KISAH SI PEDANG TERBANG : JILID-03


Kuil tua itu ternyata masih mempunyai dinding yang kokoh, hanya lantai dan atapnya saja yang membutuhkan perbaikan. Liu Ma menjual beberapa buah perhiasan yang dia terima dari orang tua Han Lin, dijualnya ke kota lalu ia pun memperbaiki kuil itu sehingga menjadi perhatian yang menggembirakan bagi para penduduk Libun.

Akan tetapi, ketika perbaikan atap mulai dilakukan, terjadilah hal-hal yang mendatangkan perasaan seram dan takut kepada para pekerja yang terdiri dari penduduk dusun Libun sendiri. Memang terjadi hal-hal yang amat aneh. Begitu atap dipugar, dua orang pekerja jatuh dari atas atap dan keduanya menceritakan pengalamannya yang sama, yaitu bahwa mereka didorong dari atas atap oleh seorang berpakaian tosu.

Untung mereka hanya menderita patah tulang kaki saja, tidak sampai tewas. Mula-­mula peristiwa itu masih dianggap sebagai hal yang terjadi karena kekurang hati-hatian kedua orang pekerja itu, Akan tetapi, pada waktu mereka hendak memasang atap baru, seorang pekerja tiba-tiba saja terkulai dan berkelojotan seperti orang sedang sekarat.

Ketika teman-temannya datang menolong, orang itu menjadi beringas, matanya melotot, mututnya berbuih dan dia pun berteriak-teriak kacau, dan suaranya terdengar parau.

"Pergi kalian semua! Pergi, jangan mengganggu tempatku! Akan kucekik kalian semua!" demikian orang itu berteriak-­teriak sambil meronta-ronta karena kaki tangannya dipegangi banyak orang.

Para penduduk dusun yang masih mudah sekali dipengaruhi tahyul itu menjadi ketakutan, maka mereka segera mengundang Kong Hwi Hosiang. Hwesio itu datang diikuti oleh Liu Ma dan juga Han Lin.

Sesudah Kong Hwi Hosiang memasuki kuil itu dan melihat seorang pekerja rebah di atas lantai, kaki tangannya dipegangi banyak orang dan semua pekerja sudah berhenti bekerja dan merubung orang itu yang berteriak-teriak mengusir mereka, dia lalu mendekati, diikuti oleh Liu Ma yang takut-takut dan Han Lin yang terheran-heran.

"Omitohud...! Saudara sekalian, harap lepaskan saja dia," katanya dengan lembut.

Para pekerja melepaskan orang itu, kemudian cepat mundur ketakutan. Mereka khawatir kalau orang yang mereka tahu kesurupan (kemasukan roh jahat) itu akan mengamuk.

Ketika orang itu dilepaskan, dia pun meloncat bangkit dengan mata melotot liar, mulutnya berbuih, dan dia memandang kepada Kong Hwi Hosiang lalu bertolak pinggang, sikapnya menantang!

"Huh, kiranya ini biang keladinya. Hwesio gendut tua bangka, engkau menggunduli kepala dan mengenakan jubah kuning, akan tetapi masih bertindak semena-mena, mengganggu dan hendak merampas tempatku, ya?"

Kong Hwi Hosiang merangkap kedua tangan di depan dada dan berkata dengan suaranya yang lembut penuh kesabaran,

"Omitohud, tuduhaninu itu menjadi kebalikan dari kenyataannya. Tidak ada seorang pun manusia yang mengganggumu, juga bangunan ini sama sekali bukan merupakan tempat tinggalmu. Bangunan ini adalah tempat tinggal manusia yang masih mempunyai jasmani. Engkaulah yang salah memilih tempat. Sebaiknya engkau mencari tempat yang jauh dari manusia dan mohon ampunlah kepada Yang Maha Kasih agar engkau dapat memperoleh kebebasan dan kesempurnaan."

Akan tetapi pekerja yang masih muda dan tubuhnya kekar itu kelihatan semakin marah. Dia mengeluarkan suara serak yang tak begitu jelas, kemudian membuat gerakan seolah-olah hendak mencekik Kong Hwi Hosiang.

Melihat ini, Liu Ma yang berada di belakang hwesio itu menjadi gemetar ketakutan, dan Han Lin memegang tangannya. Anak ini juga merasa ngeri, akan tetapi dia tidak takut. Ia percaya bahwa gurunya tentu akan mampu menundukkan iblis yang sedang memasuki tubuh pekerja itu.

Dengan sikap tenang Kong Hwi Hosiang memandang wajah pekerja itu. Suaranya masih lembut, namun menggetar penuh kewibawaan ketika dia berkata,

"Roh penasaran! Perbuatanmu ini hanya akan menambah dosamu dan juga memberatkan penderitaanmu. Pergilah engkau!"

Kong Hwi Hosiang lalu membaca mantera dan menggerakkan kedua tangannya seperti mendorong, dan pekerja itu mengeluarkan teriakan nyaring kemudian terkulai roboh.


Akan tetapi, begitu roboh dia segera bangkit duduk lalu memandang ke kanan kiri dengan keheranan.

"Aihh, apa yang telah terjadi? Kenapa aku? Dan mengapa kalian berhenti bekerja?"

Setelah melihat bahwa pekerja itu sudah bersikap biasa kembali, menunjukkan bahwa roh penasaran yang tadi menyusup ke dalam dirinya sudah pergi, kini teman-temannya berani menghampiri, malah ada yang memberinya minum sebelum menceritakan bahwa dia tadi kesurupan.

Pekerja kuil itu bergidik, kemudian meninggalkan pekerjaannya itu, pulang dan tak berani kembali lagi. Perbuatannya ini segera diikuti beberapa orang yang merasa ketakutan.

“Biarkan mereka pulang,” Kong Hwi Hosiang berkata kepada Li Ma yang hendak menegur mereka. “Kalau mereka memang takut, lebih baik tidak usah ikut membantu. Kita mencari orang-orang yang tidak takut saja.”

Demikianlah, perbaikan kuiI itu lalu dilanjutkan dan yang bekerja adalah orang-orang yang tidak gentar terhadap gangguan roh jahat. Dan anehnya, sejak peristiwa itu, tidak ada lagi gangguan sampai pembangunan itu selesai.

Berdirilah sebuah kelenteng baru di dekat puncak itu, kemudian Kong Hwi Hosiang mulai menyebarkan agama. Kelenteng itu mulai dikunjungi orang, untuk mempelajari agama dan untuk bersembahyang. Han Lin tinggal di kelenteng itu sebagai murid Kong Hwi Hosiang.

Anak ini ingin mengetahui tentang peristiwa kesurupan yang dulu membuat banyak orang menjadi ketakutan, maka pada suatu hari dia pun bertanya,

"Suhu, apa sih artinya peristiwa itu? Benarkah roh halus bisa memasuki tubuh manusia?"

Kong Hwi Hosiang tersenyum, girang bahwa biar pun masih kanak-kanak, muridnya tidak takut dan tidak dicengkeram tahyul, hal ini saja menunjukkan bahwa dia memang memiliki dasar watak yang kuat.

"Engkau telah melihat sendiri, Han Lin. Orang itu jelas tidak berpura-pura, dan tidak pula sakit. Dia memang sudah dirasuki roh penasaran yang tidak ingin kuil itu diperbaiki karena kuil itu telah menjadi tempat tinggalnya."

"Suhu, apakah setiap orang manusia dapat dimasuki roh seperti itu?"

Kong Hwi Hosiang menggelengkan kepala.

"Omitohud, tidak begitu mudah bagi roh jahat untuk memasuki diri seorang manusia, Han Lin. Hanya manusia yang batinnya lemah, manusia yang percaya dan mau tunduk kepada kekuasaan setan, dan manusia yang batinnya sedang dalam keadaan lemah seperti kalau sedang dikuasai nafsu, sedang marah, sedang bersedih, pendeknya dicengkeram nafsu, maka dialah yang seolah-olah terbuka bagi roh jahat untuk memasukinya. Sebaliknya dia yang batinnya kuat, yang sedikit pun tak mau menyerah terhadap kekuasaan nafsu, tidak tunduk terhadap pengaruh roh jahat, dia yang menyadari bahwa kedudukan manusia lebih tinggi dari pada roh-roh jahat, dia yang menyerah kepada kekuasaan Yang Maha Kasih, tidak mungkin dapat dimasuki roh jahat."

"Suhu, apakah mantera-mantera itu dapat mengusir roh jahat?" tanya pula Han Lin.

"Mantera adalah doa keyakinan manusia terhadap kekuasaan Yang Maha Kuasa, namun bukan manteranya itu yang ampuh, melainkan batin manusianya. Segala kekuatan datang dari kekuasaan Yang Maha Kuasa. Kalau kita menyerah dengan penuh kepasrahan, kita akan terlindung oleh kekuasaan itu, dan tidak ada kekuasaan gelap mana pun yang akan mampu mengganggu kita."

Dengan penuh kasih sayang Kong Hwi Hosiang mulai mengajarkan iImu kepada Han Lin yang baru berusia tujuh tahun. Dia digembleng dengan dasar ilmu silat tinggi, dilatih cara menghimpun tenaga sinkang tanpa paksaan agar tidak menghambat pertumbuhan tubuh anak itu, juga disuruh membaca banyak kitab kuno. Dan kebiasaan membaca ini dengan sendirinya memperdalam pengetahuannya tentang sastra.

Dan seperti yang nampak oleh hwesio tua itu pada pertemuan pertama, benar saja bahwa Han Lin memiliki bakat yang amat baik dalam ilmu silat. Dia memiliki keluwesan gerakan, kelincahan dan mudah menangkap inti suatu gerakan.

Meski pun Han Lin tinggal di kelenteng, namun Liu Ma tidak merasa kehilangan. Dia dapat bertemu dengan anak itu kapan saja dia kehendaki. Dia sering datang berkunjung, bahkan Han Lin selalu mendapat perkenan suhu-nya setiap kali dia hendak turun bukit menengok ibunya.

Tiga tahun kemudian, pada suatu pagi Kong Hwi Hosiang telah keluar dari kelenteng dan berjalan-jalan ke puncak. Kini usianya sudah tujuh puluh tiga tahun lebih, dan biar pun dia masih kelihatan segar, namun harus diakuinya bahwa usia sudah menggerogoti kekuatan tubuhnya.

SegaIa sesuatu pada permukaan bumi ini akhirnya akan menyerah kalah terhadap waktu, pikirnya sambil tersenyum ketika dia melangkah mendaki ke puncak bukit. Akan tetapi dia tidak pernah mau menyerah terhadap waktu, karena dia mengenal waktu.

Baginya yang ada hanyalah saat ini, sekarang, tidak mau dipengaruhi waktu lalu atau pun waktu mendatang. Waktu lalu hanya mendatangkan kenangan, waktu mendatang hanya menimbulkan bayangan. Waktu lalu sudah mati dan waktu mendatang hanya mimpi. Saat ini yang penting, saat ini yang menentukan.

Ketika akhirnya tiba di puncak, dia melihat muridnya telah berada di puncak pula, agaknya sudah selesai mengumpulkan ranting kering untuk kayu bakar. Kong Hwi Hwesio melihat muridnya itu sedang menggunakan sebatang ranting dan menggerak­-gerakkan ranting itu seperti orang sedang bersilat, akan tetapi bukan gerakan silat dasar seperti yang telah dia ajarkan, melainkan gerakan silat yang membuat hwesio tua itu terbelalak.

Tentu saja dia mengenal gerakan itu, karena itu adalah satu di antara ilmu silatnya sendiri yang dia andalkan. Kong-in Sin-pang (Tongkat Sakti Angin dan Awan)! ltulah gerakan yang dilakukan Han Lin, walau pun hanya sepotong-sepotong dan tidak sempurna!

Bagaimana mungkin anak itu bisa melakukan gerakan itu? Padahal dia ingat betul bahwa dia belum pernah mengajarkan ilmu tongkat itu, walau pun sedikit, dan dia tidak percaya kalau di daerah itu ada yang mampu memainkan ilmu silat tongkat itu.

Ketika Han Lin kebetulan membalikkan tubuhnya sehingga melihat gurunya, dia langsung melepaskan rantingnya kemudian berlari menghampiri kakek itu.

"Suhu...! Sepagi ini suhu sudah mendaki ke puncak?"

Dengan ujung lengan bajunya yang lebar Kong Hwi Hosiang mengusap peluh dari dahinya, kemudian dia pun tersenyum,

"Omitohud....! Kalau usia sudah tua, hanya mendaki sebegini saja sudah berkeringat. Han Lin, apakah engkau sudah cukup mengumpulkan kayu bakar?"

"Sudah, suhu. Itu sudah teecu (murid) ikat semuanya.” Dia menuding ke arah seikat besar ranting-ranting kering.

“Bagus, dan pinceng tadi melihat engkau bersilat dengan ranting kayu. Dari mana engkau mempelajarinya?” Hwesio itu bertanya sambil lalu, seolah tidak menaruh perhatian. Wajah anak itu berubah kemerahan dan dia tersenyum.

”Aihh, suhu, teecu hanya main-main sembarangan saja.”

"Han Lin, gerakanmu tadi jelas bukan main-main, melainkan semacam ilmu tongkat. Nah, katakan saja sejujurnya, dari siapa engkau mempelajari ilmu tongkat itu? Atau jika engkau meniru gerakan orang lain, siapa yang kau lihat memainkan ilmu tongkat itu?"

Han Lin nampak salah tingkah sehingga diam-diam hwesio tua itu merasa heran. Selama tiga tahun ini belum pernah dia melihat muridnya bersikap seperti itu, penuh keraguan dan penuh kepanikan.

"Teecu… ahh… teecu…"

"Han Lin, tentu kau masih ingat bahwa di antara kita tidak boleh ada rahasia, dan bahwa amat tidak baik untuk berbohong, apa lagi terhadap pinceng, bukan?"

Sekarang Han Lin mengambil sikap tegas. Dengan berani dia menentang lagi sinar mata suhu-nya.

"Tentu teecu masih ingat dan teecu tidak akan pernah melanggarnya, suhu. Tetapi teecu juga ingat bahwa seorang laki-laki haruslah selalu memegang teguh janjinya. Mengingkari janji merupakan perbuatan yang pengecut, dan teecu yakin bahwa tentu suhu tidak ingin melihat teecu melanggar janji."

Hwesio itu mengangguk-angguk. Anak ini memang hebat, pikirnya. Dan kepada siapa lagi anak ini berjanji, kalau bukan kepada dirinya sendiri atau kepada ibunya? Hanya mereka berdua saja yang agaknya patut menerima janji Han Lin. Dan agaknya memang terdapat suatu rahasia antara Han Lin dan ibunya itu.

Kini dia mulai melihat betapa pandang mata nyonya janda itu terhadap puteranya, selain pandang penuh kasih sayang, juga pandang yang mengandung penghormatan! Pasti ada suatu rahasia di antara mereka, dan rahasia itu ada hubungannya dengan gerakan ilmu tongkat tadi!

"Sudahlah, Han Lin, tidak mengapa bila engkau tidak bisa menceritakan kepada pinceng. Memang seorang laki-laki harus memegang teguh janjinya, karena itu mengenai martabat dan kehormatan. Nah, sekarang mari kita kembali ke kelenteng."

Kong Hwi Hosiang yang bijaksana tidak pernah bertanya lagi kepada muridnya mengenai ilmu tongkat itu, akan tetapi ketika dia mendapat kesempatan bertemu dengan Liu Ma dan bicara empat mata, dia pun mengajukan pertanyaan kepada Liu Ma.

“Beberapa pekan yang lalu pinceng memergoki Han Lin bermain silat tongkat di puncak bukit dan pinceng heran sekali karena mengenal ilmu tongkat itu. Ketika pinceng bertanya dari mana dia mempelajari ilmu silat tongkat itu, dia tidak berani mengaku, mengatakan bahwa dia tidak boleh melanggar janjinya. Nah, sekarang pinceng mohon kepadamu agar suka berterus terang kepada pinceng. Pinceng tahu bahwa nyonya amat menyayangnya, seperti juga pinceng menyayangnya. Akan tetapi sungguh tidak baik bila terdapat rahasia di antara kita, seolah-olah ada jurang yang memisahkan. Lagi pula pinceng yakin bahwa nyonya tentu percaya kepada pinceng."

Liu Ma menundukkan mukanya, Terjadi perang di dalam hatinya. Tentu saja dia percaya sepenuhnya terhadap Kong Hwi Hosiang. Selama tiga tahun ini Kong Hwi Hwesio sudah menunjukkan bahwa dia seorang yang berhati baik, bijaksana dan penuh belas kasihan terhadap orang lain. Sudah banyak sekali orang sakit yang diobatinya, dan dia tak pernah mau menerima imbalan apa pun.

Juga menurut pengakuan Han Lin, hwesio itu amat sayang kepada Han Lin, dan anak itu pun memperoleh banyak ilmu darinya. Dia tak perlu khawatir lagi tentang pendidikan anak itu! Akan tetapi haruskah dia membuka rahasia anak itu kepada hwesio ini? Liu Ma masih bimbang ragu.

"Memang dalam diri Han Lin terdapat rahasia besar, losuhu. Akan tetapi perlukah losuhu mengetahuinya? Selama ini rahasia itu hanya terpendam di dalam lubuk hati kami berdua dan sudah kami anggap terkubur. Apa gunanya kalau saya ceritakan kepada losuhu? Dan apa perlunya pula losuhu mengetahui rahasia pribadi Han Lin? Bukankah selama ini dia sudah menjadi murid yang baik dan patuh? "

'Omitohud, pinceng bukanlah orang yang suka usil mencampuri urusan orang lain, bukan pula orang yang suka mengetahui urusan pribadi orang lain. Akan tetapi di dalam urusan yang menyangkut pribadi Han Lin terdapat sesuatu yang pinceng yakin ada hubungannya dengan pinceng. Sebaiknya kalau pinceng katakan terus terang kenapa tiba-­tiba pinceng ingin mengetahui latar belakang kehidupan atau rahasia Han Lin, nyonya Liu. Ketahuilah bahwa selama hidupku, pinceng hanya mempunyai dua orang murid dan hanya kepada mereka berdua itu saja pinceng mengajarkan ilmu tongkat pinceng. Karena itu tentu saja pinceng merasa heran sekali ketika melihat betapa Han Lin memainkan ilmu tongkat itu, biar pun tidak sempurna. Nah, pinceng yakin bahwa anak itu mempunyai hubungan, atau setidaknya pernah melihat salah seorang di antara kedua orang murid pinceng itu."

Liu Ma memandang heran. Kini usia wanita ini sekitar lima puluh tahun, namun dia terlihat lebih tua karena selama ini dia mengalami hal-hal yang menyedihkan dan menegangkan.

"Losuhu, bolehkah saya mengetahui nama kedua orang murid losuhu itu?"

"Tentu saja boleh. Mereka adalah dua orang bersaudara, enci dan adik, puteri mendiang Yang Kok Tiong yang menjadi Menteri Utama Kaisar Beng Ong, yang dulu melarikan diri ke barat. Mereka bernama Yang Kui Lan dan Yang Kui Bi dan ehh, ada apakah, nyonya?" Kong Hwi Hosiang memandang penuh perhatian melihat betapa wanita itu memandang kepadanya dengan mata terbelalak lebar dan mukanya menjadi pucat.

"Nyonya Liu, tenanglah. Ada apakah?"

Akan tetapi wanita itu kini menangis, menutupi mukanya dengan dua tangan lalu dia pun terisak-isak. Kong Hwi Hosiang merangkap kedua tangan di depan dada lantas berkemak-kemik, membiarkan wanita itu menangis dulu sepuasnya untuk mencairkan sesuatu yang membeku dan mengganjal di hatinya.

Setelah hatinya terasa ringan karena bebannya telah disalurkan lewat tangisnya, akhirnya Liu Ma dapat menghapus air matanya. Dengan mata kemerahan dia memandang kepada hwesio itu.

"Losuhu, ternyata dugaan losuhu memang benar. Ketahuilah, losuhu, bahwa sebenarnya Han Lin adalah Pangeran Sia Han Lin yang lolos dari istana ketika istana diserbu musuh. Ayahnya adalah mendiang Sia Su Beng dan ibunya adalah mendiang Permaisuri Yang Kui Bi!"

"Omitohud!" Kong Hwi Hosiang berseru keheranan.

Dia bukan hanya terheran mendengar bahwa Han Lin ternyata putera kandung muridnya sendiri, Yang Kui Bi, akan tetapi juga heran mendengar bahwa muridnya itu telah menjadi isteri pemherontak Sia Su Beng yang sudah mengangkat diri menjadi kaisar akan tetapi kemudian kekuasaannya dirobohkan dan dia pun tewas dalam pertempuran.

"Jadi, kalau begitu Han Lin adalah putera murid pinceng sendiri…? Akan tetapi dia sudah ikut denganmu, bagaimana dapat memainkan ilmu tongkat itu?"

“Kami melarikan diri dari istana ketika Han Lin masih berusia lima tahun, losuhu. Agaknya dia masih ingat kepada ibunya kalau ibunya berlatih silat dan sekarang, setelah dia belajar silat kepada losuhu, dia mencoba untuk memainkan ilmu silat yang dulu pernah dilihatnya ketika dimainkan oleh ibunya."

“Omitohud… tidak salah lagi, benar seperti yang nyonya katakan itu.” Dia termenung dan merasa semakin kagum.

Tentu Han Lin sudah mengetahui bahwa dia adalah bekas seorang pangeran! Akan tetapi anak itu begitu pandai membawa diri, bahkan sikapnya begitu hormat dan sayang kepada Liu Ma, memegang janji dengan teguh dan sama sekali tidak nampak congkak.

"Sebelum ayah ibunya maju berperang, mereka menitipkan Han Lin kepada saya, losuhu. Saya adalah pelayan pengasuh keluarga itu, dan sayalah yang mengasuh Han Lin sejak dia kecil. Saya mengajak Han Lin melarikan diri, mengungsi dan tinggal di dusun Libun ini, dusun yang menjadi kampung halaman saya.” Dengan jelas Liu Ma lalu menceritakan semua yang telah dialaminya semenjak dia membawa Han Lin melarikan diri dari kota raja Tiang-an dan mengungsi ke dusun itu.

Hwesio itu menghela napas panjang, "Betapa aneh jalan hidup anak itu. Tanpa disengaja seolah dia dipertemukan dengan pinceng. Engkau telah melaksanakan tugas dengan baik, nyonya. Sebaiknya kita biarkan saja keadaan tetap seperti sekarang, tidak perlu memberi tahu kepada Han Lin bahwa pinceng telah mengetahui riwayatnya. "

Demikianlah, mulai hari itu pula dengan tekun Kong Hwi Hosiang mengajarkan ilmu silat tongkat Hong-in Sin-pang kepada Han Lin. Tentu saja anak ini gembira bukan main ketika mengenaI ilmu tongkat seperti yang dahulu sering dia lihat dimainkan oleh ibunya, namun tentu saja ilmu ini lebih lengkap dan lebih dahsyat.

Disamping menggembleng muridnya dengan ilmu silat, juga Kong Hwi Hosiang lebih tekun mengajarkan sastera dan terutama mengenai inti pelajaran agama. Baik dengan dongeng, perumpaan mau pun contoh-contoh kehidupan para bijaksana di jaman dahulu, Kong Hwi Hosiang berusaha untuk menghapus dendam dari hati muridnya itu.

"Ingat baik-baik, Han Lin. Musuh utama bagi seorang pendekar adalah perasaan dendam. Akan tetapi perasaan ini memang amat sulit untuk dikalahkan, karena dendam timbul dari berkembangnya rasa diri. Begitu rasa diri disinggung dan terasa dirugikan, disakiti, dihina atau dibikin sedih karena kehilangan, maka akan timbul dendam yang meracuni hati dan pikiran. Dan kalau dendam sudah mencengkeram hati dan pikiran, maka tindakanmu tidak mungkin lurus di atas jalan yang seharusnya dilalui oleh seorang pendekar. Dendam akan menyeretmu ke arah perbuatan yang semata-mata didorong kebencian dan sakit hati, dan kalau sudah begitu, maka sama sekali sudah tidak adil dan tidak benar lagi. "

Mendengar kata-kata gurunya itu, Han Lin segera teringat akan kematian ayah bundanya. Sering kali, kalau dia terkenang akan kematian mereka, timbul dendamnya kepada Kaisar, bahkan kepada kerajaan. Kini, mendengar ucapan gurunya dia pun mengerutkan alisnya.

"Akan tetapi, suhu, kalau kita tidak membenci penjahat, bagaimana kita dapat membasmi mereka yang jahat? Bukankah menurut dongeng sejak jaman dahulu, orang bijaksana dan para pendekar selalu menentang kejahatan dan membela kebenaran dan keadilan? Kalau kita tidak boleh mendendam dan membenci terhadap para penjahat, bagaimana kita dapat bertindak terhadap mereka?"

"Omitohud! Bila hati sudah diracuni dendam, bagaimana mungkin kita membela keadilan? Dendam dan kebencian menghapus keadilan, karena perbuatan yang didasari kebencian, bagaimana mungkin bisa adil lagi? Kebencian akan melenyapkan pertimbangan sehingga satu-satunya keinginan hanyalah melampiaskan dendam kebencian."

"Kalau begitu, kita tidak boleh memusuhi siapa pun, suhu?"

"Omitohud, pertanyaanmu itu tepat sekali. Kita memang tidak boleh memusuhi siapa pun! Yang ditentang seorang pendekar bukanlah manusianya, tetapi kejahatannya. Perbuatan jahat sewenang-wenang yang mengganggu orang lain patut kita tentang, tetapi dasarnya bukan kebencian terhadap siapa pun. Mengertikah engkau?"

Melihat anak berusia belasan tahun itu masih juga belum mengerti betul, perlahan-lahan Kong Hwi Hosiang lalu memberi penjelasan tentang dendam kebencian.

Dendam kebencian dapat membuat orang kehilangan pertimbangan. Dendam kebencian merupakan nafsu yang selalu hanya ingin mendapat kepuasan, dan kepuasan dari nafsu dendam hanyalah membalas dan mencelakai orang yang dibenci dan didendamnya.

Dendam timbul karena adanya aku yang merasa dirugikan. Aku dipukul balas memukul, aku dibenci balas membenci, malah biasanya pembalasan harus lebih berat, lebih hebat dari pada penyebab dendam itu. Lantas timbullah dendam mendendam, balas membalas yang tiada berkesudahan, kebencian yang mendarah-daging, kemudian terjadilah perang, pembunuhan, pembantaian dan segala macam kekejaman yang tak layak dilakukan oleh manusia, makhluk yang katanya memiliki derajat paling sempurna dan tinggi itu.

Mata kita selalu ditujukan pada orang lain, menilai perbuatan orang lain sehingga segala kesalahan orang lain, seberapa kecil pun, akan kelihatan oleh kita. Kalau saja kita mau membalikkan pandangan kita, mengamati diri sendiri, maka akan nampak bahwa kita ini tidaklah lebih baik dari pada orang lain yang kita anggap jahat atau buruk itu.

Pengamatan ini akan menyadarkan kita bahwa kita pun bukan manusia yang sempurna, bahwa kita pun tidak lepas dari pada dosa. Kalau kita sudah merasa kotor, maka melihat orang lain kotor, tentu kita tidak akan memandang jijik. Kalau kita sudah melihat jelas bahwa kita sendiri penuh dosa, ketika melihat orang lain berdosa, tentu akan mudah sekali bagi kita untuk memaafkan orang lain.

Kita tidaklah lebih baik dari orang lain, dan dunia ini menjadi kacau balau bukan hanya karena ulah orang lain, melainkan karena ulah kita bersama! Kita sendiri, masing­-masing dari kita turut bertanggung jawab. Hanya orang yang mau mengamati diri sendiri, hanya orang yang tahu bahwa dirinya kotor, timbul usaha dalam dirinya untuk membersihkan diri dari kekotoran itu.

Sebaliknya, orang yang hanya melihat kekotoran pada diri orang lain dan merasa dirinya sendiri bersih, orang seperti ini tidak akan pernah mau melakukan usaha membersihkan dirinya dari kekotoran dan di luar kesadarannya, dia terus menumpuk kekotoran di dalam dirinya sendiri.

Kalau ada orang memukul kita lalu kita membalas dan memukulnya, lalu apa bedanya antara kita dan orang itu? Kalau ada orang membunuh, lalu kita balas membunuh, berarti kita semua sama-sama menjadi pembunuh Kalau orang menipu kita kemudian kita balas menipu, berarti kita sama-sama menipu.

Dendam membuat kita lupa diri, kehilangan pertimbangan dan kehilangan keseimbangan sehingga tidak dapat membedakan lagi mana yang benar dan mana yang tidak benar.


Waktu bergerak seperti siput. Jika kita perhatikan, merangkak lambat sekali, akan tetapi kalau tidak kita perhatikan, tahu-tahu sudah jauh! Kalau tidak kita perhatikan, bertahun tahun lewat seperti beberapa hari saja rasanya, sebaliknya kalau kita menunggu sesuatu dan selalu memperhatikan waktu, maka beberapa jam rasanya seperti beberapa tahun.

Lima tahun lewat bagaikan terbang saja semenjak Kong Hwi Hosiang mendengar tentang riwayat Han Lin dari Liu Ma. Dia menggembleng muridnya dengan penuh kesungguhan, dan Han Lin juga belajar dengan tekunnya, sehingga kini Han Lin sudah menjadi seorang remaja berusia lima belas tahun yang gagah tegap dan mempunyai ilmu kepandaian yang hebat! Berkat pertemuan hawa beracun dingin dan panas, kemudian ditambah racun ular senduk kepala putih, sekarang di dalam tubuhnya terkandung kekuatan yang aneh, dan tubuhnya pun kebal terhadap racun.

Keadaan muridnya ini dimanfaatkan oleh Kong Hwi Hosiang yang mengajarkan ilmu-ilmu simpanannya, termasuk Hong-in Sin-pang, ilmu silat tangan kosong Pat-kwa kun dan juga ilmu menghimpun tenaga sakti Im-yang Sin-kang. Karena dia masih amat muda, biar pun dia sudah menguasai semua ilmu itu dengan baik sekali, namun latihannya masih belum matang, apa lagi dia masih belum mempunyai pengalaman bertanding dengan orang lain.

Apa bila Han Lin tumbuh semakin besar dan semakin kuat, sebaliknya Kong Hwi Hosiang menjadi semakin tua dan semakin lemah. Proses menjadi tua ini melanda seluruh umat manusia di dunia ini.

Tidak ada seorang pun manusia, betapa pun kuatnya, yang akhirnya tidak tunduk kepada ketuaan dan kelemahan. Demikian pula dengan Kong Hwi Hosiang. Dalam usianya yang hampir delapan puluh tahun, dia mulai lemah meski pun semangatnya tak pernah nampak merosot.

Wajahnya masih terlihat segar, senyumnya pun masih selalu membuat wajahnya berseri. Namun di waktu dia mengajak Han Lin berlatih silat, muridnya itu melihat betapa gerakan gurunya kini semakin lambat dan tenaganya pun berkurang, terutama tenaga otot.....


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner