SI KUMBANG MERAH : JILID-46


Pada jaman itu kerajaan Beng-tiauw dalam keadaan makmur berkat kebijaksanaan dua orang menteri yang menjadi kepercayaan kaisar. Dua orang menteri itu adalah Menteri Yang Ting Hoo yang berusia lima puluh tahun, seorang menteri yang setia dan bijaksana, ramah, sabar dan pandai mengatur siasat pemerintahan, dan orang yang ke dua adalah Menteri Cang Ku Ceng, yang suka bertindak tegas dan tidak segan-segan memberantas pejabat yang korup dan melakukan penyelewengan.

Menteri Cang Ku Ceng kini berusia lima puluh tiga tahun dan dia adalah seorang menteri yang tegas, sedangkan Menteri Yang Ting Hoo pandai sekali menghadapi negara-negara lain, pandai berdiplomasi. Kedua orang menteri inilah yang membantu berputarnya roda pemerintahan yang pada waktu itu dipimpin oleh Kaisar Cia Ceng (1520-1566).

Pada masa itu, sekitar tahun 1545, atas nasehat kedua orang menteri yang bijaksana dan sangat setia itu, Kaisar Cia Ceng tidak mengirim pasukan untuk memerangi negara lain, melainkan memusatkan kekuatan untuk menenteramkan keadaan di dalam negeri. Kedua orang menteri setia yang bersahabat baik itu, sering kali menukar tugas mereka. Apa bila Menteri Yang Ting Hoo bertugas mengatur ketentraman di dalam kota raja, maka Menteri Cang Ku Ceng yang bertugas mengatur ketentraman di luar daerah kota raja, begitu pula sebaliknya.

Pada waktu itu yang bertugas mengatur ketentraman di kota raja adalah Menteri Cang Ku Ceng, ada pun Menteri Yang Ting Hoo bertugas melakukan perondaan di seluruh daerah selatan di mana masih terjadi pergolakan di perbatasan dengan Anam, Siam dan Birma, walau pun perang terbuka sudah dihentikan.

Kedua orang menteri yang setia dan bijaksana itu maklum bahwa kini banyak orang asing berdatangan ke Cina. Biar pun mereka datang dengan dalih ingin berdagang, akan tetapi mereka ini harus dihadapi dengan hati-hati.

Mereka sudah banyak mendengar dari utusan kaisar yang pernah merantau ke selatan mengenai sikap orang-orang kulit putih itu yang amat tamak, dan dengan dalih berdagang mereka ingin mencengkeram negara orang lain menjadi jajahan mereka. Oleh karena itu, munculnya orang-orang berkulit putih yang berdatangan dari segala penjuru, baik melalui darat mau pun melalui lautan, mereka amati dengan penuh kewaspadaan.

Karena khawatir akan pengaruh mereka, maka atas nasehat para menterinya, Kaisar Cia Ceng menghentikan semua gerakan bala tentara ke perbatasan dan mulai menggerakkan pasukan untuk mengamankan keadaan di dalam negeri. Bila negara dalam keadaan aman maka negara akan kuat menghadapi ancaman dari luar.

Sejak pertama kali rombongan orang Portugis menginjakkan kakinya di tanah Tiongkok, mereka telah disambut dengan sikap bermusuhan oleh kaisar. Hal ini terjadi karena selain sikap orang-orang Portugis memang congkak, sombong, kasar dan juga mereka itu suka mempergunakan kekerasan dan bahkan suka merampok.

Lagi pula, sebelum orang-orang Portugis muncul di daratan Cina, terlebih dahulu datang Sultan Malaka menghadap Kaisar Tiongkok. Pada tahun 1511 Sultan Malaka ini pernah diserang oleh Bangsa Portugis hingga terusir dari negerinya. Bersama para pengikutnya, Sultan Malaka lalu berkeliling ke utara dan akhirnya menghadap kaisar untuk mengadu.

Kaisar memandang Sultan Malaka sebagai seorang sahabat, maka kaisar menjadi marah sekali ketika mendengar tentang ulah orang-orang Portugis itu. Maka, ketika rombongan pertama orang Portugis datang, mereka segera diserang. Banyak di antara mereka yang tewas, sedangkan yang hidup ditawan dan dimasukkan penjara di mana mereka akhirnya juga tewas.

Pada abad ke dua puluh itu memang orang-orang barat mulai bertualang ke Asia. Namun tidak mudah untuk memasuki Tiongkok karena Kaisar Cia Ceng sudah terlanjur menaruh curiga terhadap semua orang kulit putih. Terlebih lagi semenjak kedatangan orang-orang Portugis yang rata-rata menjadi pedagang tetapi juga merampok. Pemerintah dan rakyat tidak menaruh kepercayaan lagi kepada orang-orang berkulit putih bermata biru itu.

Demikianlah, menghadapi usaha orang-orang kulit putih untuk memasuki Tiongkok, baik dengan dalih berdagang atau merampok, kedua orang Menteri Yang Ting Hoo dan Cang Ku Ceng kemudian menentramkan kehidupan rakyatnya lebih dahulu agar dapat digalang persatuan yang kokoh untuk menghadapi pengaruh dan ancaman dari bangsa asing itu.

Kecurigaan Menteri Cang terhadap perwira pengawal Tang Bun An belum juga terbukti. Dia hanya mendengar desas-desus bahwa para wanita dalam istana kaisar bermain gila dengan seorang pria, namun tidak pernah ada orang yang melihat sendiri siapa pria yang menggegerkan para wanita itu. Dia memang menaruh kecurigaan kepada Tang Bun An, namun tentu saja dia tidak dapat bertindak apa-apa kalau tidak memiliki bukti, biar pun dia adalah seorang yang memiliki kekuasaan tinggi.

Kalau dia menggunakan kekuasaan, memang setiap saat dia mampu menangkap Tang-ciangkun, tapi Menteri Cang bukanlah seorang pejabat semacam itu, yang menggunakan kekuasaannya secara sewenang-wenang. Kalau tidak ada bukti, dia tidak mau bertindak. Apa lagi mengingat bahwa Tang Bun An sudah berjasa, dan memang keadaan di istana menjadi aman sejak dia menjadi kepala pasukan pengawal.

Desas-desus tentang adanya permainan gila antara para wanita di harem kaisar dengan seorang lelaki misterius itu hanya merupakan desas-desus yang memalukan, tetapi tidak membahayakan! Dan agaknya kaisar sendiri seperti tidak menaruh perhatian, tidak peduli.

Menteri Cang Ku Ceng yang merasa putus asa setelah Cia Kui Hong juga tidak berhasil menemukan suatu bukti pun bahwa Perwira Tang Bun An benar telah mengganggu para wanita di istana bagian puteri, diam-diam merasa heran sekali. Andai kata pengganggu keamanan di istana bagian puteri itu bukan Tang Bun An, tentu ada orang lain dan Kui Hong yang lihai tentu akan mampu menangkapnya, setidaknya melihat atau memergoki orangnya! Akan tetapi dia tidak mencurigai Kui Hong, hanya mengira bahwa pengacau itu agaknya takut ketika melihat Kui Hong melakukan penyelidikan, walau pun penyelidikan itu dilakukan dengan rahasia.

Agaknya orang itu pun lihai bukan main dan sudah tahu bahwa ada gadis perkasa yang melakukan penyelidikan untuk menangkapnya. Tentu penjahat cabul Itu telah mengetahui lebih dahulu bahwa ada gadis sakti yang sedang melakukan pengintaian, maka dia tidak berani muncul!

Setelah secara diam-diam dia menyelundupkan seorang mata-mata pribadinya ke dalam istana bagian puteri itu, seorang thai-kam (orang kebiri) kepercayaannya untuk melakukan penyelidikan, maka hatinya semakin yakin bahwa kehadiran Kui Hong benar-benar telah membikin kuncup hati petualang asmara yang menodai istana bagian puteri itu karena dia tidak pernah muncul kembali!

Kecurigaannya terhadap Tang Bun An kini mulai berkurang. Bagaimana pun juga harus diakuinya bahwa keadaan di sekeliling istana menjadi aman sejak Tang Bun An diangkat menjadi perwira tinggi pengawal istana,.

Apa yang terjadi sehari sesudah Kui Hong keluar dari istana bahkan semakin menebalkan kepercayaan Menteri Cang terhadap Tang Bun An. Malam itu baru saja sehari Kui Hong pergi meninggalkan lingkungan istana. Malam yang benar-benar gelap gulita.

Seperti biasa Tang Bun An melakukan pemeriksaan di sekeliling istana, untuk memeriksa apakah prajurit-prajurit yang menjadi anak buahnya sudah melakukan penjagaan dengan tertib sebagaimana biasanya. Dalam hal ini harus diakui bahwa Tang Bun An melakukan tugas yang amat baik. Dia bahkan amat keras dan disiplin terhadap anak buahnya, maka tidak mengherankan bila istana dan sekitarnya menjadi aman sekali sesudah dia menjadi kepala pengawal.

Tang Bun An menciptakan kata-kata sandi yang sangat dirahasiakan, dan kata-kata sandi di antara para pengawal yang bertugas jaga itu setiap malam diganti sehingga akan sukar sekali bagi orang luar untuk mengetahuinya. Juga bunyi tanda bahaya yang sejak dahulu berupa bunyi canang dipukul gencar, kini dia rubah dengan bunyi sempritan. Tidak gaduh namun terdengar sampai jauh dengan tanda bunyi tertentu.

Tang Bun An adalah seorang yang berpengalaman dan hati-hati sekali. Biar pun dia telah mendapatkan janji dari Cia Kui Hong bahwa pendekar wanita yang sekaligus juga menjadi ketua Cin-ling-pai itu tidak akan membocorkan rahasianya baik sebagai Ang-hong-cu mau pun sebagai pengacau istana bagian puteri, namun dia tidaklah begitu bodoh untuk nekat melanjutkan petualangannya di istana. Lagi pula dia sudah mulai bosan dengan para selir kaisar itu.

Biasanya ia mempermainkan para wanita untuk membalas dendam, untuk melampiaskan kebenciannya terhadap wanita dengan cara lain. Dia biasa memperkosa mereka yang tak suka menuruti kehendaknya sehingga dengan demikian dia merusak masa depan gadis yang diperkosanya.

Kalau ada wanita secara suka hati menyambutnya dengan hati yang mencinta, maka dia sengaja merayu dan menjatuhkan hatinya. Tetapi bila wanita itu telah tergila-gila, apa lagi jika sudah mengandung, maka wanita itu ditinggalkannya begitu saja, dipatahkan hatinya, dihancurkan perasaannya! Itulah caranya melampiaskan kebenciannya terhadap wanita.

Akan tetapi, di istana dia merasa diperalat oleh wanita-wanita yang cantik itu. Dia merasa dijadikan alat pemuas nafsu birahi belaka, maka kini dia merasa muak. Karena inilah, dan karena hati-hatinya, maka dia pun mengambil keputusan untuk tidak lagi mendekati para wanita di istana. Apa lagi kini dia bercita-cita untuk menjadi raja di luar istana, raja orang kang-ouw, raja dunia persilatan!

Ketika pada malam hari itu dia melakukan pemeriksaan di sekeliling istana, seperti yang dilakukannya hampir setiap malam, tiba-tiba terdengar suara sempritan dari arah barat. Di barat adalah istana bagian puteri! Mendengar suara sempritan ini, yang disusul oleh suara sempritan lain sebagai balasan sehingga dalam waktu yang singkat saja seluruh pasukan keamanan yang bertugas jaga di semua penjuru tahu bahwa ada bahaya di istana bagian puteri, Tang Bun An cepat menggunakan kepandaiannya, berlari cepat menuju ke barat.

Ketika tiba di bagian itu, di luar tembok yang memisahkan bagian puteri dengan bagian istana lainnya yang boleh didatangi oleh para pengawal, dia melihat betapa belasan orang anak buahnya tengah mengepung dan mengeroyok dua orang yang mengenakan pakaian hitam-hitam.

Mereka adalah dua orang laki-laki yang usianya sekitar empat puluh tahun dan mereka itu lihainya bukan main. Dengan permainan pedang mereka yang cepat dan mantap, mereka berdua sama sekali tidak terdesak sungguh pun dikeroyok oleh empat belas orang prajurit pengawal, bahkan Tang Bun An melihat betapa sudah ada empat orang anak buahnya menggeletak mandi darah.

"Jahanam, berani kalian mengacau di istana?!" bentak Tang Bun An.

Dia sudah mencabut pedangnya dan dia pun mengeluarkan teriakan sandi yang ditujukan kepada semua anak buahnya untuk mengepung kedua orang itu dan menjaga supaya mereka jangan sampai lolos. Segera para prajurit pengawal sudah mengepung dan tidak kurang dari enam puluh orang yang bertugas jaga malam itu, kini semua berada di sana dan mengepung ketat.

Begitu Tang Bun An terjun ke dalam pertempuran, dua orang itu langsung mengeluarkan seruan kaget. Seorang di antara mereka, yang berkumis tebal, menggerakkan pedangnya menyambut perwira yang dilihat dari gerakannya meloncat saja jelas memiliki kepandaian tinggi.

“Tranggg…!”

Kedua pedang bertemu dan si kumis tebal itu terhuyung ke belakang. Dia terbelalak, akan tetapi Tang Bun An tidak memberi banyak kesempatan kepadanya. Dia sudah menyerang lagi sehingga si kumis tebal terpaksa melindungi dirinya dengan memutar pedang sambil membalas. Segera mereka berkelahi mati-matian, namun si kumis itu segera mengetahui bahwa dia berhadapan dengan seorang perwira yang memiliki kepandaian tinggi.

Sementara itu orang ke dua yang mukanya kuning dikeroyok oleh belasan orang prajurit pengawal. Karena temannya tengah didesak oleh Perwira Tang dan dia harus seorang diri saja menghadapi pengeroyokan begitu banyaknya prajurit pengawal, maka dia pun mulai terdesak.

“Tangkap dia! Gunakan jaring!" terdengar Tang Bun An berseru. "Tangkap hidup-hidup!"

Mendengar ini beberapa prajurit pengawal cepat mengeluarkan sebuah jala yang memiliki delapan ujung. Setiap ujung dipegang oleh seorang prajurit. Dengan menarik ujung-ujung itu, maka jala lantas berkembang dan walau pun dia tahu akan bahayanya jala itu, namun si muka kuning tetap saja tidak dapat menjauhkan diri karena dia sedang terdesak hebat oleh pengeroyokan belasan orang yang mengepungnya dari jarak jauh dan mereka itu kini menggunakan senjata tombak panjang.

Karena tidak mampu mengelak, jala yang menyambar turun laksana payung itu menimpa dirinya. Dia meronta dan berusaha membabat jala dengan pedangnya, akan tetapi sia-sia belaka. Jala itu dibuat dengan cara istimewa, di bawah pengawasan Tang Bun An sendiri sehingga biar dibacok pun tak akan putus. Tidak lama kemudian si muka kuning itu sudah seperti seekor ikan besar dalam jala yang dilipat-lipat dan dia tidak mampu bergerak lagi.

Melihat temannya tertawan, si kumis tebal menjadi semakin panik. Tidak diduganya sama sekali bahwa di istana dia akan berhadapan dengan seorang yang begitu lihainya seperti perwira itu.

"Haiiiitttt...!"

Dia berseru nyaring dan pedangnya lantas meluncur ke arah dada Tang Bun An dengan gerakan nekat yang amat berbahaya, baik bagi lawan mau pun bagi dirinya sendiri karena serangan mematikan itu membuka pula bagian tubuhnya. Seluruh tenaga dan gerakannya ditujukan untuk menyerang, sama sekali tidak mempedulikan pertahanan diri lagi.

Tang Bun An terkejut melihat kenekatan ini. Tingkat kepandaiannya masih lebih tinggi dari lawan, akan tetapi sungguh berbahaya baginya apa bila lawan bertindak nekat seperti ini, berani mengadu nyawa. Maka terpaksa dia melompat ke belakang untuk menghindarkan serangan nekat itu.

Saat itu digunakan oleh si kumis tebal untuk melompat ke belakang pula dengan maksud hendak melarikan diri, akan tetapi puluhan ujung tombak menghadangnya! Si kumis tebal itu maklum bahwa dia telah terjebak, seperti seekor tikus berada dalam kandang kucing.

"Ha-ha-ha, menyerah sajalah! Engkau tidak dapat melarikan diri lagi!" kata Tang Bun An sambil tertawa mengejek.

Si kumis tebal maklum bahwa bila tertawan seperti temannya, dia pun tak mungkin dapat hidup, bahkan akan mati tersiksa. Lebih baik mati dari pada tertawan. Juga temannya itu lebih baik mati dari pada membuka rahasia. Mendadak dia menubruk ke arah temannya yang masih terbungkus jala, menyerang dengan pedangnya untuk membunuh kawan itu lebih dulu sebelum dia membunuh diri.

"Tranggg...!"

Pedangnya tertangkis dari samping dan kembali perwira lihai itu yang menangkisnya. Si kumis tebal menjadi marah dan putus asa, dengan tenaga sepenuhnya dia menubruk dan menyerang ke arah perwira itu. Akan tetapi sekali ini Tang Bun An tidak meloncat mundur, melainkan mengelak ke samping kemudian sekali tangannya bergerak, pedangnya sudah memasuki lambung si kumis tebal yang segera roboh dan tewas seketika karena jantung pria ini telah tertembus pedang!

Dengan kaki tangan diborgol sehingga sama sekali tak mampu bergerak, si muka kuning dihadapkan kepada Tang Bun An di dalam kamar tahanan. Semula dia sama sekali tidak mau bicara, bahkan membuang muka saat ditanyai oleh perwira itu. Akan tetapi akhirnya si muka kuning yang kini mukanya berubah pucat pasi itu membuat pengakuan, sesudah Tang Bun An menyiksanya dengan beberapa totokan yang membuat seluruh tubuhnya terasa nyeri, tidak pingsan namun seluruh tubuh rasanya bagaikan digigit semut api atau ditusuki ribuan jarum beracun,.

Dia dan suheng-nya yang tadi tewas oleh pedang Tang Bun An adalah dua orang saudara seperguruan yang merupakan tokoh-tokoh bajak di sepanjang pantai selatan. Mereka itu diperalat oleh orang-orang Portugis, diberi hadiah dalam jumlah besar sekali dengan tugas membunuh kaisar! Orang-orang Portugis itu agaknya sangat mendendam atas kematian rekan-rekan mereka yang telah dibunuh akibat perintah kaisar.

Menteri Cang Ku Ceng tentu saja gembira sekali menerima laporan Tang Bun An tentang tertangkapnya dua orang yang mencoba membunuh kaisar. Dia sendiri lalu memeriksa si muka kuning dan setelah mendengar pengakuan bajak laut itu bahwa dia dan suheng-nya menjadi pembunuh bayaran, diperintah oleh orang-orang Portugis yang berani membayar mahal untuk membunuh kaisar, Menteri Cang kemudian memerintahkan pengadilan untuk menghukum mati orang itu.

Diam-diam Tang Bun An lantas menyuruh anak buahnya menyebar berita bahwa dia dan anak buahnya kembali sudah menyelamatkan kaisar dengan menangkap dua orang yang mencoba untuk menyelundup ke dalam istana dan membunuh kaisar!

Dengan terjadinya peristiwa itu, maka Tang Bun An berhasil membersihkan namanya dari kecurigaan Menteri Cang. Apa lagi setelah menteri ini mendengar dari para mata-matanya yang sudah disebar di dalam istana bahwa sekarang tidak pernah ada lagi bayangan pria yang berani berkeliaran di istana bagian puteri.

Bagaimana pun juga Menteri Cang masih belum merasa puas, maka pada suatu pagi dia memanggil Perwira Tang Bun An agar menghadap dia di rumahnya. Tentu saja Tang Bun An yang menerima panggilan ini menjadi gelisah sekali. Jantungnya berdebar tegang dan sejenak dia bingung, tak tahu apa yang harus dilakukannya.

Apakah yang tersembunyi di balik panggilan itu? Bagaimana kalau dia melarikan diri saja? Bukankah gadis lihai ketua Cin-ling-pai itu pernah menyelidikinya karena menjadi utusan Menteri Cang? Jangan-jangan dia dipanggil untuk ditangkap!

Ahhh, tidak mungkin, dia membantah sendiri. Kalau Menteri Cang mempunyai niat buruk, tentu sudah datang pasukan menangkapnya, bukannya dia dipanggil dulu baru ditangkap. Justru dia harus memberanikan diri, memperlihatkan diri dengan berani seolah-olah orang yang tidak mempunyai kesalahan apa pun, bahkan baru saja berjasa besar menangkap calon pembunuh kaisar!

Dengan pakaian perwira yang amat rapi Tang Bun An berkunjung ke rumah gedung besar tempat tinggal Menteri Cang. Hatinya terasa lega pada waktu menteri itu menerimanya di kamar tamu, seorang diri saja. Ini berarti bahwa menteri itu tidak ingin menangkapnya dan percaya kepadanya. Jika tidak demikian tentu menteri itu tidak akan berani menerimanya seorang diri saja dan mengajaknya bicara empat mata. Hal ini juga menunjukkan bahwa pejabat tinggi itu akan membicarakan hal yang amat penting, maka mengajaknya bicara berdua saja.

Sesudah Tang Bun An memberi hormat dan dipersilakan duduk, Menteri Cang Ku Ceng yang berwibawa dan berwajah kereng namun ramah itu sejenak memandang kepadanya dengan sinar mata tajam penuh selidik. Namun Tang Bun An adalah seorang yang sangat berpengalaman dan dia pandai menyembunyikan perasaannya. Wajahnya nampak polos dan tenang saja, menyambut sinar mata pejabat tinggi itu dengan sikap wajar .

"Taijin hendak memerintahkan apakah kepada saya? Tentu ada kepentingan besar sekali sehingga Taijin memanggil saya menghadap," kata Tang Bun An langsung saja, dengan sikapnya yang hormat.

Cang Ku Ceng tersenyum. "Tang-ciangkun, maafkan kalau aku membikin engkau terkejut. Sebenarnya engkau mempunyai atasan sehingga semestinya aku menghubungi panglima atasanmu. Akan tetapi karena keamanan di kota raja menjadi tanggung jawabku sebagai orang pertama di atas panglima yang menjadi bawahanku, maka aku sengaja langsung saja mengundangmu ke sini untuk membicarakan dua hal yang sangat penting. Aku ingin minta bantuanmu untuk mengatasi dua hal itu, Ciangkun.”

Sungguh pun hatinya merasa lega karena arah percakapan itu tidak menunjukkan bahwa menteri itu mencurigainya, tapi Tang Bun An sama sekali tidak memperlihatkan perasaan itu melalui wajahnya yang tampan dan gagah. Dia telah membuat persiapan sebelumnya, telah mengatur segalanya sehingga seluruh bekas-bekas yang mungkin ada akan semua perbuatannya yang lalu di dalam istana bagian puteri, telah terhapus sebersihnya.

"Tentu saja saya akan merasa senang sekali kalau saya dapat membantu Paduka, Taijin. Katakanlah, perintah apa yang harus saya lakukan?"

"Ada dua hal penting, Ciangkun. Pertama tentang keamanan di istana bagian puteri. Tentu engkau sudah mendengar sendiri akan desas-desus yang tersiar bahwa ada pria dari luar yang sering nampak berkeliaran di dalam istana bagian puteri. Hal ini harus segara dapat dibersihkan karena kalau tidak, tentu akan mencemarkan kehormatan istana dan menjadi urusan yang sangat penting. Tentu engkau pernah mendengarnya, Ciangkun?” Sepasang mata menteri itu bersinar tajam penuh selidik.

Tang Bun An mengangguk ragu. “Memang saya sudah mendengar tentang hal itu, Taijin. Akan tetapi karena saya bertugas sebagai kepala pasukan pengawal di luar bagian puteri, maka hanya para pengawal thaikam yang berhak dan...” Dia nampak ragu.

“Tang-ciangkun, mengapa engkau ragu-ragu? Hayo cepat katakan, apa yang kau ketahui tentang berita itu?” Sang menteri mendesak.

“Maaf beribu maaf, Taijin. Memang saya pernah melakukan sesuatu berkenaan dengan berita itu, akan tetapi... maaf, saya tidak berani bercerita karena saya sudah berjanji tidak akan menceritakan hal ini kepada siapa pun..."

Menteri Cang mengerutkan alisnya yang tebal. "Tang-ciangkun, lihat kepadaku dan ingat dengan siapa engkau sedang berhadapan! Kalau mengenai keselamatan istana, akulah yang bertanggung jawab dan kedudukanku hanya di bawah kaisar! Tidak boleh ada satu pun rahasia mengenai istana yang pantas kau sembunyikan dariku, kecuali kalau engkau berjanji kepada Sribaginda Kaisar!" Menteri itu bangkit berdiri, lantas mencabut sebatang pedang yang tergantung di pinggangnya. "Lihat ini! Pedang kekuasaan yang kuterima dari Sribaginda Kaisar sendiri, yang memberikan kekuasaan kepadaku untuk memeriksa dan menuntut siapa pun juga di negeri ini, bahkan termasuk seluruh penghuni istana kecuali Sribaginda sendiri!"

Tentu saja Tang Bun An terkejut bukan kepalang dan cepat dia menjatuhkan diri berlutut, tentu saja untuk menghormati pedang kekuasaan yang diberikan kaisar kepada menteri setia itu.

“Mohon Paduka sudi mengampuni saya."

Menteri Cang memasukkan kembali pedang kekuasaan itu ke dalam sarung pedangnya. "Duduklah kembali, Ciangkun. Nah, sekarang kau ceritakan semuanya, jangan rahasiakan sesuatu dariku."

"Maaf, Taijin,” kata Tang Bun An sesudah duduk kembali. "Tadinya tentu saja saya takut untuk melanggar janji. Saya sudah berjanji kepada Hong-houw (Permaisuri) sendiri untuk tidak membocorkan rahasia ini."

"Hemm, tenanglah. Hong-houw sendiri tak akan marah jika engkau menceritakan semua kepadaku. Sebenarnya apa yang telah terjadi, dan apa yang kau ketahui tentang desas-desus mengenai laki-laki yang merusak dan menodai nama baik serta kehormatan istana bagian puteri itu?"

Tang Bun An sengaja menghela napas panjang, seakan-akan dia merasa terpaksa harus menceritakan semua itu. Diam-diam dia amat bersyukur bahwa dia telah mempersiapkan segalanya, bahkan dia telah cepat-cepat mengatur segala siasat untuk membersihkan diri sesudah pertemuannya dengan Cia Kui Hong,.

"Baiklah, Taijin, akan saya ceritakan semuanya dengan terus terang karena saya percaya sepenuhnya bahwa Paduka cukup bijaksana dan terhormat untuk tidak menceritakan hal ini kepada orang lain. Kalau Paduka melakukan itu dan hal ini diketahui orang lain, berarti saya sudah berdosa terhadap Sang Permaisuri, kepada siapa saya pernah berjanji untuk tidak akan menceritakan apa yang terjadi kepada siapa pun juga."

"Hemm, kau kira aku ini orang apa? Ceritakanlah, selain aku sendiri takkan ada seorang pun yang akan mendengar akan apa yang terjadi di istana bagian puteri itu."

"Taijin, terus terang saja, hati saya merasa penasaran ketika saya mendengar mengenai desas-desus adanya bayangan pria yang berkeliaran di istana bagian puteri. Peristiwa itu merupakan tamparan pada muka saya, juga merupakan tantangan. Walau pun saya tidak mungkin dapat masuk istana bagian puteri tanpa ijin, akan tetapi bagaimana saya dapat menangkapnya tanpa memasuki daerah terlarang itu mengingat penjahat itu beroperasi di sana? Untunglah kesempatan itu tiba ketika Hong-houw memanggil saya menghadap dan beliau lalu memberi perintah rahasia kepada saya supaya menangkap penjahat itu, Taijin. Perintah itu diberikan kepada saya baru-baru ini dan saya segera melakukan penyelidikan di waktu malam sehingga akhirnya saya berhasil menangkap orang itu."

"Ahhh! Engkau berhasil menangkapnya? Siapakah dia dan sekarang bagaimana?" tentu saja Cang Ku Ceng terkejut dan juga girang mendengar keterangan yang sama sekali tak pernah disangkanya itu. Tadinya dia curiga bahwa perwira ini yang menjadi pria rahasia itu, ternyata kini malah yang menangkap penjahatnya!

"Dia seorang prajurit pengawal thai-kam, Taijin."

"Ahh? Tetapi desas-desus itu mengatakan bahwa pria rahasia itu telah mengganggu para wanita penghuni istana bagian puteri! Lalu bagaimana mungkin bila dia seorang thai-kiam (kebiri)?"

"Tadinya saya juga merasa heran bukan main, Taijin. Akan tetapi setelah saya melakukan pemeriksaan dengan seksama, ternyata dia bukan seorang kebiri sepenuhnya. Agaknya pengebirian terhadap dirinya sudah gagal dan tidak sempurna, sehingga dia masih dapat menjadi seorang laki-laki normal. Dan bukan menggoda para puteri saja yang dia lakukan di sana, tapi terutama sekali untuk mencuri barang-barang berharga, perhiasan-perhiasan para puteri."

“Keparat! Di mana dia sekarang?"

"Atas perintah Hong-houw saya telah membunuh penjahat itu, Taijin. Hong-houw memberi perintah kepada saya untuk membunuhnya dan merahasiakan semua ini, demi menjaga nama baik dan kehormatan istana bagian puteri. Kalau paduka ingin membuktikan, saya dapat menunjukkan kuburannya dan…”

"Tidak perlu. Aku dapat menemui Hong-houw dan minta keterangan dari beliau mengenai kebenaran laporanmu ini." Sambil berkata demikian Cang Ku Ceng menatap tajam wajah perwira itu. Namun Tang Bun An bersikap tenang, bahkan berkata dengan tegas.

"Itu malah lebih baik lagi, Taijin. Asal Taijin tidak lupa mintakan ampun bahwa saya telah membuka rahasia ini kepada Taijin."

“Baiklah, nanti akan kusampaikan kepada beliau. Bagaimana pun juga aku percaya akan laporanmu ini, Tang-ciangkun dan hatiku lega bukan main mendengar bahwa penjahat itu sudah dihukum. Sekarang ada soal ke dua, dan kuminta engkau suka membantuku dalam hal ini."

"Apakah urusan itu, Taijin? Tentu saja saya selalu siap membantu Paduka.”

"Kami sedang mencari dua orang tokoh kang-ouw. Mereka adalah dua orang muda yang memiliki kepandaian tinggi dan berbahaya sekali, bahkan salah seorang di antara mereka pernah membantu pemberontakan di masa lampau. Seorang kebetulan mempunyai nama keturunan yang sama denganmu, Ciangkun. Namanya Tang Cun Sek dan orang ke dua bernama Sim Ki Liong. Nah, kami ingin agar kini engkau suka membantu kami mencari di mana adanya kedua orang itu. Baru-baru ini mereka itu memimpin perkumpulan Kim-lian-pang di Kim-lian-san. Akan tetapi karena bermusuhan dengan perkumpulan-perkumpulan lain, mereka lalu dikeroyok sehingga perkumpulan mereka hancur dan mereka melarikan diri. Nah, kuharap engkau akan dapat menemukan mereka untuk kami, Ciangkun."

Kalau saja Tang Bun An bukan seorang gemblengan, tentu kata-kata itu sudah membuat dia terlonjak dari tempat duduknya. Dua orang muda yang dicari oleh Cang Taijin adalah dua orang pembantunya yang baru saja diterimanya, bahkan seorang di antara mereka adalah putera kandungnya sendiri!

Otaknya yang cerdik segera bekerja cepat. Dia maklum bahwa menteri yang seorang ini cerdik sekali. Jangan-jangan Cang Taijin sudah ‘mencium’ bahwa dia telah menerima dua orang muda itu sebagai pembantunya!

"Taijin memiliki banyak sekali pembantu, apakah di antara para penyelidik Taijin itu tidak ada yang dapat mengetahui di mana mereka kini berada? Di manakah mereka berdua itu untuk terakhir kalinya diketahui oleh para pembantu Taijin?"

“Para penyelidikku kehilangan jejak mereka setelah pertempuran antara perkumpulan itu. Karena engkau sudah banyak pengalaman di dunia kang-ouw, maka kurasa engkau akan lebih mudah untuk dapat menemukan tempat mereka bersembunyi."

"Sayang sekali akhir-akhir ini saya telah terputus sama sekali dari dunia persilatan, Taijin. Kalau saya masih bergerak di dunia persilatan, tentu akan mudah saja mencari dua orang tokoh kang-ouw itu. Akan tetapi kalau Paduka menyetujui, maka saya akan berhenti dari pekerjaan saya sebagai perwira pasukan pengawal. Menurut saya, dengan cara lain saya juga dapat mengabdi untuk Sribaginda Kaisar dan negara."

Cang Taijin membelalakkan matanya. Dia benar amat terkejut mendengar ini. Sama sekali tidak pernah disangkanya bahwa perwira yang telah banyak jasanya ini tiba-tiba saja ingin mengundurkan diri.

"Eh? Apa maksudmu, Tang-ciangkun? Bagaimana engkau bisa mengabdi kepada negara kalau engkau mengundurkan diri dari kedudukanmu yang sekarang?"

"Taijin, saya tahu bahwa negara kini sedang mengusahakan ketentraman di antara rakyat. Banyak ancaman bermunculan dari orang-orang kulit putih. Bahkan baru saja orang kulit putih rnengirim pembunuh bayaran yang mencoba hendak membunuh Sribaginda Kaisar. Saya kira, selain rakyat jelata juga penting sekali untuk mempersatukan dunia kang-ouw. Mereka adalah orang-orang yang memiliki kepandaian silat tinggi dan merupakan sebuah kekuatan yang amat hebat. Kalau saja dunia kang-ouw dapat dipersatukan, lalu kesatuan itu dapat dlmanfaatkan untuk membantu pemerintah, bukankah hal itu baik sekali dan kita mempunyai pertahanan yang amat kuat? Bagaimana pendapat Paduka, Taijin?"

Menteri itu mengangguk-angguk. Dia dapat melihat kebenaran yang dikemukakan perwira itu. Dia tahu bahwa di luar istana memang ada kekuatan yang amat dahsyat, yaitu dunia persilatan, para tokoh kang-ouw dan para pendekar persilatan. Akan tetapi mereka tidak mudah bersatu.

Jangankan para tokoh kang-ouw yang terdiri dari mereka yang menjadi penghuni dunia hitam dan bergelimang kejahatan, juga mereka yang tidak peduli akan semua itu, hidup bebas menurut kehendak sendiri tanpa mengindahkan hukum walau pun golongan ke dua ini bukan pula orang-orang jahat, bahkan para pendekar pun kadang tidak dapat bersatu dan bahkan saling bermusuhan.

Ada pula golongan pendekar yang bahkan acuh dan tak peduli terhadap pemerintah, tidak suka membantu, biar pun ada pula golongan pendekar yang suka membantu pemerintah, misalnya dalam menumpas gerombolan pemberontak. Tetapi ini pun mereka lakukan bila gerombolan pemberontak itu termasuk orang-orang jahat. Maka betapa kuatnya keadaan negara kalau dunia persilatan, baik itu golongan kang-ouw mau pun para pendekar, dapat dipersatukan dan semua kesatuan itu membantu pemerintah!

"Hemm, aku dapat melihat kebenaran dalam ucapanmu. Lalu apa kehendakmu dan apa yang akan kau lakukan setelah engkau mengundurkan diri?"

“Saya ingin berjuang untuk memperkuat negara melalui dunia kang-ouw, Taijin. Saya ingin mencoba menghimpun segenap kekuatan di dunia persilatan, menyatukan perkumpulan-perkumpulan, partai-partai dan semua aliran persilatan, juga mengurangi atau membatasi tindakan-tindakan kekerasan dan kejahatan, kemudian mengarahkan semua kekuatan itu untuk menjaga keamanan negara di dalam menghadapi ancaman orang-orang asing kulit putih. Dengan kekuatan itu saya juga dapat mempersatukah semua bajak sungai dan laut, untuk membersihkan lautan dari bajak-bajak asing."

Menteri Cang mengerutkan alisnya dan meraba-raba dagunya yang ditumbuhi jenggot tipis halus. "Hemm, lalu apa kaitan urusan ini dengan aku sebagai menteri? Mengapa engkau menceritakannya kepadaku?"

"Taijin adalah seorang menteri yang bijaksana dan amat terkenal, dan dapat saya anggap sebagai wakil kaisar, wakil pemerintah. Kalau sebelumnya saya sudah memberi tahukan rencana saya, lantas mendapatkan restu dari Paduka, tentu kelak tidak akan timbul salah duga dari pihak pemerintah kalau saya mulai bertindak mempersatukan semua kekuatan di dunia kang-ouw. Jika tidak saya beri tahu lebih dulu, mungkin saja timbul salah paham dan disangka bahwa saya menghimpun kekuatan untuk melakukan pemberontakan.”

Kembali Cang Ku Ceng mengangguk-angguk biar pun alisnya berkerut. "Niatmu memang baik sekali, Tang-ciangkun. Akan tetapi tentu saja kami tidak dapat memberi restu secara resmi tentang bagaimana sikap pemerintah kelak terhadap usahamu itu, tentu saja semua tergantung dari sikap dan sepak terjangmu sendiri. Kalau memang membantu pemerintah dan tidak membahayakan pemerintah, tentu pemerintah juga tak akan merasa keberatan."

"Terima kasih, Taijin. Kalau begitu saya hendak mengajukan permohonan kepada atasan untuk mengundurkan diri. Mohon bantuan Paduka untuk menjelaskan kepada panglima dan juga kepada yang mulia Sribaginda Kaisar mengapa saya mengundurkan diri, supaya tidak menimbulkan kecurigaan dan salah sangka."

Cang Ku Ceng hanya mengangguk-angguk, meski di dalam hatinya dia masih meragukan kemurnian niat hati orang di hadapannya yang dianggapnya penuh rahasia itu. Sesudah perwira itu mengundurkan diri dia ingin menyelidiki kebenaran laporan Tang-ciangkun ini, maka dia pun mohon menghadap permaisuri di istana. Dan dari mulut permaisuri sendiri dia mendengar bahwa semua yang diceritakan oleh Tang-ciangkun tentang thai-kam yang mengacau di istana itu memang benar!

Tentu saja Cang Ku Ceng tidak tahu bahwa semua ini sudah diatur oleh Tang Bun An. Dengan ‘senjata’ perhiasan yang pernah diambilnya dari permaisuri, Tang Bun An dapat memaksa permaisuri agar membuat pengakuan seperti itu untuk melindunginya. Dengan ancaman bahwa jika permaisuri tidak membantunya maka dia akan membuat pengakuan bahwa sang permaisuri juga menjadi kekasih gelapnya, dengan bukti perhiasan yang akan dikatakannya sebagai hadiah dan uang jasa dari permaisuri, maka wanita bangsawan itu tidak mempunyai pilihan lain kecuali memenuhi permintaannya. Bagaimana pun juga sang permaisuri sudah merasa lega dan puas ketika Tang Bun An berjanji bahwa istana putri tidak akan mengalami gangguan lagi.

Demikianlah, dengan lancar permohonan berhenti Tang-ciangkun lantas diijinkan dan dia pun berhenti sebagai perwira. Dan apa yang kemudian dilakukannya sehubungan dengan berhentinya sebagai perwira itu sungguh mengejutkan semua orang.

Demikian banyak dia mengumpulkan selir, muda-muda dan cantik-cantik pula, tidak kalah dibandingkan sekumpulan selir para pangeran atau raja muda. Dan begitu dia berhenti, dia bubarkan semua selirnya itu! Dia menyuruh mereka pulang ke orang tuanya masing-masing dengan membekali pesangon yang cukup banyak, tidak mempedulikan hujan air mata para wanita yang benar-benar jatuh cinta kepada suami mereka itu!

Bahkan terdapat perasaan puas di hati Tang Bun An melihat para wanita itu menangisi nasib mereka, sepuas bila dia meninggalkan seorang gadis yang baru saja diperkosanya, atau meninggalkan seorang wanita yang dahulu pernah menjadi kekasihnya lalu ditinggal pergi begitu saja kalau wanita itu mengandung atau kalau dia sudah bosan kepadanya. Kesadisan dan kekejamannya terhadap wanita yang timbul karena sakit hatinya ternyata masih tinggal di dalam dadanya dan tidak pernah lenyap!

Setelah menjual semua harta miliknya, menjadikannya sekantung uang emas, Tang Bun An merasa bebas seperti burung di udara dan dia pun segera membangun pondoknya di puncak bukit di antara hutan lebat itu, dibangunnya menjadi sarang perkumpulannya yang baru. Perkumpulan ini dia beri nama Ho-han-pang (Perkumpulan Orang Gagah)! Sungguh sebuah nama yang muluk bukan main, dan seolah hendak mencerminkan iktikad baiknya, yaitu dia hendak menghimpun orang-orang gagah, bukan penjahat-penjahat!

Tentu saja ini disesuaikan dengan siasatnya, seperti yang dibicarakannya dengan Menteri Cang. Dia bukan orang bodoh, dia bukan pemberontak. Tidak, dia memang ingin menjadi Bengcu, ingin menjadi raja tanpa mahkota, merajai dunia kang-ouw, akan tetapi dia juga hendak merangkul para pejabat tinggi, hendak merangkul pemerintah demi keuntungan perkumpulannya.

Dia merasa beruntung sudah mendengar bahwa Cang Taijin mencari Sim Ki Liong dan Tang Cun Sek, dua orang pembantu-pembantu utamanya. Sebagai seorang ahli di dalam ilmu penyamaran, maka dia lalu membuatkan topeng tipis, setipis kulit kepada dua orang pemuda itu sehingga kini bentuk wajah Sim Ki Liong dan Tang Cun Sek sudah berubah. Masih nampak muda dan tampan, akan tetapi sungguh telah berbeda jauh karena topeng tipis itu mengubah bentuk mata, hidung dan mulut mereka!

Setelah mengajak mereka bercakap-cakap, dia pun dapat menduga bahwa yang mencari dua orang muda itu tentulah Cia Kui Hong yang pernah menjadi utusan menteri itu. Dan menurut dua orang pemuda itu, memang beralasan sekali kalau gadis yang kini menjadi ketua Cin-ling-pai itu mencari mereka.

Sim Ki Liong dicari karena minggat dari Pulau Teratai Merah sambil membawa lari pusaka Gin-hwa-kiam, sedangkan Tang Cun Sek melarikan pusaka Hong-cu-kiam dari Cin-ling-pai. Walau pun kedua pedang pusaka itu kini sudah dirampas oleh Hay Hay, tentu ketua Cin-ling-pai itu belum mengetahuinya dan masih terus mencari mereka.

Berkat nama besar Tok-sim Mo-li dan hubungannya yang luas, maka sebentar saja nama Ho-han-pang dikenal oleh dunia kang-ouw serta para tokoh kang-ouw, dan baru melihat hadirnya Tok-sim Mo-li Ji Sun Bi sebagai seorang pembantu Bengcu saja di perkumpulan itu, sudah banyak perkumpulan kang-ouw lainnya yang menyatakan takluk dan mengakui Ho-han-pang sebagai pimpinan.

Sebagai Bengcu, Tang Bun An kini kembali menyamar sebagai Han Lojin, berkumis dan berjenggot! Sebentar saja terkenallah nama Ho-han-pang dengan bengcu-nya, yaitu Han Lojin. Padahal Han Lojin sendiri jarang turun tangan sendiri. Cukup dengan ketiga orang pembantunya itu saja, dan semua urusan bereslah! Kalau ada ketua perkumpulan yang membangkang dan tidak mau mengakui Ho-han-pang, maka salah seorang di antara para pembantu itu turun tangan dan ketua itu pasti dapat ditundukkan dengan amat mudahnya.

Apa lagi ketika melihat betapa Ho-han-pang tidak seperti perkumpulan kang-ouw lainnya, tapi memiliki hubungan yang baik dengan para pejabat, maka hal ini membuat para tokoh kang-ouw semakin percaya. Dalam waktu beberapa bulan saja Ho-han-pang telah tumbuh menjadi sebuah perkumpulan besar, berpusat di Bukit Bangau, di mana sebuah bangunan besar berdiri di bawah lindungan hutan yang lebat.

Untuk memberi kesan baik, Han Lojin dan tiga orang pembantunya yang mengumpulkan anak buah yang terdiri dari orang-orang yang mempunyai ilmu silat yang lumayan, segera memberi tugas kepada anak buah itu untuk melakukan ‘pembersihan’ terhadap penjahat-penjahat yang suka mengacau kehidupan rakyat di kota raja dan daerah sekitarnya. Mulai terkenallah nama Ho-han-pang sebagai sebuah perkumpulan yang baik, yang menentang kejahatan, membantu pemerintah dan melindungi rakyat. Perkumpulan itu segera dikenal sebagai perkumpulan para ho-han (pahlawan)…..!

********************


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner