SI KUMBANG MERAH : JILID-50


Untung bahwa sejak pagi pintu gerbang utara sudah dibuka karena ada saja orang-orang yang keluar dari pintu gerbang, yaitu orang-orang yang mempunyai keperluan keluar kota untuk berdagang atau untuk urusan lain. Ketika dia keluar dari pintu gerbang, dia melihat debu mengepul di depan, dan tahulah dia bahwa di depan sana ada orang menunggang kuda yang dibalapkan. Melihat ada dua orang petani memanggul cangkul sedang berjalan melenggang seenaknya dari depan, dia pun cepat bertanya kepada mereka.

"Sobat, tahukah kalian siapa penunggang kuda itu tadi?" tanya Hay Hay sambil menuding ke arah penunggang kuda yang tentu telah lebih dahulu berpapasan dengan mereka.

"Ahh, dia? Dia adalah Tang-ciangkun...," kata seorang di antara mereka.

Mendengar ini, dengan girang Hay Hay melompat kemudian berlari cepat seperti terbang meninggalkan dua orang petani itu sesudah mengucapkan terima kasih. Dua orang petani itu berdiri bengong memandang sebab selama hidup mereka belum pernah melihat orang berlari secepat itu. Hay Hay tidak tahu bahwa dua orang petani itu saling pandang sambil tersenyum, dan seorang di antara mereka menjulurkan lidah.

“Wuiii... lihai dan berbahaya sekali orang itu!"

Hay Hay mengerahkan seluruh tenaganya untuk mengejar penunggang kuda di depan. Karena debu mengepul tebal dia tidak dapat melihat kuda berikut penunggangnya, akan tetapi debu itu yang menunjukkan ke mana penungang kuda itu pergi. Ketika penunggang kuda itu mendaki bukit dan sampai di lereng yang berhutan, debu pun menghilang karena jalan yang dilalui kini berumput.

Hay Hay terpaksa menghentikan larinya ketika dia tiba di luar hutan. Dia kehilangan jejak. Memang dapat saja dia melacak jejak kaki, akan tetapi hal itu akan memakan waktu lama dan tentu orang yang dikejarnya itu sudah pergi jauh. Dia tidak dapat terlalu lama pergi, karena Mayang akan menanti dan akan merasa khawatir.

Bagaimana pun juga dia sudah tahu ke arah mana Tang-ciangkun itu pergi. Kini dia akan kembali ke rumah penginapan lebih dulu, lalu mengajak Mayang untuk kembali ke tempat ini, mencari sampai berhasil menemukan bekas perwira Tang untuk menanyakan apakah bekas perwira itu mengenal Perwira Tang muda yang mengaku putera Ang-hong-cu. Dia lalu menuruni lereng bukit itu dan kembali ke kota raja.

Matahari sudah naik tinggi ketika Hay Hay tiba kembali di rumah penginapan Hok Likoan. Dia segera menghampiri kamar Mayang dan merasa heran ketika melihat pintu kamar itu masih tertutup. Begitu lelahkah adiknya itu sehingga sesiang itu belum juga bangun? Dia mengetuk daun pintu kamar itu sambil memanggil-manggil, akan tetapi tidak ada jawaban. Seorang pelayan losmen itu yang malam tadi menerima mereka, menghampirinya.

"Percuma diketuk, Kongcu. Siocia tidak berada di dalam kamar."

“Tidak berada di dalam kamarnya? Lalu ia ke mana?" tanya Hay Hay sambil memandang ke kanan kiri untuk melihat kalau-kalau adiknya berada di dekat situ.

“Entah ke mana, Kongcu. Tadi ia duduk di depan kamar, lalu datang seorang tamu, bicara dengan siocia kemudian mereka pergi tergesa-gesa meninggalkan rumah penginapan.”

“Apakah dia tidak meninggalkan pesan?"

“Siocia sendiri tidak meninggalkan pesan, akan tetapi baru saja sebelum Kongcu datang, tamu yang tadi mengajak siocia pergi, datang lagi dan menyerahkan sesampul surat agar saya berikan kepada Kongcu.”

“Apa? Cepat serahkan suratnya itu kepadaku!” Hay Hay berseru dan hatinya mulai terasa tidak nyaman.

Setelah pelayan itu menyerahkan sepucuk surat dalam sampul, Hay Hay cepat membuka sampulnya kemudian dibacanya kertas yang mengandung tulisan yang rapi dan indah itu. Singkat saja bunyinya, singkat namun membuat jantungnya berdebar penuh ketegangan.

Tang Hay,

Kalau ingin bicara tentang nona Mayang, silakan datang sendiri ke tempat kami.

Ho-han Pangcu.


Celaka, demikian teriak Hay Hay di dalam hatinya. Kini semuanya jelas baginya. Dia telah terjebak! Dia seperti seekor harimau yang dipancing keluar meninggalkan sarang. Orang sengaja memancingnya supaya menjauhi rumah penginapan itu dan sementara dia pergi jauh, Mayang juga keluar dan tentu sudah ditangkap. Betapa pun lihainya gadis itu, tentu dia dapat ditawan kalau dikeroyok, apa lagi kalau lawan-lawannya berkepandaian tinggi.

Dia lalu membayangkan kembali apa yang telah dialaminya sejak pagi tadi. Tukang kebun rumah penginapan itu! Dia yang pertama melempar umpan untuk memancingnya, dengan mengatakan di mana rumah Tang-ciangkun. Kemudian pelayan di gedung tempat tinggal Tang-ciangkun dulu memancingnya dengan memberi tahukan bahwa Tang-ciangkun baru saja lewat berkuda. Dan dua orang petani yang ditanyainya mengenai penunggang kuda yang lewat. Mereka semua memancing sehingga dia semakin jauh meninggalkan rumah penginapan, meninggalkan Mayang seorang diri.

Dia memandang keluar dan melihat seorang tukang kebun sedang mencabuti rumput di taman pekarangan. Orangnya masih muda, jelas bukan tukang yang dibantunya pagi tadi dan ditanyainya tentang perwira Tang.

"Diakah tukang kebun di rumah penginapan ini?" dia bertanya kepada pelayan itu sambil menunjuk ke arah orang yang bekerja di pekarangan. Pelayan itu memandang keluar, lalu mengangguk.

"Benar, Kongcu. Dia A Kiat tukang kebun kami."

"Selain dia apakah ada tukang kebun lain? Yang lebih tua?"

Pelayan itu menggelengkan kepalanya. "Tidak ada lagi, Kongcu."

Hemm, jelas bahwa orang tua pagi tadi adalah tukang kebun palsu, atau diselundupkan dan menyamar sebagai tukang kebun. Tentu dia adalah anggota Ho-han-pang.

"Sobat, tolong beritahukan, di mana adanya pusat perkumpulan Ho-han-pang?"

Pelayan itu tidak nampak heran. Nama Ho-han-pang sudah terkenal sekali di seluruh kota raja dan banyak sudah tamu-tamu yang menanyakan tempat itu. Banyak tokoh kang-ouw berkunjung ke sana.

“Kongcu keluar kota raja melalui pintu gerbang utara. Di luar kota terdapat sebuah bukit dan di sanalah pusat Ho-han-pang…”

Belum habis dia bicara, Hay Hay sudah berkelebat lenyap dari situ. Hay Hay sudah tahu di mana dia harus mencari Mayang. Kiranya penunggang kuda tadi adalah orang Ho-han-pang pula, dan tentu di sana pula sarang perkumpulan Ho-han-pang itu.

Akan tetapi dia masih menduga-duga dengan hati mengandung keheranan. Mengapa Ho-han-pang memusuhinya? Dan bagaimana pula mereka itu dapat mengenalnya, mengenal namanya…..?

********************

Apa yang sudah terjadi dengan Mayang? Pagi hari itu dia terbangun dan melihat betapa sudah ada sinar matahari pagi membayang pada tirai dan kaca jendela, dia lalu pergi ke kamar sebelah, kamar Hay Hay. Akan tetapi ternyata kakaknya tidak berada di kamarnya. Selagi dia termangu dan menduga-duga ke mana kakaknya pergi, tiba-tiba pelayan rumah penginapan datang menghampiri.

"Selamat pagi, Nona."

"Selamat pagi. Ehh, Paman, di mana kakakku?"

"Pagi-pagi sekali dia telah pergi, Nona. Dan ada seorang tamu yang sejak tadi menunggu Nona keluar dari kamar. Dia bilang ada urusan penting sekali."

"Tamu? Aku tidak mempunyai kenalan di sini...” Mayang berkata ragu.

"Entahlah, Nona. Tetapi dia bilang ada urusan yang penting sekali dan ada hubungannya dengan kakakmu..."

"Ahhh... ! Suruh dia masuk!" kata Mayang begitu mendengar bahwa tamu itu datang untuk bicara tentang Hay Hay.

Tamu itu seorang laki-laki yang usianya sudah lima puluh tahunan dan sikapnya lembut, wajahnya pun bukan wajah orang jahat dan agaknya boleh dipercaya. Begitu bertemu dia langsung mengangkat kedua tangannya dan berkata,

"Nona, saya datang membawa pesan dari kakakmu, akantetapi dia hanya menyuruh saya datang menemui Nona di sini dan mengatakan bahwa kakakmu sudah dapat menemukan jejak dan Nona diminta menyusulnya ke sana sekarang juga."

Mayang mengerutkan alisnya. "Hemm, bagaimana aku dapat percaya tentang kebenaran omonganmu? Kita tidak saling mengenal dan...”

"Nona, hal itu sudah saya katakan kepada Tang-taihiap kakakmu, akan tetapi dia hanya mengatakan bahwa dia bersama Nona sedang melakukan penyelidikan tentang seorang perwira she Tang di kota raja dan bahwa kini dia sudah mendapatkan jejaknya maka dia minta agar Nona secepatnya menyusul ke sana."

"Di mana dia?”

"Saya akan menjadi penunjuk jalan, nona. Di sebelah timur kota raja dan..."

"Baiklah, mari kita pergi! Paman pelayan, harap keluarkan dua ekor kuda kami. Lebih baik kita menunggang kuda agar lebih cepat," tambahnya kepada laki-laki setengah tua itu.

"Sebaiknya begitu, Nona. Kedua kakiku sudah lelah sekali setelah melakukan perjalanan cepat ke sini tadi."

Mereka lalu menunggang dua ekor kuda itu dan melarikan kuda ke luar kota raja melalui pintu gerbang sebelah timur. Begitu ke luar dari pintu gerbang, laki-laki itu mempercepat larinya kuda. Mayang mengikuti dari belakang dan ketika mereka tiba di kaki bukit yang sunyi, tiba-tiba pria itu menghentikan kudanya.

Mayang hendak bertanya, namun dari balik pohon-pohon dan semak-semak bermunculan belasan orang yang dipimpin oleh dua orang pemuda yang tampan dan gagah.

“Hemm, apa artinya ini?" Mayang bertanya dengan alis berkerut.

"Turunlah, Nona. Kita telah sampai dan Nona akan dapat bertemu dengan Tang Taihiap." kata pembawa berita itu.

Dia sudah meloncat turun, bahkan membantu Mayang memegangi kendali kuda. Gadis itu pun melompat turun dan dengan waspada pandangan matanya menyapu belasan orang yang nampaknya bersikap gagah, bukan seperti gerombolan penjahat itu.

Pembawa berita itu menuntun dua ekor kuda ke bawah sebatang pohon, ada pun belasan orang itu kini mengepung Mayang. Barulah Mayang merasa curiga. Melihat betapa kedua orang pemuda gagah itu berdiri di depan dan bersikap sebagai pimpinan, Mayang lantas menghadapi mereka dan mengamati dengan sinar mata tajam penuh selidik.

Mereka berdua lebih pantas menjadi pendekar dari pada penjahat. Yang seorang masih muda, paling banyak baru berusia dua puluh tiga tahun. Wajahnya tampan dengan tubuh sedang yang kokoh, sikapnya halus dan senyumnya sopan. Akan tetapi dalam pandang matanya terdapat sesuatu yang membuat Mayang merasa marah dan bulu tengkuknya meremang. Pandang mata pemuda tampan itu seakan-akan menggerayangi dan meraba-raba seluruh bagian tubuhnya. Lelaki yang ke dua lebih tua, usianya tiga puluh tahunan, tubuhnya tinggi besar dan gagah perkasa, kulit mukanya putih dan matanya mencorong, wajahnya juga tampan.

Yang membuat Mayang merasa semakin tidak enak adalah ketika dia melihat pembawa berita tadi, sesudah menambatkan dua ekor kuda di batang pohon, kini berdiri di belakang dua orang pemuda itu dan jelaslah bahwa pembawa berita itu ternyata merupakan anak buah mereka pula. Dia mulai merasa terjebak, seperti seekor kelinci yang dikepung oleh segerombolan serigala berkedok domba.

"Siapakah kalian? Mengapa mengepungku? Di mana adanya kakakku?” tanyanya dengan sikap siap siaga.

Ketika berangkat tadi dia telah membawa buntalan pakaiannya dan juga senjatanya yang sangat dia andalkan, yaitu sebatang cambuk penggembala. Sedikit pun dia tidak merasa takut dikepung belasan orang lelaki itu, akan tetapi dia khawatir bukan main memikirkan Hay Hay.

Dua orang pemuda yang memimpin serombongan orang itu bukan lain adalah Cun Sek dan Ki Liong. Inilah hasil siasat yang dilakukan Han Lojin, yang tadi malam dirundingkan dengan para pembantu utamanya itu.

Han Lojin menyebar anak buahnya menyusup ke rumah penginapan, menyamar sebagai tukang kebun. Tentu hal ini mudah saja dilakukan sebab boleh dikata semua perusahaan di kota raja pasti akan memenuhi permintaan Ho-han-pang yang sudah membuat nama baik dengan menciptakan suasana tenang dan tenteram di kota raja.

Tepat seperti yang diduga Hay Hay, setelah dia kehilangan adiknya dan menyadari bahwa si tukang kebun di rumah penginapan, pelayan di bekas rumah Tang Ciangkun, juga dua orang petani itu adalah orang-orang dari Ho-han-pang yang menyamar dan yang bertugas untuk melempar umpan memancing Hay Hay keluar dari kota raja agar menjauhi Mayang, Han Lojin sendiri lantas menunggang kuda dan membiarkan dirinya dikejar oleh Hay Hay. Maksudnya tentu saja hanya untuk memancing Hay Hay agar jauh meninggalkan Mayang seorang diri.

Setelah sampai di bukit di mana dia memimpin Ho-han-pang, sebuah bukit yang kini telah dilengkapi dengan berbagai jebakan dan perangkap berbahaya, dia menghilang ke dalam hutan. Menurut rencananya, kalau Hay Hay mengejar terus, pemuda itu akan menghadapi banyak jebakan berbahaya. Andai kata pemuda lihai itu sanggup melewati semua jebakan dengan selamat, maka dia akan berhadapan dengan Han Lojin, Ji Sun Bi beserta puluhan orang pembantunya dan akan dikeroyok!

Sementara itu Sim Ki Liong dan Tang Cun Sek bertugas untuk pergi menangkap Mayang! Untuk ini Sim Ki Liong menyuruh seorang anak buah untuk mengundang Mayang keluar kota raja dengan alasan dipanggil Tang Hay. Dan gadis yang masih kurang pengalaman itu masuk perangkap dengan amat mudahnya. Kini Mayang sudah berhadapan dengan Ki Liong dan Cun Sek, dalam keadaan terkepung.

Untuk beberapa lamanya pertanyaan Mayang itu tidak ada yang menjawab. Sim Ki Liong seperti terpesona, dan Cun Sek juga kagum. Ki Liong seketika jatuh cinta kepada gadis peranakan Tibet yang memiliki kecantikan yang khas itu. Akan tetapi tentu saja Ki Liong tidak berani menyimpang dari pada perintah yang sudah digariskan oleh Bengcu.

Dia dan kawan-kawannya hanya mendapat tugas menangkap gadis peranakan Tibet itu, tapi tidak boleh mengganggunya sama sekali. Menangkap dara peranakan Tibet itu hanya merupakan siasat Han Lojin untuk menundukkan Tang Hay dan memaksa puteranya agar menakluk dan membantunya! Maka gangguan terhadap Mayang tentu saja bisa merusak siasat yang sudah diatur sebaiknya demi keuntungan dirinya.

"Haiiii! Apakah kalian ini tuli atau gagu semuanya? Engkau yang datang membawa berita tentang kakakku. Di mana sekarang kakakku berada?" Mayang membentak dengan suara mengandung kemarahan dan sekarang dia sudah mengeluarkan sebatang pecut panjang, seperti yang biasa dipergunakan oleh para penggembala ternak.

Ki Liong saling pandang dengan Cun Sek kemudian keduanya tersenyum, merasa makin kagum karena sebagai orang-orang gagah, tentu saja mereka suka sekali melihat sikap gadis cantik yang demikian pemberani dan tabah. Sim Ki Liong yang memimpin pasukan kecil yang ditugaskan rnenangkap Mayang, cepat melangkah maju dan sambil tersenyum dia berkata,

"Nona manis, harap jangan marah dulu. Sepanjang yang kuketahui, yang namanya Tang Hay itu tidak mempunyai seorang adik perempuan. Bagaimana engkau tiba-tiba mengaku dia sebagai kakakmu? Sebenarnya kakak ataukah pacar?"

Sepasang mata yang agak sipit jeli itu sekarang mencorong karena hati Mayang menjadi panas akibat marah.

"Apakah dia itu kakakku, pacarku atau apaku pun, apa hubungannya dengan kamu orang bermulut lancang? Hayo lekas katakan di mana dia atau aku akan menghajar orang yang datang membawa berita palsu!"

Karena semua orang itu adalah orang-orang yang memiliki kepandaian silat dan tidak ada seorang pun dari mereka yang pernah mengenal Mayang, juga tidak pernah melihat gadis ini mengeluarkan kepandaian, maka mereka merasa kagum akan tetapi juga geli melihat seorang gadis yang baru berusia delapan belas tahun mengeluarkan ancaman seperti itu dan agaknya sama sekali tidak merasa gentar menghadapi pengepungan belasan orang gagah. Mereka merasa seperti melihat seorang anak kecil yang manja.

Memang Sim Ki Liong pernah melihat beberapa orang dara pendekar seperti Siangkoan Bi Lian, Cia Kui Hong, Pek Eng, Cia Ling, Kok Hui Lian dan beberapa orang lagi. Namun gadis-gadis seperti mereka itu tidak banyak yang memiliki ilmu yang amat tinggi. Apa lagi gadis di depannya ini seorang peranakan Tibet, dan bawaannya hanya sebatang cambuk penggembala! Maka dia pun tersenyum mengejek.

"Nona, pembawa berita itu adalah seorang anak buah Ho-han-pang yang gagah perkasa. Jangan kau samakan seperti seekor kambing yang bisa kau hajar dengan cambukmu itu."

Semua orang tertawa mendengar ini, juga lelaki setengah tua yang tadi membawa berita kini tersenyum mengejek. Dia pun tentu saja tidak takut kepada gadis Tibet itu, apa lagi di situ terdapat banyak temannya dan dua orang pimpinan Ho-han-pang yang amat lihai.

“Nona kecil, kalau aku tidak mengatakan di mana adanya kakakmu, habis engkau dapat berbuat apa? Ingin aku melihat bagaimana engkau akan menghajarku dengan cambuk itu, ha-ha-ha…!" Dan semua orang pun tertawa geli.

Sepasang mata Mayang bagaikan mengeluarkan kilat saking marahnya, namun sikapnya tetap tenang ketika dia melangkah maju.

"Baik, kalian lihat bagaimana aku menghajarnya!" Baru saja ucapannya itu habis, segera nampak sinar berkelebat dibarengi suara ledakan tiga kali.

"Tarr! Tarrr! Tarrrr!"

Ada sinar rnenyambar-nyambar ke arah pembawa berita tadi yang menjadi terkejut dan mencoba untuk mengelak. Akan tetapi sia-sia saja. Sinar yang menyambar itu terlampau cepat baginya, dan setelah tiga kali mukanya kena tersambar, dia terhuyung ke belakang, lantas menutupi muka dengan kedua tangan dan merintih-rintih. Sementara itu Mayang sudah menarik kembali cambuknya dan kini berdiri sambil tersenyum mengejek, sikapnya tenang sekali.

Sim Ki Liong melompat ke dekat pembawa berita yang menutupi mukanya dengan kedua tangan sambil mengaduh-aduh itu. Dia menangkap dan menarik dua tangan itu sehingga mukanya kini nampak dan semua orang mengeluarkan seruan tertahan.

Ternyata tiga kali ledakan pecut itu telah mengakibatkan wajah itu menderita hebat sekali. Lecutan pertama menyayat kulit muka hingga membuat guratan melintang, lecutan ke dua membuat guratan membujur, dua guratan silang yang mengeluarkan darah, dan lecutan ke tiga membuat bukit hidung itu hancur sehingga rata dengan pipi!

Kini berubahlah pandang mata semua orang terhadap gadis Tibet itu. Sim Ki Liong sendiri lalu melangkah maju menghadapi Mayang dan menatap wajah gadis yang sikapnya amat tenang itu dengan sinar mata kagum sekali, akan tetapi juga penasaran.

“Hemm, kiranya engkau mempunyai sedikit ilmu memainkan cambuk, Nona..."

"Tidak perlu banyak cakap lagi. Katakan di mana kakakku, jika tidak maka terpaksa aku akan menghajar kalian semua seperti sekumpulan kerbau tolol!" Mayang cepat memotong ucapan Sim Ki Liong.

Merah kedua telinga pemuda ini karena dia dimaki di depan banyak anak buah Ho-han-pang! Kesenangannya terhadap wanita cantik tidaklah sebesar keangkuhan dirinya, maka makian seorang gadis secantik Mayang pun membuat perutnya terasa panas sekali. Akan tetapi dia masih merasa terlampau tinggi untuk turun tangan sendiri menangkap seorang gadis remaja.

"Tangkap bocah ini akan tetapi jangan sampai melukainya. Kepung dan tangkap, lantas belenggu kaki tangannya!" bentak Sim Ki Liong memberi aba-aba.

Belasan orang anak buah Ho-han-pang itu seperti mendapat perintah yang benar-benar menyenangkan. Mereka itu dengan gembira bergerak maju mengepung ketat dan hendak berlomba agar dapat lebih dulu meringkus tubuh gadis yang denok manis itu.

Melihat betapa belasan orang yang mengepungnya itu sudah mulai bergerak dengan dua tangan dijulurkan hendak mencengkeram dan menangkapnya, dengan cepat Mayang lalu menggerakkan cambuknya. Ujung cambuk itu berputar-putar sehingga ujung itu bagaikan berubah menjadi belasan banyaknya, sambil terdengar suara meledak-ledak dan mencicit saking cepatnya cambuk itu bergerak.

Ujung cambuk itu mematuk, menyengat, melecut dan para pengeroyok itu jatuh bangun, mengaduh-aduh karena lecutan cambuk itu sungguh sangat nyeri. Di bagian tubuh mana saja ujung cambuk mematuk, tentu kulit menjadi pecah berdarah hingga terasa panas dan perih. Karena mereka tidak dibenarkan menggunakan senjata, tidak boleh melukai, hanya maju dengan tangan kosong, maka kini mereka menjadi gentar dan mereka pun mundur menjauhkan diri dari jangkauan cambuk yang panjang.

Marahlah Sim Ki Liong. Dia memberi tanda dengan mata kepada Cun Sek dan dua orang pemuda ini lalu meloncat ke depan dan menggerakkan tangan hendak menangkap lengan Mayang.

“Wuuuttt…!"

Mayang terkejut ketika merasa betapa ada angin pukulan yang sangat kuat, dan tangan pemuda tinggi besar itu dari samping menyambar ke arah pundaknya. Karena tangan itu mengandung tenaga yang sangat dahsyat, Mayang cepat menangkis dengan tangan kiri sambil menggerakkan cambuknya menghantam dari atas ke arah kepala lawan.

"Dukkk…! Tarrr...!"

Mayang mengeluarkan teriakan kecil ketika merasa tubuhnya tergetar dan terhuyung oleh pertemuan lengannya yang menangkis. Dia tidak menyadari bahwa pemuda tinggi besar itu adalah Tang Cun Sek, murid dari Cing-ling-pai yang sudah menguasai tenaga Thian-te Sin-ciang (Tenaga Sakti Langit Bumi).

Akan tetapi gadis ini lihai, dan meski pun pertemuan tenaga itu membuat dia terhuyung ke belakang, tetapi tetap saja cambuknya menyambar dan melecut ke arah kepala Tang Cun Sek yang tadi menyerangnya. Cun Sek terkejut, cepat miringkan kepalanya, namun ujung cambuk itu masih sempat mencium dan mencabik ujung pita rambutnya!

Dengan marah Cun Sek lalu menerjang dan kini dia menyerang dengan pukulan dari ilmu silat Thai-kek Sin-kun. Kembali Mayang terkejut, akan tetapi pukulan yang datangnya dari kanan kiri dengan dua tangan itu bisa dihindarkannya dengan meloncat jauh ke belakang, lalu cambuknya kembali menyambar dan kini ke arah leher Cun Sek. Cun Sek yang telah marah itu mengeluarkan kepandaiannya. Dia mengerahkan tenaga sinkang-nya ke lengan kiri, kemudian menangkis sinar cambuk yang menyambar.

"Prattt!"

Ujung cambuk mengenai lengan lantas melibat. Cun Sek sengaja membiarkan lengannya dilibat, lalu tangan kanannya menangkap cambuk itu dan menariknya. Mayang berusaha mempertahankan dan selagi keduanya mengerahkan tenaga saling tarik, saat itu segera dipergunakan oleh Sim Ki Liong untuk menyerang. Tangannya menotok ke arah tengkuk Mayang.

Gadis itu berusaha untuk mengelak, namun karena dia sedang mengadu tenaga dengan Cun Sek, gerakannya lambat hingga jari tangan yang kuat dan ampuh dari Ki Liong masih sempat mengenai jalan darah di pundaknya. Mayang mengeluh dan dia pun terpelanting roboh dengan tubuh lemas. Sim Ki Liong cepat-cepat meringkusnya dan dalam keadaan pingsan, Mayang dibawa pergi oleh rombongan orang Ho-han-pang itu.

Ketika Mayang siuman dan membuka matanya, dia segera teringat akan apa yang sudah menimpa dirinya. Cepat dia hendak bangkit, namun hanya untuk mendapatkan kenyataan bahwa kaki tangannya terbelenggu dan dia tak mampu bangkit. Ia menenangkan hatinya, lalu membuka mata untuk menyelidiki keadaannya.

Ia rebah telentang di atas sebuah pembaringan di dalam kamar yang luasnya kurang lebih lima kali tujuh meter. Sebuah kamar yang cukup mewah. Dinding serta langit-langit kamar dicat putih bersih, dimeriahkan oleh gantungan kain sutera beraneka warna. Pembaringan itu sendiri berkasur tebal, dengan tilam sutera merah dan kelambu kehijauan. Ada sebuah meja kecil bundar dengan empat buah bangku terukir indah berdiri di dekat pembaringan. Dia seorang diri saja di kamar itu.

Dia lalu mengingat-ingat. Dia dihadang serombongan orang Ho-han-pang yang amat lihai, terutama dua orang pemuda tampan yang memimpin rombongan itu. Dia dikeroyok dan kalah. Agaknya dia pingsan dan ditawan, lantas dibawa ke tempat ini. Dibelenggu di atas pembarigan!

Mayang mengerahkan tenaganya, mencoba melepaskan belenggu kaki tangannya. Akan tetapi tali pengikat kaki tangannya yang terbuat dari kulit itu ternyata kuat bukan kepalang. Pergelangan kaki dan tangannya sampai terasa pedih dan panas ketika ia mencoba untuk membebaskan diri. Akan tetapi dia berusaha terus.

Dia harus bisa membebaskan dirinya. Dia maklum bahaya apa yang mengancam dirinya. Kalau mereka itu memusuhinya dan ingin membunuhnya, tentu dia tidak akan ditangkap seperti ini. Kulit pergelangan tangan dan kakinya mulai lecet-lecet. Suara dibukanya pintu kamar membuat dia menghentikan usahanya dan dia pun menoleh ke arah pintu dengan muka berubah karena hatinya tegang dan khawatir.

Mayang melebarkan matanya yang sipit supaya dapat melihat dengan jelas orang yang memasuki kamarnya. Bukan seperti orang jahat, pikirnya. Juga bukan seorang di antara dua pemuda tampan yang telah menangkapnya.

Dia adalah seorang lelaki yang usianya lima puluh tahun lebih, dengan kumis dan jenggot yang terpelihara rapi sehingga wajahnya kelihatan ganteng dan berwibawa, juga jantan. Pakaiannya rapi dengan rompi dari sutera mahal, sepatunya hitam mengkilap, rambutnya juga disisir rapi dan meski pun sudah bercampur uban, namun menambah kejantanannya. Sepasang matanya bersinar-sinar tajam, mulutnya terhias senyum. Wajah seorang lelaki yang jantan dan matang, wajah lelaki yang menarik hingga menimbulkan rasa suka dan percaya. Dan ketika dia bicara, suaranya juga lembut dan dalam, suara yang berwibawa.

"Nona, percuma saja engkau mencoba untuk melepaskan diri. Tali belenggu itu terlampau kuat sehingga hanya akan membuat kulit lengan dan kakimu lecet-lecet."

Mayang memandang kepada laki-laki itu dengan kedua alis berkerut. "Siapakah engkau? Dan kenapa aku ditawan?"

Laki-laki itu tersenyum, kemudian menghampiri dan duduk di tepi pembaringan sehingga tubuhnya menyentuh tubuh Mayang. Gadis itu mencium bau harum cendana keluar dari orang itu!

"Nona, engkau manis sekali. Sebenarnya kami tidak mempunyai permusuhan denganmu. Aku adalah Ho-han Pangcu, juga Bengcu (pemimpin) dari dunia kang-ouw. Engkau kami tawan untuk mengundang kakakmu ke sini..."

"Hay-koko?"

"Benar, Tang Hay. Nasibmu akan ditentukan berdasarkan sikapnya. Bila dia mau berbaik dengan kami, tentu engkau akan segera dibebaskan, bahkan engkau juga dapat menjadi anggota kehormatan kami. Tapi, Nona, bagaimana engkau dapat menjadi adik Hay Hay? Setahuku dia tidak mempunyai seorang adik perempuan!"

Mayang mengerutkan kedua alisnya. Ternyata dia ditangkap untuk memancing Hay Hay! Kakaknya berada dalam bahaya. Dia tidak tahu siapa orang ini, akan tetapi tentu sangat lihai, maka tidak perlu dia menceritakan keadaan dirinya dan apa hubungannya dengan Hay Hay. Dia tidak boleh bersikap lancang, apa lagi kini kakaknya terancam bahaya.

"Kalau engkau tidak mau membebaskan aku, aku tidak sudi bicara lagi denganmu!” kata Mayang dan dia pun membuang muka.

Han Lojin tersenyum. Senang dia melihat gadis yang memiliki kecantikan khas ini. Selain wajahnya cantik manis, juga bentuk tubuhnya padat dan indah menggairahkan. Ditambah lagi sikap yang begitu tabah, pemberani dan penuh semangat! Seorang wanita pilihan dan jelas wanita seperti ini membangkitkan gairahnya.

"Hemm, tidak ada untungnya bagimu bersikap angkuh, Nona. Ketahuilah bahwa Ho-han-pang adalah perkumpulan para pahlawan, dan aku bukan orang jahat. Kalau kakakmu itu suka membantu perjuangan kami dalam mengamankan negara, maka dia akan menjadi pembantu utamaku. Engkau juga akan kuangkat menjadi kepala pelayan dan pengawal pribadiku."

"Aku tidak sudi! Dan Hay-ko tentu tak sudi pula menjadi pembantumu. Pergilah dan tidak usah merayu! Aku…. huhh, muak aku melihat mukamu!" Mayang sengaja bersikap kasar dan menghina agar lelaki itu marah dan kehilangan gairah yang membayang di matanya, dan meninggalkan dia sendiri.

Akan tetapi Mayang tidak tahu dengan laki-laki macam apa dia berhadapan. Makin galak dia, semakin berkobar pula gairah birahi Han Lojin. Pria setengah tua ini pada hakekatnya sangat membenci wanita yang disebabkan oleh dendam sakit hati. Dia tidak pernah dapat mencinta wanita. Yang ada hanya nafsu birahi dan nafsu menyiksa, mempermainkan.

Mula-mula wanita dirayunya sampai benar-benar bertekuk lutut dan sangat mencintanya. Setelah melihat wanita itu mencintanya setengah mati, lalu dia tinggalkan begitu saja, dia patahkan hatinya, dia hancurkan perasaannya. Dan dia akan meninggalkan wanita yang menangisinya itu sambil tertawa bergelak, dengan hati amat puas.

Kalau melihat wanita yang galak dan angkuh, makin berkobarlah birahinya karena makin besar keinginannya untuk menaklukkan wanita itu dan menghancurkan keangkuhan serta harga dirinya. Karena itu, ketika Mayang membentak dan marah-marah memperlihatkan kegalakannya, di mata Han Lojin dia malah nampak semakin menggairahkan!

“Ha-ha-ha, engkau memang cantik dan gagah. Seperti seekor kuda betina yang liar dan binal! Ha-ha-ha, akulah yang akan mampu menundukkanmu, manis, seekor kuda betina yang binal akan menjadi seekor kuda betina yang jinak dan penurut, ha-ha-ha!"

Melihat perubahan sikap pria itu, Mayang merasa ngeri. Akan tetapi juga kemarahannya dan kebenciannya bertambah.

"Cih, laki-laki tidak tahu malu! Kiranya engkau ini pangcu dan bengcu macam apa? Hanya lelaki rendah dan hina yang menghina wanita, pengecut yang hanya berani mengganggu kalau orang tidak berdaya. Lepaskan ikatanku dan aku akan menghancurkan kepalamu. Mari kita bertanding sampai mati!" tantangnya.

"Ha-ha-ha, engkau sungguh amat gagah dan menarik. Aku akan melepaskan engkau, lalu kita boleh bertanding. Akan tetapi kalau engkau kalah, maka engkau harus mau menjadi pelayanku dan juga kekasihku yang tercinta. Mau berjanji?"

Sepasang mata Mayang melotot. "Kalau aku kalah, aku roboh dan mati. Siapa yang kalah akan mampus!"

Makin gembiralah hati Han Lojin. "Ha-ha, mari kita main-main sebentar kalau begitu, akan tetapi bukan di sini tempatnya!"

Dengan cepat sekali tangannya lantas bergerak, jari-jari tangannya menotok jalan darah di bawah tengkuk dan Mayang seketika lemas. Dia tadi miringkan tubuh ketika membuang muka, maka mudah saja terkena totokan. Dia tak mampu menggerakkan kaki tangannya dan Han Lojin telah melepaskan belenggu kaki tangannya, lalu memondong tubuhnya dan dibawa keluar dari kamar.....


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner