KISAH SI PEDANG TERBANG : JILID-04


Pada suatu pagi yang cerah! Seperti biasa, semenjak subuh Han Lin sudah bangun dari tidurnya. Gurunya mengajarkan bahwa mengawali hari sebaiknya dimulai dengan bangun yang pagi sekali, sebelum fajar menyingsing, pada waktu ayam jantan mulai berkokok.

Sejak pagi tadi Han Lin telah bangun tidur, berlatih silat lalu mandi dan kini dia telah sibuk membantu dua orang hwesio lain yang sibuk di dapur. Sudah dua tahun ini di kelenteng itu terdapat dua orang hwesio lain, pendatang dari tempat lain yang kemudian menetap di situ menjadi pembantu Kong Hwi Hosiang. Cun Hwesio dan Kun Hwesio adalah dua orang hwesio berusia lima puluhan tahun yang rajin.

Dari dua orang hwesio ini Han Lin juga mendapatkan dua macam iImu yang amat berguna baginya. Meski pun kedua orang hwesio itu tidak mempunyai ilmu silat yang terlalu tinggi, tetapi Cun Hwesio adalah seorang ahli ginkang sehingga dalam hal ilmu berlari cepat dan berloncat tinggi, dia masih lebih lihai dibandingkan Kong Hwi Hosiang sekali pun.

Sedangkan Kun Hwesio adalah seorang hwesio yang mempunyai keahlian dalam hal ilmu menolak dan mengusir setan, juga pandai menggunakan kekuatan sihir. Dari kedua orang hwesio ini, yang juga merasa sayang kepada Han Lin, pemuda ini menerima gemblengan pula.

Melihat persediaan kayu bakar menipis, tanpa diperintah lagi Han Lin lari keluar dari dapur lalu menuruni puncak menuju ke hutan untuk mencari kayu bakar. Dia tidak tahu betapa tak lama sesudah dia meninggalkan kuil, di pekarangan kelenteng itu muncul tiga orang laki-laki berusia antara lima puluh sampai enam puluh tahun.

Seorang di antara mereka yang tubuhnya pendek gendut seperti katak, mukanya kuning seperti dicat, yang tertua di antara mereka, berseru dan suaranya parau lantang seolah menggetarkan atap kelenteng itu.

"Heiii… para hwesio penghuni kelenteng! Keluarlah kalian, kami ingin bicara!"

Sikap serta kata-katanya sungguh kasar memerintah, tidak memakai tata susila. Ada pun dua orang temannya yang juga berdiri di sana, hanya menunggu dengan sikap congkak. Seorang di antara mereka juga gendut pendek bermuka hitam, sedangkan orang ke dua tubuhnya tinggi kurus bermuka putih dan usia mereka lima puluh lebih, agak lebih muda dibandingkan si gendut muka kuning.

Begitu mendengar teriakan itu, Cun Hwesio dan Kun Hwesio bergegas keluar dan mereka berdua terheran-heran melihat tiga orang asing yang berdiri di pekarangan kelenteng itu. Akan tetapi sebagai pendeta-pendeta yang sopan dan lembut, mereka cepat mengangkat kedua tangan di depan dada memberi hormat, kemudian Cun Hwesio menyambut dengan kata­-kata halus.

"Omitohud..., siapakah sam-wi (anda bertiga) dan ada keperluan apa kiranya berkunjung ke kelenteng kami yang buruk?”

Si gendut muka kuning menyeringai. "Hemm, kami ingin bicara dengan ketua kelenteng. Siapa di antara kalian yang menjadi ketua kelenteng ini?"

"Ketua kami sedang bersembahyang dan bersemedhi," jawab Cun Hwesio.

"Ha-ha-ha, para hwesio gundul ini memang orang-orang pemalas. Selalu menggunakan doa dan semedhi sebagai alasan, padahal dia itu tidur mendengkur, ha-ha-ha!" Dua orang iainnya juga ikut tertawa.

Cun Hwesio saling pandang dengan Kun Hwesio akan tetapi mereka masih bersabar.

"Omitohud, pinceng tidak tidur, sudah bangun sejak pagi tadi," mendadak terdengar suara ketua mereka, membuat kedua orang hwesio pembantu itu bernapas lega.

Tiga orang itu kini berhadapan dengan Kong Hwi Hosiang yang bertopang pada tongkat bambu ular kuningnya. Karena yang berdiri paling dekat dengannya adalah lelaki gendut bermuka hitam arang, Kong Hwi Hosiang lalu bertanya sambil memandang kepadanya.

"Siapakah sam-wi dan kepentingan apakah yang membuat sam-wi datang berkunjung?”

Si gendut muka hitam arang itu segera memperkenalkan diri dengan sikap angkuh. "Aku disebut orang Hek-bin Mo-­ong!"

"Omitohud…!" Kong Hwi Hosiang berseru heran, lalu memandang kepada mereka bertiga bergantian. "Kalau begitu apakah pinceng sedang berhadapan dengan Sam Mo-ong (Tiga Raja IbIis)? Dulu pinceng pernah berjumpa dengan Hek-bin Mo-ong, akan tetapi seingat pinceng, Hek-bin Mo-ong adalah seorang yang bertubuh tinggi besar, tidak seperti engkau yang bertubuh pendek."

'Hwesio sombong! Kau kira tubuhmu itu tinggi ramping? Engkau pun tak banyak bedanya dengan aku, pendek dan gendut!" Hek-bin Mo-ong berkata marah.

"Omitohud…!" Kong Hwi Hosiang yang memang biasanya selalu tersenyum, kini tertawa gembira. "Bagaimana pun juga pinceng pernah bertemu dengan Sam Mo-ong, tetapi jelas mereka itu bukan sam-wi."

"Hwesio, ketahuilah bahwa memang kami bukan Sam Mo-­ong, akan tetapi Sam Mo-ong adalah guru-guru kami bertiga. Orang-orang menyebutku Kwi-jiauw Lo-mo (iblis Tua Cakar Setan), dan aku murid mendiang suhu Toat-beng Mo-ong (Raja Iblis Pencabut Nyawa)."

"Dan aku disebut Pek-bin Mo-ong (Raja Iblis Muka Putih), guruku adalah mendiang Siauw-bin Mo-ong (Raja Iblis Muka Tertawa)," kata orang yang bertubuh tinggi kurus muka putih kapur dengan mulut mewek-mewek seperti hendak menangis. Sungguh aneh orang yang mukanya seperti selalu menangis ini dapat menjadi murid Raja Iblis Muka Tertawa yang selalu tertawa itu.

"Mendiang guruku adalah Hek-bin Mo-ong dan untuk menghormati beliau, maka aku pun menggunakan nama julukan guruku itu!" kata yang gendut bermuka hitam arang.

"Omitohud, sekarang pinceng mulai mengerti. Ternyata sam-wi adalah murid-murid Sam Mo-ong,” kata Kong Hwi Hosiang sambil mengangguk-angguk.

Diam-diam hwesio ini merasa terkejut dan heran. Kalau dia tidak salah ingat akan cerita muridnya, dua orang aneh yang pernah menyerang muridnya itu agaknya adalah Hek-bin Mo-ong dan Pek-bin Mo-ong, yaitu dua orang di antara mereka bertiga ini. Dan mereka semua mengaku murid-murid Sam Mo-ong. Akan tetapi kenapa ilmu kepandaian mereka begitu hebat bahkan melebihi tingkat Sam Mo-ong yang pernah dikenal kepandaiannya?!

"Hwesio tua, siapakah engkau dan apakah engkau ketua kelenteng ini?" tanya Kwi-jiauw Lo-mo.

Kong Hwi Hosiang tidak mau memperkenalkan namanya sebab bagaimana pun namanya sudah dikenal di dunia persilatan dan dia tidak ingin dikenal oleh tiga orang ini.

"Pinceng memang pengurus kelenteng ini bersama dua orang saudara pinceng ini. Kami bertiga adalah pengurus kelenteng ini. Akan tetapi, ada keperluan apakah sam-wi datang berkunjung?"

"Hwesio tua, kami bertiga sedang membutuhkan kelenteng ini, maka kami harap kalian bertiga suka pergi meninggalkan kelenteng ini. Kami memerlukan tempat, dan kelenteng ini memenuhi syarat," kata Kwi-jiauw Lo-mo tanpa sungkan­-sungkan lagi.

Cun Hwesio dan Kun Hwesio mengerutkan alis, akan tetapi Kong Hwi Hosiang bersikap tenang dan tetap sabar.

"Tiga orang sahabat yang baik, bila kalian bertiga hendak tinggal di kelenteng ini sebagai tamu kami, silakan. Di bagian belakang masih terdapat kamar-kamar yang boleh sam-wi tempati. Kami selalu menerima tamu dengan hati dan tangan terbuka."

"Hemm, kami tidak ingin menjadi tamu, melainkan ingin mengambil kelenteng ini sebagai tempat tinggal kami. Kalian bertiga harus pergi dari sini, sekarang juga!"

"Omitohud…! Kenapa sam-wi bersikap begini? Kelenteng ini bukan milik kami, melainkan milik penduduk dusun Libun, kami bertiga hanya sekedar menjadi pengurus kelenteng."

"Hwesio tua, karena melihat kalian adalah kaum hwesio maka kami masih berlaku ramah dan lembut, dan dengan baik­-baik meminta kalian pergi. Apakah kalian menghendaki kami bersikap keras dan melempar kalian bertiga keluar dari tempat ini?!" bentak Pek-bin Mo-ong yang selalu berwajah muram.

"Omitohud, kiranya kalian ini bukan hanya manusia-­manusia yang mempergunakan nama julukan iblis, namun iblis sendiri yang menyamar sebagai manusia. Jahat sekali!" bentak Cun Hwesio yang sudah tidak mampu menahan kemarahannya lagi sambil menudingkan telunjuknya ke arah muka Pek-bin Mo-ong. Sementara itu, Kun Hwesio yang juga sudah merasa penasaran sekali, diam-diam mengerahkan kekuatan sihirnya sambil melangkah maju.

"Hei, kalian bertiga murid Sam Mo-ong!" teriakan Kun Hwesio melengking penuh wibawa, membuat tiga orang itu mau tidak mau terpaksa menengok dan memandang kepadanya. Kun Hwesio menggerakkan dua tangannya ke atas kemudian dihadapkan kepada mereka sambil berseru lagi, kini suaranya menggetar kuat,

"Kalian bertiga berlututlah!”

Terjadilah keanehan. Tiga orang yang tadinya bersikap bengis dan galak itu, tiba-tiba saja menekuk kedua lutut kaki mereka dan mereka berlutut menghadap Kun Hwesio! Biar pun mereka bertiga kelihatan terkejut dan heran, terbelalak, namun mereka tetap saja berlutut dengan sikap hormat.

Kalau saja Kong Hwi Hosiang dan kedua orang pembantunya ini merupakan orang-orang yang mencari kemenangan, ketika tiga orang itu sedang berlutut, tentu akan mudah sekali untuk menyerang dan merobohkan mereka. Akan tetapi Kong Hwi Hosiang dan dua orang pembantunya adalah tiga orang pendeta yang menaati hukum agama mereka.

Mereka memang tidak meninggalkan kewajiban membela diri, namun mereka sama sekali tidak berani melanggar pantangan membunuh. Membunuh hewan pun mereka pantang, apa lagi membunuh manusia.

Di samping hukum agama, juga mereka tidak mau melanggar hukum tak tertulis dari para pendekar yang pantang menyerang lawan yang tidak dapat melawan. Melihat betapa tiga orang itu berada di bawah pengaruh kekuatan sihir dari Kun Hwesio, Kong Hwi Hosiang laIu berkata lembut.

"Nah, harap kalian pergi dan jangan mengganggu kami lagi."

Akan tetapi tiga orang datuk itu sudah memiliki tingkat kepandaian tinggi dan mereka pun memiliki sinkang (tenaga sakti) yang sangat kuat. Kalau tadi mereka dapat dipengaruhi kekuatan sihir Kun Hwesio, hal itu adalah karena mereka sama sekali tidak menyangka dan mereka tidak bersiap menyambut serangan kekuatan sihir itu. Maka hanya sebentar mereka terpengaruh dan ucapan lembut Kong Hwi Hosiang sudah menyadarkan mereka kembali.

Hek-bin Mo-ong yang bertubuh gendut dan mukanya hitam masih berlutut, tetapi matanya terangkat ke atas dan dia melirik ke arah Kun Hwesio yang tadi membentak agar mereka berlutut. Dia tahu bahwa hwesio itulah yang menyerang dengan sihir, maka tiba tiba saja kedua tangannya yang pendek besar itu didorongkan ke arah Kun Hwesio kemudian dia mengeluarkan bentakan nyaring.

"Hyaaaaahhhh...!"

Pada detik berikutnya Kwi-jiauw Lo-mo telah meloncat dan menyerang Kong Hwi Hosiang dengan senjatanya yang sungguh menyeramkan, yaitu sepasang cakar setan yang telah disambungkan dengan kedua tangannya, ada pun Pek-bin Mo-ong juga sudah menyerang Cun Hwesio. Tentu saja kedua orang hwesio itu tidak sempat menolong Kun Hwesio yang diserang oleh si muka hitam.

"Desss…!"

Tubuh Kun Hwesio terlempar ke belakang ketika terkena hantaman kedua telapak tangan Hek-bin Mo-­ong. Dalam hal iImu silat memang dua orang hwesio pembantu itu kalah jauh dibandingkan para penyerang itu yang kesemuanya adalah datuk-datuk sesat yang tentu saja amat lihai. Begitu terkena hantaman dua tangan Hek-bin Mo-ong, tubuh Kun Hwesio langsung terbanting keras dan tubuh itu kini menggigil kedinginan, lalu tubuh itu menjadi kaku dan dia pun tewas seketika karena darah di tubuhnya menjadi beku!

Tidak seperti Kun Hwesio, Cun Hwesio yang ahli ginkang tidak mudah dirobohkan Pek-bin Mo-ong. Biar pun si kurus muka putih kapur itu menghujankan serangan, namun dengan lincah sekali Cun Hwesio dapat berloncatan ke sana sini dan selalu dapat menghindarkan diri dari semua serangan itu! Tubuhnya bagaikan seekor burung walet saja, gerakannya amat ringan dan cepat berkelebatan sehingga mengejutkan Pek-bin Mo-ong yang mengira bahwa lawannya ini mempunyai kepandaian yang amat tinggi. Kalau melihat ginkang-nya, tentu hwesio ini jauh lebih lihai darinya.

Akan tetapi, sesudah diserang bertubi-tubi tetapi Cun Hwesio hanya mengelak saja tanpa pernah menangkis apa lagi balas menyerang, Pek-bin Mo-ong pun dapat menduga bahwa hwesio ini hanya seorang ahli ginkang saja akan tetapi bukan ahli silat tinggi. Maka dia pun menyerang terus dengan gencarnya.

Yang mampu mengimbangi serangan lawan hanyalah Kong Hwi Hosiang. Dengan tongkat bambunya hwesio tua renta ini ternyata masih tangguh bukan kepalang. Ilmu tongkatnya Hong-in Sin-pang membuat sepasang cakar setan di tangan Kwi-jiauw Lo-mo tak pernah berhasil mengenai sasaran, bahkan hwesio tua itu juga membalas tak kalah dahsyatnya sehingga membuat Kwi­-jiauw Lo-mo harus berhati-hati.

Tak disangkanya bahwa hwesio tua itu demikian lihainya. Kalau saja dia tahu bahwa yang dilawannya adalah Kong Hwi Hosiang, tentu dia tidak akan merasa heran dan tidak berani memandang rendah.

Hek-bin Mo-ong tertawa melihat lawannya yang pandai sihir tadi sudah tewas sedemikian mudahnya di tangannya. Dia melihat betapa lawan Pek-bin Mo-ong memiliki ginkang yang istimewa, akan tetapi dia pun tidak bodoh. Melihat hwesio itu hanya berloncatan ke sana sini tanpa membalas, dia pun bisa menduga bahwa hwesio itu hanya pandai ginkang saja tetapi tidak memiliki ilmu silat yang bisa membahayakan rekannya. Sebaliknya dia melihat Kwi-jiauw Lo-mo agak kerepotan menghadapi Kong Hwi Hosiang, maka dia pun meloncat ke depan membantu rekan ini mengeroyok Kong Hwi Hosiang..

Tentu saja Kong Hwi Hosiang menjadi semakin repot. Melawan Kwi­-jiauw Lo-mo saja, dia harus mengerahkan seluruh tenaga untuk mengimbanginya, apa lagi dikeroyok oleh Hek-bin Mo­-ong yang memiliki kepandaian setingkat dengan datuk pertama itu.

Dia sudah tua, tenaganya telah banyak berkurang dan napasnya juga sudah tidak setahan dahulu. Namun hwesio tua ini memang hebat. Karena ilmu kepandaiannya sudah matang, sudah mendarah daging, biar pun dikeroyok dua orang datuk yang demikian tangguhnya, dia masih mampu membela diri. Tongkatnya yang berbentuk ular kuning dari bambu yang khas itu selalu dapat menangkis sepasang cakar setan milik Kwi-jiauw Lo-mo dan pukulan tangan dingin Hek-bin Mo-ong.

Sampai belasan jurus Cun Hwesio masih mampu menghindarkan diri dari serangan Pek-bin Mo-ong yang bertubi-tubi. Karena serangannya selalu luput, Pek-bin Mo-ong merasa penasaran sekali sehingga dia memperhebat serangan pukulan yang berhawa panas itu.

Akan tetapi, ketika melihat betapa Kun Hwesio telah tewas sedangkan Kong Hwi Hosiang dikeroyok dua dan keadaannya juga terdesak, maka Cun Hwesio merasa khawatir sekali. Kegelisahannya ini, ditambah lagi kini dia memecah perhatian untuk melihat ke arah Kong Hwi Hosiang, membuat Cun Hwesio kurang waspada dan lambungnya terkena sambaran pukulan Pek-bin Mo-ong.

“Plakkk!"

Sekali saja terkena pukulan ampuh itu pada lambungnya, Cun Hwesio segera terpelanting dan roboh berkelojotan sebentar, lalu tewas dengan tubuh kehitaman seperti terbakar!.

Pek-bin Mo-ong tidak lagi mempedulikan lawan yang dia yakin tentu telah tewas. Dia lalu menoleh ke arah rekan-rekannya dan mendengus marah melihat betapa dua rekan yang mengeroyok hwesio itu masih juga belum mampu merobohkannya. Dia pun meloncat dan dengan bentakan nyaring dia pun terjun ke dalam perkelahian, ikut mengeroyok Kong Hwi Hosiang!

Kong Hwi Hosiang mencoba untuk melawan sekuatnya, namun dia sudah tua dan tingkat kepandaian tiga orang itu tidak banyak selisihnya dengan tingkatnya, maka dikeroyok tiga, tentu saja dia tidak mampu bertahan lebih lama lagi. Sebuah tamparan tangan beracun dingin dari Hek-bin Mo-ong segera mengenai punggungnya.

Dia terhuyung dan menggigil kedinginan, kemudian datang pukulan Pek-bin Mo-ong yang berhawa panas. Selagi Kong Hwi Hosiang terhuyung, cakaran tangan kiri Kwi-jiauw Lo-mo mengenai dadanya sehingga hwesio tua itu pun roboh dan tidak bergerak lagi, mukanya hitam keracunan dan dia pun tewas seketika.

Tiga orang datuk itu memeriksa ketiga hwesio dan sesudah merasa yakin bahwa mereka telah tewas semua, mereka lalu menyerbu ke dalam kelenteng mencari kalau-kalau masih terdapat penghuni kelenteng yang lain. Akan tetapi ternyata di dalam kelenteng itu tidak ada orang lain lagi.

"Hemmm, di mana Seng Gun?" tiba- tiba Kwi-jiauw Lo-mo bertanya kepada kedua orang rekannya.

"Bukankah tadi dia naik ke puncak?! " kata Pek-bin Mo-ong.

"Pemandangan alam di sini sangat indahnya, tentu dia pergi berjalan-jalan. Biar aku yang pergi mencarinya!" kata Hek-bin Mo-ong.

Ketika Kwi-jiauw Lo-mo mengangguk, Hek-bin Mo-ong tertawa lalu tubuhnya yang gendut bundar itu seperti menggelinding pergi dengan cepat sekali.

Dewa maut berpesta pora di pekarangan kelenteng itu dan mengambil korban nyawa tiga orang hwesio yang selama ini hidup tenteram penuh damai. Pekerjaan mereka hanyalah berdoa dan menolong para penduduk dusun-dusun di sekitar daerah Itu, tetapi mengapa mereka bertiga mengalami nasib sedemikian buruknya?.

Sejak jaman dulu orang selalu bertanya-tanya tentang kenyataan ini, yaitu bahwa betapa banyaknya manusia yang semasa hidupnya nampak begitu baik hati, dermawan, selalu menolong sesamanya, juga rajin beribadat, namun kenyataannya tertimpa mala petaka. Malah banyak pula yang tewas secara menyedihkan, baik melalui kecelakaan yang amat mengerikan, bencana alam, atau juga dibunuh orang.

Banyak orang yang hidupnya nampak baik dan saleh, semua orang menganggap bahwa dia seorang budiman, namun hidupnya miskin, berpenyakitan, dan tertimpa mala petaka pula sehingga mengalami kematian yang menyedihkan. Namun sebaliknya, banyak pula orang yang pada umumnya dianggap jahat, kejam, kikir, tidak pernah menolong sesama, bahkan mengingkari Tuhan, tapi hidupnya nampak bergelimang kekayaan, selalu terlihat senang dan bahkan berumur panjang!

Kenyataan ini merupakan salah satu di antara rahasia-rahasia kehidupan yang tak dapat dimengerti manusia, meski banyak yang mencoba untuk mengungkap rahasia ini dengan berbagai teori dan dalih.

Ada yang menganggap bahwa hal itu merupakan hukum karma atau hukum sebab akibat atau hukum menanggung akibat perbuatan sendiri, memetik buah dari pohon yang sudah ditanamnya sendiri. Tanaman pohon ini mungkin dilakukan dalam kehidupan masa silam, atau ditanam oleh orang tua, nenek moyang dan selanjutnya. Ada pula yang berpendapat bahwa semua keadaan yang tidak menyenangkan itu adalah perbuatan setan yang selalu berusaha untuk menyengsarakan manusia.

Namun semua itu hanyalah anggapan dan perkiraan belaka yang tidak dapat dibuktikan kebenarannya. Hati akal pikiran manusia terlampau terbatas untuk dapat mengungkap pekerjaan Tuhan yang maha besar dan maha rumit.

Ada orang berpendapat bahwa segala yang menyengsarakan manusia adalah pekerjaan setan yang selalu ingin menyengsarakan manusia. Benarkah pendapat ini? Ada pula yang berpendapat bahwa hal ini tidak mungkin karena bukankah penyakit disebabkan kuman-kuman, dan kuman adalah makhluk hidup yang berarti ciptaan Tuhan pula? Kalau Tuhan Maha Pencipta, berarti bahwa semua kuman serta apa saja yang dapat menyebabkan manusia sakit, baik itu hewan mau pun tanaman, adalah ciptaan Tuhan. Berarti bahwa semua yang menimpa manusia dapat terjadi kalau sudah dikehendaki Tuhan.

Benarkah ini? Tidak ada yang akan dapat menjawab, karena semua jawaban pun, seperti semua perkiraan tadi, hanya merupakan pendapat belaka, hanya perkiraan yang tak akan dapat dibuktikan. Pengertian manusia amat terbatas, hanya terbatas untuk melayani dan mencukupi kebutuhan manusia hidup di dunia saja, maka alat berupa hati akal pikiran tidak dapat kita pergunakan untuk menguak dan menjenguk rahasia yang lebih dari pada kebutuhan kita.

Pendapat kita, betapa pun indah mengemukakannya, betapa pun kuat alasan-alasannya, tetap saja hanya berupa pendapat. Dan pendapat itu sudah pasti dilandasi perhitungan untung rugi.

Kita mengutuk binatang ular, terutama yang berbisa, sebagai makhluk yang paling jahat, bahkan alat setan, kita kutuk dan kita menasehati anak cucu kita untuk memusuhinya dan membunuhnya setiap kali melihatnya. Namun sesudah kini diketahui kegunaan racun ular untuk pengobatan, bahkan mungkin dapat menyelamatkan nyawa manusia, sesudah kini daging ular dimasak dan dimakan, kulit ular dibuat dompet, tas dan sebagainya, masihkah kita mengumpat dan mengutuk binatang itu?

Semua pendapat memang tak lepas dari pada perhitungan untung rugi bagi kita. Hujan pun akan dianggap baik bila menguntungkan tetapi buruk bila merugikan, demikian pula panasnya matahari dan segala hal yang berhubungan dengan kehidupan kita…..


********************

Pembantaian yang dilakukan tiga orang datuk murid dari mendiang Sam Mo-ong itu tidak diketahui oleh Han Lin yang sedang mengumpulkan kayu bakar di hutan. Kini dia sudah mengumpulkan dengan cukup dan mengikatnya.

Ketika dia sudah bersiap untuk kembali ke kelenteng, tiba-tiba saja terdengar suara suling ditiup orang. Suara suling itu begitu indah, merdu dan melengking-lengking, tanda bahwa peniupnya sangat ahli. Datangnya suara suling itu dari puncak bukit.

Han Lin tertarik sekali dan segera dia mendaki puncak untuk melihat siapa gerangan yang meniup suling seindah itu. Setahunya, di sekitar situ tidak ada orang yang pandai meniup suling seperti itu. Setelah tiba di puncak, Han Lin pun tertegun.

Dia melihat seorang anak laki-laki remaja yang sebaya dengannya, mengenakan pakaian sutera putih-putih dengan pita rambut warna merah dan ikat pinggang sutera biru, nampak anggun dan tampan sekali, seperti seorang putera bangsawan atau hartawan. Wajahnya bundar dengan hidung mancung besar, matanya lebar dan dia sedang meniup sebatang suling perak yang berkilauan tertimpa sinar matahari pagi.

Pantas saja suara suling itu begitu nyaring melengking, tidak lembut seperti suara suling bambu, pikir Han Lin. Dia sendiri senang meniup suling, dan dia sudah mahir pula, akan tetapi biasanya dia meniup sebatang suling bambu. Melihat pun baru sekarang sebatang suling perak seperti yang sedang ditiup pemuda remaja itu. Karena tertarik maka dia pun mendekat. akan tetapi tidak menegurnya karena pemuda itu masih asyik meniup suling.

Sesudah lagu yang dimainkan pemuda itu selesai dan dia menghentikan tiupan sulingnya, barulah Han Lin bertepuk tangan memuji. Pemuda yang tadinya duduk di atas batu itu kini bangkit berdiri kemudian memandang kepada Han Lin. Pemuda itu bertubuh tinggi tegap, wajahnya yang tampan itu dihias senyum dingin dan pandangan matanya membayangkan ketinggian hati.

"Bagus sekali sobat,” kata Han Lin kagum. “Tiupan sulingmu sungguh bagus dan merdu sekali!”

Sepasang mata yang lebar dan tajam itu mengamati Han Lin mulai dari kepala sampai ke kakinya yang mengenakan sepatu kasar, alisnya berkerut, matanya yang lebar tajam itu nampak tidak senang.

“Tidak pantas engkau menyebut aku sobat, sebut aku kongcu (tuan muda)!” bentaknya.

Han Lin tersenyum. Kiranya di dusun ini ada tuan muda? Akan tetapi sebagai murid Kong Hwi Hosiang yang telah mempelajari banyak kitab tentang filsafat, agama dan tata susila, dia tidak merasa marah, bahkan segera mengangkat tangan di depan memberi hormat.

“Harap kongcu maafkan, maksud saya hendak bersikap ramah. Tiupan suling kongcu tadi memang indah sekali, saya merasa kagum.”

“Hemm, kau bocah dusun, tahu apa tentang musik?”

Han Lin merasa tidak senang. Semua perasaan kagumnya kini mencair oleh sikap yang amat sombong itu. Menurut penuturan kitab yang dibacanya, seorang kun-cu (bijaksana) adalah seorang terpelajar yang tahu tentang sopan santun, menghormati siapa saja, tidak memandang rendah orang lain. Namun dia telah dilatih oleh Kong Hwi Hosiang sehingga memiliki kesabaran yang besar.

“Aku memang tidak tahu banyak tentang musik, akan tetapi kalau hanya suara suling, aku dapat menilainya.”

“Berani engkau mencela tiupan sulingku?” mata itu kini mencorong.

“Maaf, kongcu. Aku tidak mencela tiupan sulingnya, hanya menyayangkan bahwa suling itu terbuat dari perak, bukan suling bambu biasa sehingga sukarlah menilai tinggi rendah keseniannya.”

“Engkau petani busuk, pemuda yang tolol tetapi hendak bicara tentang kesenian? Sudah, pergilah, engkau memuakkan perutku saja!” kata pemuda pesolek itu sambil mengibaskan tangannya seperti orang mengusir seekor anjing saja.

Wajah Han Lin berubah kemerahan. Ini sudah keterlaluan, pikirnya. Pemuda itu bersikap seolah-olah bukit ini menjadi miliknya sehingga boleh mengusir siapa saja dari tempat ini.

“Kongcu, aku penduduk daerah ini sedangkan engkau adalah pendatang baru. Engkau tak berhak mengusirku dari puncak ini. Puncak bukit ini adalah milik semua orang, terutama penduduk daerah ini yang lebih berhak dari pada engkau.”

“Petani busuk keparat! Berani engkau membantah perintahku? Pergi kau sekarang juga, atau…”

Han Lin adalah seorang pemuda remaja. Sesabar-sabarnya, tentu ada batasnya.

“Atau apa? Kalau aku tidak mau pergi, habis engkau mau apa?” tanyanya dengan suara mengandung tantangan. Dia menganggap bahwa yang kini dihadapinya hanyalah seorang bangsawan kaya raya yang sombong dan tinggi hati karena biasa dimanja dan semua kehendaknya selalu dituruti.

Sepasang mata yang lebar itu terbelalak marah dan penasaran, seolah dia tidak percaya ada seorang bocah dusun yang berani bicara seperti itu kepadanya.

“Mau apa? Mau menghancurkan kepalamu dengan sulingku ini!” Pemuda itu lalu memutar sulingnya.

Suling itu hilang bentuknya dan yang nampak hanya segulungan sinar perak saja disertai suara mendengung-dengung, lantas dari gulungan sinar itu tiba-tiba mencuat sinar yang menyambar ke arah kepala Han Lin.

Barulah Han Lin terkejut. Serangan ini luar biasa dan sungguh berbahaya, menunjukkan bahwa pemuda sombong ini bukan orang sembarangan melainkan memiliki ilmu silat yang hebat. Bila sambaran suling itu mengenai kepalanya, bukan tak mungkin kepalanya akan benar-benar hancur seperti yang diancamkan tadi.

Dan alangkah kejamnya pemuda ini, tanpa sebab yang jelas demikian mudah menyerang orang. Bila yang diserangnya benar-benar pemuda dusun yang tidak memiliki kepandaian silat, tentu kepalanya hancur dan akan tewas seketika.

“Aihhh...!” Dia berseru kemudian cepat mengelak ke belakang sehingga sambaran suling itu lewat di depannya.

Akan tetapi elakan Han Lin justru membuat pemuda itu menjadi penasaran dan semakin marah. Dia menyerang lagi, kini sulingnya menotok ke arah leher, lalu menurun ke dada dan perut! Sungguh merupakan jurus serangan maut yang amat dahsyat. Namun Han Lin juga memperlihatkan kemahirannya. Dengan mudah dia dapat mengelak, ada pun totokan ketiga ditangkisnya dengan tangan miring dari samping.


Keduanya terkejut karena masing-masing merasa betapa tangan mereka tergetar

”Aha! Kiranya engkau bukan bocah dusun petani busuk biasa! Engkau pandai iImu siIat, keparat!” bentak pemuda itu.

'Dan engkau adalah seorang pemuda sombong yang kejam!” kata Han Lin yang sudah mulai marah.

"Mampuslah!" Pemuda itu membentak dan kembali dia menyerang dengan sulingnya, kini dia menyerang dengan pengerahan tenaga dan menggunakan jurus maut yang berbahaya karena dia tahu bahwa yang diserangnya bukan bocah dusun sembarangan.

"Engkau patut dihajar!" kata Han Lin dan dia pun mengelak, lalu membalas dengan jurus pukulan dari ilmu silat Pat-kwa-­kun (Silat Segi Delapan).

Namun pemuda itu pun dapat mengelak, lantas dengan marah sekali dia menggerakkan sulingnya sedemikian rupa sehingga seolah-olah dia bukan hanya memegang sebatang, melainkan belasan batang suling yang menyerang Han Lin bertubi-tubi.

Walau pun Han Lin mampu menghindarkan semua serangan dengan langkah-langkah dari Pat-kwa-kun, namun dia kewalahan juga. Tiba-tiba dia menjatuhkan diri bergulingan, terus dikejar oleh lawannya. Ketika Han Lin meloncat berdiri lagi, tangannya sudah memegang sebatang ranting kayu dan inilah senjatanya yang istimewa.

Ketika dilatih Hong-in Sin-pang oleh gurunya, memang ia dibiasakan untuk menggunakan segala macam ranting kayu sebagai pengganti tongkat. Ranting atau cabang kayu yang bagaimana pun menjadi senjata ampuh di tangan Han Lin yang sudah menguasai Hong-in Sin-pang cukup baik.

Segera terdengar suara nyaring berulang kali ketika suling bertemu ranting dan sekali ini pemuda itu yang terkejut bukan main. Ranting kayu di tangan bocah dusun itu lihai bukan main, membuat permainan sulingnya menjadi kacau.

”Singg…! Singgg...!"

Beberapa kali pemuda itu meniup dan dari suling peraknya meluncur banyak jarum halus yang menyambar ke arah seluruh tubuh Han Lin. Namun Han Lin yang sudah waspada cepat memutar tongkatnya sambil melompat ke atas sehingga jarum-jarum itu pun runtuh ke atas tanah.

Dari atas tubuh Han Lin menukik turun dan rantingnya bergerak cepat, berhasil menotok pundak pemuda itu yang mengeluarkan seruan kaget lantas terpelanting, Akan tetapi dia dapat meloncat bangun kembali dengan muka berubah pucat karena kini dia tahu bahwa lawannya si bocah dusun itu benar-benar lihai bukan main.

Selagi dengan rantingnya Han Lin menyambut serangan suling yang semakin ganas itu, pada saat itu pula muncul angin dahsyat menyambar. Han Lin meloncat untuk mengelak dari serangan gelap yang dilakukan orang dari arah belakangnya itu, namun terlambat.

Serangan itu dahsyat dan cepat bukan kepalang sehingga punggung pemuda ini terkena sambaran hawa yang dingin sekali. Han Lin langsung roboh terjengkang dan sebelum dia sempat bergerak, pundaknya sudah ditotok orang dan dia pun tak mampu bergerak lagi!

Begitu melihat Han Lin tidak mampu bergerak lagi, pemuda yang memegang suling cepat menggerakkan sulingnya menghantam ke arah kepala Han Lin. Pemuda ini tidak mampu bergerak, maka dia pun hanya dapat memandang dengan sepasang mata melotot, siap menghadapi kematian. Dia sudah digembleng matang oleh Kong Hwi Hosiang sehingga tidak gentar menghadapi kematian yang dengan penuh keyakinan dikatakan gurunya itu bahwa kematian bukanlah suatu akhiran, melainkan suatu kelanjutan dari pada kehidupan di dunia ini.....


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner