SI KUMBANG MERAH : JILID-38


Memang tidak ada pilihan lain bagi Hay Hay kecuali menerima usul baru agar pernikahan dilangsungkan dulu sebelum dia pergi meninngalkan puncak Awan Kelabu tempat tinggal Kim Mo Siankouw itu.

Pernikahan yang sangat mendadak ini dirayakan dengan sederhana. Bahkan tak sempat lagi mengundang tamu jauh, juga Wakil Dalai Lama tidak mungkin dapat diundang. Yang diundang hanya penduduk dusun di sekitar Pegunungan Ning-jing-san saja dan perayaan dilaksanakan secara sederhana namun cukup meriah.

Yang menemani Hay Hay hanyalah Han Siong seorang. Pemuda ini menjadi semacam hiburan bagi Hay Hay, yang menganggap sahabat ini seperti saudara sendiri. Dan Han Siong juga menemani Hay Hay dengan kesungguhan hati karena di dalam hati Han Siong memang amat kagum dan sayang kepada Hay Hay.

Para tamu yang terdiri dari penduduk dusun di pegunungan itu tentu saja bergembira ria dijamu masakan yang lezat dan arak wangi sehingga belum sampai tengah malam, para tamu sudah banyak yang mabok lantas mereka pun berpamit meninggalkan tempat pesta setelah memberi selamat kepada sepasang mempelai dan kepada Kim Mo Siankouw dan ibu Mayang. Han Siong juga mewakili pengantin pria untuk membalas pemberian selamat itu. Akhirnya semua tamu sudah meninggalkan tempat pesta dan sepasang pengantin lalu diarak memasuki kamar pengantin.

Dalam kesempatan terakhir ini, Han Siong sekali lagi memberi selamat kepada Hay Hay dan Mayang. "Kionghi, kionghi (selamat, selamat) sekali lagi," katanya gembira. "Semoga Tuhan memberkahi kalian de ngan kebahagiaan abadi!"

Mayang hanya menunduk tersipu malu, akan tetapi Hay Hay memandang sahabatnya itu dengan sinar mata haru. "Han Siong, engkau adalah sahabatku yang paling baik. Terima kasih untuk segalanya!"

Sepasang pengantin itu didorong memasuki kamar yang segera ditutup, kemudian semua orang meninggalkan kamar itu. Para pelayan lalu sibuk membersihkan bekas pesta. Kim Mo Siankouw dan ibu Mayang yang merasa lelah sekali setelah tadi menerima tamu juga segera beristirahat di kamar masing-masing, sekalian hendak menyembunyikan keharuan mereka karena begitu memasuki kamar masing-masing, kedua orang wanita ini langsung menangis terharu mengingat betapa gadis yang mereka kasihi itu sekarang telah menjadi isteri orang dan memulai suatu kehidupan baru. Rasa haru dan bahagla membuat mereka dlam-diam mencucurkan air mata!

Sepasang mempelai itu telah berganti pakaian. Sambil bersembunyi di balik tirai, Mayang melepaskan pakaian pengantin lalu mengenakan pakaian tidur yang tipis, sedangkan Hay Hay juga telah mengenakan pakaian biasa. Sekarang mereka duduk bersanding di pinggir pembaringan.

Mayang menunduk, tersipu malu. Gadis yang biasanya lincah jenaka dan sangat tabah itu kini tidak berani berkutik, tidak berani bersuara, bahkan juga tak berani mengangkat muka memandang wajah suaminya. Hay Hay juga duduk dengan muka kemerahan karena tadi dia agak terlalu banyak minum arak ketika menerima penghormatan dan ucapan selamat, akan tetapi dia pun tersipu, kehilangan akal, salah tingkah dan jantungnya berdebar penuh ketegangan.

Terbayanglah semua pengalamannya dengan para wanita pada masa lalu. Baru satu kali hubungannya dengan wanita benar-benar hampir melanggar batas, yaitu dengan Kok Hui Lan, janda muda yang tubuhnya semerbak harum seperti bunga itu! Juga pada waktu dia hampir ‘diperkosa’ wanita cabul Ji Sun Bi. Selain dua kali pengalaman itu, belum pernah dia berhubungan dengan wanita sampai ke hubungan badan, kecuali hanya bermesraan luar saja.

Kini dia berdebar penuh ketegangan dan kebingungan ketika menghadapi seorang gadis yang mulai saat itu sudah menjadi isterinya, yang akan menyerah sebulatnya kepadanya dan dapat dia gauli tanpa ada orang yang melarang, tanpa ada pelanggaran susila atau hukum apa pun. Dia sama sekali tidak berpengalaman dalam hal itu!

Karena sulit membuka mulut, hanya duduk bersanding di tepi pembaringan, Hay Hay lalu berdehem dua kali dan mengeluarkan suara tawa kecil untuk menarik perhatian ‘isterinya’. Dan usahanya berhasil.

Mendengar suaminya berdehem lalu mengeluarkan suara ketawa kecil, Mayang khawatir kalau ada sesuatu pada dirinya yang tidak beres sehingga memancing tawa suaminya. Ia cepat memandangi pakaiannya kalau-kalau ada yang tidak beres, kemudian karena tidak menemukan sesuatu yang salah, dia pun mengangkat mukanya memandang.

Dua pasang mata bertemu, bertaut dan akhirnya Mayang menundukkan kembali mukanya yang menjadi kemerahan, akan tetapi bibirnya menahan senyum. Manisnya!

"Mayang....” suara Hay Hay terdengar gemetar dan hal ini terasa benar olehnya sehingga dia pun tidak berani melanjutkan!

Mayang kembali menoleh dan kembali dua pasang mata bertemu pandang dan bertaut.

"Hay Hay..." Mayang berbisik, lalu cepat dibetulkannya. "Hay-koko (kanda Hay)!" Ia cepat menunduk lalu dan mukanya semakin merah.

Begitu merdu dan manisnya sebutan Hay-koko itu sehingga perasaan bahagia menyelinap di dalam kalbu Hay Hay. Tanpa disadari, tangan kirinya bergerak dan memegang pundak itu dengan sentuhan lembut.

"Mayang, engkau.... engkau... sungguh cantik jelita dan manis bukan main....”

Mayang kembali menoleh tetapi kini dia tersenyum. "Engkau perayu!" katanya manja dan entah siapa yang mulai lebih dahulu, tahu-tahu keduanya saling rangkul dan saling dekap. Ketika Hay Hay menciumnya, Mayang lantas menyambut dengan rintihan lirih. Mereka kini rebah dengan saling rangkul.

Tiba-tiba Mayang bangkit duduk dan matanya yang sipit itu dibuka lebar memandang ke arah leher Hay Hay dan tanpa terasa dia mengeluarkan seruan lirih namun mengejutkan.

"Ihhhh...!"

Hay Hay juga bangkit duduk. "Ada apakah, Mayang...?"

Tangan kanan Mayang bergerak menangkap benda yang tergantung pada leher Hay Hay, yaitu mainan berbentuk kumbang merah yang tadi sempat berjuntai keluar dari balik baju Hay Hay.

"Ang... hong... cu...!" Mayang berbisik dan tangan kirinya juga mengeluarkan benda yang sama dari balik bajunya!

Kini giliran Hay Hay yang tersentak kaget. Sekali tangannya bergerak dia telah merampas dua buah benda itu dari kedua tangan Mayang, lalu dia membandingkan dua buah benda itu. Persis sama!

"Mayang..." suaranya terdengar gemetar dan wajahnya pucat sekali, "dari mana... engkau mendapatkan benda ini... ?"

"Dari ibuku, baru tadi ibu memberikannya kepadaku sebagai hadiah pernikahan. Benda... benda itu... tadi ibu menyebut Ang-hong-cu (Si Kumbang Merah), kata ibu itu peninggalan ayah kandungku...”

"Ayah... ayah kandungmu...? Ya Tuhan...!" Tiba-tiba saja wajah Hay Hay menjadi semakin pucat dan seluruh tubuhnya menggigil.

Mayang terkejut bukan main melihat keadaan Hay Hay itu. "Kenapa, Hay-koko? Kenapa? Dan dari mana engkau bisa mendapatkan benda yang serupa benar dengan peninggalan ayahku? Dari mana engkau dapat memiliki Ang-hong-cu?"

"Mayang...," Hay Hay menggeser duduknya lebih menjauh agar tubuhnya tak menyentuh tubuh Mayang, "Mayang... kita... kita... kau... Ang-hong-cu... dia ayah kandungku pula..."

Sepasang mata yang sipit itu terbelalak, muka yang manis itu menjadi sepucat mayat lalu terdengarlah suara melengking tinggi dan nyaring dari mulut itu, lengkingan yang keluar sebagai jeritan dari dalam. Kedua tangan itu merenggut dua buah benda itu dari tangan Hay Hay, kemudian tubuh itu bergerak melompat turun dari atas pembaringan dan berlari menerjang pintu kamar sehingga terbuka dan Mayang pun berlari keluar.

"Mayang...! Mayanggg...!" Dengan tubuh masih menggigil Hay Hay juga melompat turun.

"Ang-hong-cu... ahhh, Ang-hong-cu..., hu-huu-huuuhhh...!" sambil menangis sesenggukan Mayang berlari keluar dan hampir saja dia bertabrakan dengan gurunya dan ibunya yang sedang berlarian menuju ke kamarnya. Dua orang tua itu terkejut ketika mendengar pekik melengking tadi dan keduanya sudah berlari keluar dari kamar masing-masing menuju ke kamar pengantin.

"Mayang, ya Tuhan, ada apakah, Mayang?" ibunya segera merangkul puterinya dengan wajah penuh kekhawatiran.

Kim Mo Siankouw memandang muridnya dengan alis berkerut dan sepasang mata tajam penuh selidik. Dan pada saat itu pula Kim Mo Siankouw juga melihat bayangan Han Siong berkelebat. Pemuda ini juga sudah keluar dari kamarnya dan terkejut oleh jeritan Mayang tadi. Kini, melihat Mayang menangis dalam rangkulan ibunya, Han Siong cepat melompat dan lari ke arah kamar pengantin untuk melihat Hay Hay.

"Mayang, berhentilah menangis dan katakan ada apa?" Ibunya menggoyang-goyang tubuh puterinya yang masih tersedu-sedu menangis sambil merangkulnya.

"Tenanglah, Mayang. Apakah engkau tidak malu menjadi gadis cengeng seperti ini? Mana kegagahanmu?" kata pula Kim Mo Siankouw.

Mayang segera melepaskan rangkulan pada ibunya, kemudian menoleh dan memandang subo-nya dengan air mata bercucuran.

"Subo....!" Sekarang dia menubruk subo-nya dan menangis di pundak Kim Mo Siankouw. Gurunya terheran-heran, juga terkejut melihat sikap muridnya seperti kanak-kanak itu.

"Mayang, engkau kenapa? Mayang anakku...!" Ibunya berkata dengan hati bingung dan khawatir sekali.

Mayang kembali melepaskan rangkulan pada gurunya dan kini menangis dalam rangkulan ibunya. "Ibu... hu-hu-huuuhhh... ibu..., subo.... bunuh saja aku, ibu... hu-hu-huuuhhh....”

"Ehh? Engkau kenapa, Mayang? Ada apakah? Ibunya semakin khawatir. Mayang segera menjulurkan kedua tangannya yang sejak tadi menggenggam dua buah benda kecil itu.

"Ang-hong-cu... dia.... dia... Ang-hong-cu....,” katanya dengan suara terputus-putus akibat isak yang menyesak dadanya.

Kini ibunya terbelalak, lantas mukanya berubah pucat. "Ang-hong-cu...? Apa maksudmu? Dan kenapa benda itu kini menjadi dua? Dari mana yang sebuah lagi?"

"Dia... dia... putera Ang-hong-cu...!" Dan kini Mayang terkulai, pingsan dalam rangkulan ibunya. Dua buah benda itu terlepas dari genggamannya dan jatuh ke atas lantai.

Kim Mo Siankouw cepat-cepat mengambil dua buah benda itu. Ketika para pelayan mulai berdatangan, Kim Mo Siankouw memberi isyarat dengan tangan agar mereka cepat pergi dan kembali ke kamar mereka.

Para pelayan tidak berani membantah walau pun mereka menjadi terheran-heran melihat nona mereka menangis, menjerit-jerit dan kemudian pingsan itu. Mereka tak bisa mengerti mengapa nona mereka yang menjadi pengantin bersikap seperti itu.

Sementara itu, ketika Han Siong memasuki kamar pengantin yang pintunya terbuka lebar, dia melihat Hay Hay duduk di tepi pembaringan seperti sebuah patung. Pemuda itu duduk dengan mata terbelalak, mukanya pucat dan penglihatannya nampak kosong. Han Siong cepat memegang kedua pundak Hay Hay.

"Hay Hay, sadarlah! Apa yang sudah terjadi? Ada apa dengan Mayang isterimu?" Tanpa disengaja Han Siong memandang ke atas pembaringan dan jelas bahwa tempat itu belum pernah dipergunakan. Bantal, selimut dan tilam sutera itu masih rapi, belum kusut seperti kalau sudah dipakai tidur.

Karena pundaknya diguncang keras oleh Han Siong, Hay Hay seperti baru sadar. Dia pun menghela napas panjang, lalu dia memegang kedua lengan sahabatnya. Kedua matanya basah!

"Eh? Engkau menangis?" Han Siong hampir tidak percaya. Akan tetapi dia melihat kedua mata itu basah, basah dan berlinang air mata!

Hay Hay mengusapkan mukanya pada kedua pangkal lengan, lalu berkata dengan suara seperti orang dalam rnimpi.

"Untung... sungguh Tuhan masih melindungi kami... aiiihh, Han Siong, mengapa nasibku sekarang jadi seperti ini? Ataukah ini dosa orang tuaku?"

"Hay Hay, katakan apakah yang telah terjadi?"

Melihat Hay Hay sudah tenang, Han Siong melepaskan tangannya dan dia kini mundur, memandang wajah sahabatnya yang masih pucat itu.

"Han Siong, dia adalah adikku! Kami seayah berlainan ibu!"

"Ahhh...?! Mayang puteri Ang Ang-hong-cu...?” Kini Han Siong yang melongo keheranan.

Hay Hay mengangguk, kembali menghela napas. “Dia juga memiliki benda perhiasan itu, seekor kumbang merah, persis dengan yang aku punyai. Baru hari ini dia menerima dari ibunya sebagai hadiah pernikahan, peninggalan ayah kandungnya..."

Han Siong jatuh terduduk di atas kursi. Bengong. Kini mengertilah dia mengapa gadis itu tadi menjerit-jerit dan Hay Hay seperti arca. Dan dia pun mengerti maksud kata-kata Hay Hay yang mengatakan masih untung bahwa mereka masih dilindungi Tuhan. Jelas bahwa mereka belum melakukan hubungan suami isteri! Apa bila sudah, berarti dunia ini kiamat bagi mereka!

Dia menghela napas. "Aihh, engkau masih beruntung, Hay Hay. Aku turut merasa girang bahwa kalian masih belum terjatuh ke dalam aib dan dosa. Kasihan engkau, Hay Hay....”

"Kasihan Mayang, bukan aku, Han Siong. Tentu hancur hatinya... ah, mari kita keluar. Aku harus menghiburnya, menghibur adikku...” Mereka lalu keluar dari dalam kamar itu. Ketika melihat Mayang terkulai pingsan dalam pondongan ibunya, Hay Hay terkejut.

“Mayang...!”

Kim Mo Siankouw berkata dengan suara lembut namun tegas, “Mari kita bicara di ruang dalam. Engkau juga, Pek Taihiap!"

Kini Ibu Mayang memondong tubuh Mayang. Gadis itu masih pingsan, dan mereka semua memasuki ruangan dalam. Kim Mo Siankouw sendiri menutup dua buah pintu tembusan pada ruangan itu. Ibu Mayang merebahkan puterinya di sebuah kursi panjang.

“Kalian duduklah!” kata Kim Mo Sian-kouw kepada Hay Hay dan Han Siong.

Dua orang pemuda itu lalu duduk dan Hay Hay menundukkan mukanya, menutupi muka dengan sepasang tangannya, tidak tahu harus berbuat apa atau berkata apa. Dia merasa bingung karena kenyataan yang teramat pahit itu merupakan pukulan yang mengguncang batinnya dengan hebat. Nyaris dia menjadi suami isteri dengan adiknya sendiri!

Kim Mo Siankouw menghampiri Mayang, kemudian mengurut beberapa bagian punggung serta tengkuknya. Gadis itu mengeluh, membuka matanya, melihat ibu dan subo-nya, lalu dia pun merintih dan menangis setelah teringat segalanya.

"Sudahlah, Mayang. Tenangkan hatimu dan mari kita bicara. Hay Hay juga sudah berada di sini," kata ibunya.

Mendengar ini, Mayang bangkit duduk menengok dan begitu melihat Hay Hay, mulutnya bergerak-gerak, bibirnya menggigil dan dia pun kembali menangis. Akan tetapi tangis ini segera ditahannya sehingga dia menangis tanpa suara, menutupi mukanya dengan kedua tangan. Hay Hay merasa jantungnya laksana ditusuk-tusuk. Dia merasa iba sekali melihat Mayang, adiknya yang hampir menjadi isterinya tadi.

"Mayang, maafkan aku. Kita sudah menjadi permainan nasib...” katanya lirih, akan tetapi ucapannya ini hanya disambut suara sesenggukan dari Mayang.

"Hay Hay, sekarang kuminta engkau suka berbicara terus terang. Dari manakah engkau mendapatkan benda ini?" tanya ibu Mayang sambil menunjuk dua buah benda perhiasan kumbang merah yang telah diletakkan di atas meja oleh Kim Mo Siankouw.

"Benda itu adalah peninggalan dari ayah kandung saya, yang diberikan kepada mendiang ibu saya."

"Hay Hay, sekarang kita berada di antara orang sendiri. Untuk mengetahui keadaan yang sebenarnya, sebaiknya kalau engkau menceritakan riwayat ibu dan ayahmu, dan sesudah itu akan kuceritakan mengenai diriku dan ayah Mayang. Dengan demikian dapat diketahui bagaimana sesungguhnya hubungan antara engkau dan Mayang," kata pula ibu Mayang dengan sikapnya yang lembut dan halus.

Kini Mayang juga merasa amat tertarik dan dia sudah mampu menenangkan dirinya. Dia duduk dekat ibunya, memandang kepada Hay Hay dengan wajah pucat dan mata merah.

Hay Hay menghela napas panjang. Apa bila tidak ada urusan yang begini ruwet dengan Mayang, tentu dia tak akan pernah menceritakan riwayat hidup ibunya kepada siapa pun juga. Sekarang dia terpaksa, demi untuk menjernihkan kekeruhan antara dia dan Mayang.

"Terus terang saja, Bibi. Saya sendiri tidak tahu dan tidak mengenal siapa sebenarnya ibu saya. Ketika saya masih bayi, ibu saya membawa saya terjun ke laut untuk membunuh diri! Pada waktu itu Locianpwe Pek Khun, yaitu kakek buyut saudara Pek Han Siong ini melihatnya, lalu cepat menolong ibu dan saya. Akan tetapi ibu tidak tertolong dan tewas, lalu saya yang masih bayi dibawa oleh Locianpwe Pek Khun ke Pek-sim-pang. Kebetulan pada waktu itu saudara Pek Han Siong yang juga sebaya dengan saya perlu diungsikan dan disembunyikan karena dia dianggap sebagai Sin-tong (Anak Ajaib) dan dikejar-kejar oleh para pendeta Lama yang hendak merampasnya karena dia dianggap sebagai calon Dalai Lama. Saudara Han Siong ini lalu disembunyikan dan saya dijadikan penggantinya. Ketika Locianpwe Pek Khun menyelamatkan saya, ibu saya sempat menitipkan benda ini agar diberikan kepada saya. Dalam saat terakhirnya ibu saya bercerita kepada Locianpwe Pek Khun bahwa ibu adalah seorang korban jai-hwa-cat yang berjuluk Ang-hong-cu, yang pernah memberikan tanda perhiasan kumbang merah itu. Demikianlah riwayat ibu saya, Bibi. Saya sendiri tidak mengenal siapa ibu saya. Setelah dewasa, saya baru mengetahui bahwa saya adalah putera Ang-hong-cu, dan saya bahkan pernah melihat kejahatannya! Dia bukan saja penyebab kematian ibu saya, melainkan juga saya melihat sendiri betapa dia telah menodai beberapa orang gadis pendekar. Dia amat jahat dan keji!"

"Hemm, jadi kalau demikian, ketika engkau mengatakan kepada Mayang bahwa engkau akan mencari musuh besarmu yang membunuh ibumu, maka musuh besarmu itu adalah Ang-hong-cu, juga ayah kandungmu?" tanya pula ibu Mayang.

"Benar Bibi. Tadinya semua itu hendak saya rahasiakan dan hanya beberapa orang saja yang mengetahui, termasuk saudara Pek Han Siong ini."

Han Siong mengangguk-angguk. "Ang-hong-cu itu memang sangat jahat dan keji, akan tetapi dia lihai dan juga cerdik dan licik sekali!"

"Hay Hay, tahukah engkau siapa nama ayahmu itu?" tanya pula ibu Mayang.

Hay Hay menggeleng kepalanya. "Dalam pesan terakhir ibu saya, dia hanya mengatakan bahwa ayah itu memiliki nama keluarga Tang."

"Dan dalam penyamarannya, dia memakai nama Han Lojin," sambung Han Siong.

Ibu Mayang mengangguk-angguk. "Aih, aku sendiri juga bersalah dalam hal ini. Pada saat engkau datang bersama Mayang dan mendengar engkau she Tang, lantas melihat wajah serta bentuk tubuhmu, aku sudah terkejut dan terheran. Engkau she Tang, sama dengan she-nya ayah Mayang, dan wajahmu mirip. Akan tetapi aku tidak manyangka sejauh itu. Kalau begitu, engkau memang benar puteranya, Hay Hay. Engkau putera Ang-hong-cu, orang yang kukenal sebagai Tang-kongcu (Tuan Muda Tang), yaitu ayah kandung Mayang. Kalau begitu tidak salah lagi, engkau memang masih kakak beradik dengan Mayang, satu ayah berlainan ibu."

Hay Hay saling pandang dengan Mayang. "Engkau... adikku..." kata Hay Hay perlahan, namun Mayang tidak menjawab dengan kata-kata melainkan dengan linangan air mata.

"Kini dengarkan riwayatku, Hay Hay. Seperti juga engkau, hanya karena timbul peristiwa antara engkau dengan Mayang ini sajalah yang memaksa aku untuk menceritakan riwayat hidupku yang mirip dengan riwayat ibu kandungmu. Tadinya aku sama sekali tak mengira bahwa pemuda yang tampan dan terpelajar itu, yang sikapnya lemah lembut dan halus, yang oleh penduduk dusun kami dikenal sebagai Tang-kongcu yang pandai silat dan juga pandai mengobati orang sakit, sebenarnya adalah seorang penjahat cabul yang berjuluk Ang-hong-cu yang kejam. Aku yang saat itu masih seorang gadis bernama Souli, segera terpikat oleh ketampanan dan rayuan Tang Kongcu sehingga secara tidak tahu malu aku menyerahkan diri dengan harapan akan dikawininya. Namun, sesudah aku mengandung, dia pergi begitu saja dan hanya meninggalkan perhiasan kumbang merah itu. Orang tuaku marah kepadaku, lalu dalam keadaan mengandung aku diusir dari dusun dan tidak diakui lagi. Aku hidup terlunta-lunta, lantas melahirkan Mayang dalam keadaan sengsara sekali. Seperti ibumu, agaknya aku pun akan mati kalau saja tidak ada subo Kim Mo Siankouw ini yang telah menolong kami." Wanita itu menangis dan Mayang merangkul ibunya.

Hay Hay mengepal tinju. "Saya akan mencari Ang-hong-cu sampai dapat, dan dia harus menebus semua dosanya! Bukan saja terhadap ibuku dan terhadap Bibi, akan tetapi juga terhadap entah berapa ratus orang wanita lainnya yang kehidupannya sudah dirusak oleh kejahatan Ang-hong-cu ini!"

"Hay koko, aku ikut denganmu!" Tiba-tiba Mayang berkata, suaranya lantang dan penuh kemarahan. Agaknya gadis ini telah berhasil memulihkan kekuatan batinnya sehingga kini nampak garang.

Semua orang terkejut. Akan tetapi Hay Hay memandang dan wajahnya mulai cerah. Dia gembira melihat gadis itu telah pulih kembali, tidak tenggelam ke dalam kedukaan seperti tadi.

"Adikku Mayang, kenapa engkau hendak ikut dengan aku?" tanyanya.

"Mayang, engkau baru saja mengalami guncangan batin, sebaiknya beristirahat di rumah saja," kata ibunya.

"Ibumu benar, Mayang. Menurut kakakmu, Ang-hong-cu itu sangat lihai sehingga agaknya engkau perlu berlatih keras untuk dapat menandinginya. Biarlah kuajarkan engkau jurus-jurus simpanan agar dapat menandingi Ang-hong-cu,” kata Kim Mo Siankouw.

"Tidak, Hay-koko, Ibu dan Subo! Aku harus ikut! Pertama, orang yang berjuluk Ang-hong-cu itu, biar pun dia ayah kandungku, akan tetapi dia juga orang yang telah merusak hidup Ibu, hidupku, bahkan kini mendatangkan mala petaka kepada aku dan Hay-ko. Dia harus mati di tanganku! Aku akan membantu Hay-ko menghadapinya! Selain itu, Ibu dan Subo, sesudah terjadi peristiwa ini, bagaimana mungkin aku tinggal di sini lagi? Semua orang di sekitar daerah ini sudah datang menjadi tamu dan menyaksikan aku menjadi pengantin, minum arak pengantin dan memberi selamat. Kemana aku akan menaruh mukaku ini bila mereka mendengar bahwa pernikahan ini dibatalkan, bahkan aku nyaris menikah dengan kakakku sendiri?" Setelah mengucapkan kalimat terakhir ini, kembali Mayang menangis.

Hay Hay merasa kasihan sekali kepada adiknya itu. Memang dia bisa merasakan hal itu. Sebagai seorang pria tentu dia bebas dari aib. Akan tetapi keadaan hidup seorang wanita mengenai hal yang menyangkut nama, kehormatan yang berhubungan dengan kesusilaan memang sungguh gawat. Begitu mudahnya orang melemparkan aib kepada diri seorang gadis. Wanita akan selalu menjadi sasaran celoteh.

"Kalau subo-mu dan ibumu mengijinkan, sekarang aku tidak merasa berkeberatan untuk mengajakmu, Mayang."

"Terima kasih, Hay-koko, aku memang harus ikut denganmu. Kalau tidak diperkenankan maka aku akan minggat dan mencari sendiri Ang-hong-cu!" kata gadis itu.

Kim Mo Siankouw dan ibu Mayang bertukar pandang. Mereka sadar bahwa sekarang ini mereka tidak mungkin dapat membujuk atau berkeras. Pula, mereka juga merasa kasihan kepada Mayang. Melihat ibu Mayang menganggukkan kepalanya, Kim Mo Siankouw lalu berkata,

"Baiklah, Mayang. Aku dan ibumu setuju jika engkau pergi bersama Hay Hay, akan tetapi mengingat bahwa engkau akan menghadapi lawan yang sangat lihai maka lebih dulu aku akan mengajarkan jurus-jurus pilihan selama sepuluh hari. Engkau bisa melatihnya dalam perjalanan setelah engkau hafal akan semua gerakannya. Tanpa bekal itu, aku tetap akan merasa khawatir kalau engkau pergi."

Mayang memandang kepada Hay Hay dan suaranya mengandung permohonan ketika dia bertanya. "Hay-ko, maukah engkau menanti sampai sepuluh hari baru kita berangkat?”

Hay Hay tersenyum. Kini dia telah memperoleh kembali ketenangan dan kegembiraannya setelah urusannya dengan Mayang itu bisa diselesaikan tanpa akibat yang menyedihkan. Dia tahu bahwa mulai saat ini mendadak dia mendapatkan seorang adik perempuan yang sangat manja! Karena itu dia mengangguk menyetujui.

Han Siong ikut merasa gembira dan dia menyatakan hal ini dengan ucapan yang disertai senyum dan wajah yang cerah. ”Saya merasa gembira sekali bahwa urusan yang tadinya membuat saya merasa amat khawatir ini telah dapat diselesaikan dengan baik. Saya pun sangat berterima kasih kepada Tuhan yang masih melindungi Hay Hay dan nona Mayang sehingga walau pun mereka telah melaksanakan upacara pernikahan, akan tetapi mereka masih belum menjadi suami isteri dan kini dapat menjadi kakak dan adik secara wajar. Bagaimana pun juga, saya akan ikut memikul dosanya kalau sampai pelanggaran terjadi, karena saya ikut pula membujuk Hay Hay untuk menerima usul perjodohan itu. Sesudah sekarang semuanya heres, saya pun hendak mohon diri, dan saya menghaturkan terima kasih kepada Kim Mo Siankouw atas semua kebaikannya selama saya berada di sini."

"Han Siong, mengapa engkau tergesa-gesa pergi? Hendak ke manakah engkau?" tanya Hay Hay.

"Engkau tahu bahwa aku pun mempunyai perhitungan dengan Ang-hong-cu. Akan tetapi aku akan pulang dahulu ke Kong-goan, ke Pek-sim-pang untuk menemui keluargaku. Mari kita berlomba, siapa yang akan lebih dulu berhasil menangkap Ang-hong-cu, Hay Hay!"

"Bagus!" Hay Hay yang telah mendapatkan kembali kegembiraannya itu segera menerima tantangan itu. "Kita lihat saja nanti. Yang kalah harus menjamu makanan apa saja yang diminta si pemenang dalam rumah makan besar!"

"Baik, Hay Hay. Nah, sekarang aku harus pergi." Han Siong lalu memberi hormat kepada mereka semua dan pergilah dia meninggalkan tempat itu.

Hatinya merasa gembira bukan main. Dia kini merasa bebas seakan-akan semua ikatan pada dirinya telah putus, seolah beban yang selama ini menghimpit hatinya telah tanggal. Pertama, Wakil Dalai Lama sendiri sudah menjanjikan bahwa mulai sekarang tidak akan ada lagi pendeta Lama yang mengganggunya, yang hendak memaksanya turut ke Tibet menjadi Dalai Lama! Ke dua, urusan Hay Hay dengan Mayang sudah dapat diselesaikan dengan baik. Bagaimana pun juga dia turut bertanggung jawab, ikut pula membujuk Hay Hay, bahkan mengancam akan memusuhinya kalau Hay Hay tidak mau berjodoh dengan Mayang!

Dia bergidik membayangkan. Apa bila sampai terlanjur terjadi pelanggaran dan hubungan suami isteri antara dua orang yang masih sedarah itu, tentu dia sendiri merasa berdosa, menyesal bukan main. Dan Hay Hay tentu akan mendapat alasan yang sangat kuat untuk melampiaskan kemarahan kepadanya tanpa dia mampu membela diri.

Hay Hay tentu akan menganggapnya jahat dan mengatakan bahwa dia telah mendorong Pendekar Mata Keranjang itu terjerumus ke dalam lembah kehinaan! Untung juga kedua muda-mudi ini memakai perhiasan kumbang merah itu sebagai kalung!

Kini semua telah lewat dan Han Siong dapat melakukan perjalanan dengan wajah berseri dan hati lapang. Ada sebuah hal lagi yang menggembirakan hatinya. Kegagalan cintanya terhadap Siangkoan Bi Lian tidak menimpa dirinya sendiri! Kepahitan karena cinta gagal baru saja juga menimpa Hay Hay, bahkan lebih parah dari pada dia. Berarti dia memiliki teman sependeritaan! Hal ini membuat dia kini merasa bertambah dekat dengan Hay Hay! Di dalam kegembiraannya pemuda gemblengan ini lupa bahwa dia sudah menjadi hamba dari pada ke-akuan yang menghinggapi hampir seluruh manusia di permukaan bumi ini.

Pada umumnya, orang yang tengah tertimpa mala petaka, yang tengah merasa sengsara, tengah berduka, akan merasa terhibur dan berkurang kedukaannya jika dia melihat orang lain, terlebih lagi yang dekat dengan dia, tertimpa kemalangan yang lebih besar dari pada kemalangan yang menimpa dirinya sendiri! Orang yang sudah diperbudak ke-akuannya sendiri itu, yang merasa terhibur dan berkurang kedukaannya apa bila melihat orang lain tertimpa kedukaan yang lebih besar, tentu akan merasa tidak senang dan iri hati apa bila melihat orang lain memperoleh keuntungan yang lebih besar dari pada keuntungan yang diperolehnya sendiri.

Seperti inilah kelemahan manusia yang tercengkeram oleh nafsu-nafsunya sendiri. Nafsu selalu mendorong kita supaya menjadi yang paling baik, paling besar, paling penting dan tidak kalah oleh orang lain! Berbahagialah orang yang dapat melihat, merasakan, serta menyadari kelemahan yang ada pada dirinya ini. Karena hanya mereka yang waspada dan sadar sajalah dapat melihat ulah nafsu yang ada pada diri sendiri.....



Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner