KISAH SI PEDANG TERBANG : JILID-01


Sungainya bagaikan pita sutera biru,
Gunungnya laksana tusuk sanggul kemala!


Demikianlah pujian yang ditulis dalam dua baris atau sebait sajak oleh Han Ji (768 824), seorang di antara para pujangga besar di jaman Dinasti Tang (618-907) itu. Sebait sajak yang amat sederhana, namun jelas menggambarkan keindahan alam dari lembah Sungai Li yang dilihat dari puncak Gunung Teratai Biru.

Kebesaran alam dengan segala keindahannya memang terbentang luas di sekitar Kuilin, Propinsi Kuangsi itu. Dan Sungai Li merupakan penunjang kuat untuk segala keindahan ini, juga kesuburan tanahnya dan kemakmuran rakyatnya.

Sungai Li ini dikenal pula dengan sebutan Sungai Kui atau Sungai Haijang, sebagai sungai yang bermata air dari Gunung Haijang. Gunung Haijang berdiri tegak menjulang di antara dua propinsi, yaitu di perbatasan Propinsi Kuangsi dengan Propinsi Hunan. Dari gunung ini mengalir dua batang sungai, yaitu Sungai Li yang mengalir masuk ke daerah Propinsi Kuangsi, sedangkan yang mengalir ke daerah Hunan adalah Sungai Siang.

Dari daerah Kuilin sampai ke daerah Yangsuo terbentang keindahan alam yang tidak ada habis-habisnya, yang satu lebih menarik dan lebih indah dari pada yang lain. Akan tetapi, seperti banyak ditulis para penyair dan dilukis oleh para pelukis, yang terindah di antara semuanya adalah pemandangan alam di Yangsuo.

Di daerah ini Gunung Teratai Biru mencakar langit, sering kali puncaknya terselimut kabut tipis, nampak seperti wajah jelita seorang puteri mengintai dari balik tirai putih yang tipis. Indah bukan main! Dari jauh gunung ini nampak seperti bentuk sekuntum bunga teratai yang menguncup, segar dan indah kebiruan.

Pada kaki gunung ini terdapat dusun-dusun yang tenang dan tenteram, dihuni para petani merangkap nelayan yang hidupnya tidak pernah kekurangan karena tanah di sana subur dan Sungai Li mengandung banyak ikan. Dan di lereng gunung itu, terpencil sunyi namun penuh kedamaian, berdiri sebuah kuil tua yang amat indah.

Itulah Kuil Cian yang seolah menjadi lambang ketenteraman, mengamati kehidupan rakyat pedusunan yang berada di bawah. Dari kuil ini kita dapat menikmati tamasya alam yang keindahannya selalu berubah-ubah dari pagi sampai senja. Bahkan di waktu malam, kalau bulan muncul bersih tidak terhalang awan, pemandangan di situ amat mempesonakan.

Kota Yangsuo seolah menjadi pusat dari semua keindahan itu, bagaikan sekuntum bunga teratai biru, dikitari berlapis-Iapis pegunungan yang hijau zamrud, seperti setangkai bunga yang terllndung dalam pelukan daun-daun bunga .

Di daerah itu kedua tepi Sungai Li terapit oleh pegunungan. Kalau kita menyusur ke hilir sungai, maka dari Gunung Teratai Biru akan nampak Gunung Pelayan Pelajar. Gunung ini memperoleh namanya dari bentuknya yang seperti seorang pelayan pelajar, tenang, diam dan patuh, duduk tegak lurus membantu si pelajar mendeklamasikan sajak-sajak buatan majikannya. Dari sisi lain dia nampak seperti sedang membungkuk, siap menerima tugas dari sang pelajar.

Di antara puncak-puncak pegunungan itu, yang terkenal adalah Puncak Singa Kembar di Gunung Besi. Memang puncak itu terlihat mirip sekali sepasang singa yang sedang duduk dengan tenangnya, nampak gagah dan jinak, tidak membayangkan keganasan.

Air Sungai Li amat jernih karena belum melalui kota-kota besar di mana penduduknya tak segan-segan mengotorinya. Airnya jernih sehingga tembus pandang sampai ke dasarnya yang terbentuk dari batu-batu cadas. Di kanan kiri sungai tampak pegunungan, jurang dan palung-palung buatan alam.

Ada dongeng rakyat setempat bahwa di sana pernah terjadi peristiwa hebat, yaitu ketika Sembilan Naga berlomba menyeberangi sungai! Dongeng ini timbul karena adanya garis-garis timbul yang berliku-liku di dasar sungai, sehingga nampak seolah ada sembilan ekor naga berlomba melintasi sungai.

Tidak jauh di sebelah depan nampak di kejauhan dua pegunungan yang berhadapan dan nampak seperti dua pasukan saling berhadapan dengan seragam putih dan merah. Itulah Pegunungan Tebing Putih dan Pegunungan Tebing Merah. Pemandangan pegunungan yang kehijauan bertahtakan tebing-tebing putih dan merah !

Maju sedikit Iagi, di daerah Singping di tepi Sungai Li, terdapat Pegunungan Lima Puncak dan Gunung Lukisan. Keindahan di daerah ini menggerakkan hati banyak penyair untuk datang berkunjung kemudian menuliskan pujian hati mereka lewat sajak-sajak indah, juga tiada habisnya para pelukis kenamaan mencoba untuk menggoreskan suara hati mereka mengutip semua keindahan itu.

Di daerah itu terdapat pula dongeng rakyat bahwa demikian indahnya pemandangan alam di situ sehingga seorang dewa pun tergerak hatinya, dan pada suatu hari sang dewa itu duduk di atas sepetak rumput menikmati keindahan sambil minum arak, lalu bersajaklah sang dewa itu. Hal ini sudah terjadi ribuan tahun yang silam (sajak dari abad ke dua belas sebelum Masehi).

Senja menjelang tiba
embun mulai menyelimuti rumput
penuhilah lagi cawan cakrawala
sebelum malam menghapus semua keindahan ini!
Sepanjang malam kabut menutupi
semua keindahan menakjubkan ini
namun itu pun takkan lama
kabut akan mengering, malam akan berakhir!


Hampir semua penyair di jaman itu, yaitu dalam dinasti Tang (618-907) pernah berkunjung kemudian mengagumi keindahan pemandangan alam di sepanjang Sungai Li, terutama di daerah Kuangsi ini. Di antara mereka adalah para penyair besar seperti Han Ji, Liu Cung Yuen, Huang Ting Ciang, Ji Fu, Fan Ceng Ta, Wang Wei dan terutama sekali Li Tai Po, Tu Fu dan masih banyak lagi.

Kabarnya Li Tai Po sendiri pada suatu malam terang bulan purnama pernah naik perahu seorang diri di Sungai Li. Sambil minum arak penyair ini menggambarkan pengalamannya dengan bersajak. Sajaknya itu sangat terkenal, terutama di daerah yang dialiri Sungai Li. Seperti kebanyakan sajaknya, penyair besar ini lebih suka menulis tentang perasaan dan kehidupan manusia melalui dirinya sendiri dari pada sekedar memuji keindahan alam.

Dengan cawan anggur di tangan dikelilingi bunga,
aku minum sendiri tanpa seorang pun menemaniku.
Kuangkat cawan anggurku kepada bulan
kuminta bulan mendatangkan bayanganku
dan membuat kami menjadi bertiga.
Namun bulan tidak dapat minum
dan bayanganku tertinggal. hampa;
betapa pun mereka adalah kawan-kawanku
menamaniku sepanjang musim semi
Aku bernyanyi. Bulan tersenyum padaku.
Aku berjoget.
Bayanganku mendampingiku.
Kutahu, kami adalah sahabat-sahabat baik,
ketika aku mabok, kami saling kehilangan.
Dapatkah kemauan baik bertahan?
Kutatap jalan panjang Sungai Bintang-bintang!


Pada kaki Bukit Ayam Emas yang termasuk daerah Yuangsuo, terdapat beberapa buah dusun yang bertebaran di sekitar bukit itu. Di antaranya adalah dusun Libun yang terletak di tepi Sungai Li. Dusun ini hanya berpenduduk sekitar lima puluh keluarga saja, agak jauh dari dusun lain, paling dekat sepuluh li dari dusun lain dan nampak tenang tenteram.

Para penghuni dusun bekerja sebagai petani dan juga nelayan, dan di tepi sungai nampak tertambat banyak perahu dan rakit yang terbuat dari bambu. Mereka yang keadaannya agak mampu mempunyai sebuah perahu, yang lebih sederhana cukup dengan rakit yang mereka buat sendiri dari bambu. Pada umumnya penghuni dusun Libun merasa cukup.

Memang sesungguhnya kaya atau miskin tidak bisa diukur dari isi saku atau harta milik. Betapa pun besar dan banyak harta yang dimiliki seseorang, apa bila dia masih merasa kurang atau belum cukup, sama saja artinya dengan seorang yang miskin dan dia tidak akan dapat menikmati apa yang sudah dimilikinya. Sebaliknya, biar pun seseorang hidup sederhana, tetapi kalau dia sudah merasa cukup, sama saja halnya dengan seorang kaya raya dan dia dapat menikmati apa yang telah dimilikinya. Jadi letak ukurannya bukan di saku atau di gudang harta, melainkan di dalam hatinya.

Demikian pula dengan para penduduk dusun Libun. Karena mereka tinggal di dusun yang sederhana, maka kebutuhan hidup mereka pun tidak banyak, cukuplah sekedar sandang, pangan dan papan yang sederhana. Mereka tidak menghadapi banyak godaan seperti di dalam kota, di mana terdapat toko-toko yang menjual barang-barang mewah dan indah, rumah-rumah makan dengan masakan mahal, rumah-rumah indah dan tontonan-tontonan yang kesemuanya itu membutuhkan uang banyak sehingga tentu saja kehidupan di kota akan mendatangkan banyak keinginan dan kebutuhan.

Berbahagialah manusia yang dapat menikmati apa yang ada, bersyukur atas apa yang dimilikinya. Akan tetapi, selama kita masih dicengkeram nafsu, kita takkan pernah dapat menikmati apa yang kita miliki sebab kita selalu menjangkau yang belum kita miliki, yang kita anggap akan lebih indah dari pada apa yang telah kita miliki. Sifat nafsu adalah selalu mencari yang lebih dan hanya sejenak saja menikmati apa yang kita dapatkan, lalu terganti kebosanan karena kita sudah mengejar yang kita anggap lebih menyenangkan lagi.

Untuk dapat menjadi manusia berbahagia seperti itu, satu-satunya jalan keluar hanyalah dengan penyerahan kepada Tuhan Yang Maha Kasih. Jika kita menyerahkan diri kepada Tuhan maka kita tidak akan mengeluh dan selalu akan bersyukur kepada Tuhan, dalam keadaan apa pun kita berada.

Kalau segala peristiwa kita sambut sebagai sesuatu yang sudah dikehendaki Tuhan, kita takkan mengeluh lagi, karena kita yakin bahwa semua kehendak Tuhan pasti terjadi, dan apa pun yang ditimpakan kepada kita pasti memillki hikmah karena Tuhan mengetahui apa yang terbaik untuk kita.

Kewajiban kita di dalam hidup ini hanyalah mempergunakan atau memanfaatkan semua anggota tubuh ini, termasuk hati akal pikiran kita untuk kesejahteraan hidup ini, mulai diri pribadi hingga lingkungan yang makin meluas, keluarga masyarakat, bangsa, dan seluruh manusia.

Semua usaha itu didasari penyerahan dan keyakinan bahwa semua hasil usaha kita, baik yang bagi kita menyenangkan mau pun menyusahkan, semua terjadi atas kehendak dan bimbingan Tuhan. Karena itu, hanya puji syukurlah yang keluar dari hati serta mulut kita kepada Tuhan Maha Pengasih.


Pagi itu amat cerah. Sinar matahari pagi seolah-olah menggugah semua yang terlelap di malam yang baru lewat, memberi kehidupan kepada setiap tumbuh-tumbuhan, besar mau pun kecil, memberi kehidupan kepada semua makhluk, merupakan satu di antara berkah Tuhan yang berlimpahan kepada ciptaanNya, alam beserta segenap isinya.

Permukaan Sungai Li sangat tenang dan jernih. Air itu selalu jernih, kecuali apa bila hujan turun membawa banyak tanah dan daun kering mengotori air sungai. Pada pagi hari yang cerah itu, air sungai nampak jernih seperti kaca dan matahari pagi membuat garis-garis perak pada permukaannya.

Sebuah rakit kecil yang hanya terbuat dari beberapa batang bambu, meluncur perlahan menyeberang sungai. Rakit itu membawa seorang anak laki-laki yang dengan gerakan kuat karena sudah terbiasa, mendorong rakit meluncur dengan sebatang dayung. Setelah tiba di seberang, anak laki-laki itu menempelkan rakitnya di tepi sungai, lalu meloncat ke darat dan mengikatkan tali rakitnya pada sebatang pohon bambu yang besar.

Tepian sungai di mana dia mendarat itu memang merupakan sebuah kebun bambu yang lebat, di mana terdapat banyak sekali rumpun bambu yang bermacam-macam bentuknya. Dia pun meninggalkan rakitnya, memasuki hutan bambu sambil membawa sebuah golok dalam sarung kulit yang dia selipkan pada pinggangnya.

Anak itu berpakaian sederhana, seperti pakaian anak-anak dusun di daerah itu, bercelana tanggung sampai ke bawah lutut, sepatunya dari kulit kasar, bajunya berlengan pendek, berwarna hitam seperti yang biasa dipakai semua anak di sana karena warna hitam ini awet tidak cepat kotor.

Biar pun pakaiannya sederhana tak berbeda dengan pakaian anak-anak lain di dusun itu, namun wajahnya memiliki sesuatu yang tidak biasa didapatkan pada wajah anak-anak di situ. Wajahnya sangat tampan, dengan kulit yang bersih dan segar kemerahan. Wajah itu berbentuk keras, memperlihatkan kejantanan pada rahang dan dagunya, namun matanya lebar dan bersinar tajam, hidungnya dan mulutnya mengandung wibawa hingga membuat dia nampak anggun. Rambut yang hitam dan subur itu dipotong pendek.

Tubuhnya tinggi tegap, melebihi bentuk tubuh anak-anak yang berusia tujuh tahun, namun wajah dan tubuh yang membayangkan kegagahan itu diperlembut oleh senyumnya yang selalu menghias mulut dan matanya.

Apa bila orang mengetahui latar belakang yang amat mengejutkan dari anak laki-laki itu, maka tidaklah terlalu mengherankan kalau melihat anak laki-laki yang demlkian tampan dan gagah walau pun berpakaian seperti anak dusun.

Ibu kandungnya adalah puteri seorang Menteri Utama Kerajaan Tang, sedangkan ayah kandungnya bahkan pernah menjadi kaisar, biar pun hanya untuk waktu selama sembilan tahun! Ibunya bernama Yang Kui Bi, puteri mendiang Yang Kok Tiong, Menteri Utama Kerajaan Tang ketika dipimpin Kaisar Hsuan Tsung (Beng Ong, 712-755). Ada pun ayah kandungnya adalah Sia Su Beng, yaitu seorang panglima dari pasukan yang dipimpin oleh pemberontak An Lu Shan.

Seperti dapat diketahui dalam catatan sejarah, pada tahun 755 An Lu Shan memberontak dan berhasil merebut tahta kerajaan dari tangan Kaisar Hsuan Tsung yang melarikan diri ke Se-cuan. An Lu Shan yang mengangkat diri menjadi kaisar kemudian saling berebut kekuasaan dengan puteranya sendiri yang bernama An Kong dan akhirnya An Lu Shan dibunuh oleh puteranya sendiri.

Dalam keadaan yang kacau itu, Sia Su Beng dibantu oleh kekasihnya, yaitu Yang Kui Bi, berhasil menyingkirkan An Kong kemudian Sia Su Beng mengangkat diri menjadi kaisar Kerajaan Tang! Tetapi Kaisar Hsuan Tsung yang lari ke barat lalu menghimpun kekuatan, kemudian dilanjutkan oleh penggantinya, yaitu puteranya yang kemudian menjadi Kaisar Su Tsung, dan pasukan gabungan dari barat itu menyerbu untuk merebut tahta kerajaan yang kini telah berada di tangan Sia Su Beng.

Perang itu berlangsung selama sembilan tahun. Sementara itu, Sia Su Beng yang sudah menjadi kaisar lalu menikah dengan kekasihnya, Yang Kui Bi, kemudian mereka memiliki seorang anak laki-laki yang mereka beri nama Sia Han Lin. Akhirnya, ketika Sia Han Lin berusia lima tahun, pasukan Tang yang menyerbu dari barat itu berhasil merebut kota raja Tiang-an, dan dalam pertempuran yang hebat itu, Sia Su Beng dan isterinya, Yang Kui Bi, bertempur sampai tewas.

Akan tetapi, sebelum mereka maju bertempur, lebih dahulu mereka menyerahkan putera mereka kepada seorang pengasuh, yaitu seorang wanita setengah baya yang setia, yang sudah menjadi pengasuh Sia Han Lin sejak bayi. Mereka minta kepada wanita itu untuk membawa lari Sia Han Lin mengungsi keluar dari kota raja bersama rakyat.

Demikianlah, bocah laki-laki berusia tujuh tahun itu adalah Sia Han Lin, putera dari suami isteri mendiang Sia Su Beng dan Yang Kui Bi, pasangan suami isteri berdarah bangsawan yang tewas gugur dalam perang ketika usia mereka masih muda.

Sebetulnya mereka adalah suami isteri yang memiliki ilmu silat tinggi dan gagah perkasa. Sayang bahwa ambisi yang berlebihan, pengejaran kekuasaan, membuat mereka tewas dalam pertempuran.

Wanita yang menjadi pelayan pengasuh keluarga Sia Su Beng itu bernama Liu Ma. Dia adalah seorang janda yang telah menjadi pelayan pengasuh sejak Han Lin dilahirkan, dan dia amat setia dan amat sayang kepada Han Lin karena janda ini sendiri tidak mempunyai anak. Kini dia berusia empat puluh tujuh tahun.

Dua tahun yang lalu, ketika dia menerima tugas yang berat, dia segera membawa Han Lin yang ketika itu berusia lima tahun, melarikan diri mengungsi ke luar kota raja. Tidak ada seorang pun yang menyangka bahwa anak laki-laki yang mengenakan pakaian biasa dan ditarik-tarik tangannya oleh Liu Ma, berbaur dengan para pengungsi itu adalah putera Sia Su Beng yang menjadi kaisar!

Liu Ma harus pandai-pandai membujuk karena Han Lin selalu rewel dan tadinya berkeras tidak mau meninggalkan ayah ibunya. Tapi dia sudah cukup besar untuk mengerti bahwa kota raja diserbu musuh dan dia terancam bahaya maut kalau tidak mau diajak melarikan diri.

"Akan tetapi ayah dan ibu tidak pergi!" Dia membantah ketika ditarik-tarik Liu Ma keluar dari kota raja.

"Ayah ibumu tidak takut karena mereka berjuang, mereka melawan musuh," kata Liu Ma yang terpaksa harus menggunakan kalimat biasa, tidak seperti biasa ketika dia bersikap sebagai seorang pelayan terhadap seorang pangeran! Sekarang dia harus memperlakukan Han Lin seperti anak biasa, dan mengakuinya sebagai anaknya. Itulah satu-satunya jalan untuk menyelamatkan anak yang dikasihinya itu.

"Aku pun tidak takut!" kata Han Lin, berusaha melepaskan pegangan tangan Liu Ma pada pergelangan tangannya. "Aku pun ingin membantu ayah dan ibu melawan musuh!"

"Sssttt…!" Liu Ma memondong anak itu sambil mendekap mulutnya, lalu berbisik di dekat telinganya,

"Pangeran, lupakah paduka akan pesan Sribaginda dan Permaisuri? Paduka harus patuh kepada hamba dan jangan menentang, ini semua merupakan perintah beliau yang tidak boleh kita bantah. Ingatkah paduka?"

Mendengar ini Han Lin menangis di atas pundak Liu Ma. Memang sejak kecil dia sangat dekat dengan pengasuhnya ini dan sekarang, diingatkan perintah dan pesan terakhir ayah ibunya, dia pun merasa sedih kemudian menangis.

"Liu Ma, mengapa ayah dan ibu menyuruh aku pergi...? Kenapa aku harus berpisah dari mereka?" isaknya.

"Stttt..., pesan mereka sudah jelas, bukan? Mulai saat ini kita harus merahasiakan bahwa paduka adalah seorang pangeran. Mulai sekarang Paduka harus mengaku sebagai anak hamba, dan maafkan, hamba tak akan bersikap dan berbicara seperti biasa lagi. Maafkan pula bila mulai sekarang hamba akan menyebut paduka dengan nama paduka saja. Ingat, paduka adalah anak hamba."

Han Lin mengangguk. Dia pun tidak meronta lagi ketika diturunkan kemudian tangannya digandeng oleh Liu Ma.

Demikianlah, Liu Ma lalu mengajak Sia Han Lin mengungsi ke daerah selatan, kembali ke dusun yang menjadi tempat kelahirannya. Sejak lahir dan ketika masih kecil Liu Ma tinggal di dusun Libun, termasuk wilayah Kuilin propinsi Kuangsi.

Karena ketika pergi meninggalkan istana dia dibekali emas permata yang cukup banyak, maka dia dapat membeli rumah sederhana, sawah ladang dan ternak sehingga dia hidup tanpa kekurangan bersama Han Lin yang diterima semua orang sebagai putera Liu Ma.

Liu Ma menaati pesan Sia Su Beng dan Yang Kui Bi. Dengan uangnya dia lalu membayar seorang penduduk dusun yang cukup berpendidikan untuk mengajarkan ilmu menulis dan membaca kepada Han Lin.

Ternyata anak itu amat cerdas. Selama kurang dari dua tahun mempelajari sastra, kini dia sudah pandai membaca dan menulis sehingga membuat anak-anak di dusun itu merasa kagum karena sebagian besar anak-anak dusun itu buta huruf.

Han Lin memang tidak pernah bertanya kepada Liu Ma tentang ayah bundanya lagi sejak dia mendengar dari Liu Ma bahwa menurut berita yang sampai di dusun itu, Sia Su Beng dan Yang Kui Bi sudah tewas, gugur dalam pertempuran. Semalam suntuk Han Lin tidak tidur, merenung dan menangis, akan tetapi sejak hari itu, dia tidak pernah lagi bertanya tentang mereka kepada Liu Ma, membuat bekas pelayan yang sekarang menjadi ibunya itu merasa lega hatinya.

Akan tetapi janda ini sama sekali tidak tahu bahwa Han Lin tidak pernah melupakan ayah ibunya, tak pernah lupa bahwa ayah dan ibunya tewas sebagai orang-orang gagah, gugur dalam pertempuran. Dia tidak pernah dan tidak akan pernah melupakan kenyataan itu!

Seperti anak-anak lain di dusun Libun, Han Lin juga turut bekerja membantu ibunya yang menggunakan dua orang tenaga kerja. Dia membantu bertani, menggembala ternak, juga mencari ikan sehingga dalam usianya yang tujuh tahun itu dia telah pandai sekali menjala atau mengail ikan. Karena hidup dekat sungai, bersama anak-anak lain dia suka mandi di sungai sehingga dia pun pandai berenang dan gagah pula mendayung perahu atau rakit.

Pada hari yang cerah itu, seorang diri Han Lin pergi berakit mencari bambu yang terbaik untuk dibuat menjadi joran pancingnya. Joran pancing yang baik adalah yang tidak berat, panjang, lentur dan tidak mudah patah, juga sekecil mungkin. Tidak mudah untuk mencari bambu yang baik seperti itu, dan kalau hendak mencari bambu, ke mana lagi kalau bukan ke hutan bambu di seberang sungai itu?

Han Lin berjalan perlahan, memandang ke kanan kiri mencari bambu yang dibutuhkannya. Dia sangat mengenal hutan ini karena sering dia bersama teman-teman atau seorang diri berkeliaran di sini. Juga dia mengenal banyak macam bambu yang tumbuh di hutan itu. Guru sastranya adalah seorang yang ahli tentang bambu, mengenal nama-nama dan sifat berbagai jenis bambu sehingga dia pun mengenal banyak bambu yang beraneka bentuk dan tumbuh di situ.

Ada bambu yang disebut Bambu Dawai Kecapi, batangnya lurus dan ruas-ruasnya agak berjauhan, tidak bermiang dan warna dasarnya kuning dengan garis-garis lurus berwarna kehijauan. Bambu ini yang biasanya disebut pula Bambu Kuning. Akan tetapi jenis ini ada yang dasarnya berwarna hijau muda dengan garis-garis hijau tua kehitaman.

Ada pula bambu yang disebut Bambu Berbintik, juga ada yang menamakannya Bambu Selir Siang! Tentang nama yang yang ke dua ini ada dongengnya. Pada jaman purba ada seorang kaisar yang meninggal karena sakit ketika dia sedang melakukan perjalanan ke selatan.

Selirnya yang terkasih demikian sedihnya dan putus asa karena kematian kaisar ini, lalu selir itu pun terjun ke dalam sungai dan kabarnya menjelma menjadi dewi sungai. Batang bambu itu menjadi berbintik-bintik terkena air mata selir itu. Karena sungai di mana selir itu membunuh diri adalah Sungai Siang, maka bambu itu dinamakan Bambu Selir Siang. Pada ruasnya sering kali tumbuh cabang berkelompok, dasar warnanya abu-abu kuning dan bintik-bintiknya yang tidak rata dan lebih tebal di dekat ruas itu berwarna coklat.

Ada pula bambu yang disebut bambu Muka Manusia karena bentuk ruasnya yang mirip sekali muka manusia, ada juga bambu Tak Berlubang yang batangnya hanya sebesar jari. Bambu Persegi adalah bambu yang aneh, tidak bundar dan kuIit batangnya keras sekali. Ada lagi Bambu Manis yang daunnya sangat lebar, menjadi kebalikan dari Bambu Cina yang daunnya kecil-kecil sehingga perbandingan daun antara kedua jenis bambu ini sama dengan lima puluh berbanding satu! Ada bambu yang dapat berbunga semerbak harum, di antaranya adalah Bambu Pahit dan Bambu Hitam Berduri.

Bambu yang terakhir ini tidak terlalu hitam, akan tetapi pada buku-bukunya di antara ruas terdapat duri-duri hitam mengeliliinginya, seolah buku-buku itu dipasangi roda bergigi. Ada pula Bambu Bermiang, ketika mudanya penuh dengan miang yang dapat membuat kulit manusia gatal-gatal.

Di antara semua bambu itu, Han Lin paling mengagumi bambu yang dinamakan Bambu Sisik Naga! Bambu ini memang luar biasa sekali. Batangnya bulat dan gemuk, kokoh dan berliku-liku bagaikan tubuh naga. Dan ruasnya juga aneh sekali, berselang-seling dengan buku-buku menyerong seperti sisik ular atau sisik naga.

Han Lin menghampiri rumpun bambu yang dicarinya, yaitu Bambu Tak Berlubang. Bambu jenis ini yang paling cocok untuk dijadikan joran pancingnya. Hanya sebesar ibu jari, tidak berlubang dan lentur sekali. Dengan mempergunakan goloknya, Han Lin menebang lima batang yang dipilihnya, tidak terlalu tua agar tidak kaku dan cukup lentur, dan tidak terlalu muda agar tidak getas.

Dia membersihkan cabang dan daun-daun kelima batang bambu itu, kemudian membawa lima batangnya keluar dari dalam hutan bambu. Seperti biasa kalau bermain di tempat itu, dia duduk di luar hutan, di pinggir sungai di mana rakitnya ditambatkan, dan dia menikmati pemandangan yang amat disenanginya.

Memang luar biasa sekali suasana di tempat yang sangat sunyi itu. Seluruh panca indera kita seperti dibelai dan dimanjakan kalau kita berada di situ. Hidung mencium keharuman yang khas dari tanah, daun dan kembang. Telinga menikmati gemersik daun-daun bambu yang dihembus angin semilir, bagaikan musik dan nyanyian sorga, dan mata yang paling banyak mendapat limpahan keindahan.

Tidak mengherankan kalau para penyair memuji-muji keindahan daun-daun bambu yang selalu menari-nari dengan pucuk batangnya yang meliuk-liuk, juga para pelukis tak pernah bosan melukis daun-daun bambu yang nampak kacau namun indah serasi itu. Kacau tapi serasi, itulah keadaan daun-daun bambu. Andai kata diatur oleh tangan manusia dan tidak kacau mencuat ke sana sini, malah menjadi tidak serasi dan tidak indah.

Seperti biasa, kalau berada seorang diri di situ, mendengar dendang merdu gemercik air di tepi sungai dan gemersik daun-daun bambu, disentuh lembutnya semilir angin, Han Lin kemudian tenggelam dalam lamunan. Seperti terbayang semua peristiwa yang telah lalu, mengingatkan dia bahwa dia pernah hidup sebagai seorang pangeran! Hidup dalam istana yang megah di mana setiap orang menghormati dan memuliakannya, dibelai kasih sayang ayah ibunya.

Dan sekarang? Semua itu telah musnah. Kini dia menjadi seorang anak yatim piatu yang terpaksa mengakui Liu Ma sebagai ibunya. Dia telah mendengar bahwa ayah ibunya telah gugur di dalam pertempuran. Dia telah kehilangan segala-galanya!

Akan tetapi tidak! Dia membantah renungannya sendiri. Dia tidak kehilangan segalanya. Dia masih memiliki dirinya! Kalimat ini seperti sudah menjadi dasar untuk menghidupkan gairah dan semangatnya.

Ibunya menyertakan sehelai surat untuknya dan surat itu selalu disimpan baik-baik oleh Liu Ma. Setelah dia pandai membaca, beberapa bulan yang lalu surat itu diberikan Liu Ma kepadanya. Dan kalimat pertama dalam surat ibunya kepada berbunyi:

Jangan putus asa, Han Lin puteraku. Engkau masih memiliki dirimu!

Kalimat itulah yang selama ini menjadi pegangannya dan selalu berdengung di telinganya setiap kali dia termenung dan kedukaan mulai menyelinap di hatinya. Kemudian, di dalam surat itu ibunya memesan kepadanya supaya kelak dia mencari anggota keluarga ibunya, yaitu kakak ibunya yang bernama Yang Cin Han, dan enci ibunya bernama Yang Kui Lan. Ibunya tidak tahu mereka berada di mana, dan dia sendiri belum pernah bertemu mereka. Akan tetapi kedua nama itu telah terukir dalam hatinya dan dia berjanji kepada diri sendiri bahwa sekali waktu, dia pasti akan pergi mencari mereka, paman dan bibinya itu.

Sampai lama Han Lin melamun di situ, tidak tahu bahwa sebuah perahu meluncur ke tepi sungai, dekat rakitnya. Dua orang yang tadi duduk di dalam perahu, sekarang melompat ke darat kemudian sekali tarik, perahu itu telah terseret ke daratan pula.

Agaknya dua orang itu kini mulai bercekcok dan barulah Han Lin sadar dari lamunannya ketika mendengar mereka berdua bicara dengan suara nyaring karena marah. Dia cepat menoleh dan dia terbelalak memandang kepada dua orang yang sedang ribut mulut itu.

Yang seorang bertubuh pendek gendut, mukanya hitam arang, matanya besar lebar dan mulutnya selalu tersenyum mengarah tawa. Bajunya terbuka pada bagian dada sehingga memperlihatkan dadanya yang penuh gajih.

Ada pun orang ke dua juga tak kalah anehnya, bahkan agaknya merupakan kebalikan dari orang pertama karena orang ke dua ini bertubuh tinggi kurus, mukanya pucat bagai kapur, matanya sipit hampir terpejam dan mulutnya selalu mewek seperti orang menangis. Usia dua orang aneh ini sekitar lima puluh tahun dan kini mereka bertengkar, didengarkan oleh Han Lin yang merasa terheran-heran.

"Hek-bin (Muka Hitam), jangan sombong engkau! Mentang-mentang sudah belasan tahun bertapa di kutub utara, kau kira kini ilmu kepandaianmu tak ada yang dapat menandingi? Apa kau kira selama belasan tahun ini aku tinggal menganggur saja? Hemmm, kau tahu, aku pun memperdalam ilmuku dan aku yakin engkau tidak akan mampu menandingiku!" kata si muka putih.

Si gendut bermuka hitam tertawa bergelak, mengangkat muka ke atas dan ketika tertawa. perut gendutnya bergerak-gerak seperti bergelombang. “Ha-ha-ha, Pek-bin (Muka Putih), engkau yang takabur! Engkau selama belasan tahun bertapa di kutub selatan? Heh-heh-heh, dulu kita memang setingkat, akan tetapi sekarang jangan harap engkau akan mampu menandingiku. Lebih baik engkau mengangkat aku menjadi guru dan saudara tua supaya aku dapat membimbingmu, ha-ha-ha!"

"Wah, gendut muka hitam sombong. Mari kita uji, tidak perlu banyak bicara. Kita buktikan siapa di antara kita yang lebih kuat dan lebih pantas menjadi saudara tua!” kata si tinggi kurus muka putih.

"Baik, majulah!"

Mereka berdua lalu berkelahi!

Han Lin masih terlalu kecil dan asing dengan ilmu silat untuk bisa mengetahui bahwa dua orang itu bukan hanya berkelahi biasa saja, melainkan bertanding dengan menggunakan ilmu-ilmu yang amat dahsyat! Gerakan kaki tangan mereka menimbulkan angin bersiutan, debu mengepul dan tampak batu-batu beterbangan dilanda angin tendangan kaki mereka, dan rumpun bambu terdekat seperti dilanda angin besar!

Kadang kala mereka bergerak sedemikian cepatnya sehingga bentuk tubuh mereka tidak nampak lagi, hanya terlihat dua bayangan saja yang seperti bergulat menjadi satu, namun ada kalanya gerakan mereka nampak perlahan-lahan seperti orang bermain-main. Namun ketika bertanding dengan gerakan perlahan itu, sesungguhnya mereka sangat berbahaya karena keduanya mengandalkan sinkang yang amat kuat.

Han Lin merasa heran sekali melihat dua orang itu bertanding seperti itu. Mengapa orang-orang tua itu begitu pandir, tanpa hujan tanpa angin saling hantam seperti itu hanya untuk memamerkan kepandaian dan tak mau kalah? Dia khawatir kalau-kalau seorang di antara mereka akan terluka atau tewas, maka dia pun bangkit kemudian lari menghampiri untuk melerai.

Pada saat itu kedua orang aneh yang merasa penasaran karena belum dapat mendesak lawan, baru saja saling berbenturan tangan. Keduanya segera meloncat ke belakang dan sekarang mereka mengerahkan seluruh tenaga melalui kedua tangan yang didorongkan ke depan, saling serang dengan pukulan jarak jauh.

"Tahan ! Harap kedua paman berhenti berkelahi!"

Han Lin berlari di antara kedua orang itu. Dia tidak tahu bahwa dia berada di antara dua pukulan jarak jauh yang saling menghantam! Kedua orang itu sangat terkejut, akan tetapi agaknya mereka tidak peduli dengan munculnya seorang anak laki-laki di antara mereka karena mereka tetap melanjutkan dorongan mereka.

Han Lin yang sedang berlari itu mendadak tertahan larinya dan dia terbelalak. Dia berdiri persis di antara kedua orang itu, menghadap ke arah si pendek gendut muka hitam. Dia merasa betapa dadanya diterpa hawa dingin seperti es yang membuat tubuhnya seperti kaku membeku, akan tetapi pada waktu yang bersamaan, punggungnya dihantam hawa yang amat panas seperti api.

Han Lin dihimpit dua tenaga dahsyat, bukan saja tenaga sinkang kedua orang itu sangat kuat, tapi keduanya juga mengandung hawa beracun yang amat mematikan! Hawa racun dingin dari si muka hitam itu dapat membuat darah menjadi beku, sedangkan hawa racun panas dari si muka putih dapat membuat seluruh isi tubuh menjadi hangus terbakar!


Seorang ahli silat yang tangguh sekali pun tak akan kuat menerima hantaman dari kedua pihak dengan tenaga sinkang beracun seperti itu, apa lagi tubuh Han Lin, anak berusia tujuh tahun yang belum pernah belajar ilmu silat sama sekali. Tubuhnya berkelojotan dan matanya melotot, kaki tangannya terpetang seperti disambar halilintar, rambutnya berdiri semua, jari-jari tangannya terpentang.....


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner