KISAH SI PEDANG TERBANG : JILID-08


Melihat kakek itu sedang beristirahat, Han Lin tidak berani mengganggu kemudian dia pun memperhatikan kakek aneh itu. Melihat wajah kakek itu, dia lalu teringat pada mendiang Kong Hwi Hosiang yang mempunyai wajah seperti wajah anak kecil. Wajah kakek ini pun segar kemerahan dan tidak terhias keriput walau pun tubuhnya tidak gemuk seperti Kong Hwi Hosiang. Tubuh kakek ini tegap dan kurus. Rambut, kumis dan jenggotnya berwarna putih seperti benang sutera putih.

Karena baru saja nyaris tewas, juga telah terpukul, kemudian semalam suntuk mengikuti kakek itu melakukan perjalanan seperti terbang, Han Lin merasa seluruh tubuhnya sakit-sakit dan lelah sekali, maka dia pun mencontoh kakek di depannya. Ia lalu memejamkan mata, beristirahat.

Ketukan tongkat pada batu membangunkan Han Lin, dan ternyata hari sudah menjelang siang. Matahari sudah naik tinggi dan kakek itu memandang kepadanya dengan senyum aneh. Senyum itu seperti cahaya matahari pagi yang menghidupkan, terasa hangat dan menimbulkan gairah hidup, penuh kepasrahan, kesabaran, kewajaran.

"Suhu!" kata Han Lin dan dia pun cepat mengubah kedudukan kakinya yang tadi bersila kini berlutut.

"Han Lin, duduklah bersila seperti tadi dan sekarang ceritakan segalanya tentang dirimu," kakek yang hanya dikenalnya dengan sebutan Lo-jin (Orang tua) itu berkata dengan suara lembut. Suaranya terdengar bagaikan desir angin bermain-main di antara daun pohon dan ujung rumput.

Han Lin menaati perintah gurunya. Dia kembali duduk bersila, kemudian berkata, "Teecu kira pasti suhu telah mengetahui hal tentang diri teecu. Perlukah teecu menceritakannya lagi sendiri?"

Suara tawa kakek itu mempunyai daya tular yang kuat sehingga Han Lin juga ikut tertawa. Tawa mau pun tangis merupakan suara asli dari semua manusia di dunia ini. Walau pun bahasa antara bangsa berbeda, namun tawa dan tangis semua bangsa tidak ada bedanya karena suara tawa dan tangis itu mengandung seluruh perasaan, sehingga mudah sekali menular kepada orang lain.

Demikian pula tawa kakek itu yang amat wajar, tidak dibuat-buat, tidak pula mengandung sesuatu yang lain, seperti tawa seorang bayi yang mendatangkan rasa gembira di dalam hati setiap orang.yang mendengarnya, maka Han Lin tidak dapat menahan diri untuk tidak ikut tersenyum lebar.

"Ha-ha-ha-he-heh-heh, Han Lin, orang yang mengaku tahu adalah orang yang tidak tahu! Ceritakanlah semuanya sejak engkau kecil sampai sekarang ini."

Tiba-tiba Han Lin menyadari. Kakek ini jelas bukan manusia biasa. Jika tanpa diberi tahu kakek ini sudah mengetahui namanya, tentu telah mengetahui segalanya tentang dirinya. Mengapa masih bertanya lagi dan menginginkan dia bercerita? Tentu untuk mengujinya, menguji kejujurannya!

Maka tanpa ragu-ragu lagi dia pun bercerita tentang dirinya, semenjak dia hidup sebagai seorang ‘pangeran’ kecil, putera mendiang Sia Su Beng dan Yang Kui Bi hingga terjadinya penyerbuan pasukan Tang yang memasuki kota raja.

Betapa kedua orang tuanya ikut bertempur. Betapa dia lalu diungsikan oleh Liu Ma yang kemudian dianggap sebagai ibunya. Betapa dia diangkat menjadi murid Kong Hwi Hosiang di kelenteng dekat puncak Bukit Ayam Emas itu dan tentang munculnya tiga orang datuk sesat bersama seorang pemuda. Juga betapa Kong Hwi Hwi Hosiang, Cun Hwesio dan Kun Hwesio terbunuh oleh para datuk sesat itu, kemudian tentang ibunya yang melempar diri ke dalam jurang menyusul dirinya yang terpukul dan terjungkal ke dalam jurang itu.

"Agaknya Tuhan belum menghendaki teecu mati, suhu, maka teecu berhasil menangkap cabang pohon sehingga tidak sampai terbanting ke dasar jurang. Akan tetapi ibu Liu Ma tewas dan teecu sudah menguburkan jenazahnya di dasar jurang itu."

Kakek itu mengangguk-angguk. "Belum kau ceritakan tentang keadaan tubuhmu. Pukulan yang membuatmu terjungkal ke jurang adalah pukulan yang mengandung hawa beracun, akan tetapi engkau tidak keracunan. Nah, bagaimana hal itu dapat terjadi?"

"Ahh, maafkan teecu, suhu. Teecu sampai lupa," kata Han Lin. Padahal tadi dia sengaja melewatkan bagian itu untuk melihat apakah kakek aneh ini sudah mengetahui keadaan tubuhnya yang telah menjadi kebal terhadap racun itu.

Dengan tersipu karena ternyata kakek itu mengetahui segalanya, dia pun menceritakan dengan jelas akan peristiwa pertemuannya dengan Hek-bin Mo-ong dan Pek-bin Mo-ong yang pertama kalinya, pada saat dia terkena pukulan dari depan dan belakang oleh kedua orang datuk itu, ditambah lagi gigitan ular senduk kepala putih yang membuat tubuhnya dimasuki tiga macam racun sekaligus.

"Menurut keterangan mendiang suhu Kong Hwi Hosiang, akibat tiga racun itu, tubuh teecu menjadi kebal terhadap segala jenis racun." Demikian dia mengakhiri ceritanya dan kakek itu pun mengangguk-angguk senang.

Demikianlah, mulai hari itu juga Han Lin menjadi murid kakek yang hanya dikenal sebagai Lo-jin. Dan ternyata kemudian oleh pemuda remaja ini bahwa kakek itu adalah seorang manusia yang sangat sederhana, juga aneh sekali. Kadang dalam satu hari hanya cukup hidup dengan beberapa helai daun dan seteguk air saja, kadang tidak ada entah ke mana sampai beberapa hari, lalu muncul kembali. Akan tetapi dia menganggap semua itu wajar saja karena memang demikianlah keadaan Lo-jin.

Dia mulai menerima gemblengan dari kakek aneh itu. Namun Lo-jin mengatakan bahwa semua ilmu yang diajarkannya adalah ilmu untuk mempertahankan keselamatan jasmani, dan ilmu-ilmu itu adalah ilmu untuk dipergunakan selagi hidup di dunia ini dan kelak ilmu-ilmu itu akan musnah bersama raga.

Karena itu dia tidak boleh terikat kepada ilmu-ilmu itu, dan untuk dapat membebaskan diri dari segala sesuatu, dia harus mempunyai dasar yang satu, yaitu kewajaran yang berarti penyerahan! Menyerah sebagai dasar dari semua ikhtiar hidup, menyerah secara mutlak kepada Sang Maha Pencipta, seperti halnya bumi, matahari, bulan, bintang dan segala makhluk di alam ini yang tidak dikuasai nafsu daya rendah dan hidup selaras dengan To (Kekuasaan Tuhan)…..

********************

Dara itu berusia delapan belas tahun. Cantik jelita laksana setangkai bunga mawar rimba. Mukanya berbentuk bulat telur dan kulit mukanya halus putih kemerahan.

Wajah yang bentuknya indah itu dihias rambut bagaikan mahkotanya, rambut yang halus lebat dan hitam mengkilat, digelung ke atas, diikat dengan pita sutera kuning dan dihias tusuk sanggul dari batu kemala. Sepasang matanya lebar dan sinarnya tajam.

Hidungnya mancung dengan cuping hidung tipis yang dapat berkembang kempis dengan lucunya. Mulutnya penuh gairah hidup dan selalu tersenyum bersama matanya, senyum yang amat manis, apa lagi kalau lesung pipit di kedua pipinya nampak.

Tubuhnya padat dan ramping, dan di balik kelembutannya sebagai seorang dara remaja, terkandung suatu kekuatan yang hebat, yang dapat terlihat dari lekukan di dagu dan tubuh yang tegak serta dada yang membusung itu. Gerak geriknya lincah, matanya memandang penuh gairah dan kejenakaan.

la berdiri di bawah sebatang pohon, pungggungnya hanya terpisah seperempaht meter saja dari batang pohon dan dia berdiri tegak dengan mata dan mulut tersenyum ke arah wanita yang berdiri dalam jarak sekitar lima puluh kaki. Di atas ubun-ubun kepalanya, di depan sanggulnya, terletak sebutir buah apel merah.

“Mei Li! Kau lepas saja sanggulmu yang tinggi itu agar jangan sampai ada yang terbabat Hui-kiam (pedang terbang)!" kata wanita yang berada di depannya dalam jarak lima puluh kaki itu.

Wanita itu berusia kurang lebih tiga puluh sembilan tahun, walau pun nampak jauh lebih muda. Pakaiannya dari sutera serba hitam, wajahnya juga cantik dan mirip sekali dengan wajah gadis itu, tubuhnya masih padat ramping dengan pinggang kecil dan pinggul besar.

Wanita cantik ini nampak gagah perkasa dan di balik kecantikannya serta kelembutannya sebagai seorang wanita tersembunyi sifat gagah yang mudah dilihat dari sinar matanya yang tajam mencorong. Dia memang bukan sembarang wanita, sebab dia adalah seorang pendekar wanita yang pernah menggegerkan dunia persilatan karena sepak terjangnya yang menggiriskan lawan mengagumkan kawan.

Namanya Can Kim Hong dan dia adalah ibu kandung gadis jelita itu yang bernama Yang Mei Li. Can Kim Hong adalah isteri Yang Cin Han, putera bangsawan tinggi yang pernah menjadi perdana menteri, yaitu mendiang Yang Kok Tiong.

Seperti isterinya, Yang Cin Han juga seorang pendekar yang tangguh karena dia adalah murid Sin-tung Kai-ong (Raja Pengemis Tongkat Sakti), seorang datuk dunia persilatan yang terkenal. Namun isterinya, Can Kim Hong, lebih hebat lagi karena isterinya ini murid Hek-liong (Naga Hitam) Kwan Bhok Cu, seorang pendekar sakti yang aneh, yang sudah merangkai ilmu pedang yang amat hebat, yaitu ilmu pedang Hek-liong Hui-kiam (Pedang Terbang Naga Hitam).

Dapatlah dibayangkan betapa bahagianya Yang Mei Li, gadis berusia delapan belas tahun yang suka belajar ilmu silat itu karena dia digembleng langsung oleh ayah ibunya yang keduanya mempunyai ilmu kepandaian silat yang tinggi. Pada sore hari itu mereka sedang melakukan latihan ilmu silat dan ibunya memberi petunjuk dan contoh cara menggunakan ilmu hui-kiam (pedang terbang).

Mendengar ucapan ibunya, Mei Li lalu melepas sanggulnya dan membiarkan rambutnya yang hitam lebat itu terurai lepas, panjang hingga ke pinggulnya. Kini buah apel itu terletak di atas rambut yang padat menutup ubun-ubun kepalanya.

"Jangan bergoyang!" terdengar nyonya cantik itu berseru, lalu dia menggerakkan tangan kanannya. Sebatang pedang kecil yang berada di tangannya lalu meluncur bagaikan anak panah cepatnya, berubah bentuknya menjadi sinar kilat menyambar ke atas kepala Mei Li.

"Singgg...! Cappp!"

Pedang kecil itu meluncur dan tepat sekali membabat putus buah itu pada tengah-tengah, kemudian pedangnya menancap pada batang pohon. Apel terpotong menjadi dua, bagian atasnya terlempar jatuh dan bagian bawahnya masih berada di atas kepala Mei Li!

Mei Li menggerakkan kepalanya sehingga potongan apel itu terlempar jatuh pula dari atas kepalanya, kemudian dia pun bertepuk tangan memuji.

"Hebat, ibu memang hebat!" serunya gembira.

Can Kim Hong tersenyum dan sepasang pipinya kemerahan. "Aihh, anak nakal, engkau hendak menggoda ibumu? Apa sih hebatnya memotong buah apel itu dengan hui-kiam (pedang terbang)? Aku yakin bahwa engkau pun akan sanggup melakukannya. Aku tadi hanya memberi contoh bagaimana untuk bersikap agar tanganmu mantap dan tidak ragu sedikit pun."

"Aihh, ibu! Mana aku berani menggoda ibu? Biar pun mungkin saja aku dapat melakukan seperti yang ibu lakukan tadi, tetapi biar dipaksa bagaimana pun juga, aku tak akan berani menyambit apel dengan hui-kiam kalau apel itu ditaruh di atas kepala ibu. Kalau meleset sedikit saja ke bawah... hihhh…" Gadis itu memejamkan kedua matanya dan menggerak-gerakkan kedua pundaknya seperti orang yang merasa kengerian.

"Hemmm, karena itulah maka aku tadi sengaja memberi contoh kepadamu, Mei Li. Ilmu menggunakan hui-kiam bukan hanya tergantung pada kemahiran tangan saja, melainkan terutama sekali keteguhan hati. Jika hatimu seteguh baja tentu bidikanmu takkan meleset serambut pun dan jari-jari tanganmu akan mantap dan tidak tergetar sedikit pun juga."

Gadis manis itu menjulurkan lidah, ujung lidah yang merah itu mengintai dari sepasang bibirnya dan dia pun menjawab,

"Aku tahu kalau ibu memiliki ketabahan hati seteguh baja! Ayah juga sering menceritakan kepadaku dan memuji-muji ibu. Mungkin aku yang sudah berlatih dengan tekun memiliki kemahiran itu, akan tetapi keteguhan hati tidak dapat dilatih, ibu. Betapa pun keras hatiku, bagaimana mungkin aku berani membidik apel yang berada di atas kepala ibu? Sekarang tolong ibu lemparkan sebuah apel ke atas, aku akan mencoba dengan jurus Siang-liong Jio-cu (Sepasang Naga Berebut Mestika) dengan sepasang pedangku."

Can Kim Hong tersenyum. Ia mengambil sebuah apel dari dalam keranjang yang memang dipersiapkan untuk latihan, kemudian dia melempar buah itu ke atas.

Dengan gerakan cepat sekali Mei Li sudah mencabut sepasang pedang yang bentuknya indah, merupakan sepasang pedang pendek yang berkilauan saking tajamnya. Pedang-pedang itu diberi tali sutera merah yang cukup panjang, yang digulung dan dibelitkan pada ujung gagang pedang. Sekali gadis itu mengeluarkan bentakan halus dan menggerakkan sepasang pedangnya, maka nampak dua sinar menyambar ke atas menyerang apel tadi dan meluncur dengan menyilang membabat buah apel.

Buah apel itu terpotong menjadi empat oleh sepasang pedang Mei Li, lantas potongannya berjatuhan di atas tanah. Ada pun sepasang pedang itu meluncur kembali ke arah kedua tangan Mei Li ketika ia menarik tali sutera itu. Dan cepat sekali, begitu sepasang pedang telah berada di kedua tangannya, sukar diikuti pandang mata saking cepatnya, sepasang pedang itu telah kembali ke dalam sarungnya, hampir berbareng saatnya dengan jatuhnya empat potong apel itu.

"Cukup baik!" puji ibunya, 'Sekarang coba perlihatkan Siang-hui Kiam-sut (Ilmu Sepasang Pedang Terbang) yang sudah digabungkan dengan Sian-li Kiam-sut (Ilmu Pedang Dewi). Berlatihlah dengan sungguh-sungguh, karena aku akan menyerangmu dengan apel-apel ini, dan aku akan menyerang dengan sungguh-sungguh pula!”

Mei Li segera mencabut kembali sepasang pedangnya dan sekarang dia bersilat dengan sepasang pedang. Gerakannya indah seperti seorang dewi menari-nari dan itulah Sian-li Kiam-sut yang dia pelajari dari ayahnya, akan tetapi kadang kala pedangnya menyambar lepas dari tangan untuk cepat berputar lalu terbang kembali ke tangannya. itulah Siang-hui Kiam-sut. Dengan bantuan ayah dan ibunya, Mei Li berhasil menggabungkan kedua ilmu pedang yang dia pelajari dari ayah ibunya.

Can Kim Hong mengeluarkan bentakan-bentakan nyaring dan ibu ini menyerang puterinya dengan lemparan apel-apel dari dalam keranjang. Sambitan nyonya ini bukanlah sambitan biasa, melainkan sambitan seorang ahli silat tingkat tinggi yang memiliki tenaga sinkang kuat, maka tentu saja buah-buah apel itu menyambar-nyambar seperti peluru meriam!

Tapi sepasang pedang yang digerakkan dengan indahnya itu kini bergerak cepat sehingga lenyaplah bentuk sepasang pedang itu, berubah menjadi dua sinar yang bergulung-gulung membentuk perisai sinar, dan semua buah apel yang menyambar tentu runtuh terbelah oleh sinar pedang yang amat tajam! Dalam waktu beberapa menit saja, puluhan buah apel itu habis terpotong-potong dan berserakan di atas tanah.

Can Kim Hong mengeluarkan suara melengking dan ibu ini pun sekarang menerjang maju dengan sepasang pedangnya sendiri, menyerang Mei Li dengan gerakan cepat. Terjadilah latihan pertandingan yang amat seru dan bila kebetulan ada orang lain menjadi penonton, tentu dia akan merasa tegang dan menyangka bahwa kedua orang wanita itu benar-benar sedang berkelahi mati-matian!

Memang ibu dan anak itu berlatih secara sungguh-sungguh, mengerahkan seluruh tenaga dan kecepatan. Hal ini berani mereka lakukan karena keduanya sudah menguasai benar ilmu sepasang pedang terbang itu.

"Awas pedang!" tiba-tiba Mei Li berseru dan pedangnya yang kiri meluncur cepat ke arah leher ibunya, bagaikan anak panah terlepas dari busurnya.

Can Kim Hong berusaha keras untuk mengalahkan puterinya dalam latihan ini, maka dia pun menggunakan sepasang pedangnya untuk menggunting atau menjepit pedang yang terbang menyerangnya itu dengan kedua pedangnya yang bergerak cepat. Namun begitu pedang kiri itu terjepit di antara sepasang pedang ibunya, Mei Li sudah membentak lagi dan pedang kanannya kini meluncur ke arah kaki ibunya.

Can Kim Hong mengeluarkan seruan kagum lalu tubuhnya mencelat ke atas dan dengan sendirinya jepitan kedua pedangnya terlepas, kemudian sekali tarik, pedang kiri itu sudah melayang kembali kepada pemiliknya. Can Kim Hong melayang turun, lantas menyimpan kembali sepasang pedangnya sambil tersenyum.

"Thian-te Siang-liong (Sepasang Naga Langit Bumi) yang amat bagus dalam seranganmu tadi, Mei Li. Akan tetapi pedang ke dua itu agak terlambat. Kalau pedang kanan itu kau lepaskan satu detik lebih cepat, sebelum pedang kirimu terjepit, tentu akan membuat aku lebih repot."

Dara berusia delapan belas tahun itu memang telah menguasai sepasang pedang terbang dengan amat baiknya. Memang dia memiliki bakat besar dan ditambah ketekunannya dan kecerdikannya, maka dalam usia delapan belas tahun dia malah lebih mahir dibandingkan ibunya!

Hal ini tidaklah terlalu aneh. Selain ayah ibunya yang menggemblengnya sejak dia masih kecil, juga selama dua tahun terakhir ini Mei Li sudah menerima gemblengan dari kakek gurunya, yaitu Hek-liong Kwan Bhok Cu, guru ibunya.

Yang Mei Li merupakan anak tunggal dari suami isteri Yang Cin Han dan Can Kim Hong. Ayah dari Yang Cin Han, yaitu mendiang perdana menteri Yang Kok Tiong, adalah kakak dari mendiang selir Yang Kui Hui yang amat terkenal. Yang Kok Tiong ini terlibat langsung saat terjadi pemberontakan dalam Kerajaan Tang yang dilakukan oleh An Lu Shan. Dalam keributan pemberontakan itu, yang membuat Kaisar Hsuan Tsung terpaksa melarikan diri dan diiringi pula oleh Perdana Menteri Yang Kok Tiong, perdana menteri ini tewas. Juga isterinya tewas membunuh diri ketika kota raja diserbu pemberontak.

Perdana menteri ini meninggalkan tiga orang anak, yaitu Yang Cin Han sebagai anak tertua, kemudian masih ada dua orang adiknya, keduanya wanita, yaitu Yang Kui Lan dan Yang Kui Bi. Yang Kui Bi menikah dengan Sia Su Beng, pemberontak lain yang berhasil membunuh An Lu Shan dan puteranya, kemudian Yang Kui Bi, yaitu ibu kandung Sia Han Lin, gugur ketika pasukan pemerintah Tang merebut kembali kota raja. Sedangkan Yang Kui Lan yang menjadi isteri pendekar Gobi-pai yang bernama Souw Hui San kini tinggal di Wu-han di pantai Yang-ce-kiang.

Walau pun ketiga orang ini merupakan putera puteri mendiang Menteri Yang Kok Tiong, namun yang terlibat langsung dalam perang perebutan mahkota kerajaan hanyalah Yang Kui Bi yang menjadi isteri Sia Su Beng yang telah mengangkat diri sendiri sebagai kaisar baru menggantikan An Lu Shan. Yang Cin Han bersama adiknya, Yang Kui Lan, tak mau melibatkan diri dan ketika pasukan Tang akhirnya berhasil merebut kembali tahta kerajaan dari tangan Sia Su Beng pada tahun 766, kakak beradik ini tidak mencampuri.

Pada saat mendengar bahwa kota raja telah jatuh kembali ke tangan pasukan Tang yang dipimpin oleh Panglima Kok Cu It yang setia dan gagah perkasa, kemudian mendengar pula akan gugurnya Sia Su Beng dan adiknya, Yang Kui Bi, Yang Cin Han mencoba untuk mencari berita tentang adiknya itu di kota raja yang telah diduduki kembali oleh Kaisar Su Tsung.

Dia mendengar bahwa adiknya itu benar telah gugur, demikian pula suami adiknya. Tetapi dia tidak berhasil menemukan keponakannya, Sia Han Lin yang baru berusia lima tahun. Anak itu lenyap tak tentu rimbanya dan dia tidak bisa menemukan jejaknya. Demikianlah sedikit riwayat Yang Cin Han, ayah Yang Mei Li.

Sekarang Kerajaan Tang telah pulih kembali, telah berdiri kembali dengan tegaknya berkat kegagahan Panglima Kok Cu It. Akan tetapi, sejak Kaisar Su Tsung yang menggantikan Kaisar Hsuan Tsung merebut kembali kota raja Tiang-an pada tahun 766, telah beberapa kali terjadi penggantian kaisar.

Sejak dinobatkan untuk menggantikan ayahnya pada tahun 755, Kaisar Su Tsung hanya memerintah sampai tahun 768. Adiknya sendiri yang menjadi penggantinya, yaitu Kaisar Kui Tsung, kemudian memerintah sebagai kaisar mulai tahun 768 sampai 773. Dan baru saja beberapa bulan yang lalu Kaisar Kui Tsung meninggal dunia sehingga tahta kerajaan diserahkan kepada.puteranya, yaitu Kaisar Thai Tsung. Ketika kisah ini terjadi, kaisarnya adalah Kaisar Thai Tsung.

Karena pasukan Tang merampas kembali tahta kerajaan dengan bantuan banyak suku asing dari barat dan utara, maka sesudah kerajaan Tang dapat dibangun kembali, suku-suku bangsa yang tadinya membantu itu menuntut balas jasa. Banyak di antara mereka yang tidak mau kembali ke kampung halaman mereka karena keenakan tinggal di daerah pedalaman Kerajaan Tang.

Berbagai bangsa tinggal bertebaran di wilayah Kerajaan Tang, di antara mereka adalah bangsa Arab yang tadinya merupakan pasukan Arab yang dikirim oleh Kalif Abu Jafar al Mansur pada tahun 756 untuk pembantu Kerajaan Tang menghadapi pemberontakan yang sudah menduduki kota raja Tiang-an. Selain bangsa Arab, ada pula bangsa Nepal, Turki dan banyak suku bangsa lagi. Banyak di antara mereka telah menikah dengan wanita Han kemudian tinggal menetap di pedalaman.

Namun yang menjadi gangguan terbesar bagi Kerajaan Tang yang baru saja menguasai kembali kota raja Tiang-an adalah gerakan dari bangsa Tibet di barat dan disusul gerakan Kerajaan Nan Chao yang berkedudukan di Yunnan, sebelah selatan. Gangguan dari barat dan selatan inilah yang merongrong Kerajaan Tang sepanjang tahun-tahun mendatang.

Yang Cin Han dan keluarganya tinggal di Lok-yang, kota besar yang merupakan ibu kota ke dua setelah Tiang-an. Dia menjadi saudagar rempah-rempah yang berhasil sehingga keadaan keluarganya cukup kaya.

Biar pun dia sendiri adalah orang yang memiliki ilmu silat tinggi, demikian pula isterinya, namun suami isteri ini selalu menjaga agar mereka jangan sampai terlibat dalam urusan dunia kangouw. Juga mereka berpesan kepada Mei Li agar jangan mencari permusuhan. Gadis ini bukan saja digembleng ilmu silat tinggi, tetapi juga sastra dan kesenian lain.

Mei Li memang cantik, kecantikan yang amat menarik seperti biasanya kecantikan wanita yang berdarah campuran. Ibunya, Can Kim Hong, adalah seorang peranakan Khitan, dari ayah seorang Han dan ibu seorang Khitan. Mei Li juga mewarisi kecantikan campuran dari ibunya.

Seperti juga Cin Han, Kim Hong pun sudah yatim piatu. Ayahnya adalah seorang perwira bernama Can Bu, dan belum lama ini meninggal dunia karena terluka dalam pertempuran kemudian menderita sakit sampai berbulan-bulan.

Hek-liong Kwan Bhok Cu, guru Can Kim Hong, pernah berkunjung ke rumah muridnya sekitar tiga tahun yang lalu. Atas permohonan muridnya, juga Yang Cin Han, akhirnya Si Naga Hitam ini mau tinggal di rumah muridnya selama dua tahun dan memberi bimbingan ilmu silat kepada Mei Li sehingga dara ini mendapat kemajuan pesat dalam ilmu pedang terbang.

Akan tetapi Si Naga Hitam yang memang tak ingin terikat oleh apa pun, setelah memberi bimbingan selama dua tahun kepada Mei Li, lantas meninggalkan keluarga itu untuk pergi merantau.

“Nah, sekarang kau lanjutkan sendiri latihanmu. Aku hendak bekerja di dapur, menyiapkan makanan untuk ayahmu yang tentu tidak lama lagi akan pulang,” Can Kim Hong berkata kepada puterinya.

“Aihh… ibu ini. Yang dipentingkan dan diperhatikan selalu ayah saja!” Mei Li mengomel manja.

Ibunya mengerling sambil tersenyum. “Kalau bukan ibu yang memperhatikan ayah, habis siapa lagi?”

“Ibu, aku pun ingin membantu ibu memasak untuk ayah! Ibu sudah mengajarkan ilmu memasak kepadaku, akan tetapi seperti juga ilmu silat, kalau mengerti saja tanpa dilatih, apa artinya? Ilmu memasak pun harus dilatih agar masakannya lezat karena penggunaan bumbu-bumbunya tepat!”

Can Kim Hong hanya tersenyum dan kedua orang wanita itu lalu berlari-lari ke dapur. Tak lama kemudian mereka betul-betul telah menjadi wanita sepenuhnya yang sibuk di dapur mempersiapkan masakan untuk suami dan ayah mereka, tidak lagi nampak kegagahan pada mereka seperti ketika berlatih silat di kebun belakang.

“Engkau memang harus pandai memasak yang lezat, Mei Li. Sebentar lagi, kalau engkau telah menjadi ibu rumah tangga, engkau harus dapat membuat masakan yang lezat untuk suamimu. Di dalam rumah tangga tidak mungkin engkau menyuguhkan pedang terbang kepada suamimu!” Can Kim Hong berkelakar. Akan tetapi sepasang alis yang hitam kecil dan panjang seperti dilukis itu berkerut.

“Aihh… ibu. Aku tidak suka bicara tentang itu!” Mei Li merajuk.

“Heii, kenapa? Bukankah sejak kecil engkau sudah kami tunangkan dengan Souw Kian Bu? Dia semakin gagah dan tampan saja. Tiga tahun yang lalu, ketika dia bersama orang tuanya datang berkunjung, usianya baru enam belas tetapi dia sudah nampak tampan dan gagah perkasa.”

“Sudahlah, ibu. Aku tidak suka bicara tentang itu. Aku sama sekali tidak pernah berpikir tentang perjodohan!” Gadis itu nampak tidak senang.

Can Kim Hong yang bijaksana tidak lagi menyinggung persoalan itu. Agaknya puterinya ini tidak suka bicara tentang Souw Kian Bu. Mungkinkah puterinya tidak menyukai pemuda itu?

Padahal menurut penglihatannya dan penglihatan suaminya, Kian Bu merupakan seorang pemuda yang amat baik. Dia tampan, gagah, pandai membawa diri dan menyenangkan! Sama sekali dia tidak tahu bahwa puterinya itu merasa tidak senang karena sejak kecil telah dipilihkan jodoh, ditunangkan dengan seorang pemuda!

Ketika Yang Cin Han pulang dari berbelanja barang dagangan, kemudian mereka makan bersama, Kim Hong tidak pernah lagi menyinggung urusan pertunangan puterinya. Tetapi pada malam harinya, ketika dia rebah berdampingan dengan suaminya, dia lalu bercerita kepada suaminya tentang sikap Mei Li yang nampaknya tidak senang bicara tentang pertunangan itu.

“Engkau bersabarlah, Hong-moi. Anak kita itu baru saja dewasa dan agaknya dia belum memikirkan tentang perjodohan,” kata Cin Han.

“Belum dewasa? Usianya sudah delapan belas!” bantah Kim Hong.

“Sudahlah, kenapa sih engkau merasa gelisah? Bagiku, aku sudah merasa cukup puas dan bangga melihat betapa puteri kita, anak tunggal kita, telah menguasai ilmu yang bisa dia pergunakan untuk melindungi diri sendiri.”

“Memang, dia maju sekali. Akan tetapi…”

"Sudahlah, jangan merisaukan yang bukan-bukan," kata Yang Cin Han dan dia merangkul isterinya dengan penuh perasaan sayang. Suasana di dalam kamar itu menjadi sunyi…..

********************

Di kota Wu-han, Souw Hui San dan isterinya, Yang Kui Lan, berdagang kain dan memiliki sebuah toko yang cukup besar. Mereka hidup serba kecukupan dan tenang, tidak pernah suami isteri pendekar ini menonjolkan diri sebagai jagoan. Biar pun demikian, diam-diam mereka berdua menggembleng anak tunggal mereka, yaitu Souw Kian Bu yang kini telah berusia sembilan belas tahun.

Souw Hui San sudah berusia empat puluh lima tahun. Dia seorang murid Gobi-pai yang terpandai, seorang yang sejak muda sudah yatim piatu dan bertualang di dunia persilatan sebagai seorang pendekar yang lincah jenaka dan gembira, namun cerdik dan lihai sekali.

Wajahnya cukup tampan dengan bentuk bulat, matanya membayangkan kecerdikan dan mulutnya membayangkan keramahan dengan senyum yang tampaknya penuh pengertian. Tubuhnya sedang dan kekar.

Sebagai seorang ayah, dia menurunkan semua ilmu silat yang dikuasainya kepada Souw Kian Bu, di samping mengharuskan puteranya mempelajari kesusasteraan dari seorang guru sastra yang sengaja dia bayar untuk mendidik puteranya.

Isterinya, Yang Kui Lan, juga mengajarkan ilmu-ilmunya yang dia dapatkan dari Kong Hwi Hosiang. Yang Kui Lan berusia tiga puluh sembilan tahun, akan tetapi nampak jauh lebih muda. Wanita ini memang cantik jelita, kecantikan yang lembut dan agung. Ia mirip sekali dengan bibinya yang terkenal, mendiang selir kaisar yang bernama Yang Kui Hui.

Setitik tahi lalat pada dagu kirinya menambah kemanisan wanita yang telah separuh baya ini. Dia merupakan isteri yang cocok sekali bagi Souw Hui San. Kalau suaminya seorang yang lincah jenaka dan suka bergurau, sang isteri pendiam dan agung sehingga keduanya dapat saling mengisi dan melengkapi.

Seperti juga kakaknya, Yang Cin Han, Kui Lan bersama suaminya juga merasa gelisah sekali ketika mendengar tentang gugurnya adiknya, Yang Kui Bi. Ia pun berusaha mencari keponakannya, putera adiknya yang bernama Sia Han Lin itu, akan tetapi tidak berhasil menemukan jejak anak yang hilang dalam keributan pada saat kota raja diserbu pasukan Tang.

Atas persetujuan kedua pihak, Souw Hui San dan Yang Kui Lan mengikat tali perjodohan putera mereka dengan puteri kakaknya. Ketika dua pasang suami isteri ini mengikat tali perjodohan anak mereka, Kian Bu berusia dua tahun dan Mei Li berusia satu tahun.

Sedikitnya setahun sekali, kedua keluarga itu saling datang berkunjung sehingga Kian Bu dan Mei Li mulai berkenalan dan bersahabat karena setiap kali datang berkunjung, tentu keluarga yang berkunjung itu akan bermalam sampai seminggu lamanya. Ketika mereka berusia lima enam tahunan, mereka diperkenalkan sebagai saudara misan, tetapi setelah mereka menginjak usia belasan tahun, barulah orang tua mereka memberi tahu bahwa keduanya sudah saling dijodohkan.

Di luar pengetahuan kedua orang tua masing-masing, ketika tiga tahun yang lalu Kian Bu bersama orang tuanya datang berkunjung, diam-diam Kian Bu dan Mei Li mengadakan pertemuan empat mata. Sambil berbisik-bisik mereka berdua menyatakan ketidak puasan hati mereka bahwa mereka itu sejak kecil sudah saling dijodohkan.

Keduanya memiliki perasaan yang sama, yaitu bahwa mereka saling menyayang sebagai kakak dan adik misan. Dan mereka pun keduanya merasa tidak bebas dan terikat oleh perjodohan yang dipaksakan di luar kehendak mereka itu. Dan sejak tiga tahun yang lalu itu, keduanya selalu menolak kalau diajak berkunjung. Baik orang tua Kian Bu mau pun orang tua Mei Li tidak memaksa dan mengira bahwa keduanya sudah mulai dewasa dan agaknya mulai merasa malu untuk berkunjung ke rumah tunangan mereka!.

Souw Hui San dan isterinya, Yang Kui Lan, sudah mendengar bahwa berkat bimbingan langsung dari kakek gurunya, yaitu Si Naga Hitam, kini Mei Li sudah mendapat kemajuan pesat dalam ilmu silat. Karena itu suami isteri ini berusaha keras untuk menggembleng putera mereka agar bisa mengimbangi tingkat kepandaian Mei Li. Sebagai seorang calon suami, sebaiknya kalau tingkat kepandaiannya tidak tertinggal jauh oleh calon isterinya.

Karena itu selama tiga tahun ini mereka mewariskan semua ilmu mereka kepada Kian Bu, bahkan menggabungkan iImu silat Gobi-pai dengan ilmu silat yang dikuasai Yang Kui Lan yang bersumber dari aliran Siauw-limpai.

Pada hari itu, pagi-pagi sekali, sesudah mereka mengamati putera mereka berlatih silat pedang, Souw Hui San dan Yang Kui Lan mengajak Kian Bu untuk bicara di dalam. Toko mereka belum dibuka karena selain hari masih terlampau pagi, juga dua orang pembantu penjaga toko mereka belum datang.

"Kian Bu, bersiap-siaplah engkau. Seminggu lagi kita bertiga akan pergi berkunjung ke Lok-yang," kata Souw Hui San.

Souw Kian Bu mengangkat muka memandang ayahnya, kemudian ibunya. Namun wajah ayah dan ibunya itu tidak berbeda, keduanya memandang dengan sinar mata tajam dan sikap mereka amat meyakinkan, tanda bahwa mereka berdua serius. Kian Bu pura-pura bersikap tenang dan biasa.....


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner