SI KUMBANG MERAH : JILID-47


Menteri Cang Ku Ceng bukanlah seorang pembesar yang bodoh. Meski pun dia percaya akan semua alasan dan pendapat dari bekas Perwira Tang Bun An yang mengundurkan diri dan berniat untuk mempersatukan para tokoh di dunia kang-ouw, diam-diam pejabat tinggi ini menyebar para penyelidik untuk mengamati gerak-gerik bekas perwira itu. Maka dia pun tahu akan segala perkembangan mengenai Ho-han-pang. Bahkan dia mendengar pula bahwa Perwira Tang Bun An itu kini tidak kelihatan lagi dan yang menjadi ketua Ho-han-pang adalah seorang yang setengah tua yang disebut Han Lojin.

Mendengar laporan penyelidiknya tentang orang bernama Han Lojin itu, Menteri Cang lalu teringat akan Han Lojin yang pernah membantu pasukan pemerintah membasmi Lam-hai Giam-lo. Diam-diam dia pun merasa kagum dan semakin percaya. Bagaimana pun penuh rahasia, orang yang pernah menjadi Perwira Tang Bun An dan yang juga pernah muncul sebagai Han Lojin itu jelas memperlihatkan sepak terjang yang membantu pemerintah.

Apa lagi ketika mendengar laporan tentang sepak terjang orang-orang Ho-han-pang yang melakukan pembersihan dan menundukkan para penjahat sehingga kota raja dan daerah di sekitarnya menjadi aman, maka hati pejabat tinggi itu merasa kagum dan senang. Dia pun memesan kepada para pejabat pemerintah agar tidak mengganggu Ho-han-pang dan hanya mengamati saja bagaimana sepak terjang mereka. Selama mereka tak melakukan kejahatan, juga tidak mengganggu keamanan dan ketentraman, maka mereka dianggap sebagai perkumpulan orang-orang baik dan patut dibiarkan hidup, bahkan dibantu…..

********************

Sementara itu, Kui Hong yang tinggal dan menumpang di rumah Menteri Cang Ku Ceng merasa rikuh sendiri setelah lebih dari satu bulan dia tinggal di situ, belum juga anak buah menteri itu berhasil menemukan dua orang musuh besarnya yang dicarinya. Sim Ki Liong dan Tang Cun Sek seakan-akan lenyap ditelan bumi sehingga tak seorang pun di antara para penyelidik yang disebar Menteri Cang dapat menemukan mereka. Dia merasa rikuh karena keluarga pejabat tinggi itu amat ramah dan baik kepadanya, apa lagi melihat sikap Cang Sun yang semakin terang-terangan menyatakan tergila-gila dan mencintanya!

Sore hari itu, ketika dia duduk melamun seorang diri di dalam taman di belakang rumah keluarga Cang yang luas, dia mengambil keputusan di dalam hatinya untuk menghadap keluarga itu dan berpamit. Dia akan melanjutkan perjalanan, terutama mencari sendiri dua orang yang telah melarikan pedang pusaka dari Cin-ling-pai dan dari Pulau Teratai Merah itu.

Matahari telah mulai condong ke barat, akan tetapi belum terlalu larut walau pun sinarnya sudah mulai lemah. Sinar matahari sore itu masih mampu menerobos antara celah-celah daun pohon sehingga taman bunga itu seolah-olah bermandikan cahaya yang lemah akan tetapi masih hangat itu.

Indah sekali keadaan di taman itu. Burung-burung mulai beterbangan pulang ke sarang mereka di pohon-pohon, untuk berlindung di sarang yang aman dan hangat kalau malam gelap menjelang tiba. Dua ekor kelinci berkejaran dan menyusup ke dalam semak-semak. Seekor ular sebesar ibu jari kaki yang hitam dan mengkilap, berlenggak-lenggok menuju rumpun semak belukar pula, dengan lidah yang kadang terjulur keluar dengan cepatnya. Kepala ular itu berbentuk bulat telur, tidak segitiga. Bukan ular beracun, dan kulitnya yang hitam mengkilap itu indah bukan main, indah dan bersih seperti baru saja digosok dengan minyak.

Semua makhluk pulang ke sarang masing-masing, pulang ke rumahnya masing-masing, pikiran ini menyelinap ke dalam benak Kui Hong dan dia pun mengerutkan alisnya. Hanya dia seorang yang tidak dapat merasakan kenikmatan itu. Pulang! Ke mana?

Ayah bundanya, Cia Hui Song dan Ceng Sui Cin, bersama adik tirinya, Cia Kui Bu, sudah pergi meninggalkan Cin-ling-san karena mereka ingin mencari hawa baru dan sementara ini hendak tinggal di Pulau Teratai Merah. Ke sana menyusul ayah ibunya? Ah, dia bukan anak kecil lagi. Dia harus berani hidup sendiri! Dia bukan anak-anak yang selalu mohon perlindungan ayah dan minta dimanjakan ibu.

Kembali ke Cin-ling-san? Tentu sekali waktu dia harus kembali ke situ. Dia adalah pangcu (ketua) Cin-ling-pai, walau pun sebenarnya dia tidak suka menjadi ketua karena banyak urusan dan tidak bebas. Kalau dahulu dia ikut memperebutkan kedudukan pangcu, hal itu dilakukan secara terpaksa karena dia tak ingin melihat Tang Cun Sek menjadi ketua Cin-ling-pai.

Kui Hong menarik napas panjang. Bagaimana seorang gadis seperti dia, seorang wanita, dapat benar-benar merasakan ‘pulang rumah’ kalau tidak memiliki rumah tangga sendiri? Dan memillki rumah tangga berarti menikah! Akan tetapi, dengan siapa?

Banyak sudah dia menemui pria di dalam hidupnya. Pria-pria yang sungguh merupakan pemuda gagah perkasa dan tampan, yang memperlihatkan sikap jatuh cinta kepadanya, atau setidaknya suka kepadanya. Dalam setiap perjalanannya selalu saja ia bertemu pria muda yang memandang kepadanya dengan perasaan hati seperti sebuah kitab terbuka. Demikian jelas pandang mata itu membayangkan keadaan hati yang tertarik!

Sudah puluhan orang pemuda, bahkan mungkin ratusan. Bahkan banyak pula yang ingin mendapatkan dirinya, secara halus mau pun kasar. Terbayanglah wajah-wajah para muda itu berderet-deret. Sim Ki Liong, Tang Cun Sek, Hay Hay dan kini Cang Sun.

Ya, putera Menteri Cang itu cinta padanya! Bahkan seluruh anggota keluarga Cang suka kepadanya dan mengharapkan dia menjadi isteri Cang Sun. Dia pun bisa membayangkan bagaimana jika dia menjadi isteri Cang Sun. Dia akan hidup mulia, terhormat, kaya raya, menjadi seorang wanita bangsawan yang tinggal di dalam gedung istana, ke mana pun dikawal pasukan, ingin apa pun tinggal perintah saja karena puluhan orang pelayan setiap saat siap melayaninya.

“Ahh, seperti burung di dalam sangkar emas...," dia berbisik dan menarik napas panjang. Bukan, kehidupan macam itu bukan untuknya! Kalau pun harus berumah tangga, dia lebih senang hidup bebas dan menghadapi banyak tantangan hidup, tidak enak-enak seperti itu, bermalas-malasan!

Tiba-tiba gadis itu sadar dari lamunannya. Dia mendengar langkah kaki orang! Ketika dia menengok, kiranya yang datang menghampirinya adalah Cang Sun! Pemuda itu dengan tenang melangkah menghampirinya, seperti biasa dengan sikap yang lembut, sopan dan ramah sambil mulutnya tersenyum.

Seorang pemuda yang tampan, berpakaian rapi, pembawaannya tenang dan berwibawa, halus dan lembut, seorang pemuda yang telah dewasa dan tentu akan menarik hati setiap orang wanita, apa lagi kalau diketahui bahwa dia adalah putera tunggal seorang menteri yang amat terkenal, Menteri Cang Ku Ceng yang terkenal amat bijaksana dan mempunyai kekuasaan besar!

"Selamat sore, Hong-moi. Asyik melamunkan apa sore-sore begini seorang diri di dalam taman?"

Kui Hong bangkit dan tersenyum. Dia adalah seorang gadis yang sejak kecil hidup bebas dan sudah berkecimpung di dunia kang-ouw, mempunyai banyak pengalaman dan sudah terbiasa dengan sikap terbuka, bahkan mengarah kepada sikap lincah jenaka dan kadang berandalan. Akan tetapi, sejak dia berdiam di rumah keluarga Cang, keluarga bangsawan tinggi yang bergelimang kehormatan, mau tidak mau dia pun membatasi diri dan sikapnya juga sopan, meski pun masih ramah dan lincah jenaka.

"Aihh, kiranya Toako yang datang. Selamat sore, Cang-toako."

Walau pun pemuda itu sering kali mendesaknya agar bersikap kekeluargaan dan ramah, namun tetap saja Kui Hong merasa rikuh untuk bersikap terlalu akrab. Rasanya canggung bila dia menyebut nama kecil pemuda itu, terlalu akrab menyebutnya Sun-koko misalnya. Maka, biar pun dia telah menghentikan sebutan kongcu (tuan muda) dan menyebut toako (kakak), namun dia menyebut nama keluarga pemuda itu, bukan kakak Sun, melainkan kakak Cang!

“Apa yang kau lamunkan, Hong-moi?” Pemuda itu duduk di atas bangku, di bagian ujung, dan Kui Hong juga duduk kembali di ujung yang lain.

“Aku melihat burung beterbangan menuju ke sarang, dan tiba-tiba aku merasa rindu untuk pulang, Toako.”

“Pulang ke mana, Hong-moi?”

Gadis itu mengangkat muka memandang. Karena pada saat itu Cang Sun juga sedang menatap wajahnya, maka kedua pasang mata itu bertemu dan Kui Hong melihat betapa sepasang mata pemuda itu dengan lembut membayangkan kasih sayang besar. Pemuda bangsawan ini tidak lagi menyembunyikan perasaannya, dan kasih sayang dan kagumnya terbayang jelas dalam pandang matanya.

"Ahh, toako. Ke mana lagi kalau bukan ke tempat tinggal keluargaku? Di Cin-ling-san atau di Pulau Teratai Merah karena saat ini mungkin ayah ibuku masih berada di sana."

"Aihh, kukira tadi…”

"Apa yang kau kira, Cang-toako?"

"Kukira... ahh, betapa akan senangnya kalau rasa rindumu itu kau tujukan kepada... ehh, diriku dan arti pulang itu ke sini, bukan ke mana-mana. Betapa akan bahagia rasa hatiku bila engkau pun rindu kepadaku seperti aku yang siang malam selalu merindukan dirimu, Hong-moi..."

"Hemm, Toako, apa yang kau katakan ini?" Kui Hong berkata dengan suara mengandung teguran karena baru sekarang pemuda ini begitu terang-terangan menyatakan perasaan hatinya.

"Hong-moi, masih perlukah aku menjelaskan kepadamu? Aku rindu kepadamu karena aku cinta padamu, Hong-moi. Ahh… aku selalu membayangkan engkau bersanding denganku selamanya, sebagai isteriku tercinta, sebagai ibu dari anak-anakku."

"Cukup, Cang-toako. Mari kita bicara serius. Coba katakan, mengapa engkau jatuh cinta kepadaku? Engkau adalah putera seorang bangsawan terkenal, memiliki kedudukan yang terhormat, engkau juga terpelajar dan kaya raya, dan kalau engkau menghendaki bahkan puteri kaisar pun mungkin dapat menjadi isterimu. Tapi mengapa engkau mendekati aku, seorang gadis ahli silat, gadis kang-ouw yang bergelimang kekerasan? Kenapa? Aku ingin sekali mengetahuinya, dan aku percaya bahwa engkau akan membuat pengakuan dengan sejujurnya, Toako."

Cang Sun menarik napas panjang. Alangkah manisnya gadis ini bila mana bersikap wajar seperti itu, berani mengeluarkan semua perasaan hatinya tanpa disembunyikan lagi, tidak seperti kaum wanita pada umumnya, terutama wanita bangsawan yang sudah terbiasa menyembunyikan kepribadiannya di balik kesopanan dan kehormatan pura-pura yang palsu.

"Pertanyaan yang baru kau ajukan itu saja telah mengandung keterbukaan dan kejujuran, Hong-moi. Oleh karena itu aku pun mencoba untuk keluar dari sangkar kesopanan pura-pura yang selama ini semenjak aku kecil sudah mengurung diriku dalam lingkungan kami. Memang betul ucapanmu tadi, bila aku menghendaki, mudah bagiku untuk mendapatkan jodoh seorang gadis bangsawan, bahkan mungkin puteri kaisar. Namun terus terang saja aku tidak tertarik kepada para gadis yang lemah itu. Melihat engkau aku seperti melihat setangkai bunga yang segar dan sehat. Kalau aku dapat hidup di sampingmu selamanya, aku akan merasa aman. Engkau tentu tahu, kehidupan ayahku sebagai seorang menteri selalu terancam bahaya. Kalau ada seorang seperti engkau ini yang teramat lihai, maka kami sekeluarga akan selalu merasa aman, juga keselamatan kami selalu terjamin. Nah, itulah hal-hal pada dirimu yang membuat aku jatuh cinta kepadamu."

Kui Hong pun termenung. Ucapan itu memang jujur, dan jelas membayangkan apa yang tersembunyi di balik cinta kasih pemuda bangsawan itu terhadap dirinya. Justru karena ia gadis kang-ouw, karena ia memiliki ilmu silat tinggi dan boleh diandalkan sebagai jaminan keselamatan, maka Cang Sun jatuh cinta kepadanya. Bagaimana andai kata aku seorang gadis lemah seperti para puteri itu?

Pertanyaan ini hanya dia ajukan kepada dirinya sendiri, di dalam batin pula. Dia tidak tega untuk mengajukan pertanyaan itu kepada Cang Sun yang sudah bersikap jujur. Jawaban pemuda itu tentu tidak enak. Kalau tidak jujur dia akan kecewa, namun kalau jujur hanya akan menyakitkan hati mereka berdua.

Cang Sun jatuh cinta kepadanya bukan karena pribadinya, namun karena kelihaiannya! Dan hal ini mendatangkan rasa lega di hatinya. Dia sendiri tidak mencinta Cang Sun, dan kenyataan bahwa sesungguhnya pemuda itu pun tidak mencintanya, tetapi hanya tertarik oleh kepandaiannya, membuat hatinya lega. Cang Sun takkan menderita nyeri hati kalau cintanya ditolak.

"Terima kasih atas kejujuran pengakuanmu dan atas perhatianmu, Cang-toako. Kini aku pun tidak ragu-ragu lagi untuk menjawab sejujurnya. Ketahuilah, Toako, bahwa aku bukan sekedar basa-basi ketika mengatakan kepada Paman dan Bibi Cang bahwa sama sekali aku belum berminat akan perjodohan. Selain itu, walau pun aku sangat kagum dan suka bersahabat denganmu, tetapi terus terang saja rasanya dalam hatiku tidak ada perasaan cinta terhadap dirimu. Kita dapat saja bersahabat atau bersaudara, tetapi bukan berjodoh. Nah, lega hatiku sudah dapat berterus terang kepadamu, Toako."

Tepat seperti yang diduganya, pengakuannya yang terus terang bahwa dia tidak mencinta pemuda itu tidak membuat wajah pemuda tampan itu pucat pasi atau menimbulkan sinar duka pada pandangan matanya, melainkan membuat wajah itu berubah kemerahan dan pada matanya hanya terbayang perasaan kecewa dan keheranan.

"Hong-moi… betapa pun tidak enaknya tapi kuterima kejujuranmu ini. Katakanlah, apakah di sana sudah ada seorang pria yang memenuhi hatimu?"

Ditanya demikian, wajah Kui Hong juga menjadi kemerahan. Lalu terbayanglah beberapa wajah pria yang pernah menyatakan jatuh cinta kepadanya. Wajah Sim Ki Liong, wajah Tang Cun Sek, dan akhirnya yang tinggal hanyalah wajah Hay Hay!

Dan timbullah perasaan rindu yang amat sangat terhadap pemuda ugal-ugalan yang mata keranjang itu! Hay Hay! Ah, betapa rindu hatinya kepada pemuda itu, dan baru sekarang, setelah ditanya demikian oleh Cang Sun, dia dapat melihat kenyataan bahwa sebenarnya selama ini hanya Hay Hay yang memenuhi hatinya, hanya pemuda ugal-ugalan itu yang dicintanya, walau pun hal ini dicobanya untuk disangkal dan ditentangnya sendiri.

"Benar, Toako, dan... maafkan aku..."

Satu di antara kenyataan yang terasa amat pahit dan menyakitkan hati adalah mendengar pengakuan seorang gadis yang dicinta bahwa dia mencinta orang lain. Akan tetapi, berkat lingkungan hidup yang selalu bertopeng kesopanan, Cang Sun dapat menutupi rasa nyeri di hatinya dengan senyum, dan dia pun mengangguk-angguk,

"Aku dapat mengerti, Hong-moi."

Apa yang kita namakan ‘cinta’ antara pria dan wanita itu selalu mendatangkan dua hal yang bertentangan, puas atau kecewa, senang atau susah. Ini membuktikan bahwa yang kita agung-agungkan itu sebenarnya hanyalah nafsu belaka. Nafsu adalah gairah, adalah ‘si-aku yang ingin senang’.

Nafsu selalu berpamrih, karena bersumber pada pikiran yang menciptakan si aku lewat pengalaman dan pengetahuan. Pamrihnya hanya satu, sungguh pun kadang terselubung dan mengenakan beribu macam kedok, yaitu ingin mencapai sesuatu, ingin memperoleh sesuatu, dan ‘sesuatu’ ini pasti yang menyenangkan dirinya.

Tidak mengherankan kalau kemudian muncul kecewa dan duka ketika keinginan itu tak tercapai. Kalau keinginan itu terlaksana maka timbullah kepuasan. Kepuasan sementara, selewatan saja. Karena nafsu selalu menghendaki lebih. Bukti bahwa yang kita anggap sebagai ‘cinta suci’ antara pria dan wanita itu pada hakekatnya hanyalah nafsu, dapat dilihat dari akibat yang ditimbulkan oleh cinta itu.

Cinta antara pria dan wanita dimulai dari pandang mata, saling melihat. Dari sini timbul perasaan tertarik, karena apa yang dilihatnya itu menyenangkan hatinya, cocok dengan seleranya. Sesudah saling tertarik lalu timbul keinginan untuk saling memiliki. Kemudian bermunculan akibat dari nafsu ini. Cemburu, patah hati, duka, benci, pertentangan dan sebagainya.

Betapa banyaknya kejadian di mana dua orang yang tadinya bersumpah saling mencinta hingga mati, setelah menjadi suami isteri bertengkar setiap hari, bahkan berakhir dengan perceraian dan saling membenci! Sungguh aneh kalau cinta kasih murni berakhir menjadi kebencian. Kalau nafsu, sama sekali tidak mengherankan bila kemudian mendatangkan akibat duka dan kebencian.

Banyak orang melihat kenyataan ini! Mereka melihat bahayanya nafsu yang terselubung sebagai ‘cinta suci’ ini. Untuk menghindarkan diri dari duka, dan untuk membikin putus ikatan ini, ada orang yang dengan sengaja menjauhkan diri dari asmara ini. Mereka tidak mau melakukan hubungan antara pria dan wanita, lantas menjadi perjaka atau perawan selama hidup, tidak mau atau pantang melakukan hubungan sex.

Apakah dengan cara demikian berarti mereka telah terbebas dari nafsu? Apakah nafsu itu hanya muncul melalui gairah birahi saja? Apakah kalau sudah begitu kita akan dapat bebas dari duka? Bagaimana dengan nafsu dalam bentuk lain, keinginan si aku dalam bentuk lain?

Masih ada seribu satu macam cara bagi si aku untuk mengejar keinginannya. Bahkan satu di antaranya adalah ‘keinginan bebas dari nafsu sex’ itulah! Keinginan memuaskan nafsu dan keinginan menjauhi nafsu datang dari sumber yang sama!

Sumbernya adalah si aku yang ingin! Pamrihnya adalah kesenangan bagi si aku. Karena maklum bahwa menuruti nafsu akan menimbulkan duka, maka si aku lalu berkeinginan untuk menjauhi nafsu, tentu saja pamrihnya supaya jangan mengalami duka, dan hal ini tentu akan menyenangkan!

Demikian pandainya nafsu daya rendah mempermainkan kita! Begitu pandainya bersalin rupa sehingga kita sering kali terkecoh. Hati dan akal pikiran kita telah bergelimang daya rendah, maka apa pun yang dihasilkan hati dan akal pikiran telah terpengaruh oleh nafsu. Kenapa seluruh badan ini luar dalam bergelimang dengan nafsu? Karena memang sudah kodratnya demikian! Selama jiwa bersemayam di dalam badan, agar dapat hidup, badan harus disertai nafsu-nafsu daya rendah.

Badan akan binasa tanpa adanya nafsu daya rendah. Badan kita ini dapat hidup karena ketergantungan pada banyak benda. Kita butuh makanan, kita butuh benda-benda, kita butuh orang lain. Kita tidak mungkin dapat terbebas dari ikatan-ikatan dengan daya-daya rendah yang sebenarnya merupakan alat hidup, merupakan sarana untuk hidup, bahkan kebutuhan mutlak bagi kehidupan. Memang ini sudah kodratnya, sudah kehendak Tuhan begitu. Kita tidak mungkin mengingkari ini.

Nafsu yang kita namakan nafsu sex merupakan kodrat pula. Tidak mungkin dilenyapkan kalau kita menghendaki manusia masih berkelanjutan hidup di dunia ini. Nafsu sex hanya merupakan alat, merupakah sarana perkembang biakan makhluk manusia. Jika terdapat kenikmatan di situ, hal itu merupakan anugerah Tuhan yang patut kita syukuri.

Karena seluruh badan kita luar dalam telah bergelimang nafsu, hati dan akal pikiran kita telah bergelimang nafsu rendah, maka badan dan batin kita dikuasai oleh nafsu, menjadi hamba nafsu. Padahal nafsu daya rendah itu seharusnya yang menjadi alat kita, menjadi hamba kita, menjadi pelayan kita. Lantas bagaimana kita dapat membebaskan diri dari cengkeraman nafsu kalau ‘kita’ ini adalah hati dan akal pikiran yang bergelimang nafsu?

Hanya satu kekuasaan saja yang akan mampu mengatur, yang akan mampu merubah, yang akan mampu mengembalikan nafsu daya rendah ini ke dalam tempatnya semula, mengembalikan nafsu daya rendah pada tempat dan tugasnya yang benar, yaitu sebagai pelayan dalam kehidupan. Kekuasaan itu adalah kekuasaan Tuhan Yang Maha Kuasa, kekuasaan yang juga menciptakan nafsu daya rendah, yang menciptakan segala sesuatu di alam mayapada ini!

Dan kita? Kita hanya menyerah! Menyerah dengan sepenuhnya, menyerah dengan rasa ikhlas, dengan hati tawakal, dengan pasrah. Menyerah sebulatnya dengan mutlak, tanpa adanya hati akal pikiran yang mencampuri. Yang ada hanya penyerahan saja. Yang ada hanya kepasrahan. Yang ada hanya pengamatan, penerimaan tanpa disertai keinginan hati akal pikiran. Menyerah dan menerima, merasakan dan waspada, bukan ‘aku’ yang waspada.


Kui Hong dapat melihat perubahan pada muka pemuda itu. Dara ini melihat kekecewaan dan juga penyesalan terbayang pada wajah tampan itu, maka dia pun cepat mengalihkan perhatian pada persoalan lain.

"Toako, di mana adanya Paman Cang? Aku ingin menghadap dan berbicara dengannya. Kenapa dia jarang nampak? Apakah ada kesibukan?"

Usahanya itu berhasil. Perhatian Cang Sun teralihkan dan kini wajahnya tak lagi dicekam kekecewaan dan kedukaan. "Ayah memang sedang sibuk bukan kepalang. Banyak sekali urusan yang harus ditanganinya."

"Ahh, sayang aku tidak dapat membantu ayahmu, Toako. Tugas yang diberikan kepadaku untuk menyelidik ke istana pun telah gagal. Tidak ada gunanya lagi aku tinggal lebih lama di sini."

"Hong-moi, engkau tidak perlu merasa menyesal lagi. Tentu saja engkau tidak berhasil menangkap penjahat yang sudah mencemarkan istana bagian puteri itu, karena penjahat itu memang telah tewas."

Kui Hong terkejut bukan main. Dia menatap wajah pemuda itu dengan mata terbelalak. "Sudah tewas? Siapa yang menewaskannya dan siapa pula penjahat itu, Toako? Kenapa aku tidak pernah mendengar akan hal itu?"

"Memang hal itu harus dirahasiakan, orang luar tidak boleh tahu. Akan tetapi engkau tidak kuanggap orang luar, apa lagi engkau pernah melakukan penyelidikan untuk menangkap penjahat cabul itu. Penjahat cabul itu ternyata adalah seorang prajurit pengawal thai-kam yang bertugas di dalam istana."

"Ahhh...!" Kui Hong menjadi semakin heran. "Siapa yang telah membunuhnya, Toako?"

Pemuda itu tersenyum. "Pembunuhnya yang amat berjasa itu bahkan orang yang pernah dicurigai ayah, yaitu bekas perwira Tang Bun An."

Kini Kui Hong terbelalak dan mulutnya terbuka. Demikian besar rasa heran dan kagetnya mendengar keterangan yang sama sekali tidak disangka-sangkanya itu sehingga sampai beberapa lama dia tak mampu bersuara! Akhirnya dia dapat mengendalikan perasaannya, kemudian dia berkata dengan suara yang tenang saja, sama sekali tidak membayangkan ketegangan yang mencekam hatinya.

"Hemm, dia...? Jadi perwira Tang... ehh, kau katakan tadi bekas perwira, Toako?"

"Benar, karena dia kini telah mengundurkan diri"

"Cang-toako, aku merasa tertarik sekali! Maukah engkau menceritakannya kepadaku apa yang terjadi? Bagaimana Paman Cang dapat tahu bahwa penjahat itu telah terbunuh oleh Tang-ciangkun, dan mengapa pula Tang-ciangkun tiba-tiba mengundurkan diri. Aku ingin tahu sekali...”

Cang Sun tersenyum. Dia merasa girang bahwa percakapan sudah beralih sehingga dia tidak lagi merasakan akibat dari penolakan cinta gadis itu.

"Begini, Hong-moi. Tadinya ayah memanggil Tang-ciangkun untuk minta perwira itu turut mencari penjahat cabul di dalam istana. Akan tetapi Tang-ciangkun yang tadinya harus merahasiakan peristiwa itu seperti diperintahkan Permaisuri, lalu memberitahukan bahwa penjahat itu telah ditangkap dan dibunuhnya atas perintah Hong-houw (Permaisuri).”

"Ahhh...!”

Diam-diam Kui Hong mengepal tinju dengan hati panas sekali. Sudah jelas yang menjadi penjahat cabul adalah Tang Bun An sendiri alias Ang-hong-cu, namun keparat itu malah berlagak menjadi penangkap dan pembunuh penjahat cabul!

Ingin dia berteriak mengatakan bahwa Tang Bun An itulah penjahat cabulnya, akan tetapi dia menahan gelora hatinya. Dia sudah berjanji kepada Ang-hong-cu dan janjinya itu lebih berharga dari pada nyawa. Sampai mati pun dia tidak akan mau memusuhi Ang-hong-cu, tidak mau pula membuka rahasianya meski hatinya seperti akan menjerit-jerit menentang janjinya sendiri itu.

"Jadi diakah yang sudah menangkap dan membunuh penjahat cabul itu? Tetapi mengapa pula sesudah membuat jasa yang sangat besar itu dia lalu mengundurkan diri? Bukankah kedudukannya sudah kuat dan baik sekali?" Pertanyaan ini bukan iseng atau pura-pura, tetapi memang hatinya penuh dengan pertanyaan ini.

"Hal itu juga pernah kutanyakan kepada ayah. Ternyata Tang-ciangkun adalah seorang patriot, seorang yang mencinta tanah air dan bangsa, yang setia kepada kerajaan. Melihat betapa ada usaha pembunuhan terhadap kaisar yang dilakukan pembunuh bayaran yang diperintah oleh orang-orang kulit putih dan juga dibunuh olehnya, maka dia mengajukan permohonan untuk berhenti sebagai perwira pengawal. Dan sesudah berhenti dia hendak menghimpun semua kekuatan kangouw, menyatukan kekuatan kangouw untuk membela negara. Dan ayah menyetujui niatnya yang mulia itu, yaitu membantu pemerintah melalui dunia kang-ouw, dunia persilatan yang menjadi dunianya."

Kui Hong mengerutkan alis. Dia sendiri merasa bingung. Dia tahu bahwa meski pun Ang-hong-cu seorang tokoh sesat yang amat jahat terhadap wanita, tetapi harus diakui bahwa dia bukan pemberontak, dan setia terhadap kerajaan. Pernah hal ini dibuktikannya ketika Ang-hong-cu menyamar sebagai Han Lojin dan membantu pemerintah dalam membasmi gerombolan pemberontak yang dipimpin Lam-hai Giam-lo.

Tetapi apakah benar bahwa Ang-hong-cu meninggalkan kedudukan dan kemuliaan hanya untuk dapat berbakti kepada negara melalui dunia kang-ouw? Sehebat itukah semangat kepahlawanan seorang penjahat cabul macam Ang-hong-cu itu? Tidak, dia tidak percaya! Tentu ada pamrih lain di balik kepatriotannya itu! Dan dia akan menyelidikinya, walau pun tentu saja dia tidak mungkin memusuhinya karena telah terbelenggu oleh janjinya sendiri.

Karena hari sudah menjelang senja, Kui Hong minta diri lalu meninggalkan taman itu dan memasuki kamarnya. Setelah tiba di dalam kamarnya, dia lantas membanting diri di atas pembaringan, telentang dan melamun. Pengakuan cinta Cang Sun sudah membangkitkan semua kenangan lama, pengalaman-pengalaman yang sudah lalu.

Dengan hati perih harus diakuinya bahwa dia amat merindukan Hay Hay! Dan dia pernah menuduh pemuda itu sebagai Ang-hong-cu pemerkosa wanita! Akan tetapi bagaimana dia dapat memikirkan tentang cinta pada saat-saat semacam itu? Cinta? Menikah? Dia sudah bersumpah untuk tidak menikah sebelum Ang-hong-cu tewas! Dan jelas penjahat itu tidak mungkin dapat tewas di tangannya.

Kui Hong menarik napas panjang. Dua tugasnya, yaitu mencari Sim Ki Liong dan Tang Cun Sek, lalu merampas dua pedang pusaka Cin-ling-pai dan Pulau Teratai Merah belum terlaksana dan dia sudah gagal pula menangkap Ang-hong-cu, bahkan terikat janji yang membuat dia sama sekali tidak berdaya terhadap penjahat itu. Kalau membayangkan hal ini, ingin rasanya dia menjerit-jerit dan menangis.

Engkau sungguh tolol telah berjanji seperti itu. Ratusan kali dia memaki dan menyalahkan diri sendiri. Akan tetapi dia bergidik kalau dia membayangkan keadaannya ketika tertawan Ang-hong-cu. Kalau saja saat itu dia dibunuh, hal itu tidak mengapa. Tetapi Ang-hong-cu adalah penjahat cabul yang keji. Dia akan mengalami siksaan dan penghinaan yang jauh lebih hebat dari kematian. Itulah yang memaksanya untuk berjanji!

Tapi itu berarti bahwa dia masih dicengkeram perasaan takut! Demikian dia menyalahkan dirinya sendiri. Walau tidak takut menghadapi maut akan tetapi masih takut menghadapi siksaan, penghinaan dan pemerkosaan! Itu berarti bahwa tetap saja dia adalah seorang penakut, seoang pengecut! Karena pengecutnya, kini dia harus membiarkan jai-hwa-cat itu bebas dan bertindak semaunya tanpa dia mampu turun tangan. Dia pengecut!

Beberapa titik air mata menetes turun ke atas kedua pipinya. Kui Hong merasa menyesal bukan main. Dia tidak pantas menjadi seorang pendekar, sama sekali tak pantas menjadi pangcu dari perkumpulan orang gagah seperti Cin-ling-pai. Dia terlalu mementingkan diri sendiri, terlalu sayang pada diri sendiri. Dengan perasaan amat tertekan, pada keesokan harinya Kui Hong menghadap Menteri Cang Ku Ceng dan berpamit untuk meninggalkan rumah keluarga Cang, bahkan meninggalkan kota raja.

"Ehhh? Kenapa tergesa-gesa, Kui Hong? Aku sedang menanti hasil penyelidikan tentang dua orang muda itu. Selain kuserahkan kepada para penyelidik, juga aku minta bantuan bekas perwira Tang."

"Paman, saya tidak ingin membikin paman lebih repot lagi. Sudah terlalu lama saya pergi meninggalkan orang tua saya. Saya ingin pulang dan melaporkan semua kegagalan saya kepada ayah dan ibu."

"Kui Hong, kami sudah menganggap engkau sebagai keluarga sendiri. Sayang..." sampai di sini suara Nyonya Cang jadi tersendat. “...sayang engkau tidak berjodoh dengan putera kami, akan tetapi hal itu tidak menghalangi kami untuk menyayangimu sebagai keluarga sendiri."

Mendengar ini, Kui Hong melirik ke arah Cang Sun dan merasa berterima kasih. Pemuda itu agaknya telah memberi tahukan ayah ibunya tentang penolakannya dan keluarga yang budiman itu agaknya sama sekali tidak mendendam atau menyesal. Dan hal ini membuat perasaan hatinya menjadi semakin rikuh.

Setelah mencoba untuk menahan namun tidak berhasil, akhirnya Menteri Cang berkata, "Baiklah, Kui Hong. Kami tak berhak untuk menahanmu lebih lama lagi di sini, akan tetapi kami sungguh mengharapkan agar engkau tidak melupakan kami yang menganggapmu seperti keluarga sendiri."

Bagaimana pun juga sikap ramah dan akrab dari keluarga itu mendatangkan keharuan di dalam hati pendekar wanita itu. Dia memberi hormat, lantas berkata dengan suara tegas, "Percayalah, Paman dan Bibi, juga engkau, Cang-toako, bahwa aku Cia Kui Hong selama hidupku takkan melupakan keluarga Cang yang budiman. Semoga kelak kita dapat saling bertemu kembali dalam suasana yang lebih akrab dan bahagia."

Biar pun tadinya dia menolak, namun karena desakan Menteri Cang, akhirnya Kui Hong tidak mampu menolak lagi ketika tuan rumah itu menghadiahkan seekor kuda yang amat baik kepadanya. Dengan diantar oleh keluarga itu sampai di pintu gerbang rumah mereka, Kui Hong kemudian meninggalkan keluarga itu sesudah sempat membisikkan kata-kata yang membuat Menteri Cang Ku Ceng termenung setelah gadis itu pergi. Bisikan itu hanya singkat saja.

"Paman, kuharap Paman sekali lagi bertanya kepada Hong-houw tentang penjahat cabul di istana itu."

Kui Hong memang sengaja membisikkan kata-kata ini. Dia tidak berani untuk menyebut nama Ang-hong-cu karena sudah terikat janji. Maka dia menganjurkan pejabat tinggi itu untuk menyelidiki lagi melalui Permaisuri. Kalau Permaisuri berani menyatakan kebenaran terhadap keterangan Tang Bun An yang jelas berbohong, maka tentu ada apa-apa di balik pernyataan itu, ada apa-apa yang tidak wajar antara Permaisuri dan Ang-hong-cu…..!

********************


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner