PENDEKAR SUPER SAKTI : JILID-17


Ketika bangsa Mongol menyerbu Tiongkok, negara ini pun sedang dalam keadaan kacau dan rusak oleh perang saudara sehingga menjadi lemah dan mudah saja ditaklukkan dan dijajah bangsa Mongol. Setelah seluruh negeri dijajah bangsa Mongol, barulah rakyat bersatu-padu dan tentu saja rakyat yang luar biasa besar jumlahnya itu tidak sukar merobohkan kekuasaan Mongol dan mengusir penjajah ini. Akan tetapi, begitu penjajah Mongol terusir, timbul kembali perang saudara yang tak kunjung henti, susul-menyusul yang melemahkan negara itu sendiri.

Karena perang saudara inilah maka kekuasaan Mancu mulai menyelundup memasuki Tiongkok. Dengan dukungan para oknum penjilat yang tidak segan-segan menjual negara dan bangsa demi sekelumit kesenangan duniawi bagi diri pribadi, cepat sekali bangsa Mancu menguasai Tiongkok. Cerita ini dimulai pada tahun 1645 di mana tentara Mancu menyerbu ke selatan dan sekarang, delapan tahun kemudian, hampir seluruh Tiongkok dikuasai bala tentara Mancu yang mempunyai kaisar baru, yaitu Kaisar Kang Hsi, kaisar ke empat dari Kerajaaan Ceng-tiauw atau kerajaan bangsa itu.

Di bawah pimpinan Kaisar Kang Hsi inilah diadakan pembersihan secara besar-besaran terhadap para pejuang yang mempertahankan tanah air menentang penjajah Mancu. Para pejuang melakukan perlawanan mati-matian dan sebagai pusat perjuangan, atau sebagai pucuk pimpinan gerakan para pejuang ini bersumber di Se-cwan di mana Bu Sam Ki menjadi raja muda yang tak pernah mau tunduk terhadap penjajah Mancu.

Seperti lajim dalan jaman perang seperti itu, golongan-golongan terpecah dua, juga golongan kaum kang-ouw. Banyak di antara mereka yang terjun ke dalam perjuangan menentang kekuasaan Mancu, akan tetapi tidak sedikit pula yang mempergunakan kesempatan itu untuk mencari kedudukan, kemuliaan dan kemewahan secara mudah, yaitu menjadi pembantu pemerintah Mancu dan menentang bangsa sendiri yang oleh pihak mereka disebut pengacau dan pemberontak.

Tanpa disadari oleh manusia sendiri, kehidupan manusia semenjak masih kanak-kanak dan mulai memiliki pengertian tentang perbedaan, tentang baik buruk, senang susah, rugi untung, enak tidak enak, sepenuhnya dicengkeram dan dikuasai oleh nafsu-nafsu mementingkan diri pribadi, nafsu mencari kesenangan duniawi bagi diri pribadi. Namun, karena pada dasarnya manusia memiliki sifat kebajikan, maka terjadilah perang di dalam hati nurani manusia sendiri. Satu pihak merupakan dorongan nafsu yang mendorong manusia memperebutkan kesenangan bagi diri pribadi, di lain pihak merupakan kesadaran manusiawi yang mencegah manusia melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak benar.

Maka lahirlah perbuatan-perbuatan yang sesungguhnya merupakan hamba nafsu namun yang berkedok kebenaran! Perbuatan yang dilakukan demi dorongan nafsu mementingan diri pribadi terhibur oleh anggapan bahwa perbuatan itu demi kebenaran. Otak dan akal manusia tidak kekurangan bahan untuk mencari ‘kebenaran’ yang menopengi perbuatan menghamba nafsu ini. Ada saja alasan, yang diperaya pula oleh diri sendiri, bahwa perbuatan ini adalah benar dan demi kebenaran! Dengan demikian, setiap perbuatan di dunia ini selalu dianggap benar oleh si pembuat sendiri, dan terciptalah pertempuran-pertempuran dalam memperebutkan kebenaran! Benarnya sendiri-sendiri! Benarnya masing-masing! Benar bagi diri sendiri yang belum tentu benar bagi pihak lain. Dan terciptalah KEBENARAN NAFSU, yaitu bahwa apa saja yang mendatangkan enak, senang dan untung bagi AKU, maka itu adalah BENAR!


Negara adalah wadah sekumpulan manusia yang dipimpin deh manusia pula, oleh karena itu, kebenaran nafsu itu pun dianutnya. Bangsa Mancu yang menjajah itu pun menganggap mereka benar! Mudah saja! Negara Tiongkok kacau-balau, perang saudara tiada hentinya, rakyat hidup sengsara, ditindas oleh raja-raja muda dan oleh mereka yang berkuasa, terjadi hukum rimba! Kami, bangsa Mancu datang untuk membebaskan rakyat dari pada jurang kesengsaraan, kami datang untuk berusaha mendatangkan kebahagiaan bagi rakyat. Karena itu, serbuan bangsa Mancu ke selatan adalah benar pula!

Sungguh pun harus diakui bahwa akal budi membuat mereka mencari alasan yang cukup kuat dan memang kenyataannya demikian, namun pada hakekatnya yang bersembunyi di balik semua itu adalah keuntungan! Keuntungan yang didapat dalam penjajahan ini, yang sekaligus membuat bangsa Mancu memiliki negara yang amat besar dengan penghasilan yang melimpah-limpah serta harta benda yang amat banyak.

Perasaan benar ini bukan dibuat-buat dan memang setulusnya mereka itu merasa dirinya benar. Nafsu-nafsu telah menyelubungi kesadaran batin manusia, seperti mendung-mendung hitam tebal menyelubungi sinar matahari. Kegelapan menyelimuti kesadaran sehingga mereka itu tidak sadar lagi bahwa mereka menjadi permainan dan hamba-hamba nafsu. Banyak sekali orang yang menjadi korban seperti ini, menganggap bahwa apa yang diperjuangkan itu benar dan suci sehingga rela dibela mati-matian.

Demikian pula di dalam Kerajaan Ceng. Banyak orang-orang gagah yang membela gerakan Mancu ini mati-matian karena merasa bahwa apa yang diperjuangkannya itu adalah demi kebenaran. Terutama sekali bagi mereka yang menjadi anggota bangsa Mancu, tentu saja menganggap bahwa berjuang membasmi para ‘pemberontak’ adalah pekerjaan yang semulia-mulianya, pekerjaan orang-orang gagah yang patut dipuji.

Banyak sekali tokoh-tokoh kang-ouw yang ternama membantu Kerajaan Ceng-tiauw ini karena mereka itu menganggap bahwa bangsa Mancu yang gagah perkasa telah berhasil mendatangkan kemakmuran di Tiongkok, meredakan perang saudara dan mereka ini mempunyai harapan besar bahwa pemerintah baru ini benar-benar akan dapat mengangkat nasib rakyat jelata. Tentu saja ini hanya alasan mereka, karena banyak sekali di antara mereka melihat ‘nasib baik’ mereka sendiri yang terutama sebagai landasan bantuan mereka.

Banyak pula datuk-datuk golongan hitam yang memiliki tingkat kepandaian amat tinggi membantu dan hal ini adalah hasil kecerdikan Pangeran Dorgan yang memegang tampuk pimpinan sebagai pengganti Kaisar Abahai karena putera kaisar itu masih sangat muda. Pangeran Dorgan memang cerdik sekali. Pandai mengambil hati para orang pandai dan tidak ragu-ragu untuk mengeluarkan biaya besar dalam usaha ini. Di antara tokoh pandai yang terus merupakan pengawal-pengawal pilihan dan yang masih terus membantu setelah Kaisar Kang Hsi naik tahta adalah Kang-thouw-kwi Gak Liat yang merupakan jago yang diajukan oleh Pangeran Ouwyang Cin Kok, seorang di antara para pangeran bangsa Han yang telah menghambakan diri kepada Kerajaan Mancu.

Pada suatu hari, para tokoh yang menjadi pengawal-pengawal istana dan penasihat-penasihat mengenai usaha Kerajaan Mancu membasmi para pemberontak mengadakan pertemuan atas undangan Pangeran Ouwyang Cin Kok. Pangeran ini telah banyak jasanya terhadap Kerajaan Mancu, telah terbukti kesetiaannya ketika berkali-kali pangeran ini dengan pengaruhnya yang besar dan para pembantunya yang pandai menghancurkan golongan pemberontak.

Karena kepercayaan yang amat besar ini, Pangeran Dorgan pada beberapa tahun yang lalu menghadiahkan seorang puteri Mancu kepada Pangeran Ouwyang Cin Kok, bahkan setelah Kaisar Kang Hsi menduduki tahta kerajaan, Pangeran Ouwyang Cin Kok yang kini telah dianggap ‘keluarga kaisar’ telah diangkat menjadi panglima bagian keamanan yang bertugas melakukan operasi pembasmian terhadap para pemberontak. Dan untuk merundingkan tugas inilah maka pada pagi hari ini Ouwyang Cin Kok mengundang semua pembantunya dan pembantu para pembesar lain, termasuk pengawal-pengawal kaisar sendiri ke dalam istananya.

Dengan pakaian kebesaran sebagai seorang pangeran Kerajaan Ceng-tiauw, Pangeran Ouwyang Cin Kok duduk di atas sebuah kursi yang terukir indah sekali. Pangeran ini usianya sudah enam puluh tahun, akan tetapi masih tampak tampan dan ganteng. Tubuhnya tinggi besar mukanya merah, pakaiannya indah rapi dan rambut serta jenggot kumisnya juga terpelihara baik-baik.

Di sebelah kirinya duduk seorang wanita Mancu yang cantik, bermata tajam lincah, usianya tiga puluh tahun lebih, tubuhnya montok dan menggairahkan. Itulah puteri Kerajaan Mancu, puteri selir Pangeran Dorgan yang diberikan sebagai hadiah kepada Ouwyang Cin Kok dan kini menjadi selir terkasih pangeran ini. Selir ini paling dikasihi, bukan hanya karena cantik montok dan mudanya, melainkan juga terutama sekali karena selir ini menjadi ‘lambang’ kekuasaannya, sebagai pangeran mantu Kerajaan Mancu! Dan untuk memperlihatkan kedudukannya yang tinggi ini pulalah maka ketika menyambut datangnya tokoh-tokoh berilmu yang membantu kerajaan baru, Ouwyang Cin Kok ditemani oleh sang selir.

Dengan dikipasi kebutan terbuat dari bulu-bulu indah burung dewata, dilayani oleh para pelayan wanita muda-muda dan cantik-cantik, Ouwyang Cin Kok dan selirnya itu duduk menanti kunjungan para tokoh berilmu. Berturut-turut mereka datang menghadap dan dipersilakan duduk di ruangan itu yang telah diatur untuk menerima kunjungan mereka.

Yang pertama kali muncul adalah putera Sang Pangeran sendiri, Ouwyang Seng murid terkasih dari Kang-thouw-kwi Gak Liat, seorang pemuda tinggi tegap yang berwajah tampan berpakaian indah, pesolek dan amat tinggi ilmu kepandaiannya karena dia telah mewarisi Hwi-yang Sin-ciang gurunya. Bersama pemuda ini datang pula Nirahai yang segera disambut oleh Pangeran Ouwyang Cin Kok dengan ramah, karena Nirahai adalah puteri kaisar sendiri dari selir. Sebagai puteri kaisar, tentu saja Nirahai amat dihormati.

Puteri Nirahai segera berangkulan dengan selir Ouwyang Cin Kok karena selir Mancu itu masih terhitung bibinya, sungguh pun bibi yang sudah jauh. Kemudian mereka berdua ini bercakap-cakap dengan asyiknya yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan tugas membasmi kaum pemberontak, melainkan percakapan antara wanita yang sudah lama tidak bertemu.

Pangeran Ouwyang Cin Kok dan puteranya lalu sibuk menyambut para tokoh berilmu yang berdatangan. Kang-thouw-kwi Gak Liat datang bersama tiga orang muridnya yang lain, yaitu Hiat-ciang Ma Su Nio yang cantik dan genit, dan kedua kakak beradik Hek-giam-ong dan Pek-giam-ong. Ketiga orang murid Setan Botak ini merupakan tenaga-tenaga yang penting dan berjasa pula karena ilmu kepandaian mereka sudah amat tinggi.

Selain empat orang ini, muncul pula beberapa panglima-panglima yang berpangkat tinggi, di antaranya adalah dua orang perwira Mancu yang terkenal berjasa dan berpengaruh. Mereka ini adalah orang-orang Mancu asli. Akan tetapi seperti juga kaisar, para panglima dan menteri yang berpangkat tinggi, mereka ini pun menggunakan nama Han, dan berpakaian seperti pembesar-pembesar Han.

Seorang di antara mereka adalah seorang panglima tinggi besar gagah menyeramkan. Jenggotnya yang rapi memenuhi mukanya dari rambut terus melalui pipi bersambung ke dagu. Panglima ini bernama Giam Cu, nama baru. Ada pun panglima ke dua juga memakai she Giam, namanya Kok Ma. Giam Cu adalah panglima golok besar, sedangkan Giam Kok Ma adalah panglima berkuda bertombak panjang. Keduanya memiliki kepandaian tinggi dalam mengatur barisan, juga memiliki ilmu silat yang lihai.

Kemudian muncul pula dua orang tokoh kang-ouw yang namanya menggemparkan, yaitu kakak beradik she Bhong. Mereka ini terkenal dengan julukan Tikus Kuburan, karena dahulu pekerjaan mereka adalah membongkar-bongkar kuburan baru untuk mencuri perhiasan-perhiasan yang dipakai mayat-mayat yang dikubur dan dalam hal membongkar kuburan, juga membongkar rumah, mereka adalah ahli-ahli yang sukar dicari keduanya. Yang tua bernama Bhong Lek, mukanya kaya tikus, rambutnya panjang riap-riapan, kumisnya jarang seperti kumis tikus, ada pun Bhong Poa Sik, adiknya, mempunyai ciri yang aneh pada kepalanya, yaitu bagian ubun-ubun kepalanya ada tonjolan seperti telur besar.

Semua tamu dipersilakan duduk, kecuali seorang yang datang paling akhir. Orang itu biar pun dipersilakan duduk, namun tetap berdiri, bahkan berdirinya aneh sekali, yaitu hanya dengan kaki kiri, sedangkan kaki kanannya diangkat menempel pada lutut kiri, persis seperti seekor burung bangau berdiri di tengah sawah! Hebatnya, orang ini pun mempunyai kepala yang bentuknya seperti kepala burung, bukan kepala burung yang indah, melainkan kepala burung yang diberondoli bulunya sehingga kelihatan buruk, lucu dan juga mengerikan.

Lehernya panjang kecil, kepalanya kecil lonjong, kedua telinganya memakai anting-anting emas. Matanya agak juling, mulutnya selalu menyeringai, tampak giginya yang panjang-panjang karena bibirnya cupet. Kumisnya meruncing ke depan menyerupai paruh burung, kepalanya botak dan hanya ada beberapa helai rambut saja menambah keburukannya. Tubuhnya kecil kurus, akan tetapi perutnya gendut seperti perut anak menderita cacingan. Akan tetapi tangan kirinya memegang sebuah senjata yang menakutkan orang, bergagang panjang yang melengkung seperti gendewa dan ujungnya dipasangi sabit yang amat tajam. Ia berdiri di sudut seperti seekor burung mengintai katak, matanya yang juling tak berkedip-kedip, mulutnya yang menyeringai tidak bergerak-gerak, seolah-olah dia telah berubah menjadi arca yang mati!

Hanya seorang yang aneh inilah yang agaknya tidak dikenal oleh sebagian besar mereka yang hadir. Yang mengenalnya hanyalah Puteri Nirahai, Pangeran Ouwyang Cin Kok, dan selir pangeran itu. Bahkan Ouwyang-kongcu sendiri tidak mengenalnya dan pemuda ini memandang tokoh itu dengan penuh keheranan.

Melihat betapa para tamunya, termasuk puteranya, memandang ke arah manusia aneh itu dengan pandang mata penuh keheranan dan pertanyaan, Pangeran Ouwyang Cin Kok tertawa dan memberi isyarat dengan tangan agar para pelayan yang cantik-cantik dan sedang mengeluarkan hidangan dan arak itu mundur. Mereka ini menyelesaikan tugas menghidangkan makanan dan minuman, kemudian mengundurkan diri dari ruangan yang lebar itu.

“Cu-wi sekalian agaknya belum mengenal tokoh ini,” kata pangeran itu sambil memandang kepada manusia berkepala seperti burung itu, “Padahal semenjak bangsa Mancu yang jaya bergerak ke selatan, hasil yang baik dari gerakan itu sebagian mengandalkan kelihaian tokoh ini.”

Kang-thouw-kwi Gak Liat mengerutkan alisnya sambil memandang tokoh itu dengan pandang mata merendahkan. Hatinya tidak senang mendengar betapa majikannya menyanjung-nyanjung nama orang lain. Siapakah adanya tokoh yang jasanya lebih besar dari pada dia? Maka ia segera berkata sambil tertawa.

“Bangsa Mancu yang jaya adalah bangsa yang besar dan yang sudah ditakdirkan untuk menguasai seluruh dunia, semua itu berkat jasanya rakyat seluruhnya, bukan jasa perorangan. Harap Paduka sudi memperkenalkan hamba kepada orang gagah ini.”

“Ha-ha-ha, Gak-lo-sicu, apa yang Lo-sicu ucapkan sungguh tepat. Bukan maksud kami untuk menonjolkan jasa seseorang dan mengurangi jasa lain orang, karena masing-masing memiliki jasanya sendiri-sendiri. Losuhu ini adalah tokoh berasal dari Khitan yang amat terkenal, tetapi karena selalu menyembunyikan diri, tidak mengherankan apa bila orangnya tidak dikenal, hanya namanya saja. Nirahai, keponakanku yang manis, tolonglah engkau yang memperkenalkan Ciam-losuhu kepada para Lo-sicu yang hadir.”

Ucapan terakhir ini ia tujukan kepada Nirahai dengan suara yang halus dan ramah, sehingga dalam kesempatan itu, Pangeran Ouwyang Cin Kok sekalian memperlihatkan kepada yang hadir bahwa dia adalah sanak dekat kaisar dan berhak menyuruh seorang puteri kaisar begitu saja karena, bukankah puteri kaisar itu terhitung keponakan selirnya.

Nirahai adalah seorang gadis yang selain memiliki ilmu kepandaian yang tidak lumrah, juga memiliki kecerdikan melebihi kebanyakan orang. Melihat sikap tuan rumah, ia tersenyum manis dengan hati penuh maklum. Ia lalu bangkit berdiri, senyum menghias menambah gemilang wajahnya. Gerakan tubuhnya ketika bangkit begitu lemah gemulai seperti seorang penari, sama sekali tidak membayangkan kesaktian seorang ahli silat.

“Tidaklah terlalu mengherankan apa bila Gak-cianpwe dan saudara-saudara lainnya belum mengenal Si Burung Hantu karena memang dia jarang sekali keluar di dunia ramai.”

“Apa? Sin-tiauw-kwi Ciam Tek?” Setan Botak Gak Liat berseru kaget, juga para panglima dan tokoh-tokoh pengawal yang berada di situ terkejut sambil memandang kakek yang memegang senjata mengerikan itu.

Nama ini, terutama sekali julukan Sin-tiauw-kwi (Burung Rajawali Hantu) atau lebih terkenal lagi Si Burung Hantu, terkenal sebagai tokoh dalam dongeng di Khitan! Maka begitu kini mereka diperkenalkan dengan tokohnya, biar Gak Liat sendiri memandang dengan sinar mata tidak percaya.

Nirahai mengerti akan pandang mata mereka itu, maka ia tersenyum dan berkata, “Tentu cu-wi menghubungkan nama julukan itu dengan burung hantu yang kabarnya dipelihara Kaisar Khitan di jaman dahulu, bukan? Hendaknya diketahui bahwa memang Ciam-locianpwe ini adalah seorang tokoh Khitan. Cu-wi tentu maklum bahwa Khitan menjadi sumbernya orang-orang pandai. Pendekar besar tanpa tanding Suling Emas sendiri adalah suami seorang Ratu Khitan, dan pendekar wanita sakti Mutiara Hitam adalah puteri mereka! Di samping keluarga kaisar yang memiliki kesaktian luar biasa itu, banyak pula ponggawa dan Panglima Khitan yang memiliki ilmu kepandaian hebat-hebat. Sin-tiauw-kwi Ciam Tek ini adalah satu-satunya orang yang beruntung mewarisi ilmu kepandaian peninggalan Hek-giam-lo (Raja Maut Hitam) yang amat terkenal di jamannya Pendekar Suling Emas enam tujuh abad yang lalu. Karena Khitan dan Mancu bersekutu dan berkeluarga, tentu saja semua tokoh Khitan membantu gerakan Mancu sekarang ini.”

Kang-thouw-kwi Gak Liat dan yang lain-lain mengangguk-angguk. Tentu saja mereka pernah mendengar nama-nama besar yang disebutkan gadis itu. Gak Liat lalu bangkit berdiri dan menjura ke arah Sin-tiauw-kwi Ciam Tek sambil berkata dalam bahasa Khitan dengan lancar karena Si Botak ini paham hampir semua bahasa daerah.

“Selamat berjumpa, Saudara Ciam Tek. Mudah-mudahan di antara kita akan terdapat kerja sama yang erat.”

Si Burung Hantu itu memandang Gak Liat dengan mata julingnya, lalu mengeluarkan suara seperti burung mencicit akan tetapi hanya dapat dimengerti oleh Gak Liat karena hanya suaranya saja yang mencicit, namun sesungguhnya merupakan kata-kata dalam bahasa selatan yang pelo dan menggelikan hati para pendengarnya.

“Sudah lama aku mendengar nama Setan Botak, kiranya begini saja orangnya!” Setelah berkata demikian, Si Burung Hantu berdiri diam lagi dengan satu kaki, acuh tak acuh! Gak Liat tidak menjadi marah, sudah biasa ia menghadapi sikap dan watak aneh-aneh dari tokoh-tokoh besar, maka ia malah tertawa bergelak dan berkata.

“Ha-ha-ha, lain kali aku ingin sekali merasakan lihainya patukanmu dan cakaranmu, Burung Hantu!”

Pangeran Ouwyang Cin Kok tertawa pula. Biar pun dia sendiri bukan termasuk golongan kang-ouw, akan tetapi sudah terlalu banyak pembesar ini mengenal tokoh-tokoh aneh di dunia kang-ouw sehingga ucapan Gak Liat yang seolah-olah menantang itu dianggapnya biasa saja dan tidak mengkhawatirkan.

“Cu-wi sekalian kami kumpulkan saat ini karena kami hendak membicarakan hal-hal yang amat penting. Berkat bantuan-bantuan cu-wi sekalian, pemerintah kita dapat memperoleh kemajuan-kemajuan di selatan dan kini, sungguh pun tak dapat dikatakan bahwa pihak pemberontak telah terbasmi semua, namun mereka itu sudah kehilangan kekuatan dan hanya bergerak secara sembunyi-sembunyi dan dalam kelompok kecil atau malah secara perorangan. Yang penting kita harus mencurahkan perhatian ke Se-cuan, karena Bu Sam Kwi merupakan kekuatan terakhir yang merongrong kita. Bala tentara kita sudah menghimpit dan mengurung, lambat-laun tentu pertahanannya dapat dijebolkan pula. Tugas kita yang terpenting sekarang adalah mencegah agar sisa pemberontak di sini tidak mengadakan hubungan dengan Se-cuan agar kekuatan mereka tetap terpecah-pecah. Usaha yang dilakukan Puteri Nirahai dan puteraku Ouwyang Seng untuk memecah belah persatuan antara Siauw-lim-pai dan Hoa-san-pai, menemui kegagalan. Akan tetapi ada pula untungnya, yaitu timbulnya ganjalan hati antara mereka sehingga tidak memungkinkan mereka itu akan bekerja sama. Pula, kedua partai besar itu pun tidak melakuan perlawanan dan pemberontakan secara terang-terangan.”

“Akan tetapi, mengapa tidak kita gempur saja Se-cuan sampai hancur? Setelah kita dapat menguasai seluruh daratan, mengapa wilayah sebesar Se-cuan saja tidak dapat segera dikalahkan? Berilah hamba lima laksa prajurit berkuda, akan hamba hancur lumatkan Bu Sam Kwi dan seluruh anak buahnya!” Panglima brewok tinggi besar berkata dengan sikap gagah.

“Betul apa yang dikatakan oleh Giam-ciangkun,” kata Bhok Lek orang pertama dari kakak beradik Tikus Kuburan. “Kabarnya benteng Se-cuan amat kuat, akan tetapi kalau benteng itu dikurung dan hamba berdua dibantu tenaga-tenaga ahli melakukan penyusupan ke dalam dengan menggali terowongan, akan mudah menghancurkan pertahanan mereka!”

“Tidak begitu mudah,” bantah Puteri Nirahai. “Saya mendengar bahwa di sana banyak terdapat orang-orang yang memiliki kepandaian tinggi.”

“Hemmm, kalau ada jago di pihak musuh, serahkan saja kepada hamba. Hamba sanggup menghadapi lawan yang bagaimana lihai pun!” Setan Botak Gak Liat menyombong sambil tersenyum.

Ouwyang Cin Kok mengangkat kedua tangan ke atas sebagai isyarat agar semua orang yang sedang ribut-ribut mengemukakan pendapat bulat untuk menyerang Se-cuan itu tenang, kemudian sambil tersenyum ia berkata.

“Tidak dapat kita membawa kehendak sendiri dan bertindak sesuka hati. Setiap gerakan kita harus disesuaikan dengan taktik dari Hongsiang (Kaisar). Dengarlah baik-baik, cu-wi sekalian, agar tahu apa yang menjadi siasat negara untuk menghadapi Bu Sam Kwi pada saat ini di Secuan.”

Semua orang mendengarkan penuh perhatian, termasuk Nirahai. Biar pun dia ini puteri selir kaisar sendiri, namun tentang urusan politik ia tidak sepaham dengan pangeran yang menjadi penasehat kaisar ini.

“Kalau kita ingin berhasil menangkap semua ikan di kolam, kita harus mengacaukan air dan mengejar ikan-ikan itu dengan membiarkan sebagian tempat itu tetap tenang sehingga semua ikan akan melarikan diri sembunyi di bagian air yang tak terganggu itu. Baru setelah semua ikan berkumpul di tempat kecil itu, kita tutup jalan ke luar dan kita sergap di tempat kecil itu sehingga tak ada ikan yang dapat lolos. Demikian pula dengan para pemberontak yang tersebar di empat penjuru. Kita harus kejar-kejar mereka, melakukan operasi-operasi pembersihan dengan teliti sehingga para pemberontak itu kehilangan tempat bersembunyi dan terpaksa mereka akan bersembunyi semua ke Se-cuan. Hal ini lebih mudah bagi kita dari pada kalau kita hancurkan Se-cuan sehingga para pemberontak itu melarikan diri tersebar di mana-mana sehingga sukar untuk ditumpas karena daerah Tiongkok luas sekali. Inilah sebab pertama mengapa kita tidak boleh memukul Se-cuan pada sekarang ini.”

Semua orang yang mendengarkan mengangguk-angguk, kagum akan siasat ini, siasat menggiring ikan-ikan supaya berkumpul di suatu tempat.

“Ada pun sebab kedua adalah karena Kaisar dengan secara bijaksana memutuskan bahwa rakyat sudah terlalu lama menderita akibat perang, karena itu sementara ini tidak perlu lagi mengadakan perang karena Se-cuan tidak begitu penting artinya bagi kita. Sekarang rakyat perlu ditenangkan hatinya dengan pembangunan-pembangunan, bukan dengan perang baru yang akan membikin rakyat mendapat kesan buruk terhadap pemerintah baru. Tidak perlu dengan kekerasan, cukup dengan dikepung dan dimatikan jalan hubungan mereka ke timur, mereka di Se-cuan akan hidup serba kekurangan dan sengsara, akhirnya akan menjadi lemah dan kalah tanpa diserang.”

Kembali Gak Liat menjadi kagum. Dalam soal taktik perang dan siasat pemerintahan tentu saja dia tidak mengerti apa-apa.

“Sekarang sebab ketiga yang timbul dari kebijaksanaan Kaisar,” terdengar pula suara Ouwyang Cin Kok. “Pemerintah baru menghadapi tugas membangun negara dan menciptakan suasana adil makmur bagi rakyat jelata, mendatangkan kehidupan damai dan tenteram sehingga dengan demikian tidak sia-sialah bangsa Mancu yang jaya telah mengorbankan banyak nyawa untuk mengusir raja-raja lalim dari bumi Tiongkok. Untuk pekerjaan pembangunan yang amat besar itu, kita amat membutuhkan bantuan tenaga-tenaga orang pandai. Harus diakui bahwa di antara para pemberontak banyak terdapat orang-orang pandai. Sungguh amat sayang kalau mereka itu dibunuh demikian saja. Karena ini pula, bentrokan perang dengan Se-cuan harus diundurkan agar kita mendapat banyak waktu untuk menarik orang-orang pandai itu agar membantu kita. Untuk keperluan itulah Kaisar menyediakan biaya yang amat besar, kemungkinan-kemungkinan pangkat bagi mereka, dan di samping itu tentu saja mengandalkan kepandaian cu-wi untuk menundukkan mereka. Makin banyak orang pandai membantu Kerajaan Ceng, makin baik. Mengertikah cu-wi sekarang mengapa kita tidak diperbolehkan menyerbu Se-cuan secara kasar?”

Semua orang mengangguk, bahkan dari mulut Sin-tiauw-kwi Ciam Tek terdengar suaranya yang pelo memuji, “Hebat siasat ini! Hidup Kaisar!”

Biar pun pelo, namun ucapannya itu membangkitkan semangat semua orang dan terdengarlah seruan mereka, “Hidup Kaisar!”

Kang-thouw-kwi Gak Liat adalah seorang datuk hitam yang tidak bercita-cita untuk negara mau pun untuk kaisar, melainkan untuk diri sendiri. Karena itu, di dalam hatinya mana ada kesetiaan terhadap pemerintah Mancu? Namun dia seorang cerdik dan tidak mau ketinggalan pula ia ikut mengucapkan kata-kata itu.

“Biar pun kita tidak menyerbu Se-cuan, akan tetapi untuk keperluan menarik orang-orang pandai ke pihak kita dan mencegah mereka berhubungan dengan Se-cuan, maka pekerjaan kita bukanlah ringan. Kita harus dapat menguasai seluruh dunia kang-ouw, dapat mengetahui keadaannya dan hal ini kami serahkan ke dalam pimpinan keponakanku Puteri Nirahai yang sudah cu-wi ketahui akan kecerdikannya dan juga akan kepandaiannya yang tinggi.”

Kembali Si Burung Hantu mengangguk, lalu berkata polos, “Puteri Nirahai mewarisi kepandaian Puteri Mutiara Hitam, dia hebat...”

Juga Gak Liat mengangguk berkata, “Aku sudah mengetahui kelihaian Puteri Nirahai.”

Gadis cantik itu mengelilingkan pandang matanya dan girang bahwa tidak ada yang menentang pengangkatannya sebagai pimpinan. Siapakah yang berani menentang? Selain dia memiliki ilmu kepandaian tinggi, juga amat pandai bersiasat, cerdik dan banyak akal, juga dia adalah puteri kaisar sendiri!

“Terima kasih atas kepercayaan cu-wi kepadaku yang muda. Tentu saja aku tidak dapat bekerja sendiri dan mengandalkan bantuan dari cu-wi sekalian, baru tugas kita akan dapat berhasil baik. Di dunia kang-ouw ini banyak terdapat tokoh-tokoh besar yang belum membantu kita. Di antara mereka itu adalah Ma-bin Lo-mo Siangkoan Lee.”

“Hemmm, Si Muka Kuda itu sejak dahulu menentang Kerajaan Ceng-tiauw!” kata Gak Liat sambil mengeluarkan suara menghina.

“Itulah sebabnya mengapa kita harus berdaya upaya agar dia tertarik kepada kita dan suka membantu, Gak-locianpwe. Karena kalau dia sudah mau membantu, tentu para muridnya yang kudengar ada banyak sekali yang pandai, akan suka menjadi sekutu kita pula. Kita harus menyelidiki ke In-kok-san di Pegunungan Tai-hang-san yang dijadikan pusat perguruannya. Bahkan aku mendengar bahwa Si Nenek sakti Toat-beng Ciu-sian-li juga berada di sana.”

“Iblis betina itu berbahaya sekali, akan tetapi agaknya akan lebih mudah dibujuk untuk bekerja sama. Dia tidak sesukar dan sekokoh Ma-bin Lo-mo pendiriannya. Biarlah persoalan mereka itu serahkan saja kepadaku, aku akan berusaha mendekati mereka.”

Puteri Nirahai berseri wajahnya dan ia menjura ke arah Gak Liat. “Terima kasih banyak. Bantuan Gak-locianpwe dalam hal ini benar-benar amat kami harapkan.”

Gadis itu lalu mengerutkan keningnya dan berkata, “Ada sebuah hal lagi yang amat memusingkan dan membutuhkan perhatian. Menurut hasil penyelidikan para mata-mataku yang kusebar di mana-mana, sekarang aku telah mendapatkan keterangan jelas tentang sebab-sebab kegagalan siasatku mengadu domba antara Siauw-lim-pai dan keterangan itu amat mengejutkan dengan munculnya seorang tokoh muda yang luar biasa sekali.”

“Hemmm, siapakah dia dan apa yang telah dia lakukan?” Ouwyang Seng bertanya dengan hati tak senang mendengar betapa gadis yang dicinta dan dipujanya ini agaknya merasa kagum terhadap seorang ‘tokoh muda’.

“Siasatku gagal karena pemuda aneh itu,” kata Nirahai. “Ketika dua peti berisi jenazah dua orang tokoh Siauw-lim-pai yang dikawal Pek-eng-piauwkiok itu dihadang oleh murid-murid Siauw-lim-pai yang sudah kuberi kabar secara diam-diam dan bentrokan hebat antara murid-murid kedua partai sudah hampir terjadi, tiba-tiba muncul orang muda itu bersama adik perempuannya, kemudian menggagalkan bentrokan itu dengan mengalihkan permusuhan kepada dirinya sendiri!”

“Eh, apakah maksudmu, Adik Nirahai?” Ouwyang-kongcu bertanya heran.

“Pemuda itu yang mengira bahwa murid Siauw-lim-pai hendak merampok, sekali turun tangan membunuh tujuh murid Siauw-lim-pai. Kemudian, ketika mengetahui kekeliruannya, ia turun tangan pula membunuh murid-murid Hoa-san-pai!”

“Ihhh, hebat sekali!” Gak Liat berseru. Bagi datuk hitam ini, setiap perbuatan kejam amat mengagumkan hatinya, makin kejam makin tinggi dalam penilaiannya.

“Kemudian pemuda itu bahkan mendatangi Pek-eng-piauwkiok, dan di sana dia mengamuk, mengalahkan tokoh-tokoh Hoa-san-pai.”

“Luar biasa...!” Bhong Poa Sik, si Tikus Kuburan Kecil berseru kaget.

“Kemudian, tahukah cu-wi apa yang ia lakukan? Ia pun mendatangi Siauw-lim-si dan di sana mengamuk, membunuh dua orang tokoh Siauw-lim-pai pula, merobohkan banyak yang lain dan dapat keluar lagi dari Siauw-lim-si dengan selamat.”

“Sukar dipercaya!” kini Gak Liat berseru. Kakek ini maklum akan keadaan kuil Siauw-lim-si, maklum pula akan lihainya tokoh-tokoh di situ. Sedangkan dia sendiri tentu akan berpikir sepuluh kali sebelum berani menyerbu seorang diri ke Siauw-lim-si!

“Memang sukar dipercaya, akan tetapi para penyelidikku adalah orang-orang yang berpengalaman puluhan tahun dan keterangan mereka selalu boleh dipercaya. Keadaan pemuda itu amat mengherankan. Selain ilmunya yang tinggi luar biasa dan keadaannya yang seperti tidak normal, juga dia mempunyai adik seorang gadis Mancu.”

“Ah, kalau begitu dia Sie Han...!” Gak Liat berseru. “Kalau dia sudah berkepandaian begitu aneh dan tinggi sehingga berani mengacau Hoa-san-pai dan Siauw-lim-pai, tentu dia telah berhasil menemukan Pulau Es!”

Mendengar ucapan ini, semua tokoh yang berada di situ menjadi terkejut dan tertarik sekali. Disebutnya Pulau Es tentu saja menarik perhatian semua orang karena semenjak bala tentara Mancu menguasai daratan Tiongkok, pemerintah baru ini pun selalu berusaha untuk menemukan pulau itu dan mendapatkan pusaka yang berada di sana. Bahkan usaha pencarian ini dipimpin Gak Liat sendiri.

“Aiiih, kalau benar-benar dia menjadi pewaris pusaka di Pulau Es, tentu dia memiliki ilmu yang hebat dan orang seperti itu patut kita tarik untuk membantu kita,” kata Puteri Nirahai. “Atau kalau tidak mungkin dia membantu kita, dia akan merupakan lawan yang berbahaya dan perlu dibinasakan. Terutama sekali gadis Mancu itu harus diselamatkan dan diselidiki, puteri siapakah dia dan mengapa sampai bisa menjadi adik pemuda yang bernama Sie Han itu.”

“Jangan khawatir, hamba akan dapat membujuknya. Setidaknya dia pernah ikut dengan hamba dan dengan bantuan Ouwyang-kongcu, hamba tentu akan dapat menyelamatkan pula puteri Mancu itu,” kata Gak Liat.

Dia menawarkan diri ini sebetulnya adalah dengan mengandung niat yang lain. Begitu mendengar bahwa Han Han telah muncul, ia ingin sekali menemui pemuda itu dan kalau perlu hendak memaksa pemuda itu menyerahkan pusaka-pusaka Pulau Es, atau kalau mungkin mengantarkannya ke Pulau Es!

Puteri Nirahai mengangguk-angguk. “Mendengar pelaporan yang kuterima, memang pemuda itu mencurigakan dan lihai sekali, kiranya hanya Gak-locianpwe saja yang cukup kuat untuk menghadapinya. Baiklah, urusan membujuk tokoh-tokoh di In-kok-san dan mencari pemuda itu kuserahkan kepada Gak-locianpwe dan Ouwyang-twako. Aku sendiri mempunyai rencana lain yang boleh cu-wi ketahui. Aku akan pergi ke utara, mendatangi tanah kuburan Keluarga Suling Emas...”

“Eh, Nirahai, bukankah itu berbahaya sekali?” Pangeran Ouwyang Cin Kok berseru kaget.

Tanah kuburan keluarga Suling Emas merupakan tempat keramat dari bangsa Khitan dan kabarnya tak seorang asing pun boleh memasukinya. Biar pun Puteri Nirahai termasuk keturunan Khitan, namun belum tentu dia diperbolehkan masuk oleh penjaganya yang kabarnya amat galak dan memiliki ilmu kepandaian yang luar biasa.

“Memang berbahaya, akan tetapi kalau tidak saya sendiri yang mendatangi, siapakah orang lain akan mampu melakukannya? Saya ingin membujuk penjaga kuburan untuk meminjam suling emas yang disimpan di situ sebagai pusaka. Dengan suling emas peninggalan pendekar sakti Suling Emas, kiranya akan lebih mudah mempengaruhi para tokoh-tokoh kang-ouw untuk membantu Kerajaan Mancu. Senjata suling emas itu amat dihormati di seluruh dunia kang-ouw, dan dengan senjata itu tentu akan dapat dicapai hasil yang lebih besar dalam membujuk tokoh-tokoh kang-ouw.”

Pangeran Ouwyang Cin Kok dan yang lain-lain mengangguk-angguk menyatakan setuju sungguh pun hati mereka merasa ngeri mendengar bahwa puteri jelita itu hendak mengunjungi tempat keramat yang sukar dikunjungi sembarangan orang itu. Setelah membagi-bagi tugas, pertemuan itu dibubarkan. Ouwyang Seng lalu pergi bersama gurunya untuk melakukan tugas mereka yang tidak ringan. Demikian pun yang lain-lain bubaran dan melakukan tugas masing-masing. Pangeran Ouwyang Cin Kok sendiri lalu bersiap untuk pergi menghadap kaisar menyampaikan laporan mengenai pelaksanaan tugas-tugasnya.....

********************

Han Han dan Lulu duduk mengaso di dalam hutan. Melihat kakaknya duduk bersemedhi, Lulu juga tidak berani mengganggu, bahkan ia pun lalu duduk bersila dan siulian untuk memulihkan tenaga dan menekan kekecewaan hatinya karena kehilangan pedang yang terampas di Siauw-lim-pai.

Han Han tidak dapat menyatukan panca inderanya. Dia sudah dapat menyalurkan hawa sakti di tubuhnya dan mengobati akibat-akibat dari guncangan pukulan-pukulan yang ia terima di Siauw-lim-pai, akan tetapi pikirannya bekerja keras. Hatinya terkesan oleh wejangan-wejangan yang didengarnya dari mulut Kian Ti Hosiang, supek dari ketua Siauw-lim-pai tadi. Mengenangkan semua wejangan itu, terjadi perang tanding yang hebat dalam pikirannya sendiri.

Perasaan menyesal menggumuli perasaannya, menyesal kalau ia kenangkan betapa sepak terjangnya selama ini hanya mendatangkan mala petaka dan keributan belaka. Ia sendiri tidak mengerti mengapa kalau datang perasaan marah akan sesuatu yang dianggapnya jahat dan tidak adil, lalu timbul kemarahan yang tak tertahankan dan seolah-olah ia baru akan merasa puas, terhindar dari himpitan nafsu amarah kalau sudah ia lampiaskan dengan pukulan-pukulan sakti dari kedua tangannya, kalau ia sudah ia menghajar banyak orang dan membunuhi lawannya! Pemuda ini tidak tahu bahwa sesungguhnya terjadi konflik atau pertentangan hebat dalam dirinya.

Mula-mula pertentangan ini terjadi karena ia mempelajari dua macam sinkang yang berlawanan yaitu inti sari Hwi-yang Sin-ciang dan Swat-im Sin-ciang. Pertentangan ini mempengaruhi jiwanya, ditambah lagi ketika ia membaca kitab-kitab peninggalan penghuni Pulau Es yang sifatnya bersih dan berbareng ia mempelajari kitab-kitab Ma-bin Lo-mo dan Siang-mo-kiam (Sepasang Pedang Iblis) yang bersifat kotor.

Terjadilah pertentangan hebat sekali dari aliran bersih ditambah kesadaran watak aslinya yang baik, berlawanan dengan pelajaran aliran kotor yang ditambah oleh nafsunya, membuat ia kadang-kabang merasa tersiksa sekali. Kini ia mendapat nasihat yang amat aneh dari kakek sakti di Siauw-lim-pai itu. Dia disuruh membuntungi kaki kirinya! Nasihat apakah ini? Betul-betulkah kaki kirinya yang mendatangkan perasaan tersiksa seperti itu?

Makin dipikirkan makin bingunglah hatinya. Kebingungan ini makin memuncak kalau ia pikirkan bahwa semua mala petaka yang timbul akibat sepak terjangnya itu sama sekali terjadi bukan karena kesalahannya! Dia memang telah membunuh murid-murid Siauw-lim-pai dan murid-murid Hoa-san-pai di hutan dahulu itu, akan tetapi bukankah hal itu terjadi karena salah paham? Bukankah hal itu terjadi bukan karena memang dia bermaksud jahat dan membunuhi mereka?

Kemudian kekacauan yang timbul karena perlawanannya menghadapi tokoh-tokoh Hoa-san-pai di gedung Pek-eng-piauwkiok. Dia telah diserang, dituduh yang bukan-bukan, dituduh mata-mata Mancu! Terjadi pertempuran, akan tetapi salahkah dia dalam hal itu?

Dan akhirnya peristiwa keributan di Siauw-lim-si. Dia datang dengan iktikad baik, dengan maksud memberi penjelasan kepada para pimpinan Siauw-lim-pai untuk melenyapkan kesalah-pahaman. Akan tetapi dia disambut dengan kekerasan, bahkan seolah-olah dipaksa untuk bertanding. Dia hanya membela diri, karena bukankah itu haknya? Ataukah dia harus membiarkan saja dia ditawan, dipukul, atau dibunuh, juga Lulu ditangkap? Karena membela diri, kembali dia melakukan pukulan-pukulan dan pembunuhan-pembunuhan.

Teringat akan ini semua, timbul kemarahannya. Tidak! Dia tidak bersalah! Akan tetapi kalau ia ingat akan nasihat kakek di Siauw-lim-pai itu dia menyesal karena kenyataannya, apa pun alasannya, sepak terjangnya menimbulkan keributan dan mala petaka, bahkan pembunuhan. Salah kaki kirinyakah?

Tiba-tiba Han Han meloncat bangun, tidak kuasa lagi menahan tubuhnya yang digetarkan dua hawa yang bertentangan sebagai akibat perang dalam hatinya. Ia mengeluarkan suara ah-ah-uh-uh seperti orang gagu, tubuhnya bergoyang-goyang, kaki tangannya bergerak-gerak seolah-olah ia bertanding melawan dirinya sendiri! Kedua tangannya seperti hendak saling pukul, atau lebih tepat, kalau tangan kiri hendak memukul tubuhnya sendiri penuh penyesalan dan hendak menghukum, tangan kanannya bergerak menangkis dengan keyakinan membela karena dia tidak bersalah. Demikian pula kedua kakinya bergerak menurutkan suara hati yang berlawanan!

Entah berapa lamanya Han Han berkhayal seperti itu. Tubuhnya bergerak-gerak aneh dan kelihatan lucu sekali, padahal ia merasa amat tersiksa baik tubuh mau pun batinnya. Tiba-tiba Lulu datang mendekatinya, dan melihat keadaan kakaknya ini Lulu segera menyentuh lengan Han Han. Akan tetapi gadis ini menjerit karena lengan yang disentuhnya itu mengeluarkan getaran yang membuat tangan yang menyentuhnya seperti lumpuh. Ia meloncat ke belakang dan menjerit.

“Han-koko... sadarlah...! Celaka, ada orang merampas kantung surat-surat itu...!”

Sebelum gadis itu menjerit, Han Han sudah sadar. Sentuhan tangan yang halus dari adiknya itu sudah menyadarkannya dan seolah-olah menariknya kembali ke dunia dari alam khayal yang menakutkan. Ada sesuatu dalam sentuhan dan dalam suara Lulu yang amat mempengaruhi jiwa Han Han sehingga kini dia sadar, menghentikan gerakan-gerakan tubuhnya dan memandang adiknya itu.

“Apa? Apa yang dirampas orang?”

“Karena kau bersemedhi tidak sadar-sadar, aku lalu pergi mencari air untuk mandi. Kemudian aku pergi ke sebuah kuil tua tak jauh dari sini, duduk di depan kuil dan mengeluarkan kantung surat-surat dari Pulau Es untuk kubersihkan. Akan tetapi tiba-tiba kantung itu terbang dari tanganku dan ketika aku meloncat dan membalik, ternyata kantung itu telah dipegang oleh seorang kakek yang menyeramkan. Aku minta kembali, bahkan memukulnya, akan tetapi ia tidak menjawab, dan ketika kupukul, ia tidak mengelak atau menangkis, bahkan bergoyang pun tidak ketika menerima pukulanku. Aku takut...!”

Merah wajah Han Han mendengar bahwa kantung surat-surat itu dirampas orang. Kantung itu ia anggap sebagai barang yang amat berharga berisi surat-surat penghuni Pulau Es yang ia bawa dan akan ia sampaikan kepada siapa yang berhak menerimanya. Dan kini dirampas orang!

“Hemmm, kenapa aku selalu diganggu orang? Siapakah dia yang merampas kantung kita itu? Mari kita temui dia.”

Lulu memegang tangan kakaknya dan menarik kakaknya itu, diajak lari menuju ke kuil tua yang hanya setengah li jauhnya dari situ, di pinggir sebuah sungai kecil.

“Tuh dia masih berdiri depan kuil, Koko. Untung dia belum lari!” kata Lulu menuding ke arah tubuh seorang laki-laki tinggi kurus berambut panjang yang berdiri membelakangi mereka.

“Hemmm, kurang ajar, biar kuminta kembali kantung itu!” Han Han meloncat ke depan kakek itu, memandang dan alis matanya bergerak karena kaget.

“Ma-bin Lo-mo...!” teriaknya ketika mengenal kakek penghuni In-kok-san itu.

Kakek itu memang Ma-bin Lo-mo si Iblis Muka Kuda! Dengan wajah bengis ia memandang Han Han dan tidak mengucapkan sepatah pun kata, hanya memandang dengan penuh perhatian, manik matanya bergerak-gerak meneliti Han Han dari kepala sampai ke kaki.

“Siangkoan-locianpwe, harap suka mengembalikan kantung itu kepadaku. Kantung itu hanya berisi surat-surat pribadi yang tidak ada gunanya bagi orang lain,” kata Han Han penuh ketenangan setelah ia berhasil menekan hatinya yang kaget.

“Hemmm, murid apakah engkau ini? Tidak menyebut Suhu lagi kepadaku?”

Han Han tersenyum pahit. “Lupakah Locianpwe bahwa Locianpwe hendak membunuh saya di perahu itu dahulu? Sikap Locianpwe bukan seperti guru yang menyayang murid, bagaimana saya bisa menjadi murid yang menghormat guru?”

Bekas guru dan murid ini saling memandang dan dalam pertemuan sinar mata itu diam-diam Ma-bin Lo-mo menjadi kecut hatinya dan cepat ia mengalihkan pandang matanya. Ia menghendaki sesuatu dari pemuda itu, maka ia lalu berganti siasat, bersikap lunak dan manis.

“Han Han, kau kembalikan dulu kitab-kitabku.”

Han Han teringat akan kitab-kitab Ma-bin Lo-mo yang ia bawa ke Pulau Es. Tanpa ia sengaja, bahkan ia telah mempelajari ilmu dari kitab-kitab itu yang ia gabung dengan ilmu dari kitab-kitab peninggalkan Siang-mo-kiam. Ia tidak merasa mencuri kitab-kitab itu, maka ia memperingatkan.

“Saya tidak mencuri kitab-kitab Locianpwe.”

Kini Lulu teringat akan Ma-bin Lo-mo, maka ia berkata, “Koko, bukankah dia ini orang jahat yang menangkap kita di perahu dan meninggalkan kita dalam keadaan terikat? Koko, dia jahat, jangan percaya dia!”

Ma-bin Lo-mo tidak memperhatikan gadis Mancu yang dibencinya itu, dan berkata lagi kepada Han Han, “Han Han, kitab-kitabku itu tertinggal di perahu, dan melihat betapa engkau berhasil menyelamatkan diri, tentu kitab-kitab itu berada padamu. Akan tetapi tidak apalah, bukankah engkau juga muridku yang berhak mempelajari ilmu dari kitab-kitabku? Sesungguhnya sudah terlalu banyak kesalahan yang kau lakukan terhadapku, Han Han. Pertama, engkau bersaudara dengan seorang gadis Mancu. Kedua, engkau mengambil kitab-kitabku. Akan tetapi aku mengampunimu semua kesalahan itu, bahkan kantung ini yang hanya berisi surat-surat cinta, kukembalikan kepadamu.” Sambil berkata demikian Ma-bin Lo-mo melemparkan kantung ke arah Han Han.

Pemuda itu menggerakkan tangan menyambut kantung itu dan menyimpannya dalam baju setelah melihat bahwa isinya tidak lenyap. Ia melakukan hal ini seenaknya dan sewajarnya saja, dan Ma-bin Lo-mo terkejut. Ketika melemparkan kantung tadi, ia sengaja mengerahkan tenaga untuk menguji. Kalau hanya memiliki ilmu kepandaian tinggi biasa saja, tentu pemuda itu akan roboh menerima lontaran kantung itu, atau setidaknya terhuyung.

Akan tetapi pemuda itu menerima seenaknya seolah-olah pelemparan kantung itu tidak disertai pengerahan sinkang yang amat kuat. Tadinya, kalau melihat pemuda itu roboh atau terhuyung saja tentu Ma-bin Lo-mo sudah menerjang maju untuk menangkapnya, akan tetapi melihat sikap Han Han menerima kantung seenaknya itu amat mengejutkan hatinya, maka kakek ini berlaku cerdik sekali dan tidak menyerang.

“Han Han, mengingat akan hubungan lama antara kita, aku tidak akan mengganggumu, hanya akan bertanya kepadamu tentang Pulau Es. Engkau tentu telah mendarat di Pulau Es, bukan?”

“Jangan katakan sesuatu kepadanya, Koko!” Lulu yang di dalam hatinya masih menaruh dendam kepada kakek yang pernah hendak membunuh mereka itu, cepat berkata mencegah. Akan tetapi tanpa dicegah pun Han Han tidak akan bercerita kepada siapa juga tentang pulau rahasia itu.

“Saya tidak dapat bicara apa-apa tentang pulau itu, Locianpwe.”

“Jadi engkau telah menemukan pulau itu?”

Han Han tidak menjawab, hanya menggeleng kepala tanda bahwa ia tidak mau bicara tentang itu.

“Han Han, ingatlah. Aku hanya ingin engkau menceritakan tentang Pulau Es. Kalau aku menggunakan kekerasan, engkau tentu takkan kuat melawanku. Ingat, dosamu sudah terlalu besar terhadap perguruan kami dan kalau aku menyerahkan ergkau kepada Toat-beng Ciu-sian-li, nyawamu tentu tidak akan diampuni lagi. Akan tetapi kalau kau suka bicara denganku tentang Pulau Es, aku yang menanggung agar engkau diampuni.”

“Maaf, sia-sia saja engkau membujuk atau mengancam, Locianpwe. Saya tidak bisa bicara tentang pulau itu. Hendaknya Locianpwe membiarkan saya dan Adik saya pergi. Saya tidak hendak memusuhi Locianpwe sungguh pun Locianpwe pernah menyiksa dan hendak membunuh kami berdua. Marilah kita mengambil jalan kita masing-masing dan tidak saling mengganggu, Locianpwe.”

Muka Ma-bin Lo-mo menjadi merah saking marahnya. Ucapan Han Han itu cukup sopan, akan tetapi nadanya seperti ucapan seorang yang setingkat saja! Padahal dia adalah seorang di antara datuk-datuk yang ditakuti orang, sedangkan Han Han adalah seorang muda yang malah menjadi bekas muridnya!

“Han Han, sungguh engkau keras kepala! Akan tetapi betapa pun kerasnya kepalamu, apakah cukup keras untuk menerima pukulanku?” Ia membentak dan melangkah maju dengan sikap mengancam sekali.

Tetapi Han Han tetap bersikap tenang. “Terserah kepada Locianpwe, tapi... tapi... harap Locianpwe ingat bahwa kalau sampai terjadi bentrokan, hal itu bukanlah kehendak saya, melainkan Locianpwe yang memaksaku.”

“Uwaaahhhhh, sombongnya bocah ini. Tidak bisa dibujuk dengan omongan halus, agaknya perlu dihajar dulu!”

Setelah berkata demikian, Ma-bin Lo-mo menerjang maju mengirim pukulan. Karena dia tidak ingin membunuh mati anak itu yang dia butuhkan untuk memberi petunjuk tentang Pulau Es, maka ia tidak mengirim pukulan Swat-im Sin-jiu, melainkan menampar dengan tangan kanan ke arah pundak disusul cengkeraman tangan kiri ke arah dada. Biar pun tidak menggunakan tenaga Swat-im Sin-ciang, namun daya pukulan kakek ini bukan main.

Han Han mengelak ke kiri dan biar pun angin pukulan kakek itu mengenai pundaknya, sedikit pun ia tidak merasakannya. Ia berkata penuh rasa menyesal, “Engkau sungguh jahat, Ma-bin Lo-mo, tidak patut menerima penghormatan orang muda.”

“Hei, Han Han. Apakah betul kau tidak mau bicara tentang Pulau Es? Ingat, tebusannya adalah nyawamu dan nyawa bocah Mancu ini. Aku bahkan mau mengampuni bocah ini asal engkau suka memberi penjelasan tentang Pulau Es.”

“Tidak! Dan kalau engkau memaksa, terpaksa aku melawanmu, Ma-bin Lo-mo!”

“Bedebah! Baru memiliki sedikit kepandaian saja engkau sudah berani melawan aku?”

Ma-bin Lo-mo mencelat maju dengan gerakan cepat sekali sambil mencengkeram pundak Han Han. Namun gerakan Han Han tidak kalah cepatnya, tahu-tahu ia sudah mengelak ke kanan dan cengkeraman itu kembali luput. Ma-bin Lo-mo menjadi penasaran sekali. Begitu tubrukannya luput dan kakinya menginjak tanah, tubuhnya sudah melesat lagi ke kanan dan kedua lengannya menyambar dari kanan kiri, membuat gerakan menyilang mengarah kepala Han Han. Bukan main cepat dan lihainya serangan ini sehingga Han Han terkejut dan cepat merendahkan diri untuk menghindarkan kedua tangan yang menghimpit kepalanya dari kanan kiri itu. Akan tetapi dengan gerakan susulan, tahu-tahu kaki Ma-bin Lo-mo menendang ke perut pemuda itu.

Selama melatih diri di Pulau Es, sesungguhnya Han Han hanya memperoleh inti sari tenaga sinkang yang amat hebat saja, yang tidak diperoleh ahli lain dalam latihan biasa selama puluhan tahun. Akan tetapi dalam hal ilmu silat, tentu saja ia masih kalah jauh dibandingkan dengan Ma-bin Lo-mo Siangkoan Lee. Kini menghadapi gerakan serangan tokoh hitam yang hebat ini, tentu saja ia tidak menyangka sama sekali dan tendangan itu tahu-tahu telah mengenai perutnya! Akan tetapi gerakan hawa sinkang secara otomatis telah melindungi perutnya, dan ia menangkap kaki itu sambil mendorong ke depan seperti membuang sesuatu yang menjijikkan.

“Dukkk! Aihhhhh...!”

Tendangan Ma-bin Lo-mo mengenai perut, akan tetapi tubuh Ma-bin Lo-mo terlempar sampai jauh sekali. Kalau bukan kakek sakti ini tentu tubuhnya akan terbanting ke bawah. Akan tetapi kakek ini malah melompat ke atas sehingga tenaga dorongan itu terpatahkan dan ia turun lagi ke atas tanah dengan mata terbelalak merah karena heran, kagum dan penasaran.

“Huh, kiranya engkau sudah mempelajari sedikit ilmu, ya?”

Hati Ma-bin Lo-mo makin tertarik untuk memaksa Han Han bicara tentang Pulau Es, karena tentu saja ia ingin sekali mengetahui rahasia itu dan memiliki pusaka dari Pulau Es. Melihat betapa Han Han sanggup menerima tendangannya, dan melihat tenaga hebat ketika pemuda itu mendorong kakinya, hatinya makin yakin bahwa pemuda ini tentu telah mewarisi kepandaian dari tempat rahasia itu, maka ia makin tidak ingin membunuhnya dan hanya ingin menangkap dan memaksanya.

Kepalanya yang penuh dengan akal dan muslihat itu bekerja dan tiba-tiba sambil tertawa tubuhnya melesat, bukan menyerang Han Han, melainkan meloncat ke arah Lulu yang berdiri menonton. Dia mendapat akal untuk menangkap Lulu dan menggunakan gadis itu untuk memaksa Han Han!

“Ihhh, mau apa engkau?”

Kembali Ma-bin Lo-mo kecelik karena gadis yang ditubruk dan hendak ditangkapnya itu, biar pun tergesa-gesa, tapi masih sempat melesat pergi dengan gerakan yang amat ringan dan tak tersangka-sangka sehingga ia menubruk angin! Ketika ia membalik dan hendak mengejar sambil mengirim pukulan jarak jauh untuk merobohkan gadis itu, tiba-tiba dari samping terdengar bentakan Han Han.

“Jangan ganggu Adikku!” Bentakan ini disusul dengan bertiupnya angin yang hawanya dingin memukul ke arah lambungnya!

Ma-bin Lo-mo cepat menggerakkan tangan menangkis, sekali ini karena penasaran ia menggunakan tenaga Im-kang untuk membuat pemuda itu roboh.

“Desss!” Dua tenaga raksasa bertemu dan akibatnya kedua orang itu terjengkang ke belakang!

“Eh, ehh... tenaga Im-kang...?” Ma-bin Lo-mo yang sudah meloncat bangun lagi berkata penuh keheranan.

“Ma-bin Lo-mo, perlukah pertempuran ini dilanjutkan? Aku tidak ingin bermusuhan denganmu!” Han Han berkata lagi.

“Sambutlah ini...!” Ma-bin Lo-mo membentak dan sekali ini ia tidak ragu-ragu lagi untuk menggunakan Swat-im Sin-ciang, menyerang lagi dengan gerakan lambat namun malah amat berbahaya karena setiap gerakannya mengandung hawa dingin yang dahsyat.

Han Han mengenal gerakan itu. Dia telah mempelajari kitab-kitab yang ditinggalkan di dalam perahu oleh Iblis Muka Kuda ini, maklum bahwa lawannya telah menggunakan Swat-im Sin-ciang. Ia mulai menjadi marah, bukan saja karena kakek itu mendesaknya terus, terutama sekali karena ia melihat kelicikan kakek ini yang hendak memaksanya dengan berusaha menawan Lulu. Maka ia pun lalu menggerakkan kedua tangannya dengan gerakan yang sama. Ketika Ma-bin Lo-mo mendorong, ia pun mendorong dengan pengerahan tenaga Swat-im Sin-ciang pula!

“Wuuutttt... desssss!”

Tubuh kedua orang itu bergoyang-goyang, kemudian keduanya mundur terhuyung. Han Han dapat mengerahkan tenaga Yang-kang sehingga seketika hawa dingin yang luar biasa itu lenyap, akan tetapi Ma-bin Lo-mo membutuhkan loncatan ke atas dan menggoyang-goyang tubuhnya baru ia pulih kembali. Ia memandang dengan mata terbelalak kemudian ia berseru marah.

“Bocah celaka! Engkau telah mencuri Swat-im Sin-ciang!” Akan tetapi sesungguhnya ia merasa heran dan kaget setengah mati mendapat kenyataan bahwa tenaga Swat-im Sin-ciang dari pemuda itu tidak berselisih jauh dengan tenaganya sendiri! Ia sama sekali tidak mimpi bahwa sesungguhnya tenaga Han Han jauh lebih kuat dan hebat dari pada tenaga sendiri.

Sebaliknya, Han Han maklum betapa lihai dan kejamnya kakek ini dan bahwa sekali lagi, setelah terlepas dari pada ancaman maut di Siauw-lim-si, kini ia terancam oleh kakek yang amat sakti ini. Maka timbullah kemarahannya lagi dan ia mengambil keputusan untuk melindungi Lulu dan dirinya sendiri, kalau perlu dengan taruhan nyawa.

Kembali Ma-bin Lo-mo sudah menyerang, kini serangannya hebat sekali karena kakek ini tidak lagi menganggap Han Han seorang lawan ringan. Tubuhnya seperti berpusing dan kedua tangannya seperti berubah banyak ketika ia melancarkan serangan ke arah dada dan pusar pemuda itu. Han Han tetap tenang, namun juga bergerak cepat. Ia memutar kedua lengannya dari kanan kiri menjaga tubuh depan dan kembali ia berhasil menangkis pukulan-pukulan maut Ma-bin Lo-mo.

Akan tetapi kakek itu menerjang terus dengan gerakan-gerakan aneh dan cepat dengan perubahan yang tak tersangka-sangka sehingga dalam gebrakan-gebrakan selanjutnya tanpa dapat dielakkannya lagi terpaksa Han Han menerima hantaman-hantaman yang mengenai pundak dan lambungnya. Akan tetapi tubuhnya hanya terpental saja dan sama sekali tidak terluka sehingga diam-diam Ma-bin Lo-mo makin penasaran dan terkejut.

Ketika melihat kakek itu mengejarnya, Han Han yang sudah bangkit kembali sehabis terbanting, cepat mengerahkan tenaganya dan menyambut kedatangan lawan dengan pukulan dengan pengerahan tenaga Swat-im Sin-ciang. Ia sudah marah sekali, maka kekuatan sinkang-nya dapat dibayangkan hebatnya. Angin menderu keras dan hawa dingin melebihi saiju menyambar ke depan. Ma-bin Lo-mo tentu saja tidak takut menghadapi pukulan yang menjadi keahliannya sendiri itu. Ia menangkis dengan tenaga Swat-im Sin-ciang juga dan sekali ini dua tenaga sakti bertemu. Hanya bedanya dengan tadi, kini Han Han yang menyerang dan Ma-bin Lo-mo yang menangkis.

“Wesssss...!”

Tubuh Ma-bin Lo-mo tergetar hebat, seolah-olah tubuhnya kemasukan aliran kilat dan sejenak tubuhnya kaku membeku! Kakek ini mengeluarkan seruan aneh, kemudian melempar tubuh ke belakang dan bergulingan sampai lama baru dapat melompat bangun kembali, wajahnya pucat dan matanya terbelalak merah.

“Luar biasa...!” Ia menggumam karena kini ia mendapatkan kenyataan pahit yang amat hebat, yaitu bahwa tenaga Swat-im Sin-ciang pemuda itu jauh lebih kuat dari pada tenaganya sendiri!

Didorong oleh kemarahannya yang timbul dari rasa penasaran, kini tubuh Ma-bin Lo-mo menerjang maju seperti badai mengamuk saking hebatnya. Tentu saja Han Han menjadi sibuk sekali dan sama sekali tidak mempunyai kesempatan untuk balas menyerang. Bahkan dia yang kalah jauh ilmu silatnya tak mungkin dapat menghindarkan diri dari serangan yang bertubi-tubi itu dan hanya dapat mengelak dan menangkis, melindungi dirinya di bagian-bagian yang berbahaya dan membiarkan bagian-bagian yang dapat menahan pukulan untuk menerima hantaman-hantaman dahsyat dari lawannya!

Ia menjadi bulan-bulanan dan biar pun tubuh yang tidak berbabaya itu mengandung sinkang kuat sehingga tidak terluka, namun kerasnya pukulan-pukulan itu membuat tubuhnya berkali-kali terlempar dan bergulingan. Melihat betapa pemuda itu dapat menahan pukulan-pukulannya yang cukup kuat untuk merobohkan lawan tangguh, Ma-bin Lo-mo menjadi makin marah dan penasaran, serangannya makin diperhebat.

Lulu berdiri dengan wajah tegang dan penuh kegelisahan. Seperti ketika ia me-nyaksikan kakaknya menghadapi tokoh-tokoh Hoa-san-pai di gedung Pek-eng-piauwkiok, dan kemudian menyaksikan kakaknya menghadapi tokoh-tokoh Siauw-lim-pai yang lihai, kini pun ia hanya dapat menonton saja karena ia maklum bahwa untuk membantu kakaknya tingkat kepandaiannya masih jauh dari pada cukup sehingga ia bukan membantu malah membahayakan diri sendiri dan mengacaukan pertahanan kakaknya.

Kedua orang itu memang bertanding dengan amat seru dan hebat. Keduanya mempergunakan hawa sakti Im-kang sehingga dari tubuh mereka keluar hawa yang amat dingin yang seolah-olah membikin beku keadaan sekeliling mereka, bahkan Lulu yang sudah biasa tinggal di tempat dingin seperti Pulau Es sekali pun kini merasa betapa hawa dingin menyerangnya dan otomatis sinkang di tubuhnya bekerja sehingga hawa yang hangat timbul melenyapkan rasa dingin.

Han Han tidak berani mencoba untuk menggunakan Yang-kang atau hawa sakti panas. Ia maklum bahwa tingkat kakek ini sudah tinggi sekali, sehingga kalau ia mengeluarkan Yang-kang, berarti ia menghadapi lawan dengan keras lawan keras yang tentu saja resikonya amat besar. Sedikit saja kekuatannya kalah, akibatnya dapat merenggut nyawa. Ia pun maklum bahwa biar pun dalam ilmu silat ia kalah jauh, namun dengan pengerahan inti sari dari Im-kang ia masih dapat bertahan karena kekuatan sinkang-nya tidak kalah oleh lawan.

Selagi Han Han terdesak hebat, tiba-tiba terdengar suara ketawa bergelak disambung kata-kata nyaring penuh ejekan, “Ma-bin Lo-mo si Setan Kuda benar-benar sekarang tak tahu malu, mendesak orang muda dan tidak malu-malu mengeluarkan Swat-im Sin-ciang!”

Han Han melirik sebentar dan hatinya kecut ketika mengenal orang yang muncul dan mengeluarkan kata-kata itu karena orang itu bukan lain adalah Kang-thouw-kwi Gak Liat si Setan Botak bersama seorang pemuda tampan pesolek yang ia kenal sebagai Ouwyang Seng! Celaka, pikirnya. Ma-bin Lo-mo jahat, akan tetapi dua orang yang muncul ini tidak kalah jahat dan sama sekali tidak boleh diharapkan bantuannya!

Akan tetapi, selagi ia menangkis pukulan Ma-bin Lo-mo yang masih mendesaknya tiba-tiba Gak Liat meloncat maju dan memukul Iblis Muka Kuda dengan dorongan kedua lengan yang menimbulkan hawa panas. Itulah Hwi-yang Sin-ciang!

“Eh, Setan Botak, mau apa engkau?” Ma-bin Lo-mo membentak dan cepat ia meloncat jauh ke belakang untuk menghindarkan pukulan itu.

Karena loncatannya yang jauh itu kini Han Han berada di tengah, di antara dua orang tokoh hitam itu. Pemuda itu menghadapi Gak Liat dan memandang dengan mata berapi. Kemarahannya sudah membakar hatinya dan kini melihat kakek yang juga amat jahat ini, ia memandang penuh kecurigaan.....



Pilih JilidHomeJilid Berikut


DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner