SI KUMBANG MERAH : JILID-44


Dengan wajah muram dan hati gundah Tang Bun An pulang ke rumahnya. Baru saja dia terlepas dari ancaman bahaya yang akan menghancurkan kehidupannya. Sama sekali tak pernah disangkanya bahwa semua rahasianya sudah berada di tangan gadis she Cia itu, ketua Cin-ling-pai, dan lebih lagi, cucu Pendekar sadis!

Dia bergidik apa bila membayangkan betapa dia akan dimusuhi Cin-ling-pai dan dicari-cari oleh Pendekar Sadis. Hidupnya akan berubah seperti dalam neraka. Setiap saat dia akan dicekam rasa takut dan khawatir, dan hidupnya takkan pernah tenang dan tenteram lagi. Dia akan selalu merasa tidak aman.

Untung dia bertindak cerdik dan mampu menjebak gadis perkasa itu. Sekarang dia sudah terbebas dari ancaman bahaya. Dia percaya sepenuhnya bahwa seorang gadis pendekar seperti itu tidak akan menjilat ludah sendiri, tidak akan melanggar janjinya sendiri, apa lagi dengan kedudukan ketua Cin-ling-pai.

Betapa pun juga dia tetap merasa kurang tenteram karena dia mengetahui bahwa Menteri Cang Ku Ceng menaruh kecurigaan kepadanya! Kini dia harus waspada dan berhati-hati, tidak boleh terlalu menuruti nafsunya dan harus mengurangi atau bahkan menghentikan petualangannya di istana bagian puteri.

Tang Bun An yang dikenal sebagai Tang Ciangkun, orang yang sudah berjasa terhadap kaisar, selama ini diam-diam memang telah mengumpulkan puluhan orang yang dipilihnya dari para prajurit anak buahnya. Dia tidak pernah menuturkan rahasia pribadinya kepada siapa pun, juga tidak kepada kelompok prajurit pengawal yang telah menjadi orang-orang kepercayaannya. Akan tetapi dia menimbuni mereka dengan hadiah, bahkan mengajarkan beberapa jurus pukulan kepada mereka sehingga dia percaya bahwa prajurit-prajurit ini adalah orang-orang yang boleh dipercayanya, bukan sebagai atasan saja melainkan juga secara pribadi.

Begitu sampai di rumah dia segera memanggil anak buahnya dan memerintahkan mereka untuk menyebar anggota mereka ke seluruh kota raja. "Ketahuilah bahwa aku mempunyai banyak musuh di dunia kang-ouw. Tentu saja mereka itu merasa iri kepadaku yang sudah mendapatkan kedudukan baik di sini. Aku mendengar bahwa di antara mereka ada yang menyusup ke kota raja, tentu dengan niat buruk terhadap diriku. Karena itu kalian harus melakukan penyelidikan dan pengamatan di seluruh kota raja. Segera laporkan kepadaku bila ada orang-orang yang mencurigakan, apa lagi yang mencari aku atau mencari orang she Tang." Demikianlah pesannya kepada tiga puluh orang lebih yang dia tugaskan untuk menjadi mata-matanya.

Dia mengerti bahwa para pendekar seperti Cia Kui Hong dan yang lain telah tahu bahwa Ang-hong-cu adalah seorang she Tang. Rahasia ini bocor karena Tang Hay menyatakan diri sebagai puteranya, dan juga karena ulah Tang Gun yang membanggakan diri sebagai putera Ang-hong-cu. Karena itulah maka kepada anak buahnya dia berpesan agar segera melaporkan kalau ada orang mencarinya atau mencari orang she Tang.

Usahanya ini segera memperlihatkan hasil. Belum lagi sepekan dia menyebar mata-mata, pada suatu sore seorang anak buahnya melaporkan bahwa ada tiga orang muncul di kota raja dan mereka itu bertanya-tanya mengenai perwira Tang Gun yang kini menjadi orang pelarian. Mendengar ini, Tang Bun An mengerutkan alisnya. Hatinya merasa tidak enak.

Biar pun yang ditanyakan mereka itu Tang Gun, namun ada hubungan dekat sekali antara dia dan Tang Gun. Tang Gun pernah membual di kota raja bahwa dia adalah putera Ang-hong-cu, dan kalau kini ada tiga orang mencarinya, besar kemungkinan ada hubungannya pula dengan Ang-hong-cu, seperti juga yang dilakukan oleh Cia Kui Hong.

"Bagaimana rupanya tiga orang itu? Pria ataukah wanita?" tanyanya penuh perhatian.

"Mereka adalah seorang wanita dan dua orang pria...”

"Bagaimana wajah wanita itu? Dan berapa usianya? Siapa pula namanya, hayo cepat beri penjelasan!" Tang Bun An agak panik karena dia mengira wanita itu adalah Cia Kui Hong!

"Dia seorang wanita yang sangat cantik dengan pakaian yang indah, Ciangkun. Usianya tiga puluh tahun lebih. Di punggungnya terlihat gagang sepasang pedang."

Lega rasa dada Tang Bun An mendengar ini. Usianya sudah tiga puluh tahun! Jelas dia bukan Cia Kui Hong.

"Dan bagaimana yang dua orang laki-laki itu?"

"Mereka adalah dua orang muda yang tampan dan gagah, yang seorang berusia kurang lebih tiga puluh tahun dan yang kedua baru berusia dua puluh tahun lebih.”

"Siapa nama mereka?"

"Saya tidak tahu, Ciangkun. Saya sudah mencari keterangan, tapi tidak ada seorang pun yang tahu. Mereka hanya bertanya-tanya tentang perwira Tang Gun kepada para pelayan rumah penginapan."

"Mereka di rumah penginapan?"

"Benar, Ciangkun. Di rumah penginapan Ban-lok Likoan."

Tang Bun An mengangguk-angguk. Jelas bukan Cia Kui Hong, namun tetap saja sangat mencurigakan. Dia harus bertindak lebih dahulu sebelum terlambat. Siapa tahu mereka itu para pendekar kawan Cia Kui Hong. Gadis ketua Cin-ling-pai itu memang sudah berjanji tidak akan mengganggunya, akan tetapi siapa tahu dia mengundang teman-temannya!

Walau pun dia tidak berani membuka rahasia karena sudah berjanji, akan tetapi mungkin saja dia menyerahkan tugas penyelidikan itu kepada teman-temannya. Ia harus waspada dan mendahului setiap orang yang akan mendatangkan bahaya baginya. Dia cepat-cepat membuat surat singkat dan rnemasukkannya dalam sampul.

Dikumpulkannya semua pembantunya, lantas dia pun mengatur siasat untuk menghadapi tiga orang yang mencurigakan. Dia mengatakan kepada para pembantunya mungkin saja mereka itu adalah musuh-musuhnya. Sesudah itu dia lantas mengutus seorang pembantu untuk menyerahkan sampul suratnya kepada tiga orang itu.

Tiga orang muda yang menjadi perhatian Tang Bun An itu sesungguhnya bukanlah orang-orang sembarangan, sebab mereka adalah Sim Ki Liong, Tang Cun Sek dan Ji Sun Bi! Ji Sun Bi yang usianya sudah tiga puluh satu tahun akan tetapi masih nampak cantik manis dan genit itu berjuluk Tok-sim Mo-li (Iblis Betina Berhati Racun), seorang tokoh sesat yang terkenal amat lihai dan juga amat jahat.

Ada pun dua orang pemuda yang kini bersamanya sebenarnya merupakan murid-murid orang-orang pandai dan pendekar besar. Yang pertama adalah Sim Ki Liong yang pernah menjadi murid yang disayang dari Pendekar Sadis dan isterinya. Namun putera mendiang Sim Thian Bu ini memang memiliki dasar watak yang jahat. Dia melarikan diri dari Pulau Teratai Merah, dan mencuri pedang pusaka Gin-hwa-kiam dari keluarga Pendekar Sadis.

Ada pun pemuda yang ke dua adalah Tang Cun Sek, pernah menjadi murid terkemuka di Cin-ling-pai. Tetapi putera kandung Ang-hong-cu ini pun memiliki dasar watak yang jahat. Dia melarikan diri dari Cin-ling-pai dan mencuri pedang pusaka Hong-cu-kiam!

Tiga orang muda yang lihai namun jahat ini bertemu dan bersatu, bahkan mereka sempat bersama-sama memperkuat sebuah perkumpulan yang disebut Kim-lian-pang, bersarang di salah satu puncak di Pegunungan Kim-lian-san. Sim Ki Liong yang paling lihai di antara mereka menjadi ketuanya, dan dua orang lainnya menjadi pembantu-pembantu utama.

Akan tetapi tindakan sewenang-wehang dari Kim-lian-pang telah memancing permusuhan dengan para perkumpulan lainnya, dan akhirnya Kim-lian-pang diserbu oleh orang-orang dari perkumpulan lain. Sebenarnya mereka tidak akan kalah kalau saja tidak muncul Pek Han Siong dan Tang Hay yang akhirnya mengalahkan mereka. Bahkan Hay Hay berhasil merampas pedang Gin-hwa-kiam dan pedang Hong-cu-kiam dari tangan Sim Ki Liong dan Tang Cun Sek.

Biar pun menderita kekalahan dan perkumpulan Kim-lianpang yang jahat itu dibasmi, tiga orang pimpinan ini berhasil meloloskan diri mereka. Mereka merasa kehilangan, terutama sekali Sim Ki Liong yang kehilangan kedudukan dan kekuasaan, kehilangan harta benda, kehilangan segalanya sehingga dia merasa sakit hati sekali terhadap Han Siong dan Hay Hay yang sudah menghancurkan kedudukan serta kekuasaannya yang mulai dipupuk dan mulai tumbuh itu. Dia kehilangan segalanya, akan tetapi merasa terhibur juga karena dua orang pembantunya yang juga menjadi sahabat baiknya, yaitu Ji Sun Bi dan Tang Cun Sek, ternyata dapat menyelamatkan diri dan kini terlah bergabung kembali bersamanya.

Ji Sun Bi adalah pembantunya, sahabatnya, juga kekasihnya. Tang Cun Sek merupakan pembantu dan sahabatnya yang cocok, dan kedua orang itu memiliki ilmu silat yang boleh diandalkan. Karena itu, biar pun sudah kehilangan kedudukan tinggi dan kekuasaan besar sebagai ketua Kim-lian-pang, dia masih terhibur dan berbesar hati karena masih bersama dua orang pembantunya itu.

"Aku harus membalas semua ini! Sekali waktu aku harus dapat mencincang hancur tubuh Tang Hay dan Pek Han Siong!" kata Sim Ki Liong dengan geram sambil mengepal tinju ketika ketiganya duduk mengaso di bawah pohon dalam hutan di mana mereka melarikan diri. Ji Sun Bi dan Tang Cun Sek juga duduk menyusut peluh, wajah mereka masih pucat karena baru saja mereka lolos dari cengkeraman maut.

"Mereka adalah musuhku sejak dulu," kata Ji Sun Bi. "Dan memang tidak ada yang akan lebih menyenangkan hatiku dari pada melihat mereka itu dapat kubinasakan. Akan tetapi kita harus berhati-hati sekali, karena kedua pemuda itu memang sakti. Bukan saja mereka berdua mempunyai ilmu silat yang tinggi, akan tetapi yang paling berbahaya lagi, mereka memiliki ilmu sihir yang amat kuat dan sukar dilawan. Kita bertiga belum cukup kuat untuk menghadapi mereka. Kita harus berusaha mencari orang-orang pandai untuk membantu kita."

"Pendapatmu itu memang benar, enci Sun Bi. Akan tetapi di mana kita dapat menemukan orang-orang pandai yang bersedia membantu kita?" tanya Sim Ki Liong. Dia sendiri baru keluar dari Pulau Teratai Merah sehingga belum banyak pengalaman, belum mempunyai hubungan dengan tokoh-tokoh kang-ouw yang berilmu tinggi.

Ji Sun Bi tersenyum. Tok-sim Mo-li ini tentu saja berbeda dengan kedua orang muda itu. Dia adalah seorang tokoh sesat yang kenamaan, maka tentu saja dia mengenal banyak tokoh sesat lain di dunia kang-ouw.

"Untuk mencari kawan-kawan baru yang pandai, serahkan saja kepadaku!"

"Kalau saja aku dapat bertemu dengan ayah kandungku, tentu dia akan suka membantu kita. Dan aku mendengar bahwa ayah kandungku itu, Ang-hong-cu, adalah seorang yang sakti," kata Tang Cun Sek.

"Akan tetapi di mana kita dapat mencari dia? Memang aku sendiri sudah lama mendengar akan nama besarnya. Dia sedemikian lihainya sehingga tidak ada seorang pun dari dunia kang-ouw yang mampu mengenal siapa sesungguhnya tokoh yang amat terkenal dengan julukan Ang-hong-cu itu," kata Ji Sun Bi.

Sim Ki Liong memandang kepada sahabatnya dan sekaligus pembantunya itu dengan alis berkerut. "Tang-toako, walau pun ayahmu itu sakti dan akan suka membantu kita, namun apa artinya kalau kita tidak dapat mengetahui di mana dia berada?”

“Jangan khawatir. Berdasarkan penyelidikanku, aku yakin bahwa dia berada di kota raja. Ada berita bahwa di kota raja terdapat seorang perwira muda she Tang yang mengaku bahwa dia adalah putera Ang-hong-cu. Nah, apa bila kita mencari perwira Tang itu di kota raja, tentu kita akan dapat mengetahui di mana adanya ayahku itu. Kalau benar perwira itu memang putera Ang-hong-cu, berarti dia masih saudaraku seayah."

Begitulah, karena sedang dalam keadaan bingung dan mengharapkan bantuan dari orang pandai yang dapat dipercaya, Sim Ki Liong dan Ji Sun Bi menyetujui dan mereka bertiga dengan hati-hati lantas memasuki kota raja untuk menyelidiki tentang Perwira Tang yang kabarnya menjadi perwira pasukan pengawal istana di kota raja.

Setelah mendapatkan sebuah rumah penginapan yang kecil agar kehadiran mereka tidak menyolok dan menarik perhatian, mereka mulai bertanya-tanya tentang perwira Tang itu. Mereka bertanya kepada para pelayan rumah penginapan dan pelayan rumah makan di mana mereka makan.

Mereka sama sekali tidak tahu bahwa sikap mereka bertanya-tanya tentang perwira Tang telah menimbulkan kecurigaan seorang mata-mata pembantu Perwira Tang Bun An yang langsung melaporkan hal itu kepada majikannya. Dan dari hasil keterangan yang mereka peroleh, terdapat berita mengejutkan bahwa Perwira Tang yang mereka cari-cari itu telah ditangkap dan dihukum buang!

Berita ini bukan mengejutkan, akan tetapi juga amat mengecewakan hati Tang Cun Sek. Jejak satu-satunya yang dapat membawanya kepada ayah kandungnya kini telah lenyap! Kalau bukan perwira she Tang itu, lalu siapa lagi yang dapat memberi keterangan kepada dia tentang Ang-hong-cu?

Selagi mereka bertiga kebingungan sesudah mendengar berita itu dan tidak tahu harus berbuat apa, tiba-tiba pelayan rumah penginapan menyerahkan sesampul surat kepada mereka sambil berkata,

"Ini ada sepucuk surat untuk sam-wi."

Sim Ki Liong yang menganggap dirinya sebagai pimpinan segera menerima surat itu dan bertanya heran, "Siapakah orang yang menyerahkan surat ini kepadamu?"

Pelayan itu menggelengkan kepala. "Pada waktu saya sedang bertugas di luar, orang itu datang dan menyerahkan surat ini kepada saya dengan pesan agar disampaikan kepada sam-wi. Mula-mula dia bertanya apakah ada dua orang pemuda dan seorang wanita yang bermalam di sini, yang bertanya-tanya tentang Perwira Tang. Ketika saya membenarkan, dia lalu mengeluarkan surat ini dengan pesan agar saya serahkan kepada sam-wi."

Sim Ki Liong mengangguk dan pelayan itu lalu pergi. Dengan heran dan ingin tahu Sim Ki Liong membuka sampul surat itu dan membaca isi surat yang singkat saja.

Jika kalian bertiga ingin tahu tentang Perwira Tang, keluarlah dari kota raja melalui pintu gerbang utara dan ikuti seorang yang akan menjadi penunjuk jalan.

Surat itu tanpa nama pengirim, tanpa tanda tangan, ditulis dengan huruf indah dan gagah. Membaca ini, mereka bertiga saling pandang dan Tang Cun Sek menjadi gembira sekali.

"Ahh, jejak yang menghilang itu kini timbul kembali!" serunya. "Kita harus cepat menuruti petunjuk surat ini. Kalau kita dapat menemukan Perwira Tang, tentu akan mudah mencari Ang-hong-cu ayahku."

Ji Sun Bi yang mempunyai pengalaman jauh lebih luas dibandingkan dua orang muda itu, mengerutkan alis. "Kita harus berhati-hati dan waspada. Adanya surat ini memperlihatkan pengirimnya sudah tahu akan kedatangan dan gerak-gerik kita. Sebaliknya, kita tidak tahu siapa dia atau mereka, dan tidak tahu pula mereka itu kawan ataukah lawan. Undangan ini dapat saja beriktikad baik, akan tetapi juga dapat merupakan suatu perangkap."

"Hemm, andai kata surat ini merupakan sebuah perangkap, apakah kita perlu takut? Kita hajar mereka!" kata Sim Ki Liong.

Ini bukan merupakan suatu kesombongan atau bualan belaka. Mereka bertiga merupakan orang-orang yang mempunyai ilmu silat yang tinggi dan sukar dicari tandingannya, maka tentu saja mereka bertiga tidak takut terhadap ancaman pihak lawan yang belum mereka ketahui siapa.

"Benar, kita tidak perlu takut. Lagi pula, kalau pengirim surat ini memang mempunyai niat buruk terhadap kita, perlu apa dia mengirim surat ini? Tentu saja mereka akan langsung mengepung dan menyerang kita," kata pula Tang Cun Sek.

"Betapa pun juga, kita harus berhati-hati dan tetap waspada," kata Ji Sun Bi.

"Mari sekarang juga kita pergi sebelum hari menjadi gelap," kata Sim Ki Liong.

Mereka lalu meninggalkan rumah penginapan, menuju ke pintu gerbang utara dan keluar dari kota raja. Sesudah tiba di luar pintu gerbang dan berjalan terus sampai ke jalan yang sunyi, mereka dihadang seorang laki-laki setengah tua yang berpakaian sebagai seorang pemburu. Laki-laki itu menjura dan berkata dengan suara lirih.

"Sam-wi yang mencari Perwira Tang?"

Tiga orang itu memandang penuh perhatian dan mengangguk. Laki-laki itu nampak gagah dan bertubuh tegap, namun mereka tahu bahwa dia ini hanyalah seorang anak buah atau utusan saja.

"Silakan sam-wi ikut dengan saya," orang itu berkata pula.

Tiba-tiba, secepat kilat Ji Sun Bi menggerakkan tubuhnya ke arah orang itu, lalu tangan kirinya mencengkerarn ke arah kepala. Orang itu terkejut sekali, akan tetapi jelas bahwa dia bukan orang lemah karena begitu melihat serangan itu, dia cepat miringkan tubuh dan menggerakkan tangan kanan untuk rnenangkis.

Tetapi ternyata cengkeraman tangan kiri itu hanya gertakan saja, yang bergerak sungguh-sungguh adalah tangan kanannya, dengan dua jari rnenotok pundak. Gerakan Ji Sun Bi terlalu cepat bagi orang itu sehingga tidak sempat mengelak lagi. Pundaknya tertotok dan dia pun terguling roboh, tak mampu menggerakkan tubuhnya lagi!

"Nah, kau lihat. Kalau ternyata engkau menipu dan menjebak kami, maka nyawamu akan melayang!" kata Ji Sun Bi, kemudian dia pun menepuk pundak orang itu untuk membuka kembali jalan darah yang tertotok.

Orang itu bangkit berdiri, kemudian memandang dengan wajah membayangkan perasaan jeri. Tak disangkanya bahwa wanita cantik itu sedemikian lihainya! Dia mengangguk dan berkata,

"Saya hanyalah utusan untuk menyambut sam-wi. Kenapa saya diganggu?"

"Tak perlu banyak cakap!" kata Sim Ki Liong. "Hayo antarkan aku dan teman-temanku ini kepada si pengirim surat!"

Dengan sikap ketakutan orang itu lalu berjalan menuju ke arah sebuah bukit, diikuti oleh tiga orang itu. Matahari mulai condong ke barat ketika mereka menyusup-nyusup hutan. Akhirnya mereka pun tiba di depan sebuah pondok di puncak bukit yang tersembunyi di tengah hutan itu. Tempat itu amat sunyi, dan pondok itu sama sekali tidak nampak ketika mereka mendaki bukit itu, karena tersembunyi di dalam hutan yang lebat. Sesudah tiba di depan pondok, orang itu berkata kepada mereka,

"Kita telah tiba, harap sam-wi masuk ke pondok. Pengirim surat itu telah menanti sam-wi di dalam pondok!"

"Hemm, kau sangka kami anak-anak kemarin sore yang masih bodoh?" Ji Sun Bi berseru dengan suara mengejek. "Hayo cepat kau suruh dia keluar pondok, atau akan kubunuh kau lebih dulu!"

Tentu saja orang itu menjadi ketakutan. Akan tetapi ketika itu pula pintu pondok terbuka dari dalam dan muncullah Tang Bun An. Dia melangkah keluar sambil tertawa bergelak, akan tetapi sepasang matanya yang tajam itu memandang kepada mereka bertiga penuh perhatian.

"Ha-ha-ha, tiga orang muda yang sungguh sombong. Kalian masih berani berlagak dan mengancam? Lihatlah ke sekeliling kalian!" Tang Bun An melangkah keluar dengan sikap tenang sekali.

Tiga orang muda itu memandang dengan sikap waspada, dan ketika mendengar ucapan itu mereka membalikkan tubuh. Kiranya mereka kini telah terkepung oleh dua puluh orang lebih yang siap dengan segala macam senjata di tangan. Ada yang memegang pedang, golok, toya, tombak atau ruyung dan melihat cara mereka memegang senjata maka dapat diketahui bahwa mereka adalah orang-orang yang terlatih dan memiliki kepandaian silat.

Tentu saja Sim Ki Liong, Tang Cun Sek dan Ji Sun Bi sama sekali tidak menjadi gentar menghadapi pengepungan kurang lebih dua losin orang itu, akan tetapi mereka merasa penasaran sekali.

"Hemm, kalau engkau memaki kami sebagai tiga orang muda yang sombong, maka jelas bahwa engkau adalah seorang tua yang sangat curang dan pengecut! Siapa engkau dan mengapa pula engkau menjebak kami di sini dan ingin mengeroyok kami? Apa kesalahan kami terhadapmu, dan ada urusan apakah yang membuat engkau bersikap curang seperti ini?"

Wajah Tang Bun An menjadi kemerahan dan sinar matanya mencorong. Pemuda tampan dan gagah ini sungguh berani mati!

"Bocah sombong jangan kira bahwa aku tidak berani melawan kalian bertiga. Akan tetapi, sebelum kita bicara, aku ingin melihat lebih dulu apakah kepandaian kalian juga sebesar sikap sombong kalian!" Dia memberi isyarat kepada anak buahnya yang segera bergerak, mengepung dan mulai menyerang!

Ji Sun Bi segera mencabut sepasang pedangnya dan begitu dia memutar pedang-pedang itu, nampak dua gulungan sinar lantas beberapa orang penyerang rnengeluarkan seruan kaget karena senjata mereka tiba-tiba saja membalik, bahkan ada sebatang pedang dan sebatang golok terlepas dari pegangan tangan pemiliknya.

Sim Ki Liong telah kehilangan Gin-hwa-kiam yang terampas oleh Hay Hay, juga Tang Cun Sek kehilangan Hong-cu-kiam yang juga dirampas oleh Hay Hay. Kedua orang pemuda ini belum memiliki senjata akan tetapi keduanya mempunyai kepandaian yang cukup tinggi sehingga dengan tangan kosong saja mereka menyambut serangan para pengeroyok itu. Kedua tangan rnereka menampar-nampar, kaki mereka menendang-nendang dan dalam waktu beberapa menit saja dua losin orang yang mengeroyok itu segera kocar-kacir dan terlempar ke sana-sini!

Melihat ini secara diam-diam Tang Bun An terkejut dan kagum bukan main. Kalau mereka ini adalah pendekar-pendekar seperti Cia Kui Hong, maka celakalah dia.

"Tahan !" Dia berseru dan anak buahnya yang sudah terdesak hebat itu cepat berloncatan mundur. Sim Ki Liong, Tang Cun Sek dan Ji Sun Bi berdiri sambil tersenyum mengejek.

"Nah, apakah sekarang engkau hendak memperkenalkan diri dan bicara apa maksudmu mengundang kami?" tanya Sim Ki Liong, sikapnya mengejek dan penuh tantangan.

Tang Bun An masih merasa penasaran, ingin sekali dia menguji sendiri ilmu kepandaian mereka atau seorang di antara mereka. Maka dia pun berkata, "Kalian hebat! Akan tetapi aku masih penasaran. Sebelum bicara, aku ingin merasakan sendiri kelihaian kalian. Nah, majulah salah seorang di antara kalian yang paling pandai, dan mari kita bertanding untuk melihat sampai di mana tingkat kepandaian masing-masing."

Sim Ki Liong yang merasa paling pandai, bahkan memang tadinya dialah yang menjadi ketua, segera maju.

"Akulah yang akan menandingimu!"

"Tak perlu engkau yang maju sendiri, Pangcu. Urusan ini adalah urusan pribadiku, biarlah aku yang menandinginya!" kata Tang Cun Sek.

Dan dia pun segera melompat ke depan, menghadapi Tang Bun An. Dia masih menyebut pangcu kepada Sim Ki Liong walau pun sekarang pemuda itu bukan lagi seorang ketua perkumpulan dan sudah tidak memiliki anak buah lagi.

Sejenak Tang Bun An menatap tajam wajah pemuda tinggi besar itu dan dia pun kagum. Selain tinggi besar dan tubuhnya kokoh kuat, juga wajah pemuda yang berkulit putih itu menarik sekali, tampan dan gagah. Matanya mengeluarkan cahaya mencorong dan jelas bahwa dia seorang pemuda yang ‘berisi’. Dia pun heran sekali mendengar pemuda tinggi besar ini menyebut ‘pangcu’ kepada pemuda tampan yang halus dan jauh lebih muda itu.

"Bagus! Kalian bertiga sama-sama lihai, asal bisa menguji salah seorang di antara kalian, hatiku sudah puas. Orang muda mulailah!" tantangnya.

Tang Cun Sek juga seorang yang mempunyai watak tinggi hati. Dia merasa bahwa tingkat ilmu silatnya sudah amat tinggi dan jarang ada orang mampu menandinginya, maka tentu saja dia memandang rendah kepada pria setengah tua itu. Juga sudah lama dia menjadi murid utama di Cin-ling-pai, maka dia pun dapat menirukan sikap para pendekar. Kini pun dia mencoba bersikap gagah.

"Orang tua, engkaulah yang menantang dan mengundang kami, maka engkau pula yang harus mulai menyerang. Silakan!" katanya dengan sikap waspada karena bagaimana pun juga dia belum tahu benar sampai di mana kelihaian calon lawan ini, walau pun dia agak memandang rendah.

"Bagus, sambut seranganku!" bentak Tang Bun An.

Bentakannya mengandung tenaga khikang sehingga menggetarkan jantung, namun Cun Sek sudah melindungi dirinya dengan pengerahan tenaga sakti dan begitu tangan kanan terbuka dari lawan menyambar ke arah dadanya, dia pun cepat mengelak mundur sambil memutar lengan kiri menangkis, sedangkan lengan kanannya meluncur ke depan dengan tangan terkepal, menghantam dari samping ke arah pelipis lawan sebagai balasan.

"Hemmm!" Tang Bun An berseru dan sengaja mengerahkan tenaga pada lengan kirinya untuk menangkis hantaman tangan lawan ke arah pelipisnya itu untuk mengadu tenaga dan menguji kekuatan tenaga lawan.

"Dukkk!"

Dua lengan itu bertemu dan akibatnya keduanya terdorong mundur dua langkah! Kini Cun Sek tidak lagi berani memandang rendah. Kiranya lawannya memiliki tenaga yang sangat kuat, yang dapat mengimbangi tenaganya sendiri! Dia pun merasa penasaran dan cepat dia menerjang ke depan sambil mainkan Ilmu Silat Thai-kek Sin-kun yang ampuh. Ilmu ini merupakan satu di antara ilmu-ilmu silat andalan Cin-ling-pai, selain gerakannya mantap dan mengandung tenaga dahsyat, juga kadang amat cepat seperti kilat menyambar.

"Uhhh...!"

Tang Bun An berseru karena kaget bukan main. Dia mengenal ilmu yang pernah dia lihat dimainkan pula oleh Cia Kui Hong, ketua Cin-ling-pai itu! Celaka, pikirnya. Jelas pemuda ini ada hubungannya dengan Cia Kui Hong. Tentu dia ini seorang jagoan dari Cin-ling-pai yang sengaja diundang Kui Hong untuk memusuhinya. Gadis itu telah melanggar janjinya, atau kalau tidak melanggar janji dan tidak membuka rahasianya, agaknya telah mengirim orang-orang Cin-ling-pai yang lihai untuk memusuhinya!

Dia pun cepat menggerakkan tubuhnya dan mengeluarkan ilmu-ilmu silatnya yang banyak ragamnya, menangkis, mengelak dan membalas dengan pengerahan seluruh tenaganya. Diam-diam dia merasa gentar juga. Walau pun dia mungkin mampu menandingi bahkan mengatasi pemuda tinggi besar itu, namun di sana masih ada dua orang temannya yang juga amat lihai. Bahkan mudah diduga bahwa pemuda yang disebut pangcu ini tentu lebih lihai, dan wanita itu pun tak boleh dipandang ringan. Apa bila mereka maju bertiga, maka sukarlah baginya untuk dapat lolos!

Mereka saling serang dengan serunya dan pada suatu saat, ketika Cun Sek mengubah pula ilmu silatnya dan kini memainkan Im-yang Sin-kun, pada waktu sepasang tangannya mendorong dengan pengerahan tenaga, Tang Bun An juga mendorong kedua tangannya untuk menyambut sambil mengerahkan tenaga pula.

"Desss...!"

Kali ini pertemuan dua pasang tangan itu lebih hebat dari pada tadi dan akibatnya mereka berdua terdorong ke belakang sampai terhuyung!

"Tahan!" kata Tang Bun An sebelum pemuda tinggi besar itu menyerangnya lagi. "Apakah hubunganmu dengan Cin-ling-pai, orang muda?"

Mendengar pertanyaan itu, Cun Sek juga terkejut. Kiranya orang tua yang gagah dan lihai itu mengenal ilmu silatnya yang diperoleh dari Cin-ling-pai! Jangan-jangan orang ini tokoh yang berdekatan dengan Cin-ling-pai! Kalau demikian halnya, berbahaya sekali.

Tiba-tiba Sim Ki Liong telah mendahuluinya. Pemuda ini meloncat ke depan, menghadapi orang tua yang lihai itu. "Paman, mengingat bahwa engkau yang mengundang kami dan mengirim surat, maka sudah sepatutnya jika engkau pula yang menceritakan siapa dirimu dan apa pula maksudmu mengundang kami, kemudian menguji kepandaian kami di sini."

Tang Bun An meraba-raba dagunya yang telah dicukur bersih. "Aku sengaja mengundang kalian ketika mendengar dari anak buahku bahwa kalian bertanya-tanya tentang Perwira Tang. Apakah yang kau maksudkan adalah Perwira Tang Gun yang telah dihukum buang oleh kaisar?" Melihat sikap tiga orang muda itu berkeras menuntut dia yang lebih dahulu memperkenalkan diri dan membuat pengakuan, dia pun menyambung cepat. "Kalau yang kalian maksudkan Tang Gun, maka aku dapat memberi keterangan sejelasnya tentang dia."

Kini Tang Cun Sek yang menjawabnya. "Sesungguhnya akulah yang punya kepentingan dengan perwira Tang itu. Kami tidak tahu siapa namanya, yang kami cari adalah Perwira Tang yang mengaku bahwa dia adalah putera Ang-hong-cu!"

Tang Bun An kini memandang wajah Cun Sek penuh perhatian, sinar matanya yang tajam mencorong itu seperti hendak menyelidiki isi hati pemuda itu lewat pengamatan wajahnya.

"Hemmm, orang muda, yang kau cari itu Tang Gun ataukah Ang-hong-cu?"

Bagaimana pun juga, pemuda ini pandai ilmu silat Cin-ling-pai dan kalau dia mencari Ang-hong-cu, jelas bahwa dia datang diutus oleh Cia Kui Hong!

"Kami mencari Ang-hong-cu!" Cun Sek berseru. "Dapatkah engkau menceritakan di mana adanya Ang-hong-cu?”

Meski pun jantungnya berdebar tegang, namun Tang Bun An masih dapat tersenyum dan mengangguk-angguk. "Itu tergantung dari sikap kalian. Kalian bertiga yang membutuhkan keterangan, maka sepatutnya kalau kalian memperkenalkan diri lebih dulu kepadaku, dan menjelaskan apa maksud kalian mencari Ang-hong-cu. Barulah akan aku pertimbangkan apakah aku dapat memberi tahu kalian di mana adanya Ang-hong-cu ataukah tidak."

"Nanti dulu, jangan sembarangan membuat pengakuan!" kata Ji Sun Bi cepat, lalu wanita ini memandang kepada Tang Bun An dengan sinar mata tajam.

"Hemmm, engkau adalah orang tua yang licik bukan main. Kami bertiga tidak mempunyai urusan denganmu, tapi engkau mengirim surat kepada kami, memancing kami datang ke sini. Lantas engkau mengerahkan anak buahmu untuk mengeroyok kami, bahkan engkau sendiri menguji kepandaian salah seorang di antara kami. Apa artinya semua ini? Dan kini engkau hendak memancing keterangan kami tanpa memberi tahu kepada kami siapakah engkau dan apakah artinya semua perbuatanmu ini. Padahal pengeroyokan anak buahmu telah gagal, dan betapa pun lihaimu, kiranya engkau tak akan mampu mengalahkan kami bertiga. Bahkan kalau kami mau, kami akan dapat mengeroyok dan merobohkanmu. Nah, dalam keadaan seperti ini, sepatutnya engkaulah yang lebih dahulu memperkenalkan diri dan menjelaskan mengapa engkau mengundang kami."

Tang Bun An tertawa dan dia pun memandang kepada wanita itu dengan kagum. Seorang wanita yang bukan saja cantik, namun berkepandaian silat tinggi dan cerdik sekali, dan tentu saja dia mengenal baik siapa Ji Sun Bi.....


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner