PENDEKAR SUPER SAKTI : JILID-30


Mereka itu cantik-cantik, namun begitu memasuki kamar, Su-ciangkun lalu menyuruh mereka pergi. Tiga orang wanita itu tadinya melempar pandang mata mesra kepada wajah Han Han yang tampan, akan tetapi ketika melihat ke bawah, ke arah kaki Han Han yang buntung, mereka membuang muka dan segera berjalan pergi dengan langkah-langkah lemah gemulai seperti menari, tubuh mereka yang membayang dari balik sutera tipis itu bergerak menggairahkan, lenyap memasuki kamar lain melalui sebuah pintu yang tertutup tirai sutera merah.

“Silakan duduk, sicu. Siapakah nama sicu?”

“Saya she Suma, ciangkun.” Han Han sengaja menggunakan nama Suma, nama keturunannya yang asli malah, karena ia khawatir kalau-kalau perwira ini telah mendengar nama Sie Han.

Agaknya perwira itu tergesa-gesa ingin membaca surat yang dibawanya, maka tidak menanyakan namanya sehingga legalah hati Han Han yang tidak perlu membohong dan mencari nama palsu lagi. Ia lalu mengeluarkan surat bersampul itu dari sakunya, menyerahkan kepada perwira itu.

Perwira itu menerima surat, mengamati tulisan dan capnya, kemudian membuka sampul dan mengeluarkan suratnya. Setelah membaca surat itu, wajah perwira itu berseri dan ia menepuk pahanya sendiri. “Bagus! Kiranya di sana tempat persembunyian kakek jembel yang telah lama kucari-cari itu? Hemmm, benar-benar Sang Puteri amat hebat dan cerdik, sudah dapat mengetahui tempat persembunyiannya. Sekarang ini akan dapat kuhancurkan sisa-sisa Pek-lian Kai-pang yang sudah banyak membikin pusing para petugas keamanan! Silakan Suma-sicu kembali ke kota raja dan melaporkan bahwa kami akan melaksanakan perintah Sang Puteri sebaik-baiknya. Dan sebaiknya sicu menunggang kuda, akan kuperintahkan menyediakan kuda terbaik dan bekal secukupnya!”

Akan tetapi Han Han mengangkat tangan kanannya dan berkata, “Tidak, ciangkun. Saya menerima tugas dari Sang Puteri untuk menyaksikan sendiri sampai perintah itu dilakukan dengan hasil baik, bahkan saya diperintahkan membantu. Setelah berhasil, baru saya akan kembali ke kota raja dan menyampaikan laporan kepada Sang Puteri.”

“Begitukah? Bagus sekali!” Perwira itu menjadi girang dan wajahnya berseri. “Dengan bantuan sicu yang gagah perkasa, akan lebih cepat para pemberontak itu dihancurkan!” Perwira itu lalu bertepuk tangan dua kali. Masuklah lima orang pelayan wanita yang cantik-cantik. Dengan suara keras dan singkat Su-ciangkun memberi perintah untuk mengeluarkan hidangan.

Han Han merasa sungkan sekali, karena ketika perwira itu mengajaknya makan minum telah memanggil tiga orang wanita cantik setengah telanjang tadi dan menyuruh mereka melayani!

“Ha-ha-ha, jangan sungkan-sungkan, Suma-sicu. Mereka ini adalah selir-selirku yang bertugas mengawani dan melayaniku di sini. Jangan sungkan, kalau sicu menginginkan seorang di antara mereka, tunjuk saja! Ha-ha-ha, aku akan merasa bangga kalau ada selirku yang memenuhi selera seorang seperti sicu.”

“Terima kasih, ciangkun. Ti... tidak... saya... saya amat lelah dan setelah makan akan beristirahat. Perjalanan jauh yang saya lakukan amat melelahkan. Lagi pula, saya rasa ciangkun pasti akan melakukan persiapan secepatnya untuk segera menyerbu para pemberontak itu.”

“Ha-ha-ha-ha! Suma-sicu benar mengagumkan, begini penuh semangat! Baiklah, kalau sicu ingin beristirahat.” Ia memberi tanda dengan tangan kepada seorang di antara tiga orang wanita itu. “Kau antarkan Suma-sicu ke kamar tamu sebelah kanan!”

Han Han menjura kepada perwira itu, menyambar tongkatnya dan terpincang-pincang mengikuti wanita yang berjalan dengan pinggul menari-nari. Wanita itu membawanya ke sebuah kamar yang indah dan terlalu bersih bagi Han Han yang semenjak meninggalkan Istana Pulau Es belum pernah memasuki kamar seindah ini.

“Saya akan menemani taihiap semalam di sini...” Wanita itu tersenyum dan membanting tubuhnya ke atas tempat tidur. Karena ia menjatuhkan diri terlentang, sutera penutup tubuhnya yang memang tidak rapat itu tersingkap dan tampaklah oleh Han Han kulit paha dan perut yang putih kuning. Matanya menjadi ‘silau’ dan ia memejamkan kedua matanya.

“Hi-hi-hik-hik... marilah taihiap... apakah seorang gagah perkasa seperti taihiap takut kepadaku? Hi-hik...!”

Han Han merasa betapa kedua lengan wanita yang telah bangkit itu seperti dua ekor ular merayap melingkari lehernya, tubuh wanita itu menggeser-geser tubuhnya dan bau harum memasuki hidungnya. Han Han mengeraskan hati dan sekali renggut dan mendorong, tubuh wanita itu terhuyung ke belakang dan wanita itu menjerit kecil.

“Maaf...!” Han Han membuka matanya. “Aku... aku mau tidur sendiri.”

Wanita itu tertawa. “Hi-hik, taihiap masih... masih jejaka tulen?”

Han Han memandang tajam dan berkata agak ketus, “Pergilah, aku mau mengaso!”

Ketika bertemu pandang dengan sinar mata pemuda itu, si wanita kaget dan seperti seekor anjing dipukul dia tergesa-gesa pergi dari kamar itu melalui pintu, lupa untuk menggoyang kibulnya seperti biasa!

Hari itu juga Su-ciangkun segera mengadakan persiapan, memanggil semua perwira pembantunya dan mengatur rencana untuk mengirim seribu orang pasukan menyerbu tempat persembunyian Pek-lian Kai-pang di lembah Huang-ho. Han Han yang diberi kebebasan pura-pura ikut pula melakukan pemeriksaan, bahkan ia lalu membantu untuk melakukan penjagaan dengan dalih khawatir ada mata-mata musuh yang menyelundup dan mengetahui persiapan mereka.

Su-ciangkun yang sudah mempercayainya tidak menjadi curiga dan Han Han lalu keluar dari benteng untuk ‘melakukan pemeriksaan’ di luar daerah benteng. Padahal ia hendak mengenal tempat itu sehingga kalau sewaktu-waktu ia turun tangan membunuh musuhnya, ia akan mengenal jalan untuk menyelamatkan diri. Ia mengambil keputusan untuk membiarkan Su-ciangkun mengirim pasukannya untuk dibasmi oleh Lauw-pangcu yang memasang jebakan, kemudian dengan alasan ikut pula menyerbu, ia akan mempunyai banyak kesempatan ‘membereskan’ musuh besarnya itu.

Hari telah menjadi malam ketika Han Han berjalan-jalan di luar benteng tanpa dicurigai para penjaga yang kini menganggapnya sebagai seorang utusan kota raja yang menjadi tamu Su-ciangkun, dan bahkan pemuda yang kabarnya amat lihai itu akan membantu pula penyerbuan sarang pemberontak.

Tiba-tiba Han Han melihat berkelebatnya bayangan orang di antara pohon-pohon di luar benteng. Pandang matanya yang tajam dapat melihat bahwa bayangan itu adalah orang yang tidak ingin dilihat penjaga. Cepat ia menengok ke kanan kiri dan setelah merasa yakin tidak ada penjaga yang melihatnya, ia menggunakan kepandaiannya mencelat ke tempat itu, menyelinap di antara gerombolan pohon, mencelat ke atas dan tampaklah olehnya bayangan hitam berindap-indap di antara batang-batang pohon. Bagaikan seekor burung garuda menyambar, tubuhnya menukik ke bawah, ke arah bayangan itu.

Sebatang pedang yang berkilauan sinarnya menyambut tubuhnya. Han Han cepat mengelak dan menangkap pergelangan tangan yang memegang pedang sambil berbisik, “Sssttttt, aku Han Han, Nona Lu...!”

Lu Soan Li, bayangan itu, kaget bukan main. Kaget karena hampir saja pedangnya melukai atau membunuh orang yang hendak dilindunginya! Juga ia amat kagum, bahkan tidak mengerti bagaimana pergelangan tangannya sampai dapat ditangkap oleh orang yang diserangnya itu. Kagum betapa setelah kakinya buntung, agaknya Han Han kini malah memiliki kelihaian yang amat luar biasa!

“Han-twako... kau... ahhh, betapa gelisah hatiku. Setengah hari lamanya aku berkeliaran di sini, tidak tahu harus berbuat bagaimana untuk mendengarkan hasil kunjunganmu ke sarang harimau itu!” kata Soan Li sambil menyimpan pedangnya, setelah menarik napas lega melihat bahwa orang yang dijadikan kenangan ternyata selamat.

“Nona, mengapa engkau bisa berada di sini? Mengapa pula engkau... ehh, agaknya menyusulku...?”

“Aku... mengkhawatirkan keadaanmu, twako. Dan aku ingin... ingin membantumu...”

Han Han memandang muka yang ditundukkan itu. Cuaca sudah gelap, akan tetapi ia masih dapat melihat muka tunduk itu di bawah sinar bintang-bintang yang memenuhi langit biru. Heran dia mengapa nona ini susah payah hendak melindunginya? Ingin ia menegur, akan tetapi melihat gadis itu menundukkan muka dan bersikap seperti seorang anak kecil takut dimarahi, ia tidak tega untuk menegur, hanya berkata.

“Ah, kenapa Sin Kiat membiarkan engkau menempuh bahaya ini? Kedatanganmu ini amat berbahaya, Nona.”

“Apakah kunjunganmu ke benteng itu tidak kurang berbahaya?”

Han Han menghela napas. “Nona, aku telah berhasil bertemu dengan Su-ciangkun. Besok pagi-pagi pasukan terdiri dari seribu orang akan diberangkatkan ke sana untuk menyerbu. Lebih baik malam ini juga Nona kembali ke sana memberi kabar kepada Lauw-pangcu. Aku akan pura-pura ikut menyerbu. Kembalilah...”

“Akan tetapi... apakah... apakah hatimu sangat yakin bahwa engkau tidak... tidak akan terancam bahaya di sana...?” Bertanya demikian, saking khawatirnya, Soan Li sampai lupa diri dan kedua tangannya memegang lengan Han Han.

Han Han merasa betapa dari jari-jari tangan itu tersalur getaran-getaran aneh. Jantungnya berdebar. Apa pula ini? Mengapa gadis ini begini mengkhawatirkan keselamatannya sehingga melupakan keselamatan diri sendiri? Apakah yang terjadi dalam hati nona ini? Seperti mimpi, tanpa ia sadari mulutnya mengeluarkan bisikan hatinya yang penuh dugaan dan pertanyaan.

“Lu-siocia, mengapa tanganmu gemetar...?”

Soan Li yang mendengar ini seperti didongkel isi hatinya, jari-jari tangannya malah mencengkeram lengan Han Han dan suaranya terdengar penuh perasaan dan gemetar!

“Twako... Han-twako, aku... amat khawatir kalau-kalau engkau akan celaka...”

Han Han tertawa. Teringat ia akan adiknya, Lulu. Dalam keadaan gelap ia merasa seolah-olah gadis ini adalah Lulu. Bentuk tubuhnya hampir sama, dan harum rambutnya sama dengan harum rambut Lulu, suaranya juga hampir sama menggetarkan kekhawatiran dengan perhatian sepenuhnya atas keselamatan dirinya. Karena teringat kepada Lulu, Han Han merasa terharu sekali dan mengangkat kedua tangan, ditaruhnya kedua tangan ke atas pundak Soan Li dan berkata dengan suara halus.

“Adikku yang baik, jangan engkau mengkhawatirkan aku...!”

Han Han terkejut sekali karena tiba-tiba gadis itu terisak dan ia merasa betapa muka itu menimpa dadanya, dan bajunya menjadi basah oleh air mata yang menembus ke kulit dadanya! Sejenak ia tertegun, terharu dan tangannya mengusap rambut yang halus itu. Kemudian ia teringat bahwa bukan Lulu yang dielus rambutnya, melainkan Lu Soan Li, Hoa-san Kiam-li! Ia menurunkan tangannya dan bertanya.

“Nona Lu... mengapa kau...?”

Soan Li menahan napas, menahan tangis, kemudian merenggangkan tubuhnya. “Twako... aku... aku... akan merasa sengsara sekali kalau kau sampai celaka... hati-hatilah, twako...!” Tubuhnya lalu berkelebat dalam gelap dan ia lenyap dari depan Han Han ditelan kegelapan malam.

Sampai lama Han Han berdiri termenung di tempat itu, mengerutkan keningnya dan tiada habisnya mengherankan sikap gadis itu. Ia benar-benar tidak mengerti dan tidak dapat menduga apa yang menyebabkan Soan Li berhal seperti itu, menangis di dadanya dan mengucapkan kata-kata seperti itu. Ia menggaruk-garuk rambut kepalanya. Mimpikah dia? Dirabanya bajunya. Masih basah oleh air mata gadis itu. Soan Li telah menangis karena mengkhawatirkan keselamatannya! Betapa mungkin ini?

Terbayanglah ia akan wajah Sin Lian. Tak salah lagi, Sin Lian mencintanya, Seperti Kim Cu. Ahhh, Kim Cu, Sin Lian, dan Soan Li! Tiga wajah gadis jelita itu berganti-ganti terbayang di depan matanya, membuat Han Han menjadi bingung dan pandang matanya kabur, kepalanya pening. Ia cepat-cepat membalikkan tubuhnya kembali ke benteng. Lebih baik menghilangkan kebingungan ini dengan tidur nyenyak, untuk menghadapi peristiwa besok pagi. Besok ia akan membunuh Su-ciangkun, akan tetapi ia harus mendapat kepastian lebih dulu bahwa perwira tinggi besar itu benar-benar seorang di antara tujuh orang perwira yang menjadi musuh besarnya.

Soan Li berlari di malam gelap sambil masih terisak-isak. Hatinya penuh dengan dua macam perasaan, bahagia dan juga berduka. Han Han mencintanya! Terasa oleh hatinya, ketika tangan pemuda itu terletak di atas kedua pundaknya, ketika jari-jari tangan itu mengelus rambutnya. Dan dia, walau tanpa kata-kata telah memperlihatkan rasa cintanya terhadap pemuda itu.

Matanya terasa panas ketika ia teringat akan hal ini. Ia merasa malu sekali. Ah, malu apa? Biarlah! Memang demikian kenyataan hatinya. Dia mencinta Han Han! Biar pun takkan mungkin dia menyambung cinta kasihnya dengan perjodohan, biar pun dia akan menjadi isteri orang lain, hanya tubuhnya saja yang terpaksa ia serahkan kepada suami pilihan gurunya. Akan tetapi hati dan kasih sayangnya telah ia serahkan kepada Han Han!

Soan Li menjatuhkan diri di bawah pohon. Duduk bersandar pohon mengenangkan semua peristiwa tadi. Peristiwa yang takkan ia lupakan selama hidupnya. Biarlah, selagi masih jelas terukir di lubuk hatinya, selagi sentuhan tangan Han Han pada pundak dan rambutnya masih terasa hangat, selagi air matanya yang tadi membasahi dada pemuda itu kini masih ada sisanya, biarlah ia mengenangkan saat-saat bahagia itu. Gadis itu tersenyum penuh kebahagiaan, akan tetapi air matanya terus mengalir.

Tak lama kemudian ia meloncat bangun dan melanjutkan perjalanannya. Ia teringat akan tugasnya. Dia harus segera melapor kepada Lauw-pangcu agar dapat melakukan persiapan sebaiknya. Musuh akan menyerbu, berangkat besok pagi. Seribu orang banyaknya! Karena malam gelap dan perjalanan itu melalui hutan-hutan di sepanjang tepi Sungai Huang-ho, Soan Li tidak dapat mempergunakan lari cepatnya. Ia berjalan dengan cepat menyusuri sungai. Baru nanti menjelang pagi ia akan tiba di sarang Pek-lian Kai-pang. Namun belum terlambat. Pasukan musuh baru akan berangkat besok pagi, tentu akan menyerbu besok sore.

Lewat tengah malam, selagi gadis ini berjalan dekat sungai, tiba-tiba ia melihat dua buah perahu mendarat. Ia menjadi curiga, apa lagi ketika melihat betapa orang-orang yang berloncatan ke luar dari dua buah perahu itu amat gesit dan ringan tubuhnya. Cepat ia menyelinap di antara pohon dan mendekati mereka. Dapat dibayangkan betapa kagetnya ketika ia melihat orang terakhir yang keluar dari perahu adalah Ma-bin Lo-mo! Ouw Kian si Muka Bopeng juga berada di situ, bersama seorang yang mukanya seperti tengkorak dan seorang hwesio bertubuh gemuk.

Dia menduga-duga. Apakah Ma-bin Lo-mo dan pembantu-pembantunya itu akan menyerbu pula ke benteng? Biar pun Ma-bin Lo-mo terkenal seorang pejuang pula, akan tetapi teringat akan sikapnya ketika menghadiri perayaan ulang tahun Lauw-pangcu, Soan Li menganggapnya sebagai musuh dan ia merasa lega bahwa kakek lihai itu muncul terakhir sehingga kehadirannya di situ tidak diketahui orang. Kalau Ma-bin Lo-mo yang meloncat ke darat lebih dulu, besar bahayanya kedatangannya mendekat akan diketahui oleh tokoh In-kok-san itu. Dari perahu ke dua muncul belasan orang berpakaian... pengawal Mancu! Soan Li memandang dengan jantung berdebar. Apa artinya ini? Ma-bin Lo-mo datang bersama belasan pengawal Mancu? Sungguh aneh dan mencurigakan.

“Siangkoan-locianpwe, ada keperluan apakah locianpwe memanggil saya dan Kek Bu Hwesio di tengah malam begini dan ke mana kita hendak pergi?” Si Muka Tengkorak bertanya kepada Ma-bin Lo-mo.

“Dan mereka itu... kenapa berada di sini bersama locianpwe?” tanya pula hwesio gemuk.

“Hemmm... kalian belum mengerti. Telah terjadi perubahan hebat sekali di kalangan para pejuang. Mereka itu telah menyeleweng dan malah membantu si pengkhianat Bu Sam Kwi! Aku melihat perubahan besar. Kekuasaan Mancu seperti munculnya matahari yang tak terkalahkan, dan sebaliknya pertahanan Bu Sam Kwi memperpanjang perang dan menyusahkan banyak rakyat. Sudah tiba waktunya kita berganti haluan dan berlaku cerdik. Aku menerima tawaran Kang-thouw-kwi dan Toat-beng Ciu-sian-li untuk membantu pemerintah menghancurkan Se-cuan.”

“Omitohud...!” Hwesio itu berkata lirih.

“Apa!? Siapa tidak setuju dan siapa tidak suka membantuku?”

“Ohhh, tidak... tidak... pinceng setuju dan suka membantu.”

“Saya pun akan membantu dan selalu siap mengikuti jejak locianpwe,” kata Si Muka Tengkorak.

“Nah, dengarlah baik-baik. Pasukan ini membawa pesan dari Su-ciangkun, yaitu komandan yang bertugas di daerah ini untuk memanggil aku karena di markas itu muncul seorang mata-mata musuh.”

“Siapa...?” tanya Si Hwesio Gemuk.

“Bocah buntung terkutuk itu. Han Han!”

“Eh, bukankah dia dahulu yang kita bakar di kapal...?” Si Muka Tengkorak bertanya.

“Tidak ada waktu untuk bercerita panjang. Bocah itu telah mehyelundup ke dalam benteng dan mengingat bahwa dia kini lihai bukan main, kita harus menyergapnya, dan menurut perintah Su-ciangkun, harus dapat kita tangkap hidup-hidup untuk memaksa pihak pemberontak agar suka menakluk. Hayo kita berangkat!”

Dapat dibayangkan betapa kaget hati Soan Li yang mendengarkan semua ini. Tanpa berpikir panjang lagi gadis itu lalu melesat pergi untuk cepat-cepat kembali ke benteng. Dia harus memberi tahu Han Han. Dengan cara apa pun juga. Ternyata, entah bagaimana caranya, rahasia Han Han telah diketahui musuh! Betapa lihainya musuh!

“Heiii... siapa itu? Kejar!”

Ma-bin Lo-mo yang berpendengaran tajam dan bermata jauh lebih awas dari pada yang lain sudah melihat berkelebatnya bayangan Soan Li dan langkah kaki gadis itu. Dia cepat mengejar, diikuti oleh tiga orang pembantunya dan para pengawal pasukan yang sudah mendaratkan kuda mereka. Empat ekor kuda disediakan untuk Ma-bin Lo-mo dan para pembantunya. Terdengarlah derap kaki belasan ekor kuda yang melakukan pengejaran.

Soan Li juga mendengar derap kaki kuda yang makin lama makin jelas. Dia mengerahkan seluruh tenaganya dan berlari secepat mungkin. Dia harus mendahului mereka tiba di benteng! Dia akan mengamuk sehingga Han Han yang mendengar amukannya akan keluar dan akan mendengar peringatannya.

Han Han harus diselamatkan. Kalau ia terlambat, celakalah pemuda itu! Betapa pun lihainya Han Han, tidak mungkin dapat melawan Ma-bin Lo-mo, apa lagi masih ada empat orang pembantunya dan para pengawal, ditambah ribuan orang tentara di dalam benteng. Dia harus berlari cepat. Nyawa pemuda yang dicintanya itu tergantung pada kekuatan kedua kakinya berlari!

Di dalam tubuh setiap orang manusia memang terdapat kekuatan yang maha dahsyat, yang gaib dan sukar diukur oleh akal manusia. Kekuatan maha dahsyat ini kadang-kadang timbul di luar kesadaran, agaknya selalu bersembunyi di bawah sadar. Timbul apa bila si manusia berada dalam keadaan tak sadar oleh perasaan yang menghimpitnya.

Orang yang berduka hebat kadang-kadang dapat bertahan untuk berpuasa sampai berbulan-bulan yang takkan mungkin dapat tertahan tubuh seorang manusia dalam keadaan biasa. Seorang yang sedang ketakutan hebat kadang-kadang dapat melakukan hal-hal yang ajaib seperti mengangkat benda yang beberapa kali lipat lebih dari pada daya kekuatan tubuhnya, dapat melompat jauh lebih tinggi dari pada kemampuannya dalam keadaan biasa
.

Demikian pula dengan Soan Li. Gadis ini sebagai murid Im-yang Seng-cu memang telah memiliki ilmu kepandaian tinggi, memiliki sinkang kuat dan ginkang yang hebat sehingga memungkinkan dia berlari cepat sekali. Akan tetapi, dalam keadaan penuh kekhawatiran, ketegangan seperti saat itu, kekuatan maha dahsyat yang mukjizat itu timbul di luar kesadarannya sehingga membuat kecepatan larinya menjadi berlipat ganda apa bila dibandingkan dengan kemampuannya yang biasa. Bahkan kejaran kuda yang dibalapkan itu masih tidak mampu menyusulnya!

Setelah malam terganti pagi, sinar matahari mulai muncul mendahului mataharinya sendiri, Soan Li telah lari mendekati benteng. Peluhnya membasahi seluruh pakaiannya, napasnya terengah-engah dan kini Ma-bin Lo-mo bersama tiga orang pembantunya yang sudah meninggalkan kuda, sudah amat dekat di belakangnya.

“Berhenti...!” Ma-bin Lo-mo berteriak. “Bukankah engkau gadis yang kemarin dulu berada di rumah Lauw-pangcu?”

Soan Li maklum bahwa kalau ia sampai tersusul, ia akan celaka. Akan tetapi hal ini sama sekali tidak menggelisahkan hatinya. Yang amat menggelisahkan hatinya adalah bahwa kalau dia terpegang oleh Ma-bin Lo-mo, berarti Han Han akan celaka! Maka ia lalu mengerahkan tenaganya dan melompat jauh ke depan. Biar pun Ma-bin Lo-mo suaranya terdengar dekat, namun sebenarnya masih agak jauh.

“Berhenti, kalau tidak pinceng terpaksa merobohkanmu!” terdengar pula bentakan dari belakang. Akan tetapi Soan Li berlari terus, tidak mempedulikan teriakan-teriakan di belakangnya.

Pada saat itu pintu benteng terbuka dan muncullah sepasukan tentara Mancu didahului oleh dua ekor kuda yang ditunggangi oleh Su-ciangkun sendiri dan Han Han, di samping tentara yang memegang bendera kebesaran Su-ciangkun.

“Han Han...!” Jerit suara Soan Li melengking amat nyaringnya. Akan tetapi terdengar bentakan dari belakangnya.

“Robohlah, bocah keras kepala!”

Serangkum tenaga yang amat dahsyat menyambar dari belakang. Soan Li yang memiliki ilmu kepandaian cukup tinggi maklum bahwa Ma-bin Lo-mo menyerangnya dengan pukulan sinkang, pukulan jarak jauh yang amat kuat. Cepat ia mengelak dengan meloncat ke samping, akan tetapi tetap saja hawa pukulan Swat-im Sin-ciang menyerempetnya dan ia terhuyung-huyung, merasa betapa tiba-tiba seluruh tubuhnya menjadi dingin sekali. Pada saat tubuhnya terhuyung itu, terdengar teriakan Han Han.

“Soan Li...!”

“Han Han... awas... tertipu...!”

“Syut-syut-syut-ser-ser-ser...!”

Ketika tangan Kek Bu Hwesio, yaitu hwesio gemuk yang menjadi pembantu Ma-bin Lo-mo bergerak, belasan batang panah tangan telah beterbangan menyambar ke arah tubuh Soan Li dari belakang. Memang hwesio yang menjadi pelarian Kong-thong-pai ini memiliki keahlian mempergunakan panah tangan.

Soan Li sedang terhuyung dan perhatiannya tertarik kepada Han Han, maka biar pun ia berusaha melempar tubuh mengelak, tetap saja ada enam batang anak panah mengenai tubuhnya, menancap di pundak, punggung dan lengan.

“Aduhhhhh...! Han Han... Han-twako... awas...!”

“Soan Li...!” Han Han sudah sejak tadi mencelat dari atas kudanya dan dengan kecepatan luar biasa sekali tubuhnya berloncatan ke depan sehingga dalam beberapa detik saja ia sudah tiba di tempat itu. Namun terlambat. Dengan mata terbelalak pemuda ini melihat betapa tubuh Soan Li penuh dengan anak panah dan dara ini merangkak ke arahnya dengan tangan terulur ke depan dan bibir mengeluarkan kata-kata.

“Han Han... mereka akan membunuhmu... kau terjebak...!”

Akan tetapi Han Han tidak mendengarkan lagi ucapan gadis itu. Tongkatnya sudah bergerak seperti kilat menyambar ke arah Ma-bin Lo-mo dan hwesio yang hanya gundul kepalanya akan tetapi di tengkuknya tumbuh rambut, jenggotnya seperti jenggot kambing dan kumisnya melingkar itu. Kek Bu Hwesio meloncat ke belakang, lalu melepas anak panah ke arah Han Han, sedangkan Ma-bin Lo-mo cepat mengelak.

Akan tetapi dengan gerakan tongkatnya Han Han berhasil meruntuhkan semua anak panah dan melihat betapa tubuh Soan Li penuh anak panah, kemarahannya meluap ke arah hwesio itu dan tubuhnya secara tiba-tiba sudah mencelat ke depan Kek Bu Hwesio. Ma-bin Lo-mo mendengus dan menerjang dengan pukulan Swat-im Sin-ciang. Akan tetapi dengan tangan kirinya Han Han menangkis.

“Deessss!!”

Tubuh Ma-bin Lo-mo mencelat sampai hampir sepuluh meter. Kakek ini berjungkir-balik dan matanya terbelalak saking heran dan gentarnya. Han Han sudah menggerakkan tangannya dan ketika itu ada serangan dari belakang, yaitu serangan pedang yang dilakukan oleh Ouw Kian dan serangan pecut besi di tangan si Muka Tengkorak Swi Coan, dua orang pembantu Ma-bin Lo-mo.

“Haiiiiittttt...!”

Han Han menggerakkan tongkatnya ke belakang, cepat sekali sampai tak dapat diikuti pandangan mata.

“Prakkkk! Prakkkk!” tanpa dapat mengeluh lagi Ouw Kian dan Swi Coan roboh dengan kepala pecah!

Kek Bu Hwesio sudah dapat melompat mundur dan enam orang pengawal yang berkuda sudah datang menerjang. Han Han mengamuk. Tongkatnya bergerak sedemikian rupa sehingga enam orang pengawal itu mencelat dengan tubuh remuk, tiga ekor kuda roboh akan tetapi tongkat Han Han tertinggal di perut kuda terakhir! Dia terpaksa melepaskan tongkatnya karena pada saat itu belasan batang anak panah yang dilepas Kek Bu Hwesio datang menyambar.

Dengan kedua tangan kosong Han Han menangkap belasan batang anak panah lalu kedua tangannya bergerak. Terdengar teriakan-teriakan ketika belasan orang pengawal roboh dan beberapa ekor kuda roboh pula terkena anak panah yang dilontarkan Han Han. Kini sekali kakinya mengenjot tanah, tubuhnya sudah menyambar ke depan, tahu-tahu jubah depan Kek Bu Hwesio sudah ia cengkeram dengan tangan kiri.

“Han Han... Twako... awas... larilah...!”

Han Han menoleh dan melihat betapa Soan Li merangkak-rangkak ke arahnya, dan kini menyentuh lututnya, tak tertahankan lagi air matanya bercucuran. Gadis itu dalam keadaan hampir mati masih saja memikirkan keselamatannya! Dengan kemarahan meluap, ketika pada saat itu ada seekor kuda yang ditunggangi seorang pengawal meloncat hendak menubruk, Han Han menggunakan tangan kanan menampar ke arah perut kuda.

“Bukkk!” Kuda meringkik, terlempar ke udara bersama penunggangnya dan terbanting roboh menindih penunggangnya yang mati seketika karena tulang punggungnya patah.

“Jahanam engkau... penjahat berpakaian pendeta...!” Mulut Han Han mendesis, kedua matanya bercucuran air mata dan ia membanting tubuh hwesio itu ke atas tanah.

“Prokkk!” Hwesio itu tewas dengan kepalanya hancur tidak merupakan kepala lagi.

“Han-twako...!” Soan Li mengeluh. “Larilah...!”

“Soan Li... ahhh, Soan Li...!” Han Han menyambar tubuh gadis itu, dipanggulnya dan tubuhnya tiba-tiba mencelat ke atas. Ketika turun, kakinya menendang roboh dua orang pengawal.

“Tangkap... kepung...!” Terdengar suara Ma-bin Lo-mo yang juga mengejar sungguh pun ia terbelalak menyaksikan sepak terjang pemuda itu. Betapa mungkin pemuda buntung itu menjadi sedemikian lihainya setelah kakinya buntung?

Han Han menangkap seorang pengawal dengan sebelah tangan dan melontarkannya ke arah Ma-bin Lo-mo yang mengejarnya. Terpaksa kakek ini mengelak, akan tetapi Han Han sudah merobohkan lagi empat orang pengawal yang berani membayanginya dan melihat keganasan sepak terjang pemuda buntung itu, para prajurit menjadi gentar. Han Han terus melompat dan mengerahkan ilmu yang ia pelajari dari Khu Siauw Bwee sehingga tubuhnya yang memanggul tubuh Soan Li itu sebentar saja mencelat berulang-ulang, makin jauh dan akhirnya lenyap dari situ!

“Kejar...! Tangkap...!”

Entah mulut siapa yang berteriak-teriak ini, terlalu banyak. Dan mereka memang mengejar, akan tetapi karena hati telah menjadi gentar, tidak ada yang mendahului kawan dan pengejaran itu sia-sia belaka.

Dengan air mata bercucuran Han Han merebahkan tubuh Soan Li ke atas rumput setelah mencabuti anak panah yang menancap di bagian belakang tubuh gadis itu. Akan tetapi Soan Li rebah tak bergerak, mukanya pucat, seluruh pakaiannya berlumuran darah, kedua matanya meram.

“Soan Li...! Soan Li... ahhh, Soan Li!” Han Han menangis dan mengguncang tubuh itu, seolah-olah hendak memanggil kembali nyawa yang sudah hampir meninggalkan raga itu.

Soan Li membuka kedua matanya, memandang Han Han dan... tersenyum! Senyum ini merupakan tangan maut sendiri yang merenggut jantung Han Han.

“Soan Li...! Mengapa engkau mengorbankan diri untukku...?”

“Han... Twako... syukur engkau selamat... hatiku puas...”

“Soan Li! Soan Li... kenapa engkau begini...? Apa kau kira aku akan bahagia melihat engkau mati karena hendak menyelamatkan aku? Soan Li... kau tidak boleh mati hanya untuk aku...!” Han Han seperti orang gila, mengguncang-guncang tubuh gadis itu yang sudah memejamkan mata kembali.

Soan Li membuka mata untuk kedua kalinya. Pandang mata gadis itu persis pandang mata Kim Cu, persis pandang mata Sin Lian. Begitu mesra! Han Han menangis, mengguguk. Tak mampu ia bicara lagi.

“Han-twako... aku bahagia... aku... aku cinta padamu, Han-twako...”

“Soan Li...!”

Mulut gadis itu megap-megap seperti ikan dilempar ke darat. Han Han menjerit, lalu menutup mulut gadis itu dengan mulutnya sendiri, seolah-olah ia ingin menyambung nyawa gadis itu, ingin menambah napas gadis itu dengan napasnya.

“Han-twako...,” gadis itu mengeluh dan Han Han seperti merasa betapa napas terakhir terhembus dari mulut itu memenuhi dadanya sendiri dan ia tergelimpang, pingsan sambil memeluk Soan Li!

Tentu saja Han Han sama sekali tidak tahu bahwa siasat yang diaturnya bersama Lauw-pangcu itu sebetulnya telah diketahui semua oleh pihak Mancu! Dua orang utusan yang dibunuhnya dan dirampas suratnya adalah utusan dari Puteri Nirahai. Puteri ini memiliki kecerdikan yang luar biasa, maka tentu saja ketika mengirim utusan kepada Su-ciangkun untuk membawa perintah sepenting itu, Puteri Nirahai tidak mau bertindak sembrono. Setengah hari setelah dua orang utusan pertama itu berangkat, dia mengirim utusan kedua yang bertugas menyelidiki apakah perintah yang dibawa utusan pertama itu telah tiba di markas Su-ciangkun dengan selamat.

Tentu saja utusan ke dua ini menemukan mayat dua orang kawannya di tengah jalan, maka cepat ia melanjutkan perjalanan ke markas Su-ciangkun. Ketika ia menyampaikan laporan tentang terbunuhnya utusan dari kota raja dan lenyapnya surat perintah, saat itu Han Han sedang mengunjungi Lauw-pangcu.

Demikianlah, ketika Han Han muncul di markas itu mengaku sebagai utusan Puteri Nirahai, tentu saja Su-ciangkun sudah tahu bahwa pemuda buntung itu sebetulnya adalah mata-mata pemberontak yang membunuh utusan kota raja dan merampas surat perintah. Ketika Han Han menyerahkan surat perintah itu kepadanya dan ia membaca isinya yang tulen, Su-ciangkun sebagai seorang perwira perang mengerti bahwa pihak pemberontak menggunakan surat perintah itu untuk mengatur jebakan.

Dia lalu sengaja mencoba ilmu kepandaian Han Han, terkejut menyaksikan kelihaian pemuda buntung itu, maka ia menerimanya dengan baik akan tetapi diam-diam ia mengirim utusan untuk memanggil Ma-bin Lo-mo agar dengan bantuan orang sakti itu, pemuda buntung yang lihai ini dapat ditangkap dalam keadaan hidup. Dia ingin menggunakan pemuda buntung itu untuk memaksa para pemberontak agar suka menyerah tanpa perang.

Dan mengapa Ma-bin Lo-mo yang terkenal sebagai seorang pejuang itu tiba-tiba bersekutu dengan perwira Mancu? Mengapa pula dia mau diundang oleh pasukan utusan Su-ciangkun dan datang menunggang perahu, bahkan mengajak pula tiga orang pembantunya untuk membantu pasukan Mancu?

Hal ini sebetulnya sudah terjadi jauh sebelum Ma-bin Lo-mo mendatangi tempat tinggal Lauw-pangcu. Jauh sebelum itu, Ma-bin Lo-mo telah bertukar haluan, diam-diam ia telah membalik dan membantu Kerajaan Mancu. Hal ini tadinya ia lakukan secara terpaksa sekali karena tekanan yang dilakukan Kang-thouw-kwi Gak Liat sesuai dengan rencana yang diatur oleh Puteri Nirahai. Gak Liat telah menemui Ma-bin Lo-mo dan membujuk Iblis Muka Kuda ini untuk bekerja sama membantu Kerajaan Ceng dan menghancurkan pertahanan Bu Sam Kwi di Se-cuan. Tentu saja Ma-bin Lo-mo Siangkoan Lee yang dahulu pernah menjadi seorang menteri di Kerajaan Beng menolak dan memaki-maki Gak Liat.

“Setan Botak tak tahu malu!” Demikian jawabnya. “Engkau telah melupakan bangsa dan mengekor kepada bangsa Mancu, itu adalah urusanmu sendiri. Mengapa engkau membujuk-bujuk aku? Kalau aku tidak sudi, engkau mau apa? Hemmm... Hwi-yang Sin-ciang darimu itu sama sekali tidak membuat aku takut!”

“Ha-ha-ha-ha! Si Kuda Iblis, sombong sekali bicaramu!” Kang-thouw-kwi Gak Liat memaki dan tertawa mengejek. “Siapakah tidak tahu bahwa Siangkoan Lee dahulu adalah seorang menteri Kerajaan Beng? Akan tetapi siapa pula tidak tahu bahwa Menteri Siangkoan Lee menjadi rusak namanya karena selain tukang merampas anak bini orang, tukang merampas harta dan tanah ladang, juga tukang korupsi besar-besaran?”

“Setan Botak mau mampus! Mulutmu sama busuknya dengan hatimu! Mari kita tentukan siapa yang lebih unggul di antara kita!”

Melihat Ma-bin Lo-mo sudah dapat dibikin panas hatinya dan hendak menyerang, Gak Liat cepat berkata, “Tahan dulu! Sama sekali aku tidak takut kepadamu, kuda iblis! Akan tetapi sayang kalau kau mampus sekarang, tenagamu masih amat dibutuhkan pemerintah. Sekarang kau boleh pilih, membantu pemerintah Ceng ataukah engkau mati dikeroyok murid-muridmu sendiri?”

“Hahhh? Apa maksudmu, Setan Botak keparat?”

Gak Liat tertawa. “Ma-bin Lo-mo, marilah kita bicara sebagai orang-orang tua yang sudah matang pikirannya. Aku tahu, juga pemerintah, bahwa engkau berjuang untuk dirimu sendiri. Engkau bercita-cita mengalahkan Pemerintah Ceng agar engkau dapat membangun kembali Kerajaan Beng yang sudah runtuh dan engkau akan menjadi kaisarnya! Hemmm, boleh saja bercita-cita mengejar kemuliaan, akan tetapi jangan terlampau tinggi. Engkau mimpi di siang hari. Lebih baik engkau mengabdi kepada Kerajaan Ceng dan engkau tentu akan menikmati kemuliaan dan kedudukan yang cukup tinggi, sesuai dengan kepandaianmu. Pemerintah Ceng pandai menghargai orang. Kalau engkau menolak, murid-muridmu yang menjadi pasukan In-kok-san akan tahu siapa sebetulnya yang membasmi keluarga mereka!”

Wajah Ma-bin Lo-mo berubah. Ia pura-pura tidak mengerti dan memaki lagi, “Gak Liat, apa artinya ucapanmu itu?”

“Wah, engkau masih pura-pura lagi, Siangkoan Lee? Engkau bermaksud membentuk pasukan yang kuat, terdiri dari murid-muridmu di In-kok-san. Untuk keperluan itu engkau memilih banyak bocah yang berbakat, diam-diam kau bunuh keluarga mereka dan kau katakan bahwa orang Mancu yang membunuh sehingga engkau menanamkan benih kebencian di hati para muridmu terhadap Pemerintah Mancu agar kelak dapat kau pergunakan tenaga mereka untuk membantu kau mencapai cita-citamu...!”

Wajah Ma-bin Lo-mo menjadi pucat. “Setan...! Cukup, tak perlu membuka mulut lagi. Katakan, apa kehendakmu?”

“Aku hanya melakukan tugas yang diperintahkan Puteri Nirahai.”

“Hemmm, apa kehendaknya?”

“Tidak lain, kau diminta untuk bekerja sama, membantu pemerintah untuk meng-hancurkan para pemberontak, terutama sekali pemberontak Bu Sam Kwi di Se-cuan. Untuk jasa-jasamu, tentu kaisar tidak akan melupakan dan kelak kita tentu akan menikmati hari tua yang mulia dan terhormat.”

Demikianlah, siasat yang dijalankan oleh Gak Liat atas perintah Puteri Nirahai itu berhasil baik. Ma-bin Lo-mo membujuk murid-muridnya yang berjumlah hampir seratus orang untuk membalik dan membantu Pemerintah Mancu. Tentu saja sebagian besar muridnya tidak sudi karena bukankah keluarga mereka terbasmi habis oleh orang-orang Mancu? Mereka yang tidak mau mengikuti jejak guru mereka lalu meninggalkan In-kok-san dan sebagian menggabung pada para pejuang. Banyak pula yang lari ke Se-cuan untuk membantu Bu Sam Kwi mengadakan perlawanan terhadap bala tentara Mancu yang berusaha menalukkan Se-cuan.

Ketika tidak berhasil menangkap Han Han, bahkan tiga orang pembantunya yang setia dan pandai itu tewas secara mengerikan di tangan pemuda kaki buntung yang amat luar biasa itu, Ma-bin Lo-mo menjadi marah dan menyesal sekali. Juga di dalam hatinya ia merasa heran. Dia maklum bahwa Han Han telah mewarisi ilmu-ilmu aneh dari Pulau Es, akan tetapi dia pernah bertanding melawan Han Han sebelum kaki pemuda itu buntung, dibuntungi oleh Toat-beng Ciu-sian-li. Akan tetapi mengapa sekarang pemuda itu setelah kakinya buntung menjadi makin hebat kepandaiannya?

Bahkan tadi ketika menangkis pukulan saktinya juga membuktikan bahwa tenaga sinkang pemuda itu jauh lebih matang dari pada sebelum kakinya buntung! Dan ilmunya bergerak seperti kilat itu, berloncatan seperti terbang saja! Ilmu apakah itu dan dari mana pemuda buntung itu memperolehnya? Diam-diam ia merasa gentar sekali, maklum bahwa kini tingkat kepandaiannya tidak akan dapat menandingi kepandaian pemuda yang mukjizat itu!

Pasukan yang dipimpin oleh Su-ciangkun dan dibantu oleh Ma-bin Lo-mo melanjutkan perjalanan mereka menyerbu sarang Pek-lian Kai-pang. Kekacauan yang ditimbulkan oleh Han Han dan Soan Li tadi tidak mengubah rencana mereka menghancurkan sarang pemberontak. Su-ciangkun sebagai seorang ahli perang yang pandai maklum bahwa pasukannya akan menghadapi jebakan kaum pemberontak, maka diam-diam dia memecah-mecah pasukannya menjadi empat bagian.

Bagian pertama sengaja ia biarkan untuk dijebak, akan tetapi diam-diam dua pasukan menyusul dari kanan kiri merupakan sayap untuk melindungi induk pasukan yang akan dijebak musuh. Sedangkan bagian ke empat menggunakan perahu-perahu menyerbu melalui air! Dengan siasat yang lihai ini, bukan pasukan Mancu yang terancam, sebaliknya malah pihak pemberontak yang berada dalam bahaya.

Lauw-pangcu yang sudah mengatur barisan pendam di dalam hutan menjadi girang sekali ketika melihat pasukan Mancu terdiri dari dua ratus lima orang memasuki hutan itu, memasuki jebakan, memasuki perangkap yang dipasangnya! Hari telah menjelang senja ketika pasukan Mancu itu memasuki hutan yang dijadikan tempat perangkap untuk menyergap pasukan Mancu.

Setelah pasukan Mancu yang megah itu semua memasuki hutan, tiba-tiba terdengar suara melengking dan itulah tanda yang diberikan oleh Sin Lian. Dari lubang-lubang dalam tanah menyambar ratusan batang anak panah ke arah dua ratus lima orang tentara Mancu yang menggunakan perisai-perisai dan golok menangkis anak panah dan melindungi diri. Akan tetapi ada beberapa orang terjungkal dan beberapa ekor kuda roboh. Selagi pasukan Mancu menjadi bingung karena diserang dari kanan kiri dan muka belakang, para pejuang bersorak-sorak dan berteriak-teriak, meloncat keluar dari tempat persembunyian mereka dalam tanah berlubang, dari balik-balik batang pohon dan semak-semak, dari atas pohon dan menyerbu pasukan yang sedang bingung itu.

Jumlah anak buah Lauw-pangcu tidak kurang dari tiga ratus orang dan hampir semua adalah ahli-ahli silat yang pandai. Apa lagi di situ, terdapat Lauw-pangcu sendiri yang mengamuk, dan terutama sekali Lauw Sin Lian dan Wan Sin Kiat yang membabati para prajurit Mancu seperti orang membabati rumput saja. Kalau Su-ciangkun tidak mengatur siasat lebih dulu dengan membagi-bagi pasukannya, dan andai kata pasukannya hanya berjumlah lima ratus dan semua terjebak, tentu akan hancurlah pasukannya. Pasukan induk ini melawan sekuatnya, namun karena mereka diserbu dari empat penjuru secara tiba-tiba, mereka menjadi kacau-balau.

Para pemberontak atau pejuang sudah merasa girang sekali dan menganggap bahwa siasat mereka berhasil. Tidak sampai setengah malam tentu semua pasukan Mancu akan dapat mereka basmi semua, demikian pikir Lauw-pangcu dan anak buahnya.

Akan tetapi tiba-tiba terdengar suara terompet tanduk berbunyi dari empat penjuru di luar hutan itu dan menyerbulah tujuh ratus lima puluh orang tentara Mancu dari empat penjuru, dipimpin oleh Su-ciangkun sendiri dan dibantu oleh Ma-bin Lo-mo! Kalau tadi anak buah Lauw-pangcu menyergap dan mengurung, kini mereka sendiri dikurung dan keadaan menjadi kacau-balau. Perang terjadi amat hebatnya. Anak buah Lauw-pangcu yang terjepit itu menjadi nekat dan mengamuk mati-matian. Mereka akan mati seperti tikus-tikus terjepit, maka lebih baik melawan dan mati sebagai sekumpulan harimau.

Lauw-pangcu terkejut bukan main. Juga Sin Lian dan terutama sekali Sin Kiat menjadi khawatir sekali. Bukan mengkhawatirkan diri sendiri, melainkan mengkhawatirkan sumoi-nya dan Han Han. Kalau sampai keadaan berubah seperti ini, hanya berarti bahwa Han Han dan sumoi-nya tentu telah gagal. Namun mereka tidak sempat banyak berpikir karena pihak musuh datang menyerbu bagaikan air membanjir. Dikeroyok banyak lawan, satu lawan empat, mulai berjatuhanlah pihak pejuang. Di bawah sinar obor yang dipegang kedua pihak, tampak darah muncrat, diselingi bunga api berpijar dan teriakan-teriakan bercampur dengan rintihan. Tubuh-tubuh manusia berjatuhan tumpang tindih, mayat-mayat yang mandi darah mulai berserakan.

Lauw-pangcu yang mengamuk hebat, setelah merobohkan tidak kurang dari dua puluh orang lawan dengan tongkatnya yang lihai, akhirnya roboh juga dengan dada tertembus tombak. Melihat ayahnya roboh, Sin Lian menjerit dan dengan isak tertahan gadis ini mengamuk. Pedangnya berkelebat seperti naga mengamuk dan tentara musuh yang berani mendekatinya tentu roboh hanya dalam dua tiga gebrakan saja. Melihat kenekatan Sin Lian yang mencoba mendekati ayahnya, Sin Kiat menyerbu dan membantunya. Makin mawutlah pihak musuh.

“Hemmm, kalian sudah bosan hidup!” Bentakan ini disusul dengan menyambarnya angin pukulan dingin dan ternyata Ma-bin Lo-mo yang menyaksikan sepak terjang dua orang muda ini sudah maju menyerang.

Melihat kakek ini, Sin Lian lalu membentak marah. “Kiranya engkau iblis tua bangka! Kiranya engkau adalah anjing penjilat Mancu pula!”

Akan tetapi terpaksa Sin Lian harus membuang diri menghindar dari sambaran angin pukulan Ma-bin Lo-mo seperti yang dilakukan Sin Kiat, kemudian ia membalas dengan terjangan ke depan dan menusukkan pedangnya ke dada kakek itu. Sin Kiat juga menerjang dari kiri, pedangnya membabat leher.

Ma-bin Lo-mo sudah maklum akan kelihaian ilmu pedang kedua orang muda itu, maka ia tidak berani memandang rendah. Melihat dua sinar pedang menyambar, ia cepat melompat ke belakang, ujung lengan bajunya menampar untuk menangkis pedang Sin Lian yang melanjutkan tusukan dengan babatan kilat.

“Brett!” Pedang Sin Lian terpental dan cepat ia memutar tubuh agar pedangnya tidak terlepas, akan tetapi ujung lengan baju Ma-bin Lo-mo terbabat putus!

Kakek ini marah sekali. Setelah dia mengelak dari tusukan pedang Sin Kiat yang menyambar, secepat kilat kedua tangannya mendorong ke arah dua orang muda itu. Sin Kiat dan Sin Lian maklum akan kelihaian pukulan jarak jauh ini. Mereka tidak keburu mengelak, dan menangkis dengan gerakan tangan sambil mengerahkan sinkang pula. Akan tetapi tetap saja tubuh mereka terdorong hebat ke belakang, membuat mereka terhuyung dan pada saat itu, dua orang perwira pembantu Su-ciangkun sudah menubruk dan menusukkan tombak mereka ke arah kedua orang muda yang sedang terhuyung itu.

Sin Kiat yang sedang terhuyung melihat datangnya tusukan tombak dengan tenaga yang kuat itu, cepat menjatuhkan diri, berguling ke depan sehingga tombak lewat di atas kepalanya, kemudian ia menusukkan pedangnya yang amblas ke dalam perut lawan. Ketika darah mengucur menyusul pedang yang dicabutnya, Sin Kiat sudah meloncat kembali sehingga tidak terkena semprotan darah.

Ada pun Sin Lian yang tadinya juga terhuyung, tidak sempat menangkis ketika ditusuk dari arah kanan oleh perwira Mancu. Ia mempergunakan tangan kiri menyambar leher tombak, meminjam tenaga lawan menarik tombak sehingga tubuh lawan ikut terdorong ke depan, lalu menggunakan tenaga sinkang ia menekuk tombak sehingga patah tengahnya, lalu terus ia tusukkan ke lambung perwira itu sehingga tembus!

Melihat betapa dalam keadaan terhuyung kedua orang muda itu masih sempat merobohkan dua orang perwira menengah, Ma-bin Lo-mo menjadi penasaran dan marah. Ia menerjang maju, bertubi-tubi menggerakkan kedua tangan ke arah Sin Lian dan Sin Kiat yang menjadi sibuk mengelak dan menangkis, tidak sempat lagi menyerang, padahal para pengeroyok sudah mengelilingi mereka dan siap-siap menghujankan senjata kepada dua orang muda lihai ini apa bila mereka roboh oleh desakan Ma-bin Lo-mo. Menghadapi kakek bermuka iblis, murid Siauw-lim Chit-kiam dan murid Im-yang Seng-cu benar-benar kewalahan karena Ma-bin Lo-mo menggunakan Swat-im Sin-ciang yang luar biasa kuatnya.

Tiba-tiba keadaan perang menjadi makin kacau ketika banyak tentara Mancu roboh dan bahkan ada yang terlempar ke sana-sini seperti diamuk badai. Ternyata yang datang mengamuk itu adalah Han Han! Setelah dia siuman dari pingsannya dan menangisi Soan Li yang telah tewas, akhirnya Han Han teringat akan bahaya yang mengancam Lauw-pangcu dan anak buahnya. Teringat akan itu, dengan hati berduka sekali ia lalu menggali lubang dan menguburkan jenazah Soan Li. Kemudian ia menggunakan kepandaiannya berloncatan dengan cepat sekali menuju ke tempat tinggal Lauw-pangcu.

“Han Han... mana Sumoi...?” Sin Kiat merasa lega melihat pemuda buntung itu, akan tetapi ia gelisah karena tidak melihat sumoi-nya datang bersama Han Han.

Ditanya tentang Soan Li, Han Han diingatkan kembali, air matanya mengalir turun dan tanpa menjawab ia lalu menerjang maju, menghadapi Ma-bin Lo-mo yang sedang mendesak Sin Kiat dan Sin Lian.

Ketika melihat Han Han, Ma-bin Lo-mo yang marah sekali itu lalu menerjang sambil mengeluarkan suara meringkik keras seperti kuda marah. Ia masih merasa penasaran dan kini ia mengerahkan seluruh tenaganya yang ada. Terdengar suara bercuitan ketika tenaga Swat-im Sin-ciang dengan kekuatan sepenuhnya menyambar ke depan! Han Han mengenal pukulan sakti, cepat ia berseru.

“Kalian minggirlah!”

Sin Kiat dan Sin Lian yang sudah berkali-kali mengenal pukulan dahsyat dari kakek itu cepat melompat ke kanan kiri. Akan tetapi Han Han sama sekali tidak mau melompat minggir. Ia sudah marah sekali, kemarahannya yang timbul dari kedukaan yang hebat karena kematian Soan Li. Maka kini menyaksikan betapa Ma-bin Lo-mo mengerahkan pukulan Swat-im Sin-ciang, ia pun berteriak keras dan dengan berdiri di atas sebelah kakinya, ia mendorongkan kedua tangannya ke depan menyambut pukulan Ma-bin Lo-mo! Han Han sudah kehilangan tongkatnya yang tertinggal di perut kuda ketika ia mengamuk di depan benteng, kini ia tidak bertongkat lagi. Akan tetapi sinkang yang keluar dari kedua lengannya adalah inti sari dari tenaga Im-kang yang amat dahsyat, yang sudah dia kuasai ketika ia berlatih di Pulau Es.

“Desssss...!”

Hebat bukan main benturan dua tenaga sakti yang sama-sama mengandung hawa dingin itu. Empat orang tentara Mancu yang berdiri terlalu dekat memekik ngeri dan roboh tak bernyawa lagi karena jantung mereka membeku terkena sambaran tenaga sakti yang saling bertabrakan.

Tubuh Han Han mencelat ke atas, tinggi sekali. Akan tetapi ia sudah meloncat lagi ketika kakinya menyentuh dahan pohon. Kini tubuhnya mencelat ke depan menyambar Ma-bin Lo-mo yang terhuyung ke belakang dengan mulut muntahkan darah segar!

Melihat betapa tubuh Han Han dari atas pohon menukik ke bawah, Ma-bin Lo-mo mengeluarkan seruan kaget, cepat tubuhnya melesat ke bawah, bergulingan dan lenyap di antara kaki para pengawal.

“Bressssss...!” Lima orang pengawal roboh dan tewas seketika dengan tulang-tulang remuk ketika terjangan Han Han dari atas itu menyambar ke arah mereka. Akan tetapi Ma-bin Lo-mo tidak tampak lagi bayangannya.

Han Han mengamuk terus dengan hebatnya. Juga Sin Lian dan Sin Kiat mengamuk dengan pedang mereka. Setelah kini Ma-bin Lo-mo terluka dan tidak muncul lagi, tidak ada yang dapat mengimbangi amukan tiga orang muda yang perkasa ini. Akan tetapi, di pihak para pejuang, ternyata hanya tinggal mereka bertiga karena yang lain-lain semua telah tewas dalam perang tanding yang amat seru di dalam hutan itu. Ada pun di pihak tentara Mancu juga mengalami kerugian tidak sedikit, kurang lebih sama jumlahnya dengan anak buah Pek-lian Kai-pang!

“Han Han, mari kita pergi...!” kata Sin Kiat. “Semua saudara telah tewas, tak perlu melawan lagi!”

Akan tetapi Han Han tidak mau mendengarkan kata-kata Sin Kiat. Hatinya sudah terlalu sakit dan ia akan bertempur sampai mati untuk membalaskan dendam Soan Li. Melihat itu Sin Lian lalu menyambar tubuh ayahnya yang telah menjadi mayat, sambil menangis terisak ia mendekati Han Han yang masih mengamuk.

“Han Han... bantulah aku... menyelamatkan jenazah Ayah...!”

Mendengar suara wanita menangis, Han Han seperti baru sadar dari keadaan yang tidak wajar itu, yang membuatnya mengamuk seperti orang gila. Ia menengok dan ketika ia melihat Sin Lian menangis sambil memondong mayat Lauw-pangcu, Han Han terkejut sekali.

“Ah, Lauw-pangcu...!”

“Dia gugur, Han Han, tolonglah aku membuka jalan ke luar dari sini...!”

Han Han mengangguk, lalu bersama Sin Kiat ia mengawal Sin Lian yang memondong mayat ayahnya keluar dari kepungan. Sebetulnya hal ini tidak perlu karena para pengepung itu tidak ada yang berani mengganggu melihat tiga orang muda itu keluar dari hutan. Mereka telah menjadi jeri menyaksikan sepak terjang mereka tadi, apa lagi sepak terjang pemuda yang buntung kakinya.

Sin Lian yang menangis sambil memondong tubuh ayahnya berlari terus sampai pagi, baru ia berhenti di pinggir Sungai Huang-ho paling barat, di mana air sungai itu datang mengalir dari utara dan di tikungan itu membelok ke timur. Daerah ini penuh pula dengan hutan dan amat sunyi.

Setengah malam mereka tadi berlari, tanpa berkata-kata, masih tegang dan berduka menghadapi mala petaka yang menimpa Pek-lian Kai-pang. Yang paling gelisah adalah Sin Kiat. Pemuda ini ingin sekali mengetahui akan keadaan sumoi-nya, ia pun ingin tahu bagaimana pihak Mancu sampai dapat melakukan sergapan seperti itu, bahkan dibantu oleh Ma-bin Lo-mo. Ia menduga bahwa tentu Han Han tahu akan itu semua, akan tetapi mengingat akan kedukaan Sin Lian, Sin Kiat menahan keinginan tahunya. Setelah dia dan Han Han membantu Sin Lian mengubur jenazah Lauw-pangcu di dalam hutan itu, barulah Sin Kiat mengajak Han Han menjauhi Sin Lian yang berkabung dan menangis di depan kuburan ayahnya.

“Han Han, ceritakanlah lekas, bagaimana dengan Sumoi!”

Akan tetapi, mendengar pertanyaan ini Han Han menjatuhkan diri duduk di atas tanah, matanya memandang jauh dengan sinar muram dan kosong, sama sekali tidak menjawab pertanyaan Sin Kiat. Melihat ini Sin Kiat berlutut dan menyentuh lengan Han Han, mengguncangnya dan bertanya tegang.

“Han Han, apa yang terjadi dengan Sumoi? Di mana dia?”

Tiba-tiba Han Han mengipatkan lengannya dan Sin Kiat terlempar ke belakang hingga terjengkang. Ia meloncat lagi dan terkejut melihat Han Han sudah berdiri di atas sebelah kakinya dan menudingkan telunjuk ke mukanya sambil membentak, “Sin Kiat, kenapa engkau membolehkan sumoi-mu pergi menyusulku? Kenapa tidak kau cegah dia? Percuma saja engkau menjadi suheng-nya!”

Pucatlah wajah Sin Kiat. Tanpa mempedulikan kemarahan Han Han, ia menubruk maju dan memegang lengan pemuda buntung itu. “Han Han...!” Sin Kiat menjerit, suaranya gemetar. “Lekas katakan, di mana dia? Di mana sumoi...? Dia sendiri yang memaksa hendak menyusulmu karena mengkhawatirkan keadaanmu. Han Han, di mana sumoi?”

Mendengar suara Sin Kiat menjerit-jerit ini, Sin Lian yang menangis di depan kuburan ayahnya menjadi terkejut, menengok dan cepat ia menghampiri mereka karena ia melihat Han Han berdiri seperti orang marah dan Sin Kiat menjerit-jerit seperti orang gila.
“Ada apakah? Han Han, apa yang terjadi?”

Suara Sin Lian ini mengusir kemarahan di hati Han Han. Ia menghela napas panjang, menundukkan muka sehingga air mata yang memenuhi pelupuk mata itu menetes jatuh satu-satu.

“Soan Li... dia... dia telah tewas...!”

“Sumoi...!” Sin Kiat memekik keras. Matanya melotot, mukanya pucat seperti mayat dan tangannya mencengkeram lengan Han Han.

“Apa...! Sumoi-ku... mati? Han Han, bagaimana? Siapa yang membunuhnya?”

Han Han menjatuhkan diri lagi duduk di atas rumput. Sin Lian juga duduk di atas tanah, mukanya makin berduka. Sin Kiat duduk dan mengangkat kedua lutut, menunjang kedua siku dengan lututnya dan menutupi mukanya mendengarkan penuturan Han Han yang menceritakan semua peristiwa itu dengan suara gemetar.

Setelah habis cerita Han Han, Sin Kiat masih menutupi mukanya. Perlahan-lahan dari celah-celah jari tangannya keluar beberapa tetes air mata. Dadanya bergelombang, diseling sedu. Hancur hati Sin Kiat. Teringat ia akan wajah sumoi-nya yang menengok dan tersenyum ketika hendak meninggalkannya. Senyum manis di antara linangan air mata duka!

“Aduh, Sumoi...! Ah, dia seperti adikku sendiri... ahh, bagaimana aku harus bertanggung jawab terhadap suhu, terhadap... keluarga tunangannya...?”

Tiba-tiba Han Han menggerakkan kepala, menoleh kemudian memandang Sin Kiat. “Tunangannya?”

Sin Kiat yang maklum akan isi hati sumoi-nya, dan dapat menduga bahwa Han Han yang kelihatan demikian berduka dan menyesal atas kematian sumoi-nya agaknya juga sudah tahu akan perasaan cinta Soan Li terhadapnya, tanpa menoleh kepada Han Han berkata lirih, “Ya tunangannya. Beberapa tahun yang lalu, atas kehendak Suhu, Sumoi telah ditunangkan dengan putera sahabat suhu, seorang siucai she Tan yang tinggal di Nan-king.”

Han Han menghela napas panjang. “Dan dia mati berkorban untukku...” Ia berbisik lirih. “Betapa mulia hatinya... dan betapa besar dosaku...!”

Sin Lian melirik dan melihat betapa wajah Han Han lebih muram dari pada biasanya, betapa wajah yang menarik itu makin bertambah guratannya, ia merasa kasihan dan teringatlah ia akan pernyataan Lulu bahwa banyak wanita yang jatuh cinta kepada Han Han. Kini mengertilah ia dan biar pun tidak ada yang bicara di saat itu, Sin Lian dapat menduga apa yang telah terjadi di dalam hati Soan Li. Tentu dara jelita murid Im-yang Seng-cu itu diam-diam jatuh cinta kepada Han Han, akan tetapi karena merasa bahwa dia telah terikat jodoh dengan orang lain, maka Soan Li menahan diri. Betapa pun juga, cinta kasih membuat gadis itu nekat hendak menyusul Han Han untuk melindunginya dan akhirnya mengorbankan nyawa sendiri.

“Kasihan Adik Soan Li...!” Sin Lian berkata dan menyentuh lengan Han Han, “Han Han, sudahlah, tak perlu kita terlalu berduka karena kematian orang-orang yang kita sayang. Ayahku dan juga Soan Li tewas sebagai orang-orang gagah, tewas dalam pelaksanaan tugas. Perlu apa harus berduka? Tidak, Han Han. Sebenarnya, menurut patut, kita malah harus bangga bahwa mereka tewas sebagai orang-orang gagah, dan sudah menjadi kewajiban kita untuk melanjutkan cita-cita dan kegagahan mereka. Kita harus melanjutkan perjuangan mendiang Soan Li, menentang penjajah Mancu sampai detik hidup terakhir!”

Mendengar ucapan gadis perkasa ini, hati Han Han dan Sin Kiat kagum bukan main. Gadis ini baru saja kematian ayahnya, satu-satunya orang di dunia ini yang menjadi keluarganya dan mereka dapat mengerti betapa duka hati Sin Lian. Namun gadis itu masih mampu menghibur mereka berdua, dua orang pria yang semestinya lebih kuat hatinya!

“Nona Lauw benar-benar mengagumkan sekali dan apa yang diucapkannya tak dapat disangkal kebenarannya! Hidup atau mati bukanlah urusan manusia, bagi manusia yang paling tepat hanya menjaga agar hidup atau mati sebagai manusia-manusia yang membela kebenaran dan keadilan! Han Han, marilah engkau ikut bersamaku ke Se-cuan. Agaknya tinggal di sanalah satu-satunya tempat di mana kita dapat menyumbangkan tenaga menentang penjajah sampai berhasil atau hancur!”

“Aku... aku harus mencari Lulu...” Suara Han Han masih tidak bersemangat.

Memang Han Han masih sangat merasa tertekan oleh rentetan peristiwa yang amat menyedihkan hatinya. Urusan Kim Cu, gadis yang berkorban demi cinta kasihnya terhadap dirinya merupakan urusan yang amat menindih hatinya dan yang takkan pernah dapat ia lupakan, yang membuat ia merasa berdosa, merasa menjadi penyebab hancurnya kebahagiaan hidup seorang gadis semulia Kim Cu. Kemudian ditambah lagi dengan lenyapnya Lulu yang amat membingungkan dan menggelisahkan hatinya, lalu kekecewaan karena belum juga ia berhasil membunuh seorang pun di antara tujuh orang musuh besar keluarganya.

Kini peristiwa yang menimpa diri Soan Li dan menyebabkan dara itu tewas, tewas di depan matanya sendiri sebagai pengorbanan dalam usaha gadis itu yang hendak menyelamatkannya. Ia merasa berduka sekali, bertubi-tubi perasaan hatinya mengalami hantaman yang berat, membuat ia kehilangan semangat, merasa seperti hanyut dalam arus yang penuh kesengsaraan, membuat ia kehilangan pegangan dan dalam keadaan seperti itu, dia harus cepat bertemu Lulu. Hanya adiknya itulah tempat ia berpegang dalam arus penuh kesengsaraan ini, hanya adiknya Lulu itulah yang akan dapat menghiburnya, yang akan dapat mengembalikan semangatnya.

“Aku harus mencari adikku Lulu...,” katanya lagi penuh rindu.

“Han Han, aku pun ingin sekali bertemu dengan adikku itu. Aku pun akan mencarinya. Bahkan aku akan mengumpulkan sisa teman-teman seperjuangan. Aku akan berusaha mencari Lulu untuk kemudian kuajak mereka semua ke Se-cuan,” kata Sin Lian.

“Aku pun akan membantumu mencari adikmu itu, Han Han. Akan tetapi, mengingat bahwa adikmu pun tentu sedang mencari-carimu seperti yang ia katakan kepada Nona Sin Lian, apakah tidak mungkin kalau dia itu pun pergi mencarimu ke Se-cuan, mengira bahwa engkau berada di sana? Lebih baik kita berangkat ke Se-cuan sambil mendengar-dengar dan mencari-cari.”

Han Han mengangguk-angguk. “Pendapatmu benar juga, dan aku pun memang harus pergi ke Se-cuan karena urusan pribadi.” Ia teringat akan penuturan Sie Leng enci-nya bahwa sebagian besar musuh-musuhnya berada di Se-cuan, yaitu memimpin bala tentara yang ditugaskan mengurung dan menggempur Se-cuan.

“Memang demikian lebih baik,” kata Sin Lian. “Kalian berdua berangkatlah lebih dulu ke Se-cuan, sedangkan aku sendiri akan mengumpulkan sisa teman-teman dan sekalian mencari Lulu di bagian timur. Kalau bertemu, tentu akan kuajak menyusul ke barat.”

Setelah mereka melakukan penghormatan terakhir di depan kuburan Lauw-pangcu, Sin Lian lalu meninggalkan dua orang pemuda itu untuk mengumpulkan sisa teman-teman seperjuangan yang pada malam itu sebagian besar terbasmi oleh tentara Mancu. Ada pun Han Han, atas desakan Sin Kiat mengantar temannya ini berkunjung ke makam Soan Li di mana Sin Kiat berkabung dan Han Han juga tak dapat menahan runtuhnya air matanya.....



Pilih JilidHomeJilid Berikut


DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner