SI KUMBANG MERAH : JILID-43


Dia masih akan tenang-tenang saja kalau hanya diancam mati. Akan tetapi ancaman tadi justru lebih mengerikan dari pada maut! Sungguh merupakan bayangan yang mengerikan hatinya kalau membayangkan dirinya diperkosa, dipermainkan oleh penjahat cabul yang tersohor itu.

Ingin rasanya Kui Hong menjerit dan menangis, minta supaya dia dibunuh saja dan jangan diperhina dengan perkosaan keji. Akan tetapi dia pantang menjerit apa lagi menangis, dan otaknya lantas bekerja cepat.

Sungguh pun hatinya merasa ngeri dan takut menghadapi ancaman bahaya yang baginya lebih hebat dari pada maut, Kui Hong menguatkan perasaannya lantas dia pun tersenyum mengejek.

"Ang-hong-cu, engkau boleh saja mengancamku sesuka hatimu setelah engkau bertindak secara pengecut, menangkapku dengan menggunakan asap pembius dan kamar jebakan. Engkau juga boleh menyiksaku, bahkan membunuhku. Aku tidak takut karena aku yakin bahwa kalau aku terhina dan tewas di tanganmu, maka pembalasan yang kelak menimpa dirimu akan seribu kali lebih hebat lagi! Mereka pasti akan mengetahui bahwa engkaulah yang sudah membunuhku, dan mereka semua akan mencarimu sampai dapat, membalas kekejamanmu berlipat ganda sehingga engkau akan menyesal sudah dijelmakan sebagai manusia!" Ancaman Kui Hong itu hebat sekali, namun Ang-hong-cu menerimanya sebagai gertak kosong belaka.

"Ha-ha-ha, gadis sombong! Kau kira aku gentar mendengar gertakanmu? Ha-ha-ha, tak seorang pun tahu bahwa engkau berada di sini, dan takkan pernah ada yang mengetahui bahwa engkau pernah berada di sini. Ha-ha-ha-ha! Apakah nyawamu kelak akan mampu memberi tahu mereka?"

"Huhh, engkau kejam akan tetapi juga tolol! Aku datang sebagai utusan Menteri Cang Ku Ceng untuk menyelidikimu! Apa bila aku hilang di dalam tugas ini, sudah pasti beliau akan menyangkamu! Kalau mereka mendengar akan hal ini, dan kelak sudah pasti mendengar dari Menteri Cang, bersiaplah engkau untuk menghadapi siksaan yang melebihi siksaan di neraka!"

Ucapan ini membuat Tang Bun An mulai berpikir. Gadis ini bukan hanya membual atau menggertak saja. Ucapannya ada isinya! Jika benar gadis ini utusan Menteri Cang, tentu menteri keparat itu akan mencurigainya. Akan tetapi dia masih tertawa mengejek.

"Kau kira aku takut? Siapa pun mereka, aku tidak takut. Huh, siapa yang kau maksudkan dengan mereka itu?"

Ang-hong-cu Tang Bun An menggosok-gosok tubuhnya dengan sebuah handuk kecil yang sudah dibenamkan ke dalam air. Handuk itu pun diberi bubuk cendana, seolah dia hendak memasukkan sari keharuman cendana ke dalam tubuhnya dan memang dia telah berhasil karena tubuh dan keringatnya berbau cendana! Kebiasaan ini sudah dia lakukan puluhan tahun lamanya.

"Siapa lagi kalau bukan para anak buahku? Mereka adalah seluruh anggota dan pimpinan Cin-ling-pai."

"Ha-ha-ha-ha, engkau hanya menggertak! Apa hubunganmu dengan Cin-ling-pai? Jangan menggunakan nama besar perkumpulan silat itu untuk menakut-nakuti aku, Nona."

"Siapa menggertak? Memang matamu buta dan telingamu tuli? Aku adalah Cia Kui Hong ketua Cin-ling-pai!"

Terpaksa Kui Hong membuang muka lagi karena pria itu bangkit berdiri saking kagetnya mendengar pengakuannya itu sehingga tubuhnya yang telanjang nampak mulai dari pusar ke atas. Ang-hong-cu Tang Bun An memang terkejut bukan main mendengar pengakuan itu. Akan tetapi dia lalu tertawa bergelak, mentertawakan gadis itu.

"Ha-ha-ha, nona manis. Seorang dara remaja seperti engkau ini mengaku ketua Cin-ling-pai? Jangan coba-coba untuk membohongiku, Nona. Aku mendengar bahwa Cin-ling-pai adalah sebuah perkumpulan besar yang berisi orang-orang gagah, bagaimana mungkin ketuanya seorang gadis remaja yang cantik jelita?"

Biar pun mulutnya berkata demikian, namun hatinya mulai menaruh perhatian dan dia pun mengeringkan tubuhnya dengan handuk besar, kemudian dalam keadaan telanjang bulat dia keluar dari tong itu. Setelah mengeringkan tubuhnya, dia lantas mengenakan kembali pakaiannya. Hal ini saja menunjukkan bahwa dia mulai memperhatikan gadis itu dan tidak segera rnelakukan hal yang tadi diancamkannya.

"Engkau ini seorang jai-hwa-cat (penjahat pemetik bunga) mana mungkin tahu mengenai perkumpulan kami? Ayahku pendekar Cia Hui Song, baru saja mengundurkan diri sebagai ketua Cin-ling-pai, dan di dalam pemilihan ketua baru akulah yang dipilih. Kini aku ketua Cin-ling-pai, oleh karena itu, dapat kau bayangkan sendiri, bagaimana sikap mereka kalau mendengar ketuanya sudah dihina dan dibunuh oleh Ang-hong-cu! Kau kira akan mampu meloloskan diri dari jangkauan tangan-tangan para tokoh Cin-ling-pai? Biar bersembunyi di dalam neraka pun, mereka akhirnya akan dapat mencengkerammu!"

"Ha-ha-ha, engkau hanya menggertakku! Aku tidak takut, aku akan mengusahakan agar selamanya mereka tidak dapat menemukan mayatmu! Ya, kecantikanmu akan kunikmati sepuasku, sesudah itu kau akan kubunuh lalu mayatmu akan kukubur di tempat rahasia. Tak seorang pun melihatmu masuk rumah ini, dan tak seorang pun akan tahu apa yang telah kulakukan terhadap dirimu!"

Supaya pengaruh gertakan itu tidak membuatnya lemas, Kui Hong menjawab secepatnya. "Huh, engkaulah yang tolol! Aku boleh saja kau bunuh, tetapi Menteri Cang Ku Ceng akan mengerahkan seluruh pasukan untuk mencariku. Ke mana pun engkau menyembunyikan tubuhku, mereka pasti akan menemukan. Dan Menteri Cang pasti akan melakukan segala daya upaya untuk memaksamu mengaku! Engkau akan menghadapi kemarahan Menteri Cang, juga menghadapi dendam Cin-ling-pai!"

"Aku tidak takut! Huhh, aku tidak takut sama sekali! Tidak akan ada bukti bahwa engkau tewas dan lenyap di tanganku!" Ang-hong-cu Tang Bun An berteriak, akan tetapi nyalinya semakin mengecil.

Siapa orangnya yang tidak tahu akan kekuasaan Menteri Cang Ku Ceng? Menteri itu pasti akan mampu menjungkir-balikkan seluruh kota raja untuk mencari gadis ini! Dan seluruh pasukan tentu akan mentaati perintahnya dengan rasa bangga! Dinilai dari kedudukannya, kalau dia melawan Menteri Cang, sama dengan sebutir telur melawan batu. Dan Cin-ling-pai juga merupakan ancaman yang membuat jantungnya berdebar.

Mulailah timbul keraguan di dalam hatinya. Kalau tadi dia timbul gairah terhadap gadis itu adalah karena gadis itu cantik manis dan mempunyai bentuk tubuh yang menggairahkan. Gairah yang sama dirasakannya setiap kali dia melihat wanita cantik. Namun bukan cinta, bahkan nafsunya itu hanya merupakan luapan kebenciannya terhadap kaum wanita! Kini semua gairahnya telah lenyap, malah diam-diam dia merasa takut membayangkan segala akibatnya kalau dia memperkosa lalu membunuh gadis ini.

Kui Hong adalah seorang gadis yang selain tabah juga sangat cerdik. Dia dapat melihat sikap Ang-hong-cu yang kini sudah berpakaian lengkap. Melihat penjahat itu mengenakan pakaiannya kembali saja sudah merupakan suatu pertanda bahwa gertakan-gertakannya tadi mengenai sasaran. Kalau gertakannya tidak berhasil menyudutkan dan menimbulkan rasa takut di hati penjahat itu, tentu Ang-hong-cu tidak perlu mengenakan pakaian secara lengkap seperti itu, melainkan segera saja melaksanakan ancamannya yang dikeluarkan ketika mandi tadi.

Seperti orang yang sedang bertanding silat, saat lawan terdesak merupakan kesempatan paling baik untuk merobohkannya dengan jurus-jurus serangan yang lebih ampuh. Maka dia pun berkata dengan nada suara sungguh-sungguh.

"Itu baru dua pihak yang akan kau hadapi, Ang-hong-cu. Belum lagi kalau Pendekar Sadis dan isterinya turut keluar dari Pulau Teratai Merah untuk mencarimu! Engkau tentu sudah mendengar bagaimana nasib seorang musuh apa bila terjatuh ke tangan Pendekar Sadis! Hemmm...!"

Ang-hong-cu yang wajahnya biasanya berseri dan mulutnya selalu tersenyum mengejek itu tiba-tiba berubah menjadi pucat ketika mendengar disebutnya julukan Pendekar Sadis. Sebagai seorang tokoh kang-ouw yang berpengalaman, tentu saja dia sudah mendengar tentang nama besar Pendekar Sadis Ceng Thian Sin, majikan Pulau Teratai Merah di laut selatan. Bahkan isteri pendekar itu pun seorang yang sangat terkenal sekali, yang dahulu pernah menjadi seorang datuk besar berjuluk Lam Sin (Malaikat Selatan).

Selain terkenal sebagai seorang sakti, Pendekar Sadis sendiri juga lebih terkenal karena kekejamannya yang melewati ukuran terhadap musuhnya, yaitu para penjahat. Pendekar itu dapat menyiksa lawan dengan berbagai macam siksaan yang melebihi segala siksaan yang digambarkan di neraka! Karena itulah maka pendekar itu dijuluki Pendekar Sadis.

Setiap orang penjahat di dunia kang-ouw selalu berjaga-jaga agar langkah mereka jangan berpapasan dengan langkah Pendekar Sadis, bahkan mereka pantang berjumpa dengan bayangan pendekar itu! Dan kini, gadis bernama Cia Kui Hong ini mengancamnya dengan nama Pendekar Sadis!

"Bocah sombong! Apa pula urusannya Pendekar Sadis dari Pulau Teratai Merah dengan kita?"

"Apa urusannya? Nah, itulah buktinya kalau engkau ini hanya seorang penjahat cilik yang tidak tahu apa-apa di dunia kang-ouw, Ang-hong-cu. Ayahku turun-temurun adalah ketua Cin-ling-pai, dan ibuku bernama Ceng Sui Cin adalah puteri Pendekar Sadis! Aku adalah cucu Pendekar Sadis, dan engkau masih menanyakan urusannya? Lihat pedangku yang kau gantung di dinding itu. Itu adalah sepasang Hok-mo Siang-kiam yang sangat terkenal, dahulu milik nenekku Lam-sin Toan Kim Hong yang telah memberikannya kepadaku."

Kini wajah Ang-hong-cu Tang Bun An bertambah pucat. Celaka, pikirnya gelisah. Kali ini dia benar-benar telah salah tangkap! Agaknya gadis ini bukan menggertak kosong belaka. Dara ini bukan hanya utusan Menteri Cang, akan tetapi juga ketua Cin-ling-pai merangkap cucu Pendekar Sadis! Dia harus menimbang seribu kali sebelum mengganggu selembar rambut gadis ini.

Akan tetapi keadaan menjadi serba repot baginya. Apa bila gadis ini dibiarkan hidup dan dibebaskannya, berarti dia akan celaka, akan kehilangan kedudukan dan menjadi buruan pemerintah. Sebaliknya kalau gadis ini sampai tewas di tangannya, dia akan menghadapi ancaman dari tiga pihak, yaitu dari Menteri Cang, dari Cin-ling-pai dan terutama sekali dari Pendekar Sadis! Dan itu berarti bahwa hidupnya akan selalu dicekam ketakutan.

Tang Bun An juga bukan orang bodoh. Dia tahu apakah gertakan gadis itu kosong belaka ataukah memang merupakan kenyataan. Dan dia pun cepat memutar otak untuk mencari jalan keluar yang terbaik baginya. Dan kecerdikannya membuat dia segera menemukan jawabannya.

"Cia Kui Hong, semua keteranganmu itu dapat kuterima dan aku percaya padamu. Akan tetapi aku tahu bahwa engkau bukan seorang gadis bodoh. Karena itu tentu engkau dapat melihat kenyataan bahwa bukan aku saja yang terancam bahaya, melainkan engkau pula. Bahkan bahaya yang mengancammu sudah di depan mata. Bila aku menghendaki, maka sekarang juga engkau dapat kuperkosa dan kusiksa sampai mati. Sebaliknya, walau pun semua ancamanmu tadi dapat terjadi, namun masih jauh dan aku masih dapat berusaha untuk rneloloskan diri."

"Hemm, boleh kau coba!" kata Kui Hong sambil tersenyum mengejek. Dia sudah melihat kemenangan karena gertakannya yang diperhitungkan tadi. "Kalau engkau membunuhku sekarang, maka habis sudah penderitaanku. Akan tetapi engkau masih hidup dan setiap detik engkau dibayangi ketakutan! Aku tidak takut mati, dan terserah kepadamu!"

"Cia Kui Hong, orang yang tidak ingin hidup lebih lama lagi hanyalah orang yang otaknya sudah miring. Aku tidak gila dan aku masih ingin hidup dengan tenang pada hari tuaku ini. Oleh karena itu aku ingin mengajukan bertukar nyawa. Bagaimana pendapatmu, Pangcu (ketua)?"

Kui Hong yakin bahwa dia telah menang, akan tetapi dia tetap berhati-hati karena dia tahu bahwa dia sedang menghadapi seorang yang selain amat keji dan jahat, juga pandai dan licik bukan main. Mendengar dia disebut pangcu (ketua) saja sudah menunjukkan bahwa bekas lawannya ini hendak membicarakan sesuatu dengan dia sebagai Cin-ling Pangcu (ketua Cin-ling-pai), bukan dengan dia sebagai seorang gadis biasa!

“Ang-hong-cu, apa yang kau maksudkan dengan bertukar nyawa? Coba engkau jelaskan dan akan kupertimbangkan!” katanya berwibawa.

“Pangcu, bagiku hanya ada dua pilihan, dan aku akan memilih yang paling aman bagiku. Aku akan membebaskanmu sekarang juga tanpa mengganggumu sedikit pun, akan tetapi hanya dengan syarat bahwa setelah bebas engkau tak akan membuka rahasiaku kepada siapa pun juga! Engkau tidak akan bercerita kepada orang lain bahwa perwira pengawal Tang Bun An ialah Ang-hong-cu, dan tidak akan bercerita bahwa akulah yang menggauli para wanita di dalam istana bagian puteri. Pendek kata, engkau tidak akan memusuhiku, baik dengan kata-kata mau pun dengan perbuatan. Bagaimana pendapatmu?”

Biar pun di dalam hatinya Kui Hong merasa lega bahwa dia kini memperoleh kesempatan dan harapan untuk terhindar dari aib dan maut, namun hatinya tidak senang mendengar syarat itu. Tak diduganya bahwa orang ini amat cerdik dan juga liciknya sehingga hendak mengikatnya dengan janji semacam itu! Namun dia pun tahu dengan pasti bahwa seorang seperti Ang-hong-cu pasti akan melakukan gertakannya, karena tidak ada kejahatan yang dipantang orang seperti ini.

"Bagaimana kalau aku menolak syarat semacam itu?” pancingnya untuk mengetahui lebih jelas isi perut Ang-hongcu.

Ang-hong-cu Tang Bun An tersenyum, akan tetapi senyumnya tidak seperti tadi lagi. Kini senyumnya masam dan paksaan.

“Maka terpaksa aku akan melakukan keinginanku semula, yaitu memperkosamu dengan cara yang belum pernah kulakukan terhadap perempuan lain yang mana pun. Sampai aku menjadi bosan padamu, kemudian engkau akan kusiksa sampai mati dan mayatmu akan kubiarkan di dalam hutan agar dimakan binatang buas sampai tidak ada sisanya lagi. Dan semua akibat yang kelak akan timbul dari perbuatanku itu akan kuhadapi dengan segala kekuatanku.”

“Ang-hong-cu, bagaimana kalau sesudah engkau membebaskan aku, kemudian aku tetap memusuhimu dan menyerangmu?”

“Hemm, aku tidak percaya! Kalau engkau memang melakukan itu, maka seluruh kalangan kang-ouw akan mengetahui belaka bahwa ketua Cin-ling-pai, juga cucu Pendekar Sadis, gadis yang bernama Cia Kui hong itu hanya seorang pendekar gadungan, dan bukan lain hanyalah manusia rendah yang suka melanggar janjinya sendiri, suka menjilat ludah yang sudah dikeluarkan dari mulut!”

“Ang-hong-cu, bukan karena aku takut mati kalau aku menerima usulmu bertukar nyawa. Ini usulmu, bukan aku yang minta dibiarkan hidup. Nah, lepaskan belenggu-belenggu ini.”

“Nanti dulu, Pangcu. Engkau belum mengucapkan janjimu. Bersumpahlah dahulu seperti yang kukehendaki tadi.”

“Janji seorang pendekar lebih berharga dari pada segala macam sumpah. Janji seorang pendekar lebih berharga dari pada nyawa," kata Kui Hong dengan nada suara gemas, tapi kemudian melanjutkan. "Aku Cia Kui Hong, ketua Cin-ling-pai, berjanji bahwa kalau Ang-hong-cu membebaskan aku, maka untuk selanjutnya aku takkan memusuhinya lagi, juga tidak akan membuka rahasianya kepada siapa pun juga."

Wajah Ang-hong-cu kembali berseri. Kini legalah hatinya. Yang terpenting bagi dia adalah keselamatan dirinya dan keuntungannya. Tidak begitu penting baginya untuk memperkosa dan membunuh gadis ini, namun sungguh amat menguntungkan kalau gadis ini menutup mulut dan tidak membocorkan rahasia dirinya. Dengan menggunakan pedang dia lantas membikin putus tali-tali belenggu kaki tangan gadis itu.

Kui Hong bangkit lalu menggosok-gosok pergelangan kaki dan tangannya. Kemudian dia meloncat turun dan menyambar sepasang pedangnya yang tergantung di dinding. Betapa inginnya untuk mencabut sepasang pedang itu dan membunuh Ang-hong-cu, akan tetapi dia hanya memasang pedang itu di punggung, memandang kepada Ang-hong-cu dengan penuh kebencian.

Mukanya terasa panas dan ingin dia menangis karena dia merasa begitu tak berdaya dan marah. Apa lagi ketika laki-laki itu memandang kepadanya sambil tersenyum-senyum, dia merasa seperti ditertawakan!

Dia menekan perasaannya sendiri, lalu melangkah ke pintu kamar itu. Akan tetapi setelah tiba di ambang pintu, dia membalik dan sejenak mereka berdua saling pandang bagaikan dua ekor ayam jantan hendak bertarung.

"Ang-hong-cu, aku akan memegang teguh janjiku, akan tetapi aku bersumpah tidak akan menikah sebelum mendengar engkau mampus!"

Sesudah berkata demikian, Kui Hong lalu meloncat keluar dan berlari cepat meninggalkan rumah itu agar Ang-hong-cu tidak mendengar isaknya. Dia berlari cepat menuruni bukit itu sambil menangis! Biar pun dia sudah bebas dari perkosaan dan kematian, akan tetapi dia merasa amat tidak berdaya dan rendah.

Dia merasa seolah-olah dia menjadi seorang penakut yang begitu menyayang diri sendiri sehingga membiarkan seorang laki-laki sedemikian jahatnya hidup bebas hanya karena dia ingin dirinya selamat. Sungguh bukan seorang yang pantas disebut pendekar! Hal ini membuatnya sedemikian sedih dan bencinya sehingga tadi terlontar sumpahnya bahwa dia tidak akan mau menikah sebelum Ang-hong-cu mati!

Ang-hong-cu Tang Bun An berdiri terpukau seperti patung. Hatinya yang tadinya merasa mendapatkan keuntungan besar, sekarang terguncang dan dia merasa gelisah. Dia tahu alangkah hebatnya kemarahan serta kebencian gadis tadi terhadap dirinya. Sumpah yang dilakukan tadi sungguh merupakan sumpah yang berat bagi seorang gadis seperti ketua Cin-ling-pai itu!

Dia tidak akan cepat mati! Kalau rahasianya yang diketahui oleh gadis itu tersimpan rapat, tidak akan ada seorang pun yang mengetahui bahwa dialah yang menjadi penggoda para wanita istana itu, juga tidak ada yang tahu bahwa dia adalah Anghong-cu. Semua orang mengenal dia seorang perwira pasukan pengawal yang setia dan berjasa besar terhadap kaisar. Dan mulai sekarang dia harus berhati-hati menjaga segala tindakannya, terutama sekali terhadap Menteri Cang…..

********************

Sesudah tiba di kaki bukit itu, Kui Hong berhenti di bawah sebatang pohon kemudian dia menangis sepuasnya sambil bersandar pada batang pohon itu. Dia adalah seorang gadis yang tabah, bahkan biasanya dia seperti pantang menangis. Namun sekali ini dia merasa begitu gemas, begitu marah, tetapi begitu tidak berdaya!

Dia tidak ingin ada orang lain melihat tangisnya, maka dia sengaja melepas tangisnya di tempat sunyi itu. Ada setengah jam lamanya dia termenung dan menangis, menyesalkan diri sendiri, menyesalkan nasibnya.

Dia tidak mempunyai pilihan lain! Dia masih waras, belum gila untuk membiarkan dirinya diperkosa dan dipermainkan tanpa sanggup melawan sama sekali, kemudian membiarkan dirinya mati konyol. Dia terpaksa mengucapkan janji itu. Dia tak merasa bersalah kepada siapa pun juga, akan tetapi merasa berkhianat terhadap jiwa kependekarannya. Dia harus membiarkan saja manusia iblis itu berkeliaran.

Setelah perasaannya mereda dan dia tidak menangis lagi, barulah Kui Hong melanjutkan perjalanannya. Dia mencuci bekas air mata dari mukanya ketika melihat sumber air yang jernih, kemudian dia melanjutkan perjalanan, tidak kembali ke istana melainkan langsung ke gedung tempat tinggal Menteri Cang Ku Ceng.

Tentu saja Cang Taijin menerima gadis itu dengan penuh harapan, karena gadis itu tentu memperoleh hasil baik maka sudah keluar dari istana untuk memberi laporan kepadanya. Kui Hong disambut dengan ramah di ruangan tamu dan di sana dia diterima oleh Menteri Cang sendiri sehingga dapat berbicara empat mata.

"Selamat datang, lihiap. Tidak kukira secepat ini engkau telah keluar dari istana. Apakah sudah memperoleh hasil baik?" tanya pembesar itu dengan sikap ramah.

Kui Hong menghela napas panjang. Hatinya terasa semakin penuh sesal melihat betapa baiknya sikap pejabat tinggi ini kepadanya. Begitu ramah dan seperti berhadapan dengan keluarga sendiri. Ketika melihat gadis itu menarik napas panjang dan wajahnya yang jelita itu seperti penuh penyesalan, Menteri Cang segera berkata,

“Apakah belum ada hasilnya? Kui Hong, kalau memang belum berhasil, katakan saja, tak perlu sungkan. Kami tidak akan menyesal karena memang kami telah mengetahui betapa lihainya penjahat itu sehingga semua usaha yang pernah kami lakukan untuk menangkap dia selalu gagal. Bagaimana pun, ceritakan hasil penyelidikanmu."

Agak lega hati Kui Hong mendengar ini. Pembesar itu demikian ramah padanya sehingga kadang memanggil namanya begitu saja, seperti seorang paman kepada keponakannya. Hanya kalau ada orang lain dia selalu menyebut lihiap.

"Paman, harap paman memaafkan saya karena terus terang saja, penyelidikan saya telah gagal." Kui Hong juga tidak lagi menyebut taijin kepada pembesar itu karena Cang Taijin berkali-kali minta agar dia menyebutnya paman saja.

"Hemm, sudah kuduga sebelumnya. Memang penjahat itu lihai bukan kepalang dan tentu dia sudah tahu mengenai penyelundupanmu ke dalam istana maka dia tak berani muncul. Apakah engkau tidak menemukan tanda-tanda lain?"

Kui Hong ingin sekali meneriakkan segala-galanya, akan tetapi tentu saja dia tidak mau melanggar janji. Lehernya seakan-akan dicekik dan dia pun hanya dapat menggelengkan kepala lantas menundukkan mukanya. Bahkan ketika bicara, dia tidak berani mengangkat pandang mata untuk bertemu pandang dengan pembersar itu.

Cang Ku Ceng adalah seorang pejabat tinggi yang sangat bijaksana dan cerdik, juga dia mempunyai banyak pengalaman. Maka diam-diam dia merasa curiga sekali ketika melihat sikap gadis perkasa itu. Ini bukan sikap Cia Kui Hong yang wajar, pikirnya.

Gadis itu kelihatan seperti berduka dan juga seperti orang yang sungkan dan malu-malu, seolah bersikap seperti orang yang tengah menyembunyikan dosanya. Apakah yang telah terjadi? Akan tetapi, sebagai orang yang bijaksana dia telah dapat mengenal watak gagah dari gadis itu. Bila Kui Hong mengambil keputusan untuk menyembunyikan sesuatu, maka hal itu tentu dilakukan dengan pertimbangan yang matang. Dan akan sia-sia belaka kalau memaksa seorang gadis seperti Kui Hong ini untuk merubah sikap.

“Sayang sekali," kata pembesar itu. “Akan tetapi tidak mengapalah, Kui Hong. Aku tetap merasa yakin bahwa pada suatu hari aku akan berhasil membongkar rahasia penjahat itu dan menghukumnya! Dia telah mencemarkan nama baik istana dengan perbuatannya itu."

Tiba-tiba saja gadis itu mengangkat mukanya dan sinar matanya penuh harap ketika dia berkata, "Saya pun berharap begitu, paman! Bila perlu saya akan menghadap kakek dan nenekku di Pulau Teratai Merah agar mereka suka membantumu."

"Apa? Kau maksudkan kakekmu pendekar Ceng Thian Sin, Si Pendekar Sadis itu? Ahhh, tidak perlu, Kui Hong. Ini adalah urusan dan tugas kami para petugas negara. Aku tidak berani membikin repot locianpwe (orang tua gagah) itu. Kami masih mempunyai banyak orang yang cukup pandai dan akan kami kerahkan mereka agar menangkap penjahat licik itu."

Tentu saja Kui Hong tidak berani memaksa. Jika dia membujuk kakeknya agar membantu Menteri Cang, hal itu bukan berarti dia melanggar janjinya kepada Ang-hong-cu. Janjinya adalah bahwa dia sendiri tidak akan memusuhinya, tidak akan membongkar rahasianya. Dan ia sama sekali tidak melakukan hal itu.

Karena telah gagal dan merasa malu kepada keluarga Menteri Cang, Kui Hong sekalian berpamit mohon diri untuk meninggalkan kota raja. Mendengar ini Menteri Cang terkejut sekali.

"Ehh, mengapa engkau tergesa-gesa hendak pergi, Kui Hong? Tidak, engkau tidak boleh pergi begitu saja. Kalau bibimu dan kakakmu Cang Sun mengetahui, tentu mereka akan menyesal sekali. Engkau harus tinggal dulu beberapa lamanya di rumah kami, Kui Hong. Selain itu, apakah engkau sudah lupa akan tugasmu mencari dua orang itu?"

"Dua orang?" Kui Hong memandang bingung. Pada waktu itu seluruh hati dan pikirannya sedang terganggu dan dipenuhi urusannya dengan Ang-hong-cu, maka dia sudah kurang memperhatikan persoalan lain.

"Ehh? Apakah engkau sudah lupa? Bukankah engkau sedang mencari dua orang musuh besarmu yang bernama Sim Ki Liong dan Tang Cun Sek yang sudah melarikan pusaka Pulau Teratai Merah dan Cinling-pai itu?"

Kui Hong terkejut. Aihh, bagaimana dia dapat melupakan mereka?

"Ahhh, mereka? Tentu saja saya tidak melupakan mereka, Paman. Justru saya berpamit untuk dapat segera melanjutkan perjalanan saya mencari dan menyelidiki mereka."

"Tenanglah, Kui Hong. Aku telah menyebar para penyelidik ke mana-mana untuk mencari mereka. Bahkan kemarin aku mendengar berita tentang kedua orang itu."

Kui Hong segera mengangkat mukanya, memandang dengan sinar mata gembira ketika mendengar ucapan itu. "Ahh, benarkah, Paman? Di mana dua orang keparat itu?"

"Tenanglah dan dengarkan keteranganku. Baru kemarin dua orang di antara penyelidikku datang memberi laporan bahwa Sim Ki Liong dan Tang Cun Sek diketahui berada di Kim-lian-san dan di situ mereka mendirikan perkumpulan para penjahat yang merajalela. Tapi baru-baru ini gerombolan mereka diserbu dan dikeroyok oleh para anggota perkumpulan lain sehingga gerombolan Kim-lian-pang itu berhasil dibasmi. Akan tetapi kabarnya kedua orang itu bisa meloloskan diri. Sekarang para penyelidikku sedang mencari dua orang itu. Percayalah, para penyelidik itu berpengalaman dan mereka tentu akan dapat menemukan kembali dua orang musuhmu itu. Engkau tinggallah dulu menanti di sini, Kui Hong. Mari, mari kuantar menemui bibimu dan kakakmu. Mereka selalu bertanya tentang dirimu."

Ketika mereka memasuki ruangan dalam, isteri Menteri Cang dan puteranya, Cang Sun, menyambut Kui Hong dengan wajah berseri. "Adik Kui Hong! Ah, engkau sudah kembali? Lega dan senang hatiku melihat engkau selamat!”

Wajah Kui Hong berubah agak kemerahan melihat sikap pemuda itu, apa lagi mendengar panggilan yang akrab itu seolah-olah mereka telah menjadi kenalan baik.

"Cang Kongcu…!" katanya memberi hormat.

"Aihh, Hong-moi (adik Hong), kenapa menyebut kongcu (tuan muda) kepadaku? Sungguh tidak enak didengar. Sebut saja toako (kakak), bukankah kami telah menganggap engkau seperti anggota keluarga sendiri?"

"Benar ucapan puteraku tadi, Kui Hong," kata Nyonya Cang sambil melangkah maju dan memegang tangan gadis itu, lalu diajaknya duduk. "Sebut saja dia Sun-toako (kakak Sun), karena dia sudah berusia dua puluh tujuh, lebih tua darimu. Akupun girang engkau sudah kembali dengan selamat."

"Terima kasih, Bibi...,” kata Kui Hong yang merasa tak enak melihat keramahan keluarga pejabat tinggi itu. Akan tetapi dia tidak menjadi rikuh.

Dia seorang gadis yang sudah banyak merantau, tidak pemalu lagi, dan sungguh pun dia berada di antara keluarga bangsawan tinggi, akan tetapi dia sendiri adalah seorang ketua perkumpulan besar, ketua Cin-ling-pai! Bagaimana pun juga, kedudukan atau tingkatnya tidaklah rendah, maka dia pun tidak merasa rendah diri, hanya merasa sangat sungkan menghadapi keramahan mereka.

Padahal, walau pun hanya dia sendiri yang tahu, dia sudah membuat kapiran tugas yang diberikan kepadanya. Dia sudah dapat membongkar rahasia busuk yang terjadi di istana, akan tetapi dia tidak dapat menceritakannya kepada keluarga itu, bahkan mengaku bahwa tugasnya telah gagal! Diam-diam dia merasa bersalah.

"Tadinya Kui Hong berpamit hendak meninggalkan kota raja, tapi aku menahannya sebab selain kita masih merasa rindu, juga para penyelidik sedang melakukan tugas menyelidiki dua orang penjahat yang selama ini dicarinya,” kata Menteri Cang Ku Ceng kepada isteri dan puteranya. Mendengar ini, ibu dan anak itu nampak terkejut.

"Ahh, Hong-moi, kenapa begitu tergesa-gesa hendak pergi?" Cang Sun berkata, nadanya khawatir dan kaget.

"Kui Hong, tinggallah di sini dulu dan jangan tergesa pergi meninggalkan kami. Kami telah menganggapmu sebagai anggota keluarga sendiri. Bukan hanya karena engkau pernah menyelamatkan pamanmu, akan tetapi juga karena kami merasa suka sekali kepadamu. Bahkan, terus terang saja, Kui Hong, paman dan bibimu ini sudah bersepakat dan akan merasa senang sekali apa bila engkau suka menjadi mantu kami! Sun-ji (anak Sun) juga sudah setuju!"

Cang Sun tersenyum, ada pun ayahnya juga tertawa. Tentu saja Kui Hong tersipu malu. Keluarga bangsawan ini sungguh mempunyai watak dan sikap yang terbuka, watak yang tentu saja amat cocok dan dihargainya. Namun karena yang dibicarakan adalah masalah perjodohannya, tentu saja dia tersipu.

"Ha-ha-ha, maafkan keluarga kami, Kui Hong." kata Menteri Cang sambil tertawa. "Bukan kami tidak menghargaimu, tetapi kami memang suka berterus terang, apa lagi mengingat bahwa engkau adalah seorang pendekar wanita, dan dari keluarga para pendekar besar, maka tidak perlu kami berbasa-basi dan langsung saja menanyakan pendapatmu tentang maksud hati kami itu. Bila mana engkau sudah setuju, barulah secara resmi kami akan mengajukan pinangan kepada orang tuamu!'

Kui Hong dapat menghargai keterbukaan ini. Maka, biar pun dia merasa rikuh sekali dan tidak berani menentang pandang mata mereka bertiga secara langsung, dia menjawab,

"Terima kasih atas perhatian dan penghargaan yang diberikan oleh Paman sekeluarga terhdap saya. Akan tetapi mengenai perjodohan, bukan berarti saya menolak kehormatan yang Paman berikan kepada saya. Akan tetapi terus terang saja, pada waktu sekarang ini saya masih belum mempunyai niat sama sekali. Harap Paman bertiga suka memaafkan saya."

"Tidak ada yang perlu dimaafkan, Kui Hong. Kami lebih senang jika engkau mau berterus terang seperti ini. Baiklah, kami tidak akan mengungkit kembali soal perjodohan ini, kelak masih banyak waktu untuk membicarakan lagi, seandainya engkau mulai berminat. Cang Sun, untuk sementara ini lupakan saja niat hatimu itu dan anggap Kui Hong sebagar adik saja."

Biar pun kecewa, Cang Sun dan ibunya dapat menerima alasan itu. Sikap mereka masih biasa, akrab dan ramah dan mereka tidak pernah menyinggung tentang usul ikatan jodoh itu. Hal ini membuat Kui Hong merasa bersyukur dan berterima kasih sekali.

Dia tahu bahwa dia sudah ditawari sebuah kedudukan yang sangat mulia. Dia tahu bahwa kalau dia menjadi isteri Cang Sun, dia akan memperoleh seorang suami yang walau pun lemah karena tidak menguasai ilmu silat, akan tetapi tampan, pandai dan terpelajar, dan seorang calon pejabat tinggi yang baik. Selain itu dia juga akan menjadi menantu tunggal dari seorang menteri yang bijaksana, akan memiliki sepasang orang tua sebagai mertua yang baik. Dia juga akan memperoleh kedudukan tinggi yang terhormat dan hidup serba kecukupan dan terhormat. Mau apa lagi bagi seorang gadis?

Namun ada satu hal yang kurang dan justru ini penting sekali. Di dalam hatinya tidak ada perasaan cinta seorang calon isteri terhadap Cang Sun! Dia mengharapkan agar menteri itu akan dapat cepat memperoleh keterangan tentang di mana adanya Sim Ki Liong dan Tang Cun Sek…..

********************


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut

        15 Posting Terakhir

DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner