SI KUMBANG MERAH : JILID-52


Namun sekarang tidak ada pilihan lain baginya. Dan dia pun kini berbesar hati karena dia kini memiliki banyak pembantu yang pandai. Kalau Cin-ling-pai datang menyerbu, dia pun memiliki Ho-han-pang untuk melawannya. Jika Pendekar Sadis dan isterinya yang datang menyerang, dia dan para pembantu utamanya pasti akan mampu menandingi mereka.

"Cia Kui Hong, kalau aku bisa menawanmu lagi, sekali ini aku tidak akan melepaskanmu kembali!" katanya dan di dalam suaranya terkandung gairah yang membuat hati Kui Hong merasa ngeri.

Dia pun sudah siap siaga mengadu nyawa. Bagi gadis ini, hidup pun tidak ada artinya dan dia akan selalu merasa menyesal kepada diri sendiri. Ia telah mengikat perjanjian dengan seorang manusia iblis yang seharusnya dia tentang mati-matian. Dengan perjanjian itu dia merasa seakan-akan sudah menjadi pelindung dan pembantu Ang-hong-cu! Hal ini selalu menggerogoti perasaannya, menumbuhkan penyesalannya.

Waktu itu dia berjanji hanya karena ingin terbebas dari ancaman perkosaan maut! Namun sungguh merupakan siksaan yang tidak dapat dia pertahankan lebih lama setelah melihat Ang-hong-cu berbuat sekehendak hatinya, melakukan segala macam kejahatan yang dia ketahui akan tetapi tidak dapat turun tangan mencegah atau menentangnya. Ini sebabnya maka dia memaksa diri untuk mencari Ang-hong-cu dan membatalkan semua perjanjian itu dengan membiarkan dirinya ditangkap kembali!

Ia tahu bahwa sekali ini dia maju menentang Ang-hong-cu hanya untuk roboh binasa atau tertawan. Ia datang seorang diri, menghadapi Ang-hong-cu beserta banyak anak buahnya yang tergabung di dalam Ho-han-pang! Sama dengan bunuh diri. Namun dia tidak peduli. Lebih baik dia mati sebagai pendekar dari pada tetap hidup tetapi terpaksa harus menjadi pelindung seorang iblis macam Ang-hong-cu, demikian tekad hatinya. Dia lalu mencabut sepasang pedangnya dan bersiap-siap.

Apa yang disangkanya memang benar terjadi. Ang-hong-cu yang merasa jeri menghadapi gadis itu seorang diri, karena dia pernah melawannya namun dia yang terdesak hebat, cepat memberi isyarat dengan tepuk tangan dan muncullah Ji Sun Bi, Tang Cun Sek, dan Sim Ki Liong! Akan tetapi mereka sudah mengenakan kedok tipis sehingga Kui Hong tidak mengenal mereka. Mereka bertiga tentu saja mengenal Kui Hong, mengenal dengan baik sekali! Bahkan kedua orang muda itu, Cun Cek dan Ki Liong, pernah jatuh cinta kepada gadis ini!

"Tangkap dia hidup-hidup!"

Hanya itulah perintah Ang-hong-cu, akan tetapi ketiga orang itu sudah maklum apa yang dikehendaki pemimpin mereka. Hanya ada satu hal mengapa ketua mereka menghendaki dara itu ditangkap hidup-hidup, yaitu bahwa pangcu itu membutuhkan Cia Kui Hong hidup untuk dimanfaatkan, entah untuk mengurangi kehausan serta kerakusannya akan gadis-gadis cantik, atau untuk kepentingan lain.

Perintah ini tidak berat bagi Cun Sek dan Ki Liong, sebab bagaimana pun juga dua orang muda yang pernah mencinta Kui Hong juga merasa sayang kalau gadis itu terbunuh. Tapi tidak demikian dengan Ji Sun Bi. Wanita ini amat membenci Kui Hong.

Dalam pertemuan terakhir di antara mereka, ketika Ji Sun Bi membantu pemberontakan yang dipimpin Lam-hai Giam-lo sedangkan Kui Hong bersama para pendekar membantu pemerintah, dia pernah bertanding melawan Kui Hong dan akibatnya dia terlempar masuk ke dalam jurang! Nyaris dia tewas di tangan gadis Cin-ling-pai itu.

Dan sekarang dia dilarang membunuh gadis itu, melainkan hanya disuruh menangkapnya hidup-hidup! Padahal dia melihat Kui Hong hanya datang seorang diri, sedangkan dia kini bersama rekan-rekannya di bawah pimpinan Han Lojin.

Betapa pun juga Ji Sun Bi tidak berani melanggar perintah pemimpinnya, maka bersama Cun Sek dan Ki Liong, dia pun sudah mengepung Kui Hong yang kini berdiri dengan sikap tenang dan waspada, dengan sepasang pedang Hok-mo Siang-kiam (Sepasang Pedang Penakluk Iblis) siap di kedua tangannya.

Melihat Kui Hong memegang sepasang pedang yang dikenalnya sebagai Hok-mo Siang-kiam milik subo-nya, yaitu nenek Lam-sin Toan Kim Hong isteri Pendekar Sadis, Ki Liong diam-diam bergidik. Dia tahu keampuhan sepasang pedang itu dan dia merasa menyesal kenapa dia kehilangan Gin-hwa-kiam. Apa bila ada Gin-hwa-kiam di tangannya, tentu dia akan mampu menandingi sepasang pedang ampuh di tangan Kui Hong.

Akan tetapi pedang Gin-hwa-kiam sudah dirampas oleh Hay Hay sehingga kini dia hanya memiliki sebatang pedang yang meski pun merupakan pedang pilihan dari baja yang baik, namun dia khawatir pedangnya itu akan rusak begitu beradu dengan Hok-mo Siang-kiam. Dia lalu mencabut pedangnya dan mengepung.

Begitu pula dengan Tang Cun Sek. Pemuda ini mengenal benar kelihaian Cia Kui Hong, maka dia pun diam-diam gentar dan merasa menyesal mengapa dia kehilangan Hong-cu-kiam yang juga terampas oleh Hay Hay. Akan tetapi karena di situ terdapat Sim Ki Liong dan Ji Sun Bi, bahkan Han Lojin juga kini ikut mengepung, dia merasa yakin mereka akan dapat menundukkan Kui Hong dan dia pun telah mencabut pedangnya, sebatang pedang yang cukup baik walau pun tidak dapat disamakan dengan pedang pusaka Hong-cu-kiam yang sudah terlepas dari tangannya.

Sejak tadi Tok-sim Mo-li Ji Sun Bi juga sudah mencabut senjata, yaitu sepasang pedang pula, dan kini dia mengepung sambil melintangkan sepasang pedang di atas kepala. Han Lojin sendiri juga turut maju, akan tetapi dia tidak memegang senjata apa pun.

“Kau lihat, Kui Hong. Engkau sudah kami kepung dan tidak mungkin dapat lolos. Apakah tidak lebih baik engkau menyerah saja, kita berdamai dan engkau membantu perjuangan kami membela negara dan bangsa?"

"Huhh! Yang sudi bersekutu denganmu hanyalah golongan sesat, orang-orang jahat yang sudah selayaknya dibasmi habis!" bentak Kui Hong dan tiba-tiba saja dia membalik ke kiri, pedang kanannya menusuk ke arah dada Cun Sek. Gerakannya cepat bukan main, ada pun pedangnya mengeluarkan sinar dan bunyi mendesing.

Cun Sek menangkis dengan pedangnya dari samping, dia tidak berani mengadu langsung karena takut pedangnya akan patah.

"Tranggg...!”

Nampak bunga api berpijar dan diam-diam Kui Hong terkejut sekali. Tak dikiranya bahwa pembantu Ang-hong-cu yang berwajah tampan serta bertubuh tinggi besar ini tenaganya demikian kuat sehingga tangannya tergetar. Ia memutar pedang dan kini pedangnya yang kiri membabat ke arah kedua kaki lawan tinggi besar itu.

Dan Cun Sek mengelak dengan loncatan yang membuat Kui Hong hampir mengeluarkan seruan kaget. Gerakan kaki itu mempunyai dasar ilmu Thai-kek Sin-kun dari Cin-ling-pai! Dia terkejut dan heran sekali, akan tetapi masih belum yakin benar.

Dia hendak mendesak agar lawan tinggi besar itu mengeluarkan ilmu silatnya, akan tetapi terpaksa dia harus membalik dan memutar sepasang pedangnya untuk melindungi tubuh, karena pada saat itu pula wanita yang memegang sepasang pedang telah menyerangnya, disusul pengeroyok ke tiga, seorang pemuda yang tampan dan mempunyai gerakan kuat pula.

Dan kembali dia terkejut ketika dia memutar siang-kiam melindungi tubuhnya karena dia seperti pernah melihat gerakan siang-kiam seperti yang dimainkan oleh wanita itu. Ketika dengan mendadak dia membalas ke arah laki-laki ke tiga yang mengeroyoknya, dengan sambaran pedang kanannya, dia pun hampir berteriak saking kagetnya sesudah melihat dasar gerakan kaki pemuda itu. Jelas dia melihat dasar gerakan kaki ilmu silat Hok-te Sin-kun yang hanya dimiliki oleh kakek dan neneknya di Pulau Teratai Merah.

Dan jantungnya berdebar ketika dia memperhatikan bentuk tubuh mereka. Biar pun wajah mereka itu berbeda, namun bentuk tubuh mereka dan gerakan silat mereka menunjukkan bahwa dia dikeroyok oleh si tinggi besar Tang Cun Sek, pemuda tampan Sim Ki Liong, dan wanita bersenjata siang-kiam Ji Sun Bi! Tak salah lagi!

Akan tetapi Kui Hong menahan perasaannya dan hanya memusatkan perhatiannya pada penjagaan diri. Ia membela diri mati-matian dan memutar sepasang pedangnya sehingga tubuhnya seperti dilindungi oleh perisai yang kokoh kuat. Sambaran senjata ketiga orang pengeroyoknya itu seperti menghadapi sinar perisai yang amat kuat dan semua serangan itu membalik! Bahkan Han Lojin yang amat lihai, yang semenjak tadi ikut mengepung dan mencari kesempatan untuk turun tangan, tidak pernah berhasil karena sama sekali tidak ada lubang yang dapat dimasuki serangannya!

Han Lojin memandang kagum sekali, akan tetapi juga khawatir. Sudah puluhan jurus tapi tiga orang pembantu utamanya belum juga mampu membekuk Kui Hong! Dia tahu bahwa apa bila dia tidak mengeluarkan perintah agar gadis itu ditangkap hidup-hidup, kalau tiga orang pembantunya berniat membunuhnya, maka perkelahian itu tidak akan berlangsung selama ini. Kui Hong tentu sudah roboh dikeroyok tiga orang yang tingkat kepandaiannya hanya sedikit di bawah tingkatnya.

Akan tetapi justru karena mereka bertiga menjaga agar jangan sampai melukai apa lagi membunuh lawan, dan senjata mereka hanya dipergunakan untuk menjaga diri dan untuk berusaha meruntuhkan sepasang pedang Kui Hong, maka pertandingan menjadi berlarut-larut dan memakan waktu lama. Mungkin hanya kalau Kui Hong sudah kehabisan tenaga sajalah mereka itu akan berhasil. Tidak mudah untuk menanti sampai Kui Hong kehabisan tenaga karena dia seorang gadis yang sehat, terlatih baik dan tangguh.

Kui Hong juga bukan seorang gadis bodoh. Dia maklum bahwa para pengeroyoknya amat taat terhadap perintah Han Lojin, jadi kini mereka berusaha untuk membuat dia kehabisan tenaga dan napas agar dapat ditawan hidup-hidup. Dan dia akan menderita penghinaan yang lebih mengerikan dari pada maut kalau sampai tertawan hidup-hidup.

Oleh karena itu dengan nekat dia pun hendak mengadu nyawa dan sekarang mulailah dia membalas serangan lawan dengan serangan-serangan yang dahsyat. Dengan begitu dia membiarkan dirinya ‘terbuka’ sehingga mungkin saja dia akan terkena serangan senjata para pengeroyoknya sehingga terluka atau bahkan tewas.

Setelah menyerang dengan dahsyat, hatinya makin yakin bahwa pemuda tinggi besar itu adalah Tang Cun Sek dan pemuda tampan itu adalah Sim Ki Liong. Serangan-serangan dahsyatnya membuat mereka tidak dapat menyembunyikan gerakan dasar yang asli dari ilmu silat mereka, dan dalam desakannya yang nekat ini dia berhasil menendang paha Ji Sun Bi sehingga wanita itu terpelanting.

Akan tetapi karena serangan-serangannya itu telah membuat tubuhnya terbuka sehingga pertahanan dirinya tidak serapat tadi, Han Lojin lalu memperoleh kesempatan. Pada saat yang baik sekali, selagi sepasang pedang Kui Hong menempel kepada senjata di tangan Cun Sek dan Ki Liong, sebelum gadis itu mampu melepaskan sepasang pedangnya dari tempelan senjata lawan, Han Lojin menerjang ke depan dan tangannya berhasil menotok punggung Kui Hong. Gadis ini mengeluh lirih kemudian terguling pingsan!

Hanya sebentar saja Kui Hong tak sadarkan diri. Ketika siuman ternyata tubuhnya lemas tak dapat digerakkan akibat jalan darahnya tertotok dan dia dipondong oleh pernuda tinggi besar yang berjalan bersama Han Lojin menuju ke lorong bawah tanah. Dia berpura-pura pingsan sesudah tahu bahwa dirinya tertotok dan tidak berdaya, karena kalau dia sadar, tentu hanya akan mendengar penghinaan Han Lojin saja.

Setelah tiba di depan sebuah pintu besi yang tertutup, ia mendengar pemuda tinggi besar itu bicara dan begitu pemuda itu membuka mulut, tidak ada keraguan lagi dalam hatinya bahwa pemuda itu adalah Tang Cun Sek. Wajahnya boleh berubah, akan tetapi suaranya, bentuk badannya serta dasar-dasar ilmu silat Cin-ling-pai tadi jelas membuktikan bahwa dia adalah Tan Cun Sek. Akan tetapi ada hal yang amat mengherankan hatinya ketika dia mengikuti percakapan singkat mereka di depan pintu.

"Bengcu, kuharap Bengcu suka memberikan gadis ini kepadaku. Dia gadis yang kucinta dan aku... aku ingin memperisterinya..."

"Hemm, dia berbahaya sekali, Cun Sek. Yang satu ini tidak boleh, aku sendiri yang akan menundukkannya agar tidak membahayakan kita."

"Tapi... tapi... hanya sekali ini saja aku memohon. Aku adalah puteramu, aku minta agar dijodohkan dengan Kui Hong…”

"Cukup! Masukkan dara ini ke dalam!" Han Lojin membentak sehingga Cun Sek nampak ketakutan.

"Baik, Ayah... ehh, Bengcu. Baik!"

Pintu terbuka secara otomatis dan dengan mata terbuka sedikit Kui Hong melihat seorang gadis yang cantik berdiri dengan sikap gelisah akan tetapi juga marah. Gadis itu berdiri di dekat sebuah pembaringan besar. Sesudah Cun Sek merebahkan tubuh Kui Hong di atas pembaringan itu, si gadis lantas membentak dengan suara kasar sambil menudingkan jari telunjuknya kepada Han Lojin.

"Mana kakakku?! Dan siapa pula gadis ini, Ho-han Pangcu? Apa bila engkau tidak segera membebaskan aku, kakakku pasti akan menghancurkan engkau berikut perkumpulanmu! Sebaliknya, kalau engkau membebaskan aku, aku akan bicara dengan kakakku. Mungkin dia mau membantu perkumpulanmu, asal perkumpulanmu memang perkumpulan orang-orang gagah yang baik!"

Han Lojin tersenyum. "Tenanglah, Mayang. Kakakmu tentu mau berunding denganku. Dia belum datang, dan sementara itu biarlah nona ini menemanimu di sini. Alangkah baiknya jika engkau dapat membujuknya agar dia suka membantu kami. Aku tentu akan berterima kasih sekali!"

Sebelum Mayang menjawab, pintu besi sudah tertutup dan Han Lojin bersama Tang Cun Sek telah keluar dari kamar itu. Setelah yakin bahwa dia hanya berdua saja dengan gadis yang dia dengar namanya disebut Mayang itu, Kui Hong membuka matanya, lalu bangkit duduk. Melihat ini Mayang langsung menghampiri dan mereka duduk di atas pembaringan yang lebar itu, saling pandang dan saling mengagumi kecantikan masing-masing.

“Enci, engkau siapakah dan bagaimana engkau dapat tertawan oleh mereka itu?" Mayang bertanya ketika melihat pandang mata penuh curiga dari gadis cantik itu.

"Engkau sudah tahu bahwa aku tawanan, akan tetapi aku belum tahu siapa engkau dan mengapa pula di sini," kata Kui Hong yang masih menaruh curiga.

Meski tadi dia mendengar betapa gadis Tibet ini mengancam Han Lojin bahwa kakaknya akan menghancurkan Han Lojin beserta perkumpulannya, akan tetapi dia tidak tahu siapa gadis ini. Mayang tersenyum, maklum bahwa dia berhadapan dengan seorang gadis yang galak dan penuh prasangka.

"Namaku Mayang, Enci. Jangan engkau khawatir. Aku masih menanti datangnya kakakku dan kalau dia sudah muncul, pasti dia akan dapat menghancurkan Ho-han-pang dan juga membebaskan kita."

"Hemm, siapa kakakmu itu?”

"Kakakku bernama Hay Hay. Hay-ko lihai sekali dan dia pasti akan datang dan..."

Mayang cepat menghentikan ucapannya karena melihat betapa wajah gadis di depannya itu berubah, seperti orang terkejut dan memandang kepadanya dengan mata mencorong.

“Dia Tang Hay maksudmu?"

"Benar, Enci!"

“Kau bohong! Dia tidak mempunyai adik perempuan, kecuali kalau engkau juga she Tang, berarti engkau juga puteri Ang-hong-cu!"

Kini Mayang berbalik kaget sekali mendengar bahwa gadis ini sudah tahu bahwa dia dan kakaknya adalah anak-anak Ang-hong-cu.

“Enci, engkau mengenal ini?" Dia menarik keluar mainan dari balik bajunya, yaitu mainan berbentuk seekor kumbang merah.

"Ang-hong-cu...! Jadi kau... kau puterinya?"

"Benar, aku adalah puteri Ang-hong-cu, seperti juga Hay-koko yang putera Ang-hong-cu. Agaknya engkau sudah mengetahui...”

“Bagus sekali!"

Tiba-tiba saja, secepat kilat tangan Kui Hong bergerak dan dia sudah menotok jalan darah di pundak kiri hingga Mayang terkulai lemas, kaki tangannya menjadi lumpuh. Tentu saja Mayang kaget dan marah sekali. Dia diserang dalam keadaan tidak menyangkanya sama sekali, dan mereka duduk berdekatan maka dia tidak sempat mengelak, apa lagi gerakan tangan Kui Hong memang cepat seperti kilat menyambar.

Hanya kaki tangannya serta punggungnya saja yang lumpuh, akan tetapi Mayang masih dapat menggerakkan anggota tubuh yang lain. Dia memandang kepada Kui Hong dengan mata bersinar penuh kemarahan.

"Heiiii! Kenapa kau lakukan ini?" bentaknya marah.

Kui Hong tersenyum mengejek. "Engkau puteri Ang-hong-cu. Engkau satu-satunya orang yang dapat membebaskan aku dari sini. Engkau kujadikan sandera agar aku dibebaskan. Kalau mereka tidak mau membebaskan aku, maka engkau akan kubunuh!"

Mayang juga seorang gadis yang keras hati dan tidak takut mati. Dia mendengus marah.

"Huhh, aku tidak mengenal siapa engkau. Akan tetapi yang sudah jelas bagiku, engkau ini seorang pengecut yang tolol!”

Kalau saja dia tidak dalam tahanan, tentu Kui Hong sudah menampar mulut yang berani memakinya pengecut dan tolol seperti itu. Dia menahan kemarahannya.

“Jelaskan kenapa engkau mengatakan aku pengecut dan tolol. Kalau tidak ada alasannya yang kuat, akan kutampar mulutmu yang lancang itu!”

"Lebih dari pada pengecut dan tolol, engkau mungkin sudah gila!" Mayang berteriak, tidak kalah galaknya dan walau pun dia rebah telentang tanpa dapat menggerakkan tubuhnya, namun dia membelalakkan matanya yang sipit, hidungnya kembang kempis dan mulutnya cemberut penuh amarah. "Masih perlu penjelasan lagi? Engkau pengecut karena engkau menyerang dan menotokku secara curang, tanpa memberi peringatan lebih dahulu bahwa engkau akan menyerangku. Apakah perbuatan demikian tidak curang dan pengecut? Bila engkau memang gagah, kenapa tidak terang-terangan saja menantang? Kau sangka aku takut padamu? Dan tentang tolol, engkau memang bodoh dan tolol bukan kepalang. Kau bilang hendak menjadikan aku sebagai sandera agar engkau dibebaskan? Apakah engkau ingin melucu di atas panggung? Aku sendiri menjadi tawanan di sini! Bagaimana mungkin pangcu dari Ho-han-pang mau membebaskan engkau hanya karena engkau menawan aku? Tawanan menyandera tawanan? Apakah ini tidak gila namanya?"

Belum pernah selama hidupnya Kui Hong dimaki-maki orang seperti itu, dimaki pengecut, curang, tolol, bodoh, bahkan gila! Akan tetapi amarahnya masih kalah oleh keheranannya mendengar semua kata-kata itu. Diakah yang gila, ataukah gadis ini yang sudah menjadi gila? Gadis ini bicara tentang menjadi tawanan Ho-han Pangcu! Padahal Ho-han Pangcu bukan lain adalah Han Lojin alias Tang Bun An alias Ang-hong-cu alias ayah kandungnya sendiri!

"Hemmm, bocah bermulut lancang! Sesungguhnya engkaulah yang tolol dan gila. Engkau ini benar tidak tahu apakah pura-pura tidak tahu? Coba jawab, siapakah yang menawan engkau?"

"Siapa lagi kalau bukan dia yang juga menawanmu tadi. Yang menawanku adalah pangcu dari Ho-han-pang..."

"Dan engkau tidak tahu siapa dia?"

"Dia adalah ketua Ho-han-pang dan bengcu..."

"Bodoh! Dia itu Han Lojin!"

"Siapa itu Han Lojin?"

Ahh, sekarang mengertilah Kui Hong. Gadis tolol ini belum tahu bahwa dia sudah menjadi tawanan ayah kandungnya sendiri

"Han Lojin adalah Tang Bun An!"

"Tang Bun An? Siapa pula..."

"Penawanmu itu adalah Ho-han Pangcu, atau Han Lojin, alias Tang Bun An, alias Ang-hong-cu pula!"

"Ahhh…!" Sepasang mata itu terbelalak. "Dia… dia... Ang-hong-cu...? Aku tak percaya!"

"Itulah ketololanmu! Ketua Ho-han-pang adalah Ang-hong-cu dan hal ini aku tahu benar!"

"Tapi... tapi... jika benar dia Ang-hong-cu, berarti dia adalah ayah kadungku? Akan tetapi kenapa dia... dia menawanku? Pantas saja dia mengenal nama ibu dan subo-ku...! Ahh, akan tetapi mungkinkah itu? Kenapa dia menawanku dan sikapnya seperti itu?” Ia teringat akan sikap cabul ketua Ho-han-pang itu.

"Apakah engkau belum pernah melihat ayahmu?"

"Sejak lahir belum pernah aku melihatnya."

"Dan Hay Hay kakakmu itu, apakah dia pernah bercerita tentang jahatnya Ang-hong-cu?"

"Hanya sedikit... ahh, Enci yang baik, ceritakan kepadaku bagaimana sebenarnya semua itu, tentang Han Lojin, tentang Tang Bun An, tentang Ang-hong-cu! Aku sungguh bingung sekali. Aku datang ke sini bersama kakakku untuk menyelidiki perwira she Tang, dan aku dipancing ke sini, lalu dikeroyok dan ditangkap, katanya untuk memancing agar kakakku datang pula ke sini. Tapi tidak tahunya engkau yang muncul! Apa artinya semua ini, Enci? Katakanlah. Engkau tidak ragu lagi dan percaya kepadaku, bukan?"

Sepasang mata Mayang menjadi basah karena dia merasa tegang dan penasaran sekali setelah mendengar bahwa laki-laki setengah tua yang cabul dan menawannya itu adalah ayah kandungnya sendiri.

Biar pun masih muda, Kui Hong sudah berpengalaman dan dia pun dapat membedakan sikap orang yang berbohong atau tidak. Dia tahu bahwa Mayang tidak berbohong dan dia percaya kepada gadis Tibet itu yang dia tahu tentu puteri seorang wanita Tibet yang dulu menjadi korban keganasan Ang-hong-cu pula, seperti ibu Hay Hay. Maka tanpa ragu-ragu lagi dia pun membebaskan totokannya dan Mayang dapat menggerakkan kaki tangannya. Gadis Tibet itu bangkit duduk, mengurut-urut kaki tangannya sambil memandang kepada Kui Hong.

"Enci, engkau mengenal kakakku?"

"Tang Hay? Tentu saja aku mengenalnya."

"Enci, siapakah namamu? Bagaimana pula engkau sampai dapat tertawan oleh mereka? Ceritakanlah tentang semua ini…”

"Nanti dulu, Mayang. Namamu Mayang, bukan? Nah, adik Mayang, sebelum aku mulai bercerita lebih baik engkau lebih dahulu menceritakan pengalamanmu bersama Hay Hay supaya aku bisa mengerti duduknya perkara dan dapat menentukan langkah selanjutnya. Sekarang kita berada dalam kekuasaan persekutuan yang amat berbahaya dan kuat, adik Mayang. Nah, kau ceritakan semuanya, juga hal yang amat mengherankan bahwa engkau tidak tahu akan kenyataan bahwa ketua Ho-han-pang adalah Han Lojin atau Tang Bun An atau Ang-hong-cu, yaitu ayah kandungmu sendiri!"

Rasa kaku pada kaki dan tangan Mayang sudah lenyap setelah dia mengurutnya, dan kini mereka duduk saling berhadapan di tepi pembaringan.

"Baiklah, Enci. Memang sudah sepatutnya kalau engkau merasa curiga dan berhati-hati, dan maafkan semua kelancanganku tadi. Aku bertemu dengan kakakku Tang Hay ketika dia berada di Tibet bersama pendekar Pek Han Siong. Apakah engkau juga kenal dengan pendekar itu?"

Kui Hong mengangguk. Ia mengenal Pek Han Siong. Ada persamaan antara Hay Hay dan Han Siong. Keduanya mempunyai ilmu kepandaian tinggi, bahkan keduanya juga memiliki ilmu sihir yang hebat.

"Lanjutkan ceritamu," katanya.

"Sesudah saling berjumpa, secara kebetulan kami saling melihat mainan yang tergantung di leher kami dan tahulah kami bahwa kami adalah kakak beradik. Ayah kami adalah Ang-hong-cu." Mayang tidak mau menceritakan bahwa dia sudah dinikahkan dengan Hay Hay, karena hal itu merupakan rahasia pribadinya, merupakan hal yang dapat mendatangkan aib. Menikah dengan kakak sendiri!

"Dan ibumu?"

"Ibuku bernama Souli, seorang wanita Tibet yang pernah tergila-gila kepada laki-laki yang oleh ibu disebut Tang Taihiap. Akan tetapi sesudah ibuku mengandung, Tang Taihiap itu meninggalkannya dan tidak pernah kembali, hanya meninggalkan benda ini kepada ibu."

"Hemm, memang itulah sifat khas Ang-hong-cu," kata Kui Hong gemas.

"Sesudah mendengar dari kakakku, Tang Hay tentang ayah kandungku, aku lalu ikut Hay-ko untuk mencari ayah, mencari Ang-hong-cu, bukan untuk berbaik-baik antara anak dan ayahnya, melainkan untuk minta pertanggungan jawab Ang-hong-cu yang menurut Hay-ko telah melakukan banyak kejahatan. Nah, kami berdua pergi ke kota raja karena Hay-ko bilang bahwa dia mendengar di kota raja ada seorang perwira she Tang yang mengaku sebagai putera Ang-hong-cu. Pada waktu kami melakukan penyelidikan, kami mendengar bahwa yang ada seorang perwira she Tang yang telah setengah tua, bukan perwira Tang muda. Ketika kemarin pagi Hay-koko pergi melakukan penyelidikan, datang seorang yang mengabarkan bahwa Hay-ko memanggilku. Aku dipancing dan dijebak, lalu aku dikeroyok sehingga akhirnya aku tertawan. Ternyata Ho-han-pang mempunyai banyak orang pandai, terutama dua orang pemuda yang menawanku itu."

Kui Hong mengangguk-angguk. Dia sudah tahu dan dia juga tahu bahwa mereka adalah Sim Ki Liong dan Tang Cun Sek, juga ada Ji Sun Bi. Bahkan baru sekarang diketahuinya pula hal yang mengejutkan hatinya, yaitu bahwa Tang Cun Sek adalah putera Ang-hong-cu pula! Putera Ang-hong-cu yang satu ini pernah menyelundup ke Cin-ling-pai dan telah mempelajari ilmu-ilmu Cin-ling-pai, bahkan melarikan pedang pusaka Hong-cu-kiam dari Cin-ling-pai.

Tiba-tiba dia tersentak kaget, teringat betapa ketika mengeroyoknya, Tang Cun Sek tidak memegang Hong-cu-kiam, dan Sim Ki Liong juga tidak memegang Gin-hwa-kiam! Apakah hal itu sengaja mereka lakukan karena mereka menyamar dengan memakai kedok tipis, tidak mau mengeluarkan pedang-pedang pusaka itu agar dia tidak mengenal mereka?

"Lanjutkan ceritamu, Mayang."

"Aku ditawan di sini dan aku menantang Ho-han Pangcu di kamar ini. Ia membebaskanku kemudian kami berkelahi. Akan tetapi dia amat lihai, dia berhasil merobek bajuku dan dia melihat benda mainan ini!"

"Hemm, jadi dia tahu pula bahwa engkau puterinya?"

“Agaknya demikianlah, walau pun dia tidak membuat pengakuan. Buktinya dia mengenal nama ibuku, Souli, dan dia mengenal pula subo-ku."

"Siapakah subo-mu?"

"Kim-mo Sian-kouw."

"Hemm, lalu apa yang dilakukan terhadap dirimu?"

"Dia tidak mengaku siapa dirinya, hanya mengatakan bahwa aku ditahan di sini dan baru akan dibebaskan bila Hay-ko mau menyerah dan mau membantu Ho-han-pang. Aku pun menanti saja di sini, diberi makan minum dan semua keperluan dicukupi, bahkan pakaian lengkap tersedia di sini. Mereka tidak pernah menggangguku, tetapi hatiku selalu khawatir akan nasib Hay-ko sampai engkau masuk tadi, Enci. Tetapi sekarang hatiku lebih tenang, sesudah mengetahui bahwa engkau juga musuh mereka dan agaknya engkau lihai. Kita dapat bekerja sama melawan mereka, enci!"

Hati Kui Hong juga merasa lega. Gadis ini tentu mempunyai ilmu kepandaian yang cukup baik, sebab bila tidak demikian, tidak nanti Hay Hay mengajaknya mencari Ang-hong-cu. Dia sendiri belum pernah mendengar nama gadis ini atau ibunya, akan tetapi dia pernah mendengar nama guru gadis ini, Kim-mo Sian-kouw. Neneknya pernah bercerita bahwa di daerah Tibet selain terdapat banyak pendeta Lama yang sakti juga terdapat seorang tokoh wanita yang memiliki ilmu kepandaian tinggi dan berjuluk Kim-mo Sian-kouw.

"Tentu saja, adikku. Ketahuilah, namaku Cia Kui Hong…..”

"Wah, kiranya engkau ini enci Kui Hong!" Mayang berseru dengan gembira sekali.

Kui Hong memandang kepada Mayang dengan alis berkerut. "Engkau sudah mengetahui namaku?"

"Tentu saja! Engkau merupakan sahabat terbaik dari kakakku, bagaimana aku tidak tahu? Hay-ko banyak bercerita tentang dirimu, kata Hay-ko engkaulah sahabatnya yang paling dikaguminya dan yang paling baik."

"Ahh? Dia berkata demikian?" Wajah Kui Hong seketika berubah merah sekali sampai ke leher dan telinganya dan hal ini tidak dilewatkan oleh pandangan mata Mayang. "Apa lagi yang dikatakannya tentang diriku?"

Mayang kemudian mengingat-ingat. Atas pertanyaan dan desakannya, memang Hay Hay banyak bercerita tentang pengalamannya yang lampau dan tentang para pendekar wanita yang pernah ditemuinya, juga yang pernah bekerja sama dengannya dalam menghadapi tokoh-tokoh sesat.

"Dia bilang bahwa Enci merupakan seorang pendekar wanita yang cantik jelita dan manis budi, juga berkepandaian tinggi sekali…"

“Ihhh! Engkau perayu seperti kakakmu!" kata Kui Hong tertawa.

"Tidak, Enci. Dia bukan memuji kosong sebagai rayuan. Memang engkau cantik jelita dan manis budi, dan tentu kepandaianmu tinggi sekali…"

"Sudah, cukuplah. Lanjutkan ceritamu, adik Mayang," kata Kui Hong, akan tetapi bibirnya tersenyum manis dan hatinya terasa girang bukan main. Hay Hay masih ingat kepadanya! Bukan hanya ingat, akan tetapi bahkan memuji-mujinya!

"Hay-koko mengatakan bahwa Enci adalah puteri ketua Cin-ling-pai yang terkenal sebagai perkumpulan para pendekar yang gagah perkasa, juga Enci adalah cucu Pendekar Sadis yang namanya menggemparkan dunia persilatan!"

"Cukup tentang diriku. Ceritakan bagaimana engkau sampai terjebak di sini dan kakakmu itu belum juga datang menolongmu."

Wajah Mayang kelihatan berduka. "Entahlah, enci Hong. Aku tidak tahu di mana adanya kakakku, tetapi aku khawatir sekali kalau sampai dia pun terperangkap oleh jahanam..."

“Dia ayah kandungmu!"

"Tidak peduli! Dia jahat! Dia telah meninggalkan ibu ketika ibu mengandung, membuat ibu menderita hebat. Dan sekarang dia malah menawanku, menghinaku! Enci Hong, engkau yang seharusnya melanjutkan ceritamu tadi, tentang Ang-hong-cu, tentang kedatanganmu ke sini, tentang segalanya!"

Kui Hong teringat dan tersenyum. Tadi ceritanya terhenti karena dia tenggelam ke dalam kegembiraan mendengar Hay Hay memuji-mujinya dan masih ingat kepadanya.

"Aku mengenal Han Lojin sebagai Ang-hong-cu beberapa waktu yang lalu pada saat para pendekar membantu pemerintah membasmi pemberontakan yang dipimpin oleh Lam-hai Giam-lo. Han Lojin muncul dan dia pun membantu pemerintah. Di sanalah dia melakukan perbuatan-pebuatan jahat, memperkosa beberapa orang wanita dan di sana terdapat pula kakakmu Hay Hay. Ketika itulah kakakmu, aku dan yang lain-lainnya, mengetahui bahwa Han Lojin adalah Ang-hongcu, akan tetapi dia melarikan diri. Ketika aku tiba di kota raja, kebetulan aku bertemu dengan Tang Bun An yang menjadi perwira di istana, lantas aku mengetahui rahasianya, bahkan dialah Han Lojin dan juga Ang-hong-cu. Namun dengan liciknya dia menjebakku sehingga aku tertawan olehnya. Dan di situ aku melakukan suatu kebodohan yang membuat aku sangat menyesal. Aku telah berjanji takkan memusuhinya dan tak akan membuka rahasianya. Sebagai imbalannya dia membebaskan aku. Padahal sesungguhnya dia takut kepadaku, takut kepada Cin-ling-pai, takut pula kepada kakekku Pendekar Sadis. Sesudah bebas aku merasa sangat menyesal, merasa bahwa aku telah menjadi pelindungnya, menjadi sekutunya. Karena itu aku lalu datang menantangnya dan maklum bahwa dia tentu akan mempergunakan anak buahnya untuk mengeroyokku. Nah, kemudian aku dikeroyok dan ditawan, lalu dimasukkan ke sini."

Mayang memandang heran. "Enci Hong! Engkau telah bebas akan tetapi engkau sengaja membiarkan dirimu ditangkap dan terancam maut?"

Kui Hong tersenyum, kemudian mengangguk. "Bukan hanya ancaman maut, malah lebih mengerikan lagi. Mungkin aku akan disiksa, dihina, lalu dibunuh. Akan tetapi bagiku lebih baik mati dalam menentang kejahatan dari pada hidup menjadi sekutu orang jahat!"

"Hebat! Engkau hebat, enci Hong. Memang pantas sekali kalau kakakku kagum padamu. Engkau seorang pendekar wanita yang hebat! Akan tetapi jangan khawatir, Enci. Kini kita bersatu. Kita berdua dapat melawan mereka! Dan masih ada kakakku pula, dia pasti akan menolong kita. Ia mempunyai sebuah hadiah untukmu, hal itu pernah dia katakan sendiri kepadaku."

"Hadiah? Untukku? Hadiah apakah itu, Mayang?"

"Sebatang pedang pusaka, Enci."

"Pedang pusaka? Aku sudah memiliki Hok-mo Siangkiam... ahh, tetapi si keparat itu telah menyitanya!" katanya dengan wajah menyesal sekali.

"Jangan khawatir, Enci. Pedang pusaka itu hebat, aku telah melihatnya, dan kata Hay-ko, pedang itu memang milikmu, milik Cin-ling-pai. Namanya Hong-cu-kiam."

"Hong-cu-kiam?"

Sepasang mata yang tajam itu terbelalak. Pedang pusaka itu dilarikan Tang Cun Sek dan kini telah berada di tangan Hay Hay? Pantas saja Cun Sek tidak mempergunakan pedang pusaka itu. Dan bagaimana dengan Gin-hwa-kiam yang tadinya dilarikan Ki Liong?

"Ah, memang benar itu pusaka Cin-ling-pai yang dilarikan orang. Dan... barangkali engkau tahu tentang pedang pusaka Gin-hwa-kiam?”

"Gin-hwa-kiam? Bukankah itu pedang pusaka yang kulihat dipergunakan oleh pendekar Pek Han Siong?"

"Sudah berada di tangan Pek Han Siong? Bagus!" Kui Hong girang bukan main. Kiranya Hay Hay dan Han Siong sudah dapat merampas kembali kedua pedang pusaka itu! "Gin-hwa-kiam adalah pedang Pulau Teratai Merah yang juga dilarikan orang. Aihh…, adikku, engkau menceritakan berita yang sangat menggembirakan. Sekarang marilah kita periksa tempat ini, kalau-kalau ada jalan untuk melarikan diri dari sini."

"Coba periksalah, Enci. Aku sudah lelah memeriksa namun tidak dapat menemukan jalan keluar. Ruangan ini adalah ruangan di bawah tanah dan jalan satu-satunya adalah pintu itu, tetapi pintu itu terbuat dari besi yang tebal dan kokoh kuat. Membukanya pun dengan alat rahasia. Sedangkan lubang angin dan sinar di atas itu, selain terlalu tinggi juga diberi terali besi yang kokoh pula."

Tetapi Kui Hong merasa tidak puas kalau belum memeriksa sendiri. Dia lalu mengadakan pemeriksaan dengan sangat teliti. Namun ternyata benar seperti yang dikatakan Mayang tadi. Tempat itu sangat rapat dan tidak ada jalan keluar kecuali melalui pintu yang amat kokoh itu. Satu-satunya jalan hanyalah menanti sampai ada yang membuka pintu itu lalu menerjang keluar.....!


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner