SI KUMBANG MERAH : JILID-39


Mereka bertiga berjalan-jalan di puncak bukit yang penuh dengan pohon cemara itu. Pagi itu cerah sekali dan pemandangan alam amatlah indahnya. Matahari pagi telah tersenyum lembut di atas puncak, sinarnya juga lembut dan hangat di antara kesejukan semilir angin gunung.

Aroma rumput dan daun cemara yang khas sungguh nyaman dan harum menyenangkan, keharuman yang lembut sehingga membuat hidung terasa segar dan lega. Kicau burung-burung yang telah sibuk sejak matahari timbul tadi bagaikani ribuan karyawan yang sudah siap melaksanakan tugas pekerjaan sehari-hari pada pagi itu, memulai pekerjaan dengan semangat berkobar dan hati penuh kebahagiaan, merupakan suara yang amat merdu dan gembira, menjadi santapan pagi yang sangat sehat bagi telinga. Betapa nikmatnya hidup kalau pada suatu saat tiga di antara alat panca indriya kita, yaitu mata hidung dan telinga, dapat menikmati keindahan bersama-sama.

Sepasang mata menikmati pemandangan alam yang sangat menakjubkan, penuh pesona dan penuh kegaiban. Hidung menghirup udara yang sejuk segar, jernih dan bersih dengan aroma yang khas alami, membuat udara yang dihisap itu penuh tenaga mukjijat dari alam, memenuhi rongga dada bahkan terus hingga ke bawah pusar. Sungguh menyehatkan dan membahagiakan! Pada saat yang sama telinga mendengar suara yang penuh kedamaian, penuh ketentraman, penuh kewajaran dan keindahan. Betapa nikmatnya hidup!

Dalam keadaan seperti itu hati dan akal pikiran berhenti berceloteh, dan segala sesuatu akan nampak indah. Suara angin bermain dengan daun-daun cemara, suara air gemercik di antara batu-batu, kicau burung, kokok ayam hutan, semua itu merupakan pendengaran yang seolah-olah bunyi-bunyian merdu dari sorga!

Aroma tanah bermandikan embun saja sudah demikian sedap dan harumnya, masuk ke dalam rongga dada melalui hidung, demikian harum menyegarkan! Dan melihat kupu-kupu warna-warni beterbangan di antara bunga-bunga, melihat burung-burung berloncatan dari dahan ke dahan, bahkan melihat sebutir embun bergantung pada ujung daun, berkilauan tercuci sinar matahari pagi, sudah merupakan penglihatan yang indahnya sulit dilukiskan!

Sayang sungguh sayang sekali bahwa sejak kecil kita sudah dijejali dengan kesenangan-kesenangan pemuas nafsu hingga kita menjadi mabuk. Kesenangan badani yang semu, yang hanya merupakan pelampiasan dari pada hasrat nafsu, membuat kita mabok dan tidak lagi dapat melihat segala keindahan, tidak dapat mendengarkan segala kemerduan dan tidak lagi mampu menghirup segala kesedapan yang segar.

Kita terbuai oleh kesenangan tuntutan nafsu. Hati dan akal pikiran kita selalu berceloteh dan sibuk dengan urusan pengejaran kesenangan nafsu. Kalau pun kadang-kadang kita mampu merasakan keagungan serta keindahan itu, hati dan akal pikiran segera datang mengacau dan seketika lenyaplah semua keindahan itu karena batin ini telah disibukkan kembali dengan urusan kesenangan diri, kesenangan dari pelampiasan nafsu keinginan!


Demikian pula dengan tiga orang yang berjalan-jalan pada pagi hari itu. Tadinya mereka tidak berkata-kata, seperti tenggelam dalam keindahan itu, bahkan mereka merasa sudah bersatu dengan semua keindahan itu, tidak terpisah-pisah. Rasa aman tenteram bahagia, bukan senang, menyelubungi mereka sehingga pada saat seperti itu mereka tak ber-aku, mereka bersatu dengan alam, dengan kekuasaan Tuhan, dengan Tuhan! Mereka berada dalam keadaan semedhi yang sejati, bukan pengosongan diri karena dikehedaki oleh hati dan akal pikiran!

Kekosongan batin yang dikosongkan oleh hati dan akal pikiran adalah kekosongan palsu karena kekosongan itu penuh dengan usaha dari keinginan. Kekosongan berpamrih.

Tiga orang itu bukanlah orang-orang biasa, bukan penghuni pegunungan biasa. Mereka adalah ayah, ibu dan anak yang memiliki ilmu kepandaian tinggi, bahkan bisa disejajarkan dengan orang-orang sakti!

Pria itu berusia kurang lebih empat puluh tiga tahun. Lengan kirinya buntung sebatas siku sehingga ujung lengan baju yang kiri terkulai lemas tanpa isi. Tubuhnya tinggi dan tegap, dibalut pakaian longgar yang mengingatkan orang akan pakaian hwesio (pendeta Buddha) yang berwarna kuning.

Namun kepalanya tidak gundul, melainkan memiliki rambut yang hitam tebal dan panjang, yang digelung ke atas seperti gelung rambut tosu (pendeta agama To). Wajahnya tampan dan jantan, dengan alis tebal dan sepasang matanya mencorong. Sikapnya pendiam dan bahkan dingin. Pria ini bukan lain adalah Siangkoan Ci Kang!

Seperti telah kita ketahui, pria ini adalah putera dari mendiang Siangkoan Lojin atau yang di dunia kang-ouw terkenal dengan sebutan Si lblis Buta. Meski pun kedua matanya buta, namun Siangkoan Lojin ditakuti semua orang karena lihainya dan juga karena kejamnya. Seorang datuk sesat yang namanya tersohor.

Akan tetapi sungguh aneh! Puteranya, yaitu Siangkoan Ci Kang, walau pun juga berhati sekeras baja namun tidak mewarisi watak kejam dan jahat seperti ayahnya. Bahkan sejak muda dia selalu menentang kejahatan hingga membuat dia menjadi penentang ayahnya sendiri!

Wanita berusia empat puluh dua tahun di sampingnya itu adalah isterinya, Toan Hui Cu yang masih kelihatan cantik sekali. Walau pun mukanya sedikit pucat, akan tetapi bukan pucat karena sakit. Dan riwayat wanita ini bahkan lebih hebat dari pada riwayat suaminya.

Seperti suaminya, Toan Hui Cu juga adalah keturunan datuk sesat. Bahkan bukan datuk biasa, melainkan rajanya datuk kaum sesat! Meski pun ayah kandungnya masih keluarga kerajaan, berdarah bangsawan tinggi, tetapi ketika masih hidup ayahnya terkenal dengan julukan Raja Iblis, sedangkan ibunya adalah Ratu Iblis!

Ayah dan ibunya mempunyai kepandaian yang membuat mereka itu sakti, dan mengenai kekejaman dan kejahatan, tak ada datuk sesat yang lebih mengerikan dari pada mereka! Anehnya, Toan Hui Cu yang merupakan anak tunggal, seperti juga halnya Siangkoan Ci Kang, tidak mewarisi watak jahat ayah ibunya. Bahkan dia condong berwatak pendekar!

Dua orang dari keturunan tokoh sesat ini saling mencinta, hingga akhirnya nasib membuat mereka berdua itu menjadi murid di kuil Siauw-lim-si, akan tetapi juga menjadi dua orang hukuman karena oleh ketua Siauw-lim-si mereka dianggap melakukan dosa, melanggar kesusilaan karena mereka berdua telah menjadi suami isteri tanpa nikah!

Selama dua puluh tahun mereka harus menjalani hukuman bertapa di kuil itu, akan tetapi justru dalam menjalani hukuman itulah mereka berdua menemukan kitab-kitab pelajaran ilmu silat tinggi peninggalan orang-orang sakti yang termasuk Delapan Dewa! Walau pun mereka dihukum dalam ruangan berbeda, dengan ilmu mereka yang tinggi keduanya bisa mempelajari ilmu dari kitab-kitab itu sehingga keduanya menjadi semakin sakti!

Dari hubungan mereka lantas terlahirlah seorang anak perempuan! Karena mereka dalam keadaan sebagai terhukum, maka terpaksa anak perempuan itu harus mereka titipkan di dusun. Nasib lalu membuat anak itu lenyap terculik, dan setelah dewasa barulah anak itu kembali kepada mereka,.

Orang ke tiga yang sedang berjalan-jalan di pagi hari itulah anak mereka, puteri mereka yang bernama Siangkoan Bi Lian! Seorang gadis berusia dua puluh satu tahun, bertubuh ramping dengan pinggang yang amat kecil dan dengan kulit yang putih mulus. Rambutnya panjang sampai ke pinggul, hitam mengkilap dan tebal, dan pada pagi hari ini rambut itu dikuncir menjadi dua, dibiarkan tergantung dan kedua ujungnya diikat pita sutera biru.

Bi Lian memiliki mata ayahnya yang mencorong tajam. Hidungnya kecil mancung seperti hidung ibunya, bentuk mulutnya seperti mulut ibunya, hanya bedanya, kalau bibir ibunya selalu terlihat agak pucat seperti wajahnya, bibir Bi Lian selalu terlihat merah membasah. Bentuk mukanya bulat telur dan sebutir tahi lalat di dagunya menjadi pemanis yang amat menarik.

Walau pun ayah dan ibunya amat lihai, tapi karena sejak kecil terpisah dari mereka, gadis ini menerima gemblengan ilmu-ilmu silat tinggi dari dua orang datuk iblis yang amat linai, yaitu mendiang Pak Kwi Ong dan Tung Hek Kwi, dua orang di antara Empat Setan.

Di bagian depan cerita ini sudah diceritakan betapa Bi Lian berjumpa dengan murid ayah ibunya, yaitu Pek Han Siong yang oleh ayah ibunya telah diangkat menjadi tunangannya. Han Siong inilah yang membuka rahasianya bahwa dia adalah puteri Siangkoan Ci Kang dan Toan Hui Cu, dan Han Siong pula yang membawanya ke kuil Siauw-lim-si, kemudian menyusul ke tempat tinggal suami isteri itu, yaitu Kim-ke-kok (Lembah Ayam Emas) yang terletak di pegunungan Heng-tuan-san sebelah timur.

Sesudah bertemu, pertemuan yang penuh keharuan dan kebahagiaan, ayah ibu gadis itu memberi tahu tentang ikatan jodoh antara Bi Lian dan Han Siong. Gadis itu menolak! Dia menolak bukan karena dia membenci Han Siong, malah sebaliknya dia amat mengagumi Han Siong dan juga amat menyukainya.

Akan tetapi Bi Lian sudah menganggap Han Siong sebagai suheng (kakak seperguruan) sehingga perubahan yang mendadak itu membuat gadis ini merasa canggung dan salah tingkah. Maka dia menyatakan tidak setuju.

Mendengar ini Han Siong tersinggung, dan dia pun mohon kepada kedua orang gurunya untuk membatalkan ikatan jodoh itu. Dia pun lalu mengembalikan pedang pusaka Kwan-im-kiam yang dulu diterimanya dari kedua orang gurunya sebagai tanda perjodohan.

Demikianlah, setelah Han Siong pergi Bi Lian tinggal bersama ayah dan ibunya. Dan dari kedua orang tuanya itu dia pun menerima gemblengan ilmu silat tinggi. Dia memilih jurus-jurus simpanan saja sehingga dia yang sudah lihai sebagai murid Pak-kwi-ong (Raja Iblis Utara) dan Tung-hek-kwi (Iblis Hitam Timur) kini menjadi semakin lihai. Pada pagi hari itu ayah ibu dan anak ini tengah berjalan-jalan di puncak menikmati keindahan suasana pagi hari yang cerah itu.

Sejenak mereka bertiga tenggelam dalam keheningan yang indah itu. Bukan hening yang berarti sepi. Puncak-puncak cemara bergoyang, bunyi daun gemersik ditimpa dendang air dan meriahnya suara burung, keharuman yang meriah. Sama sekai tidak sepi, melainkan keheningan yang tercipta ketika hati dan akal pikiran berhenti berceloteh. Sayang sekali, keheningan itu segera dikacaukan oleh pikiran.

Melihat burung terbang berpasangan, Siangkoan Ci Kang menghela napas panjang dan melirik kepada puterinya. Semua keindahan itu lenyaplah sudah, terganti oleh kegelisahan dan kedukaan karena kini batinnya terpenuhi permasalahan mengenai diri puterinya.

Sudah hampir dua bulan puterinya tinggal bersama mereka di Kim-ke-kok, dan selama dua bulan itu dia dan isterinya mengajarkan jurus-jurus rahasia simpanan mereka kepada Bi Lian. Akan tetapi, pada waktu malam apa bila dia berada berdua saja dengan isterinya di dalam kamar mereka, mereka tiada hentinya membicarakan puteri mereka dengan hati yang kecewa dan berduka.

Puteri mereka telah menggagalkan dan bahkan membikin putus ikatan perjodohan antara puteri mereka dan murid mereka, Pek Han Siong. Mereka tidak melihat adanya pemuda lain yang lebih baik dari pada murid mereka itu. Hal inilah yang pada waktu itu menyelinap di dalam pikiran Siangkoan Ci Kang ketika dia melihat burung-burung beterbangan secara berpasangan.

“Lian-ji (anak Lian), tahukah engkau, berapa usiamu sekarang?'

Bi Lian dan ibunya yang masih tenggelam dalam keheningan, seperti baru terbangun dan Bi Lian menoleh, memandang ayahnya dengan heran. Sungguh dia tak pernah menduga bahwa ayahnya akan mengajukan pertanyaan semacam itu di pagi hari ini. Sejak mendaki puncak itu mereka bertiga tidak pernah berbicara, mereka hanya menikmati suasana yang amat indah itu. Dan tiba-tiba ayahnya bertanya tentang usianya!

"Kalau tidak salah sudah hampir dua puluh satu tahun. Kenapa, Ayah?" jawabnya sambil menatap wajah ayahnya dengan sinar mata bertanya. Ayahnya juga menatap kepadanya sehingga dua pasang mata yang sama mencorongnya itu saling pandang seperti hendak menembus hati masing-masing.

"Tidak mengapa, hanya... kukira bagi seorang wanita usia sedemikian itu sudah lebih dari cukup untuk menjadi seorang isteri yang baik. Bahkan sudah cukup pula untuk menjadi seorang ibu yang baik. Aihh, betapa inginku menimang seorang bayi, seorang cucuku...!" kata pula Toan Hui Cu sambil menarik napas panjang karena dia sudah membayangkan kesenangan itu.

Bi Lian mengerutkan alisnya, namun dia tidak marah. Dia cukup mengerti akan perasaan hati ayah ibunya yang ingin melihat dia menikah kemudian mempunyai anak!

"Aihhh, Ayah dan Ibu selama dua bulan ini hampir setiap hari bicara tentang pernikahan untukku!" Dia hanya mengeluh, lalu berhenti melangkah.

Ayah dan ibunya juga berhenti. Mereka berada di puncak dan di bawah kaki mereka, di sekeliling puncak itu, nampak hutan dan pohon-pohon kelihatan begitu kecil dan pendek.

"Terus terang saja, anakku, Ayah dan Ibumu hanya memiliki satu keinginan, yaitu melihat engkau berumah tangga. Anak kami hanya engkau seorang dan kelirukah kalau Ayah dan Ibumu ingin melihat anaknya berumah tangga?" kata pula ibu Bi Lian.

Bi Lian mendekati ibunya, lantas merangkul pinggang ibunya. Ibunya masih cantik sekali, bahkan patut kalau menjadi kakaknya.

"Ibu, aku tahu dan aku tidak menyalahkan kalian, hanya saja urusan perjodohan bukanlah urusan yang sedemikian mudahnya. Tak mungkin jika aku secara begitu saja memungut seorang calon suami dari pinggir jalan!"

"Ha-ha-ha!" Siangkoan Ci Kang tertawa. "Tentu saja hal itu tidak mungkin! Engkau harus memperoleh seorang suami yang terbaik, anakku! Dan menurut penglihatan kami, kiranya tidak ada pemuda yang lebih baik dari pada suheng-mu sendiri, Pek Han Siong! Sayang sekali engkau membencinya, Lian-ji."

"Ayah, aku sama sekali tidak membencinya! Bahkan aku kagum dan suka kepadanya!" Bi Lian membantah cepat.

"Hemm, kalau benar demikian, kenapa engkau begitu tega untuk menghancurkan hatinya dengan memutuskan ikatan perjodohan itu? Dari mana lagi kita akan bisa mendapatkan seorang pemuda yang melebihi Han Siong, baik kepandaiannya mau pun wataknya? Dia seorang pendekar sejati, anakku!"

Bi Lian menahan senyumnya dan entah mengapa, pada saat itu terbayanglah wajah Hay Hay yang tersenyum-senyum nakal itu! Dia pun menghela napas.

"Ayah dan Ibu, aku tahu bahwa kalian masih menyesali kegagalan perjodohan antara aku dengan suheng. Maafkan aku. Terus terang saja aku pun kagum dan suka pada suheng Pek Han Siong, akan tetapi rasa sukaku itu hanya sebatas perasaan terhadap seorang suheng. Aku tidak tahu apakah di dalam hatiku ada cinta terhadap suheng. Akan tetapi itu tidak penting. Yang penting adalah bahwa aku tidak yakin akan cintanya kepadaku."

"Ehh? Bukankah dia secara terus terang telah menyatakan cintanya kepadamu, di depan aku dan ibumu? Lian-ji, Han Siong mencintaimu, itu sudah jelas!" kata pula Siangkoan Ci Kang.

"Ayahmu benar, Bi Lian. Han Siong cinta kepadamu dan dia akan menjadi seorang suami yang amat baik, juga ayah yang baik untuk anak-anakmu," kata ibunya.

"Bagaimana Ayah dan Ibu dapat begitu yakin? Ingatlah, ketika suheng mengaku cinta, dia telah terikat perjodohan denganku maka tentu saja dia mengaku cinta, karena kalau tidak, berarti dia akan menghina Ayah dan Ibu dan juga aku! Dia sudah terikat jodoh denganku sebelum dia melihat aku, Ayah dan Ibu. Hal ini harap dipertimbangkan. Andai kata ketika dia mengaku cinta kepadaku itu dia belum terikat dengan perjodohan, mungkin sekali aku akan percaya, bahkan merasa yakin. Akan tetapi keadaannya tidak demikian. Aku tidak puas, Ayah dan Ibu. Maafkan aku, akan tetapi aku hanya mau menikah dengan seorang pria yang aku yakin benar-benar mencintaku, dan tentu saja kalau aku mencintanya."

Suami isteri itu saling pandang. Alasan puteri mereka itu memang kuat dan tepat. Kini pun mereka dapat merasakannya. Memang mereka percaya bahwa Han Siong benar-benar mencinta Bi Lian. Akan tetapi, andai kata tidak demikian halnya, apakah Han Siong berani mengatakan bahwa dia tidak mencintai gadis itu? Gadis yang sudah ditetapkan menjadi calon isterinya? Tentu tidak akan berani!

"Hemmm, kalau begitu, Lian-ji. Andai kata kelak engkau menjadi yakin bahwa Han Siong benar-benar mencintamu, apakah masih ada harapan untuk... ehh, menyambung kembali tali yang telah putus itu?" tanya Siangkoan Ci Kang.

Bi Lian termenung. Bagaimana pun juga, selama ini hanya ada dua orang laki-laki yang menarik hatinya dan dikaguminya. Yang pertama adalah Hay Hay, ada pun yang ke dua adalah Pek Han Siong!

Tentu saja Hay Hay memiliki daya tarik yang lebih kuat bagi setiap orang wanita, karena pemuda itu pandai sekali mengambil hati secara wajar, bukan menjilat. Hidup di samping Hay Hay tentu merupakan suatu keadaan yang selalu menggembirakan sehingga dunia akan selalu nampak cerah. Sebaliknya Han Siong adalah seorang pemuda yang jantan, pendiam dan halus tenang, mendatangkan suasana damai yang tenang.

Keduanya memang tampan dan gagah, dengan ilmu kepandaian yang seimbang, bahkan keduanya juga menguasai ilmu sihir yang ampuh. Tapi dia merasa kecewa terhadap Han Siong karena pemuda itu menerima ikatan jodoh begitu saja, pada hal selama hidupnya belum pernah berjumpa dengannya! Hal inilah yang mengganjal di hatinya, seakan-akan dia merasa bahwa Han Siong ingin berjodoh kepadanya bukan karena dirinya, melainkan karena hendak mentaati ayah ibunya! Hal ini membuat dia merasa dirinya kurang penting dan kurang berharga!

"Tentu saja hal itu mungkin sekali, Ayah. Kita lihat saja perkembangannya kelak. Apa bila dia memang benar mencintaku dengan tulus dan kalau kemudian aku melihat kenyataan bahwa aku pun mencintanya, maka tak ada halangannya bagi kami untuk dapat berjodoh. Bukankah jodoh itu di tangan Tuhan?"

Mendengar ucapan puteri mereka, suami isteri itu saling pandang dan ada sinar harapan baru terpancar di dalam pandang mata mereka. Akan tetapi pada saat itu terdengar kokok ayam hutan jantan dan seketika berubah sikap Siangkoan Ci Kang dan isterinya.

Mereka cepat-cepat menyelinap ke balik semak-semak dan Siangkoan Ci Kang memberi isyarat kepada Bi Lian untuk bersembunyi pula. Bi Lian terkejut dan terheran, lalu segera dia menyelinap ke dekat mereka.

"Ada apakah?" tanyanya dengan bisikan lirih.

"Sstttt... inilah yang kami tunggu-tunggu selama berbulan-bulan. Agaknya dia menghadapi lawan. Kita harus mendekat dengan sangat hati-hati agar jangan mengejutkan mereka dan jangan mengganggu perkelahian mereka. Mari ikuti aku dan hati-hati, jangan berisik!" kata Siangkoan Ci Kang.

Isterinya mengikuti di belakangnya, dan Bi Lian yang masih terheran-heran mengikuti di belakang ibunya. Siapakah yang sedang berkelahi, pikir Bi Lian. Tentu orang-orang yang sakti, kalau tidak begitu, tidak mungkin ayah ibunya yang memiliki ilmu kepandaian tinggi itu begitu berhati-hati menghampiri tempat perkelahian itu. Dan siapakah yang berkelahi sambil mengeluarkan kokok ayam hutan jantan itu? Sungguh aneh!

Dengan cepat tapi dengan pengerahan ginkang agar gerakan mereka ringan sehingga tak bersuara, mereka bertiga menyusup-nyusup menuruni puncak menuju ke hutan cemara di sebelah kiri. Akhirnya Siangkoan Ci Kang berhenti kemudian bersembunyi di balik semak-semak, memberi isyarat kepada isteri dan puterinya untuk bersembunyi di situ pula.

Kemudian suami isteri itu mengintai dengan penuh perhatian, dengan wajah berseri-seri. Bi Lian juga mengintai ke arah mereka memandang dan dia terbelalak karena yang diintai oleh ayah ibunya itu bukan dua orang jago silat yang sedang bertanding, melainkan dua ekor ayam jago hutan sedang bertanding! Seekor ayam jago yang bulunya seperti emas melawan seekor ayam jago yang bulunya kelabu.

Pantas saja mereka harus berindap-indap karena dua ekor ayam hutan itu tentu langsung terbang pergi jika mereka mengeluarkan suara berisik. Ayam hutan merupakan binatang yang liar sekali, tak dapat didekati manusia. Akan tetapi mengapa ayah ibunya menonton ayam bertanding dengan perhatian seperti itu?

Dengan penuh perhatian Bi Lian ikut memandang. Akan tetapi baginya dua ekor binatang yang sedang bertanding itu hanyalah dua ekor ayam hutan yang tidak begitu besar, tidak sebesar ayam jago biasa,. Akan tetapi sesudah memperhatikan, dia melihat bahwa ayam berbulu emas itu memiliki ketangkasan luar biasa, sedangkan si bulu kelabu hanya galak dan menyerang secara ngawur saja.

Semua serangan dari si kelabu itu tak pernah berhasil, patukannya luput, sabetan kakinya juga tidak pernah mengenai sasaran. Si bulu emas jarang menyerang, akan tetapi setiap kali menyerang pasti mengenai sasaran dengan tepatnya sehingga sudah beberapa kali si kelabu kena tertendang hingga terjengkang!

Biar pun demikian, semua itu tidak ada artinya bagi Bi Lian. Akan tetapi bila dia menoleh kepada ayah ibunya, mereka menonton tanpa pernah berkedip seolah-olah setiap gerakan dua ekor ayam hutan itu hendak ditelan dengan pandang mata mereka, dan beberapa kali dia melihat ayahnya mengangguk-angguk dengan wajah gembira sekali.

Perkelahian mati-matian itu tidak berlangsung lama. Pada saat si kelabu yang telah mulai lemah dan mukanya sudah mulai membengkak dan berdarah itu untuk ke sekian kalinya menerjang dengan tenaga terakhir, si bulu emas mengelak ke samping dan ketika tubuh lawan menubruk tempat kosong, dia membalik, menggunakan paruhnya mematuk leher si kelabu, kemudian kakinya menendang.

"Bressss...! Keokkk...!"

Si kelabu hanya berteriak satu kali dan dia berlompatan aneh, dari kepalanya bercucuran darah. Kiranya sabetan kaki yang berjalu runcing itu telah mengenai kepala dengan tepat, dekat telinga sehingga tempurung kepala itu retak dan darah keluar, membuat si kelabu berloncatan dalam keadaan sekarat! Dan si bulu emas, dengan lagak yang gagah sekali, lantas mengembangkan sayapnya, menarik tubuh ke atas setinggi mungkin, dengan leher terjulur panjang dan keluarlah bunyi kokoknya penuh kebanggaan dan kemenangan!

Biar pun pertandingan itu telah selesai, Siangkoan Ci Kang memberi isyarat kepada isteri dan puterinya agar berdiam diri. Selagi Bi Lian merasa heran, tiba-tiba dari semak-semak di seberang berloncatan keluar dua ekor binatang musang. Tidak terlampau besar, hanya sebesar anjing kecil, akan tetapi mereka itu melompat dengan cekatan sekali.

Yang seekor telah menyambar ayam yang sekarat, menggigit lehernya dan menyeretnya pergi dari situ. Musang ke dua, yang lebih besar, menubruk ke ayam hutan berbulu emas yang tadi menang bertanding. Lompatannya sangat cepat dan gesit, dan agaknya sukar bagi ayam itu untuk meloloskan diri.

Akan tetapi pada detik terakhir ayam berbulu emas itu dapat melempar tubuh ke belakang lalu membanting diri ke samping sehingga tubrukan itu luput. Kalau ayam itu mau, dengan mudah saja dia dapat terbang meloloskan diri dari musang itu. Akan tetapi ternyata tidak! Ayam itu sekarang berdiri dengan kepala menunduk, sepasang mata melotot, bulu emas dilehernya mekar dan siap untuk bertarung!

"Tolol!" pikir Bi Lian dalam hatinya. "Mana mungkin kamu akan dapat menandingi seekor musang?"

Ayam berbulu emas itu amat sombong, pikirnya, tidak memperhitungkan siapa lawannya. Mungkin dia sudah menjadi kepala besar dan tidak takut melawan siapa pun juga karena kemenangannya terhadap ayam kelabu tadi!

Agaknya musang itu juga menjadi tercengang. Tadi tubrukannya sudah luput dan menurut pengalamannya, tentu ayam hutan yang luput ditubruk itu telah terbang pergi. Akan tetapi ayam hutan berbulu emas ini tidak segera terbang melarikan diri malah menantang untuk berkelahi!

Kalau saja wataknya seperti manusia, tentu dia sudah tertawa untuk mengejek ayam kecil itu! Akan tetapi dia tetap seekor musang, maka melihat calon mangsanya masih di sana, dia telah menerkam lagi dengan ganasnya. Musang pun termasuk binatang liar, hidupnya di hutan dan makanan utamanya memang binatang yang lebih kecil, maka gerakannya ganas dan beringas sekali, penuh kebuasan binatang liar yang hidup di hutan.

"Wuuuttt...! Bresss...!"

Bi Lian hampir bersorak. Pada saat musang itu menubruk, ayam itu meloncat ke samping atas dan sebelum musang yang luput menubruk itu sempat membalik, ayam itu sudah menerjang dari atas, secara serentak paruhnya mematuk dan kakinya menendang kepala musang.

Musang itu terkejut. Patukan serta tendangan kaki berjalu itu cukup mendatangkan nyeri walau pun tidak dapat melukai kulitnya yang terlindung bulu itu. Dia segera membalik dan kembali menerkam. Ayam itu mengelak lagi sambil terbang dan kembali sudah menerjang dari atas dan hal ini terjadi berkali-kali.

Bi Lian menonton dengan hati tegang. Walau pun sambarannya dapat mengenai kepala musang dengan tepat, akan tetapi tenaga ayam itu tidak cukup kuat untuk melukai kepala musang yang terlindung bulu apa lagi merobohkannya. Sedangkan sebaliknya, sekali saja terkaman musang itu mengenai sasaran, tentu leher atau perut ayam itu kena digigit dan akan tamatlah riwayat ayam yang pemberani itu.

Ketika dia menengok ke arah ayah ibunya, dia melihat kedua orang itu masih saja seperti tadi, tidak pernah berkedip mengikuti perkelahian itu dengan pandang mata mereka. Dan kembali seperti tadi, beberapa kali ayahnya mengangguk-angguk gembira.

Musang itu agaknya marah sekali. Kembali dia menubruk dan ketika ayam itu mengelak ke atas, musang itu tiba-tiba saja berdiri di atas kaki belakang dan kedua kaki depannya mencoba untuk menangkap ke atas.

Akan tetapi dengan sekali mengebutkan sayapnya yang dikembangkan, ayam itu kembali luput sebab tubuhnya naik ke atas kemudian secara tiba-tiba sekali dia membalas dengan patukan dan cakaran, tak lagi menendang melainkan mencakar. Dengan kuku-kuku yang menjadi kuat dan tebal, juga runcing melengkung karena setiap hari dipergunakan untuk menggaruk-garuk tanah keras mencari cacing itu, kedua kaki itu lantas mencakar ke arah moncong musang, sedangkan paruhnya yang juga runcing melengkung dan sangat keras itu mematuk ke arah mata kiri.

"Bresss...!"

Musang itu mengeluarkan suara seperti tikus terjepit batu, lantas dari hidung dan matanya mengucur darah! Mata kirinya pecah terpatuk dan hidungnya luka berdarah. Dia pun lari tunggang langgang dan menghilang ke dalam semak-semak jauh dari situ. Ayam hutan itu pun terbang ke atas, hinggap pada sebuah dahan pohon cemara dan dia pun berkeruyuk dengan sombongnya, dengan dada mengembung dan leher memanjang!

Bi Lian menjadi demikian gembiranya sehingga tanpa sadar dia pun melompat keluar dari tempat sembunyinya dan bertepuk tangan memuji. Begitu mendengar suara tepuk tangan ini, ayam jantan yang pemberani itu langsung terbang dan melarikan diri ketakutan sambil mengeluarkan teriakan berkokok panik!

Akan tetapi mendadak Bi Lian menghentikan tepuk tangannya dan memandang terbelalak melihat betapa ayah dan ibunya kini bersilat saling serang! Dia melihat ibunya menyerang dengan jurus-jurus dahsyat dari Kwan Im Sin-kun yang sedang dia pelajari dari mereka, jurus-jurus pilihan paling hebat.

Dari kedua tangan ibunya itu menyambar-nyambar angin pukulan yang lembut namun dia tahu bahwa di balik kelembutan itu terkandung tenaga dahsyat. Itulah kehebatan ilmu silat Kwan Im itu. Sesuai dengan sifat Dewi Kwan Im sendiri, Dewi Welas Asih yang terkenal lembut dan murah hati, akan tetapi di balik kelembutan itu terkandung kesaktian yang tak dapat dikalahkan oleh segala macam setan dan iblis!

Dia tidak merasa heran melihat ibunya menyerang ayahnya dengan ilmu silat itu. Tentu saja serangan-serangan ibunya amat hebat karena ibunya adalah ahli dalam ilmu silat itu yang tingkatnya sudah sejajar dengan ayahnya. Akan tetapi yang membuat dia bengong adalah ketika melihat ayahnya menghadapi serangan ibunya itu dengan gerakan-gerakan yang hampir saja memancing ketawanya.

Gerakan ayahnya itu mirip sekali dengan gerakan ayam jantan hutan berbulu emas tadi! Betapa ayahnya menggerak-gerakkan kepalanya ke depan dan belakang, betapa kepala itu kadang kala mengelak ke bawah dan ke belakang dengan gerakan melengkung sambil menjulurkan leher, kemudian kedua kaki itu berloncatan seperti lagak ayam jago berbulu kuning emas tadi.

Ketika ibunya menyerang dengan dahsyat, tiba-tiba ayahnya mengelak dengan loncatan ke atas, lalu dari atas dia menerkam ke bawah. Lengan baju kiri yang tidak berisi lengan itu meluncur ke arah mata, sedangkan tangan kanan mencengkeram ke arah hidung dan mulut, sementara kedua kaki juga menendang ke arah dada.

Teringatlah Bi Lian akan ‘jurus’ yang digunakan oleh ayam jago bulu emas tadi terhadap lawannya yang jauh lebih kuat, yaitu musang. Jurus itulah yang tadi membuat si musang berdarah pada mata dan hidungnya, kemudian membuat musang itu lari ketakutan.

"Ihhhh... bagus sekali...!" Ibunya melempar tubuh ke belakang sambil terhuyung. Ayahnya juga melompat turun dan keduanya tersenyum dengan wajah cerah.

Bi Lian adalah seorang gadis yang cerdik. Biar pun tadi dia terheran-heran dan juga geli, sekarang dia pun memandang kagum kepada mereka setelah dia mengerti.

"Aihh, kiranya Ayah dan Ibu sudah lama mempelajari gerakan ayam hutan jantan berbulu kuning emas itu untuk menciptakan ilmu silat baru! Pantas tadi kita harus berhati-hati agar jangan mengejutkannya!"

Ayah dan ibunya serentak mengangguk. "Ayam hutan berbulu kuning emas itu memang hebat bukan kepalang," kata ibunya. "Kami pernah melihat dia mengalahkan seekor ular, bahkan juga menghajar sampai mati seekor tikus hutan yang sangat besar. Dan sekali ini engkau melihat sendiri, bukan saja dia menghajar ayam hutan lain tadi, bahkan dia sudah berhasil mengalahkan seekor musang! "

"Gerakannya memang cepat, gesit dan cerdik. Kami dapat meniru beberapa gerakannya yang memang hebat sekali," sambung ayahnya. "Sudah beberapa tahun kami mengamati gerakannya dan baru pagi hari ini aku berhasil menyempurnakan beberapa jurus gerakan yang sudah lama kupelajari."

"Hebat sekali!" seru Bi Lian. "Lalu apa namanya ilmu silat yang Ayah Ibu ciptakan itu?"

"Kami beri nama Kim-ke Sin-kun (Silat Sakti Ayam Emas), selain memang berdasarkan banyak gerakan ayam hutan berbulu emas itu, juga disesuaikan dengan tempat ini yang disebut Kim-ke-kok (Lembah Ayam Emas). Tentu saja gerakan ayam hutan itu merupakan dasarnya, tapi dicampur dengan ilmu silat kami. Kau telah mempelajari gerakan ilmu silat kami, tentu akan mudah menguasai Kim-ke Sin-kun."

Bi Lian girang sekali mendengar ucapan ayahnya itu, dan mulai hari itu juga dia pun mulai mempelajari ilmu silat yang baru diciptakan oleh ayah ibunya itu. Seperti juga sifat seekor ayam jantan dari hutan yang masih liar, maka ilmu silat Kim-ke Sin-kun itu mengandung pula kecepatan, kegesitan, kewaspadaan alamiah dan kecerdikan yang disertai keliaran. Di samping itu, karena ilmu ini dipadukan dengan Kwan Im Sin-kun, maka mengandung kehalusan dan kelembutan pula, didorong oleh sinkang (tenaga sakti) yang amat dahsyat.

Selama tiga bulan Bi Lian mempelajari ilmu baru itu dengan tekunnya, juga memperdalam ilmu Kwan Im Sin-kun dan Kwan Im Kiam-sut. Seperti biasanya, pada pagi itu dia sedang berlatih di puncak yang sunyi di mana dia bersama ayah dan ibunya pernah melihat ayam hutan berbulu emas berkelahi.

Pagi hari itu ia sengaja meminjam pedang pusaka Kwan Im Po-kiam dari ayah ibunya dan menggunakan pedang itu untuk berlatih silat pedang Kwan Im Kiam-sut. Sebelumnya dia berlatih silat tangan kosong Kim-ke Sin-kun yang merupakan ilmu silat baru ciptaan orang tuanya itu.

Tiba-tiba Bi Lian menghentikan permainan pedangnya dan cepat menyarungkan pedang, kemudian pandang matanya ditujukan ke bawah. Dia melihat seorang penunggang kuda sedang membalapkan kudanya mendaki bukit itu. Kuda itu besar dan kuat, dan agaknya penunggangnya juga pandai sekali. Akan tetapi Bi Lian mengerutkan alisnya.....


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut

        15 Posting Terakhir

DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner