PENDEKAR SUPER SAKTI : JILID-31


“Han Han, ketahuilah, hanya kepada aku seorang mendiang sumoi membuka rahasia hatinya bahwa dia mencintamu.”

Han Han menghela napas. “Sin Kiat, kalau engkau tahu bahwa dia sudah ditunangkan dengan laki-laki lain, mengapa engkau tidak menegurnya?”

“Sudah kutegur, akan tetapi akhirnya aku harus membela dia. Dia ditunangkan dengan Tan-siucai atas kehendak Suhu, bahkan ia belum pernah bertemu dengan tunangannya itu. Kalau dia bertemu denganmu dan jatuh cinta, salahkah itu? Karena itu, aku mewakili mendiang sumoi-ku untuk bertanya terus terang kepadamu, Han Han. Adakah engkau mencinta sumoi?”

Han Han menundukkan mukanya dan menggeleng kepala. “Manusia cacat macam aku ini bagaimana berani menjatuhkan kasih sayang kepada seorang wanita, Sin Kiat? Tidak, semenjak kakiku buntung, aku tidak lagi berani membiarkan hatiku menjatuhkan cinta kepada seorang wanita karena aku maklum bahwa tidak ada seorang pun wanita di dunia ini dapat hidup bahagia di samping seorang suami cacat memalukan seperti aku. Tidak, aku tidak berani dan tidak dapat mencinta seorang gadis murni cantik dan perkasa seperti sumoi-mu itu...”

Sin Kiat menarik napas panjang. Di dalam hatinya pemuda ini dapat mengerti akan sikap rendah hati Han Han ini, sikap yang mungkin timbul karena peristiwa yang menyedihkan di samping buntungnya kaki pemuda ini. Ia pun tidak mau menyinggung-nyinggung lagi akan hal itu, namun diam-diam timbul rasa khawatir di hatinya, karena sebagai seorang pemuda yang berpandangan tajam Sin Kiat dapat menduga bahwa Sin Lian pun seperti adiknya, jatuh cinta kepada pemuda kaki buntung yang mengagumkan ini.

********************

Kaisar Kang Hsi dari Kerajaan Ceng yang didirikan oleh bangsa Mancu adalah seorang kaisar yang benar-benar pandai sekali, bukan hanya di bidang kemiliteran akan tetapi juga di bidang pekerjaan sipil seperti pembangunan dan lain-lain. Kaisar yang amat pandai dan amat lama memegang kendali pemerintahan Kerajaan Mancu ini (tahun 1663-1722) telah berhasil dengan baik menarik bangsa pribumi yang tadinya menentang penjajahan menjadi tenaga-tenaga yang amat penting dan berguna demi memajukan negara di bawah pemerintahannya.

Untuk mencapai hasil baik, Kaisar Kang Hsi memajukan kebudayaan pribumi, bahkan mengundang bangsa pribumi yang terkenal sebagai kaum cendekiawan, kaum cerdik pandai, untuk menduduki jabatan-jahatan penting dalam pemerintah. Tentu saja kaum sastrawan dan kaum persilatan menyambut undangan ini dengan gembira sehingga banyaklah sastrawan-sastrawan dan ahli-ahli silat muda mengalir ke kota raja. Mereka diterima oleh kaisar dan diberi jabatan-jabatan yang penting.

Juga dalam urusan membersihkan negara dari pada para pemberontak, kaisar yang pandai ini berhasil baik sekali. Dengan bantuan tokoh-tokoh kang-ouw yang kena terbujuk, pula karena memang bala tentara Mancu merupakan bala tentara yang kuat, tahan uji, dan berdisiplin, maka gerombolan-gerombolan bersenjata yang menentang Kerajaan Ceng satu demi satu dapat dihancurkan.

Sudah menjadi kenyataan sejarah bahwa di antara gerombolan-gerombolan pejuang yang menentang penjajah Mancu demi perasaan patriotik, terdapat banyak pula gerombolan yang sebenarnya adalah penjahat-penjahat dan perampok yang menggunakan dalih ‘perjuangan’ untuk dapat memeras dan merampok rakyat jelata. Dengan dalih perjuangan, mereka yang mengotorkan dan mencemarkan perjuangan itu mengancam rakyat yang dipaksa membantu perjuangan mereka dengan menyerahkan harta benda untuk biaya perjuangan!

Sebetulnya, kenyataan itulah yang merupakan sebuah di antara kelemahan perjuangan kaum patriot di masa itu. Karena nama perjuangan dibikin cemar, maka ketika tentara Mancu datang dan menyapu para perampok yang berkedok pejuang itu, rakyat menyambut dengan gembira, menganggap bahwa pemerintah yang baru berhasil membebaskan rakyat dari pada pemerasan dan penindasan pejuang-pejuang yang kini disamakan dengan perampok jahat itu! Hal ini adalah satu di antara sebab-sebab mengapa penduduk pribumi dapat cepat melenyapkan perasaan kebencianhya terhadap bangsa Mancu yang menjajah.

Selain itu juga Kaisar Kang Hsi dengan taktiknya yang tepat dapat menyesuaikan diri dengan keadaan dan tradisi-tradisi lama di Tiongkok. Para pembesar Mancu diharuskan belajar bahasa dan sastra Tiongkok dan bahkan diharuskan bicara dalam bahasa pribumi, bukan dalam pertemuan-pertemuan resmi saja, bahkan di antara keluarga para pembesar Mancu pun mereka menggunakan bahasa pribumi. Hal ini adalah karena Kaisar Kang Hsi yang bijaksana itu maklum bahwa sekali bangsanya sudah menjadi ‘bangsa asli’, maka dalam abad-abad selanjutnya tidak akan ada lagi ‘pribumi’ yang menganggap bahwa pemerintah Kerajan Ceng adalah kerajaan asing!

Biar pun hampir seluruh daerah Tiongkok telah dikuasai, dan semua pemberontak di perbatasan-perbatasan telah dapat dihancurkan, namun hanya Se-cuan yang masih tetap bertahan. Hal ini adalah karena pemerintah Ceng yang cerdik memang sengaja membiarkan daerah ini agar menjadi pusat pelarian bagi para pemberontak. Agar dengan adanya wadah ini, para pemberontak yang sudah kehilangan kesatuannya akan melarikan diri ke Se-cuan dan kelak akan mudah untuk menyerbu satu tempat saja dari pada kalau harus mengejar pemberontak-pemberontak yang tersebar di mana-mana. Selain sukar juga membutuhkan benyak tenaga dan biaya.

Karena sengaja didiamkan, dan hanya sekali-kali diadakan pengepungan dan serangan kecil, maka terjadilah semacam perang dingin dan tapal batas. Se-cuan merupakan daerah gawat. Pedagang-pedagang petualang yang berani hilir-mudik melewati perbatasan yang gawat ini tentu akan memperoleh keuntungan yang besar sekali, akan tetapi tentu saja dengan resiko perutnya ditembus tombak, baik oleh tentara di pihak Se-cuan mau pun tentara Mancu, karena dicurigai sebagai mata-mata musuh.

Dan biar pun belum diadakan penyerbuan besar-besaran, namun telah terjadi ketegangan karena di pihak orang-orang gagah di dunia kang-ouw terpecah dua, ada yang pro Se-cuan, ada pula yang pro Kerajaan Ceng. Bentrokan-bentrokan kecil terjadi di mana-mana dan tentu saja mata-mata kedua pihak pun disebar dengan leluasa karena di pihak pemerintah Mancu pun memiliki banyak kaki tangan orang kang-ouw yang terdiri dari orang pribumi.

Han Han dan Sin Kiat yang melakukan perjalanan ke barat, di sepanjang jalan mereka menyelidiki tentang Lulu. Akan tetapi tidak ada seorang pun yang dapat memberi petunjuk. Bahkan banyak kaum pejuang yang hilir-mudik ke Se-cuan, yang mengenal Sin Kiat, juga tidak ada yang pernah melihat Lulu. Hati mereka kecewa sekali, terutama Han Han yang menjadi makin gelisah. Masih hidupkah adiknya itu? Kalau hidup, di mana dan mengapa tidak ada jejaknya?

Pada suatu pagi, kedua orang muda ini memasuki kota Tiang-koan-bun yang letaknya dekat dengan perbatasan Se-cuan. Di bagian ini telah ada pelarangan membawa senjata yang dilaksanakan dengan keras oleh para penjaga, berbeda dengan pedalaman yang biar pun ada pula pelarangan umum itu, namun pelaksanaannya tidaklah begitu ketat. Karena maklum akan hal ini dan tidak ingin mencari perkara di daerah gawat, Sin Kiat menyembunyikan pedangnya di balik baju dan ia berpakaian sebagai seorang penduduk biasa. Han Han masih berpakaian seperti biasa, sederhana dan berwarna putih, tangan kirinya memegang sebatang tongkat kayu yang dibuatnya begitu saja dari sebuah ranting pohon.

“Malam nanti kita menyelundup lewat perbatasan, masuk daerah Se-cuan,” kata Sin Kiat perlahan ketika mereka tiba di sudut kota.

Han Han berhenti melangkah dan pandang matanya termenung, keningnya berkerut. Ia menoleh ke kanan kiri seperti orang mencari-cari, dan memang ia selalu tak pernah berhenti mencari-cari dengan pandang matanya, seolah-olah setiap saat ia mengharapkan akan melihat berkelebatnya bayangan Lulu.

“Sin Kiat, agaknya yang kau pentingkan hanya perjuangan saja,” kata Han Han lirih.

Sin Kiat memandang heran. “Habis, bagaimana kalau tidak begitu, Han Han? Dalam masa seperti ini, siapa tidak mementingkan perjuangan?”

Terdengar derap kaki kuda dan seorang penunggang kuda lewat di jalan itu. Han Han tidak mempedulikan, bahkan menengok pun tidak. Tanpa memandang Sin Kiat dia berkata, “Bagiku, yang terpenting adalah mencari Lulu sampai dapat ditemukan!”

Sin Kiat juga mengerutkan keningnya. “Hemmm, Han Han, mengapa kau menekankan hal itu? Apakah kau kira aku pun tidak gelisah memikirkan Nona Lulu? Kiranya tidak perlu kujelaskan lagi bahwa engkau tentu paham akan isi hatiku terhadap adikmu! Aku pun ingin sekali bertemu dengan dia, ingin melihat dia selamat. Akan tetapi, kita memiliki tujuan dalam perjalanan ini, yaitu ke Se-cuan! Tentang adikmu yang kau tahu amat kucinta... hmmm... bukankah kita sudah selalu menyelidiki tentang dia? Bukankah aku pun selama ini mengerahkan seluruh tenaga untuk mencari dia? Siapa tahu, dia berada di Se-cuan.”

Han Han menarik napas panjang dan kini ia menoleh memandang wajah Sin Kiat yang tampan itu. Tentu saja dia tahu bahwa pemuda perkasa ini, pemuda yang gagah dan berwatak pendekar, jatuh cinta kepada Lulu. Dan diam-diam ia pun akan merasa setuju sekali kalau adiknya mendapatkan jodoh seperti Sin Kiat. Akan tetapi itu adalah perkara nanti. Yang perlu mencari Lulu sampai dapat! Apa perlunya memikirkan perjodohan Lulu kalau gadis itu sendiri masih belum dapat ditemukan, belum diketahui masih hidup atau sudah mati?

“Begini sajalah. Engkau pergilah dulu ke sana, aku akan mencarinya di sekeliling perbatasan ini. Selain itu, dulu sudah kukatakan bahwa aku mempunyai urusan pribadi yang harus kuselesalkan sebelum aku menyusulmu ke Se-cuan. Kita berpisah di sini saja, Sin Kiat.”

Selama dalam perjalanan, Sin Kiat sudah mengenal Han Han lebih baik lagi dan ia mengerti bahwa pemuda berkaki buntung itu sedang menderita tekanan batin hebat sekali sehingga apa yang keluar dari mulutnya selalu merupakan keputusan yang tidak dapat ditawar-tawar lagi. Ia maklum bahwa akan percuma saja dia membantah, maka katanya.

“Baiklah, Han Han. Kalau engkau menghendaki demikian, biar aku yang masuk ke sana lebih dulu dan akan kucari Nona Lulu di sana. Kalau berhasil, aku akan kembali ke sini dan biarlah tempat ini menjadi tempat pertemuan kita. Selain itu, harap kau suka melihat-lihat kalau-kalau Nona Lauw Sin Lian tiba di sini. Kalau Nona Lulu tidak ada di Se-cuan, barangkali dia akan datang bersama Nona Lauw.”

Han Han mengangguk dan mereka lalu berpisah. Baru saja beberapa langkah Sin Kiat sudah membalikkan tubuhnya. “Han Han, ada urusan apakah sebetulnya? Apakah aku tidak bisa membantumu sebelum kita berpisah?”

Han Han hanya menggeleng kepala. “Urusan ini adalah urusan pribadiku. Berangkatlah, Sin Kiat dan sampai jumpa. Percayalah, kalau memang aku memerlukan bantuanmu, tentu aku akan minta bantuan. Sekarang ini, bantuanmu satu-satunya yang kuperlukan hanya mencari Lulu sampai dapat.”

Sin Kiat menghela napas. “Kau tentu tahu bahwa aku siap mengorbankan apa saja untuk adikmu. Sampai jumpa!” Sin Kiat lalu pergi meninggalkan Han Han yang masih berdiri termenung-menung di tempat itu.

Aku harus mencari Lulu dan juga mencari musuh-musuhku, pikirnya. Dan menurut enci-nya tidak hanya cihu-nya berada di perbatasan Se-cuan, namun juga musuh besarnya nomor satu, Giam Kok Ma, dan mungkin juga empat perwira lainnya. Ia merasa menyesal kalau teringat betapa dia tidak berhasil membunuh Su-ciangkun karena pada waktu itu ada Ma-bin Lo-mo dan dia sedang menghadapi pengeroyokan ratusan orang tentara sehingga Su-ciangkun mendapat banyak kesempatan untuk melarikan diri.

Sekali ini aku tidak boleh gagal, pikirnya. Kembali terdengar derap kaki kuda, kini ada banyak kuda yang datang ke kota itu. Ketika Han Han menengok, ia melihat pasukan yang terdiri dari belasan orang penunggang kuda berhenti di tempat ramai dan kepala regu berkuda itu membacakan pengumuman dengan suara lantang dari atas kudanya yang menggerak-gerakkan kepala. Han Han mendengarkan.

Kiranya pasukan itu adalah pasukan yang bertugas mengumumkan bahwa berhubung dengan ulang tahun ke sepuluh dari kaisar, yaitu sepuluh tahun semenjak kaisar memegang kendali kerajaan, maka di seluruh negara diadakan pesta perayaan yang dibiayai oleh pemerintah dan rakyat akan dihibur dengan tontonan-tontonan gratis, bahkan di beberapa tempat akan disediakan arak dan roti kering yang boleh dimakan dan diminum di tempat itu secara gratis pula. Pesta akan dimulai malam nanti sampai tiga hari tiga malam lamanya.

“Terutama di daerah ini, akan diadakan pesta besar-besaran, rakyat diberi kesempatan bersuka ria!” Demikian kepala regu itu menutup pengumumannya dengan suara lantang.

Penduduk kota itu menjadi girang dan bersorak-sorak. Diam-diam Han Han memuji kecerdikan pemerintah. Justru di perbatasan ini pemerintah agaknya akan membuktikan perbedaan yang menyolok antara kehidupan rakyat di daerah pemerintah dan di seberang lewat perbatasan, daerah pemberontak. Di samping merayakan ulang tahun kedudukan kaisar, juga pesta itu dapat dipergunakan untuk mempengaruhi penduduk di daerah pemberontak agar mereka melihat bahwa peri-kehidupan rakyat di daerah pemerintah lebih makmur! Waktu itu permulaan tahun 1673 dan memang sudah sepuluh tahun Kaisar Kang Hsi menduduki singgasana pemerintah Ceng.

Han Han berjalan-jalan di kota sambil menyelidiki adiknya, juga mencari keterangan tentang perwira-perwira Mancu yang bertugas di perbatasan. Dia melihat persiapan-persiapan yang dibuat untuk pesta malam nanti. Panggung-panggung dibuka, panggung wayang dan lain-lain, suasana mulai ramai dan meriah karena rakyat juga menghias rumah-rumah mereka dengan bunga-bunga kertas yang dibagi-bagikan oleh petugas pemerintah setempat.

Tadinya Han Han hendak mencari tempat penginapan yang tidak usah bayar, seperti di kelenteng atau kalau perlu di bawah jembatan. Akan tetapi ketika ia merogoh saku bajunya, ia mendapatkan uang di situ dan ketika dilihatnya, ternyata ada beberapa potong uang perak dan dua potong uang emas!

Han Han menghela napas dan maklum bahwa tentulah Sin Kiat yang menaruhkan uang di sakunya di luar tahunya, mungkin malam tadi ketika mereka tidur di hutan di luar kota. Dan ia maklum mengapa Sin Kiat melakukan hal itu. Pertama, karena Sin Kiat maklum bahwa dia memang tidak beruang sama sekali, kedua karena kalau Sin Kiat memberi secara terang-terangan, tentu dia akan menolaknya!

Karena mempunyai uang, Han Han tidak jadi mengisi perut dengan roti kering dan arak gratis, juga tidak mencari penginapan gratis, melainkan menyewa sebuah kamar sederhana di sebuah rumah penginapan kecil di sudut kota. Setelah mandi dan bertukar pakaian bersih, sore hari itu ia keluar dari kamar, terpincang-pincang pada tongkatnya, hendak menonton keramaian dengan harapan mungkin Lulu akan datang pula. Adiknya itu paling suka menonton pertunjukan, maka seandainya Lulu berada di tempat yang berdekatan, tentu adiknya itu akan datang ke kota Tiang-koan-bun ini untuk nonton wayang!

Akan tetapi sama sekali bukan Lulu yang dilihatnya di antara ribuan orang yang tak dikenalnya yang memenuhi kota di malam hari itu, melainkan seorang pria muda yang sama sekali tidak pernah disangka-sangkanya akan dia jumpai lagi, Gu Lai Kwan! Atau suheng-nya, murid Toat-beng Ciu-sian-li, pemuda In-kok-san yang lihai, yang dulu diperintah oleh Toat-beng Ciu-sian-li untuk membunuhnya! Golok pemuda inilah yang telah membacok putus kakinya!

Han Han terkejut sekali dan cepat menyelinap di antara orang banyak. Dia tidak membenci Gu Lai Kwan yang dahulu di waktu kecilnya adalah temannya main-main, juga teman berlatih. Biar pun senjata pemuda ini yang membuntungi kakinya, akan tetapi pemuda itu hanyalah mentaati perintah Toat-beng Ciu-sian-li, karena murid yang tidak taat akan menerima hukuman lebih berat lagi. Lai Kwan adalah seorang di antara mereka berempat yang diambil murid oteh Toat-beng Ciu-sian-li. Lai Kwan, dia sendiri, Kim Cu dan Phoa Ciok Lin yang bermata tajam dan berwajah serius itu!

Melupakan semua persoalan yang pernah timbul di antara mereka, Han Han yang tadinya girang melihat Lai Kwan dan hendak menegur, tiba-tiba teringat bahwa Ma-bin Lo-mo kini telah bersekongkol dengan pemerintah Mancu. Kalau Ma-bin Lo-mo telah menjadi kaki tangan Mancu, sangat boleh jadi Toat-beng Ciu-sian-li juga menjadi kaki tangan Mancu dan tentu murid-muridnya sama saja.

Mengingat akan hal ini, ia membatalkan niatnya menegur bekas suheng ini dan Han Han malah membayanginya dengan diam-diam. Ia melihat Lai Kwan dengan senyum-senyum di wajahnya yang tampan itu berjalan-jalan dan menonton pertunjukan wayang sebentar, kemudian pemuda In-kok-san itu lalu berjalan lagi memasuki sebuah rumah penginapan besar. Pengurus rumah penginapan itu menyambut dengan membungkuk-bungkuk penuh hormat. Han Han yang menyelinap di sudut hotel itu bersembunyi di balik dinding, mendengar suara Lai Kwan bertanya dengan suara angkuh.

“Ouwyang-kongcu sudah datang?”

“Oh, sudah, sudah, Gu-taihiap. Malah semua orang sudah berkumpul, tinggal menanti taihiap dan beberapa orang tamu agung lagi,” pengurus hotel itu berkata hormat.

Han Han mengangguk-angguk. Tak salah dugaannya. Bila Lai Kwan telah berhubungan dengan Ouwyang-kongcu yang ia duga tentulah bukan lain Ouwyang Seng adanya, jelas bahwa pemuda ini pun mengikuti jejak Ma-bin Lo-mo dan bersekongkol dengan pemerintah Mancu. Hemmm, dahulu Ouwyang Seng pernah menculik Lulu dan biar pun tidak mengganggu Lulu, namun dapat diharapkan bahwa pemuda putera pangeran itu kini mengetahui di mana adanya Lulu. Sungguh pertemuan yang tak pernah disangka-sangkanya!

Hatinya girang sekali dan timbul harapan baru. Dengan cepat tanpa diketahui siapa pun, Han Han menyelinap ke belakang, menggunakan kepandaiannya bagaikan seekor burung tubuhnya sudah mencelat ke atas. Ia maklum bahwa di tempat itu terdapat banyak sekali orang pandai, maka ia bersikap hati-hati, dan selain mempergunakan ginkang-nya sehingga kakinya tidak menimbulkan suara dan tongkatnya tidak pernah menyentuh genteng, ia juga selalu bersembunyi di dalam bayangan yang gelap sampai ia berhasil mengintai dari atas ruangan yang dimasuki Lai Kwan.

Ruangan itu merupakan ruangan paling belakang di hotel itu dan dari atas Han Han dapat melihat bahwa hotel itu ternyata tidak dimasuki tamu lain kecuali rombongan orang-orang penting. Agaknya hotel ini telah diborong. Buktinya Li Kwan memasuki hotel itu tanpa memperhatikan keadaan sekelilingnya dan agaknya semua kamar di hotel itu hanya ditempati oleh orang-orang mereka sendiri. Ketika Han Han melihat mereka yang duduk memenuhi ruangan itu, sejumlah belasan orang, ia makin kaget mengenal tokoh-tokoh yang ia jumpai dahulu ketika ia terjebak oleh Giam Kok Ma di kota raja.

Ia mengenal Ouwyang Seng, Kang-thouw-kwi Gak Liat, cihu-nya sendiri Giam Cu, musuh besarnya, Giam Kok Ma, kemudian tokoh-tokoh aneh seperti Sin-tiauw-kwi Ciam Tek yang kepalanya seperti burung berondol bulunya itu, kakak beradik Tikus Kuburan Bhong Lok dan Bhong Poa Sik, juga tiga orang murid Setan Botak, yaitu Hek-giam-ong, Pek-giam-ong, dan Hiat-ciang Sian-li Ma Su Nio! Masih ada beberapa orang perwira dan tokoh-tokoh aneh yang tak dikenalnya, akan tetapi semua ini sudah cukup bagi Han Han bahwa di situ diadakan rapat yang amat penting oleh perwira-perwira Mancu dan tokoh-tokoh lihai dunia kang-ouw yang menjadi kaki tangan pemerintah Mancu.

Dia akan mendengarkan dulu apa yang hendak mereka bicarakan, siapa tahu kalau-kalau mereka akan menyinggung-nyinggung nama Lulu. Andai kata tidak, masih belum terlambat bagi dirinya untuk mencari kesempatan menangkap Ouwyang Seng dan memaksa pemuda bangsawan itu bicara tentang Lulu. Kalau dia turun tangan, ia masih merasa sangsi apakah ia akan mampu menghadapi sekian banyaknya orang-orang yang memiliki kepandaian tinggi.

Ketika Lai Kwan muncul, sebagian dari mereka berdiri dan menyambut dengan hormat, terutama para perwira. Hanya Gak Liat dan tiga orang muridnya yang tidak berdiri, bahkan Gak Liat lalu menegur.

“Gu-sicu, mana gurumu dan Si Kuda Iblis?”

Gu Lai Kwan menjura ke arah Gak Liat yang dianggapnya orang yang lebih tinggi kedudukannya, lalu menjawab sambil duduk di atas kursi yang masih banyak yang kosong.

“Siankouw... eh, maksudku Subo (Ibu Guru) tidak dapat hadir sendiri dan mewakilkan kepada saya, juga Siangkoan Suhu tidak dapat datang, akan tetapi dalam waktu tiga hari Suhu dan Subo akan datang ke Tiang-koan-bun.”

Gak Liat mengangguk-angguk. Tak lama kemudian masuklah tiga orang perwira Mancu dan agaknya para anggota rapat sudah terkumpul semua, buktinya Giam Cu, kakak iparnya bangkit berdiri dan menjura kepada semua orang sambil berkata.

“Cu-wi sekalian tentu sudah maklum mengapa saat ini kita berkumpul semua di kota ini. Bertepatan dengan ulang tahun ke sepuluh dari Hong-siang (Kaisar) yang bijaksana dan yang dalam sepuluh tahun telah mendatangkan kemajuan pesat di negara kita, maka kita dihadapkan pada pemberontak yang kini telah berkumpul semua di Se-cuan. Menurut perintah dari Hong-siang sendiri, dalam tahun ini juga kita diharuskan menyerbu dan menghancurkan pusat pemberontak itu dan untuk tugas ini telah diserahkan kepada yang mulia Puteri Nirahai yang akan memimpin sendiri penyerbuan ke Se-cuan. Kita semua sudah mengetahui akan kecerdikan dan keahlian Sang Puteri, maka kini beliau telah mengutus Gak-locianpwe yang mewakili beliau untuk memimpin penyerbuan ke Se-cuan. Maka kami serahkan kepada Gak-locianpwe yang akan mengemukakan pendapat dan rencananya.” Giam Cu lalu duduk kembali dan menoleh kepada Gak Liat, dan semua orang pun kini memandang kepada Si Setan Botak itu.

Kang-thouw-kwi Gak Liat menggaruk-garuk botaknya, lalu berkata tanpa berdiri.

“Sesungguhnya, dalam soal ketentaraan saya tidak memiliki pengertian apa-apa dan untuk pelaksanaan penyerbuan, tentu saja saya mengharapkan petunjuk-petunjuk para perwira tinggi yang sudah berpengalaman dalam soal perang. Akan tetapi, untuk menghadapi para tokoh pemberontak yang kabarnya memiliki banyak orang pandai, saya dan teman-teman siap untuk turun tangan. Ada pun Sang Puteri yang menyuruh saya mewakili beliau hanya mengatakan bahwa penyerbuan harus dilakukan dengan rahasia sehingga pihak musuh tidak sedang berjaga, dan di dalam suasana pesta ini kiranya mereka tidak akan menyangka akan datangnya penyerbuan. Maka telah diputuskan oleh Sang Puteri untuk melakukan penyerbuan pertama pada bulan depan hari ke tujuh.”

Han Han kaget mendengar ini. Ah, kiranya tentara Mancu tak lama lagi akan melakukan penyerbuan besar-besaran, menggunakan kesempatan selagi pihak Se-cuan tidak menduga-duga karena dalam suasana pesta itu agaknya tidak mungkin tentara Mancu akan melakukan penyerangan. Dan agaknya Kaisar Mancu hendak mempergunakan penyerbuan Se-cuan ini sebagai hadiah ulang tahunnya!

Han Han tidak begitu peduli akan perang, namun mengingat akan keganasan tentara Mancu, ia dapat membayangkan betapa akan sengsaranya rakyat yang tinggal di daerah Se-cuan. Ia merasa telah menjadi kewajibannya untuk memberi tahu ke Se-cuan agar di sana orang dapat berjaga-jaga. Apa lagi kalau diingat bahwa banyak sahabat baiknya berada di sana, bahkan Sin Lian sendiri pun tak lama lagi tentu akan masuk ke Se-cuan bersama teman-temannya.

Akan tetapi, tidak mungkin ia meninggalkan Giam Kok Ma begitu saja. Musuh besar yang paling dibencinya itu, Si Muka Kuning yang dahulu memperkosa ibunya telah berada di situ. Bagaimana ia dapat melewatkan kesempatan baik ini begitu saja? Dia harus turun tangan melakukan pembalasan terhadap perwira keji ini, baru ia akan memaksa Ouwyang Seng bicara tentang Lulu. Setelah itu, barulah ia akan pergi ke Se-cuan untuk menyampaikan berita penyerbuan itu kepada Wan Sin Kiat!

Dengan sabar ia mendengarkan semua percakapan mereka dan mengingat-ingat nama tempat-tempat yang akan dijadikan dasar tempat penyerangan mereka, tempat-tempat di pihak musuh yang akan diserbu dan lain-lain. Tentu saja Han Han tidak dapat ingat semua, akan tetapi setelah mengingat beberapa nama tempat yang penting, ia merasa sudah cukup.

Ketika pembicaraan yang penting dihentikan dan pertemuan diubah menjadi pesta di mana mereka silih berganti mengangkat cawan arak dan minum untuk memberi selamat kepada kaisar, makan minum sambil tertawa-tawa, Han Han lalu melesat meninggalkan tempat pengintaiannya, turun di belakang hotel lalu berjalan perlahan keluar dari jalan samping ke jalan besar.

Ia menyelinap di antara para penonton dan menonton pertunjukan silat dan barongsai yang dimainkan di panggung dekat hotel. Dari tempat ia menonton, di antara ratusan orang penonton, ia dapat melihat ke arah hotel untuk memata-matai orang yang keluar dari tempat itu.

Betapa mengkal hati Han Han ketika ia menanti hampir tengah malam, belum ada juga yang keluar dari hotel, apa lagi Giam Kok Ma yang ia tunggu-tunggu munculnya. Ia mulai tidak sabar dan sudah melangkahkan kaki untuk turun tangan di hotel itu saja, tidak peduli di situ banyak terdapat orang pandai! Untuk membalas dendamnya, ia tidak takut mengorbankan nyawanya. Kalau tadi ia bersikap hati-hati, bukan karena takut ia akan celaka. Akan tetapi takut kalau gagal. Ia tidak rela mati sebelum ia mampu membalas dendam ibunya! Akan tetapi ternyata sampai sekarang perwira muka kuning yang ditunggu-tunggunya belum juga muncul.

Selagi bergerak terpincang-pincang tiga langkah, tiba-tiba ia berhenti dan matanya memandang ke depan hotel. Sebuah kereta datang dari luar memasuki halaman hotel itu, kereta yang dikusiri oleh seorang berpakaian pengawal, dan di belakang kereta berdiri pula dua orang pengawal memegang tombak! Cepat Han Han menyelinap dan mengintai agak dekat pekarangan hotel. Jantungnya berdebar dan diam-diam ia mengharap mudah-mudahan jerih payahnya bersabar sejak tadi tidak akan sia-sia belaka.

Wajah Han Han berseri ketika tak lama kemudian ia melihat orang yang dinanti-nanti muncul dari dalam hotel itu. Giam Kok Ma! Pemuda ini menggeget gigi ketika melihat wajah perwira muka kuning yang amat dibencinya itu. Dan di samping orang ini berjalan cihu-nya (iparnya), Giam Cu, Ouwyang Seng dan Gu Lai Kwan. Agaknya musuh besarnya itu akan duduk sekereta dengan tiga orang ini. Dugaannya benar, sambil tertawa bebas tanda pengaruh arak, mereka berempat memasuki kereta dan kusir lalu memecut empat ekor kuda besar yang bergerak menarik kereta keluar dari pekarangan hotel.

Tanpa diketahui oleh siapa pun, Han Han menggunakan kepandaiannya membayangi kereta itu. Di ujung kota sebelah barat, kereta berhenti dan Han Han cepat mendekat sambil berjongkok di balik batu di pinggir jalan. Dia mendengar Ouwyang Seng dan Gu Lai Kwan tertawa-tawa dan dua orang muda itu keluar dari kereta. Kereta berjalan lagi keluar kota! Han Han girang bukan main. Kesempatan yang amat baik ini sama sekali tidak disangka-sangkanya.

Akan tetapi di dalam kereta masih ada cihu-nya dan dia tidak mau membawa-bawa cihu-nya dalam urusan membalas dendam ini. Dia sudah berjanji kepada enci-nya untuk tidak mengganggu Giam Cu, dan kalau dia turun tangan di depan cihu-nya lalu Giam Cu membantu musuh, agaknya ia akan bisa lupa diri dan melanggar janji kepada enci-nya. Biarlah, dia akan tunggu sampai dua orang itu berpisah, baru ia akan turun tangan. Kalau Giam Kok Ma turun lebih dulu, ia akan menyergap pembesar ini di rumah tempat ia bermalam.

Kereta berhenti pula di depan kelompok rumah besar yang agaknya merupakan rumah-rumah penginapan perwira. Giam Cu keluar dari kereta sambil tertawa-tawa dan setelah perwira ini disambut oleh pengawal yang mengantarnya masuk ke dalam, kereta bergerak lagi!

“Thian menghendaki agar manusia terkutuk macam engkau menerima hukuman!” Han Han berbisik dalam hatinya.

Ketika kereta itu agak jauh meninggalkan rumah itu dan agaknya hendak menuju ke tempat penginapan Giam Kok Ma, Han Han meloncat ke atas. Sekali ia menggerakkan tangan, dua orang pengawal yang berdiri di belakang kereta telah tewas dalam keadaan berdiri dan tengkuk mereka patah. Han Han meloncat ke belakang kereta sambil melemparkan dua tubuh yang tak bernyawa lagi itu, kemudian ia meloncat lagi ke depan kereta.

Kusir kereta yang sedang mencambuki kuda agar berjalan lebih cepat karena ia pun ingin sekali mengaso, terbelalak kaget ketika melihat bayangan berkelebat dan tahu-tahu ada orang duduk di sampingnya. Namun ia tidak sempat berteriak, tubuhnya sudah terlempar jauh dalam keadaan tidak bernyawa tagi. Han Han menyambar kendali kuda dan menggerak-gerakkan cambuk yang mengeluarkan bunyi meledak-ledak. Empat ekor kuda itu membalap cepat.

“Heiiiii...! Mengapa terlalu cepat? Perlahan-lahan saja, kepalaku pening... ah! Heh, ke mana ini? Kenapa membelok ke kiri?”

Giam Kok Ma yang tadinya sudah setengah mabuk, tiba-tiba merasa tengkuknya menjadi dingin sekali ketika mendengar suara tertawa dari tempat kusir kereta. Suara ketawa itu aneh sekali, dan kusirnya tidak akan berani tertawa seperti itu kalau ia tegur.

“Heh, apa ini? Hayo berhenti...!” Giam Kok Ma memukul-mukul pintu kereta sambil berteriak-teriak marah. “Pengawal, suruh kusir berhenti dan beri sepuluh kali cambukan pada pantatnya!”

Akan tetapi tidak ada jawaban dari belakang. Giam Kok Ma cepat menyingkap tirai bagian belakang dan... betapa kagetnya ketika ia melihat tempat pengawal di belakangnya itu sudah kosong! Ia melongok keluar jendela, akan tetapi tidak dapat melihat wajah kusir karena gelap.

“Berhenti...!” Ia berseru lagi dan kini kusir menahan kuda, kereta pun berhenti.

Dengan kemarahan meluap-luap Giam Kok Ma yang juga memiliki ilmu silat lumayan, meloncat ke luar dari kereta sambil mencabut pedangnya, pedang kebesaran. Kalau perlu akan membunuh kusir yang lancang ini, dan ia bisa pulang dengan menunggang kuda! Ia terheran-heran dan menjadi ngeri melihat seorang yang buntung sebelah kakinya, yang turun dari tempat kusir, dengan sikap seenaknya dan tenang sekali mencabut lampu kereta dan berjalan menghampirinya, bukan berjalan melainkan meloncat dengan kecepatan luar biasa sekali.

Han Han memegang lampu kereta, mengangkat lampu tinggi-tinggi sehingga mereka berdua dapat saling memandang muka masing-masing. Han Han memandang wajah yang kekuningan itu penuh kebencian, sedangkan Giam Kok Ma agaknya tidak mengenal Han Han. Sungguh pun perwira ini merasa seperti pernah melihat wajah tampan yang bermata seperti sepasang api bernyala dengan rambut panjang terurai itu, namun ia tidak ingat pernah bertemu dengan seorang laki-laki buntung seperti ini.

“Siapa... siapa engkau...? Di mana kusirku? Mana pengawal-pengawalku?”

Han Han tersenyum, senyum yang tampak mengerikan dan menyeramkan bagi Giam-ciangkun. “Giam Kok Ma, tidak perlu mencari kusir dan pengawal-pengawalmu. Mereka telah kubunuh di tengah jalan tadi. Giam Kok Ma, apakah engkau lupa kepadaku?”

“Siapa... siapakah engkau...?” Suaranya meragu karena kini ia teringat akan suara ini, suara orang yang pernah membuat ia tidak enak makan tidak nyenyak tidur.

“Ingatlah baik-baik, pandang mukaku. Lupakah engkau akan peristiwa terkutuk yang kau lakukan di Kam-chi dekat Nan-king, di sebuah dusun kecil di mana engkau melakukan perbuatan terkutuk di rumah keluarga Sie Bun An?”

“Kau... kau...?”

“Benar! Kulihat engkau mulai teringat. Tentu engkau ingat akan anak laki-laki yang berteriak-teriak seperti gila ketika engkau memperkosa ibunya, kemudian engkau membunuh ibu anak itu, kawan-kawanmu membunuh seluruh keluarga anak itu, merampas barang-barangnya! Akulah anak itu! Akulah anak yang kau lemparkan ke dinding! Ingat?” Pandang mata Han Han seperti pandang mata beekor harimau marah.

Giam Kok Ma menggeleng-gelengkan kepalanya dan lalu berteriak, “Tidak... tidak...! Ah, tolooonggg...!”

Han Han tersenyum lebar. “Benar kata orang bahwa manusia yang berhati kejam sebenarnya adalah seorang pengecut besar! Giam Kok Ma, bersiaplah engkau untuk menebus dosamu, menerima hukumanmu atas perbuatanmu yang terkutuk terhadap Ibuku!”

Han Han melangkah maju karena perwira itu dengan muka sepucat mayat kini mundur-mundur, agaknya siap untuk melarikan diri. Namun kemudian perwira itu menguatkan hatinya. Orang ini kakinya buntung dan dia sendiri memegang pedang! Masa tidak akan dapat melawan seorang buntung?

“Mampuslah, buntung!”

Makian ini dikeluarkan oleh Giam Kok Ma untuk membesarkan hatinya dan menggugah keberaniannya. Pedangnya lalu berkelebat membacok ke arah muka yang mengerikan hatinya itu. Akan tetapi Han Han menggerakkan tangan dan Giam Kok Ma tidak tahu entah bagaimana, namun pedangnya sudah berpindah ke tangan kiri Han Han yang memegang tongkat!

Han Han tersenyum, senyum seorang yang dikuasai kemarahan dan kekejaman.

“Bagus, Giam Kok Ma, masih ada lagikah perlawananmu? Jikalau engkau melawan, sedikitnya engkau memperkecil sebutan pengecut!”

Kedua kaki perwira itu mulai menggigil, mukanya sudah tidak ada sinar merahnya lagi. Ia hendak lari, akan tetapi kedua kakinya tidak mempunyai kekuatan lagi dan dia menjadi nekat, tangannya dikepal dan dihantamkan ke dada Han Han.

“Bukkk! Augghhhh...!”

Perwira itu memegangi kepalan tangan kanannya yang terasa nyeri sekali, seolah-olah ia tidak memukul dada, melainkan memukul baja. Serasa remuk tulang-tulangnya! Saking takutnya tanpa ia sadari lagi celananya menjadi basah! Kiranya rasa ngeri dan takut membuat perwira yang biasanya galak ini menjadi terkencing-kencing! Tiba-tiba ia menggerakkan kakinya, membalikkan tubuhnya dan hendak lari. Akan tetapi ia terguling oleh sabetan tongkat pada kakinya. Han Han mengempit tongkatnya, mengangkat lampu kereta dan kini pedang rampasan di tangannya berkelebat.

“Brettt-brettt...!” Pakaian pembesar itu koyak-koyak dan ia telanjang bulat.

Pedang itu sudah merobek semua pakaiannya tanpa menggores sedikit pun kulitnya! Giam Kok Ma menggigil, bukan karena dingin setelah ia telanjang bulat, melainkan saking takutnya. Tanpa malu-malu lagi ia merangkak bangun dan berlutut, bersoja-kwi (menyembah-nyembah) sampai dahinya penuh debu tangan dan ia meratap.

“Taihiap... ampun... ampunkan hamba... ampuuunnnnn...!” Dan ia menangis mengguguk seperti anak kecil!

Akan tetapi sepasang mata Han Han mengeluarkan sinar yang lebih ganas dan beringas dari pada tadi. Di bawah sinar lampu kereta ia melihat tubuh perwira yang telanjang bulat itu berlutut dan menyembah-nyembah, mengingatkan ia akan keadaan perwira itu belasan tahun yang lalu di kamar ibunya! Mengingatkan ia ketika perwira itu memperkosa ibunya! Ia seolah-olah dapat melihat ibunya di bawah tubuh perwira itu, ibunya yang meronta-ronta, menggeliat-geliat dan merintih-rintih!

“Bedebah! Keparat! Manusia berhati iblis! Manusia terkutuk! Terimalah hukumanmu!”

Giam Kok Ma mengangkat muka. Saat melihat wajah Han Han yang beringas di bawah sinar lampu kereta, semangatnya seperti terbang meninggalkan tubuhnya. “Aduhhh... ampunkan, taihiap... apa... apa yang akan taihiap lakukan...?”

“Apa yang akan kulakukan? Ha-ha, Giam Kok Ma, apa yang dulu kau lakukan kepada Ibuku? Jawablah... heh-heh, jawab!”

“Ampunnn...!”

“Giam Kok Ma, ingatkah engkau betapa tangan-tanganmu yang kotor itu menyentuh Ibuku, menelanjangi Ibuku? Hemmm, ingatlah peristiwa itu dan rasakan hukumanmu!”

Pedang itu berkelebat, Giam Kok Ma menjerit dan merintih-rintih sambil memegangi tangan kirinya yang tidak berjari lagi. Kelima jari tangan kirinya telah dibabat putus tanpa ia rasakan dan tahu-tahu ia hanya merasa perih dan jari-jari tangannya sudah lenyap!

“Ampun... aduh, ampun...!”

“Manusia terkutuk, ingatlah engkau akan ratap tangis Ibuku! Betapa engkau tertawa mengejek ketika memperkosanya dan dia menjerit-jerit, betapa engkau dan kawan-kawanmu tertawa ketika kau bunuh seluruh keluargaku! Betapa tanganmu yang menjijikkan mengotori Ibuku kemudian membunuhnya. Terimalah hukumanmu!”

Kembali tampak sinar pedang berkelebat menyambar dan kini kelima buah jari tangan Giam Kok Ma terbang lenyap, yaitu jari tangan kanan yang memegangi tangan kiri yang sudah tak berjari itu.

“Aduhhhh... mati aku... aduh, ampunnnn... taihiap...!”

“Mintalah ampun kepada Tuhan, atau mintalah ampun kepada iblis! Akan tetapi jelas aku tidak dapat mengampunimu!”

Pedang di tangan Han Han berkelebatan seperti kilat menyambar-nyambar, disusul jerit-jerit mengerikan yang keluar dari mulut Giam Kok Ma! Darah muncrat-muncrat dan keadaan perwira yang bertelanjang bulat itu benar-benar amat mengerikan. Jari-jari tangannya putus semua, disusul jari-jari kakinya, kemudian alat kelaminnya dibabat pedang sehingga terputus. Darah muncrat-muncrat, Giam Kok Ma tidak dapat menjerit lagi, hanya berkelojotan dan mengeluarkan suara seperti seekor babi disembelih.

Han Han tertawa, suara ketawanya tidak lagi seperti manusia, sepertinya iblis telah menguasai dirinya dan suara itu adalah suara ketawa iblis sendiri yang menyoraki kemenangannya!

“Ha-ha-ha-ha! Rasakan engkau! Hendak kulihat apakah engkau ini akan mampu lagi memperkosa wanita! Ha-ha-ha!”

Sejenak Han Han seperti menikmati pemandangan yang disinari lampu kereta di tangannya itu. Tubuh telanjang bulat yang mandi darah, yang menggeliat-geliat dan berkelojotan, sepasang mata di muka calon mayat yang terbelalak penuh ketakutan, mulut yang menjadi menceng saking menahan rasa nyeri menusuk-nusuk. Kemudian Han Han tertawa lebih keras.

“Ha-ha-ha! Lihatlah Ibu! Lihatlah musuh besarmu!”

Pedangnya yang sudah merah itu bergerak dan kini menyayat-nyayat kulit tubuh telanjang itu. Tidak terlalu dalam, hanya menggurat-gurat kulit sehingga kulit di seluruh tubuh Giam Kok Ma pecah disayat-sayat, dan seluruh tubuh dari muka sampai ke kakinya menjadi merah oleh darahnya sendiri! Bukan main rasa nyeri diderita orang ini karena pedang itu tidak menggurat terlalu dalam sehingga dia tidak pingsan. Dalam keadaan sadar merasai siksaan seperti itu benar-benar amat mengerikan.

Sambil terus tertawa-tawa pedang Han Han berkelebat, terdengar jerit terakhir Giam Kok Ma ketika ujung pedang memasuki rongga perut, dari ulu hati terus merobek ke bawah, sehingga terbukalah perutnya, usus dan semua isi perut yang tidak tertutup lagi itu berhamburan keluar semua! Han Han masih belum puas, karena iblis kebencian dan dendam masih menguasai hatinya. Pedangnya menyambar-nyambar. Leher itu putus, disusul pinggang dan dalam sekejap mata saja tubuh Giam Kok Ma sudah putus menjadi beberapa potong!

Han Han berdiri terengah-engah, tak bergerak seperti patung, memandang daging-daging berdarah yang berceceran di depannya. Matanya terbelalak, hidungnya kembang-kempis dan pedang bernoda darah di tangan kiri, lampu di tangan kanan. Tiba-tiba kerongkongannya mengeluarkan suara keluhan aneh, matanya yang terbelalak dan yang tadi bersinar ganas dan liar, kini kehilangan sinar itu, terganti sinar penuh takut dan ngeri. Dengan tangan menggigil ia melempar pedang yang berlumuran darah itu ke atas tanah. Matanya tak pernah berkedip memandang daging berceceran itu, kini kedua pundaknya yang menggigil seolah-olah ia diserang demam.

“Tidak...! Tidak...!” Ia menggeleng-geleng kepalanya seolah-olah tidak percaya bahwa pemandangan mengerikan itu adalah akibat perbuatannya. Kemudian ia mengangkat kedua tangan menutupi muka, terus menggeleng-geleng kepala. Tubuhnya bergoyang-goyang seperti pohon muda terlanda angin besar.

“Tidak...! Tidak mungkin...!” Ia berteriak, kemudian menurunkan tangan dan memandang ke kanan kiri mencari-cari.

“Iblis...! Iblis menguasai aku! Iblis, di mana engkau...? Harus kuhancurkan engkau!” Tubuhnya melesat ke sana ke mari, tongkatnya berkelebatan dan terdengarlah suara hiruk-pikuk. Kereta hancur, empat ekor kudanya terlepas dan lari ketakutan. Pohon-pohon di sekitar tempat itu jebol dan tumbang.

Akhirnya Han Han roboh terkulai di atas tanah dan menangis. “Ibu... Ibu... mengapa aku menjadi begini? Iblis... mengapa aku begini kejam dan ganas? Ah, Giam Kok Ma, engkau boleh jadi seorang manusia jahat dan kejam, telah memperkosa Ibuku dan membunuh keluargaku. Akan tetapi... ya Tuhan... yang kulakukan tadi... ah, jauh lebih kejam...! Giam Kok Ma, engkau manusia keji dan jahat, akan tetapi aku tidak lebih baik dari pada engkau...!”

Tiba-tiba Han Han mencelat dan lenyap dari situ, di dalam gelap masih terdengar suaranya, “Tuhan... ampunkan aku... Ayah Ibu, ampunkan aku...!” Disusul suara tangisnya dan tubuhnya berkelebatan ke luar dari tempat itu, menuju ke kota Tiang-koan-bun kembali.

Peristiwa yang terjadi di hutan itu, yang amat mengerikan, adalah peristiwa yang sering kali terjadi pada setiap manusia. Manusia adalah makhluk yang sebenarnya amat lemah menghadapi nafsu-nafsunya sendiri. Sekali nafsu menguasai diri, pertimbangannya menjadi miring. Akal diperalat pemuasan nafsu, dan budi lenyap sinarnya, tertutup oleh uap hitam dari nyala nafsu yang berkobar.

Han Han dikuasai nafsu dendam kebencian yang bertahun-tahun ditekannya, kini meledak dan sepenuhnya menguasai dirinya sehingga ia melakukan pembalasan dendam yang amat kejam, tidak kalah kejamnya dengan perbuatan yang dilakukan Giam Kok Ma sendiri ketika perwira itu pun dikuasai nafsunya. Setelah iblis atau nafsu meninggalkannya dan ia sadar, penyesalan datang menimpanya. Baru terbuka mata pemuda itu betapa kejam dan kelirunya perbuatannya tadi, baru teringat olehnya akan wejangan-wejangan kebatinan yang pernah dibacanya bahwa membalas kekejaman dengan kekejaman, membalas kejahatan dengan kejahatan, adalah perbuatan manusia yang lemah.

Han Han lupa bahwa dahulu ia menganggap tepat wejangan filsafat yang mengatakan bahwa perbuatan jahat harus dibalas dengan keadilan! Akan tetapi, keadilan itu sendiri akan menjadi kotor dan tidak murni, tidak adil lagi kalau pelaksanaannya dikuasai pula oleh nafsu dendam dan kebencian. Dengan demikian bukanlah keadilan lagi namanya, melainkan kejahatan dalam bentuk lain! Keadilan hanya murni kalau dilaksanakan tanpa pengaruh benci dan suka, tidak berat sebelah dan pelaksanaannya hanya demi keadilan itu sendiri yang sudah ada batas-batasnya dan ada hukum-hukumnya.

Memang tidaklah mudah bagi orang-orang muda seperti Han Han untuk dapat menerima dan menghayati filsafat itu. Manusia, terutama yang masih muda memang masih amat kuat sifat mementingkan diri pribadi (egoism) yang tentu saja amat berguna untuk mengejar cita-cita dan mencapai kemajuan duniawi. Karena sifat ini maka mudah sekali menjadi mangsa nafsu, mudah dikuasai nafsu sehingga lupa diri. Terutama sekali dalam soal mendendam, bagi orang muda amat sukarlah untuk menekan nafsu amarah dan dendam kebencian yang menciptakan keinginan melihat orang yang dibencinya itu mengalami siksa sehebat-hebatnya. Terciptalah sifat kejam (sadistic) yang dibentuk nafsu marah dan benci, ingin melihat orang yang telah mencelakakan dan menyengsarakan dirinya itu tertimpa mala petaka yang lebih sengsara lagi!

“Lulu... ahhh, Adikku Lulu... di mana engkau...?” Han Han berloncatan dan kini ia mengeluh memanggil-manggil nama adiknya. Ia merasa seperti hanyut terbawa air yang deras, hanyut tidak berdaya dan tidak ada sesuatu yang dapat menolongnya kecuali Lulu yang merupakan bayang-bayang di permukaan air yang menghanyutkan. Kalau berjumpa dengan Lulu, tentu dia tidak akan sengsara seperti ini.

Teringat akan Lulu, hati Han Han berduka dan ia kini berjalan perlahan dibantu tongkatnya, menuju ke Tiang-koan-bun yang sudah tampak dalam cuaca pagi yang remang-remang.

“Aihhhhh...!”

Jerit yang hanya satu kali ini, seolah-olah mulut yang menjeritnya itu kena dekap, cukup bagi Han Han. Itulah jerit yang keluar dari mulut seorang wanita! Tubuhnya melesat ke kiri, memasuki hutan kecil dari mana ia mendengar suara jerit itu. Dan di belakang beberapa buah batu gunung yang besar, ia melihat pemandangan yang membuat mukanya menjadi merah sekali.

Ouwyang Seng dan Gu Lai Kwan sambil tertawa-tawa sedang mempermainkan seorang wanita muda yang cantik. Lai Kwan menelikung lengan wanita itu dari belakang dan mendekap mulutnya. Wanita yang kelihatannya memiliki kepandaian itu meronta-ronta dan sambil tertawa-tawa Ouwyang Seng merenggut pakaian wanita itu sehingga terlepas dari tubuhnya dan terobek, membuka dan menelanjangi tubuh yang berkulit kuning langsat! Di atas tanah menggeletak tiga orang laki-laki tua yang sudah tewas.

“Kuda betina ini liar! Lebih baik bunuh saja sekali pemberontak ini!” Lai Kwan berseru karena la kewalahan juga menelikung gadis yang meronta sekuat tenaga itu.

“Wah, sayang jika dibunuh begitu saja, Lai Kwan. Dia manis sekali, heh-heh!” Ouwyang Seng meraba dada yang telanjang itu. “Kita permainkan dulu sepuas kita, baru dibunuh. Lai Kwan, apakah engkau tidak mau...?”

Wajah Lai Kwan merah sekali. “Aku... aku... tidak pernah, Kongcu...”

“Ha-ha-ha-ha! Benar-benar engkau masih hijau! Engkau lihatlah aku, sesudah aku, engkau boleh belajar, ha-ha!”

“Akan tetapi... itu... itu perbuatan rendah...,” Lai Kwan berkata lagi.

Ouwyang Seng yang sudah hendak merangkul gadis yang tak berdaya itu, membalik dan memandang Lai Kwan. “Ucapanmu sungguh tolol, Lai Kwan. Engkau tahu siapa gadis ini? Seorang pemberontak! Dia agaknya seorang petugas pemberontak yang memata-matai kita, yang hilir mudik lewat perbatasan. Dia ini amat berbahaya, dia musuh kita! Apa salahnya kalau sebelum dibunuh kita menikmati tubuhnya yang indah, wajahnya yang manis ini? Sayang bukan kalau kembang yang harum dibuang begitu saja sebelum kita kenyang menciuminya dan mengambil sari madunya yang manis?”

Gadis itu meronta-ronta dan hampir terlepas dari pegangan Lai Kwan. “Kau totok dia agar lumpuh, Kongcu. Wah, dia kuat bukan main!”

“Ha-ha-ha, lebih baik dia meronta-ronta begitu dari pada ditotok lumpuh seperti orang mati! Rebahkan dia di rumput dan kau pegangi kedua tangannya, Lai Kwan. Biarkan kakinya menendang-nendang, ha-ha-ha!”

“Tidak, Kongcu... aku... aku malu melihatnya. Biar kuikat dia... eh, dia terlepas...!”

Lai Kwan yang melepaskan sebelah tangan untuk memegangi tali hitam yang tergulung dan tergantung di punggungnya, yaitu yang biasanya ia pergunakan sebagai senjata tidak kuasa lagi menahan ketika gadis itu meronta dan terlepas, kemudian gadis itu membalik cepat, mengirim tendangan ke arah selangkangan Lai Kwan dengan cepat dan kuat. Lai Kwan terkejut dan terpaksa ia meloncat ke belakang sambil melepaskan senjatanya, tali hitam.

“Ha-ha-ha, biarkan dia lepas, mari kita kejar dan tangkap lagi, lebih menggembirakan begitu. Ha-ha, lari tanpa pakaian ia kelihatan menarik sekali!” Ouwyang Seng tertawa.

Gadis yang sudah telanjang bulat itu tersipu-sipu, malu bukan main dan membalikkan tubuh melarikan diri. Lai Kwan menggerakkan tangan, tali hitam yang dipergunakan sebagai cambuk itu mengeluarkan bunyi meledak dan meluncur ke depan, hendak menjerat leher si gadis yang melarikan diri.

“Ahhh...!” Tiba-tiba Lai Kwan berseru kaget. Ujung talinya tertahan dalam gigitan seorang pemuda berkaki buntung yang tahu-tahu telah berdiri di depannya! Gadis telanjang itu lenyap di balik batu besar.

“Engkau... Sie Han sute...?” Lai Kwan berseru kaget.

“Ha-ha-ha, kiranya Han Han si bocah jembel itu masih hidup! Lai Kwan, jadi dia ini sute-mu? Punya sute kurang ajar macam itu, tangkap saja dia!” Ouwyang Seng bertolak pinggang dan memandang dengan kening berkerut.

Gu Lai Kwan mengerahkan tenaganya dan membetot-betot tali hitam. Kalau si buntung ini tidak mau melepaskan gigitannya, tentu akan rontok giginya, pikir pemuda ini. Akan tetapi, betapa pun ia nengeluarkan semua tenaganya, tali itu tetap tak bergerak sedikit pun dari gigitan Han Han!

“Han Han, lepaskan senjataku!” Lai Kwan membentak. “Kalau tidak...”

Tiba-tiba Lai Kwan terjengkang dan cepat ia menggulingkan tubuhnya. Kalau ia tadi kurang cepat bergerak, tentu ia akan kena hantaman senjatanya sendiri yang tiba-tiba meluncur ke arah mukanya ketika Han Han melepaskan gigitannya. Ia sudah meloncat bangun dan menghadapi Han Han dengan muka merah.

“Gu Lai Kwan, sampai begini jauhkah engkau menyeleweng? Engkau tidak saja menghamba kepada pemerintah Mancu, hal yang masih dapat dimengerti dan di-maafkan, akan tetapi engkau menjadi pembantu Ouwyang-kongcu, membantunya hendak memperkosa wanita! Ke manakah perginya kegagahanmu sebagai murid In-kok-san?”

“Han Han, kaki buntung yang lancang mulut dan sombong! Wanita itu adalah seorang pemberontak, seorang tawanan. Seorang tawanan boleh diperlakukan sesuka hati yang menawannya. Engkau mau apa? Aku tidak memperkosa wanita!”

“Lai Kwan, bocah buntung ini sudah begitu menghinamu. Perlu apa banyak bicara lagi? Mungkin dia kini pun sudah menjadi kaki tangan pemberontak. Tangkap saja atau bunuh!” Ouwyang Seng berseru.

Lai Kwan memang merasa agak jerih kepada Han Han. Dia maklum bahwa Han Han telah mewarisi ilmu kepandaian dari Pulau Es. Akan tetapi karena sekarang Han Han sudah buntung kakinya, biar pun tadi sinkang-nya masih luar biasa sehingga dia tahu takkan dapat mengalahkan tenaga Han Han, dia merasa yakin bahwa dalam pertandingan, pemuda yang buntung sebelah kakinya ini tentu tidak lincah dan mudah dikalahkan. Apa lagi di situ ada Ouwyang-kongcu yang ia tahu memiliki tingkat kepandaian lebih tinggi dari padanya.

“Han Han, engkau menyerahlah agar tidak perlu kami menggunakan kekerasan merobohkanmu!”

Han Han menghela napas panjang. “Sayang seorang muda perkasa seperti engkau kini tidak lebih hanya seperti seekor anjing yang suka menjilat apa saja atas perintah majikannya.”

“Keparat buntung!” Lai Kwan marah sekali dan tali hitam di tangannya bergerak.

“Tar-tar!” Tali hitam itu mengeluarkan suara dan berubah menjadi segulungan sinar hitam yang menyambar ke arah kepala Han Han.

“Wuuuttttt...!” Han Han menundukkan kepala dan sinar hitam itu menyambar lewat atas kepalanya, membuat rambutnya berkibar. Dari belakang, sinar hitam itu membalik dan kini ujung cambuk menotok tiga jalan darah di tengkuk, punggung dan lambung.

Han Han masih tidak bergerak, bahkan tidak mengelak sama sekali. Girang hati Lai Kwan. Ilmu cambuknya memang lihai dan kalau sekali luput menyerang dari depan, ujung cambuk itu disendal kembali dan dari belakang tubuh lawan dapat melakukan penyerangan yang lebih dahsyat lagi tanpa diduga lawan sehingga serangan membalik inilah yang sering kali merobohkan lawan. Kini agaknya Han Han tidak menduganya, maka ia merasa yakin bahwa tiga kali totokan ujung cambuknya akan mengenai sasaran secara tepat sekali.

“Tes! Tes! Tes!”

Memang tiga kali totokan ujung cambuk itu mengenai sasaran dengan tepat. Akan tetapi Han Han sama sekali tidak bergeming, apa lagi roboh seperti yang dan disangka Lai Kwan. Malah Han Han sudah menggerakkan tangan kanan menangkap cambuk itu, dan tongkat di tangan kirinya meluncur ke depan menotok ke arah pergelangan tangan Lai Kwan yang memegang cambuk.

“Ayaaaaa...!” Lai Kwan cepat meloncat ke belakang dan terpaksa ia harus melepaskan cambuknya.

“Lai Kwan, jangan engkau turut campur. Aku hendak mengajukan pertanyaan yang harus dijawab oleh Ouwyang Seng!”

“Setan buntung sombong kau! Lai Kwan, hayo kita bunuh dia!” Ouwyang Seng berteriak keras dan sekali tangan kanannya bergerak, ia telah mencabut pedang dari punggungnya dan tampaklah sinar yang menyilaukan mata. Pedang itu terbuat dari pada logam yang putih dan sinarnya menyilaukan seperti sinar matahari.

Ketabahan Lai Kwan yang sudah dirampas senjatanya pulih kembali melihat kawannya sudah mencabut pedang. Ia lalu berteriak keras dan menubruk maju, mengerahkan tenaganya dan memukul dengan pukulan Swat-im Sin-ciang dari tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya mencengkeram ke arah ubun-ubun kepala Han Han dengan ilmu pukulan Toat-beng-tok-ciang yang mengandung racun ampuh. Agaknya karena maklum akan kelihaian Han Han, sekali menyerang Lai Kwan ingin merobohkannya dan telah mengeluarkan ilmu-ilmu simpanannya sekaligus, dua macam pukulan sakti yang amat hebat dan sukar dilawan!

Ouwyang Seng bukanlah seorang bodoh. Dia cerdik sekali dan juga dia memiliki kepandaian tinggi. Selain menerima gemblengan Si Setan Botak yang lihai sehingga ia mewarisi ilmu pukulan Hwi-yang Sin-ciang, juga pemuda bangsawan yang suka sekali mempelajari ilmu silat ini telah berguru kepada banyak tokoh pandai, dan ia bahkan memiliki pedang terbuat dari pada logam putih yang luar biasa, pedang yang bernama Jit-kong-kiam (Pedang Sinar Matahari). Gak Liat sendiri telah menciptakan ilmu pedang yang diambil dari inti ilmu-ilmu pedang yang pernah dipelajari Ouwyang Seng, yaitu ilmu pedang yang diberi nama Jit-kong Kiam-hoat, sesuai dengan nama pedangnya!

Sekali pandang saja, ketika Han Han menggigit cambuk, kemudian kebal terhadap totokan, bahkan dalam segebrakan Han Han berhasil merampas cambuk, mengertilah Ouwyang Seng, bahwa Han Han yang dahulu memang amat lihai sehingga perlu dikeroyok oleh gurunya dan Ma-bin Lo-mo, kini setelah buntung kakinya ternyata tidak kehilangan kelihaiannya! Maka ia menggunakan saat Lai Kwan menerjang dengan dahsyat itu untuk meloncat pula dan pedangnya yang berubah menjadi segulungan sinar menyilaukan, menyerang Han Han dari belakang.

“Syuuutttt... syuuuttt...!” Dua pukulan sakti Lai Kwan menghantam.

“Ciuuutttt... singggg...!”

“Heiii...! Ayaaaaa...!”

Dapat dibayangkan betapa kagetnya hati Lai Kwan dan Ouwyang Seng ketika tiba-tiba tubuh Han Han melambung ke atas. Karena gerakan Han Han ini amat tiba-tiba setelah serangan dari depan dan belakang sudah dekat, tak dapat dicegah lagi hawa pukulan Lai Kwan bertemu dengan sinar pedang Ouwyang Seng. Keduanya kaget dan cepat menahan diri, namun tetap saja mereka terpelanting ke kanan kiri. Dengan enak saja Han Han yang memegang tongkat di tangan kiri dan cambuk di tangan kanan turun lagi, berdiri di atas tanah dengan kakinya yang hanya satu tanpa dibantu tongkat.

“Ouwyang Seng, jawablah, di mana adanya Lulu Adikku?”

Ouwyang Seng memandang marah. “Persetan dengan adikmu bocah liar itu!” bentaknya.

Pedangnya sudah meluncur ke depan menusuk dada Han Han. Lai Kwan juga sudah menyerang lagi, lebih hebat dari pada tadi. Namun, sekali lagi mereka berdua hanya melihat bayangan berkelebat dan tahu-tahu tubuh Han Han sudah pindah tempat.

“Ouwyang Seng, jawablah. Dahulu engkau menculik Lulu...”

Han Han berhenti untuk mencelat lagi ke lain tempat menghindarkan serangan susulan dua orang pengeroyoknya, lalu menyambung, “...dan adikku itu lari dari istana. Di manakah dia sekarang...?”

Ouwyang Seng menjadi penasaran bukan main. Dia dan Lai Kwan menyerang dengan hebat secara berbareng, akan tetapi sampai tiga kali berturut-turut Han Han lenyap begitu saja. Gerakannya demikian cepat seperti menghilang dan tahu-tahu sudah pindah tempat. Dan semua itu dilakukan oleh Han Han dengan seenaknya, malah sambil bicara!

“Dia sudah minggat, mana aku tahu?” Ouwyang Seng menyerang lagi mendahului Lai Kwan yang kaget bukan main menyaksikan kehebatan gerakan Han Han.

Dulu sebelum buntung, kelincahan Han Han tidak sehebat ini. Bagaimana kini setelah buntung malah menjadi begini lihai? Ia menubruk maju, kini meloncat ke atas karena tadi ia melihat betapa Han Han selalu mencelat ke atas kalau diserang. Dia hendak memapaki tubuh Han Han jika mencelat lagi ke atas menghindarkan serangan pedang Ouwyang Seng.

“Ouwyang Seng bersumpahlah....”

Han Han benar saja mencelat lagi ke atas ketika sinar pedang yang menyilaukan itu meluncur ke arah lehernya. Lai Kwan yang sudah meloncat, dengan girang memapaki tubuh Han Han dengan dua pukulan saktinya.....



Pilih JilidHomeJilid Berikut


DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner