PENDEKAR SUPER SAKTI : JILID-38


Puteri itu memandang tajam ke arah Ceng To Hwesio, kemudian menjura dan berkata, suaranya tetap merdu dan tenang.

“Maaf, Losuhu. Sebelum saya menjawab pertanyaanmu, juga pertanyaan dari Totiang wakil Hoa-san-pai yang sifatnya sama, lebih dulu saya hendak mengajukan pertanyaan dengan harapan agar Losuhu sudi menjawab secara sejujurnya. Pertama, dalam pertandingan perorangan terdapat istilah curang kalau orang itu menggunakan cara-cara yang melanggar ketentuan pertandingan. Akan tetapi di dalam keadaan perang terdapat istilah siasat, dan apakah seorang panglima yang menggunakan siasat dalam perang untuk menjebak pihak musuh dapat disebut curang pula?”

“Siasat dalam perang bukahlah kecurangan,” jawab Ceng To Hwesio dan semua orang mengangguk karena siapakah yang akan dapat mengatakan bahwa siasat dalam perang itu curang?

“Terima kasih,” kata Nirahai sambil tersenyum. “Pertanyaan kedua, jika seorang prajurit dalam perang membunuh lawan, tanpa peduli siapa lawan yang berada di pihak musuh itu, apakah dia dianggap bersalah dan menjadi seorang pembunuh keji?”

“Tentu saja tidak,” jawab pula Ceng To Hwesio. “Membunuh musuh dalam perang merupakan pelaksanaan tugasnya.”

Kini Nirahai tersenyum manis sekali, sepasang matanya berseri-seri dan suaranya merdu dan nyaring, “Terima kasih Losuhu. Jawaban-jawaban Losuhu memang tepat sekali dan tidak dapat dibantah oleh siapa pun juga. Nah, sekarang terjawablah pertanyaan-pertanyaan Losuhu sebagai wakil Siauw-lim-pai dan Totiang sebagai wakil Hoa-san-pai. Sesungguhnya, saya yang kini mendapat kehormatan memegang pusaka keramat dari pendekar sakti Suling Emas, dan mengaku sebagai ahli waris ilmu-ilmu pusaka Mutiara Hitam, seujung rambut pun tidak mempunyai rasa permusuhan, apa lagi kebencian terhadap para orang gagah di dunia kang-ouw. Sebaliknya, saya bahkan menaruh hormat dan kagum. Akan tetapi mengapa saya membunuh dua orang tokoh Siauw-lim-pai? Karena tugas saya, tugas seorang prajurit kerajaan Ayahanda Kaisar! Dan mengapa pula saya menggunakan fitnah kepada Hoa-san-pai, menggunakan siasat untuk mengadu domba antara Siauw-lim-pai dan Hoa-san-pai? Karena tugas saya sebagai panglima dalam perang! Semua yang saya lakukan itu demi tugas dan terjadi dalam perang. Permusuhan dalam perang bukanlah permusuhan pribadi, karena kalau peristiwa yang timbul sebagai akibat perang lalu dijadikan dendam pribadi, saya kira di dunia ini akan terjadi dendam-mendendam yang tiada habisnya! Saya harap saja Losuhu wakil Siauw-lim-pai dan Totiang wakil Hoa-san-pai dapat menerima penjelasan saya ini yang keluar dari hati, bukan sekedar alasan kosong untuk menghindarkan diri dari kesalahan.”

Semua yang mendengar ucapan puteri itu diam-diam terpaksa harus membenarkannya. Akan tetapi tiba-tiba seorang kakek yang berpakaian pengemis bangkit berdiri. Han Han dapat menduga bahwa kakek ini tentulah seorang anggota Pek-lian Kai-pang, yang dengan sikap gagah berkala lantang.

“Semua uraian Kouwnio memang tepat dan sebagai orang-orang gagah kita harus dapat menangkap kebenarannya. Sudah menjadi hak dan kewajiban Kouwnio untuk bertugas membela bangsa dalam perang, dan hal ini memanglah kewajiban suci orang gagah. Akan tetapi, kami pun orang-orang gagah yang menjunjung tinggi kepahlawanan, kami berkewajiban pula untuk membela negara dan bangsa, menentang penjajah tanah air dari bangsa asing! Kalau sekarang kami menyetujui uluran tangan pemerintah Mancu untuk bekerja sama, bukankah hal itu berarti hendak menyeret kami patriot-patriot gagah menjadi pengkhianat-pengkhianat bangsa yang rendah dan hina?”

Semua mata orang gagah yang hadir di situ mengeluarkan sinar bersemangat, dan Han Han makin tertarik, ingin sekali mendengar bagaimana tangkisan puteri yang cerdik itu terhadap serangan yang amat hebat ini. Akan tetapi puteri itu tersenyum dan tetap tenang saja. Setelah memandang ke arah penyerangnya dengan sinar mata tajam, ia lalu menjawab.

“Pertanyaan Lo-enghiong mengandung beberapa hal yang perlu saya jawab satu demi satu. Pertama, Lo-enghiong menyatakan bahwa tanah air dijajah oleh bangsa asing! Manakah bangsa asing? Bangsa kita yang besar mempunyai puluhan suku bangsa, di antaranya suku bangsa Khitan, Mongol, Mancu dan lain-lain suku bangsa yang tersebar di daerah utara dan barat di tanah air kita yang luas. Jadi kalau sekarang negara berada di dalam bimbingan tangan suku bangsa Mancu, tidak dapat dikatakan bahwa tanah air dijajah bangsa asing! Di dalam catatan sejarah masih dapat diperiksa betapa eratnya hubungan antara suku bangsa-suku bangsa ini. Kalau suku bangsa Mancu dianggap bangsa asing, bagaimana dengan suku bangsa Khitan? Kalau Khitan merupakan bangsa asing, apakah cu-wi sekalian hendak mengatakan bahwa pendekar sakti Suling Emas memperisteri wanita asing? Apakah pendekar wanita Mutiara Hitam juga berdarah bangsa asing, dan sekarang tidak tepat kalau dikatakan bahwa kaisar yang bersuku bangsa Mancu merupakan kaisar asing yang menjajah! Lebih tepat dikatakan bahwa Ayahanda Kaisar telah berhasil menghalau kaisar lalim dan membebaskan rakyat jelata dari pada penindasan!”

Semua orang saling pandang dan kembali uraian itu sukar mereka jawab secara tepat karena memang mereka tidak dapat memastikan benar apakah bangsa Mancu termasuk bangsa asing ataukah hanya suku bangsa mereka yang besar!

“Sekarang hal ke dua. Tadi Lo-enghiong mengatakan bahwa sudah menjadi tugas kewajiban seorang patriot untuk membela bangsanya. Tepat sekali! Memang tugas seorang gagah perkasa, seorang patriot untuk membela bangsanya yang tertindas, akan tetapi bukan sekali-kali berarti bahwa seorang gagah harus membela kaisarnya yang lalim dan menindas rakyat, bukan? Buktinya, jauh sebelum suku bangsa Mancu berhasil menumbangkan Kerajaan Beng-tiauw yang bobrok, telah banyak terjadi pemberontakan-pemberontakan yang sebetulnya merupakan usaha dan perjuangan para orang gagah untuk membela rakyat yang tertindas dan mengenyahkan kaisar dan antek-anteknya yang lalim. Lo-enghiong sendiri kalau saya tidak salah duga, tentulah anggota Pek-lian Kai-pang dan apakah Pek-lian Kai-pang itu? Bukankah perkumpulan orang gagah ini merupakan kelanjutan dari pada Pek-lian-kauw, perkumpulan yang dahulu tak pernah berhenti berusaha menggulingkan kaisar lalim dari Kerajaan Beng-tiauw? Nah, dengan demikian, bukankah usaha suku bangsa Mancu pun merupakan perjuangan untuk membebaskan rakyat dari kesengsaraan akibat penindasan Kerajaan Beng-tiauw yang tidak becus? Dengan demikian, antara kami dengan cu-wi sekalian terdapat cita-cita yang sama, yaitu membebaskan rakyat dari penindasan. Kita sama-sama pejuang dan karenanya sudah sepatutnya kalau kita bergandengan tangan, bekerja sama untuk mengangkat rakyat yang sudah ratusan tahun ditindas itu agar mereka hidup makmur!”

Han Han memandang dengan mata terbelalak. Kagum bukan main hatinya. Wanita ini benar-benar luar biasa, pikirnya dan jantungnya berdebar-debar ketika ia memandang wajah yang cantik itu. Getaran yang aneh seperti terpancar keluar dari wajah itu dan menyentuh lubuk hatinya, membuat ia kagum dan terpesona.

Biar pun semua orang kini tak mampu lagi berkutik, kakek pengemis yang berhati keras itu masih tidak mau menyerah kalah. “Kouwnio, kalau benar bahwa kerajaan yang baru ini mengulurkan tangan kepada para patriot, mengapa sampai sekarang Se-cuan diserang terus? Bukankah Bu-ongya juga seorang patriot besar yang mengorbankan segalanya untuk mempertahankan nusa bangsanya?”

Wajah puteri itu yang tadinya berseri dan tersenyum-senyum, kini berubah keras, matanya bersinar tajam berwibawa, dan suaranya nyaring berkata, “Bu Sam Kwi sama sekali bukan seorang pejuang yang membela rakyat! Dia berjuang untuk kepentingan sendiri, untuk menjadi raja! Lebih buruk lagi, dia adalah pengkhianat yang bermuka dua!”

Semua orang terkejut mendengar ini dan ada yang mengeluarkan seruan-seruan marah dan penasaran. Melihat ini, Nirahai cepat menyambung, “Hendaknya cu-wi sekalian jangan silau oleh tipuan pengkhianat licik itu dan marilah kita ikuti riwayatnya! Bu Sam Kwi dahulunya siapa? Dia seorang panglima Kerajaan Beng-tiauw. Dan dia telah memberontak terhadap Kerajaan Beng-tiauw! Dengan dalih hendak membasmi Kaisar Beng-tiauw yang lemah dan lalim, dia mengajak suku bangsa Mancu yang pada waktu itu dipimpin oleh Paman Pangeran Dorgan untuk bersekutu. Setelah kami berhasil menyerbu ke selatan, Bu Sam Kwi memperlihatkan muka ke dua dan memusuhi kami! Dia tidak hanya berkhianat terhadap Beng-tiauw, akan tetapi berkhianat pula terhadap kerajaan baru! Orang macam itu mana ada harganya? Dia melawan kerajaan baru semata-mata karena hendak mengangkangi kerajaan dan hendak mengangkat diri sendiri menjadi raja, sama sekali bukan hendak membela rakyat! Hal ini diketahui baik oleh Pangeran Kiu yang bijaksana sehingga kini Pangeran Kiu yang diwakili oleh kedua orang pendeta Lama yang terhormat ini, Thian Tok Lama dan Thai Li Lama, bersama-sama suku bangsa Tibet menerima uluran tangan kami. Bu Sam Kwi mengobar-ngobarkan perang, membuat rakyat makin sengsara. Akan tetapi, dia hanya tinggal menanti saatnya untuk kami hancurkan. Sekali lagi, harap cu-wi tidak tertipu oleh kepalsuan orang yang bermuka dua itu!”

Hening sampai lama sekali setelah Nirahai mengeluarkan ucapan yang penuh semangat ini. Kakek pengemis mengeritkan keningnya, berpikir dan menjadi ragu-ragu akan pendiriannya semula. Tiba-tiba terdengar Ceng To Hwesio berkata.

“Bagaimana kami dapat mengetahui bahwa pemerintah baru ini tidak sama buruknya dengan yang lama? Apakah buktinya bahwa suku bangsa Mancu yang telah berhasil memegang pimpinan ini mempunyai niat yang mulia terhadap rakyat?”

Kembali Nirahai tersenyum. “Inilah pertanyaan yang tepat dan penting, Losuhu, dan jawabannya tentu saja memerlukan bukti! Saya tidak akan membujuk cu-wi sekalian orang-orang gagah untuk percaya begitu saja. Akan tetapi marilah kita sama-sama membuktikan sendiri! Saya pun mempunyai darah keturunan keluarga Suling Emas, tanpa malu-malu saya pun menggolongkan diri sebagai orang gagah. Andai kata kelak ternyata bahwa kaisar kita lalim, biar pun kaisar itu Ayah saya sendiri, apakah saya akan tinggal diam? Tidak, saya tetap akan bergandeng tangan dengan cu-wi untuk menentang kelaliman dan membela rakyat yang tertindas!”

Terdengar sorakan gembira menyambut ucapan ini dan Han Han menarik napas panjang. Wanita hebat! Sukar dicari keduanya! Cantik jelita, lihai ilmunya dan cerdik bukan main, akan tetapi juga gagah perkasa. Dia mau percaya bahwa seorang seperti Puteri Nirahai itu tentu akan memegang janjinya.

“Baiklah, Kouwnio. Pinceng sebagai wakil Siauw-lim-pai berjanji akin menarik semua murid Siauw-lim-pai, tidak akan mencampuri urusan perang. Akan tetapi jangan dikira bahwa kami akan menjadi penonton yang hanya berpeluk tangan saja. Kalau kelak ternyata bahwa pemerintah ini sama buruknya dengan yang lalu, tentu kami akan mencabut senjata lagi melakukan pembalasan terhadap rakyat yang tertindas!”

“Kami juga berjanji!”

“Kami juga!”

“Kami juga!”

Ramailah para tamu yang hadir itu membuka suara, dan biar pun ada yang hanya tinggal diam, namun jelas bahwa jumlah yang setuju untuk berdamai jauh lebih besar, sedangkan yang membantah tidak ada seorang pun. Setelah semua diam, terdengar Ceng To Hwesio berkata, suaranya kereng.

“Kouwnio, ada sebuah hal yang dapat kita pergunakan untuk membuktikan sampai di mana iktikad baik pemerintah baru.”

“Harap Losuhu katakan tanpa ragu-ragu. Hal apakah itu?” Nirahai bertanya ramah.

“Pemerintah yang baik tidak akan mempergunakan kaki tangan yang jahat, dan kalau memang pemerintah menghargai orang-orang gagah, tentu tidak akan melindungi orang jahat pula.”

“Maksud Losuhu bagaimana?”

“Terus terang saja, biar pun kini urusan pemerintah telah dapat diselesaikan dengan damai dan tidak mencampuri perang, akan tetapi bagaimana dengan permusuhan pribadi?”

Sepasang mata itu dengan tajamnya menyambar dan menentang wajah hwesio tua itu. “Maksud Losuhu? Ingat bahwa semua yang saya lakukan dahulu adalah sebagai lawan dalam perang!”

Hwesio itu tertawa. “Kouwnio agaknya salah mengerti. Dengar Kouwnio, sungguh pun Kouwnio telah membunuh dua orang murid Siauw-lim-pai, akan tetapi persoalan itu telah beres oleh penjelasan Kouwnio tadi. Yang pinceng maksudkan adalah Kang-thouw-kwi Gak Liat yang kini menjadi pembantu Kouwnio!”

Nirahai melirik ke arah Gak Liat, lalu berkata sambil lalu, “Losuhu maksudkan bahwa antara Losuhu dan Gak-locianpwe terdapat urusan pribadi?”

“Benar, Kouwnio. Urusan pribadi yang tidak ada sangkut-pangkutnya dengan urusan perang, kejahatan Kang-thouw-kwi terhadap murid Siauw-lim-pai yang hanya dapat ditebus dengan nyawa!”

Nirahai mengerutkan kening, kemudian menggerakkan kedua pundak mengembangkan kedua lengan sambil berkata, “Kita berada di antara para orang gagah. Pemerintah berpendirian untuk membasmi kejahatan, untuk melindungi rakyat. Apa bila di antara para orang gagah ada dendam pribadi, tentu saja pemerintah mempersilakan mereka untuk menyelesaikan urusan mereka tanpa campur tangan, bahkan kami berjanji untuk menjadi saksinya agar penyelesaian urusan pribadi itu dilakukan dengan seadil-adilnya, tidak ada pengeroyokan, tidak ada kecurangan!”

“Ha-ha-ha-ha! Bagus sekali! Sang Puteri benar-benar telah bersikap adil. Nah, orang-orang Siauw-lim-pai! Kalau memang kalian mempunyai dendam terhadap diriku, mari kita bereskan sekarang juga!” Kang-thouw-kwi Gak Liat sudah meloncat ke depan dan dengan sikap menantang memandang kepada Ceng To Hwesio.

Ceng To Hwesio menggerakkan lengan bajunya yang lebar. “Omitohud! Kang-thouw-kwi Gak Liat yang terkenal sebagai seorang datuk kaum sesat, tentu tidak akan bersikap pengecut dan berani mempertanggung jawabkan kedosaannya! Apakah engkau sudah merasa akan dosamu terhadap Siauw-lim-pai?”

“Ha-ha-ha! Dosa? Dosa itu apakah? Kau maksudkan murid wanita, seorang di antara Kang-lam Sam-eng itu? Ha-ha-ha! Itu kau anggap dosa?”

“Gak Liat, manusia berwatak binatang! Siaplah engkau menghadapi pinceng! Sekarang di depan para orang gagah kita membuat perhitungan!” Sambil berkata demikian, Ceng To Hwesio melolos sabuknya dan sekali ia menggerakkan tangan, sabuk kain berwarna kuning itu menjadi kaku seperti baja! Hal ini membuktikan betapa kuat sinkang dari hwesio tua ini dan semua tamu memandang dengan hati tegang.

Akan tetapi Gak Liat tertawa bergelak, kemudian suara ketawanya itu tiba-tiba terhenti, matanya melotot memandang hwesio itu dan terdengar suaranya bernada sombong.

“Hwesio bosan hidup! Engkau siapakah? Kalau hendak membalas dendam, kenapa tidak Ceng San Hwesio ketuamu saja yang maju menghadapi aku?”

“Tidak perlu ketua kami! Untuk menghajar seekor anjing perlu apa menggunakan penggebuk besar? Pinceng Ceng To Hwesio mewakili suheng untuk membalas dendam terhadap kebiadabanmu! Majulah, Kang-thouw-kwi!”

“Susiok-couw (Paman Kakek Guru), karena dia berdosa terhadap sumoi, biarkan teecu yang melayaninya!”

Khu Cen Tiam, orang tertua dari Kang-lam Sam-eng menggerakkan cambuk besinya meloncat maju. Orang yang pendek kecil ini merasa sakit hati sekali terhadap Gak Liat yang telah memperkosa Bhok Khim, sumoi-nya yang tersayang sehingga ia lupa diri dan hendak nekat mengadu nyawa. Akan tetapi Ceng To Hwesio yang maklum bahwa cucu keponakan ini masih jauh untuk dapat melawan datuk kaum sesat itu, langsung membentaknya dan menyuruhnya minggir. Kemudian Ceng To Hwesio menghadapi Gak Liat sambil melintangkan sabuknya dan menantang.

“Mari, Kang-thouw-kwi. Kita tua sama tua mengakhiri perhitungan kita di sini!”

“Ha-ha-ha, aku telah siap sejak tadi. Kalau kau memang sudah bosan hidup, maju dan seranglah, Ceng To Hwesio!”

“Omitohud, ijinkan hamba membasmi manusia iblis ini, bukan karena benci, melainkan untuk menyelamatkan manusia-manusia lain!” Ceng To Hwesio berkata lirih seperti berdoa, lalu tubuhnya bergerak dan ia sudah menerjang maju, sabuknya menyambar ke arah muka Gak Liat.

Setan Botak ini tertawa, melangkah mundur dan membiarkan sabuk lewat di depan mukanya, tangan kirinya sudah diluncurkan ke depan mencengkeram ke arah pusar lawan. Gerakannya cepat dan mengandung tenaga yang hebat bukan main. Semua penonton termasuk Han Han memandang penuh ketegangan.

Ceng To Hwesio adalah sute dari ketua Siauw-lim-pai. Ilmu kepandaiannya biar pun belum dapat disejajarkan dengan Ceng San Hwesio, namun sudah cukup tinggi, bahkan lebih tinggi setingkat kalau dibandingkan dengan seorang di antara Siauw-lim Chit-kiam. Juga hwesio tua ini telah berpuluh tahun hidup bersih sehingga ia telah berhasil menghimpun tenaga dalam yang kuat di tubuhnya.

Namun, menghadapi Gak Liat yang tingkatnya sebanding dengan ketua Siauw-lim-pai, ia masih kalah jauh. Betapa pun juga, hwesio yang berkemauan sangat keras untuk menyingkirkan lawan yang dianggapnya amat jahat seperti iblis ini tidak menjadi jeri. Cengkeraman itu dapat ia elakkan dengan meloncat ke samping dan dari pinggir ini, sabuknya yang telah ia gerakkan menjadi kaku itu menyodok ke arah perut Setan Botak. Namun datuk kaum sesat ini tertawa dan sengaja menerima sodokan itu dengan memasang perutnya menyambut.

“Dukkk! Wuuuttttt!”

“Aihhh...!”

Ceng To Hwesio meloncat tinggi ke belakang dan hampir saja ia celaka. Saat sabuknya yang menjadi kaku menyodok perut, ia merasa betapa senjatanya itu membalik, bertemu dengan benda yang seperti karet, dan tangan Gak Liat sudah melancarkan pukulan Hwi-yang Sin-ciang yang mengandung hawa panas melebihi api. Biar pun hwesio Siauw-lim-pai ini sudah meloncat dan menghindar, pundaknya kena diserempet hawa pukulan dan terasa panas sekali, bahkan bajunya robek dan kulitnya gosong menghitam!

“Ha-ha-ha-ha! Begitu saja kepandaianmu, Ceng To Hwesio?” Gak Liat tertawa bergelak.

Nirahai mengerutkan keningnya. Dia maklum bahwa hwesio Siauw-lim-pai itu bukanlah lawan Gak Liat yang lihai. Dia tidak memihak Gak Liat, sebaliknya malah hatinya condong memihak kepada hwesio Siauw-lim-pai karena dia dapat menduga apa yang telah terjadi atas diri murid wanita Siauw-lim-pai itu. Tetapi dia pun masih membutuhkan tenaga bantuan seorang lihai seperti Gak Liat.

Biarlah, pikirnya, makin banyak permusuhan diselesaikan makin baik agar pemerintah tidak banyak pusing menghadapi permusuhan-permusuhan pribadi antara tokoh-tokoh kang-ouw ini. Kalau saja hwesio Siauw-lim-pai itu tahu diri, pikirnya, dan mengaku kalah, maka permusuhan itu akan dihabiskan dan dia dapat menggunakan kekuasaan dan pengaruhnya untuk mencegah Gak Liat melakukan pembunuhan.

Ada pun Han Han yang menonton dari tempat sembunyinya, dia tahu benar apa yang menyebabkan permusuhan itu. Ingin ia membantu Ceng To Hwesio menghadapi Gak Liat, akan tetapi dia tahu bahwa pertandingan itu dilakukan secara adil dan bahkan kalau dia turun tangan, maka dia hanya akan mengacaukan maksud baik Puteri Nirahai. Maka ia hanya menonton dan berkali-kali menarik napas panjang, maklum bahwa hwesio Siauw-lim-pai yang nekat itu hanya akan membunuh diri melawan Gak Liat yang amat lihai pukulan Hwi-yang Sin-ciang-nya itu.

Ceng To Hwesio benar-benar nekat. Dia sudah menerjang maju lagi. Kini sabuknya ia putar-putar dengan tangan kanan melakukan totokan-totokan ke arah jalan darah dan bagian tubuh yang berbahaya, sedangkan tangan kirinya menggunakan Eng-jiauw-kang (Cengkeraman Kuku Garuda) untuk menyerang. Betapa pun kebal tubuh lawan, kalau terkena cengkeramannya ini agaknya akan celaka!

Gak Liat yang amat lihai dan banyak pengalamannya itu pun maklum bahwa biar pun tingkatnya jauh lebih tinggi, namun dia pun tidak boleh memandang rendah seorang tokoh Siauw-lim-pai yang terkenal memiliki ilmu silat yang kuat sekali. Cepat dia menggerakkan kedua tangan menangkis, dan ada kalanya harus mengelak sambil menanti saat baik. Ketika sabuk itu menyambar ke arah lehernya, secepat kilat ia menangkap sabuk itu, membiarkan cengkeraman tangan kiri hwesio ke arah leher itu mengenai pundaknya dengan jalan miringkan tubuh. Pada saat tangan kiri Ceng To Hwesio mencengkeram pundaknya, tangan kanan Gak Liat menghantam dengan telapak tangan terbuka ke arah dada lawan.

“Brettt... desssss!”

Baju di pundak Gak Liat robek, akan tetapi tubuh Ceng To Hwesio terlempar ke belakang dan terbanting roboh dalam keadaan tak bernyawa lagi karena seluruh dada dan perutnya berubah menjadi hitam seperti terbakar!

“Manusia iblis...!” Khu Cen Tiam dan Liem Sian, dua orang di antara Kang-lam Sam-eng meloncat maju. Khu Cen Tiam menyerang dengan cambuk besinya, sedangkan Liem Sian yang tinggi besar sudah menggunakan sin-pan, yaitu toya kuningan yang amat berat.

“Cring-tranggg...!”

Dua orang murid Siauw-lim-pai ini meloncat mundur karena kaget ketika senjata-senjata mereka ditangkis dan tangan mereka tergetar. Yang menangkisnya adalah Puteri Nirahai, menggunakan pedang payungnya. Puteri itu berdiri dengan kereng dan berkata.

“Ji-wi Lo-enghiong harap suka memenuhi janji. Losuhu ini telah kalah dan mati dalam pertandingan adalah yang lumrah. Lebih baik mati dalam pertandingan yang adil dari pada berlaku curang yang hanya akan merendahkan nama besar Siauw-lim-pai! Lebih baik ji-wi membawa jenazah Losuhu ini dan tidak perlu memperbesar permusuhan karena sudah terang bahwa pihak Siauw-lim-pai telah kalah dalam pertandingan yang syah dan adil.”

Dua orang tokoh Siauw-lim-pai itu menghela napas, menyimpan senjata mereka lalu mengangkat jenazah Ceng To Hwesio. Sebelum pergi, Khu Cen Tiam berkata kepada Gak Liat, “Kang-thouw-kwi, urusan di antara kita masih belum habis. Tunggulah kami melaporkan hal ini kepada ketua kami.”

“Ha-ha-ha-ha, sudah kukatakan tadi, lebih baik ketua Siauw-lim-pai sendiri yang maju, barulah ramai! Aku akan selalu menanti, ha-ha-ha!”

Akan tetapi, sebelum dua orang tokoh Siauw-lim-pai itu pergi, tiba-tiba berkelebat bayangan putih dan terdengar bentakan nyaring, “Setan Botak, nyawamu sudah berada di tanganku dan engkau masih bicara sombong!”

Dua orang di antara Kang-lam Sam-eng menengok ke arah wanita berpakaian putih yang muncul tiba-tiba itu dan mereka berbareng berseru keras penuh kekagetan dan keheranan, “Sumoi...!”

Gak Liat memandang dengan mata terbelalak, dan sinar matanya membayangkan rasa ngeri dan cemas. Han Han segera mengenal wanita itu sebagai wanita yang dahulu menjadi orang ke tiga dari Kang-lam Sam-eng, yaitu Bhok Khim yang dahulu diperkosa Gak Liat dan kemudian untuk kedua kalinya ia melihat wanita itu membobol dinding kelenteng Siauw-lim-si, keluar dari kamar penyiksa diri dan membawa seorang anak laki-laki. Jantung Han Han berdebar keras, perasaannya terguncang penuh ketegangan.

Orang-orang lain yang berada di situ, termasuk Nirahai, terheran-heran dan tidak tahu siapa gerangan wanita yang wajahnya masih cantik akan tetapi rambutnya riap-riapan pakaiannya kusut dan wajahnya membayangkan kemarahan dan kelihatan beringas sekali itu.

“Kau... kau... kau murid Siauw-lim-pai itu...!” Gak Liat akhirnya teringat dan di luar kesadarannya ia berteriak.

“Kakek keparat, manusia iblis Gak Liat. Benar, akulah Bhok Khim dan aku datang untuk merenggut nyawamu!”

Setelah berkata demikian, Bhok Khim sudah menyerang dengan hebatnya, menubruk dan kedua tangannya mencengkeram seperti seekor harimau mengamuk. Namun dari gerakannya itu menyambar hawa yang amat kuat sehingga Gak Liat sendiri sampai menjadi kaget. Cepat-cepat kakek ini mengelak dengan lompatan ke kiri, namun dengan kecepatan yang amat luar biasa, Bhok Khim sudah mendorongkan kedua tangannya ke kanan dan... tubuh Gak Liat terjengkang lalu terguling sampai lima kali. Dia meloncat kaget sekali, akan tetapi merasa lega bahwa dia tidak terluka sungguh pun harus ia akui bahwa tenaga dorongan wanita ini hebat bukan main!

Melihat pertandingan yang sedang dimulai ini, Puteri Nirahai kini mengerti siapa adanya wanita itu, maka ia berseru nyaring, “Pertandingan antara dua orang yang mempunyai dendam pribadi, harap yang lain tidak mencampuri!”

Seruan ini menenangkan suasana dan kini semua orang menonton dua orang yang sudah mulai bertanding dengan hebatnya. Diam-diam Han Han yang menyaksikan pertandingan itu terkejut dan kagum sekali. Gerakan Bhok Khim amat aneh dan terutama sekali hawa yang menyambar keluar dari kedua tangannya amat kuat, anginnya mengeluarkan suara bercuitan seperti pedang yang digerakkan dengan tenaga sinkang kuat.

Tahulah dia bahwa wanita itu di dalam kamar penyiksa diri telah dapat mencuri ilmu yang diajarkan oleh kakek sakti Kian Ti Hosiang kepada Siauw Lam Hwesio, pelayannya. Ilmu inilah yang agaknya dimaksudkan oleh Kian Ti Hosiang. Akan tetapi menyaksikan betapa ilmu itu kini amat ganas dan liar, dia dapat menduga bahwa wanita ini tentu mempelajarinya secara keliru sehingga menyeleweng. Tetapi melihat hebatnya gerakan Bhok Khim, dapat diduga betapa hebatnya ilmu yang dicuri oleh wanita itu dari balik dinding kamar penyiksa diri.

Berkali-kali Gak Liat roboh terguling akan tetapi karena dia memiliki kekebalan luar biasa, maka pukulan hawa aneh itu hanya membuat ia roboh bergulingan, sama sekali tidak melukainya. Melihat ini Han Han merasa sayang sekali dan ia dapat menduga bahwa wanita itu ternyata hanya mewarisi ‘kulit’ dari ilmu itu, masih kehilangan inti sarinya, karena kalau sudah mengenal ‘isinya’, agaknya ilmu yang hebat itu pasti tidak akan dapat tertahan oleh Gak Liat.

Agaknya Gak Liat yang jauh lebih matang pengalamannya dalam hal pertandingan ilmu silat juga dapat mengerti akan hal itu. Tiba-tiba ia tertawa bergelak dan kini ia mengimbangi serangan-serangan Bhok Khim yang ganas dan liar itu dengan pukulan-pukulan Hwi-yang Sin-ciang sambil menggulingkan diri.

“Celaka...!” Han Han berseru dalam hatinya. Ia memang sudah tahu bahwa serangan Bhok Khim itu tidak akan ada artinya kalau lawannya bergulingan seperti itu dan kini biar pun memukul sambil menggulingkan diri, Hwi-yang Sin-ciang dari Setan Botak itu tidak berkurang kedahsyatannya!

Benar saja, setelah Gak Liat membalas serangan dengan bergulingan dan memukul secara bertubi-tubi, Bhok Khim terkejut sekali dan ketika ia agak terlambat mengelak, pinggangnya kena serempet pukulan panas itu dan ia menjerit, roboh terguling dan pakaiannya robek di bagian pinggang!

“Ha-ha-ha!” Gak Liat tertawa bergelak.

Akan tetapi ia menghentikan ketawanya dengan tiba-tiba karena ternyata Bhok Khim sudah meloncat bangun kembali sambil menubruknya dan mengeluarkan suara melengking nyaring seperti kuntilanak! Gak Liat masih berusaha membuang diri ke samping sambil memukul dengan telapak tangannya. Akan tetapi Bhok Khim sudah mendahuluinya, menangkap kedua tangannya, pada pergelangan tangan dan gerakan tubrukannya yang kuat itu membuat Gak Liat roboh terlentang, ditindih oleh Bhok Khim!

Kedua orang itu bergulingan, bergumul di atas rumput dan karena bergumul dengan kacau, saling membetot bersitegang melepaskan dan mempertahankan tangan yang dicengkeram, maka tubuh mereka saling tindih sehingga kelihatan seperti kedua orang laki-laki dan wanita itu sedang bermain asmara dan bersendau-gurau sambil bergumul. Namun semua yang hadir mengerti bahwa pertandingan itu merupakan pertandingan mati-matian, siapa yang kalah tentu tewas, maka mereka memandang dengan hati penuh ketegangan.

Memang hebat dan menegangkan pertandingan yang kini tidak lagi memakai teori ilmu silat itu. Cengkeraman jari-jari tangan Bhok Khim pada kedua pergelangan tangan Gak Liat benar-benar kuat, seolah-olah jari-jari tangannya sudah terbenam ke dalam lengan kakek itu. Biar pun ia sudah mengerahkan seluruh tenaganya, tetap saja kesepuluh jari tangan Bhok Khim itu tidak dapat terlepas dari tangan Gak Liat, seolah-olah menjadi sepuluh ekor lintah yang menghisap darahnya!

Gak Liat mulai menjadi gugup dan juga marah bukan main. Kalau dia dikalahkan dengan ilmu silat yang lebih tinggi, dia tidak akan penasaran. Akan tetapi dikalahkan dengan cara wanita berkelahi, mencengkeram dan mencakar, benar-benar amat memalukan! Lebih celaka lagi, kini wanita gila itu mulai berusaha untuk menggigit tenggorokannya! Dalam keadaan seperti itu, Gak Liat menjadi makin malu dan bingung.

Ia kembali meronta dan menendangkan kakinya agar tubuh yang menindihnya itu terlepas, akan tetapi kini Bhok Khim sudah mengaitkan kedua kakinya yang panjang dan berkulit halus itu ke pinggang Gak Liat dan tiba-tiba mukanya menunduk ke arah tenggorokan! Dilihat sepintas lalu, seolah-olah wanita cantik yang kini rambutnya terlepas dan awut-awutan menyembunyikan mukanya itu hendak mencium Gak Liat!

Terdengar lengking yang serak seperti serigala disusul teriakan Gak Liat karena tenggorokannya telah tergigit oleh Bhok Khim! Hal ini hanya dapat terjadi karena gelora nafsu birahi yang timbul di dalam hati kakek itu. Pergumulan itu, bau keringat dan rambut Bhok Khim, membangkitkan nafsu birahi di hati Gak Liat sehingga ia sejenak terpesona dan kehilangan kewaspadaan, maka terlambat ia menyadari bahwa wanita itu bukan hendak mencium bibirnya seperti yang dikhayalkannya dalam buaian nafsu, melainkan menggigit tenggorokannya. Rasa nyeri yang hebat membuat Gak Liat marah sekali. Biar pun tangannya masih dicengkeram, namun ia mengerahkan tenaga memukul sehingga tangan Bhok Khim yang mencengkeram terbawa dengan keras sekali dan pukulan Hwi-yang Sin-ciang bersarang di dada wanita itu!

Pukulan ini hebat bukan main dan tokoh lain yang tinggi kepandaiannya pun kiranya akan tewas seketika menerima pukulan maut ini. Akan tetapi di dalam diri Bhok Khim terdapat hawa aneh yang timbul sebagai akibat dari mempelajari ilmu tinggi yang keliru. Biar pun pukulan itu membuat dadanya seperti remuk akan tetapi tidak membuat ia tewas dan dalam kenyeriannya ia memperkuat gigitannya sampai gigi-giginya menembus kulit daging dan mengoyak urat besar!

“Desssss!”

Sekali lagi Gak Liat memukul sekuatnya dan tubuh Bhok Khim terkulai dengan dada berubah hitam dan hangus, akan tetapi tubuh Gak Liat sendiri berkelojotan dalam sekarat karena urat lehernya putus dan lehernya koyak-koyak, matanya mendelik dan dari leher itu keluar suara mengerikan seperti seekor babi disembelih, dibarengi darah yang mengucur seperti pancuran air!

Setelah tubuh Gak Liat yang berkelojotan itu menegang lalu terkulai, barulah semua orang menghela napas dengan muka pucat saking tegang dan ngerinya menyaksikan pertandingan hebat yang mengakibatkan matinya Bhok Khim dan Gak Liat. Akan tetapi, benar-benar hebat wanita itu. Terdengar ia mengeluh dan tubuhnya bergerak perlahan, tangannya lemah menggapai ke arah Khu Cen Tiam dan Liem Sian.

“Suheng... suheng... harap suheng... merawat... anakku...,” terdengar suaranya lemah. Suara yang terdengar aneh, seperti suara yang datangnya dari lubang kubur. Memang aneh sekali melihat tubuh yang sudah menerima dua kali pukulan Hwi-yang Sin-ciang dan yang sudah hangus menghitam itu masih dapat mengeluarkan suara!

“Kami bukan suheng-mu!” Khu Cen Tiam membentak, jijik dan marah. “Anakmu adalah anak haram, anak iblis, dan engkau sendiri sudah menjadi iblis betina!”

Memang Khu Cen Tiam dan Liem Sian yang dahulunya amat mencinta Bhok Khim menjadi benci ketika mendengar betapa dalam kamar penyiksa diri itu sumoi mereka telah menjadi gila dan melahirkan anak. Kini menyaksikan sepak terjang Bhok Khim, mereka menjadi makin benci karena biar pun Bhok Khim berhasil membunuh Gak Liat, akan tetapi caranya berkelahi tadi amat memalukan, tidak patut dilakukan seorang murid Siauw-lim-pai! Karena itu mereka tidak mau mengakui Bhok Khim yang dianggap mencemarkan nama besar Siauw-lim-pai.

“Kami bukan suheng-mu dan engkau bukan murid Siauw-lim-pai lagi!” Liem Sian ikut membentak.

“Suheng... tolong... anak... ku...” Bhok Khim masih terus mencoba untuk mohon kepada bekas kedua suheng-nya sambil mengerahkan seluruh tenaga terakhir.

“Ibils betina!” Khu Cen Tiam dan Liem Sian menggerakkan senjata mereka hendak membunuh bekas sumoi itu karena kalau dibiarkan bicara terus, mereka takut kalau ketahuan rahasianya dan akan menjadi bahan penghinaan dan pencemoohan para tokoh kang-ouw terhadap Siauw-lim-pai.

“Tring-tringgg...!”

Cambuk besi dan toya kuningan itu terlempar diikuti tubuh dua orang tokoh Siauw-lim-pai itu terlempar sampai empat meter dan terbanting ke atas tanah. Han Han telah berdiri di situ dengan kening dikerutkan, memandang marah kepada dua orang itu.

“Pesan seorang yang akan mati adalah pesan keramat, apa lagi kalian adalah bekas suheng-nya. Betapa kejinya hati kalian!” bentak Han Han tanpa mempedulikan siapa pun dan ia lalu berlutut dekat tubuh Bhok Khim.

“Toanio, biar siauwte yang akan menolong dan merawat puteramu. Di mana dia?”

Bhok Khim membelalakkan matanya, memandang Han Han dan agaknya ia mengenal pemuda ini. “Kau... kau... dua kali kau menolongku... Ahhhh... terima kasih... anakku... kuserahkan padamu... kasihan dia... dia tidak berdosa... dia... dia... aaahhhhh... dia berada...”

“Di mana? Di mana puteramu, Toanio...?” Han Han bertanya, mengguncang pundak itu.

Bhok Khim sudah meramkan matanya, bibirnya berbisik lemah dan lirih sekali sehingga terpaksa Han Han mendekatkan telinganya sambil mengerahkan tenaga saktinya untuk menangkap kata-kata terakhir yang hampir tidak terdengar itu. Bagaikan hembusan napas yang lemah, suara itu memasuki telinga Han Han bersama dengan napas terakhir Bhok Khim mengucapkan jawaban yang hanya terdengar oleh telinga Han Han sendiri. Han Han bangkit berdiri dan melihat betapa Khu Cen Tiam dan Liem Sian sudah mengangkat jenazah Ceng To Hwesio dan pergi dari tempat itu tanpa mempedulikan mayat Bhok Khim.

Sementara itu, semua orang memandang pemuda buntung itu penuh takjub, terutama mereka yang belum mengenalnya. Ada pun mereka yang sudah mengenalnya memandang Han Han dengan hati gentar karena mereka itu sudah melihat atau mendengar akan kesaktian pemuda buntung itu. Terutama sekali Nirahai memandang Han Han dengan sinar mata tajam, menyembunyikan kekagumannya.

Pemuda itu agaknya telah lama berada di situ akan tetapi tidak seorang pun, juga dia sendiri tidak, yang mengetahui kehadiran pemuda itu. Padahal di situ terdapat banyak orang sakti. Hal ini saja sudah membuktikan betapa hebatnya pemuda buntung yang menjadi kakak angkat Lulu yang mengatakan bahwa hanya Han Han inilah yang patut menjadi jodohnya! Teringat akan ini, tanpa dapat dicegah lagi merahlah kedua pipi Nirahai. Dara ini merasa jengah sendiri dan untuk menutupi debar jantungnya, ia segera berkata dengan suara dingin.

“Setelah dibebaskan subo, apa keperluanmu datang ke sini?”

Han Han mengangkat muka lalu berbalik dan memandang puteri itu, lalu menjawab tenang, “Engkau telah menawan adikku Lulu, maka aku datang untuk bertanya ke mana perginya adikku itu.”

Kedua alis yang kecil panjang hitam itu berkerut, lalu terdengar suara Nirahai jengkel, “Apa kau kira aku menyembunyikan Lulu?”

“Aku tidak mengira atau menyangka apa-apa, hanya aku bertanya ke mana perginya Lulu?” Han Han bertanya, tetap tenang biar pun semua orang yang berada di situ memperhatikan dia bercakap-cakap dengan puteri itu. Sinar matanya tajam dan tidak membayangkan sesuatu, sungguh pun kini setelah berdiri dekat dan memandang wajah gadis itu dengan jelas, ia mendapat kenyataan betapa wajah puteri itu benar-benar amat cantik seperti bidadari.

“Aku tidak tahu ke mana perginya. Dia melarikan diri dari tempat tahanan ketika murid-murid In-kok-san datang menyerbu. Dia benar sumoi-ku, akan tetapi dia mengecewakan hatiku, maka aku tidak mau tahu lagi ke mana dia pergi.”

Ucapan ini melemaskan hati Han Han, karena dia percaya bahwa puteri itu memang benar tidak tahu. Akan tetapi ucapan yang mengandung penyesalan itu pun menyinggung hati Ma-bin Lo-mo karena murid-murid In-kok-san adalah murid-muridnya! Maka ia lalu berseru marah.

“Murid-murid In-kok-san adalah murid-muridku yang murtad! Manusia-manusia tidak kenal budi, lupa betapa semenjak kecil dengan susah payah aku mengajar mereka. Terkutuk, akan kubunuh mereka seorang demi seorang!”

Tidak ada yang berani mencampuri urusan Ma-bin Lo-mo dengan murid-muridnya, akan tetapi Han Han menjadi panas hatinya. Ia tahu betapa murid-murid In-kok-san itu masih memiliki kegagahan dan sifat-sifat yang jauh lebih baik dari pada watak Iblis Muka Kuda ini, maka ia menengok kepada Ma-bin Lo-mo dan berkata.

“Ma-bin Lo-mo, ucapanmu ini sebenarnya tak perlu kau keluarkan di depan para orang gagah! Engkaulah yang terkutuk dan murtad, setelah apa yang kau lakukan terhadap orang tua dan keluarga para murid In-kok-san!”

Seketika wajah Ma-bin Lo-mo menjadi pucat. Sedikit pun ia tidak pernah mengira bahwa pemuda buntung yang amat lihai itu telah mengetahui rahasianya. Ia hanya memaadang dengan mata melotot tanpa dapat menjawab. Han Han juga tidak mempedulikannya lagi lalu berkata, tidak ditujukan kepada siapa pun juga.

“Suara yang mengajak damai adalah suara hati yang murni, akan tetapi manusia sudah terlalu dibungkus kepalsuan, maka sayanglah kalau suara damai itu menyembunyikan sesuatu yang jauh dari pada mendatangkan kedamaian di hati sesama manusia.” Setelah berkata demikian, sekali lagi ia mengerling ke arah Puteri Nirahai lalu tubuhnya berkelebat, sekali mencelat lenyaplah tubuhnya, membuat semua orang bengong memandang.

“Pemuda Super Sakti!” terdengar orang-orang berbisik kagum.

Nirahai juga kagum sekali. Dia dapat melihat bayangan pemuda itu meloncat-loncat cepat sekali seperti kilat menyambar dan dalam beberapa loncatan saja sudah amat jauh dari tempat itu. Ia kagum dan juga penasaran, ingin sekali ia mencoba kepandaian pemuda buntung yang amat terkenal bahkan kini dijuluki pemuda Super Sakti itu!

Pertemuan itu ditutup dengan janji para tokoh kang-ouw dan wakil-wakil perkumpulan untuk mencuci tangan tidak mencampuri perang, bahkan berjanji akan menarik semua murid dari Se-cuan. Puteri Nirahai menjadi lega sekali dan menganggap bahwa tugas dan usahanya berhasil baik sekali. Akan tetapi dalam perjalanan meninggalkan tempat itu, wajah Han Han tidak pernah lenyap dari depan matanya.

Ia kagum dan juga penasaran. Belum puas hatinya kalau belum dapat berhadapan sebagai lawan dengan pemuda buntung itu. Akan tetapi, berkali-kali Nirahai mencela hatinya sendiri yang tak pernah dapat melupakan Han Han. Dia masih mempunyai banyak kewajiban yang harus diselesaikan, harus cepat pulang ke kota raja memberi laporan, kemudian ke perbatasan Se-cuan untuk memimpin sendiri pasukan yang mengepung daerah pemberontak itu.....

********************

Harus diakui kecerdikan Puteri Nirahai dan para pimpinan tinggi Kerajaan Mancu yang selain pandai berperang, dapat memimpin pasukan-pasukan yang berani mati, tahan uji dan berdisiplin tunduk terhadap pimpinan, juga pandai pula bersiasat. Siasat yang dilakukannya di puncak Tai-hang-san, mengundang para tokoh kang-ouw termasuk para pimpinan partai-partai persilatan, mengajak damai dengan mengemukakan pandangan-pandangan dan filsafat-filsafat yang mengesankan, benar-benar telah berhasil baik sekali.

Berbondong-bondong orang-orang kang-ouw yang gagah perkasa dan para murid persilatan besar yang tadinya dengan mati-matian membantu perjuangan Se-cuan dalam menghadapi barisan Mancu, mengundurkan diri dan keluar dari Se-cuan memenuhi perintah ketua-ketua dan guru-guru mereka. Sudah tentu saja hal ini membuat Se-cuan menjadi lemah, sungguh pun Bu Sam Kwi yang berambisi besar itu tetap mempertahankan kedudukannya dan mengerahkan seluruh pasukan dan penduduk untuk mempertahankan Se-cuan dari tangan pemerintah Mancu.

Pengunduran para orang gagah dari Se-cuan itu bukan tidak diperhatikan oleh pihak pimpinan pasukan Mancu yang tak pernah meninggalkan perbatasan. Sebaliknya dari itu malah, mereka ini mempergunakan kesempatan setelah orang-orang gagah itu keluar, lalu pasukan-pasukan terdepan mengadakan serbuan-serbuan kecil untuk mengacau pertahanan musuh. Yang paling aktif dalam pengecauan-pengacauan di perbatasan ini adalah Ouwyang-kongcu sendiri, putera Pangeran Ouwyang Cin Kok yang memimpin pasukan istimewa untuk menyerbu daerah-daerah yang kini tidak lagi diperkuat oleh orang-orang kang-ouw, melakukan pengrusakan, pembakaran secara kejam, membiarkan pasukannya membunuh, merampok, memperkosa dan membakari rumah.

Memang hal ini disengaja untuk mengacaukan pertahanan musuh dan di samping itu, Ouwyang Seng mendapat kesempatan pula untuk melampiaskan nafsu-nafsunya dan memilih wanita-wanita tercantik untuk dirinya sendiri. Apa lagi pada waktu Puteri Nirahai meninggalkan daerah perbatasan untuk kembali ke kota raja dan menghadiri pertemuan di Tai-hang-san, Ouwyang Seng seperti seekor kuda tanpa kendali. Kalau ada puteri itu yang ia harapkan untuk menjadi jodohnya, harapan yang bukan saja terdorong oleh kecantikan dara itu yang membuat ia tergila-gila, akan tetapi juga sebagai mantu kaisar tentu saja derajatnya menjadi naik dan ia akan mendapat kedudukan yang tinggi, pemuda bangsawan itu menjadi ‘alim’ dan bersikap seperti seorang pemuda yang baik.

********************

Han Han yang meninggalkan puncak In-kok-san, melakukan perjalanan cepat sekali ke Se-cuan. Ketika ia meninggalkan puncak, di tengah jalan di kaki gunung itu ia melihat dua orang murid Siauw-lim-pai, Khu Cen Tiam dan Liem Sian membakar jenazah Ceng To Hwesio untuk diperabukan dan dibawa abunya ke Siauw-lim-si. Ketika ia mengintai, ia mendengar percakapan antara dua orang tokoh Siauw-lim-pai ini.

Kiranya kedua orang tokoh Siauw-lim-pai ini tidak mau menerima uluran tangan Puteri Nirahai yang mengajak damai. Mereka berbantahan. Liem Sian mengatakan bahwa mendiang Ceng To Hwesio sudah menerima perdamaian itu, akan tetapi Khu Cen Tiam membantah, mengatakan bahwa kini hwesio itu telah tewas sehingga perjanjian itu juga dapat dibatalkan. Akhirnya mereka berdua bersepakat untuk pergi ke Se-cuan dan membakar hati para saudara mereka yang berjuang di sana untuk lebih memperhebat perlawanan mereka!

Mendengar ini tentu saja hati Han Han menjadi khawatir sekali. Terutama ia ingat akan Lauw Sin Lian, puteri mendiang Lauw-pangcu yang telah menjadi murid Siauw-lim Chit-kiam sehingga gadis itu pun kini menjadi tokoh Siauw-lim-pai. Kalau Sin Lian terkena hasutan kedua orang yang mendendam ini, berarti gadis itu akan terus berjuang melawan pemerintah Mancu. Han Han bukan hanya mengkhawatirkan keselamatan bekas suci-nya itu, akan tetapi terutama sekali ia menjaga jangan sampai tokoh-tokoh Siauw-lim-pai, terutama Sin Lian, mengingkari atau melanggar janji yang telah diucapkan Ceng To Hwesio, seorang tokoh besar Siauw-lim-pai. Karena inilah dia bergegas mendahului dua orang Siauw-lim-pai itu menuju ke Se-cuan untuk memberi tahu kepada Sin Lian akan perjanjian yang diadakan di puncak In-kok-san.

Han Han sama sekali tidak tahu bahwa kedatangannya di perbatasan Se-cuan itu telah diketahui oleh Ouwyang Seng yang sudah mengatur rencana bersama Toat-beng Cui-sian-li dan Ma-bin Lo-mo. Iblis Muka Kuda ini amat khawatir mendapat kenyataan bahwa Han Han telah mengetahui rahasianya yang busuk terhadap para muridnya, maka ia hendak mengerahkan segala siasat dan kepandaiannya untuk membunuh pemuda buntung itu.

Juga Toat-beng Ciu-sian-li yang melihat betapa kini Han Han menjadi seorang yang berilmu tinggi, khawatir kalau-kalau pemuda itu kelak akan mencelakakannya sebagai balas dendam karena dialah yang menyebabkan pemuda itu kehilangan sebelah kakinya. Adalah wajar kalau nenek ini pun ingin sekali membunuh Han Han agar hatinya tidak akan gelisah lagi.

Ouwyang Seng memang membenci Han Han, maka tentu saja dia menjadi gembira untuk bersekutu dengan dua orang lihai ini dan menjebak Han Han. Hanya ia merasa sayang sekali mendengar akan kematian gurunya, karena kalau ada bantuan Gak Liat, tentu kedudukan mereka lebih kuat lagi.

Ketika sampai di perbatasan, segera Han Han mendengar dari mulut para pengungsi akan keganasan pasukan yang dipimpin Ouwyang-kongcu. Mendengar ini Han Han menjadi marah. Semenjak kecil ia sudah mengenal Ouwyang Seng sebagai seorang yang sombong dan berwatak jahat. Sekarang mendengar akan sepak terjang putera pangeran yang penuh kekejaman, membakari dusun-dusun dan melakukan hal-hal di luar peri-kemanusiaan, Han Han tak dapat menahan kesabaran hatinya lagi.

Dia tidak ingin melibatkan diri dengan perang, akan tetapi apa yang dilakukan Ouwyang Seng sama sekali tidak ada hubungannya dengan perang, melainkan pengumbaran hawa nafsu jahat. Dia takkan peduli jika Ouwyang Seng dan pasukannya menggempur serta menghancurkan pasukan Se-cuan, itu adalah perang namanya. Tetapi membakari dusun, membunuhi orang yang tidak melakukan perlawanan, memperkosa wanita yang lemah, apakah ini dapat dikatakan siasat perang? Tidak, ia harus mencari dan mengenyahkan pemuda bangsawan yang jahat itu, karena kalau tidak segera dibasmi tentu keganasan dan kejahatannya akan makin merajalela dan menimbulkan banyak korban manusia yang tidak berdosa.

Pagi-pagi sekali Han Han telah tiba di perkemahan pasukan yang dipimpin Ouwyang Seng di lereng gunung. Ia langsung memasuki daerah yang dikuasai pasukan ini dan merasa heran melihat keadaan yang sunyi, tidak nampak penjagaan ketat. Bahkan ada beberapa orang prajurit Mancu yang rebah malang-melintang tidur mendengkur dalam keadaan mabuk! Pasukan macam begini disohorkan sebagai pasukan yang istimewa? Diam-diam Han Han memandang rendah, akan tetapi tetap bersikap waspada karena ia telah mengenal siasat-siasat yang amat berbahaya dari para pasukan Mancu ini.

Berindap-indap ia memasuki daerah itu dan meneliti perkemahan. Di dalam beberapa buah kemah ia mendengar isak tangis wanita diseling kekeh ketawanya laki-laki mabuk. Tentu para perwira pasukan sedang melakukan perbuatan biadab terhadap wanita-wanita tawanan, pikirnya. Akan tetapi tujuan Han Han mencari Ouwyang Seng dan ia menduga bahwa tentu pemuda bangsawan itu berada di dalam kemah yang paling besar. Akhirnya ia melihat sebuah kemah yang besar berwarna kuning, berada di tengah-tengah perkemahan. Dengan gerakan amat ringan Han Han bergerak mendekat. Tentu kemah besar itulah yang ditempati Ouwyang Seng, pikirnya.

Sama sekali Han Han tidak tahu bahwa keadaan yang sunyi itu, adanya penjaga-penjaga mabuk, memang disengaja oleh Ouwyang Seng, Ma-bin Lo-mo dan Toat-beng Ciu-sian-li yang berusaha menjebaknya. Pasukan disingkirkan, memasang barisan pendam mengurung perkemahan, dan kini tiga pasang mata mengikuti gerak-gerik Han Han dari tempat persembunyian di belakang kemah besar. Keadaan Han Han seperti seekor harimau yang makin lama makin mendekati jebakan, diintai oleh pemburu-pemburu dengan hati berdebar tegang.

Sesosok bayangan berkelebat di depan kemah besar. Biar pun cuaca seperti itu masih belum terang benar, akan tetapi mata Han Han terbelalak lebar ketika ia melihat bayangan itu. Lulu! Tak salah lagi! Bayangan itu berdiri depan kemah membelakanginya, akan tetapi bentuk tubuh, bentuk tata rambut, dan dagu meruncing yang tampak sedikit dari samping, cara berpakaian, jelas bahwa gadis itu tentu adiknya! Hatinya berdebar girang. Akan tetapi hanya sebentar saja ia dapat memandang penuh selidik. karena gadis itu kini telah melompat ke dalam kemah melalui pintu kemah yang diterobosnya. Ah, betapa lancangnya Lulu, pikir Han Han kaget.

Tiba-tiba terdengar jerit melengking dari dalam kemah itu, jerit Lulu yang menggetarkan jantungnya. Cepat bagai kilat menyambar Han Han sudah meloncat keluar dari tempat persembunyiannya, dan dengan tiga kali berjungkir-balik di udara tubuhnya langsung menukik ke bawah dan menerobos memasuki perkemahan yang terkoyak oleh putaran tongkatnya!

Dari atas tubuh Han Han menyambar ke bawah, matanya tajam mencari dan siap untuk langsung menolong Lulu, akan tetapi di sebelah dalam kemah itu kosong! Ketika kaki tunggalnya turun ke atas lantai, tiba-tiba lantai itu amblas ke bawah, membuat tubuhnya ikut terjeblos ke bawah dengan cepat sekali! Han Han terkejut, maklum bahwa dia memasuki perangkap yang memang sengaja diatur dan dipasang lawan. Segera ia mengerahkan tenaga pada kaki tunggal dan tongkatnya, tubuhnya siap mencelat ke atas. Akan tetapi pada saat itu sebongkah batu besar sekali telah jatuh menimpa ke dalam lubang jebakan, dengan kekuatan ribuan kati menimpa ke arah tubuhnya!

“Celaka...!”

Han Han maklum bahwa untuk meloncat ke luar tidak mungkin lagi, maka ia sudah siap dengan kedua tangannya untuk menerima batu besar yang menimpanya. Pada saat itu ia masih dapat melihat berkelebatnya dua bayangan di luar lubang, hanya sekilas pandang saja ia mengenal mereka sebagai Lauw Sin Lian dan Tan Hian Ceng! Bahkan terdengar suara jeritan Sin Lian.

“Han Han...! Awas...!” Akan tetapi bayangan itu segera lenyap tertutup batu yang sudah menimpanya, batu yang besarnya persis memenuhi lubang di mana ia terjeblos.

Sambil mengerahkan sinkang pada sepasang lengannya, Han Han mengangkat kedua tangan ke atas setelah menggigit tongkatnya. Dengan telapak tangan menghadap ke atas dia lalu menerima batu yang berat itu, membiarkan tubuhnya agak merendah lalu mengayun tubuh dan kedua lengan ke atas. Ia harus mengerahkan seluruh tenaga karena tidak ada ruang lagi untuk mengayun batu itu agar daya luncurnya tersalur kembali ke atas. Dadanya terasa sesak dan tahulah ia bahwa tak mungkin ia bertahan terus dalam keadaan seperti itu, menyangga batu yang luar biasa beratnya. Kalau kedua lengannya dan sebuah kakinya tidak kuat, ia akan terhimpit dan tubuhnya akan hancur tertimpa batu.

Bahaya yang mengancam keselamatannya sendiri tidaklah begitu menyiksa baginya kalau dibandingkan kekhawatirannya akan keselamatan Lulu, Sin Lian dan Hian Ceng di atas sana. Bukankah tadi terdengar Lulu menjerit begitu mengerikan? Dan Sin Lian bersama Hian Ceng tentu akan terancam musuh yang keji dan kuat. Ia harus dapat cepat menyelamatkan diri sendiri terlebih dulu, kalau tidak, tentu tiga orang gadis itu terancam bahaya hebat.

Mulailah Han Han mencurahkan pikiran kepada diri sendiri. Bagaimana ia dapat membebaskan diri dari tindihan batu berat itu? Ia berusaha mendorong batu ke pinggir dan merasa betapa dinding sebelah kiri hanya tanah biasa, namun tentu saja tidak mungkin mendorong batu sebesar itu ke dalam tanah padat! Tenaganya mulai berkurang dan dadanya terasa makin sesak. Jalan satu-satunya adalah menghindarkan diri tertimpa batu dan membiarkan batu itu turun ke dasar lubang. Akan tetapi dia harus dapat mencari ruangan untuk tubuhnya agar tidak terhimpit.

Setelah berpikir dan memperhitungkan masak-masak, Han Han hanya tahu akan sebuah cara yang harus ditempuhnya. Kalau berhasil, ada harapan selamat, kalau gagal, paling-paling hanya tewas. Akan tetapi kalau dia tewas, bagaimana dengan Lulu, Sin Lian, dan Hian Ceng? Tidak! Dia tidak boleh tewas dalam saat seperti itu karena dia dibutuhkan tiga orang gadis yang terancam bahaya.

Han Han mengerahkan seluruh tenaga, mendorong batu dari bawah sehingga batu itu mepet di dinding, kemudian ia menggeser kedua tangannya yang menyangga itu ke pinggir batu sampai tubuhnya mengenai dinding. Jauh lebih berat mendorong batu mepet pada dinding dan menahannya agar tidak jatuh dari pada ketika menyangga tadi. Sampai berbunyi tulang-tulang tubuhnya dan dia hampir tidak kuat lagi.

Han Han memejamkan mata, memanggil semua daya kemauannya, mengumpulkan seluruh tenaga sinkang-nya, kemudian ia menggunakan tubuh belakangnya mendesak dinding sambil tetap mempertahankan batu agar tidak menimpanya. Tanah dinding itu mulai melesak dan tubuhnya mulai amblas di dinding. Sekali lagi ia mendorong sekuat tenaga dan kini tubuhnya sudah sama sekali melesak ke dalam tanah dinding dan batu itu meluncur jatuh ke dasar lubang!

Tubuh pemuda itu telah terhindar dari bahaya terhimpit, akan tetapi ia masih belum bebas dari ancaman maut karena kini tubuhnya melesak ke dinding tanah dan karena batu itu lebih tinggi dari tubuhnya, dia tertutup dan tidak ada hawa udara untuk bernapas! Selain ini, juga Han Han muntahkan darah segar akibat pengerahan tenaga yang berlebihan ketika ia menggunakan tenaga untuk memaksa tubuhnya memasuki dinding tanah tadi.

Pemuda ini cepat menggerakkan tongkatnya menggali ke atas, terpaksa menahan napasnya dan hal ini membutuhkan pengerah sinkang sehingga dari kedua ujung bibirnya menetes-netes darah segar! Betapa pun juga, Han Han yang ingin cepat-cepat bebas untuk menolong Lulu, Sin Lian dan Hian Ceng tidak mau menyerah kalah, terus berusaha menggali tanah di atasnya, dekat batu. Ia menggali sambil menundukkan muka menahan napas karena kalau ia menengadah, tentu matanya akan terserang tanah yang berguguran dihujam tongkatnya.....

********************

Mengapa Lauw Sin Lian dan Tan Hian Ceng dapat berada di perkemahan itu? Seperti diketahui, dua orang dara perkasa ini adalah dua orang pejuang yang gigih menentang pemerintah Mancu semenjak dahulu dan mereka menggabungkan diri dengan kekuatan penentang penjajah yang berpusat di Se-cuan.

Setelah penyerbuan tentara Mancu berkurang, bahkan hampir terhenti sama sekali, Hian Ceng yang tadinya berjuang di perbatasan timur dan selatan mengunjungi Cung-king dan bertemu dengan Sin Lian untuk menanyakan perihal Han Han yang selalu menjadi kenangan. Kedua orang gadis ini bercakap-cakap, saling menceritakan pengalamannya, akan tetapi tentu saja menyembunyikan perasaan hati masing-masing terhadap Han Han.

Ketika Hian Ceng bertanya tentang Han Han, dengan hati sedih Sin Lian menceritakan bahwa Han Han telah mengundurkan diri dan pergi dari Se-cuan untuk mencari adiknya. Hian Ceng juga menyatakan penyesalannya betapa usahanya mencari Lulu sia-sia, dan diam-diam Hian Ceng memaki-maki Lulu yang dianggapnya seorang adik yang tak tahu diri dan hanya menyusahkan saja. Akan tetapi karena ia kini tahu bahwa Lulu adik angkat Sin Lian, tentu saja dia tidak berani mengeluarkan makiannya dengan kata-kata.

Seperti para pejuang suka rela yang lain, yang datang jauh-jauh ke Se-cuan untuk membantu perjuangan berperang menentang pasukan Mancu, kedua orang perkasa ini pun menjadi kesal hatinya ketika pihak musuh menghentikan serbuan dan jarang sekali terjadi pertempuran. Mereka menganggur dan kesal, maka seperti para pejuang lainnya, mereka juga lalu pergi menjelajah seluruh Se-cuan.

Dengan Hian Ceng sebagai petunjuk jalan, hati Sin Lian terhibur melakukan perjalanan di sepanjang perbatasan Se-cuan dengan propinsi-propinsi lain yang telah dikuasai musuh. Ketika sedang melakukan perjalanan inilah kedua orang dara perkasa itu mendengar tentang sepak-terjang Ouwyang Seng bersama pasukan istimewanya. Sin Lian menjadi marah sekali mendengar penuturan para pengungsi yang menceritakan segala kekejaman Ouwyang Seng dan pasukannya.

“Si bedebah! Semenjak kecil dia memang sudah jahat! Orang macam itu harus dienyahkan dari muka bumi!” Sin Lian berkata sambil mengepal tinjunya.

“Siapakah panglima musuh kejam yang bernama Ouwyang Seng itu, Enci Lian?” tanya Hian Ceng heran melihat sikap Sin Lian yang seolah-olah sudah mengenal panglima yang dikabarkan kejam oleh para pengungsi itu.

“Dia adalah putera Pangeran Ouwyang Cin Kok, murid Setan Botak Gak Liat dan dia...”

Wajah Hian Ceng berubah merah sekali, matanya bersinar-sinar. “Aihhh! Kiranya si keparat laknat itukah? Mari kita berangkat mencarinya dan aku ingin menyayat-nyayat tubuhnya dengan pedangku, Enci Lian!”

Kini Sin Lian yang memandang terbelalak. “Mengapa engkau membenci dia pula, Adik Ceng?”

Hian Ceng cemberut dan matanya menyinarkan kemarahan, “Kalau tidak ada Han-twako yang menolongku, tentu aku sudah menjadi korban kebiadaban Kongcu hidung babi itu!”

“Lho, kau maksudkan hidung belang, bukan?”

“Hidung belang saja masih mending, dia hidung babi dan belang pula!” Hian Ceng bersungut-sungut lalu menceritakan pengalamannya ketika ia ditawan Ouwyang Seng dan Gu Lai Kwan, betapa ia hampir saja diperkosa oleh Ouwyang Seng kalau saja tidak muncul Han Han yang menolongnya.

Demikianlah setelah kedua orang gadis itu membicarakan Ouwyang Seng dengan hati penuh kebencian mereka berdua lalu menyelidiki perkemahan pasukan istimewa yang dipimpin Ouwyang Seng. Pada malam hari ketika mereka menyelundup ke daerah perkemahan, kebetulan sekali bahwa Ouwyang Seng bersama dua orang pembantunya yang lihai, yaitu Toat-beng Ciu-sian-li dan Ma-bin Lo-mo, telah mengatur jebakan bagi Han Han sehingga daerah itu sengaja tidak dijaga ketat.

Dengan kepandaian mereka, dua orang gadis itu berhasil menyelinap masuk dan melakukan pengintaian di dekat kemah besar yang berwarna kuning. Dari tempat persembunyian mereka, mereka melihat kesibukan Ouwyang Seng dan dua orang datuk kaum sesat sedang mengatur jebakan di dalam kemah. Melihat Ouwyang Seng, naik darah Hian Ceng dan gadis ini sudah ingin menyerbu dengan nekat. Akan tetapi Sin Lian memegang lengannya dan memberi isyarat supaya temannya itu tidak terburu nafsu.

“Toat-beng Ciu-sian-li dan Ma-bin Lo-mo itu lihai sekali,” bisiknya, “Tak mungkin kita dapat mengalahkan mereka. Kita menanti kesempatan baik...”

Akan tetapi, sampai malam berganti pagi, pemuda bangsawan yang mereka incar itu selalu bersama nenek dan kakek sakti itu sehingga mereka berdua tidak berani turun tangan. Akan tetapi Sin Lian curiga menyaksikan gerak-gerik mereka, bahkan menjadi heran melihat munculnya seorang gadis yang gerak-geriknya gesit akan tetapi yang melihat pakaian dan tata rambutnya mengingatkan ia akan adik angkatnya, Lulu. Gadis itu jelas bukan Lulu, akan tetapi mengapa gadis itu seolah-olah menjadi saudara kembar Lulu dengan pakaian, tata rambut, dan gerak-gerik yang serupa benar? Dalam keheranannya, Sin Lian menjadi makin curiga dan mengambil keputusan untuk menanti dan mengintai terus.

Dia dan Hian Ceng sama sekali tidak tahu bahwa pagi hari itu Han Han telah muncul pula dalam penyelidikannya, mengintai tak jauh dari semak-semak di mana mereka bersembunyi. Mereka hanya melihat gadis yang seperti Lulu itu tiba-tiba tampak berkelebat di depan kemah, lalu meloncat ke dalam kemah disusul suara jeritan nyaring. Peristiwa ini masih membuat mereka berdua terheran-heran, akan tetapi ketika mereka melihat Han Han meloncat dan berjungkir-balik di udara, kemudian menyerbu ke dalam kemah barulah mereka terkejut dan Sin Lian yang cerdik lantas dapat menduga bahwa mereka semua itu telah mengatur jebakan untuk Han Han.

“Han-twako...!” Hian Ceng berbisik ketika ia mengenal tubuh yang meloncat tinggi itu.

“Celaka, dia terjebak. Mari...!”

Sin Lian sudah mendahului Hian Ceng dan kedua orang gadis itu cepat meloncat dan lari ke tenda kuning, menguakkan pintu tenda. Dapat dibayangkan betapa kaget hati mereka bahwa kemah itu kosong dan kini terdapat lubang besar. Han Han berada di dasar lubang dan sebongkah batu besar menimpa turun! Mereka hanya dapat berteriak tak mampu menolong dan dalam beberapa detik saja batu itu telah menutupi lubang dan mereka tidak tahu apa yang terjadi dengan Han Han.....



Pilih JilidHomeJilid Berikut


DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner