KISAH SI PEDANG TERBANG : JILID-02


Agaknya dua orang aneh itu tidak mempedulikannya, bahkan mereka merasa jengkel dan menganggap anak itu sebagai pengganggu saja. Maka, begitu keduanya menggerakkan lengan, tubuh Han Lin segera terlempar ke dalam hutan bambu kemudian jatuh di dalam rumpun bambu.

Dua orang aneh itu tidak mempedulikan lagi kepadanya, karena mereka berdua merasa yakin bahwa anak itu tentu sudah mati. Biar seorang ahli silat tangguh sekali pun, sukar untuk dapat bertahan hidup apa bila telah terkena pukulan seorang saja dari mereka, apa lagi anak kecil itu menerima pukulan dari mereka berdua! Mereka melanjutkan adu tenaga dan ternyata keduanya seimbang sampai akhirnya mereka berdua sama-sama lemas dan mengakhiri adu tenaga itu lalu cepat duduk bersila untuk menghimpun tenaga. Kemudian mereka bangkit lagi.

"Hek-bin yang gendut, engkau ternyata hebat!" kata si muka putih.

"Engkau pun hebat, Pek-bin. Ternyata sampai sekarang kita masih juga seimbang, maka biarlah kita menjadi seperti dulu, tidak ada yang lebih tua dan tidak ada yang lebih muda, tidak ada yang lebih kuat atau lebih lemah." Si gendut tertawa bergelak.

"Bagus! Kalau begitu, mari kita bersama mencari rejeki!" kata si muka putih.

Mereka berdua lantas berkelebat dan tahu-tahu mereka sudah berada di atas perahu lagi yang kemudian diluncurkan cepat ke tengah sungai. Mereka sudah lupa lagi kepada anak yang menjadi korban adu tenaga mereka tadi. Dua orang aneh itu memang bukan orang sembarangan.

Belasan tahun yang lalu mereka telah terkenal sebagai Hek Pek Mo-ong (Raja Hitam dan Putih), sepasang datuk sesat yang berilmu tinggi. Para pendekar lalu bangkit menentang mereka dan akhirnya mereka berdua terusir dari dunia kangouw.

Keduanya lalu merantau, seorang ke selatan seorang ke utara dan selama belasan tahun mereka bersembunyi sambil memperdalam ilmu mereka. Kini mereka telah turun kembali ke dunia ramai sebagai dua orang tokoh yang ilmu kepandaiannya hebat sekali.

Yang gendut bermuka hitam berjuluk Hek-bin Mo-ong (Raja Iblis Muka Hitam), sedangkan yang kurus kering bermuka putih berjuluk Pek-bin Mo-ong (Raja Iblis Muka Putih). Dunia persilatan pasti akan menjadi gempar dengan turunnya kembali dua orang datuk sesat ini dari tempat persembunyian mereka…..

********************

Tubuh Han Lin bergerak-gerak, berkelojotan dalam sekarat. Anak berusia tujuh tahun itu telah diserang pukulan ampuh dari depan dan belakang, dengan hawa beracun dingin dari depan dan hawa beracun panas dari belakang. Kalau saja dia terkena satu saja dari dua pukulan itu, tentu dia telah tewas seketika.

Kalau terkena pukulan dingin saja, tentu semua darah di tubuhnya sudan membeku, atau kalau terkena pukulan panas saja, tentu tubuhnya telah hangus. Akan tetapi justru karena pukulan itu datang dari depan dan belakang, tubuhnya seperti terhimpit dua pukulan yang saling menolak. Hal ini membuat dia tidak sampai tewas seketika. Namun hawa beracun panas dan dingin itu telah menyusup ke dalam tubuhnya, membuat tubuh itu berkelojotan dalam sekarat, mati tidak hidup pun enggan.

Sejak lahir sampai mati, kita tidak bisa mengatur atau menguasai kehidupan kita sendiri. Kita dilahirkan begitu saja di luar kehendak kita, kemudian selama hidup kita pun tidak tahu apa akan terjadi dengan hidup kita, kemudian kematian datang tanpa bisa kita tolak atau minta.

Mati atau hidup sepenuhnya berada di tangan Tuhan, dalam kekuasaanNya. Kalau Tuhan menghendaki kita mati, tidak ada tempat persembunyian bagi kita untuk menghindarkan diri. Walau pun kita bersembunyi ke lubang semut, maut tetap akan datang menjemput. Sebaliknya, apa bila Tuhan belum menghendaki kita mati, meski dihujani seribu batang anak panah sekali pun, kita akan terhindar dari pada maut.

Betapa banyaknya manusia, baik diakuinya mau pun tidak, merasa takut akan kematian. Pada lahirnya boleh membual dan berlagak tidak takut mati, tetapi jauh di sebelah dalam lubuk hatinya dia merasa ngeri dan takut!

Mengapa harus takut akan sesuatu sudah pasti terjadi, akan sesuatu yang tidak mungkin terelakkan lagi, sesuatu yang pasti akan menimpa setiap orang di dunia ini, tidak peduli tua atau pun muda, kaya atau pun miskin, pandai atau bodoh? Kenapa takut menghadapi sesuatu yang tidak dapat kita ketahui keadaannya, sesuatu yang tidak kita kenal?

Sesungguhnya kita tidak mungkin takut terhadap suatu keadaan yang tidak kita ketahui. Yang kita takuti adalah suatu keadaan yang kita ketahui melalui kepercayaan, dongeng dan penuturan tentang keadaan sesudah mati. Yang kita takuti adalah kenyataan bahwa kalau kita mati, kita meninggalkan semua yang kita sukai dan cintai. Meninggalkan harta benda, meninggalkan keluarga, meninggalkan segala macam kesenangan hidup di dunia ini.

Berbahagialah orang-orang yang menyerah kepada Tuhan secara menyeluruh, lahir dan batin, pasrah dengan penuh keikhlasan dan ketawakalan. Bagi orang seperti ini kematian bukanlah suatu akhir, melainkan suatu kelanjutan dari pada kehidupan di dunia. Karena itu, bila kita menyerah kepada Tuhan Sang Maha Pencipta yang menguasai dan memiliki seluruh alam beserta isinya, berarti yang memiliki dan menguasai diri kita, maka tidak ada rasa takut terhadap kehidupan mau pun kematian.

Menyerah kepada Tuhan sama sekali bukan berarti acuh, pasif atau pun mandeg. Sama sekali bukan! Bukan pasrah namanya kalau kita hanya menyerahkan segalanya kepada Tuhan tanpa mau berusaha sesuatu!

Tuhan menciptakan kita dengan alat yang paling sempuma dan lengkap, tangan kaki, hati akal pikiran, semuanya itu tentu untuk dimanfaatkan, dikerjakan sekuat kemampuan masing-masing demi kesejahteraan hidup di dunia, demi kelangsungan hidup dan untuk penjagaan diri.

Bekerja! Itulah hidup, karena hidup berarti gerak, dan gerakan kita berarti bekerja. Tetapi semua pekerjaan, usaha dan ikhtiar kita itu dilandasi kepasrahan mutlak kepada Tuhan, karena hanya Tuhan yang dapat menentukan apa yang akan kita alami dalam kehidupan ini mau pun dalam kelanjutannya sesudah kita meninggalkan dunia. Kalau sudah begitu, apa lagi yang perlu ditakuti? Adakah hal yang lebih membahagiakan bagi setetes air dari pada kembali ke samudera tempat dia berasal?


Demikian pula dengan Han Lin yang tubuhnya kini menyangkut di antara rebung bambu di rumpun itu. Tubuhnya berkelojotan, kaki tangannya bergerak-gerak, lalu tanpa disadarinya kaki kanannya menendang seekor ular yang sedang melingkar di rumpun bambu itu. Ular itu adalah seekor ular senduk kepala putih yang amat berbisa.

Karena tertendang kaki yang berkelojotan, ular itu menjadi marah lantas lehernya mekar, mulutnya mendesis, leher itu terangkat tinggi, dan matanya mencorong mengikuti gerakan kaki yang masih terus menendang-nendang. Mungkin dia mengira bahwa kaki itu sengaja hendak menyerangnya, maka tiba-tiba saja kepalanya bergerak kemudian pada detik lain moncongnya telah menggigit betis Han Lin yang kiri.

"Capp!"

Gigi-gigi kecil runcing terhujam di dalam daging betis itu dan liur beracun memasuki jalan darah di betis Han Lin. Akan tetapi ular itu menggeliat-geliat, tidak dapat melepaskan lagi moncongnya dan hanya sebentar dia mengeliat lalu tak bergerak, mati dengan gigi masih menancap di dalam betis Han Lin.

Sekarang terjadi perubahan pada tubuh Han Lin. Kaki tangannya tidak berkelojotan lagi, melainkan terdiam dan dia pun rebah di antara rebung bambu, menggeletak miring dan sama sekali tidak bergerak-gerak Iagi. Matikah dia seperti ular senduk itu?

"Omitohud…!"

Suara pujian ini keluar dari mulut seorang hwesio yang berdiri di dekat rumpun bambu, memandang ke arah tubuh Han Lin yang tidak bergerak. Hwesio ini berusia lanjut, paling sedikit tentu sudah tujuh puluh tahun. Tubuhnya gendut seperti arca Jilaihud, akan tetapi wajahnya yang gemuk itu seperti wajah seorang anak kecil, segar kemerahan dan sinar matanya begitu terang.

Jubahnya kuning sederhana, sepatunya terbuat dari kulit kayu dan tangannya memegang sebatang tongkat bambu ular kuning, sejenis bambu kuning yang bentuknya seperti ular, seperti Bambu Sisik Naga yang terdapat di hutan itu akan tetapi lebih kecil.

Hwesio itu kini berjongkok, memeriksa keadaan Han Lin, menyentuh nadinya dan melihat ular senduk yang masih menggigit betis anak itu, lalu dia tertegun, menggeleng-gelengkan kepala dan menarik napas panjang, merangkap kedua tangan ke depan dada, kemudian berseru penuh ketakjuban.

"Omitohud, suatu mukjijat telah terjadi pada diri anak ini."

Dengan teliti dia membuka baju Han Lin, memeriksa dada, leher, dan kembali memeriksa denyut nadinya. Sesudah itu dia melepaskan gigitan ular itu, kemudian memeriksa bekas gigitan ular pada betis dan memeriksa pula tubuh ular yang wamanya berubah kehitaman.

"Omitohud!" berulang-ulang dia berseru, mengangguk­-anggukkan kepalanya yang gundul, lalu tersenyum lebar. "Bukan main, belum pernah aku melihat hal yang begini kebetulan! Mukjijat-mukjijat! Di dalam tubuh anak ini terdapat hawa beracun dingin dan hawa beracun panas, akan tetapi dua hawa beracun itu kehilangan kekuatannya oleh racun ular senduk kepala putih! Ketika bertemu racun ular, justru perpaduan antara racun dingin dan racun panas itu menjadi jinak dan tidak merenggut nyawa anak ini. Sungguh, nyawa anak ini tadi hanya bergantung pada sehelai rambut yang halus sekali. Bukan main!"

Akan tetapi, hwesio tua itu lalu memandang ke sekeliling dengan penuh kewaspadaan..

"Orang yang dapat memukul dengan hawa beracun dingin atau panas seperti itu, sungguh merupakan orang yang amat berbahaya dan lihai," katanya kepada diri sendiri.

Hatinya menjadi lega setelah melihat bahwa di situ tidak terdapat orang lain, dan kembali perhatiannya tertuju kepada Han Lin. Kini anak itu mengeluarkan suara keluhan lirih dan tubuhnya mulai bergerak.

Ketika dia membuka mata, yang pertama kali dilihatnya adalah dua buah rebung Bambu Persegi. Rebung ini enak sekali kalau dibuat sayur, rasanya gurih sehingga sering kali dia mengambil rebung Bambu Persegi ini untuk dimasak ibunya. Sekarang dia sudah hampir lupa bahwa Liu Ma bukan ibunya, saking terbiasa menyebut ibu kepada wanita yang amat mengasihinya itu.

"Syukurlah engkau tidak apa-apa, nak."

Han Lin terkejut mendengar suara itu dan ketika menoieh, dia melihat seorang hwesio tua duduk bersila di dekat situ. Dia cepat merangkak bangun, akan tetapi dia mengeluh lantas memejamkan matanya karena tiba-tiba dia merasa pening dan ingin muntah. Dia merasa sebuah tangan yang lebar dan hangat menempel di punggungnya dan suara lembut tadi berkata lagi,

"Anak baik, duduklah bersila lalu pejamkan matamu dan tenangkan hatimu. Engkau telah terlepas dari bahaya maut. Biarkan hawa hangat dari tangan pinceng memasuki tubuhmu dan membantumu membersihkan sisa hawa beracun yang menyerangmu.”

Han Lin tidak mengerti apa arti semua kata-kata itu, akan tetapi dia segera teringat akan peristiwa yang dialaminya tadi sehingga dia dapat menduga bahwa hwesio tua ini tentu bermaksud menolongnya, maka dia pun menaati.

Dia menahan kepeningan kepalanya, lalu bersila dan dia membiarkan hawa hangat yang terasa memasuki punggungnya itu menjalar ke seluruh tubuhnya. Tidak lama kemudian pening kepalanya hilang, juga rasa mual seolah hendak muntah. Dia tidak melihat betapa dari kepalanya mengepul uap tipis berwarna hitam!

"Omitohud... benar-benar ajaib! Ini namanya bahaya maut berubah menjadi berkah yang amat besar! Bukan saja engkau terbebas dari maut, tetapi sekarang tubuhmu akan kebal terhadap serangan racun. Bukan main!"

Han Lin belum mengerti benar kecuali hanya bahwa hwesio tua itu telah menyelamatkan dirinya, maka dia pun berlutut di hadapan hwesio itu.

"Losuhu, terima kasih atas pertolongan losuhu kepada saya," katanya.

"Omitohud…!" Hwesio tua itu kembali memandang heran.

Anak ini memang berpakaian seperti anak dusun, akan tetapi wajahnya jelas bukan anak biasa, dan begitu mengerti tata susila, juga ucapannya teratur seperti seorang anak yang terpelajar.

"Anak baik, apa yang sudah terjadi denganmu tadi? Pinceng menemukan engkau tergigit seekor ular dan tubuhmu penuh dengan hawa beracun."

"Ular? Saya tidak tahu, losuhu," kata Han Lin dan begitu melihat bangkai ular tak jauh dari kakinya, bangkai ular yang kering kehitaman seperti terbakar, dia pun memandang heran.

"Tadi saya melihat dua orang kakek berkelahi, kemudian saya bermaksud hendak melerai dan mencegah mereka berkelahi. Tiba-tiba saja saya merasa dada saya amat dingin dan punggung saya amat panas, lantas tubuh saya terlempar ke sini dan saya tidak ingat apa-apa lagi."

"Omitohud..., tentu engkau telah bertemu dengan dua orang sakti yang sedang mengadu tenaga sinkang! Mereka itu lihai bukan main. Seperti apakah mereka itu?"

"Yang seorang bertubuh gemuk pendek dengan muka hitam, sedangkan orang yang ke dua bertubuh tinggi kurus bermuka putih seperti kapur. Yang muka hitam arang itu disebut Hek-bin oleh kawannya dan yang muka putih kapur disebut Pek-bin."

"Hemm, berapa usia mereka?"

"Kira-kira lima puluh tahun, losuhu."

"Hemm... mungkinkah mereka? Setelah selama belasan tahun menghilang, mungkinkah mereka kini muncul kembali?"

"Siapakah mereka, losuhu?"

"Kelak engkau akan mengetahui, tapi yang penting sekarang, siapakah engkau, di mana rumahmu dan siapa pula orang tuamu?".

"Losuhu, nama saya Sia Han Lin, rumah saya di dusun Libun di seberang sungai, ada pun orang tua saya, hanya ibu saya yang berada di rumah. Saya tidak mempunyai ayah lagi."

"Omitohud…! Sekecil ini engkau sudah kehilangan ayah. Han Lin, pinceng melihat engkau bukan seperti anak dusun biasa. Pinceng ingin berkenalan dan berbicara dengan ibumu. Bolehkah pinceng mengantarmu pulang agar pinceng dapat bicara dengan ibumu?"

"Tentu saja boleh, losuhu!" kata Han Lin gembira. "Tentu ibu akan merasa gembira dan berterima kasih sekali karena losuhu telah menolong saya."

"Omitohud…! Bukan pinceng yang menolongmu, Han Lin. Engkau tertolong oleh sebuah kebetulan, sebuah keadaan yang amat aneh. Pada saat yang bersamaan engkau terkena pukulan-pukulan yang mematikan, agaknya ketika engkau melerai dua orang yang sedang betanding tadi. Karena dua macam pukulan mengandung daya yang saling bertentangan, maka engkau tidak jadi tewas, padahal setiap pukulan itu telah cukup untuk menewaskan seorang dewasa yang tangguh sekali pun. Namun kedua hawa pukulan beracun itu justru saling meluruhkan. Biar pun begitu, tubuhmu lalu dipenuhi dua macam hawa beracun dan pada saat itu sungguh menakjubkan sekali, muncullah ular senduk kepala putih menggigit betismu. Padahal, gigitan ular itu akan mematikan seorang yang tangguh sekali pun! Dan racun gigitan ular itulah yang membebaskanmu dari kematian karena pengaruh dua hawa beracun itu. Engkau selamat, bukan oleh pinceng, bukan pula oleh ular, melainkan oleh Pemberi Kehidupan yang agaknya belum menghendaki engkau mati. Nah, mari antar aku berkunjung ke rumah ibumu, Han Lin."

Mereka lalu mempergunakan rakit menyeberangi sungai. Hwesio tua itu agaknya memang sengaja membiarkan Han Lin yang mendayung rakit menyeberangi sungai dan diam-diam dia memandang dengan wajah ramah dan hati kagum.

Anak itu sedikit pun tidak nampak menderita lagi dan meski pun rakit yang ditumpangi dua orang itu cukup berat, namun Han Lin mendayung dengan penuh semangat. Anak ini jelas memiliki semangat yang amat tinggi, pantang menyerah, tabah dan juga sama sekali tidak cengeng…..!

********************

Liu Ma menyambut kepulangan Han Lin dengan perasaan terheran-heran karena anak itu bergandengan tangan dengan seorang hwesio tua yang tubuhnya gendut dan berwajah seperti anak kecil, kulitnya putih kemerahan dan segar.


"Han Lin, apakah yang terjadi dan siapakah losuhu ini?" tanya janda itu dengan pandang mata khawatir.

Apa pun yang terjadi pada anak itu selalu mendatangkan perasaan khawatir di hatinya. la selalu gelisah nemikirkan nasib anak itu, takut kalau-kalau ada yang tahu bahwa Han Lin adalah putera Sia Su Beng yang pernah menjadi kaisar!

'Omitohud, harap nyonya tidak khawatir. Putera nyonya baik-baik saja dan karena pinceng tertarik sekali melihat pribadinya, maka pinceng ingin sekali bertemu dengan nyonya yang begini pandai mendidik puteranya. Sungguh pinceng merasa kagum dan hormat kepada nyonya karena nyonya telah mendidik seorang putera dengan demikian baiknya."

Liu Ma tersenyum, juga wajahnya berubah agak kemerahan karena tentu saja dia merasa bangga menerima pujian dari seorang hwesio tua. Siapa tahu arwah ayah ibu kandung Han Lin akan dapat mendengarkan suara seorang pendeta tua ini bahwa dia telah benar-benar setia dan patuh melaksanakan tugas yang dibebankan kepadanya, yaitu merawat dan mendidik Han Lin dengan penuh kasih sayang dan kesungguhan hati.

"Ibu," kata Han Lin dengan hati tegang saat mendapat kesempatan menuturkan peristiwa aneh tadi, "Tadi aku bertemu dengan dua orang manusia aneh dan hampir saja aku mati karena pertemuan itu. Juga kakiku digigit ular senduk kepala putih yang sangat beracun. akan tetapi aku tidak mati. Losuhu ini yang telah menyelamatkan nyawaku.”

Wajah wanita itu seketika menjadi pucat, kedua matanya terbelalak dan sambil menahan jeritnya, dia merangkul Han Lin.

"Han Lin apa yang terjadi, nak? Bagaimana perasaanmu sekarang? Apanya yang terasa sakit?"

Dengan penuh kasih sayang wanita itu memeriksa tubuh anaknya dan kelihatan gugup bukan main ketika melihat bekas gigitan ular pada betis anak itu.

"Kau... kau harus cepat kuperiksakan pada tabib."

"Omitohud..., harap nyonya tak perlu khawatir. Han Lin sudah terhindar dari bahaya maut, bukan karena pinceng, tetapi karena memang dia belum waktunya meninggalkan dunia ini."

"Benar, ibu. Aku tidak apa-apa, ibu jangan khawatir."

"Ah, kalau begitu kami berhutahg budi kepada losuhu," dan wanita itu cepat menjatuhkan diri berlutut di depan hwesio tua itu.

Dengan tergopoh hwesio itu menyuruhnya bangkit dan diam-diam dia menjadi semakin heran. Wanita ini pun bukan seperti wanita dusun, melainkan seorang yang lemah lembut dan mengerti tata susila seperti orang yang berpendidikan. Ia tidak tahu bahwa tentu saja Liu Ma mengerti tata susila karena dia pemah menjadi seorang hamba di dalam istana, melayani keluarga kaisar!

Setelah disuruh bangun, Liu Ma bangkit berdiri kemudian dengan sikap hormat sekali dia pun mempersilakan hwesio itu untuk duduk di ruangan dalam. Dia segera sibuk menyuruh pembantunya mempersiapkan makanan yang tidak mengandung daging, juga membuat minuman dari sari buah untuk menjamu hwesio itu makan minum.

Kepada Liu Ma, Hwesio tua itu memperkenalkan diri sebagai Kong Hwi Hosiang dan dia tidak menolak jamuan makan yang diadakan oleh Liu Ma untuk menghormatInya. Bahkan hidangan makan minum itu menambah rasa kagumnya kepada wanita itu karena temyata nyonya rumah itu menjaga benar agar tidak ada daging di dalam semua hidangan.

Seorang wanita yang pandai membawa diri dan cermat. Pantas saja mempunyai seorang putera seperti Han Lin. Dan dia pun semakin tertarik terhadap Han Lin dan semakin kuat keinginannya untuk mengambil anak itu menjadi muridnya.

Kong Hwi Hosiang adalah seorang hwesio berilmu tinggi yang sejak muda sudah senang merantau, tidak menetap di dalam sebuah kuil. Dia merantau sambil mengajarkan agama Buddha dan di samping itu, karena dia seorang ahli silat yang tangguh, dia pun bertindak sebagai seorang pendekar yang selalu membela kebenaran dan keadilan.

Namanya sangat terkenal di kalangan persilatan, dan selama puluhan tahun merantau dia selalu memperdalam ilmu-ilmunya sehingga menjadi seorang yang sakti. Karena dia suka merantau, maka selama hidupnya dia hanya mempunyai dua orang murid wanita saja dan murid-muridnya itu bukan lain adalah ibu kandung Han Lin sendiri yang bernama Yang Kui Bi dan enci-nya, yaitu Yang Kui Lan!

Memang sungguh aneh sekali jalan hidup Han Lin. Bukan saja secara aneh dan kebetulan dia terhindar dari maut terpukul dua orang datuk sesat lalu digigit ular beracun, bahkan dia lalu mendapatkan kekebalan dalam tubuhnya terhadap racun, juga secara aneh dan tidak disengaja, guru mendiang ibunya sendiri yang lewat di tempat itu dan menolongnya!

Kong Hwi Hosiang sendiri tidak pemah menduga bahwa anak yang dikaguminya sehingga membuat dia ingin sekali mengambilnya sebagai murid itu bukan lain adalah putera dari salah seorang di antara kedua orang muridnya! Semenjak enci adik itu selesai belajar dan berpisah darinya, Kong Hwi Hosiang sudah tak pernah berhubungan lagi dengan mereka, juga tidak tahu bagaimana keadaan kedua muridnya itu. Hwesio tua ini sudah mencapai suatu tingkat kehidupan di mana dia tidak terikat lagi dengan apa pun.

Sesudah makan, dilayani sendiri oleh Liu Ma dan ditemani pula oleh Han Lin, Kong Hwi Hosiang minta kepada nyonya rumah untuk dapat bicara empat mata dengannya. Liu Ma memandang heran, tetapi dia segera menyuruh Han Lin untuk meninggalkan ruang tamu supaya dia dan tamunya dapat bicara berdua saja. Dengan patuh Han Lin mengundurkan diri.

Setelah duduk berdua saja, berhadapan dengan nyonya rumah, Kong Hwi Hwesio lantas berkata dengan suaranya yang lembut,

"Sebelumnya pinceng mengharapkan maaf kalau apa yang hendak pinceng utarakan ini ternyata tidak berkenan di hati nyonya. Secara tak sengaja, nasib telah mempertemukan pinceng dengan putera nyonya, dan begitu melihatnya, pinceng langsung merasa tertarik sekali. Putera nyonya itu mempunyai darah dan tulang yang baik, sangat berbakat untuk mempelajari ilmu-ilmu yang tinggi, juga kiranya akan baik apa bila dia memperdalam ilmu sastera dan keagamaan untuk bekal hidupnya kelak. Pinceng merasa tertarik sekali, dan kalau nyonya merelakan dan tidak berkeberatan, pinceng akan merasa bersyukur sekali untuk mengambilnya sebagai murid pinceng."

Mendengar ucapan ini, wajah Liu Ma berseri sehingga legalah hati hwesio itu.

"Saya akan berterima kasih dan merasa girang sekali kalau losuhu suka mendidik Han Lin sebagai murid suhu. Akan tetapi di manakah tempat tinggal suhu, di kelenteng mana, dan jauhkah dari sini?"

Kong Hwi Hwesio menggeleng kepala sambil tersenyum lebar sehingga nampak mulutnya yang ompong tanpa gigi lagi dan wajahnya semakin mirip wajah bayi yang belum bergigi!

"Omitohud! Selamanya pinceng tidak pernah mempunyai kelenteng, tidak pernah tinggal di suatu tempat yang tetap. Pinceng adalah seorang hwesio pengembara, nyonya."

Liu Ma mengerutkan alis. "Lantas bagaimana suhu hendak mengambil anak saya sebagai murid jika losuhu tidak mempunyai tempat tinggal? Apakah suhu hendak membawa anak saya pergi mengembara pula, tidak tentu tempat tinggalnya?"

Ketika hwesio tua itu mengangguk, Liu Ma segera menyatakan keberatannya.

"Harap losuhu sudi mengampuni saya. Saya akan berterima kasih sekali kalau anak saya dapat menjadi murid losuhu, akan tetapi sebaliknya, saya pun tak akan dapat hidup kalau dijauhkan darinya. Hendaknya losuhu ketahui bahwa hidup saya hanyalah untuk Han Lin seorang, bagaimana mungkin sekarang dia akan losuhu bawa pergi mengembara? Saya hanya mempunyai dia seorang, losuhu."

"Omitohud, pinceng juga tidak ingin membuat nyonya yang baik hati ini menjadi berduka. Tetapi pinceng adalah seorang hwesio yang miskin dan tidak mempunyai harta secuil pun, tentu tidak dapat mengadakan tempat tinggal."

"Ahh, saya jadi teringat, losuhu! Bagaimana kalau diatur sehingga kebutuhan kita berdua dapat terpenuhi dan kita pun sama-sama merasa enak dan senang? Maksud saya, losuhu tetap dapat menjadi guru anak saya, sedangkan saya dapat tetap tidak kehilangan Han Lin, tidak berjauhan darinya?"

Hwesio tua itu merangkapkan kedua tangannya di depan dada.

"Omitohud, pinceng yakin bahwa hati nyonya bersih, dan maksud hati nyonya baik sekali. Akan tetapi, demi menjaga nama baik nyonya, tidak mungkin pinceng tinggal di sini. Meski pun pinceng sudah tua renta, tetapi nyonya adalah seorang wanita janda, maka sungguh tidak baik bila..."

Liu Ma tersenyum geli, membuat Kong Hwi Hwesio tidak melanjutkan ucapannya malah memandang heran.

"Losuhu salah paham. Bukan maksud saya minta kepada losuhu supaya tinggal di sini. Tetapi dekat puncak Bukit Ayam Emas di sana itu terdapat sebuah kuil tua yang kosong dan tidak dipergunakan lagi. Kabarnya, puluhan tahun yang silam kuil itu menjadi tempat tinggal seorang tosu, tapi pertapa itu kemudian meninggal dunia di kuil dan dimakamkan di pekarangan kuil. Sejak itu pula kuil itu tidak ada penghuninya dan menjadi rusak karena tidak terawat. Bagaimana kalau saya minta ijin kepada kepala dusun, memperbaiki kuil itu kemudian losuhu tinggal di sana sambil mendirikan sebuah kelenteng? Dengan demikian losuhu dapat mendidik Han Lin dan setiap saat saya dapat menjenguknya."

Wajah hwesio itu berseri.

"Omitohud! Agaknya semua telah digariskan dengan lurus dan tepat sekali! Pinceng akan merasa senang sekali, nyonya, maka sebelumnya pinceng mengucapkan banyak terima kasih atas budi kebaikan nyonya."

Ucapan hwesio tua itu bukan sekedar untuk menyenangkan hati Liu Ma saja. Ketika dia melakukan perantauan dan tiba di daerah itu, hatinya sudah merasa tertarik sekali akan keindahan alam di situ.

Dia merasa dirinya sudah terlampau tua untuk mengembara Iagi, dan timbul keinginannya untuk tinggal di daerah yang sangat indah itu, untuk menghabiskan sisa hidupnya. Selain itu, juga dia ingin sekali meninggalkan ilmu­-ilmunya kepada seorang murid yang berbakat, di samping apa yang telah dia ajarkan kepada Yang Kui Lan dan Yang Kui Bi.

Maka dapat dibayangkan betapa senang rasa hatinya bahwa semua keinginan hatinya itu ternyata terkabul sedemikian mudahnya. Tanpa sengaja, ketika dia menikmati keindahan alam di dekat hutan bambu, dia bertemu dengan Han Lin yang segera dipilihnya sebagai calon muridnya. Kemudian ia bertemu dengan ibu anak itu yang dengan senang hati mau memperbaiki kuil tua untuk menjadi tempat tinggalnya! Semua begitu kebetulan, begitu tepat memenuhi kebutuhannya.

Ketika ditanya pendapatnya, Han Lin menyambut dengan gembira sekali keinginan Kong Hwi Hosiang yang ingin mengangkat dia sebagai muridnya. Segera dia menjatuhkan diri berlutut di depan kaki hwesio itu dan berkali-kali menyebut, “Suhu!”

Hwesio tua itu tertawa bergelak. Liu Ma juga tertawa senang karena dia percaya bahwa di bawah bimbingan seorang hwesio tua yang demikian ramah dan baik, tentu Han Lin kelak akan menjadi seorang yang berguna. Dengan demikian tentu dia akan merasa berbahagia dan puas bahwa dia telah dapat memenuhi kewajiban dengan baik.....


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner