KISAH SI PEDANG TERBANG : JILID-09


"Kalau ayah dan ibu merasa rindu kepada keluarga pek-hu (uwa) Yang Cin Han, silakan ayah dan ibu yang pergi berkunjung ke Lok-yang. Aku akan tinggal di rumah saja sambil mengurus toko."

"Tidak bisa, Kian Bu," kata Yang Kui Lan dengan suara lembut. "Sekali ini engkau harus ikut karena ada urusan yang amat penting."

Pemuda itu memandang ibunya. "Urusan amat penting apakah, ibu?"

"Kita harus memenuhi janji, Kian Bu," kata pula ibunya.

"Janji? Aku tidak merasa berjanji kepada siapa pun, ibu."

"Kian Bu, seminggu lagi Yang Mei Li tepat berusia delapan belas tahun. Tibalah saatnya bagi kita untuk memenuhi janji, yaitu membicarakan dan menentukan hari pernikahanmu dengan Mei Li. Karena yang akan dibicarakan mengenai pernikahanmu, maka tentu saja engkau harus ikut," kata ayahnya.

Sejenak Kian Bu mengangkat muka memandang ayahnya. Dua pasang mata yang sama tajamnya beradu pandang, akan tetapi Kian Bu segera menundukkan muka, tidak ingin ayahnya meiihat perlawanan dalam sinar matanya.

Agaknya Yang Kui Lan dapat merasakan isi hati puteranya, maka dia pun berkata dengan suara menghibur dan penuh kasih sayang.

"Kian Bu, ingatlah bahwa sejak engkau berusia dua tahun, engkau telah kami tunangkan dengan Mei Li yang saat itu berusia satu tahun. Sekarang dia telah berusia delapan belas tahun dan engkau sembilan belas tahun, sudah tiba waktunya memenuhi janji kita kepada pekhu-mu. Dan engkau sendiri melihat bahwa pilihan kami tak keliru. Mei Li seorang dara yang cantik jelita dan gagah perkasa, sungguh cocok bila menjadi isterimu. Kiranya akan sulit ditemukan seorang gadis yang lebih sepadan untuk menjadi jodohmu, Kian Bu!"

Kian Bu menghela napas panjang. Dia memandang bergantian kepada ayah dan ibunya, kemudian dia memberanikan diri bertanya, "Ayah dan ibu, dahulu tentu ayah dan ibu juga pernah muda seperti aku, bukan?"

Ayah dan ibunya menjawab berbareng. "Tentu saja!".dan ayahnya menambahkan sambil tertawa.

"Bukan hanya pernah muda seusiamu, Kian Bu, juga aku pernah menjadi bayi, ha-ha-ha!"

"Bukan begitu maksudku, ayah. Akan tetapi apakah ayah dan ibu dahulu juga ehh, sudah dijodohkan sejak masih kecil?"

Suami isteri itu terkejut kemudian saling pandang, tidak menyangka putera mereka akan bertanya demikian. Keduanya menggeleng tanpa menjawab.

"Atau apakah dahulu ibu adalah pilihan kakek dan nenek Yang, dan ayah adalah pilihan kakek dan nenek Souw?" pemuda itu mengejar, dan sekarang mengertilah ayah dan ibu itu ke mana arah pertanyaan Kian Bu.

"Kian Bu, kami mengerti apa yang kau pikirkan dengan pertanyaan-pertanyaanmu tadi," kata Souw Hui San, kini wajahnya yang biasanya periang itu nampak serius. "Akan tetapi, keadaanku dengan keadaanmu sungguh jauh berbeda. Ibumu dan aku memang berjodoh karena pilihan sendiri, akan tetapi ketika kami saling berjumpa dan saling jatuh cinta, kami berdua adalah yatim piatu."

"Kian Bu, kami dan pekhu-mu Yang Cin Han bersama isterinya menjodohkan engkau dan Mei Li dengan maksud yang baik sekali. Kami tidak memaksamu, akan tetapi, bukankah pilihan kami itu sangat tepat? Apakah apakah engkau hendak mengatakan bahwa engkau sudah jatuh cinta kepada seorang gadis lain?" Kini suami isteri itu menatap.wajah putera mereka dengan pandang mata penuh selidik.

"Tidak, ibu. Hanya aku merasa... ehh, ganjil dan lucu kalau memikirkan bahwa aku harus berjodoh dengan adik Mei Li. Aku selalu merasa bahwa ia seperti adikku sendiri sehingga janggallah kalau membayangkan dia menjadi jodohku."

Pada saat itu pembantu toko datang sambil melaporkan bahwa di luar ada seorang tamu ingin bertemu dengan tuan rumah dan katanya tamu itu datang dari Lok-yang. Mendengar ini Souw Hui San segera keluar, diikuti isterinya yang ingin sekali tahu berita apa yang dibawa utusan dari Lok-yang itu, karena sudah pasti berita itu datang dari kakaknya.

Dugaannya benar. Orang itu adalah utusan dari Yang Cin Han yang mengantarkan surat. Setelah memberi upah tambahan kepada utusan itu, Souw Hui San dan isterinya segera membawa surat itu ke dalam. Utusan tadi mengatakan bahwa pengirim surat tidak minta balasan, maka dia lalu pergi lagi tanpa menanti jawaban.

Dan setelah mereka membaca isi surat, ternyata memang tidak diperlukan balasan. Surat itu menyatakan bahwa dengan minta maaf keluarga di Lok-yang itu minta agar ketentuan hari pernikahan diundur antara satu sampai dua tahun! Alasan yang dikemukakan Yang Cin Han mengenai pengunduran itu adalah karena Mei Li berkeras ingin pergi merantau mencari pengalaman sebelum menikah, dan bahwa mereka tidak bisa menahan keinginan hati puteri mereka itu.

Suami isteri itu saling pandang dan mereka berdua dapat memaklumi. Mei Li adalah puteri suami isteri pendekar, maka wajar saja kalau timbul hasrat ingin merantau untuk mencari pengalaman. Ketika Kian Bu diberi tahu akan pengunduran itu, wajahnya berseri dan dia tidak menyembunyikan kegembiraannya.

"Ha-ha-ha, sudah kuduga Li-moi akan melakukan hal itu!" katanya gembira.

"Ehhh? Bagaimana engkau dapat menduga?" tanya ibunya.

"Kian Bu, apa yang terjadi dengan kalian?" tanya pula ayahnya.

Kian Bu masih tersenyum. "Tidak ada apa-apa, ayah. Hanya aku dapat menduga bahwa dia pun tentu tidak suka dengan ikatan jodoh yang sudah ditentukan sejak kecil itu. Kukira perasaan kami tidak jauh berbeda, dan aku pun ingin pergi mencari pengalaman."

"Apa? Hendak ke mana engkau?" tanya ayahnya.

Kian Bu tersenyum memandang ayahnya. "Dari ayah dan dari ibu aku sering mendengar betapa ketika muda dulu, baik ayah mau pun ibu banyak melakukan petualangan di dunia kangouw. Apakah sekarang ayah dan ibu akan merasa heran kalau aku pun ingin mencari pengalaman dan meluaskan pandangan dengan merantau barang satu dua tahun? Aku ingin sekali mencari jejak kakak Sia Han Lin, puteri bibi Kui Bi yang hilang lenyap tanpa meninggalkan jejak itu. Juga aku ingin mencari dan bertemu dengan sukong (kakek guru) Kong Hwi Hosiang, dan berkunjung ke Gobi-pai, bertemu dengan para suhu di Gobi-pai."

Souw Hui San dan Yang Kui Lan tak mampu mencegah putera mereka yang hendak pergi merantau. Mereka hanya dapat memberi banyak nasehat kepada putera mereka supaya berhati-hati dan tidak menanam bibit permusuhan di dunia kangouw.

Dua hari kemudian berangkatlah pemuda yang kini nampak bergembira itu, meninggalkan Wu-han sambil membawa buntalan pakaian yang digendongnya di punggung, membawa sebatang pedang dan dengan wajah berseri-seri dia pergi menuju ke Tiang-an, kota raja di mana dia ingin mencari jejak kakak misannya, yaitu Sia Han Lin, putera mendiang bibinya, Yang Kui Bi…..

********************

Apa yang terjadi dengan Mei Li dan mengapa pula gadis itu tiba-tiba saja pergi merantau seperti yang diceritakan Yang Cin Han dalam suratnya kepada Souw Hui San dan Yang Kui Lan?

Seperti juga yang terjadi dengan Kian Bu, ketika Mei Li mendengar dari ayah dan ibunya bahwa waktu yang dijanjikan oleh dua keluarga itu telah tiba, yaitu untuk menentukan hari pernikahan, Mei Li langsung mengerutkan alisnya kemudian membantah dengan keras.

"Tidak, ayah dan ibu. Aku belum ingin menikah!" katanya memprotes.

"Tetapi urusan ini telah ditentukan dan telah dijanjikan. Dalam waktu sebulan ini keluarga Souw akan datang dan kita semua akan membicarakan penentuan hari pernikahan," kata ibunya.

"Benar, Mei Li, janji haruslah ditepati, kalau tidak, bagaimana kita akan dapat menghadapi keluarga bibimu itu?" sambung ayahnya.

"Tidak, ayah. Batalkan saja...!" Mei Li hampir menangis, namun ditahannya karena sejak kecil gadis ini memang digembleng agar menjadi seorang pendekar wanita yang berwatak gagah dan tidak cengeng.

"Batalkan? Sepihak? Tidak mungkin!"

"Kalau begitu tangguhkan saja setahun dua tahun. Aku ingin pergi merantau, ayah, aku belum ingin menikah."

"Mei Li, jangan engkau membuat kacau urusan dan menyusahkan ayah ibumu!" Can Kim Hong menegur puterinya.

"Ibu, apakah dulu ibu juga dipaksa menikah dengan ayah?" Mei Li bertanya dengan suara lantang. "Ayah dan ibu bersusah payah mengajarkan ilmu silat kepadaku, dan sejak kecil aku rajin berlatih setiap hari. Bahkan sukong juga sudah ikut bersusah-payah mengajarku selama dua tahun. Bila semua itu tidak boleh kupergunakan, maka semua itu akan lenyap terbakar api dapur di mana aku harus melayani suami. Tidak, ibu, urusan perjodohan itu harus ditangguhkan barang setahun dua tahun. Aku ingin merantau, ingin berkunjung ke Tiang-an, aku ingin mencari sukong!"

Demikianlah, terpaksa Yang Cin Han dan Can Kim Hong mengalah kemudian memberi ijin kepada puteri mereka untuk mencari pengalaman di dunia kangouw. Bagaimana pun juga puterinya itu tidak perlu dikhawatirkan lagi karena telah memiliki tingkat kepandaian yang bahkan lebih lihai dibandingkan mereka. Dan mereka lalu mengirim surat kepada keluarga Souw Hui San untuk minta agar urusan pernikahan itu ditangguhkan satu atau dua tahun.

Mei Li berangkat meninggalkan Lok-yang menunggang seekor kuda putih yang baik. Kuda pilihan yang tinggi dan kuat, tentu saja berharga mahal, akan tetapi ayah ibunya berkeras agar puterinya melakukan perjalanan dengan berkuda. Memang sejak kecil Mei Li sudah berlatih menunggang kuda sehingga dia kuat berkuda sampai berjam-jam lamanya.

Demikianlah, pada suatu pagi yang cerah, setelah berpamit dan mohon doa restu kepada ayah ibunya, dara itu lalu menunggang kuda putihnya keluar dari pintu gerbang barat kota Lok-yang. Sebuah buntalan kain kuning berada di punggungnya dan di bawah buntalan itu nampak tergantung sepasang pedangnya yang gagangnya diberi tali sutera panjang.

Di pinggangnya kanan kiri masih tergantung pula dua batang pedang pendek. Tidak lupa dia membawa bekal uang perak dan emas dalam buntalan pakaiannya, untuk bekal dalam perjalanan. Tujuan pertama dari perjalanannya itu adalah ke kota raja Tiang-an. Dia belum pernah pergi ke kota raja itu.

Pada waktu ayahnya pergi ke kota raja untuk mencari putera bibinya yang tewas dalam pertempuran, dia baru berusia tiga tahun dan ditinggal di rumah bersama ibunya. Dia telah banyak mendengar cerita ayah ibunya tentang kota raja Tiang-an dan tentang pergolakan yang terjadi selama ini, dan dia tahu pula bahwa kakak misannya, putera bibinya Yang Kui Bi telah lenyap dari kota raja ketika terjadi perang. Nama kakak.misannya itu Sia Han Lin, akan tetapi belum pernah dia bertemu dengannya.

Wajah dara perkasa itu nampak berseri. Rambutnya yang hitam halus dan panjang, yang disanggul tinggi dan dihias dengan tusuk sanggul dari perak dan hiasan merak dari batu kemala, nampak agak kusut karena hembusan angin yang bermain-main dengan rambut hitam halus itu.

Matanya yang lebar, yang jelas membayangkan bahwa dia seorang gadis peranakan yang masih mempunyai darah Khitan yang mengalir dalam tubuhnya, mata yang indah dan jeli itu kini berbinar-binar, penuh kegembiraan ketika memandang ke depan dan kanan kiri di sepanjang jalan. Mulutnya yang mungil itu pun selalu terhias senyum.

Hati Mei Li memang mengalami kebahagiaan luar biasa yang belum pernah dia rasakan. Ada ketegangan yang menggairahkan, ada semangat baru dalam kehidupannya, merasa bebas merdeka seperti seekor burung rajawali melayang-layang di angkasa.

Perasaan seperti yang dialami Mei Li akan terasa oleh siapa saja yang dalam kehidupan sehari-hari selalu disibukkan oleh pekerjaan, keramaian, kebisingan dan berbagai macam masalah kehidupan dalam masyarakat yang tinggal di kota besar.

Kehidupan dalam kota selalu berkisar pada soal-soal duniawi, mengejar uang, harga diri, kehormatan dan kesenangan jasmani, mencari jalan pemuasan nafsu, persaingan dalam segala bidang. Semua itu masih ditambah oleh banyaknya manusia yang berdesakan di kota besar, segala macam kotoran sampah, udara yang tidak murni lagi, membuat dada rasanya tidak longgar untuk bernapas, pikiran pun tiada hentinya mengalami guncangan dan tantangan, dan kesehatan pun mengalami kemunduran dan gangguan.

Oleh karena itu, apa bila mempunyai kesempatan, sebaiknya penghuni kota yang selalu sibuk itu dapat berada di luar kota, di tempat terbuka yang jauh dari perumahan, jauh dari keramaian manusia. Dia akan dapat merasakan seperti yang dialami Mei Li pada saat dia menjalankan kudanya perlahan-lahan itu.

Kebesaran, keagungan dan keindahan alam hanya bisa dirasakan dan dinikmati apa bila kita berada di daerah pegunungan, hutan-hutan atau di pantai yang sepi dari manusia dan belum dikotori oleh ulah manusia yang hanya mendatangkan kerusakan dan noda pada lingkungan. Kalau kita berada seorang diri di dataran tinggi yang jauh dari manusia lain, jauh dari pemukiman manusia, menghirup udara segar yang mengalir melimpah ke dalam dada kita, akan terasa sesuatu yang sukar digambarkan.

Dalam keadaan seperti itu, untuk beberapa saat lamanya akan sadarlah kita bahwa ada sesuatu dalam diri kita yang rindu akan segala ini, yang bukan dari dunia ramai, bukan kesenangan jasmani, bukan pemuasan nafsu, bukan pengejaran cita-cita. Kita rindu dan haus akan kedamaian alami, rindu pada Sumber Segala Sumber, dari mana kita datang dan ke mana kita kelak pergi.

Manusia dan alam tidak terpisahkan karena tercipta oleh Tangan Yang Satu, terbimbing oleh Tangan Yang Satu, akan tetapi sungguh sayang kita lebih terseret oleh kesenangan duniawi, pemuasan nafsu badani yang kita perebutkan, bila perlu dengan saling hantam, padahal yang kita dapatkan hanyalah kesenangan hampa yang hanya sementara, lewat dengan begitu saja seperti angin lalu untuk memberi giliran kepada saudara kembarnya, yaitu kesusahan, kedukaan dan kekecewaan.


Mei Li tersadar dari lamunannya ketika kudanya meringkik. Kudanya memang kuda yang terlatih dan baik, dan kalau kuda itu meringkik, itu tandanya bahwa kudanya merasakan, melihat atau mendengar sesuatu yang asing dan tidak wajar. Apakah ada binatang buas? Harimau? Mei Li tidak merasa gentar dan sekarang dia pun sudah siap siaga kalau-kalau di tempat itu muncul bahaya.

Ternyata yang muncul dari dalam hutan di depan adalah serombongan orang. Ada lima belas orang laki-laki yang keadaannya amat menyedihkan. Mereka menggotong tiga buah mayat dan lima orang yang agaknya terluka parah. Keadaan lima belas orang itu sendiri juga tidak utuh, banyak di antara mereka yang terluka walau pun tidak seberat luka lima orang itu.

Melihat bahwa belasan orang pria itu kelihatan kuat, bahkan mereka itu membawa senjata pedang atau golok yang tergantung di pinggang, akan tetapi kini nampak ketakutan, tentu saja Mei Li merasa heran sekali. Dia sudah meloncat turun dari atas kudanya kemudian menghadang di tengah jalan.

Sementara itu, ketika rombongan itu melihat seorang gadis muda cantik jelita menuntun seekor kuda putih besar kini menghadang di tengah jalan, mereka nampak terkejut sekali kemudian seorang di antara mereka, seorang laki-laki tinggi besar berusia kurang lebih empat puluh lima tahun, mendahului rombongan itu menghampiri Mei Li.

"Apakah nona hendak melakukan perjalanan melalui hutan itu?" tanyanya sambil menatap Mei Li penuh perhatian.

Sebenarnya Mei Li yang tertarik melihat keadaan mereka dan ingin mengetahui apa yang telah terjadi. Akan tetapi karena didahului orang, dia pun mengangguk. "Benar, paman."

"Jangan, nona! Sebaiknya nona cepat menunggang kuda itu dan segera meninggalkan tempat ini, kembali ke sana!" Dia menuding ke arah dari mana Mei Li datang.

"Kenapa, paman? Dan kenapa pula paman serombongan seperti orang yang habis kalah perang? Ada pula yang tewas dan luka-luka? Apa yang telah terjadi?" kini Mei Li bertanya sementara rombongan itu telah berada di depannya.

"Sudahlah, harap jangan banyak bertanya, nona. Selagi masih ada kesempatan, pergilah cepat. Kalau mereka melihat nona membawa kuda sebagus ini, tentu mereka tidak akan mau melepaskanmu, apa lagi nona masih muda dan cantik jelita. Percayalah kepadaku, nona, cepat pergilah!" Orang tinggi besar itu mendesak.

Sikap orang tinggi besar ini saja sudah membuat Mei Li semakin tertarik. Bagaimana pun juga orang yang belum dikenalnya ini sudah bersikap dan berniat baik kepadanya, sudah memperingatkan dia akan adanya bahaya dan orang itu tidak ingin melihat dia tertimpa bencana.

Sikap ini membuat dia semakin penasaran. Orang-orang ini jelas bukan penjahat, bahkan agaknya sebaliknya, menjadi korban kejahatan, karena itu harus ditolongnya!

"Terima kasih atas peringatan dan nasehatmu, paman. Tetapi aku tidak akan melarikan diri, justru aku ingin sekali mengetahui, apa yang telah terjadi dengan rombongan paman. Kalau terdapat bahaya di depan sana, aku tidak takut!" katanya gagah.

Orang tinggi besar itu mengerutkan alisnya. "Nona, engkau masih sangat muda, mungkin pernah belajar sedikit ilmu silat, akan tetapi tidak baik kalau takabur. Di hutan itu terdapat gerombolan iblis yang amat jahat dan lihai!"

Akan tetapi dara jelita itu tetap tenang, bahkan tersenyum.

"Maksud paman tenlu gerombolan perampok? Hemm, aku tidak takut, bahkan aku harus membasmi mereka kalau mereka itu menjadi pengganggu orang-orang yang berlalu lalang di daerah ini."

Mendengar ucapan lantang itu, si tinggi besar serta beberapa orang kawannya tersenyum getir, agaknya merasa geli, seperti mendengar seekor ayam betina muda berkukuruyuk seperti lagak seekor jago!

"Hemm, ketahuilah, nona muda yang bernyali naga! Aku dikenal sebagai Si Golok Setan, kepala Pek-houw Piauw-kiok (Perusahaan Pengawal Harimau Putih) yang sudah terkenal di seluruh daerah Lok-yang! Tetapi engkau lihatlah sendiri. Kami para pengawal Pek-houw Piauw-kiok sebanyak dua puluh tiga orang, saat mengawal sepasang pengantin hartawan melewati hutan itu dan kami dihadang gerombolan itu, kau lihatlah sendiri akibatnya. Tiga orang kawan kami tewas, lima orang terluka berat, sepasang mempelai ditawan mereka dan semua barang berharga dirampas pula! Nah, apakah engkau akan begitu gila untuk melanjutkan perjalanan melewati hutan itu? Agaknya gerombolan itu baru saja mendiami hutan itu karena biasanya di sana aman. Pergilah, nona, dan bersyukurlah bahwa nona telah bertemu dengan kami sehingga tidak menjadi korban."

Mei Li memperlebar senyumnya sehingga wajahnya kelihatan cantik manis bukan main, membuat rombongan pria itu tertegun dan terpesona.

"Kalian yang sepatutnya bersyukur, paman, karena bertemu dengan aku. Aku yang akan membantu kalian untuk mendapatkan kembali barang-barang yang mereka rampok, juga menolong sepasang mempelai itu. Ceritakan bagaimana keadaan kawanan perampok itu dan di mana mereka berada."

"Tetapi kami merasa ngeri, tidak ingin melihat nona yang begini muda dan jelita terjatuh ke tangan mereka..." Si tinggi besar berkata ragu, juga kawan-kawannya agaknya tidak setuju.

Mereka itu tentu sudah merasa takut bukan main terhadap gerombolan perampok itu, pikir Mei Li. Semangat mereka harus dibangkitkan. Dia memandang ke kiri di mana terdapat sebuah pohon setinggi hampir tiga meter dengan daun yang lebat.

"Agaknya kalian belum percaya kepadaku, ya? Nah, lihatlah baik-baik!"

Mei Li menggerakkan kedua tangan ke arah punggungnya, dan begitu cepat gerakannya mencabut sepasang pedangnya sehingga semua anggota piauw-kiok itu tidak melihat dia mencabut pedang dan tiba-tiba saja pandang mata mereka menjadi silau ketika nampak dua sinar terang bergulung-gulung dan terbang mengitari pohon itu seperti dua ekor naga yang sedang berkejaran.

Mereka melihat daun-daun dan ranting pohon jatuh berhamburan, terbabat dua gulungan sinar dan ketika dua sinar itu membalik ke arah Mei Li, gadis itu sudah cepat menangkap kembali sepasang pedangnya kemudian memasukkannya ke dalam sarung pedang. Dan yang membuat mereka menahan napas adalah ketika melihat betapa pohon itu kini sudah menjadi rata pada bagian atasnya, seperti kepala seorang anak-anak yang tadi ditumbuhi banyak rambut dan sekarang dicukur hampir gundul. Di sekitar pohon nampak daun dan ranting berserakan.

"Pedang terbang?" Si tinggi besar dan para kawannya berseru heran, takjub dan kagum.

Belum pernah mereka menyaksikan kepandaian sehebat itu. Kalau orang bersilat pedang, tentu saja mereka sudah terlampau sering melihatnya, bahkan mereka sendiri ahli bersilat pedang atau golok. Akan tetapi tadi mereka melihat Mei Li tetap berdiri di dekat kudanya, hanya menggerak-gerakkan dua tangannya ke arah pohon kemudian sepasang pedang itu berubah menjadi dua sinar bergulung-gulung yang seolah bergerak sendiri, beterbangan menggunduli pohon itu.

Sesudah hening sejenak karena mereka tertegun, kemudian meledaklah kegembiraan dan kekaguman mereka. Terdengar mereka bertepuk tangan memuji, kemudian si tinggi besar melangkah maju menghadapi Mei Li dan memberi hormat dengan membungkuk dalam.

"Mohon maaf kepada lihiap (Pendekar wanita) bahwa kami seperti buta, tidak melihat ada Gunung Thai-san menjulang di depan mata! Lihiap, saya Couw Sam menyatakan takluk dan mengharapkan bantuan lihiap supaya kami bisa menyelamatkan sepasang pengantin itu berikut barang-barang mereka yang kami kawal."

Mei Li tersenyum. "Ceritakan dulu keadaan mereka dan apa yang telah terjadi," katanya tenang.

"Kami Pek-houw Piauw-kiok mengawal sepasang mempelai berikut barang-barang mereka dari Lok-yang menuju ke Kwi-yang di barat. Ketika kami melewati hutan di lereng depan itu, kami dihadang oleh dua belas orang yang berpakaian serba hitam. Mereka mengaku sebagai gerombolan Hek-i Kwi-pang (Perkumpulan Iblis Berpakaian Hitam) yang hendak merampok seluruh barang dan menyandera kedua mempelai. Tentu saja kami melawan karena jumlah kami dua puluh tiga orang, dan biasanya di daerah ini tidak ada penjahat yang berani mengganggu perusahaan pengawal kami. Akan tetapi pemimpin gerombolan itu ternyata luar biasa lihainya. Pertempuran yang terjadi ternyata berat sebelah, lalu kami dihajar habis-habisan sehingga terpaksa melarikan diri, tidak dapat melindungi sepasang mempelai itu yang ditawan. Semua barang terpaksa kami tinggalkan. Kami harus mencari bala bantuan yang lebih kuat lagi, akan tetapi lebih dulu kami bertemu dengan lihiap yang sakti seperti dewi. Mohon bantuan lihiap"

"Hemm, kalau begitu, siapa di antara kalian yang punya keberanian, mari ikut denganku. Aku akan membasmi gerombolan iblis itu!"

Lima belas orang itu, dipimpin oleh Si Golok Setan Couw Sam, dengan gembira langsung mengangkat tangan menyatakan siap untuk ikut dengan dara perkasa itu.

"Kami semua siap untuk ikut menyerbu Hek-i Kwi-pang bila dipimpin oleh Hui-kiam Sian-li,” kata Couw Sam dengan gembira dan penuh semangat.

"Hui-kiam Sian-li (Dewi Pedang Terbang)?" tanya Mei Li. "Siapa itu?"

"Maaf, mulai sekarang kami menyebut nona dengan julukan Hui-kiam Sian-li!" kata Couw Sam dan semua anak buahnya mengangguk setuju. Wajah Mei Li menjadi kemerahan.

"Ihh! Jangan terlampau pagi memuji orang. Belum apa-apa kalian sudah mengangkat aku terlalu tinggi. Lihat saja nanti hasilnya. Mari kita berangkat!"

Mei Li meloncat ke atas punggung kudanya lalu menjalankan kudanya, tidak terlalu cepat karena lima belas orang anggota Pek-houw Piauw-kiok mengikutinya dari belakang. Lima orang yang terluka ditinggalkan di tempat itu bersama tiga jenazah, dengan janji bahwa nanti akan dijemput kalau mereka sudah selesai menyerbu gerombolan penjahat di dalam hutan.

Lima belas orang itu, termasuk Couw Sam, kelihatan gelisah. Jantung mereka berdebar tegang, mulut terasa kering sampai ke kerongkongan karena sebetulnya mereka merasa gentar harus berhadapan lagi dengan gerombolan iblis berpakaian hitam itu. Anak buah gerombolan itu masih sanggup mereka lawan, akan tetapi kalau mereka membayangkan kehebatan pemimpinnya, sungguh membuat mereka bergidik ngeri.

Akan tetapi Mei Li yang melihat betapa para piauwsu (pengawal barang) itu terdiam dan gelisah, hanya duduk di atas punggung kudanya dengan sikap tenang sekali, bahkan dia lalu bersenandung lirih. Suaranya memang merdu dan dia pandai bernyanyi, akan tetapi hanya dia sendiri yang mengetahui bahwa senandung itu disuarakannya untuk menutupi degup jantungnya yang juga tegang.

Sikap lima belas orang itulah yang sudah mendatangkan ketegangan di hatinya. Biar pun dia puteri suami isteri pendekar sakti, juga telah menguasai ilmu silat yang tinggi, namun selamanya dia belum pernah bertanding sungguh-sungguh melawan musuh. Dia hanya bertanding melawan ayahnya atau ibunya dalam latihan saja. Dan sekarang, tiba-tiba saja dia dihadapkan gerombolan perampok yang agaknya amat kejam, jahat dan lihai sehingga rombongan piauwsu itu pun menjadi ketakutan!

Kini rombongan itu sudah tiba di tepi hutan. Melihat wajah Couw Sam dan anak buahnya kini loyo dan pucat, yang tentu saja mempengaruhi hatinya, Mei Li mengerutkan alisnya, lalu menghentikan kudanya dan menoleh kepada mereka.

"Bila kalian merasa takut sebaiknya tidak usah ikut denganku!" Ucapannya bernada keras karena hatinya memang mengkal melihat para piauwsu yang dianggapnya pengecut itu.

Mendengar teguran itu, Couw Sam cepat mendekatinya. "Harap nona memaafkan kami. Kami siap membantu karena sebenarnya ini adalah tugas kami. Harap nona berhati-hati."

Mei Li mengangguk lantas memasuki hutan menurut petunjuk Couw Sam yang berjalan di dekat kudanya. Di tengah hutan itu terlihat beberapa buah pondok yang tampaknya masih baru. Couw Sam menunjuk ke arah pondok-pondok itu dan membisikkan bahwa agaknya itulah sarang gerombolan iblis itu.

Mei Li menjalankan kudanya menghampiri tempat itu. Kiranya merupakan tempat terbuka dan di situ banyak pohon yang ditebang sehingga terdapat lapangan terbuka yang cukup luas, di mana didirikan empat buah pondok kayu.

"Tantang mereka keluar!" kata Mei Li kepada Couw Sam.

Karena melihat sikap Mei Li yang demikian tenang dan gagah, Couw Sam menjadi berani. "Haiili, gerombolan iblis Hek-i Kwi-pang! Keluarlah kalian untuk menerima hukuman!!"

Teriakan lantang itu segera mendapat sambutan dari dalam empat buah pondok. Nampak bayangan hitam berkelebatan keluar dari dalam pondok. Mereka semuanya berjumlah dua belas orang, dan yang berada di depan adalah seorang pria yang sangat menyeramkan. Mei Li sendiri merasa ngeri. Selama hidupnya belum pernah dia melihat seorang laki-laki seperti kepala gerombolan itu.

Usianya tentu ada empat puluhan tahun, tetapi bentuk tubuhnya sungguh menyeramkan. Couw Sam yang tinggi besar itu akan kelihatan kecil jika berdiri di sebelahnya! Sungguh seorang raksasa yang berkulit hitam seperti hangus, sepasang matanya lebar, hidungnya, mulutnya, semuanya nampak besar pada raksasa itu.

Kulitnya demikian hitamnya sehingga kalau dia berada di tempat gelap, tentu hanya putih matanya dan giginya saja yang kelihatan. Sudah kulitnya hitam hangus, pakaiannya pun berwarna hitam. Pada pinggangnya terselip sebatang golok yang punggungnya berbentuk gergaji, bergigi runcing tajam.....!


Pilih JilidPILIH JUDULJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner