PENDEKAR SUPER SAKTI :JILID-23


“Siapa berani menasehatinya setelah apa yang ia lakukan terhadap Kian Ti Hosiang yang di waktu itu menjadi tokoh Siauw-lim-pai?”

Han Han teringat akan hwesio tua di Siauw-lim-pai yang amat mengesankan hatinya itu dan segera bertanya, “Apakah yang telah dilakukannya terhadap hwesio Siauw-lim-pai itu?”

Im-yang Seng-cu menghela napas. “Waktu itu sungguh ia sedang gelap mata. Kian Ti Hosiang adalah seorang berilmu tinggi, tidak hanya memiliki ilmu silat yang sukar dicari bandingnya, juga memiliki ilmu batin yang amat tinggi. Hwesio itu menemui Jai-hwa-sian yang hendak mengganggu puteri seorang pembesar yang terkenal bijaksana, memberinya wejangan-wejangan. Jai-hwa-sian marah dan menantang hwesio itu. Kian Ti Hosiang mempersilakan ia menyerang asal Jai-hwa-sian berjanji untuk menghentikan perbuatannya yang sesat. Dan Jai-hwa-sian menyerangnya, tanpa ada perlawanan sama sekali dari orang berilmu itu! Kian Ti Hosiang mengorbankan dirinya untuk menyadarkan Jai-hwa-sian dan hwesio itu dipukul sampai lumpuh kedua kakinya!”

“Ahhh...! Keparat! Jahat benar dia!” Han Han memaki dan mengepal tinjunya. Kiranya hwesio tua yang mengesankan hatinya itu lumpuh kedua kakinya karena dipukul kakeknya sendiri, sengaja mengorbankan diri untuk menyadarkan kesesatan kakeknya yang jahat!

“Hemmm, dia adalah Kakekmu sendiri!” Im-yang Seng-cu memperingatkan sambil mengerutkan keningnya.

“Dia boleh seribu kali Kakekku, akan tetapi kalau dia melakukan perbuatan-perbuatan sesat seperti itu, aku tetap akan mengutuknya!” kata Han Han yang marah sekali. Kemudian ia menggerakkan tongkat di tangannya, memukul ke arah batu nisan.

“Bresssss...!” batu nisan itu hancur berkeping-keping terkena pukulan tongkat Han Han.

Im-yang Seng-cu terbelalak menyaksikan betapa pemuda itu dengan senjata hanya sebatang ranting dapat menghancurkan batu nisan, padahal ia melihat sendiri bahwa ranting itu hampir tidak menyentuh batu nisan. Jelas bahwa pemuda itu telah menghancurkan batu nisan dengan tenaga sinkang yang amat luar biasa kuatnya.

“Kenapa engkau merusak nisan Kakekmu sendiri yang kubuat dengan sengaja agar namanya tidak lenyap?” Im-yang Seng-cu bertanya dengan suara dingin. Jelas terdengar dari suaranya bahwa ia marah.

Dengan bersandar pada tongkatnya, Han Han menoleh kepadanya.

“Saya menghaturkan banyak terima kasih atas segala kebaikan locianpwe, juga terhadap kuburan Kakek saya. Akan tetapi nama seperti yang dimiliki Kakek saya perlukah dipertahankan? Hanya akan mendatangkan aib dan noda saja pada keturunannya!” Suara Han Han terdengar penuh kepahitan ketika ia mengucapkan kata-kata terakhir ‘keturunannya’ itu, ketika ia teringat betapa sesungguhnya ia adalah keturunan seorang yang begitu bejat akhlaknya!

Im-yang Seng-cu juga kelihatan marah. “Orang muda, engkau sombong! Biar pun Kakekmu tersesat dalam hal kelemahannya terhadap wanita, namun aku sebagai sahabat baiknya maklum betapa dengan susah payah ia melawan pengaruh jahat yang mengalir dalam tubuhnya sebagai darah nenek moyang Suma! Engkau pun hanya seorang manusia yang tentu memiliki kelemahan-kelemahan. Kalau engkau tak dapat memaafkan Kakekmu sendiri, bagaimana engkau akan dapat memaafkan orang lain? Hemmm, hendak kulihat engkau kelak apakah lebih baik dari pada Suma Hoat!” Setelah berkata demikian, Im-yang Seng-cu melesat pergi dan lenyap dari situ.

Han Han menghela napas panjang dan merasa menyesal bahwa guru Sin Kiat itu pun marah kepadanya.

Melihat Han Han termenung dengan wajah keruh, Kim Cu mendekatinya dan menyentuh lengannya. “Han Han, biar semua orang marah dan tidak suka kepadamu, ingatlah bahwa di sini masih ada aku yang selamanya takkan dapat membencimu...”

Hati Han Han seperti dibetot-betot. Ia memeluk gadis itu yang membenamkan mukanya di dadanya yang masih panas karena kemarahannya tadi. Sampai lama mereka berada dalam keadaan seperti itu, kemudian Kim Cu dapat menguasai hatinya, melepaskan pelukan Han Han dan berkata.

“Marilah kita cepat pergi dari tempat ini.” Bisikannya mengandung perasaan takut.

“Jangan takut, Kim Cu. Kalau sampai gurumu muncul dan hendak mengganggu kita, kita lawan mati-matian.”

“Aku tidak takut, Han Han, hanya aku merasa ngeri kalau harus berpisah denganmu. Marilah kita pergi.”

Dua orang muda itu melanjutkan perjalanan. Biar pun keduanya tidak takut lagi menghadapi ancaman Toat-beng Ciu-sian-li, namun mereka juga bukan orang-orang nekat yang ingin mencari mati. Mereka mengambil jalan melalui hutan-hutan dan mendaki lereng yang tersembunyi agar jangan sampai bertemu dengan nenek itu.

“Han Han, kesehatanmu belum pulih kembali. Kalau kita melanjutkan perjalanan terlalu lama, tentu engkau akan jatuh sakit. Maka, kurasa lebih baik kita mencari tempat persembunyian dan tinggal dulu di tempat itu sampai kesehatanmu pulih. Bagaimana?”

Han Han mengangguk. “Terserah kepadamu, Kim Cu. Akan tetapi di mana kita mencari tempat yang baik?”

Kim Cu tersenyum. Manis sekali wajahnya setelah kini mereka terlepas dari bahaya dan ia dapat tersenyum dengan hati lapang. “Kau tahu, dahulu ketika kita mendapat waktu libur dan diperbolehkan pergi untuk beberapa hari, setelah bertemu dengan engkau yang tidak mau kembali, aku lalu pergi mendaki sebuah puncak di antara puncak-puncak pegunungan ini dan bersembunyi di sebuah goa yang amat tersembunyi. Tempat itu indah sekali, goa itu merupakan terowongan yang menjurus ke tepi jurang yang tak berdasar saking tingginya! Tak seorang pun akan datang ke tempat itu.”

“Hemmm, mau apa engkau dahulu bersembunyi di tempat itu?”

Wajah Kim Cu menjadi merah. “Mau... menangis...”

Han Han memandang wajah cantik itu dengan mata terbelalak heran. “Menangis? Menangis saja mengapa mencari tempat yang tersembunyi?”

Kim Cu mengangguk. “Ya, biar tidak ketahuan orang. Aku kecewa sekali melihat engkau pergi tidak mau kembali, dan aku menangis di sana sampai kedua mataku bengkak-bengkak!”

“Ah... Kim Cu... Kim Cu...” Han Han makin terharu menyaksikan betapa gadis ini sejak dahulu telah jatuh cinta kepadanya.

Han Han merasa heran bukan main melihat perubahan dirinya. Mengapa kini ia mudah terharu, mudah berduka? Padahal dahulu ia tidak pernah selemah ini. Dan ketika ia marah-marah tadi, menghancurkan batu nisan kakeknya tidak timbul kebuasan untuk membinasakan orang. Kemarahannya tadi masih terkendali dan ia menghancurkan batu nisan dengan sadar. Ia menunduk, memandang kakinya yang buntung. Karena kebutungan kakinya itulah maka terjadi perubahan pada dirinya? Dia tidak tahu.

Melihat pemuda itu memandang kakinya yang buntung, Kim Cu salah menduga dan berkata, “Jangan khawatir, Han Han. Jalan ke puncak yang kumaksudkan itu memang sukar. Akan tetapi di bagian yang paling sukar, aku bisa menggendongmu!”

Han Han tersenyum. “Apa kau kira aku anak kecil? Betapa pun sukarnya, dengan bantuan tongkatku ini dan dengan bantuanmu, tentu akan dapat kulalui.”

Kim Cu tiba-tiba menari kegirangan mengelilingi Han Han, membuat pemuda itu makin heran. “Eh, eh, apa-apaan engkau ini? Apa kau sudah gila?”

“Hi-hik, memang aku gila. Gila karena girang melihat perubahanmu. Engkau tidak putus asa lagi dan semangatmu telah bangkit kembali. Bagus! Bagus sekali! Bukankah hal itu amat menggirangkan hati?”

Han Han memegang kedua tangan gadis itu, tongkatnya ia kempit. “Kim Cu...” katanya penuh keharuan. “Engkau seorang gadis yang baik sekali. Dengan engkau di sampingku, aku merasa seolah-olah mendapatkan Adikku Lulu yang hilang itu kembali. Memang, aku tidak akan putus asa, Kim Cu. Aku akan membuktikan kepada dunia, kepada Im-yang Seng-cu, dan tokoh-tokoh kang-ouw lainnya bahwa biar pun aku keturunan Keluarga Suma yang terkutuk, akan tetapi aku tidak jahat seperti mereka, dan aku akan membuktikan bahwa seorang buntung, seperti katamu, masih dapat melakukan hal yang berguna bagi manusia dan dunia!”

“Bagus! Dan aku yakin bahwa engkau kelak tentu akan menjadi orang yang amat berguna, jauh melebihi mereka yang kakinya utuh, dan akan dapat membersihkan nama keturunan Suma yang berlepotan noda yang diperbuat oleh nenek moyangmu.”

Han Han mengangguk-angguk. “Mudah-mudahan, Kim Cu.”

Berangkatlah kedua orang muda itu mendaki puncak yang dimaksudkan Kim Cu. Menjelang malam mereka tiba di goa yang dimaksudkan, sebuah goa yang berada di puncak. Kim Cu membuat obor dari kayu kering dan mereka memasuki goa yang merupakan mulut terowongan itu. Perjalanan itu amat melelahkan, terutama sekali bagi Han Han yang kesehatannya belum pulih sama sekali.

“Sebelum gelap, aku akan keluar mencari daun-daun obat untuk lukamu. Lukamu perlu dicuci, diobati dan diganti kain pembalutnya.”

Han Han mengerutkan kening. “Eh, aku membuatmu repot sekali, Kim Cu. Daun obat dan air pencuci bisa dicari di puncak, akan tetapi kain pembalut...?”

Kim Cu memandang pakaiannya. “Pakaianku masih utuh, diambil sedikit-sedikit untuk pembalut masih lebih dari pada cukup!”

Han Han hanya menggeleng kepala dan menghela napas melihat gadis itu sambil tertawa sudah berlari ke luar goa. Dia duduk bersandar pada dinding goa, diam-diam ia merasa gelisah memikirkan Kim Cu. Gadis itu dengan jelas membuktikan cinta kasihnya yang amat mendalam kepadanya. Ia berhutang budi, dan ia suka sekali kepada Kim Cu. Akan tetapi cinta? Ah, bagaimana kalau dia tidak dapat membalas cintanya? Dia merasa gelisah kalau-kalau harus membuat gadis itu berduka kelak karena tidak mampu membalas cinta kasihnya yang demikian murni. Pula, dia seorang pemuda buntung, keturunan keluarga jahat. Dia terlalu kotor dan tidak berharga bagi seorang gadis semulia Kim Cu.

Malam itu Kim Cu datang membawa daun obat, air dan buah-buahan. Dengan tekun di bawah penerangan api unggun, gadis ini membuka balut kaki buntung Han Han, sedikit pun tidak kelihatan jijik, mencuci paha yang buntung, menaruh obat, dan membalutnya lagi menggunakan sabuk suteranya. Setelah selesai, mereka makan buah-buahan lalu mengaso dan Kim Cu tertidur di dekat api unggun.

Sampai jauh malam Han Han tidak dapat tidur. Terlalu banyak hal-hal memenuhi otaknya, dari memikirkan Lulu sampai pengalamannya di Pulau Es, memikirkan keadaan nenek moyangnya, dan akhirnya memikirkan Kim Cu. Gadis itu tertidur nyenyak sekali di dekat api unggun, tidur miring dengan muka menghadap ke arahnya. Wajah yang cantik itu tampak pucat di bawah sinar api unggun, rambutnya kusut karena tidak disisir. Bibirnya agak terbuka memperlihatkan deretan ujung gigi yang putih. Han Han mendekati api unggun, menambah kayu kering yang tadi dikumpulkan gadis itu. Sampai hampir pagi barulah Han Han dapat tidur sambil bersandar pada dinding goa, setelah tadi ia duduk bersila dengan kaki yang tinggal satu untuk memulihkan tenaga dan mengatur pernapasannya.

Han Han terkejut dan bangun dari tidurnya ketika lengannya diguncang-guncang Kim Cu. “Han Han...! Han Han... bangunlah...!”

Han Han memandang gadis itu yang mukanya pucat sekali. Segera kewaspadaannya timbul. “Ada apakah, Kim Cu?”

“Ada orang di luar... kulihat bayangannya berkelebat...”

“Hemmm, mengapa bingung. Biarkan saja.”

“Tidak, siapa tahu dia Subo! Bayangannya berkelebat cepat sekali. Mari kita sembunyi!” Gadis itu menarik-narik tangan Han Han.

Pemuda ini menurut, segera bangkit dan jalan terpincang-pincang dengan tongkatnya. Tangannya ditarik Kim Cu yang memasuki terowongan. Kiranya matahari telah naik tinggi dan sinarnya menerobos memasuki terowongan itu sehingga keadaan dalam goa tidak terlalu gelap. Tiba-tiba terdengar suara yang amat mereka kenal, datangnya dari luar goa.

“Hi-hi-hik! Kalian hendak lari ke mana? Biar ada Im-yang Seng-cu aku harus mengambil nyawamu, murid murtad!”

“Celaka... dia Subo...!” Kim Cu berbisik dan menarik tangan Han Han sambil melangkah maju lebih cepat lagi.

Tak lama kemudian mereka tiba di ujung terowongan. Han Han melihat bahwa mereka berada di pinggir sebuah jurang yang amat luas. Ketika menjenguk ke bawah, matanya lantas berkunang. Demikian tinggi dan curamnya jurang ini sehingga dasarnya tidak tampak, terhalang oleh embun pagi dan awan! Mereka berhenti dan membalikkan tubuh memandang ke arah terowongan, lalu dengan hati berdebar-debar menanti munculnya Toat-beng Ciu-sian-li yang tadi mereka dengar suaranya.

Melihat betapa tubuh gadis itu menggigil dan wajahnya pucat sekali, Han Han berkata halus, “Jangan takut, Kim Cu. Aku akan selalu mendampingimu.”

“Jangan... jangan mencampuri... biarlah aku menghadapi Subo,” bisik Kim Cu sambil menjauhkan diri dari pemuda itu.

Dalam terowongan itu sunyi dan secara tiba-tiba, seperti munculnya iblis sendiri tampak tubuh Toat-beng Ciu-sian-li yang tersenyum-senyum mengerikan. Melihat gurunya ini, Kim Cu maklum bahwa biar pun Han Han membantunya, mereka tidak akan menang, dan akhirnya mereka berdua tentu akan tewas. Maka ia cepat berkata.

“Subo, teecu merasa berdosa kepada subo. Kalau teecu mau dihukum, hukumlah. Mau bunuh, bunuhlah. Akan tetapi... teecu mohon, jangan Subo mengganggu Han Han, dia sudah cukup menderita... bunuhlah teecu saja...”

“Kim Cu...!” Han Han membentak.

“Heh-heh-hi-hik, muridku yang paling kusayang, yang paling banyak kuberi ilmu-ilmuku, kini hendak menentangku sendiri? Murid murtad engkau!” Toat-beng Ciu-sian-li yang masih tersenyum-senyum menyeramkan itu memandang kepada Kim Cu dengan sinar mata beringas.

Kim Cu merasa ngeri hatinya, bulu tengkuknya berdiri dan maklum bahwa tangan maut telah menjangkaunya.

“Toat-beng Ciu-sian-li! Tahan dulu! Jangan coba-coba kau berani membunuh Kim Cu!” Han Han membentak marah sambil maju terpincang-pincang.

“Bocah buntung, kau tunggulah giliranmu!” Bentak Toat-beng Ciu-sian-li sambil terkekeh dan tiba-tiba tangan kirinya bergerak.

Sinar berkilauan menyambar ke arah Kim Cu dan itu adalah sebuah gelang rantai anting-antingnya yang kini digunakan sebagai senjata rahasia yang menyambar dengan kecepatan kilat ke arah gadis itu. Kim Cu memang tidak ingin melawan, maka dia berdiri seperti arca menanti datangnya senjata rahasia yang menyambar ke arah dahinya untuk merenggut nyawanya.

“Kim Cu...!” Han Han berteriak ketika melihat betapa gadis itu sama sekali tidak berusaha menghindarkan diri dari sambaran senjata itu. Han Han lupa diri dan lupa bahaya, melepaskan tongkatnya dan langsung meloncat ke depan menubruk kaki Kim Cu dengan maksud menghindarkan gadis itu dari pada ancaman maut.

“Han Han...!”

“Kim Cu...!”

“Heh-heh-heh, hi-hi-hik!” Toat-beng Ciu-sian-li terkekeh ketika melihat tubuh kedua orang muda itu tergelincir ke bibir jurang!

Han Han memang berhasil menyelamatkan Kim Cu dari sambaran senjata rahasia, akan tetapi ia membawa Kim Cu bersama-sama terjerumus ke dalam jurang yang tak tampak dasarnya!

Perlahan-lahan Toat-beng Ciu-sian-li melangkah ke pinggir jurang, menjenguk ke bawah lalu tertawa lagi, akan tetapi suara ketawanya kecewa. “Sayang..., andai dia bisa membawaku ke Pulau Es....” Nenek ini lalu berjalan ke luar dari terowongan itu, sedikit pun tidak memikirkan lagi keadaan Han Han dan Kim Cu yang dianggapnya tentu akan hancur lebur tubuhnya terbanting pada dasar jurang yang sedemikian curamnya.

Biar pun Toat-beng Ciu-sian-li adalah seorang nenek yang amat lihai dan pengalaman hidupnya sudah seratus tahun, namun ia sungguh lancang kalau berani menentukan mati hidup manusia. Hidup dan matinya manusia berada sepenuhnya di tangan Tuhan. Kalau Tuhan menentukan seseorang harus hidup, biar dia dihujani selaksa batang anak panah, ada saja sebabnya yang membuat ia lolos dari bahaya maut. Sebaliknya kalau Tuhan menghendaki seseorang harus mati, biar dia bersembunyi di lubang semut, tetap saja maut akan datang menjemput tanpa dapat dihindarkan lagi.

Kim Cu sudah hampir pingsan ketika tubuhnya meluncur ke bawah. Tenaga luncuran itu sedemikian kuatnya sehingga tidak mungkin mempergunakan ginkang dan kepalanya menjadi pening, napasnya seperti terhenti. Masih dapat dilihatnya bayangan tubuh Han Han berkelebat mendahuluinya karena tubuh Han Han yang lebih berat itu lebih cepat lagi tenaga luncurannya, apa lagi Han Han terdorong oleh tenaga loncatannya ketika menolongnya tadi. Teringat akan Han Han, Kim Cu menjadi sadar kembali dan ia menjerit panjang, “Han Hannn...!”

Seakan-akan tidak akan ada akhirnya tubuhnya meluncur ke bawah dan Kim Cu yang sudah setengah pingsan itu terheran apakah dia tidak sudah mati dan kini yang melayang-layang turun itu adalah nyawanya? Terbayang dalam otaknya akan dongeng yang pernah didengarnya bahwa sorga letaknya di atas, sedangkan neraka di bawah. Kalau begitu, apakah nyawanya sedang melayang menuju ke neraka? Ia merasa ngeri, akan tetapi ia teringat akan Han Han. Kalau di neraka ia akan bertemu dan berkumpul dengan Han Han, biarlah ia menuju ke neraka!

“Byurrrrr...!” Kim Cu merasa seolah-olah tubuhnya remuk dan ia tidak ingat apa-apa lagi!
Tiga hari tiga malam kemudian, pada pagi harinya, Kim Cu membuka mata. Tubuhnya masih terasa nyeri semua, akan tetapi ia dapat menggerakkan kaki tangannya dan membuka matanya.

“Omitohud..., Nona sudah sadar...? Omitohud, syukurlah,” terdengar suara halus.

Kim Cu menoleh ke kiri dan melihat seorang nikouw yang tersenyum memandangnya. Kepalanya gundul kelimis, sikapnya halus, mukanya menyinarkan kebahagiaan batin. Nikouw ini usianya tidak akan kurang dari enam puluh tahun, namun wajahnya halus dan merah penuh kesehatan dan ada sesuatu dalam gerak-gerik nikouw ini yang membuat ia tampak seperti seorang dewi.

“Siankouw... seorang dewi penjaga hukuman di neraka?” tanya Kim Cu yang masih menduga bahwa dia kini telah berada dalam neraka, sungguh pun ia heran mengapa neraka begini bersih dan enak, dalam sebuah kamar yang bersih dan dia rebah di atas dipan yang bertilam putih bersih pula.

“Omitohud...! Memang dunia ini neraka bagi yang belum sadar, anakku, akan tetapi sorga bagi yang telah sadar. Engkau masih hidup, Nona. Thian belum menghendaki engkau mati.”

Serentak Kim Cu bangkit duduk dan tidak memperhatikan tubuhnya yang nyeri semua rasanya. “Jadi aku masih hidup? Han Han... di mana dia...? Han Han...!” Ia menjerit, memanggil nama itu.

Nikouw itu bangkit berdiri mendekatinya dan menaruhkan tangannya yang halus di pundak Kim Cu. “Tenangkan hatimu, Nona. Engkau belum sembuh benar, tidak baik banyak bergerak. Berbaringlah kembali.”

Suara itu halus sekali, namun mengandung wibawa yang tak mungkin dapat dibantah sehingga Kim Cu merebahkan tubuhnya lagi di atas dipan. “Akan tetapi... tolonglah beri tahu, Suthai. Di mana Han Han?”

“Han Han siapakah yang Nona maksudkan?”

“Han Han... temanku. Kami berdua jatuh dari atas, dan kalau aku masih hidup dia tentu hidup pula. Ah, di mana dia?”

Nikouw itu menggeleng-geleng kepalanya. “Sukar dipercaya ada orang yang jatuh dari atas tebing gunung itu masih dapat hidup seperti engkau, Nona. Engkau telah berada di sini tiga hari tiga malam, pingsan. Dan pinni (aku) tidak pernah mendengar tentang temanmu yang bernama Han Han itu...”

“Tiga hari tiga malam? Dan Han Han tidak ada? Ah, mana mungkin? Subo, tolong ceritakan, apakah yang sesungguhnya telah terjadi?”

“Nona, sebaiknya kau ceritakan dahulu kepada pinni bagaimana engkau tiba-tiba saja jatuh dari atas, seperti dari langit saja.”

Kalau dia masih hidup, lebih baik dia tidak bercerita tentang dirinya, karena kalau hati ini terdengar oleh Toat-beng Ciu-sian-li, tentu nenek itu akan mencarinya, demikian pikirnya. “Kami... aku dan temanku itu berjalan di atas tebing, dan aku tergelincir, dia berusaha menolongku tetapi kami terjerumus ke bawah. Aku tidak ingat apa-apa lagi. Subo, ceritakanlah, bagaimana aku dapat berada di sini?”

Dengan sabar nikouw itu mengambil sebuah mangkok dari atas meja. “Kau minumlah obat ini dulu, Nona. Minumlah.”

Karena maklum bahwa ia ditolong oleh nikouw ini, maka tanpa membantah Kim Cu minum obat yang pahit rasanya itu sampai habis, kemudian ia rebah kembali, siap mendengarkan cerita nikouw tua yang ramah dan amat halus tutur sapanya itu.

“Menurut nalar orang yang jatuh dari tempat setinggi itu tentu mati. Akan tetapi agaknya Thian menghendaki lain. Engkau jatuh ke dalam Sungai Hek-ho yang mengalir tepat di bawah tebing itu menuju ke timur, masuk ke saluran besar. Sungai itu di bagian bawah tebing amat deras alirannya, dan banyak mengandung batu-batu karang menonjol di permukaan dan di bawah permukaan air. Akan tetapi, omitohud... engkau agaknya jatuh di bagian yang dalam sehingga tidak terluka. Dan lebih kebetulan sekali seperti telah diatur oleh tangan Thian sendiri ketika tubuhmu yang pingsan itu timbul ke permukaan air, dari jauh kelihatan oleh perahu nelayan yang sedang mencari ikan. Engkau mereka tolong dan melihat engkau seorang wanita, mereka lalu membawamu ke sini. Pinni adalah ketua dari Kwan-im-bio di sini bersama tujuh orang nikouw lain, dan karena pinni sedikit-sedikit mengerti ilmu pengobatan, maka pinni cepat mengobatimu. Syukurlah, atas kemurahan Thian, engkau selamat....”

“Akan tetapi temanku itu bagaimana dia? Di mana dia?”

Nikouw itu menghela napas. “Kalau dia jatuh bersamamu dan masih hidup tentu telah ditolong pula oleh para nelayan. Akan tetapi tak seorang pun melihatnya dan seperti kukatakan tadi, tempat itu banyak mengandung batu karang. Kalau jatuhnya menimpa batu karang, atau seperti engkau pingsan lalu hanyut oleh air yang sedemikian derasnya... hemmm... agaknya tidak ada harapan lagi baginya.”

“Tidak...! Tidaaakkkk...!” Kim Cu menjerit dan bangkit duduk, matanya terbelalak memandang ke kanan kiri. “Tidak boleh dia mati aku masih hidup! Nikouw tua yang mulia, aku harus mencari dia!”

Dari pintu kamar yang terbuka itu muncul tujuh orang nikouw, yang lima sudah berusia lima puluhan tahun, yang dua masih muda, kurang lebih tiga puluh tahun. Sikap mereka juga halus-halus dan wajah mereka membayangkan ketenangan. Melihat Kim Cu hendak turun, para nikouw yang tadi mendengar jeritan gadis itu mendekati dipan dan hendak mencegahnya, mengira bahwa gadis ini menjadi bingung karena kecelakaan hebat itu.

Nikouw tua mengangkat tangan mencegah mereka, lalu memegang tangan Kim Cu dan berkata, “Engkau hendak mencari temanmu itu, Nona? Baiklah, boleh saja dan mari pinni menemanimu ke tepi sungai.”

Kim Cu berjalan dengan tubuh menggigil dan masih lemah sekali. Akan tetapi nikouw tua yang baik hati itu menggandengnya dan pergilah mereka berdua keluar dari kelenteng kecil itu, diikuti pandang mata tujuh orang nikouw yang menggerakkan pundak masing-masing, hati mereka penuh iba terhadap Kim Cu.

Dengan hati yang tidak karuan rasanya Kim Cu bersama nikouw tua itu menuju ke pinggir sungai. Ngeri hatinya melihat sungai yang benar-benar amat deras airnya, lebih ngeri menyaksikan batu-batu yang runcing tajam menonjol di seluruh permukaan sungai, akan tetapi ia benar-benar mengkirik (meremang bulu tengkuknya) ketika berdongak ke atas melihat tebing yang amat tinggi yang puncaknya tertutup mega. Dari tempat setinggi itu dia jatuh! Kim Cu mengeluarkan seruan tertahan dan kedua pundaknya menggigil.

“Percayakah engkau kini bahwa hanya tangan Tuhan saja yang mampu menyelamatkan engkau, Nona? Ada pun tentang nasib temanmu itu..., benar-benar pinni meragukan keselamatannya.”

“Tidak, kalau aku selamat, dia harus selamat, Suthai! Tolong panggil para nelayan.”

Nikouw itu bertepuk tangan, lalu menggapai ke arah seorang nelayan yang sedang menjemur jala di tepi sungai. Nelayan itu menengok dan cepat berlari menghampiri. Melihat Kim Cu, ia memandang dengan muka berseri. “Ah, inikah Nona yang jatuh dari langit itu, Sian-kouw? Sungguh beruntung, dia dapat tertolong dan kembali terbukti kelihaian Sian-kouw mengobati orang.” Ia membungkuk-bungkuk, sikapnya kasar dan sederhana.

Kim Cu berkata, “Lopek, aku berterima kasih sekali kepada para nelayan yang telah menolongku. Sekarang aku mohon kepada kalian untuk mencari temanku.”

“Temanmu, Nona? Temanmu yang mana?”

Kim Cu menahan mulutnya yang hendak menyebut nama Han Han ketika teringat bahwa nama itu takkan ada artinya bagi si nelayan. “Temanku, seorang pemuda yang ikut pula terjerumus dari tebing atas bersamaku.”

“Heh...?” Nelayan itu terkejut. “Masih ada lagi yang jatuh dari langit?”

“A-liuk, harap kau panggil berkumpul para nelayan ke sini.”

“Baik, Sian-kouw!”

Nelayan itu lalu berlari menuju ke dusun di mana tinggal para nelayan, tidak jauh dari Kuil Kwan-im-bio yang terletak di ujung dusun. Tak lama kemudian di situ telah berkumpul dua puluh orang lebih nelayan-nelayan yang sederhana. Seperti A-liuk, mereka semua merasa girang melihat Kim Cu selamat dan merasa kagum akan kepandaian nikouw yang mengobati Kim Cu.

“Paman sekalian, selain bersyukur dan amat berterima kasih kepada paman sekalian, saya minta tolong sukalah paman menceritakan teman saya yang pada hari dan saat itu jatuh pula dari atas.”

“Kami tidak melihat ada orang lain!” terdengar suara mereka riuh rendah bicara sendiri dan saling bertanya sendiri.

“Mungkin paman semua tidak ada yang melihatnya. Akan tetapi karena aku selamat, kiranya dia pun selamat. Harap paman suka menggunakan perahu dan mencari di sekeliling pantai dan di seberang kalau-kalau ia terdampar dan mendarat di suatu tempat dalam keadaan terluka.”

“Kalian penuhi permintaannya. Kasihan temannya itu kalau memang benar dia selamat.”

“Baik, Sian-kouw,” jawab mereka serempak.

“Tunggu dulu, paman-paman yang baik!” Kim Cu berkata ketika melihat mereka hendak pergi melaksanakan permintaannya. Ia meloloskan delapan buah gelang emas, satu-satunya perhiasan yang berada di tubuhnya, dan menyerahkan gelang-gelang emas itu kepada mereka. “Aku hanya mempunyai gelang-gelang ini, harap paman sekalian membaginya sebagai hadiah dariku atas pertolongan kalian mencarikan temanku.”

Akan tetapi tidak ada seorang pun diantara mereka yang menerima pemberian ini. Seorang nelayan tua lalu berkata, “Nona, hadiah adalah pernyataan hati girang dan untuk membalas jasa. Sedangkan teman Nona belum diketemukan, bahkan kami belum mencarinya, bagaimana kami dapat menerima hadiah darimu? Kalau kami begitu loba, tentu Sian-kouw takkan mendoakan rejeki kami dan tentu ikan-ikan pada lari bersembunyi dari jala dan kail kami.” Setelah berkata demikian, semua nelayan itu bubar, meninggalkan Kim Cu yang masih memegangi gelang-gelangnya dengan melongo.

Nikouw tua itu tersenyum menyaksikan keheranan Kim Cu. “Mereka adalah nelayan-nelayan desa yang polos, jujur dan bersih, Nona. Dan jangan sekali-kali menganggap mereka bodoh seperti pendapat orang kota. Orang kota menilai kepintaran berdasarkan akal, yang banyak akalnya dikatakan pintar, padahal akal itu hanya mereka gunakan untuk akal-akalan, saling mengakali dan menipu. Orang-orang yang tidak tahu akan akal-akal macam itu adalah sepintar-pintarnya orang.”

Selama seminggu lebih, setiap hari para nelayan mencari jejak atau tanda-tanda Han Han, namun mereka selalu kembali dengan tangan hampa, membuat hati Kim Cu yang menanti terus di tepi sungai menjadi makin hampa. Dua minggu kemudian, para nelayan menyatakan keyakinannya bahwa kalau pemuda itu benar terjatuh dari atas seperti halnya Kim Cu, tentu tubuh pemuda itu menimpa batu dan hancur lebur, atau tenggelam dan mungkin juga hanyut oleh air sungai yang amat deras. Mereka tidak mencari lagi.

Kim Cu tidak mau kembali ke kuil. Selama menanti para nelayan yang mencari-cari, dia selalu ditemani oleh nikouw tua atau kadang-kadang ditemani seorang di antara para nikouw secara bergilir. Makan dan minum pun hampir dipaksa oleh para nikouw, baru Kim Cu mau makan dan minum. Akan tetapi ia tidak pernah kembali ke kuil, tidur pun di tepi sungai!

Ketika para nelayan menghentikan pencariannya, Kim Cu seperti gila. Tidak lagi ia mau makan atau minum, tidak tidur, hanya berdiri atau duduk di tepi sungai. Wajahnya makin kurus dan pucat, rambutnya kusut dan matanya sipit dan bengkak karena terlalu banyak menangis sehingga air matanya kering!

Beberapa hari kemudian, para nikouw terpaksa menggotong tubuhnya yang menggeletak pingsan di tepi sungai, dibawa kembali ke kuil. Kembali nikouw tua itu yang sibuk mencekokkan obat ke mulutnya sampai ia siuman kembali dan dipaksa makan bubur atau obat.

“Mengapa engkau menyiksa hatimu sampai sedemikian rupa, Nona? Dicari lagi pun percuma, agaknya temanmu itu sudah tewas.”

“Kalau dia mati, aku pun akan mati!” kata Kim Cu dan ia menangis sesenggukan. “Suthai, biarkan aku mati...!” Ia terisak-isak.

“Engkau keliru, Nona. Andai kata temanmu itu mati, matinya adalah karena kehendak Tuhan. Kalau engkau memaksa ingin mati, matimu adalah mati paksaan dan amatlah tidak baik mati seperti itu, Nona.”

“Suthai, kalau Han Han mati, apa gunanya lagi aku hidup?”

Nikouw itu mengangguk-angguk dan mengelus-elus rambut gadis itu. “Nona, engkau tentu amat mencinta pemuda itu, bukan?”

Mendengar suara yang masih tenang akan tetapi menggetar penuh rasa iba dan haru ini, Kim Cu memandang dengan mata basah. “Benar, suthai. Aku mencintanya. Dia satu-satunya orang di dunia ini yang kumiliki.”

“Kalau begitu, engkau harus hidup, Nona. Kalau engkau mati, engkau takkan dapat berguna untuk dia. Akan tetapi kalau engkau hidup, tidak hanya engkau akan dapat berguna bagi orang yang kau cinta, akan tetapi engkau malah akan dapat berguna bagi semua orang dan dunia.”

Kim Cu memeluk nikouw itu dan berkata, “Ah, suthai. Benarkah itu? Benarkah aku akan dapat berguna, berguna bagi Han Han biar pun dia sudah sudah mati?”

Nikouw itu mengusap air mata dari kedua pipi Kim Cu dan di dalam hatinya dia pun mengusap air matanya sendiri yang mengucur di hatinya. Matanya dikejap-kejapkan untuk menahan panasnya keharuan yang mendorong air mata, mulutnya tersenyum untuk menekan keharuan hati, dan kepalanya mengangguk-angguk untuk mengganti kegaguannya untuk sementara. Setelah keharuannya reda dan ia yakin suaranya tidak menggetar, nikouw itu berkata.

“Tentu saja, anakku yang baik. Kalau engkau menghambakan dirimu kepada kebajikan, menjadi murid Kwan Im Pouwsat, menjadi seperti pinni, engkau akan dapat berguna sekali bagi temanmu itu.”

“Menjadi... nikouw...?”

Nikouw tua itu mengangguk-angguk. “Tidak langsung sekarang, terserah kepadamu. Kau pelajarilah dahulu kebajikan-kebajikan dari Kwan Im Pouwsat, kelak engkau boleh menentukan sendiri apakah suka menjadi nikouw atau tidak. Akan tetapi, setidaknya engkau sudah akan lebih tahu akan arti hidup, dan engkau dapat berdoa setiap saat untuk temanmu itu sehingga andai kata dia sudah mati, semoga ia akan mendapatkan tempat yang layak dan damai, sebaliknya kalau masih hidup, semoga dia hidup bahagia. Bukankah dengan demikian engkau akan berguna baginya? Dan berguna pula bagi orang lain...”

Kim Cu kembali menubruk dam memeluk nikouw itu sambil menangis, kemudian ia melorot turun dan berlutut di depan nikouw itu. “Teecu, Kim Cu, mohon petunjuk dari Subo...”

Demikianlah, mulai hari itu Kim Cu menjadi murid Thian Sim Nikouw dan mempelajari pelajaran kebatinan yang berpusat pada penyembahan Kwan Im Pouwsat. Akan tetapi, nasib malang masih mengharuskan Kim Cu mengelami banyak penderitaan hidup. Enam bulan sejak ia tinggal di situ, pada musim hujan, air Sungai Hek-ho meluap dan terjadi banjir besar yang menghanyutkan dusun itu, termasuk Kwan-im-bio. Para nikouw dan Kim Cu terpaksa mengungsi setelah mereka semua memberi pertolongan kepada para korban banjir.

Dalam pekerjaan yang dipimpin Thian Sim Nikouw inilah Kim Cu merasa betapa hidupnya amat berguna bagi orang lain, yang nyata dan dapat dirasainya. Ia makin tekun belajar dan makin lama ia mendapat ketenangan batin sehingga ketika semua pindah ke utara, ke sebuah lereng bukit dan mendirikan kuil kecil sederhana di sana, Kim Cu mengambil keputusan menggunduli rambutnya dan masuk menjadi nikouw! Oleh gurunya ia diberi nama Kim-sim Nikouw (Pendeta Wanita Berhati Emas). Ia telah mendapat ketenangan dan kebahagiaan batin, dan rasa rindunya yang kadang-kadang muncul terhadap Han Han, ia tekan dengan doa-doa bagi keselamatan pemuda itu, baik di dunia mau pun di akherat.....

********************

Di dalam sebuah gubuk di kaki Gunung Lu-liang-san, Lulu sadar dari pingsannya dan mendapatkan dirinya sedang dirawat oleh kakek pengemis yang mengobati luka-lukanya. Melihat gadis itu bergerak, kakek itu berkata perlahan.

“Jangan bergerak dulu, Nona. Luka-lukamu bekas bacokan senjata tajam tidak terlalu berbahaya, akan tetapi pukulan di punggung membuat tulangmu ada yang retak. Kau rebahlah saja dan jangan banyak bergerak.”

Lulu tersenyum, hatinya girang bahwa dia belum mati. Dia mengenal kakek jembel ini yang telah menyelamatkan nyawanya ketika golok Twa-to-kwi Liok Bu Tang si Mata Satu menyambar lehernya, yaitu kakek yang telah menangkis golok itu dengan tongkatnya.

“Locianpwe, aku berhutang satu nyawa kepadamu.”

Kakek itu memandangnya dan tersenyum melihat gadis yang berpakaian pria itu tersenyum, kaget dan kagumlah dia. “Wah, engkau memiliki daya tahan yang hebat. Hal ini membuktikan bahwa engkau telah mempelajari sinkang yang luar biasa.”

“Eh, jangan pura-pura tidak mendengar omonganku dan mengeluarkan puji-pujian kosong, locianpwe. Aku telah hutang satu nyawa kepadamu karena aku tentu telah mati kalau locianpwe tidak datang menolong.”

Kakek itu menyelesaikan pekerjaannya membalut luka-luka di tubuh Lulu, kemudian berkata sungguh-sungguh, “Nona, saling bantu di antara kita segolongan adalah wajar, bahkan saling menolong di antara manusia sudah semestinya, sama sekali tidak dapat dikatakan hutang-berhutang. Apa lagi kalau kita bersama menghadapi orang-orang Mancu yang amat jahatnya. Ah, bukan semata-mata orangnya yang jahat, karena orang Mancu pun manusia seperti kita. Yang jahat adalah pimpinan mereka yang mengatur penjajahan dan menimbulkan perang. Perang adalah jahat dan kejam, membuat manusia-manusia seperti kita menjadi binatang-binatang buas! Aku sungguh amat membenci perang, akan tetapi lebih membenci orang-orang Mancu yang menimbulkan perang!”

Hati Lulu tertarik sekali. Ucapan kakek ini benar-benar memiliki arti yang dalam, apa lagi terdengar oleh telinganya, telinga seorang gadis Mancu! “Locianpwe, apakah engkau demikian membenci orang Mancu? Engkau sendiri mengatakan tadi bahwa orang Mancu juga manusia seperti kita, mengapa locianpwe amat membenci mereka?”

“Mengapa tidak? Karena merekalah maka orang-orang seperti aku menjadi binatang-binatang buas yang membunuhi manusia lain tanpa berkedip! Dahulu, sebelum ada perang, manusia mengenal peri-kemanusiaan dan aku akan merasa bangga kalau dapat menyelamatkan nyawa seorang manusia lain dari pada ancaman bahaya maut. Dahulu, nyawa manusia amat dihargai sehingga sebuah pembunuhan akan menggegetkan dan pembunuhnya akan dikutuk manusia lain. Akan tetapi sekarang? Ah, dalam keadaan perang, manusia menjadi makhluk sejahat-jahatnya! Betapa banyaknya nyawa manusia melayang oleh perbuatanku, dan kedua tanganku yang berlumuran darah ini telah membunuh entah berapa banyak manusia lain!”

Lulu makin tertarik. Kakek itu mengucapkan kata-kata dengan penuh semangat dan kesungguhan, dan wajah yang keriputan itu tampak berduka sekali. “Akan tetapi yang locianwe lakukan adalah demi perjuangan. Locianpwe berjuang demi negara dan bangsa, dan locianpwe membunuh musuh bangsa. Bukankah hal itu merupakan perbuatan mulia?”

Tiba-tiba kakek itu tertawa dan suara ketawanya membuat bulu tengkuk Lulu berdiri. Kelihatannya saja tertawa, akan tetapi nadanya seperti orang menangis! “Ha-ha-ha! Inilah yang menyedihkan! Manusia menganggap penyembelihan sesama manusia ini sebagai perbuatan mulia! Makin banyak menyembelih manusia, makin banyak merenggut nyawa sesama manusia, akan gagah perkasa, makin mulia dan disebut pahlawan! Memang perjuangan membela nusa bangsa, membela tanah air adalah sebuah tugas yang mulia, akan tetapi penyembelihan sesama manusia, sungguh pun berlainan bangsa, yang dianggap mulia oleh manusia itu, apakah juga mulia dalam pandangan Thian? Apakah Thian akan bersenang hati menyaksikan manusia ciptaan-Nya saling bunuh hanya karena memperebutkan kebenaran palsu yang pada hakekatnya adalah memperebutkan kemenangan dan kemuliaan duniawi! Tidak, Nona. Aku yakin bahwa Thian tidak menghendaki manusia berbunuh-bunuhan, dan aku yakin bahwa penyembelihan antara manusia yang oleh masing-masing golongan manusia disebut mulia dan dipuji-puji ini dikutuk Thian!”

Lulu menjadi terharu. Ia dapat mengerti apa yang dimaksudkan oleh kakek itu, dan tentu saja bagi dia, seorang gadis Mancu, ucapan itu berkesan amat dalam.

“Kata-kata locianpwe benar-benar mengejutkan hatiku. Akan tetapi, aku ingin sekali mendengar maksud ucapan locianpwe tadi bahwa perang antara manusia hanya memperebutkan kebenaran palsu yang pada hakekatnya adalah memperebutkan kemenangan dan kemuliaan duniawi. Apakah yang locianpwe maksudkan?”

Kakek itu menarik napas panjang. “Maksudku, tidak ada bangsa di dunia ini yang tidak menganggap bahwa perang yang dilakukannya berdasarkan kebenaran! Lihat contohnya perang yang dikobarkan oleh bangsa Mancu yang menjajah Tiongkok! Bangsa Mancu menyerbu ke selatan dan mereka merasa benar karena mereka menganggap bahwa mereka semenjak dahulu direndahkan, dan menganggap bahwa mereka itu datang untuk membebaskan rakyat Tiongkok dari pada cengkeraman pemerintahan yang tidak baik. Mereka berperang dengan dasar kebenaran mereka, karena hanya kalau mereka berkuasa di sinilah maka rakyat akan dapat hidup makmur, terbebas dari pada penindasan kaisar dan pembesar-pembesar Kerajaan Beng yang lemah dan jahat dalam pandangan mereka. Jelaslah bahwa bangsa Mancu berperang dengan dasar kebenaran mereka, kebenaran palsu! Di lain pihak, Kerajaan Beng berikut semua pejuang yang melawan mereka, termasuk aku, mendasarkan perjuangan dengan kebenaran kita sendiri, kebenaran orang mempertahankan tanah airnya, kebenaran negara mempertahankan hak dan kedaulatannya. Padahal, yang diperebutkan adalah kemenangan, dan sesungguhnyalah bahwa kemenangan yang akan mendatangkan kemuliaan duniawi kepada mereka yang menang! Kalau perang hanya terbatas kepada mereka yang bercita-cita, baik para pembesar yang memperebutkan kedudukan, mau pun para prajurit yang berperang karena menerima upah, atau pejuang yang berperang karena dorongan cita-cita, masih tidak mengapa. Mereka sudah sengaja ingin terjun ke dalam kancah perang yang isinya menang atau kalah, hidup atau mati. Celakanya, rakyat yang tidak tahu apa-apa menjadi korban keganasan perang.” Kakek itu menarik napas panjang, kemudian memandang Lulu tajam-tajam dan melanjutkan kata-katanya.

“Perang ini akibatnya jahat sekali. Pertengkaran pribadi hanya menimbulkan kebencian, akan tetapi perang menimbulkan kebencian antara bangsa! Tidak ada lagi pertimbangan antara baik dan buruk, bangsa yang dibencinya karena perang, dianggapnya semua jahat dan semua harus dibasmi! Sungguh menyedihkan sekali karena baru dalam hal inilah ada persamaan pendapat antara orang baik dan orang jahat! Pendeta-pendeta dan perampok-perampok dapat bekerja sama menghadapi musuh! Dalam perang antar bangsa, biar dia perampok yang sekejam-kejamnya kalau sebangsa, dianggap sekutu. Biar sama-sama pendeta kalau menjadi bangsa yang dibenci dianggap lawan yang harus dibunuh! Dan maut yang disebar tidak memandang bulu, tidak mengenal peri-kemanusiaan lagi. Kebencian melanda dan menguasai hati nurani manusia sehingga menimbulkan perbuatan-perbuatan yang kejamnya melebihi serigala. Membunuh dan menyiksa dianggap perbuatan yang baik dan gagah perkasa. Semua karena gara-gara perang dan andai kata bangsa Mancu tidak mengobarkan perang lebih dulu, tidak akan terjadi segala kekejaman itu. Karena itu, aku membenci orang-orang Mancu yang menimbulkan perang, membenci mereka yang telah membuat aku sekarang menjadi seorang pembunuh berdarah dingin!” Kembali kakek itu menarik napas panjang, kelihatan berduka sekali.

“Locianpwe, bukan hanya engkau yang menderita, bukan hanya rakyat Tiongkok yang menderita akibat perang. Juga bangsa Mancu sendiri banyak yang menderita akibat perang ini, perang yang dicetuskan oleh para pimpinan dengan mengorbankan banyak rakyat. Rakyat Mancu yang dipaksa menjadi prajurit, mati di sini tanpa diketahui keluarganya. Betapa banyaknya pula rumah tangga para perwira yang hancur akibat perang, terbasmi oleh musuh mereka yang oleh mereka disebut dan dianggap para pemberontak.”

Kakek itu mengangguk-angguk, kemudian mengangkat muka memandang. “Eh, Nona, bagaimana Nona bisa tahu akan keadaan bangsa Mancu?”

Lulu memandang tajam dan menjawab tenang, “Tentu saja aku tahu, locianpwe, karena aku sendiri adalah seorang Mancu.”

“Ahhh...!” Kakek itu benar-benar kaget mendengar ini dan ia memandang wajah Lulu dengan sikap tegang.

“Aku adalah seorang gadis Mancu yang menjadi korban perang ini, locianpwe. Ayahku seorang perwira yang terbunuh bersama seluruh keluarganya oleh segerombolan pemberon... eh, pejuang yang dipimpin oleh seorang bernama Lauw-pangcu. Hanya aku yang dibiarkan hidup, dirampas pakaianku, diberi pakaian jembel dan aku dilepas sebagai seorang anak jembel yang hidup terlantar...!”

“Ya Tuhan...!” Kakek itu meloncat ke belakang dan berdiri tegak memandang Lulu dengan mata terbelalak. Teringatlah ia peristiwa tujuh tahun yang lalu dan ia berkata lirih penuh getaran perasaan, “Akulah Lauw-pangcu. Kini teringat olehku akulah yang memimpin teman-teman menyerbu perwira dan membunuh mereka sekeluarga. Karena engkau mengingatkan aku akan puteriku yang hampir sebaya, aku tidak membolehkan mereka membunuhmu... Ah, Nona, engkaukah kiranya anak itu? Akan tetapi mengapa engkau sekarang membantu kaum pejuang memusuhi bangsa Mancu sendiri?”

Berubah wajah Lulu. Hemmm, jadi kakek inikah musuh besarnya yang selama ini ia cari-cari? Sejenak seluruh tubuhnya menegang dan timbul keinginannya untuk menyerang kakek itu. Akan tetapi teringat akan pembicaraan mereka tadi Lulu menarik napas panjang dan... menangis! Sejenak Lauw-pangcu hanya memandang gadis yang menangis itu penuh keheranan dan keharuan, kemudian ia berkata.

“Nona, aku mengerti bahwa di dalam hatimu mengandung sakit hati dan dendam yang besar kepadaku. Andai kata engkau kini menjadi pembantu pemerintah Mancu, tentu dendammu akan kau hadapi dengan kekerasan dan engkau akan kuanggap sebagai musuh. Akan tetapi karena terbukti bahwa engkau membantu pihak pejuang menentang kekejaman pasukan Mancu, hal ini membuat hatiku terasa berat dan penuh oleh dosa terhadap dirimu. Nona, aku Lauw-pangcu bukan seorang yang tidak mengenal budi dan bukan seorang yang tidak berani menanggung segala akibat perbuatanku. Aku yang membuat keluarga Nona terbasmi, yang membuat keluarga Nona terlantar, dan menyaksikan sepak terjangmu, kini aku siap menerima pembalasanmu. Engkau boleh menbunuhku untuk membalas dendam keluargamu. Silakan, aku tidak akan melawan dan menyerahkan nyawaku sebagai tebusan dosaku kepadamu.”

Lulu mengangkat mukanya yang basah air mata memandang kakek itu, kemudian ia menangis lagi, lalu menutupi muka dengan kedua tangan dan menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Tidak... tidak..., setelah aku menyaksikan sepak terjangmu, setelah aku mendengar kata-katamu dan mengenal watakmu sebagai seorang gagah perkasa, seorang pendekar sejati, bagaimana aku dapat membunuhmu? Apa lagi setelah menyaksikan keganasan perwira-perwira Mancu... ah, biarlah kuanggap bahwa Ayah sekeluarga terbasmi oleh perang, bukan oleh tanganmu, Lauw-pangcu. Engkau membasmi mereka bukan karena benci pribadi, melainkan karena perjuanganmu, karena perang. Biarlah, aku akan melupakan semua itu...”

Lauw-pangcu terbelalak, menghela napas dan mengeluh, “Aduh, baru sekali ini selama hidupku bertemu dengan seorang wanita semuda engkau, memiliki kebijaksanaan yang begini besar! Sikapmu merupakan tusukan pedang yang tiada bandingnya, menembus hatiku. Ah, Nona, tahukah engkau betapa sikapmu ini membuat aku jauh lebih menderita penuh penyesalan selama hidup dari pada kalau engkau menusuk mati aku dengan pedangmu? Aku telah membasmi keluargamu... dan engkau tidak mau membalas dendam. Satu-satunya jalan bagiku, biarlah aku menjadi pengganti keluargamu, menjadi Ayah Ibumu, biarlah aku mengambil engkau sebagai anakku, kalau engkau sudi...”

Mendengar ini, Lulu terisak, menurunkan kedua tangan, memandang kakek itu dengan sepasang matanya yang lebar, kakek yang telah menyelamatkan nyawanya, kakek yang telah membasmi keluarganya, kemudian ia mengeluarkan jerit lirih menubruk maju dan berlutut di depan kakek Lauw-pancu, “Ayah...!”

Sepasang mata kakek tua itu menitikkan dua butir air mata dan dengan penuh keharuan ia mengangkat bangun gadis itu, memegang kedua pundaknya dan menatap wajah cantik jelita dengan sepasang mata lebar yang masih mengucurkan air mata.

“Anakku..., engkau anakku..., siapakah namamu?”

“Lulu...”

“Ah, nama yang bagus! Lulu, aku akan membimbingmu, melatihmu. Engkau memiliki sinkang yang luar biasa dan gerakanmu cepat sekali, amat menakjubkan, hanya ilmu silatmu yang belum masak. Aku akan menurunkan semua kepandaianku dan kelak engkau menjadi orang yang lebih lihai dari pada aku sendiri. Akan tetapi aku heran sekali..., siapa yang mengajarimu berlatih sehinga memiliki sinkang begitu hebat dan... memiliki kebijaksanaan yang belum tentu dimiliki seorang pendeta sekali pun?”

Lulu yang merasa amat terharu dan juga berbahagia karena kini merasa mendapatkan seorang ayah, sambil bersandar di dada ‘ayah’ ini menjawab manja, seperti kalau ia bersikap manja kepada Han Han! “Ayah, yang mengajarku adalah Kakakku sendiri.”

Kembali Lauw-pangcu terkejut, memegang kedua pundak anaknya itu dan memandang wajahnya dengan tajam. “Kakakmu? Engkau mempunyai Kakak? Bukankah tadi kau katakan bahwa... bahwa yang hidup hanya tinggal engkau seorang?” Kalimat terakhir ini diucapkannya dengan pahit, mengingatkan dia bahwa dia yang membunuh semua keluarga gadis yang kini menjadi anaknya itu.

“Kakak angkat, Ayah.”

“Ohhh... jadi engkau mempunyai seorang kakak angkat dan kini mempunyai seorang ayah angkat, anakku? Agaknya engkau memang seorang yang amat baik budi sehingga banyak orang yang suka kepadamu. Kakakmu itu tentu lihai sekali.”

“Kakakku adalah orang yang paling hebat dan lihai di seluruh dunia ini...!”

“Ayah, bocah ini adalah teman si keparat Han Han!” Tiba-tiba terdengar seruan nyaring disusul berkelebatnya bayangan orang dan tahu-tahu di situ telah berdiri seorang gadis cantik gagah yang dikenal Lulu karena gadis itu bukan lain adalah Lauw Sin Lian, murid Siauw-lim Chit-kiam yang amat lihai dan yang pernah bentrok dengan Han Han ketika mereka berdua baru keluar dari Pulau Es, ketika dia dan kakaknya membantu para piauwsu Hoa-san-pai yang diserang orang-orang Siauw-lim-pai yang mereka kira perampok.

Melihat Sin Lian yang bersikap kasar terhadap kakaknya namun yang ia duga mencinta kakaknya itu, Lulu tersenyum dan memandang dengan matanya yang lebar. Sebaliknya, Sin Lian memandang dengan mata penuh kebencian, bahkan lalu membentak dan melangkah maju, “Dia dan Han Han membantu penjahat-penjahat Hoa-san-pai dan matinya dua orang suhu-ku mungkin karena mereka!”

Melihat puterinya maju hendak menerjang Lulu, Lauw-pangcu cepat melompat ke depan Sin Lian, menghadang dan berseru. “Lian-ji (Anak Lian), tahan dulu! Dia ini adalah Adikmu!”

Mendengar ini, Sin Lian begitu kaget dan heran sehingga ia tiba-tiba menghentikan gerakannya, berdiri seperti arca dalam keadaan masih memasang kuda-kuda siap menyerang. Matanya memandang kepada ayahnya penuh pertanyaan.

“Apa... apa artinya ini, Ayah?”

“Aku telah mengangkat Lulu ini sebagai anakku, Sin Lian. Dia telah membantu para pejuang dan hampir mengorbankan nyawanya untuk perjuangan, selain itu... dia adalah puteri keluarga Perwira Mancu yang terbasmi di tanganku... dan... satu-satunya jalan bagiku untuk menebus dosaku kepadanya..., yang sama sekali tidak mendendam kepadaku, adalah mengambil dia sebagai anakku sendiri, dan aku melarang engkau mengganggu adikmu sendiri!”

Wajah Sin Lian berubah agak pucat dan ia membantah, “Akan tetapi dia... dia dan Han Han bersekutu dengan Hoa-san-pai memusuhi Siauw-lim-pai...!”

“Tidak sama sekali, Enci Lian,” Lulu berkata dengan sikap tenang. Pandang matanya yang indah tajam, wajah cantik jelita yang tersenyum cerah, suara yang bening halus itu mengagumkan hati Sin Lian. “Kami sama sekali tidak pernah bersekutu dengan Hoa-san-pai, dan tidak pernah pula memusuhi Siauw-lim-pai. Semua yang dilakukan Kakakku hanyalah karena salah paham belaka.”

“Kakakmu...?” Sin Lian bertanya, bingung.

Lulu tersenyum dan wajahnya berseri. “Benar, dia adalah Kakakku, Kakak angkatku. Apakah engkau kira dia itu kekasihku, Enci Lian? Memang kekasihku, karena Han-koko adalah orang yang paling kukasihi di seluruh dunia ini, kemudian tentu saja Ayahku dan engkau Cici-ku!”

Pandang mata penuh kebencian itu melunak dan Sin Lian tak dapat berkata-kata. Ada pun Lauw-pangcu ketika mendengar bahwa anak angkatnya ini juga adik angkat Han Han, menjadi terkejut dan berseru, “Ah, sungguh tak kusangka Kakak angkatmu adalah Han Han. Bocah itu! Ceritakanlah, Lulu anakku, tentu menarik ceritamu. Sin Lian, duduklah dan kita mendengarkan ceritanya agar semua persoalan menjadi terang.”

Setelah mereka bertiga duduk, Lulu menghela napas dan berkata, “Kasihan sekali kakakku Han Han. Karena mengira murid-murid Siauw-lim-pai hendak merampok dan menghadang para piauwsu Pek-eng-piauwkiok yang menjadi murid-murid Hoa-san-pai. Kemudian melihat mayat dua orang di antara Siauw-lim Chit-kiam, dia mengira murid-murid Hoa-san-pai yang melakukannya sehingga dalam marahnya dia membunuh beberapa orang murid Hoa-san-pai. Akibatnya, dia dimusuhi oleh Hoa-san-pai dan Siauw-lim-pai!”

Sin Lian yang hatinya menjadi lega mendengar bahwa gadis cantik yang kini menjadi adik angkatnya itu ternyata bukan kekasih Han Han seperti yang tadinya ia sangka, menjadi tertarik sekali dan berkata, “Ceritakanlah... ceritakan apa yang telah terjadi sesungguhnya.”

Maka berceritalah Lulu tentang peristiwa yang ia alami bersama Han Han itu, mulai dari pertemuan mereka dengan para piauwsu Pek-eng-piauwkiok, lalu terjadi pertempuran dengan para penghadang dan munculnya Sin Lian, kemudian betapa Han Han membunuh murid-murid Hoa-san-pai, kemudian betapa dia dan kakaknya bertemu dengan tokoh-tokoh Hoa-san-pai.

“Ahhh...!” Lauw-pangcu menepuk pahanya setelah mendengar penuturan Lulu bahwa jelas sekali kedua pihak terpancing dan menjadi korban adu domba yang diatur oleh pihak Mancu. “Han Han menjadi korban fitnah. Hal ini harus segera dilaporkan kepada para pimpinan Siauw-lim-pai, Lian-ji, agar permusuhan antara kedua partai dapat dihentikan dan juga fitnah atas diri Han Han dibersihkan.”

“Baik, Ayah. Memang semestinya begitu. Aku pun sedang menjalankan tugas yang diperintahkan ketua Siauw-lim-pai untuk pergi mencari lima orang guruku, akan tetapi sungguh heran, lima orang guruku itu tidak dapat kutemukan jejaknya. Sebaiknya aku pergi sekarang juga melaporkan hal penting itu kepada ketua Siauw-lim-pai.”

“Harap engkau tidak usah sibuk-sibuk dan capek-capek, Enci-ku yang baik. Para pimpinan Siauw-lim-pai sudah tahu akan hal itu karena aku dan Han-koko telah pula datang mengunjungi Siauw-lim-si untuk menghadap ketuanya.”

“Apa?! Dia yang telah difitnah dan dianggap musuh oleh Siauw-lim-pai malah datang mengunjungi Siauw-lim-si? Begitu beraninya?” Sin Lian terbelalak saking herannya. Sungguh gadis Mancu ini membawa cerita yang makin aneh saja. Juga Lauw-pangcu menjadi terkejut dan heran.

“Memang Han-ko adalah seorang laki-laki yang paling gagah perkasa dan paling berani di seluruh dunia ini!” kata Lulu dengan bangga. “Dia tidak akan mundur selangkah pun dalam membela kebenaran. Jangankan hanya mendatangi Siauw-lim-si menghadap ketua Siauw-lim-pai, biar pun harus mendatangi neraka menghadap Giam-lo-ong (Raja Maut), jika dia benar, akan dia lakukan tanpa mengenal takut!”

Berceritalah dara yang lincah dan yang amat mencinta kakaknya ini akan sepak terjang Han Han ketika mengunjungi Siauw-lim-pai. Diceritakannya pula betapa Han Han dikeroyok oleh para tokoh Siauw-lim-pai, betapa Han Han masuk bertemu dengan Kian Ti Hosiang. Mendengar penuturan ini, makin lama Sin Lian menjadi makin terheran-heran dan diam-diam ia menjadi kagum sekali kepada Han Han yang memang amat menarik hatinya dan yang sudah ia buktikan sendiri kelihaiannya. Setelah Lulu berhenti bercerita, keadaan sunyi senyap. Lauw-pangcu termangu penuh keheranan, sedangkan Sin Lian termenung mengenangkan keadaan pemuda itu.

“Wah, ceritamu sungguh hebat!” Akhirnya Lauw-pangcu berkata sambil menarik napas panjang. “Anakku Lulu, tahukah engkau bahwa dahulu Kakakmu itu adalah muridku? Sungguh tidak nyana dia dapat menjadi seorang yang berilmu tinggi, juga engkau dapat memiliki sinkang dan ginkang yang amat luar biasa. Siapakah guru kalian?”

Biar pun Han Han pernah memesan agar dia tidak bicara tentang Pulau Es dengan siapa pun juga, akan tetapi karena Lauw-pangcu telah menjadi ayahnya sedang Sin Lian menjadi cici-nya, Lulu merasa tidak perlu merahasiakan hal itu dari mereka. Ia lalu menjawab.

“Guru kami adalah pemilik Pulau Es...”

“Heiii! Pulau Es...?” Lauw-pangcu dan Sin Lian makin terkejut. Benar-benar makin banyak hal tak terduga-duga dan aneh-aneh mereka dengar dari mulut Lulu!

“Pulau Es yang semenjak puluhan tahun dicari oleh semua tokoh kang-ouw?”

Lulu mengangguk. “Secara kebetulan saja kami dapat sampai di pulau itu dalam keadaan hampir mati setelah mengalami ancaman maut berkali-kali....”

Ia lalu bercerita tentang pengalamannya bersama Han Han ketika menjadi tawanan Ma-bin Lo-mo sampai terbawa badai dalam perahu rusak sehingga mereka mendarat di Pulau Es, menemukan peninggalan kitab-kitab pelajaran penghuni Pulau Es dan belajar ilmu selama enam tahun di tempat itu. Betapa kemudian dengan susah payah mereka dapat meninggalkan tempat itu.

Lauw-pangcu dan Sin Llan mendengarkan penuturan itu dengan mata terbelalak dan mulut ternganga, merasa seperti mendengarkan dongeng saja. Cerita itu amat mempesona mereka, bukan hanya karena keanehan cerita itu sendiri, melainkan juga karena pandainya Lulu bercerita sehingga untuk waktu yang cukup lama kedua orang ini seperti menggantungkan pandang mata mereka kepada bibir tipis merah yang bergerak-gerak manis ketika bercerita.

“Yang berilmu tinggi-tinggi dan berusaha mati-matian mencari Pulau Es, tidak pernah berhasil, dua orang bocah yang tidak mencarinya malah mendapatkan. Ha-ha, inilah yang disebut jodoh yang terjadi atas kehendak Thian! Pantas saja engkau lihai sekali, anakku, kiranya engkau menjadi ahli waris pusaka-pusaka mukjizat yang terdapat di Pulau Es. Sungguh engkau beruntung sekali, anakku.”

“Aah, ilmu yang berhasil kumiliki dengan latihan berat tidak ada artinya, Ayah. Aku memang bodoh dan kurang tekun seperti Han-ko. Dibandingkan dengan Han-koko, ilmuku sama sekali tidak ada artinya, dia sepuluh kali lebih lihai dari pada aku!”

Sin Lian makin kagum kepada Han Han dan diam-diam jantungnya berdebar. Hatinya makin tertarik.

“Sekarang di manakah... Han Han? Mengapa engkau berpisah darinya?” Pertanyaan ini biasa saja, akan tetapi begitu menyebut Han Han, muka Sin Lian menjadi merah sekali. Hal ini tidak terlepas dari pandang mata Lulu yang tajam dan pandang mata Lauw-pangcu yang berpengalaman.

Akan tetapi karena Lulu diingatkan kepada kakaknya dan hatinya menjadi gelisah, dia tidak ingin menggoda enci angkatnya itu, bahkan lalu menghela napas dan mengerutkan alisnya yang hitam panjang, “Ahh, hal inilah yang menyusahkan hatiku. Ketika kami saling berpisah, aku tertawan oleh si keparat Ouwyang Seng murid Setan Botak, sedangkan kakakku ketika itu dikeroyok dua oleh Setan Botak dan Iblis Muka Kuda!”

“Apa? Kang-thouw-kwi Gak Liat dan Ma-bin Lo-mo Siangkoan Lee mengeroyok Han Han?” Lauw-pangcu berteriak dan Sin Lian pun menjadi pucat mukanya.

Mereka mengenal siapa dua orang datuk hitam ini, tahu pula akan kehebatan ilmu kepandaian mereka. Seorang saja di antara mereka sudah merupakan lawan yang amat hebat, bahkan ke tujuh orang sakti Siauw-lim Chit-kiam ketika menghadapi Setan Botak seorang diri saja hampir kalah. Apa lagi kini dua orang datuk hitam itu sekaligus maju mengeroyok!

“Mana mungkin ia dapat menangkan dua orang datuk hitam itu?” Suara Sin Lian ini terdengar lirih, penuh kengerian dan kekhawatiran. Sembilan bagian perasaannya mengatakan bahwa tentu Han Han tewas kalau dikeroyok dua orang datuk hitam itu, betapa pun lihainya Han Han.

“Tidak, kakakku tidak akan kalah!” Lulu berkata. “Tidak mungkin Han-ko sampai kalah! Dia sakti dan cerdik, tentu dapat mengatasi dua orang kakek iblis itu! Akan tetapi, entah ke mana perginya. Aku sedang mencarinya sehingga tiba di sini dan bertemu dengan Ayah. Sekarang aku akan pergi mencarinya lagi sampai bertemu.”

“Lulu, anakku yang baik. Jangan engkau pergi dulu. Setelah aku mendapatkan seorang anak seperti engkau, mana boleh engkau lalu pergi lagi begitu saja? Engkau telah memiliki sinkang yang luar biasa, melebihi aku sendiri, bahkan mungkin sinkang-mu lebih hebat dari pada Sin Lian. Akan tetapi ilmu silatmu belum matang, dan sementara ini engkau tinggallah di sini bersamaku agar dapat kau perdalam ilmu silatmu. Aku yang akan menggemblengmu sehingga kalau ilmu silatmu sudah matang, kiranya aku sendiri sama sekali tidak akan dapat melawanmu. Engkau tidak membutuhkan waktu lama untuk mematangkan ilmu silatmu, juga Enci-mu dapat membantumu. Ada pun tentang Han Han, aku akan mengerahkan anak buahku untuk membantumu mencari kabar tentang Kakakmu itu. Kiranya akan lebih berhasil dari pada kalau engkau pergi mencari sendiri.”

“Ucapan Ayah benar sekali, Adik Lulu. Sebagai murid Siauw-lim-pai, tentu saja aku tidak boleh mengajarkan ilmu silat Siauw-lim-pai kepada orang lain yang bukan murid Siauw-lim-pai. Akan tetapi agaknya sedikit banyak aku akan dapat membantumu untuk mematangkan ilmu silatmu sendiri yang hebat.”

Dibujuk oleh ayah dan enci angkat yang amat disukainya itu, akhirnya Lulu menurut dan demikianlah, mulai hari itu Lulu digembleng ilmu silat oleh Lauw-pangcu dan Sin Lian.....



Pilih JilidHomeJilid Berikut


DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner