PENDEKAR SUPER SAKTI : JILID-27


Han Han menarik napas panjang. Sebetulnya dia segan terlibat permusuhan dengan pihak mana pun juga. Dia hendak mencari Lulu, dan dia tidak ingin usahanya mencari Lulu terhambat oleh segala macam gangguan dan permusuhan yang tidak ada manfaatnya. Akan tetapi dia juga ingin sekali mengetahui apa yang akan dilakukan oleh mereka, terutama sekali oleh empat orang brewok yang telah ia beri peringatan di rumah makan tadi.

Ia bersikap tenang, melanjutkan perjalanannya terpincang-pincang dibantu tongkatnya hingga ia tiba di depan wanita dan empat orang brewok tadi yang memandang dengan mata terbelalak, masih tampak jeri. Akan tetapi wanita itu memandangnya dengan sikap angkuh memandang rendah. Han Han hanya melihat ini semua dari sudut matanya dan hendak melanjutkan perjalanan dengan mengambil jalan dekat sungai agar tidak menerjang jalan yang sudah terpenuhi oleh rombongan pasukan itu.

“Pemuda buntung, berhenti dulu!”

Bentakan halus nyaring dari mulut wanita itu membuat Han Han terpaksa menghentikan langkahnya, berdiri tegak tanpa menoleh.

Sunyi sejenak, dan terdengar wanita itu bertanya lirih, “Dia itukah orangnya?”

“Benar, Sianli. Hati-hati, dia lihai bukan main,” jawaban Si Brewok Berhidung Besar ini terdengar jelas oleh Han Han yang masih tidak bergerak, juga tidak menoleh.

“Heh, orang muda pincang! Siapa namamu?”

Han Han yang mendengar betapa wanita itu disebut Sianli (Dewi), dapat menduga bahwa wanita itu tentulah seorang tokoh kang-ouw dan tentu memiliki kepandaian tinggi. Jika tidak, mana berani memakai julukan Dewi? Baru satu orang yang ia tahu memakai Dewi, yaitu Toat-beng Ciu-sian-li, bekas gurunya. Ia dapat menduga bahwa karena empat orang brewok itu adalah orang-orang yang berpihak kepada pemerintah Mancu, maka wanita cantik yang angkuh ini tentulah juga seorang tokoh yang membantu Kerajaan Ceng.

Tanpa menoleh Han Han menjawab, “Aku adalah seorang perantau miskin yang tidak ingin bermusuh dengan siapa juga, tidak mempunyai hubungan pula dengan perang, harap kalian membiarkan aku lewat.”

“Aihhh, orang muda sombong! Agaknya engkau memiliki sedikit kepandaian maka sikapmu sesombong ini. Ketahuilah, kami tidak berniat jahat terhadapmu, sebaliknya, kalau benar engkau memiliki kepandaian, kami akan membawamu menghadap atasan kami karena pemerintah yang bijaksana membutuhkan bantuan orang-orang yang memiliki kepandaian. Kalau engkau berkepandaian, percayalah, hidupmu akan terjamin dan engkau tidak usah berkeliaran merantau, menderita kekurangan dan kelaparan!”

Diam-diam Han Han tersenyum. Pemerintah Kerajaan Ceng dan bangsa Mancu memang cerdik sekall. Kalau bangsa Mancu menggunakan kekerasan untuk membasmi orang-orang pribumi yang berkepandaian, tentu perlawanan rakyat takkan kunjung berhenti karena rakyat akan menjadi makin benci kepada pemerintah penjajah itu. Akan tetapi, dengan jalan membujuk orang-orang pandai membantu pemerintah, memberi mereka kedudukan yang takkan mereka peroleh pada waktu pemerintah dipegang oleh bangsa sendiri, maka kedudukan Pemerintah Ceng akan menjadi makin kuat, mendapatkan simpati orang-orang kang-ouw dan dapat menarik hati rakyat.

“Terima kasih, aku tidak mungkin dapat menerimanya karena aku seorang yang tidak memiliki kepandaian apa-apa.” Sambil berkata demikian, tanpa menoleh Han Han lalu melanjutkan langkahnya.

Wanita itu memperhatikan langkah Han Han yang terpincang-pincang, sejenak ragu-ragu akan kebenaran laporan empat orang brewok. Tiba-tiba tangan kirinya bergerak dan....

“Cuiiittttt!” terdengar bunyi ketika sinar hitam menyambar ke arah punggung Han Han.

Han Han tentu saja maklum bahwa ada senjata rahasia menyambar ke arahnya dari belakang dan maklum pula bahwa senjata rahasia itu dilemparkan oleh seorang yang memiliki sinkang kuat bukan main. Diam-diam ia kaget dan tahu bahwa wanita itu sungguh tak dapat disamakan dengan empat orang Kang-thouw Su-liong (Empat Naga Berkepala Baja) yang brewokan itu. Tidak, wanita ini jauh lebih lihai, belum tentu kalah lihai oleh murid-murid Ma-bin Lo-mo, melihat dari hebatnya sambaran angin senjata rahasianya.

Namun Han Han yang kini telah memiliki tingkat kepandaian yang luar biasa dan sukar diukur tingginya, masih belum menoleh dan belum berhenti melangkah, hanya kini tongkatnya bergerak sedikit ke belakang, kemudian sambil masih meloncat-loncat dengan sebelah kaki, ia mencabut tiga batang senjata rahasia piauw hitam dari tongkat di mana piauw-piauw itu menancap dan membuangnya ke atas tanah.

Wanita itu menahan seruan kaget. Pemuda pincang itu sama sekali tidak mengelak, bahkan menengok pun tidak, masih melangkah, akan tetapi dengan amat mudahnya sudah menyambut piauw-piauwnya dan membuang begitu saja seolah-olah tidak ada kejadian apa-apa!

“Berhenti dulu...!”

Han Han melihat bayangan berkelebat dan wanita yang dapat bergerak cepat sekali membayangkan ginkang yang tinggi, kini telah berdiri di depannya. Terpaksa Han Han menahan langkahnya dan memandang tak acuh. Sebaliknya wanita itu memandang kepadanya penuh selidik, agaknya mengingat-ingat di mana ia pernah melihat pemuda ini dan kapan ia mendengar akan seorang jago muda yang buntung kakinya. Setelah merasa yakin bahwa dia belum pernah mendengar tentang seorang tokoh kang-ouw muda yang buntung kakinya, ia lalu berkata.

“Ternyata engkau memiliki kepandaian. Orang muda, marilah engkau ikut bersamaku menghadap atasanku. Guruku adalah seorang pembesar di istana, seorang panglima pengawal. Kalau engkau setelah diuji ternyata memiliki ilmu kepandaian yang tinggi, engkau tentu akan mendapat kedudukan yang tinggi pula.”

Han Han mengerutkan alisnya dan wanita itu diam-diam amat tertarik. Wajah pemuda buntung ini tampan dan gagah sekali. Jantung wanita ini mulai tergetar.

“Toanio, harap kau jangan menggangguku. Aku tidak mempunyai urusan dengan toanio, dengan guru toanio atau dengan siapa pun juga. Harap membiarkan aku mengambil jalanku sendiri dan kita tidak saling mengganggu.”

“Orang muda, agaknya karena engkau belum tahu siapa aku, dan belum tahu pula siapa guruku maka engkau memandang rendah dan tidak menaruh perhatian. Ketahuilah bahwa aku adalah Hiat-ciang Sian-li Ma Su Nio, dan kalau engkau masih belum mengenalku, guruku adalah Hwi-yang Sin-ciang Gak-locianpwe!” Sebagai murid Gak Liat tentu saja Ma Su Nio tidak mau menyebut nama poyokan gurunya, yaitu Kang-thouw-kwi atau Setan Botak!

Mendengar disebutnya Gak Liat, Han Han tercengang. Tanpa disadari ia mengangkat muka memandang wanita itu. Tentu saja ia sudah tahu bahwa Gak Liat Si Setan Botak itu menjadi seorang panglima pengawal Kerajaan Mancu, akan tetapi ia tidak menyangka bahwa wanita yang agaknya dipanggil oleh empat orang brewok ini adalah murid Si Setan Botak.

Melihat pemuda buntung itu akhirnya mengangkat muka memandangnya penuh perhatian, Ma Su Nio tersenyum dengan bangga, akan tetapi senyumnya membeku di mulut ketika pandang matanya bertemu dengan pandang mata Han Han yang demikian aneh dan tajam menusuk menembus ke jantung menjenguk hati! Pandang mata itu begitu aneh dan seperti bukan pandang mata manusia!

Tiba-tiba Ma Su Nio menjerit karena entah bagaimana caranya ia tidak dapat mengikuti dengan pandang mata saking cepatnya, tahu-tahu pundaknya sudah dicengkeram oleh pemuda buntung itu yang bertanya dengan suara yang membuat bulu tengkuknya berdiri.

“Hayo katakan apa yang terjadi dengan seorang gadis bernama Lulu yang diculik oleh Ouwyang Seng!”

Ma Su Nio berusaha meronta untuk meloloskan diri dari cengkeraman, akan tetapi betapa kagetnya ketika ia merasa bahwa tenaganya lenyap dan sama sekali ia tidak mampu melepaskan pundaknya. Ia menjadi marah dan tangan kanannya menghantam ke depan. Tangan itu sudah berubah merah karena wanita ini telah menyalurkan sinkang-nya sehingga tangannya berubah menjadi tangan beracun Hiat-ciang (Tangan Berdarah)!

Pukulan Hiat-ciang dari Ma Su Nio amat berbahaya dan jarang ada orang mampu melawannya. Juga amat cepat seperti kilat menyambar, padahal tubuh Han Han begitu dekat di depannya. Akan tetapi mata Ma Su Nio berkunang ketika tubuh pemuda buntung itu berkelebat dan pukulannya mengenai angin, sedangkan tubuh pemuda itu telah berpindah ke belakangnya, namun tangan yang mencengkeram pundaknya masih berada di pundak. Sebelum Ma Su Nio dapat bergerak, tiba-tiba tubuhnya terjungkal dan ia jatuh miring karena didorong oleh Han Han dengan tenaga yang tak tertahankan lagi! Ma Su Nio baru saja berkedip, tahu-tahu dadanya telah ditodong oleh ujung tongkat sehingga ia tidak berani bergerak, maklum bahwa nyawanya berada di ujung tongkat itu.

“Hayo katakan, di mana Lulu?”

Ma Su Nio sudah mendengar akan gadis Mancu yang ditawan Ouwyang Seng dan yang kemudian melarikan dari istana di mana ia dijadikan pelayan istana. Kini seperti terbuka matanya. Pemuda inilah yang disebut Sie Han, pemuda aneh yang pernah menggegerkan istana! Akan tetapi menurut pendengarannya, pemuda ini tidaklah buntung kakinya. Dalam keheranan dan kebingungannya, Ma Su Nio menjawab gagap.

“Aku... aku tidak... tidak tahu...!”

Han Han menghela napas, mengeraskan hati dan menyentuh kulit dada wanita itu dengan ujung tongkat. Pada saat itu empat orang brewok sudah datang menyerang dengan golok mereka dari belakang. Han Han masih menodong Ma Su Nio dan tanpa menoleh ia menggerakkan tangan kirinya ke belakang.

Terdengar suara hiruk-pikuk, empat buah golok terlepas dari tangan mereka dan tubuh empat orang itu terjengkang roboh. Kiranya tangan kiri yang lihai dari Han Han telah menyambut terjangan mereka dengan totokan-totokan pada pergelangan tangan mereka dan sekaligus mendorong mereka dengan hawa sinkang yang amat dahsyat!

“Lekas katakan!” Han Han mengancam lagi.

Ma Su Nio tak dapat mempercayai matanya sendiri. Dalam segebrakan saja pemuda buntung ini sudah merobohkannya dan membuatnya tidak berdaya, bahkan tanpa menoleh, entah dengan ilmu apa, telah merobohkan empat orang pembantunya yang tak dapat digolongkan orang lemah! Ia bergidik dan tengkuknya terasa dingin saking ngeri dan takutnya. Baru pertama kali ini selama hidupnya Ma Su Nio merasa ngeri dan takut. Pemuda buntung yang menodongnya ini bukan manusia, melainkan iblis sendiri!

“Dia... dia menjadi pelayan istana...”

Tongkat itu ditarik kembali dan Han Han tertawa. Kembali Ma Su Nio bergidik. Pemuda itu tertawa terbahak seperti orang yang merasa lucu. Dan memang Han Han merasa amat geli hatinya. Tadi ia merasa yakin bahwa sebagai murid Gak Liat, tentu wanita ini tahu apa yang terjadi dengan Lulu. Keyakinannya terbukti dengan pengakuan wanita itu, akan tetapi mendengar betapa Lulu, adiknya itu menjadi pelayan istana, ia dapat membayangkan betapa akan lucunya, betapa akan gegernya istana kalau mempunyai seorang pelayan seperti adiknya. Tentu kaisar sendiri akan menjadi pening kepalanya! Maka ia tertawa saking geli hatinya, kemudian membalikkan tubuhnya dan pergi dari situ.

“Tangkap dia! Bunuh...!”

Hiat-ciang Sian-li Ma Su Nio sudah mendapatkan kembali keberaniannya. Terdorong oleh rasa malu, penasaran dan marah ia lalu memerintahkan pasukan terdiri dari dua puluh empat orang itu, dibantu oleh empat orang brewok yang sudah bangun kembali, untuk mengejar dan menyerang Han Han. Akan tetapi, tiba-tiba Hiat-ciang Sian-li Ma Su Nio yang mengejar paling depan karena gerakannya jauh lebih cepat dari pada para pembantunya terbelalak, mukanya pucat lalu seperti orang bingung memandang ke kanan kiri, mencari-cari. Dia tadi melihat tubuh pemuda buntung itu mencelat tinggi ke atas puncak pohon, lalu kelihatan bayangan putih itu mencelat-celat ke sana-sini dan lenyap!

“Ke mana dia, Sian-li? Di mana...?” Empat orang brewok itu telah datang dan mencari-cari.

Dengan hati sebal Ma Su Nio mengibaskan tangannya dan menghela napas. “Sudahlah, mari kita kembali!”

Pasukan Mancu saling berbisik dan mereka ini setibanya di markas lalu menceritakan pertemuan mereka dengan Pendekar Buntung Super Sakti! Makin terkenallah sebutan Pendekar Super Sakti yang juga disebut Pendekar Siluman sebab mereka menganggap pemuda buntung itu seperti siluman.

Sementara itu, Han Han yang sudah berhasil melarikan diri dari pasukan itu karena ia pun hanya menghendaki keterangan tentang Lulu, melanjutkan perjalanannya, seperti biasa, menyusuri Sungai Fen-ho menuju ke utara. Ketika ia tiba di luar kota Tai-goan, tiba-tiba ia mendengar suara orang.

“Taihiap, harap suka menunggu...!”

Han Han mengerutkan alisnya dan menengok. Ketika melihat dua orang berlari-lari cepat, ia membalikkan tubuhnya karena ia mengenal dua orang gagah yang ia lihat di restoran tadi. Mereka itu agaknya berlari cepat dan napas mereka agak terengah-engah namun wajah mereka berseri gembira.

“Untung kami dapat menyusul taihiap...,” kata yang tua dan mereka berdua serta-merta menjatuhkan diri berlutut di depan Han Han.

Pemuda buntung ini mengerutkan alisnya makin dalam dan berkata, suaranya penuh wibawa. “Tidak baik begini, harap ji-wi suka bangun!”

Dua orang itu lalu bangkit berdiri dan memandang kepada Han Han penuh kekaguman dan penghormatan. “Mohon maaf dari taihiap bahwa kami berdua mempunyai mata akan tetapi seperti buta saja tidak melihat Gunung Thai-san menjulang di depan mata! Semenjak taihiap keluar dari restoran, kami berdua melihat betapa anjing-anjing penjilat itu memberi tahu kepada pasukan musuh. Kami berusaha memberi tahu taihiap akan dihadang, akan tetapi... ah, sungguh kami harus merasa malu. Bagaimana kami akan memperingatkan taihiap, kiranya mereka itu sekawanan tikus menghadapi kucing ketika bertemu taihiap. Hebat sekali...! Padahal iblis betina itu adalah Hiat-ciang Sian-li yang lihainya luar biasa...!”

“Dalam segebrakan saja roboh...!” Yang muda berseru, memandang Han Han dengan kagum.

Han Han mengerti dua orang ini tadi telah menyaksikan pertemuannya dengan pasukan Mancu, maka ia lalu berkata, “Hendaknya ji-wi tidak melebih-lebihkan hal itu. Kini ji-wi mengejar saya ada keperluan apakah?”

“Taihiap, saya bernama Ciang Boan dan dia ini adalah So Pek Kun. Kami adalah dua orang utusan dari Bu-ongya untuk menyelidiki daerah ini. Melihat kesaktian taihiap, kami segera melakukan pengejaran. Kini kami mohon sudilah kiranya taihiap membantu perjuangan Bu-ongya melawan penjajah...”

“Hemmm, ji-wi Enghiong. Terima kasih atas kepercayaan ji-wi, namun sesungguhnya saya tidak mau terlibat dalam perang yang tiada habisnya itu. Saya mempunyai banyak sekali urusan pribadi yang harus saya selesaikan.”

“Taihiap, urusan apakah yang taihiap hadapi? Kami mempunyai banyak sekali sahabat kaum pejuang di semua daerah, dan kalau kami dapat membantu...”

“Apakah ji-wi pernah mendengar akan seorang wanita bernama Lulu? Dia adalah Adikku dan saya ingin mencarinya. Dia dulu diculik oleh Ouwyang Seng dan kabarnya Adikku itu berada di istana...”

“Ouwyang Seng putera Pangeran Ouwyang Cin Kok? Wah, ini hebat! Akan tetapi, sungguh pun kami tidak pernah mendengar tentang Adik taihiap, yang bergerak di daerah kota raja adalah sahabat-sahabat yang dipimpin oleh Lauw-pangcu. Kalau taihiap bertanya kepadanya tentu akan ada yang tahu. Taihiap, saat ini seluruh orang gagah telah berkumpul di Se-cuan dan kami siap untuk sewaktu-waktu menghadapi penyerangan orang Mancu. Kami harap sudilah taihiap ikut mencurahkan tenaga taihiap yang amat lihai untuk membela nusa bangsa, dan kami percaya bahwa taihiap memiliki jiwa patriot.”

Han Han tidak mau berbantah lebih banyak lagi tentang hal itu, maka ia menghela napas dan berkata, “Saya tidak berani berjanji terlalu banyak, ji-wi Enghiong. Saya hendak mencari Adikku, kalau sudah bertemu barulah saya akan memikirkan tawaran ji-wi. Kalau memang kelak aku setuju, agaknya tidak akan sukar untuk pergi ke Se-cuan. Nah, selamat tinggal!” Han Han tidak menanti bantahan mereka. Tubuhnya mencelat ke belakang, kemudian dua orang gagah itu melihat bayangan putih berkali-kali mencelat makin jauh dan lenyap dari pandangan mata mereka.

Kedua orang itu menjadi pucat wajahnya, saling pandang kemudian menarik napas panjang. “Manusiakah dia?” Yang muda menggumam.

“Entahlah, akan tetapi sungguh sukar dipercaya seorang buntung bisa bergerak seperti itu!”

Keduanya pergi dan makin banyaklah orang yang bercerita tentang kehebatan sepak terjang Pendekar Super Sakti!

Han Han tidak singgah di kota Tai-goan, melainkan terus keluar dari kota itu melalui pintu kota sebelah timur untuk melanjutkan perjalanannya ke kota raja melalui Pegunungan Tai-hang-san. Ketika beberapa hari kemudian ia tiba di lereng Pegunungan Tai-hang-san, ia merasa kagum akan keindahan pemandangan alam di pegunungan ini, akan penghidupan para petani pegunungan yang aman, damai dan tenteram.

Han Han ikut menjadi gembira melihat para petani yang biar pun pakaiannya sederhana, robek-robek dan kotor terkena lumpur, bekerja di sawah sambil menyanyi-nyanyi, wajah mereka berseri gembira, tubuh mereka sehat kuat. Ia kagum sekali dan terkenanglah ia akan filsafat yang pernah dibacanya bahwa ‘kemajuan duniawi’ bahkan menjauhkan manusia dari pada kebahagiaan hidup.

Lihat saja di kota-kota besar. Di kota manusia mengadakan pelbagai kesenangan, makanan enak, pakaian indah, perhiasan, tontonan dan sebagainya yang dianggap sebagai kemajuan yang akan menyenangkan hidup manusia. Akan tetapi makin banyak diciptakan hiburan-hiburan dan kemewahan, bukan kebahagiaan yang didapat, bahkan sebaliknya.

Manusia yang bisa mendapatkan segala kemewahan itu hanya akan menikmatinya sebentar saja lalu menjadi bosan, sebaliknya betapa banyaknya yang karena tidak bisa mendapatkannya, merasa berduka dan menganggap hidupnya sengsara. Yang tidak bisa membeli pakaian indah dan perhiasan mewah, melihat mereka yang memakai segala kemewahan itu menjadi iri hati dan kepingin sekali, maka timbullah perbuatan-perbuatan maksiat, didorong oleh keinginan hendak memiliki benda-benda yang diinginkan.

Akan tetapi, di dusun yang sunyi ini, tidak nampak kemajuan duniawi, tidak nampak kesenangan-kesenangan yang aneh-aneh dan karenanya, tidak ada seorang pun yang kepingin dan tidak ada seorang pun yang merasa sengsara. Mereka tidak mabuk pengejaran kesenangan dan kemewahan, mereka tidak butuh akan itu, dan karenanya mereka pun tidak kekurangan sesuatu!

Boleh jadi para petani pegunungan ini miskin akan harta benda dan kesenangan duniawi yang sekelumit itu, namun tanpa disadari telah menemukan kebahagiaan sejati yang memang akan menonjol apa bila manusia menipis keinginannya untuk mengejar kesenangan.

Kesenangan adalah bayangan yang menyesatkan, makin dikejar makin membuat pengejarnya tersesat jauh sehingga tidak dapat menemukan kebahagiaan yang sudah ada pada dirinya sendiri. Lupa bahwa kesenangan itu bergandengan tangan dengan kesusahan. Bahkan merupakan satu badan dengan dua muka, yaitu yang sebelah kesenangan yang sebelah lagi kesusahan. Maka sudah menjadi kepastian bahwa siapa mencari kesenangan, dia berarti mencari pula kesusahan, karena yang merangkul kesenangan berarti menggandeng kesusahan pula
.

Karena tertarik dan kagum, Han Han beristirahat di bawah pohon dekat sawah, melihat seorang petani tua yang sedang mencangkul sawahnya. Petani tua itu memandang ke arah Han Han, menggeleng-geleng kepala penuh kasihan melihat pemuda yang berkaki buntung itu, lalu melanjutkan pekerjaannya.

“Lopek, maaf kalau aku mengganggu pekerjaanmu. Penduduk di sini kelihatan sehat dan gembira sekali, alangkah jauh bedanya dengan penduduk kota Tai-goan yang saya lalui beberapa hari yang lalu.”

Kakek itu menunda cangkulnya, menoleh dan tersenyum. “Habis, kalau tidak gembira, apa yang disusahkan? Bekerja setiap hari mendatangkan kesehatan. Dan berkat kesucian para nikouw yang bersembahyang untuk kami di Kwan-im-bio di dusun kami, Kwan Im Pouwsat memberi berkah sehingga hasil sawah kami selalu baik. Memang benar, semenjak Thian Sim Nikouw dan para muridnya membangun kuil Kwan-im-bio di dusun kami, penghidupan kami lebih tenteram. Sawah ladang subur, kalau ada yang sakit para nikouw cepat turun tangan mengobati, dan petuah-petuah yang berharga dari para nikouw mengusir semua kemaksiatan di dusun-dusun.”

Han Han tertarik dan makin kagum. Di mana ada penghidupan yang demikian tenang dan damai?

“Selain itu, juga tidak ada orang jahat berani mengganggu pedusunan di sekitar Tai-hang-san, berkat perlindungan para nikouw Kwan-im-bio yang sakti!”

Han Han makin kagum. Dia menoleh ke arah sebuah dusun yang ditunjuk oleh kakek itu, dan karena hari sudah menjelang senja, ia mengambil keputusan untuk singgah dan melewatkan malam di dusun itu. Ia lalu berpamit dan melanjutkan perjalanannya menuju ke dusun yang berada di sebuah lereng di kaki Pegunungan Tai-hang-san.

Ketika tiba di luar dusun, ia mendengar derap kaki kuda dan seekor kuda yang ditunggangi seorang laki-laki bertubuh tinggi besar, dengan sebatang golok tergantung di punggung, melewatinya dan meninggalkan debu yang mengotori pakaian Han Han. Pemuda ini mengebut-ngebutkan pakaiannya dan mengerutkan alisnya. Jelas bahwa orang tadi yang kini bersama kudanya memasuki dusun di depan bukanlah petani dusun, dan melihat sinar kejam membayang di wajah itu, diam-diam Han Han merasa khawatir.

Akan tetapi dengan tenang ia melanjutkan perjalanannya, melangkah dengan satu kaki dengan ringan dan mudah, akan tetapi apa bila bertemu orang ia lalu menggunakan tongkatnya membantu sehingga tidak menimbulkan curiga dan keheranan. Kalau ia menggunakan ilmunya, bergerak dengan langkah satu kaki seperti yang ia latih di bawah pimpinan gurunya, tentu ia akan mendatangkan keheranan kepada mereka yang melihatnya.

Di pinggir dusun itu tampak sebuah bangunan tembok yang dari jauh pun dapat diduga tentu sebuah kuil. Temboknya setinggi dua meter dan tebal, dan di pintu depan tampak tulisan tangan di atas papan, tulisan yang bergaya indah: KWAN IM BIO. Tentu saja Han Han tidak berani melihat-lihat karena maklum bahwa kuil itu adalah kuil yang dihuni para nikouw (pendeta wanita). Akan tetapi ia melihat kuda ditambatkan di pohon tak jauh dari kuil itu dan penunggangnya tidak kelihatan batang hidungnya. Han Han menjadi curiga dan ia menyelinap di belakang pohon mengintai.

Tiba-tiba tampak berkelebat bayangan orang yang gerakannya cukup gesit dan tampaklah si penunggang kuda tadi, agaknya baru turun dari pagar tembok dan wajah yang kasar dan kejam itu menyeringai, matanya bersinar-sinar. Orang itu berlari menghampiri kudanya, melepaskan tambatan kuda, meloncat dengan sigap dan melarikan kudanya memasuki dusun yang kelihatannya cukup besar dengan rumah-rumah yang cukup baik keadaannya.

Sikap dan gerak-gerik penunggang kuda itu menjadi alasan yang cukup kuat bagi Han Han untuk memperhatikan keadaan kuil. Timbul kecurigaannya dan keinginannya untuk menyelidiki, maka setelah melihat bahwa di luar tidak ada orang, tubuhnya sudah mencelat naik dan di lain saat ia telah berada di sebelah dalam pagar tembok, menyelinap dan bersembunyi di balik semak-semak pohon kembang yang tumbuh di sudut kebun. Kebun itu luas dan ternyata bahwa kuil itu sendiri tidaklah begitu besar. Agaknya para nikouw mengerjakan kebun itu, ditanami pohon-pohon buah dan bahan makanan lain.

Selagi Han Han hendak keluar dari tempat persembunyiannya dan mengintai ke dalam kuil melalui pintu atau jendela belakang karena kebun itu sunyi saja, tiba-tiba ia mendengar suara dan melihat empat orang nikouw keluar dari pintu belakang. Ia cepat menyelinap lagi, bersembunyi.

Di dalam cuaca yang mulai suram karena matahari sudah tenggelam di barat, Han Han melihat seorang nikouw tua yang berwajah alim memegang sebatang tongkat bersama tiga orang nikouw yang bersikap halus. Seorang di antara tiga nikouw ini sudah setengah tua, yang seorang lagi paling banyak berusia tiga puluh tahun, berwajah cantik dan berkulit putih. Akan tetapi ketika Han Han melihat nikouw ke tiga, jantungnya berdebar. Nikouw ini masih amat muda dan wajahnya cantik jelita. Kepalanya yang gundul itu berkulit putih dan licin seolah-olah memang tidak pernah berambut, bibirnya segar merah seperti dicat di tengah kulit muka yang putih halus.

“Ah, agaknya engkau hanya melihat bayangan burung terbang,” kata nikouw tua dengan lemah lembut.

“Tidak, subo. Teecu yakin ada orang berkelebat meninggalkan kebun ini tadi. Biar teecu periksa sebentar!”

Suara itu! Wajah dan terutama mata dan bibir itu! Dan kini gerakan tubuh nikouw muda yang gesit dan ringan sekali, berloncatan ke sana ke mari dengan sinar mata tajam mencari-cari. Tidak salah lagi! Ia mengenal nikouw ini, nikouw yang ia duga sedang mencari bayangan si penunggang kuda yang agaknya mengintai ke kuil dari kebun ini!

“Kim Cu...!”

Han Han tak dapat menahan lagi hatinya. Sambil melompat keluar dari balik semak-semak ia menghampiri Kim Cu yang berdiri dengan mata terbelalak dan muka pucat memandang kepadanya, seolah-olah nikouw muda ini melihat munculnya setan!

“Omitohud...!” Nikouw tua berseru perlahan, juga dua orang nikouw lain mengeluarkan seruan kaget melihat munculnya seorang pemuda berkaki buntung yang berwajah tampan dan berambut riap-riapan.

“Kim Cu...!” Kembali Han Han berseru dengan suara menggetar. “Ini aku... Han Han...!”

Nikouw muda ini mukanya menjadi seperti muka mayat, mulutnya yang tadinya merah itu menjadi pucat pula, terbuka sedikit dan matanya terbelalak memandang wajah Han Han, hidungnya kembang-kempis, dadanya turun naik.

“Kim Cu, lupakah engkau kepadaku...?” Han Han melangkah mendekat dan memegang pundak nikouw itu, suaranya makin menggetar dan wajahnya juga agak pucat, matanya bersinar tajam penuh selidik.

“Tidak...!” Tiba-tiba bibir itu mengeluarkan suara yang menggetar bunyinya, dengan bibir menggigil. “Tidak... jangan sentuh aku... ahhh, aku... bukan... bukan dia... aku... seorang nikouw...!”

Nikouw muda itu membuang muka yang ditundukkan, tangannya dengan halus merenggut tangan Han Han dari pundaknya, tangan yang dingin menggigil seperti seekor burung ketakutan.

“Kim Cu...,” Han Han menahan suaranya yang terisak ketika ia melihat wajah nikouw yang ditundukkan itu menitikkan dua butir air mata dari mata yang kini dipejamkan dan mulut yang kini berbisik-bisik membaca liam-keng!

“Orang muda, perbuatanmu ini tidak patut! Engkau hendak menodai kesucian seorang nikouw dan mengotorkan Kwan-im-bio?” Suara itu halus, akan tetapi penuh teguran.

Han Han sadar dan cepat memandang nikouw tua itu. Nikouw itu berdiri tegak, kening berkerut dan sepasang mata yang halus amat berwibawa. Dua orang nikouw lain berdiri menunduk, merangkap kedua tangan di dada dan mulutnya berkemak-kemik, seperti mulut nikouw muda itu, membaca doa!

“Maaf..., maaf...” Han Han merasa seperti terpukul, meloncat ke belakang dan tubuhnya mencelat ke atas pagar tembok. Dari atas pagar itu menoleh lagi kepada nikouw muda yang masih menunduk dan meruntuhkan air mata sambil berkemak-kemik berdoa mohon kekuatan batin kepada Kwan Im Pouwsat.

“Ohhh... Kim Cu...!” Suara Han Han mengandung isak dan tubuhnya berkelebat lenyap dari atas tembok.

Tubuh nikouw muda itu terhuyung kemudian terguling roboh! Pingsan! Sibuklah dua orang nikouw yang lain mengangkatnya dan nikouw tua berulang kali menghela napas dan menyuruh bawa tubuh nikouw muda yang pingsan itu ke dalam kamarnya, kemudian menyuruh dua orang muridnya itu keluar dari kamar.

Nikouw muda itu memang Kim Cu. Telah diketahui bahwa setelah kuil di mana nikouw tua itu tinggal kebanjiran, Thian Sim Nikouw mengajak murid-muridnya yang pada waktu itu telah menjadi sepuluh orang untuk mengungsi dan akhirnya menetap di lereng Pegunungan Tai-hang-san mendirikan sebuah kuil sederhana. Selama itu, Kim Cu yang telah memakai nama Kim Sim Nikouw, hidup tenteram dan damai, bahkan kalau tidak ada gangguan bayangan Han Han tentu dia telah mencapai kebahagiaan seperti yang telah dicapai Thian Sim Nikouw dan murid-muridnya.

Pertemuan tiba-tiba dengan Han Han yang dianggapnya sudah mati itu menimbulkan gelombang dahsyat dalam hati Kim Sim Nikouw, merupakan pukulan batin yang amat hebat sehingga ia roboh pingsan. Luka di hatinya yang tadinya sudah mulai sembuh dan mengering, kini seperti dirobek-robek dan mengucurkan darah.

“Han Han...” Bisikan ini keluar dari bibir Kim Sim Nikouw yang bergerak perlahan, lalu bangkit duduk, pandang matanya kosong sehingga ia tidak melihat bahwa gurunya duduk di situ. Ia menoleh ke kanan kiri, kembali memanggil lirih, “Han Han...”

“Omitohud, sadarlah dan kuatkan hatimu, Kim Sim...”

“Han Han...!” Kini panggilan itu merupakan jerit yang langsung keluar dari hatinya.

“Muridku, sadarlah!” Kembali nikouw tua itu berkata halus.

Kim Sim Nikouw menoleh dan... sambil menjerit ia menubruk gurunya, lalu berlutut dan menangis tersedu-sedu di pangkuan gurunya. “Subo... ampunkan teecu... ahhh, teecu yang lemah berdosa besar...!”

“Menangislah, muridku, menangislah. Pouwsat selalu menaruh kasihan dan memaafkan orang lemah yang sadar akan kelemahannya....” Nikouw itu memeluk muridnya dan membiarkan nikouw muda itu menangis di dadanya.

Dia sendiri tergetar hatinya dan tersentuh perasaan harunya, namun bagaikan air telaga yang sudah tenang, keriput air yang sedikit itu sebentar saja lenyap. Dia sengaja membiarkan muridnya menangis, oleh karena ia tahu bahwa tekanan batin yang hebat itu akan amat berbahaya bagi kesehatannya kalau tidak diberi saluran keluar. Dan saluran terbaik pada saat itu hanyalah membiarkannya menangis sepuasnya.

Kim Cu menangis sesenggukan sampai tubuhnya berguncang-guncang, air matanya membanjir bagaikan air bah menjebol bendungannya, hatinya menjerit-jerit keluar dari tenggorokannya sebagai keluh dan rintih melengking. Setelah dadanya tidak terlalu terhimpit lagi ia berkata, suaranya serak dan terputus.

“Aduh, Subo.... Apakah yang harus teecu lakukan...? Bagaimana teecu... ini..., Subo... tunjukkanlah jalan... bagi teecu....”

Thian Sim Nikouw tersenyum. “Omitohud... puji syukur kepada Kwan Im Pouwsat yang penuh welas asih...! Tanyalah kepada hati sanubarimu sendiri, anakku. Pinni tidak akan memaksamu, tidak akan menghalangimu. Engkau ambillah keputusan sendiri, Kim Sim Nikouw!”

“Subo... tolonglah teecu... teecu bimbang... teecu bingung. Kemunculan Han Han bagaikan sambaran petir mengenai kepala teecu, gelap semua... tolonglah Subo memberi jalan, memberi petunjuk kepada teecu.”

“Baikiah, tenangkan dan sabarlah hatimu. Mari kita bersemedhi sebentar... pinni akan membantumu memperoleh ketenangan dan kesabaran. Karena hanya hati yang tenang penuh kesabaran sajalah yang akan mampu menggunakan pikiran dan pertimbangan bersih dan tepat.”

Kim Sim Nikouw melepaskan pelukannya lalu duduk bersila di atas tanah. Sebagai seorang ahli silat tinggi, bekas murid orang-orang sakti seperti Ma-bin Lo-mo dan Toat-beng Cui-sian-li, tentu saja semedhi merupakan hal yang sudah biasa ia lakukan. Akan tetapi dalam keadaan batin tertekan seperti itu, kalau tidak dibantu Thian Sim Nikouw, tak mungkin dia dapat mengheningkan ciptanya.

Tak lama kemudian terasalah olehnya getaran yang halus memasuki dirinya dan ia tahu bahwa gurunya yang biar pun tidak pandai ilmu silat akan tetapi dalam soal kebatinan jauh lebih tinggi tingkatnya dari pada Toat-beng Ciu-sian-li, telah membantunya. Sebentar saja Kim Sim Nikouw dapat mengheningkan cipta dan setelah mereka menghentikan semedhi, Kim Sim Nikouw sudah dapat tenang, sungguh pun pikirannya masih tertekan dan bayangan Han Han masih belum mau lenyap dari depan matanya.

“Muridku, pinni akan berusaha membantumu memberi petunjuk. Akan tetapi, pinni tidak sekali-kali hendak mempengaruhimu, karena hal ini menyangkut jalan hidupmu sendiri. Kalau pinni memaksanya, yaitu memaksakan kehendak hati pinni, hal itu berarti pinni menyalahi hukum yang sudah ditentukan dalam hidup manusia. Nah, pinni mulai dengan pertanyaan yang hendaknya kau jawab sejujur-jujurnya.”

“Baiklah, Subo.”

“Apakah engkau mencinta Han Han?”

“Teecu mencintanya, Subo. Dahulu, Han Han adalah satu-satunya orang yang teecu cinta. Dan sekarang pun, hati teecu masih rindu kepadanya, rindu akan cintanya, sungguh pun perasaan itu hanya merupakan lamunan belaka karena sesungguhnya, setelah mempelajari dan melatih pelajaran dari Subo untuk mengubah cinta kasih perorangan menjadi cinta kasih alam semesta, mencinta setiap manusia, bahkan setiap makhluk, dunia dan isinya, teecu menjadi ragu-ragu apakah cinta kasih teecu masih sekuat dulu terhadap Han Han.”
Nikouw tua itu mengangguk-angguk, kelihatannya lega mendengar ini. Akan tetapi ia masih belum yakin benar, maka tanyanya kembali, “Apakah engkau masih mempunyai keinginan untuk menyerahkan tubuhmu kepadanya, ingin melakukan hubungan badani dengan dia? Apakah engkau masih ingin untuk menjadi isterinya dan kemudian melahirkan anak-anak keturunannya?”

Kim Sim Nikouw menundukkan mukanya yang menjadi merah, berpikir sampai lama menjenguk hati dan pikiran sendiri agar dapat memberi jawaban sejujurnya karena dia maklum bahwa gurunya berusaha keras untuk menolongnya dan hanya gurunya inilah yang akan dapat menunjukkan jalan yang tepat baginya. Kemudian ia mengangkat muka, memandang gurunya dengan sinar mata tulus dan berkata.

“Subo tentu maksudkan apakah teecu masih mengandung nafsu birahi terhadap dia? Kalau benar demikian pertanyaan Subo, maka jawaban teecu adalah tidak! Berkat bimbingan Subo, teecu telah dapat menguasai dan mengendalikan nafsu birahi. Tidak, Subo, cinta teccu terhadap Han Han bukanlah cinta agar menjadi isterinya dan agar teecu menjadi ibu anak-anaknya.”

“Omitohud... syukurlah, engkau telah dapat membebaskan diri dari ikatan yang amat kuat. Dan kalau begitu, maka sebaiknya, bagimu sendiri dan bagi dia pula, engkau harus memutuskan hubunganmu dengan dia. Akan tetapi, harus engkau sendiri yang mengatakan kepadanya, karena kalau demikian barulah ia akan yakin, dan hal ini pun merupakan ujian terakhir bagimu. Yang kau nyatakan tadi hanyalah ucapan yang dapat dipengaruhi oleh pertimbangan, akan tetapi kalau engkau berhadapan sendiri dengan dia dan perasaanmu pun menguasaimu, nah, dalam keadaan seperti itulah maka pernyataanmu akan merupakan keputusan.”

“Maaf, Subo. Betapa beratnya kalau harus teecu sendiri yang mengatakannya. Tadinya pun teecu sudah menganggap dia mati. Begitu dia muncul dengan tiba-tiba, melihat raut wajahnya yang penuh bayangan duka, melihat kakinya yang buntung... ah, rela rasanya teecu mengorbankan apa pun juga demi untuk membahagiakan dia!”

“Kemukakanlah kesemuanya ini kepadanya, muridku. Dan jika engkau berhadapan dengan dia, sebutlah nama Kwan Im Pouwsat di hatimu, mohon kekuatan. Pinni hanya dapat mengatakan bahwa kalau engkau berhasil memutuskan hubungan dengan dia, maka engkau akan dapat berbuat lebih banyak dari pada kalau engkau melanjutkan ikatan itu. Engkau akan menderita karena setelah menjadi isterinya, engkau akan selalu teringat akan keadaanmu yang murni di sini, engkau akan disiksa oleh perasaan berdosa dan dengan demikian engkau akan menyeret pula dia ke dalam kesengsaraan. Pinni yakin akan hal ini karena engkau telah mencapai tingkat setinggi itu di mana kasih sayang alam semesta telah menyerap dan berakar di hati sanubarimu. Demikianlah, muridku. Kini beristirahatlah dan besok engkau boleh menjumpainya.” Setelah berkata demikian, nikouw tua itu meninggalkan Kim Sim Nikouw dan memasuki kamarnya sendiri.

Kim Sim Nikouw naik ke pembaringannya, berbaring dan berusaha untuk tidur. Akan tetapi ia gelisah, miring ke kanan, kembali ke kiri, terlentang, tertelungkup dan akhirnya ia bangun duduk bersila dan bersemedhi lagi! Setelah bersemedhi, barulah ia dapat tenang dan dalam keadaan hening ini ia dapat menenteramkan hati dan pikirannya, lalu ia terus melatih diri mengumpulkan hawa murni di tubuhnya.

Menjelang tengah malam, tiba-tiba dia terkejut. Ia mendengar suara kaki di genteng. Tentu Han Han, pikirnya dengan jantung berdebar. Biarlah ia bersemedhi terus, karena menghadapi Han Han, dalam keadaan seperti ini ia akan merasa lebih kuat batinnya. Ia harus memutuskan hubungan mereka, harus mematahkan ikatan di antara mereka. Ia harus menolaknya, betapa pun hal ini menyakitkan!

Akan tetapi sampai lama, ia tidak mendengar gerakan lagi. Tiba-tiba ia mendengar suara rintihan perlahan di kamar seperti rintihan orang tercekik atau terbungkam mulutnya, kemudian diam! Hatinya menjadi curiga dan kembalilah wataknya sebagai Kim Cu murid In-kok-san!

Sekali mencelat, tubuhnya sudah melayang ke luar dari jendela dan menerobos memasuki jendela Pui Sim Nikouw, yaitu suci-nya yang berusia tiga puluh tahun, yang cantik dan berkulit putih. Dan apa yang dilihatnya dalam kamar yang hanya diterangi sebatang lilin itu membuat ia hampir mengeluarkan makian saking marahnya! Ia melihat tubuh suci-nya itu telanjang bulat, pakaian nikouw telah robek-robek semua di kanan kiri tubuhnya yang putih mulus. Suci-nya dalam keadaan tertotok, air matanya bercucuran dan seorang laki-laki tinggi besar sambil menyeringai meraba-raba dada suci-nya dan menciumi bibirnya.

“Manusia jahat!” Kim Sim Nikouw masih dapat menahan makian yang lebih kotor, dan ia meloncat ke dekat pembaringan.

Laki-laki itu meloncat turun dan menyeringai lebar. “Ha-ha-ha, engkaulah yang kucari sebetulnya. Engkau paling muda dan paling cantik! Dan engkau... heh-heh, engkau masih perawan. Siang tadi kulihat engkau, akan tetapi aku salah masuk. Betapa pun juga, dia ini boleh juga!”

“Pergilah!” Kim Sim Nikouw mengayun kakinya dan tubuh laki-laki itu terlempar ke belakang menabrak dinding. Ia kaget sekali dan cepat merangkak bangun sambil menyambar golok yang tadi ia letakkan di atas meja.

“Ehhh, kiranya engkau pandai silat? Bagus, engkau menyerah atau kupenggal lehermu, kubawa kepalamu yang gundul dan cantik itu untuk hiasan kamarku, ha-ha!”

Golok lelaki itu menyambar, namun sekali Kim Sim Nikouw menggerakkan tangan, laki-laki itu berteriak. Goloknya terlepas, tangannya lumpuh karena pergelangan tangannya patah tercium jari tangan Kim Sim Nikouw yang amat kuat. Kim Sim Nikouw yang sudah marah sekali lalu menubruk maju, kedua tangannya dengan jari terbuka menghantam ke arah dada laki-laki itu.

Pukulan ini sepenuhnya mengandung pukulan Toat-beng-ciang dan sudah dapat dipastikan bahwa laki-laki itu tentu mati. Untung sekali baginya, pada detik terakhir, melihat wajah laki-laki yang ketakutan itu, Kim Sim Nikouw teringat akan sifat welas asih, dan ia menaikkan sasarannya.

“Kekkk-krekkkkk!” Bukan dada lelaki itu yang pecah, melainkan kedua tulang pundaknya yang hancur.

“Aduh tobaaat... aduhhh... aduhhh... ampunkah saya, Siankouw...!” lelaki itu mengaduh-aduh sambil berkelojotan di atas lantai.

“Hemmm!” Kim Sim Nikouw mendengus, lalu cepat menubruk suci-nya, membebaskan totokannya dan menyelimuti tubuhnya yang telanjang bulat.

Nikouw itu menangis, namun dihibur oleh Kim Sim Nikouw, “Syukur kepada Pouwsat bahwa kedatanganku belum terlambat, Suci.” Nikouw itu memeluk Kim Sim Nikouw sambil menangis.

Pintu kamar terbuka dan Thian Sim Nikouw masuk sambil memegang sebatang lilin, diikuti oleh para nikouw karena mendengar suara gaduh dalam kamar itu.

“Apakah yang terjadi di sini?”

“Subo, manusia sesat ini hendak melakukan perbuatan terkutuk,” kata Kim Sim Nikouw.

Nikouw tua itu mengeriing ke arah Pui Sim Nikouw yang berkerudung selimut dan memandang laki-laki yang patah pergelangan lengan kanan dan remuk kedua tulang pundaknya itu.

“Hemmm, ambilkan tempat obat penyambung tulang,” perintahnya kepada seorang murid yang segera memenuhi perintah gurunya.

Setelah keranjang obat itu datang, Thian Sim Nikouw lalu mengobati kedua pundak dan pergelangan tangan laki-laki itu yang terus merintih-rintih dan minta-minta ampun. Setelah selesai membalut, Thian Sim Nikouw lalu berkata, “Kalau mau minta ampun, mintalah ampun kepada Thian dan jadikanlah pengalaman pahit ini sebagai obat untuk menyembuhkan penyakit yang menyerang jiwamu. Nah, pergilah!”

Laki-laki itu menjatuhkan diri berlutut di depan Thian Sim Nikouw, kemudian ia diperbolehkan keluar melalui pintu samping yang dibuka oleh seorang nikouw. Kemudian para nikouw itu kembali memasuki kamar masing-masing. Akan tetapi Kim Sim Nikouw tidak kembali ke kamarnya, melainkan memasuki ruangan liam-keng dan berlutut di depan sebuah arca Buddha yang besar.

Ia bersila, bersemedhi dan mulutnya berkemak-kemik membaca liam-keng. Hatinya gelisah sekali karena tadi ia dikuasai kemarahan, bukan karena melihat suci-nya hendak diperkosa orang, melainkan karena tadinya ia mengira Han Han-lah yang akan berbuat jahat melakukan perkosaan. Ia merasa makin berdosa dan kasihan kepada Han Han, juga merasa betapa sebetulnya ia masih amat lemah.

Dia tadi telah dibakar api cemburu, dan cemburu ini hanyalah menjadi bukti bahwa nafsu birahinya terhadap pemuda itu, yang bergulung menjadi satu dengan cinta kasihnya, sebenarnya masih belum lenyap sama sekali seperti yang ia katakan di depan gurunya. Ternyata Thian Sim Nikouw kembali betul! Dia harus menyatakan semua di depan Han Han dan ia bermohon kepada Buddha agar dia diberi kekuatar dan agar Han Han diberi penerangan suci sehingga pemuda itu akan memudahkan keputusan yang diambilnya ini.

“Kim Cu...!”

Nikouw muda itu terkejut, membuka matanya dan menoleh, ternyata Han Han telah berdiri di belakangnya. Sama sekali ia tidak mendengar gerakan pemuda buntung itu, dan diam-diam Kim Sim Nikouw kagum bukan main. Dahulu, sebelum buntung sekali pun, ia tentu akan dapat mendengar gerakannya. Akan tetapi sekarang, ia sama sekali tidak mendengar apa-apa dan tahu-tahu pemuda itu telah berdiri di situ!

“Omitohud... kenapa engkau berani mengotori tempat suci ini, dan mengapa engkau selalu mengejar-ngejarku?” Kim Sim Nikouw berkata, suaranya halus penuh wibawa, akan tetapi mukanya menunduk karena ia tidak berani bertemu pandang dengan Han Han, yang ia tahu mempunyai sinar mata yang luar biasa tajamnya, dan yang akan mampu menjenguk isi hatinya!

“Aku akan terus mengejar dan mengikutimu, biar sampai dunia kiamat sekali pun, selama engkau belum mau berterus terang karena aku merasa yakin bahwa engkau adalah Kim Cu! Apa kau kira aku tidak dapat mengenal pukulan Toat-beng Sin-ciang yang kau lakukan untuk membikin remuk kedua tulang pundak jai-hwa-cat tadi?”

“Ohhh, jadi engkau tadi melihatnya...? Ya Thian Yang Maha Kasih...! Baiklah... baiklah. Han Han... aku memang Kim Cu... akan tetapi sekarang aku telah menjadi Kim Sim Nikouw... Engkau tidak boleh mendekatiku, maka pergilah kau, Siangkong. Pergilah kau... Han Han... kasihani aku dan pergilah tinggalkan aku...”

“Hemmm... ke manakah perginya kegagahanmu, Kim Cu? Manusia tidak boleh membohongi dirinya sendiri, tidak boleh mengingkari perasaan hatinya sendiri. Ceritakan dulu, mengapa engkau menjadi nikouw dan mengapa engkau mengusirku, baru aku akan mempertimbangkan permintaanmu itu. Setelah semua yang kita alami bersama....!”

“Ya, setelah apa yang kita alami bersama...!” Kim Sim Nikouw berbisik dan ia membalikkan tubuh membelakangi Han Han, lalu jatuh berlutut karena kakinya menggigil, suaranya masih berbisik-bisik namun terdengar jelas oleh Han Han.

“...engkau tidak tahu betapa aku telah menderita hebat... betapa aku sekarang telah menemukan ketenteraman kembali... Ketika engkau menolongku, agar aku tak terkena senjata rahasia Toat-beng Ciu-sian-li, engkau menolongku tanpa menghiraukan keselamatan sendiri... kita berdua jatuh ke dalam jurang yang tak berdasar! Ahhh... betapa senang dan bahagianya hatiku ketika melayang jatuh karena aku yakin bahwa kita akan mati bersama... Mati bersamamu di waktu itu merupakan kebahagiaan yang tak terhingga bagiku...! Akan tetapi, ohhh... hancurlah hatiku ketika ada nelayan menolongku dan aku masih hidup! Aku hidup dan engkau mati! Aduhh, Han Han... tidak ada penderitaan yang lebih hebat dari pada itu, hatiku tersayat-sayat... ohhh...” Nikouw itu menangis terisak-isak.

Han Han tak dapat berkata-kata, hanya memandang gadis itu dengan wajah pucat dan mata basah, perasaannya diserang keharuan yang membuat ia tak dapat bicara, melainkan membayangkan penderitaan batin gadis ini yang amat mencintanya. Dengan ujung lengan bajunya yang lebar nikouw muda itu menyusuti air mata yang mengalir deras di kedua pipinya, kemudian melanjutkan.

“Aku tidak kuat menahan derita batin itu, dan tentu sudah membunuh diri kalau tidak ada Thian Sim Nikouw ketua Kwan-im-bio yang menolongku, dan menyadarkan aku... merupakan pelita yang menerangi kegelapan hatiku... Aku diberi wejangan, aku sadar lalu menjadi muridnya... menjadi nikouw setelah bertahun-tahun aku sembahyang setiap hari untukmu... untuk arwahmu yang kusangka sudah mati... akhirnya hidupku tenang dan tenteram, sebagai nikouw...”

“Kim Cu...” Suara Han Han menggetar dan berbisik penuh perasaan haru. “Apakah tidak ada jalan lain...?”

“Jalan lain yang mana? Aku... aku murid seorang wanita jahat..., seorang datuk hitam yang penuh dosa.... Dunia akan mengutuk aku... manusia akan memandang rendah kepadaku... Hanya dengan menjadi nikouw aku dapat menebus dosa... dan... dan dapat melupakan engkau....”

Han Han tak dapat menahan lagi keharuan hatinya. Air matanya jatuh bertitik. Ia tahu betapa besar, betapa murni perasaan cinta kasih Kim Cu terhadap dirinya. Dan demi cinta kasihnya itu pula gadis ini melakukan pengorbanan yang paling besar yang dapat dilakukan seorang wanita. Menjadi nikouw! Pengorbanan nyawa masih kalah besar, karena sekali kehilangan nyawa habislah sudah. Akan tetapi sedemikian muda dan cantiknya, berkepandaian tinggi, mempunyai harapan besar untuk menikmati hidup, sudah melempar dirinya menjadi patung hidup, menjadi nikouw! Betapa besar pengorbanan itu. Patutkah seorang gadis seperti Kim Cu berkorban sedemikian rupa untuknya?

“Kim Cu, tidak boleh! Engkau tidak boleh berkorban untukku seperti ini! Tidak, tidak...! Kalau memang engkau mencintaku... setelah semua pengorbanan yang kau lakukan untukku... Wahai Kim Cu, budimu kepadaku bertumpuk-tumpuk, tidak mungkin dapat kubalas selama hidupku... Mengapa setelah itu semua engkau lalu mengambil jalan terpendek ini? Kim Cu, engkau mungkin akan mendapatkan ketenangan dan kebahagiaan hidup dengan menjadi nikouw... akan tetapi aku..., aku yang kau usir... aku yang merasa terhimpit oleh budimu... betapa aku akan dapat bersenang hati, mengenangkan engkau yang selalu bersemedhi dan bersembahyang di dalam kelenteng yang sunyi? Ah, Kim Cu... jelas bahwa engkau masih mencintaku, mengapa... mengapa engkau merenggutnya putus membiarkan hatimu terkoyak-koyak berdarah...?”

“Han Han...!” Nikouw itu menjerit, mendekap mukanya dan menangis sesunggukan. Sampai lama ia menangis, berlutut dan air matanya yang bening seperti mutiara menetes-netes keluar melalui celah-celah jari tangannya yang kecil meruncing. “Kalau begitu, kalau aku merusak hatimu, kalau aku mendatangkan sengsara kepada engkau orang yang kukasihi dengan seluruh jiwa ragaku dengan kelanjutan hidupku menjadi nikouw... kalau begitu..., biarlah aku mati saja...!”

Cepat sekali nikouw muda yang sudah menurunkan kedua tangan dari depan mukanya dan memandang ke depan dengan muka beringas, meloncat ke depan, ke arah arca Sang Buddha yang tersenyum cerah, hendak membenturkan kepalanya yang gundul licin itu kepada kaki arca yang terbuat dari pada batu hitam.

“Wuuuuuttttt...!”

Tubuh nikouw itu meluncur ke depan karena dalam kenekatannya nikouw ini sudah mengerahkan ginkang ketika meloncat dan tidak menggunakan tenaga sinkang untuk melindungi kepalanya karena ia ingin agar sekali bentur, kepalanya akan pecah.
“Plakkk...!”

Kepala nikouw itu bertemu dengan telapak tangan Han Han yang lunak karena Han Han sama sekali tidak menggunakan tenaga pula ketika ia tadi cepat meloncat ke depan arca dan menaruh tangannya di depan kaki arca, telapak tangannya menyambut kepala nikouw itu sehingga tangannyalah yang terhimpit dengan keras ke kaki arca.

Nikouw itu terpental ke belakang, cepat meloncat berdiri dan memandang dengan mata terbelalak kepada Han Han. Ia melihat tangan kanan pemuda buntung itu bercucuran darah yang keluar dari luka di punggung tangannya, darah yang membasahi kaki arca sehingga menjadi merah.

“Kim Sim Nikouw, apa yang kau lakukan ini?” Kini suara Han Han terdengar keras dan pandang matanya penuh daya pengaruh menundukkan.

Nikouw muda itu seperti terpesona, seperti baru bangun dari mimpi dan ia mamandang wajah Han Han yang pucat, dahi berkerut, mulut yang membayangkan derita, akan tetapi sinar mata yang tajam berwibawa.

“Han Han...!” Kim Sim Nikouw mengeluh.

“Kim Sim Nikouw, sadarlah bahwa tidak ada dosa yang lebih besar, tidak ada sifat pengecut yang paling rendah dari pada membunuh diri!” Suara Han Han kini tidak menggetar penuh keharuan seperti tadi, bahkan keras dan tegas. “Akulah yang salah dan engkau benar. Memang sebaiknya begini. Engkau menjadi nikouw dan menemukan kebahagiaan. Ada pun aku... hemmm... terus terang saja, Kim Sim Nikouw, aku hanya kasihan dan ingin membalas budi. Dan melihat engkau berbahagia di sini, aku pun akan merasa lega. Biarlah kita saling mendoakan saja. Selamat tinggal...!” Tubuh Han Han berkelebat dan lenyap dari ruangan itu.

Sejenak nikouw muda itu berdiri termangu, memandang ke arah lenyapnya bayangan Han Han, kemudian ia menjerit kecil yang merupakan rintihan dan menubruk depan arca Sang Buddha yang masih tersenyum penuh pengertian, seolah-olah memandang kelakuan dua orang anak manusia itu sebagai kelakuan dua orang anak-anak nakal. Kim Sim Nikouw merintih dan menangis, menciumi ujung kaki arca yang merah oleh darah Han Han, mulutnya berbisik-bisik menyebut nama Han Han dan air matanya mencuci noda darah di kaki arca itu. Darah Han Han!

Han Han sejenak memandang penglihatan yang meremas hatinya itu. Melihat betapa Kim Cu menangis dan menciumi bekas darahnya, ingin Han Han masuk kembali dan mendekapnya, memaksanya meninggalkan kuil dan memasuki dunia memeluk kebahagiaan bersama dia. Akan tetapi, kesadarannya membisikan bahwa perbuatannya itu tidaklah benar. Sudah pastikah bahwa kelak Kim Cu akan hidup bahagia di sampingnya? Apakah dia mencinta Kim Cu?

Memang, mengingat akan budi gadis yang cantik jelita dan amat murni cintanya itu, siapakah orangnya tidak akan menyatakan cinta kepadanya? Betapa pun juga, Han Han ragu-ragu dan merasa yakin bahwa sebaiknya ia meninggalkan Kim Cu dalam usaha menemukan bahagia. Tadi ia sengaja keras, sengaja menyadarkan Kim Cu bahwa dia hanya kasihan dan ingin membalas budi, sama sekali bukan mencinta!

Sekali lagi Han Han memandang Kim Cu, seolah-olah hendak mengusir bayangan nikouw muda itu di lubuk hatinya, kemudian ia menghela napas dan berkelebat pergi menghilang di dalam gelap. Peristiwa pertemuannya dengan Kim Cu itu tanpa disadarinya sudah menambah sebuah guratan lagi di dahinya.

Penjahat yang tadi memasuki Kuil Kwan-im-bio dengan niat jahat memperkosa nikouw muda dan telah mendapat hajaran keras dari Kim Sim Nikouw, malam-malam itu juga meninggalkan dusun menunggang kudanya perlahan-lahan. Tubuhnya masih lemah dan kedua pundaknya terasa nyeri apa bila terguncang terlalu keras, maka ia tidak berani melarikan kudanya. Ia menyumpahi nasibnya yang amat buruk.

Siapa kira di dalam kuil sunyi seperti itu terdapat seorang nikouw muda yang demikian lihai? Tadinya ia mendengar berita bahwa Kuil Kwan-im-bio mempunyai nikouw-nikouw muda yang amat cantik, sehingga tergeraklah hatinya. Dan sore tadi ia telah menyelidiki dan melihat bahwa memang desas-desus yang didengarnya itu ternyata benar. Ia melihat nikouw muda yang amat cantik jelita.

“Sialan...!” pikirnya.

Sudah banyak wanita yang ia renggut kehormatannya. Memang dia terkenal sebagai jai-hwa-cat di samping seorang pencuri ulung. Tetapi belum pernah ia memperkosa seorang nikouw. Tentu seorang nikouw sebagai wanita yang selalu menjaga kesucian tubuh dan hatinya, akan merupakan mangsa yang hebat, maka ia tidak peduli lagi apakah dia melakukan pelanggaran yang amat besar, dan malam itu hampir saja terlaksana apa yang ia sering kali mimpikan.

Akan tetapi, agaknya para dewa tidak mengijinkan perbuatannya sehingga ia bertemu dengan nikouw muda itu. Hemmm, masih untung, pikirnya. Justru nikouw muda itu ia incar. Kalau ia tidak salah masuk ke kamar nikouw ke dua yang juga memiliki tubuh yang benar-benar tidak disangka-sangka, amat menggairahkan, kalau ia masuk ke kamar wanita muda yang lihai itu... ihhh, ngeri ia membayangkan. Agaknya ia belum tentu akan keluar dari kuil itu dalam keadaan bernyawa!

Tiba-tiba ada bayangan berkelebat, kudanya meringkik dan mengangkat kedua kaki depan ke atas seperti ketakutan. Ketika penjahat itu berhasil menenangkan kudanya dan memandang dengan bantuan sinar bulan, ia terkejut melihat seorang pemuda buntung telah berdiri di depan kuda, memandangnya dengan sepasang mata seperti mata harimau. Karena dia sedang murung, penjahat itu yang memandang rendah si pemuda buntung.

“Heh, bocah buntung! Minggir! Apa kau ingin mampus diinjak-injak kuda?” bentaknya.

Pemuda yang bukan lain adalah Han Han ini, tersenyum dingin. Dia tadi melarikan diri dari kuil dan hatinya yang sedang dilanda perasaan duka itu membuat ia berloncatan seperti kilat cepatnya, mempergunakan ilmu kepandaiannya yang istimewa. Sebentar saja ia sudah dapat menyusul penjahat berkuda itu dan begitu melihat penjahat ini, Han Han timbul kesebalan hatinya dan ia sengaja menghadang.

“Hemmm, jai-hwa-cat, apakah yang kau lakukan di kuil tadi?”

Penjahat itu pucat wajahnya. Ia membesar-besarkan hatinya, akan tetapi karena kedua pundaknya tak dapat digerakkan sehingga kedua lengannya pun setengah lumpuh, pergelangan tangan kanannya pun tidak boleh dipakai bergerak, ia maklum akan keadaan dirinya yang sedang terluka dan lemah.

“Aku... aku terluka... dan aku sudah diampuni para nikouw...,” katanya gagap.

Han Han memandang penuh selidik. “Andai kata aku membantumu mendapatkan nikouw muda itu dalam keadaan tidak berdaya sehingga engkau akan dapat melakukan apa juga atas dirinya tanpa ia mampu melawan, engkau akan memberi hadiah apa kepadaku?”

“Wah, jangan main-main, orang muda. Nikouw yang cantik itu memiliki ilmu kepandaian lihai bukan main, sedangkan kau seorang buntung kakimu...”

“Hemmm, apakah dia selihai ini?” Han Han mengempit tongkatnya, kedua lengannya dikembangkan secara tiba-tiba ke kanan kiri.

“Kraaakkk... kraaakkkkk... bruukkk...!” Dan batang pohon di kiri kanannya ambruk dan terjebol akarnya.

Penjahat itu terbelalak, dan wajahnya berubah girang setengah ngeri ketika ia berkata, “Hebat sekali! Orang muda perkasa, kalau engkau mampu menangkap nikouw itu dalam keadaan tak berdaya sehingga aku dapat... eh, dapat membalas dendam kepadanya, aku... aku akan memberimu kuda ini, dan sekantung uang perak!”

“Kau tentu hendak memperkosanya?”

Penjahat itu menyeringai. “Akan dia rasakan, sepuasku, sampai dia mampus!”

“Keparat!”

Tongkat di tangan Han Han berkelebat, penjahat itu menjerit dan roboh dari atas kudanya dengan tubuh terlempar, kudanya meringkik dan melarikan diri. Sejenak Han Han berdiri tegak memandang tubuh yang tidak berkepala lagi itu, karena kepalanya sudah pecah berantakan tak berbentuk lagi, tercecer ke mana-mana. Han Han yang tadinya tenggelam dalam kedukaan karena Kim Cu, ditelan keharuan, kemudian menjadi marah mendengar kata-kata jawaban penjahat yang sengaja dipancingnya, tiba-tiba terisak, air matanya mengucur turun dan bibirnya terdengar mengeluarkan rintihan, lututnya yang tinggal sebuah itu ditekuk, ia berlutut dan mengeluh.

“Kakekku seorang jai-hwa-sian! Ahhh, Kong-kong, kenapa engkau begitu sesat? Aku keturunan keluarga Suma yang jahat, yang sesat! Kalau kakekku masih hidup, akan kubunuh juga... Ahhh, Kong-kong, kenapa kau sejahat itu...?” Kemudian ia meloncat bangun, wajahnya keruh dan beringas, suaranya keras, “Karena darah terkutuk itu mengalir di tubuhku, aku dibenci sana-sini, dimusuhi, nasibku selalu buruk... ya Tuhan, ampunilah hamba...”

Ia lalu mencelat jauh dan seperti gila melanjutkan perjalanan sambil mengerahkan kepandaiannya yang membuat tubuhnya makin lama mencelat makin jauh dan makin cepat sehingga seolah-olah kakinya tidak menginjak tanah lagi.....

********************



Pilih JilidHomeJilid Berikut


DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner