PENDEKAR SUPER SAKTI : JILID-42


Betapa pun besarnya badai dan ombak, akhirnya akan mereda juga. Gelombang nafsu asmara yang lebih besar dan dahsyat dari pada badai dan ombak pun akhirnya akan mereda juga. Selama satu bulan, Han Han dan Nirahai seolah-olah lupa segala, tidak peduli akan masa lalu dan masa depan, ingatnya hanya berlomba merenggut madu asmara yang makin direguk makin mendatangkan dahaga. Setelah lewat sebulan, cinta kasih mereka yang menyala-nyala terbakar nafsu birahi mulai mereda dan mulailah mereka berdua sadar bahwa cinta kasih bukanlah cinta birahi semata, dan mulailah keduanya merenungkan masa depan mereka!

Bagaikan dua orang yang mengaso tenang setelah diombang-ambingkan gelombang dahsyat selama sebulan lebih, pada pagi hari itu mereka duduk di tepi telaga. Han Han duduk bersandar batu hitam yang dulu sering kali dijadikan tempat duduk Koai-lojin di waktu memancing. Nirahai duduk di depannya, setengah dipangkunya dan merebahkan kepala dengan rambut terurai lepas di atas dada Han Han. Sampai berjam-jam kedua muda-mudi ini duduk seperti itu, tak bergerak dan penuh dengan kebahagiaan, dengan kepuasan, saling menikmati kehadiran kekasih masing-masing yang hanya terasa oleh detik jantung dan alunan nafas.

Angin semilir dari tengah telaga datang bertiup, membuat rambut yang hitam berikal melambai dan menggelitik leher Han Han, menyadarkan pemuda ini dari lamunan nikmat yang membuatnya tenggelam. Ia menggerakkan lehernya mengusir rasa gatal dan geli, kemudian melanjutkan gerakan jari-jari tangannya dengan mengelus rambut halus di atas dadanya itu penuh kasih sayang dan mesra. “Nirahai, isteriku tercinta...”

Nirahai bergerak, menengadah dan tersenyum memandang wajah Han Han. “Dan engkau suamiku...”

Han Han menunduk, memberi hadiah ciuman mesra untuk sebutan yang menggetarkan perasaannya itu. Biasanya, selama sebulan ini, satu ciuman saja sudah cukup membuat keduanya tenggelam dalam lautan asmara, tidak ingat lagi akan hal lain, menghapus semua niat yang hendak dibicarakan, karena semua kemauan sudah lumpuh dan kalah oleh gelombang asmara yang menghanyutkan. Tetapi kini Han Han dapat menahan diri dan ia berbisik.

“Nirahai, aku teringat bahwa sebulan lagi Lulu akan menikah. Aku harus hadir dan menyusulnya ke Kwan-teng. Marilah kita pergi ke sana...”

Sepasang mata Nirahai yang selama sebulan ini selalu dalam keadaan seperti orang mengantuk, kini mulai menemukan kembali sinarnya ketika mendengar ucapan Han Han itu. Sudah sebulan mereka berdua tidak pernah mengucapkan kata-kata yang lain dari pada cumbu rayu sehingga kini seperti baru sadar dari mimpi. Sadar bahwa di sana masih terdapat banyak hal lain di samping urusan cinta kasih mereka! Matanya mulai bersinar, perlahan ia bangkit dari dada suaminya, lalu duduk di atas tanah bertilam rumput, memutar tubuh berhadapan dengan Han Han. Kedua tangannya mulai memilin-milin rambutnya yang selama ini dibiarkan terurai lepas untuk dibelai dan dipermainkan jari-jari tangan Han Han yang penuh cinta kasih.

Baru saat itulah keduanya saling pandang dalam keadaan sadar, dan otomatis timbul kerut-kerut kecil di wajah mereka, Han Han pada dahinya, Nirahai di antara kedua matanya.

“Han Han, engkau tahu bahwa tidak mungkin bagi aku untuk pergi ke Kwan-teng atau ke mana pun juga. Aku telah menjadi seorang pelarian, dan aku merasa malu untuk bertemu dengan tokoh-tokoh kang-ouw kalau mereka mendengar bahwa aku adalah seorang puteri pelarian.”

“Mengapa tidak mungkin, isteriku?” Han Han menggenggam tangan Nirahai. “Mengapa tidak mungkin pergi ke sana? Apa yang ditakuti? Andai kata engkau dikejar, apakah kita tidak mampu melawan? Dan mengapa pula malu kepada orang lain? Siapa yang akan berani menghinamu? Akan kuhancurkan mulut yang berani mengejekmu.”

Nirahai menggeleng kepalanya, lalu berkata, suaranya tegas, “Tidak, suamiku. Aku tidak mau pergi ke Kwan-teng atau ke mana saja. Aku sudah mempunyai rencana matang yang sudah berhari-hari ini kupikirkan dan baru sekarang akan kusampaikan kepadamu.”

Berdebar jantung Han Han, seolah-olah ada firasat tidak enak terasa olehnya. Ia menatap wajah Nirahai dan dengan hati kecut ia mendapat kenyataan betapa wajah yang cantik itu diselubungi kekerasan hati yang sukar ditembus. Diam-diam ia menjadi gelisah, akan tetapi ia menekan hatinya dan bertanya halus.

“Nirahai, bagaimanakah rencanamu itu?”

“Di selatan ini aku yang telah membuat jasa besar telah dimusuhi oleh kerajaan. Karena itu, jalan satu-satunya bagiku adalah kembali ke utara! Di Khitan aku akan lebih dihargai, dan aku mempunyai seorang paman, adik Ibuku, yang kini menjadi seorang panglima besar dari suku bangsa Mongol. Aku hendak menyusulnya ke sana dan engkau... kuharap saja suka pergi ke sana bersamaku, Han Han.”

Sejenak kedua orang yang selama sebulan lebih mabuk dan tenggelam dalam lautan asmara itu, kini saling berpandangan penuh kesadaran dan penuh kekhawatiran menyaksikan jalan pikiran dan cita-cita mereka yang saling bertentangan.

“Aku harus mengurus pernikahan adikku...,” Han Han membantah lemah, berpegang kepada alasan ini untuk menarik Nirahai yang dicintanya itu dari cita-citanya akan pergi ke utara di luar tembok besar.

Nirahai mengangguk-angguk, tersenyum lalu merangkul Han Han, menciumnya mesra yang dibalas Han Han sepenuh hatinya. Akan tetapi, kedua orang ini merasa betapa dalam ciuman mereka terdapat sesuatu yang mengganjal, tidak seperti yang sudah-sudah dan keduanya menjadi gelisah.

“Aku tahu, Han Han. Memang seharusnya engkau menghadiri pernikahan Lulu. Pergilah ke Kwan-teng dan uruslah pernikahan adik kita itu. Aku akan menantimu di sini dan kalau engkau sudah kembali ke sini dari Kwan-teng, kita berdua baru pergi ke utara.”

Han Han mengerutkan keningnya dengan jantung berdebar tegang. Ke utara? Mau apa ke sana? Hidup di antara suku bangsa Mongol yang sama sekali asing baginya? Teringat akan sejarah betapa bangsa Mongol pernah menjadi penjajah bangsanya, dia tahu bahwa tentu dirinya akan terlibat urusan politik dan pemerintahan lagi di utara yang asing itu dan ia maklum bahwa dia tidak akan merasa bahagia di sana. Ia seolah-olah dapat merasa betapa bahaya besar bagi kebahagiaan dia dan Nirahai menunggunya di utara!

Cepat ia memegang kedua pundak Nirahai, memaksa kekasihnya itu menghadapnya dan memandang wajah yang jelita itu penuh selidik. “Nirahai, kekasihku, pujaan hatiku! Engkau adalah isteriku, dan aku akan hidup sengsara tanpa engkau di sampingku! Marilah engkau ikut bersamaku, ke Kwan-teng, kemudian merantau ke mana saja, berdua, hidup penuh bahagia, jangan kita melibatkan diri lagi dengan urusan kerajaan. Aku... aku mendapat firasat buruk, kalau kita pergi ke utara... tentu kita akan terlibat dan terseret lagi dalam urusan kerajaan, politik dan perang! Aku ingin kita berdua hidup merantau, bebas lepas tidak terikat urusan duniawi, seperti sepasang burung dara di angkasa... marilah, Nirahai sebelum terlambat.”

Han Han yang merasa gelisah itu menjadi terharu dan hendak memeluk isterinya, akan tetapi tiba-tiba Nirahai melepaskan diri dari pelukan Han Han, mundur tiga langkah dan menatap wajah Han Han dengan sinar mata tajam dan wajah diliputi sikap dingin murung.

“Han Han, sudah kukhawatirkan hal ini akan terjadi semenjak malam pertama aku terlena dalam belai rayumu. Engkau lupa bahwa aku adalah seorang puteri! Bahwa tak mungkin bagiku hidup seperti seorang petualangan yang tak tentu tempat tinggalnya! Engkau lupa bahwa di dalam tubuhku mengalir darah pahlawan, yang semenjak nenek moyangku dahulu rela mengorbankan jiwa raga demi untuk negara dan bangsa! Biar pun kini kerajaan menganggap aku seorang pelarian, namun aku tetap harus bersetia kepada kerajaan Ayahku.”

Han Han menjadi pucat wajahnya dan ia membantah lemah, “Nirahai, akan tetapi engkau isteriku yang tercinta!”

Nirahai tersenyum pahit. “Memang, aku isterimu yang mencintamu, Han Han. Aku cinta kepadamu, demi Tuhan aku cinta padamu, tapi...”

“Tapi engkau lebih cinta kepada bangsamu?” Han Han berseru penasaran dan hatinya berduka sekali.

Sadarlah ia kini bahwa ia lupa akan sebuah hal yang membuat Nirahai amat jauh bedanya dengan Lulu. Memang wajah mereka mirip sekali, mempunyai segi-segi keindahan yang sama, akan tetapi ia lupa bahwa Nirahai tidak mungkin bisa memiliki jiwa seperti Lulu yang lebih polos dan jujur, yang menganggap sama antara bangsa-bangsa sehingga Lulu tidak menaruh dendam terhadap bangsa pribumi, bahkan telah mengambil tindakan mengagumkan dengan mengangkat Lauw-pangcu, pembunuh orang tuanya, sebagai ayah angkat! Nirahai juga tidak mempunyai permusuhan pribadi dengan kaum pejuang, akan tetapi Nirahai ini adalah seorang pejuang sampai ke sumsum-sumsumnya, seorang yang lebih mencinta negara dan bangsa melebihi apa pun juga!

Mendengar tuduhan Han Han itu, Nirahai tersenyum dan mengangguk, “Memang betul, Han Han. Aku mencintamu, akan tetapi aku lebih cinta kepada bangsaku yang melebihi cintaku kepada diriku sendiri. Engkau adalah seorang yang berpengetahuan luas, tentu mengerti akan watak keturunan pahlawan. Betapa pun juga, aku cinta kepadamu, suamiku, ahhhh, betapa cintaku kepadamu. Karena itu, kau kasihanilah aku. Sebelum terjadi hal-hal yang tidak kita inginkan dan yang akan menghancurkan kebahagiaan kita berdua, marilah sekarang saja kita pergi ke utara dan melupakan segala hal! Marilah, Han Han, demi cinta kasih kita...!”

Suara Nirahai makin melemah dan akhirnya ia terisak perlahan. Han Han terkejut dan makin terharu. Isterinya, kekasihnya yang berhati baja itu, kini ternyata telah menderita tekanan batin hebat sekali!

Ia segera memeluknya dan mereka berciuman penuh kemesraan. Sesaat pertentangan paham yang timbul dari percakapan tadi terlupa dan lenyap, tenggelam oleh rasa cinta kasih mereka. Akan tetapi badai kecil asmara ini pun lewat dan mereka kembali sadar dan teringat akan urusan penting yang mereka hadapi dan yang tak mungkin mereka hindari.

“Han Han, kau sendiri mengatakan bahwa Lulu telah mendapatkan jodoh yang amat baik, yang boleh dipercaya. Aku pun percaya bahwa Wan Sin Kiat adalah seorang pemuda yang baik sekali, gagah perkasa dan bertanggung jawab. Karena itu, mengapa engkau masih mengkhawatirkan keadaan Lulu? Marilah kita pergi ke utara sekarang juga.”

Han Han menggeleng kepala. “Tidak mungkin aku pergi jauh sebelum aku menyaksikan pernikahan adikku, Nirahai.”

“Kalau begitu, pergilah cepat dan kembalilah cepat pula. Aku akan menantimu di sini, suamiku.”

Han Han termenung, keningnya berkerut dan wajahnya muram. Tak disangkanya sama sekali bahwa dia harus menghadapi keputusan yang begitu sukar dan yang akan menghancurkan hidupnya! Dia membayangkan masa depannya bersama Nirahai di utara, di antara bangsa Mongol yang asing baginya sama sekali! Dia membayangkan Nirahai menjadi seorang pahlawan puteri di antara bangsa Mongol dan dia sendiri... dia hanyalah suami sang puteri yang bagaimana pun juga tidak mungkin dapat menjadi pahlawan bangsa itu, dan dia hanya akan ‘membonceng’ kemuliaan isterinya! Dia akan merasa terhina, seorang suami bangsa asing, yang buntung pula. Han Han bergidik ngeri.

“Tidak, Nirahai. Aku akan pergi ke Kwan-teng dan engkau harus ikut bersamaku! Setelah aku merayakan pernikahan Lulu, kita berdua akan pergi, ke mana saja, asal bebas dari ikatan. Ke utara pun boleh, akan tetapi dengan janji bahwa kita berdua tidak akan mengikatkan diri dengan urusan negara!”

Sepasang alis itu berkerut, sepasang mata itu bersinar merah dan Han Han terkejut, maklum bahwa datangnya badai yang lain lagi dari pada badai asmara yang memabukkan. Setelah berulang kali menarik napas panjang sampai terdengar nyata, Nirahai berkata, “Sudah kukhawatirkan akan menjadi begini...! Jodoh takkan dapat kekal hanya didasari cinta birahi saja! Yang penting adalah kesesuaian paham dan cita-cita! Ahhh, Han Han, tak mungkin aku dapat memenuhi permintaanmu itu. Kalau engkau memang mencintaku, engkau harus memenuhi permintaanku ikut dengan aku sekarang juga ke utara.”

“Engkau yang tidak sungguh-sungguh mencintaku, Nirahai. Engkau lebih mencinta cita-citamu!”

“Dan engkau, Han Han, engkau seperti telah buta. Engkau memang mencintaku, cinta nafsu, cinta birahi, padahal sesungguhnya engkau mencinta... Lulu!”

Han Han meloncat kaget dan memandang Nirahai dengan mata terbelalak.

“Apa... apa kau bilang...?”

Nirahai tertawa pahit dan anehnya, dua titik air mata membasahi kedua pipinya. Ia tertawa akan tetapi menangis, amat mengharukan ketika suaranya yang gemetar berkata, “Kuketahui setelah terlambat! Baru pada akhir-akhir ini... engkau mencumbu dan merayu, mencinta tubuhku, akan tetapi hatimu lari mencari Lulu. Tanpa kau sadari, mulutmu yang menciumi bibirku membisikkan nama Lulu! Saat itulah aku tahu bahwa sesungguhnya engkau telah jatuh cinta kepada Lulu! Akan tetapi, sudah terlanjur! Dan kini aku teringat akan sikap dan kata-kata Lulu. Adikmu itu, adik angkatmu itu, dia pun mencintamu, Han Han. Mencintamu dengan sepenuh jiwa raganya, mungkin cintanya terhadapmu jauh lebih murni dari pada cintaku kepadamu. Mungkin dia akan melakukan apa saja yang kau kehendaki. Akan tetapi, semua itu telah lewat, tiada gunanya lagi disesalkan, kita telah menjadi suami isteri! Kita tidak boleh berpisah lagi karena hal itu akan berarti menghancurkan kebahagiaan kita. Aku mencintamu dan engkau mencintaku. Sungguh pun mungkin cinta kasih di antara kita lebih disuburkan oleh nafsu birahi karena kita saling mengagumi, namun kita dapat menikmati cinta kasih kita bersama. Sekarang belum terlambat, marilah kita pergi ke utara.”

Han Han menjadi pucat sekali wajahnya, matanya kehilangan sinarnya. Pukulan batin yang dideritanya sekali ini terlalu berat baginya. Kenyataan yang dibuka secara terang-terangan oleh Nirahai merobek-robek hatinya dan ia harus mengakui kebenaran ucapan Nirahai. Betapa bodohnya! Lululah yang dia cinta! Bahkan mungkin sekali karena kemiripan wajah Nirahai dengan Lulu maka dia tergila-gila kepada puteri ini! Dan sekarang sudah terlanjur!

“Nirahai, terima kasih. Engkau benar hebat dan jujur, aku amat menghargai keterus teranganmu. Maafkan aku, Nirahai, kalau tanpa kusengaja aku menyakiti hatimu. Sudah semestinya kalau aku menebus dosa-dosaku dengan menuruti kehendakmu. Akan tetapi, engkau bersabarlah. Aku akan pergi ke Kwan-teng lebih dulu, merayakan pernikahan adikku, baru kita bicara lagi tentang ke utara.”

Nirahai membanting kakinya. Dia sudah marah sekali dan sudah habis kesabarannya. “Tidak! Sekarang juga kita harus dapat mengambil keputusan! Han Han, kita bukanlah anak-anak kecil lagi! Kita bukan orang-orang yang lemah dan ragu-ragu dalam mengambil keputusan. Kita harus dapat menentukan nasib sendiri karena hal ini menyangkut masa depan dan kehidupan kita. Dengarlah keputusan yang tak dapat diubah-ubah lagi, Han Han. Aku cinta padamu, dan akan bersedia melayanimu sebagai seorang isteri yang mencintamu sampai kematian memisahkan kita. Akan tetapi, di samping itu aku harus pergi ke Mongol dan aku harus mengabdikan diriku untuk nusa bangsaku, biar pun dengan cara lain dari pada yang sudah-sudah. Aku hanya minta engkau tidak menghalangi cita-citaku itu dan aku bersumpah bahwa cintaku kepadamu takkan berubah!”

Sementara itu, biar pun amat berduka, Han Han sudah pula berpikir masak-masak, maka ia menjawab, “Aku pun sudah mengambil keputusan, Nirahai. Aku cinta padamu dan aku akan mencintamu selamanya, akan tetapi aku tidak mau terikat dengan urusan pemerintah. Aku harus menikahkan Lulu lebih dulu, kemudian aku akan mengikutimu ke mana pun engkau pergi, akan tetapi aku hanya minta engkau tidak mencampuri urusan negara yang hanya akan merenggangkan hubungan kita suami isteri.”

Sejenak sunyi dan mereka berpandangan. Akhirnya Nirahai bertanya nyaring. “Sudah tetapkah keputusan hatimu itu?”

Han Han mengangguk tanpa mengalihkan pandang matanya yang bertaut dengan pandang mata Nirahai. Tiba-tiba Nirahai tertawa nyaring dan terkekeh-kekeh.

“Nirahai...!” Han Han maju hendak merangkul. Ia ngeri melihat Nirahai tertawa seperti itu, dengan muka pucat, dengan air mata bercucuran, dengan mulut tertarik seperti orang menangis, seperti mayat tertawa!

“Jangan dekati!” Nirahai membentak, kemudian ia berkata lirih bercampur isak, “Kalau begitu keputusan kita, kita harus berpisah, sekarang juga, lebih cepat lebih baik. Nah, selamat tinggal, Han Han. Engkau kekasihku, engkau suamiku, akan tetapi juga musuhku! Engkau kucinta, akan tetapi juga kubenci!” Setelah berkata demikian, puteri jelita itu meloncat dan lari pergi secepat kilat.

“Nirahai...!” Han Han menjerit, hanya lirih keluar dari mulut, akan tetapi amat nyaring keluar dari hatinya yang berdarah.

Ia terus berdiri termenung memandang sampai bayangan Nirahai lenyap, berdiri seperti patung, agak terbongkok seolah-olah terlampau berat beban yang dipikul dan menimpa punggungnya, bersandar pada tongkatnya dan diam tak bergerak. Hanya air matanya saja yang jatuh satu-satu tak dihiraukannya.

“Nirahai... Nirahai...!” Hatinya menjerit-jerit.

“Nirahai...! Lulu...! Lulu...!” Ia menjadi bingung, pukulan batin yang dideritanya membuat ia seolah-olah menjadi batu.

Kalau saja Nirahai tidak sedemikian keras hatinya. Kalau saja ia meragu dan kembali ke tempat itu, tentu hati wanita ini akan hancur luluh dan mencair melihat keadaan Han Han. Sampai tiga hari tiga malam Han Han masih berdiri di tempat itu, bersandar pada tongkatnya, tak pernah bergerak kecuali untuk membisikkan nama Nirahai dan Lulu! Dan yang amat mengharukan adalah rambutnya. Rambut yang gemuk dan panjang, yang biasanya berwarna hitam mengkilap itu kini telah menjadi putih semua! Putih seperti benang-benang perak, seperti rambut seorang kakek berusia seratus tahun!

Selama tiga hari tiga malam ini terjadi perubahan hebat pada dirinya. Badannya menjadi semakin kurus, mukanya kuyu pucat tidak ada cahayanya, seperti muka orang yang kehilangan semangat dan kegairahan hidup. Tiada sepercik pun sinar kegembiraan terlukis di mukanya. Dan memang selama tiga hari tiga malam itu Han Han hanya memikirkan nasibnya. Hidup semenjak kecil baginya hanya merupakan serangkaian kesengsaraan yang tidak ada putus-putusnya. Makin diingat makin menghimpit perasaan.

Teringat ia akan wejangan-wejangan Koai-lojin yang dia tahu juga banyak mengalami duka nestapa dalam hidupnya, mengalami kekecewaan-kecewaan besar. Sayup sampai bergema di telinganya wejangan kakek sakti itu sebelum meninggalkannya.

“Hidup itu menderita duka? Hidup itu menikmati suka? Tidak benar semua itu. Hidup adalah hidup, ada pun suka atau duka adalah urusan hati, tidak ada sangkut-pautnya dengan hidup. Peristiwa yang menimpa kita tak lepas dari perbuatan kita sendiri. Seni yang amat indah dan besarlah cara penerimaan kita terhadap segala peristiwa. Penerimaan, sekali lagi penerimaan! Kalau engkau sudah dapat menguasai nafsu dan hati, sudah pandai menggunakan pikiran sehingga mendapat kesadaran, engkau akan pandai pula menerima segala hal yang menimpa dirimu sehingga engkau bisa saja bersuka dalam duka, dan berduka dalam suka!”

Tiba-tiba Han Han tersenyum setelah ia teringat akan wejangan ini dan mulailah tubuhnya yang kaku membatu itu dapat bergerak lagi. Seolah-olah tubuhnya ‘hidup’ kembali sungguh pun ia merasa betapa hatinya hampa dan kosong. Dia tidak sadar bahwa rambutnya sudah putih semua dan bahwa ada sinar aneh terpancar dari matanya yang biasanya bersinar tajam luar biasa. Dengan langkah terpincang-pincang Han Han meninggalkan tempat itu menuju ke Kwan-teng.

Selagi Han Han berjalan terpincang-pincang menuruni sebuah lereng sambil melamun, tiba-tiba tampak belasan orang hwesio berloncatan keluar dan menghadapinya dengan sikap mengancam. Han Han mengangkat muka memandang dan ia mengenal Ceng San Hwesio dan belasan orang anak murid Siauw-lim-pai, semuanya pendeta-pendeta berkepala gundul yang tingkatnya sudah tinggi.

Han Han merasa heran. Kalau sampai ketua Siauw-lim-pai sendiri keluar dari Siauw-lim-si, tentulah ada urusan yang amat penting. Biasanya yang mewakili ketua Siauw-lim-pai ini adalah Ceng To Hwesio, sute dari Ceng San Hwesio. Akan tetapi ia teringat bahwa Ceng To Hwesio telah tewas dalam pertandingan melawan Kang-thouw-kwi Gak Liat.

Han Han menjura dengan hormat kepada ketua Siauw-lim-pai itu dan berkata, “Kiranya locianpwe dan para losuhu dari Siauw-lim-pai yang bertemu dengan saya di tempat sunyi ini, dan agaknya menghadang perjalanan saya. Tidak tahu ada kepentingan apakah?”

“Hemmm, orang muda tidak tahu malu! Dahulu engkau membikin kacau Siauw-lim-si, hal itu telah pinceng lupakan dan dianggap habis. Sekarang engkau yang tadinya telah membuat nama di Se-cuan, secara tidak tahu malu sekali bersekongkol dengan Nirahai perempuan iblis itu...!”

“Maaf, locianpwe. Nirahai adalah isteriku, bukan iblis. Aku melarang siapa saja menghina dan memaki isteriku! Apakah kesalahan Nirahai? Bukankah di puncak Tai-hang-san telah diadakan perdamaian?”

“Hemmm, perdamaian? Engkau kini menjadi suami Nirahai? Bagus, seperti yang telah pinceng duga, engkau seorang yang tak tahu malu! Kau bicara tentang perdamaian atas nama Nirahai? Perdamaian yang mengorbankan nyawa Sute Ceng To Hwesio dan engkau yang telah ditolong murid kami Lauw Sin Lian sampai dia mengorbankan nyawa, engkau... malah menjadi suami pembunuhnya? Suma Han, pinceng telah mendengar keturunan siapakah engkau ini, maka pinceng tidak merasa heran bahwa engkau hanyalah seorang rendah budi yang tak patut dinilai sepak-terjangnya!”

Han Han merasa heran sekali mengapa hatinya tidak marah seujung rambut pun mendengar penghinaan yang luar biasa itu. Entah bagaimana, hatinya seperti kosong melompong, tidak dapat diusik lagi oleh perasaan apa pun. Mestinya ia marah mendengar kata-kata yang menghina itu, akan tetapi ia malah tersenyum! Bukan dibuat-buat, melainkan senyum wajar karena ia merasa geli menyaksikan kebodohan seorang kakek yang sudah menganggap diri pendeta dan menjadi ketua partai besar.

“Locianpwe, harap jangan salah sangka. Mendiang Ceng To Hwesio tewas dalam sebuah pertandingan perorangan melawan Kang-thouw-kwi Gak Liat, sama sekali bukan kesalahan Nirahai. Ada pun kematian Sin Lian... hmmm, semoga Thian memberi tempat yang penuh damai bagi arwahnya, kematiannya pun di luar kesalahan Nirahai karena yang melakukannya adalah Ouwyang-kongcu dan para pembantunya.”

“Pinceng tidak sudi melayani percakapan seorang yang tak boleh dipercaya seperti engkau. Sekarang, lebih baik engkau menebus semua kesalahanmu dengan dua hal. Pertama mengembalikan anak Bhok Khim, dan ke dua, memberi tahu di mana adanya iblis betina Nirahai!”

Kembali Han Han tersenyum sambil menghela napas panjang. “Locianpwe, ketika Bhok Khim Toanio hendak menghembuskan napas terakhir, dia minta tolong kepada kedua orang suheng-nya, akan tetapi kedua orang suheng-nya memandang rendah sehingga akhirnya Bhok-toanio menyerahkan puteranya kepada saya. Sekarang locianpwe memintanya, untuk apa?”

“Untuk apa, kau tidak perlu tahu. Anak itu adalah anak Bhok Khim seorang murid kami, kamilah yang berhak atas dirinya.”

“Saya sendiri belum menemukan anak itu, locianpwe, maka tidak dapat saya serahkan, dan kalau locianpwe hendak mencarinya, silakan mencari sendiri. Ada pun tentang Nirahai, saya tidak dapat memberi tahu kepada siapa juga ke mana perginya karena saya harus melindungi isteri saya.”

“Omitohud! Bicara berbelit-belit, padahal maksudnya hanya menentang dan menolak! Suma Han, apakah terpaksa pinceng harus turun tangan memaksamu?” Ceng San Hwesio membentak.

Berkerut kening Han Han, bukan karena marah melainkan karena penasaran menyaksikan sikap seorang ketua partai besar yang sungguh tidak patut itu. Sepasang matanya yang tajam itu mengeluarkan sinar yang aneh, menyapu belasan orang hwesio itu, kemudian berhenti ke wajah Ceng San Hwesio dan ia berkata, “Bukan saya yang mencari perkara, silakan kalau locianpwe hendak menggunakan kekerasan!”

Para murid Siauw-lim-pai sudah menyaksikan sikap Han Han yang mereka anggap kurang ajar dan tidak menaruh hormat kepada ketua mereka. Terdengar bentakan mereka dan mereka sudah melolos senjata masing-masing, toya, golok dan pedang, gemerlapan tertimpa sinar matahari.

“Hemmm, cu-wi hendak menggunakan kekerasan? Jangan mengira bahwa saya takut menghadapi cu-wi. Lihat baik-baik, saya sudah siap, apakah cu-wi kira akan dapat mengalahkan saya?”

Para hwesio yang sudah menerjang maju dengan senjata di tangan itu tiba-tiba terbelalak dan berdiri di tempat masing-masing dengan muka pucat. Bahkan Ceng San Hwesio sendiri berkali-kali mengucapkan “omitohud!” dan membaca mantera ketika melihat pemuda berkaki buntung itu kini berdiri dengan tegak, tubuhnya berubah menjadi dua! Kakinya tetap sebuah, akan tetapi kepalanya dua dan lengannya menjadi empat buah, yang dua memegang tongkat yang dua lagi mengepai siap melakukan perlawanan!

“Omitohud! Dia menggunakan ilmu silat siluman! Jangan takut, serbu!” Ceng San Hwesio berseru penuh wibawa.

Biar pun hati mereka gentar sekali, sebelas orang anak murid Siauw-lim-pai yang sudah tinggi tingkatnya itu memaksa diri menyerbu ke arah Han Han yang masih berdiri tegak. Ketika senjata-senjata para anak buah Siauw-lim-pai itu datang menyambar seperti hujan, tiba-tiba tampak dua batang tongkat berkelebat seperti dua ekor naga.

“Trang-cring-cring-trakkk!”

Golok dan pedang beterbangan, toya-toya patah ketika bertemu dengan dua batang tongkat itu. Bahkan Ceng San Hwesio sendiri yang turut menyerbu dengan kepalan tangannya bertemu dengan telapak tangan yang mengandung hawa panas sekali, membuat ia terhuyung mundur!

“Ceng San Hwesio, jalan kekerasan hanya akan mendatangkan maut dan kerusakan kepada diri sendiri. Selamat tinggal dan ingatlah selalu bahwa saya sedikit pun tidak pernah dan tidak akan memusuhi Siauw-lim-pai yang saya hormati dan kagumi!” Pemuda ini menggunakan kekuatan matanya dan menggunakan ilmunya Soan-hong-lui-kun, sekali berkelebat lenyap dari depan mata para murid Siauw-lim-pai.

“Di... dia menghilang seperti siluman!” Para murid Siauw-lim-pai berbisik dengan suara gemetar.

Namun ketua Siauw-lim-pai yang sudah tinggi ilmunya itu maklum bahwa Han Han menggunakan ilmu ginkang yang luar biasa sekali di samping pengaruh pandang matanya yang dapat menyihir para muridnya termasuk dia sendiri. Maka dia menarik napas panjang dan mengajak murid-muridnya pergi dari situ untuk melanjutkan usaha mereka mencari Nirahai yang tentu saja sia-sia belaka karena pada waktu itu, Nirahai telah pergi jauh ke utara dengan hati yang sama hancurnya seperti yang diderita Han Han.

Setelah mengalami peristiwa pertemuannya dengan ketua Siauw-lim-pai yang amat tidak enak itu, Han Han tidak mau lagi termenung dan ia melakukan perjalanan cepat sambil mengerahkan kepandaian, menghindarkan pertemuan dan terutama sekali bentrokan dengan orang lain.

Demikianlah, pada suatu pagi, saat yang ia rindu-rindukan, yang dinanti-nantikan tiba ketika ia memasuki kota Kwan-teng dan dengan jantung berdebar ia langsung menuju ke Pek-eng-piauwkiok, yaitu gedung perusahaan ekspedisi milik Hoa-san Pek-eng Tan Bu Kong, murid Hoa-san-pai yang ramah itu.

“Han-koko...!” Lulu menjerit dan lari menyambut kedatangan Han Han ketika Han Han memasuki ruangan depan Pek-eng-piauwkiok.

“Lulu...!” Han Han memeluk adiknya dan menumpahkan seluruh kerinduan hatinya.

“Han-koko rambutmu... ahhh rambutmu kenapa...?” Lulu yang sudah menangis itu menggunakan kedua tangannya membelai rambut yang putih semua itu. “Han-koko... kenapa engkau? Kenapa rambutmu... jadi begini?”

Kembali Han Han merasai keanehan pada dirinya. Rasa haru menyusup ke dadanya, akan tetapi segera tenggelam seperti sebuah batu dilempar di permukaan telaga dan lenyap tak berbekas! Dia malah dapat tersenyum sambil mengelus rambut adiknya.

“Lulu, adikku. Rambut hitam menjadi putih apa anehnya? Sudah wajar dan harap jangan diributkan.”

“Koko... Han-koko... ahhh, Han-koko...!”

Lulu merintih-rintih sambil menangis. Air matanya membasahi baju di dada Han Han, dipandang penuh keharuan oleh Wan Sin Kiat yang pada saat itu merasa benar betapa besar cinta kasih calon isterinya kepada kakaknya. Akhirnya Sin Kiat yang bijaksana meninggalkan kakak dan adik itu masuk ke ruangan dalam dengan alasan hendak menyampaikan kedatangan Han Han kepada gurunya.

Setelah tinggal berdua saja, Lulu mempererat pelukannya dan tangisnya makin tersedu-sedu. “Koko... Koko jangan tinggalkan aku lagi, Koko. Marilah kita pergi berdua... hu-hu-huuukkk...”

“Eh, eh, bocah nakal! Apa pula yang kau katakan ini? Engkau akan menikah dengan Sin Kiat. Bukankah engkau cinta kepadanya?”

“Aku... aku suka menjadi isterinya akan tetapi aku tidak akan bahagia kalau berpisah darimu, koko. Baru berpisah tiga bulan saja, engkau sudah tertimpa mala petaka lagi. Pertama kali, perpisahan kita membuat engkau kehilangan sebelah kakimu...” Lulu mengguguk tangisnya. “Dan sekarang... rambutmu putih semua!”

“Hushhh jangan berkata demikian. Engkau akan hidup bahagia di samping suamimu, jangan pikirkan aku lagi.” Biar pun mulutnya berkata demikian, hati Han Han tidak karuan rasanya.

Memeluk adiknya ini teringatlah ia ketika ia memeluk Nirahai dan diam-diam ia kini harus membenarkan ucapan Nirahai yang menyatakan bahwa sesungguhnya dia mencinta Lulu. Memang benar. Baru sekarang dia tahu Lululah yang dicintanya! Dicintanya sejak dahulu! Bukan hanya dicinta sebagai adiknya, melainkan dicintanya sebagai seorang wanita satu-satunya di dunia ini yang akan membahagiakan hidupnya!

“Tidak mungkin, Han-koko. Tak mungkin aku tidak memikirkan engkau. Biar pun aku menjadi isterinya, aku akan sengsara kalau kau tidak berada di dekatku. Lebih baik aku selamanya tidak kawin, biarlah aku ikut bersamamu... hu-hu-huk, kita kembali ke Pulau Es...!”

Han Han tersentak kaget. Permintaan Lulu ini cocok sekali dengan perasaan hatinya. Dia harus melawan ini. Tidak boleh begini! Kalau dia menuruti perasaannya, dia tahu bahwa dia akan menemukan bahagia asmara yang sejati di samping Lulu. Akan tetapi hal itu hanya akan menambah dosanya yang sudah bertumpuk-tumpuk.

“Tidak! Lulu, jangan berpikiran gila seperti itu! Engkau adikku, dan adik berada di samping kakaknya di waktu kecil, setelah dewasa dan bertemu jodohnya, harus berpisah.”

“Aku tidak mau...! Tidak mau...!” Lulu terisak-isak dan membanting-banting kakinya.

Kembali Han Han teringat kepada Nirahai. Selama sebulan itu, ketika ia memeluk dan mencinta Nirahai, bukankah setengah hatinya menganggap bahwa Nirahai menjadi pengganti Lulu? Dan sekarang dia memeluk Lulu! Akan tetapi Lulu yang dipeluknya ini adalah adiknya! Lebih patut menjadi isteri Wan Sin Kiat.

“Lulu! Apakah engkau ingin melihat kakakmu makin sengsara? Aku bisa mati karena duka jika engkau bersikap seperti ini!”

Lulu merintih dan melepaskan pelukannya, melangkah mundur sambil memandang kakaknya dengan mata terbelalak dan muka pucat. “Han-koko, benar-benarkah engkau menghendaki aku kawin dengan Sin Kiat?”

Sejenak mereka berpandangan. Lulu memandang dengan matanya yang lebar penuh selidik. Han Han berusaha mengelak dan menyembunyikan perasaan hatinya. Jelas sekali tampak olehnya betapa sinar mata adiknya itu menyorotkan cinta kasih yang mendalam, penuh pemasrahan, cinta kasih dengan pemasrahan total tanpa halangan perbedaan paham seperti yang dimiliki Nirahai, dan agaknya karena kenyataan bahwa mereka kakak beradik yang membuat Lulu tidak berani menyatakan perasaan melalui mulutnya.

Han Han mengerahkan seluruh kekuatan kemauannya untuk menekan perasaannya, kemudian ia tersenyum lebar dan memandang adiknya seperti memandang seorang anak nakal sambil berkata, “Lulu... Lulu adikku sayang, mengapa kau masih bertanya lagi? Engkau tahu, satu-satunya kebahagiaan bagiku adalah melihat engkau bahagia adikku. Dan aku yakin engkau akan bahagia menjadi isteri Sin Kiat. Bukankah selama ini dia bersikap amat baik padamu?”

Lulu menarik napas panjang, menggunakan punggung tangan untuk mengeringkan air mata dari pelupuk mata dan pipi. “Dia baik, akan tetapi engkau jauh lebih baik”

“Hushhhhh! Tentu lain! Dia adalah calon suamimu, dan aku hanya kakakmu.” Han Han menggandeng tangan adiknya sambil tertawa. “Jangan seperti anak kecil, Lulu. Mari kita masuk menghadap Locianpwe Im-yang Seng-cu, guru Sin Kiat.”

Lulu terpaksa menghentikan tangisnya dan tidak sempat lagi berbantahan dengan kakaknya karena tak lama kemudian Sin Kiat muncul lagi bersama gurunya, Im-yang Seng-cu, Tan Bu Kong dan beberapa orang anak murid Hoa-san-pai yang telah berada di situ. Ketika melihat Han Han yang rambutnya sudah putih semua, Im-yang Seng-cu membalas penghormatannya sambil berkata, “Siancai... telah banyak sudah aku mendengar akan sepak terjangmu, orang muda, membuatku kagum. Kiranya engkau cucu sahabatku Suma Hoat telah menjadi seorang pendekar yang amat sakti!”

Han Han yang sudah menjura penuh hormat, segera menjawab, “Harap locianpwe tidak memuji secara berlebihan. Saya hanyalah seorang kakak yang kini datang untuk merayakan pernikahan adik saya Lulu dengan murid locianpwe. Mohon locianpwe maafkan, karena keadaan kami kakak beradik yang tiada orang tua dan tidak memiliki sesuatu, maka segala pelaksanaan upacara dan perayaan kami serahkan kepada pihak locianpwe.”

“Suma-taihiap mengapa bersikap sungkan? Kita berada di antara keluarga sendiri. Tentu saja kami sudah mempersiapkan segalanya, bahkan kami telah menyebar undangan,” kata Tan-piauwsu yang menjadi tuan rumah.

Ramailah mereka merundingkan rencana pernikahan yang akan diadakan beberapa hari lagi. Kini Lulu tidak pernah rewel lagi sehingga hati Han Han terasa lega sungguh pun tiap kali bertemu pandang dengan adiknya itu, Han Han merasa jantungnya tertikam melihat sinar duka menyuramkan sepasang mata adiknya yang biasanya berseri dan wajahnya yang biasanya cerah itu.

Akhirnya, tibalah harinya yang telah dinanti-nantikan dan dilangsungkanlah pernikahan antara Wan Sin Kiat, jago muda Hoa-san-pai yang berjuluk Hoa-san Gi-hiap dengan Lulu. Upacara pernikahan dilangsungkan secara sederhana, namun cukup meriah dan dihadiri oleh tamu-tamu terhormat dari kota Kwan-teng dan sekitarnya. Han Han dan Im-yang Seng-cu sebagai wakil kedua mempelai memandang penuh keharuan ketika sepasang mempelai bersembahyang di depan meja sembahyang, mengangkat dupa wangi, berdampingan dalam pakaian mempelai yang membuat Lulu tampak makin cantik jelita.

Dalam keharuannya, Han Han merasa lega hatinya. Belum pernah ia merasa begitu lega hatinya seperti ketika menyaksikan adiknya bersembahyang di samping Sin Kiat. Adiknya merupakan satu-satunya persoalan yang memberatkan hatinya, karena kalau dia pergi menjauhi segala kesengsaraan dunia, bagaimana dengan adiknya yang ditinggalkannya. Kini adiknya sudah ada yang memiliki, ada yang mengurus, membela dan melindungi. Dan dia percaya bahwa Sin Kiat akan menjadi seorang suami yang baik, dia percaya bahwa tentu Lulu akan hidup sebagai seorang isteri yang penuh kebahagiaan.

Malam tadi, untuk yang terakhir kalinya Lulu menemuinya dan menangis, dengan terisak-isak minta supaya pernikahan dibatalkan! “Koko... lebih senang kalau aku pergi saja bersamamu!” Demikian adiknya itu rewel lagi.

“Eh, eh, bagaimana engkau ini, Lulu? Besok dirayakan perkawinan, tamu-tamu akan datang, mana bisa dibatalkan? Eh, terus terang saja. Katakanlah, apa engkau tidak cinta kepada Sin Kiat?”

Lulu mengangguk. “Aku suka padanya, Koko. Aku mau menjadi isterinya, akan tetapi... berat sekali kalau aku harus berpisah darimu. Kau berjanjilah bahwa setelah aku menikah, engkau akan tinggal bersama kami untuk selamanya!”

“Hush, bocah nakal! Apa kau akan mengikat kakiku seperti seekor burung? Jangan begitu, adikku. Engkau mencinta Sin Kiat, dia pun mencintaimu. Kalau kalian sudah menjadi suami isteri, berarti kalian merupakan dua tubuh satu hati, sehidup semati dan mengenai aku... ah, aku hanya kakakmu, dan aku... aku akan mencari jodohku sendiri!” Terpaksa Han Han menggunakan alasan ini dan benar saja, wajah adiknya menjadi berseri dan biar pun pipinya masih basah, kini Lulu dapat tersenyum.

“Benarkah, Koko? Kenapa tidak dengan Suci Nirahai?”

Kalau saja kini rongga dada Han Han tidak sudah kosong melompong, tentu disebutnya nama Nirahai ini akan membuat perasaannya tertikam hebat. Akan tetapi tikaman itu mengenai tempat kosong dan ia hanya memejamkan mata sesaat, kemudian menjawab, “Entahlah, adikku. Soal jodoh berada di tangan Tuhan, seperti jodohmu dengan Sin Kiat ini pun sudah ditentukan oleh Thian Yang Maha Kasih.”

Bujukan-bujukannya ini membuat Lulu dapat bersikap wajar dan gembira ketika sepasang mempelai bersembahyang dan mengikuti upacara pertemuan. Setelah upacara selesai dan sepasang mempelai duduk bersanding, barulah pesta dimulai dan suasana menjadi gembira sekali. Sebagai kedua wali sepasang mempelai, Han Han duduk berhadapan dengan Im-yang Seng-cu dan minum arak wangi.

Akan tetapi, mendadak suasana gembira itu dipecahkan oleh suara yang nyaring menggema, datang dari luar pekarangan gedung Pek-eng-piauwkiok, “Suma Han, pinceng tidak ingin mengganggu pesta pernikahan. Keluarlah agar kita dapat bicara!”

Han Han dan semua orang yang berada di situ terkejut karena suara ini mendatangkan getaran hebat yang seolah-olah menimbulkan gempa bumi. Han Han mengenal suara Thian Tok Lama, pendeta Tibet, maka ia lalu bangkit berdiri dan berkata kepada para tamu, “Harap cu-wi melanjutkan makan minum, urusan ini adalah urusan saya sendiri yang akan saya bereskan di luar!” Setelah berkata demikian, Han Han lalu terpincang-pincang keluar dari ruangan pesta itu.

Akan tetapi, Im-yang Seng-cu yang mengerti bahwa orang yang mengeluarkan suara seperti itu tentulah memiliki kepandaian yang luar biasa segera bangkit dan diam-diam mengikuti Han Han. Lulu juga cepat bangkit berdiri dan sebelum dapat dicegah, sudah lari keluar. Tentu saja Sin Kiat tidak mau membiarkan isterinya pergi sendiri, dan cepat ia pun ikut keluar. Melihat betapa sepasang mempelai keluar, tentu saja para tamu menjadi tertarik dan ingin tahu, maka tanpa dapat dicegah lagi, berbondong-bondong mereka keluar untuk melihat apa yang terjadi.

Ternyata yang berada di depan gedung Pek-eng-piauwkiok itu adalah dua orang pendeta Tibet, bukan lain Thian Tok Lama dan Thai Li Lama yang berdiri dengan sikap tenang, akan tetapi mata mereka memandang marah.

“Kiranya ji-wi yang datang,” kata Han Han, sikapnya tenang. “Ada keperluan apakah mengganggu aku yang sedang merayakan pernikahan adikku?”

“Suma-taihiap, kami berdua masih mengingat akan hubungan lama, karena itu kami datang bukan dengan niat mencari keributan. Tak perlu kiranya kami jelaskan lagi dan tidak perlu pula urusan ini dibicarakan panjang lebar. Kami hanya ingin tahu di mana adanya Sang Puteri sekarang.”

Han Han memandang tajam dan melihat betapa sepasukan pengawal kerajaan yang jumlahnya dua puluh empat orang, kesemuanya pengawal pilihan dan yang berbaris rapi di belakang dua orang pendeta itu, telah siap menerjang. Akan tetapi ia didahului oleh Im-yang Seng-cu yang telah meloncat maju mendekati kedua orang pendeta Lama itu sambil menudingkan tongkatnya, “Pinto sebagai tuan rumah yang mengadakan pesta pernikahan murid pinto, mengharap agar ji-wi Losuhu tidak menggangu perayaan kami, atau, kalau ji-wi beriktikad baik, kami persilakan untuk masuk sebagai tamu-tamu yang kami hormati.”

Thian Tok Lama memandang tosu kurus itu dengan alis berkerut, kemudian ia berkata tegas dan angkuh, “Kami tidak ingin mengganggu dan tidak mau diganggu! Kami tidak mempunyai urusan dengan siapa pun juga, kecuali dengan Suma Han. Harap yang lain tidak mencampuri urusan kami!”

Bayangan Lulu berkelebat dan dia sudah berdiri di dekat kakaknya. Dengan tirai masih menutupi mukanya, dia menudingkan telunjuknya dan membentak. “Thian Tok Lama dan Thai Li Lama. Aku mengenal siapa kalian! Beranikah kalian menghinaku dengan mengacau hari pernikahanku dan menghina kakakku?”

Wan Sin Kiat juga sudah berkata keras, “Ji-wi Losuhu sudah menyeberang ke pihak musuh, hal itu tidak ada sangkut-pautnya dengan kami! Mengapa ji-wi sekarang datang mengganggu?”

Thian Tok Lama memandang sepasang mempelai itu lalu tertawa. “Omitohud...! Seorang puteri Mancu berjodoh dengan seorang tokoh pejuang! Betapa manis dan baiknya! Kami tidak mengganggu kalian, melainkan hendak berurusan dengan Suma Han!”

“Suma Han adalah wali mempelai wanita, menjadi tamu agung bagi pinto. Siapa pun juga tidak boleh mengganggunya. Pinto sebagai tuan rumah berhak melindunginya. Harap ji-wi suka pergi!” Sambil berkata demikian, Im-yang Seng-cu meloncat maju dan menggerakkan tongkatnya.

“Locianpwe, jangan...!” Han Han berseru mencegah.

Namun terlambat. Im-yang Seng-cu yang dapat menduga bahwa kedua orang pendeta itu tentu lihai dan berbahaya sekali, telah menyerang dengan tongkatnya. Thian Tok Lama tertawa dan menggerakkan tangan kanan menyambut tongkat.

“Krekkk...!”

Tongkat di tangan Im-yang Seng-cu patah menjadi dua dan tosu ini terhuyung ke belakang. Kagetlah Im-yang Seng-cu. Dia merupakan seorang sakti yang berilmu tinggi, akan tetapi ternyata dalam segebrakan saja tangkisan tangan pendeta aneh itu telah mematahkan tongkatnya dan ia merasa sebuah tenaga panas mendorongnya sehingga ia terhuyung. Mengertilah ia bahwa hwesio ini amat sakti!

“Pendeta sesat!”

Lulu dan Sin Kiat bergerak hendak menyerang, akan tetapi Han Han sudah melonjorkan lengannya mencegah, lalu berkata penuh wibawa, “Kalian sedang merayakan pernikahan, tidak boleh bergerak dan berkelahi. Urusan ini memang tiada sangkut-pautnya dengan lain orang, biarlah aku sendiri yang membereskan!”

Mendengar ucapan Han Han ini, Lulu dan Sin Kiat mundur dan kini Han Han sendiri menghadapi dua orang pendeta Lama itu. “Ji-wi Losuhu, baiklah pertanyaan ji-wi tadi kujawab. Tentang Puteri Nirahai, aku tidak tahu dia berada di mana sekarang. Jawabku ini sama sekali tidak membohong, karena memang aku tidak tahu ke mana dia pergi setelah berhasil kuselamatkan dari tahanan istana. Akan tetapi, perlu ji-wi ketahui pula bahwa andai kata aku tahu di mana dia berada sekali pun, takkan keberitahukan kepada siapa pun juga jika tidak dia kehendaki. Nah, setelah kujawab sejujurnya, harap ji-wi tidak mengganggu lagi dan suka pergi dari sini.”

Ramailah anak buah pasukan pengawal itu bicara sendiri mendengar jawaban Han Han. Thian Tok Lama mengerutkan keningnya dan nampak marah. “Suma Han! Engkau telah melakukan dosa besar, menyerbu istana dan melarikan Sang Puteri, sekarang sengaja hendak menyembunyikannya. Namun, pinceng masih ingat akan hubungan antara kita dan pinceng persilakan engkau ikut bersama kami untuk menghadapi kaisar dan memberi jawaban sendiri.”

“Kalau aku tidak mau?”

“Berarti engkau tidak mengindahkan iktikad baik kami dan terpaksa kami menggunakan kekerasan menangkapmu!”

Han Han tertawa. “Thian Tok Lama dan Thai Li Lama, apakah yang kalian andalkan untuk dapat menangkap aku? Kalau hendak menggunakan kekerasan silakan!”

Kedua orang pendeta Tibet itu sudah mengenal kelihaian Han Han, maka dengan cerdik mereka tadi hendak menggunakan bujukan halus. Kini melihat pemuda itu tak dapat dibujuk, Thian Tok Lama lalu mengangkat tangan dan memberi perintah kepada para pasukan pengawal pilihan, “Tangkap si pemberontak!”

Terdengar suara nyaring dan tampak sinar berkilauan ketika dua losin pasukan pengawal itu mencabut senjata mereka. Thian Tok Lama dan Thai Li Lama pun sudah bersiap-siap untuk menyerbu kalau pasukan itu sudah mengeroyok. Akan tetapi Han Han yang tidak ingin membunuh orang, sudah mendahului mereka. Tiba-tiba ia mengeluarkan suara keras sekali, “Jangan bergerak!”

Dan tubuhnya sendiri mencelat ke atas seperti seekor burung garuda menyambar. Aneh sekali, dua puluh empat orang yang sudah mencabut senjata itu kini berdiri diam seperti arca dan sekali tubuh Han Han menyambar turun, dengan mudahnya Han Han merampas dan melucuti senjata-senjata mereka, mematah-matahkan semua senjata itu dengan kedua tangan seperti orang mematah-matahkan sekumpulan lidi saja! Kemudian ia membuang senjata-senjata yang sudah patah itu ke atas tanah.

Melihat ini, semua orang terheran-heran. Thian Tok Lama dan Thai Li Lama terkejut sekali. Terutama Thai Li Lama yang merupakan seorang tokoh dan ahli sihir. Dia tadi sampai ikut diam tak mampu bergerak mendengar bentakan Han Han, maka tahulah pendeta ini bahwa sekarang Si Pemuda berkaki buntung telah memiliki kekuatan yang mukjizat, jauh lebih kuat dari pada dahulu ketika bertanding kekuatan sihir dengannya.

Namun, sebagai dua orang yang memiliki sinkang tenaga batin kuat, dua orang pendeta Tibet ini sudah dapat menguasai dirinya kembali dan sambil berseru marah mereka menerjang maju dari kiri kanan memukul dengan pengerahan sinkang ke arah Han Han.

Menghadapi pukulan dari kiri kanan yang amat kuat ini, Han Han malah berdiri tegak dan memejamkan matanya! Tentu saja Im-yang Seng-cu, Lulu dan Sin Kiat menjadi terkejut dan amat khawatir menyaksikan dua pukulan yang mendatangkan angin mendesir kuat sekali itu. Tiba-tiba Han Han mengembangkan kedua lengannya dan berseru.

“Thian Tok Lama dan Thai Li Lama, pergilah kalian!”

Kedua telapak tangan Han Han menyambut pukulan dua orang lawannya. Terjadilah pertemuan tenaga yang amat hebat! Tubuh Han Han diam seperti arca, akan tetapi tubuh dua orang pendeta Lama itu tergoncang hebat. Mereka masih hendak bertahan, namun mereka terguncang makin hebat dan kalau dilanjutkan pertahanan mereka, tentu isi dada mereka akan hancur. Mengerti akan bahaya maut, keduanya lalu melompat mundur dan terhuyung-huyung, lalu roboh terpelanting dan cepat mereka duduk bersila mengatur pernapasan!

Pasukan itu menjadi gempar. Mereka tadi tak dapat menggerakkan kaki tangan sama sekali, dan barulah sekarang mereka dapat bergerak, namun apa yang dapat mereka lakukan? Senjata telah dirampas begitu mudah, dan dua orang pendeta itu telah terluka hebat.

“Pergilah, dan bawalah mereka pergi dari sini,” Han Han berkata halus kepada pasukan itu.

Akan tetapi dua orang pendeta itu sudah bangkit kembali, sejenak memandang kepada Han Han dengan sinar mata penuh kemarahan, kekaguman dan juga penasaran. Mereka benar-benar merasa heran sekali mengapa baru berpisah beberapa bulan saja, agaknya kepandaian Si Pemuda buntung ini sudah meningkat secara luar biasa!

“Suma Han, semenjak saat ini, engkau adalah musuh negara dan kami akan selalu berusaha untuk membunuhmu! Engkau seorang pelarian, seperti halnya Puteri Nirahai!” kata Thian Tok Lama.

Han Han menghela napas panjang. “Sudah untung kami! Akan tetapi, peganglah aturan orang-orang gagah ji-wi losuhu. Kalian boleh saja mencari aku dan Sang Puteri, akan tetapi jangan sekali-kali mengganggu orang lain yang tiada sangkut-pautnya dengan kami. Sang Puteri telah pergi, dan aku pun akan pergi dari sini. Kalian boleh mencari kami kalau bisa, suatu usaha yang sia-sia belaka karena sesungguhnya aku tidak peduli akan urusan dunia lagi. Nah, pergilah!”

“Engkau... siluman!” Thai Li Lama berseru penuh keheranan. “Engkau patut dijuluki Pendekar Siluman!”

Para pasukan yang masih terheran-heran menyaksikan cara pemuda itu merampas senjata mereka, otomatis berseru, “Pendekar Siluman...!”

“Kalian jangan memaki kakakku! Hayo pergi, kalau tidak, sekali aku turun tangan, aku tak akan sesabar kakakku dan takkan puas sebelum kepala kalian menggelinding di sini!” Lulu meloncat maju dan memaki-maki marah mendengar kakaknya dijuluki Pendekar Siluman.

Dua orang hwesio Lama itu menghela napas lalu membalikkan tubuh, melangkah pergi diikuti para pasukan yang masih merasa ngeri dan takut. Semua tamu yang menyaksikan peristiwa ini juga memandang Han Han seperti orang memandang makhluk aneh bukan manusia, kagum heran dan juga seram. Hanya Im-yang Seng-cu yang memandang penuh kekaguman, menjura kepada Han Han sambil berkata lirih.

“Sungguh bahagia sekali bagi mata tuaku ini menyaksikan cucu sahabat baik Suma Hoat menjadi seorang yang kesaktiannya jauh melampaui nenek moyangnya. Siancai... siancai!”

Lulu sudah menggandeng tangan Han Han diajak memasuki gedung dan dara yang sejenak lupa bahwa dia sedang menjadi pengantin ini menegur kakaknya, “Han-koko, mengapa kau tidak menceritakan aku tentang Suci Nirahai? Engkau melarikan dia dari istana? Aihhh, engkau nakal sekali. Kau harus menceritakan hal itu kepadaku, Koko...!”

Setelah pesta pernikahan itu selesai dan para tamu sudah pulang, barulah pada malam hari itu Han Han terpaksa bercerita kepada Lulu dan Sin Kiat. Dengan terus terang Han Han menceritakan bahwa atas keputusan mendiang Nenek Maya dan Nenek Khu Siauw Bwee, dia dijodohkan dengan Nirahai.

Mendengar penuturan Han Han sampai di sini, Lulu menangis. Menangis karena gurunya, Nenek Maya, telah meninggal dunia, dan menangis saking terharu men-dengar bahwa kakaknya dijodohkan dengan Nirahai.

Han Han melanjutkan ceritanya yang menyedihkan, betapa kaisar bukan hanya melarang perjodohan itu, bahkan menjebloskan Nirahai ke dalam penjara. Betapa dia menyerbu istana untuk membebaskan Puteri Nirahai.

“Di mana suci sekarang, Koko? Kenapa tidak ikut ke sini?” Lulu bertanya tak sabar.

“Benar sekali pertanyaan isteriku, Han Han. Kenapa dia tidak ikut ke sini dan... alangkah baiknya kalau tadinya dirayakan pernikahan kalian di sini,” kata pula Sin Kiat yang menyebut Lulu ‘isteriku’ dengan suara mesra, akan tetapi tidak dapat mengubah panggilannya terhadap Han Han yang dianggapnya sahabat sejak kecil.

“Ya, kenapa tidak begitu, Koko? Mana suci?” Lulu bertanya lagi penuh desakan.

Han Han merasa jantungnya seperti ditusuk, akan tetapi hanya untuk beberapa detik saja karena perasaan ini telah tenggelam dan lenyap. Betapa pun juga, wajahnya membayangkan kesayuan dan kekosongan, sayu dan layu, sinar matanya seperti lampu kehabisan minyak. Ia menghela napas dan menggeleng kepalanya. “Dia telah pergi, Lulu. Dan harap jangan mendesakku... cukup kalau kuberitahukan bahwa... bahwa... di antara kami tidak sepaham.”

“Koko...!” Lulu memegang pundak kakaknya dan menangis. Dia telah mengenal betul wajah kakaknya dan maklum bahwa pada saat itu, kakaknya sedang menderita tekanan batin yang amat hebat.

“Husshh, jangan begini, Lulu.” Dari atas pundak Lulu, Han Han memberi isyarat kepada Sin Kiat untuk menghibur Lulu.

Dia bangkit berdiri dan berkata, “Lulu, tentang diriku tak perlu kau hiraukan lagi. Bagiku, yang terpenting adalah keadaanmu. Sudah menjadi kewajibanku untuk berusaha sekuat tenaga demi kebahagiaanmu. Kini engkau telah menemukan jodoh, telah mendapatkan seorang suami yang kupercaya penuh akan mencintamu selamanya, akan menjagamu, membimbingmu dan melindungimu dengan seluruh jiwa raganya. Maka legalah hatiku, adikku. Cukuplah hidup ini bagiku kalau melihat engkau bahagia. Kini aku dapat pergi dengan hati lapang, tidak lagi mengkhawatirkan hidupmu. Yang pandai-pandailah engkau menjaga dan mengatur rumah tanggamu, Lulu. Yang hati-hatilah engkau bersama suamimu mendayung biduk rumah tanggamu menuju ke pantai bahagia. Aku... aku hanya dapat mendoakan setiap saat untuk kebahagiaanmu.”

“Koko...! Engkau... engkau akan ke mana...?” Lulu bertanya dengan muka pucat melihat kakaknya bangkit berdiri dan agaknya siap hendak pergi itu.

Han Han tersenyum, senyum yang menyayat jantung Lulu. “Ke mana? Tentu saja pergi dari sini, adikku. Aku sudah bebas sekarang, bebas lepas seperti burung di udara, bebas dari pada tugas, bebas dari segala-galanya. Aku akan pergi, sekarang juga...”

“Koko, jangan pergi sekarang...!” Lulu berteriak, mukanya makin pucat dan air matanya mengucur deras. Melihat keadaan isterinya ini, Sin Kiat cepat merangkul pundak isterinya dan ikut berkata.

“Han Han, mengapa tergesa-gesa? Tinggallah di sini barang sepekan...”

Han Han menengok keluar jendela. Bulan sedang purnama dan di luar rumah terang seperti siang. “Tidak, aku harus pergi sekarang! Malam ini merupakan malam bahagia bagi kalian, dan merupakan malam keramat bagiku. Aku harus pergi, selagi bulan sedang purnama, selagi hatiku sedang terang...”

“Han-koko...!” Lulu menjerit menahan isak. “Engkau hendak pergi ke manakah? Malam-malam begini...? Ke mana...?”

Kembali Han Han memaksa tersenyum kepada adiknya. “Ke mana? Ke manakah semua manusia akan pergi? Hemmm, aku tidak tahu, adikku. Dunia ini terlalu luas, dan di mana pun sama saja. Terserah kepada hati dan kakiku ke mana aku pergi. Jangan engkau memikirkan aku lagi, adikku. Nah, selamat tinggal...”

“Koko...!”

“Han Han, jangan pergi seperti ini! Besok saja...!” Sin Kiat mencegah.

“Tidak, sekarang inilah saatnya,” Han Han berpincangan keluar.

“Koko, aku antar engkau...” Lulu mengejar. Sin Kiat juga mengejar. “Kami antar sampai keluar kota!” kata Sin Kiat yang terharu menyaksikan penderitaan isterinya. Han Han tak dapat membantah lagi.

Di luar ruangan gedung, mereka bertemu dengan Tan-piauwsu, atau Tan Bu Kong pemilik Pek-eng-piauwkiok. Ketika mendengar bahwa malam hari itu juga Han Han akan pergi, Tan Bu Kong menyatakan keheranannya, akan tetapi dia tidak berani mencegah bahkan ikut pula mengantar.

Setibanya di luar kota, Han Han berkata, “Sudah cukup, adikku Lulu. Cukuplah Sin Kiat dan Tan-piauwsu. Kembalilah kalian ke kota, aku akan melanjutkan perjalananku.”

“Koko...! Ahhh, Koko... jangan... jangan tinggalkan aku...!” Lulu tidak mempedulikan apa-apa lagi, menubruk Han Han, merangkul dan menyembunyikan mukanya di dada kakaknya sambil menangis sesunggukan.

“Lulu, engkau bukan anak kecil lagi, mengapa bersikap begini? Tidak baik begini, Lulu...”

“Bawalah aku, Koko... bawalah aku..., aku tidak bisa berpisah lagi darimu...!”

“Lulu!” Han Han membentak sehingga Lulu tersentak kaget. Dengan gerakan halus Han Han mendorong Lulu mundur, kemudian berkata, “Ingat, engkau adalah isteri Wan Sin Kiat yang mencintamu dan kau cinta. Adikku sayang, selamat tinggal, semoga Tuhan melindungimu selamanya!” Setelah berkata demikian, Han Han membalikkan tubuh dan berjalan terpincang-pincang meninggalkan mereka.

Lulu seperti terkena pesona berdiri seperti patung, mukanya pucat, air matanya bercucuran, matanya tak pernah berkedip menatap tubuh yang pergi itu. Tubuh seorang laki-laki yang berkaki satu, terpincang-pincang dibantu tongkat bututnya, rambutnya terurai lepas berwarna putih. Sesosok tubuh yang menimbulkan haru dan iba kepada yang melihatnya, terutama sekali Lulu.

“Koko...! Han-koko... kakakku...!”

Sin Kiat sudah memegang lengannya. “Kuatkan hatimu, isteriku. Biarkan kakakmu pergi, di sini ada aku suamimu yang mencintamu lahir batin...” Sin Kiat menahan isak yang bercampur dalam suaranya.

Lulu membalikkan tubuh memandang suaminya, kemudian menubruk suaminya dan menangis tersedu-sedu. “Han-koko... ah, Han-koko... betapa malang dan sengsara nasib kakakku... dia... selalu berusaha menolong orang sengsara... akan tetapi dia sendiri selalu dirundung malang... ohhh, kakakku...”

Sin Kiat memeluk isterinya, kemudian mereka berdua memandang tubuh yang makin menjauh itu. Tubuh yang berjalan terpincang-pincang di bawah sinar bulan purnama, dan tidak pernah sekali juga Han Han menoleh. Bukan karena tidak ingin, oh, dia ingin sekali menoleh, akan tetapi dia tidak mau tampak oleh mereka betapa kedua pipinya basah oleh tetesan air matanya.....


T A M A T



>>>>   SEPASANG PEDANG IBLIS   <<<<
(Bagian Ke-7 Serial BU KEK SIANSU)



Pilih JilidHomeT A M A T


DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner