sudah enam puluh tahun ini masih anggun dan kelihatan jauh lebih muda dari usia sebenarnya kalau sedang tersenyum.

"Harap jangan merasa kaget jika malam-malam begini kami mengundangmu, Pek-taihiap. Sebetulnya kami hanya mengganggu saja, karena kami hanya membutuhkan keterangan darimu mengenai sahabatmu itu, yaitu Hay Hay." Karena Mayang selalu menyebut nama Hay Hay begitu saja, maka nama itu menjadi dikenal sekali dan baik ibunya mau pun Kim Mo Siankouw juga menyebutnya Hay Hay.

Han Siong melebarkan matanya dan memandang heran. "Keterangan tentang Hay Hay? Mengapa? Apa yang Siankouw maksudkan? Apakah dia masih diragukan setelah jasanya yang besar? Saya berani menanggungnya bahwa dia seorang yang baik dan..."

“Bukan begitu maksud kami, Taihiap. Sebaiknya kami berterus terang saja. Sebenarnya, kami, yaitu pin-ni dan juga ibu Mayang telah mengambil keputusan hendak menjodohkan Mayang dengan Hay Hay. Oleh karena Taihiap adalah sahabat baiknya, maka kami ingin mengetahui segalanya tentang dia."

Wajah Han Siong berseri dan senyumnya melebar. Hatinya lega, dan dia bahkan merasa girang sekali. Bagus, pikirnya. Sekarang tiba saatnya kuda jantan yang binal itu dipasangi kendali! Kalau sudah beristeri, tentu tidak akan berani bersikap mata keranjang lagi!

Dan dia melihat bahwa Mayang juga seorang gadis yang hebat, sudah sepantasnya jika menjadi isteri Hay Hay. Dia cukup manis, cukup pandai dan cukup galak. Amat diperlukan seorang isteri yang galak untuk bisa mengendalikan watak Hay Hay yang mata keranjang itu. Dan aku akan membantu agar perjodohan ini tidak gagal, pikirnya mantap.

"Begitukah, Siankouw? Saya merasa ikut bergembira dengan niat baik itu. Nah, apa yang perlu ji-wi (anda berdua) ketahui?"

Kim Mo Siankouw menoleh kepada ibu Mayang dan berkata, "Nah, sekarang katakanlah apa yang ingin kau ketahui."

Dengan sikap malu-malu wanita itu memandang Han Siong. Seorang wanita yang cantik seperti puterinya, pikir Han Siong. Namun sinar matanya sayu mengandung kedukaan sehingga dia merasa kasihan. Agaknya wanita ini pernah menderita batin, pikirnya.

"Apakah yang ingin Bibi ketahui dari saya? Harap katakan saja dan saya akan memberi keterangan segala yang saya ketahui," kata Han Siong sesudah melihat sikap wanita itu yang seperti sungkan-sungkan.

"Hay Hay itu... dia... dia she (marga) Tang dan bernama Hay?" sambil berkata demikian, wanita itu menatap tajam wajah Han Siong.

Han Siong termenung sejenak. Kalau sampai diketahui Kim Mo Siankouw bahwa Hay Hay adalah putera Ang-hong-cu penjahat besar yang cabul, maka jelas bahwa tali perjodohan itu akan gagal. Dan orang sakti seperti Kim Mo Siankouw tentu pernah mendengar akan nama Ang-hong-cu itu.

"Ah, biasanya kami semua sahabatnya hanya mengenalnya sebagai Hay Hay begitu saja. Dulu dia pernah mengaku bahwa dia she Siangkoan. Akan tetapi kemudian dia mengaku bahwa she-nya adalah Tang. Agaknya dia sendiri tak begitu menghiraukan tentang nama keturunannya."

"Siapakah nama ayahnya yang she Tang itu?" Ibu Mayang mendesak.

"Saya tidak tahu, Bibi." Han Siong mengerutkan alisnya. "Bahkan Hay Hay sendiri juga tidak mengetahuinya. Pernah dia bercerita kepada saya bahwa ketika dia masih kecil, dia diaku anak oleh suami isteri keluarga Siangkoan. Kemudian dia mendengar bahwa ibunya sudah tewas di laut dan bahwa ayahnya juga tidak ada, mungkin sudah tewas pula. Dia seorang sebatang kara, tak pernah melihat ayahnya mau pun ibunya. Kasihan sekali dia, mungkin karena kesengsaraan yang dideritanya sejak kecil itulah maka dia menutupinya dengan sifatnya yang gembira dan jenaka. Akan tetapi dia seorang yang sangat baik hati, seorang pendekar sejati, hal ini saya berani tanggung!”

Ibu Mayang mengangguk-angguk dan nampaknya puas dengan jawaban itu. Kini Kim Mo Siankouw yang bertanya.

"Engkau tahu benar bahwa dia belum mempunyai isteri atau tunangan, Pek Taihiap?'

Han Siong menggelengkan kepalanya. "Belum, Siankouw. Hal ini saya tahu benar karena kalau dia sudah bertunangan atau menikah, tentu memberi tahu kepadaku dan tentu aku mengetahuinya. Dia masih sendiri, sebatang kara, tidak ada keluarga sama sekali! Hanya punya sahabat baik, di antaranya saya. Para pendekar mengenal siapa Hay Hay, karena dia pernah berjasa besar ketika bersama para pendekar lain membantu pemerintah dalam membasmi pemberontakan yang dipimpin oleh mendiang Lam-hai Giam-lo." Sengaja Han Siong memuji-muji temannya supaya perjodohan benar-benar dijadikan. Dia ingin melihat sahabatnya itu terikat dan tidak binal lagi.

Kini Kim Mo Siankouw bersikap serius. "Pek Taihiap, agaknya engkau akrab dan kagum kepada Hay Hay. Dia tentu seorang sahabatmu yang baik sekali."

"Bukan hanya sahabat, Siankouw, bahkan lebih dari itu. Dulu ketika masih bayi, Hay Hay pernah dipungut anak oleh orang tuaku, maka dia itu dapat dikatakan saudara angkatku pula."

"Bagus sekali. Tidak mengherankan mengapa kalian demikian akrab! Pek Taihiap, kalau engkau menyayang Hay Hay, maka kami pun menyayang muridku Mayang. Dan engkau sendiri sudah menyaksikan betapa terdapat kemesraan antara Hay Hay dengan Mayang. Maka kami ingin minta bantuanmu, Taihiap, untuk menjadi perantara dan menyampaikan kepada Hay Hay mengenai niat hati kami yang murni, yaitu menjodohkan Mayang dengan Hay Hay. Maukah engkau membantu kami, Taihiap?"

"Tentu saja, dengan segala senang hati, Siankouw! Bahkan saya setuju sekali bila mana ikatan perjodohan itu diadakan, dan Hay Hay sudah sepatutnya menyambut gembira! Aku tahu bahwa dia menyayangi nona Mayang. Dan kali ini dia harus mau, bahkan kalau perlu saya akan membujuk atau memaksanya!"

Ibu Mayang bangkit lalu memberi hormat kepada pemuda itu. Melihat ini, Han Siong cepat membalas sambil berkata, "Bibi, harap jangan sungkan dan tidak perlu memakai banyak penghormatan...”

"Pek Taihiap, sebagai ibu Mayang sebelumnya saya menghaturkan banyak terima kasih atas kebaikanmu yang suka menjadi perantara perjodohan anakku Mayang dengan Hay Hay. Tentu saja bukan maksud kami untuk memaksa Hay Hay, Taihiap. Akan tetapi perlu Taihiap ketahui bahwa Mayang... anakku yang keras hati itu, dengan tegas mengatakan kepadaku bahwa kalau dia tidak menikah dengan Hay Hay, dia... dia akan bunuh diri...”

"Ahhh...!" Han Siong terkejut bukan main mendengar ini. Mayang, gadis yang lincah dan galak itu hendak membunuh diri?

"Kenapa sampai begitu, Bibi?"

Wanita itu menghela napas panjang. "Mayang memang berwatak keras. Dia mengatakan bahwa Hay Hay merupakan satu-satunya pria yang masih hidup, yang melihat keadaan dirinya bertelanjang bulat. Kalau Hay Hay menjadi suaminya, maka hal itu tidak mengapa. Akan tetapi bila tidak menjadi suaminya, maka peristiwa itu dianggapnya sebagai aib yang sangat memalukan dan satu-satunya jalan untuk mencuci aib itu adalah membunuh Hay Hay. Karena hal itu jelas tidak mungkin, maka dia akan membunuh diri kalau ikatan jodoh itu sampai gagal."

"Hemm, bukan itu saja,” tiba-tiba Kim Mo Siankouw berkata, "kalau dia menolak, berarti dia telah menghina muridku dan menghinaku, karena dia telah mempermainkan kami. Hal ini tentu tidak mungkin kubiarkan saja. Kalau Mayang tidak berani membunuhnya, masih ada aku yang akan turun tangan membunuhnya!"

Han Siong terkejut. Ini semua gara-gara mata keranjangmu, Hay Hay, pikirnya.

"Harap Siankouw dan Bibi jangan khawatir. Saya akan membujuk agar dia tidak menolak."

Dua orang wanita itu kembali mengangkat kedua tangan memberi hormat, dan Kim Mo Siankouw berkata lembut. "Kami percaya akan ketulusan serta kebaikan hati Pek Taihiap dan sebelumnya kami mengucapkan banyak terima kasih!"

Han Siong cepat membalas penghormatan mereka, lalu minta diri meninggalkan ruangan itu. Dia tidak kembali ke dalam kamarnya, melainkan langsung saja menghampiri kamar Hay Hay dan mengetuk daun pintunya.

"Tok-tok-tok!"

Hay Hay sudah hampir tertidur pulas ketika mendengar ketukan pada pintu kamarnya itu. Suara ketukan itu seketika mengusir semua kantuknya dan dalam satu dua detik saja dia telah terjaga dalam keadaan siap siaga menghadapi ancaman dari mana pun datangnya.

"Tok-tok-tok!" ketukan itu terulang.

"Siapa di luar?" Hay Hay bertanya.

"Aku Han Siong. Bukalah pintunya, Hay Hay, aku mau bicara. Penting sekali!"

Hay Hay menarik napas lega, akan tetapi juga dia merasa mendongkol karena terganggu tidurnya. "Malam-malam begini mengganggu orang," omelnya, akan tetapi dia tetap turun dari pembaringan dan membuka daun pintu kamarnya.

Dengan wajah serius Han Siong melangkah masuk dan melihat sikap sahabatnya itu, Hay Hay lalu menutupkan kembali daun pintu kamarnya. Ketika dia membalik, dia melihat Han Siong sudah duduk di atas kursi dekat pembaringannya. Dia pun tersenyum dan duduk di atas pembaringan.

"Han Siong, ada urusan apa sehingga malam-malam begini engkau mengganggu orang yang sedang tidur?" tegurnya.

Teringat olehnya betapa sebelum tidur tadi dia masih memikirkan Han Siong dengan hati penuh iba. Dalam pengaruh sihir jahat sahabatnya itu telah menggauli Ci Goat dan setelah menyadari hal itu, Han Siong merasa menyesal bukan main. Dia merasa berdosa kepada gadis itu.

Orang semacam Han Siong tentu akan mempertanggung jawabkan perbuatannya sendiri, walau pun perbuatan itu didorong akibat pengaruh sihir jahat. Dan dia belum tahu bahwa gadis manis yang sudah menyerahkan diri kepadanya dengan suka rela karena memang mencintainya itu kini telah meninggal dunia dalam keadaan yang amat mengerikan!

Kini Han Siong tersenyum dan bangkit dari duduknya, lalu mengangkat tangan memberi hormat kepadanya. "Sebelumnya biarlah lebih dulu aku memberi selamat kepadamu, Hay Hay!"

Hay Hay terbelalak. "Ehh, ehh, apakah engkau bermimpi? Mengapa malam-malam begini mendadak memberi selamat kepadaku?” Dia juga turun dari pembaringan dan memegang lengan kawannya agar tidak memberi hormat kepadanya. "Jangan main-main, Han Siong. Katakan apa artinya semua ini."

"Hay Hay, bergembiralah. Aku datang membawa berita yang bagus sekali. Engkau akan menjadi pengantin! Aku ikut merasa gembira, Hay Hay. Engkau sungguh beruntung sekali dan memang sudah sepatutnya engkau berbahagia "

"Ehh, nanti dulu! Menjadi pengantin? Bagaimana ini? Siapa dan mengapa?"

"Duduklah dan dengarkan keteranganku," kata Han Siong. Mereka lalu duduk di atas dua buah kursi yang berhadapan, terhalang meja kecil di dekat pembaringan. "Tadi baru saja aku dipanggil Kim Mo Siankouw dan ibu Mayang. Mereka mengajukan pertanyaan tentang pribadimu, kemudian mereka minta aku menjadi perantara agar menyampaikan kepadamu bahwa mereka ingin menjodohkan nona Mayang denganmu."

Hay Hay terkejut sekali, cepat dia bangkit seperti ada kalajengking menyengat pinggulnya kemudian memandang kepada sahabatnya itu dengan mata terbelalak. "Ahhh... ehhh... bagaimana...? Tidak bisa ini...”

Han Siong juga bangkit, menarik lengan Hay Hay dan diajaknya duduk kembali. "Engkau tenanglah, jangan ah-eh-oh begitu!"

Dia mulai menikmati keadaan itu. Sudah terlalu sering Hay Hay menggodanya dan kini dia mendapatkan kesempatan untuk membalas! Betapa manisnya pembalasan dendam!

"Hay Hay, tak perlu engkau meragu lagi. Mereka telah bertekad bulat untuk menjodohkan nona Mayang denganmu dan engkau sungguh beruntung sekali. Nona Mayang demikian cantik jelita dan baik, dan aku melihat bahwa engkau memang pantas menjadi suaminya. Engkau harus menyetujui keinginan mereka, Hay Hay. Sukar untuk mendapatkan seorang calon isteri sehebat nona Mayang dan..."

"...dan aku menjadi suami orang, lalu menjadi ayah dari anak-anak kecil dan terikat di sini, seperti seekor kera yang diikat pinggangnya, seperti seekor burung yang terkurung dalam sarang, kehilangan kebebasanku? Ahh, tidak, Han Siong, aku tidak mau...!"

"Apa? Berani engkau menolak nona Mayang? Hay Hay, jangan gila kau! Dia begitu cantik jelita, dia begitu pandai dan dia mencintaimu dan engkau...”

"Hushh, Han Siong. Engkau ini kenapa sih? Engkau seperti hendak mendorong-dorongku, engkau seperti hendak memaksaku menikah dengan Mayang. Engkau kenapa? Apakah masih ada sisa-sisa pengaruh sihir pada tubuhmu? Ahhh, benar juga! Dari pada engkau mendesakku, mengapa tidak engkau sendiri saja yang menikah dengan Mayang? Benar! Engkau akan merupakan suami yang baik, dan kalian serasi sekali, cocok kalau menjadi suami isteri. Biarlah aku yang akan mengusulkan kepada mereka agar engkau saja yang menikah dengan Mayang!"

"Hay Hay, hentikan kelakarmu itu. Aku tidak akan menikah dengan nona Mayang atau dengan wanita mana pun juga, karena aku..." Dia berhenti dan wajahnya tiba-tiba nampak berduka.

"Engkau kenapa, Han Siong?" Hay Hay tidak menggodanya lagi sesudah melihat betapa wajah sahabatnya itu nampak bersedih.

Han Siong menghela napas panjang. "Hay Hay, hanya engkau yang tahu apa yang telah terjadi antara aku dan nona Ouw Ci Goat. Sesudah apa yang terjadi dengan kami, walau pun hal itu terjadi karena aku dikuasai sihir, namun aku harus bertanggung jawab! Dialah satu-satunya wanita yang harus menjadi isteriku, karena dia telah... ternoda olehku..."

"Han Siong...! tiba Hay Hay memegang kedua tangan sahabatnya itu dan hatinya merasa terharu sekali. Juga kagum bukan main. Pemuda ini memang pantas menjadi sahabatnya, dan pantas pula menjadi seorang pendekar budiman. Penuh tanggung jawab atas semua perbuatannya!

"Han Siong, tenangkan hatimu, kawan! Terpaksa aku akan memberi tahu kepadamu akan hal yang amat menyedihkan, yang telah menimpa diri Ci Goat..."

Han Siong terkejut. "Apa? Apa maksudmu?"

"Dia... Ouw Ci Goat... dia telah tewas, Han Siong."

Han Siong terkejut, wajahnya pucat dan matanya terbelalak. "Apa? Bagaimana? Hay Hay, ceritakanlah apa yang telah terjadi!"

Hay Hay menghela napas, penuh rasa iba karena teringat akan keadaan gadis manis itu. "Ketika aku membayangimu, begitu sampai di kuil tua di mana tiga orang pendeta Lama itu berada, aku lantas masuk melalui pintu belakang. Dan di bagian belakang kuil itu aku menemukan tubuh nona Ouw Ci Goat yang sudah menjadi mayat, tentu karena terbunuh oleh mereka..."

Han Siong melompat dan mengepal tinju. "Keparat jahanam para pendeta Lama itu...!”

"Sudahlah, Han Siong. Mereka bertiga juga sudah mati. Agaknya sudah kehendak Tuhan bahwa sampai sekian saja riwayat nona Ouw Ci Goat. Aku telah mengubur jenazahnya di dekat kuil itu, baru aku melakukan pengejaran ketika engkau dibawa oleh tiga orang Lama itu. Nah, sekarang engkau sudah tahu dan tidak perlu menyedihi yang sudah mati." Hay Hay menghibur dan sengaja dia bersikap gembira lagi. “Dan itu berarti bahwa engkau kini telah bebas, Han Siong, engkau dapat menikah dengan nona Mayang!"

Dengan sikap masih penuh kedukaan Han Siong berkata lirih, "Hay Hay, betapa pun juga nona Ouw Ci Goat tewas karena aku! Bagaimana aku tidak akan berduka dan menyesal? Aku adalah orang yang bertanggung jawab, Hay Hay. Andai kata nona Ouw Ci Goat tidak tewas, dengan sungguh hati aku akan menikahinya! Kuharap engkau pun memiliki cukup kegagahan untuk bertanggung jawab atas perbuatanmu terhadap nona Mayang. Karena kalau tidak, tentu aku akan membencimu dan tidak akan memandangmu sebagai sahabat lagi, Hay Hay. Mungkin engkau akan kupandang sebagai seorang laki-laki pengecut dan sebagai musuhku!"

Hay Hay memandang sahabatnya itu dengan mata terbelalak dan lenyaplah semua sikap main-main dari wajahnya. "Han Siong, apa maksudmu? Engkau mengatakan aku harus bertanggung jawab terhadap Mayang? Apa artinya ini? Kalau kau kira aku telah... telah… engkau keliru sekali!"

Han Siong yang masih tenggelam dalam kegetiran dan kedukaan itu memandang wajah sahabatnya, dan suaranya terdengar bersungguh-sungguh. "Aku percaya bahwa engkau belum bertindak sejauh itu, Hay Hay. Akan tetapi engkau sudah melihat gadis itu dalam keadaan telanjang bulat!"

"Heii! Apa salahnya dengan itu, Han Siong? Memangnya aku yang menelanjanginya? Aku hanya menyelamatkannya dari tangan Pat Hoa Lama yang hampir saja memperkosanya!"

"Benar, akan tetapi bagaimana pun juga, engkaulah satu-satunya pria hidup yang pernah melihatnya dalam keadaan seperti itu. Dan engkau pun sudah bermesraan dengan nona Mayang, saling peluk dan saling cium! Apakah engkau hendak menyangkal bahwa nona Mayang amat mencintaimu?"

Hay Hay sekali ini memandang bodoh dan menggelengkan kepala. "Aku tidak tahu akan isi hatinya, Han Siong."

"Dan engkau berani menyangkal bahwa engkau mencintanya?"

"Itu... itu aku pun tidak tahu benar. Aku suka, kagum dan sayang kepadanya, akan tetapi cinta? Ahh, aku tidak pernah merasa jatuh cinta..."

"Mata keranjang! Perayu wanita! Engkau telah mendekapnya dan menciuminya, sekarang engkau bilang tidak tahu apakah mencintanya? Hay Hay, apakah engkau hendak menjadi seorang jai-hwa-cat (penjahat pemetik bunga atau penjahat pemerkosa wanita)?”

Wajah Hay Hay berubah merah sekali karena saat Han Siong mengeluarkan kata-kata itu, dia pun teringat akan ayah kandungnya! Ucapan itu seperti mengingatkannya bahwa dia adalah putera kandung Ang-hong-cu (Si Kumbang Merah), seorang jai-hwa-cat yang amat keji dan jahat.....!


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut

        15 Posting Terakhir

DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner