SI TANGAN SAKTI : JILID-20


Melihat Ouw Seng Bu menghadapi lima orang tosu itu dengan tangan kosong, padahal lima orang itu memegang senjata dan mereka membentuk suatu barisan, hati Kim Giok menjadi resah.

"Ouw Pangcu, gunakan pedangku ini!" katanya dan dia pun sudah meloncat ke depan, mencabut pedang Koai-liong Po-kiam dan menyerahkan pedang itu kepada Seng Bu.

Ouw Seng Bu merasa gembira bukan main. Dengan ilmunya yang ajaib, yaitu Bu-kek Hoat-keng, dia tidak gentar menghadapi pengeroyokan lima orang tosu itu walau pun dia tidak memegang senjata. Akan tetapi, sikap gadis itu yang menyerahkan pedangnya kepadanya, membuktikan bahwa Kim Giok benar-benar sangat sayang kepadanya dan mengkhawatirkan keselamatannya. Dia pun menerima pedang itu.

"Terima kasih, sebetulnya tanpa pedang pun aku tidak gentar menghadapi lima orang tosu yang tinggi hati ini."

"Ouw Pangcu, sambutlah serangan kami ini!" berkata Thian Tocu sambil menggerakkan tongkatnya menyerang.

Seng Bu langsung menyambut dengan pedang Koai-liong Po-kiam dan terdengar suara mengaung menyeramkan karena dia menggerakkan pedang itu dengan mengerahkan sinkang-nya.

Thian Tocu yang mengenal pedang ampuh, menarik kembali tongkatnya dan meloncat ke samping. Dua orang tosu lain sudah menyerang dari kanan kiri, diikuti dua orang lain lagi yang juga telah siap-siap untuk melakukan serangan sambung menyambung. Thian Tocu sendiri yang sudah menyelinap ke arah belakang lawan juga telah bersiap dengan tongkatnya.

Seng Bu maklum bahwa lima orang tosu itu menjadi berbahaya sebab mereka bergerak mengikuti kedudukan bintang Ngo-heng yang perubahannya otomatis dan kadang amat ganas itu. Seng Bu mengerahkan tenaga Bu-kek Hoat-keng dan memutar pedangnya. Tubuhnya lenyap terbungkus gulungan sinar pedang yang menyilaukan mata dan suara mengaung-ngaung itu sungguh menggetakkan hati para pengeroyok.

Karena cara Seng Bu bergerak amatlah aneh, seperti kacau balau akan tetapi semua serangan senjata lawan dapat digagalkan, lima orang tosu itu terseret oleh kekacauan gerakannya sehingga kerapian gerakan barisan Ngo-heng-tin itu juga menjadi retak.

Tiba-tiba Seng Bu mengeluarkan teriakan melengking yang begitu nyaring mengerikan, sehingga bukan saja membuat lima orang lawannya terkejut, juga semua orang yang berada di situ tergetar dan merasa ngeri. Teriakan itu bukan seperti suara manusia, mengandung gaung yang aneh, yang seketika membuat lima orang tosu itu bagaikan kehilangan kesadaran. Lalu terdengarlah suara keras lima kali berturut-turut, dan empat batang pedang beserta sebatang tongkat sudah tersambar dan patah-patah oleh sinar pedang Koai-liong Po-kiam!

Lima orang tosu itu berlompatan mundur. Hati mereka kaget bukan main. Dalam waktu belasan jurus saja, senjata mereka telah patah-patah dan ini berarti bahwa mereka telah kalah. Ucapan Siangkoan Kok tadi terbukti!

"Ha-ha-ha, sekawanan tosu sombong ini sekarang baru menyaksikan tingginya langit!" Siangkoan Kok tertawa bergelak, diikuti pula oleh mereka yang memang sudah tunduk kepada Thian-li-pang.

Seng Bu yang tadinya seperti kesetanan, sekarang sudah tenang kembali. Dia pun lalu menghampiri Kim Giok untuk mengembalikan pedang gadis itu.

Gadis itu masih duduk tercengang. Tadi dia melihat betapa pemuda pujaan itu seperti sudah berubah. Gerakannya demikian aneh, seperti bukan orang bersilat, seperti orang gila atau binatang buas mengamuk. Dan suaranya tadi! Juga matanya mencorong aneh dan mengerikan!

Akan tetapi, sekarang dia sudah kembali menjadi seorang pemuda yang tampan serta lembut seperti biasanya, yang mengembalikan pedangnya dengan senyum yang manis sekali. Ia pun menerima pedang itu dan menyarungkannya kembali, tanpa mengalihkan pandang matanya dari wajah pemuda itu.

"Terima kasih, Giok-moi," kata Seng Bu dan dia pun kembali menghadapi lima orang tosu yang masih berdiri tertegun.

"Apakah Totiang berlima kini masih penasaran? Masih tidak percaya bahwa aku sudah mengalahkan Yo Han yang hendak membunuhku dan sekarang ia telah tewas di dalam sumur tua?" tanyanya tersenyum, akan tetapi senyumnya dingin dan pandang matanya mengejek dan merendahkan.

Lima orang tosu itu merasa penasaran sekali. Amat sukar bagi mereka untuk menerima kekalahan dari seorang pemuda, padahal mereka tadi maju bersama.

"Ouw Pangcu, senjata kami rusak karena keampuhan pedang Koai-liong Pokiam, akan tetapi kami belum merasa kalah," kata Thian Tocu.

"Lalu Totiang mau apa?" Seng Bu menantang.

"Kita lanjutkan pertandingan dengan tangan kosong agar kalah menang ditentukan oleh kepandaian, bukan oleh keampuhan senjata."

"Baik, kalau Totiang masih penasaran, silakan!" Seng Bu menantang.

"Ha-ha-ha-ha, dasar tosu-tosu tolol, tidak tahu diri!" Siangkoan Kok mencela dari tempat duduknya. "Semua orang tahu belaka bahwa orang-orang Bu-tong-pai mengandalkan ilmu pedangnya. Kalau menggunakan pedang saja kalah, apa lagi bertangan kosong. Mencari penyakit saja, ha-ha-ha, para tosu tolol yang mencari penyakit!" Bekas ketua Pao-beng-pai ini tertawa-tawa.

Mendengar ejekan Siangkoan Kok, lima orang tosu Bu-tong-pai menjadi marah. Mereka sudah memasang kuda-kuda dan Thian Tocu berseru, "Ouw Pangcu, sambut serangan kami!"

Orang-orang telah memiliki ilmu kepandaian tinggi seperti Cu Kim Giok, Siangkoan Kok dan beberapa orang di antara tamu, terkejut melihat cara lima orang tosu itu membuka serangan mereka. Thian Tocu berada di depan, empat orang sute-nya menempelkan telapak tangan di punggungnya. Jelas bahwa mereka berlima itu menyatukan tenaga sakti mereka untuk mengalahkan Seng Bu.

Kim Giok terkejut sekali. Gadis ini maklum betapa kuatnya tenaga lima orang tosu yang dipersatukan itu. Bahkan Siangkoan Kok sendiri mengerutkan kening dan memandang khawatir. Akan tetapi Kim Giok menahan teriakannya yang ingin mencegah kekasihnya menyambut serangan itu karena memang sudah terlambat.

Seng Bu sama sekali tidak mengelak, bahkan dia juga mendorong kedua telapak tangan ke depan untuk menyambut serangan gabungan itu.

"Desss...!!"

Dua pasang telapak tangan bertemu dengan dahsyatnya dan akibatnya, lima orang tosu itu terjengkang roboh!

Ilmu yang dikuasai Seng Bu memang hebat dan aneh. Biar pun dipelajarinya secara ngawur dan tidak menurut aturan, namun tidak kehilangan keampuhannya, bahkan lebih aneh lagi dan mengandung racun yang hebat.

Ilmu Bu-kek Hoat-keng yang asli, biar pun dahsyat akan tetapi dapat dikendalikan, dan memang memiliki daya tolak atau mengembalikan kekuatan lawan yang menyerangnya. Akan tetapi, yang dikuasai Seng Bu sudah berubah, tenaga dahsyat itu tidak dapat dikendalikannya dan mengandung racun hebat. Akan tetapi daya tolaknya masih ampuh sehingga ketika lima orang tosu itu menyerangnya dengan tenaga gabungan yang amat dahsyat, tenaga itu membalik dan memukul diri mereka sendiri!

Peristiwa robohnya lima orang tosu ini sangat mengejutkan semua orang, namun amat mengagumkan dan melegakan hati Kim Giok. Bahkan Siangkoan Kok sendiri terkejut dan kagum bukan main, membuat dia semakin yakin akan kelihaian ketua Thian-li-pang yang masih muda itu.

Lima orang tosu itu bangkit dengan muka pucat. Yang paling parah adalah Thian Tocu yang muntah darah.

Seng Bu memberi hormat dan berkata, "Totiang berlima sudah merasakan sendiri bukti ketanguhan kami. Sebaiknya kalau Totiang membawa Bu-tong-pai agar bekerja sama dengan kami untuk berjuang bersama, dan kalau pun Bu-tong-pai menolak, kami harap tidak lagi mengganggu kami."

"Maafkan kami yang tidak tahu diri, kami mengaku kalah," kata Thian Tocu dan dibantu empat orang sute-nya, dia pun meninggalkan tempat itu diikuti suara tawa Siangkoan Kok…..

********************

Thian Tocu dengan susah payah menuruni Bukit Naga, dibantu empat orang sute-nya yang juga menderita luka guncangan dalam dada. Mereka terpukul oleh tenaga mereka sendiri yang membalik, akan tetapi yang paling parah adalah Thian Tocu karena dia bukan saja terguncang hebat oleh pukulannya yang membalik, juga dia dilanda hawa beracun yang membuat dadanya sesak dan warna kulit dadanya menghitam! Setelah tiba di kaki bukit, Thian Tocu tidak tahan lagi dan roboh pingsan!

Pada saat empat orang tosu dengan bingung merubung suheng mereka dan berusaha menyadarkannya, mereka mendengar suara seorang wanita yang bertanya, "Totiang sekalian, apakah yang terjadi dan kenapa Totiang itu? Ehh, bukankah kalian tosu-tosu dari Bu-tongpai?"

Empat orang tosu itu menengok. Seorang gadis telah berdiri di situ. Gadis yang masih amat muda, belum dua puluh tahun usianya. Cantik jelita dan gagah sekali sikapnya. Pakaiannya berwarna serba merah.

"Aihh, bukankah dia Thian Tocu Totiang dari Bu-tong-pai?" tanya gadis itu lagi dengan nada suara heran. "Kenapa dia?"

Kini dua di antara empat orang tosu itu teringat bahwa gadis ini pernah satu kali singgah di kuil mereka.

"Kiranya Ang-ho Lihiap (Pendekar Wanita Bangau Merah)!" seorang di antara mereka berseru. "Kami berlima baru turun dari bukit, sehabis berkunjung ke Thian-li-pang dan kami dilukai oleh ketuanya."

"Ahhh?!"

Gadis itu adalah Tan Sian Li, Si Bangau Merah. Tentu saja ia merasa heran bukan main mendengar bahwa ketua Thian-li-pang melukai lima orang tosu Bu-tong-pai. Bukankah Thian-li-pang adalah perkumpulan para patriot gagah perkasa? Bahkan Yo Han menjadi pemimpin besar mereka. Kenapa kini ketuanya memukul orang-orang Bu-tong-pai? Jika ia tidak salah ingat, Yo Han pernah bercerita tentang Thian-li-pang dan ketuanya adalah Lauw Kang Hui, seorang kakek yang gagah perkasa.

Tetapi yang lebih penting adalah menolong tosu yang terluka itu. Bu-tong-pai adalah perkumpulan orang gagah, para muridnya pun banyak yang menjadi pendekar. Bahkan ayahnya amat menghormati Bu-tong-pai, maka sudah sepantasnya kalau ia mencoba menolong para tosu itu.

"Biarkan aku memeriksanya, siapa tahu aku akan dapat mengobati dan menyembuhkan dia," katanya.

Melihat sikap gadis muda itu yang tenang dan tegas, empat orang tosu itu mundur dan membiarkan Sian Li melakukan pemeriksaan. Sian Li berjongkok dekat tubuh Thian Tocu yang masih pingsan, lalu memegang pergelangan tangannya, merasakan denyut nadinya. Ia mengerutkan alisnya. Dari denyut nadi itu ia maklum bahwa keadaan tosu itu cukup gawat dan dia menderita luka dalam yang mengandung hawa beracun!

"Coba ceritakan, apa yang terjadi bagaimana dia sampai terluka dalam seperti ini," katanya.

Empat orang tosu itu lalu menceritakan mengenai perkelahian mereka melawan ketua Thian-li-pang, tentang adu tenaga yang mengakibatkan mereka semua terluka.

Sian Li mengerutkan alisnya. "Hemmm, sungguh aneh. Aku harus memeriksa keadaan tubuhnya. Tolong bukakan bajunya, aku ingin memeriksa dadanya."

Seorang tosu membuka baju yang menutupi dada Thian Tocu dan mereka terkejut melihat dada itu kehitaman. Sian Li meraba dada itu dan mengangguk-angguk.

"Dia telah terkena hawa beracun yang aneh sekali. Bagaimana mungkin seorang ketua Thian-li-pang dapat melakukan pukulan sekeji ini?"

"Pemuda itu memang keji, aneh, seperti iblis!"

"Pemuda? Bukankah ketua Thian-lipang sudah tua?"

"Dia masih muda sekali, Lihiap, paling tua baru dua puluh empat tahun."

"Ahhh? Bukankah ketuanya bernama Lauw Kang Hui dan sudah tua?"

"Bukan. Lauw Kang Hui sudah mati, dan dialah ketua baru yang penuh rahasia."

Sian Li merasa heran sekali. "Biarlah kucoba mengobati suheng kalian ini lebih dahulu," katanya.

Gadis murid Yok-sian Lo-kai (Pengemis Tua Dewa Obat) ini lantas mengeluarkan dua batang jarum emas. Dia mengobati Thian Tocu dengan cara menusuk jarum. Tidak sampai setengah jam ia mengobati tosu tua itu, warna hitam di dada pendeta itu lenyap dan tosu Bu-tong-pai itu siuman. Biar pun masih agak lemah, dia telah mampu bangkit.

"Siancai..., kiranya Si Bangau Merah yang telah mengobatiku. Banyak terima kasih atas pertolonganmu, Tan Lihiap," kata Thian Tocu.

"Totiang, apa sih yang telah terjadi di Thian-li-pang? Bukankah ketuanya bernama Lauw Kang Hui, dan bagaimana sekarang tiba-tiba muncul ketua baru yang masih muda dan memiliki ilmu pukulan keji itu? Aku sendiri hendak naik ke sana dan mencari kalau-kalau Han-koko berada di sana."

"Siapakah Han-koko itu, Lihiap?" tanya Thian Tocu.

"Yang kumaksudkan adalah koko Yo Han, Sin-ciang Taihiap. Bukankah dia merupakan pemimpin besar Thian-li-pang?"

Mendengar ini, Thian Tocu menghela napas panjang dan wajahnya berubah muram.

"Siancai..., suatu keanehan terjadi di atas sana, Lihiap." Dia memandang ke atas bukit. "Karena terjadinya perubahan aneh di Thian-li-pang inilah maka kami berlima datang terkunjung untuk melakukan penyelidikan dan meminta keterangan. Akan tetapi, kami dihadapkan kepada kenyataan pahit, bahkan kami sampai terluka."

Tentu saja, Sian Li tertarik sekali. "Ceritakan, Totiang. Apa sih yang terjadi dengan Thian-li-pang?"

"Pada mulanya kami mendengar berita yang meresahkan hati, bahwa para pimpinan Thian-li-pang, yaitu Lauw Kang Hui serta beberapa orang pembantunya sudah tewas. Kemudian terdengar berita lainnya bahwa Thian-li-pang mempunyai seorang ketua baru dan sejak itu sepak terjang Thian-li-pang menjadi aneh. Mereka menundukkan hampir semua perkumpulan silat dan tokoh kang-ouw di daerah ini, membujuk atau memaksa mereka untuk bekerja sama. Bahkan dengan golongan sesat, bersekutu pula dengan golongan Pek-lian-kauw dan Pat-kwa-pai. Sebetulnya, kami dari Bu-tong-pai tidak ingin mencampuri urusan dalam, sampai adanya sebuah berita yang membuat kami merasa penasaran sekali dan memaksa kami untuk datang berkunjung. Berita itu adalah bahwa para pemimpin Thian-li-pang itu dibunuh oleh Sin-ciang Taihiap Yo Han."

"Ahhhh... tidak mungkin...!!" Sian Li berseru, kaget bukan main.

"Kami juga tidak percaya akan berita itu, Lihiap. Kami mengenal siapa adanya Sin-ciang Taihiap. Apa lagi membunuh para pimpinan Thian-li-pang padahal dia pemimpin besar di sana, bahkan para penjahat pun tiada yang dibunuhnya. Dia menundukkan penjahat dan menasehatinya, membujuknya sehingga banyak penjahat kembali ke jalan benar. Akan tetapi, muncul berita lain lagi yang terlalu aneh, yang mendorong kami melakukan penyelidikan, yaitu bahwa baru beberapa hari ini, Sin-ciang Taihiap dibunuh oleh ketua baru Thian-li-pang!"

"Ahhhhh...!!" Kini Sian Li meloncat berdiri dan mukanya berubah pucat sekali, matanya terbelalak. "Aku... aku tidak percaya!"

"Kami juga tidak percaya akan keterangan yang diberikan ketua baru Thian-li-pang itu sehingga terjadi bentrokan antara kami dan dia. Akan tetapi, dia ternyata amat lihai dan memiliki ilmu pukulan yang amat keji. Kami kalah dan pergi dalam keadaan terluka."

"Kalau begitu, aku harus cepat menyelidiki ke sana. Selamat berpisah, Totiang!" Setelah berkata demikian, nampak berkelebat bayangan merah dan Sian Li sudah lenyap dari depan para tosu itu.

Thian Tocu menghela napas panjang dan menggelengkan kepalanya.

"Sungguh berbahaya sekali, tapi mudah-mudahan Tan Lihiap akan mampu menandingi iblis itu," katanya. Mereka berlima merasa prihatin sekali, akan tetapi juga tidak berdaya.

Dengan hati diliputi kegelisahan mendengar Yo Han dibunuh ketua baru Thian-li-pang yang kabarnya masih muda itu, Sian Li berloncatan dan mempergunakan ilmu berlari cepat mendaki Bukit Naga.

"Berhenti!" tiba-tiba terdengar seruan.

Dari balik pohon dan semak belukar, berloncatan sepuluh orang anggota Thian-li-pang dan mereka mengepung Sian Li. Ketika melihat bahwa yang datang tanpa diundang dan mereka kepung itu hanya seorang gadis cantik berpakaian serba merah, sepuluh orang anggota Thian-li-pang itu tertegun lalu mereka tertawa-tawa dan kembali menyarungkan golok mereka.

Mereka tentu saja memandang rendah seorang gadis cantik seperti Sian Li. Akan tetapi, biar pun mereka kagum akan kecantikan Sian Li, mereka tidak berani bersikap kurang ajar. Ketua mereka memiliki hubungan luas dengan dunia kang-ouw dan kalau ternyata gadis ini seorang sahabat ketua mereka, maka kekurang ajaran mereka cukup untuk menjadi alasan mereka dihukum berat oleh ketua mereka.

"Nona, siapakah Nona dan ada keperluan apakah mendaki Bukit Naga? Apakah Nona seorang tamu dari Thian-li-pang?"

Karena merasa amat khawatir akan keselamatan Yo Han yang kabarnya sudah dibunuh oleh ketua Thian-li-pang, Sian Li langsung saja bertanya, "Apakah kalian ini anak buah Thian-li-pang?"

"Benar, Nona. Siapakah Nona dan ada keperluan apa Nona datang berkunjung?"

"Siapakah nama ketua Thian-li-pang sekarang?" tanya Sian Li.

Orang-orang itu saling pandang. Mereka masih ragu-ragu karena belum tahu, apakah gadis ini teman ataukah lawan.

“Ouw pangcu kami bernama Ouw Seng Bu," berkata pemimpin mereka, seorang yang bertubuh kurus kering dan mukanya kuning.

"Katakan kepada Ouw-pangcu bahwa aku ingin bertemu. Namaku Tan Sian Li."

Mendengar bahwa gadis cantik ini hendak bertemu dengan ketua mereka, orang-orang Thian-li-pang itu tidak berani bersikap lancang. Si kurus kering berkata, "Mari silakan mengikuti kami, Nona. Kami akan melaporkan kepada ketua kami."

Sian Li mengikuti mereka memasuki perkampungan Thian-li-pang dan berhenti di depan gedung induk yang menjadi tempat tinggal ketua Thian-li-pang. Si kurus kering segera masuk untuk melaporkan kepada Ouw Seng Bu.

Pada saat itu, Ouw Seng Bu sedang bercakap-cakap dengan Siangkoan Kok dan Cu Kim Giok. Siangkoan Kok sedang melaporkan tentang hasil ia menaklukkan partai-partai persilatan dan perkumpulan besar di dunia kang-ouw untuk bekerja sama mendukung perjuangan mereka menentang pemerintah penjajah.

Cu Kim Giok hanya sebagai pendengar saja. Gadis ini makin kagum kepada Ouw Seng Bu dan sekarang tidak lagi memandang rendah kepada Siangkoan Kok atau para tokoh perkumpulan sesat yang telah bergabung dengan Thian-li-pang. Ia menganggap bahwa dalam perjuangan menentang penjajah, memang semua kekuatan harus dipersatukan, seperti yang dikatakan pemuda yang dicintanya itu.

Ia menyadari sepenuhnya bahwa kadang-kadang kekasihnya itu bertindak kejam, tetapi ia lalu menghibur hatinya yang merasa tidak cocok itu, bahwa memang demikianlah perjuangan. Ia menganggap kekasihnya seorang pejuang sejati, seorang pahlawan dan pendekar. Dan sikap Ouw Seng Bu terhadap dirinya demikian baik, sopan, ramah dan penuh perhatian, penuh kasih sayang!

Daun pintu ruangan itu diketuk orang. Ouw Seng Bu mengerutkan alisnya.

"Masuk!" katanya lantang.

Si kurus kering membuka daun pintu dan masuk, disambut bentakan Ouw Seng Bu. "Ada urusan apa sampai engkau berani mengganggu kami?"

"Maaf, Pangcu. Kami mengadakan penjagaan di lereng dan bertemu dengan seorang gadis berpakaian merah yang menanyakan Pangcu dan minta bertemu dengan Pangcu. Karena itu, kami mengajaknya datang dan sekarang ia menanti di ruangan depan."

"Siapakah namanya dan apa keperluannya?"

"Ia tidak mengatakan keperluannya, hanya ingin bicara dengan Pangcu dan namanya Tan Sian Li..."

"Ahhh, ia Sian Li...!" seru Cu Kim Giok kaget, heran dan juga girang.

"Si Bangau Merah...!" seru pula Siangkoan Kok.

"Kalian sudah mengenalnya?" tanya Ouw Seng Bu dengan heran. "Siapakah gadis itu, Giok-moi?"

"Bu-koko, Tan Sian Li adalah puterinya Paman Tan Sin Hong," jawab Kim Giok. "Kami pernah saling bertemu dalam pesta ulang tahun Paman Suma Ceng Liong."

"Dialah Si Bangau Merah. Ayahnya adalah Pendekar Bangau Putih dan ibunya adalah keturunan keluarga Istana Gurun Pasir," kata pula Siangkoan Kok.

"Ahhh...!" Ouw Seng Bu terkejut sekali. "Ada keperluan apa ia datang ke sini? Aku tidak mengenalnya." Lalu kepada si kurus kering dia berkata, "Persilakan Nona Tan Sian Li untuk menunggu di ruangan tamu. Aku segera menemuinya di sana."

Setelah si kurus kering pergi, dia lalu menoleh kepada Kim Giok. "Giok-moi, engkau mengenalnya dengan baik. Apa yang harus kulakukan?"

"Terus terang aku agak khawatir, Koko, karena aku pernah mendengar bahwa Sian Li saling mencinta dengan Yo Han. Jangan-jangan ia datang untuk..."

Wajah Ouw Seng Bu berubah. "Ahh, kalau begitu kita harus membuat persiapan untuk mengatasinya. Ia merupakan ancaman bagi kita."

"Koko, harap engkau jangan mengganggu Sian Li. Kita harus mencari jalan agar ia tidak memusuhi kita, bahkan membujuknya agar membantu perjuangan kita," kata Kim Giok.

"Engkau benar, Giok-moi. Akan tetapi bagaimana kalau ia tidak mau dan malah hendak membalas dendam karena kematian Yo Han?"

"Kalau begitu, kita habisi gadis itu karena membahayakan kita!" kata Siangkoan Kok.

"Aku tidak setuju!" kata Cu Kim Giok tegas, "Aku tidak rela kalau ia dibunuh! Ia masih kerabat dekat orang tuaku. Tidak mungkin aku membiarkan orang membunuhnya!"

"Giok-moi, apakah engkau membiarkan dia membalas dendam atas kematian Yo Han dan menghancurkan Thian-li-pang kita? Apakah engkau rela kalau dia membunuhku? Kalau kita biarkan ia pergi, dan ia mengajak ayahnya dan semua keluarga menyerang, kita akan celaka. Keluarga Suling Emas dan Gurun Pasir merupakan kerabat dekat dan bagaimana kita dapat menanggulangi mereka yang memiliki banyak orang sakti?"

"Tidak, aku tak ingin ia membunuhmu, akan tetapi juga tak ingin engkau membunuhnya. Kita mencari jalan terbaik. Aku akan membujuknya supaya dia mau melihat kenyataan bahwa Yo Han tewas karena ulahnya sendiri dan agar ia tidak memusuhi kita."

"Andai kata usahamu itu gagal?"

"Kalau begitu, terserah, akan tetapi aku tetap melarang dia dibunuh."

"Baiklah, Giok-moi. Kalau dia berkeras kita tangkap dan tawan saja dia sebagai tamu, agar dia melihat sepak terjang kita dalam perjuangan."

Terdengar ketukan pada daun pintu diikuti suara si kurus kering tadi, "Lapor, Pangcu. Nona Tan sudah menanti di ruangan tamu."

"Baik, kami segera datang. Mari, Giok-moi!"

Siangkoan Kok tidak ikut serta. Kalau dia muncul di depan Si Bangau Merah, tentu akan mengejutkan gadis itu dan bisa mendatangkan kesan buruk pula karena mereka pernah bermusuhan dan bertanding.

Sian Li sudah menjadi tidak sabar akibat menanti terlalu lama, maka ketika mendengar langkah orang dari dalam, dia sudah bangkit berdiri. Dapat dibayangkan betapa heran hatinya ketika ia melihat bahwa yang muncul adalah seorang pemuda tampan bersama seorang gadis yang dikenalnya sebagai Cu Kim Giok! Akan tetapi, ia takut kalau salah lihat dan mungkin saja gadis itu orang lain yang hanya mirip Cu Kim Giok, maka dia pun diam saja, hanya memandang penuh perhatian.

"Sian Li...!" Cu Kim Giok yang berseru sambil menghampiri Si Bangau Merah. "Kiranya engkau!"

"Jadi benar engkau Cu Kim Giok? Kim Giok, bagaimana engkau dapat berada di sini?"

"Panjang ceritanya, Sian Li. Perkenalkan lebih dulu, ia ini adalah Ouw Seng Bu, pangcu dari Thian-li-pang. Silakan duduk!"

Sian Li masih keheranan, akan tetapi ia pun duduk berhadapan dengan mereka setelah membalas penghormatan Ouw Seng Bu kepadanya. Dia melihat pangcu yang masih muda itu bersikap sopan dan hormat sekali.

"Sungguh merupakan kehormatan besar menerima kunjunganmu ini, Nona. Bukankah Nona yang berjuluk Si Bangau Merah? Sudah lama kami mengenal nama besar Nona di dunia kang-ouw," kata Ouw Seng Bu.

"Ouw-pangcu, aku datang ke sini untuk mengajukan beberapa pertanyaan kepadamu. Kuharap engkau suka menjawab sejujurnya!"

"Sian Li, Ouw-pangcu adalah seorang pendekar gagah, seorang pahlawan bangsa yang sedang berjuang untuk menentang penjajah Mancu. Sudah tentu dia akan menjawab semua dengan sejujurnya," kata Cu Kim Giok.

"Kim Giok, aku berurusan dengan Ouw-pangcu, harap engkau tidak mencampuri," kata Sian Li.

Dia masih ragu dan heran melihat keakraban antara gadis itu dan ketua Thian-li-pang. Memang dia merasa ingin tahu sekali bagaimana Kim Giok dapat berada di situ, akan tetapi dia mengesampingkan keinginan tahu ini karena dia lebih mementingkan jawaban tentang Thian-li-pang, dan terutama tentang Yo Han seperti yang didengarnya dari para tosu Bu-tong-pai.

"Tanyalah, Nona. Saya akan menjawab sejujurnya," kata Ouw Seng Bu.

Sian Li berpikir, biar pun ia ingin sekali segera mendengar tentang Yo Han, akan tetapi ia ingin mengajukan pertanyaan secara teratur.

"Ouw-pangcu, aku mendengar berita bahwa Thian-li-pang sudah menaklukkan banyak partai persilatan dan memaksa para tokoh kang-ouw untuk mau bekerja sama dengan Thian-li-pang, bahkan Thian-li-pang bersekutu dengan perkumpulan-perkumpulan sesat seperti Pek-lian-kauw dan Pat-kwa-pai. Benarkah itu dan mengapa demikian! Setahuku, Thian-li-pang adalah perkumpulan pejuang yang gagah perkasa dan selalu menentang partai-partai sesat."

Ouw Seng Bu tersenyum. Sebelum pendekar wanita itu mengajukan pertanyaan, dia sudah dapat mengira apa yang akan dipertanyakan, maka dia pun tentu saja sudah siap dengan jawabannya.

"Itulah pertanyaanmu, Nona? Memang kami akui bahwa Thian-li-pang telah mengubah siasat. Kami yakin benar bahwa tanpa adanya persatuan, pengerahan seluruh tenaga yang ada di tanah air, mustahil akan dapat mengenyahkan penjajah Mancu dari tanah air kita. Karena itulah, maka kami memang membujuk, bahkan kalau perlu memaksa, menyadarkan semua pihak untuk mau bekerja sama dalam satu perjuangan menentang penjajah dan membebaskan bangsa dari belenggu penjajahan. Karena itu, kami tidak berpantang untuk bersekutu dengan pihak mana pun, termasuk dengan Pek-lian-kauw dan Pat-kwa-pai yang kami anggap sebagai rekan-rekan seperjuangan."

"Aku setuju sekali dengan tindakan itu, Sian Li," kata Kim Giok.

"Begitukah, Kim Giok? Sekarang pertanyaan ke dua. Aku juga mendengar bahwa para pimpinan Thian-li-pang, termasuk pangcu Lauw Kang Hui, sudah tewas dibunuh orang. Benarkah itu, dan kalau benar, apa yang terjadi dan siapa pelakunya?" Dengan jantung berdebar namun wajah tetap tenang, sepasang matanya mencorong mengamati wajah ketua Thian-li-pang itu, Sian Li menanti jawaban.

Ouw Seng Bu menghela napas panjang sebelum menjawab. "Pertanyaan ini sangat menyedihkan hati saya, akan tetapi selalu saja orang menanyakannya. Memang benar, Nona. Suhu Lauw Kang Hui, juga suci Lu Sek dan suheng Lauw Kin, susiok Su Kian dan susiok Thio Cu, mereka semua telah terbunuh. Bagaimana terjadinya, kami semua tidak mengetahui jelas. Yang kami tahu adalah bahwa mereka itu tewas dan dari tanda pukulan pada tubuh mereka, jelaslah bahwa pembunuhnya adalah Sin-ciang Taihiap Yo Han."

"Tidak mungkin!" Sian Li berteriak. "Sin-ciang Taihiap Yo Han adalah seorang pendekar besar, bahkan dia juga tokoh pimpinan dan kehormatan dari Thian-li-pang. Bagaimana mungkin dia membunuh para tokoh Thian-li-pang sendiri?"

"Kami sendiri memang merasa heran dan berduka, Nona. Dahulunya Sin-ciang Taihiap Yo Han merupakan pujaan kami semua, menjadi tokoh kami. Akan tetapi banyak sekali anggota Thian-li-pang yang menyaksikan kematian para tokoh kami itu dan jelas bahwa mereka pun melihat bekas pukulan pada tubuh mereka, pembunuhnya adalah Pendekar Tangan Sakti Yo Han."

"Hemmm, begitukah? Sekarang pertanyaan terakhir. Aku mendengar bahwa engkau, Ouw Seng Bu, sudah membunuh Sin-ciang Taihiap Yo Han. Benarkah hal itu?" berkata demikian, Sian Li bangkit berdiri, matanya mencorong dan suaranya terdengar lantang.

Ouw Seng Bu nampak tegang dan gelisah, lehernya basah oleh peluh. "Nona Tan Sian Li, sungguh hal ini amat menyedihkan. Entah apa yang telah terjadi pada diri Sin-ciang Taihiap karena dia sudah berubah sama sekali. Dia datang dan menyerang saya ketika saya berada di dekat sumur keramat di belakang bukit. Saya terkena pukulannya yang ampuh sehingga hampir saja saya tewas. Akan tetapi, para saudara di Thian-li-pang membela saya dan akhirnya Yo Taihiap tergelincir ke dalam sumur tua itu. Karena kami semua takut kepadanya yang seakan-akan sudah berubah menjadi seorang yang kejam dan hendak membunuhi kami, terpaksa kami gunakan batu-batu untuk menutup sumur itu."

"Tidak...! Bohong...! Aku tidak percaya! Kau kira aku tidak mengenal siapa Yo Han? Dia adalah kakak angkatku, suheng-ku, dan orang yang paling kucinta di dunia ini. Aku amat mengenalnya dan tidak mungkin dia melakukan semua itu. Bohong!"

"Maaf, Sian Li," kata Cu Kim Giok. "Terpaksa sekali ini aku turut mencampuri. Aku yang menanggung bahwa keterangan Ouw pangcu tadi benar semua, sebab aku sendiri yang menjadi saksi. Aku yang mengobati luka yang diderita oleh Ouw-pangcu akibat pukulan Yo Han! Dia terluka parah dan hampir saja tewas, bagaimana engkau mengatakan dia berbohong?"

"Aku tidak mengerti kenapa orang seperti engkau dapat berada di sini dan membela ketua Thian-li-pang yang baru ini, Kim Giok, akan tetapi aku tidak peduli. Siapa pun yang mengatakan bahwa Yo Han melakukan itu semua, aku tetap tidak percaya kalau tidak melihat buktinya. Ouw Seng Bu, bawa aku ke tempat sumur itu, di mana tadi kau katakan Yo Han tergelincir masuk!"

Ouw Seng Bu menghela napas panjang. "Sungguh, ini merupakan masalah yang selalu membuat kami semua sangat berduka, Nona. Akan tetapi kalau itu yang kau kehendaki, marilah!"

Tanpa banyak cakap lagi, Sian Li mengikuti Ouw Seng Bu dan Cu Kim Giok keluar dari ruangan tamu itu dan menuju ke bagian belakang perkampungan Thian-li-pang, melalui sebuah bukit kecil. Dia tidak peduli ketika melihat puluhan orang anggota Thian-li-pang mengikuti mereka dari jarak jauh.

Setelah tiba di sumur yang dimaksudkan, Ouw Seng Bu berhenti dan menunjuk ke arah sumur itu. "Di situlah dia tergelincir masuk, Nona."

Mendengar bahwa kekasihnya tergelincir ke dalam sumur tua itu dan sudah ditimbuni oleh batu-batu, Sian Li merasa jantungnya seperti diremas dan kedua kakinya menjadi limbung ketika dengan terhuyung ia menghampiri sumur itu. Ketika ia tiba di tepi sumur dan melongok ke dalam, ingin rasanya dia menjerit melihat betapa seluruh sumur telah tertutup batu. Memang tidak penuh sekali, akan tetapi dasarnya tidak nampak karena tertutup batu-batuan.

Wajah Sian Li menjadi pucat. Matanya mencorong, akan tetapi basah air mata ketika ia membalikkan tubuh. Ia melihat bahwa Seng Bu masih berdiri tegak dan di belakangnya nampak puluhan orang anak buah Thian-li-pang. Kim Giok berdiri di samping Ouw Seng Bu dan kelihatan bingung dan gelisah.

"Ouw Seng Bu, cepat perintahkan anak buahmu untuk menggali sumur ini, mengangkat semua batu yang telah ditimbunkan ke dalamnya!"

"Aih, Nona, bagaimana mungkin? Sumur ini merupakan sumur keramat bagi kami orang Thian-li-pang..."

“Aku tidak peduli! Batu-batu itu tadinya dilemparkan ke dalam sumur oleh orang-orang Thian-li-pang, maka mereka pulalah yang harus mengangkatnya dari dalam sumur. Aku ingin melihat bukti dari keteranganmu tadi. Aku ingin melihat... mayat... Han-koko. Kalau engkau tak mau menuruti permintaanku, berarti engkau membohongi aku, dan aku akan membunuhmu!"

"Sian Li, kuharap engkau jangan bersikap seperti ini. Percayalah, kami tidak berbohong. Lebih baik kita sekarang mengerahkan tenaga kita untuk membebaskan bangsa ini dari cengkeraman penjajah, itu lebih mulia dari pada kita saling bentrok sendiri. Tidak ada yang membohongimu, Sian Li. Agaknya telah terjadi sesuatu sehingga Yo Han menjadi berubah..."

"Tutup mulutmu, Kim Giok! Han-koko selamanya tidak berubah. Dia seorang pendekar dan orang gagah sejati. Sedangkan Ouw Seng Bu ini orang macam apa? Kita tidak mengenal dia dengan baik, siapa tahu semua ini hanya akal busuknya saja. Buktinya, dia telah bersekongkol dengan golongan sesat!"

Pada saat itu terdengar seruan keras dan para anggota Thian-li-pang otomatis membuat gerakan mengepung sumur tua itu sehingga dengan sendirinya Sian Li juga berada di dalam kepungan! Dan dari rombongan itu muncullah Siangkoan Kok bersama dua orang berjubah pendeta yang bukan lain adalah Im Yang Ji tokoh Pat-kwa-pai dan Kui Thiancu tokoh Pek-lian-kauw.

Ouw Seng Bu kini melangkah maju dengan sikapnya yang gagah. Dengan suara yang dibuat menyesal dia berkata, "Nona, semua ini adalah kesalahanmu sendiri. Engkau tak percaya kepada kami dan hendak membongkar sumur keramat ini, berarti engkau telah menghina Thian-li-pang. Karena kami sedang menghimpun tenaga untuk perjuangan, maka sikapmu yang bermusuhan ini tentu saja akan membahayakan kami, misalnya engkau melapor kepada pemerintah penjajah. Karena itu, menyerahlah, terpaksa kami akan menawanmu."

"Singgg...!” Nampak sinar emas mencorong dan di tangan gadis berpakaian merah itu telah terdapat sebatang suling berselaput emas yang panjangnya seperti pedang.

"Hemmm, dari sikapmu ini saja sudah menunjukkan dengan jelas bahwa engkau sudah berbohong! Aku yakin bahwa engkau memutar balik kenyataan. Han-koko belum tewas, atau andai kata dia tewas pun tentu engkau sengaja menjebaknya! Aku yakin akan hal itu. Kini engkau hendak menawanku dan menyuruh aku menyerah? Jangan bermimpi! Si Bangau Merah tak mengenal kata menyerah. Sekarang kalian hendak mengandalkan pengeroyokan? Boleh, boleh! Kulihat bekas ketua Pao-beng-pai, Siangkoan Kok, sudah berada pula di sini dan dua orang tosu ini tentu juga merupakan orang-orang sesat!"

"Tangkap gadis sombong ini!" Ouw Seng Bu membentak.

Siangkoan Kok, dua orang tosu Pat-kwa-pai dan Pek-lian-kauw, segera menggerakkan senjata mereka. Ouw Seng Bu sendiri juga ikut menerjang maju dengan tangan kosong. Para anggota Thian-li-pang mengepung ketat.

Menghadapi para pengeroyok yang mulai menyerangnya, Sian Li memutar sulingnya hingga nampaklah gulungan sinar emas menyambar-nyambar di antara berkelebatnya bayangan merah. Gerakan gadis ini cepat bukan main, juga amat indah. Gulungan sinar emas itu mengandung tenaga kuat sehingga dalam beberapa gebrakan saja, beberapa batang senjata anak buah Thian-li-pang terlepas dari pegangan, bahkan dua orang anggota perkumpulan itu roboh terkena sambaran sinar suling emas.

"Semua mundur, biarkan kami saja yang menghadapinya!" bentak Ouw Seng Bu yang maklum akan kelihaian Si Bangau Merah itu.

Para anggota Thian-li-pang yang memang sudah merasa jeri segera mengendurkan pengepungan. Sekarang yang menghadapi Sian Li hanya tinggal empat orang, yaitu Siangkoan Kok, Im Yang Ji, Kui Thiancu dan Ouw Seng Bu sendiri.

Cu Kim Giok masih belum bergerak. Ia hanya menonton tiga orang sekutunya yang kini mulai menggerakkan senjata masing-masing menyerang gadis berpakaian merah yang memegang suling emas itu. Agaknya, Ouw Seng Bu masih tak percaya kalau tiga orang sekutunya yang merupakan tokoh-tokoh kang-ouw yang sangat tangguh itu tidak akan mampu menundukkan Sian Li.

"Bu-koko, engkau tidak boleh membunuhnya. Aku akan marah sekali kepadamu kalau engkau membunuhnya."

"Giok-moi, dia berbahaya sekali. Kalau sampai lolos, dia tentu akan melapor kepada pemerintah dan jika pasukan besar pemerintah datang menyerbu, kita masih belum siap menghadapi mereka."

"Tangkap saja, tawan saja akan tetapi jangan dibunuh. Aku tidak rela kalau ia dibunuh. Kita adalah pejuang-pejuang, tidak akan membunuhi kaum pendekar, Koko!"

Ouw Seng Bu mengangguk. Dia pun maklum bahwa membunuh Si Bangau Merah akan mendatangkan akibat yang amat berbahaya. Jika sampai Pendekar Sakti Bangau Putih mendengar bahwa puterinya terbunuh oleh Thian-li-pang, dan kemudian pendekar sakti itu mengerahkan kekuatan keluarga Pulau Es beserta Gurun Pasir, bagaimana mungkin Thian-li-pang akan kuat bertahan?

"Paman Siangkoan Kok dan kedua Totiang, tangkap saja Si Bangau Merah ini, jangan dibunuh dan jangan dilukai. Kami hanya ingin menawannya," serunya kepada tiga orang sekutunya.

Mendengar seruan ketua Thian-li-pang itu, tiga orang tokoh yang mengeroyok Sian Li mengubah gerakan mereka. Siangkoan Kok mempergunakan pedangnya hanya untuk menangkis suling emas di tangan gadis itu, sedangkan serangan dilakukan oleh tangan kirinya, dengan cengkeraman, tamparan atau totokan.

Demikian pula dengan dua orang tosu pengeroyok. Im Yang Ji, tokoh dari Pat-kwa-pai memutar pedang hanya untuk mengurung gadis itu dengan sinar pedangnya dan yang menyerang adalah tangan kirinya dengan ilmu totokan yang ampuh dari Pat-kwa-pai, dengan gerakan ilmu silat Pat-kwa-kun.

Juga Kui Thiancu, tokoh Pek-lian-kauw yang menyerang dengan ujung lengan bajunya yang kiri, menotok untuk merobohkan Sian Li, sedangkan pedangnya juga hanya untuk membendung gerakan suling emas yang dahsyat itu.

Kalau dibuat perbandingan, tingkat kepandaian Sian Li masih lebih tinggi dari pada tingkat kepandaian tokoh Pat-kwa-pai atau tokoh Pek-lian-kauw itu. Akan tetapi, bagai mana pun gadis yang usianya belum genap dua puluh tahun itu masih ketinggalan kalau dibandingkan dengan kepandaian Siangkoan Kok, datuk sesat yang mempunyai banyak pengalaman itu.

Menghadapi pengeroyokan tiga orang tokoh itu, tentu saja Sian Li merasa berat sekali. Dalam beberapa gebrakan saja dia sudah merasa betapa tangannya yang memegang suling tergetar hebat. Dia pasti tidak akan mampu bertahan terlalu lama kalau tiga orang pengeroyoknya itu menyerang dengan sungguh-sungguh.

Akan tetapi ketika Ouw Seng Bu mencegah mereka agar tidak membunuhnya, maka hal itu membuat Sian Li mampu bertahan lebih baik. Bahkan beberapa kali sambaran sinar sulingnya hampir saja mengenai tubuh lawan.

Pada waktu melihat betapa tiga orang sekutunya yang biasanya dapat diandalkan untuk menundukkan tokoh-tokoh kang-ouw yang tidak mau bekerja sama itu sampai sekian lamanya belum juga mampu menundukkan Si Bangau Merah, Ouw Seng Bu menjadi tidak sabar lagi. Dia melompat ke dalam medan perkelahian itu.

"Bu-koko, jangan bunuh atau lukai Sian Li!" Cu Kim Giok berteriak.

Ouw Seng Bu juga tidak bodoh untuk membunuh seorang tokoh semacam Si Bangau Merah, apa lagi bila Cu Kim Giok yang dicintanya itu melarangnya. Dia sudah meloncat dan mengeluarkan ilmunya yang aneh, yaitu Bu-kek Hoat-keng yang salah latihan. Akan tetapi dia menjaga supaya tangannya yang mengandung racun ampuh itu tidak sampai membunuh gadis yang diserangnya.

Ketika ada angin pukulan yang amat dingin datang menerpanya, Sian Li yang memang sudah terdesak, terkejut bukan main. Ia mengenal pukulan ampuh, dan untuk meloncat menghindar, tak ada jalan lagi. Senjata tiga orang pengeroyoknya yang terdahulu sudah menutup semua jalan keluar dengan sinar pedang mereka. Terpaksa dia mengerahkan sinkang dan menyambut pukulan itu.

"Desss...!"

Sian Li terhuyung dan kesempatan itu dipergunakan Siangkoan Kok untuk melancarkan totokan jari tangannya sehingga tubuh Sian Li yang terhuyung itu nyaris terkena totokan. Gadis yang memiliki ginkang luar biasa ini cepat-cepat memutar sulingnya dan tubuh itu mencelat ke samping. Dalam keadaan yang amat gawat itu ia masih dapat menghindar dari totokan! Akan tetapi, kini empat orang lihai itu sudah mengepungnya.

Pada saat yang amat gawat bagi Sian Li itu muncullah dua orang yang tanpa banyak cakap lagi segera terjun ke dalam perkelahian itu. Mereka itu adalah seorang pemuda dan seorang gadis cantik yang bukan lain adalah Pangeran Cia Sun dan Sim Hui Eng, atau tadinya bernama Siangkoan Eng!

Seperti kita ketahui, Pangeran Cia Sun ditawan oleh Sim Hui Eng yang mengira bahwa pangeran itu yang sudah menyebabkan kematian ibunya dan kehancuran Pao-beng-pai. Kemudian pangeran itu membuka rahasia Hui Eng sehingga gadis itu pun mengetahui bahwa ia bukanlah puteri Siangkoan Kok, bukan pula puteri mendiang Lauw Cu Si yang selama ini dianggapnya sebagai ibu kandungnya. Dalam pertemuan itu, mereka bahkan saling menemukan cinta mereka. Akhirnya Cia Sun mengajak Hui Eng untuk menemui orang tua kandungnya yang asli, yaitu pendekar sakti Sim Houw dan Can Bi Lan.

Di dalam perjalanan, mereka mendengar tentang sepak terjang Thian-li-pang yang telah menaklukkan banyak tokoh dan perkumpulan kang-ouw. Hal ini tentu saja menimbulkan kecurigaan di hati Cia Sun.

Dia sudah menjadi saudara angkat Yo Han. Dia tahu pula bahwa Thian-li-pang adalah sebuah perkumpulan pejuang, perkumpulan para pendekar gagah perkasa yang sedang berjuang bagi kemerdekaan tanah air dan bangsanya. Bahkan saudara angkatnya itu, Si Tangan Sakti Yo Han, menjadi ketua kehormatan perkumpulan itu.

Akan tetapi, apa yang didengarnya sekarang? Perkumpulan itu memaksa para tokoh kang-ouw untuk tunduk, bahkan juga terdengar bahwa para anggota perkumpulan itu tidak segan melakukan kejahatan.

"Aku harus datang ke sana, aku harus menegur kakakku Yo Han!" kata pangeran itu.

Sim Hui Eng siap membantu kekasihnya untuk menegur Yo Han supaya menghentikan sepak terjang Thian-li-pang yang tidak baik itu. Demikianlah, mereka lalu membelokkan perjalanan dan menuju ke Bukit Naga, pusat perkumpulan Thian-li-pang.

Ketika tiba di tempat itu dan melihat Sian Li tengah dikeroyok oleh empat orang, Sim Hui Eng berkata kepada pangeran Cia Sun, "Koko, itu Si Bangau Merah Tan Sian Li yang dikeroyok!"

Cia Sun memandang dan merasa kagum. Gadis berpakaian serba merah itu memang lihai bukan main. Begitu gagah dia memainkan suling emasnya, dan gadis itulah yang dijodohkan dengan dia! Jika saja tidak ada Sim Hui Eng yang dicinta dan mencintanya, tentu akan berubah sikapnya terhadap pilihan orang tuanya itu. Akan tetapi dia mencinta Sim Hui Eng, dan tidak ada seorang bidadari pun yang akan mampu memisahkan dia dan Hui Eng.

"Kalau begitu, kita harus membantunya."

"Benar, kita harus membantunya. Lihatlah, para pengepungnya itu lihai, bahkan bekas ayahku yang jahat itu pun ikut mengeroyoknya."

Dengan kemarahan meluap karena teringat akan perbuatan Siangkoan Kok yang amat jahat, karena terbayang kembali betapa ia dihajar dan hampir dibunuh oleh bekas ketua Pao-beng-pai itu, serta apa yang dilakukan orang yang bertahun-tahun ia anggap ayah kandungnya itu terhadap Tio Sui Lan, muridnya sendiri, membuat ia marah dan ketika ia melompat dan menerjang ke arah Siangkoan Kok, serangannya dahsyat bukan main. Pedang di tangan kanannya dan kebutan di tangan kirinya menyambar dahsyat dengan jarum-jarum maut!

"Ehhh... kau...!??" Siangkoan Kok terkejut bukan main ketika mengenal penyerangnya.

Akan tetapi, Hui Eng tidak memberi dia banyak kesempatan. Gadis itu telah menyerang terus, membuat Siangkoan Kok terpaksa melayaninya dengan sungguh-sungguh karena dia maklum bahwa tingkat kepandaian bekas puterinya ini sudah mencapai tingkat tinggi dan tidak banyak selisihnya dengan tingkat kepandaiannya sendiri. Ada pun Cia Sun sudah memutar pedangnya pula membantu Sian Li sehingga Si Bangau Merah itu kini mendapat keringanan, tidak lagi terdesak seperti tadi.

Sian Li sendiri terkejut dan heran melihat Sim Hui Eng. Ia masih mengenal gadis itu sebagai gadis Pao-beng-pai yang pernah datang mengacau dalam pesta keluarga di rumah pendekar Suma Ceng Liong. Dan kini gadis itu membantunya, bahkan bertanding seru melawan bekas ketua Pao-beng-pai sendiri!

Juga ia tak mengenal siapa pemuda bertubuh tegap bermuka bundar putih dan tampan itu, yang datang membantunya pula. Akan tetapi Si Bangau Merah segera bisa melihat kenyataan bahwa biar pun bantuan mereka berdua itu telah menolongnya dari himpitan para pengeroyoknya, akan tetapi tingkat kepandaian mereka belum cukup tinggi untuk mampu merebut kemenangan dari para pimpinan Thian-li-pang.

"Bu-koko, jangan bunuh mereka! Jangan!" kembali Cu Kini Giok berseru.

Melihat kesempatan setelah ia tidak lagi begitu terhimpit berkat pertolongan kedua orang itu, Sian Li segera memutar sulingnya dan berkata, "Sobat, mari kita pergi!"

Ia memutar sulingnya dengan ilmu silat Kim-siauw Kiam-sut (Ilmu Pedang Suling Emas) dan tangan kirinya masih meluncurkan pukulan jarak jauh sehingga dua orang tosu dari Pat-kwa-pai dan Pek-lian-kauw terpaksa harus mundur.

Cia Sun maklum bahwa kalau Si Bangau Merah berteriak mengajak mereka pergi, hal itu tentu berarti bahwa pihak musuh terlampau kuat. Maka dia pun berseru, "Eng-moi, kita pergi!"

Tiga orang muda itu berloncatan dengan cepat untuk melarikan diri. Ketika Ouw Seng Bu hendak mengejar, Kim Giok berseru, "Koko, jangan kejar mereka!"

Ouw Seng Bu meragu dan hal ini menguntungkan Sian Li, Cia Sun dan Hui Eng. Kecuali Ouw Seng Bu dan Siangkoan Kok, tidak ada yang akan mampu menahan mereka pergi. Dan agaknya, oleh karena Ouw Seng Bu ragu-ragu untuk melakukan pengejaran akibat pencegahan Cu Kim Giok, maka Siangkoan Kok juga jeri untuk melakukan pengejaran sendiri.

Semua keraguan ini membuat Sian Li, Cia Sun dan Hui Eng dapat berlari cepat, pergi meninggalkan sarang Thian-li-pang…..


Pilih JilidJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner