PENDEKAR SUPER SAKTI : JILID-14


Juga para anak buah Pek-eng-piauwkiok terutama sekali Tan Bu Kong, menjadi khawatir sekali, apa lagi karena Tan-piauwsu maklum bahwa perbuatannya menerima seorang gadis Mancu sebagai tamu benar-benar akan menimbulkan salah paham dari para supek-nya.

"Suhu, harap maafkan teecu. Biar pun dia seorang gadis Mancu, akan tetapi dia lain lagi, sama sekali tidak menganggap kita sebagai musuh dan dan dia adalah Adik angkat Sie-taihiap..."

Ucapan ini malah merupakan angin yang membesarkan api kemarahan di dada tiga orang tosu itu, terutama sekali Kong Seng-cu yang dihina dan dimaki oleh seorang gadis Mancu.

"Bocah Mancu, mampuslah!" bentak Kong Seng-cu

Tanpa bangkit dari tempat duduknya, kakek berdahi codet ini mengirim pukulan jarak jauh dengan dorongan tangan kanannya ke arah dada Lulu. Jarak antara mereka ada empat meter dan kakek ini yang memandang rendah gadis Mancu itu yang disangkanya gadis biasa saja, menaksir bahwa pukulannya ini cukup kuat untuk merusak isi dada gadis yang dianggapnya jahat dan musuh rakyat itu.

Angin pukulan yang dahsyat menyambar ke arah Lulu dan jelas tampak betapa baju gadis itu di bagian dadanya berkibar disambar angin pukulan. Akan tetapi gadis itu sendiri berdiri sambil tersenyum-senyum manis, sama sekali tidak bergerak, seolah-olah ia tidak merasakan datangnya angin pukulan jarak jauh ini seperti sebongkah batu gunung ditiup angin semilir! Dan memang sesungguhnyalah bahwa Lulu sama sekali tidak tahu bahwa dia dipukul orang! Akan tetapi mengapa pukulan jarak jauh yang mengandung tenaga sakti amat kuat dari tokoh Hoa-san-pai itu sama sekali tidak terasa olehnya? Apakah Lulu sudah memiliki kesaktian yang luar biasa seperti Han Han?

Sebetulnya tidaklah demikian. Seperti kita ketahui, ketika berdiam di Pulau Es Lulu juga tekun belajar di bawah bimbingan Han Han. Akan tetapi berbeda dengan Han Han yang memiliki dasar tidak karuan, bahkan secara paksa menggembleng diri dengan ilmu dari aliran hitam, Lulu sebaliknya mempelajari kitab-kitab peninggalan manusia sakti pemilik Istana Pulau Es.

Gadis ini berlatih semedhi dan pengumpulan hawa murni untuk membentuk tenaga sakti menurut petunjuk kitab yang dibacanya di pulau itu, dan ternyata ia dapat memiliki sinkang yang murni dan bersih yang amat kuat dan yang kini telah menjadi satu dengan darah daging dan pernapasannya sehingga tenaga sakti ini akan bergerak dengan sendirinya setiap kali ada bahaya mengancam tubuhnya.

Juga gadis ini melatih ilmu silat tangan kosong dan ilmu pedang dari dua buah kitab lain yang sudah amat tua dan tidak berjudul lagi, ilmu silat tangan kosong yang lebih mirip ilmu tari karena gerakan-gerakannya indah sekali sehingga sering kali jika sedang berlatih, Lulu ditertawai dan digoda Han Han, dikatakan bahwa tarian adiknya amat indah dan ‘bahwa’ adiknya bukan mempelajari ilmu silat melainkan ilmu tari. Namun dengan ‘ilmu tari’ ini Lulu telah dapat membuat beruang es mengaku kalah!

Ada pun ilmu pedangnya juga amat indah, akan tetapi karena dipulau itu mereka tidak mempunyai pedang, Lulu selalu berlatih mempergunakan sebatang ranting. Dengan adanya sinkang yang sudah mendarah daging itulah maka tadi ketika Kong Seng-cu melancarkan pukulan jarak jauh yang mengandalkan tenaga sinkang, begitu angin pukulan menyentuh kulit, otomatis sinkang di tubuh Lulu bergerak dan menolak serangan dari luar itu maka gadis ini tidak merasakan apa-apa sungguh pun bajunya sampai berkibar dilanda angin pukulan jarak jauh tokoh Hoa-san-pai itu!

Wan Sin Kiat menjadi pucat mukanya, dan pandang matanya menjadi kagum dan heran bukan main. Sebagai murid tersayang dari Im-yang Seng-cu, seorang tokoh yang biar pun tingkatnya hanya saudara seperguruan dari tiga orang tosu ini, namun memiliki ilmu kepandaian jauh lebih tinggi, dan sebagai seorang yang ahli dalam ilmu silat Hoa-san-pai, Sin Kiat tadi dapat melihat jelas gerakan Kong Seng-cu dan maklum bahwa supek-nya itu dengan secara keji sekali telah melakukan pukulan jarak jauh yang disebut jurus Sian-jin-hian-ko (Dewa Memberi Buah) dan yang mengandung tenaga sinkang amat kuat.

Akan tetapi dapat dibayangkan betapa heran dan kagumnya ketika melihat bahwa gadis yang telah membuat jantungnya jungkir balik dan bertekuk lutut itu sama sekali tidak merasakan pukulan itu, bahkan berkedip pun tidak, malah senyumnya makin lebar dan makin manis, mata yang lebar itu makin bersinar-sinar!

"Eh, Tosu Codet. Engkau mengeluarkan ilmu hitam apakah?" Setelah bajunya berkibar dan dadanya agak berdenyut kulitnya, barulah Lulu sadar bahwa tosu itu tadi telah memukulnya dengan pengerahan sinkang, maka ia sengaja mengejek. Diam-diam gadis ini bersikap waspada dan hati-hati karena maklum bahwa para tosu Hoa-san-pai itu benar-benar hendak memusuhi dia dan Han Han.

Sementara itu, ketika melihat betapa pukulan jarak jauh yang dilontarkan Kong Seng-cu kepada gadis Mancu itu sama. sekali tidak berhasil, tiga orang tokoh Hoa-san-pai ini diam-diam terkejut dan berhati-hati. Mereka maklum bahwa gadis Mancu yang masih remaja itu telah memiliki tenaga sinkang yang hebat dan tidak lumrah dimiliki seorang gadis yang demikian muda.

Tiga orang tosu itu menjadi serba salah. Mau merintahkan anak murid turun tangan terhadap Han Han dan Lulu, mereka maklum bahwa murid-murid yang berada di situ agaknya bukanlah lawan pemuda berambut riap-riapan dan adiknya yang bertenaga sinkang hebat itu. Mau turun tangan sendiri, mereka masih merasa tidak enak dan malu karena amatlah menurunkan derajat bagi mereka untuk turun tangan terhadap dua orang yang masih amat muda, boleh disebut setengah dewasa itu!

Tiba-tiba pandang meta Bhok Seng cu yang memandangi para anak murid Hoa-san-pai dan anak buah Pek-eng-piauwkiok itu menatap ke satu arah. Ketika Lok Seng-cu dan Kong Seng-cu yang ragu-ragu menoleh ke arah suheng mereka yang tentu saja sebagai orang tertua di antara mereka merupakan penentu terakhir, mereka berdua pun mengikuti arah pandang mata suheng mereka itu dan wajah mereka berseri. Mengertilah kedua orang tosu ini akan jalan pikiran suheng mereka dan mereka pun setuju sekali. Tanpa mengeluarkan suara, tiga orang tosu Hoa-san-pai ini telah bersepakat untuk memerintahkan Wan Sin Kiat dan Lu Soan Li menghadapi Han Han dan Lulu!

Mereka itu sama mudanya sehingga tidak akan menurunkan nama Hoa-san-pai, mereka berdua itu pun murid-murid Hoa-san-pai yang lihai ilmunya sehingga di dunia kang-ouw terkenal dengan julukan Hoa-san Gi-hiap dan Hoa-san Kiam-li. Dan yang menggirangkan hati ketiga orang tosu ini, dua orang muda itu adalah murid-murid Im-yang Seng-cu, seorang tokoh Hoa-san-pai yang mereka anggap menyeleweng dan murtad sehingga kalau dua orang murid itu sampai kalah, Hoa-san-pai tidaklah terlalu merasa malu dan memang tiga orang tosu ini dalam kebenciannya terhadap Im-yang Seng-cu menjadi tidak suka pula kepada Sin Kiat dan Soan Li.

Rasa benci terhadap Im-yang Seng-cu bukan semata karena tokoh Hoa-san-pai ini meninggalkan Hoa-san-pai, melainkan lebih banyak terdorong rasa iri hati. Im-yang Seng-cu membuat nama besar bukan bersandar kepada Hoa-san-pai karena ilmu silatnya telah bercampur dengan ilmu-ilmu silat lain. Di samping ini, Im-yang Seng-cu tidak lagi hidup terikat dan terkurung di Hoa-san, melainkan hidup sebagai seorang pendekar dan petualang yang bebas dan bebas pula menikmati kesenangan duniawi!

"Murid-murid Wan Sin Kiat dan Lu Soan Li! Pinto memerintahkan kalian untuk menangkap musuh Hoa-san-pai dan adiknya, gadis Mancu itu. Kerjakan perintah pinto sebagai murid-murid Hoa-san-pai yang baik!" Bhok Seng-cu berkata dengan nada suara halus dan muka berseri. Dua orang sute-nya mengangguk-angguk dan tersenyum sambil meraba-raba jenggot mereka.

Sin Kiat dan Soan Li menjadi terkejut bukan main mendengar perintah ini. Wajah mereka berubah dan jantung mereka berdebar karena mereka tersudut ke dalam keadaan yang serba salah. Untuk membantah, perintah itu keluar dari mulut supek mereka dan dikeluarkan atas nama Hoa-san-pai. Untuk mentaati perintah, bagaimana mereka dapat memusuhi dua orang muda yang menjadi sahabat baik mereka, bahkan dua orang muda yang masing-masing telah menjatuhkan hati mereka?

Mereka tak tahu harus berbuat apa, merasa mundur salah maju tidak sesuai dengan suara hati mereka. Apa lagi ketika mereka melihat betapa Han Han dan Lulu kini menoleh dan memandang mereka dengan sikap tenang dan bahkan Lulu tersenyum-senyum memandang Sin Kiat karena gadis nakal ini agaknya merasa geli, sama sekali tidak kasihan melihat pemuda itu yang ia tahu menjadi bingung. Baru saja menyatakan cinta, kini disuruh menyerang!

Teringatlah dua orang murid Hoa-san-pai ini akan pesan suhu mereka, yaitu Im-yang Seng-cu, "Kalian memang dapat disebut murid-murid Hoa-san-pai, akan tetapi ilmu yang kuberikan kepada kalian sesungguhnya bukanlah ilmu asli dari Hoa-san-pai. Karena itu kalian harus berhati-hati terhadap Hoa-san-pai. Para tosu Hoa-san-pai, yaitu Suheng-suheng dan Sute-sute-ku, adalah tosu-tosu yang kukuh dan terlalu kaku memegang aturan sehingga kadang-kadang mereka itu keras sekali. Memang demikian watak orang-orang yang terikat oleh keadaan pada lahirnya namun sesungguhnya batinnya belum dapat mereka sesuaikan dengan keadaan lahir. Mereka banyak yang merasa iri hati melihat kehidupan orang-orang di luar lingkungan tosu yang hidup serba bebas dan dapat mengecap kenikmatan hidup tanpa pantangan-pantangan. Lebih baik kalau kalian menjauhkan diri dari urusan Hoa-san-pai.”

Demikianlah pesan suhu mereka dan kini, di luar kehendak mereka, mereka dihadapkan dengan urusan yang amat sulit yang menyangkut Hoa-san-pai.

"Mengapa kalian tidak lekas turun tangan? Apakah kalian hendak menentang perintah pinto dan hendak menjadi murid murtad Hoa-san-pai pula?" kini suara Bhok Seng-cu terdengar keras dan tidak senang, mengandung tekanan menyindir bahwa guru kedua orang muda itu adalah seorang murid murtad Hoa-san-pai

Soan Li hanya dapat memandang kepada suheng-nya dengan pandang mata penuh permohonan agar suheng ini dapat mengambil keputusan. Sin Kiat menghela napas panjang lalu berkata.

"Supek, mohon maaf, bukan sekali-kali teecu membantah. Hanya teecu teringat akan pesan Suhu bahwa segala perbuatan teecu berdua harus didasarkan kebenaran. Teecu menganggap bahwa Saudara Sie Han dan Lulu tidak bersalah dalam urusan ini, bagaimana mungkin teecu berdua harus memusuhi mereka?"

"Wan Sin Kiat! Bocah ini telah membunuh dua orang murid Hoa-san-pai yang terhitung Suheng-suheng-mu sendiri dan kau masih hendak membelanya? Dan gadis ini, sudah terang dia itu gadis Mancu, seorang musuh bangsa kita, dan engkau pun hendak membelanya? Pelajaran macam apakah ini yang diberikan Gurumu kepada kalian?" bentak Kong Seng-cu.

Ucapan keras yang menambah ketegangan itu disusul suara Lulu yang perlahan akan tetapi karena keadaan yang amat sunyi, terdengar oleh semua telinga, "Koko, Tosu Codet itu galak sekali! Kalau terjadi pertempuran, kau bikin mukanya bertambah satu codet lagi, baru puas hatiku!"

"Sssttttt, Lulu, jangan lancang mulut...!" Han Han menjawab lirih, akan tetapi tentu saja terdengar pula oleh semua orang.

Kong Seng-cu hampir tak dapat menahan kemarahannya dan ia memandang kepada Lulu dengan mata melotot. Untuk turun tangan sendiri, ia merasa malu hati, tidak turun tangan, jantungnya serasa ditusuk-tusuk oleh sindiran dan ejekan gadis Mancu itu.

"Supek," jawab Sin Kiat dengan suara tenang. "Suhu mengajarkan agar teecu tidak sembrono dalam sepak terjang teecu, tidak menurutkan panasnya nafsu hati melainkan menggunakan pertimbangan pikiran dan liangsim (hati nurani). Biar pun Han Han membunuh kedua orang Suheng teecu, akan tetapi dia membunuh bukan karena kejahatan, melainkan karena tertipu muslihat Puteri Mancu. Ada pun Adik Lulu ini... dia bukanlah musuh, dia tidak memusuhi kita.”

"Kreeekkkkk!" Lengan kursi yang diduduki Bhok Seng-cu hancur berkeping-keping karena dicengkeram tangan tosu lihai ini yang sudah tak dapat mengendalikan lagi kemarahannya.

"Murid murtad!" Ia menudingkan telunjuknya kepada Sin Kiat, kemudian menoleh ke arah Tan Bu Kong, Kwee Twan Giap, dan murid-murid Hoa-san-pai pembantu Tan-piauwsu yang lain sambil berseru, "Tangkap dua orang murid murtad ini, dan kami akan turun tangan sendiri menangkap bocah dan gadis Mancu itu!"

"Serrr... serrrrr...!"

Bhok Seng-cu menggerakkan tangan kanannya, dua sinar hitam menyambar ke arah Han Han dan Lulu. Itulah hancuran kayu lengan kursi yang dicengkeramnya tadi, kini ditimpukkan dengan pengerahan sinkang sehingga merupakan senjata rahasia yang amat berbahaya, menyambar ke arah dada Han Han dan Lulu yang sejak tadi hanya berdiri dengan sikap tenang di tengah ruangan itu.

Han Han mengibaskan tangannya sehingga hancuran kayu itu runtuh ke bawah, sedangkan Lulu dengan sikap lincah meloncat ke samping, mengelak sambil tertawa mengejek, "Wah, sayang luput, Tosu galak!"

Tan-piauwsu dan para sute-nya, juga anak buah Pek-eng-piauwkiok yang sudah menganggap diri mereka sebagai anak buah Hoa-san-pai tidak berani membantah perintah itu dan mereka telah mencabut senjata masing-masing, kini telah mengurung ruangan itu! Di luar tahunya semua orang, Kwee Twan Giap sute termuda dari Tan-piauwsu yang amat cerdik, telah memberi tanda dengan jari tangan agar Sin Kiat dan Soan Li cepat melarikan diri saja sehingga terhindar pertandingan antara murid Hoa-san-pai sendiri. Melihat ini, Sin Kiat dan Soan Li mencatat dalam hati mereka akan ikhtikad baik Kwee Twan Giap.

Akan tetapi, sebelum dua orang murid Im-yang Seng-cu ini sempat melakukan sesuatu, tiba-tiba terdengar pekik melengking keras sekali yang membuat semua orang tertegun, bahkan banyak di antara mereka meremang bulu tengkuknya mendengar suara ini. Suara ini keluar dari mulut Han Han yang sudah meloncat ke depan sambil melengking keras, kemudian berkata.

"Majulah semua! Tosu-tosu picik, hayo majulah kalian. Kalau kekerasan yang kalian kehendaki, kekerasan yang kalian dapat!"

Lulu juga meloncat ke dekat kakaknya sambil membusungkan dadanya yang sudah membusung, "Jangan mengeroyok Wan Sin Kiat dan Lu Soan Li, keroyoklah kami kalau kalian sudah bosan hidup!"

Akan tetapi tiba-tiba Han Han sudah menggerakkan kedua tangannya, mendorong ke kanan kiri dan terdengarlah suara hiruk-pikuk jatuhnya beberapa buah senjata pedang dan golok karena pemiliknya rebah terguling disambar hawa pukulan hebat luar biasa, yaitu yang menyambar ke luar dari kedua telapak tangan Han Han. Amat mengerikan akibatnya karena empat orang itu roboh dengan lengan kanan sebatas siku gosong seperti dibakar. Masih untung bahwa Han Han menyerang mereka mengarah lengan, kalau tubuh mereka yang terkena sambaran hawa pukulan yang merupakan inti dari Hwi-yang Sin-ciang ini, pasti nyawa mereka telah melayang!

Lulu menjadi gembira, tubuhnya berkelebat ke kiri dan sebuah tendangan membuat seorang anak buah piauwkiok menjerit kesakitan, lengan tangannya patah tulangnya dan pedangnya mencelat ke atas. Tubuh Lulu meloncat dengan gerakan indah dan cepat, seperti seekor burung walet terbang dan tahu-tahu pedang itu telah berada di tangannya, lalu ia melayang turun, berdiri tersenyum-senyum menimang-nimang dan memandang pedang, sikapnya seperti seorang anak kecil mendapatkan sebuah boneka.

"Pedang yang bagus sekali!'" Ia memainkan ronce-ronce pedang yang berwarna kuning itu dan mengelus-elus mata pedang yang tajam.

Melihat ini Tan-piauwsu dan para sute serta anak buah mereka mau tak mau lalu maju menyerbu, bukan menyerbu Sin Kiat dan Soan Li, melainkan menyerbu Han Han dan Lulu yang telah bergerak terlebih dulu. Biar pun sampai mati dalam pertandingan, mereka ini memilih mati di tangan Han Han dan Lulu yang merupakan orang-orang lain, bahkan boleh juga dianggap musuh karena Han Han telah membunuh dua orang murid Hoa-san-pai sedangkan Lulu adalah seorang gadis Mancu. Kalau mereka menyerbu Sin Kiat dan Soan Li, berarti mereka bermusuhan dengan murid-murid Hoa-san-pai sendiri dan kalau tewas berarti mati konyol!

“Han Han... Lulu-moi..., kasihanilah mereka yang tak berdosa, jangan bunuh mereka...!" Sin Kiat berteriak dengan hati sedih dan amat terkejut menyaksikan sepak terjang Han Han.

Lulu mendengar getaran suara Sin Kiat ini dan ketika ia mengerling kepada kakaknya, ia melihat bahwa kakaknya telah diserang nafsunya yang aneh, yang kadang-kadang datang seperti ketika kakaknya ini menyiksa ular merah di Pulau Es. Ia cepat berbisik.

"Koko, jangan bunuh orang...."

Pada saat itu Han Han memang telah kemasukan nafsu iblis yang selalu menyerangnya apa bila ia mengerahkan sinkang di tubuhnya. Latihan-latihan yang ia tempuh selama bertahun-tahun adalah latihan-latihan ilmu golongan hitam yang selalu menimbulkan nafsu ingin menyiksa dan membunuh. Begitu menyaksikan sikap tiga orang tosu Hoa-san-pai, kemarahannya bangkit dan sekali ia mengerahkan sinkang, nafsu membunuh ini telah bangkit di dadanya. Sepasang matanya yang amat tajam itu menjadi agak kemerahan, napasnya agak terengah dan ia merasa seolah-olah ia bukan bernapas hawa melainkan api. Akan tetapi aneh sekali, bisikan suara Lulu itu merupakan embun dingin sejuk yang seketika dapat menekan gairahnya untuk membunuh musuh sebanyaknya. Ia mengangguk sambil berkata lirih.

"Lulu, kau tahan mereka itu, biar aku menghadapi tiga orang tosu sombong!"

Lulu tersenyum, menggerakkan tubuh ke kanan menghindarkan bacokan seorang anak buah piauwkiok, tangan kirinya menyambar tengkuk dan orang itu mengeluh dan roboh dengan mata mendelik, pingsan! Jurus-jurus pukulan Lulu amat aneh, selain karena memang ilmu silat tangan kosong yang dilatihnya dari kitab kuno di Pulau Es memang aneh, juga ditambah dengan gerakan-gerakan yang ia ciptakan di luar kesengajaannya ketika ia berlatih dengan beruang es yang lihai sekali. Biasanya kalau ia memukul tengkuk beruang es dengan tangan miring, beruang itu kadang-kadang dapat mengelak atau menangkis, dan kalau terkena juga, beruang es itu hanya akan terhuyung. Siapa kira orang ini sekali kena disambar tengkuknya terus roboh pingsan!

Hebat bukan main sepak terjang Lulu. Dia kini telah meloncat ke dekat kakaknya, menyerahkan pedang dengan sikap seperti anak kecil dan berkata, "Aku titip dulu, Koko, jangan sampai hilang pedangkul"

Setelah berkata demikian, tubuhnya berkelebat, berputaran seperti orang menari, namun cepat bukan main sehingga para anak buah Peng-eng-piauwkiok hanya melihat bayangan berkelebatan di sekeliling mereka dan mencium keharuman yang keluar dari rambut dan pakaian Lulu. Pada detik-detik berikutnya, senjata-senjata di tangan mereka beterbangan dan orangnya pun mengaduh-aduh. Ada yang patah tulang lengannya, ada yang terkilir kakinya kena tendangan, ada yang pening kepalanya dengan mata berkunang karena ditempiling, dan ada pula yang mulas perutnya kena dicium ujung sepatu gadis itu. Mereka seolah-olah melawan bayangan setan, membacok dan menusuk secara ngawur karena tidak dapat melihat jelas lawannya, dan tahu-tahu dua puluh orang lebih telah kehilangan senjata dan tubuh mereka malang-melintang di ruangan itu!

"Bukan main !" Sin Kiat berseru sambil menahan napas saking kagumnya.

Dia sendiri adalah seorang ahli silat kelas tinggi dan memiliki ginkang yang hebat. Akan tetapi menyaksikan gerakan Lulu, ia menjadi bengong karena gerakan gadis itu seolah-olah terbang saja! Betapa mungkin dara remaja itu memiliki ginkang setinggi itu? Siapakah gerangan gurunya? Melihat gerakannya yang jelas membayangkan ilmu dari golongan bersih, kaum putih, ia tidak percaya kalau Lulu juga murid Ma-bin Lo-mo. Kalau Han Han memang amat boleh jadi, karena gerakan dan pukulan pemuda mengerikan sekall, Jelas termasuk ilmu dari kaum sesat.

Kini hanya tinggal Tan Bu Kong, Kwee Twan Giap dan dua orang sute-nya yang lain saja di antara para piauwsu yang belum roboh. Mereka berempat ketika menyaksikan betapa semua anak buah piauwkiok roboh oleh gadis Mancu itu menjadi kaget akan tetapi juga marah. Tanpa dikomando lagi mereka sudah mencabut senjata dan menerjang maju. Tentu saja sebagai murid-murid Hoa-san-pai yang sudah bertingkat empat atau lima, ilmu silat mereka sudah hebat dan gerakan mereka ketika menyerang Lulu tak boleh disamakan dengan gerakan para anak buah Pek-eng-piauwkiok tadi.

"Pergilah...!" terdengar bentakan Han Han.

Ia tidak membiarkan adiknya dikeroyok murid-murid Hoa-san-pai ini. Dia membentak dan kedua tangannya mendorong ke kanan kiri dan... empat orang murid Hoa-san-pai itu terpental sampai empat meter ke belakang, roboh tak dapat bangkit kembali karena tulang pundak mereka remuk disambar hawa yang keluar dari kedua telapak tangan Han Han. Untung bagi mereka bahwa Han Han masih ingat akan cegahan adiknya sehingga ia membatasi dorongannya dan hanya membuat mereka roboh pingsan dengan tulang remuk saja.

"Siancai... pemuda iblis...!”

Bhok Seng-cu dan Lok Seng-cu dengan gerakan tenang namun sesungguhnya cepat dan mengandung tenaga sinkang yang amat kuat, meloncat turun dari kursi mereka diikuti oleh Kong Seng-cu.

Melihat tiga orang kakek tokoh Hoa-san-pai itu hendak turun tangan, diam-diam Sin Kiat dan Soan Li menjadi khawatir sekali. Mereka maklum akan kelihaian tiga orang supek mereka ini. Karena sekali ini yang turun tangan adalah tokoh tinggi yang berkepandaian hebat, maka akibatnya pun tentu mengerikan. Mereka masih bingung dan serba salah, tidak tahu harus berbuat apa. Membantu sana salah membantu sini tak benar. Maka mereka hanya memandang bengong dan jantung mereka serasa berhenti berdetik.

"Koko, mana pedangku? Biar kau serahan Si Codet galak itu kepadaku!" kata Lulu yang agaknya tidak mengenal bahaya.

Pedang itu tadi oleh Han Han ditancapkan di atas tanah ketika ia membantu Lulu dan merobohkan empat orang murid Hoa-san-pai. Kini Lulu menyambar pedang itu dan terus dimainkan sambil mengejek ke arah Kong Seng-cu.

"Hayo, Tosu Codet, beranikah engkau melawan pedang wasiat jimat keramatku?

Sudah sejak tadi Kong Seng-cu diejek dan dipermainkan Lulu. Sekarang kemarahannya memuncak. Ia lupa diri, lupa bahwa adalah pantangan pertama dan terutama bagi seorang ahli tapa seperti dia untuk mudah dirangsang nafsu amarah. Dengan seruan keras ia telah mencabut pedangnya dan menerjang Lulu. Sinar pedangnya yang gemilang kehijauan itu bagaikan kilat menyambar ke arah leher Lulu!

"Cringgg...! Iiihhhhh...!” Lulu berteriak kaget dan memandang pedangnya yang tinggal sepotong, lalu berkata, “Pedangmu bagus sekali, Tosu Codet! Wah, kau berikan saja pedangmu itu padaku dan aku serta koko-ku akan mengampunimu. Hayo, serahkan pedangmu sebagai pengganti nyawamu!”

Ketika menangkis tadi, pedang rampasannya bertemu dengan pedang Kong Seng-cu yang bersinar kehijauan, dan sekali beradu, pedang rampasannya buntung. Maka ia menjadi tertarik sekali dan wajah serta matanya berseri memandang pedang kehijauan yang dipegang Kong Seng-cu.

Dapat dibayangkan betapa marah dan mendongkol hati Kong Seng-cu mendengar ucapan gadis itu. Sudah terang bahwa sekali serang saja, biar pun gadis itu berhasil menangkisnya, namun pedang gadis itu menjadi buntung sehingga hal ini dapat dipakai ukuran bahwa dia sudah menang dalam satu gebrakan. Namun gadis itu masih mengeluarkan ucapan untuk menukar pedangnya dengan nyawa. Seolah-olah gadis itu baru mau mengampuninya kalau dia sudah memberi ‘thiap’ (sogokan) kepada gadis Mancu itu berupa pedangnya!

Padahal pedangnya itu bukanlah sembarang pedang! ltulah pedang Cheng-kong-kiam (Pedang Sinar Hijau), sebuah pusaka Hoa-san-pai! Cheng-kong-kiam ini dahulu amat terkenal didunia kang-ouw sebagai senjata ampuh dari para pimpinan Hoa-san-pai dan kini berada di tangan Kong Seng-cu karena dia merupakan seorang di antara pemimpin Hoa-san-pai, dan di antara ketiga orang tosu itu, dialah yang paling pandai dalam kiam-sut (ilmu pedang) Hoa-san-pai. Dan sekarang, pedang itu diminta oleh Lulu sebagai barang ‘sogokan’. Sungguh keterlaluan sekali!

"Perempuan Mancu keparat, engkau tak patut dibiarkan hidup!" Kong Seng-cu yang sudah memuncak kemarahannya itu kini menerjang maju dengan ganas, mengeluarkan jurus-jurus maut dari Ilmu Pedang Hoa-san Kiam-sut.

"Ayaaaaa..., Tosu Codet selain galak juga ganas sekali !" Mulut Lulu berkata demikian, akan tetapi sesungguhnya dia tidak berpura-pura dan menjadi kaget sekali.

Kasihan dara remaja ini. Biar pun dia telah mewarisi ilmu silat yang amat tinggi dan aneh dari Pulau Es, akan tetapi dia kurang pengalaman dan selamanya dia hanya berlatih dalam pertandingan pura-pura melawan beruang es. Kini dia diserang oleh seorang tosu Hoa-san-pai tingkat empat yang memegang sebatang pedang pusaka Hoa-san-pai pula, yang sudah menjadi ahli pedang sebelum dia terlahir. Tentu saja dia terkejut dan kewalahan. Baiknya, selama di Pulau Es gadis ini telah berlatih secara aneh dan hebat sehingga dia memiliki sinkang dan ginkang yang tidak lumrah manusia biasa sehingga biar pun terdesak, ia selalu dapat bergerak cepat, menghindar diri dengan meloncat ke sana kemari, mengelak terus karena tidak berani menangkis dengan pedangnya yang tinggal sepotong.

"Sing-sing-sing...! Siuuuuutttt...! Aihhh...!" Untuk ke sekian kalinya hampir saja ujung pedang bersinar hijau itu mencium kulit leher Lulu yang putih halus sehingga gadis itu membelalakkan matanya. Untung ia masih bisa cepat sekali menarik tubuh ke belakang, lalu meloncat ke atas dan berjungkir-balik empat meter di sebelah belakangnya.

Namun Kong Seng-cu yang sudah marah dan penasaran itu menerjang terus tanpa mengenal kasihan. Kong Seng-cu tidak malu menyerang dengan pedangnya karena tadi Lulu juga memegang pedang, bahkan biar pun sekarang pedang gadis itu tinggal sepotong, namun masih terus dipegangnya sehingga gadis itu dapat dikatakan ‘bersenjata’ dan dia tidak akan disebut menyerang seorang yang bertangan kosong dengan senjatanya.

Berbeda dengan Bhok Seng-cu dan Lok Seng-cu. Mereka berdua setelah menyaksikan betapa Kong Seng-cu sudah turun tangan terhadap gadis Mancu yang telah merobohkan para anak buah Pek-eng-piauwkiok, lalu melangkah maju menghampiri Han Han pula. Mereka berdua maklum bahwa pemuda ini memiliki kepandaian yang hebat juga, maka mereka pun tidak malu-malu untuk turun tangan berdua, sungguh pun mereka masih merasa sungkan menggunakan senjata. Mereka percaya bahwa andai kata seorang diri masih diragukan untuk dapat menundukkan pemuda liar itu, berdua tentu akan dapat menawannya untuk diseret ke depan ketua Hoa-san-pai. Dengan demikian, barulah nama besar dan wibawa Hoa-san-pai tidak akan tercemar karena tewas dan robohnya beberapa orang anak murid Hoa-san-pai di tangan bocah ini.

"Pemuda iblis, menyerahlah!" Lok Seng-cu menggerakkan tangan mencengkeram ke arah pundak Han Han.

Pemuda ini sudah menjadi marah, apa lagi melihat betapa Lulu diserang dengan pedang oleh Kong Seng-cu. Kini menghadapi cengkeraman tangan Lok Seng-cu, ia sama sekali tidak mengelak, bahkan menggerakkan tangan pula menangkis sambil mengerahkan tenaga dengan lengan kiri.

“Plakkkkk...!"

"Ayaaaaa...!"

Tubuh Lok Seng-cu terpelanting dan hampir saja tosu ini roboh kalau saja dia tidak cepat meloncat ke atas dan berjungkir-balik, wajahnya pucat dan lengan kirinya agak membiru. Hawa dingin seperti es menusuk-nusuk lengannya itu. Dia sudah mendengar akan kelihaian Ma-bin Lo-mo yang kabarnya memiliki ilmu pukulan Swat-im Sin-ciang (Tangan Sakti Inti Es) yang mengandung Im-kang yang amat kuat. Akan tetapi sungguh sama sekali tidak pernah disangkanya bahwa murid datuk hitarn itu rnemiliki sinkang sekuat ini! Cepat Lok Seng-cu menghimpun tenaga dalarnnya dan segera rasa dingin menusuk-nusuk itu lenyap kembali.

Melihat sute-nya hampir roboh dalam segebrakan, Bhok Seng-cu terkejut bukan main. Cepat ia pun menubruk maju dari sebelah kanan pemuda itu dan mengirim dorongan dengan telapak tangannya ke arah dada Han Han. Dorongan ini bukan sembarang dorongan, melainkan pukulan sakti yang dilakukan dengan pengerahan sinkang yang kuat sekali.

Han Han dapat merasakan sambaran angin dahsyat yang panas, maka ia pun segera membuka tangan kanan dan memapaki telapak tangan kakek yang mendorongnya.

"Plakkk...!"

Dua telapak tangan yang mengandung hawa Yang-kang bertemu dan melekat! Bhok Seng-cu kembali tertegun. Cepat-cepat ia mengerahkan sinkang-nya untuk memperkuat Yang-kang yang mendorong ke luar dari telapak tangannya. Pemuda ini menggunakan Yang-kang yang amat panas! Hal ini benar-benar mengagetkan Bhok Seng-cu karena hawa panas yang menyambut telapak tangannya itu hampir tak tertahankan olehnya!

Melihat betapa suheng-nya telah turun tangan akan tetapi belum mampu merobohkan pemuda itu, Lok Seng-cu menjadi penasaran dan ia pun menerjang maju dan kini ia memukul dengan mengerahkan hawa Im-kang. Sebagai seorang tokoh tingkat tinggi Hoa-san-pai, tiga orang tosu ini tentu saja telah kuat sekali sinkang-nya sehingga mereka pun menguasai tenaga Yang-kang mau pun Im-kang. Lok Seng-cu yang sudah merasakan betapa pemuda itu tadi menerima cengkeramannya dengan tangkisan yang mengandung hawa sakti dingin, kini menyerang pula dengan Im-kang karena ia maklum pula melihat jurus yang dipergunakan suheng-nya bahwa Bhok Seng-cu menyerang pemuda itu dengan Yang-kang dan bahwa pemuda itu menyambut dorongan suheng-nya dengan hawa sakti panas pula. Kesempatan bagus pikirnya.

Akan tetapi dapat dibayangkan betapa kagetnya ketika tangan kiri pemuda itu menerima telapak tangannya dengan sinkang yang berhawa dingin pula! Betapa mungkin ini? Dengan tangan kanannya pemuda itu melawan hawa panas Bhok Seng-cu dengan hawa panas pula, dan dengan tangan kirinya menghadapi Lok Seng-cu dengan sinkang yang berlawanan, yaitu dengan hawa dingin!

Lok Seng-cu juga merasa betapa hawa dingin yang keluar dari telapak tangan pemuda itu amat luar biasa dan hampir ia tidak kuat menahannya. Terpaksa ia mengerahkan seluruh tenaga saktinya untuk melawan. Ada pun Bhok Seng-cu yang sudah berkeringat dahinya karena hawa panas menjalari seluruh tubuhnya, juga mengerahkan tenaga dengan mata setengah dipejamkan untuk melawan sinkang pemuda itu yang benar-benar amat luar biasa. Tiga orang ini hanya berdiri tak bergerak dengan telapak tangan beradu, telapak tangan mereka saling melekat.

Melihat ini, Wan Sin Kiat dan Lu Soan Li menjadi bengong saking heran dan kagumnya. Han Han seorang diri mampu menahan pukulan-pukulan sakti kedua orang supek mereka! Mereka sudah menduga bahwa Han Han adalah seorang pemuda yang memiliki kesaktian luar biasa, akan tetapi sungguh jauh melampaui batas dugaan mereka bahwa pemuda itu mampu menahan serangan hawa sakti dua orang kakek itu, dan bahkan Han Han masih dapat menengok dan memperhatikan keadaan Lulu yang terdesak hebat oleh pedang Kong Seng-cu yang lihai.

Dua orang muda ini menjadi makin gelisah dan bingung. Melihat anak buah Pek-eng-piauwkiok terluka semua termasuk Tan-piauwsu dan tiga orang sute-nya sehingga ruangan itu penuh dengan mereka yang rebah dan merintih-rintih, kini melihat betapa Lulu terancam maut di ujung pedang Kong Seng-cu, dan melihat Han Han juga bergulat dengan maut, mereka menjadi bingung tak tahu harus berbuat apa.

Betapa pun juga, Han Han dan Lulu jelas merupakan musuh atau lawan pihak Hoa-san-pai sehingga menurut patut, sebagai murid-murid Hoa-san-pai pula, mereka semestinya membantu para supek mereka. Mereka memiliki ilmu silat tinggi, tidak banyak selisihnya dengan tiga orang tosu itu, bahkan dalam hal ilmu silat mungkin mereka lebih lihai. Jika pada saat itu mereka turun tangan membantu, tentu Han Han dan Lulu takkan dapat bertahan lebih lama lagi.

Namun hati mereka tidak mengijinkan mereka turun tangan! Karena itu mereka hanya memandang dengan muka pucat. Apa lagi Sin Kiat yang jatuh cinta kepada Lulu, hatinya menjadi amat bingung karena ingin sekali membantu Lulu, membebaskan gadis itu dari desakan berbahaya pedang Kong Seng-cu. Namun, bagaimana mungkin ia melawan supek-nya sendiri?

Sementara itu Han Han memandang ke arah adiknya dengan hati penuh kekhawatiran. Ia maklum bahwa adiknya takkan mampu mempertahankan diri lebih lama lagi menghadapi ilmu pedang tosu itu. Jangankan Lulu, dia sendiri pun bukanlah tandingan tosu-tosu Hoa-san-pai ini kalau harus bertanding mempergunakan atau mengandalkan ilmu silat. Han Han maklum bahwa menghadapi mereka, ia hanya dapat mengandalkan kekuatan sinkang-nya, karena dalam hal ilmu silat, dia tidak lebih pandai dari pada Lulu kalau tidak mau dikatakan bahkan lebih rendah lagi karena Lulu telah mempelajari ilmu silat dari kitab peninggalan pemilik Pulau Es. Untuk menolong adiknya, ia harus cepat menundukkan dua orang kakek ini.

"Aiiiggghhhhh…...!!"

Seruan dahsyat ini keluar dari dada Han Han. Kedua orang tosu yang mempertahankan desakan sinkang-nya menjadi kaget seperti disambar petir ketika tiba-tiba mereka merasakan perubahan pada kedua lengan pemuda itu. Bhok Seng-cu yang tadinya menghadapi hawa Yang-kang panas dari tangan Han Han, tiba-tiba merasa betapa telapak tangan pemuda itu berubah menjadi dingin sekali, terlalu dingin sehingga seluruh lengannya seperti ditusuk-tusuk jarum! Di lain pihak, Lok Seng-cu yang tadinya menghadapi Im-kang dingin, tiba-tiba merasa betapa tangan pemuda itu berubah menjadi panas luar biasa.

Cepat kedua orang tosu itu pun mengubah sinkang mereka untuk menyesuaikan diri, akan tetapi kembali Han Han menukar sinkang-nya secara tiba-tiba. Dua orang tosu itu hampir tidak dapat percaya kepada perasaan tangannya sendiri. Selama hidup mereka, belum pernah mereka menyaksikan hal seperti ini. Betapa mungkin mengubah-ubah sinkang secara mendadak seperti itu?

Karena perubahan-perubahan ini, mereka menjadi kacau dan tak kuat bertahan lagi, sehingga ketika Han Han mengerahkan tenaga mendorong, tubuh mereka mencelat ke belakang dan mereka roboh terbanting dengan napas megap-megap hampir putus karena dada mereka terluka oleh sinkang mereka yang membalik secara tiba-tiba. Cepat mereka bersila dan memejamkan mata untuk menolong nyawa mereka yang terancam maut.

Han Han sudah meloncat ke dekat adiknya dan sekali kedua tangannya mendorong ke depan, Kong Seng-cu tak dapat bertahan. Tosu ini merasa betapa seluruh tubuhnya menjadi dingin, seolah-olah darah di tubuhnya membeku. Ia menggigil dan tanpa dapat ia cegah lagi, pedang pusaka Cheng-kong-kiam terlepas dari tangannya yang menjadi kaku. Lulu cepat menyambar pedang itu dan tertawa girang sekali, tidak mempedulikan lagi Kong Seng-cu yang sudah cepat duduk bersila seperti kedua orang saudara seperguruannya, mengerahkan tenaga sakti untuk menolong nyawanya yang terancam maut.

Suasana menjadi sunyi, yang terdengar hanya rintihan beberapa orang anak buah Pek-eng-piauwkiok yang tak dapat menahan nyeri. Namun tak seorang pun tewas dalam pertempuran aneh yang hanya memakan waktu sebentar saja itu. Wan Sin Kiat dan Lu Soan Li terlampau terheran-heran sehingga mereka itu masih bengong. Han Han menggandeng tangan Lulu yang masih mengagumi pedang rampasannya, kemudian Han Han menoleh kepada dua orang murid Im-yang Seng-cu sambil berkata.

"Sin Kiat dan Adik Soan Li, selamat tinggal. Kami berdua harus pergi sekarang juga."

Lulu juga menoleh kepada dua orang muda itu, tersenyum manis dan mengedipkan matanya yang lebar kepada Sin Kiat sambil berkata, "Selamat berpisah dan sampai jumpa pula, ya?"

Hati Sin Kiat terasa sakit. Ia bersedih harus berpisah dari gadis yang telah merampas hatinya itu. Akan tetapi pada saat seperti itu dia tidak dapat berkata apa-apa, apa lagi menahannya, bahkan ia maklum bahwa paling baik kedua orang itu cepat pergi dari tempat itu. Juga Soan Li hanya dapat memandang punggung Han Han yang bidang sampai bayangan kedua orang itu lenyap dari situ, keluar dari piauwkiok melalui pintu gerbang yang sudah tidak terjaga lagi.

Sin Kiat memandang ke arah tiga orang supek-nya yang masih duduk bersila dengan wajah pucat akan tetapi napas mereka tidak begitu sesak lagi, kemudian memandang kepada para suheng-nya yang terluka. Hatinya berduka sekali. la segera menghampiri Bhok Seng-cu dan berkata dengan suara terharu.

“Supek, sungguh teecu merasa menyesal sekali telah terjadi mala petaka ini.”

"Teecu mohon maaf tidak dapat membantu Supek," kata pula Soan Li.

"Dia terlalu hebat, seperti dewa... andai kata teecu berdua melawan pun tidak akan ada gunanya...," kata pula Sin Kiat, masih kagum bukan main menyaksikan sepak terjang Han Han tadi.

Bhok Seng-cu membuka matanya memandang kepada Sin Kiat dan Soan Li. Dua orang muda ini terkejut dan otomatis melangkah mundur melihat betapa sinar mata Bhok Seng-cu penuh dengan api kemarahan.

"Manusia-manusia khianat! Murid-murid murtad! Pergilah! Mulai detik ini kalian bukanlah murid, melainkan musuh Hoa-san-pai!"

"Supek..."

"Pinto bukan Supek kalian, keparat! Pergi !!" bentak pula Bhok Seng-cu.

Sin Kiat dan Soan Li saling pandang, di mata gadis itu tampak dua butir air mata yang ditahannya agar tidak runtuh. Sin Kiat menghela napas panjang, bangkit berdiri karena tadi mereka berlutut, lalu berkata lirih kepada Soan Li.

"Marilah kita pergi, Sumoi. Kelak Suhu tentu akan dapat mengerti keadaan kita..."

Soan Li juga bangkit berdiri dan pergilah kedua orang muda itu meninggalkan rumah piauwkiok itu, pergi dengan hati perih karena sebagai tokoh-tokoh muda Hoa-san-pai yang sudah membuat nama besar dan mengharumkan nama Hoa-san-pai, kini mereka diusir pergi dan tidak diakui sebagai murid. Padahal julukan mereka pun memakai nama Hoa-san.....

********************

Siauw-lim-pai merupakan perkumpulan atau partai silat yang bukan saja paling tua. Banyak orang mengatakan bahwa Siauw-lim-pai merupakan sumber dari semua partai persilatan yang kemudian timbul. Tentu saja ilmu silat yang keluar itu bercampur baur dengan gerakan-gerakan dari lain golongan dan suku bangsa sehingga ratusan tahun kemudian, ilmu silat dari partai lain sudah tak dapat dibedakan lagi dengan sumbernya. Tentu saja amat berbeda dalam lagak ragam dan kembangannya, walau pun kalau dilihat lebih mendalam pada dasarnya memang tiada perbedaan dalam ilmu silat yang hanya terdiri dari dua pokok, yaitu menjaga diri serapat mungkin dan menyerang lawan setepat mungkin.

Sejak pertama kali didirikan oleh tokoh besar dalam dunia persilatan mau pun Agama Buddha, yaitu Tat Mo Couw-su, Siauw-lim-pai selalu berada di bawah bimbingan para hwesio sehingga di mana-mana didirikan kuil Siauw-lim atau Siauw-lim-si. Sesuai dengan alam fikiran manusia yang selalu berubah-ubah, di dalam Siauw-lim-pai sering kali terjadi perubahan yang tentu saja ditentukan oleh pimpinan setempat dan terdorong oleh keadaan pula. Perubahan peraturan yang kadang-kadang amat menyolok.

Pernah terdapat peraturan dalam kuil Siauw-lim-si yang mengeluarkan pantangan bagi seluruh murid untuk berdekatan dengan wanita! Bahkan ada larangan keras bagi tamu-tamu wanita yang datang bersembahyang ke kuil untuk melangkah melewati pintu tengah yang sudah dijadikan garis demarkasi! Mungkin peraturan ini dikeluarkan untuk memperkuat batin para murid yang sedang digembleng agar jangan sampai ternoda oleh nafsu birahi karena sesungguhnya, terutama bagi mereka yang sedang melatih sinkang, hubungan dengan wanita merupakan pantangan dan penghalang besar sekali bagi penghimpunan tenaga murni.

Akan tetapi, peraturan yang kelihatan seolah-olah ‘anti wanita’ ini pun tidak dapat dipertahankan dan kembali terjadi perubahan di mana para tokoh Siauw-lim-pai ada yang mulai menerima murid-murid wanita. Hal ini terutama sekali terjadi atas kesadaran para tokoh Siauw-lim-pai bahwa dalam keadaan negara kacau, pihak wanitalah yang sering kali mengalami penghinaan dan kekejian-kekejian karena pihak wanita termasuk golongan lemah. Maka dalam keadaan negara kacau dan kejahatan merajalela, perlu sekali wanita diharuskan menjadi nikouw (pendeta). Sekarang murid murid itu, baik pria mau pun wanita tidak diharuskan mencukur rambut menjadi pendeta, akan tetapi tentu saja mereka ini sekaligus menjadi pula murid-murid agama Budha. Hal ini adalah penyebar-luasan agama mereka melalui perguruan silat.

Demikianlah, peraturan bebas kewajiban menjadi pendeta ini sudah berjalan seratus tahun lebih, jauh sebelum bangsa Mancu menyerbu pedalaman dan menjajah dengan mendirikan Kerajaan Ceng. Sekarang di dalam Siaw-lim-pai terdapat tokoh-tokoh bukan pendeta seperti Kang-lam Sam-eng, dan bahkan tujuh orang tokoh Siauw-lim-pai sendiri, murid-murid langsung dari ketua Siauw-lim-pai, yaitu Siauw-lim Chit-kiam, terdiri dari hanya dua orang hwesio dan lima orang bukan hwesio. Pada masa itu, anak murid Siauw-lim-pai tersebar luas di kalangan rakyat jelata. Ada yang menjadi petani, nelayan, piauwsu, kauwsu (guru silat) dan banyak pula yang menjadi pendekar-pendekar perantau.

Pada waktu itu, yang menjadi ketua Siauw-lim-pai adalah guru Siauw-lim Chit-kiam berjuluk Ceng San Hwesio. Hwesio ini usianya kurang lebih delapan puluh tahun, bertubuh tegap agak kurus, berwajah kereng dan penuh wibawa. Seperi halnya Hoa-san-pai dan banyak perkumpulan silat lain, diam-diam Siauw-lim-pai juga menentang bangsa Mancu yang datang menjajah. Sungguh pun tidak secara terang-terangan, tetapi banyak para pendekar Siauw-lim-pai membantu perjuangan para patriot yang berusaha menentang dan mengusir penjajah yang makin lama makin kuat itu. Apa lagi karena Ceng San Hwesio sendiri adalah seorang yang anti penjajahan, sehingga sejak penjajahan Mancu, lenyaplah sebagian besar kesabarannya sebagai seorang hwesio dan semangat patriotnya timbul, mengeraskan hatinya dan mengeraskan wajahnya. Di dalam setiap pertemuan dengan murid-muridnya, dia selalu memberi wejangan agar para anak murid Siauw-lim-pai melakukan segala usaha untuk menentang bangsa Mancu, kalau perlu dengan taruhan nyawa.

Sebagai ketua Siauw-lim-pai, tentu saja Ceng San Hwesio memiliki ilmu kepandaian yang hebat sekali. Dia seorang ahli lweekeh yang sudah matang sehingga benda apa pun juga yang berada di tangannya dapat menjadi senjata yang ampuh. Akan tetapi Ceng San Hwesio tidak pernah mempergunakan senjata, tidak mau mempergunakan tongkat hwesio sebagai senjata seperti kebiasaan para ketua lainnya, melainkan lebih suka mengandalkan tasbih putih yang terbuat dari pada biji jagung jali yang besar-besar.

Seperti telah disinggung di bagian depan, beberapa kali telah terjadi bentrokan-bentrokan antara anak murid Hoa-san-pai dan Siauw-lim-pai. Akan tetapi bentrokan-bentrokan ini hanya terjadi karena urusan pribadi dan berkat kebijaksanaan para pimpinan kedua pihak, bentrokan antara kedua partai yang sama-sama menjadi pembantu-pembantu para pejuang itu dapat diredakan, bahkan di antara para pimpinan telah menghukum murid masing-masing dan saling minta maaf sehingga urusan dianggap telah selesai.

Ceng San Hwesio yang memegang keras peraturan, berdisiplin terhadap murid-muridnya, selain memberi hukuman kepada murid-murid yang menimbulkan bentrokan juga mengeluarkan ancaman bahwa siapa yang membuat gara-gara keributan dan menimbulkan bentrokan baru dengan pihak Hoa-san-pai, akan dihukum berat.

Akan tetapi, beberapa hari kemudian ketika hwesio penjaga pintu membuka pintu gerbang Siauw-lim-si dan siap untuk menyapu pekarangan, dia melihat tubuh tiga orang menggeletak di depan pintu. Ketika diperiksa, hwesio ini kaget sekali mendapat kenyataan bahwa mereka adalah murid-murid Siauw-lim-pai yang membuka toko obat di kota Seng-kwan. Segera ia berseru minta tolong dan beberapa orang hwesio mengangkat tiga batang tubuh itu ke dalam. Dua di antaranya sudah tewas, sedangkan seorang diantara mereka masih hidup akan tetapi sudah empis-empis napasnya dan keadaannya payah sekali.

Kebetulan sekali pada waktu itu dua orang di antara Siauw-lim Chit-kiam berada di kuil itu. Mereka ini adalah Liok Si Bhok dan Liong Ki Tek, orang ke enam dan ke tujuh dari Siauw-lim Chit-kiam. Ketika mendengar ribut-ribut, dua orang pendekar pedang Siauw-lim yang sedang menghadap suhu mereka segera keluar untuk melihat mewakili Ceng San Hwesio. Mereka berdua kaget sekali dan cepat memeriksa. Tiga orang anak murid Siauw-lim-pai itu terluka oleh pedang yang menggorok leher mereka. Yang dua orang hampir putus lehernya dan telah mati, sedangkan yang masih hidup terluka parah, tak dapat diharapkan lagi dapat tertolong.

Liong Ki Tek yang bersikap tenang cepat menotok beberapa jalan darah di pundak dan punggung orang yang terluka hebat itu sehingga rasa nyeri tidaklah terlalu hebat lagi. Begitu rasa nyeri mereda, orang yang sekarat itu mengeluarkan suara yang tidak jelas, berbisik dan seperti mengorok tertahan di kerongkongannya. Akan tetapi Liong Ki Tek dan Liok Si Bhok sudah dapat mendengar apa yang dimaksudkan anak murid yang sekarat itu.

"...Hoa-san-pai... Tee-kong-bio...” Setelah mengeluarkan kata-kata yang tidak jelas itu, anak murid Siauw-lim-pai itu pun menghembuskan napas terakhir menyusul kedua orang saudaranya yang tewas lebih dulu.

Liok Si Bhok dan Liong Ki Tek lalu menghadap guru mereka untuk merundingkan peristiwa menyedihkan itu. Ceng San Hwesio yang biasanya bersikap tenang saat itu menjadi merah mukanya dan jelas sekali bahwa hwesio tua ini diserang nafsu kemarahan yang besar.

"Kalian pergilah, carilah mereka di Tee-kong-bio. Akan tetapi jangan bunuh, tangkap mereka dan seret ke sini. Pinceng menghendaki agar dia menjadi tawanan kita sehingga ada pimpinan Hoa-san-pai yang datang untuk mendengarkan kekejaman-kekejaman anak murid mereka. Sungguh keji sekali!"

Liok Si Bhok dan Liong Ki Tek segera berangkat meninggalkan kuil Siauw lim-si untuk mencari Tee-kong-bio (Kuil Dewa Bumi) yang terletak di luar dusun Ciu-si-bun. Kuil ini sebenarnya hanyalah bekas kuil, karena sudah tidak dipakai lagi, tidak dipergunakan sebagai kuil. Letaknya pun di luar kota, di pinggir jalan sebuah hutan dan karena tidak ada yang merawatnya, maka menjadi kotor dan rusak. Akan tetapi perlengkapan kuil itu masih ada, seperti meja-meja sembahyang yang reyot, arca-arca dan ukiran-ukiran di dinding yang sudah berlumut. Tidak ada yang berani mengambil benda-benda di situ atau mengganggunya karena menurut desas-desus di dusun-dusun sekeliling tempat itu, Tee-kong-bio sekarang dihuni oleh makhluk-makhluk halus atau iblis-iblis sehingga tempat itu menjadi angker.

Karena keadaan kuil yang dianggap angker inilah maka ketika Liok Si Bhok dan Liong Ki Tek keluar dari dusun Ciu-si-bun menuju ke kuil itu, keadaan di sekeliling tempat itu sunyi seperti kuburan. Waktu itu sudah menjelang senja, dan sungguh pun cuaca belum gelap, namun tidak ada penduduk dusun yang berani berada di daerah angker ini. Kesunyian itu amat terasa oleh dua orang tokoh Siauw-lim-pai ini dan mereka berjalan terus dengan tenang dan penuh kewaspadaan.

“Liong-sute, aku masih ragu-ragu akan kebenaran ucapan murid yang sudah dalam sekarat itu. Mereka adalah pedagang-pedagang obat di kota, bagaimana mereka bisa menyebut nama Hoa-san-pai di Tee-kong-bio?"

"Entahlah, Liok-suheng. Aku sendiri pun ragu-ragu. Tetapi agaknya tidak sembarangan dia mengatakan itu, tentu ada hubungannya. Aku yakin terdapat rahasia dalam peristiwa itu dan rahasianya terletak di kuil depan itu."

Liok Si Bhok yang sudah berusia enam puluh tahun lebih itu mengangguk-angguk. Dia merupakan tokoh ke enam dari Siauw-lim Chit-kiam, seorang yang bertubuh pendek gemuk namun tubuhnya itu dapat bergerak dengan gesit sekali. Wajahnya bundar dan selalu kelihatan serius, namun mulutnya hampir selalu tersenyum, menandakan bahwa dalam keseriusannya itu sebetulnya dia adalah seorang yang peramah.

Ada pun Liong Ki Tek, orang ketujuh atau yang termuda dari Siauw-lim Chit-kiam, usianya kurang lebih lima puluh lima tahun. Berbeda dengan suheng ke enam itu, tubuhnya tinggi kurus sehingga tinggi suheng-nya hanya sampai dipundaknya. Sikap orang termuda dari Tujuh Pedang Siauw-lim-pai ini amat tenang sehingga kelihatan lamban, akan tetapi biji matanya yang bergerak-gerak terus itu menandakan bahwa biar pun tenang ia sama sekali tidak lamban melainkan terus waspada dan setiap urat syaraf di tubuhnya sudah siap.

Ketika kedua orang tokoh Siauw-lim-pai ini memasuki pekarangan kuil Tee-kong-bio yang sunyi, tiba-tiba mereka mendengar kepak sayap burung. Dengan kaget mereka mengangkat muka memandang. Kiranya ada tiga ekor burung gagak terbang dari atas genteng kuil itu, agaknya terkejut oleh kedatangan mereka. Melihat ini kedua orang itu saling pandang dan menjadi agak kecewa. Terbangnya tiga ekor burung itu dapat diartikan bahwa di kuil itu tidak ada orangnya. Tentu burung yang ketakutan melihat mereka datang itu tidak akan berani tetap tinggal di situ.

Akan tetapi mereka melangkah maju terus, melewati pekarangan yang lebar dan yang tertutup rumput agak tinggi itu, sampai di anak tangga yang cukup tinggi, ada dua puluh anak tangga banyaknya sehingga ruangan depan kuil itu tingginya hampir dua meter dari tanah di pekarangan. Biar pun mulut kedua orang kakek ini tidak mengeluarkan suara, namun keduanya seperti telah bersepakat dan melangkahlah mereka menaiki anak tangga dengan langkah ringan dan sikap tenang.

Begitu mereka melangkahi anak tangga terakhir dan tiba di ruangan depan, terdengar suara bercicit keras. Keduanya segera bersiap untuk menghadapi serangan senjata rahasia ketika pandang mata mereka yang tajam dapat menangkap meluncurnya dua buah benda hitam dari sebelah dalam kuil. Akan tetapi sebelum benda itu menyerang mereka, benda-benda itu menyambar ke atas dan mengeluarkan bunyi bercicit, dan ternyata dua buah benda hitam itu adalah dua ekor kelelawar besar!

Liok Si Bhok dan Liong Ki Tek saling pandang, tersenyum dan menghela napas panjang. Mereka tadi sudah merasa agak tegang, dan kini ternyata mereka kecelik. Bahkan keluarnya dua ekor kelelawar dari sebelah dalam kuil ini lebih meyakinkan dugaan mereka bahwa kuil itu kosong karena kalau memang ada orangnya, tentu dua ekor kelelawar itu sudah sejak tadi terbang pergi, tidak menanti kedatangan mereka yang mengejutkan binatang itu.

"Ah, Chit-te (Adik ke Tujuh), tempat ini tidak ada orangnya...," kata Liok Si Bhok kecewa.

"Sebaiknya kita menyelidiki keadaan di dalam Liok-heng (Kakak ke Enam)," jawab Liong Ki Tek. Karena hubungan di antara Siauw-lim Chit-kiam amat erat sehingga mereka itu bukan hanya merupakan kakak beradik seperguruan melainkan merasa seperti kakak beradik sekandung, kadang-kadang mereka menyebut kakak dan adik.

Mereka maju terus. Akan tetapi karena hati mereka merasa makin yakin bahwa kuil itu kosong, mereka tidak menjadi tegang lagi. Kuil ini benar sudah kosong ditinggalkan dan dalam keadaan rusak, bahkan ada sebagian atapnya yang runtuh. Arca-arca yang tidak terawat di situ bahkan kelihatan makin menyeramkan. Mereka melangkah maju terus, meneliti setiap ruangan yang mereka lalui. Tiba-tiba keduanya menghentikan langkah. Pada saat yang sama kedua orang gagah perkasa ini mencium bau yang amat harum, bau minyak harum yang biasa dipakai wanita! Mereka mengerutkan kening.

Seperti para suheng mereka, baik yang menjadi hwesio seperti Lui Kong Hwesio dan Lui Pek Hwesio orang kedua dan kelima dari Siauw-lim Chit-kiam, kedua orang ini pun merupakan murid-murid angkatan lama sehingga mereka pernah mengalami pelajaran pantangan mendekati wanita. Bahkan mereka itu tidak pernah kawin, seperti suheng-suheng mereka. Maka begitu mencium bau harum minyak wangi yang menandakan bahwa di situ ada wanitanya, mereka mengerutkan kening. Bukan hanya karena mereka segan berurusan dengan wanita, melainkan juga mereka terkejut menghadapi kenyataan ini.

Kalau di situ ada orangnya, apa lagi wanita, hal ini berarti bahwa wanita atau siapa adanya orang yang memakai wangi-wangian itu tentu memiliki ilmu kepandaian yang hebat! Tentu gerakan-gerakannya sedemikian halus dan ringan sehingga kelelawar dan burung gagak yang berada di kuil itu sampai tidak tahu dan tidak menjadi kaget.....



Pilih JilidHomeJilid Berikut


DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner