PENDEKAR SUPER SAKTI : JILID-02


“Lian-ji (Anak Lian), mengapa kau tidak ikut latihan ginkang (ilmu meringankan tubuh) dengan para Pamanmu?” Suara dalam pertanyaan ini halus dan penuh kasih sayang, namun mengandung teguran.

“Aku pergi ke hutan, Ayah. Bunga mawar sedang bersemi, indah sekali.”

“Hemmm, ada waktunya berlatih, ada pula waktunya bersenang. Jangan campur aduk. Coba kau perlihatkan latihanmu!”

Anak perempuan itu tertawa dengan sikap manja, lalu melepaskan ayahnya dan menghampiri tepi kolam. Yang berlatih telah mendarat. Mereka semua kelihatan gembira memandang ke arah gadis cilik itu, dan jelas tampak betapa mereka semua menyayang anak yang bernama Sin Lian ini. Bahkan kini tidak ada lagi yang berlatih, memberi kesempatan kepada anak itu untuk berlatih seorang diri sehingga tidak mengganggu.

“Heiiittttt...!” Anak itu mengeluarkan seruan keras dan nyaring. Tubuhnya lalu meloncat ke tengah kolam, melambung agak tinggi kemudian di udara ia berjungkir-balik sampai dua kali, baru tubuhnya turun dan kakinya hinggap di atas sebuah teratai kayu.

Indah bukan main loncatan tadi dan terdengar seruan-seruan, “Bagus...!”

Han Han melongo. Apa yang disaksikannya itu terlalu aneh dan indah. Kagum ia melihat betapa anak perempuan itu kini berdiri di atas teratai kayu yang bergerak-gerak timbul tenggelam dan bergoyang-goyang. Namun tubuh anak itu sedikit pun tidak bergoyang, bahkan terdengar lagi seruannya.

“Heeiiittitt!” dan tubuhnya sudah mencelat ke atas lagi, lalu hinggap di atas teratai kayu yang lainnya.

Demikianlah, bagaikan seekor katak, anak itu berloncatan dari satu teratai ke lain teratai, makin lama makin cepat sehingga seakan-akan ia terbang di permukaan air. Hanya benda-benda berbentuk teratai itu saja yang bergerak-gerak timbul tenggelam dan bergoyang-goyang. Seruan-seruan menjerit nyaring itu terdengar susul-menyusul dan akhirnya tubuh anak itu mumbul ke atas dan berjungkir-balik membuat pok-sai (salto) sampai tiga kali dan ketika turun ia melayang ke dekat kakek tadi.

Tepuk tangan memuji dari para penonton membuat wajah anak perempuan itu makin berseri. Wajahnya menjadi merah dan napasnya terengah-engah karena tadi dia telah mengerahkan banyak tenaga. Kakek yang menjadi ayahnya mengangkat muka dan terhentilah semua tepuk tangan.

“Masih jauh dari pada sempurna, Lian-ji. Teratai-teratai itu masih bergoyang terlalu keras. Lihat baik-baik, juga kalian semua!”

Tiba-tiba tubuh kakek itu melayang seperti sehelai daun kering ke tengah kolam, hinggap di atas teratai, lalu meloncat ke lain teratai, terus-menerus dan cepat sekali. Tidak lebih indah dari pada permainan Sin Lian tadi, akan tetapi hebatnya, teratai-teratai yang diinjaknya itu sama sekali tidak bergoyang, seolah-olah hanya kejatuhan sehelai daun kering saja!

Kakek itu kemudian mendarat kembali dan berkata, “Untuk dapat menginjak teratai kayu tanpa menggerakkannya, membutuhkan latihan sedikitnya lima tahun dengan tekun. Apa lagi dapat meloncat dan hinggap di atas bunga teratai asli, membutuhkan bakat dan latihan yang amat mendalam.”

Setelah berkata demikian, kakek itu menggandeng tangan Sin Lian, menggapai ke arah Han Han dan mengajak mereka memasuki sebuah pondok bambu sederhana di sebelah kiri pondok kelenteng. Juga pondok sederhana ini dihias dengan lukisan-lukisan dan ukir-ukiran teratai putih.

“Bocah ini siapakah, Ayah?” Sin Lian bertanya ketika kakek itu mengajak mereka duduk di atas bangku.

“Namanya Han Han. Siapakah she-mu (nama keturunan), Han Han?”

“Aku she Sie bernama Han, biasa disebut Han Han,” jawab anak itu. “Locianpwe ini siapakah? Apakah ketua dari Pek-lian Kai-pang?”

Kakek itu memandang kepadanya dengan mata terbelalak. “Engkau tahu bahwa di sini sarang Pek-lian Kai-pang? Dari mana kau mengenal nama Pek-lian Kai-pang?”

Han Han teringat bahwa ucapannya tadi membuka rahasianya bahwa ia pandai membaca. Memang tidak patut bagi seorang yang keadaannya seperti pengemis macam dia ini pandai membaca. Maka cepat-cepat ia berkata, “Aku hanya mengira-ngira saja, locianpwe. Kulihat di sini semua berpakaian rombeng, tentu merupakan sebuah kai-pang. ada pun tentang namanya, di sini kulihat banyak sekali hiasan-hiasan berupa teratai putih, maka tentu saja aku menduga bahwa nama kai-pang di sini tentulah Pek-lian Kai-pang.”

Kakek itu mengangguk-angguk. “Nah, kau dengar sendiri, Sin Lian. Betapa cerdiknya anak ini. Dia ini adalah calon muridku, dan agaknya dialah yang boleh diharapkan kelak untuk...”

“Aku tidak ingin menjadi murid locianpwe!” Han Han memotong cepat-cepat dengan suara nyaring.

“Wah, bocah sombong engkau!” Sin Lian mendamprat. “Kau tidak mau menjadi murid Ayah, sedangkan seluruh bocah di dunia ini mengilar untuk menjadi muridnya. Kau tidak tahu siapa Ayah? Ayah adalah Lauw-pangcu (Ketua Lauw) yang tersohor di seluruh wilayah Sungai Huang-ho! Apakah engkau lebih suka menjadi jembel busuk yang tiada artinya, mengandalkan hidup dari sisa makanan?”

Merah wajah Han Han. Matanya melotot memandang anak perempuan itu. Ia merasa terhina sekali. “Aku bukan pengemis! Dan aku tidak suka menjadi murid pengemis! Aku tidak mau menjadi anggota kai-pang!”

“Lagaknya! Engkau pengemis!”

“Bukan!”

“Pengemis!”

“Bukan!”

“Pengemis! Pakaianmu tambal-tambalan, kalau bukan pengemis, apakah kau ini Pangeran?”

“Bukan! Aku bukan pengemis, biar pakaianku tambal-tambalan aku tidak pernah mengemis! Tidak seperti engkau, biar pakaianmu baik tapi...”

“Kau kurang ajar! Beranikah kau kepadaku?”

“Mengapa tidak berani? Kalau aku benar, biar terhadap kaisar sekali pun aku berani!”

“Phuhhh! Kalau berani hayo kita berkelahi!”

“Aku bukan tukang berkelahi, bukan tukang pukul, tapi aku tidak takut kepadamu.”

“Hayo pukul aku kalau berani!”

“Aku bukan tukang pukul!”

“Kalau kupukul, kau berani membalas?”

“Tentu saja!”

“Plakkk...!”

Pipi Han Han sudah kena ditampar oleh Sin Lian sampai Han Han terpelanting dari bangkunya. Ia bangkit dan timbul kemarahannya, akan tetapi Han Han sudah membaca kitab tentang sifat seorang gagah, tentu saja ia malu kalau harus bergelut dengan seorang anak perempuan.

“Tidak sakit!” katanya sambil meraba pipinya yang menjadi merah.

“Balaslah!”

“Membalas anak perempuan? Untuk apa, memalukan saja. Pukulanmu seperti tahu, tidak terasa sama sekali.”

“Sombong kau!” Sin Lian marah sekali, menerjang maju dan gerakannya cepat bukan main.

“Dukkk... plenggggg...!”

Han Han terjengkang roboh. Perutnya menjadi mulas kena ditendang tadi dan kepalanya pening oleh tempilingan yang cukup keras. Gerakan kaki tangan bocah itu luar biasa cepatnya sehingga Han Han tidak tahu bagai mana caranya bocah itu menendang dan memukul. Rasa nyeri membuat lantai seperti berputar. Ia marah dan kini ia melompat bangun.

“Kau... perempuan keji!” katanya lalu ia menerjang maju, hendak menampar.

Namun tamparannya mengenai angin belaka dan sebelum ia sempat melihat, kembali tangan kiri gadis cilik itu mampir di pipinya, menimbulkan suara nyaring dan terasa amat panas dan pedas. Tonjokan kepalan kanan yang kecil namun terlatih menyusul, mengenai lehernya, membuat Han Han terhuyung-huyung ke belakang. Tiba-tiba sebuah kaki yang kecil menyapu kedua kakinya. Tanpa ampun lagi tubuh Han Han kembali terpelanting, terbanting pada lantai di mana ia hanya duduk sambil memegangi kepalanya yang puyeng seketika.

“Cukup, Lian-ji.” Terdengar kakek itu berkata, suaranya tenang dan halus.

Kakek ini tadi diam saja melihat puterinya menghajar Han Han, karena memang hal ini ia sengaja, untuk ‘membakar’ hati Han Han dan menimbulkan semangat jantannya. Dia menduga bahwa setelah mengalami hajaran tentu bocah itu akan merasa terhina dan sadar betapa perlunya mempelajari ilmu untuk memperkuat diri sehingga kelak tidak akan terhina orang lagi. Ia maju dan mengangkat bangun Han Han, disuruhnya duduk lagi di bangku.

Han Han masih pening. Ketika ia memandang bocah perempuan itu, wajah yang manis namun menggemaskan hatinya saat itu kelihatan menjadi dua. Memandang benda lain juga kelihatan dua! Maka ia meramkan mata sejenak sampai peningnya hilang, baru ia membuka matanya memandang kakek itu dengan mata penasaran

“Nah, bagai mana pendapatmu sekarang? Kalau kau menjadi muridku, tidak mungkin kau akan mudah dihajar orang lain begitu saja.”

Akan tetapi jawaban Han Han sungguh di luar dugaan Lauw-pangcu. Anak ini mengangkat muka dan dadanya, lalu berkata, “Aku tetap tidak mau belajar berkelahi! Apa sih gagahnya mengalahkan lain orang? Mengalahkan diri sendiri baru patut disebut gagah perkasa!” Dalam kemarahannya, tanpa disadarinya lagi Han Han mengucapkan ujar-ujar dari kitab.

Kembali kakek itu tercengang. “Aihhh! Dari mana kamu mengetahui filsafat itu?”

“Filsafat apa? Itu pendapatku sendiri. Mengalahkan dan memukul orang paling-paling bisa disebut sewenang-wenang, mengandalkan kepandaian dan menjadi tukang pukul!”

“Dan mengalahkan diri sendiri? Apa yang kau maksudkan?” Kakek itu memancing.

Han Han cerdik, ia pandai menutupi rahasianya, maka setelah otaknya bekerja, ia berkata, “Tidak tunduk kepada kemarahan sehingga tidak memukul orang, tidak merugikan orang lain karena kepingin, tidak melakukan pekerjaan hina biar pun perut lapar, mengalahkan diri sendiri.” Dengan ucapan ini ia telah menyindir orang yang telah memukulnya, dan menyindir pekerjaan mengemis yang dianggapnya hina.

“Bocah bermulut lancang! Ayah, biar kuhajar lagi dia sampai setengah mampus!”

Lauw-pangcu menggeleng kepala. “Biarkan dia pergi.”

Han Han memang telah berdiri dan melangkah pergi dari tempat itu. Ia keluar dari pintu gerbang tanpa ada yang mengganggunya, kemudian dia berlari cepat untuk segera meninggalkan tempat itu. Ia teringat bahwa tadi ia dibawa ke timur, akan tetapi ia tidak ingin kembali ke barat. Tidak ingin kembali ke kota Tiong-kwan karena takut kalau-kalau bertemu dengan kakek itu lagi kelak dan menimbulkan hal-hal yang amat tidak enak. Sekarang saja ia sudah babak-belur, perutnya masih mulas, kepalanya masih berdenyut-denyut. Sambil berlari ia teringat akan Sin Lian dan diam-diam ia mengomel.

“Bocah perempuan yang keji dan galak!”

Han Han berjalan terus ke timur menyusuri Sungai Huang-ho. Setelah malam tiba, ia mengaso di pinggir sebuah hutan dan mengisi perutnya yang lapar dengan telur-telur burung yang ia temukan di jalan. Juga ada beberapa macam buah-buah yang dapat dimakan sehingga malam itu ia dapat tertidur nyenyak di pinggir hutan.

Pada keesokan harinya, ia melanjutkan perjalanan. Dari jauh tampak sebuah dusun. Uang bekal dan makanan sudah habis, ia harus mencari pekerjaan di dusun itu sekedar dapat makan. Di mana pun juga pasti ada pekerjaan. Biar pun di dusun, para petani membutuhkan tenaga bantuan dan tentu ada orang-orang kaya yang membutuhkan tenaga pula. Asal rajin dan mau bekerja, tak mungkin orang sampai kelaparan. Tidak seperti pengemis-pengemis itu, hanya bermalas-malasan, ingin makan enak tanpa bekerja, biar pun hanya makanan sisa. Menjijikkan! Alangkah hinanya! Tentu saja ia tidak sudi menjadi pengemis, biar pun diberi pelajaran ilmu memukul orang! Apa lagi selalu berdekatan dengan bocah perempuan yang ganas itu. Ia bergidik kalau teringat akan Sin Lian, sungguh pun harus ia akui bahwa wajah bocah itu manis sekali.

Ketika Han Han berjalan sambil termenung sampai di pintu gerbang dusun itu, tiba-tiba terdengar derap kaki kuda dari depan. Han Han mengangkat muka dan memandang. Seorang anak laki-laki sebaya dengan dia, berpakaian indah dan berwajah tampan menunggang seekor kuda yang besar dan membalapkan kuda itu keluar dari dusun. Han Han cepat minggir, akan tetapi sambil tertawa-tawa anak laki-laki itu sengaja menyerempetkan kudanya sehingga Han Han yang sudah berusaha melompat masih terlanggar dan jatuh terguling. Beberapa orang dusun melihat hal ini berseru tertahan, agaknya mereka takut untuk mengeluarkan seruan keras.

“Bocah sombong, apakah kau sudah gila?” Han Han berteriak marah sambil merangkak bangun.

Kuda itu dihentikan dan diputar. Anak laki-laki yang duduk di atasnya kini tidak tertawa lagi, melainkan memandang Han Han dengan wajah bengis. Setelah kuda-nya tiba di depan Han Han, ia lalu melompat turun, gerakannya tangkas sekali, lalu menghadapi Han Han sambil menudingkan telunjuknya. “Jembel busuk! Berani engkau memaki aku?”

“Setan kepala angin! Mengapa tidak berani? Yang kumaki bukan orangnya, melainkan perbuatannya. Biar kau kaisar sekali pun, kalau perbuatannya tidak benar, tentu akan dimaki orang!” Han Han membantah berani.

Anak itu usianya antara sebelas tahun, kini mendengar ucapan seperti itu keluar dari mulut seorang anak jembel, ia menjadi terheran-heran sehingga lupa kemarahannya. “Engkau siapakah berani berkata seperti itu?”

“Aku Han Han dan siapa takut mengeluarkan kata-kata benar?”

“Wah-wah, agaknya sudah miring otakmu. Tidak tahukah engkau bahwa aku adalah Ouwyang-kongcu (Tuan Muda Ouwyang)? Orang sekitar daerah ini tidak ada yang berani kepadaku. Apa lagi jembel macam kamu! Hayo bertutut dan mohon ampun!” Bentakan ini mengandung suara marah.

Seorang di antara para penduduk dusun yang mulai datang berkerumun segera mendekati Han Han dan berkata, “Kau agaknya bukan anak sini. Lebih baik lekas bertutut mohon ampun kepada Kongcu.”

Mendengar ini Han Han makin marah. Ia berdiri dengan kedua kaki terpentang, kedua tangan bertolak pinggang, lalu berkata, “Apa perlunya minta ampun? Orang bersalah sekali pun tidak perlu minta ampun dan harus berani menerima hukumannya! Apa lagi orang tidak bersalah!”

Ucapan ini rupa-rupanya merupakan pendapat yang baru sama sekali dan mengherankan semua orang. Bahkan pemuda tampan itu sendiri terheran dan berkurang kemarahannya, lalu mengomel.

“Tidak salah katamu? Kau berdiri di jalan, menghalang kudaku!”

“Bukan aku yang menghalang, tapi kau yang menabrak! Berani berbuat tidak berani mengaku, laki-laki macam apa kau?”

“Berani kau? Apa sudah bosan hidup?” bentak anak yang disebut tuan muda Ouwyang itu.

Setelah berkata demikian, ia menerjang maju. Han Han berusaha melawan, namun ternyata Ouwyang-kongcu ini tangkas dan kuat sekali. Begitu menerjang, Han Han telah kena digampar kepalanya dan ditonjok dadanya. Han Han terjengkang, napasnya sesak. Sebuah tendangan mengenai lehernya dan dunia menjadi hitam bagi Han Han.

“Jembel busuk bosan hidup! Kau belum mengenal kelihaian Kongcu-mu, ya?” Suara Ouwyang-kongcu ini terdengar sayup-sayup oleh Han Han, dan pemuda tampan itu mengeluarkan sehelai tambang dari saku pelana kudanya. Diikatnya kaki kiri Han Han, kemudian ia memegangi ujung tali itu dan melompat naik ke atas kudanya. Ketika kudanya dilarikan, tubuh Han Han tentu saja terseret di atas tanah!

Orang-orang yang berada di situ hanya memandang dengan mata terbelalak, tidak ada seorang pun berani membela Han Han. Mereka hanya saling pandang dan menggeleng-geleng kepala dengan hati kasihan kepada anak jembel yang amat pemberani itu.

Han Han memiliki kenekatan dan nyali yang luar biasa sekali. Juga tubuhnya memiliki daya tahan mengagumkan. Hal ini telah dilihat oleh mata yang awas dari Lauw-pangcu ketua Pek-lian Kai-pang sehingga kakek itu merasa tertarik dan ingin mengambilnya sebagai murid.

Biar pun ia tadi telah dipukul hebat dan kini tubuhnya diseret seperti itu, ia masih tidak merasa takut. Bahkan ia marah sekali. Tidak dipedulikan punggung dan pinggulnya lecet-lecet, pakaiannya yang sudah penuh tambalan itu makin buruk karena compang-camping. Ia tidak mengeluh, tidak pula minta ampun, bahkan ia yang terseret itu berusaha mengangkat tubuh atasnya dan menudingkan telunjuknya ke depan, ke arah Ouwyang-kongcu sambil memaki-maki.

“Bocah kejam melebihi iblis! Kelakuanmu ini akan menyeretmu ke lembah kecelakaan!”

Pada saat itu, dari arah kanan berkelebat sinar putih. Ternyata itu adalah sebatang piauw (pisau sambit) yang disambitkan oleh seorang gadis cilik. Piauw itu tepat sekali mengenal tambang yang menyeret Han Han sehingga putus seketika dan Han Han terbebas, tidak terseret lagi.


Sambil duduk dan berusaha membuka ikatan kakinya, Han Han memandang dengan mata terbelalak ketika mengenal bahwa anak perempuan itu bukan lain adalah... Sin Lian! Han Han mengeluh. Dia ditolong dari tangan seorang anak laki-laki kejam oleh seorang anak wanita ganas! Kedua orang anak itu setali tiga uang, sama-sama ganas dan kejam, tiada yang dipilih!

Sin Lian sudah meloncat turun dari atas batu di mana ia tadi berdiri dan menyambitkan piauw-nya. Sikapnya garang sekali ketika ia memandang Ouwyang-kongcu dan telunjuknya yang kecil runcing itu menuding ke arah Ouwyang-kongcu sambil memaki.

“Setan alas kau! Monyet pengecut kau! Beraninya hanya menyiksa bocah jembel yang tidak bisa silat! Hayo lawan aku kalau berani, kalau minta remuk tulang-tulangmu!” Sin Lian memasang kuda-kuda menantang.

Ouwyang-kongcu ini adalah putera seorang bangsawan tinggi, yaitu Pangeran Ouwyang Cin Kok. Dia putera pangeran, tentu saja selain kaya raya juga angkuh dan sudah biasa menerima penghormatan di mana-mana. Namanya adalah Ouwyang Seng dan pada waktu itu ia sedang menerima pendidikan ilmu silat dari gurunya, seorang tokoh yang memiliki kepandaian tinggi dan sakti.

Sebagai putera pangeran, tentu saja dalam perguruannya tersedia segala perlengkapan untuk kebutuhannya setiap hari, sampai-sampai tersedia seekor kuda untuknya. Dan ia pun belajar sambil main-main, kadang-kadang menunggang kuda pergi ke dusun-dusun dan ke mana pun juga ia pergi, anak nakal ini tentu disambut penduduk dusun dengan ramah dan hormat, sungguh pun di dalam hati mereka ini membencinya karena kenakalannya suka menggoda orang. Kini dimaki-maki seperti itu, Ouwyang Seng marah sekali lalu meloncat turun dari atas kudanya.

“Eh, kau bocah dusun! Berani kau memaki Kongcu-mu? Kau pun sudah bosan hidup agaknya!” Sambil berkata demikian Ouwyang Seng lalu menggunakan sisa tambang yang berada di tangannya, yang panjangnya ada dua meter lebih untuk menyerang.

Serangannya hebat, cepat dan keras sekali sehingga mengejutkan Sin Lian yang cepat melompat dan mengelak. Dari gerakan serangan itu Sin Lian dapat menduga bahwa anak nakal ini pandai silat. Memang dugaannya tidak keliru. Ouwyang Seng diasuh oleh seorang guru yang amat pandai sehingga biar pun cara ia belajar kurang tekun, namun jarang ada anak sebaya dengannya yang mampu melawannya, biar pun anak itu pandai silat sekali pun.

Sebaliknya, melihat betapa anak perempuan yang tadinya hendak ia rangket karena telah berani memakinya itu dapat mengelak demikian cepat, Ouwyang Seng menjadi penasaran dan menerjang lebih gencar lagi. Sin Lian tidak diberi kesempatan membalas serangan-serangannya karena tambang itu menyerang terus-menerus, membuat ia harus menggunakan ginkang dan berloncatan ke sana ke mari.

“Monyet cilik! Monyet curang! Jangan pakai tambang kalau berani!” Sin Lian memaki kalang-kabut karena ia benar-benar terdesak dan tidak sempat membalas sama sekali, bahkan pahanya telah kena dipecut satu kali sehingga terasa pedas dan panas.

Ouwyang Seng tertawa bergelak. Ia kini tahu bahwa biar pun memiliki kegesitan luar biasa, anak perempuan ini masih bukan merupakan lawan berat baginya. Maka ia lalu membuang tambang itu dan berkata, “Majulah kalau ingin merasakan kaki dan tangan yang sakti!”

Melihat pemuda cilik itu sudah membuang tambangnya, Sin Lian menjadi girang dan cepat ia menerjang maju dengan kaki tangannya yang gesit. Namun dengan mudah Ouwyang Seng menangkis sambil mengerahkan tenaga, membuat Sin Lian meringis kesakitan. Ouwyang Seng tertawa lagi, lalu mendesak dengan pukulan aneh. Sin Lian berseru kaget, terhuyung mundur dan tiba-tiba lututnya kena ditendang Ouwyang Seng sehingga ia roboh terguling.

Tiba-tiba terdengar bentakan nyaring dan tahu-tahu Han Han telah melompat dan menubruk Ouwyang Seng dari belakang. Mulutnya mencela, “Laki-laki apa, menerjang perempuan!” Kedua lengannya merangkul leher dengan sekuat tenaga, kedua kakinya mengait pinggang!

Ouwyang Seng terkejut, meronta-ronta. Akan tetapi biar pun tidak pandai silat, Han Han pada dasarnya memang memiliki tenaga besar. Apa lagi ia mempunyai kelebihan, yaitu nyali dan kenekatan. Biar pun Ouwyang Seng mengobat-abitkannya, ia tetap tidak mau melepaskan rangkulan lengan dan kempitan kakinya, seperti seekor lintah yang kelaparan menempel pada daging gemuk.

“Lepaskan...! Lepaskan, kau jembel busuk... lepaskan...!” Akan tetapi Han Han tidak mau melepaskannya, bahkan menggunakan tangannya untuk mencekik leher!

Penduduk dusun yang menghampiri dan menonton perkelahian ini tidak berani mencampuri, hanya memandang terheran-heran. Orang-orang tidak ada yang berani melawan Ouwyang-kongcu, kini seorang anak perempuan dan seorang pengemis cilik berani menghinanya, memakinya, dan melawannya.

Ouwyang Seng yang meronta-ronta akhirnya roboh, membawa tubuh Han Han bersama-sama. Mereka bergulingan di atas tanah, bergelut, namun tetap Han Han tidak mau melepaskan kaki tangannya. Ouwyang Seng mendapat akal, ia lalu menangkap tangan Han Han dan menekuk jari telunjuknya. Bukan main nyerinya rasa telunjuk itu, sampai terasa menusuk di ulu hatinya. Han Han menjadi marah, lalu... menggigit bahu Ouwyang Seng sekuat tenaga.

“Ouuww... aduh... aduh... mati aku, aduhhh...!” Ouwyang Seng menjerit-jerit, pundaknya berdarah dan akhirnya ia menangis berkaok-kaok, melolong-lolong sambil meronta-ronta.

Penduduk dusun yang melihat ini menjadi khawatir. Takut kalau terbawa-bawa, maka mereka lalu memburu dan cepat melerai, menarik Han Han melepaskan rangkulannya, kempitannya dan gigitannya.

“Hi-hi-hik! Pengecut besar! Bisanya hanya menangis! Hi-hi-hik, kau hebat, Han Han...!” Sin Lian bertepuk-tepuk tangan. Ia masih duduk karena lututnya yang tertendang itu membuatnya tak dapat berdiri, agaknya terlepas sambungannya. Juga Han Han merasa betapa telunjuk tangan kirinya sakit sekali, seperti patah sambungannya pula.

Ouwyang Seng tadi menangis bukan hanya karena sakit, melainkan terutama sekali karena ketakutan setelah usahanya melepaskan rangkulan gagal. Kini setelah bebas ia menjadi marah sekali dan menerjang Han Han dengan pukulan keras. Han Han terjengkang dan terpaksa menerima hantaman dan tendangan. Sin Lian memaki-maki, dan untuk ini Ouwyang Seng segera melompat ke dekatnya dan menendang kepalanya. Biar pun tak dapat bangun, namun Sin Lian yang mengerti ilmu silat mencoba untuk menangkis dengan lengan, dan akibatnya ia pun roboh terguling-guling.

Ouwyang Seng menjadi mata gelap saking marahnya. Disambarnya sebuah batu sebesar kepalanya dengan kedua tangan dan ia mengangkat batu itu tinggi-tinggi, kemudian dihantamkan ke arah kepala Han Han. Kalau hantaman ini kena, tentu kepala Han Han akan remuk.
Akan tetapi tiba-tiba batu itu tertahan dan di situ telah berdiri Lauw-pangcu. Sekali renggut batu itu terampas dan dibuang ke pinggir. “Anak keji, pergilah!” Lauw-pangcu berkata dan ia menangkap tengkuk Ouwyang Seng terus dilempar ke depan. Tubuh anak itu melayang dan... jatuh tepat di atas punggung kudanya.

Ouwyang Seng maklum bahwa kakek itu amat lihai, akan tetapi dasar seorang anak yang manja, ia malah memaki, “Tua bangka jembel busuk! Kalau berani, katakan siapa namamu!”

Lauw-pangcu hanya mengira bahwa anak itu adalah seorang anak bangsawan manja saja, maka sambil tersenyum ia berkatap “Bocah, aku adalah orang she Lauw.”

Ouwyang Seng menarik kendali kudanya, menendang perut kuda itu yang segera meloncat maju dan membalap ke depan, meninggalkan debu mengebul tinggi.

Han Han bukan tidak mengerti bahwa nyawanya tertolong oleh kakek itu, dan ia sudah terlalu banyak belajar tentang kebudayaan dan tentang budi, maka ia segera menjatuhkan diri berlutut di depan kakek itu sambil berkata, “Saya menghaturkan terima kasih atas pertolongan locianpwe.”

Lauw-pangcu tersenyum. “Bangunlah dan mari ikut bersamaku, Han Han.” Ia lalu memondong tubuh puterinya dan Han Han terpaksa mengikutinya karena tidak mau dianggap tak mengenal budi.

Setelah tiba di sarang Pek-lian Kai-pang, Lauw-pangcu mengobati Sin Lian dan telunjuk tangan Han Han. Hebat sekali cara kakek ini membenarkan sambungan tulang karena setelah diurut sebentar dan ditempeli koyok, dalam waktu setengah hari saja telah sembuh kembali.

“Pengalamanmu hari ini tentu telah meyakinkan hatimu, Han Han, betapa pentingnya mempelajari ilmu menjaga diri. Berkali-kali engkau dapat dipukuli orang, dan hampir saja tewas. Aku tidak berniat buruk denganmu, bukan hendak mengajarmu menjadi tukang pukul. Aku melihat bakat yang amat luar biasa pada dirimu yang tak akan dapat ditemukan di antara sepuluh laksa orang anak, maka engkau berjodoh untuk mewarisi semua ilmuku, Han Han.”

“Akan tetapi, locianpwe, aku tidak ingin belajar silat.”

“Coba sajalah. Dan pepatah mengatakan bahwa tak kenal maka tak sayang. Kalau kau sudah mengenal seluk-beluk ilmu itu, kau tentu akan suka sekali. Sementara ini, biarlah engkau akan menerima menjadi muridku dan coba belajar, hitung-hitung untuk membalas budi kepadaku. Bagai mana?”

Kakek itu memang cerdik. Ia telah mengenal bahwa bocah ini memiliki watak yang aneh dan keras luar biasa, memiliki kemauan yang tak terpatahkan, tidak dapat dipaksa dan mengenal budi. Karena itu ia sengaja mengemukakan tentang balas budi untuk mengikat dan memaksa. Dan memang usahanya berhasil, Han Han terjebak. Anak ini sudah mempelajari kitab tentang budi pekerti sampai mendarah daging, di mana diajarkan bahwa setiap budi yang dilepas orang harus dibalas berlipat ganda, sebaliknya budi sendiri yang dicurahkan kepada orang lain harus dianggap sebagai kewajiban dan segera dilupakan.

“Baik, locianpwe.”

“Bagus, Han Han. Sekarang engkau telah menjadi muridku. Aku adalah gurumu dan Sin Lian ini adalah suci-mu (Kakak Seperguruan), biar pun dia lebih muda darimu.”

“Baik, suhu, teecu (murid) mengerti.”

Makin kagum hati kakek itu dan timbul persangkaannya bahwa anak ini tentu bukan keturunan orang biasa ketika mendengar Han Han menyebut dia suhu dan diri sendiri teecu, kemudian betapa anak itu berlutut di depannya dan paikui (menyembah) sampai delapan kali.

Ia mengangkat bangun muridnya itu dan berkata, “Han Han, muridku yang baik. Sebagai seorang murid, pertama-tama engkau harus mengerti apakah yang menjadi kewajiban utama seorang murid?”

“Teecu mengerti. Harus taat dan berdisiplin. Taat terhadap segala perintah suhu, dan berdisiplin dalam memegang tugas, kemudian harus setia dan berbakti terhadap guru.”

Kalau tadi Lauw-pangcu hanya kagum saja, kini ia terheran-heran dan tercengang. “Sin Lian, dengar baik-baik omongan sute-mu (Adik Seperguruan) ini! Engkau dapat belajar banyak dari dia! Han Han, pendapatmu tadi tepat sekali. Nah, sekarang sebagai perintah pertama dari suhu-mu, kau ceritakanlah pengalamanmu, siapa orang tuamu dan bagai mana engkau sampai menjadi seorang anak terlunta-lunta dan hidup seorang diri.”

Han Han terkejut mendengar pertanyaan ini. Ia sudah mengambil keputusan ketika ia meninggalkan rumah orang tuanya yang terbakar, di mana terdapat mayat ayah bundanya, untuk menyimpan rahasia tentang dirinya, untuk melupakan penglihatan itu dan hanya mengingat wajah tujuh orang perwira Mancu, terutama wajah Si Brewok dan Si Muka Kuning. Kini orang yang menjadi gurunya secara terpaksa ini pertama kali mengharuskan dia menceritakan pengalaman dan riwayatnya!

Ia menundukkan mukanya, dan begitu rasa penasaran dan sakit hati timbul karena pertanyaan itu mengingatkan ia akan semua malapetaka yang menimpa keluarganya, mendadak ada rasa aneh sekali di kepalanya. Kepalanya sebelah belakang kanan yang dahulu terbanting pada dinding ketika ia dilemparkan panglima muka kuning, kini berdenyutan keras, seolah-olah kepala bagian itu bergerak-gerak dan kepalanya menjadi pening. Ia hanya berkata perlahan sambil menunduk.

“Teecu tidak dapat menceritakan itu...”

Tiba-tiba Sin Lian mencela dengan suara keras dan nyaring, “Sute (Adik Seperguruan)! Engkau ini murid macam apa? Sudah tahu akan kewajiban murid, akan tetapi pada kesempatan pertama kau telah tidak mentaati perintah guru!”

Han Han makin marah. Bocah ini benar-benar cerewet sekali, dan ia merasa terdesak. Ia mengangkat mukanya memandang Sin Lian, melihat betapa anak perempuan yang lebih muda dari padanya akan tetapi telah menjadi kakak seperguruannya itu juga memandang kepadanya dengan sinar mata aneh, seperti orang terpesona, terbelalak keheranan.

Dengan hati marah Han Han memandang dan di dalam hatinya ia memaki. “Kau bocah cerewet! Kau seperti seekor monyet yang menari-nari!”

Mendadak terjadi hal yang amat aneh. Sin Lian tiba-tiba meloncat mundur dan menggerakkan kaki tangannya menari-nari, mulutnya berbisik-bisik, “Aku seekor monyet... menari-nari...! Aku seekor monyet yang menari-nari...!” Dan ia menari-nari dengan gerakan lucu, seolah-olah ia meniru gerakan monyet!

Lauw-pangcu tadinya mengira bahwa Sin Lian yang memang biasanya nakal itu sengaja hendak memperolok-olok dan mempermainkan Han Han, maka dengan bengis ia membentak puterinya yang manja itu, “Sin Lian! Hentikan itu!”

Akan tetapi, puterinya yang biar pun manja namun selalu mentaati perintahnya itu masih saja berjoget secara aneh dan lucu sambil terus berbisik, “Aku seekor monyet menari-nari... seekor monyet menari-nari...”

Terkejutlah Lauw-pangcu! Ia menoleh dan memandang kepada Han Han dan mukanya berubah pucat, matanya terbelalak. Ia melihat betapa sepasang mata anak ini menyinarkan cahaya yang amat aneh, manik mata yang hitam itu seperti mengeluarkan api, demikian tajamnya seperti menembus otak, membuat ia tidak mampu menggerakkan bola mata, membuat ia terpaksa memandang sepasang mata itu, seperti melekat, seperti tertarik besi sembrani!

Ia mengerahkan sinkang, berusaha melawan, namun terdengarlah suara Han Han, padahal anak itu tidak menggerakkan bibir, terdengar suaranya penuh wibawa, penuh pengaruh luar biasa. “Suhu sudah tua, tidak perlu merisaukan suci yang nakal. Lebih baik suhu mengaso dan tidur dari pada menjengkelkan kelakuan suci...”

Terjadi keanehan ke dua. Kakek itu menguap dan mulutnya berkata lirih, “Auhhh, aku sudah tua... ingin mengaso dan tidur...” Lalu kakek itu pun merebahkan kepala di atas meja, berbantal lengan dan tidur!

Han Han melongo saking herannya. Ia menoleh kepada Sin Lian yang masih terus menari-nari sambil berbisik-bisik, “Aku seekor monyet yang menari-nari... seekor monyet...” Ketika ia menoleh pula memandang gurunya, kakek itu masih tidur nyenyak!

Melihat ini Han Han makin bingung. Tadi ia mengira bahwa Sin Lian hanya mempermainkannya dan menari-nari untuk mengejeknya, maka ketika memandang gurunya, ia merasa kasihan dan hatinya menghibur gurunya agar supaya jangan jengkel dan supaya guru yang tua itu mengaso dan tidur dari pada mempedulikan Sin Lian. Akan tetapi sekarang gurunya benar-benar tidur dan Sin Lian masih terus menari-nari seperti telah menjadi gila! Dari bingung, Han Han menjadi ketakutan dan diguncang-guncangnya pundak Lauw-pangcu sambil berteriak-teriak.

“Suhu...!Suhu... Bangunlah, suhu...!”

Lauw-pangcu serentak bangun dan matanya terbelalak ketika meloncat dari bangkunya. “Apa... apa yang terjadi...?” tanyanya seperti orang habis bangun dari mimpi, padahal ia tertidur belum ada dua menit!

Ketika ia menoleh ke arah puterinya, wajahnya kembali menjadi pucat. Kakek ini sudah mempunyai pengalaman yang banyak sekali, akan tetapi apa yang ia alami sekarang ini benar-benar membuat ia tidak mengerti dan terheran-heran. Namun ia sudah dapat menguasai perasaannya. Cepat ia melompat mendekati Sin Lian yang masih menari-nari berloncat-loncatan seperti seekor monyet nakal itu, menangkap pundak puterinya dan menotok punggungnya. Sin Lian mengeluarkan suara merintih perlahan lalu roboh pingsan dalam pelukan ayahnya.

“Dia... dia kenapakah, Suhu? Suci mengapa tadi...?” tanya Han Han, khawatir juga menyaksikan semua itu karena kini ia dapat menduga bahwa keadaan Sin Lian tadi tidak wajar, bukan menari-nari untuk mengejeknya.

Kakek itu hanya menghela napas panjang, lalu merebahkan tubuh puterinya di atas dipan, memeriksanya sebentar lalu berkata lirih, “Tidak apa-apa, sebentar lagi pun sembuh, ia tertidur.” Kemudian ia mengajak Han Han keluar.

“Han Han, mari kita bicara di luar.”

Dengan hati tidak enak Han Han mengikuti gurunya keluar kamar dan duduk di ruang depan pondok kecil itu. Mereka duduk berhadapan dan Lauw-pangcu kini memandang wajah muridnya dengan pandang mata tajam penuh selidik. Makin tidak enak hati Han Han dan ia menunduk.

“Han Han, pandanglah mataku!” perintah kakek itu.

Han Han mengangkat mukanya memandang. Sejenak pandang mata mereka bertemu dan jantung kakek itu berdebar. Mata yang hebat! Ia merasa betapa sinar mata itu mendesak pandang matanya, menusuk masuk dan membuat jantungnya tergetar. Seperti mata iblis! Akan tetapi saat itu kosong sehingga yang terasa hanya ketajamannya yang menggetarkan dan betapa pun kakek ini mengerahkan sinkang-nya, akhirnya ia tidak kuat menahan dan terpaksa mengalihkan pandang matanya, tidak kuat lebih lama beradu pandang. Padahal ia telah memiliki sinkang (tenaga sakti) yang amat kuat! Tertipukah ia? Adakah bocah ini murid seorang sakti yang telah memiliki tenaga mukjizat? Harus kucoba lagi.

Berpikir demikian, Lauw-pangcu menggerakkan tangan kanan cepat sekali, tahu-tahu telah menotok jalan darah kian-keng-hiat di pundak anak itu. Seketika tubuh Han Han menjadi kaku tak dapat digerakkan, akan tetapi hanya sebentar saja karena kakek itu telah menotoknya kembali, membebaskannya. Lauw-pangcu menunduk dan makin heran.

Jelas bahwa anak ini tidak mengerti silat, dan tidak pernah belajar silat. Orang yang mengerti ilmu silat tentu memiliki gerak otomatis sebagai reaksi atas penyerangan terhadap dirinya. Anak ini sama sekali tidak mempunyai gerak itu, tidak berusaha mengelak atau menangkis, bahkan urat syaraf di pundaknya tidak menentang, tanda bahwa urat syarafnya juga belum terlatih, tidak biasa akan serangan cepat lawan. Akan tetapi pandang mata itu, pengaruhnya yang hebat!

Ada pun Han Han ketika tadi merasa pundaknya disentuh gurunya membuat tubuhnya kaku menegang, kemudian pulih kembali, menjadi heran dan penasaran. Ia tidak tahu apa yang dilakukan suhu-nya. Akan tetapi ia menganggap suhu-nya itu penuh rahasia, tidak berterus terang dan seolah-olah tidak mempercayainya. Tiba-tiba suhu-nya itu memegang kedua pundaknya dengan cekalan erat, mata kakek itu menatapnya penuh selidik dan terdengarlah pertanyaannya dengan suara keras mendesak dan bengis.

“Han Han! Dari mana kau mempelajari ilmu I-hun-to-hoat (semacam hypnotism)?”

“Apa? I-hun-to-hoat, suhu? Mendengar pun baru sekarang. Sudah teecu katakan bahwa teccu tidak pernah mempelajari ilmu apa-apa...”

“Hemmm, jangan mencoba untuk menyangkal. Habis, apa yang kau lakukan terhadap suci-mu dan aku tadi kalau bukan Ilmu I-hun-to-hoat?” Ilmu I-hun-to-hoat adalah semacam ilmu hypnotism, membetot semangat dan menguasai kemauan orang dengan penggunaan sinkang yang sudah mencapai tingkat tinggi.

Han Han makin tak senang hatinya. Ia sudah menentang perasaan hati dan pendapatnya sendiri dan sudah suka menjadi murid Lauw-pangcu. Akan tetapi mengapa suhu-nya ini sekarang menuduhnya yang bukan-bukan?

“Suhu, mengapa suhu menuduh yang bukan-bukan? Suhu mengambil murid teecu ini hendak diajar ilmu ataukah untuk dituduh-tuduh saja? Sudah teecu katakan bahwa teecu tidak pernah belajar silat.”

“Tapi... tapi pandang matamu... dan peristiwa tadi! Lian-ji menari-nari di luar kehendaknya, aku pun tertidur di luar kemauanku. Hal ini hanya mungkin terjadi kalau orang menggunakan Ilmu I-hun-to-hoat yang amat kuat. Han Han, aku tidak mempunyai niat buruk terhadap dirimu. Kalau kau benar-benar pernah menjadi murid orang sakti, aku pun malah makin suka kepadamu. Perlu apa kau membohong? Sudah ada buktinya peristiwa tadi, aku sendiri mengalami, dan pandang matamu juga penuh dengan tenaga mukjizat yang hanya timbul dari sinkang yang tinggi.”

Han Han menjadi tidak sabar. “Teecu tidak mengerti apa yang suhu katakan itu, tidak pernah mendengar apa itu I-hun-to-hoat, dan apa itu sinkang! Pendeknya, teecu belum pernah belajar ilmu silat, bahkan sebelum menjadi murid suhu, teecu membenci ilmu silat. Malah sekarang, karena suhu tuduh yang bukan-bukan, timbul pula rasa tidak senang itu...”

“Han Han, jangan salah mengerti. Memang ada sesuatu yang amat aneh terjadi, dan kurasa, ada sesuatu yang ajaib sekali terdapat dalam dirimu. Aku tidak menuduh sedikit pun juga dan kau pun harap suka berterus terang. Mungkinkah kau pernah membaca kitab kuno tentang ilmu menguasai semangat dan kemauan orang lain, dan telah mempelajarinya?”

“Tidak, sama sekali tidak.”

“Engkau anak aneh. Datang-datang kau bagi-bagikan roti kering kepada lain jembel. Hal ini saja sudah membuktikan keanehanmu. Dan cara kau bicara, sungguh tidak seperti seorang anak jembel.”

“Teecu bukan pengemis!”

“Kalau begitu engkau seorang anak keluarga bangsawan yang terlunta-lunta. Bukankah begitu?”

“Tidak, tidak! Teecu sudah katakan bahwa teecu tidak dapat menceritakan asal-usul dan riwayat teecu. Teecu sendiri hampir lupa. Mengapa suhu memancing-mancing? Apa artinya riwayat teecu? Pendeknya, teecu seorang yang tiada ayah bunda lagi, tiada saudara, sebatang-kara. Suhu, teecu biar pun hidup melarat dan seorang bodoh, namun teecu berpegang kepada peri-bahasa It-gan-ki-jut-su-ma-lam-twi (Sepatah kata dikeluarkan, empat ekor kuda pun tidak kuat menariknya kembali)!”

Lauw-pangcu tercengang. Ucapan muridnya ini jelas membuktikan bahwa bocah itu bukan bocah sembarangan, dan bukan hanya memiliki watak yang keras, memiliki pribadi yang aneh, tenaga sakti simpanan yang penuh rahasia, akan tetapi juga memiliki asal-usul yang menarik dan tentu bukan dari keluarga sembarangan. Ia menjadi girang sekali, akan tetapi juga khawatir. Anak ini selain memiliki kekuatan mukjizat, juga memiliki watak yang sukar diukur dalamnya, sukar dijenguk isinya sehingga bagi dia yang menjadi gurunya, akan sukarlah untuk membentuk watak bocah ini kelak. Diam-diam ia heran dan berpikir keras untuk menduga, ilmu apakah yang telah dimiliki atau yang masuk secara aneh dalam diri bocah ini.

Tentu saja Lauw-pangcu tidak dapat menduganya, tidak mengerti akan keadaan Han Han. Jangankan orang luar, sedangkan Han Han sendiri pun tidak mengerti, tidak sadar bahwa ada perubahan hebat pada dirinya, bahwa ada sesuatu yang secara ajaib terjadi di dalam dirinya.

Ketika ia dihajar oleh perwira muka kuning dahulu di dalam kamar karena ia telah ‘mengganggu’ perwira muka kuning itu yang sedang memperkosa ibunya, ia dilempar dan kepalanya terbanting pada dinding kamar dengan keras sekali sehingga ia menjadi pingsan. Entah bagai mana hanya Tuhan yang mengatur dan mengetahuinya, bantingan kepala yang terjadi pada saat hatinya merasa tertusuk-tusuk oleh perasaan duka, marah, sakit hati dan gelisah itu, bantingan keras yang menggetarkan otaknya, telah merubah dan mengguncangkan otaknya, merubah susunan syaraf dalam kepala.

Tanpa ia sadari, timbullah semacam kekuatan mukjizat di dalam kepalanya yang menyinar keluar dari matanya. Kekuatan mukjizat ini terutama sekali timbul apa bila hatinya terganggu dan membuatnya menjadi marah dan sakit hati. Kekuatan mukjizat yang membuat pandang matanya kuat melebihi pandang mata seorang ahli sihir yang bagai mana pandai sekali pun, yang membuat daya ciptanya sedemikian kuatnya sehingga dalam keadaan seperti itu, mudah saja ia ‘merampas’ dan menguasai semangat kemauan orang!

Kalau ahli-ahli sihir memperoleh kekuatan mereka karena latihan dan ketekunan, adalah Han Han memperolehnya karena kekuasaan Thian yang tiada batasnya. Susunan otak dan syarafnya, seperti manusia-manusia lain, adalah sempurna sekali sehingga segala sesuatu dapat dipergunakan secara normal. Akan tetapi, hantaman kepalanya pada dinding itu menggoyahkan kesempurnaan itu sehingga cara kerja otak dan syarafnya menjadi terganggu. Justeru gangguan ini yang menimbulkan kekuatan hebat itu!

Namun Han Han sendiri tidak sadar akan hal ini. Karenanya ia tidak dapat menguasai kekuatan mukjizat ini dan kekuatan ini hanya timbul kalau ia sedang marah seperti yang tadi timbul dan tanpa ia sadari sendiri telah membuat Sin Lian menari-nari seperti monyet dan Lauw-pangcu tertidur pulas di luar kehendaknya!

Lauw-pangcu menghela napas panjang. Sebagai seorang yang sudah berpengalaman luas, ia telah dapat mengenal sifat-sifat Han Han. Ia tahu bahwa kalau ia mendesak terus, hasilnya malah merugikan karena anak ini tentu akan kehilangan gairah belajar ilmu silat.

Pada saat itu Sin Lian berlari-lari ke luar dari kamarnya dan berkata, “Ayah... Ayah... aku mimpi aneh...”

Sekejap Lauw-pangcu memandang puterinya, lalu mengerling kepada Han Han yang menundukkan muka. “Mimpi apa?”

“Aku mimpi menjadi monyet dan menari-nari... eh, sute masih di sini. Bagai mana, Ayah, apakah dia masih berkepala batu tidak mau menceritakan riwayatnya?”

Mendengar ucapan puterinya itu, Lauw-pangcu kembali melirik kepada Han Han yang masih menunduk, hanya mukanya menjadi merah karena anak ini pun terkejut dan heran di dalam hatinya. Tadi dia telah memaki di dalam hatinya, memaki Sin Lian seperti monyet menari-nari dan gadis cilik ini pun lalu menari-nari tanpa sadar. Kemudian sekarang bocah ini mengatakan mimpi menjadi monyet dan menari. Apa yang telah terjadi? Dia sendiri tidak mengerti dan bingung. Akan tetapi hatinya lega ketika mendengar gurunya berkata.

“Sute-mu sama sekali tidak kepala batu, Lian-ji. Jangan kau kurang ajar dan terlalu mendesaknya. Han Han adalah seorang keturunan keluarga Sie, dan karena dia sudah tiada ayah bunda lagi, memang tidak ada sesuatu yang perlu diceritakan.”

“Aihhhhh..., dia ini jaka lola (yatim piatu)...?” Suara Sin Lian mengandung penuh iba sehingga lunturlah semua kebencian di hati Han Han. Apa lagi ketika ia memandang kepada ‘suci-nya’ itu dan melihat pandang mata Sin Lian terhadapnya begitu lembut dan penuh kasihan, ia lalu tersenyum kepada Sin Lian. Dara cilik itu membalas senyumnya dan mulai detik itu terjalinlah rasa persahabatan antara mereka.

Mulailah Lauw-pangcu mengajarkan dasar-dasar ilmu silat kepada Han Han. Hatinya girang bukan main karena dugaannya sama sekali tidak meleset. Bocah ini memiliki ingatan yang amat luar biasa, seperti kertas putih bersih saja, sekali ditulis tidak akan luntur lagi.

Mudah saja bocah ini menerima pelajaran kouw-koat (teori silat) dan sekali mendengar terus mengerti dan ingat. Sebentar saja ia sudah dapat menghafal semua nama dan kedudukan bhesi (kuda-kuda). Juga ketika melatih kuda-kuda, sebentar saja ia sudah dapat menguasainya sungguh pun kuda-kudanya itu tentu saja hanya merupakan kulit yang belum ada isinya. Ketika Sin Lian disuruh mengujinya, sekali serampang dengan kaki, kuda-kuda yang dilakukan Han Han itu rontok dan ia pun terguling! Maka Lauw-pangcu makin yakin bahwa anak ini memang belum pernah belajar silat.

Mulai hari itu Han Han disuruh berlatih memasang kuda-kuda dengan tekun dan Sin Lian yang menjadi suci-nya selalu menemaninya dan mengawasinya dengan rajin pula. Dalam keadaan apa pun juga, Han Han diharuskan memasang kuda-kuda dan dengan demikian, ia mulai memaksa otot-otot kakinya, dan melatih otot-otot kakinya itu agar menjadi seperti kaki ahli silat karena sepasang kaki merupakan pilar terpenting bagi seorang ahli silat. Makin kuat kuda-kudanya, makin sempurnalah ilmu silatnya, demikian pendapat para ahli silat.

Han Han merupakan seorang anak yang rajin dan tekun. Akan tetapi kerajinannya ini hanya ditujukan untuk membaca kitab karena memang sejak kecil ia sudah ‘berkecimpung’ dalam lautan kitab-kitab dan huruf-huruf sastra. Kalau disuruh menghafal, sekali baca ia dapat mengingat seribu huruf di luar kepala. Kini disuruh melatih bhesi, ia merasa tersiksa sekali. Menimba air pun harus dengan sepasang kaki memasang bhesi, di waktu berdiri, di waktu jongkok, bahkan di waktu ia berdiri memasak air dan membantu pekerjaan Sin Lian mengurus rumah, ia diharuskan oleh gurunya untuk memasang kuda-kuda. Dan semua ini selalu diawasi dan dikontrol secara keras oleh Sin Lian!

“Sute, memang membosankan belajar bhesi seperti ini. Akan tetapi karena bhesi amat penting, Sute harus tekun. Aku sendiri semenjak pandai berjalan sudah disuruh belajar bhesi oleh Ayah!”

Han Han menarik napas panjang. Sudah hampir sebulan ia berlatih bhesi seperti ini. Bayangkan saja. Dalam sebulan itu ia selalu memasang bhesi! Hanya di waktu tidur nyenyak saja kakinya tidak dikakukan karena dalam tidur ia terlupa. Kedua kakinya terasa kaku sekali, bahkan kalau dilonjorkan menimbulkan rasa sakit-sakit.

“Suci, apakah belajar silat begini tidak menjemukan? Jangan-jangan kalau sudah lulus, sekali berdiri memasang bhesi kedua kakiku lalu berakar di tanah dan tidak dapat dicabut lagi. Berapa lama aku harus melatih bhesi seperti ini?”

“Tergantung orangnya, Sute. Akan tetapi menurut kata Ayah, engkau memiliki daya tahan dan bakat yang luar biasa sehingga dalam beberapa hari lagi tentu Ayah akan mengajar lebih lanjut.”

“Mengajar apa?”

“Ilmu silat tentunya. Ilmu pukulan.”

“Wah, aku tidak suka.”

“Mengapa?”

“Ilmu saja kok ilmu memukul orang! Untuk memukul, menyiksa dan membunuh orang saja digunakan ilmu yang harus dipelajari. Alangkah kejinya!”

“Sute, kau ini bocah aneh sekali. Ilmu silat bukan semata-mata memukul orang. Memukul hanya merupakan sebuah di antara gerakan silat, di samping gerakan mengelak, menangkis, menendang, menyikut dan lain-lain. Menurut penjelasan Ayah, ilmu silat adalah ilmu tata gerak menjaga dari serangan lawan, juga ilmu kesehatan karena dengan latihan ilmu silat, jalan darah kita beredar dengan lancar dan betul, mendatangkan kesehatan. Selain itu, juga merupakan seni tari yang indah, dan terakhir merupakan latihan batin, meningkatkan harga diri dan memupuk sifat rendah hati.”

Han Han mendengarkan dengan melongo. Mereka duduk mengaso setelah berlatih kuda-kuda itu di dalam taman liar yang dipelihara oleh Sin Lian, duduk di atas rumput yang tebal. Tak disangkanya bahwa puteri ketua pengemis ini dapat bicara seperti itu! Disangkanya bahwa Sin Lian hanya pandai bersilat dan pandai memaki, galak, ganas, akan tetapi juga ramah sekali.

“Keteranganmu amat menarik,” katanya tersenyum, “dan engkau pandai membela kebaikan ilmu silat. Tentang yang pertama, aku percaya karena engkau pandai menjaga serangan lawan bahkan pandai menyerang. Juga bahwa ilmu silat adalah ilmu menyehatkan tubuh, boleh dipercaya melihat betapa engkau sehat dan kuat serta lincah sekali. Akan tetapi bahwa ilmu silat adalah ilmu yang mengandung seni tari indah, masih kusangsikan.”

“Masih sangsi? Kau lihat dan katakan apakah ini tidak indah,” kata Sin Lian yang sudah melompat bangun dan dara cilik ini mulai bersilat tangan kosong. Gerakannya cepat, namun terutama sekali amat indah. Gerakan tangan kaki teratur rapi dan benar-benar membuat Han Han menahan napas. Ia melihat betapa gerakan-gerakan itu, biar pun agak terlalu cepat, namun tiada ubahnya seperti seorang dewi yang menari dengan indahnya, sama sekali tidak kelihatan sebagai ilmu untuk berkelahi. Betapa lemasnya kedua lengan dan tubuh itu!

“Bagus! Memang indah sekali, Suci!” katanya memuji dengan sejujurnya.

Sin Lian berhenti bersilat, lalu duduk pula di dekat Han Han.

“Harus kuakui bahwa ilmu silat tadi seperti orang menari saja. Kini aku percaya bahwa dalam ilmu silat terkandung seni tari yang indah, sungguh pun aku masih sangsi apakah aku dapat belajar bersilat seindah yang kau mainkan itu. Tentang meningkatkan harga diri dan memupuk sifat rendah hati, kurasa hal ini bukan karena ilmu silat, melainkan tergantung dari pada sifat orangnya.”

“Ah, tidak bisa! Seorang guru yang baik seperti Ayah, di samping mengajarkan ilmu silat, juga menekankan aturan-aturan keras untuk membuat muridnya memiliki harga diri, menjadi pembela kebenaran dan keadilan, serta tidak sombong.”

“Kalau begitu aku suka belajar ilmu silat. Biar kuminta suhu mengajarku gerakan kaki tangan.”

Sin Lian menggeleng-geleng kepalanya yang bagus bentuknya. “Tidak begitu mudah, Sute. Kuda-kudamu belum sempurna benar. Lebih baik kita berlatih lagi agar kuda-kudamu cepat sempurna. Setelah kuda-kudamu kuat benar, baru kau akan diberi pelajaran gerakan kaki tangan.”

“Berapa lama lagi kiranya? Sebulan, dua bulan, tiga bulan?”

“Tergantung dari kemajuanmu, Sute. Mungkin setahun baru diberi pelajaran pukulan.”

Jawaban ini membuat semangat Han Han menjadi lesu kembali. Disuruh belajar bhesi sampai setahun? Wah, berat sekali! Membosankan. Memang pada dasarnya ia kurang dapat melihat manfaatnya ilmu silat dan tadinya sama sekali tidak suka. Kini setelah mulai tertarik, ia terbentur pada kesukaran belajar kuda-kuda yang membosankan itu sampai setahun!

Sin Lian baru berusia sembilan tahun lebih, akan tetapi ternyata dia seorang bocah yang cerdik. Melihat wajah sutenya menjadi muram, ia cepat berkata. “Sute, jangan memandang rendah kuda-kuda. Karena sesungguhnya pokok kekuatan ilmu silat terletak pada kekokohan bhesi inilah. Bagaikan rumah, demikian kata Ayah, bhesi adalah tiang-tiangnya, pukulan tendangan dan gerakan lain hanya bagian atasnya atau cabang-cabangnya berupa daun-daun jendela dan penghias-penghias lain. Apa artinya rumah itu tampak indah dan kuat kalau hanya tampaknya saja dan tiang-tiangnya tidak kuat? Tertiup angin keras sedikit saja akan roboh! Demikian pula orang pandai silat. Kalau hanya kelihatannya saja bagus dan kuat, namun tidak memiliki sepasang kaki yang dapat berkuda-kuda kuat, sekali bertemu lawan berat akan mudah dirobohkan. Memang terlalu banyak orang yang hanya ingin pandai memukul, menendang, sehingga kelihatannya pandai. Akan tetapi kalau demikian halnya, engkau hanya akan menguasai seni tarinya saja tidak akan dapat menguasai inti sari ilmu silat.”

Kembali Han Han tertegun. Bocah perempuan ini pandai sekali berdebat dan jalan pikirannya seperti orang dewasa saja. Agaknya memang Lauw-pangcu sudah menggemblengnya sejak kecil, bukan hanya digembleng ilmu silat, melainkan juga nasehat-nasehat dan wejangan-wejangan.

“Baiklah, Suci, aku akan tekun berlatih bhesi,” kata Han Han sambil menghela napas. Mulailah ia berlatih lagi, mengulangi berbagai kuda-kuda yang sukar-sukar, diawasi dan diberi petunjuk oleh suci-nya yang lebih muda darinya itu. Sampai hari menjadi gelap barulah keduanya meninggalkan taman.

Tiga bulan kemudian Han Han masih belum dilatih gerak pukulan, akan tetapi di samping latihan bhesi, ia mulai dilatih mengatur napas dan bersemedhi oleh gurunya. Pelajaran ini pun membosankan baginya, namun setidaknya ia cukup mengerti akan manfaat siulian (semedhi) dan mengatur pernapasan, karena dalam kitab-kitab kuno hal ini pun selalu disebut-sebut sebagai kewajiban setiap orang yang hendak menguasai diri pribadi dan menguasai nafsu-nafsunya. Karena itu, latihan siulian dan mengatur napas ini lebih mudah ia pelajari. Hanya bedanya, kalau siulian untuk menguasai diri pribadi dan mengendalikan nafsu dilakukan dengan duduk diam dan belajar mengendalikan pikiran dan menenteramkan hati serta menutup semua perasaan, adalah siulian yang diajarkan oleh Lauw-pangcu ini ditujukan untuk melancarkan jalan darah, untuk menguasai pernapasan dan terutama sekali untuk menggunakan hawa dalam tubuh sebagai kekuatan!

Lauw-pangcu kembali tertegun dan terheran-heran ketika pada hari-hari pertama ia mengajar murid barunya ini bersemedhi. Dalam waktu singkat saja Han Han sudah dapat mematikan semua rasa dan berada dalam keadaan hening yang hanya akan dapat dicapai oleh orang yang sudah berbulan-bulan belajar semedhi! Ia hanya mengira bahwa Han Han memang memiliki bakat luar biasa dan kemauan yang amat keras seperti baja, tidak tahu bahwa hal ini timbul dari keadaan yang ‘tidak wajar’ dalam diri Han Han akibat terbantingnya kepalanya pada dinding dahulu.

Lebih-lebih lagi keheranannya ketika ia melatih Han Han untuk mengumpulkan hawa ke pusar dan bertanya apakah ada terasa hawa di situ, anak itu mengangguk! Ia lalu menyuruh muridnya menggunakan kemauan untuk mendorong hawa panas itu naik ke dada dan kembali Han Han mengangguk, sebagai tanda bahwa ia telah melakukan perintah suhu-nya. Lauw-pangcu tidak percaya, lalu meraba dada muridnya. Ia terbelalak. Dada itu mengeluarkan getaran yang amat kuat sehingga tubuh bocah itu menggigil, mukanya merah seperti terbakar. Cepat-cepat ia menurunkan lagi hawa panas itu turun ke pusar sehingga keadaan anak itu normal kembali.

Setelah Han Han dan gurunya duduk mengaso tidak berlatih, gurunya berkata. “Dalam latihan siulian, kau cepat maju, Han Han. Hati-hatilah, jangan kau sembrono dengan hawa panas di pusar itu. Itu merupakan kekuatan hebat dan kalau kau sudah dapat mengendalikannya, hawa itu dapat kau dorong ke bagian tubuh yang mana pun juga, merupakan kekuatan sinkang yang luar biasa. Akan tetapi kalau kau sembrono dan keliru menggunakannya, dapat merusak bagian dalam tubuhmu sendiri. Sebaiknya secara perlahan kau latih dan kuasai hawa itu, mendorongnya perlahan-lahan dan maju sedikit demi sedikit, sampai dapat kau perintah dia maju ke pundak, kemudian turun ke lengan dan sebagainya. Hawa itu dapat diperkuat dengan latihan semedhi dan pernapasan yang benar seperti yang kuajarkan kepadamu. Kau sudah hafal akan teorinya, tinggal melaksanakan dalam latihan-latihan yang tekun.”

Demikianlah, hanya dengan setengah hati Han Han melanjutkan latihannya, yakni memperkuat kuda-kuda dan latihan semedhi. Sebetulnya ia sudah tidak kerasan sama sekali tinggal di sarang Pek-lian Kai-pang ini. Ia merasa tidak bebas lagi, tidak seperti ketika ia berkeliaran tanpa tujuan. Sekarang ia terikat oleh kewajiban-kewajiban berlatih dan membantu pekerjaan rumah tangga yang dilakukan Sin Lian. Ia tidak lagi dapat berlaku sekehendak hatinya, mau tidur tinggal tidur, mau jalan tidak ada yang melarang, bisa tertawa sesukanya atau menangis semaunya kalau ia kehendaki.

Di situ ia terpaksa berlaku tidak wajar dan palsu. Ia tidak suka berlatih silat, namun terpaksa ia lakukan. Kalau hatinya sedang mengkal, ia seharusnya cemberut, menurutkan hatinya, akan tetapi di depan gurunya, Sin Lian dan para anggota kai-pang, ia memaksa diri tersenyum! Benar-benar hidup tersiksa baginya. Lebih-lebih kalau ia mengingat akan sikap para suheng-suheng (kakak seperguruan) atau susiok-susiok (paman seperguruan) terhadap dirinya, membuat ia makin tidak kerasan lagi.

Mereka itu anggota-anggota kai-pang yang taat, memandang rendah dan hina kepadanya karena ia bukan termasuk golongan pengemis! Kalau tidak mau menjadi pengemis, mengapa belajar ilmu silat di situ dan memakai pakaian rombeng, demikian mereka sering kali menegurnya.

Han Han sering kali dihina, dipukul dan diejek. Akan tetapi dasar dia memiliki watak keras dan berani, sedikit pun tidak mempunyai watak pengecut, ia tidak pernah mengeluh di depan gurunya. Bahkan di depan Sin Lian ia tidak pernah menceritakan perlakuan mereka itu terhadap dirinya. Sikap ini menolongnya karena para anggota kai-pang yang gagah itu merasa kagum menyaksikan sikap Han Han dan gangguan-gangguan mereka makin berkurang.

Sudah lima bulan Han Han berada di sarang Pek-lian Kai-pang itu. Pada suatu pagi, datanglah serombongan pengemis ke tempat itu. Mereka ini terdiri dari belasan orang pengemis, tampak kuat-kuat seperti para anggota Pek-lian Kai-pang. Hanya bedanya, kalau pakaian para anggota Pek-lian Kai-pang, biar pun bertotol-totol berkembang atau tambal-tambalan, dasarnya selalu warna putih, adalah rombongan pengemis yang datang ini pakaiannya serba hitam! Wajah mereka juga bengis-bengis, dan mereka dipimpin seorang pengemis tua bongkok berpakaian hitam yang matanya hanya satu, yaitu yang kanan karena mata kirinya buta.

Han Han yang sedang berlatih bersama Sin Lian segera berlari-lari menghampiri bersama gadis cilik itu yang menjadi tegang dan berbisik, “Ah, mereka adalah orang Hek-i Kai-pang (Perkumpulan Pengemis Baju Hitam). Tentu mencari keributan!”

Han Han menjadi berdebar tegang hatinya. Benar-benarkah akan terjadi bentrokan antara para pengemis? Alangkah aneh dan lucunya. Sama-sama pengemis, masih bertengkar! Ia dan Sin Lian menonton dari pinggir karena saat itu, Lauw-pangcu sendiri telah menyambut datangnya rombongan pengemis baju hitam ini bersama anak buahnya yang sudah berbaris rapi. Rata-rata para anggota Pek-lian Kai-pang bersikap kereng.

Lauw-pangcu telah mengangkat kedua tangan ke depan dada sambil berkata, “Biar pun belum pernah jumpa, namun tidak akan keliru dugaan saya kalau yang datang berkunjung ini adalah Song-pangcu (Ketua Pengemis Song) dari lembah utara!”

Kakek bongkok itu mengeluarkan suara mendengus seolah-olah sikap sopan dan ramah ini malah tidak menyenangkan hatinya. “Benar, Lauw-pangcu. Aku orang she Song ketua Hek-i Kai-pang dari seberang sungai. Tak perlu kiranya kita berpanjang debat, Lauw-pangcu, karena kita sama tahu bahwa di antara anak buah kita sudah sering kali timbul bentrok, dan...”

“Bentrokan yang sengaja dilakukan oleh anggota-anggotamu, Song-pangcu!” bantah Lauw-pangcu dengan suara kereng. “Sudah jelas daerah kita dibatasi sungai, namun para anggotamu sengaja menyeberang sungai dan mendesak daerah kami di selatan!”

“Tidak perlu dibicarakan lagi urusan itu!” Song-pangcu memotong marah. “Kami tidak perlu lagi banyak cakap dengan segala pemberontak...”

“Song-pangcu! Mengapa kau menuduh yang bukan-bukan?”

“Ha-ha-ha! Menuduh, katamu? Siapa tidak tahu bahwa Pek-lian Kai-pang adalah cabang dan pecahan dari Pek-lian-kauw yang memberontak dan jahat? Siapa tidak tahu akan kontak antara kalian dengan pemberontak di barat?”

Lauw-pangcu menjadi pucat mukanya lalu berubah merah sekali. “Song-pangcu, memang tidak perlu banyak cakap. Antara kita terdapat jurang pemisah dan bibit permusuhan. Sekarang, kalian datang mau apa?”

“Ha-ha, mau apa lagi? Membereskan urusan antara kita dengan senjata!” kata It-gan Hek-houw sambil terkekeh dan menggerak-gerakkan tongkatnya yang juga berwarna hitam seperti pakaiannya.

Lauw-pangcu memberi isyarat dengan tangan dan melompatlah lima belas orang anggota Pek-lian Kai-pang tingkat tinggi. Mereka inilah yang oleh Sin Lian dan Han Han disebut susiok (paman guru) dan mereka ini yang mewakili Lauw-pangcu melatih ilmu silat kepada para murid. Hanya Sin Lian dan Han Han berdua saja yang menerima pendidikan langsung dari ketua Pek-lian Kai-pang ini. Lima belas orang itu bergerak secara teratur, berputaran dan terbentuklah sebuah barisan lingkaran tiga lapis. Yang luar terdiri dari delapan orang, sebelah dalamnya lima orang dan yang paling dalam dua orang. Bentuknya seperti teratai.....



Pilih JilidHomeJilid Berikut


DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner