PENDEKAR SUPER SAKTI : JILID-15


"Sahabat-sahabat Hoa-san-pai, silakan keluar. Kami dua orang utusan Siauw-lim-pai ingin bertemu dan bicara!” Liok Si Bhok berseru sambil mengerahkan khikang-nya hingga suaranya bergema di seluruh kuil, bahkan menggetarkan sarang laba-laba yang banyak terdapat di sudut-sudut ruangan itu.

Mereka berdiri di tengah-tengah sebuah ruangan lebar di mana terdapat empat buah pintu, menjurus ke empat penjuru. Daun-daun pintunya tertutup, hanya sebuah yang menuju ke luar terbuka karena mereka yang membukanya tadi ketika masuk dari luar. Hati mereka makin yakin bahwa kuil ini ada penghuninya ketika melihat bahwa berbeda dengan ruangan-ruangan lain di bagian depan, ruangan yang paling lebar dan berada di bagian belakang kuil ini lantainya bersih seolah-olah sering disapu.

Gema suara Liok Si Bhok mengaung menyeramkan, kemudian sunyi kembali. Selagi dua orang tokoh Siauw-lim-pai itu meragu apakah benar-benar kuil itu ada penghuninya, terdengar suara tertawa merdu, suara ketawa wanita yang halus dan bernada genit, seperti suara ketawa kuntilanak yang menyeramkan. Biar pun dua orang tokoh Siauw-lim-pai itu merupakan pendekar-pendekar yang gagah perkasa dan tidak pernah mengenal takut, namun suasana di kuil itu dan suara ketawa ini membuat bulu tengkuk mereka meremang. Tetapi mereka dapat segera menindas perasaan ngeri ini dan Liong Ki Tek lalu membentak.

"Manusia atau siluman, kami orang keenam dan ke tujuh dari Siauw-lim Chit-kiam tidak merasa takut!"

"Hi-hi-hi-hik, Liok Si Bhok dan Liong Ki Tek mengantar kematiannya, masih bermulut besar!"

Perlahan-lahan tiga buah daun pintu terbuka dari luar dan masuklah tiga orang dari tiga buah pintu itu. Dari pintu belakang masuk seorang wanita yang usianya tentu sudah empat puluh tahun lebih, akan tetapi masih kelihatan cantik sekali, berpakaian mewah dan bersikap genit, terutama sekali matanya yang penuh dengan sinar rafsu birahi. Akan tetapi yang amat mengerikan adalah kedua buah tangannya. Tangan yang kecil berjari runcing halus bagus sekali, hanya warnanya merah seolah-olah kedua tangan itu berlumur darah!

Dari pintu kiri muncul seorang kakek yang bertubuh tinggi besar bermuka hitam seperti dipulas arang, usianya mendekati enam puluh tahun namun masih jelas tampak bahwa dia kuat sekali dan bertenaga besar. Kesombongan bersinar dari sepasang matanya yang bulat dan lebar. Ada pun dari pintu kanan muncul seorang kakek yang usianya sebaya, tetapi dalam segala hal merupakan lawan kakek muka hitam karena kakek ini tubuhnya pendek kecil, mukanya putih seperti dibedaki, kelihatan lemah tak bertenaga dan matanya sipit dengan pandangan seperti orang mengatuk.

Liok Si Bhok dan Liok Ki Tek adalah orang-orang yang sudah banyak pengalaman di dunia kang-ouw, bahkan sudah mengenal tokoh-tokoh besar. Maka begitu melihat tiga orang ini, jantung mereka berdebar keras karena mereka mengenal mereka itu sebagai tokoh-tokoh sakti dari golongan sesat! Wanita cantik genit itu bukan lain adalah Ma Su Nio yang terkenal dengan julukan Hiat-ciang Sian-Ii (Dewi Bertangan Darah), seorang tokoh sakti yang cabul genit dan kejamnya seperti iblis betina!

Ada pun kakek bermuka hitam yang tinggi besar itu adalah Hek-giam-ong (Raja Maut Hitam), sedangkan kakek bermuka putih adalah Pek-giam-ong (Raja Maut Putih). Mereka berdua adalah kakak beradik dan terkenal dengan sebutan Hek-pek Giam-ong yang selalu muncul dan turun tangan berdua sehingga merupakan lawan yang sangat tangguh. Tiga orang ini adalah murid-murid dan juga pembantu Kang-thouw-kwi Gak Liat Si Setan Botak, seorang di antara datuk-datuk golongan hitam atau kaum sesat!

Akan tetapi, dari tiga orang yang muncul ini tidak ada tercium bau harum tadi. Memang Hiat-ciang Sian-li Ma Su Nio juga membawa bau wangi, akan tetapi berbeda dengan keharuman tadi, bahkan di antara bau wangi, yang datang dari tubuh Dewi Tangan Darah ini tercium bau amis darah! Ada pun Hek-pek Giam-ong sama sekali tidak membawa bau harum, kalau ada membawa bau, paling-paling juga bau apek karena pakaian berkeringat yang tak pernah dicuci.

Setelah kini semua pintu yang menembus ruangan itu terbuka, bau harum itu makin keras dan ternyata datangnya dari atas. Liok Si Bhok dan Liong Ki Tek cepat memandang ke atas dan... jauh di atas balok melintang tampak duduk dua orang muda, seorang gadis cantik dan yang seorang lagi pemuda yang tampan.

Gadis itu cantik sekali, tubuhnya ramping padat hidungnya mancung dagunya runcing dan sepasang mataya seperti mata burung hong jantan. Rambutnya yang hitam panjang itu hanya diikat dengan sutera di belakang tengkuk, dibiarkan melambai ke punggung. Kepalanya ditutup atau lebih pantas dihias sebuah topi buIu putih yang kecil, dengan sebatang buIu burung menjadi penghias. Kedua telinganya digantungi sepasang anting-anting emas dan kedua lengannya bergelang emas pula. Gadis yang usianya sukar ditaksir, kurang lebih dua puluh tahun ini, tersenyum-senyum dan agaknya bau wangi yang sedap harum itu keluar dari tubuh dan pakaiannya.

Di sebelah kirinya duduk pula di atas balok itu seperti si gadis, dengan kedua kaki ongkang-ongkang, seorang pemuda tampan dan gagah. Usianya sebaya dengan gadis itu. Pemuda ini tubuhnya tinggi tegap, wajahnya ganteng dan pakaiannya amat indah, dari sutera disulam menyaingi keindahan pakaian gadis itu. Wajahnya yang ganteng itu terawat baik, berkulit putih halus dan rambutnya pun tersisir rapi dan halus kelimis. Sayang bahwa wajah yang tampan itu memiliki hidung yang agak besar, terlalu besar dan melengkung, dengan sepasang mata yang mengandung sinar tajam, bengis dan kejam.

Dua orang tokoh Siauw-lim-pai itu terkejut bukan main. Mereka tidak mengenal dua orang muda itu, akan tetapi kenyataan bahwa mereka itu dapat berada di situ sejak tadi tanpa mereka ketahui bahkan tanpa diketahui kelelawar dan burung yang hanya terbang setelah mereka berdua datang, membuktikan bahwa dua orang muda itu bukanlah orang sembarangan. Akan tetapi karena tidak tahu siapa adanya kedua orang muda itu, dan tidak tahu pula apa hubungannya mereka dengan tiga orang murid Kang-thouw-kwi ini, dua orang tokoh Siauw-lim-pai itu hanya menggunakan seluruh perhatian untuk menghadapi Hek-pek Giam-ong dan Hiat-ciang Sian-Ii.

”Hemmm, kiranya Hiat-cian Sian-Ii dan Hek-pek Giam-ong yang berada di dalam kuil ini. Sungguh tidak kami sangka. Akan tetapi karena ternyata Sam-wi (Tuan Bertiga) yang berada di sini, kiranya Sam-wi dapat memberi keterangan kepada kami tentang tiga orang anak murid Siauw-lim-pai yang terluka parah...”

Tiga orang murid Setan Botak itu kelihatan terkejut dan mereka memandang ke atas dengan sikap tenang.

"Kongcu (Tuan Muda), bagaimana mereka ini bisa tahu...?" kata Hiat-ciang Sian-li.

"Hemmm, agaknya Suheng bekerja kurang sempurna sehingga di antara mereka ada yang belum mampus dan membuka rahasia...," pemuda tampan itu mencela.

Liok Si Bhok dan Liong Ki Tek adalah tokoh-tokoh yang sudah banyak pengalaman. Begitu mendengar percakapan ini, mengertilah mereka akan duduk perkara. Kiranya murid-murid Setan Botak yang memang menjadi kaki tangan pemerintah penjajah Mancu yang telah membunuh tiga orang murid Siauw-lim-pai dan agaknya mereka itu menyamar sebagai orang-orang Hoa-san-pai untuk menjalankan siasat adu domba antara Siauw-lim-pai dan Hoa-san-pai! Hanya mereka merasa heran mendengar betapa pemuda itu menyebut suheng kepada murid-murid Setan Botak yang menjadi tanda bahwa pemuda itu murid Setan Botak pula. Akan tetapi mengapa Hek-pek Giam-ong dan juga Hiat-ciang Sian-Ii menyebutnya kongcu? Siapakah pemuda itu yang melihat sikapnya dan mendengar ucapannya seolah-olah yang menjadi pemimpin di antara mereka?

"Bagus sekali!" Liong Ki Tek sudah membentak marah, "Kiranya kalian ini orang-orang sesat yang membunuh anak murid kami dan kemudian menyamar sebagai orang Hoa-san-pai untuk mengadu domba!" Sambil membentak demikian, Liong Ki Tek sudah mencabut pedangnya, berbareng dengan suheng-nya.

Tiba-tiba terdengar suara merdu dan halus, akan tetapi lidahnya asing sehingga bahasa yang diucapkannya terdengar lucu, "Lebih baik lagi begini! Sudah kukatakan bahwa memancing ikan besar harus menggunakan umpan besar pula! Tiga orang itu hanya merupakan ikan teri, kurang besar untuk dijadikan umpan. Kalau kita menggunakan yang besar ini sebagai umpan, pasti berhasil. Siauw-lim-pai sukar dipancing, hendak kulihat nanti kalau mereka melihat mayat dua orang ini. Ouwyang-twako, jangan khawatir, rencana kita sekali ini pasti berhasil. Eh, kalian bertiga tidak lekas turun tangan, hendak menunggu apa lagi?"

Berbareng dengan teriakan-teriakan mereka, tiga orang murid Setan Botak itu maju menyerbu. Liok Si Bhok dan Liong Ki Tek memutar pedang melindungi diri, dan di dalam hati mereka timbul pertanyaan-pertanyaan yang membuat mereka menjadi heran terhadap gadis itu.Jelas bagi mereka bahwa gadis itu adalah seorang gadis Mancu yang agaknya malah lebih berpengaruh dari pada si pemuda she Ouwyang itu, terbukti dari ucapannya yang nadanya seperti orang bicara kepada bawahannya!

Akan tetapi dua orang tokoh Siauw-lim-pai ini tidak dapat memecah perhatian mereka karena tiga orang lawan mereka sudah mengirim pukulan-pukulan maut yang amat berbahaya. Mereka itu adalah murid-murid pilihan dari Kang-thouw-kwi Gak Liat yang terkenal sebagai seorang ahli Yang-kang, tidak mengherankan apa bila kedua orang kakek Hek-pek Giam-ong itu amat lihai.

Keduanya memiliki ilmu pukulan berdasarkan Yang-kang yang disebut Toat-beng Hwi-ciang (Tangan Api Pencabut Nyawa) dan setiap kali mereka mengirim pukulan, tangan mereka didahului menyambarnya hawa yang amat panas melebihi panasnya api! Kedua orang inilah yang telah membunuh tiga orang anak murid Siauw-lim-pai. Karena mereka itu hendak menimbulkan kesan seolah-olah orang-orang Hoa-san-pai yang melakukan pembunuhan itu, ketika membunuh tiga orang anak murid Siauw-lim-pai itu mereka tidak menggunakan pukuIan Toat-beng Hwi-ciang, melainkan dengan sebatang pedang seperti kebiasaan orang-orang Hoa-san-pai.

Akan tetapi, lebih hebat lagi dari pada dua orang Raja Maut itu adalah serangan yang keluar dari sepasang tangan merah Ma Su Nio. Hawa pukulan wanita ini mengandung panas yang hebat pula, namun di samping hawa panas ini juga membawa bau amis dan mengeluarkan suara bercicitan sangat tinggi menggetarkan jantung. Sesuai dengan julukannya, kedua tangan wanita ini memiliki pukulan-pukulan beracun yang amat hebat karena yang teracun oleh pukulan ini adalah darah lawan yang langsung akan membunuh lawan dari dalam!

Liok Si Bhok dan Liong Ki Tek maklum akan kelihaian tiga orang lawan mereka. Biar pun lawan mereka itu bertangan kosong, namun sesungguhnya gerak pukulan mereka lebih berbahaya dari pada datangnya luncuran anak panah beracun. Mereka memutar pedang melindungi tubuh, namun karena terus menerus diserang secara bertubi tubi, pedang mereka itu hanya dapat dipergunakan untuk pertahanan, sama sekali mereka tidak mendapat kesempatan untuk menggerakkan pedang membalas.

Karena ini mereka segera mengeluarkan suara keras dan itulah suara sebagai tanda bagi Siauw-lim Chit-kiam untuk mengeluarkan ilmu yang mereka andalkan, ilmu pedang yang amat ampuh yang khusus diajarkan oleh ketua Siauw-lim-pai kepada tujuh orang tokoh Siauw-lim itu, yaitu Chit-seng-sin-kiam (Pedang Sakti Tujuh Bihtang). Begitu kedua orang ini mainkan Chit-seng-sin-kiam dengan pedang mereka, tiga orang lawan mereka berseru kaget dan meloncat mundur.

Ilmu pedang Chit-seng-sin-kiam ini memang hebat luar biasa, diciptakan oleh ketua Siauw-lim-pai dengan bantuan suhu-nya yang masih hidup dan sudah berusia tua sekali. Bukan sembarangan ilmu pedang, melainkan ilmu pedang yang digerakkan dengan sinkang yang kuat sehingga sinar pedangnya menjadi bergulung-gulung panjang dan dapat melukai lawan dari jarak jauh. Apa lagi kalau dimainkan oleh ketujuh orang Siauw-lim Chit-kiam, keampuhannya menggila sehingga pernah Siauw-lim Chit-kiam ini dapat menandingi Setan Botak yang terkenaI sebagai seorang di antara datuk-datuk hitam yang sakti. Sungguh pun akhirnya Siauw-lim Chit-kiam terdesak, namun tidaklah mudah bagi datuk hitam itu untuk mencapai kemenangan.

Kini dimainkan oleh orang ke enam dan ketujuh dari tujuh pendekar pedang Siauw-lim itu, sudah cukup hebat sehingga membuat ketiga orang murid Setan Botak terdesak mundur, gentar menghadapi sinar pedang yang berkilauan dan mengandung hawa yang dingin namun berbahaya itu. Dua gulungan sinar pedang itu kini bersatu, merupakan sinar kilat yang membentuk lingkaran-lingkaran aneh mengurung dan menindih tiga orang tokoh hitam yang terpaksa harus meloncat ke sana ke mari untuk menghindarkan diri dari sinar pedang yang berbahaya itu.

“Rebahlah!!” Bentakan ini keluar secara berbareng dari mulut Liok Si Bhok dan Liong Ki Tek.

Sinar pedang mereka tiba-tiba berpisah, terpecah dua dan secepat kilat membabat tangan Hek-giam-ong dan Pek-giam-ong yang melakukan pukulan mendorong. Kedua orang kakek ini terkejut sekali, cepat menarik kembali tangan mereka, akan tetapi sinar pedang itu dari kanan kiri meluncur ke arah dada mereka!

"Aiiihhhhh...!"

Hek-giam-ong terpaksa mengerahkan tenaga di tangan kanannya, menangkis sinar itu sambil mengerahkan Toat-beng Hwi-ciang. la berhasil menangkis pedang itu, namun lengannya tergores ujung pedang dan terluka sehingga mengeluarkan darah. Pek-giam-ong yang tenaganya tidak sehebat Hek-giam-ong tidak berani menangkis, melainkan cepat membuang diri ke belakang, akan tetapi pundaknya tetap saja kena dlserempet pedang sehingga terluka.

"Hiaaaaattt...!!"

Ma Su Nio menggunakan kesempatan itu memukul dengan kedua tangannya yang merah ke arah lambung kedua orang tokoh Siauw-lim-pai itu. Akan tetapi dengan gerakan otomatis kedua orang pendekar pedang itu menyabetkan pedang mereka ke belakang sambil memutar tubuh.

"Ayaaaaa.....!" Hiat-ciang Sian-Ii Ma Su Nio menjerit.

Cepat ia menarik kembali kedua lengannya yang berbalik menjadi terancam. la dapat menyelamatkan kedua lengannya, tetapi tubuhnya terhuyung ke belakang dan saat itu dipergunakan oleh Liok Si Bhok dan Liong Ki Tek untuk menerjang maju, mengirim tusukan maut ke arah tubuh wanita iblis yang amat lihai itu.

"Tranggg…...! Tranggggg…...!!”

Liok Si Bhok dan Liong Ki Tek terkejut sekali karena pedang mereka terpental dan hampir terlepas dari tangan mereka. Terutama sekali Liok Si Bhok yang merasa betapa pedangnya tergetar sehingga setelah tertangkis masih tergetar mengeluarkan suara mengaung, tanda betapa penangkisnya memiliki sinkang yang hebat sekali. Lebih kaget dan heran dia ketika melihat bahwa yang menangkis pedangnya itu hanyalah sebatang payung di tangan gadis Mancu yang tadi duduk di atas tiang balok melintang. Ada pun yang menangkis pedang Liong Ki Tek adalah sebatang pedang bersinar kuning di tangan pemuda tampan tadi. Kedua orang tokoh Siauw-lim-pai itu maklum bahwa mereka terancam bahaya.

Dua orang muda itu ternyata memiliki ilmu kepandaian yang tinggi, sedangkan tiga orang murid Kang-thouw-kwi Gak Liat hanya terluka kecil saja. Bahkan Hiat-ciang Sian-Ii Ma Su Nio hanya mengalami kekagetan saja, belum terluka. Kalau mereka itu mau pula membantu, tentu mereka berdua akan terancam bahaya maut. Akan tetapi sebagai pendekar-pendekar besar mereka tidak menjadi gentar, bahkan saling berdekatan, berdampingan sambil menyilangkan pedang mereka di depan dada. Liok Si Bhok dengan sikap dan suara tenang bertanya.

"Siapakah kalian orang-orang muda?"

Gadis Mancu yang cantik itu tersenyum, pandang matanya melebihi tajamnya pedang di tangan pemuda itu dan lebih runcing dari pada ujung payung di tangannya. Namun senyumnya amat manis, membuka sepasang bibir yang indah bentuknya, memperlihatkan kemerahan rongga mulut di balik deretan gigi seperti mutiara.

"Memang amat tidak enak mati dalam penasaran. Kalian berdua orang Siauw-lim-pai yang keras hati dan keras kepala sudah menghadapi kematian, agar tidak mati dalam penasaran baiklah kalian mengenal kami. Aku adalah Puteri Nirahai, puteri ke tujuh belas dari Kaisar, ada pun dia ini adalah Ouwyang Seng, putera Pangeran Ouwyang Cin Kok, murid bungsu namun paling lihai dari Kang-thouw-kwi Gak Liat.”

Kedua orang pendekar pedang itu terkejut. Biar pun mereka belum pernah mendengar nama kedua orang muda ini, namun melihat gerakan dan tenaga sinkang mereka, tentu mereka ini merupakan lawan berat. Apa lagi kalau gadis ini benar benar seorang puteri kaisar, tentu di situ terdapat banyak pengawal-pengawal istana yang setiap saat dapat datang mengeroyok mereka. Mereka tidak takut, akan tetapi ingin sekali mengetahui apa yang menyebabkan puteri ini melakukan semua perbuatan ini.

"Mengapa kalian membunuh tiga orang anak murid Siauw-lim-pai, melempar mayat mereka di depan kuil dan menggunakan nama Hoa-san-pai?" tanya pula Liok Si Bhok.

"Adik Nirahai, kita bunuh saja mereka!" Ouwyang Seng, pemuda tampan itu berkata sambil mengerutkan alisnya yang hitam tebal.

Akan tetapi gadis Mancu itu sambil tersenyum menggoyang tangan kirinya yang kecil dan berkulit halus. "Jangan membikin mereka mati penasaran, Ouwyang-twako. Mereka toh pasti akan mati di tangan kita, mengapa tergesa-gesa? Biar mereka tahu lebih dulu akan duduknya persoalan, toh kita tidak usah khawatir kelak roh mereka akan membuka rahasia kepada para pimpinan Siaw-lim-pai dan Hoa-san-pai."

Dua orang tokoh Siauw-lim-pai itu bergidik. Gadis ini bicara dengan sikap dingin, tidak sombong akan tetapi mengandung wibawa yang mengerikan.

"Liok Si Bhok dan Liong Ki Tek, dengarlah baik-baik. Tiga orang muridmu itu memang kami yang membunuhnya dan sengaja kami pergunakan untuk mengadu domba antara Siauw-lim-pai dan Hoa-san-pai. Akan tetapi siapa nyana, kalian keras kepala dan tidak mau masuk perangkap, bahkan seorang muridmu yang belum mati membuka rahasia sehingga kalian dapat menemukan tempat ini. Sekarang kami hendak membunuhmu, dan akan kami atur agar para pimpinan Siauw-lim-pai menganggap bahwa kematianmu berada di tangan orang-orang Hoa-san-pai. Takkan dapat dicegah lagi, Siauw-lim-pai dan Hoa-san-pai akan bermusuhan, bertanding dan berbunuh-bunuhan sampai keadaan mereka menjadi lemah. Bukankah ini merupakan siasat yang baik sekali!"

"Kau! Iblis betina yang keji!" Liong Ki Tek memaki. “Kalau benar engkau ini puteri Kaisar, tentu tahu akan peradaban, kebudayaan dan setidaknya mengenal peri kemanusiaan! Akan tetapi engkau palsu dan keji, lebih patut menjadi puteri siluman!"

"Manusia biadab lancang mulut !” Ouwyang Seng membentak dan hendak menyerang, akan tetapi kembali ia ditahan oleh Puteri Nirahai yang masih tetap tersenyum-senyum dan sedikit pun tidak kelihatan marah. Hal ini saja sudah mengagetkan hati kedua orang tokoh Siauw-lim-pai itu. Gadis masih begitu muda remaja sudah pandai menguasai perasaan tanda bahwa dia betul-betul memiliki ilmu yang tinggi lahir batin!

"Orang-orang Siauw-lim-pai, pandanganmu amat picik. Aku lakukan semua itu semata-mata demi kepentingan kerajaan Ayahku yang menjadi Kaisar, demi kejayaan bangsaku, demi kemenangan negaraku. Siauw-lim-pai dan Hoa-san-pai diam-diam menentang Kerajaan Ceng, merupakan musuh-musuh, dan karena kedua partai ini amat kuat dan berbahaya maka perlu sekali dibikin lemah. Siasat ini merupakan siasat perang, dan kulakukan dengan dasar berbakti kepada Ayah dan negara, kepada bangsa yang tercinta. Apakah bedanya dengan perbuatanmu menentang kerajaan kami? Kalian melakukan hal itu dengan dalih mengabdi bangsa, aku pun melakukan hal ini dengan dasar mengabdi bangsa, apa bedanya? Perbuatan kalian mungkin dianggap patriotik dan gagah perkasa oleh bangsamu dan kalian dianggap sebagai pahlawan oleh bangsamu. Akan tetapi aku pun dianggap seorang pahlawan wanita oleh bangsaku! Antara kalian dan aku hanya ada satu perbedaan, yaitu perbedaan dalam penilaian. Kalian berjuang untuk kebaikan, aku pun demikian. Yang menjadi pertanyaan besar, apakah itu yang dikatakan kebaikan?"

“Akan tetapi, kami penjunjung kegagahan, kebenaran dan keadilan pantang untuk melakukan siasat-siasat busuk yang hina seperti yang kau lakukan!" kata pula Liok Si Bhok setelah tercengang sejenak mendengar ucapan yang tidak pantas keluar dari mulut seorang gadis remaja berusia dua puluh tahun itu.

"Hi-hik..., ucapanmu itu menandakan bahwa engkau bukanlah seorang ahli perang! Mengandalkan kejujuran dan welas asih dalam perang, mana mungkin dapat menang? Perang ialah mengadu siasat, makin keji makin baik, mengadu kekerasan dan kekejaman. Sudahlah, kini bersiaplah kalian untuk mati!

Baru saja ucapan ini habis dikeluarkan, tiba-tiba Liok Si Bhok melihat sinar hitam yang lebar sekali mengembang di depannya dan gadis itu tiba-tiba lenyap, kemudian tahu-tahu ujung payung yang runcing telah meluncur secepat kilat menusuk dadanya! Kaget sekali pendekar ini. Namun tidak percuma ia menjadi orang keenam dari Siauw-lim Chit-kiam karena pedangnya sudah bergerak dengan pemutaran pergelangan tangannya, langsung menangkis ujung payung dari samping.

"Cringgggg...!"

Liok Si Bhok terpaksa meloncat ke belakang sambil memutar pedang melindungi tubuhnya. Lengan kanannya seperti kesemutan, pedangnya masih tergetar dan diam-diam ia kaget dan kagum bukan main. Kiranya gadis itu telah menggerakkan payungnya secara luar biasa dahsyatnya. la memandang dengan penuh perhatian.

Senjata itu adalah sebuah payung biasa yang batangnya tentu terbuat dari baja pilihan yang amat kuat. Gagangnya melengkung seperti payung biasa, ruji-rujinya dari baja keras pula dan payungnya dari kain tebal berwarna hijau, ujung batangnya runcing seperti pedang. Tadi ketika gadis itu menyerangnya, payung itu berkembang sehingga menyembunyikan tangan dan tubuh gadis itu dan di sinilah letak kehebatan senjata ini.

Kalau payung berkembang, lengan dan tangan yang memegang payung tersembunyi dan tidak tampak oleh lawan. Padahal, dalam bertanding yang penting adalah memperhatikan gerak lawan yang dapat dilihat sebelum senjata digerakkan dari gerakan tangan, lengan dan pundak. Kalau semua bagian tubuh ini tersembunyi, maka gerakan-gerakan selanjutnya dari lawan takkan tampak dan perkembangan serangannya takkan dapat diduga terlebih dulu.

Sementara itu Ouwyang Seng juga sudah menerjang Liong Ki Tek dengan pedangnya. Liong Ki Tek cepat menangkis, tetapi pada saat pedang bertemu, tangan kiri Ouwyang Seng yang terbuka itu mendorong ke depan dan serangkum hawa panas yang lebih hebat dari pada ilmu Toat-beng Hwi-ciang dari Hek-pek Giam-ong menyambar ke depan.

"Aihhh...!" Liong Ki Tek cepat loncat ke belakang dan agak terhuyung saking kagetnya.

Ouwyang Seng tertawa mengejek dan menerjang terus ke depan dengan pedangnya, diselingi pukulan-pukulan yang lebih berbahaya dari pada pedang itu sendiri karena pemuda ini menggunakan pukulan sakti Hwi-yang Sin-ciang!

Di dalam jilid-jilid yang lalu banyak diceritakan tentang Ouwyang Seng ini sebagai murid Gak Liat yang lihai dan sejak kecil sudah memiliki watak yang keras dan kejam. Namun di samping watak ini, dia merupakan seorang murid yang amat tekun dan disayang oleh Kang-thouw-kwi Gak Liat. Maka setelah kini berusia dua puluh tahun, ia telah menjadi seorang murid yang paling pandai di antara semua murid Si Setan Botak! Bahkan Hwi-yang Sin-ciang yang tidak dapat dimiliki murid-murid lain, telah dikuasai oleh Ouwyang Seng yang ikut berlatih bersama suhu-nya dengan masakan batu-batu bintang. Toat-beng Hwi-ciang boleh jadi amat lihai, dan Hiat-ciang lebih dahsyat lagi, akan tetapi dibandingkan dengan Hwi-yang Sin-ciang, kedua ilmu pukulan yang berdasarkan Yang-kang itu masih kalah jauh!

Setelah dewasa, tentu saja Ouwyang Seng yang terkenal dengan sebutan Ouwyang-kongcu menjadi seorang yang penting kedudukannya dalam tokoh-tokoh pembela Kerajaan Ceng. Ayahnya seorang pangeran yang terkenal juga, Pangeran Ouwyang Cin Kok yang menjadi seorang di antara para penjilat yang terlihai di dekat Kaisar Mancu. Dan mengingat akan kepandaiannya yang tinggi, Ouwyang-kongcu ini bergerak dalam bidang pengamanan kerajaan terhadap ancaman para pejuang yang bergerak secara rahasia menentang pemerintah Mancu.

Siapakah wanita cantik yang amat hebat itu? Dia memang seorang puteri bernama Puteri Nirahai, puteri dari Kaisar Mancu yang lahir dari seorang selir berbangsa Khitan. Puteri Nirahai ini memiliki kepandaian yang dahsyat, bahkan lebih tinggi dari pada tingkat kepandaian Ouwyang-kongcu sendiri! Dibandingkan dengan tingkat para tokoh datuk hitam, dia hanya kalah sedikit! Memang sukar untuk dipercaya bagaimana seorang gadis berusia dua puluh tahun telah memiliki ilmu kepandaian sedahsyat itu. Akan tetapi hal ini tidak akan mengherankan orang lagi kalau diingat bahwa dia adalah ahli waris dari kitab pelajaran ilmu-ilmu silat tinggi dari mendiang puteri Ratu Khitan yang dahulu terkenal di seluruh dunia kang-ouw dengan julukan Mutiara Hitam!

Mutiara Hitam adalah seorang pendekar wanita sakti yang amat hebat ilmu kepandaiannya dan memiliki banyak kitab kitab pusaka ilmu silat yang aneh-aneh dan amat tinggi. Kitab-kitab itu adalah peninggalan seorang tokoh wanita sakti yang berjuluk Tok-siauw-kwi (Setan Cilik Beracun) Liu Lu Sian yang bukan lain adalah ibu kandung Suling Emas yang amat terkenal. Selama puluhan tahun tidak ada kabar ceritanya tentang kitab-kitab itu dan secara kebetulan beberapa buah di antara kitab-kitab itu terjatuh ke tangan Puteri Nirahai inilah.

Di antara ilmu-ilmu silatnya yang hebat, Nirahai dapat mewarisi tiga buah ilmu kepandaian Mutiara Hitam, yaitu pertama adalah Ilmu Silat Sin-coa-kun (Ilmu Silat Ular Sakti), ke dua Ilmu Pedang Pat-mo-kiam-hoat (Ilmu Pedang Delapan Iblis), dan yang ke tiga adalah ilmu senjata rahasia Siang-tok-ciam (Jarum Racun Wangi). Yang amat hebat adalah ilmu pedangnya Pat-mo-kiam-hoat yang sukar dicari bandingnya karena memang dahsyat dan ganas sekali. Apa lagi gadis ini mainkan ilmu itu dengan senjatanya yang istimewa yang disebut Tiat-mo-kiam (Pedang Payung Besi), maka kehebatannya bertambah.

Dapat dibayangkan betapa lihainya permainan pedang yang tersembunyi di balik payung sehingga lawan tak dapat melihat gerakan-gerakannya. Sebetulnya ilmu ini tadinya merupakan ilmu pedang, akan tetapi dengan senjata seperti itu, sama dengan permainan pedang dibantu perisai, namun disatukan sehingga merupakan senjata yang ampuh dan jika tidak dipakai bertanding, dapat dipergunakan sebagai payung biasa untuk berlindung dari serangan hujan dan panas, juga menambah gaya bagi seorang gadis jelita seperti Nirahai.

Liok Si Bhok dan Liong Ki Tek adalah dua orang tokoh Siauw-lim-pai yang sudah tinggi tingkat ilmu kepandaiannya. Mereka adalah dua orang di antara Siauw-lim Chit-kiam, Tujuh Pedang Siauw-lim yang amat disegani orang. Mereka adalah murid-murid langsung dari ketua Siauw-lim-pai yang selain ahli dalam bermain pedang, juga memiliki tenaga sinkang yang amat kuat, di samping pengalaman bertanding yang sudah luas.

Akan tetapi sekali ini, bertemu dengan Nirahai dan Ouwyang Seng, sebentar saja dua orang tokoh Siauw-lim-pai itu terdesak hebat. Ilmu pedang yang dimainkan Nirahai dengan senjata payung luar biasa sekali dan tidak sampai lima puluh jurus, Liok Si Bhok yang bertubuh gemuk pendek itu tak mampu balas menyerang lagi karena dari balik payung hitam itu menyambar-nyambar sinar pedang bagaikan sinar kilat dari balik awan hitam yang tebal.

Tiba-tiba Nirahai mengeluarkan suara melengking tinggi. Dari balik payung menyambar sinar berkeredepan yang berbau harum ke arah leher Liok Si Bhok. Tokoh ini terkejut, maklum bahwa itulah senjata rahasia yang amat berbahaya. Dan memang dugaannya benar karena yang menyambar ltu adalah Siang-tok-ciam, segenggam jarum beracun yang berbau harum. Liok Si Bhok cepat mengelak dengan miringkan diri ke kiri, akan tetapi ternyata bahwa serangan jarum itu hanya merupakan pancingan karena kini tahu-tahu ujung payung itu telah menusuk perutnya.

"Cringgggg...!"

Pedang di tangan Liok Si Bhok tergetar, bertemu dengan ujung payung dan melekat! Pada detik berikutnya, dari balik payung itu menyambar kaki Nirahai yang kecil dan bersepatu indah, menendang dengan gerakan cepat sekali dan tahu-tahu telah mengenai lambung Liok Si Bhok. Tokoh Siauw-lim-pai yang bertubuh gendut pendek ini mengeluh dan tubuhnya terbanting ke belakang. Dua kali ia masih berhasil menangkis sinar pedang Nirahai, akan tetapi yang ketiga kalinya, tangkisannya meleset dan ujung payung itu menancap memasuki lehernya menembus dari kanan ke kiri. Tanpa sempat berteriak lagi Liok Si Bhok tewas dengan leher hampir putus!

"Ouwyang-twako, jangan robohkan dia dengan sin-ciang! Pukulan itu akan dikenaI orang dan menggagalkan rencanaku!" Nirahai berseru ketika melihat betapa Ouwyang Seng mendesak Liong Ki Tek dengan pedang dan pukulan-pukulan Hwi-yang Sin-ciang.

Ouwyang Seng yang melihat betapa puteri itu telah berhasil merobohkan lawannya menjadi penasaran dan malu. Tanpa mengandalkan Hwi-yang Sin-ciang, bagaimana ia akan mampu merobohkan lawan yang tangguh ini? Akan tetapi pada saat itu, Nirahai telah menerjang maju dan menyerang Liong Ki Tek dengan payungnya yang hebat itu. Seperti juga Liok Si Bhok tadi, kini Liong Ki Tek terkejut dan bingung menghadapi serangan payung.

Tahulah pendekar ini mengapa suheng-nya tewas di tangan puteri ini, ternyata bahwa senjata payung pedang itu benar-benar sukar dilawan. Ia mengerahkan tenaganya menangkis dan terdengar suara keras diikuti muncratnya bunga api. Dibandingkan dengan suheng-nya, Liong Ki Tek yang tinggi kurus ini memiliki tenaga yang lebih kuat sungguh pun ilmu pedangnya tidak sehebat Liok Si Bhok. Akan tetapi tangkisannya yang mengandung tenaga kuat itu pun tidak mampu membikin payung terpental, bahkan kini pedangnya melekat pula pada ujung payung itu, tak dapat ia lepaskan. Dan saat ini dipergunakan dengan baik oleh Ouwyang Seng yang sudah menusukkan pedangnya ke perut Liong KI Tek sampai tembus ke punggung.

"Ihhh..., kau kasar sekali, Twako!" Nirahai menarik payungnya dan cepat meloncat ke belakang agar jangan terkena semburan darah dari perut Liong Ki Tek.

Ouwyang Seng menjadi merah mukanya. Memang tadi ia menyerang dengan kasar saking gemas dan penasaran bahwa ia harus dibantu oleh gadis ini untuk merobohkan tokoh Siauw-lim-pai ini sehingga kekasaran serangannya itu nyaris mendatangkan noda darah yang menyembur ke luar dari perut Liong Ki Tek pada baju nona itu.

"Sesudah dua orang tokoh Siauw-lim-pai ini tewas, selanjutnya apa yang akan kita lakukan, Adik Nirahai? Kurasa permainanmu terlalu berbahaya sekarang."

Untuk menutupi kenyataannya bahwa dia tidak secepat Nirahai merobohkan lawan, bahkan mendapat bantuan gadis perkasa itu, Ouwyang Seng menekan gadis itu dengan kata-kata yang sifatnya menegur ini. "Mereka adalah dua orang di antara Siauw-lim Chit-kiam, dan kekuatan Siauw-lim-pai sama sekali tidak boleh dipandang ringan."

Nirahai tersenyum manis. "Tenanglah, Ouwyang-twako dan serahkan saja padaku karena aku telah membuat rencana yang baik sekali, jauh lebih baik dari pada rencana semula. Engkau tahu,Twako. Untuk memancing ikan besar harus menggunakan umpan besar dan dua orang dari Siauw-lim Chit-kiam ini merupakan umpan besar sekali yang kematiannya akan membikin geger Siauw-lim-pai dan sekali ini kutanggung bahwa Siauw-lim-pai akan memusuhi Hoa-san-pai sehingga kita tidaklah harus bersusah payah lagi menggempur keduanya.”

Dengan wajah manis dan sikap tenang gadls itu lalu menceritakan rencananya kepada Ouwyang Seng. Pemuda ini mendengarkan penuh perhatian, makin lama makin tertarik dan setelah gadis itu menyelesaikan penuturan tentang rencana dan siasatnya, ia bangkit berdiri dan menjura kepada Nirahai sambi! berkata.

"Wah, engkau hebat sekali, Adik Nirahai! Sungguh mengagumkan! Makin besar dan berbahagialah hatiku kalau aku teringat bahwa engkau yang begini cantik jelita, begini lihai ilmu silatnya, begini cerdik pandai adalah tunanganku..."

"Hemmm, jangan tergesa-gesa, Twako...," Nirahai memotong, sepasang alisnya yang kecil panjang dan hitam itu berkerut, akan tetapi bibirnya yang merah tersenyum tenang.

"Adikku sayang... Nirahai... aku tidak tergesa-gesa. Akan tetapi... bukankah perjodohan kita sudah setengah resmi...?" Ouwyang Seng berlutut dan suaranya gemetar penuh perasaan. "Di antara Ayahmu dan Ayahku....”

Nirahai menundukkan muka memandang wajah pemuda yang tampan itu. Ia suka kepada pemuda yang selalu pandai mengambil hatinya ini, akan tetapi... Ouwyang Seng bukanlah pria yang memenuhi idaman hatinya. "Ouwyang-twako, yang akan berjodoh adalah kita, bukan ayah kita..."

"Nirahai...!" Ouwyang Seng memandang dengan sinar mata penuh cinta kasih dan permohonan sehingga Nirahai menjadi kasihan, mengulurkan tangannya. Ouwyang Seng menangkap jari-jari tangan yang halus meruncing itu dengan kedua tangannya, lalu menciumi jari-jari tangan itu penuh nafsu birahi dan cinta kasih. "Ohhh, Nirahai puteri jelita, pujaan hatiku. Aku cinta padamu....”

Sejenak puteri itu membiarkan jari tangannya dibelai dan dicium, akan tetapi mulutnya berkata halus, "Aku tahu bahwa engkau mencintaku, Twako. Akan tetapi, aku tidak... ah, belum lagi aku dapat menjatuhkan cinta kasihku kepada seseorang....”

"Aku dapat menanti, sayang. Aku dapat bersabar. Akan kunanti dengan penuh harapan berseminya cinta kasih di hatimu terhadap diriku. Nirahai...."

Puteri itu menarik tangannya terlepas dan berkata, biar pun mulutnya masih tersenyum namun suaranya agak dingin, “Cukuplah, Twako. Kita sedang bertugas, dan aku tidak senang bicara tentang hal itu. Harap kau suka mempersiapkan pasukan pengawal dan sediakan dua buah peti mati akan tetapi jangan kelihatan seperti peti mati, melainkan peti untuk mengirim barang berharga. Aku hendak menyampaikan berita kematian ini kepada anak murid Siauw-lim Chit-kiam yang kebetulan berada di kota Kok-lee-bun tak jauh dari sini, kemudian aku akan ke Kwan-teng menemui Tan-piauwsu kepaIa Pek-eng-piauwkiok. Siasatku ini harus berjalan lancar dan harus berhasil,Twako."

Ouwyang Seng adalah seorang pemuda yang cerdik, maka ia dapat menangkap nada suara dingin itu dan tidak berani melanjutkan rayuannya tentang cinta. Ia bangkit berdiri, menghela napas dan berkata, "Baiklah, Adik Nirahai. Aku sudah paham akan rencanamu tadi."

Nirahai lalu berkelebat cepat ke arah belakang kuil tua itu, meloncat ke punggung kuda yang disembunyikan jauh dari situ kemudian membalap untuk melaksanakan siasatnya. Apakah siasat puteri yang cerdik ini? Seperti telah diceritakan di bagian depan, siasatnya mengadu domba antara Hoa-san-pai dan Siauw-lim-pai ternyata hampir berhasil atau hanya setengah berhasil karena secara tak tersangka-sangka muncul tokoh aneh yang mengacaukan urusan, yaitu Han Han dan Lulu!

Keadaan dalam kuil Siauw-lim-si yang menjadi pusat Siauw-lim-pai dan diketuai oleh Ceng San Hwesio kini diliputi awan kedukaan dan penasaran. Beberapa hari yang lalu datanglah Lauw Sin Lian murid terkasih Siauw-Iim Chit-kiam bersama beberapa orang anak murid Siauw-lim-pai mengawal sebuah kereta yang membawa dua peti yang terisi mayat-mayat Liok Si Bhok dan Liong Ki Tek! Juga mayat tujuh orang anak murid Siauw-lim-pai tingkat rendah.

Dapat dibayangkan betapa kaget dan berduka hati Ceng San Hwesio dan para tokoh Suw-lim-pai ketika melihat dua mayat tokoh Siauw-lim-pai yang telah rusak itu. Mayat-mayat itu cepat diperabukan dan setelah mereka semua berkabung, Ceng San Hwesio lalu mengumpulkan anak murid dan adik-adik seperguruan untuk berunding. Biar pun Lauw Sin Lian terhitung hanya cucu murid ketua Siauw-lim-pai ini, akan tetapi karena tingkat kepandaian Sin Lian sebagai murid terkasih Siauw-lim Chit-kiam sudah amat tinggi dan pula karena gadis ini menjadi saksi utama mengenai bentrokan dengan Hoa-san-pai, maka Sin Lian juga hadir dalam pertemuan besar itu.

"Sungguh tidak nyana sekali Hoa-san-pai menjadi perkumpulan yang rendah dan dapat diperalat oleh kaum penjajah!” Ceng San Hwesio, ketua Siauw-lim-pai mengerutkan alisnya dan mengepal tasbih di tangannya erat-erat, wajahnya yang kurus itu menjadi merah sekali warnanya. "Amatlah keji perbuatan mereka terhadap dua orang muridku itu dan agaknya mereka itu sudah menyatakan permusuhan secara terbuka. Sute, mulai saat ini, harap Sute suka mengatur seluruh anak murid kita untuk melakukan penjagaan ketat siang malam menjaga keamanan kuil. Semua anak murid yang berada di dalam kuil tidak diperbolehkan keluar dan segala bentrokan dengan golongan apa pun juga harus ditiadakan. Selain itu, Sute harap mengutus anak murid untuk mengundang semua saudara dan murid untuk berkumpul di sini, selambatnya sebulan. Sebelum tenaga kita berkumpul semua dan kedudukan kita cukup kuat, jangan ada yang lancang turun tangan terhadap anak murid Hoa-san-pai. Nanti kalau semua tenaga sudah terkumpul, pinceng sendiri yang akan memimpin pasukan Siauw-lim-pai menuju ke Hoa-san-pai dan menuntut balas atas kekejaman Hoa-san pai terhadap kita!"

Kalau seorang ketua perkumpulan besar seperti Siaw-Lim-pai sudah rnenyatakan hendak memimpin sendiri penyerbuan, hal ini menandakan bahwa ketua itu sudah tidak dapat menahan kemarahannya lagi. Dan memang demikianlah keadaan Ceng San Hwesio yang sudah marah sekali. Liok Si Bhok dan Liong Ki Tek adalah dua di antara murid-murid yang paling ia sayang. Kini hwesio tua ini tak mampu lagi mengendalikan kemarahannya melihat murid-muridnya itu tewas dalam keadaan mengenaskan.

Sute-nya, Ceng To Hwesio yang bertugas menjaga kuil dan membantu pekerjaan suheng-nya yang menjadi ketua, juga merupakan guru dan pelatih dari sebagian besar murid-murid Siauw-lim-pai, menarik napas panjang dan berkata.

"Baiklah, Suheng. Penjagaan akan diperkuat, dan pinceng akan mengutus murid-murid mengumpulkan tenaga. Akan tetapi, maaf, Suheng. Mengenai hal yang menyangkut permusuhan dengan pihak Hoa-san-pai ini, apakah tidak sebaiknya kalau kita bertanya nasihat kepada Supek?"

"Bagaimana kita dapat mengganggu Supek dengan urusan ini? Supek sudah bertahun-tahun bertapa dalam sebuah di antara kamar-kamar penyiksaan diri, tak mau diganggu. Biar pun bagi kita urusan ini adalah urusan besar yang tidak hanya menyangkut nyawa murid-murid kita, juga menyangkut nama dan kehormatan Siauw-lim-pai, namun bagi Supek yang sudah mengasingkan diri dari dunia ramai, tidak melibatkan diri dengan urusan dunia, tentu merupakan hal yang tidak ada artinya sama sekali. Tidak, Sute, tidak semestinya kalau kita mengganggu Supek untuk urusan ini. Urusan mengenai Siauw-lim-pai menjadi tugas pinceng sebagai ketua dan tugas semua anak murid Siauw-lim-pai."

"Terserah keputusan Suheng, pinceng hanya mentaati perintah," jawab Ceng To Hwesio yang menjadi tegang hatinya karena maklum bahwa kalau suheng-nya itu mengumumkan perang terhadap Hoa-san-pai, akan terjadi geger dan tentu akan mengambil korban yang banyak sekali di kedua pihak.

"Bagus, Sute. Dan engkau Sin Lian, engkau mengatakan bahwa menurut dugaanmu, kedua orang Gurumu itu terbunuh oleh seorang pemuda bernama Sie Han. Mungkinkah itu? Seorang pemuda dapat membunuh dua di antara tujuh orang Gurumu?"

"Teecu tidak ragu-ragu lagi, Sukong (Kakek Guru). Han Han…eh, Sie Han itu kini ternyata telah menjadi seorang pemuda yang pandai ilmu iblis!"

"Coba ceritakan keadaannya dan bagaimana engkau dapat mengenal dia?"

"Ketika masih kecil, Sie Han ini adalah seorang gelandangan, seorang pengemis yang terlantar. Kemudian Ayah yang menaruh kasihan membawanya dan mengambilnya sebagai murid. Akan tetapi hanya sebentar karena dia itu berkhianat, malah kemudian menjadi murid atau pelayan dari Kang-thouw-kwi Gak Liat..."

"Omitohud...!" Ceng San Hwesio berseru kaget. Nama tokoh datuk hitam yang ini selalu mengejutkan hati semua orang pandai. "Dia menjadi murid setan itu. Akan tetapi... andai kata benar menjadi muridnya, pinceng tetap masih meragukan apakah bocah itu mampu mengalahkan Liok Si Bhok dan Liong Ki Tek."

"Teecu tidak ragu-ragu lagi, Sukong. Ketika berusaha menghajar orang-orang Hoa-san-pai dan bergebrak dengan Han Han itu, dalam bentrokan tenaga teecu mendapat kenyataan bahwa tenaga sinkang bocah itu melampaui sinkang semua Suhu."

"Omitohud..., mana mungkin...?” Ceng San Hwesio kembali berseru.

"Teecu tidak membohong, Sukong. Ketika itu, teecu menyerangnya dan mengirim pukulan dengan pengerahan lweekang sekuatnya. Pukulan teecu itu adalah jurus Cam-liong-jiu (Pukulan Membunuh Naga) dan dia sama sekali tidak menangkis! Teecu yakin bahwa tujuh orang Suhu tidak akan dapat menerima pukulan itu dengan dada, akan tetapi Han Han menerima dengan dadanya dan akibatnya teecu sendiri yang terbanting roboh dan tangan teecu membengkak!"

"Hemmm...!" Ceng San Hwesio mengulur lengannya ke depan dan membuka tangan dengan telapak di atas. "Coba engkau menggunakan Cam-liong-jiu dengan kekuatan seperti yang kau gunakan memukul bocah itu, dengan mengukur kekuatan pukulanmu dapat kiranya sedikit banyak menilai kepandaiannya."

Lauw Sin Lian maklum akan maksud kakek gurunya itu, maka ia lalu mengerahkan tenaga dan mengayun kepalan tangannya, memukul ke arah telapak tangan kakek tua itu.

"Plakkk!!" Sin Lian merasa betapa kulit tangannya panas dan tergetar, maka ia cepat menarik kembali tangannya.

"Omitohud, sukar dipercaya kalau bocah itu mampu menerima pukulanmu tadi dengan dadanya!" ketua Siauw-lim-pai berseru kaget.

"Memang dia luar biasa, Sukong."

“Kalau murid Hoa-san-pai semuda itu takkan mungkin memiliki sinkang yang cukup kuat untuk menerima pukulanmu tadi. Akan tetapi kalau dia murid Gak Liat yang menjadi kaki tangan penjajah, bagaimana dia dapat membantu Hoa-san-pai yang selama ini anti penjajah?"

"Siapa tahu Hoa-san-pai menyeleweng atau mungkin hanya Pek-eng-piauwkiok atau sebagian murid Hoa-san-pai saja yang bersekutu dengan kaki tangan penjajah. Urusan ini amat berbahaya, kalau Sukong mengijinkan, biarlah teecu pergi menyusul lima orang Suhu untuk diundang ke sini."

Ceng San Hwesio mengangguk. "Memang semua murid Siauw-lim-pai harus berkumpul. Terutama sekali para Gurumu yang tinggal lima orang itu..." Kakek gundul ini menarik napas duka teringat akan dua orang muridnya yang tewas. "Apakah engkau tahu di mana mereka itu kini merantau?"

“Teecu mendengar bahwa para Suhu merantau ke Telaga Barat, tentu masih berada di sana. Teecu akan menyusul mereka dan menyampaikan berita duka tentang kematian Liok-suhu dan Jit-suhu (Guru ke Enam dan ke Tujuh)."

"Baiklah, Lian-ji (Anak Lian), berangkatlah sekarang juga. Pinceng amat membutuhkan bantuan guru-gurumu."

Pada hari itu juga, berangkatlah Lauw Sin Lian pergi menyusul guru-gurunya untuk menyampaikan berita kematian dua orang gurunya dan undangan ketua Siauw-lim-pai. Selain Sin Lian, berangkat pula murid-murid Siauw-lim-pai yang diutus oleh Ceng San Hwesio untuk mengundang tokoh-tokoh Siauw-lim-pai yang kebetulan saat itu sedang melakukan perjalanan, atau yang memang tidak lagi bertempat tinggal di pusat ini.

********************

Beberapa hari kemudian semenjak para murid Siauw-lim-pai pergi melakukan tugas masing-masing menghimpun tenaga yang diundang ke pusat, para hwesio penjaga pintu gerbang Siauw-lim-pai menyambut datangnya dua orang tamu dengan pandangan mata penuh kecurigaan. Tamu ini bukan lain adalah Han Han dan Lulu. Seperti biasa, pemuda ini tenang-tenang saja menghampiri pintu gerbang, diikuti dari belakang oleh Lulu yang juga bersikap tenang.

Dara ini makin cantik jelita saja, apa lagi kini di punggungnya tampak sebatang pedang yang amat indah gagangnya, yaitu pedang pusaka Cheng-kong-kiam yang dirampasnya dari tangan Kong Seng-cu tokoh Hoa-san-pai. Biar pun di luarnya kelihatan tenang, namun di sebelah dalam dada gadis ini terjadi ketegangan karena ia ingin sekali segera bertemu dengan Sin Lian untuk bertanya di mana adanya Lauw-pangcu, musuh besarnya.

SembiIan orang hwesio penjaga yang segera datang ke pintu gerbang itu mengangkat tangan sebagai tanda penghormatan dan seorang di antara mereka bertanya.

"Ji-wi (Tuan Berdua) hendak mencari siapakah?"

Berbeda dengan Lulu yang memandang ke kanan kiri penuh perhatian, dengan sikap tenang Han Han membalas penghormatan itu, lalu menjawab.

"Saya ingin bertemu dengan Nona Lauw Sin Lian dan dengan ketua dari Siauw-lim-pai.”

Para hwesio penjaga itu saling pandang. Keadaan pemuda yang aneh ini mencurigakan. Pakaian pemuda ini sederhana dan bersih, akan tetapi rambutnya dibiarkan riap-riapan begitu saja, sungguh mencurigakan, dan lebih-lebih sepasang-mata itu yang amat tajam mengerikan.

“Nona Lauw Sin Lian tidak berada di sini, sedangkan keinginan Kongcu (Tuan Muda) untuk berjumpa dengan Ketua, agaknya hal ini tidak mudah dilaksanakan. Hendaknya Kongcu berdua suka memberi tahukan nama dan keperluan, barulah kami akan menyampaikan ke atasan apakah permohonan Kongcu menghadap dapat dikabulkan."

Han Han mengerutkan alisnya yang tebal, masih dapat menahan kesabarannya, akan tetapi Lulu yang mendengar bahwa Sin Lian yang dicarinya itu tidak berada di kuil itu sudah kehilangan kesabarannya dan ia membentak.

"Wah-wah, seorang pendeta biar pun sudah menjadi ketua, masa lagaknya melebihi seorang raja saja? Orang mau berjumpa saja sukarnya setengah mati!"

Para hwesio penjaga itu memandang dengan muka tidak senang dan wakil pembicara mereka segera menjawab, "Nona, kalau yang kau maksudkan raja penjajah, memang ketua kami jauh lebih tinggi dan terhormat! Ada perkumpulan ada pula peraturan, dan Siauw-lim-pai adalah perkumpulan besar yang memegang teguh peraturannya, siapa pun tidak berhak melanggarnya!"

"Waduh-waduh, galaknya! Eh, hwesio-gundul, apakah kau ini ber-liamkeng (membaca doa) dan bersembahyang, memantang makanan berjiwa yang enak-enak, bertapa susah payah, hanya untuk belajar galak kepada orang lain? Kalau sikapmu masih galak dan tidak ramah-tamah terhadap orang, tidak baik budi, percuma saja dong rambutmu dibuang! Ternyata kepalamu justru menjadi bertambah panas!"

Sikap dan omongan Lulu yang ugal-ugalan ini membuat para hwesio menjadi merah mukanya, akan tetapi karena kata-kata itu tepat menusuk hati dan merupakan sindiran bagi mereka, sejenak mereka tak mampu membantah. Kalau mereka menuruti nafsu kemarahan, hal ini hanya membuktikan betapa tepatnya ucapan gadis nakal itu. Tetapi kalau tidak marah, hati yang tidak kuat!

"Heiii, dia inilah bocah setan itu! Dia yang membunuh saudara-saudara kita, dia yang membela orang-orang Hoa-san-pai!" Tiba-tiba terdengar suara dua orang anggota Siauw-lim-pai yang bukan lain adalah Liong Tik dan seorang sute-nya, dua orang di antara sembilan murid Sauw-lim-pai yang tidak tewas ketika mengeroyok Han Han.

"Kepung, jangan sampat dia lari!" Liong Tik yang marah sekali melihat musuh besarnya ini telah mengeluarkan senjatanya, sepasang tombak cagak dan para hwesio lainnya telah pula siap dengan senjata masing-masing. Dua orang hwesio sudah berlari masuk memberi laporan.

Han Han masih bersikap tenang, dan Lulu sudah berkata lagi, " Wah, tidak hanya galak, malah agaknya para pendeta Siauw-lim-pai terkenal sebagai tukang mengeroyok orang. Apakah kalian masih belum kapok, hendak mengeroyok Kokoku?"

Han Han berdiri dengan kedua kaki terpentang tegak, dan matanya melirik ke kanan kiri ketika kini berdatangan belasan orang hwesio yang sudah mengurungnya. Ia tidak ingin berkelahi karena kedatangannya lni hendak menjelaskan persoalan yang timbul antara Hoa-san-pai dan Siauw-lim-pai.

"Bocah iblis, apakah engkau datang hendak mengacau Siauw-lim-pai?" Liong Tik membentak, masih ragu-ragu untuk menyerang karena ia maklum akan kepandaian pemuda itu yang amat menggiriskan hati.

"Cu-wi sekalian harap sabar. Aku datang sama sekali bukan hendak mengacau, bukan pula hendak menimbulkan perkelahian. Aku datang untuk bicara dengan Nona Lauw Sin Lian, dan dengan ketua Siauw-lim-pai untuk menjelaskan persoalan yang baru-baru ini terjadi."

"Engkau sudah membunuh saudara-saudara kami, masih datang hendak bicara dengan ketua kami?" pertanyaan ini timbul dari hati yang terheran-heran.

Alangkah beraninya pemuda ini! Ataukah karena sombongnya maka sengaja datang hendak menantang ketua Siauw-lim-pai?”

Han Han tersenyum dingin. " Kalau aku tidak datang memberi penjelasan, bagaimana urusan dapat dibereskan? Semua terjadi karena salah paham..."

"Jahanam! Sudah membunuh banyak orang, enak saja mengatakan bahwa semua terjadi karena salah paham! Saudara-saudara, mari kita basmi iblis ini!” Liong Tik berkata marah.

Akan tetapi sebelum mereka turun tangan, terdengar bentakan halus. "Para murid Siauw-Lim-pai, minggirlah!"

Mendengar suara ini, para murid yang tadinya mengurung Han Han serentak minggir dan membentuk lingkaran kipas yang lebar. Han Han memandang mereka yang datang dan ternyata dari dalam kuil keluarlah lima orang hwesio yang usianya rata-rata sudah lima puluh tahun lebih. Sikap mereka agung dan kereng, dan seorang di antara mereka pincang kakinya sehingga jalannya dibantu sebatang tongkat. Pakaian mereka sederhana, namun menyaksikan gerak-gerik mereka yang tenang dan kereng, dapat diduga bahwa mereka ini merupakan tokoh-tokoh penting dari Siauw-lim-pai.

Dugaan Han-Han ini memang benar karena lima orang hwesio itu adalah murid-murid kepala dari Ceng To Hwesio, sute dari ketua Siauw-lim-pai itu. Tingkat kepandaian lima orang hwesio ini sudah tinggi, bahkan tugas mengajar semua murid yang menjadi tugas Ceng To Hwesio diwakili oleh lima orang ini. Biar pun tingkat mereka masih kalah sedikit kalau dibandingkan dengan tingkat Siauw-lim Chit-kiam, namun karena mereka terhitung adik-adik seperguruan Siauw-lim Chit-kiam, maka mereka merupakan tokoh-tokoh tingkat tiga di Siauw-lim-pai.

Han Han yang dapat mengenal orang-orang pandai segera rnengangkat kedua tangan di depan dada dan berkata, " Saya Sie Han dan adik saya Lulu mohon perkenan Losuhu sekalian agar dapat bertemu dan bicara dengan ketua Siauw-tim-pal dan dengan Nona Lauw Sin Lian."

Lima orang hwesio itu tadi sudah mendapat laporan bahwa yang datang ini adalah pemuda lihai yang membantu Hoa-san-pai dan yang telah membunuh tujuh orang anak murid Siauw-lim-pai, bahkan yang mungkin juga menjadi pembunuh dua orang suheng mereka, Liok Si Bhok dan Liong Ki Tek. Kini melihat betapa pemuda itu masih amat muda, mereka sudah terheran-heran sekali, apa lagi menyaksikan sikap pemuda ini yang sopan santun, mereka menjadi ragu-ragu dan hampir tidak percaya bahwa seorang pemuda seperti ini dapat memiliki kepandaian yang tinggi.

Mereka segera membalas penghormatan Han Han karena biar pun tamu itu masih muda, adalah menjadi kewajiban para hwesio untuk bersikap hormat dan lemah lembut kepada siapa saja.

"Sicu hendak bertemu dengan murid kami Lauw Sin Lian?" berkata seorang di antara mereka yang mukanya kurus. "Sayang sekali, Nona Lauw sedang melakukan tugas ke luar kota, tidak berada di sini. Akan tetapi Supek kami, ketua Siauw-lim-pai, berada di dalam. Kalau Sicu berdua hendak menghadap Supek, silakan masuk."

Han Han mengangguk dan hatinya lega. Kiranya tokoh-tokoh Siauw-lim-pal adalah orang-orang gagah yang mudah diajak urusan, tidak seperti anak buahnya tadi yang bersikap kasar, sungguh pun ia dapat memaafkan kekasaran mereka kalau ia ingat bahwa dia telah membunuh tujuh orang saudara mereka. Dengan langkah lebar dan tenang ia memasuki pintu gerbang didahului oleh lima orang hwesio itu. Lulu menyentuh tangan Han Han dari belakang sehingga pemuda itu menengok dan memandangnya.

Gadis itu berbisik, "Koko, aku merasa khawatir sekali. Jangan-jangan kita masuk perangkap mereka.”

“Nona, kami menjunjung tinggi kegagahan dan kebenaran, anti akan segala kejahatan dan kecurangan. Tidak perlu khawatir!" terdengar jawaban dari hwesio pincang bertongkat yang masih berjalan di depan, tanpa menengok. Dapat mendengar bisikan Lulu yang begitu perlahan cukup membuktikan betapa tajam pendengaran para hwesio ini.

Rombongan lima orang hwesio yang mengantar Han Han dan Lulu itu kini memasuki ruangan depan kuil besar yang menjadi pusat perkumpulan Siauw-lim-pai itu. Bersih dan luas sekali ruangan itu dan dari situ tampak meja sembahyang di sebelah dalam, yaitu di dalam ruangan sembahyang yang kelihatan tenang dan sunyi, yang mengebulkan asap tipis berbau harum dari mana terdengar lirih suara hwesio bemyanyi dan berdoa. Ada pun para hwesio lain yang menjadi anak buah dan bertugas menjaga hanya berkumpul di pekarangan depan, tidak diperkenankan masuk karena kini dua orang tamu itu telah berada di dalam tangan lima orang hwesio kepala ini.

Dengan sikap tenang akan tetapi alis berkerut karena dapat menduga bahwa para hwesio Siauw-lim-pai ini menyambutnya dengan penuh kecurigaaan dan sikap bermusuhan, Han Han memasuki ruangan depan yang bersih ltu, diikuti oleh Lulu yang sikapnya biasa saja, bahkan gadis itu seperti biasa tidak dapat menahan rasa ingin tahunya dan menonton ke kanan kiri memandangi keadaan di situ.

"Sicu dan Nona, silahkan masuk ruangan di sebelah, para pimpinan Siauw-lim-pai telah menanti di sana. Pinceng berlima hanya bertugas mengantar Ji-wi (Anda Berdua) sampai di luar pintu sidang pengadilan," berkata hwesio pengantar, sedangkan empat orang hwesio lainnya hanya berdiri dan mengangkat tangan memberi hormat.

Han Han mengerutkan alisnya yang hitam dan hatinya merasa tidak enak mendengar bahwa ia dipersilakan masuk ‘ruangan sidang pengadilan’ ini.

"Koko, jangan percaya kepada mereka ini!" kata Lulu. "Biar kita menanti di sini saja dan suruh mereka panggil keluar Lauw Sin Lian dan ketua mereka!"

"Mengapa mesti takut? Kita adalah tamu dan tamu harus tunduk akan peraturan tuan rumah. Kalau mereka menghendaki dengan penyambutan besar-besaran, biarlah, Adikku. Mari kau ikut aku, tak usah takut.”

“Siapa takut?" Lulu menjebikan bibirnya. "Aku hanya berhati-hati, bukannya takut!"

Dengan langkah lebar dan dada terangkat, Han Han dan Lulu memasuki pintu yang menembus ke ruangan samping yang sesungguhnya adalah ruangan terbesar karena ini adalah ruangan lian-bu-thia (belajar silat) yang luas sekali.

Begitu Han Han dan Lulu memasuki ruangan ini, tampak oleh mereka sepasukan hwesio muda berdiri berbaris di tengah ruangan. Mereka terdiri dari tiga belas orang, berdiri dengan sikap berbaris, bertangan kosong dan nampaknya kuat-kuat. Lengan baju mereka digulung sampai ke siku dan mereka berdiri dengan bhesi (kuda-kuda) yang amat kuat, yaitu kuda-kuda Ji-ma-she dengan kedua kaki terpentang dan lutut ditekuk, kedua kepalan tangan di kanan kiri lambung.

Tiga belas orang hwesio muda itu hanya berdiri dalam keadaan siap sarnbil memandang ke arah Han Han, tanpa mengeluarkan kata-kata, tanpa bergerak. Han Han tidak tahu harus berbuat apa karena barisan ini menghalang di jalan. Akan tetapi terdengarlah suara kereng dari mulut seorang hwesio tua yang berdiri di sudut, hwesio tua yang bermata tajam dan suaranya nyaring.

"Khong-jiu-tin (Barisan Tangan Kosong) Siauw-lim-pai merupakan ujian pertama bagi orang yang berani minta berjumpa dengan ketua Siauw-lim~pai!"

Mendengar ini Lulu meloncat maju dan menudingkan telunjuknya yang kecil runcing kepada hwesio tua ini sambil memaki, "Hwesio busuk! Orang mau berjumpa dengan ketua Siauw-lim-pai pakai diuji segala macam! Peraturan apakah ini? Hayo suruh minggat barisan yang tiada gunanya ini, dan panggil ketuamu ke sini untuk bicara dengan Koko-ku!"

Hwesio tua itu yang sesungguhnya adalah Ceng To Hwesio mengerutkan keningnya dan matanya memandang marah. "Nona, pernah ada jaman di mana wanita dilarang masuk ke kuil Siauw-lim-si dengan ancaman hukum mati. Pinceng akan senang sekali kalau peraturan itu kini masih berlaku. Sayang kini peraturan diperlunak dan kalau kalian tidak berani menghadapi ujian kami, lebih baik pergi saja dari sini.”

"Eh, hwesio sombong, siapa yang tidak berani? Biar ditambah lima kali ini, aku tidak takut!" Lulu sudah bergerak maju hendak menerjang barisan itu.

Tiba-tiba tiga belas hwesio itu menggerakkan kaki dan menggeser kaki kiri ke belakang mengubah kuda-kuda. Gerakan mereka itu mantap dan kuat, juga amat rapi sehingga Han Han yang melihat ini cepat berkata.

"Lulu, mundurlah. Kalau memang begini peraturan Siauw-lim-pai, biar kucoba menghadapi tin (barisan) ini."

Lulu melangkah mundur dan mengomel, "Hemmm, hwesio-hwesio sial. Sekali ini agak baik nasib kalian sehingga tidak jadi mati di tanganku. Kakakku terlalu baik hati untuk membunuh kalian sehingga kalian hanya akan luka-luka ringan saja. Kalau aku yang maju sendiri, jangan tanya-tanya lagi tentang dosa!"

Biar pun sikapnya masih kekanak-kanakan namun Lulu sebetulnya adalah seorang yang cerdik dan dapat menyembunyikan kecerdikannya di balik sikap kekanak-kanakannya. Ia sudah mengenal watak kakaknya yang setiap kali berhadapan dengan lawan-lawan tangguh dalam sebuah pertandingan lalu timbul watak beringas dan kejam seolah-olah haus darah dan ia tahu pula bahwa pihak lawan tentu akan roboh tewas kalau bertemu dengan kakaknya yang luar biasa. Dia tidak menghendaki kakaknya menjadi seorang kejam yang membunuhi manusia seperti membunuh semut saja, maka tadi ia sengaja berkata demikian untuk mengingatkan Han Han agar tidak membunuh lawan.....



Pilih JilidHomeJilid Berikut


DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner