SI TANGAN SAKTI : JILID-23


Melihat keadaan Si Bangau Merah itu, Hui Eng bertanya kepada Cu Kim Giok dengan suara yang tegas.

"Cu Kim Giok, katakan terus terang, demi nama baik nenek moyangmu yang terkenal sebagai pendekar-pendekar besar Lembah Naga Siluman, apa engkau melihat sendiri kematian Yo Han itu?"

Kini Cu Kim Giok memandang kepada Hui Eng dengan alis berkerut, "Hemmm, tidak perlu aku menjawab pertanyaanmu. Engkau sendiri adalah puteri ketua Pao-beng-pai yang pernah mengacau dan memusuhi keluarga besar kami, bahkan kemudian menurut ayahmu, engkau menjadi seorang pengkhianat dan anak yang durhaka. Aku mau bicara dengan Tan Sian Li, bukan denganmu!"

"Kim Giok, engkau tidak tahu dengan siapa engkau bicara. Ketahuilah bahwa enci Eng ini adalah Sim Hui Eng, puteri Paman Sim Houw yang hilang itu dan sekarang dia telah mengetahui siapa dirinya."

"Ahhh...! " Cu Kim Giok terkejut. "Kalau... kalau begitu, kalian berdua harus mau bekerja sama, aku tidak ingin melihat kalian celaka. Aku mohon kepada kalian, terimalah uluran tangan Ouw Pangcu untuk bekerja sama dan berjuang, atau setidaknya, kalian jangan memusuhi kami. Kalau kalian berdua mau berjanji di depan pangcu, maka aku yang akan menanggung..."

"Sudahlah, Kim Giok. Sebaiknya kau jawab saja pertanyaan enci Hui Eng tadi. Apakah engkau melihat sendiri tewasnya Han-koko di sumur tua itu?" tanya Sian Li tak sabar.

"Pada saat Yo Han datang, aku memang melihatnya, bahkan kami berkenalan. Dia pun bicara dengan baik-baik kepada Ouw-pangcu, kemudian dia bicara empat mata dengan Ouw-pangcu. Aku tidak tahu apa yang terjadi, akan tetapi tahu-tahu aku mendapatkan Ouw-pangcu sudah terluka parah terkena pukulan di dadanya, sedangkan para anggota Thian-li-pang melempar-lemparkan batu ke dalam sumur tua. Barulah aku tahu bahwa Ouw-pangcu hampir dibunuh oleh Yo Han dan karena bantuan para anak buah, Yo Han dapat didesak dan terjerumus ke dalam sumur. Para anggota Thian-li-pang menimbuni sumur itu dengan batu karena maklum bahwa kalau Yo Han dapat keluar, tentu akan mengamuk dan semua orang dibunuhi."

Keterangan bahwa Kim Giok tidak melihat sendiri kematian Yo Han, membuat hati Sian Li merasa lega kembali. Ia tetap tidak percaya bahwa Yo Han telah tewas. Lebih tidak percaya lagi bahwa Yo Han telah membunuh para pimpinan Thian-li-pang dan berusaha membunuh Ouw Seng Bu. Ia mengenal pria yang dikasihinya itu.

Yo Han tidak mau membunuh orang, apa lagi para pimpinan Thian-li-pang di mana dia menjadi ketua kehormatan. Tidak masuk di akal semua berita itu, walau pun ia percaya bahwa puteri Lembah Naga Siluman ini tidak bohong. Tentu gadis ini telah dipengaruhi Ouw Seng Bu dan tertipu!

Pada saat itu ada dua orang pengawal masuk dan berkata kepada Cu Kim Giok dengan sikap hormat, "Nona, pangcu minta agar Nona suka menemuinya di ruangan dalam."

Sikap dan ucapan penjaga itu saja sudah membuktikan bahwa ketua baru Thian-li-pang amat menghormati gadis itu. Ia bukan dipanggil, melainkan diminta!

Cu Kim Giok menoleh kepada dua orang gadis tawanan, kemudian pergi meninggalkan tempat tahanan itu, diikuti dua orang penjaga dengan sikap hormat. Setibanya di ruang dalam, Ouw Seng Bu sudah menyambutnya dan kedua orang penjaga itu pun segera mengundurkan diri.

"Ada urusan apakah, Bu-Ko?" tanya Kim Giok.

"Giok-moi, ada lagi orang-orang yang menyelidiki tempat kita tetapi kini mereka telah tertangkap."

"Siapakah mereka?" Kim Giok mengerutkan alisnya.

Di dalam hatinya ia merasa tidak setuju kalau Thian-li-pang menangkapi orang, apa lagi kalau mereka yang ditawan itu tokoh-tokoh pendekar seperti Sian Li dan Hui Eng. Kalau sampai Thian-li-pang memusuhi para pendekar dan perkumpulan para pendekar dunia persilatan, hal itu sungguh tidak baik dan tidak benar. Seluruh keluarganya tentu akan marah dan menyalahkan dia membantu perkumpulan yang memusuhi dunia persilatan dan menawan para pendekar.

"Lima di antara mereka adalah para tosu Bu-tong-pai yang tempo hari, dan dua yang lain adalah seorang pemuda dan seorang gadis. Bagaimana dengan hasil pembicaraan dengan Si Bangau Merah dan puteri Paman Siangkoan Kok tadi?"

Kim Giok mengerutkan alisnya. "Mereka masih belum mau berbaik, dan puteri Paman Siangkoan Kok itu ternyata adalah puterinya Paman Sim Houw yang dulu hilang dicullik orang ketika masih kecil. Hal ini menambah gawat keadaan, Koko, karena Paman Sim Houw adalah Pendekar Suling Naga yang sakti, pendekar besar dan tokoh di Lok-yang. Kalau ayah Sian Li, Pendekar Bangau putih dan Pendekar Suling Naga mengetahui puteri mereka ditawan di sini, lalu memusuhi kita, sungguh amat berbahaya bagimu, Koko. Lalu siapa pula dua orang pemuda dan gadis yang tertawan bersama lima orang tosu Bu-tong-pai itu?"

Ouw Seng Bu kelihatan muram dan berduka. "Giok-moi, sesungguhnya engkau sendiri pun tahu bahwa aku tidak pernah mencari perkara dan tidak pernah memusuhi mereka. Adalah mereka sendiri yang datang memusuhi Thian-li-pang. Aku pun merasa heran mengapa para pendekar itu tidak mau menyadari dan mereka bahkan berpihak kepada kerajaan Mancu, penjajah yang mencengkeram tanah air dan bangsa? Nah, cobalah engkau temui dua orang muda itu dan syukur kalau dapat membujuk mereka dan lima orang tosu itu, menyadarkan mereka akan pentingnya persatuan antara kita untuk dapat membebaskan rakyat dari cengkeraman penjajah."

Kim Giok merasa lemas karena pekerjaan membujuk ini merupakan pekerjaan yang sangat berat baginya. Akan tetapi, ia yakin bahwa kekasihnya benar, maka ia pun siap untuk membelanya.

Bagaimana lima orang Bu-tong-pai dan dua orang muda itu dapat tertawan? Seperti kita ketahui, Gak Ciang Hun, Gan Bi Kim dan lima orang tosu itu mendaki Bukit Naga untuk melakukan penyelidikan terhadap Thian-li-pang karena dicurigai kebersihannya. Mereka tidak menyadari bahwa gerak-gerik mereka telah diikuti oleh para anggota Thian-li-pang. Seorang di antara para anggota itu melapor kepada Seng Bu yang segera ditemani Siangkoan Kok, Im Yang Ji dan Kui Thiancu, juga beberapa orang tokoh sesat lain yang telah bergabung, menyambut rombongan yang mendaki bukit itu.

Sebelum sampai di perkampungan Thian-li-pang, Gak Ciang Hun dan kawan-kawannya secara tiba-tiba saja sudah dikepung oleh puluhan orang Thian-li-pang sehingga mereka berhadapan dengan Ouw Seng Bu dan kawan-kawannya.

Dengan sikap hormat Seng Bu mengangkat tangan memberi hormat kepada lima orang tosu dan dua orang muda itu. "Selamat pagi Ngo-wi Totiang dan kalian berdua sobat muda. Tidak tahu, entah angin baik apa yang meniup kalian datang ke sini. Kami harap saja Ngo-wi Totiang sudah menyadari bahwa akhirnya kita semua, tanpa peduli dari golongan apa, mempunyai tekad yang sama, yaitu bersatu padu menghadapi penjajah Mancu dan mengusir mereka dari tanah air kita."

Thian Tocu, tokoh Bu-tong-pai yang menjadi pemimpin rombongan tokoh Bu-tong-pai yang lima orang itu, membalas penghormatan Ouw Seng Bu dan berkata dengan sikap dan suara yang amat dingin, "Ouw-pangcu, kami berlima datang kembali bukan dengan maksud untuk menyerah, walau pun kami mengakui bahwa kami sudah kau kalahkan dalam pertandingan. Kami bertemu dengan dua orang sahabat muda ini dan kami ingin menemani mereka untuk berkunjung ke Thian-li-pang. Ketahuilah bahwa saudara muda ini adalah saudara Gak Ciang Hun, putera dari mendiang Beng-san Siang-eng, dan ini adalah nona Gan Bi Kim."

"Ahhh, kiranya Gak-enghiong yang datang berkunjung. Kami dari Thian-li-pang merasa mendapat kehormatan besar sekali dengan kunjungan Gak-enghiong dan nona Bi Kim. Kami memang sedang menghimpun tenaga dari seluruh penjuru tanah air untuk segera mengadakan persiapan menyerang penjajah Mancu dan mengusirnya. Kami mendengar bahwa keluarga Gak dari Beng-san adalah pendekar-pendekar dan pahlawan-pahlawan besar dan gagah yang tentu saja akan suka bekerja sama dengan kami untuk mengusir penjajah Mancu."

Gak Ciang Hun sudah mendengar dari para tosu Bu-tong-pai betapa cerdik dan liciknya ketua baru Thian-li-pang itu. Kini begitu bertemu, ketua itu ternyata telah menunjukkan dua macam kelihaiannya.

Pertama, dia serombongannya mendadak saja sudah dikepung, ini berarti bahwa sejak mendaki bukit, mereka telah diketahui dan dibayangi. Dan ke dua, begitu bertemu, ketua itu sudah bersikap demikian ramah dan hormat sehingga dia sendiri andai kata belum mendengar dari para tosu, tentu akan terpikat hatinya oleh keramahan pemuda tampan itu.

Akan tetapi karena sebelumnya dia sudah mendengar bahwa pemuda ini seorang yang palsu dan dikabarkan telah membunuh Yo Han, dia pun menyambut dingin saja.

"Pangcu, kami sengaja datang ke Thian-li-pang dengan tujuan untuk mencari nona Tan Sian Li. Apakah ia berada di sini?"

"Ahh, apakah kau maksudkan Si Bangau Merah? Benar, ia berada di sini, menjadi tamu kehormatan kami. Ia sudah menyatakan setuju untuk membantu kami, untuk bekerja sama menentang penjajah Mancu. Kalau Gak-enghiong ingin bertemu dengannya, mari, silakan masuk ke perkampungan kami!" kata Seng Bu dengan wajah cerah berseri.

Mendengar jawaban ini, Gak Ciang Hun dan Gan Bi Kim tercengang. Jawaban yang tidak mereka sangka-sangka sama sekali dan mereka berdua sudah merasa gembira.

Akan tetapi, Thian Tocu, tosu Bu-tong-pai itu sudah berkata dengan suara lantang.

"Ouw-pangcu, tidak perlu engkau membohongi Gan-taihiap dan kami. Kami sama sekali tidak percaya bahwa nona Tan Sian Li mau bekerja sama denganmu. Kami pun sudah berjumpa dengannya dan mendengar bahwa engkau telah membunuh Sin-ciang Taihiap Yo Han, bagaimana mungkin ia mau bekerja sama denganmu? Kalau kau mengatakan bahwa engkau telah menjebaknya dan menawannya, kami akan lebih percaya!"

Wajah Seng Bu berubah merah dan matanya kini mencorong memandang kepada tosu Bu-tong-pai itu. Dia merasa heran bagaimana tosu ini dapat sembuh demikian cepatnya, padahal dia tahu benar bahwa tosu ini sudah terkena tangan beracun sehingga terluka parah.

"Totiang, kalau pihakmu hendak menjadi antek penjajah Mancu dan tidak mau bekerja sama dengan kami para pejuang patriot bangsa, itu urusanmu. Akan tetapi tidak perlu banyak mulut di sini. Kami pernah mengampuni kalian dan membiarkan kalian pergi. Apakah kini kalian minta mati?"

Perubahan sikap ketua Thian-li-pang ini membuat Gak Ciang Hun yang tadinya tertarik, menjadi terkejut dan tidak senang. Sikap ketua Thian-li-pang itu sangatlah aneh. Baru saja wajahnya nampak tampan dan ramah ceria, akan tetapi sekarang kelihatan begitu bengis, dingin dan sadis. Bahkan sepasang matanya yang mencorong itu mengandung nafsu membunuh yang mengerikan.

"Ouw-pangcu, agaknya membunuh merupakan pekerjaan biasa bagimu dan mungkin menjadi kegemaranmu. Kalau memang engkau merasa sebagai seorang yang gagah, jangan menyangkal perbuatanmu sendiri dan akui sajalah apa yang telah terjadi dengan nona Tan Sian Li. Kecuali jika engkau memang pengecut, tidak berani mempertanggung jawabkan perbuatanmu..."

"Tutup mulutmu, tosu jahanam!" Seng Bu membentak.

Seng Bu sudah menggerakkan tangannya. Dia menampar ke arah Thian Tocu sambil mengerahkan ilmunya yang sangat dahsyat. Hawa beracun yang amat kuat menyambar ke arah tosu Bu-tong-pai itu.

Melihat hal ini, Gak Ciang Hun yang mengenal pukulan ampuh, meloncat ke depan dan menangkis dari samping untuk menolong tosu itu.

"Dukkk...!"

Mendapat tangkisan ini, Seng Bu mengeluarkan seruan kaget. Dia mundur dua langkah, akan tetapi Gak Ciang Hun lebih terkejut lagi karena dia sempat terhuyung! Padahal, putera pendekar kembar Gak ini memiliki tenaga sinkang yang amat kuat, sebab pernah menerima pemindahan tenaga sinkang dari kakeknya, mendiang Bun-beng Lo-jin Gak Bun Beng! Tetapi, ketika menangkis, dia merasa betapa dari tangan ketua Thian-li-pang itu menyambar hawa dingin yang aneh sekali, yang membuat dia sampai terhuyung.

"Pangcu dari Thian-li-pang, kalau memang ucapan Thian Tocu Totiang tadi tidak benar, engkau berhak menyangkal, akan tetapi jika benar, memang sudah sepatutnya engkau berterus terang, bukan malah lalu menyerang seperti yang kau lakukan tadi!" Ciang Hun menegur.

Senyum iblis muncul di mulut Ouw Seng Bu. "He-he-he, kami hendak menerima kalian sebagai sahabat, akan tetapi kalau kalian menghendaki kekerasan baiklah. Seperti yang kami lakukan terhadap Si Bangau Merah, kami menawarkan persahabatan dan kerja sama, akan tetapi kalau kalian menolak dan bersikap memusuhi kami, terpaksa kami harus menawan kalian seperti yang telah kami lakukan terhadap Si Bangau Merah!"

Mendengar ini, Ciang Hun lalu mengerutkan alisnya. "Pangcu, kami tidak menghendaki persahabatan, juga tidak mencari permusuhan. Akan tetapi bila engkau telah menawan nona Tan Sian Li, kami menuntut agar engkau suka membebaskannya sekarang juga.”

"Heh-heh-heh, bagaimana kalau kami tidak mau membebaskannya?"

"Ouw Seng Bu, kalau engkau tidak mau membebaskan Tan Lihiap, kami akan mengadu nyawa denganmu!" bentak Thian Tocu marah. Lima orang tosu Bu-tong-pai itu sudah mencabut pedang mereka masing-masing, siap bertanding mati-matian untuk menolong Si Bangau Merah.

"Ouw-pangcu, kami harap engkau suka membebaskan nona Tan Sian Li, supaya kami tidak harus menggunakan kekerasan."

Siangkoan Kok yang sejak tadi mendengarkan saja, kini menjadi tidak sabar. "Pangcu, serahkan saja kepadaku untuk menelikung pemuda sombong ini!"

"Dan lima orang tosu Bu-tong-pai ini serahkan kepada kami!" kata Kui Thiancu dan Im Yang Ji.

Ouw Seng Bu mengangguk dan para pembantunya itu segera bergerak menyerang.

Lima orang tosu Bu-tong-pai, Ciang Hun beserta Bi Kim menggerakkan senjata mereka menyambut dan terjadilah perkelahian yang berat sebelah. Baru tiga orang pembantu Seng Bu itu saja, bekas ketua Pao-beng-pai, wakil Pek-lian-kauw dan wakil Pat-kwa-pai sudah merupakan lawan berat bagi lima orang tosu. Sementara itu masih banyak pula anggota Thian-li-pang tingkat tinggi yang melakukan pengeroyokan.

Akan tetapi, bagaimana pun juga Gak Ciang Hun adalah keturunan pendekar sakti. Permainan pedangnya mantap dan kuat, tenaga sinkang-nya pun mampu menandingi lawan yang bagaimana pun sehingga Siangkoan Kok yang menandinginya, tidak dapat mendesaknya dengan cepat.

Gan Bi Kim juga terdesak hebat oleh Kui Thiancu yang mengejeknya, sedangkan lima orang tosu kewalahan menghadapi pengeroyokan banyak anak buah Thian-li-pang.

Melihat betapa Siangkoan Kok belum juga mampu menundukkan Ciang Hun, Seng Bu menjadi tidak sabar lagi. Dia tahu bahwa bekas ketua Pao-beng-pai itu cukup tangguh dan tidak akan kalah, akan tetapi dia tidak ingin perkelahian itu berlangsung terlalu lama.

Kalau sampai Kim Giok mengetahui, gadis itu tentu akan merasa tidak senang. Juga, tidak baik kalau mereka ini sampai terbunuh. Kalau dia dapat membujuk orang-orang yang lihai itu untuk bersekutu dengannya, hal itu akan amat menguntungkan dan akan memperkuat kedudukannya.

Maka ia pun segera meloncat ke depan dan menyerang Gak Ciang Hun dengan totokan jari tangannya, menggunakan ilmunya yang aneh, akan tetapi dia membatasi tenaganya agar jangan sampai melukai berat atau membunuh pemuda itu.

Dengan lengking yang aneh menyeramkan, Seng Bu menyerang dan Ciang Hun yang menghadapi Siangkoan Kok saja sudah merasa sibuk karena ilmu kepandaian kakek tinggi besar itu memang hebat, kini merasa ada sambaran angin dingin dari samping. Dia mengelak ke kiri dan pada saat itu, Siangkoan Kok menyerangnya dengan pedang, dibarengi pula dengan tamparan tangan kiri. Ciang Hun menangkis pedang lawan, lalu memutar tubuh dan menyambut tamparan tangan kiri lawan itu dengan tangan kirinya pula.

"Trang... plakkk!"

Kedua tangan itu bertemu dan melekat dan pada saat itu, totokan kedua yang dilakukan Seng Bu tiba. Ciang Hun tak mampu menghindar lagi dan dia pun roboh lemas terkena totokan ampuh jari tangan Seng Bu.

"Tangkap mereka, jangan bunuh!" teriaknya dan teriakan Seng Bu ini menolong.

Gan Bi Kim yang sudah terdesak, juga lima orang tosu itu, akhirnya roboh. Hanya lima orang tosu itu yang luka-luka, namun bukan luka yang terlalu parah. Sedangkan Gan Bi Kim juga roboh terkena totokan Im Yang Ji.

Demikianlah, lima orang tosu Bu-tong-pai, Ciang Hun, dan Bi Kim lantas tertawan oleh Thian-li-pang. Mereka dimasukkan ke dalam sebuah kamar tahanan yang cukup lebar, tidak dirantai seperti halnya Sian Li dan Hui Eng. Akan tetapi kamar tahanan itu berjeruji tebal dan kokoh kuat, sedangkan di depannya terdapat penjagaan yang ketat terdiri dari belasan orang anak buah Thian-li-pang…..

********************

Ketika Cu Kim Giok berdiri di depan jeruji kamar tahanan itu dan melihat Ciang Hun, wajahnya berubah agak pucat dan matanya terbelalak. Dia tidak begitu peduli melihat lima tosu Bu-tong-pai, juga ia tidak mengenal gadis cantik yang ikut tertawan di kamar itu. Akan tetapi ia segera mengenal Gak Ciang Hun yang pernah dijumpainya di dalam pesta pertemuan keluarga besar di rumah pendekar Suma Ceng Liong.

"Kau...?!" serunya kaget. "Bukankah engkau... saudara Gak Ciang Hun...?"

Ciang Hun hanya memandang dingin. Dia sudah mendengar dari para tosu Bu-tong-pai tentang gadis itu.

"Hemmm... dan engkau Cu Kim Giok, puteri paman Cu Kun Tek dan bibi Pouw Li Sian dari Lembah Naga Biluman. Sungguh mengherankan sekali melihat engkau ada di sini dan menjadi kaki tangan seorang yang sangat jahat seperti Ouw Seng Bu, pangcu baru dari Thian-li-pang."

Wajah Kim Giok berubah kemerahan.

"Gak-twako!" serunya dengan nada protes. "Agaknya engkau pun telah dipengaruhi lima orang tosu yang sombong ini. Ouw Seng Bu bukanlah seorang jahat. Dia adalah ketua Thian-li-pang yang berjiwa pahlawan dan bertekad untuk mengusir penjajah Mancu dari tanah air!"

"Pahlawan yang bergaul dengan para penjahat dan golongan sesat dari Pek-lian-kauw dan Pat-kwa-pai? Bukan orang jahat akan tetapi membunuh Sin-ciang Taihiap Yo Han, membunuhi para pimpinan Thian-li-pang, bahkan menawan Tan Sian Li? Dan engkau masih mengatakan dia tidak jahat?"

"Gak-twako, engkau salah mengerti! Yang membunuh para pimpinan Thian-li-pang ialah Yo Han, bahkan ia pun hendak membunuh Ouw-pangcu. Ada pun Tan Sian Li terpaksa ditawan karena ia hendak membunuh Ouw-pangcu dan mengamuk. Juga Ouw-pangcu yang hampir dibunuh Yo Han sampai terluka parah, dan Yo Han terjerumus ke dalam sumur tua karena dikeroyok oleh para anggota Thian-li-pang yang membela ketuanya. Dan tentang pergaulan dengan para tokoh kang-ouw, hal ini adalah karena kita semua harus bersatu padu menghimpun kekuatan untuk menentang penjajah Mancu! Kalau tidak bersatu dengan semua golongan, bagaimana mungkin penjajah Mancu bisa diusir dari tanah air? Harap engkau dapat memaklumi, Gak-twako. Aku berharap sekali kalau engkau, enci ini, dan para tosu Bu-tong-pai suka bekerja sama dengan kami, berjuang bahu-membahu menentang penjajah Mancu."

"Cukuplah. Kami tahu bahwa engkau telah terbius oleh racun yang diberikan Ouw Seng Bu kepadamu sehingga engkau tidak lagi dapat melihat kenyataan, engkau tidak dapat lagi membedakan yang benar dan yang salah," kata Ciang Hun marah.

"Sudahlah, Nona, pergilah dan jangan ganggu kami. Bujuk rayumu itu tak ada gunanya. Kami hanya merasa menyesal sekali bahwa seorang gadis keturunan keluarga Lembah Naga Siluman seperti Nona ini sampai dapat ditipu dan dibius oleh seorang penjahat gila seperti Ouw Seng Bu!" kata Thian Tocu.

Kim Giok tak dapat menahan lagi mendengar semua itu. Ia membalikkan tubuhnya dan meninggalkan tempat itu, wajahnya merah dan kedua matanya terasa panas menahan tangis. Ia merasa amat bingung melihat betapa kekasihnya mempunyai semakin banyak musuh dari golongan para pendekar, dan hal ini amat merisaukan hatinya.

Setelah memasuki kamarnya sendiri, Kim Giok tidak dapat lagi menahan tangisnya. Dia menelungkup di atas pembaringannya dan menangis. Terjadi perang di dalam batinnya. Mau tidak mau ia mempunyai kecondongan untuk membela dan mempercayai Sian Li, Hui Eng dan juga Ciang Hun.

Akan tetapi perasaan ini segera ditentang oleh cinta dan kepercayaannya kepada Seng Bu. Seng Bu begitu baik kepadanya, begitu mencintanya dan menurut pendapatnya, kekasihnya itu seorang yang gagah perkasa dan bijaksana. Kim Giok merasa bahwa kekasihnya tidak salah, bahkan mendatangkan harapan besar bagi nusa bangsa untuk mengusir penjajah dari tanah air.

Sementara itu, Sian Li dan Hui Eng sudah menghentikan siu-lian mereka dan merasa tubuh mereka amat segar dan penuh kekuatan. Akan tetapi Hui Eng melihat kemuraman membayang di wajah Sian Li yang cantik. Dia tahu bahwa Si Bangau Merah itu tentu memikirkan Yo Han, maka ia pun menghibur.

"Adik Sian Li, tenangkan hatimu. Tidak baik dalam keadaan seperti ini membiarkan diri dicekam kerisauan, membuat kita menjadi lemah," katanya lirih.

Sian Li mengangkat muka memandang wajah Hui Eng, lalu menghela napas panjang. "Engkau benar, enci Eng. Akan tetapi aku tidak pernah mampu melupakan Han-koko. Membayangkan ia berada di dalam sumur yang ditimbuni batu... ahh, bagaimana hatiku takkan risau?"

"Kerisauan hatimu ini tidak akan menolong apa-apa, adik Sian Li, tidak ada manfaatnya sama sekali. Jangan biarkan hatimu ditekan kerisauan yang menegangkan dan percaya sajalah bahwa Tuhan tentu akan selalu menolong orang yang baik dan benar. Dan aku yakin bahwa Yo Han adalah orang yang berada di pihak yang benar. Kalau Tuhan tidak menghendaki dia mati, biar pun dia benar-benar berada di dalam sumur itu, aku yakin dia tidak akan mati. Yang penting sekarang memikirkan bagaimana kita dapat lolos dari sini dan melanjutkan penyelidikan kita tentang Yo-twako itu."

"Akan tetapi bagaimana mungkin itu dilakukan, enci Eng? Kita dapat mematahkan rantai yang mengikat kaki tangan kita, akan tetapi kita tidak akan dapat membuka pintu besi dan beruji itu, terlalu kuat. Selain itu, para penjaga di luar tentu akan berteriak-teriak dan kalau Ouw Seng Bu datang bersama pera pembantunya, mereka itu terlalu banyak dan terlalu kuat bagi kita."

"Tenangkan hatimu, adik Sian Li. Aku masih memiliki harapan. Lupakah engkau kepada kanda Cia Sun?" kata Hui Eng dan kedua pipinya menjadi kemerahan ketika ia teringat kepada pangeran yang menjadi kekasihnya dan kini menjadi tumpuan harapannya itu.

"Ahh, engkau benar, enci Eng. Melihat bahwa sampai sekarang Pangeran Cia Sun tidak nampak tertawan musuh, hal itu berarti bahwa dia masih bebas. Dan tidak mungkin Pangeran Cia Sun akan membiarkan saja gadis yang paling dicintanya di seluruh dunia tertawan musuh. Dia pasti berusaha untuk membebaskanmu, enci Eng."

"Ihhh! Bukan hanya aku, akan tetapi engkau juga pasti akan dia usahakan agar dapat bebas."

"Akan tetapi, enci Eng. Bagaimana pun juga, kita mengetahui bahwa dalam hal ilmu silat, pangeran tidaklah lebih lihai dari pada engkau atau aku. Bagaimana mungkin dia dapat mengatasi Ouw Seng Bu dan para pembantunya yang lihai, juga anak buahnya yang cukup banyak?"

"Kukira dia tidak sebodoh itu, hanya mengandalkan tenaganya sendiri. Bagaimana pun juga dia seorang pangeran dan tentu tak akan sulit baginya untuk mendapatkan bantuan pasukan yang terdekat, bukan? Kalau dia mengerahkan pasukan yang besar, tentu gerombolan penjahat yang berkedok pejuang ini dapat dibasmi."

"Engkau benar, enci Eng. Akan tetapi, bayangan itu sungguh tidak mengenakkan hatiku. Kalau pasukan pemerintah yang datang menolong, bukankah itu sama artinya dengan kita berpihak kepada penjajah?”

"Adik Sian Li, kita harus dapat melihat kenyataan dan dapat mempertimbangkan dengan adil. Jika Thian-li-pang merupakan kelompok pejuang, golongan pendekar yang berjiwa patriot, apakah kita sampai menentang mereka dan menjadi tawanan mereka? Ingatlah bahwa kalau pasukan pemerintah benar-benar dikerahkan oleh pangeran Cia Sun untuk menggempur Thian-li-pang, yang digempur adalah gerombolan penjahat, bukan sebuah perkumpulan pejuang sejati." Ia berhenti sebentar, lalu melanjutkan penuh keyakinan.

"Aku mengenal baik Pangeran Cia Sun. Harus aku akui bahwa dia seorang pangeran Mancu, akan tetapi dia tidak berjiwa penjajah, bahkan dia menghormati para pejuang dan tidak akan mencampuri urusan pemberontakan para pejuang. Kalau tidak begitu, bagaimana mungkin dia sampai menjadi adik angkat Sin-ciang Taihiap Yo Han?"

Sian Li tersenyum. Tentu saja gadis itu akan membela mati-matian Pangeran Cia Sun, kekasihnya, tunangan dan calon suaminya pula. Akan tetapi, pembelaan itu pun bukan hanya ngawur dan ia tak dapat membantah kebenaran apa yang diucapan Hui Eng.

"Mudah-mudahan Pangeran Cia Sun cepat muncul dengan bala bantuannya, enci Eng. Aku ingin cepat-cepat bebas dan mencari Han-ko. Kalau perlu, akan kubongkar dengan tanganku sendiri batu-batu yang menimbuni sumur tua itu."

Mereka menerima suguhan makan malam yang dimasukkan melalui lubang antara jeruji baja. Ternyata Ouw Seng Bu tetap memperlakukan mereka dengan baiknya. Hidangan yang disuguhkan cukup mewah, bahkan ada pula minuman anggur segar.

Mereka berdua tidak menolak dan makan sampai kenyang untuk menjaga kondisi tubuh mereka, kemudian mereka bersemedhi lagi mengumpulkan kekuatan agar selalu siap menghadapi segala kemungkinan. Diam-diam mereka pun bisa menduga bahwa berkat adanya Cu Kim Giok di situ, maka agaknya Ouw Seng Bu bersikap lunak pada mereka.

Menyerah dengan penuh kepasrahan, penuh kepercayaan akan kekuasaan Tuhan, dan berdaya upaya sekuat tenaga dan kemampuan yang ada merupakan dua persyaratan hidup yang tidak boleh dipisahkan dan tidak boleh pula diabaikan kita. Hanya menyerah saja tanpa berupaya, atau hanya berupaya saja tanpa penyerahan dengan keimanan kepada Tuhan, tidaklah lengkap dan tidak pula benar.

Kita hidup sebagai makhluk hasil ciptaan Tuhan yang sempurna dan lengkap. Semua perlengkapan yang ada pada kita ini memang diikut sertakan kita agar bisa kita gunakan untuk keperluan hidup. Panca indera kita, tangan kaki kita, hati akal pikiran, semua itu merupakan perlengkapan sempurna yang sudah sepatutnya kita gunakan, kita kerjakan demi kelangsungan hidup ini, demi kesejahteraan, demi kebahagiaan hidup.

Namun, di samping daya upaya ini, kita harus yakin sepenuhnya bahwa segala sesuatu baru dapat terjadi kalau ditentukan oleh kekuasaan Tuhan! Menyerah saja tanpa usaha, sama saja dengan mempersekutu Tuhan. Kalau perut kita lapar, kita harus makan dan untuk bisa makan kita harus mencari makanan itu. Hanya menyerah saja tanpa makan, tidak mungkin kita terbebas dari rasa lapar.

Akan tetapi, mencari makanan saja tanpa penyerahan kepada Tuhan, kita dapat dibawa menyeleweng oleh nafsu sehingga kita mudah melakukan penyelewengan, misalnya mengambil kebutuhan kita itu dari orang lain, mencuri, merampok dan sebagainya.

Maka, kedua syarat itu tidak bisa terpisahkan, yaitu, pada lahirnya kita berusaha sekuat kemampuan kita, pada batinnya kita menyerah kepada kekuasaan Tuhan. Kalau sudah begini, lengkaplah sudah. Berhasil atau tidaknya usaha kita, kita serahkan kepada Tuhan. Yang paling penting, kita berusaha sekuat kemampuan kita!

Kalau sudah begini, berhasil atau gagal tidak membuat kita terlalu mabuk atau terlalu kecewa, karena kita maklum sepenuhnya bahwa segala kehendak Tuhan pun jadilah! Kita hanya dapat bersyukur akan kekuasaan Tuhan. Tuhan Maha Bijaksana dan Maha Mengetahui, tahu apa yang terbaik bagi kita.

Mungkin dalam suatu kenyataan yang bagi hati akal pikiran kita merupakan kegagalan, tersembunyi suatu hikmah, tersembunyi suatu berkah demi kebaikan kita. Dalam hidup kita ini, alangkah banyaknya berkah Tuhan bersembunyi di balik pengalaman yang kita anggap menguntungkan atau tidak menyenangkan
.

Demikian pula dengan Yo Han. Meski menurut hati akal pikiran ia tertimpa mala petaka, terkubur hidup-hidup di dalam sumur tua, suatu hal yang amat tidak menyenangkan, juga yang mengancam keselamatan nyawanya, namun pemuda ini sama sekali tidak tenggelam ke dalam keputus asaan, tidak terseret ke dalam kedukaan.

Kekuatan seperti ini dapat kita miliki, yaitu kalau kita memiliki kepasrahan dengan penuh kesabaran dan keikhlasan, dengan iman yang sepenuhnya, sehingga kita sepenuhnya percaya bahwa apa pun yang terjadi, tidak lepas dari kehendak Tuhan!

Yo Han terbebas dari kematian akibat tertimbun atau tertimpa batu. Kemudian, dia pun terbebas pula dari bahaya kelaparan ketika dia berhasil menemukan jamur yang dapat dimakan. Kini, dia berusaha sekuat tenaga untuk mencari jalan keluar tanpa sedikit pun pernah mengurangi penyerahannya kepada Tuhan. Dan andai kata Tuhan menghendaki bahwa dia akan tewas, dia sudah siap setiap saat.

Dengan amat giat dan tekun, Yo Han terus mencari jalan keluar dengan cara menggali lubang-lubang yang sempit, mencari jalan menuju keluar. Sebuah demi sebuah batu dia lepaskan, kemudian melanjutkan gerakannya merayap dalam lubang terowongan yang kecil sempit itu. Setiap hari, bahkan dalam gelap pun dia bekerja, hanya berhenti kalau dia memerlukan istirahat untuk menghimpun tenaga baru atau bila dia benar-benar telah lapar dan mengantuk.

Akhirnya, pada suatu siang, ketekunan yang penuh penyerahan itu mendatangkan hasil yang sama sekali di luar dugaannya. Ada sinar terang di depan. Dia merayap terus, menyingkirkan batu-batu penghalang lubang sempit itu dan akhirnya, ternyata lubang terakhir yang merupakan lorong amat panjang itu membawa dia muncul di tepi sebuah tebing jurang, di lereng bukit!

"Terima kasih, Tuhan!"

Yo Han berlutut, dengan sepenuh hati merasa bersyukur akan kemurahan Tuhan yang telah membebaskannya dari dalam bumi yang seolah menghimpitnya itu! Kemudian dia duduk bersila setelah makan jamur dan menghimpun kekuatan. Dan menjelang sore, dia mulai mencari jalan menuruni tebing yang curam itu.

Malam gelap membuat Yo Han terpaksa menghentikan usahanya dan dia melewatkan malam di tebing jurang. Pada keesokan harinya, pagi-pagi setelah terang tanah, dia pun melanjutkan usahanya menuruni tebing itu.

Dia harus segera kembali ke Thian-li-pang dan mengadakan pembersihan di sana. Kini dia mengerti bahwa Ouw Seng Bu telah berkhianat, telah membunuhi para pimpinan Thian-li-pang dan mengangkat diri sendiri menjadi ketua.

Dan pemuda yang aneh itu, yang memiliki ilmu aneh pula, sudah mengajak golongan sesat untuk bersekutu. Thian-li-pang telah diselewengkan sehingga dia harus bertindak. Dialah yang bertaggung jawab.

Dia kemudian teringat akan pesan mendiang kakek Ciu Lam Hok, gurunya, supaya dia membersihkan Thian-li-pang dan mengembalikan Thian-li-pang kepada cita-cita semula, yaitu perkumpulan orang-orang berjiwa patriot, dan pendekar sejati yang berjuang untuk membebaskan bangsa dari penjajahan. Menjadi pembela bangsa, bukan pengganggu keamanan rakyat, bukan menjadi penjahat…..

********************

"Giok-moi... kenapa engkau menangis...?"

Suara yang lembut dan sentuhan halus pada pundaknya membuat Kim Giok terkejut. Ia bangkit duduk dan melihat Seng Bu sudah duduk pula di tepi pembaringannya, dan kini pemuda itu merangkul pundaknya.

"Koko... aku... aku merasa gelisah sekali..."

Seng Bu menarik gadis itu ke dadanya dan mengelus rambutnya yang halus. "Giok-moi tersayang, mengapa engkau gelisah? Bukankah di sini ada aku yang selalu siap untuk melindungimu dan membahagiakan hatimu?" Dia mengusap kening gadis itu dengan bibirnya. "Apakah yang telah terjadi, sayangku?"

"Koko, betapa hatiku tak akan gelisah dan risau? Ketika aku mencoba untuk membujuk Sian Li dan Hui Eng, aku hanya mendapat teguran, ejekan dan penghinaan. Ketika aku menemui tawanan baru itu, ternyata pemuda itu adalah twako Gak Ciang Hun, dan aku pun di sana menerima celaan dan makian. Ahhh, Koko, sungguh aku merasa malu dan bersedih sekali..."

"Kalau begitu, biarlah akan kuhajar mereka, kusiksa mereka yang berani menghina dan mengejekmu!"

Kim Giok memegang lengan pemuda itu. "Jangan, Koko! Bukan begitu maksudku. Aku gelisah dan risau karena aku merasa bimbang. Mengapa mereka menolak berjuang bersama kita? Mengapa mereka menganggap engkau bersalah dan jahat?"

Rangkulan Seng Bu semakin erat, dan dia berbisik dekat telinga gadis itu. "Giok-moi, apakah engkau tak percaya kepadaku? Tentu saja mereka memusuhiku karena mereka semua itu memihak Yo Han, tidak tahu bahwa Yo Han telah berubah, telah membunuhi para pemimpin Thian-li-pang, bahkan hampir saja membunuhku. Engkau tahu sendiri betapa aku hampir mati, Giok-moi. Kalau engkau pun seperti mereka, tidak percaya kepadaku, habislah sudah harapan hidupku. Hanya engkaulah satu-satunya orang yang memberi harapan kepadaku. Biar seluruh manusia di dunia ini tidak percaya kepadaku dan memusuhiku, akan kuhadapi dan kulawan mereka yang memusuhiku!"

"Koko..." Kim Giok yang kurang pengalaman itu terbuai oleh kemesraan kata-kata yang diucapkan Seng Bu. "Aku akan selalu berpihak padamu, selalu membelamu dan setia kepadamu."

"Terima kasih, Giok-moi. Aku cinta padamu, Giok-moi. Aku cinta padamu sepenuh jiwa ragaku."

Ucapan ini menggetar penuh perasaan dan baru saat itulah Seng Bu benar-benar bicara dari lubuk hatinya. Memang dia sudah jatuh cinta kepada Kim Giok, walau pun cintanya bergelimang nafsu birahi. Cintanya timbul karena baginya tak ada lagi gadis yang lebih cantik menggairahkan dari pada Kim Giok. Dengan tubuh gemetar, dia mendekap dan mencium pipi dan bibir gadis itu.

Kim Giok agak terkejut dan dengan halus dia melepaskan diri dari rangkulan. Ia sendiri kalau mau jujur, merasa senang dengan perlakuan penuh kemesraan itu. Akan tetapi karena hatinya memang sedang risau, dia pun tidak ingin melanjutkan kemesraan yang membuat jantungnya berdebar keras itu.

"Koko, aku ingin bicara padamu."

Seng Bu tersenyum. "Ehhh? Bukankah sudah sejak tadi kita bicara?"

Dia hendak merangkul lagi akan tetapi Kim Giok menolak dengan tangannya.

"Aku tidak main-main dan kuharap engkau juga bersungguh-sungguh, Bu-ko. Aku minta kepadamu agar engkau suka membebaskan mereka bertiga, yaitu Sian Li, enci Hui Eng, dan Gak-twako. Kalau engkau tidak membebaskan mereka, hatiku akan selalu merasa risau. Maukah engkau, Koko?"

Seng Bu mengerutkan alisnya. Sejenak dia menatap wajah kekasihnya penuh selidik. "Giok-moi, tidak salahkah apa yang kudengar ini? Engkau minta kepadaku supaya aku membebaskan orang-orang yang memusuhi aku dan yang hendak membunuhku?" Dia tersenyum, akan tetapi senyumnya masam. "Itu berarti melepaskan tiga ekor harimau yang akan selalu mengancam keselamatanku, keselamatan kita semua, bahkan akan menggagalkan usaha perjuangan kita. Itukah yang kau kehendaki?"

"Tentu saja tidak, Koko. Aku akan mengajukan syarat kepada mereka, kuminta mereka berjanji tidak memusuhimu kalau kita bebaskan mereka."

"Itu berbahaya sekali, Giok-moi. Ingat, masih ada seorang lagi dari mereka yang lolos, yaitu Pangeran Cia Sun. Dia merupakan ancaman besar bagi kita selama dia masih belum tertangkap. Setelah dia tertawan, baru kita bicarakan lagi tentang permintaanmu itu. Percayalah padaku, Giok-moi. Bukankah selama ini aku pun tidak pernah berbohong kepadamu dan kuperintahkan anak buah kita supaya memperlakukan para tawanan itu dengan baik?"

Kembali Seng Bu meraih dan merangkul, hendak mencium dan hendak merebahkan gadis itu ke atas pembaringan. Kim Giok meronta dan melepaskan diri, meloncat turun dari pembaringan, memandang kepada kekasihnya dengan alis berkerut.

"Koko, apa yang kau lakukan ini?"

"Giok-moi, kita saling mencinta dan aku tahu, aku selalu sibuk dengan pekerjaan ini. Kini aku... aku ingin... memiliki dirimu sepenuhnya. Giok-moi..."

Pemuda itu hendak merangkul lagi, akan tetapi Kim Giok sudah cepat-cepat melangkah mundur untuk menghindar.

"Bu-ko, kita tidak boleh melakukan itu. Kita belum menikah!"

"Giok-moi, kasihanilah aku. Kita pasti akan menikah, akan tetapi aku harus meminang dirimu dulu kepada orang tuamu dan hal itu akan makan waktu lama. Aku ingin memiliki dirimu sepenuhnya, sekarang..."

"Tidak, aku tidak mau!"

"Giok-moi...!" Seng Bu menjulurkan kedua tangannya, akan tetapi Kim Giok meloncat keluar dari dalam kamar itu, dikejar oleh kekasihnya.

Sebetulnya, Seng Bu bukanlah seorang pemuda yang gila wanita, bukan pula hamba nafsu birahi. Akan tetapi, dia sungguh-sungguh jatuh cinta kepada Kim Giok dan ia takut kehilangan gadis itu yang agaknya kini meragu dan bahkan minta agar para tawanan dibebaskan.

Kalau dia dapat menggauli Kim Giok sekarang, tentu gadis itu terikat kepadanya dan tak akan lepas lagi dari tangannya, bahkan akan lebih kuat dan patuh kepadanya. Karena itu, sikapnya sekarang yang hendak memaksa Kim Giok menyerahkan diri seperti lebih dipengaruhi perhitungan yang menguntungkan dirinya dari pada sekedar terseret nafsu birahi.

Kim Giok berlari keluar dari bangunan itu. Dia masih terus dikejar oleh Seng Bu yang tentu saja tidak hendak berlaku kasar, hanya mengejar untuk membujuk kekasihnya.

"Giok-moi, tunggu...!" seru Seng Bu sambil tertawa karena merasa betapa kekasihnya itu seperti mengajaknya bermain kejar-kejaran seperti kanak-kanak saja.

Pada saat itulah terdengar suara terompet dan tambur, disusul kegaduhan luar biasa di bawah puncak. Beberapa orang anak buah Thian-li-pang berlari-larian dan ketika Kim Giok dan Seng Bu yang berhenti berlari memandang, nampak Kui Thiancu, Im Yang Ji dan Siangkoan Kok datang pula berlarian.

"Ahh, celaka, Pangcu!" berkata Im Yang Ji dengan muka pucat. Tosu Pat-kwa-pai yang tinggi kurus ini nampak gugup.

"Apa yang terjadi? Kenapa kalian begitu panik?" Seng Bu bertanya.

"Pangcu, pasukan besar pemerintah sudah mengepung kita dari empat penjuru!" kata pula Im Yang Ji.

"Jahanam!" Seng Bu berseru marah dan matanya mulai mencorong aneh sehingga Kim Giok yang melihatnya menjadi terkejut.

Dalam keadaan marah seperti itu, Seng Bu seolah sudah berubah. Wajahnya bengis, pandang matanya mencorong dan otaknya mendadak saja menjadi cerdik dan licik luar biasa.

"Im Yang Ji Totiang, dan Kui Thiancu Totiang, kalian cepat atur pasukan kalian masing-masing menyambut musuh dari sayap kanan dan kiri. Dan engkau, paman Siangkoan, cepat atur barisan Thian-li-pang kita, bagi menjadi dua untuk mempertahankan depan dan belakang. Aku akan menangkap para tawanan untuk dijadikan sandera, karena aku yakin Pangeran Cia Sun berdiri di belakang penyerbuan ini!"

Tiga orang pembantu itu segera pergi melakukan perintah dan Seng Bu hendak berlari masuk, agaknya sudah lupa sama sekali kepada Kim Giok.

"Koko, jangan!" Kim Giok melompat dan gadis ini sudah berdiri menghadang Seng Bu.

"Giok-moi, minggirlah kau!" bentak Seng Bu marah. Matanya yang mencorong itu sama sekali sudah tidak mengandung sinar kasih sayang, yang ada hanyalah kebengisan dan kemarahan.

"Tidak, Bu-koko! Engkau tidak boleh membuat mereka bertiga menjadi sandera. Bahkan setelah pasukan pemerintah menyerang, jelas bahwa mereka tidak memiliki hubungan dengan itu karena mereka berada di sini sebagai tawanan, maka kita sudah seharusnya membebaskan mereka sekarang juga. Mungkin mereka akan menyadari dan membantu kita untuk melawan pasukan pemerintah."

"Minggir, Giok-moi! Kalau mereka tidak boleh dijadikan sandera, mereka bahkan harus dibunuh agar musuh kita berkurang."

"Ingat, Bu-ko, musuh kita adalah penjajah Mancu, bukan anggota keluarga besar para pendekar!" kata Cu Kim Giok dan kini Koai-liong Pokiam sudah terhunus di tangannya. "Aku tidak memperkenankan siapa pun membunuh para tawanan itu!"

Mendengar kata-kata Giok Kim ini, tiba-tiba saja Ouw Seng Bu tertawa, dan suaranya tawanya sungguh mendirikan bulu roma, sungguh mengerikan sekali.

"Ha-ha-ha-ha-ha, kiranya engkau pun kini menjadi musuhku, Giok-moi? Engkau kucinta sepenuh jiwa ragaku, tetapi engkau pun memusuhi aku? Engkau tega sekali, Giokmoi..." dan laki-laki ini pun menangis!

Kim Giok sampai menjadi bengong. Baru sekarang dia dapat menduga bahwa pria yang dicintanya ini adalah seorang yang miring otaknya.

"Ha-ha-ha!" Seng Bu tertawa lagi. "Engkau hendak membela mereka?" Ia pun berteriak kepada sekelompok anak buahnya yang berlari dekat. "Heiii, kalian! Cepat suruh bakar tempat tahanan. Sekarang juga, cepat!"

"Baik, Pangcu!" sahut mereka dan mereka pun berlarian ke arah rumah tahanan.

"Tidaaak, jangan...!" Kim Giok melompat ke depan untuk mengejar dan mencegah anak buah Thian-li-pang itu melakukan pembakaran.

"Cu Kim Giok, engkau musuh kami!" terdengar bentakan Seng Bu dan dia pun sudah meloncat, lalu langsung mengirim pukulan ketika tubuhnya dan tubuh Kim Giok masih melayang di udara.

Karena tak menduga bahwa pria yang dikasihinya itu akan menyerangnya, juga karena serangan aneh itu datangnya amat cepat, membawa angin dingin, maka biar pun Kim Giok berusaha melakukan gerakan poksai (salto) untuk menghindar, namun tetap saja lambungnya terkena pukulan itu.

"Aughhh...!"

Kim Giok mengeluh dan tubuhnya terkulai, lalu jatuh ke atas tanah. Ia rebah miring dan merasa betapa lambungnya seperti dimasuki benda dingin sekali, seperti sebongkah air beku sehngga dadanya terasa sesak, pandang matanya berkunang-kunang.

"Giok-moi... kekasihku... Giok-moi...!" Seng Bu menangis dan dia menghampiri tubuh yang roboh miring itu.

Akan tetapi pada saat itu terdengar suara yang membuat Seng Bu kaget bagai disengat binatang berbisa. Tengkuknya terasa dingin dan tebal saking ngeri dan takutnya.....


Pilih JilidJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner