SI KUMBANG MERAH : JILID-40


Jalan menuju ke rumah ayah ibunya itu amat berbahaya jika dicapai dengan menunggang kuda yang dilarikan demikian cepatnya. Pada jalan mendaki itu ada bagian yang berbatu-batu kecil yang licin sekali. Seekor kuda yang berlari cepat dapat jatuh apa bila menginjak batu-batu kecil yang mudah runtuh ke bawah itu.

Bi Lian khawatir dan juga tertarik. Cepat ia menuruni puncak untuk melihat apa yang akan terjadi dengan penunggang kuda itu ketika melewati jalan yang berbahaya itu. Sebaiknya kalau dia dapat datang lebih dulu untuk memperingatkan penunggang kuda itu. Maka Bi Lian lalu mempergunakan kepandaiannya, berlari menuruni puncak seperti terbang untuk mendahului kuda itu.

Akan tetapi kuda itu berlari cepat sekali dan Bi Lian masih berada agak jauh di atas saat kuda itu telah memasuki jalan yang berbahaya itu. Akan percuma saja kalau dia berteriak memperingatkan, sebab selain jaraknya masih jauh sehingga ucapannya tentu tidak dapat ditangkap jelas, juga penunggang kuda yang belum dikenalnya itu belum tentu akan mau memperhatikan teriakan serta isyaratnya. Maka dia pun hanya memandang saja dengan hati khawatir.

Jika hanya kuda itu tergelincir dan jatuh saja, hal ini masih tidak mengkhawatirkan. Paling hebat penunggangnya akan terlempar dan lecet-lecet atau patah tulang saja. Akan tetapi di sebelah kiri jalan mendaki itu terdapat jurang yang menganga lebar dan sangat dalam. Kalau penunggang kuda itu sampai terlempar ke dalam jurang, akan habislah riwayatnya! Inilah yang mengkhawatirkan hatinya.

Penunggang kuda itu kini kelihatan jelas oleh Bi Lian. Seorang pria muda yang bertubuh tinggi besar sehingga serasi dengan kudanya yang juga besar dan kuat. Cara dia duduk di atas pelana kuda saja menunjukkan bahwa dia seorang penunggang kuda yang mahir. Duduknya tegak, lentur dan seolah-olah tubuhnya telah menjadi satu dengan kuda karena gerakan tubuhnya sesuai dengan gerakan kuda.

Sekarang kuda mulai memasuki jalan yang berbatu kerikil itu. Bi Lian memandang dengan penuh perhatian dan tepat seperti yang dikhawatirkannya, kuda itu segera saja tergelincir begitu keempat kakinya menginjak batu-batu kecil!

Agaknya kuda itu sudah melakukan perjalanan jauh dan dalam keadaan yang kelelahan pula. Peluh membasahi seluruh tubuhnya dan ketika binatang itu tergelincir, dia mencoba untuk mempertahankan tubuh dengan keempat kakinya. Akan tetapi setiap kali menginjak tanah dengan kuat, kakinya terpaksa menginjak batu kerikil pula sehingga tergelincir dan akhirnya kuda itu terjatuh, terpelanting dan keempat kakinya seperti ditarik dalam waktu yang bersamaan.

Bi Lian melihat kuda itu terjatuh, akan tetapi pada saat itu pula ia terbelalak kagum ketika melihat tubuh penunggang kuda itu tiba-tiba saja melayang ke atas, lantas berjungkir balik membuat salto sampai lima kali sebelum dia turun ke atas tanah dengan tegak. Dan baru nampak bahwa tubuh pemuda itu tinggi tegap, tubuh seorang pria yang jantan dan gagah sekali.

Dengan sikap amat tenang pemuda itu lalu menghampiri kudanya yang tak dapat bangkit kembali. Tadi kuda itu terjatuh, lalu tubuhnya meluncur kembali ke bawah karena jalan itu mendaki dan tubuhnya baru berhenti terseret ketika menumbuk batu besar yang berada di tepi jalan. Untung ada batu besar itu, jika tidak tentu tubuhnya akan terjerumus ke dalam jurang di balik batu itu.

Ketika pemuda itu berjongkok memeriksa kudanya, binatang itu hanya dapat menggerak-gerakkan sedikit kaki dan kepalanya, akan tetapi tak mampu bangkit. Agaknya tulang dua kaki depannya sudah patah, juga kepalanya terluka dan berdarah.

Pemuda itu memeriksa dengan teliti, kemudian mengambil buntalan pakaiannya dari atas punggung kuda. Diikatnya buntalan itu pada punggungnya, lalu pemuda itu memandang ke sekeliling. Sunyi tidak nampak orang lain. Lalu dia menjenguk ke dalam jurang di balik batu.

"Kuda yang baik, engkau telah banyak berjasa kepadaku. Terpaksa aku akan mengakhiri penderitaanmu. Selamat berpisah!" Mendadak tangan kanannya bergerak ke arah kepala kuda itu.

"Prakkk…!”

Kuda itu terkulai, terlihat kakinya tidak bergerak-gerak lagi. Kemudian pemuda itu menarik kaki kuda, dan dengan pengerahan tenaga, dia melemparkan bangkai kuda itu ke dalam jurang!

Bi Lian terbelalak, wajahnya berubah merah karena marah dan dia pun melompat keluar dari tempat pengintaiannya.

"Engkau manusia berhati iblis!" bentaknya marah sekali.

Pemuda itu sangat terkejut ketika tiba-tiba saja ada seorang gadis cantik jelita muncul di hadapannya, tangan kanan bertolak pinggang, tangan kiri menudingkan telunjuk kecil ke arah mukanya, sepasang mata itu mencorong penuh kemarahan dan seketika itu juga hati pemuda itu meloncat-loncat di dalam rongga dadanya, berjungkir balik dan dia jatuh hati!

"Apa...? Mengapa...? Aihh, Nona, kenapa Nona marah dan memaki aku? Siapakah Nona dan apa kesalahanku sehingga Nona memaki aku berhati iblis?" tanyanya dengan gugup karena kecantikan Bi Lian benar-benar membuat dia terpesona, salah tingkah dan hampir dia tidak percaya bahwa gadis itu seorang manusia, bukan seorang dewi dari langit!

"Manusia busuk! Kau kira tidak ada yang melihat perbuatanmu? Kau kira aku tidak tahu apa yang kau lakukan tadi? Engkau ini manusia berhati kejam. Kau tadi mengaku sendiri bahwa kuda itu telah banyak berjasa kepadamu. Akan tetapi engkau justru membunuhnya dan melempar bangkainya ke dalam jurang! Di samping kejam engkau juga telah merusak tempat ini sehingga aku tidak dapat membiarkan saja!"

"Ahh, itukah gerangan yang membuat engkau menjadi sangat marah, Nona?" Pemuda itu baru mengerti sekarang dan dia tersenyum.

Harus diakui oleh Bi Lian bahwa pemuda itu memang gagah. Selain tubuhnya tinggi tegap dan kokoh, juga wajah itu memiliki daya tarik yang sangat kuat ketika tersenyum. Akan tetapi bila mana mengingat akan perbuatannya tadi, hatinya tetap merasa penasaran dan marah sekali.

"Akan tetapi, Nona, perbuatanku tadi tidak merugikan siapa pun, juga tidak merugikanmu. Kuda itu adalah milikku sendiri, dan bangkainya pun kubuang ke dalam jurang yang dalam sehingga tidak akan mengganggu orang lain. Kenapa engkau marah-marah, Nona?"

"Masih bertanya mengapa aku marah? Pertama, melihat kekejamanmu tadi, engkau patut dihukum! Ke dua, tempat ini adalah tempat tinggal kami, dan engkau mengotori jurang itu dengan bangkai kuda yang nanti tentu akan mengeluarkan bau busuk. Dan engkau masih bertanya mengapa aku marah?"

Pemuda itu tidak tersenyum lagi, nampak terkejut dan heran mendengar ucapan itu. "Ahh, jadi bukit ini adalah tempat tinggalmu, Nona? Kalau begitu maafkanlah aku, Nona, sebab aku tidak mengerti dan..."

"Sudahlah! Engkau adalah orang yang kejam dan melihat engkau tadi telah mengeluarkan kepandaianmu, maka aku tahu bahwa engkau pandai silat. Agaknya kepandaian itu yang membuat engkau berhati kejam. Nah, majulah dan terimalah hukumanmu!"

Ditantang begitu, pemuda ini kelihatan gembira. Dia percaya akan kepandaiannya sendiri, dan tentu saja dia memandang rendah kepada seorang gadis yang kelihatan begitu cantik jelita dan lemah, walau pun gadis aneh itu mengaku pemilik bukit itu!

"Nona, aku tak ingin berkelahi denganmu, bahkan aku ingin berkenalan denganmu kalau engkau suka. Namaku Tan Hok Seng dan aku...”

"Aku tak ingin berkenalan denganmu, melainkan ingin menghukummu atas kekejamanmu tadi. Majulah!" Bi Lian sudah siap.

Pemuda yang mengaku bernama Tan Hok Seng itu sekarang tersenyum. "Nona, sudah kukatakan bahwa aku tak ingin berkelahi denganmu. Tetapi mengapa engkau mendesak dan menantangku? Ketahuilah, Nona, aku sama sekali tidak berbuat kejam terhadap kuda itu. Aku adalah seorang penyayang kuda dan selama ini kuda itu menjadi sahabat baikku. Tetapi setelah tadi dia terjatuh dan kuperiksa, ternyata tulang kedua kaki depannya sudah patah dan kepalanya juga retak. Tiada harapan hidup lagi baginya. Bagaimana aku dapat membiarkan dia menderita terlampau lama? Lebih baik dia dibunuh saja untuk mengakhiri penderitaannya."

Bi Lian bukan seorang gadis bodoh atau seorang yang masih belum matang. Sebaliknya dia adalah seorang gadis dewasa gemblengan yang sudah banyak pengalaman, seorang pendekar wanita yang tentu saja selalu berpikir panjang dan berpemandangan luas.

Dia dapat menerima alasan yang dikemukakan pemuda tinggi tegap, tampan dan gagah itu, dan dia sudah tidak lagi menyalahkan pemuda itu. Mungkin agak terlalu keras, namun apa yang dilakukan oleh pemuda itu terhadap kudanya memang merupakan satu-satunya jalan untuk mengakhiri penderitaan binatang yang disayangnya itu.

Namun diam-diam timbul keinginannya untuk menguji sampai di mana kehebatan pemuda gagah perkasa ini. Kalau saja ia tadi tidak melihat pemuda itu menghindarkan diri terbawa jatuh bersama kudanya dengan membuat pok-sai (salto) sedemikian indahnya, kemudian melihat betapa sekali pukul saja pemuda itu dapat membunuh kudanya, tentu tidak timbul keinginan hatinya untuk menguji kepandaian pemuda itu.

"Sudahlah, cukup! Aku tidak ingin berpanjang cerita lagi. Engkau sudah mengotori tempat tinggal kami dengan bangkai kuda di dalam jurang itu. Kini hanya ada dua pilihan bagimu. Engkau ambil bangkai kuda itu lantas kau kuburkan baik-baik agar tidak menimbulkan bau busuk, atau engkau harus menghadapi seranganku!"

Pemuda yang bernama Tan Hok Seng itu mengerutkan alisnya yang hitam dan berbentuk golok, akan tetapi mulutnya masih tersenyum. Dia menjenguk ke bawah jurang, kemudian menarik napas panjang.

"Nona, bagaimana mungkin aku menuruni jurang ini untuk mengambil bangkai kuda itu?" katanya.

Tentu saja Bi Lian maklum akan ketidak mungkinan ini, karena itu dia justru mengajukan pilihan itu sehingga takkan ada piihan lain bagi pemuda itu kecuali menandinginya!

"Hemm, kalau engkau tidak dapat mengambilnya dan menguburnya, maka engkau harus menandingiku!" Lalu dia segera menambahkan. "Tentu saja kalau engkau bukan seorang pengecut yang takut menerima tantanganku!"

Biar pun pada dasarnya Bi Lian mempunyai jiwa pendekar, namun dia pernah menerima gemblengan dua orang datuk sesat, yaitu Pak Kwi Ong dan Tung Hek Kwi, maka sedikit banyak watak ugal-ugalan menular kepadanya dan dia dapat bersikap keras mau menang sendiri!

Tan Hok Seng menarik napas panjang, akan tetapi matanya yang agak lebar itu bersinar dan wajahnya berseri. Dia kagum bukan main dan harus diakuinya dalam hati bahwa dara yang berdiri di depannya itu bukan main cantiknya.

Tubuhnya padat ramping dengan lekuk lengkung yang menunjukkan bahwa dara itu telah matang dan dewasa. Kulitnya putih mulus dan kulit muka serta lehernya demikian halus, tangannya begitu kecil lembut sehingga sukar dipercaya bahwa tangan selembut itu dapat bermain silat dan memukul orang.

Rambut yang panjangnya sampai pinggang itu dikuncir. Sepasang matanya demikian jeli dan tajam sinarnya, hidung kecil mancung, mulut yang menggairahkan dengan bibir yang basah kemerahan. Manisnya masih ditambah oleh tahi lalat kecil di dagu. Bukan main!

"Nona, sungguh aku tidak ingin bermusuhan denganmu, apa lagi sampai berkelahi. Akan tetapi bukan berarti aku pengecut atau takut kepadamu. Tapi...”

"Sudahlah, kau sambut seranganku ini!" bentak Bi Lian yang ingin berkelahi bukan karena marah, melainkan karena ingin tahu hingga di mana kepandaian pemuda yang gagah dan tampan ini.

Hok Seng langsung mengelak karena dari sambaran tangan yang lembut itu datang angin pukulan yang sangat kuat. Dia terkejut dan sambil mengelak, dia pun membalas dengan tamparan ke arah pundak. Dia masih sungkan karena melihat kecantikan gadis itu, maka yang diserang hanyalah pundak lawan.

Bi Lian melihat betapa gerakan pemuda itu cukup tangkas, dengan jurus silat yang baik, kalau dia tidak salah menilai, dari aliran silat Bu-tong-pai. Maka dia pun cepat menangkis untuk mengukur sampai di mana besarnya tenaga pemuda itu.

"Dukkk!"

Lengan Hok Seng terpental dan dia meringis kesakitan. Tidak disangkanya bahwa lengan kecil gadis itu mengandung tenaga yang begitu kuatnya sehingga dia merasa lengannya bertemu dengan sepotong baja, bukan lengan gadis yang halus.

"Huhh, jangan memandang rendah kepadaku! Kerahkan semua tenagamu dan keluarkan semua kepandaian silatmu!" Bi Lian mengejek, karena tahu bahwa pemuda itu tadi tidak mengerahkan semua tenaganya.

Hok Seng terkejut ketika Bi Lian kembali menyerang dengan kecepatan luar biasa. Tubuh gadis itu bergerak seperti bayangan saja, karena memang Bi Lian mengerahkan ginkang (ilmu meringankan tubuh) yang dia warisi dari mendiang Pak Kwi Ong si ahli ginkang. Dia juga menggunakan ilmu silat yang diwarisinya dari Tung Hek Kwi, mengandalkan sinkang dan dengan ilmu silat ini dia dapat membuat lengannya mulur hingga bertambah panjang hampir setengah lengan!

Hok Seng berusaha melawan dengan gerakan cepat dan mencoba untuk membalas. Akan tetapi sebentar saja dia menjadi pening karena harus memutar-mutar tubuhnya mengikuti gerakan Bi Lian yang menyambar-nyambar bagaikan burung walet. Biar pun cukup gesit dan bertenaga besar, namun di dalam hal ilmu silat ternyata pemuda itu masih kalah jauh jika dibandingkan dengan Bi Lian. Padahal Bi Lian belum memainkan ilmu silat yang baru saja dia pelajari dari ayah ibunya!

Bi Lian pun maklum akan hal ini, maka dia pun tidak menjatuhkan tangan maut kepada Hok Seng, hanya menyerang bertubi-tubi untuk mengacaukan perlawanannya saja. Kalau dia menghendaki, tentu pemuda itu tak akan mampu bertahan lebih dari dua puluh jurus!

Tiba-tiba saja nampak dua sosok bayangan orang berkelebat di tempat itu dan terdengar seruan nyaring berwibawa, "Hentikan perkelahian!"

Mendengar suara ayahnya, Bi Lian cepat meloncat ke belakang, mendekati ayah ibunya yang segera memandang ke arah Hok Seng. Mereka tadi melihat betapa puteri mereka menyerang seorang pemuda yang mencoba untuk membela diri mati-matian, akan tetapi hati mereka lega karena melihat bahwa Bi Lian sama sekali tidak bermaksud mencelakai orang itu yang kalah jauh dibandingkan puteri mereka.

"Ayah dan Ibu, orang ini sudah membunuh kudanya yang jatuh terluka lantas membuang bangkainya ke dalam jurang." Bi Lian langsung melapor karena tidak ingin dipersalahkan. "Aku melihatnya sebagai hal yang kejam, dan dia mencemarkan udara ini dengan bangkai kuda yang tentu akan membusuk di dalam jurang lalu baunya akan mengotorkan udara di sini. Maka kutantang dia!"

"Aihh, engkau ini mencari gara-gara saja, Bi Lian." tegur ibunya.

Melihat gadis itu ditegur ibunya, Hok Seng cepat memberi hormat kepada suami isteri itu, merangkap kedua tangan dan membungkuk dengan sikap sopan sekali.

"Mohon maaf kepada Paman dan Bibi yang terhormat karena secara lancang saya telah melanggar wilayah tempat tinggal ji-wi (kalian berdua). Sebenarnya Nona ini tak bersalah dan sayalah yang bersalah. Kuda saya itu kelelahan sehingga terpeleset dan jatuh di sini, kedua kaki depannya patah dan kepalanya retak. Untuk mengakhiri penderitaannya maka terpaksa saya membunuhnya dan membuang bangkainya ke dalam jurang dengan tujuan agar tidak mengganggu orang yang lewat di sini. Tetapi saya telah melakukan kesalahan karena tanpa disadari saya telah membuangnya ke jurang sehingga mengotorkan udara di sini...”

Suami isteri itu memandang dengan senyum. Hati mereka tertarik dan merasa suka sekali kepada pemuda gagah tampan yang pandai membawa diri itu.

"Orang muda, kami yang minta maaf kepadamu untuk anak kami. Walau pun kami tinggal di daerah ini, akan tetapi tentu saja kami tidak menguasai seluruh bukit dan lembah. Dan engkau tidak dapat dipersalahkan kalau membuang bangkai kudamu itu ke dalam jurang. Anak kami sudah bersikap tidak sepatutnya, harap engkau suka menyudahi saja urusan ini."

"Dengan segala senang hati, Paman. Lagi pula, apa daya saya seorang yang bodoh dan lelah ini terhadap nona yang demikian tinggi ilmunya? Tadi pun saya sudah merasa segan melawannya, akan tetapi karena nona mendesak terpaksa saya..."

"Sudahlah!" kata Bi Lian. "Bukankah ayahku sudah mengatakan agar urusan ini disudahi saja? Ataukah engkau masih merasa penasaran?" karena tidak ingin terus dipersalahkan, gadis itu membentak.

"Bi Lian! Tidak pantas bersikap kasar kepada seorang tamu!" kata ibunya.

"Orang muda, apa yang diucapkan isteriku itu benar. Engkau adalah seorang tamu, maka kami persilakan berkunjung ke rumah kami di sana!" Dengan tangan kanannya Siangkoan Ci Kang menunjuk ke belakang.

Tan Hok Seng memang sudah kagum bukan main kepada Bi Lian. Pertama kali bertemu tadi sudah menjadi tergila-gila oleh kecantikan gadis itu, kemudian setelah bertanding, dia kagum bukan main melihat bahwa gadis itu selain cantik jelita juga memiliki ilmu silat yang sangat tinggi sehingga dia yang biasanya membanggakan kepandaiannya, sekali ini sama sekali tidak berdaya!

Maka, ketika ayah ibu gadis itu muncul, dia yang sudah kagum sekali kepada keluarga ini mempunyai niat untuk dapat menjadi murid suami isteri yang tentu sangat sakti itu. Tentu saja Hok Seng menjadi gembira bukan main ketika mendengar undangan itu, akan tetapi dengan rendah hati dia menjawab.

"Ahhh, saya hanya akan mengganggu dan membikin repot saja kepada Paman dan Bibi yang terhormat...”

"Ahh, jangan sungkan, orang muda. Terimalah undangan kami jika engkau memang mau memaafkan anak kami," kata Siangkoan Ci Kang dan isterinya juga mengangguk ramah.

Diam-diam Hok Seng girang bukan main. Apa yang ditemukan di Kim-ke-kok ini ternyata jauh melebihi apa yang telah didengarnya. Ketika tiba di kaki pegunungan Heng-tuan-san, dia telah mendengar dari para penduduk dusun di sekitar daerah itu bahwa di Kim-ke-kok tinggal sepasang suami isteri yang oleh para penduduk di sana dikenal sebagai pendekar sakti yang suka menolong para penduduk. Tertariklah hatinya, apa lagi ketika mendengar bahwa selama beberapa bulan ini sepasang pendekar itu kedatangan seorang dara cantik jelita yang kabarnya adalah puteri mereka.

Kini, begitu melihat gadis itu, dia sudah kagum bukan main. Apa lagi setelah ayah ibunya muncul. Seorang lelaki berusia empat puluh tahun lebih yang tinggi tegap, lengan kirinya buntung akan tetapi sikapnya demikian gagah dan berwibawa.

Dan isterinya juga merupakan tokoh yang tak kalah menariknya. Seorang wanita berusia empat puluh tahun lebih sedikit, wajahnya agak kepucatan namun cantik dan dengan raut wajah yang agung. Juga bentuk tubuhnya masih padat dan indah seperti seorang gadis saja.

Kiranya mereka inilah sepasang suami isteri pendekar yang dipuji-puji oleh para penduduk dusun itu. Dan meski pun dia belum pernah melihat mereka mempergunakan kepandaian, baru melihat kelihaian puteri mereka saja, tetapi dia sudah dapat membayangkan betapa saktinya suami isteri itu.

Dengan sikap hormat Tan Hok Seng lalu mengikuti suami isteri itu bersama puteri mereka ke sebuah rumah yang berdiri di lembah, pada bagian yang datar dan subur. Rumah itu nampak mungil, namun terpelihara rapi dengan taman bunga yang penuh dengan bunga beraneka warna.

Meski pun di dalam hatinya Bi Lian kagum juga kepada pemuda yang tampan gagah dan bersikap lembut itu, namun di sudut hatinya masih terdapat kekecewaan bahwa ilmu silat pemuda itu masih amat rendah dibandingkan dia sendiri. Maka begitu pemuda itu diterima ayah ibunya duduk di ruangan tamu, dia lalu mengundurkan diri dengan dalih membantu pelayan di belakang.

"Orang muda, siapakah engkau, datang dari mana dan ada keperluan apa maka engkau berkunjung ke lembah ini?" tanya Siangkoan Ci Kang, akan tetapi suaranya yang lembut tidak menimbulkan kesan bahwa dia menyelidiki keadaan pemuda itu.

Pemuda itu kelihatan berduka sekali ketika mendengar pernyataan ini. Bukan kedukaan buatan, melainkan benar-benar dia merasa berduka dan merasa betapa nasibnya sangat buruk.

"Paman, saya adalah seorang yang hidup sebatang kara dan sudah tertimpa mala petaka dan penasaran besar," dia mulai menceritakan keadaan dirinya. Karena sudah mengambil keputusan untuk kalau mungkin berguru kepada suami isteri pendekar ini, maka dia tidak ragu-ragu lagi untuk menceritakan riwayatnya.

"Saya adalah seorang yatim piatu. Dengan susah payah serta kerja keras akhirnya saya berhasil menjadi seorang perwira. Akan tetapi nasib saya sungguh malang, saya difitnah orang yang menginginkan kedudukan saya sehingga saya dijatuhi hukuman buang oleh pemerintah! Untung bahwa di dalam perjalanan ke tempat pembuangan saya ditolong oleh seorang pendekar yang tak mau memperkenalkan dirinya sehingga saya bisa bebas, lalu saya melarikan diri. Dalam perjalanan melarikan diri dari kemungkinan pengejaran petugas keamanan kota raja maka hari ini saya sampai ke tempat ini."

"Hemm, begitukah?" Siangkoan Ci Kang menatap tajam untuk menyelidiki apakah cerita itu dapat dipercayan. Akan tetapi pemuda itu membalas tatapan matanya dengan penuh keberanian dan keterbukaan, dan ini saja sudah membuktikan bahwa ceritanya memang benar.

"Siapakah namamu, orang muda?"

"Nama saya Tan Hok Seng, Paman. Dan melihat kehebatan ilmu silat puteri Paman dan Bibi tadi, timbul keinginan hati saya, apa bila kiranya Paman dan Bibi sudi menerimanya, saya ingin sekali berguru kepada Paman dan Bibi di sini. Biarlah saya bekerja apa saja di sini, sebagai pelayan, tukang kebun atau pesuruh, asal Paman dan Bibi suka menerima saya sebagai murid." Setelah berkata demikian, langsung saja Hok Seng menjatuhkan diri berlutut di depan suami isteri itu.

Siangkoan Ci Kang dan Toan Hui Cu saling bertukar pandang. Suami isteri yang sudah bisa mengetahui isi hati masing-masing hanya melalui pandang mata saja itu saling kedip kemudian dengan lembut Toan Hui Cu mengangguk.

Suami isteri ini sebenarnya sama sekali tidak memiliki keinginan untuk mengambil murid baru. Bagi mereka, seorang murid seperti Pek Han Siong sudah cukup, terlebih lagi masih ada puteri mereka yang sudah mewarisi ilmu-ilmu mereka. Akan tetapi apa yang mereka harapkan, yaitu agar Han Siong menjadi menantu mereka telah gagal dan mereka merasa kecewa bukan main.

Baru saja mereka membicarakan urusan perjodohan puteri mereka. Mereka sudah ingin sekali mempunyai mantu dan memiliki cucu. Maka kemunculan seorang pemuda seperti Tan Hok Seng itu mempunyai arti besar bagi mereka, menumbuhkan suatu harapan baru.

Biar pun baru saja berjumpa, namun banyak hal pada diri pemuda ini yang telah menarik perhatian mereka. Pertama, Tan Hok Seng adalah seorang pemuda yang cukup dewasa, berusia dua puluh lima tahun lebih, dan yatim piatu pula. Dia cukup tampan dan gagah, juga sikapnya sangat sopan, baik dan agaknya terpelajar. Sungguh merupakan gambaran seorang calon mantu yang baik. Mengenai ilmu silat, kepandaiannya juga tidak terlampau rendah, dan dengan gemblengan yang keras, dalam waktu tak terlalu lama tentu dia akan memperoleh kemajuan pesat.

"Tan Hok Seng, bangkit dan duduklah. Permintaan itu akan kami pertimbangkan sesudah engkau tinggal beberapa hari di sini. Karena kami belum mengenal benar siapa engkau, maka kami tentu tidak dapat tergesa-gesa menerimamu sebagai murid," kata Siangkoan Ci Kang dan isterinya segera menyambung dengan pertanyaan.

"Orang muda, selain yatim piatu apakah engkau tidak mempunyai seorang pun anggota keluarga? Kakak atau adik, paman atau bibi, mungkin isteri atau tunangan?"

Pertanyaan ini hanya sambil lalu dan tidak kentara, akan tetapi Tan Hok Seng bukanlah seorang pemuda hijau. Dia dapat menangkap apa yang tersembunyi di balik pertanyaan itu dan diam-diam dia pun merasa girang bukan main. Kalau saja selain menjadi murid suami isteri yang sakti ini juga dapat menjadi menantu mereka! Gadis tadi sungguh cantik manis menggairahkan!

"Saya hidup sebatang kara, Bibi, tidak ada sanak tidak ada kadang, apa lagi keluarga."

Mendengar ini, kembali suami isteri itu bertukar pandang. Mereka sungguh mengharapkan agar sekali ini puteri mereka akan bisa menemukan jodohnya. Atas pertanyaan pasangan suami isteri itu, Tan Hok Seng kemudian menuturkan pengalamannya, sampai dia difitnah sehingga selain kehilangan kedudukan dan pekerjaannya, bahkan dia dihukum buang pula oleh pemerintah.

"Sejak kecil saya sudah kehilangan orang tua yang meninggal dunia karena sakit. Saya hidup terlunta-lunta, mengembara, dan menyadari bahwa saya akan hidup sengsara kalau tidak mempunyai kepandaian, maka sejak kecil saya bekerja sambil belajar. Banyak yang saya pelajari dengan biaya hasil pekerjaan saya memburuh. Mempelajari ilmu baca tulis sampai sastera, dan terutama sekali mempelajari ilmu-ilmu silat dari mana pun. Sesudah dewasa, dengan bekal ilmu-ilmu yang saya pelajari, saya berhasil mendapatkan pekerjaan di kota raja sebagai seorang prajurit pengawal istana. Karena ketekunan serta kerajinan saya, maka dalam waktu beberapa tahun saja saya menerima kenaikan pangkat sampai akhirnya menjadi seorang perwira pengawal."

Suami isteri itu mendengarkan dengan hati senang. Pemuda ini sungguh mengagumkan. Sejak kecil yatim piatu dan hidup sebatang kara, namun mampu memperoleh kemajuan yang hebat sampai menjadi seorang perwira pasukan pengawal istana! Dari kemajuan ini saja dapat dijadikan ukuran bahwa Tan Hok Seng memang seorang pemuda yang penuh semangat.

"Kemudian, bagaimana tentang fitnah itu?" tanya Siangkoan Ci Kang dengan hati tertarik.

Hok Seng menghela napas panjang. "Itulah, Suhu..." Pemuda itu tergagap karena keliru menyebut suhu (guru), "maafkan teecu (murid)..."

Siangkoan Ci Kang tersenyum dan mengangguk, "Tidak apa-apa, engkau boleh menyebut guru kepadaku."

Mendengar ini, Hok Seng menjadi gembira bukan kepalang dan dia segera menjatuhkan dirinya lagi, berlutut dan memberi hormat kepada suami isteri itu dengan menyebut ‘Suhu’ dan ‘Subo’.

Suami isteri itu saling pandang dan tersenyum. Sekarang mereka tidak ragu lagi sehingga tidak perlu menanti sampai beberapa hari. Mereka percaya kepada pemuda ini dan suka menerima sebagai murid, bahkan dengan harapan untuk mengambil pemuda ini sebagai calon mantu, pengganti Pek Han Siong yang sudah ditolak oleh puteri mereka.

"Bangkit dan duduklah, Hok Seng, lalu lanjutkan ceritamu kepada kami," kata Siangkoan Ci Kang.

"Suhu, agaknya kemajuan serta keberuntungan teecu di kota raja itu menimbulkan iri hati kepada teman-teman dan rekan-rekan karena di antara mereka ada yang telah bertahun-tahun menjadi prajurit pengawal namun tidak pernah mendapatkan kenaikan. Sedangkan teecu dalam beberapa tahun saja sudah mendapatkan beberapa kali kenaikan pangkat. Nah, pada suatu hari istana ribut-ribut akibat kehilangan peti kecil terisi perhiasan seorang puteri istana, dan aneh sekali, peti itu kemudian ditemukan di dalam kamar teecu!"

"Hemmm, dan engkau tidak mencuri peti perhiasan itu, Hok Seng?" Toan Hui Cu bertanya sambil memandang tajam.

"Subo, bagaimana mungkin teecu mencuri? Selamanya teecu tidak pernah mencuri. Lagi pula bagaimana mungkin teecu dapat mencuri peti perhiasan yang berada di dalam istana bagian puteri? Hanya para thai-kam (kebiri) sajalah yang dijinkan memasuki bagian puteri. Itu jelas fitnah."

"Hemm, kalau fitnah, bagaimana peti perhiasan itu dapat ditemukan di dalam kamarmu?" Siangkoan Ci Kang bertanya.

"Itulah yang mencelakakan teecu, Suhu. Teecu tidak tahu bagaimana peti itu bisa berada di dalam kamar teecu dan tersembunyi di bawah pembaringan. Jelas bahwa ini perbuatan seorang yang sengaja melempar fitnah kepada teecu. Akan tetapi karena bukti ditemukan di kamar teecu, teecu tidak mampu banyak membela diri. Teecu hanya dijatuhi hukuman buang, karena Sribaginda Kaisar masih mengingat akan jasa-jasa teecu maka teecu tidak dihukum mati. Akan tetapi dalam perjalanan melaksanakan hukuman buang itu, di tengah perjalanan muncullah seorang pendekar berkedok yang membebaskan teecu bahkan juga memberi bekal uang emas kepada teecu tanpa memberi kesempatan kepada teecu untuk mengenal mukanya atau namanya."

"Ahh, kalau orang benar ada saja penolong datang," kata Toan Hui Cu dengan girang.

Akan tetapi Siangkoan Ci Kang mengerutkan alisnya lantas bertanya kepada pemuda itu. "Tahukah engkau siapa yang melakukan fitnah sekeji itu kepadamu?"

"Teccu dapat menduga orangnya, akan tetapi tidak ada buktinya. Yang meyakinkan hati teecu adalah karena dialah yang mendapat kedudukan menggantikan teecu setelah teecu dihukum."

"Engkau mendendam kepada orang itu?" kembali Siangkoan Ci Kang bertanya, suaranya tegas dan pandang matanya mencorong dan penuh selidik menatap wajah pemuda itu.

Tan Hok Seng adalah seorang pemuda yang amat cerdik. Dia banyak membaca sehingga tahu bagaimana watak para pendekar. Seorang pendekar sejati tak akan mudah dikuasai nafsu, demikian dia membaca. Seorang pendekar sejati tidak akan membiarkan nafsu dan dendam kebencian meracuni hatinya. Maka, mendengar pertanyaan itu dengan tegas dan mantap dia pun menjawab,

"Sama sekali tidak, Suhu! Teecu tidak mendendam, hanya kelak kalau ada kesempatan dan kalau kepandaian teecu memungkinkan, teecu ingin menyelidiki siapa sesungguhnya yang mencuri peti perhiasan lalu menyembunyikan di dalam kamar teecu itu."

"Hemmm, apa bedanya itu dengan mendendam? Dan kalau engkau berhasil menemukan orangnya, lalu apa yang akan kau lakukan?"

Kalau saja Tan Hok Seng bukan seorang pemuda cerdik dan hanya menuruti panasnya hati saja, kemudian menjawab bahwa dia akan membunuh orang itu, tentu suami isteri itu akan kecewa dan belum tentu mereka dapat menerimanya dengan hati bulat. Akan tetapi Hok Seng tahu apa yang harus menjadi jawabannya.

"Teecu akan melaporkan ke pengadilan supaya ditangkap sehingga dapat membersihkan nama teecu yang telah difitnah."

Jawaban ini melegakan hati Siangkoan Ci Kang dan Toan Hui Cu. Dan untuk menjenguk isi hati calon murid ini, Siangkoan Ci Kang bertanya lagi, "Apa bila namamu sudah bersih, apakah engkau masih menginginkan kembali jabatan dan kedudukan itu?"

"Tidak sama sekali, Suhu. Teecu telah bosan dengan kedudukan itu sebab di sana terjadi banyak kebusukan. Persaingan, fitnah, sogok-menyogok, kecurangan dan mementingkan diri sendiri. Hampir semua pejabat hanya memikirkan bagaimana untuk mendapat untung sebanyaknya. Teecu sudah muak dengan semua keadaan itu."

Bukan main girang hati suami isteri itu. "Baiklah, Hok Seng. Mulai hari ini engkau menjadi murid kami dan kami berharap engkau menjadi murid yang baik. Untuk mengetahui dasar yang ada padamu, cobalah engkau mainkan semua ilmu silat yang pernah kau pelajari."

Mereka pergi ke lian-bu-thia dan belum lama mereka memasuki ruangan berlatih silat ini, Bi Lian menyusul mereka. Gadis ini merasa heran melihat betapa tamu itu diajak masuk ke lian-bu-thia (ruangan berlatih silat) oleh ayah ibunya. Ketika dia bertanya, dia merasa semakin heran mendengar penjelasan ibunya.

"Bi Lian, Tan Hok Seng telah kami terima menjadi murid kami. Mulai sekarang dia adalah sute-mu, tetapi engkau boleh menyebut suheng (kakak seperguruan) karena dia tebih tua darimu. Dan Hok Seng, engkau boleh menyebut sumoi (adik seperguruan) kepada puteri kami Siangkoan Bi Lian ini."

"Sumoi...!" Hok Seng cepat mengangkat kedua tangan di depan dada menyalam gadis itu. Sikap ini saja sudah menunjukkan bahwa pemuda itu menghormatinya, bahkan tak segan memberi hormat lebih dahulu biar pun dia mendapat kehormatan untuk menjadi saudara tua.

Diam-diam Bi Lian tidak puas. Bagaimana pun juga, pemuda itu baru saja menjadi murid ayah ibunya, dan dalam ilmu silat jauh berada di bawah tingkatnya, mana pantas menjadi suheng-nya? Akan tetapi rasanya tidak enak juga kalau disebut suci (kakak seperguruan) oleh pemuda yang usianya beberapa tahun lebih tua darinya. Hal itu akan mendatangkan perasaan cepat tua di dalam hatinya. Maka dia pun tidak membantah dan dia membalas penghormatan Hok Seng sambil berkata lirih.

"Selamat menjadi murid ayah dan ibu, Suheng."

Demikianlah, sejak hari itu Tan Hok Seng menerima gemblengan dari dua orang gurunya sesudah memperlihatkan seluruh ilmu silat yang pernah dipelajarinya. Menurut penilaian Siangkoan Ci Kang dan Toan Hui Cu, ternyata dasar ilmu silat pemuda ini sudah cukup lumayan.

Dia telah mempelajari bermacam-macam ilmu silat, hanya tenaga dasar sinkang-nya yang kurang, sebab itu Siangkoan Ci Kang memberi pelajaran berlatih dan menghimpun tenaga sinkang. Sedangkan Toan Hui Cu mengajarkan silat Kwan Im Sin-kun, bahkan sepasang suami isteri itu kemudian mengajarkan ilmu baru mereka, yaitu Kim-ke Sin-kun.....

********************


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner