SI KUMBANG MERAH : JILID-51


Mayang membuka mata memperhatikan keadaan. Dengan ringannya lelaki setengah tua itu memondongnya seolah-olah dia seorang anak kecil, lalu membawanya menuruni anak tangga, menuju ke ruangan bawah tanah! Sebuah pintu besi terbuka sendiri, agaknya ada alat rahasianya di situ dan dia pun dibawa masuk ke sebuah kamar.

Kamar ini luas dan mewah. Terdapat sebuah pembaringan besar yang nampaknya cukup untuk ditiduri sepuluh orang! Dan di sana terdapat pula meja besar dengan belasan buah kursi. Kamar itu luasnya sama dengan lima kamar biasa yang dijadikan satu! Dipasangi lampu penerangan siang malam, walau pun ada sedikit sinar matahari turun dari sebuah lubang berterali baja di atas sana. Lantainya ditilami dengan permadani hijau. Kamar itu dilengkapi pula dengan sebuah kamar mandi yang lengkap. Sungguh sebuah kamar yang besar dan mewah sehingga amat enak ditinggali.

Sambil tersenyum Han Lojin merebahkan tubuh lunglai Mayang di atas pembaringan yang besar itu. Mayang sudah merasa gelisah bukan main karena dia mengira bahwa lelaki itu akan memperkosanya dan dia tidak akan mampu mencegah, tidak akan mampu meronta atau melawan. Dia merasa ngeri sekali.

Akan tetapi ternyata laki-laki itu tidak menjamahnya lagi, melainkan meninggalkannya dan menghampiri pintu. Ia tidak melihat pria itu menutupkan daun pintu, akan tetapi daun pintu itu menutup dengan sendirinya. Tentu ada alat rahasianya pula, pikir Mayang.

Setelah menutupkan daun pintu besi itu, Han Lojin lalu menghampirinya sambil tersenyum dan kembali Mayang merasa ngeri, sepasang matanya membelalak, akan tetapi dia tidak mampu bergerak.

“Jangan khawatir, nona manis. Sekarang aku pantang memperkosa wanita. Wanita harus menyerah dengan suka rela, menyambutku dengan mesra, seperti yang akan kau lakukan nanti."

"Tidak sudi, lebih baik aku mati!” bentak Mayang. Hanya kaki dan tangannya yang tidak mampu bergerak, akan tetapi dia dapat bicara dan menggerakkan anggota tubuh lainnya.

"Hemmm, engkau cantik manis dan pemberani, namun aku ingin melihat dahulu sampai di mana kelihaianmu. Menurut para pembantuku engkau cukup lihai dan berbahaya, maka tangan dan kakimu dibelenggu. Padahal aku ingin melihat engkau menyambutku dengan rangkulan kaki tanganmu, bukan terbelenggu. Nah, kini aku akan membebaskan totokan itu, hendak kulihat engkau akan berbuat apa."

Dengan gerakan cepat Han Lojin lantas menotok kedua pundak gadis itu. Harnpir Mayang tidak percaya dengan apa yang dialaminya. Orang itu benar-benar sudah rnembebaskan totokan pada tubuhnya. Kini dia dapat bergerak lagi!

Dia maklum bahwa sehabis jalan darahnya dihentikan, maka kaki tangannya akan terasa kaku sehingga tidak leluasa bergerak. Karena itu dia tetap tenang, rnenggerak-gerakkan kaki tangannya dahulu supaya menjadi lemas kembali. Sementara itu Han Lojin berdiri di tengah kamar sambil bersedakap, memandang kepada gadis itu dengan senyum simpul.

Sesudah rnerasa kedua tangan kakinya dapat digerakkan dengan wajar, barulah Mayang meloncat turun dari atas pembaringan. Sikap ini saja sudah rnengagumkan hati Han Lojin dan tahulah dia bahwa gadis yang usianya paling banyak delapan belas tahun itu cukup cerdik.

Kini mereka berdiri berhadapan. Mayang dapat menduga bahwa pria ini tentu lihai sekali. Baru pembantu-pembantunya saja sudah demikian lihai, seperti dua orang pemuda yang memimpin rombongan anak buah dan telah menawannya itu. Akan tetapi dia sama sekali tidak merasa gentar. Dia akan melawan sampai mati karena maklum bahwa bila mana dia tertawan kembali maka dia akan terhina oleh laki-laki yang mengaku sebagai pangcu dan juga bengcu ini.

"Pangcu, aku tadi telah mendengar alasanmu mengapa engkau menawanku, yaitu untuk memancing kakakku datang ke sini dan engkau hendak membujuknya agar membantumu dan membantu Ho-han-pang. Akan tetapi aku yakin bahwa seperti juga aku, dia tak akan sudi membantumu, karena biar pun perkumpulanmu mempergunakan nama yang muluk, yaitu Ho-han-pang (Perkumpulan Orang Gagah), namun sebenarnya perkumpulan Orang Busuk! Kakakku adalah seorang pendekar besar. Dia akan marah sekali dan tentu akan menghancurkan engkau berikut Ho-han-pang. Sebab itu sebaiknya engkau membebaskan aku dari sini dan kami berdua akan pergi, tidak akan mencampuri urusanmu."

Han Lojin tertawa. Dalam keadaan terjepit gadis itu masih dapat mengancamnya! Betapa beraninya. Dia juga dapat menduga bahwa gadis seperti ini tentu akan melawan dengan mati-matian. Andai kata dia sampai memperkosanya, dalam sebuah kesempatan gadis ini tentu akan membalas dendam atau membunuh diri. Maka dia harus dapat menundukkan gadis ini, karena sekali menyerah, maka dia akan menjadi seorang pembantu yang setia dan seorang kekasih yang penuh semangat dan panas.

"Sudah kukatakan bahwa aku mengharapkan bantuan engkau serta kakakmu. Aku tidak ingin memusuhi kalian. Akan tetapi aku ingin melihat sampai di mana kelihaianmu. Nah, majulah, nona manis dan keluarkan semua kepandaianmu."

Mayang sudah kehilangan cambuknya. Namun sebagai murid seorang guru yang berilmu tinggi, tentu saja dia tidak hanya mengandalkan cambuknya sebagai senjata. Tangan dan kakinya masing-masing merupakan senjata yang cukup ampuh.

Dia tahu bahwa sekali ini tidak ada jalan lolos baginya. Dia dengan ketua Ho-han-pang ini berada di ruangan bawah tanah, ada pun pintu besi itu telah tertutup. Jalan satu-satunya hanyalah berusaha merobohkan lawannya yang dia tahu tentu lihai sekali.

Dia harus membela diri secara mati-matian, maka diam-diam Mayang telah mengerahkan sinkang-nya, mengumpulkan kekuatan itu pada kedua lengannya sebelum dia melakukan penyerangan. Kemudian dia mengeluarkan bentakan nyaring dan menerjang dengan kuat dan cepat sekali.

“Haiiiiiiittt…!”

Gerakannya cepat dan dahsyat. Tangan kiri dengan jari-jari direntangkan menyambar ke arah muka lawan, sedangkan tangan kanannya dengan jari-jari terbuka juga menusuk ke arah dada. Gerakan tangan kiri itu merupakan gerak pancingan atau gertakan, sedangkan inti serangan terletak kepada tangan kanan yang menyerang dada.

Biar pun tangan kanan Mayang itu berjari-jari kecil meruncing dengan kulit halus, namun jangan keliru sangka. Di dalam jari-jari tangan itu terkandung tenaga dahsyat yang akan mampu meremukkan tulang iga!

Han Lojin mengenal pukulan ampuh, maka dia pun menghindarkan diri dengan melangkah ke belakang dan memutar kedua lengannya untuk melindungi tubuh, menangkis dengan cengkeraman untuk menangkap lengan lawan. Akan tetapi Mayang telah menarik kembali kedua tangannya yang gagal itu, lantas tubuhnya meloncat ke depan, kakinya melakukan tendangankilat. Kaki kanannya mencuat dengan cepat sekali sehingga lambung Han Lojin hampir saja termakan tendangan. Tapi Han Lojin yang semakin kagum sudah menangkis dengan lengan kirinya.

"Dukkk!"

Mayang merasa betapa kakinya nyeri ketika bertemu dengan lengan orang itu, tetapi dia menahan diri dan tidak mengeluh, melainkan melanjutkan serangan bertubi-tubi dan kini telapak tangannya yang kiri berubah menghitam. Han Lojin terkejut sekali melihat tangan hitam ini menyambar dahsyat, maka cepat melempar tubuh ke belakang lantas berjungkir balik beberapa kali.

"Heiiiii! Bukankah itu Hek-coa Tok-ciang (Tangan Beracun Ular Hitam)?" teriaknya ketika dia mencium bau amis terbawa oleh hawa pukulan tangan itu.

Mayang terkejut. Orang ini sungguh lihai, sudah mengenal ilmu pukulannya, padahal ilmu pukulan itu merupakan ilmu simpanan yang dia pelajari dari Kim-mo Sian-kouw. Gurunya berpesan bahwa dia tidak boleh mempergunakan pukulan beracun itu kalau tidak sangat terpaksa, karena pukulan beracun sesungguhnya bertentangan dengan watak subo-nya.

Kini, ketika menghadapi ancaman yang lebih mengerikan dari pada maut, terpaksa tadi dia mengeluarkan ilmunya itu dan sama sekali tidak disangkanya bahwa lawannya segera mengenal pukulannya. Hal ini membuktikan bahwa lawannya banyak pengalaman, tentu pernah berkelana ke daerah Tibet dan sangat boleh jadi pernah pula berjumpa dengan subo-nya.

Mayang tersenyum mengejek. "Aku adalah murid Subo Kim-mo Sian-kouw!" Maksudnya dengan pengakuan ini agar lawannya menjadi jeri dan tidak akan mengganggunya.

Han Lojin nampak terkejut. "Ahhh…! Pantas engkau begini lihai, Nona. Namamu Mayang, bukan? Nona Mayang, karena engkau murid Kim-mo Sian-kouw, pertapa yang sakti dan gagah itu, maka aku lebih senang lagi dan makin ingin menarikmu sebagai pembantu dan sekutu kami, bersama kakakmu Hay Hay itu. Oh ya, bagaimana sebenarnya hubunganmu dengan Hay Hay? Engkau adiknya? Adik tirikah? Bagaimana Hay Hay dapat mempunyai seorang adik di Tibet?"

"Pangcu, lebih baik lagi kalau engkau telah mengetahui tentang subo-ku. Nah, sebaiknya engkau segera membebaskan aku dan tidak ada urusan lagi di antara kita. Engkau akan menghadapi kehancuran kalau masih berkukuh ingin bermusuhan dengan kami. Pertama, aku akan melawan sampai mati, aku tidak sudi menjadi pembantumu atau sekutumu. Ke dua, kalau engkau menggangguku dan aku sampai tewas, maka kakakku Hay-koko tentu tidak akan mau sudah begitu saja, dan akan membalas kematianku dengan bunga yang berlipat ganda. Dan ke tiga, jika subo mendengar pula bahwa aku tewas di sini, beliau pun pasti tidak akan tinggal diam dan akan menghukummu!"

Kembali Han Lojin tertawa. "Ha-ha-ha-ha, nona Mayang. Engkau sungguh hebat. Engkau berada dalam tawanan, engkau yang terhimpit dan terancam bahaya, akan tetapi engkau pula yang mengancamku! Ha-ha-ha-ha, sungguh lucu. Aku tidak bermaksud buruk, malah ingin memuliakan engkau dan kakakmu, takut apa? Nah, mari kita lanjutkan, aku masih ingin menguji kepandalanmu."

Karena maklum bahwa bicara tidak akan ada gunanya, Mayang kemudian menerjang lagi sambil mengerahkan seluruh tenaganya dan mengeluarkan semua ilmu silat yang pernah dipelajarinya.

Akan tetapi lawannya adalah seorang yang jauh lebih berpengalaman dari pada gadis itu, bahkan mempunyai tingkat kepandaian yang jauh lebih tinggi, maka bagaimana dahsyat pun dia menyerang, selalu Han Lojin dapat menangkis atau mengelak, bahkan melakukan serangan balasan yang membuat Mayang menjadi kewalahan dan terdesak.

"Haiiittttt…!"

Mayang kembali memukul sambil merendahkan diri sehingga sekali ini pukulan tangannya mengarah ke perut lawan. Ketika lawannya mengelak ke samping, tangan itu dibuka dan mencengkeram ke samping pula.

"Wuttttt...!" Han Lojin menangkis, lalu dari atas tangan kirinya menotok ke arah tengkuk gadis itu.

"Ihhhh…!"

Mayang melempar diri ke belakang, lalu bergulingan dan ketika dia meloncat bangun, dia telah menyambar sebuah bangku ukiran yang indah, mempergunakan bangku ini sebagai senjata dan dia kembali menyerang kalang kabut, menggunakan bangku yang diayun ke kanan dan kiri.

"Hemmm, kuda petina yang liar!" Han Lojin memuji sambil berloncatan ke sana-sini untuk menghindarkan diri dari hantaman bangku. “Mayang, bangku itu amat mahal, terbuat dari kayu pilihan dan diukir oleh ahli. Jangan kau rusakkan!” teriaknya.

"Lebih baik mati dari pada harus menyerah kepadamu, iblis busuk!" Mayang kini memaki karena dia telah merasa penasaran dan marah bukan main. Serangannya semakin hebat dan meski pun hanya sebuah bangku, namun di tangan gadis itu berubah menjadi senjata yang amat berbahaya.

“Wuuutttt...!”

Bangku itu menyambar sedemikian cepatnya sehingga biar pun dapat dielakkan oleh Han Lojin, akan tetapi angin pukulannya sempat membuat rambut kepala ketua Ho-han-pang itu menjadi tertiup kusut.

“Ihhh! Kalau kubiarkan, bisa hancur kepalaku oleh bangkumu itu. Dan aku masih sayang kepada kepalaku ini, heh-heh-heh!"

Mendadak dia membuat gerakan aneh. Tubuhnya bergulingan dan dari bawah dia lantas menyerang dengan tendangan bertubi-tubi, dengan gerakan memutar, ke arah kedua lutut dan kaki Mayang. Gadis ini mengeluarkan seruan kaget sambil berloncatan dengan kacau karena tendangan itu susul menyusul, menendang, menyapu dengan kekuatan luar biasa.

Selagi dia kebingungan menghindarkan diri dari semua tendangan itu, tiba-tiba Han Lojin mengeluarkan suara melengking panjang, dan tahu-tahu ada sinar putih mencuat ke atas lalu lengan Mayang telah terlibat sehelai kain putih. Kain itu dibetot hingga tubuh Mayang terhuyung, lalu Han Lojin melompat dan sekali dia menggerakkan kedua tangan, yang kiri menotok sedangkan yang kanan merampas, tahu-tahu bangku itu pun berpindah tangan! Mayang terpaksa melepaskan bangku itu karena lengan kanannya seperti lumpuh terkena totokan tangan kiri lawan.

Han Lojin meloncat ke belakang, mengamati bangku itu untuk melihat kalau-kalau rusak, lalu dia meletakkan kembali bangku itu ditempatnya semula.

"Engkau kuda betina yang binal harus cepat-cepat kutundukkan!" kata Han Lojin.

Mayang sudah menjadi marah bukan main. Dengan mata berapi-api dia telah menyerang lagi, tidak peduli akan kenyataannya bahwa dia memang bukan tandingan ketua Ho-han-pang itu. Ia menyerang kalang kabut, mengamuk dan dengan nekat dia hendak mengadu nyawa.

Ketika dia mendapatkan kesempatan, dia meloncat dan menggunakan tendangan terbang dengan kedua kakinya ke arah dada Han Lojin. Tendangan dengan tubuh seperti terbang ini sungguh berbahaya sekali, baik bagi lawan mau pun bagi diri sendiri. Namun Mayang sudah nekat dan ingin merobohkan lawan yang tangguh itu, maka dia mempergunakan jurus tendangan terbang yang berbahaya itu.

"Wuuuttt...! Plakkk!"

Dengan perhitungan yang tepat dan mengandalkan tenaganya yang kuat, Han Lojin cepat menyambut tendangan dengan kedua kaki itu dengan kedua tangannya dan dia berhasil miringkan tubuh lalu menangkap kedua kaki itu pada pergelangannya, lalu dengan cepat sekali sabuk sutera putih tadi sudah melibat kedua kaki.

Gadis itu meronta-ronta, akan tetapi Han Lojin tertawa-tawa dan memutar tubuh gadis itu dengan berpegang pada kedua kakinya. Tentu saja tubuh Mayang berputar seperti kitiran, lantas tubuhnya jatuh ke atas pembaringan dengan dua kaki di luar dan masih dipegangi oleh Han Lojin, bahkan kini kedua kakinya telah terbelenggu sabuk sutera putih.

“Keparat, lepaskan kakiku!" bentak Mayang dan dia mencoba untuk bangkit duduk lantas menyerang dengan sepasang tangannya. Tapi Han Lojin menjauh, kemudian menangkis kedua tangan itu seperti orang bermain-main saja.

"Engkau memang manis sekali, Mayang. Seekor kuda betina binal yang amat manis. Ingin kulihat apakah tubuhmu juga semanis wajahmu!" Han Lojin mencengkeram. Sia-sia bagi Mayang untuk menangkis.

"Bretttt…!"

Leher bajunya kena dicengkeram dan direnggut sehingga robek memanjang, cukup lebar sehingga sepasang buah dadanya nampak sebagian karena pakaian dalamnya ikut robek oleh renggutan tangan yang kuat itu.

Dan Han Lojin berdiri bengong, terpesona, bukan terpesona melihat sebagian buah dada itu, melainkan terpesona melihat apa yang tergantung di antara buah dada. Dia menuding ke arah dada gadis itu.

"Itu... itu... dari mana kau dapatkan benda itu?" tanyanya.

Tadi Mayang terkejut dan marah bukan kepalang karena bajunya terobek dan tadinya dia mengira bahwa ketua itu hendak menggodanya dan bermaksud cabul dengan menuding ke arah buah dadanya yang nampak sebagian. Akan tetapi ketika ia menggunakan kedua tangannya menutupkan kembali baju yang terobek, ia menyentuh benda yang tergantung di dada dan dia teringat bahwa Han Lojin menyinggung tentang benda itu, bukan tentang tubuhnya.

Mayang pun menjawab dengan ketus sambil tangan kirinya menutupkan kembali bajunya yang robek, "Benda ini tidak ada hubungannya dengan engkau!"

Sekarang Han Lojin sudah terlihat tenang, hanya sepasang matanya mengeluarkan sinar mencorong yang aneh dan mulutnya juga tersenyum aneh. Dia mengangguk-angguk.

"Hemm, sekarang mengertilah aku kenapa engkau dapat menjadi adik Hay Hay. Hay Hay adalah seorang putera dari Ang-hong-cu, sedangkan engkau juga mengenakan lambang Si Kumbang Merah pada dadamu. Jadi engkau pun seorang puteri dari Ang-hong-cu! Dan engkau datang dari Tibet? Apakah ibumu seorang wanita bernama... Souli?"

Mayang terkejut sekali, menatap wajah yang tampan itu dan berseru, "Bagaimana engkau bisa tahu?"

Akan tetapi kini Han Lojin tertawa bergetak. “Ha-ha-ha-ha!"

Pada saat itu pula terdengar suara dari luar pintu, "Bengcu, dia sudah datang!"

Daun pintu besi terbuka dengan sendirinya, dan di luar pintu sudah berdiri Sim Ki Liohg. Sejenak Sim Ki Liong memandang ke arah Mayang. Gadis itu berdiri dengan tegak seperti orang terheran-heran dan terkejut, dan tangan kirinya menutupkan baju bagian dada yang terobek. Melihat ini Sim Ki Liong segera berkata kepada Han Lojin.

"Maafkan kalau saya mengganggu Bengcu…”

Akan tetapi Han Lojin tidak marah, dan dia nampak tegang mendengar pemberitahuan Ki Liong itu. Dia memandang lagi kepada Mayang dan berkata,

"Mayang, engkau tinggallah dulu di sini. Segalanya tersedia lengkap untuk keperluanmu. Kakakmu sudah datang dan aku akan menyambutnya. Jangan mencoba untuk melarikan diri karena engkau tak akan berhasil. Tenang-tenang sajalah di sini."

Mendengar bahwa kakaknya sudah datang, ingin Mayang meloncat dan menerjang keluar dari tempat itu. Akan tetapi ia bukan gadis bodoh. Menghadapi seorang di antara mereka berdua saja dia tidak menang, apa lagi kini bajunya robek di bagian dada sehingga kalau dia bergerak menyerang, tentu baju itu akan terbuka kembali dan dadanya akan kelihatan. Maka dia hanya berdiri sambil memandang dengan penuh kemarahan ketika dua orang itu melangkah keluar dan daun pintu besi itu tertutup dengan sendirinya.

Suara ketawa ketua Ho-han-pang itu masih bergema di dalam telinganya, suara ketawa yang aneh dan menyeramkan baginya. Mayang cepat melupakan kekhawatiran terhadap dirinya sendiri, sebaliknya kini dia gelisah sekali memikirkan kakaknya, Hay Hay. Kini dia pun mengerti mengapa dirinya dipancing keluar kota kemudian ditawan. Kiranya mereka menghendaki kakaknya! Mereka menawannya hanya untuk memancing datangnya Hay Hay ke tempat berbahaya itu.

Dan dia merasa khawatir sekali membayangkan betapa lihainya sang ketua dengan para pembantunya itu. Akan tetapi dia harus membetulkan bajunya yang terobek tadi. Semua gerakannya takkan leluasa kalau bajunya terbuka seperti itu. Melihat di kamar itu terdapat sebuah almari, dia lalu menghampirinya dan membukanya.

Dia terbelalak. Di dalam almari itu terdapat tumpukan pakaian yang serba indah. Ia hanya tinggal memilih saja! Pakaian wanita, pakaian pria, semuanya masih baru. Akan tetapi dia tak sudi memakai pakaian yang bukan miliknya itu. Dia mengambil sehelai sabuk panjang saja, lalu dengan sabuk itu diikatnya bajunya yang robek sehingga kini dadanya tertutup rapat kembali. Setelah itu dia pun meneliti keadaan di dalam kamar yang luas itu.

Benar kata-kata ketua tadi. Kamar itu tertutup rapat sekali, tidak ada jalan keluar. Tidak ada jendela dan jalan satu-satunya hanyalah melalui pintu, padahal daun pintunya terbuat dari besi yang tebal dan kokoh. Jalan cahaya matahari dan hawa dari atas itu juga tidak mungkin dilewati. Terlalu tinggi dan juga lubang di atas itu tertutup jeruji besi yang kokoh pula.

Terdengar suara pada pintu. Ia cepat bersiap siaga. Ia akan nekat menerjang keluar kalau pintu itu terbuka, tidak peduli siapa yang akan muncul di pintu. Ia harus dapat keluar dari situ, harus membantu kakaknya.

Tetapi yang terbuka hanya sedikit saja di ujung bawah pintu. Terbuka lubang segi empat yang kecil saja, hanya cukup untuk memasukkan piring buah itu. Sebuah tangan nampak mendorongkan sebuah piring penuh berisi buah-buah segar. Juga sebuah poci teh berikut mangkoknya didorong masuk. Kemudian tangan itu lenyap dan lubang itu tertutup lagi.

Hemm, mereka memperlakukan aku sebagai seorang tawanan yang dilayani dengan baik, seperti seorang tamu saja, pikir Mayang. Dia pun tidak sungkan lagi. Buah-buah itu perlu untuk memulihkan tenaganya. Dia pun memilih dan makan buah-buahan yang segar dan pilihan. Juga minum teh itu karena dia yakin bahwa tuan rumah tidak perlu meracuninya. Dia sudah tak berdaya. Kini dia hanya bisa menanti terbukanya kesempatan baik baginya untuk meloloskan diri.

Setelah makan buah-buahan dan minum teh, gadis Tibet itu lalu duduk termenung di atas pembaringan yang lebar itu. Ia membayangkan sikap ketua tadi. Bagaimana ketua itu bisa tahu bahwa dia puteri Ang-hong-cu dan bahkan mengenal pula nama ibunya? Orang itu mengenal benda mainan kumbang merah yang tergantung pada lehernya, juga mengenal nama ibunya, bahkan mengenal pula jurus Hek-coa tok-ciang! Hal ini menunjukkan bahwa orang itu tentu pernah ke Tibet! Siapakah ketua itu? Ia hanya bisa termenung dan merasa bingung…..

********************

“Apakah Hay Hay muncul seorang diri saja?" di luar tempat tahanan bawah tanah itu Han Lojin bertanya kepada Ki Liong yang tadi mengabarkan kepadanya mengenai kedatangan seseorang.

"Bukan dia, Bengcu. Bukan Tang Hay yang muncul...”

"Ehh? Habis siapa?" ketua itu bertanya penasaran karena yang dipancing dan ditunggu-tunggu kemunculannya adalah Tang Hay.

"Dia adalah... Cia Kui Hong... " suara Ki Liong menunjukkan bahwa hatinya tegang.

Walau pun tidak gentar, memang pemuda ini merasa tegang ketika mendengar dari anak buah Ho-han-pang bahwa ada seorang gadis muncul di sarang mereka dan sesudah dia mengintai, ternyata gadis itu adalah Cia Kui Hong! Gadis itu adalah cucu dari suhu dan subo-nya di Pulau Teratai Merah, yaitu Pendekar Sadis Ceng Thian Sin dan Lam-sin Toan Kim Hong!

Memang Ki Liong tidak gentar terhadap gadis itu, akan tetapi mengingat bahwa dia telah melarikan diri dari Pulau Teratai Merah dan mencuri pedang pusaka, bahkan kini pedang pusaka itu tidak berada di tangannya lagi sesudah terampas oleh Tang Hay, tentu saja dia merasa tidak enak dan tegang.

Han Lojin sendiri tertegun, kaget dan heran mendengar bahwa yang muncul bukan orang yang dinanti-nantinya, melainkan gadis ketua Cin-ling-pai yang lihai itu! Di antara semua gadis pendekar, gadis inilah yang dianggapnya paling berbahaya dan paling lihai, dan dia harus mengakui bahwa gadis itu memiliki tingkat kepandaian yang tinggi dan sama sekali bukan merupakan lawan ringan baginya.

Akan tetapi yang sungguh membuat dia merasa terkejut dan heran karena gadis itu telah terikat janji dengan dia. Gadis itu sudah berjanji untuk tidak memusuhinya dan tidak akan membuka rahasianya. Apa maksud gadis itu kini muncul? Ahh, tentu ketua Cin-ling-pai itu tidak tahu bahwa Ho-han-pang dipimpin oleh Han Lojin yang juga Tang Bun An itu. Tidak tahu bahwa dia yang memimpinnya, maka kini berani datang berkunjung.

"Cia Kui Hong? Biarlah aku yang menyambutnya sendiri. Engkau dan para rekanmu yang lain bersiap-siap saja turun tangan kalau sudah kuberi tanda."

Sesudah berkata demikian, Han Lojin lalu keluar sedangkan Ki Liong cepat memberi tahu kepada Ji Sun Bi dan Tang Cun Sek agar mereka bertiga siap-siap membantu pimpinan mereka kalau dikehendaki…..

********************

Bayangan itu berlari cepat dan gerakannya cekatan dan ringan sekali. Ia mendaki lembah bukit menuju puncak di mana terdapat kompleks bangunan markas Ho-han-pang. Ketika tiba di pintu gerbang pertama, dia merasa heran karena tidak kelihatan seorang penjaga pun di situ. Ia mendorong pintu gerbang yang tertutup dan begitu pintu terbuka, terdengar suara berdesingan. Dia pun cepat melompat tinggi ke atas untuk menghindarkan diri dari sambaran anak-anak panah yang meluncur dari kanan kiri pintu gerbang.

Dia memang telah berhati-hati terhadap perangkap, maka dia mampu menghindarkan diri dengan loncatan tinggi lantas melayang turun ke depan. Begitu kakinya menyentuh tanah, tiga orang dari kanan dan tiga orang dari kiri langsung menyambutnya dengan serangan tombak panjang.

Kui Hong menggerakkan kedua tangannya dan nampak sinar berkelebat ketika sepasang pedangnya menangkis ke kanan kiri. Terdengar suara nyaring saat enam batang tombak itu patah-patah disusul pekik kesakitan kemudian dua di antara enam orang penyerang itu roboh terjengkang dengan pundak berdarah. Mereka bergulingan ke belakang kemudian menghilang di balik semak belukar.

Kui Hong berdiri tegak. Sepasang pedang di tangannya siap menghadapi pengeroyokan. Akan tetapi tidak nampak gerakan apa pun, hanya terdengar suitan-suitan panjang saling sahut di sekitar tempat itu.

Karena tidak ada serangan lagi, Kui Hong melanjutkan langkahnya, melalui jalan mendaki dari pintu gerbang pertama itu menuju ke pintu gerbang ke dua. Namun di sini juga tidak terdapat penjaga, dan tidak ada pula serangan lain. Keadaan sunyi saja.

Dia tidak tahu bahwa suitan-suitan panjang tadi merupakan isyarat kepada para anggota Ho-han-pang supaya tidak bergerak dan membiarkan gadis itu naik terus tanpa diganggu. Bahkan perangkap-perangkap dimatikan agar tidak mengganggu perjalanan Kui Hong.

Sesudah melampaui tiga lapis pintu gerbang, akhirnya Kui Hong tiba di depan bangunan yang kelihatan sunyi saja itu. Sunyi dan megah, sekaligus juga menyeramkan. Dia berdiri dengan tegak, menyimpan kembali sepasang pedangnya, lalu dia berteriak dengan suara melengking nyaring.

"Ketua Ho-han-pang! Kalau engkau bukan seorang pengecut, cepatlah keluar! Aku ingin bertemu!"

Dia tidak perlu mengulang teriakannya karena daun pintu bangunan itu terbuka dari dalam sebelum gaung suaranya padam. Kemudian nampak sedikitnya dua puluh orang laki-laki yang berpakaian seragam putih-putih dengan ikat pinggang biru dan sepatu kulit hitam mengkilap, dengan topi merah, berbaris rapi di kanan kiri jalan keluar depan pintu. Mereka memiliki pedang yang tergantung di pinggang dan sikap mereka gagah perkasa, seperti sepasukan pendekar!

Barisan itu kemudian berdiri tegak dengan sikap menghormat, dan muncullah orang yang dinanti-nanti Kui Hong. Seorang laki-laki berusia lima puluh tahun lebih, nampak tampan dan gagah dengan kumis dan jenggot terpelihara rapi. Di kanan kiri serta belakang pria ini berbaris belasan orang wanita muda yang cantik dan mengenakan pakaian seragam pula. Cantik akan tetapi gagah, dengan pedang di punggung masing-masing dan sikap mereka seperti pendekar-pendekar wanita sejati!

Berkerutlah sepasang alis Kui Hong melihat pria setengah tua itu. Tentu saja dia segera mengenal Han Lojin! Dan dia tahu pula bahwa Han Lojin dan Tang Bun An adalah orang yang sama! Entah yang mana yang merupakan muka aslinya, Tang Bun An ataukah Han Lojin, dia tidak tahu. Akan tetapi dia yakin bahwa Tang Bun An, Han Lojin, dan Ang-hong-cu adalah satu orang yang kini menjadi ketua Ho-han-pang!

Meski pun hatinya terasa sangat tegang, Han Lojin tersenyum-senyum ketika melangkah menghampiri Kui Hong, ada pun pasukan pria dan wanita yang mengawalnya kini sudah berbaris rapi di kanan kiri, tidak ikut mendekat.

"Aihhh, ternyata Cia Pangcu (Ketua Cia)! Selamat datang di tempat kami, Pangcu. Kami ingin sekali mengetahui apakah kedatangan Pangcu ini sebagai ketua Cin-ling-pai, atau sebagai pribadi?" Dia memberi hormat dengan mengangkat kedua tangan di depan dada. "Perkenalkan, kami adalah Pangcu dari Ho-han-pang, juga Bengcu dari dunia kang-ouw!"

Kui Hong tersenyum pula, senyum mengejek. "Han Lojin, tidak perlu kita membawa-bawa nama perkumpulan. Aku datang sebagai Cia Kui Hong, dan kita sama tahu siapa engkau sebenarnya. Ini urusan pribadi antara aku dan engkau. Aku datang untuk menantangmu bertanding sampai seorang di antara kita menggeletak tak bernyawa!"

“Ck, ck, ck!” Han Lojin mengeluarkan suara dengan lidahnya sambil menggeleng kepala. "Cia Kui Hong, kenapa engkau bersikap seperti ini? Ingat, seorang pendekar memegang teguh janjinya, lebih menghargai janji dari pada nyawa!"

Wajah gadis perkasa itu berubah merah dan matanya mengeluarkan cahaya mencorong. "Selama hidup aku tak pernah melanggar janjiku, keparat! Sampai detik ini pun aku tidak pernah melanggar janjiku! Justru karena janji itulah aku datang menantangmu. Aku ingin mencairkan dan membatalkan janji itu. Engkau boleh mengeroyokku, boleh membunuhku juga. Lebih baik mati dari pada membiarkan iblis macam engkau berkeliaran tanpa dapat menentangmu karena terikat janji. Nah, kini aku datang untuk mematahkan ikatan janji itu. Majulah!" tantang Kui Hong dengan sikap tabah dan tenang.

"Ha-ha-ha, engkau tidak tahu malu, Kui Hong! Dulu ketika berjanji engkau berada dalam keadaan tertawan dan tidak berdaya. Kemudian engkau berjanji bahwa apa bila engkau kubebaskan, maka engkau takkan memusuhiku. Sekarang, setelah engkau kubebaskan, engkau datang menantangku. Bukankah itu berarti engkau melanggar janji?"

Bagi gadis lain, diserang dengan ucapan ini tentu akan menjadi bingung. Akan tetapi Kui Hong adalah seorang gadis yang cerdik sekali. Hal ini pun telah dia pikirkan sebelumnya, maka dia tidak menjadi bingung mendengar ucapan itu, bahkan tersenyum mengejek.

"Hemmm, Ang-hong-cu, bercerminlah engkau! Lupakah engkau bagaimana cara engkau menangkapku dahulu itu? Bukan seperti seorang gagah, tetapi sebagai seorang pengecut yang curang. Engkau menawanku dengan mempergunakan perangkap! Engkaulah yang sepatutnya merasa malu, pengecut! Sejak berjanji, aku tidak pernah melanggarnya. Kalau aku melanggar, tentu aku sudah datang kembali membawa kawan dan tentu engkau kini sudah mampus! Akan tetapi aku datang seorang diri saja, menghadapi engkau yang kini dibantu oleh banyak sekali anak buahmu. Engkau boleh mengeroyokku, menangkapku, menyiksaku dan membunuhku! Bagiku hanya ada dua pilihan saja. Membatalkan janji dan membunuhmu, atau terbunuh olehmu!"

Han Lojin mengerutkan alisnya. Tahulah dia bahwa menggertak atau membujuk gadis ini tidak akan berhasil. Kalau dulu dia membiarkan gadis ini bebas adalah karena dia merasa ngeri menghadapi akibatnya kalau dia membunuh Cia Kui Hong, ketua Cin-ling-pai. Ngeri menghadapi pembalasan dari Cin-ling-pai, dan terutama sekali dari kakek gadis itu, yaitu Pendekar Sadis dan isterinya dari Pulau Teratai Merah.....!


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner