PUSAKA PULAU ES : JILID-04


Setelah perutnya kenyang, barulah Keng Han merasa tertarik oleh keadaan goa itu. Sebuah goa yang lebar dan dalam, tidak kurang dari lima meter lebarnya dan dalamnya ada sepuluh meter.

Dia mencoba memasuki goa itu lebih dalam. Ternyata dia menemukan sebuah lorong yang tadinya tertutup batu besar. Setelah dengan mudah dia menggeser batu yang menutupi lorong itu, terbukalah sebuah lorong dalam tanah. Karena lorong itu gelap, dia lalu membuat obor memasuki lorong itu.

Panjang lorong itu kira-kira dua puluh meter dan ketika tiba di ujung lorong, ada sinar menerangi ujung itu. Ternyata ujung itu merupakan ruangan yang lebarnya ada empat meter persegi dan di atasnya ada lubang, maka ada sinar matahari yang masuk. Jadi ruangan itu seperti sebuah dasar sumur yang besar.

Dengan obornya Keng Han memeriksa dinding ruangan itu dan dia terbelalak! Keempat dinding itu penuh dengan huruf-huruf terukir, indah dan masih dapat dibaca jelas. Dan ternyata huruf-huruf itu adalah pelajaran ilmu silat!

Keng Han merasa beruntung sekali bahwa dia pernah mendapat pelajaran dari Gosang Lama mengenai sastra sehingga pengetahuannya cukup mendalam dan dia mampu membaca semua tulisan itu dengan jelas. Mengingat betapa pulau ini pernah tenggelam selama puluhan tahun, dan kalau tulisan itu hanya digurat di tanah liat saja tentu kini telah terhapus habis.

Akan tetapi hebatnya, guratan itu dilakukan orang pada batu yang keras! Ini berarti bahwa penulisnya tentu orang yang memiliki ilmu kepandaian hebat, dan bukan hanya seorang saja. Melihat bentuk tulisannya, Keng Han dapat membedakan dan mengetahui bahwa tulisan itu dibuat oleh tiga orang.

Dugaan Keng Han memang benar. Pulau yang sekarang menjadi pulau yang subur itu dahulunya memang Pulau Es. Dahulu, di situ terdapat Istana Pulau Es yang kemudian telah terbakar rata dengan bumi, dan ketika pulau itu tenggelam, maka segala sisa dari istana itu hilang sama sekali. Akan tetapi di dalam istana itu terdapat sebuah lorong bawah tanah dan lorong itu adalah yang ditemukan Keng Han sekarang ini. Istana itu sendiri kini hanya tinggal sebagai goa itulah.

Dahulu, penghuni Pulau Es ada tiga orang, yaitu seorang pendekar sakti bersama dua orang isterinya. Pendekar itu adalah Suma Han yang terkenal dengan julukan Pendekar Super Sakti atau juga ada yang menyebut Pendekar Siluman karena dia pandai ilmu sihir. Ada pun dua orang isterinya adalah Puteri Nirahai dan yang ke dua adalah Puteri Lulu. Kedua orang isterinya itu adalah keturunan Mancu.

Tulisan itu dibuat oleh ketiga orang ini walau pun ilmu-ilmu mereka sudah diwariskan kepada anak cucu. Maksud mereka adalah bahwa mereka hendak bersikap adil, yaitu tidak hanya menurunkan kepada anak cucu sendiri, akan tetapi kalau ada orang luar yang menemukan tulisan itu dan mempelajarinya, maka hal itu adalah sudah menjadi kehendak Tuhan dan itulah yang dinamakan jodoh. Mereka masing-masing menuliskan inti sari ilmu mereka yang sebetulnya tidak akan mudah dipelajari orang.

Ketika Keng Han secara kebetulan menemukan tempat itu, berarti dialah yang berjodoh mendapatkan Pusaka Pulau Es itu. Memang kebetulan sekali.

Andai kata dia tidak mendapatkan dua tenaga dahsyat yang berlawanan akibat pukulan Swat-hai Lo-kwi dan gigitan ular-ular darah api, belum tentu dia mampu mempelajari dua macam ilmu menghimpun tenaga dalam Swat-im Sinkang (Tenaga Sakti Inti Salju) dan Hui-yang Sinkang (Tenaga Sakti Inti Api) yang dituliskan oleh Pendekar Super Sakti di dinding pertama dan kedua!

Pada dinding ke tiga terdapat pelajaran Ilmu Silat Toat-beng Bian-kun (Tangan Lembut Pencabut Nyawa) yang hanya dapat dilatih oleh orang yang telah memillki sinkang kuat sekali. Dan pada dinding ke empat terdapat goresan tulisan pelajaran ilmu silat Hong-In Bun-hoat (Silat Sastra Angin dan Awan), yaitu semacam ilmu silat yang sangat hebat, berdasarkan tulisan huruf-huruf yang dapat dilakukan dengan tangan kosong mau pun dengan pedang.

Setelah membaca semua tulisan itu, Keng Han yang cerdik berpendapat bahwa dia menemukan tiga orang guru yang dia tidak tahu siapa, maka dia lalu menjatuhkan diri berlutut di tengah ruangan itu dan berkata dengan lantang, “Sam-wi Suhu (Ketiga Guru), teecu menghaturkan terima kasih atas peninggalan ilmu-ilmu ini dan teecu berjanji akan mempelajarinya sampai sempurna!”

Dia tahu bahwa penghimpunan tenaga dalam merupakan inti ilmu silat, maka sebelum mempelajari yang lain, dia lebih dulu mempelajari ilmu menghimpun tenaga dalam Swat-im Sinkang dan Hui-yang Sinkang. Sebetulnya, pelajaran ini amatlah sukar bagi orang lain dan biar pun Keng Han pernah digembleng oleh Gosang Lama, agaknya dia tidak akan mampu menguasai kedua ilmu ini kalau saja dia tidak memiliki dua tenaga yang sudah menjadi inti dari kedua ilmu itu. Dengan mempelajari kedua ilmu itu, berarti dia akan mampu menguasai kedua tenaga mujijat yang terkandung di dalam tubuhnya secara kebetulan sekali itu.

Keng Han sudah bersumpah dalam hatinya akan mempelajari semua ilmu itu dengan sungguh-sungguh sampai sempurna. Ia takkan meninggalkan pulau itu sebelum mampu menguasai semua ilmu itu dengan baik. Pula, bagaimana dia dapat meninggalkan pulau itu kalau tidak ada perahu di situ?

Demikianlah, mulai hari itu Keng Han menjadi penghuni tunggal pulau kosong itu, setiap hari mempelajari ilmu dengan amat tekunnya. Setiap hari dia makan jamur laut, ikan dan daging ular serta daun-daun muda dan buah yang tumbuh di pulau itu dan yang dapat dimakannya.

Tanpa disadari oleh Keng Han, dari makanan itu, terutama jamur laut dan daging ular merah, sudah mendatangkan kekuatan yang semakin hebat dalam tubuhnya. Sekarang tubuhnya telah terbiasa menerima racun, sehingga dia tidak perlu takut lagi akan segala macam racun, betapa pun hebatnya racun itu. Tubuhnya telah menjadi kebal racun!

Untuk berganti pakaian, dia juga tidak kekurangan karena para perampok itu membawa bahan kain yang serba mahal, hasil perampokan mereka. Dia membuat pakaian dari kain, sejadi-jadinya asal dapat membungkus tubuhnya dan tidak menjadi telanjang.

Bertahun-tahun Keng Han tekun belajar. Ternyata ilmu-ilmu itu amat sukarnya sehingga semacam ilmu saja harus dipelajari dan dilatihnya sedikitnya satu tahun…..

********************

Kita tinggalkan dulu Keng Han yang terkurung di dalam pulau kosong mempelajari ilmu-ilmu Pusaka Pulau Es yang kebetulan ditemukannya dan kita menengok bagian lain dari kisah ini.

Seperti telah diceritakan di bagian depan, Pangeran Mahkota Tao Kuang selamat dari pengkhianatan saudara-saudaranya sendiri, yaitu kedua kakaknya, Tao Seng dan Tao San. Ia telah diselamatkan oleh seorang datuk yang berjuluk Sin-tung Koai-jin bernama Liang Cun bersama puterinya yang bernama Liang Siok Cu. Kemudian, Liang Siok Cu yang memang cantik manis itu menjadi selir Pangeran Tao Kuang yang tercinta.

Setahun kemudian selir ini melahirkan seorang anak perempuan yang diberi nama Tao Kwi Hong. Dan sebagai puteri pangeran mahkota, tentu saja sejak kecli Kwi Hong amat dimanja oleh ayah ibunya. Terutama sekali kakeknya, Sin-tung Koai-jin Liang Cun amat memanjakan cucunya.

Sejak masih kecil, Sin-tung Koai-jin menggembleng anak itu dengan dasar-dasar ilmu silat. Ayahnya juga tidak melupakan pendidikan ilmu surat kepada puterinya sehingga Kwi Hong menjadi seorang anak perempuan yang cerdik dan juga gagah.

Semenjak lancar membaca, Kwi Hong yang baru berusia lima belas tahun itu gemar sekali membaca dan perpustakaan istana menjadi langganannya. Perpustakaan istana itu lengkap sekali, bahkan banyak terdapat kitab-kitab kuno yang sudah sulit dimengerti oleh pembaca di jaman itu. Hanya sedikit saja ahli-ahli sastra kuno yang akan mampu membacanya. Dan anehnya, gadis remaja ini bahkan paling suka memeriksa kitab-kitab kuno ini yang kebanyakan berupa kitab-kitab agama dan filsafat, juga catatan-catatan sejarah oleh para sastrawan jaman dahulu.

Suatu hari, Puteri Tao Kwi Hong menemukan sebuah kitab kuno yang sudah berdebu. Dia tertarik sekali karena pada sampulnya terdapat gambar segi lima dengan gambar Im-yang di dalamnya dan ada sepasang pedang bersilang di atasnya. Gambar pedang itulah yang menarik perhatiannya dan ketika ia membukanya, ternyata itu merupakan sebuah kitab kuno ilmu pedang! Akan tetapi bahasanya kuno dan banyak sekali huruf yang tidak dikenalnya.

Ia lalu mengatakan kepada penjaga perpustakaan bahwa ia hendak meminjam kitab itu untuk dibacanya. Para penjaga perpustakaan tak berani menolak permintaan puteri dari Pangeran Mahkota, mereka hanya berpesan agar setelah selesai dibaca, kitab itu harus dikembalikan, kemudian mencatatnya dalam buku catatannya.

Kwi Hong membawa pulang kitab itu dan memperlihatkannya kepada kakeknya.

“Ah, aku pernah mendengar tentang adanya ilmu pedang Ngo-heng Sin-kiam yang telah hilang dari peredaran dan tidak ada lagi yang mampu memainkannya. Agaknya inilah kitabnya! Ahh, engkau beruntung sekali dapat menemukan kitab ini, Kwi Hong!”

“Akan tetapi isinya amat sukar dimengerti, Kong-kong. Banyak huruf yang tidak kukenal. Bagaimana dapat mempelajarinya kalau banyak huruf tidak dapat diketahui artinya?”

Sin-tung Koai-jin sendiri bukan seorang ahli sastra yang pandai. Ketika dia membuka-buka kitab itu, alisnya berkerut dan harus dia akui bahwa dia bahkan hampir tidak dapat membaca kitab itu.

“Kita tidak boleh memperlihatkan kitab ini kepada sembarang orang, Kwi Hong. Tetapi untuk dapat membaca ini, engkau harus menanyakan kepada ahli-ahli sastra kuno yang banyak terdapat di kota raja. Lalu bagaimana baiknya?”

Kwi Hong adalah seorang gadis yang sangat cerdik. Setelah berpikir sejenak, sepasang matanya bersinar-sinar dan wajahnya berseri.

“Aku mempunyai akal, Kong-kong. Aku akan menuliskan semua huruf yang tidak aku kenal dan hanya huruf-huruf itu saja yang akan kutanyakan artinya kepada ahli sastra kuno. Dengan demikian dia tidak akan dapat membaca kitab ini, hanya beberapa huruf kuno saja.”

“Bagus! Akalmu itu sungguh cemerlang. Aku akan mencari ahli sastra kuno dan engkau boleh mulai menuliskan huruf-huruf yang tidak kau kenal itu!”

Demikianlah, dengan akal itu, akhirnya Kwi Hong bisa membaca semua isi kitab itu dan dapat mempelajari ilmu pedang pasangan yang amat hebat. Dalam melatih gerakannya yang kadang terasa sukar, dia diberi petunjuk oleh kakeknya dan akhirnya, dalam waktu dua tahun, dara ini berhasil menguasai Ngo-heng Sin-kiam dengan baik.

Dengan menguasai ilmu pedang pasangan itu, kakeknya sendiri akan kewalahan untuk dapat menandinginya! Memang demikian hebatnya ilmu pedang itu! Untuk mengimbangi ilmu pedang itu, kakeknya membuatkan sepasang pedang yang indah dan baik.

Kwi Hong memang manja dan sifatnya agak bengal. Sering kali, setelah menguasai ilmu silat yang cukup mendalam, ia minggat dari istana untuk merantau di dalam bahkan luar kota raja, jauh dari jangkauan para pengawal. Ia merasa tidak leluasa dan tidak senang bila setiap kali keluar selalu harus diikuti pengawal yang menjaga keselamatannya!

Tentu saja sebagai seorang gadis yang cantik jelita, ketika keluar seorang diri, banyak pula yang tidak tahu bahwa dia puteri pangeran, berani kurang ajar dan menggodanya. Akan tetapi Kwi Hong merobohkan mereka satu demi satu sehingga namanya menjadi terkenal di kota raja dan daerahnya. Karena ia selalu memakai hiasan burung bangau dari emas di sanggul rambutnya, Ia mendapat julukan Si Nona Bangau Emas!

Setelah Kwi Hong berusia tujuh belas tahun dan ia telah menguasai Ngo-heng Sin-kiam, ia mulai minggat lagi dari istana dan kini ia merantau sampai jauh dari kota raja. Bukan saja namanya yang terkenal membuat pria yang hendak mengganggunya menjadi jeri, akan tetapi kini ke mana pun ia pergi ada sepasang pedang bersilang di punggungnya, membuat laki-laki yang hendak kurang ajar kepadanya menjadi lebih gentar lagi.

Agaknya cerita yang sering didengar dari kakeknya sebagai seorang pendekar, sudah menumbuhkan jiwa pendekar dalam diri gadis ini. Biar pun ia seorang gadis bangsawan yang seharusnya berada di dalam istana, dihormati dan dilayani, gerak-geriknya lembut dan halus, namun jiwa pendekar bergejolak dalam dirinya dan ia suka pergi tanpa pamit sampai berpekan-pekan. Selama berada di luaran ia selalu bertindak sebagai pendekar wanita, menentang para penjahat dan membela yang lemah!

Pada suatu hari, Kwi Hong memasuki kota Tung-san, yaitu sebuah kota kecil di sebelah selatan kota raja. Karena merasa perutnya lapar, gadis ini lalu memasuki sebuah rumah makan yang cukup besar.

Pada siang hari itu, rumah makan sudah dipenuhi para tamu dan hampir semua orang menengok memandang kepada gadis yang baru masuk itu, terutama para tamu pria. Siapa yang tidak akan menoleh dan terpesona memandang gadis itu.

Di usianya yang tujuh belas tahun, Kwi Hong memang merupakan seorang dara yang cantik jelita dan manis sekali. Rambutnya hitam sekali, panjang dan halus lebat. Rambut itu digelung tinggi ke atas dan dihias burung bangau emas, pada bagian belakang diikat dengan pita merah.

Di atas dahinya yang halus mulus itu terdapat anak-anak rambut yang melingkar-lingkar, terutama di depan kedua telinganya. Alisnya seperti dilukis, hitam melengkung, panjang dan kecil. Anggun sekali.

Sepasang matanya dihias bulu mata yang lentik. Mata itu sendiri bersinar tajam serta jeli dan jernih, dengan ujung kedua mata itu agak sipit menjungkat ke atas sehingga kalau dia mengerling nampak manis bukan main. Hidungnya kecil mancung, setimpal sekali dengan mulutnya.

Mulut itu memang mempesonakan. Mulut yang kecil dengan sepasang bibir yang selalu kemerahan, merah basah dan berkulit tipis tetapi penuh. Di kanan kiri mulut itu terdapat lesung pipit yang membuat mulut itu makin menarik. Sukar dikatakan mana yang lebih mempesonakan. Matanya ataukah mulutnya. Di kedua anggota muka itulah letak inti daya tarik Kwi Hong.

Dagunya runcing dan lehernya panjang, putih mulus. Sepasang pipinya selalu berwarna kemerahan seperti buah tomat walau pun tidak memakai pemerah pipi. Wajah cantik itu hanya dipolesi bedak tipis-tipis saja karena Kwi Hong bukan seorang gadis pesolek. Pakaiannya juga tidak terlalu mewah bagi seorang puteri istana, walau pun cukup indah. Celana sutera biru tua dan bajunya biru muda, dengan sabuk kuning emas, sepatunya hitam mengkilap.

Seorang gadis yang sangat menarik hati, namun juga gagah karena terdapat sepasang pedang melintang di punggungnya. Pedang itulah yang membuat semua mata pria yang memandang, tidak memandang langsung melainkan melirik karena mereka agak gentar melihat pedang di punggung itu. Jelas bahwa gadis jelita itu adalah seorang gadis yang pandai ilmu silat.

Seorang pelayan rumah makan tergopoh menyambut. Hatinya gembira bukan main. Dia mendapat kesempatan menyambut tamu yang demikian cantiknya hingga semua tamu yang lain menaruh perhatian. Dia membungkuk sebagai tanda menghormat dan berkata dengan suara hormat pula,

“Selamat siang, Nona. Silakan, di sudut sana masih ada meja kosong.”

Kwi Hong mengangguk. Tanpa mempedulikan lirikan mata begitu banyak orang, dia pun melangkah mengikuti pelayan itu menuju ke meja kosong, di sudut kiri rumah makan itu. Selama dia melakukan perjalanan merantau keluar dari istana, sudah terlalu sering dia melihat pandang mata laki-laki seperti itu.

Memang tadinya hal ini amat mengganggu dan membuat ia marah, akan tetapi akhirnya dia mengetahui bahwa hampir semua laki-laki adalah mata keranjang dan tidak dapat melewatkan seorang gadis cantik. Kalau hanya pandang mata saja, dara ini tidak lagi mengambil peduli dan pura-pura tidak melihatnya, asal tidak ada yang mengganggunya dengan ucapan atau perbuatan kurang ajar.

Bahkan sedikit banyak timbul perasaan bangga di hatinya karena diperhatikan banyak pria. Itu berarti bahwa dirinya memang cantik jelita dan menarik! Hanya bangga akan diri sendiri, sama sekali bukan senang karena ia tahu bahwa sebagian besar dari mereka itu pandang matanya penuh gairah dan nafsu.

“Nona hendak memesan makanan apa?”

“Beri aku nasi dan panggang ayam, juga masak sayur jamur dan lidah bebek.”

“Minumnya, Nona? Arak?”

“Tidak, cukup air teh saja.”

“Baik, Nona.” Pelayan itu lalu pergi untuk memenuhi pesanan Kwi Hong.

Tiba-tiba dari meja sebelah terdengar orang berbisik-bisik. Ketika Kwi Hong melirik, dia melihat ada tiga orang laki-laki berusia antara dua puluh sampai tiga puluh tahun saling berbisik dan tersenyum-senyum. Jangan-jangan mereka akan bersikap kurang ajar, pikir Kwi Hong. Akan tetapi ia bersikap tenang saja dan berpura-pura tidak melihatnya.

Akhirnya, benar seperti yang diduganya, salah seorang di antara mereka yang bertubuh jangkung kurus, bangkit berdiri dan menghampiri, lalu berdiri di depannya dan berkata sambil sedikit membungkuk,

“Nona, makan seorang diri sungguh tidak menyenangkan. Bagaimana kalau Nona kami undang makan bersama kami? Kebetulan kami hanya bertiga, dan meja kami masih dapat menerima seorang lagi. Silakan, Nona. Pesanan Nona biar diantar ke meja kami.”

Kwi Hong mengerutkan alisnya. Seorang pria yang tak dikenal menegur seorang gadis, apa lagi mengundang makan, sudah merupakan hal yang tidak wajar. Namun karena laki-laki jangkung kurus ini bersikap sopan, ia pun menahan kemarahannya.

“Tidak, terima kasih. Aku ingin makan sendiri saja dan harap jangan mengganggu aku.”

Mendengar jawaban ini, lelaki tinggi kurus itu hanya senyum-senyum agak malu karena penolakan itu didengar pula oleh para tamu yang lainnya. Akan tetapi seorang di antara kawan-kawannya, yang bertubuh gendut dan bermuka merah akibat telah terlalu banyak minum arak, berkata dengan suara mengejek,

“Aih, nona manis, harap jangan menjual mahal! Kami adalah pemuda-pemuda hartawan yang mampu membayar pesanan makanan apa saja yang Nona sukai!”

Mendengar ucapan kurang ajar ini, sekali melompat Kwi Hong sudah berada di dekat si gendut itu.

“Apa yang kau katakan?!” bentaknya.

Laki-laki gendut itu agaknya tidak tahu diri atau dia sudah terlalu mabuk. “Ha-ha-ha, aku bilang jangan jual mahal, nona manis, aku...”

Tiba-tiba tangan kiri Kwi Hong bergerak menjambak rambut kepala pria itu, kemudian membenamkan mukanya pada panci terisi kuah panas di depannya.

“Haepp...haeppppp...!”

Laki-laki itu gelagapan. Setelah Kwi Hong melepaskan jambakannya, laki-laki itu lantas melonjak-lonjak kepanasan karena mukanya terasa seperti dibakar. Sepasang matanya pun tidak dapat dibuka.

Kwi Hong telah duduk kembali di depan mejanya. Ia tak menyangka sama sekali bahwa dua orang laki-laki teman si gendut menjadi marah melihat teman mereka diperlakukan seperti itu oleh Kwi Hong.

Mula-mula kedua orang itu menolong si gendut, mencuci dan membersihkan mukanya yang menjadi semakin merah seperti udang direbus. Ketika dia sudah mampu membuka matanya, kedua matanya itu menjadi sipit dan kemerahan. Kemudian dua orang itu meloncat ke depan meja Kwi Hong dengan sikap marah.

“Nona, engkau kejam sekali! Berani engkau menghina kami? Kami adalah murid-murid dari Pek-houw Bu-koan (Perguruan Silat Harimau Putih)!”

Melihat kedua orang itu kini nampaknya marah kepadanya, Kwi Hong hanya tersenyum mengejek. “Tak peduli kalian dari perguruan Harimau Putih atau Harimau Belang, siapa pun berani menghinaku pasti akan kuhajar! Masih untung tadi aku tidak menghancurkan mulutnya sekalian!”

“Engkau sombong!” kata orang yang tubuhnya pendek besar dan dia sudah mengayun tangannya untuk menampar muka Kwi Hong.

Akan tetapi, sambil duduk Kwi Hong sudah mengelak dan sekali kakinya menendang, orang itu pun langsung terjengkang dan mengaduh karena perutnya mendadak menjadi mulas terkena tendangan ujung kaki yang bersepatu hitam itu.

Si tinggi kurus sekarang menerjang maju dengan kedua tangannya, agaknya dia hendak menangkap Kwi Hong. Akan tetapi Kwi Hong tetap duduk di atas kursinya dan ketika kedua tangan itu datang dia sudah menggerakkan kedua tangannya menotok ke arah pergelangan tangan, lalu kembali kakinya menendang ke depan.

Si tinggi kurus merasa betapa kedua tangannya tiba-tiba menjadi kaku dan sebelum dia sempat mengelak, tahu-tahu kaki gadis itu sudah menendangnya. Dia pun terjengkang ke belakang seperti si pendek besar.

Kini si gendut sudah dapat bangkit. Dia menghunus sebatang pedang dari atas meja. Akan tetapi sebelum dia sempat bergerak, Kwi Hong telah menyambar sebatang sumpit dan sekali sambit, pemuda gendut itu mengaduh-aduh dan pedangnya jatuh ke lantai. Ternyata lengan kanannya sudah ditembusi sumpit itu!

Dua orang kawannya terkejut, akan tetapi sebelum mereka mencabut pedang, Kwi Hong menggertak,

“Jika kalian nekat, sumpit-sumpit ini akan menembus jantung kalian!” Berkata demikian, dia melemparkan sumpit ke arah tembok dan dua batang sumpit itu menancap sampai setengahnya lebih ke dalam tembok!

Melihat hal ini, dua orang itu terbelalak dan tidak jadi mencabut pedang mereka. Mereka lalu menarik kawan si gendut yang terluka dan lari dari rumah makan itu. Terdengarlah teriakan si gendut.

“Nona kejam, kalau engkau memang gagah, tunggu pembalasanku!”

Akan tetapi Kwi Hong duduk kembali, seolah-olah tidak ada terjadi sesuatu. Pada saat hidangan yang dipesannya tiba, dia segera makan dengan sikap tenang sekali. Para tamu lainnya yang menyaksikan peristiwa itu segera bicara sendiri membicarakan gadis yang mereka anggap hebat luar biasa itu.

Semua orang di Tung-san mengenal siapa murid-murid perguruan Harimau Putih yang suka bersikap ugal-ugalan karena mengandalkan perguruan mereka yang mempunyai banyak murid dan guru mereka yang terkenal dengan julukan Pek-houw-eng (Pendekar Harimau Putih)? Tidak ada yang berani menentang mereka. Para murid itu sebenarnya bukan orang-orang jahat dan tidak pernah melakukan kejahatan, hanya sikap mereka ingin menang sendiri saja dan tidak mau ditentang, seolah mereka yang menguasai kota Tung-san.

Tidak jauh dari situ, di tengah-tengah ruangan rumah makan itu, semenjak tadi seorang pemuda memperhatikan peristiwa itu. Melihat betapa gadis itu menghajar ketiga orang tadi, dia tersenyum-senyum puas.

Pemuda itu seorang pemuda yang berusia antara dua puluh atau dua puluh satu tahun. Tubuhnya sedang-sedang saja, terbalut pakaiannya yang sederhana, namun wajahnya tampan dan gagah. Matanya lebar, hidung mancung dan mulutnya ramah selalu dihias senyum. Dagunya agak sedikit berlekuk sehingga menambah kejantanannya. Siapakah pemuda gagah tampan sederhana ini? Dia bukan lain adalah Tao Keng Han.

Seperti yang kita ketahui, Keng Han terjebak di pulau kosong, tidak dapat meninggalkan pulau karena tidak ada perahu. Akan tetapi dia pun tidak ingin meninggalkan pulau itu sebelum dia menguasai ilmu-ilmu Pusaka Pulau Es yang dia temukan tergores pada dinding sebuah ruangan di bawah tanah.

Dia melatih diri dengan Hui-yang Sinkang dan Swat-im Sinkang, dua tenaga sakti yang sifatnya panas dan dingin. Dia dapat menguasai ilmu ini karena dalam tubuhnya sudah terdapat kekuatan dahsyat yang sifatnya dingin dan panas itu. Dengan menguasai dua ilmu sinkang itu, dia kini dapat mengendalikan dua tenaga sakti dalam tubuhnya.

Hampir tiga tahun dia hanya melatih diri dengan dua ilmu pengerahan tenaga sakti ini. Setelah dia berhasil baik, barulah dia melatih dua ilmu silat yang terdapat di dinding itu, yaitu ilmu silat Toat-beng Bian-kun yang sifatnya lemas namun mengandung kekuatan dahsyat sekali dan yang kedua adalah Hong-in Bun-hoat yang halus dan nampak indah seperti orang menari sambil menuliskan huruf, akan tetapi mengandung daya serangan yang luar biasa hebatnya. Dia menghabiskan waktu dua tahun untuk melatih ilmu ini dengan baik sehingga tanpa terasa lagi dia sudah lima tahun tinggal di Pulau Hantu itu.

Setelah dia menguasai semua ilmu itu, dengan menggunakan sebatang golok dia lalu merusak dinding itu sehingga coretan huruf-huruf itu lenyap dan rusak. Dia tidak ingin ilmu itu kelak dipelajari orang lain, apa lagi dipelajari orang jahat. Ilmu itu terlalu hebat dan kalau terjatuh ke tangan orang jahat tentu akan membahayakan dunia.

Selama lima tahun, dia hanya makan jamur laut, ikan laut, dan daging ular serta sayur-sayuran aneh dan buah-buahan aneh pula. Tanpa disadarinya sendiri, makanan yang dimakannya selama lima tahun itu memberinya kekuatan yang hebat pula. Dia tidak menyadari bahwa dia kini telah menjadi seorang pemuda yang memiliki kekuatan yang amat dahsyat!

Kini, setelah semua ilmu habis dipelajari timbul keinginannya untuk meninggalkan pulau itu. Dia lalu menggunakan golok menebang pohon yang cukup besar, dan membuat perahu sedapatnya sehingga jadilah sebuah perahu kecil yang sederhana sekali. Untuk layarnya, dia menggunakan kain-kain sutera yang dahulu dia kumpulkan dari milik para perampok. Juga dia membuat dayung dari kayu.

Setelah perahu itu jadi, Keng Han lalu membawa pakaian yang dibuatnya sendiri, dan mulailah dia berlayar meninggalkan pulau itu. Ketika dia mendorong perahu itu ke air, beberapa ekor ular merah menyerangnya, akan tetapi sambil tertawa dia menggunakan tangannya menyampok ular-ular itu yang baginya kini sama sekali tidak berbahaya lagi. Bahkan biasanya ular-ular itu dia tangkapi untuk dimasak dagingnya!

Demikianlah, setelah berhasil mendarat di pantai daratan besar, meninggalkan pulau itu dengan selamat, maka mulailah Keng Han melakukan perjalanan menuju ke kota raja. Dia hendak mencari ayahnya!

Dan dalam perjalanan inilah dia tiba di kota Tung-san. Ketika dia mendarat, dia segera membuat pakaian yang biasa, membelinya dari toko. Dan untuk itu dia memiliki banyak emas dan perak peninggalan para perampok yang dulu dia kumpulkan di Pulau Hantu. Segera dia berganti pakaian dan membuang semua pakaian buatan sendiri yang amat sederhana seperti jubah pendeta itu. Selama dalam perjalanannya itu, dia tidak pernah mengalami gangguan karena penampilannya sebagai pemuda biasa dan sederhana.

Ketika dia lapar dan memasuki rumah makan di Tung-san itu, dia menyaksikan peristiwa waktu gadis cantik jelita itu menghajar tiga orang pemuda berandalan. Dia tersenyum kagum. Jarang ada gadis yang demikian pemberani dan lihai pula, apa lagi melihat dari pakaiannya, gadis itu agaknya puteri seorang bangsawan atau hartawan.

Keng Han menjadi kagum. Akan tetapi tidak seperti para pria lain, dia menyembunyikan kekagumannya dan dengan hati geli mendengar betapa orang-orang di beberapa meja itu saling berbisik memuji-muji kelihaian dan kecantikan gadis itu.

Akan tetapi pemilik rumah makan merasa khawatir sekali. Bukan hanya khawatir akan keselamatan gadis itu, juga terutama sekali khawatir kalau-kalau rumah makannya akan menjadi medan pertempuran sehingga akan merugikan isi rumah makan dan membikin takut para langganannya. Ia tak ingin terjadi pertempuran besar di situ, apa lagi sampai terjadi pembunuhan. Maka dia segera menghampiri Kwi Hong yang sedang makan dan memberi hormat dengan mengangkat kedua tangannya ke depan dada.

“Maafkan kalau saya mengganggu Nona yang sedang makan,” katanya dengan jeri.

Kwi Hong yang sedang makan itu mengerutkan alisnya dan menoleh sedikit ke arah orang itu. “Engkau mau apa?” tanyanya tak senang.

“Maafkan, Nona. Akan tetapi Nona agaknya tidak tahu. Pek-houw Bu-koan itu adalah sebuah perkumpulan atau perguruan silat yang besar dan berpengaruh sekali di kota ini. Nona telah memukul tiga orang murid mereka. Tentu mereka itu akan datang membalas dendam kepadamu. Oleh sebab itu saya anjurkan Nona segera meninggalkan tempat ini dan pergi sebelum terlambat.”

“Aku tidak takut! Biar mereka semua datang, kalau berani menggangguku, akan kuberi hajaran satu demi satu!” kata Kwi Hong.

“Akan tetapi, Nona. Kalau terjadi perkelahian di sini bagaimana dengan rumah makanku ini? Tentu akan hancur berantakan dan para langgananku akan berlarian meninggalkan rumah makanku. Aku akan menderita kerugian besar sekali...” Pemilik rumah makan itu hampir menangis. Baginya, yang terpenting adalah keselamatan rumah makannya.

“Hemmm, jadi engkau adalah pemilik rumah makan ini? Jangan khawatir, kalau terjadi kerusakan, aku akan memaksa mereka untuk mengganti semua kerugianmu, atau aku sendiri yang akan menggantinya. Sekarang, pergilah dan jangan mengganggu aku yang sedang makan!” Kwi Hong melanjutkan makannya dan pemilik rumah makan itu tidak berani bicara lagi, melainkan pergi dengan muka pucat dan wajah penuh kekhawatiran.

Kembali Keng Han yang mendengarkan semua itu tersenyum kagum. Gadis yang tabah luar biasa, juga bertanggung jawab. Sungguh seorang gadis yang memiliki kepribadian yang kuat dan berwibawa. Ingin dia melihat kelanjutan peristiwa itu dan kalau memang diperlukan, dia siap membantu gadis itu.

Kwi Hong makan dengan tenang saja. Padahal tentu saja ia tahu bahwa ucapan pemilik rumah makan itu bukan hanya kosong belaka dan memang besar sekali kemungkinan ketiga orang tadi akan mengundang kawan-kawan mereka, bahkan guru mereka. Akan tetapi sedikit pun ia tidak merasa gentar, bahkan ia sudah mengambil keputusan untuk memberi hajaran kepada Pek-houw Bu-koan jika benar mereka itu hendak membela tiga orang muda yang kurang ajar tadi.

Kekhawatiran pemilik rumah itu ternyata terbukti benar. Serombongan orang terdiri dari tiga puluh orang lebih mendatangi rumah makan itu, dipimpin oleh seorang laki-laki yang berusia empat puluhan tahun serta mengenakan pakaian serba putih. Itulah guru silat Pek-houw Bu-koan yang berjuluk Pendekar Harimau Putih!

Melihat ini, pemilik rumah makan cepat berlari keluar dan berlutut di depan kaki orang berpakaian putih itu. “Teng-kauwsu (Guru Silat Teng), mohon dikasihani, harap jangan berkelahi di dalam rumah makan kami sehingga menghancurkan segalanya. Kami sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan peristiwa tadi dan kami sama sekali tidak bersalah...”

Guru silat yang berjuluk Pek-houw-eng dan menjadi kepala dari Pek-houw Bu-koan itu. mendengus. “Hemmm, mana perempuan yang telah menghina murid-murid kami itu?”

“Ia masih makan di dalam, Teng-kauwsu. Akan tetapi harap Kauwsu suka bersabar dan menanti sampai ia keluar. Kasihanilah tamu-tamu lain yang tidak bersalah dan jangan merusak rumah makan kami.”

“Hemmm, baiklah. Hei, kalian jaga di empat sudut, jangan biarkan perempuan itu dapat meloloskan diri!” perintahnya kepada anak buahnya dan dia sendiri menjaga di depan pintu pekarangan rumah makan itu.

Para tamu lainnya yang melihat kedatangan rombongan itu menjadi ketakutan. Mereka segera membayar harga makanan dan bergegas meninggalkan tempat itu karena takut terlibat.

Kwi Hong melihat hal ini, akan tetapi dia tetap tenang dan melanjutkan makannya. Dia melihat semua tamu telah pergi, kecuali seorang pemuda berpakaian sederhana yang duduk di meja tengah ruangan itu. Dia tidak peduli. Setelah selesai makan, dia menyeka mulutnya dan memanggil pelayan. Dengan sikap seenaknya dia lalu membayar harga makanan, barulah ia melenggang keluar dari rumah makan itu.

Keng Han mengikutinya dengan pandang matanya. Akhirnya dia membayar pula harga makanan dan menyelinap keluar.

Karena memang sudah dinanti, begitu keluar dari rumah makan yang sudah sunyi itu, Kwi Hong langsung dihadang oleh Pek-houw-eng Teng Coan bersama tiga puluh orang muridnya! Guru silat itu tercengang juga. Tidak disangkanya bahwa perempuan yang sudah menghina dan menghajar ketiga orang muridnya itu adalah seorang gadis yang cantik jelita dan masih remaja! Paling banyak tujuh belas tahun usianya! Akan tetapi karena sudah terlanjur, dia harus tetap menjaga nama baik dan kehormatan Pek-houw Bu-koan!

“Nona, berhenti dulu!” bentak Teng Coan saat melihat Kwi Hong melangkah terus tanpa mempedulikan dia dan para muridnya, dan sengaja dia menghadang di depan gadis itu.

Kwi Hong mengangkat muka memandang, seolah baru sekarang dia melihat ada orang menghadangnya. “Hemm, siapa engkau dan mau apa engkau menahan perjalananku?” tanyanya dengan sikap acuh tak acuh.

“Nona, apakah benar engkau yang tadi telah menghina dan memukuli tiga orang murid kami?”

“Hemmm, kalau memang betul, mengapa?”

“Nona, engkau ini terlalu kejam. Tanpa alasan yang kuat engkau melukai murid-murid kami, akan tetapi melihat bahwa engkau hanya seorang gadis remaja, maka biarlah aku akan habiskan urusan itu kalau saja engkau suka mohon maaf sambil berlutut di depan kakiku!”

Guru silat itu merasa tidak enak sendiri kalau harus berkelahi dengan seorang gadis remaja, maka dia hendak menghapus penghinaan itu dengan balas menghina dara itu. Kalau dara itu mau berlutut dan minta maaf, dia pun sudah akan puas dan semua orang tentu akan melihat dan membicarakannya.

Akan tetapi Kwi Hong mengerutkan alisnya. “Apa katamu? Aku berlutut minta maaf kepadamu? Jadi engkau guru mereka? Sepatutnya engkau yang mintakan maaf bagi mereka kepadaku. Tahukah engkau apa sebabnya aku menghajar tiga orang muridmu? Semua orang melihat betapa mereka bertiga itu bersikap kurang ajar kepadaku, maka aku mewakilimu untuk menghajarnya! Sepatutnya engkau menghaturkan terima kasih dan mohon maaf kepadaku!”

Keng Han yang menonton pertemuan itu hampir tertawa bergelak mendengar ucapan itu. Gadis itu benar-benar hebat. Selain tabah dan berani, ternyata juga amat pandai bicara dan bicaranya tidak ngawur!

Akan tetapi kepala perguruan silat itu menjadi merah mukanya dan dia pun menggertak, “Nona, engkau masih tidak mau minta maaf? Lihatlah, tiga puluh orang muridku siap untuk membalaskan dendam saudara mereka. Apakah engkau tidak takut? Cepatlah minta maaf agar urusan ini segera beres dan habis.”

“Kalau engkau dan mereka itu datang untuk membela orang-orang yang bersalah, aku sama sekali tidak takut, bahkan kalian semua ini patut dihajar karena membela yang salah!” Kwi Hong marah.

“Bagus, engkau ternyata keras kepala dan sombong sekali, maka sudah sepatutnya aku menghajarmu!” teriak guru silat itu agar semua orang mendengar bahwa dia terpaksa melawan seorang gadis remaja karena gadis itu sombong dan tidak mau minta maaf.

Setelah berkata demikian, dengan gerakan sembarangan saja tangannya menampar ke arah pundak gadis itu. Betapa pun juga Teng Coan bukan penjahat, bahkan julukannya adalah Pendekar Harimau Putih, maka ia menganggap dirinya seorang pendekar sejati. Dia tidak menyerang dengan sungguh-sungguh, maksudnya cukup asal menjatuhkan gadis itu saja untuk menghukumnya.

Akan tetapi dia kecelik kalau mengira dengan satu tamparan dapat mengalahkan Kwi Hong. Dengan amat mudahnya Kwi Hong menarik pundaknya ke belakang sehingga tamparan itu hanya mengenai angin kosong saja. Melihat tamparannya dapat dielakkan dengan mudah, Teng Coan menjadi penasaran dan kembali tangan kirinya menampar, kini lebih cepat serta kuat dan ditujukan ke arah muka gadis itu.

“Wuuuttttt...!”

Kembali tamparannya mengenai tempat kosong karena dengan mudah dielakkan oleh Kwi Hong yang menggeser kakinya ke kanan lalu tangannya bergerak cepat membalas serangan lawan dengan tonjokan ke arah dada guru silat itu. Karena Kwi Hong tidak memandang rendah lawan, maka tonjokannya tidak dilakukan dengan setengah tenaga melainkan dengan cepat dan amat kuat.

Melihat tonjokan ini, Teng Coan cepat menarik tangannya dan sambil miring ke kiri dia mempergunakan tangan kanan untuk menangkis pukulan Kwi Hong. Dia mengerahkan seluruh tenaganya dengan maksud membuat pukulan itu bukan hanya tertangkis, akan tetapi supaya gadis itu terdorong dan lengannya terasa sakit bertemu dengan lengannya sendiri.

“Dukkkkk...!”

Dua buah lengan tangan bertemu, yaitu lengan tangan yang bertulang besar dan berotot kekar melawan lengan tangan yang bertulang kecil dan berkulit putih halus seolah tidak berotot. Akan tetapi akibatnya benar-benar sangat mengherankan. Tubuh guru silat itu terhuyung ke belakang, sedangkan Kwi Hong tetap berdiri tegak sambil tersenyum!

Kini anak buah atau murid-murid Teng Coan sudah tidak sabar lagi. Dengan senjata golok dan pedang di tangan, mereka maju mengeroyok.

Melihat hal ini, Teng Coan tidak melerai bahkan dia pun menghunus pedangnya. Karena menghadapi banyak orang yang memegang senjata tajam, Kwi Hong melompat jauh ke belakang sambil menggerakkan kedua tangannya ke punggung dan di lain saat kedua tangannya sudah memegang sepasang pedang yang berkilauan saking tajamnya.

Para penonton menjadi panik melihat mereka semua sudah memegang senjata tajam. Banyak yang segera menjauhkan diri dan memandang dengan ngeri, dan khawatir akan keselamatan gadis cantik itu.

Akan tetapi, begitu Kwi Hong menggerakkan sepasang pedangnya menyambut serbuan para murid Pek-houw-bukoan, terdengar jerit-jerit kesakitan dan tiga orang sudah roboh dan terluka. Ada yang pundaknya, ada yang pangkal lengannya, ada pula yang pahanya terserempet pedang di tangan Kwi Hong yang amat lihai itu.

Keng Han yang melihat gerakan itu, tidak mengkhawatirkan Kwi Hong. Melihat gerakan sepasang pedang itu, maklumlah dia bahwa gadis itu memang lihai bukan main dan tidak akan kalah walau pun dikeroyok banyak orang. Akan tetapi karena pengeroyoknya terlampau banyak, mungkin saja gadis itu akan melakukan banyak pembunuhan dan hal inilah yang dikhawatirkannya.

“Nona, jangan membunuh orang!” teriaknya.

Keng Han melompat maju. Kaki tangannya bergerak dan para pengeroyok itu langsung berpelantingan bagaikan diamuk badai. Mereka hanya merasa ada hawa yang tiba-tiba mendatangkan angin demikian kuatnya sehingga mereka semua terdorong ke belakang dan terjengkang bergulingan!

Sementara itu, Kwi Hong sudah bertanding melawan guru silat Teng Coan. Akan tetapi baru sekarang Pek-hou-eng Teng Coan menyadari betapa lihainya gadis itu. Sepasang pedang itu menutup semua lubang dan sebaliknya dapat menyerang dari arah mana pun sehingga dia yang menjadi repot harus melindungi dirinya dari serangan sepasang pedang yang baginya seolah-olah telah berubah menjadi lima buah banyaknya itu! Dan bayangan pedang-pedang yang menyerangnya itu saling mendukung, susul menyusul datangnya seperti rangkaian yang tidak pernah putus!

Belum sampai dua puluh jurus, setelah dengan susah payah dia melindungi tubuhnya, akhirnya pedang kiri Kwi Hong mengenai pundak kanannya sehingga tangan kanannya menjadi lumpuh dan pedangnya terlepas dari pegangan.

“Singgg...!”

Tahu-tahu sepasang pedang di tangan Kwi Hong telah menyilang di lehernya sehingga dia tidak mampu bergerak karena bergerak berarti lehernya akan terluka.

“Nah, cepat perintahkan semua muridmu untuk mundur!” bentak Kwi Hong kepada Teng Coan.

Guru silat ini dengan muka sebentar pucat sebentar merah saking malunya, melirik dan melihat betapa para muridnya itu sedang diamuk seorang pemuda dengan tamparan dan tendangan.

“Semua murid, hentikan serangan!” bentaknya.

Para murid Pek-houw Bu-koan segera berlompatan ke belakang. Mereka memang telah jeri melihat sepak terjang pemuda yang tiba-tiba muncul membantu Kwi Hong itu. Dan kini mereka melihat betapa guru mereka sudah dikalahkan gadis itu, maka semangat mereka langsung menjadi hilang.

Keng Han menghampiri guru silat itu dan berkata dengan suara halus tapi mengandung teguran, “Engkau adalah pemimpin perguruan, sepatutnya engkau dapat mengajarkan kesusilaan dan sopan santun kepada para muridmu di samping ilmu silat. Ilmu silat bukan untuk main ugal-ugalan dan menang-menangan sendiri. Tiga orang muridmu itu tadi bersikap kurang ajar terhadap Nona ini dan akulah seorang di antara para saksi yang berada di dalam rumah makan. Engkau baru dapat disebut orang gagah kalau mau mengakul kesalahanmu, maka suruhlah murid-muridmu tadi minta ampun kepada Nona ini!”

Pek-houw-eng Teng Coan menyadari kesalahannya. Dia terburu nafsu mendengarkan laporan tiga orang muridnya. Sekarang baru dia bertemu batunya, menghadapi gadis remaja saja dia kalah.

“Hayo kalian bertiga cepat maju ke sini!” bentaknya kepada para muridnya.

Tiga orang murid yang tadi membuat kekacauan di rumah makan maju dengan sikap takut. Kwi Hong sendiri sudah menyimpan pedang dan ia memandang kepada pemuda sederhana itu dengan heran dan kagum. Ia tadi juga sempat melihat betapa pemuda itu dengan tangan kosong telah merobohkan belasan orang murid tanpa melukai mereka. Tentu pemuda itu memiliki ilmu kepandaian yang hebat.

Setelah tiga orang murid itu mendekat, Teng Coan lalu menggerakkan tangannya, tiga kali menampar dan tiga orang muridnya itu terpelanting.

“Hayo cepat berlutut dan minta maaf kepada Nona ini!” kata Teng Coan.

Kini kemarahannya sepenuhnya ditujukan kepada tiga orang murid yang menimbulkan gara-gara itu sehingga dia mendapat malu di depan banyak orang. Kalau bukan karena ulah tiga orang muridnya itu tentu dia tidak sampai terlihat orang-orang dikalahkan oleh seorang gadis remaja!

Tiga orang murid itu merangkak ke depan kaki Kwi Hong dan memberi hormat sambil berlutut. “Nona, kami mohon maaf atas kesalahan kami,” kata mereka.

Kwi Hong tersenyum. “Sudah, bangkitlah. Aku pun tahu bahwa kebanyakan orang muda memang sering kali ugal-ugalan. Akan tetapi kalian jangan sekali-kali menggoda wanita. Sepatutnya orang-orang yang belajar silat seperti kalian malah menjadi pelindung dan pembela wanita dari gangguan orang jahat. Apakah kalian memang ingin menjadi orang jahat yang suka mengganggu wanita?”

“Tidak, tidak..., Nona,” kata mereka serempak.

“Bagus, kalian harus menjadi pendekar-pendekar yang sejati, yang menghormati wanita dan membela mereka sebagaimana patutnya seorang pendekar yang menentang orang jahat dan melindungi si lemah. Nah, sudahlah, kuhabiskan urusan sampai di sini!”

“Terima kasih, Nona.” Tiga orang itu bangkit berdiri kemudian mundur ke tempat kawan-kawannya.

Pek-houw-eng Teng Coan juga memberi hormat kepada Kwi Hong dan Keng Han. “Hari ini aku Teng Coan menerima pelajaran dari Ji-wi, untuk itu kami menghaturkan terima kasih. Mulai hari ini aku akan meneliti kelakuan murid-murid perguruan kami dan akan bertindak sesuai dengan nasehat Ji-wi (Kalian berdua).”

Setelah berkata demikian, dengan sikap bengis dia membentak para muridnya untuk kembali ke perguruan sehingga tempat itu kembali sepi. Para penonton juga bubaran dan tentu saja Kwi Hong menjadi bahan pembicaraan mereka. Setelah melihat tindakan Kwi Hong yang gagah, beberapa orang di antara mereka teringat akan pendekar wanita yang berjuluk Si Bangau Emas.

Dan memang gadis itu memakai perhiasan bangau emas di rambutnya.....


Pilih JilidJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner