KISAH SI PEDANG TERBANG : JILID-05


"PIakk!”

Suling itu terpental dan hampir terlepas dari tangan pemuda itu ketika tertangkis ujung lengan baju Hek-­bin Mo-ong. Kiranya Hek-bin Mo-ong yang tadi datang dan merobohkan Han Lin dan kakek gendut muka hitam arang ini yang mencegah si pemuda membunuh Han Lin.

"Susiok Hek-bin (Paman Guru Muka Hitam), mengapa engkau mencegah aku membunuh jahanam dusun ini?" Pemuda itu bertanya penuh penasaran.

"Seng Gun, bagaimana pun juga golongan kita pantang membunuh orang yang sudah tak berdaya seperti pemuda dusun ini. Lagi pula dia masih kita perlukan. Kau kira siapa yang akan menjadi pelayan kita untuk menjamu para tamu nanti? Siapa yang akan mencarikan tenaga pelayan dan mencarikan semua keperluan kita?"

"Hek-bin Susiok, apakah kita telah mendapatkan tempat yang baik untuk..."

"Sudah, mari kita pergi, ayahmu dan Pek-bin Susiok telah menunggu di sana," kata pula Hek-bin Mo-ong.

Kemudian Hek­-bin Mo-ong memandang kepada Han Lin. Semenjak tadi pemuda ini telah mengenalnya. Seorang di antara dua orang aneh yang pernah memukulnya tujuh delapan tahun yang lalu, pikirnya. Dan orang itu tadi menyebut-nyebut nama Pek-bin Susiok untuk pemuda itu, tentu yang dimaksudkan orang bermuka putih kapur itu. Ternyata pemuda ini adalah murid keponakannya.

"Susiok, pemuda ini cukup Iihai, dia akan membahayakan kita kalau tidak dibunuh," kata Seng Gun.

Pemuda ini memang cerdik sekali. Namanya Tong Seng Gun dan dia adalah putera dari Kwi-jiauw Lo-mo Tong Lui, datuk tertua di antara tiga datuk murid mendiang Sam Mo-ong itu.

"Tentu saja dia mempunyai sedikit kepandaian karena dia tentulah murid hwesio pengurus kelenteng di bawah puncak itu. Bukankah benar begitu, orang muda?"

Di dalam hatinya Han Lin marah sekali kepada mereka ini dan tahu bahwa mereka adalah orang-orang yang jahat sekali. Akan tetapi dia teringat akan semua nasehat gurunya. Dia harus mengetahui keadaan dan bertindak sesuai dengan keadaan itu, demikian antara lain nasehat gurunya.

Seorang pendekar haruslah tabah dan berani, akan tetapi bukan berani secara nekat saja, melainkan berani dengan perhitungan. Nekat melawan secara membuta dan mati konyol bukanlah keberanian namanya, melainkan kebodohan.

Dan sekarang dia tahu bahwa dia berhadapan dengan lawan yang tidak akan mampu dia kalahkan. Berusaha menyelamatkan diri dalam keadaan seperti saat ini bukan merupakan suatu tindakan pengecut, melainkan suatu kecerdikan dan tahu diri.

"Benar, locianpwe. Memang Kong Hwi Hosiang adalah guruku," jawabnya, wajahnya tidak menunjukkan rasa takut, juga tidak membayangkan kemarahan. Akan tetapi dia merasa heran juga melihat betapa orang gendut muka hitam arang itu menjadi terkejut mendengar jawabannya.

"Kong Hwi Hosiang, katamu? Aha, jadi dia adalah Kong Hwi Hosiang yang amat terkenal itu? Pantas dia lihai, sayang sudah tua renta, ha-ha-ha! Siapakah namamu?"

"Namaku Han Lin," kata Han Lin sejujurnya. Hatinya berdebar tegang mendengar ucapan si muka hitam ini tentang gurunya.

”Nah, Han Lin, engkau belum bosan hidup, bukan? MuIai sekarang engkau harus menaati perintah kami dan tidak melawan, dan kami tak akan membunuhmu. Bangunlah.”

Tangan Hek-bin Mo-ong menyambar ke arah pundaknya sehingga Han Lin mengeluarkan seruan tertahan. Rasa nyeri yang amat sangat menusuk pundaknya. Kini dia sudah dapat bergerak, akan tetapi perasaan nyeri di pundaknya itu seperti menembus ke jantungnya. Dia memejamkan matanya dan seperti dalam mimpi mendengar suara Hek-bin Mo-ong.

"Ha-ha-ha, Han Lin. Pukulanku tadi adalah pukulan yang memasukkan hawa beracun ke dalam tubuhmu. Engkau sudah keracunan dan kalau tidak kuberi obat, maka dalam waktu sebulan engkau akan mati! Kalau engkau bersikap baik, mau menaati semua perintahku, sebelum sebulan tentu engkau akan kuobati sampai sembuh. Akan tetapi kalau engkau melarikan diri atau membangkang, maka engkau akan kubunuh. Kalau engkau dapat lolos sekali pun, tentu engkau akan mati karena selain aku, tidak akan ada orang yang mampu mengobatimu sampai sembuh."

Akan tetapi dari bawah pusar muncul hawa yang hangat di perut Han Lin dan sebentar saja rasa nyeri di pundaknya itu lenyap. Han Lin adalah seorang yang sangat cerdik. Dia sudah mendengar keterangan gurunya bahwa tubuhnya kebal terhadap racun, maka dia pun tahu kalau hawa beracun itu hanya sebentar saja mempengaruhinya. Akan tetapi dia pura-pura masih kesakitan, masih menyeringai kesakitan.

"Aku... aku akan taat," katanya lirih.

Bagi dia, bahaya yang mengancam bukan datang dari hawa beracun dalam tubuhnya itu, melainkan dari orang-orang jahat ini. Sekali dapat meloloskan diri, tentu dia akan selamat. Yang penting dia harus menunjukkan ketaatan agar dipercaya, karena dia pun ingin sekali mengetahui apa yang akan dilakukan orang-orang jahat yang aneh ini.

“Han Lin, hayo kau ikut kami ke kelenteng,” kata Hek-bin Mo-ong.

Han Lin mengangguk, lalu mengikuti mereka kembali ke kelenteng. Hatinya terasa tidak enak dan berdebar tegang. Apa yang telah terjadi dengan suhu-nya?

Begitu mereka sampai di depan kelenteng dan memasuki pekarangan, Han Lin terbelalak melihat Kong Hwi Hosiang, Cun Hwesio serta Kun Hwesio sudah menggeletak menjadi mayat, berserakan di pekarangan itu.

"Suhu…!" Dia berlari menubruk jenazah suhu-nya.

"Suhu...! Cun Suhu…! Kun Suhu…!" Dia meratap dan menangis.

"He-heh-heh, Han Lin, hentikan tangismu. Engkau seperti anak perempuan yang cengeng saja. Bila engkau tidak menaati kami, maka engkau pun akan segera menyusul mereka!" kata Seng Gun.

Han Lin mengepal tinju dan harus menekan gerahamnya supaya jangan sampai terdorong menjadi nekad oleh kemarahan dan dendam. Tidak, pikirnya. Sekarang bukan waktunya untuk melawan mereka. Pasti dia akan kalah. Amukannya tidak akan ada gunanya, sama saja dengan bunuh diri.

Tiga orang hwesio itu sudah dibunuh mereka, hal ini saja membuktikan bahwa mereka adalah lawan yang sangat tangguh. Dia bukan takut melawan mereka, bukan takut mati, hanya tidak ingin mati konyol dan sia-sia. Dia harus memperkuat dirinya agar kelak dapat menentang kejahatan yang luar biasa kejamnya ini.

"Cukup, Han Lin. Tak perlu banyak menangis lagi. Sekarang angkatlah ketiga jenazah itu dan bawa ke kebun belakang. Kita kubur mereka di sana," kata Hek-bin Mo-ong dan pada saat itu pula muncullah Pek-bin Mo-ong yang segera dikenal oleh Han Lin.

Orang yang kurus tinggi bermuka putih kapur itu adalah orang kedua yang dahulu pernah menyerangnya bersama Hek-bin Mo-ong. Yang seorang lagi, lebih tua dan juga tubuhnya pendek gendut seperti katak, tidak dikenalnya, akan tetapi melihat sikapnya, agaknya dia menjadi pimpinan mereka berempat. Dia pun dapat menduga bahwa Seng Gun tentulah putera dari si katak gendut itu.

”Hemm, siapakah bocah itu dan mengapa engkau bawa dia ke sini, Hek-bin sute?" tanya Kwi-jiauw Lo-mo sambil mengerutkan alisnya.

Mereka mempunyai tugas rahasia yang penting, maka sungguh bodoh kalau sute-nya itu membawa seorang pemuda asing ke situ.

"Ayah, tadi aku sudah ingin membunuh bocah ini, tapi Hek-bin Susiok melarangku," kata Seng Gun kepada ayahnya. Dari sikap ini saja telah menunjukkan bahwa dia seorang anak yang manja dan terlampau mengandalkan ayahnya sehingga dia tidak menghormati susiok-nya.

"Twa-suheng (Kakak seperguruan yang tertua)," kata Hek-bin Mo­-ong sambil tersenyum menyeringai. "Dia adalah murid hwesio tua itu dan tahukah twa-suheng siapa hwesio tua yang baru saja tewas di tangan kita ini? Dia adalah Kong Hwi Hosiang!”

”Ahhhh…!" Kwi-jiauw Lo-mo dan Pek-bin Mo-ong mengeluarkan seruan kaget.

"Kalau begitu, lebih perlu lagi anak itu harus segera dibunuh!” kata Kwi-jiauw Lo-mo yang merasa jeri juga setelah mendengar bahwa korban mereka adalah Kong Hwi Hosiang yang mempunyai hubungan luas dan nama besar di dunia persilatan. Dia khawatir kalau banyak pendekar akan membela kematian tokoh itu.

Hek-bin Mo-ong tertawa. ”Ha-ha-ha, jangan khawatir. Dia sudah kupukul dengan pukulan beracun. Jika dia membangkang dan melawan maka dia akan mati keracunan. Kita dapat mempergunakan dia untuk keperluan kita di sini, twa-­suheng.”

Kwi-jiauw Lo-mo mengangguk-angguk. ”Baiklah, tetapi engkaulah yang bertanggung jawab untuk mengawasi dia, Hek-bin sute."

Han Lin tidak mempedulikan mereka lagi, tidak mempedulikan apa-apa kecuali mengurus jenazah tiga orang hwesio itu. Mula-mula dia memondong jenazah Kong Hwi Hosiang dan sambil terisak-isak dia membawa jenazah itu ke dalam kelenteng, terus menuju ke kebun belakang seperti yang diperintahkan oleh Hek-bin Mo-ong.

Tanpa banyak cakap dia pun menggali tiga buah lubang, ditonton dan dijaga oleh Hek-bin Mo-ong dan Tong Seng Gun yang tidak mau membantunya sama sekali. Akan tetapi Han Lin justru merasa lebih senang kalau tidak dibantu mereka. Sebaiknya dia sendiri, dengan kedua tangannya sendiri yang menggali lubang kuburan untuk tiga orang hwesio itu, tidak dikotori tangan orang-orang jahat itu.

Tanpa mengenal lelah dia menggali lubang. Kadang-kadang dengan sengaja dia merintih seperti menahan sakit agar tidak menimbulkan kecurigaan kedua orang itu yang mengira bahwa dia masih dipengaruhi hawa beracun akibat pukulan Hek-bin Mo-ong tadi. Akhirnya dia mengubur tiga jenazah itu dan setelah menguruk lubang-lubang itu dengan tanah, dia lalu berlutut sampai lama di depan kuburan gurunya.

"Sudah, cukup! Hayo ikut dengan kami ke kelenteng. Engkau harus membuat makanan untuk kami berempat,” kata Hek-bin Mo-ong. "Setelah itu kau carikan tenaga bantuan dari dusun di bawah sana sebanyak lima hingga sepuluh orang. Malam ini kita akan menerima beberapa orang tamu penting di kelenteng!"

Han Lin tidak menjawab, akan tetapi dia pun menurut saja, memberi hormat untuk yang penghabisan kepada makam gurunya lalu dia bangkit dan mengikuti dua orang itu kembali ke kelenteng.

Ketika mereka memasuki kelenteng dari pintu belakang, dapat dibayangkan betapa kaget rasa hati Han Lin mendengar suara gaduh di ruangan depan, dan terdengar pula suara Liu Ma! Sebelum melihat mereka Han Lin dapat menduga bahwa tentu ibunya itu bersama beberapa penduduk dusun Libun, datang ke kelenteng untuk bersembahyang seperti yang kadang mereka lakukan pada hari-hari tertentu. Dia pun bergegas menuju ke ruang depan dan di situ memang sedang terjadi keributan.

"Siapakah kalian?” terdengar suara Ibunya berkata dan agaknya sembilan orang penghuni dusun itu tadi bercekcok dengan Pek-bin Mo-ong dan Kwi-jiauw Lo-mo.

"Kelenteng ini adalah milik kami penduduk dusun. Sekarang kami ingin bersembahyang, mengapa kalian melarang dan menghalangi? Biarkan kami bertemu dengan losuhu, kami hendak bicara dengan dia!”

Ucapan ini dibenarkan oleh yang lain sehingga suasana kembali menjadi gaduh. Melihat betapa di antara para pendatang itu ada seorang wanita muda yang cukup manis, Hek-bin Mo-ong lalu cepat-cepat menghampiri mereka dan dengan mukanya yang selalu tertawa lebar itu dia bertanya,

"Heii, ada apa sih ribut-ribut ini?” Dia menoleh kepada kedua orang rekannya dan berkata, "Sungguh kebetulan sekali. Kita sedang membutuhkan bantuan tenaga, dan kini mereka datang secara suka rela! Dan nona manis ini dapat menemaniku minum arak. He-he-heh!” Sesudah berkata demikian, sekali menggerakkan tangan kirinya, tubuh wanita itu seperti terbetot dan tahu-tahu telah terhuyung ke arah Hek-bin Mo-­ong kemudian dirangkulnya!

Wanita muda itu menjerit-jerit dan meronta hendak melepaskan diri, menggunakan kedua tangannya untuk memukul dan mencakar ketika sambil terkekeh-kekeh Hek-bin Mo-ong mendekatkan mukanya hendak menciuminya begitu saja di depan banyak orang! Melihat ini Liu Ma menjadi marah sekali dan dia pun telah mendekati si gendut bundar muka hitam itu.

"Engkau ini laki-laki biadab dan jahat! Lepaskan wanita ini! Dia sudah mempunyai suami, lepaskan!"

Liu Ma hendak menarik lepas wanita muda itu, dan teman-temannya yang tadinya gentar menjadi berani. Mereka pun mendekati Hek-bin Mo-ong untuk memaksanya melepaskan wanita muda yang dirangkulnya itu.

Melihat kenekatan ibunya, Han Lin terbelalak dengan wajah pucat karena dia tahu bahwa ibunya sedang terancam bahaya maut karena berani menentang Hek-bin Mo-ong seperti itu. Maka dia pun cepat melompat mendekati ibunya.

"Ibu, jangan...!” Dan dia menyambar tubuh ibunya lantas dipondongnya tubuh Liu Ma dan dibawanya keluar dari kelenteng itu. Ia harus menyelamatkan ibunya, harus membawanya lari jauh-jauh dari manusia-manusia berwatak iblis itu.

Peristiwa itu terjadi demikian cepatnya sehingga semua orang tertegun. Tiga orang datuk itu sendiri tidak menyangka bahwa Han Lin akan berani melarikan wanita Itu.

"Hek-bin, mereka adalah tanggung jawabmu!" kata Kwi-jiauw Lo-mo marah.

Mendengar ini Hek-bin Mo-ong segera melepaskan wanita muda yang dirangkulnya tadi dan dia pun melakukan pengejaran keluar kelenteng, diikuti pula oleh Seng Gun yang juga merasa penasaran melihat perbuatan Han Lin tadi.

Han Lin maklum bahwa ibunya terancam bahaya maut, hanya itu saja yang dia perhatikan maka dia harus dapat mengajak ibunya melarikan diri. Sesudah tiba di luar kelenteng dia baru menurunkan ibunya yang berkeras minta diturunkan.

"Han Lin, apa-apaan engkau ini? Kenapa engkau?"

"Nanti saja penjelasannya, ibu, sekarang kita harus melarikan diri. Hayo cepat, bahaya maut sedang mengancam kita," katanya.

Lalu dia menggandeng tangan ibunya, diajak lari sekuatnya melalui kebun dan memasuki hutan yang berada di dekat situ. Dia sudah hafal dengan keadaan di sana, maka dia tidak mengambil jalan umum, melainkan menerobos semak-semak dan hutan sehingga Liu Ma beberapa kali mengaduh dan mengeluh karena kakinya tertusuk duri semak belukar.

"Han Lin, berhenti kau, keparat!" terdengar teriakan di belakang mereka. Itu adalah suara Seng Gun yang sudah dekat di belakang, kemudian disusul suara tawa Hek-bin Mo-ong.

"Ha-ha-ha, bocah tolol, engkau hendak lari ke mana?"

Mendengar suara mereka, Liu Ma berbisik kepada anaknya,

"Han Lin, mereka siapa dan mau apa...?"

"Sstttt, ibu, orang-orang jahat itu telah membunuh ketiga suhu."

Liu Ma terbelalak. Mukanya menjadi pucat sekali dan ketakutan hebat membuat wanita ini seperti mendapatkan tenaga baru untuk berlari cepat. Han Lin yang menggandeng tangan ibunya segera menariknya, dan mereka mengambil jalan dekat jurang yang tertutup oleh alang-alang tinggi.

Akan tetapi dengan cepat dua orang pengejarnya itu dapat menyusul dan sekarang sudah berada di belakangnya. Han Lin maklum bahwa tidak mungkin ibunya mampu meloloskan diri, maka dia pun berkata,

"Ibu, cepat ibu menyusup terus, melarikan diri dan bersembunyi, biar aku yang menahan mereka."

Pemuda itu lalu melepaskan tangan ibunya dan segera membalik, memasang kuda-kuda dan bersiap untuk menyerang secara nekat agar ibunya dapat lolos.

"Han Lin," ibunya berbisik.

"Pergilah, ibu. Dan cepat!"

Pada saat itu Hek-bin Mo-ong telah datang mendekat dan di belakangnya nampak Seng Gun yang tersenyum mengejek.


Han Lin tidak banyak cakap lagi, segera maju menerjang dan menyerang Hek-bin Mo-ong dengan menggunakan sebatang ranting yang tadi telah dipungutnya dalam pelarian untuk dipakai sebagai senjata.

Ilmu tongkat Hong-in Sin-pang yang dikuasai Han Lin memang hebat, bahkan tadi sudah membuat Seng Gun kewalahan. Akan tetapi kepandaiannya itu belum ada artinya untuk menghadapi seorang datuk seperti Hek-bin Mo­-ong. Serangan tongkat Han Lin disambut tangan kiri Hek-bin Mo-ong yang tertawa-tawa.

"Krakkk!"

Ranting itu patah-patah dan sebelum Han Lin dapat menghindar, si gendut muka hitam itu telah menggerakkan tangan kanan sehingga hawa dingin yang amat dahsyat menyambar ke arah Han Lin. Pemuda ini tidak mampu bertahan lagi dan dia pun terlempar kemudian terjungkal ke dalam jurang!

Pada saat itu pula, ketika melihat Han Lin terjungkal ke dalam jurang, Liu Ma yang tidak mau pergi meninggalkan anaknya begitu saja melainkan terus mengintai dari balik ilalang segera berlari keluar dan menuju tepi jurang.

"Han Liiiinnn... anakkuuu...!"

Dan wanita itu pun melompat ke dalam jurang menyusul pemuda yang sangat dikasihinya dan sudah dianggap sebagai anaknya sendiri itu. Terdengarlah lengkingan teriakan Liu Ma yang panjang bergema, kemudian terdiam dan disusul kesunyian yang mencekam.

Pek-bin Mo-ong dan Seng Gun menjenguk ke bawah jurang, kemudian mereka tertawa. Mereka yakin sekali bahwa dua orang itu pasti sudah tewas dengan tubuh remuk karena jurang itu amat dalam dan curam. Mereka lalu pergi meninggalkan tempat itu, kembali ke kelenteng…..

********************

Jauh di bawah, di lereng jurang yang curam, Han Lin bergantung pada sebatang pohon. Dia menggigit bibir sambil memejamkan matanya ketika Liu Ma meloncat ke dalam jurang. Air matanya bercucuran melalui kedua pipinya, akan tetapi dia menahan diri agar tidak mengeluarkan suara tangis. Sesudah menunggu agak lama barulah dia menuruni lereng jurang yang curam itu, berpegangan pada batu-batu dan akar-­akar yang menonjol keluar hingga akhirnya dia tiba di dasar jurang.

Dia menubruk tubuh Liu Ma yang sudah menjadi mayat di dasar jurang itu dan menangis. Kadang-kadang dia mengepal tinju, atau mengeluarkan suara geraman penuh kedukaan, kemarahan, sakit hati dan dendam.

Tiga orang hwesio itu telah dibunuh, dan sekarang wanita yang sudah dianggap sebagai pengganti orang tuanya, dibunuh pula. Meski pun dia tahu bahwa ibunya mati membunuh diri dengan terjun ke dalam jurang, tapi penyebab kematiannya adalah manusia-manusia iblis itu.

Akan tetapi dalam keadaan amarahnya berkobar seperti api itu, terngianglah di telinganya nasehat-nasehat Kong Hwi Hosiang bahwa dendam kebencian dan kemarahan merupakan racun bagi diri sendiri. Dendam kebencian dan kemarahan adalah nafsu yang mendorong orang melakukan perbuatan kejam demi membalas dendam, dan perbuatan yang kejam, yang didasari oleh kebencian, adalah perbuatan jahat. Perbuatan jahat bagian bibit pohon beracun yang kelak buahnya akan dimakan sendiri oleh si pembuat!

"Tidak, aku tidak boleh mendendam… ahh, ibu... ibuuuu..." dia meratap-ratap.

Dengan menggunakan batu yang runcing dia lalu memaksa diri untuk menggali lubang di dasar jurang itu. Dia menguburkan jenazah Liu Ma secara sederhana tapi penuh khidmat, dengan cucuran air mata, kemudian dia berlutut di depan makam yang hanya merupakan segundukan tanah berbatu-batu.

"Liu Ma yang setia, engkau telah menjadi ibu bagiku, ibu yang penuh kasih sayang, penuh kesetiaan, semoga engkau mendapatkan tempat yang layak di sana."

Sesudah penguburan itu selesai barulah dia merasa betapa seluruh tubuhnya sakit-sakit. Lengan kanannya nyeri bukan main kalau dia gerakkan, agaknya lengan itu terkilir. Ketika tadi tubuhnya melayang ke bawah jurang, entah bagaimana, kebetulan sekali tangannya mencengkeram ke sana sini lalu tangan kanannya berhasil mencengkeram batang pohon yang tumbuh di lereng tebing jurang sehingga tertahan dan dia selamat. Kini baru terasa betapa lengan kanannya itu agak membengkak dan terasa amat nyeri, terutama di bagian sambungan lengan di pundak.

Pukulan Hek-bin Mo-ong tadi juga masih terasa sehingga membuat dadanya terasa sesak dan dingin. Semua itu ditambah lagi pengerahan tenaganya ketika menggali tanah berbatu di dasar jurang untuk membuat lubang kuburan. Kini dia kehabisan tenaga dan mengeluh panjang, lalu terkulai pingsan di depan gundukan tanah kuburan Liu Ma…..

********************

Sepuluh tahun yang lalu, pada tahun 766, kekuasaan Kerajaan Tang dapat berdiri kembali di kota raja Tiang-an, sesudah selama sepuluh atau sebelas tahun (755-766) kerajaan itu dikuasai oleh para pemberontak, dimulai dengan pemberontakan An Lu Shan, kemudian puteranya, An Kong, dan terakhir dikuasai oleh Sia Su Beng.

Kaisar Hsuan Tsung (712-755) melarikan diri mengungsi ke barat ketika pada tahun 755 An Lu Shan, seorang panglima yang dipercayanya, yang ditugaskan menjaga perbatasan utara, melakukan pemberontakan dan menduduki ibu kota atau kota raja Tiang­-an. Kaisar Hsuan Tsung mengungsi ke barat, lantas setahun kemudian menyerahkan tahta kerajaan kepada puteranya, pangeran mahkota yang kemudian menjadi penggantinya, yaitu Kaisar Su Tsung.

Dengan adanya panglima besar Kok Cu It yang setia dan pandai, maka Kerajaan Tang itu tidak pernah patah semangat. Panglima Kok Cu It lalu menyusun kekuatan di barat, dan dengan bantuan banyak suku bangsa barat dan utara, di antaranya bangsa Tibet, Turki serta banyak lagi suku bangsa kecil, akhirnya pada tahun 766 Kaisar Su Tsung berhasil menguasai kembali kota raja Tiang-an dan pemberontakan dapat dipadamkan. Tentu saja semua ini adalah jasa Panglima Kok Cu It.

Tetapi berhasinya Kerajaan Tang bangkit kembali ini tidak disambut dengan gembira oleh rakyat. Banyak penyair menuliskan syair yang menggambarkan keadaan Kerajaan Tang sebagai ‘mengusir harimau dengan bantuan gerombolan srigala!’ Gambaran ini memang tidak terlalu berlebihan.

Ketika sebelas tahun yang silam Kerajaan Tang dijatuhkan oleh para pemberontak, maka yang berkuasa adalah pemberontak, namun bagaimana pun masih merupakan gabungan bangsa Han dan bangsa Khitan. Setidaknya yang berkuasa adalah bangsa sendiri.

Kemudian Kerajaan Tang berkuasa kembali dengan bantuan orang-orang asing. Sesudah kota raja berhasil diduduki dan pemberontak dapat dibasmi, orang-orang asing ini tidak mau lagi meninggalkan daerah pedalaman yang subur, dengan kota-kotanya yang indah, dengan adanya segala macam kesenangan yang tidak dapat mereka temukan di tempat tinggal mereka yang tandus dan terbelakang!

Bagi rakyat, dibandingkan sekarang keadaan kehidupan mereka jauh lebih baik pada saat dikuasai pemberontak An Lu Shan sampai Sia Su Beng, karena kini mereka dirongrong oleh orang-­orang Tibet, Gurkha, Turki, Biauw, Mongol, Mancu dan masih banyak lagi. Dan mereka ini seperti serigala-serigala kelaparan yang memasuki kandang domba. Terjadilah kekerasan di mana-mana, perampokan, penganiayaan, perkosaan sehingga rakyat sangat menderita.

Panglima Kok Cu-It sendiri menjadi sangat kewalahan menghadapi keadaan seperti itu. Kalau ditindak dengan keras, tentu tidak enak sekali mengingat bahwa orang-orang asing itu telah berjasa nembantu Kerajaan Tang memperoleh kembali kekuasaannya. Tapi kalau dibiarkan maka rakyatlah yang menderita.

Dan akhirnya, secara perlahan-lahan sehingga berlarut-larut sampai sepuluh tahun lebih lamanya, baru Kerajaan Tang berhasil membujuk para pimpinan suku-suku asing itu untuk meninggalkan wiiayah Kerajaan Tang, tentu saja setelah mereka diberikan banyak hadiah berupa barang-barang berharga, bahkan gadis-gadis cantik. Maka Kerajaan Tang harus menguras habis kekayaannya untuk diberikan kepada mereka sebagai bekal!

Meski pun gerombolan-gerombolan suku asing itu telah pergi dan kota raja Tiang-an tidak dipenuhi lagi oleh orang-orang asing yang berkeliaran, namun Kerajaan Tang masih tidak lepas dari rongrongan para suku bangsa asing itu di sebelah barat dan utara. Terutama sekali dari bangsa Tibet dan Mongol. Juga kelemahan kerajaan ini membuat para pejabat tinggi daerah banyak yang bertindak sewenang-wenang, hidup sebagai raja kecil dan ada kecenderungan untuk memisahkan diri dari pemerintah pusat di Tiang-an.

Kelemahan pemerintah mendatangkan kekacauan pula di dunia kangouw. Para pendekar seakan saling bersaing dan hal ini didukung pula oleh perkumpulan-­perkumpulan agama yang kini bangkit kembali secara liar setelah dahulu pernah ditertibkan oleh Kaisar Hsuan Tsung atau Beng Ong.

Kini berbagai aliran agama bermunculan seperti cendawan di musim hujan, di antaranya, perkumpulan atau aliran agama yang terbesar, tidak termasuk puluhan macam yang kecil-kecil, adalah seperti berikut:

Aliran agama Ru, dengan nabi atau guru pertamanya Khong-cu (Confucius, 551-479 SM). Aliran ini mengutamakan Li (upacara, aturan) dan menganjurkan tata masyarakat feodal, menggolong-golongkan manusia dengan kedudukannya dan tugasnya di tempat masing-masing. Ada atasan dan ada pula bawahan, ada pihak tua dan pihak muda dengan sikap menurut cara yang ditentukan oleh Li. Bahkan raja pun mempunyai atasan, yaitu langit sebagai pengganti kekuasaan Tuhan. Maka raja pun mendapat sebutan Putera Langit.

Selain Li, juga Khong-cu menganjurkan Jin (Kemanusiaan) dan Gi (Keadilan). Terutama sekali raja diharuskan memiliki semua ini karena raja merupakan panutan rakyat. Biar pun aliran Ru bukan merupakan kepercayaan dengan upacara tertentu, tidak mempersoalkan keadaan sesudah mati, tidak pula menyinggung tentang KeTuhanan namun lebih condong kepada Kemanusiaan, tapi karena kebudayaan yang dibawanya telah meresap ke dalam kalangan atas, dari raja sampai kepada para bangsawan tinggi, maka tetap berpengaruh.

Aliran agama Mo, yang menganggap Mo Ti (490-403 SM) sebagai guru besarnya. Pada dasarnya aliran Mo Ti ini mengutamakan cinta kasih sesama, mencari kebahagiaan batin bukan duniawi, oleh karena itu menganjurkan supaya kita menjauhi kemewahan. Bahkan mereka menentang kegiatan yang memboroskan, menentang musik, menentang perang antar manusia. Pada umumnya anggota aliran ini sangat setia dan taat kepada pemimpin mereka, bahkan siap mengorbankan nyawa apa bila hal itu dikehendaki sang pemimpin.

Pengikut aliran ini lebih condong untuk mengejar dan memperdalam ilmu pengetahuan. Justru karena berlomba dan bersaing dalam ilmu, termasuk ilmu silat, banyak di antara para anggotanya kemudian terperosok ke dalam pertentangan dan permusuhan dengan kelompok lain, karena tidak mau kalah.

Aliran agama To. Mereka menganggap Lo-cu (diperkirakan sejaman dengan Khong-cu) sebagai nabi mereka. Agama ini menganjurkan persatuan dengan alam dan selalu tunduk terhadap hukum alam. Sebaliknya dari aliran Ru yang mengikuti ajaran Khong-cu, aliran ini mengesampingkan urusan kehidupan di dunia, melainkan lebih menerawang mengenai kekuasaan yang mereka namakan To saja, yang sesungguhnya tidak bernama.

Mereka menamakan To sebagai yang terahasia, yang mencakup dan mengatur segalanya dan hidup di dunia ini seyogianya membiarkan To bekerja. Karena To dapat diartikan mirip dengan yang kita namakan Kekuasaan Tuhan, maka agama To ini lebih condong kepada KeTuhanan, tapi karena banyak rahasia terkandung di dalamnya maka dengan sendirinya berkembanglah suatu cara untuk memperoleb kekuatan yang ajaib.

Aliran ini membentuk banyak manusia aneh yang memiliki ilmu kepandaian yang aneh-aneh pula. Mereka juga mempelajari perbintangan sehingga banyaklah di antara mereka yang menjadi peramal, ahli sihir dan sebagainya.

Aliran agama Beng (Beng kauw), berasal dari Persia (Iran) dan pendirinya yang dianggap guru besar mereka adalah seorang putera bangsawan Persia bernama Mani. Karena itu, Beng-kauw (Agama Terang) juga disebut Manichaeism. Agama ini masuk ke Cina Barat setelah abad kedua Masehi. Seperti juga keadaan pendirinya, di dalam agama ini terdapat pengaruh agama Kristen Mithraism dan juga Magism dari Persia.

Mani sendiri menamakan dirinya Duta Terang. Menurut ajarannya, di dalam alam semesta terdapat dua kekuasaan, yaitu Terang dan Gelap yang bertentangan. Dan setan terlahir di Kekuasaan Gelap.

Dalam aliran ini juga berkembang aturan-aturan aneh yang bagi orang biasa terasa amat ganjil. Apa lagi kalimat yang biasa mereka ucapkan, betul-betul membuat orang menjadi bingung. Memang kata-kata mereka terkadang membuat orang yang mendengar menjadi kacau pikirannya. Mereka senang mempergunakan kalimat dengan arti yang berlawanan seperti ‘kuda putih bukan kuda’, ‘anjing hitam adalah putih" dan sebagainya.

Akan tetapi para penganutnya, terutama para pimpinannya, banyak yang mempunyai ilmu kepandaian silat yang aneh dan tinggi. Karena itu Beng-kauw ini cukup disegani dan oleh banyak kalangan dianggap sebagai golongan sesat karena keanehan mereka..

Aliran Im Yang (positip dan negatip), yang menganggap alam ini terbentuk atas ngo-heng (lima unsur) yang menjadi im­-yang (positip dan negatip). Dua kekuatan ini yang membuat segala sesuatu berputar dan bergerak, yang menimbulkan kekuatan.

Di antara semuanya, aliran inilah yang paling banyak melahirkan ahli nujum dan peramal kenamaan, karena aliran ini paling tekun dan mendalam mempelajari tentang peredaran matahari, bulan, bintang, musim dan gejala aneh termasuk bencana alam. Juga ilmu silat mereka sangat dipengaruhi pelajaran ini.

Aliran Fa, juga berkembang sekitar abad ke empat sebelum Masehi, merupakan aliran yang sesuai dengan namanya, yaitu Fa (Hukum). Menurut aliran ini, seluruh alam maya dapat bergerak dan berjalan secara teratur dan lancar berkat adanya Hukum. Oleh karena itu sebuah kerajaan haruslah menegakkan hukum, karena hanya hukum yang akan dapat mengatur pemerintahan hingga berjalan dengan lancar dan baik. Dengan adanya hukum, maka kedudukan raja akan menjadi kokoh kuat, berwibawa, dan rakyat jelata akan hidup makmur karena semua orang menaati hukum yang berlaku.

Aliran Fa ini banyak dipergunakan oleh kerajaan-kerajaan yang lalu, di antaranya Kerajaan Cin yang dikuasai oleh Tsin Shih Huang-ti (221-210 SM). Shih Huang-ti ini menggunakan aliran Fa, dengan segala kekerasan menjalankan hukum sehingga akhirnya dia berhasil menaklukkan seluruh negeri dan berhasil menggalang persatuan lewat kekerasan. Justru di sinilah letak kekuatan aliran Fa, yaitu menegakkan hukum dengan kekerasan.

Demikianlah beberapa di antara aliran-aliran yang besar dan berpengaruh. Masih terdapat banyak aliran yang merupakan perpecahan dari aliran-aliran besar. Selain beberapa aliran itu tentu saja masih terdapat agama Buddha yang amat besar pengaruhnya, juga agama Kristen yang mengalami perkembangan yang bercampur dengan filsafat tradisionil.....


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner