SI KUMBANG MERAH : JILID-42


Walau pun sudah keluar dari lingkungan istana, namun Kui Hong tetap berada tidak jauh dari tempat itu, tepatnya dia menanti sambil mengintai dari sebuah tempat tersembunyi di dekat pintu gerbang bagian depan istana. Dari tempat ini dia dapat memperhatikan semua orang yang keluar dari pintu gerbang itu, akan tetapi dia sendiri tidak akan terlihat karena tubuhnya terlindung oleh sebatang pohon besar.

Ketika menunggu, waktu terasa merambat amat perlahan seperti keong berjalan, apa lagi bagi seorang gadis muda seperti Kui Hong yang harus menanti pada tengah malam dan di tengah hawa udara yang demikian dingin. Karena itu tidak mengherankan apa bila lama kelamaan gadis ini mulai merasa bosan dan mengeluh, bahkan kadang-kadang kelihatan bibirnya berkomat-kamit mengomel, biar pun dilakukan dengan bisik-bisik saja.

Tidak terlihat seorang pun yang keluar dari pintu gerbang itu, biar pun dari pos penjagaan di sampingnya dia dapat mendengar nada yang ribut-ribut, karena udara dingin membuat orang malas keluar sebelum matahari terbit. Dan dia memperhitungkan bahwa laki-laki itu tentu tidak akan mengeram diri di dalam istana bagian puteri itu sampai matahari terbit.

Akan tetapi omelan yang keluar dari mulut mungil itu makin larut malam semakin menjadi-jadi penuh kedongkolan karena malam telah hampir lewat sedangkan orang yang dinanti-nanti itu belum juga muncul. Akhirnya, sesudah kesabarannya hampir habis, ketika ayam jantan mulai berkokok, nampak orang itu keluar dari pintu gerbang istana yang terdepan.

Seorang perwira setengah tua yang pakaiannya mewah serta langkahnya gagah. Ketika orang itu melewati pintu gerbang yang diterangi lampu besar, dia dapat melihat wajahnya secara jelas dan dengan girang dia mengenal orang itu sebagai bayangan yang semalam disambut di dalam pondok hijau oleh lima orang selir kaisar.

Dia membiarkan orang itu lewat, kemudian diam-diam membayangi. Orang itu melangkah terus bagaikan setengah melamun, agaknya masih mabok kesenangan yang dinikmatinya semalam suntuk tadi. Melihat betapa orang itu melangkah biasa saja, agaknya tak curiga dengan keadaan sekitarnya, tidak menoleh ke kanan kiri, Kui Hong lalu membayangi dari jarak agak dekat.

Di sinilah letak kesalahan Kui Hong. Dia terlalu memandang rendah terhadap orang yang dibayanginya itu. Dia sama sekali tidak tahu bahwa orang yang dibayanginya itu memang benar Ang-hong-cu seperti yang diduganya semula, tetapi dugaan itu dibuangnya karena melihat bahwa wajah perwira Tang Bun An itu berbeda dengan wajah Ang-hong-cu yang pernah dilihatnya sebagai Han Lojin.

Dia lupa akan cerita Ling Ling atau Cia Ling bahwa pria yang memperkosanya itu selain tubuhnya berbau harum cendana, juga wajahnya halus tanpa kumis dan jenggot! Hal itu menunjukkan bahwa kemunculan Han Lojin yang berkumis dan berjenggot hanyalah hasil penyamaran, dan apa bila benar Han Lojin adalah Ang-hong-cu dan pemerkosa Cia Ling, maka kumis dan jenggot yang pada saat itu terpasang di wajahnya tentu hanyalah kumis dan jenggot palsu belaka.

Biar pun Kui Hong memiliki gerakan yang cepat dan ringan, namun diam-diam Tang Bun An sudah mengetahui bahwa dirinya sedang dibayangi orang. Diam-diam perwira ini amat terkejut. Dia tidak tahu siapa yang membayanginya dan mengapa ada orang membayangi dirinya. Timbul kekhawatiran di dalam hatinya. Jangan-jangan orang ini telah membayangi sejak tadi malam sehingga tahu akan apa yang dilakukannya bersama para selir di dalam istana.

Ahh, tidak mungkin, dia membantah kekhawatirannya sendiri. Betapa mungkin ada orang yang dapat membayanginya keluar dari istana tanpa diketahuinya? Kalau orang itu sudah membayanginya sejak keluar dari istana, tentu para penjaga akan mengetahui kemudian timbul ribut-ribut di gerbang itu. Akan tetapi hal itu tidak terjadi, dan sejak tadi suasana di sana sunyi senyap saja.

Tang Bun An adalah seorang yang amat percaya terhadap dirinya sendiri, selalu merasa yakin akan kepandaiannya. Selama ini dia malang melintang di dunia kangouw dan belum pernah sekali pun ada orang yang berhasil menangkapnya. Beberapa orang yang secara kebetulan berhasil memergokinya dapat diatasi dengan kepandaiannya. Karena itu sama sekali dia tidak merasa khawatir apa lagi ketakutan ketika mengetahui bahwa dia sedang diikuti oleh sesosok bayangan.

Namun, kalau di sekitar istana terjadi ribut-ribut kemudian dia menjadi bahan percakapan dan sorotan, maka hal ini amat tidak baik, bahkan berbahaya. Dia ingin sekali mengetahui siapa yang membayanginya itu dan apa pula sebabnya, juga dia ingin menguji sampai di mana tingkat kepandaian orang ini. Maka kini Tang Bun An mempercepat larinya menuju tembok kota!

Pada pagi itu pintu gerbang kota masih tertutup, maka hal ini juga memberi kesempatan kepada Tang Bun An untuk menguji orang yang membayanginya. Betapa pun pandainya, tidak mungkin dia dapat melampaui tembok kota raja yang berupa benteng yang kuat dan terjaga ketat itu. Orang itu tentu tak akan mampu keluar dari kota raja tanpa melalui pintu gerbang yang dijaga ketat oleh sepasukan prajurit-prajurit pilihan yang selalu siap siaga.

Benar saja. Ketika dia mulai mendekati pintu gerbang kota raja, dari pos penjagaan tiba-tiba muncul delapan orang prajurit yang segera menghadangnya, dipimpin oleh seorang perwira bertubuh tegap dan berkumis tebal. Akan tetapi mereka semua langsung memberi hormat setelah mengenali siapa orang yang sedang mendekati pintu gerbang itu.

“Selamat malam, Tang-ciangkun,” perwira berkumis tebal itu menegur ramah. “Apakah ada keperluan penting sehingga malam-malam seperti ini ciangkun merepotkan diri berkunjung ke sini?”

“Benar sekali,” jawab Tang Bun An. “Ada urusan yang harus kuselidiki sehingga malam ini juga aku harus keluar kota. Kalian jaga baik-baik di sini, sampai matahari terbit tidak ada orang yang boleh melewati pintu ini. Tangkap setiap orang asing yang coba-coba keluar dari kota raja. Sekarang bukalah pintu gerbang itu dan segera tutup kembali sesudah aku keluar. Ingat, tangkap setiap orang asing yang hendak melewati pintu gerbang!”

Setelah memberi perintah dan pintu gerbang dibuka, Tang Bun An segera berjalan keluar kemudian berdiri di luar dan menunggu hingga pintu itu ditutup kembali oleh para prajurit.

“Hemm, hendak kulihat bagaimana caranya engkau dapat keluar dari kota raja dan terus mengikutiku,” pikirnya sambil berjalan menjauh dari pintu gerbang.

Tang Bun An tidak pergi terlalu jauh. Sesudah berjarak setengah li dari pintu gerbang, dia pun berhenti dan menanti sambil memandang ke arah tembok benteng yang mengelilingi kota raja dan terutama ke arah pintu gerbang yang tadi dilewatinya.

Dia tidak perlu menunggu terlalu lama. Tiba-tiba saja matanya terbelalak melihat sesosok bayangan ramping melompat turun dari atas tembok kota, tidak jauh di samping kiri pintu gerbang. Tang Bun An terkejut sekali.

Dalam keremangan cahaya matahari yang baru terbit dia masih dapat melihat bayangan ramping itu, dan sebagai seorang yang telah berpengalaman sekali dalam urusan wanita, dia tahu pasti bahwa bayangan itu adalah tubuh seorang wanita muda. Yang membuat dia merasa sangat terkejut adalah kenyataan bahwa wanita muda ini melompat turun dari atas tembok kota. Ini berarti bahwa ginkang wanita ini benar-benar hebat sehingga tadi di sebelah dalam dia mampu pula melompat naik ke atas tembok itu. Bukan main!

Akan tetapi tentu saja dia tidak takut, hanya merasa heran kenapa pendekar wanita muda ini tahu-tahu membayangi dan mengejarnya! Dia bersikap tidak mengenalnya dan setelah gadis itu berdiri di depannya, dia pun berkata dengan nada suara keheranan.

“Aihh, agaknya engkau mengejar aku, Nona. Benarkah dugaanku bahwa engkau sedang mengejarku?” dia bertanya sambil memandang dengan penuh perhatian.

Kui Hong mengamati wajah perwira itu. Kini matahari pagi mulai mengusir kegelapan yang masih tersisa sedikit sehingga dia dapat melihat wajah itu lebih jelas dari pada ketika dia mengintai dari luar jendela.

Wajah yang masih tampan dan gagah. Usia yang sudah setengah abad lebih itu bahkan membuatnya nampak matang dan dewasa benar. Akan tetapi sinar mata yang mencorong tajam itu mengandung kecabulan. Hal ini kelihatan jelas ketika sinar mata itu seolah-olah meraba-raba dan menggerayangi seluruh tubuhnya sehingga Kui Hong merasa geli dan jijik sendiri.

“Hemm, penjahat cabul! Menyerahlah engkau untuk ketangkap dan kuhadapkan kepada yang berwajib untuk diadili!”

Tang Bun An terkejut sekali, bukan dibuat-buat melainkan betul-betul terkejut. Jelas gadis ini menjadi petugas pemerintah, namun entah siapa yang mengutusnya untuk menyelidiki hal ihwal dirinya. Akan tetapi dia mengusir keterkejutan itu dan bersikap tenang.

“Nona, apakah kesalahanku maka Nona hendak menangkapku? Dan siapa yang meminta agar Nona menangkapku?”

“Tidak perlu berpura-pura lagi. Menteri Cang Ku Ceng menyuruhku untuk manangkapmu dan mengenai kesalahanmu, engkau dapat menanyakan kepada beliau. Aku terlalu muak dan jijik untuk menjelaskannya. Sekarang menyerahlah engkau!”

Tang Bun An segera maklum. Agaknya perbuatannya sudah diketahui orang dan selama ini semua gerak-geriknya telah diawasi oleh Menteri Cang Ku Ceng yang terkenal sebagai seorang menteri yang bijaksana dan setia terhadap istana. Maka tidak mengherankan apa bila Menteri Cang hendak menangkapnya, akan tetapi dia masih berlagak heran.

“Menteri Cang Ku Ceng? Apa maksudnya semua ini? Mengapa beliau mengutus Nona untuk menangkap aku? Aku adalah seorang perwira pengawal, dan Nona adalah seorang gadis biasa. Bagaimana aku bisa percaya bahwa Nona diutus Cang Taijin?”

Kui Hong mengeluarkan surat jimat itu, surat tugas dan kekuasaan yang didapatnya dari Cang Taijin. Dia membuka surat itu lalu memperlihatkannya kepada Tang Bun An.

“Inilah surat perintah itu! Tang Bun An, lebih baik engkau segera menyerah untuk kutawan dan kuhadapkan kepada beliau!”

Tang Bun An semakin kaget. Dia mengenal cap kebesaran menteri itu dan sekarang dara muda ini bisa menunjukkan surat kuasa di mana terdapat cap kebesaran itu. Jelas bahwa wanita ini tidak berbohong dan memang memegang kekuasaan untuk menangkapnya.

Mata Tang Bun An memandang tajam. Ketika pertama melihat Kui Hong tadi, dia merasa girang bukan main setelah mendapat kenyataan bahwa yang mengejarnya adalah seorang wanita muda yang cantik jelita dengan tubuh amat menggairahkan. Biasanya dialah yang mengejar para wanita, tetapi sekali ini justru ada seorang gadis muda yang mengejarnya. Harus diakuinya bahwa gadis ini adalah wanita tercantik yang pernah dilihatnya, bahkan wanita-wanita di dalam istana tidak ada yang dapat menyamainya.

Namun, sesudah melihat gadis itu membawa surat kekuasaan dari Menteri Cang Ku Ceng untuk menangkapnya, hilang sudah seluruh nafsu birahinya terhadap kecantikan Kui Hong dan ancaman bahaya membuat dia sekarang menjadi buas. Dengan teriakan melengking panjang, dia mencabut pedangnya dan langsung menyerang Kui Hong tanpa peringatan lagi! Hal ini saja sudah menunjukkan kelicikannya.

Akan tetapi Kui Hong sudah waspada. Melihat cahaya pedang berkelebat, gadis ini sudah cepat meloncat jauh ke samping sambil mencabut pedangnya yang berwarna hitam, yaitu Hok-mo Siang-kiam pemberian neneknya. Begitu pedang itu digerakkan maka nampaklah dua gulungan sinar hitam yang menyambar-nyambar dan melibat sinar putih pedang Tang Bun An yang bergulung-gulung. Terjadilah pertarungan yang seru dan mati-matian.

Memang Tang Bun An memiliki kepandaian tinggi, namun kalau diadakan perbandingan maka kepandaian Kui Hong masih jauh lebih unggul. Ang-hong-cu hanya menerima ilmu dari seorang pengemis tua yang tidak dikenalnya, yang minta disebut Lo-kai saja. Walau pun gurunya ini sangat sakti dan mempunyai banyak macam kepandaian, termasuk ilmu menyamar dan pengobatan, tetapi ilmu silat yang dikuasainya bukan merupakan ilmu silat murni sehingga dasar-dasar jurus silatnya kurang kokoh.

Sedangkan Kui Hong lahir dan dibesarkan di Cin-ling-san, pegunungan di mana terdapat salah satu perguruan silat yang terbesar dan terkuat di dunia kangouw, yaitu Cin-ling-pai. Sejak kecil dia telah dididik dan digembleng oleh ayah bundanya, yakni Cia Hui Song dan Ceng Sui Cin, sepasang suami isteri pendekar yang berkepandaian tinggi. Cia Kong Liang kakek dalamnya (kakek dari pihak ayah) yang waktu itu masih menjadi ketua Cin-ling-pai bahkan kadang-kadang turun tangan dan mendidiknya pula dengan ilmu-ilmu Cin-ling-pai yang bersifat murni.

Kemudian, ketika dia mulai beranjak remaja, selama hampir lima tahun gadis ini tinggal di Pulau Teratai Merah sebagai akibat dari kekisruhan rumah tangga orang tuanya. Selama itu pula kakek dan nenek luarnya telah menggembleng dara ini dengan ilmu-ilmu lain yang tak kalah dahsyatnya, karena ilmu-ilmu silat ini dahulu telah mengangkat nama kakek dan neneknya sehingga terkenal sekali dengan julukan Pendekar Sadis dan Lam-sin.

Bukan latar belakang mereka saja yang membuat Kui Hong lebih unggul, namun keadaan kedua orang itu pada saat sekarang justru memperkuat perbedaan di antara mereka. Kui Hong adalah seorang gadis muda, tenaga dan semangatnya masih penuh dan kini sedang berada pada puncaknya. Ada pun Tang Bun An mulai dimakan usia, maka tenaga, napas dan semangatnya juga sudah menurun, apa lagi selama ini dia sangat gemar mengumbar nafsu, bahkan tadi malam pun dia mengejar kesenangan dunia tanpa mengenal batas.

Sesudah pertarungan berjalan tiga puluh jurus, Kui Hong dapat mendengar dengus napas lawannya yang mulai memburu, juga dia melihat beberapa butir keringat sudah menghiasi kening penjahat cabul ini. Maka dia mendesak makin gencar, pedangnya digerakkan lebih cepat sambil mengerahkan sinkang sehingga pedang itu berubah menjadi sinar bergulung-gulung, sementara tubuhnya berkelebat laksana burung walet menyambar.

Tang Bun An segera terdesak hebat. Kini dia lebih banyak menggerakkan tubuhnya untuk mengelak, hanya kadang-kadang pedangnya terpaksa menangkis ketika dia sudah tidak sempat mengelak lagi karena gerakannya kalah cepat dibandingkan serangan lawan. Dia semakin khawatir, sebab pedangnya selalu terpental setiap kali pedang itu beradu dengan pedang hitam lawannya. Pria ini pun maklum bahwa dia kalah segala-galanya, dan kalau pertandingan itu dilanjutkan maka tidak lama lagi dia tentu akan roboh di tangan gadis ini.

Melihat lawannya telah terdesak hebat, kini Kui Hong menggerakkan pedangnya semakin cepat lagi sehingga tampak lingkaran sinar hitam bergulung-gulung mengurung sinar putih yang makin lama semakin mengecil, tanda bahwa pedang perak itu sedang tertindih oleh sepasang Hok-mo Siang-kiam. Nampak jelas olehnya bahwa walau pun pedang lawan itu juga hebat namun dia mulai kelihatan jeri. Maka timbullah kenakalan yang menjadi watak Kui Hong yang biasanya berandalan dan jenaka itu.

“Huhh, perwira tua mata keranjang! Aku akan merobohkanmu tetapi tidak membunuhmu, agar engkau dijatuhi hukuman gantung di pintu gerbang. Semua orang akan meludahimu dan melihat engkau menderita sampai mampus! Akan kulihat apakah semua wanita yang menjadi kekasihmu itu akan suka mendekatimu lagi. Hi-hik-hik!”

Wajah Tang Bun An menjadi sebentar pucat sebentar merah. Walau pun gadis itu hanya mengejek, tetapi dia merasa ngeri membayangkan hukuman semacam itu! Sukar baginya untuk mencapai kemenangan dalam menghadapi seorang gadis selihai ini. Paling bagus dia hanya dapat mengimbanginya saja, dan hal itu pun agaknya sukar sekali. Sayang dia tidak membawa senjatanya yang ampuh, yang biasa dipergunakannya untuk merobohkan wanita korbannya yang akan diculiknya, yaitu sapu tangan yang mengandung bubuk obat pembius.

“Makan senjata rahasiaku!” bentaknya, dan mendadak tangan kirinya bergerak. Beberapa benda kecil segera menyambar tubuh Kui Hong.

Dengan tenang namun cepat gadis ini memutar pedangnya menangkis. Terdengar suara nyaring dan benda-benda kecil itu terpental sehingga beterbangan. Sebuah di antaranya terpukul runtuh dekat kaki Kui Hong dan gadis itu melihat bahwa benda itu adalah seuntai kalung emas! Ternyata ‘senjata rahasia’ itu adalah perhiasan-perhiasan berharga yang agaknya diterima penjahat cabul itu dari para selir sebagai hadiah atau tanda cinta!

“Jahanam busuk, hendak lari ke mana kau?!” bentaknya melihat bahwa serangan senjata-senjata kecil yang sebetulnya adalah benda-benda perhiasan itu hanya merupakan siasat untuk melarikan diri saja sebab begitu menyerang dengan sambitan, Tang Bun An segera membalikkan tubuhnya dan melompat jauh ke depan, melarikan diri ke dalam hutan dan mendaki bukit.

Kui Hong juga melompat dan melakukan pengejaran. Agaknya orang itu telah hafal benar dengan keadaan di dalam hutan, menyusup-nyusup di antara pohon-pohon dan rumpun semak belukar. Akan tetapi Kui Hong tidak mau melepaskannya dan terus mengejar.

Ketika mereka tiba di puncak bukit yang berhutan, Kui Hong melihat lawannya lari ke arah sebuah rumah yang berdiri di puncak itu. Rumah yang terpencil, bahkan tak nampak dari bawah karena tertutup oleh pohon-pohon besar. Rumah itu entah milik siapa, akan tetapi melihat betapa orang setengah tua itu memasuki rumah melalui pintu depan yang dengan mudah terbuka ketika didorong, maka dia pun mengejar terus.

“Keparat pengecut! Jangan lari kau!” bentaknya lagi dengan sepasang pedang masih di tangan.

Kui Hong sempat melihat betapa Tang Bun An lari menyelinap masuk ke dalam sebuah kamar. Dengan hati-hati dia mengejar dan melompat pula ke dalam kamar itu. Dia sangat berhati-hati menghadapi jebakan, khawatir kalau-kalau lantai kamar itu terbuka kalau dia memasukinya.

Dilihatnya Tang Bun An sudah sampai di seberang kamar, di mana terdapat pula sebuah pintu. Orang itu berlari keluar kamar melewati pintu belakang, sementara Kui Hong terus saja mengejar.

Tiba-tiba saja terdengar suara keras di belakangnya! Kui Hong membalikkan tubuh sambil memutar kedua pedang untuk melindungi tubuhnya. Akan tetapi tidak terjadi sesuatu apa pun. Mendadak pintu depan kamar itu tertutup oleh pintu besi yang turun dari atas dengan cepatnya.

Ketika Kui Hong membalik hendak meloncat keluar dari pintu belakang, ternyata pintu itu pun sudah tertutup oleh pintu besi yang sama. Kui Hong meloncat ke pintu belakang itu dan mendorongnya, namun pintu itu ternyata terbuat dari besi dan amat kuat. Tahulah dia bahwa dia telah masuk perangkap!

“Tang Bun An, jahanam pengecut yang curang! Buka pintu kemudian mari kita lanjutkan pertarungan sampai salah seorang di antara kita roboh di ujung senjata!” berulang kali Kui Hong berteriak sambil menendangi daun pintu besi sehingga terdengar suara berdentam-dentam. Akan tetapi yang menjadi jawaban hanya suara ketawa dari luar pintu.

Tiba-tiba terdengar suara mendesis. Kui Hong cepat meloncat sambil membalikkan tubuh, dan melihat betapa dari sebuah lubang di bawah kini mengepul asap kehitaman ke dalam kamar! Celaka, pikirnya.

Dia cepat duduk bersila di lantai kemudian menahan napas sambil mengerahkan sinkang. Akan tetapi tidak mungkin dia menahan napas selamanya! Kekuatan menahan napas ini amat terbatas, maka akhirnya terpaksa dia harus bernapas sebelum mati sia-sia.

Akhirnya ruangan itu penuh dengan asap menghitam. Terdengar beberapa kali Kui Hong terbatuk-batuk, kemudian dia pun roboh terkulai sesudah terpaksa mengambil napas dan asap itu ikut terhisap…..

********************

Kui Hong membuka sepasang matanya. Yang pertama nampak adalah langit-langit bercat putih, lalu dinding berwarna merah muda. Ia menggerakkan kaki tangannya. Terbelenggu! Dia terbelenggu pada kaki tangannya dan rebah terlentang di atas sebuah pembaringan, di dalam sebuah kamar! Bukan kamar di mana dia terjebak tadi.

Dia terjatuh ke tangan Tang Bun An, si penjahat cabul! Akan tetapi hatinya langsung lega ketika merasa bahwa pakaiannya masih menutupi tubuhnya dan tidak dirasakan sesuatu pada dirinya. Jahanam itu belum mengganggunya. Belum!

Kemungkinan besar dia akan diganggu, dan hatinya dicekam kengerian membayangkan betapa dalam keadaan terbelenggu dan tidak berdaya itu dia dipermainkan dan diperkosa oleh perwira cabul itu! Jantungnya berdebar tegang, sementara hatinya dilanda kengerian dan ketakutan.

Akan tetapi dia cepat mengatur pernapasannya sehingga rasa cemas itu pun menghilang. Sekarang dia bersikap tenang, tak mau membayangkan hal-hal mengerikan yang mungkin mengancamnya. Dia menyibukkan pikirannya sambil mencari akal bagaimana agar dapat lolos dari bahaya.

Dengan menyibukkan pikiran mencari ikhtiar, maka tidak ada kesempatan lagi bagi pikiran untuk membayangkan hal-hal yang mengerikan. Pada saat itu jelas bahwa tidak mungkin dia bisa membebaskan diri dengan kekerasan. Belenggu pada kaki tangannya amat kuat, dan ketika dia mencoba untuk mengerahkan tenaga sinkang-nya, belenggu itu tidak putus namun melar seperti karet. Jika mengharapkan bantuan, siapa yang dapat menolongnya sekarang?

Tidak ada orang yang mengetahui ketika dia membayangi penjahat itu, dan kini dia berada di tangan perwira cabul itu, di dalam hutan pada puncak sebuah bukit yang sangat sunyi. Andai kata dia menjerit sekali pun, tidak mungkin dapat terdengar oleh orang yang tinggal jauh di bawah bukit.

Dan menjerit minta tolong bukan cara yang pantas dia lakukan, bahkan merupakan suatu pantangan bagi seorang pendekar seperti dirinya. Tidak! Dia tidak akan minta tolong atau menjerit, bahkan dia pun tidak sudi minta ampun. Dia harus mencari akal yang baik, dan sampai mati sekali pun dia tidak boleh memperlihatkan rasa takut.

Tiba-tiba jantungnya berdebar. Ia mendengar langkah kaki yang amat berat menghampiri kamarnya dari luar, lantas daun pintu kamar itu didorong orang dari luar sehingga terbuka dan muncullah perwira Tang memasuki kamar sambil menggotong sebuah tong kayu yang besar dan tebal.

Dia lalu meletakkan tong itu di tengah kamar, tak jauh dari tempat tidur di mana Kui Hong rebah telentang dalam keadaan terbelenggu. Setelah menurunkan bak atau tong kayu itu, Tang Bun An menoleh ke arah pembaringan. Melihat gadis itu telah siuman dan sekarang hanya menengadah, sama sekali tidak melirik kepadanya, dia pun tertawa.

"He-heh-heh, nona manis. Engkau sungguh lihai bukan main, akan tetapi akhirnya engkau roboh juga menghadapi aku. Baru engkau mengakui kehebatanku, ya?"

Kui Hong menoleh dan memandang pria itu dengan mata mencorong penuh kemarahan. "Cih, laki-laki pengecut curang tidak tahu malu! Engkau menggunakan perangkap, engkau curang dan licik, menandakan bahwa engkau hanyalah seorang yang pengecut dan keji. Kalau engkau memang merasa jantan, segera lepaskan belenggu ini kemudian mari kita bertanding seperti orang gagah sampai titik darah terakhir!"

"Ha-ha-ha-heh-heh, engkau memang gagah, nona. Gagah dan cantik sekali. Betapa ingin hatiku untuk bertanding denganmu! Bukan bertanding untuk saling membunuh, melainkan saling menyenangkan. Ha-ha-ha! Namun sayang, semalam aku telah bertanding melawan lima orang harimau betina kelaparan. Aku lelah sekali dan perlu mandi untuk memulihkan tenaga. Engkau tunggulah. Setelah mandi aku akan melayanimu bertanding, ha-ha-ha-ha!" Dan perwira itu keluar meninggalkan kamar.

Celaka, pikir Kui Hong. Dia tadi memang sengaja mengeluarkan ucapan untuk menghina serta memanaskan hati orang itu. Akan tetapi selain pengecut dan curang, ternyata orang itu pun tebal muka, sama sekali tak malu oleh ucapannya bahkan mengeluarkan jawaban dengan ucapan yang mengandung makna cabul yang menusuk perasaan kewanitaannya. Dia harus mencari akal lain. Melukai kejantannya dengan kata-kata tak ada gunanya bagi orang yang bermuka tebal itu.

Biar pun tadinya dia tak ingin menoleh dan memandang, tetapi hatinya tertarik juga ketika mendengar perwira itu kembali masuk ke dalam kamar lantas menuangkan air ke dalam tong yang digotongnya masuk tadi. Dia segera melirik dan melihat betapa Tang Ciangkun tadi menggotong dua ember besar penuh air lalu menuangkannya ke dalam tong. Orang itu tidak mengeluarkan suara apa pun, hanya tersenyum-senyum.

Dia lalu keluar lagi dan tak lama kemudian terdengar suaranya bernyanyi! Nyanyian lagu rakyat dari daerah selatan dan dinyanyikan dengan lidah selatan pula. Terdengar lucu tapi Kui Hong harus mengakui bahwa suara orang itu cukup merdu. Dia masuk membawa dua ember air lagi dan menuangkan air ke dalam tong sambil tetap bersenandung. Sesudah tiga kali menuangkan dua ember besar air, barulah dia merasa cukup.

"Heh-heh, nona manis. Aku hendak mandi dulu, ya? Sesudah itu baru kita bicara tentang pertandingan antara kita, ha-ha-ha!"

Tanpa sungkan lagi, tanpa sopan santun sedikit pun, dia mulai menanggalkan pakaiannya satu demi satu di hadapan Kui Hong! Tentu saja Kui Hong cepat membuang muka, tidak sudi memandang dan melihat sikap ini, Tang Bun An tertawa bergelak.

"Ha-ha-ha-ha, Nona manis, kenapa engkau membuang muka? Pandanglah aku, amatilah baik-baik. Lihat, setiap wanita mengagumi tubuhku ini. Lihatlah dan engkau akan merasa suka dan kagum, Nona!”

Tanpa menoleh Kui Hong berkata ketus, “Engkau manusia yang jahat, kejam, curang dan tidak sopan. Manusia berwatak iblis! Biar kau mampus dibakar api neraka!”

Tang Bu An yang kini telah telanjang bulat itu memasuki tong berisi air sambil membawa sebuah bungkusan dan tertawa-tawa. Perwira ini membuka bungkusan yang berisi bubuk berwarna kuning, lalu menaburkan bubuk itu ke dalam tong air. Segera tercium bau yang amat harum.

“Ha-ha-ha, dan engkau seorang gadis yang sombong, kepala besar, tinggi hati! Kau kira aku tidak mengenal wanita? Hanya pada lahirnya saja tinggi hati dan jual mahal, padahal pada dasarnya amat rendah dan murah! Perempuan selalu beracun, palsu. Kecantikannya hanya ditujukan untuk menjatuhkan hati kaum laki-laki dan sesudah itu memperdayainya dan menipunya! Di balik senyummu yang manis menarik itu terkandung kepahitan yang beracun! Terkutuklah perempuan! Dan engkau masih berani mengatakan aku kejam dan jahat? Ha-ha-ha-ha-ha, tidak ada yang lebih jahat dari pada perempuan, akan tetapi tidak ada yang lebih mengasyikkan dan lebih menggairahkan selain perempuan."

Kui Hong tidak menjawab karena dia sudah terbelalak memandang kepada laki-laki yang sudah berendam di dalam tong penuh air itu. Dia berani memandang karena kini laki-laki itu berada di dalam tong yang menyembunyikan ketelanjangannya.

Dia terpaksa memandang ketika tadi hidungnya mencium bau yang sangat harum. Harum cendana! Bau ini membuat dia terkejut bukan main sehingga memaksanya menoleh dan memandang. Bahkan dia hanya dapat mendengar sebagian saja ucapan laki-laki itu yang mengandung kebencian besar terhadap wanita.

"Kau... kau... Ang-hong-cu !" Akhirnya dia berkata.

Tang Bun An yang masih tertawa tiba-tiba saja menghentikan suara ketawanya ketika dia mendengar seruan Kui Hong itu. Kedua matanya terbelalak memandang gadis itu, alisnya berkerut. Gadis ini tahu bahwa dia Ang-hong-cu!

"Bagaimana engkau bisa tahu?!" tanyanya dengan suara membentak sebab menganggap hal ini amat berbahaya baginya.

"Sekarang aku mengerti mengapa mereka mengatakan bahwa engkau berbau cendana. Kiranya engkau selalu merendam diri dalam air bercampur bubuk cendana! Ang-hong-cu, engkau iblis busuk! Engkau jahanam kotor dan hina! Kelak engkau pasti akan mampus di tanganku!" teriak Kui Hong marah bukan main karena dia teringat akan aib yang menimpa diri Pek Eng dan terutama sekali Cia Ling yang masih terhitung keponakannya sesudah diperkosa oleh pria ini.

Akantetapi Ang-hong-cu Tang Bun An malah menyambut ancaman itu dengan suara tawa mengejek. "Ha-ha-ha-ha, engkauini gadis remaja berani mengancam aku? Bagus, engkau sudah mengetahui bahwa aku Ang-hong-cu. Memang, aku adalah Ang-hong-cu, akulah Si Kumbang Merah penghisap kembang! Dan engkau bagaikan setangkai bunga yang baru mekar penuh madu. Karena engkau sudah mengetahui rahasiaku, tunggulah sampai aku selesai mandi, nona manis. Aku akan menghisap madumu sampai habis dan sesudah itu, engkau harus mati agar rahasia diriku tak sampai terdengar orang lain. Tenanglah, Nona, engkau akan mati dalam keadaan bahagia, mati dalam kemesraan dan mabok cintaku, ha-ha-ha!"

Kini diam-diam Kui Hong merasa ngeri. Dia adalah seorang gadis perkasa, seorang gadis gemblengan yang tidak takut akan ancaman maut. Ia adalah ketua Cin-ling-pai yang akan menghadapi maut dengan senyum dan dengan mata terbuka. Akan tetapi, ancaman yang dilontarkan Ang-hong-cu itu sungguh amat mengerikan baginya.....


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner