SI KUMBANG MERAH : JILID-48


"Aduh, aku lelah sekali, Hay-ko," dara itu mengeluh, lalu menjatuhkan diri duduk di bawah sebatang pohon besar, menyandarkan punggungnya pada batang pohon dan menjulurkan kedua kakinya, memijati kedua kaki itu dengan tangan kanan, sedangkan tangan kirinya melepaskan ikatan buntalan kain di pundak, kemudian menghapus keringat dari leher dan dahinya.

Hay Hay terpaksa berhenti dan memandang gadis itu sambil tersenyum. Mayang sungguh manis bukan main. Anak rambut di dahinya menjadi kusut ketika dia menggunakan sapu tangan menghapus keringatnya, akan tetapi justru keadaan pakaian yang tidak rapi, anak rambut yang kusut, muka yang basah oleh keringat itu yang membuat dia terlihat semakin manis!

Rambutnya yang panjang hitam dikuncir dua tergantung manja di depan dada. Matanya yang sipit sekarang terpejam sehingga nampak bulu mata merapat lentik, hidungnya yang mancung kembang-kempis dan mulutnya yang kecil dengan bibir merah basah itu sedang cemberut. Kulit muka dan leher yang putih mulus itu kini kemerahan.

Memang semenjak pagi mereka melakukan perjalanan tiada hentinya dan kini telah lewat tengah hari, karena itu tidak mengherankan kalau gadis itu mengeluh kelelahan. Memang Mayang bukan seorang gadis lemah, bahkan dia pandai berburu, sudah biasa berkeliaran di hutan-hutan dan gunung-gunung. Akan tetapi baru sekarang ini bersama Hay Hay dia melakukan perjalanan yang jauh dan berjalan kaki setiap hari melalui daerah-daerah yang terjal dan sukar.

Hay Hay merasa iba juga dan dia pun menghampiri, lalu duduk pula di dekat adik tirinya itu, menurunkan buntalan dari punggungnya.

“Sudah kukatakan bahwa perjalanan ini amat jauh, Mayang, sangat melelahkan, apa lagi bagi seorang gadis seperti engkau. Kasihan engkau, Mayang."

Sepasang mata yang tadinya terpejam itu terbuka, sipit namun indah bentuknya, dengan kedua ujung pinggir meruncing dan naik, lalu mulut yang cemberut itu kembali mengeluh, "Uuhh, koko, kau bilang kasihan? Jangan kasihani aku, akan tetapi kasihanilah sepasang kakiku ini. Seperti remuk rasanya!"

Hay Hay mendekati gadis itu. Dia memang merasa iba dan dapat membayangkan betapa nyeri rasa kedua kaki yang kecil mungil itu. Otot-otot kedua kaki itu tidak biasa digunakan untuk berjalan jarak jauh, maka tentu terasa nyeri dan penat, otot-otot seperti mau pecah dan tulang seperti retak-retak. Tetapi kelelahan pada otot-otot itu mudah saja dilenyapkan atau dikurangi.

"Mari kupijati kedua kakimu untuk menghilangkan rasa penat itu, adikku,” katanya, lantas tanpa menanti jawaban kedua tangannya sudah mulai memijati kaki kiri Mayang.

Dengan jari-jari tangannya yang peka dan terlatih, Hay Hay lalu memijati serta menekan jalan-jalan darah dan otot-otot besar di paha, belakang lutut, betis dan di sepanjang kaki, memulihkan jalan darah dan melemaskan otot-otot yang menjadi kaku. Dia melakukannya dengan lembut sekali sehingga Mayang merasa keenakan. Bukan hanya nyaman rasanya ketika dipijati oleh seorang ahli yang tahu akan jalan darah, akan tetapi dia juga merasa seolah-olah jari tangan itu menyentuh kakinya penuh kemesraan dan kasih sayang, meski pun kakinya terbungkus celana sutera.

Mayang kembali memejamkan sepasang matanya dan hatinya dipenuhi kemesraan yang mengharukan. Seketika dia lupa bahwa pemuda yang tengah memijati kakinya itu adalah saudaranya seayah, dan timbul pula perasaan kasih sayangnya sebagai seorang wanita terhadap seorang pria, yang membuat pernapasannya tersendat-sendat.

Hay Hay yang sudah mulai memijati kaki kanan, tentu saja dapat melihat dan mendengar pernapasan Mayang. Dia mengangkat muka, lalu memandang wajah gadis itu dan melihat wajah itu kini menjadi merah sekali, betapa cuping hidung yang mancung itu berkembang kempis dan mulutnya agak terbuka, seolah pernapasan tidak cukup melalui kedua lubang hidungnya. Karena pemijatan itu memang sudah selesai, Hay Hay lalu menghentikannya dan bertanya sambil menyentuh pundak gadis yang masih memejamkan kedua mata itu.

"Mayang, engkau kenapakah? Sakitkah engkau?" tanyanya penuh kekhawatiran.

Sentuhan pada pundak yang lembut itu seperti menjebolkan bendungan. Sambil merintih Mayang kemudian merangkul Hay Hay dan menangis pada dada pemuda itu, menangis sesenggukan sehingga amat mengejutkan Hay Hay. Dia tidak tahu kenapa Mayang dapat menangis sesedih itu. Padahal sepanjang pengetahuannya Mayang adalah seorang gadis yang tabah, bahkan keras hati dan tidak cengeng sama sekali. Andai kata dia terlampau kelelahan sekali pun, tidak mungkin dia menangis seperti anak kecil.

Akan tetapi melihat betapa dara itu menangis dengan sungguh-sungguh, menangis penuh kesedihan, dia pun tak berani main-main dan membiarkan gadis itu menangis sepuasnya. Pada saat seperti itu, tangis merupakan obat yang paling ampuh bagi orang yang sedang dilanda kesedihan.

Dia pun hanya mengelus kepala gadis itu dengan kasih sayang seorang kakak. Dia sama sekali tidak tahu betapa elusan tangan yang lembut pada kepala itu menambah derasnya air mata mengalir dari kedua mata sipit itu.

Bagaimana pun derasnya hujan pasti akan mereda. Air mata pun akan terkuras habis dan tangis pun akan terhenti. Apa lagi bagi seorang gadis semacam Mayang, seorang gadis berhati baja. Biar pun tadi dia terseret dan terhanyut oleh keharuan hatinya, akhirnya dia dapat menenteramkan hatinya dan kini isaknya semakin lirih dan jarang.

"Nah, sekarang coba katakan, mengapa engkau menangis?" kata Hay Hay, masih lembut dan belum berani bercanda seperti biasanya, takut kalau akan salah ucap dan menyentuh kembali hati gadis itu.

Mayang masih merangkulkan kedua tangannya di leher Hay Hay, tetapi kini rangkulannya semakin kuat seolah-olah dia mengerahkan tenaga dan memaksa diri untuk bicara.

"Hay-ko... maafkan aku... akan tetapi aku... aku... sangat cinta padamu...”

Hay Hay mencium rambut di kepala gadis itu sambil tersenyum. "Aihh, tentu saja. Aku pun amat cinta kepadamu, Mayang. Engkau adikku dan aku kakakmu..."

"Tidak! Bukan itu! Aku cinta padamu bukan sebagai adik, melainkan... ahh, koko, engkau tentu tahu... aku... aku hanya akan dapat hidup berbahagia kalau menjadi isterimu..."

"Mayang...!"

Hay Hay cepat melepaskan rangkulannya dan dengan lembut mendorong gadis itu, lantas dipegangnya kedua pundak gadis itu dan dijauhkan, dipaksanya supaya mereka saling pandang. Dengan mata sipit dan agak membengkak gadis itu memandang, sinar matanya penuh kedukaan.

"Mayang, adikku yang bengal! Apa yang kau katakan ini? Inginkah engkau menyeret kita berdua ke dalam lembah dosa yang tak dapat diampuni? Kita ini saudara, Mayang. Ingat, kita saudara seayah! Kita sama-sama satu darah, satu she (Marga) sehingga kalau kita menjadi suami isteri, bukan hanya seluruh manusia akan mengutuk kita, juga Tuhan akan menghukum kita. Sadar dan ingatlah, adikku. Kalau karena keadaan kita tidak bisa saling mencinta seperti suami isteri, apakah kita tidak dapat saling mencinta sebagai kakak dan adik?"

Mayang memandang wajah Hay Hay dengan mengejap-ngejapkan matanya yang penuh air mata, dan dia pun mengangguk-angguk. Gerakan ini membuat beberapa titik air mata yang telah bergantung pada pelupuk matanya kini berjatuhan. Pemandangan ini demikian mengharukan hati Hay Hay sehingga dia pun menahan air matanya keluar dari sepasang matanya yang panas. Ia tahu bahwa andai kata Mayang bukan adiknya seayah, mungkin saja dia benar-benar akan jatuh cinta kepada gadis ini, dan akan mencintainya sebagai seorang isteri yang baik.

"Ehhh, bagaimana rasanya kedua kakimu sekarang?" tanya Hay Hay untuk mengalihkan persoalan dari batin adiknya.

Mayang memandang ke arah kakinya, kemudian mulutnya yang kecil mungil membentuk senyum lagi. Senyum itu mendatangkan kecerahan seperti matahari tersembul dari balik awan setelah hujan mereda. Dia lalu bangkit berdiri, melangkah ke sana-sini, menggerak-gerakkan kedua kakinya.

"Wah sudah tak terasa lelah lagi, Hay-ko. Hebat, engkau boleh membuka praktek menjadi tukang pijat. Pasti laris!"

"Ihh! Kau ingin kakakmu ini menjadi tukang pijat? Siapakah yang akan suka membiarkan tubuhnya kupijati?"

"Siapakah yang akan suka? Hemm, Hay-koko, akan banyak yang berdatangan, terutama kaum wanitanya. Tukang pijatnya tampan, dan pijatannya sungguh membuat tubuh terasa nyaman, menghilangkan semua kelelahan. Wanita-wanita akan berebutan dan antri untuk minta kau pijati, dan mereka pasti berani membayar mahal!"

"Huh, bagaimana jika yang berdatangan dan antri itu nenek-nenek yang napasnya sudah empas-empis? Jangan-jangan mereka itu kehabisan napas ketika sedang kupijati. Bukan upah banyak yang kudapatkan, malah urusan berabe, orang menyangka aku membunuh para nenek itu!"

Mayang tertawa dan diam-diam Hay Hay gembira bukan main melihat adiknya itu sudah dapat tertawa. Memang bukan watak Mayang untuk menjadi seorang wanita cengeng.

"Koko, kenapa engkau ini bisa segala-galanya? Apa sih yang kau tidak bisa? Dari mana pula engkau mempelajari ilmu pijat yang membuat badan terasa begini enak?"

"Mayang, apa sukarnya mempelajari ilmu memijat seperti tadi? Bukankah engkau sudah banyak mempelajari ilmu silat dari subo-mu? Engkau pun tentu sudah mempelajari letak jalan darah dan kedudukan tulang. Nah, pengetahuanmu tentang itu sudah cukup menjadi dasar untuk mempelajari ilmu pijat. Jika nanti ada waktu senggang biarlah akan kuajarkan kepadamu biar kelak kalau ada yang membutuhkan, engkau akan dapat memijatinya dan mengusir kelelahan dari tubuhnya.”

"Ihh, siapa yang akan membutuhkan aku untuk memijatinya?"

"Siapa lagi kalau bukan... ehh, suamimu kelak."

Sepasang mata yang sipit itu dilebarkan, dan mulut yang tadinya tersenyum itu cemberut. Mayang bangkit berdiri dan bertolak pinggang.

"Hay-ko, engkau nakal! Aku tidak akan mempunyai suami!"

"Ehhh, kenapa, Mayang? Maafkan, tadi aku hanya main-main. Bagaimana pun juga kelak engkau tentu akan menikah dan sudah sepatutnya kalau engkau memijati suamimu. Itu hal yang wajar, bukan?"

"Tidak! Aku tidak akan menikah!"

“Ehh, bagaimana mungkin? Engkau adikku yang begini manis, begini cantik jelita, begini lihai dan pandai. Ribuan orang pemuda akan saling berebutan untuk menjadi suamimu, dan engkau tidak akan menikah?"

"Aku tidak akan suka bicara tentang perjodohan sebelum..."

“Sebelum apa? Hayo katakan, sebelum apa, adikku sayang?"

"Sebelum engkau sendiri menikah, Hay-ko."

Hay Hay berhenti bernapas. Lehernya terasa seperti dicekik dari dalam karena keharuan yang menyerbu keluar dari dalam hatinya. Dia mengerti. Mayang demikian mencintanya, cinta seorang gadis terhadap seorang pemuda, cinta seorang wanita terhadap pria, bukan cinta kasih antara saudara.

Hanya kenyataan bahwa mereka adalah saudara seayah sajalah yang membuat gadis itu memaksa diri agar melihat kenyataan dan menekan gejolak hatinya. Akan tetapi cintanya masih tetap dan gadis itu tentu saja merasa berat untuk menikah dengan pria lain, maka mengatakan bahwa dia baru mau bicara tentang perjodohan setelah Hay Hay, pria yang dicintanya, juga kakaknya sendiri, telah menikah dengan wanita lain tentu saja.

Sesudah berdiam sesaat dan memandang kepada adiknya, akhirnya dapat pula Hay Hay mengeluarkan keluhan lirih, “Mayang...”

Mendengar suara yang menggetar ini dan melihat wajah kakaknya seperti orang menahan tangis. Mayang menubruk dan merangkul pinggang Hay Hay, menyembunyikan mukanya di dada pemuda itu.

"Hay-ko, ahhh... maafkan aku, Hay-koko…"

"Engkaulah yang harus memaafkan aku, Mayang. Adikku sayang…!"

Beberapa lamanya mereka berpelukan, tapi kini dengan perasaan kasih sayang kakak dan adik, sampai kemudian Hay Hay merasa betapa lemahnya mereka membiarkan perasaan mereka hanyut oleh keharuan.

"Wah-wahh, apakah kita ini sedang main di panggung, menjadi anak wayang? Ha-ha-ha, sayang tidak ada penontonnya!"

Mayang menatap wajah pemuda itu, lalu dia pun terkekeh-kekeh geli sehingga suasana menjadi gembira sekali. Mereka lalu melanjutkan perjalanan sambil bergandengan tangan dan di sepanjang perjalanan itu Mayang bernyanyi-nyanyi. Semua kedukaannya tadi telah terlupa dan kini mereka seperti kakak beradik yang sedang pesiar bersenang-senang.

Setelah melakukan perjalanan cepat, kadang melalui air sungai, kadang mereka membeli kuda dan berkuda, akhirnya tibalah mereka di daerah kota raja. Di sepanjang perjalanan mereka hanya menemukan rintangan yang tak berarti, akan tetapi berkat ilmu kepandaian mereka yang tinggi, semua rintangan dapat mereka atasi dan beberapa kali perampokan terhadap mereka berakhir dengan kocar-kacirnya para perampok.

Pada suatu sore tibalah mereka di sebuah dusun di luar kota raja. Ketika mereka sedang menanyakan jalan yang menuju ke kota raja kepada penduduk dusun, seorang penduduk tua yang merasa khawatir melihat Mayang gadis yang cantik jelita lagi muda itu, segera rnemberi nasehat.

"Sebaiknya kalau Kongcu dan Siocia (Tuan muda dan Nona) bermalam saja di dusun ini dan besok setelah matahari naik baru melanjutkan ke kota raja."

"Akan tetapi kenapa, Paman? Apakah perjalanan ini tidak aman?" tanya Mayang kepada penduduk dusun itu.

"Apakah di tengah perjalanan ada gangguan dari perampok, Paman? Ataukah gangguan dari binatang buas?" tanya pula Hay Hay.

Kakek itu menggelengkan kepalanya. "Jika bicara tentang keamanan, sekarang di sekitar daerah kota raja aman, tidak pernah terjadi perampokan, bahkan tidak ada pencuri berani melakukan kejahatan. Namun sungguh tidak aman sama sekali melakukan perjalanan di waktu sore dan malam hari bagi seorang gadis muda dan cantik seperti Nona. Perjalanan rnenuju ke kota raja masih cukup jauh dan sunyi sekali pada malam hari. Maka sebaiknya melakukan perjalanan pada besok hari siang saja, di mana terdapat banyak orang berlalu lalang sehingga Nona tidak akan terancam gangguan."

"Hemm, apakah tak ada jalan pintas yang lebih dekat, Paman?” tanya Hay Hay, maklum akan maksud ucapan kakek itu. Kecantikan Mayang tentu akan menarik perhatian banyak pria yang mata keranjang dan hidung belang, dan mereka itulah yang nanti akan menjadi pengganggu, bukan para perampok yang menghendaki uang.

"Ada, ada jalan pintas melalui hutan di bukit sana itu. Lebih dekat dan akan makan waktu yang lebih singkat, akan tetapi juga lebih berbahaya karena di sana banyak berkeliaran binatang buas dan di sana pun keselamatan seorang gadis seperti Nona akan terancam.”

"Tetapi siapakah yang akan menganggu aku, Paman? Dan mengapa pula seorang wanita diganggu? Siapa mereka yang suka menganggu wanita?”

"Sstt, jangan keras-keras bicara, Nona," kata kakek itu setengah berbisik sambil matanya memandang ke kanan ke kiri dengan sikap jeri. "Tidak ada penjahat yang menggunakan kekerasan. Akan tetapi sekarang banyak sekali orang-orang gagah yang agaknya sedang membutuhkan isteri. Bila mereka bertemu seorang gadis, apa lagi yang muda dan cantik seperti Nona, mereka akan memaksa Nona untuk menjadi isteri. Isteri yang sah! Sudah banyak sekali gadis yang menjadi isteri orang-orang itu."

"Ehhh? Kalau aku tidak mau, apakah mereka akan memaksaku?" tanya Mayang dengan sikap penasaran dan mulai marah. "Kalau begitu, mereka itu sama saja dengan penjahat, bahkan lebih keji lagi!"

"Ssttt... jangan keras-keras, Nona. Mereka itu bukan penjahat, dan tidak pernah terdengar berita bahwa mereka memaksakan kehendak atau memperkosa wanita. Nyata-nyata para gadis itu mau menjadi isteri mereka. Mereka benar-benar bukan penjahat, bahkan semua penjahat takut kepada mereka. Mereka adalah para anggota perkumpulan Ho-han-pang."

Mendengar nama perkumpulan itu, Mayang dan Hay Hay bertukar pandang. Ho-han-pang (Perkumpulan Patriot Gagah)? Kalau nama itu benar sesuai, maka tentu saja mereka tak perlu khawatir akan mendapat gangguan. Mana mungkin para ho-han, yaitu sebutan bagi orang-orang gagah yang berjiwa pahlawan, mau mengganggu wanita?

"Paman, di mana lebih banyak kemungkinan kita bertemu dengan para ho-han itu, melalui jalan raya ataukah melalui jalan pintas?” tanya Hay Hay.

Kakek itu mengerutkan alisnya. "Kongcu, bila engkau sendiri yang melakukan perjalanan, maka melalui jalan raya tidak akan ada bahaya apa pun. Akan tetapi bagi Nona ini..., di jalan raya tentu akan bertemu banyak anggota Ho-han-pang..."

“Jangan khawatir, Paman. Kami adalah sahabat para ho-han (orang gagah). Terima kasih, Paman, kami akan melanjutkan perjalanan sekarang juga."

Setelah berkata demikian, Hay Hay lalu meloncat ke atas punggung kudanya, diikuti oleh Mayang. Gadis ini tersenyum manis kepada kakek itu, sedikit pun tidak memperlihatkan rasa takut dan melihat cara gadis itu meloncat ke atas kuda, kakek itu pun bisa menduga bahwa gadis cantik itu tentulah seorang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi. Kalau tidak begitu, mana ada gadis muda cantik yang tidak takut menghadapi orang-orang Ho-han-pang, bahkan menganggap mereka sebagai sahabat?

Hay Hay dan Mayang segera membalapkan kuda mereka keluar dari dusun itu. Sesudah cukup jauh meninggalkan dusun, mereka menahan kuda mereka dan Hay Hay mengajak adiknya bicara.

"Bagaimana pendapatmu tentang keterangan kakek tadi, Mayang?"

"Mengenai Ho-han-pang itu? Aku merasa sangat curiga, Hay-ko. Mana ada ho-han yang suka mengganggu wanita?"

"Cocok sekali dengan perasaanku, Mayang. Keterangan tadi tentu hanya mempunyai dua arti. Pertama, ada gerombolan orang jahat yang berkedok perkumpulan orang gagah dan menggunakan nama muluk Ho-han-pang. Dan ke dua, keterangan kakek tadi yang keliru. Mereka memang orang-orang gagah yang bergabung dalam perkumpulan Ho-han-pang, dan kakek tadi yang jahat dan memusuhi mereka maka menyebar berita bohong supaya dapat memburukkan mereka."

Mayang mengangguk-angguk. "Mudah-mudahan saja kita akan berjumpa dengan mereka lantas membuktikannya sendiri, orang-orang macam apa adanya mereka yang mengaku para anggota Ho-han-pang itu. Atau mungkin mereka bukan orang yang suka melakukan kejahatan seperti mencuri atau merampok, seperti dikatakan kakek tadi bahwa daerah ini sekarang aman karena para penjahat takut kepada Ho-han-pang, melainkan sekumpulan laki-laki mata keranjang seperti..." Dara itu menghentikan ucapannya dan cepat menutupi mulutnya seperti hendak mencegah kata-kata selanjutnya meloncat keluar dari mulut kecil itu.

"Seperti apa, Mayang?"

"Seperti... engkau, Hay-ko!”

Hay Hay mengerutkan alisnya, pura-pura marah. "Ihhh, engkau menghina aku, ya? Siapa yang mata keranjang? Kau memang bengal!”

Tangannya meraih hendak mencubit, akan tetapi Mayang tertawa-tawa sambil membedal kudanya, membalap ke depan, dikejar Hay Hay. Mereka berkejaran sambil tertawa-tawa, seperti dua orang kanak-kanak bermain-main dan diam-diam perasaan Hay Hay menjadi girang melihat adiknya sama sekali sudah melupakan kedukaannya tadi.

Dia tidak tertarik untuk menyelidiki orang-orang Ho-han-pang itu. Urusannya sendiri sudah cukup penting namun belum juga mampu dia laksanakan dengan hasil baik, yaitu mencari Ang-hong-cu, musuh besarnya sekaligus juga ayah kandungnya, yang bukan saja sudah melakukan banyak sekali kejahatan mengganggu wanita, tetapi juga telah mencemarkan nama baiknya sebab orang-orang gagah menyangka bahwa dialah yang telah melakukan perkosaan dan gangguan terhadap para wanita itu.

Tiba-tiba Mayang menahan kudanya. Melihat gadis itu menghentikan kudanya, Hay Hay juga ikut menahan kendali kudanya. Dia tidak perlu bertanya lagi karena dia yang berada di belakang Mayang juga telah melihat apa yang membuat adiknya itu berhenti. Di depan mereka terdapat lima orang penunggang kuda sedang malang melintang di tengah jalan raya. Jelas lima orang itu sengaja menghadang mereka dan memenuhi jalan.

Dia memandang tajam penuh perhatian kepada kelima orang itu. Matahari belum rendah benar dan sinarnya masih cukup terang. Lima orang itu adalah pria semua, berusia antara dua puluh lima sampai tiga puluh lima tahun. Mereka berpakaian ringkas yang cukup rapi dan bahkan nampak mewah.

Melihat gagang pedang atau golok di punggung mereka, mudah diketahui bahwa mereka adalah orang-orang dunia persilatan. Muka mereka terawat dan bersih, dan sikap mereka pun tidak kasar seperti para perampok atau penjahat pada umumnya. Sikap mereka lebih pantas seperti sikap orang-orang muda bangsawan atau hartawan yang berlagak congkak mengandalkan kedudukan atau kekayaan orang tua mereka.

Mereka juga berlagak gagah-gagahan seperti biasanya dilakukan oleh orang-orang yang memiliki ilmu silat yang kepalang tanggung dan merasa bahwa dirinya adalah orang yang paling lihai di dunia ini. Gentong kosong gaungnya lebih nyaring dari pada gentong penuh isi. Ayam katai keruyuknya lebih nyaring dari pada ayam besar.

Lima orang ltu sama sekali tidak memperhatikan Hay Hay. Mata mereka semua ditujukan kepada Mayang dan mulut mereka tersenyum-senyum. Sikap mereka tidak kasar, bahkan tidak ada ucapan-ucapan tak sopan yang keluar dari mulut mereka yang tersenyum, akan tetapi pandang mata mereka itu amat dikenal oleh Mayang. Pandang mata laki-laki yang dibakar nafsu birahi kalau melihat wanita cantik!

Oleh pandang mata seperti itu saja, Mayang sudah merasa marah dan dia tahu dengan orang macam apa dia berhadapan. Segera dia teringat akan keterangan kakek di dusun tadi, tentang sekelompok orang yang menamakan diri mereka ho-han atau orang gagah berjiwa pahlawan yang menentang kejahatan akan tetapi mereka suka mengganggu para wanita.

"Apakah kalian berlima ini yang dinamakan orang-orang Ho-han-pang?" Mayang langsung saja berteriak dengan suara lantang dan membentak.

Lima orang pria muda itu saling pandang, kemudian mereka tertawa. Sikap mereka ketika tertawa juga tidak kasar, melainkan suara tawa orang-orang yang biasa bersopan-santun atau orang-orang terpelajar!

Seorang di antara mereka yang berkumis tipis mengajukan kudanya dan mewakili teman-temannya memberi hormat dengan merangkapkan kedua tangan di depan dada.

"Selamat sore, Nona. Maafkan kebodohan kami bahwa kami tidak mengenal Nona yang ternyata telah mengenal kami. Kami berlima memang orang-orang Ho-han-pang. Bolehkah kami mengetahui siapa nama nona dan hendak pergi ke manakah?"

Melihat sikap mereka yang sopan, bagaimana pun juga Mayang merasa tidak enak untuk bersikap kasar. Mulailah dia merasa ragu. Mereka ini harimau-harimau berkedok domba, ataukah keterangan kakek tadi yang tidak benar dan bersifat fitnah? Ia harus berhati-hati, jangan sampai nanti ditertawakan oleh Hay Hay yang nampaknya hanya berdiam diri saja di belakangnya itu.

"Aku tidak ingin berkenalan dengan kalian, tidak perlu memperkenalkan nama. Aku hanya ingin tahu kenapa kalian agaknya sengaja menghadang dan merintangi perjalanan kami? Minggirlah dan beri jalan kepada kami!"

Kembali si kumis tipis mewakili teman-temannya dan dengan sikap hormat dia menjawab, "Maatkan kami, Nona. Kami memang sengaja menghadang, tetapi bukan dengan maksud buruk melainkan memang telah menjadi tugas kami untuk menjaga keamanan di wilayah ini. Karena Nona adalah seorang yang asing dan belum kami kenal, maka sudah rnenjadi kewajiban kami untuk bertanya dan mengetahui siapa Nona dan temanmu itu. Ketahuilah bahwa keamanan di seluruh daerah kota raja menjadi tanggung jawab Ho-han-pang, oleh karena itu kami harus berhati-hati dan selalu menyelidiki semua pendatang yang belum kami kenal. Oleh karena itu, harap Nona dan teman Nona suka memperkenalkan diri dan memberi tahukan kami, dari mana Nona datang dan hendak ke mana Nona pergi.”

“Hemm, apakah sekarang Ho-han-pang sudah menggantikan pasukan pemerintah untuk menjaga keamanan? Bagaimana kalau kami tidak mau memperkenalkan diri. Apa yang hendak kalian lakukan?”

Kembali lima orang itu saling pandang, masih tersenyum dan kini pandang mata mereka bertambah kekaguman terhadap keberanian gadis jelita itu menantang mereka. Si kumis tipis kembali berkata,

“Nona, agaknya Nona belum mendengar tentang Ho-han-pang, maka Nona tidak percaya kepada kami. Ketahuilah bahwa ketua kami adalah Bengcu yang hendak mempersatukan seluruh kekuatan di dunia persilatan. Bengcu kami adalah seorang pendekar dan patriot yang berilmu tinggi, yang hendak menuntun semua tokoh kang-ouw untuk menjadi patriot pembela negara! Bengcu kami membawa kami ke jalan kebenaran dan siapa saja yang menentang kami tentu akan tergilas oleh kebenaran. Oleh karena itu, harap Nona suka memperkenalkan diri sehingga kami tidak akan memberi laporan buruk tentang diri Nona kepada ketua perkumpulan kami."

Empat orang temannya itu pun memberi hormat kepada Mayang dan berkata, "Maafkan kami, Nona."

Sikap mereka berlima itu demikian sopan dan menarik, disertai senyuman menghias pada wajah mereka yang rata-rata memang tampan dan gagah.

Mayang hendak bersikeras tidak mau memperkenalkan diri, tetapi tiba-tiba dia mendengar suara Hay Hay di belakangnya.

"Maafkan adikku ini, ngo-wi ho-han (lima orang gagah)! Terus terang saja, adikku enggan memperkenalkan diri karena maklumlah, sebagai gadis-gadis terhormat, betapa mungkin memperkenalkan diri begitu saja kepada lima orang pria muda?"

Mayang hendak menegur kakaknya dengan marah, akan tetapi dia bengong saat melihat betapa kelima orang laki-laki itu kini bersikap aneh sekali. Mereka berlima itu memandang kepada Hay Hay dengan sikap yang sangat aneh. Kini mereka berlagak dan pasang aksi, bahkan seorang di antara mereka berkata lirih,

"Aduhhh... bukan main jelitanya nona berbaju biru ini...”

Hanya sebentar saja Mayang terheran. Setelah dia memperhatikan, dia dapat merasakan getaran tak wajar yang keluar dari arah Hay Hay, maka tahulah dia bahwa kakaknya telah main-main lagi, menggunakan sihirnya untuk mempengaruhi lima orang itu yang agaknya melihat dia sebagai seorang wanita jelita! Maka kini Mayang diam saja, hanya tersenyum-senyum geli dan hendak melihat apa yang akan dilakukan Hay Hay terhadap lima orang anggota Ho-han-pang itu.

Si kumis tipis kini memandang kepada Hay Hay yang mengajukan kudanya. Jelas betapa sinar mata si kumis tipis itu terpesona dan penuh kagum.

"Duhai Nona yang cantik jelita dan manis budi! Terima kasih atas keramahanmu dan kami mohon sudi kiranya Nona memperkenalkan diri bersama adik Nona itu."

"Aku bernama Ma Hwa dan adikku ini bernama Ma Yang. Kami datang dari luar kota raja dan hendak melihat-lihat keindahan kota raja. Kalian sungguh sopan dan gagah, terutama engkau sungguh ganteng dengan kumis tipismu."

"Nona Ma Hwa dan nona Ma Yang. Ji-wi (kalian berdua) adalah gadis-gadis jelita dari luar kota yang hendak memasuki kota raja, maka biarlah kami yang mengawal kalian supaya jangan terdapat gangguan di dalam perjalanan."

“Ahhh, tidak perlu dikawal. Kami berani pergi berdua saja!" Mayang cepat berkata karena dia tidak ingin ditemani lima orang itu. Dia mendahului kakaknya karena takut kalau-kalau kakaknya itu akan menerima tawaran mereka.

"Kalau begitu, barang kali ada hal lain di mana kami dapat membantu ji-wi?” Si kumis tipis masih terus berusaha menawarkan jasa baiknya.

Sikap lima orang itu demikian sopan dan menarik, maka kini mengertilah Mayang kenapa banyak gadis yang terpikat dan mau menjadi isteri para anggota Ho-han-pang. Ternyata Ho-han-pang memiliki anggota pria-pria muda yang pandai berlagak.

"Jika sobat mau membantu kami, kami memang ingin mencari seorang perwira pengawal she Tang di kota raja..." Hay Hay yang dengan kekuatan sihirnya telah membuat mereka memandangnya sebagai seorang gadis cantik itu menatap dengan penuh perhatian, dan dia melihat betapa lima orang itu nampak kaget.

"Perwira she Tang...? Bagaimana rupa orang itu?"

Tentu saja Hay Hay tidak mampu menjelaskan karena sebenarnya dia sendiri pun belum pernah melihatnya. Dia hanya mendengar berita bahwa di kota raja ada seorang perwira muda she Tang yang membual bahwa dia adalah putera Ang-nong-cu.

Tentu saja Hay Hay tidak menganggapnya sebagai bualan belaka karena memang benar bahwa Ang-hong-cu adalah seorang she Tang! Kalau hanya membual, bagaimana nama keturunan itu bisa demikian tepat? Padahal tak ada seorang pun yang mengetahui bahwa Ang-hong-cu adalah seorang she Tang.

"Dia… dia seorang perwira pengawal yang masih muda," akhirnya Hay Hay hanya dapat menerangkan apa yang diketahuinya. Akan tetapi hal itu agaknya telah cukup karena lima orang itu nampak lega mendengar keterangan itu.

"Jangan khawatir, kami akan membantu ji-wi mencarinya. Kami akan menemui ji-wi siocia (nona berdua) di kota raja. Silakan melanjutkan perjalanan, Nona Ma Hwa dan Ma Yang.” Mereka lalu meminggirkan kuda mereka, membiarkan Hay Hay dan Mayang lewat.

Setelah melewati lima orang itu, Mayang menegur kakaknya. "Hay-ko, mengapa engkau memperkenalkan namaku dan kenapa pula engkau menyamar sebagai seorang wanita?"

"Mayang, orang yang kita cari ini lihai bukan main. Dia belum tahu namamu, akan tetapi dia sudah mengenal namaku, juga wajahku. Karena itu tidak ada salahnya kalau engkau memperkenalkan rupa dan namamu. Akan tetapi bagiku, lebih baik aku bersembunyi dan tidak sembarangan memperlihatkan diri."

"Koko, begitu takutkah engkau terhadap Ang-hong-cu?"

"Bukan takut, adikku, melainkan aku harus berhati-hati. Kalau dia tahu bahwa aku datang mencarinya di kota raja, dan kalau benar dia berada di sini, tentu dia akan melarikan diri lebih dahulu. Dia lihai bukan main, juga licik dan pandai menyamar. Kita tidak ada waktu main-main dengan Ho-han-pang, maka lebih baik kita segera melepaskan diri dari mereka karena kita memiliki tugas yang lebih penting. Sebaiknya kalau kita dapat masuk ke kota raja sebelum hari menjadi gelap sekali.”

Mereka lalu membalapkan kuda mereka. Setelah tiba di kota raja dan masuk melalui pintu gerbang tanpa menimbulkan kecurigaan, mereka lalu menyewa dua buah kamar di dalam sebuah rumah penginapan di kota raja. Mereka menyerahkan dua kuda mereka kepada pelayan untuk dipelihara dan diberi makan.

Tentu saja Hay Hay sama sekali tak pernah menyangka bahwa yang dinamakan Ho-han-pang adalah sebuah perkumpulan yang dipimpin oleh Ang-hong-cu sendiri! Tidak pernah mengira bahwa lima orang anggota Ho-han-pang itu adalah anak buah ayah kandungnya yang sedang dicari-carinya…..

********************


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut

        15 Posting Terakhir

DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner