KISAH SI PEDANG TERBANG : JILID-07


Pemuda ini hampir saja pingsan rasanya ketika merasakan betapa bibir yang lunak dan lembut, hangat dan penuh gairah itu menghisap bibirnya. Sesudah Kwa Lian melepaskan ciumannya, Seng Gun terengah dan mukanya menjadi merah sekali.

Bi-sin-liong Kwa Lian melepaskan libatan rambutnya sambil tertawa. Sementara itu Ang-sin-liong Yu Kiat, orang tertua yang menjadi pemimpin Bu-tek Ngo-sin-liong, lalu berseru dengan suara berwibawa ke arah kelenteng.

"Kwi-jiauw Lo-mo, apakah engkau tidak cepat keluar menyambut kami?"

Dari dalam kelenteng segera terdengar suara tawa kemudian terdengar jawaban Kwi-jiauw Lo-mo.

"Aha, maafkan kami, Bu-tek Ngo-sin-liong! Kami sudah menyuruh puteraku menyambut, tapi dia yang masih muda agaknya suka bermain-main. Maafkan kami!" Tiga orang datuk itu berjalan keluar dengan sepasang tangan terangkap di depan dada, menyambut dengan gembira.

"Hi-hik-hik, Lo-mo! Puteramu ini menyenangkan juga!" kata Kwa Lian kepada Kwi-jiauw Lo-mo.

Datuk yang gendut seperti katak itu tertawa. "Ha-ha-ha-ha, tentu saja. Anak siapa? Akan tetapi usianya baru enam belas tahun, nona Kwa, maka kuharap engkau jangan menyeret dia!" Keduanya tertawa, dan Kwa Lian menjawab dengan suara mengejek.

"Hemmm, aku bukan wanita yang suka memperkosa seperti engkau! Kalau saja puteramu ini seperti engkau, seperti seekor katak, aku tidak akan mengatakan dia menyenangkan," kembali mereka tertawa-tawa.

Melihat sikap orang-orang itu, diam-diam Seng Gun merasa heran. Agaknya lima orang tamu itu tidak banyak bedanya dalam hal sikap dibandingkan ayahnya dan kedua orang susiok-nya. Padahal, bukankah mereka itu tokoh-tokoh besar dari Hoat-kauw? Sepanjang pengetahuannya, Hoat-kauw adalah suatu aliran yang menjaga keras peraturan! Menjaga keras tegaknya hukum dan keadilan!

Tadinya dia sudah khawatir mendengar ayahnya dan dua orang susiok-nya yang menjadi kepercayaan dan utusan orang-orang Mongol, hendak mengadakan hubungan dan kerja sama dengan Hoat-kauw. Dia khawatir kalau-kalau ayahnya tidak akan cocok dengan orang-orang yang kabarnya menegakkan hukum dan keadilan dengan kekerasan. Namun siapa kira sikap mereka itu ugal-ugalan dan tidak mengenal peraturan seperti juga sikap ayahnya, susiok-nya dan orang-orang segolongan mereka.

Tentu saja seorang pemuda berusia enam belas tahun seperti Seng Gun, apa lagi yang sejak kecil selalu hidup di tengah lingkungan orang-orang sesat, tidak dapat menangkap keadaan yang nampaknya bertentangan itu.

Dia tahu bahwa seperti juga semua aliran dan ajaran kebatinan, bahkan ajaran agama, merupakan ajaran yang baik, menjadi penuntun bagi manusia agar hidup bermanfaat bagi kemanusiaan dan bagi dunia, agar hidup sebagai orang yang selalu membela kebenaran, keadilan dan menumbuhkan cinta kasih di antara manusia.

Tidak ada ajaran agama atau aliran kebatinan yang mengajarkan orang untuk berbuat jahat dan kejam. Namun ajaran tetap merupakan ajaran, sesuatu yang mati. Yang hidup dan yang menentukan adalah manusianya, penganut ajaran itu. Baik dan buruknya bukan terletak di dalam ajaran itu, melainkan pada pelaksanaannya dalam kehidupan, di dalam langkah hidup dan perbuatannya. Betapa pun suci teorinya, kalau prakteknya kotor maka perbuatan atau praktek itu hanya akan menodai dan mengotori teorinya.

Betapa banyaknya terjadi pertentangan agama, pertentangan aliran. Sebenarnya bukan ajaran-ajaran itu yang bertentangan, karena tidak ada ajaran yang menganjurkan manusia saling bertentangan, melainkan ulah si manusia sendirilah yang mempertentangkannya.

Ajaran aliran dan keagamaan diadakan untuk seluruh manusia di dunia tanpa pilih bulu. Bila ajaran itu sudah dimonopoli, menjadi milikku, milik golongan atau kelompokku, milik bangsaku, maka akan timbullah pertentangan antara milikku dan milikmu, agamaku dan agamamu. Apa pun diperebutkan oleh kita manusia ini. Kebenaran diperebutkan, bahkan Tuhan pun diperebutkan!


Aliran Hoat-kauw memiliki ajaran agar manusia menaati hukum dan keadilan. Akan tetapi bagaimana kenyataannya? Manusia tetaplah manusia dengan segala macam nafsu daya rendah yang menguasai dirinya.

Kenyataannya, seperti yang dilihat Seng Gun, hukum itu hanya berlaku bagi mereka yang kalah, mereka yang berada di bawah. Mereka itulah yang harus menaati hukum. Bagi yang menang dan yang berkuasa? Merekalah hukum! Merekalah pembuat garis hukum! Merekalah yang benar dan apa pun yang mereka lakukan adalah adil dan benar. Mereka adalah penegak hukum, yaitu menegakkan hukum agar ditaati bawahan. Mereka lambang hukum, kebenaran dan keadilan. Yang salah adalah orang lain, terutama orang bawahan.

Sesungguhnya, kalau kita mau melihat keadaan sebagaimana adanya, hukum rimbalah yang berlaku di mana-mana. Yang kuat dia menang, yang menang dia berkuasa, yang berkuasa dia benar dan baik! Tentu saja hukum rimba ini diselubungi berbagai macam peraturan yang nampaknya beradab dan baik sehingga tidak nampak lagi.

Karena yang berkuasa selalu benar, maka di dunia ini manusia saling berlomba untuk memperebutkan kekuasaan. Dalam keluarga, di antara teman, dalam masyarakat, dalam perkumpulan, di dalam pemerintahan. Di mana-mana orang memperebutkan kekuasaan karena kekuasaan sumber kesenangan. kekuasaan memungkinkan orang mendapatkan apa pun yang dikehendakinya.


Kini empat orang pihak tuan rumah serta lima orang tamu mereka itu duduk menghadapi meja sambil menikmati jamuan makan yang dibuat oleh orang-orang dusun yang dipaksa menjadi pembantu di kelenteng itu. Kwi-jiauw Lo-mo menyatakan keinginan kepala suku Mongol untuk mengajak Hoat-kauw bersekutu supaya mereka bersama dapat menguasai seluruh negara.

"Menurut Ku-ma-khan, kepala suku Mongol, sekarang adalah saat yang amat tepat untuk menguasai Kerajaan Tang yang semakin lemah. Orang-orang Mongol sudah menghimpun kekuatan dan siap untuk melakukan penyerbuan ke timur dan selatan. Dan melihat bahwa Hoat-kauw merupakan perkumpulan yang besar dan memiliki banyak orang pandai, maka Ku-ma khan mengulurkan tangan mengajak bekerja sama. Apa bila kelak berhasil, maka Hoat-kauw yang akan menjadi satu-satunya aliran agama yang harus dipejuk oleh seluruh rakyat."

Ang-sin-liong Yu Kiat minum arak dari cawannya lalu tertawa. "Ha-ha-ha, agaknya kepala suku Mongol seorang yang bijaksana dan pandai. Mungkin beliau teringat betapa ratusan tahun yang lalu, aliran Hoat-kauw kami yang memperkuat Kerajaan Cin sehingga berhasil menguasai seluruh wllayah negeri. Memang hanya dengan memegang teguh ajaran aliran kamilah maka suatu pemerintahan akan berhasil!" Ucapan terakhir ini bernada sombong.

Kwi-jiauw Lo-mo tak mau kalah. "Akan tetapi, sobat, jika hanya mengandalkan peraturan ketat saja tanpa adanya kekuatan pasukan, juga takkan dapat menghasilkan kekuasaan. Oleh karena itulah kepala suku kami mengajak Hoat-kauw untuk bergabung, agar dengan kekuatan pasukan Mongol, ditambah lagi penyebaran aliran Hoat-kauw, maka perjuangan akan berhasil.”

Ang-sin-liong mengangguk-angguk. "Pendapatmu tadi memang benar, Lo-mo. Akan tetapi diperlukan jalan yang panjang dan tidak mudah untuk mendapatkan hasil yang baik. Kami mendengar bahwa bukan hanya bangsa Mongol yang hendak melakukan gerakan untuk merampas kekuasaan, tetapi juga banyak suku bangsa lain, terutama sekali suku bangsa Tibet dengan para Lama Jubah Merah. Kami kira kita harus membagi tugas kalau hendak bekerja sama. Kami akan mencoba untuk mengalahkan aliran-aliran yang ada, sedangkan pihak Mongol berusaha untuk menaklukkan suku-suku bangsa yang melakukan gerakan. Kalau kita kedua pihak sudah berhasil menguasai suku-suku bangsa yang memberontak, menghimpun pula aliran-aliran di bawah satu bendera, yaitu bendera Hoat-kauw, barulah kita mempunyai kekuatan untuk bertindak."

"Tepat sekaii," kata Hek-bin Mo-ong sambil tersenyum lebar. "Kita memang harus berbagi tugas. Akan tetapi kita harus bersatu padu dalam menghadapi orang-orang Tibet karena mereka itu merupakan gerakan gabungan antara pasukan Tibet yang dipimpin pula oleh para pendeta Lama yang hendak menyebar agama mereka."

"Memang sebaiknya demikian. Bangsa Tibet sangat kuat, bukan saja mereka mempunyai banyak pendeta Lama yang sakti, akan tetapi juga suku bangsa Yi dan Miao termasuk suku yang tunduk kepada mereka dan menjadi sekutu mereka."

"Hemm, kami tidak akan gentar untuk menghadapi pasukan mereka," kata Kwi-jiauw Lo-mo. "Bangsa Mongol juga mempunyai banyak kawan dari suku-suku bangsa yang berada di utara, seperti suku Mancu, Hui dan peranakan Han dengan kedua suku itu. Seperti juga kami bertiga ini. Aku sendiri peranakan Mongol, Hek-bin Mo-ong peranakan Mancu, dan Pek-bin Mo-ong peranakan Hui."

Demikianlah, delapan orang itu bercakap-cakap untuk mengatur siasat dan memutuskan bahwa kelenteng di Bukit Ayam Emas itu mereka jadikan tempat pertemuan. Ketika Kwi-jiauw Lo-mo mengusulkan supaya Hoat-kauw mengambil alih kelenteng itu dan membuka cabang di sana agar tempat itu bisa terjaga, Bu-tek Ngo-sin-liong setuju. Memang tempat itu indah sekali, juga cukup sepi dan jauh dari kota besar.

"Baik, kami akan mengirim anak buah ke sini dan sementara menjaga tempat ini supaya tidak lagi dikunjungi oleh orang-orang dusun," kata Ang-sin-liong Yu Ki-at.

Ketika perundingan itu berlangsung, Seng Gun hanya mendengarkan saja, tidak pernah mencampuri. Akan tetapi ada suatu rahasia yang hanya diketahui dia dan tiga orang datuk besar itu saja, rahasia besar tentang dirinya dan tentang cita-cita Kwi-jiauw Lo mo.

Sepuluh tahun yang silam, atau lebih sedikit, ketika dia berusia enam tahun, dia dilarikan dari istana kerajaan di Tiang-an saat di istana terjadi perebutan kekuasaan secara besar-besaran dengan terbunuhnya Kaisar An Lu Shan karena keracunan.

Sebenarnya Seng Gun bermarga An, karena dia adalah putera An Lu Shan, dan ibunya adalah puteri Kwi-jiauw Lo-mo Tong Lui. Melihat betapa puteri dan cucunya terancam oleh perebutan kekuasaan, Kwi-jiauw Lo-mo kemudian mempergunakan kepandaiannya untuk menyelamatkan mereka keluar dari istana.

Akan tetapi puterinya tidak mau ikut. Bahkan saking sedihnya akibat kematian suaminya, sebagai seorang selir tercinta yang sebagai peranakan Mongol dahulu banyak membantu pemberontakan An Lu Shan sehingga berhasil, puterinya itu, Tong Kiauw Ni, membunuh diri. Terpaksa Kwi-jiauw Lo-mo hanya melarikan cucunya saja, dan sejak itu pula, untuk menjaga agar tidak ada yang mengenal Seng Gun sebagai putera Kaisar An Lu Shan, dia mengakui Seng Gun sebagai puteranya sendiri dan mengganti marga An di depan nama Seng Gun menjadi marganya sendiri, yaitu Tong. Biar pun ketika itu usianya baru enam tahun, Seng Gun mengerti akan semua peristiwa yang terjadi dan menyadari bahwa demi keselamatan dirinya, dia harus mengakui kakek luarnya itu sebagai ayahnya.

Perundingan yang dilakukan tiga orang datuk dengan para pimpinan atau tokoh Hoat-kauw itu diikuti dengan penuh perhatian oleh Seng Gun, akan tetapi dia tidak mencampurinya sama sekali, hanya menjadi pendengar saja. Akan tetapi dia tahu benar bahwa kakeknya yang kini diakuinya sebagai ayahnya itu sedang mengatur sebuah rencana untuk dirinya! Ya, dia tahu benar bahwa Kwi-jiauw Lo-mo berusaha keras untuk mengembalikan dia ke tempatnya semula, yaitu di istana kota raja, kalau mungkin sebagai kaisar baru! Sebagai penerus kekuasaan An Lu Shan yang telah hancur dan diambil alih oleh Sia Su Beng…..

********************

Han Lin merasa seperti melayang di angkasa! Awan berarak di sekelilingnya seperti asap putih yang tebal. Tubuhnya terasa ringan sekali. Setiap ada angin berhembus, tubuhnya hanyut dalam aliran angin itu.

Dan dia mendengar percakapan antara dua suara yang tak nampak orangnya, suara yang kecil dan suara yang parau besar. Begitu jauh bedanya antara kedua suara itu sehingga tanpa melihat si pembicara sekali pun. Han Lin bisa membayangkan bahwa sepantasnya pemilik suara kecil itu seorang yang kurus dan pemilik suara besar adalah seorang yang tinggi gemuk.

Suara kecil itu bertanya, "Tahukah engkau dengan sesungguhnya bahwa segala sesuatu adalah sama saja?"

Suara besar menjawab dengan pertanyaan pula, "Bagaimana saya bisa tahu?"

"Tahukah engkau apa yang engkau tidak tahu?"

"Bagaimana saya bisa tahu?"

"Kalau begitu tidak ada seorang pun tahu?"

"Bagaimana saya bisa tahu?" terdengar pula suara besar, lantas suara Itu melanjutkan, "Bagaimana pun juga akan saya coba menerangkan padamu. Bagaimana dapat diketahui bahwa yang saya katakan tahu itu sesungguhnya tidak tahu, dan apa yang saya katakan tidak tahu itu sebetulnya tahu? Mungkin yang dikatakan salah itu benar, sebaliknya yang dikatakan benar itu salah. Seorang manusia yang tidur di tempat basah akan jatuh sakit dan mati. Akan tetapi bagaimana dengan seekor belut? Dan hidup di atas puncak pohon adalah berbahaya dan menegangkan syaraf. Tetapi bagaimana dengan seekor monyet? Di antara manusia, belut dan monyet itu, tempat tinggal siapakah yang lebih benar dan tepat? Manusia makan daging, rusa makan rumput, burung makan ulat, kucing makan tikus. Dari mereka semua itu, selera manakah yang lebih benar dan tepat? Monyet jantan bergaul dengan monyet betina, rusa jantan dengan rusa betina, belut dengan ikan, ada pun manusia pria mengagumi Dewi Mo Ciang dan Dewi Li Ci, padahal bila melihat kedua wanita ini, ikan-ikan akan menyelam bersembunyi, burung-burung terbang ketakutan dan kijang lari ketakutan pula. Lalu siapa dapat mengatakan yang manakah ukuran kecantikan itu? Saya kira, pelajaran tentang kemanusiaan dan keadilan dan lorong-lorong dari benar dan salah demikian kacau balau sehingga tidak mungkin diselami dan diketahui."

"Kalau begitu, Manusia Sempurna juga tidak tahu akan baik dan buruk?"

"Manusia Sempurna adalah makhluk suci. Bahkan andai kata lautan mendidih, dia takkan merasa kepanasan. Apa bila sungai-sungai membeku dia takkan merasa kedinginan. Apa bila gunung-gunung dibelah halilintar dan lautan-lautan diamuk badai, dia takkan gemetar ketakutan. Maka dia seakan mendaki awan-awan di langit, menggembala matahari dan bulan di depannya, dan melewati batas-batas dari keberadaan duniawi. Mati dan hidup tak lagi menguasai dia. Sama sekali dia tidak lagi mempedulikan untung atau rugi."

Mendengar percakapan antara dua suara kecil dan besar itu, Han Lin tersenyum dan dia pun berkata, "Percakapan antara Yeh Cia dan Wang Yi, pelajaran bagi Mahaguru Juang-ce!"

Sebagai jawaban ucapannya itu, terdengar suara tawa yang aneh.

"Heh-heh-heh-ha-ha-ha-hi-hi-hik…!" Seolah yang tertawa ada beberapa orang.

Suara tawa itu seperti menyentakkan Han Lin ke alam sadar. Seperti orang baru bangun tidur dia menggosok dua matanya, membuka mata lalu bangkit duduk. Dia masih berada di depan gundukan makam Liu Ma, sementara cuaca gelap dan hanya remang-remang diterangi bintang di langit.

Han Lin segera teringat segalanya. Dia pun memutar tubuh dan nampak gundukan tanah kuburan ibu angkatnya, Liu Ma. Lantas teringatlah dia akan peristiwa di kelenteng, betapa tiga orang hwesio telah terbunuh, dan ibu angkatnya juga tewas membunuh diri ke dalam jurang ini karena melihat dia terjerumus ke dalam jurang.

Teringat akan ini, Han Lin lalu menjatuhkan diri bertiarap di depan gundukan tanah itu dan menangis lagi, menangisi kematian Liu Ma yang sudah mengorbankan nyawanya karena amat menyayangnya. Kini terkenanglah semua kebaikan hati Liu Ma yang menyayangnya seperti anak sendiri.

Tiba-tiba kembali terdengar suara tawa aneh tadi, disusul kata-kata yang lembut. "Betapa pun indahnya sangkar emas penuh makanan, burung akan tetap berusaha meloloskan diri. Setelah burung terbang bebas, lepas dari sangkarnya, pantaskah ditangisi?"

Han Lin menghentikan tangisnya, merangkak bangun kemudian membalikkan tubuh. Dia tadi tidak mimpi! Suara kecil berlawanan dengan suara besar, suara tawa aneh itu, tanya jawab seperti dua orang memainkan ajaran Juang-ce, semua itu bukan mimpi!

Dan dia pun meiihat seorang kakek berdiri di depannya! Cuaca memang remang-remang, tetapi entah bagaimana, dia dapat melihat wajah itu dengan jelas sekali. Apakah wajah itu mengandung cahaya sehingga demikian jelas? Dia tidak tahu. Wajah seorang kakek yang tinggi tubuhnya sedang namun agak kurus.

Wajah itu nampak putih kemerahan, matanya bagaikan sepasang bintang, rambut, kumis dan jenggotnya laksana benang sutera putih. Pakaiannya dari kain kasar berwarna putih kekuningan, namun bersih. Sepatunya dari kulit kayu, merupakan pelindung telapak kaki saja.

Sukar menaksir usianya. Bisa saja sudah tua sekali lebih dari seratus tahun, akan tetapi wajah dan terutama matanya seperti masih amat muda. Ketuaannya itu diperkuat dengan adanya sebatang tongkat bambu yang dipegangnya, seolah menjadi penopang tubuhnya.

"Heh-heh-heh, engkau mengenal ajaran Mahaguru Juang-ce, bagus memang, akan tetapi alangkah lebih bagusnya jika engkau tidak hafal akan semua ajaran mahaguru yang mana pun juga."

Tentu saja ucapan yang berlawanan ini membuat Han Lin mengerutkan alisnya. Dia telah duduk bersila menghadap kakek itu, seperti kalau dia sedang menghadap mendiang Kong Hwi Hosiang di kelenteng.

"Maafkan saya, locianpwe. Saya kira pendapat locianpwe tadi amat membingungkan dan berlawanan. Locianpwe mengatakan bagus bahwa saya mengenal ajaran Juang-ce, lalu menambahkan akan lebih bagus kalau saya tidak mengenal semua ajaran."

Kembali kakek itu tertawa, kini suara tawanya sangat lembut. “Memang baik sekali kalau mengenal semua ajaran para bijaksana itu dengan membaca kitabnya, tapi lebih baik lagi kalau hanya sekedar mengenal saja untuk menambah pengertian. Namun semua ujar-ujar dan nasehat yang ribuan banyaknya itu tidak ada manfaatnya kalau hahya dihafal saja."

"Maaf, locianpwe. Bukankah ajaran-ajaran itu bagus sekali untuk dijadikan pedoman hidup kita di dunia? Ajaran-ajaran itu dapat menuntun kita melalui jalan kebenaran dalam hidup, membuat kita mengetahui mana yang baik dan mana yang tidak, mana yang benar dan mana yang salah."

"Ha-ha-ha, di situlah letak kesalahannya, anak yang baik. Kalau orang menjalani hidup ini disesuaikan dengan ajaran-ajaran itu, melakukan perbuatan yang sesuai dengan petunjuk ajaran, maka kebaikan yang dilakukan dengan kesadaran bahwa itu merupakan kebaikan bukanlah kebaikan lagi namanya! Perbuatan seperti itu palsu, anakku, karena perbuatan seperti itu hanya merupakan suatu cara untuk mencapai sesuatu, bukan merupakan suatu keadaan yang wajar, yang dengan sendirinya sudah merupakan suatu keadaan sehingga tidak membutuhkan cara untuk mencapainya lagi."

Han Lin menjadi pening tujuh keliling! "Wah, saya tidak mengerti, locianpwe. Apa artinya semua itu? Mohon penjelasan."

"Ini sudah jelas, anak baik. Perbuatan baik yang dilakukan dengan pamrih meraih sesuatu hasil dari perbuatan itu adalah perbuatan palsu, hanya merupakan suatu cara untuk bisa mendapatkan sesuatu. Perbuatan apa pun itu, dinilai baik atau pun buruk, kalau dilakukan karena digerakkan pamrih untuk memperoleh sesuatu hasil, adalah palsu! Munafik, hanya topeng kebaikan untuk mendapat keuntungan, sama seperti harimau bertopeng domba, tidak lebih baik dari pada harimau tanpa topeng. Dan ajaran-ajaran kebaikan itu sering kali menjadi topeng domba bagi harimau-harimau yang berkeliaran."

"Wah, saya menjadi semakin bingung. Bila perbuatan baik menurut ajaran para bijaksana dianggap palsu, lalu yang baik itu bagaimana, locianpwe?" Han Lin mengejar dengan hati penasaran.

Alangkah bedanya pendapat kakek aneh ini dibandingkan ajaran yang pernah dia terima dari Kong Hwi Hosiang. Mendiang gurunya itu selalu mengajarkan bahwa hidup haruslah melalui jalan kebenaran, memupuk kebaikan dan menjauhi perbuatan jahat. Tapi kakek ini mengatakan bahwa perbuatan baik menurut ajaran adalah palsu dan sama saja dengan perbuatan jahat. Bagaimana ini?

"Kebaikan dan kejahatan itu sama saja, hanya penilaian, seperti siang dan malam, kanan dan kiri, benar dan tidak benar dan selanjutnya. Selama kita dikuasai oleh im-yang (positif negatif) ini, maka biduk kehidupan tak akan pernah merasakan ketenangan, dipermainkan ombak ke kanan dan kiri."

"Tetapi apa yang harus kita lakukan dalam kehidupan ini, locianpwe?"

"Lakukan apa saja yang harus kau lakukanl Yang dinamakan kebenaran, kebajikan dan sebagainya itu, sesungguhnya merupakan suatu keadaan batin, tidak dinilai dari kata dan perbuatannya. Selama batin masih dicengkeram oleh nafsu, maka daya-daya rendahlah yang menjadi dasar setiap kata dan perbuatan, karenanya palsu."

"Lalu sikap apa yang harus kita ambil dalam hidup?"

"Lihatlah bulan, bintang, matahari, awan dan seluruh isi alam ini. Mereka semua bergerak, mereka semua bekerja, dan memang demikianlah keharusan dan keadaan mereka. Tidak baik dan tidak buruk, tidak benar dan tidak salah, dan itu adalah karena mereka itu wajar. Bunga mawar berduri dan harum, itulah kewajaran. Bunga anggrek indah dan tidak harum, itulah kewajaran. Wajar itulah indah, wajar itulah kenyataan, wajar itulah To (Jalan, atau Kekuasaan Mutlak). Seyogianya kita menjadi manusia wajar."

"Tapi dari manakah timbulnya rangsangan kejahatan yang membuat manusia melakukan perbuatan kejam dan jahat?"

"Nafsu daya rendahlah yang mendorong manusia melakukan perbuatan yang merugikan sesamanya. Nafsu selalu mendorong, ingin ini, ingin itu, berpamrih demi pemuasan diri, demi kesenangan, karena itu perbuatan yang didorongnya selalu berpamrih. Dan pamrih tetap pamrih, bisa berpakaian bersih dan indah atau berpakaian butut kotor, tetap pamrih dan selama ada pamrih, setiap perbuatan adalah palsu. Sudahlah, Han Lin, kelak engkau akan mengerti sendiri kalau mulai saat ini engkau suka menjadi temanku."

Han Lin terbelalak. "Bagaimana locianpwe dapat mengetahui nama saya?"

"Ha-ha-ha, apa artinya nama? Karena engkau bernama, maka aku mengetahuinya."

"Maksud locianpwe, mulai sekarang saya menjadi murid locianpwe?"

"Bukan murid, melainkan teman, sahabat. Di dalam kehidupan ini tidak ada manusia yang menjadi guru manusia lain mengenai soal kehidupan, karena kita sendiri masing-masing adalah gurunya, sekaligus juga muridnya. Bimbingan utama datang dari dalam diri sendiri. To (Kekuasaan Tuhan) telah berada di dalam diri setiap orang manusia, dan Dialah yang menjadi Pembimbing. Bila engkau ingin mempelajari ilmu jasmaniah yang dikuasai, tentu saja engkau dapat belajar dariku."

Mendengar ini, langsung saja Han Lin menjatuhkan diri berlutut di hadapan kaki kakek itu. "Suhu yang mulia, mulai malam ini teecu (murid) Han Lin akan menaati semua petunjuk suhu!"

Kakek itu mengelus jenggotnya yang putih halus dan tertawa gembira. "Ha-ha-ha, bukan kehendakku engkau menjadi muridku, Han Lin, bukan kehendakku, tapi sudah digariskan dari semula!" Kakek itu menengadah memandang langit, seolah hendak mencari rahasia kejadian itu di antara bintang di langit.

"Suhu, kalau boleh teecu mengetahui, siapakah suhu?"

"Heh-heh-heh, tidak tahukah engkau? Aku juga seorang manusia seperti engkau, hanya bedanya, aku lebih lama berada di dunia ini dibandingkan engkau."

Han Lin tertegun. Jawaban itu memang tentu saja benar, tetapi begitu sederhana, seperti percakapan antara kanak-kanak saja.

"Maksud teecu, suhu. Siapakah nama suhu yang mulia?"

"Hemm, apakah artinya nama? Nama tidak sama dengan yang dinamakan. Sebutan bulan bukanlah bendanya, sebutan Han Lin bukanlah orangnya."

Han Lin telah banyak membaca kitab-kitab kuno, karena itu ucapan ini tidak membuatnya heran. "Teecu mengerti, suhu. Akan tetapi, tanpa adanya nama atau sebutan, tentu tidak ada percakapan, tidak ada hubungan antar manusia. Maksud suhu, sebutan teecu dengan kata ‘suhu’ juga merupakan nama, bukan? Nah, maksud teecu bukan sebutannya, tetapi siapakah nama suhu?"

"Ha-ha-ha, kalau hendak menyebutku, sebut saja Lo-jin (Orang tua), karena memang aku seorang yang sudah tua!" Dan dia pun tertawa-tawa seperti merasa geli mendengar kata-katanya sendiri.

"Ingat, suhu. Nama Lo-jin itu pun dapat menjadi nama, dan Lo-jin bukanlah orangnya!"

Kini guru dan murid itu tertawa-tawa geli, dan sungguh aneh sekali kalau ada orang lain melihatnya. Seorang pemuda remaja dan seorang kakek, di tengah malam penuh bintang, di dasar jurang di depan gundukan tanah kuburan baru, kini tertawa-tawa seperti digelitik perutnya!

"Sudahlah, hayo ikut aku. Pegang ujung tongkatku," kata kakek itu sambil menyodorkan tongkat bambunya.

Han Lin memegang ujung tongkat bambu itu dan kakek itu lalu bergerak melangkah. Dan terjadilah sesuatu yang membuat Han Lin terbelalak dan tengkuknya terasa dingin. Dia merasa seperti dalam mimpi ketika dia setengah tertarik sambil memegang ujung tongkat, mengikuti kakek itu mendaki jurang yang sangat curam, tebing yang berlawanan dengan tebing di mana dia terjatuh.

Menurut nalar, agaknya tidak mungkin mendaki tebing secara itu, apa lagi dalam malam yang remang-remang. Akan tetapi Han Lin merasa seperti seekor cecak saja, atau lebih tepat lagi dia terbetot dan terseret naik oleh tongkat bambu itu.

Dia merasa ngeri dan memejamkan kedua matanya, menurut saja diseret ke atas, kedua kakinya pun asal melangkah saja, akan tetapi dia terus memegangi ujung tongkat dengan pengerahan seluruh tenaganya karena sekali tongkat itu terlepas dari tangannya, tentu dia akan meluncur ke bawah dan tidak akan ada yang mampu menyelamatkannya.

Akhirnya mereka tiba di atas tebing, akan tetapi kakek itu masih terus saja menariknya. Demikian kuat tenaga yang tersalur melalui tongkat bambu itu sehingga Han Lin merasa seolah-olah tubuhnya diterbangkan.

Cuaca kadang gelap kadang terang, akan tetapi mereka meiuncur terus. Han Lin merasa bagai dalam mimpi dan kembali dia memejamkan mata, menyerah saja penuh keyakinan bahwa kakek itu bukan manusia biasa, bahkan mungkin pula bukan manusia! Ataukah kakek itu petugas yang menjemputnya meninggalkan dunia ini? Apakah dia sudah mati?

Kini langit di ufuk timur mulai terbakar oleh cahaya kemerahan. Sinar cerah sang matahari mulai mengusir kegelapan meski mataharinya sendiri beium nampak. Seluruh permukaan bumi agaknya menyambut kemunculan Sang Surya ini dengan penuh kegembiraan.

Bayang-bayang hitam kegelapan mulai pudar, terganti cahaya yang.mulai menghidupkan segala sesuatu. Pohon-pohon dan semua tumbuh-tumbuhan sampai rumput, seolah baru bangkit dari tidur lelap diselimuti kegelapan malam. Burung-burung berkicau riang, ayam hutan berkokok bangga.

Kabut pagi mulai menyingkir perlahan dihembus semilir angin, dihalau sinar matahari pagi. Embun bergantungan pada pucuk daun dan rumput, di bibir bunga-bunga, seolah tak rela melepaskan pegangan terakhir sebelum akhirnya terlepas dan terhempas ke tanah pula. Segala sesuatu nampak segar gemilang.

Han Lin duduk bersila. Baru saja kakek itu menghentikan gerakannya dan melihat kakek itu duduk bersila di atas batu datar halus dia pun ikut duduk di atas rumput kering. Mereka kini berada di puncak sebuah bukit yang sepi sekali, di tengah perbukitan yang amat luas. Dia tidak berani mengganggu karena kakek itu duduk bersila dengan dua mata terpejam dan pernapasannya seperti orang yang sedang tidur.


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner